FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 21 END


11902518_869875126416742_4665585678208730251_n

Tittle : BTS 7 Soul

Author : Lingkyu88

Lenght : Chapter

Language : Indonesia

Genre : Romance, Friendship, Rate Mature, NC -17

Main Cast :
Boys :
– Park Jimin
– Kim Taehyung
– Jeon Jungkook
– Kim Seokjin
– Min Yoongi
– Jung Hoseok
– Kim Namjoon

Girl :
– Kim Eunjin
– Kwon Minyoung
– Lee Namjung
– Han Ara
– Shin Sang Eun
– Choi Hyena
– Oh Yeonkyung

Other Cast :
– Goo Junhoe
– Max Changmin
– Oh Hayoung
– Park Eunsol
– Yoon Bomi

Cover by :
Cover Story Fanfiction Korea

Disclaimer :
BTS members are not mine but this fanfic is pure my imagination. I give this fanfic mature rating cuz there will be parts that contains with sex, harrasment, blood, & drugs. Please don’t be silent readers and plagiator. So ignore typos, enjoy the story! Thanks~~ ♥♥♥

-Author POV-

“Adik saya kenapa, Dokter?” tanya Taehyung saat dia berada di ruangan dokter yang tadi menangani Eunjin.

“Adikmu mengalami pendarahan hebat. Dia tampaknya meminum obat penggugur kandungan dengan dosis tinggi. Tubuhnya tidak kuat menahan jadi pendarahannya tidak mau berhenti.”

“Pe- penggugur kandungan? Maksud dokter, Eunjin… hamil?”

Dokter itu mengangguk-angguk. “Usia kandungannya mungkin masih sangat muda. Kami menemukan gumpalan darah yang kami duga adalah janin yang masih sangat kecil dan hanya sebesar ibu jari.”

Tubuh Taehyung bergetar. Perasaannya campur aduk antara sedih, kecewa, menyesal, dan marah.

“Kami sudah berusaha yang terbaik tapi darah yang keluar terlalu banyak. Kami meminta maaf tidak berhasil menyelamatkannya.”

“Ah, terimakasih, Dokter,” jawab Taehyung lemah. Akhirnya dia keluar dari ruangan itu dengan langkah lemah.

Taehyung kembali ke kamar tempat Eunjin. Amarahnya memuncak saat dia melihat Seokjin menangis sambil memeluk tubuh adiknya yang kini terbaring tak bernyawa itu.

“JANGAN SENTUH ADIKKU!”

Bugh!

Taehyung memukuli wajah Seokjin secara brutal. Anggota BTS yang lain menjadi panik dan berusaha memisahkan mereka.

“TAEHYUNG KAU GILA! SEOKJIN HYUNG BISA MATI!” Seru Jimin sembari melindungi Seokjin.

“BIARKAN DIA MATI! ITU BALASAN YANG TEPAT KARENA DIA SUDAH MEMBUNUH EUNJIN!” jawab Taehyung tak kalah seru. Jungkook dan Namjoon terus memegangi Taehyung.

Mata mereka semua terbelalak. Tidak terkecuali Seokjin. Mereka tidak paham apa yang Taehyung bicarakan.

“LEPASKAN AKU!” teriak Taehyung berusaha memberontak.

“Hyung…,” Jungkook memeluk Taehyung erat-erat. Tubuh Taehyung melemah dan akhirnya merosot ke bawah. Tangisnya kembali pecah.

Namjoon, Yoongi, Jimin, dan Seokjin saling berpandangan. Mereka mencoba mengerti kondisi Taehyung yang jiwanya sedang terguncang.

“Eunjin pergi, Jungkook… Eunjin pergi meninggalkan kita,” ujar Taehyung terisak-isak.

Jungkook mengusap-usap punggung Taehyung dalam peluknya.

“Eunjin- Eunjin- hamil,” kata Taehyung. Tangisnya semakin keras.

Yang lain terkejut mendengar ucapan Taehyung barusan. Terutama Seokjin. Dia juga sama sekali tidak tahu kalau Eunjin hamil.

“Hyung, kita bicarakan lagi nanti ya. Kau harus tenang. Eunjin pasti sedih melihatmu seperti ini,” Jungkook berusaha menenangkan Taehyung.

Tiba-tiba tangis Taehyung terhenti. Ditatapnya dengan tajam Seokjin yang berdiri tepat di depannya.

“Aku akan membunuhmu… Seokjin!” batinnya geram.

—000—

Bibi Yang meraih selembar kertas di nakas tempat tidur Hyena. Dia sempat kelimpungan mencari Hyena, tapi akhirnya dia baru sadar kalau baju-baju Hyena sudah tidak ada. Hyena kabur.

Bibi Yang membaca selembar surat yang Hyena tinggalkan.

Untuk Bibi Yang
Aku minta maaf, aku pergi dari sini tanpa pamit. Aku sudah membuat Bibi Yang, Ibu, dan Yura kecewa. Aku sudah menyusahkan kalian. Sekarang aku pergi agar tidak menyusahkan kalian lagi. Dan kalian jangan mencariku. Aku pastikan aku akan baik-baik saja.
Aku juga menitip pesan pada Bibi Yang. Tolong berikan ATM ini pada Yoongi. ATM ini milikku tapi aku tahu isinya adalah uang Yoongi. Aku sudah mengambil semua uangku dan yang tersisa hanya uang Yoongi. Pinnya adalah tanggal lahirku. Dan tolong jangan beritahu dia perihal kehamilanku. Dan ucapkan padanya semoga berbahagia dengan pasangan barunya.
Terimakasih atas kebaikan kalian semua selama ini.
Hyena

“Hyena apa yang kau lakukan?” Bibi Yang meremas surat itu dengan perasaan cemas. “Kenapa kau semakin bodoh saja, Hyena.”

Bibi Yang meraih ATM Hyena yang tadi tertutup oleh kertas surat itu. Dengan tergesa-gesa dia berlari menuju kamar Yoongi.

“Tuan Muda Yoongi! Tuan Muda Yoongi!” Bibi Yang mengetuk pintu kamar Yoongi dengan panik.

Yoongi membuka pintu kamarnya. Dia menatap heran pada Bibi Yang yang terlihat pucat pasi. “Ada apa?” tanyanya.

Bibi Yang menoleh ke kiri dan ke kanan. “Boleh aku masuk, Tuan Muda?”

Yoongi mengerutkan keningnya bingung. Tapi pada akhirnya dia mengiyakan permintaan Bibi Yang.

“Ada apa?” tanyanya lagi saat Bibi Yang sudah berada di kamar Yoongi.

“Ini soal… Hyena, Tuan Muda Yoongi,” kata Bibi Yang.

“Ck! Aku tidak mau tahu lagi tentangnya,” jawab Yoongi dingin.

“Tapi, Tuan Muda Yoongi tolong dengarkan aku kali ini saja,” pinta Bibi Yang.

Yoongi menghela nafasnya. “Baiklah. Ada apa?”

Bibi Yang menyerahkan ATM milik Hyena pada Yoongi. “Ini ATM Hyena. Dia bilang uangnya sudah diambil semua dan yang tersisa adalah uang Tuan Muda Yoongi.”

Yoongi memandang ATM itu dengan sedikit bingung. Bagaimana Hyena tahu kalau dia mengirimkan uangnya untuk Hyena beberapa bulan yang lalu?

“Tolong diterima, Tuan Muda. Kata dia pinnya adalah tanggal lahirnya,” Bibi Yang kembali menyodorkan ATM tersebut.

Yoongi menerimanya dengan pandangan dingin.

“Hyena… kabur Tuan Muda,” ujar Bibi Yang lirih.

Kedua mata Yoongi sempat terbelalak. Tapi pada akhirnya dia kembali bersikap dingin. “Aku tidak peduli.”

“Hyena mendoakan agar Tuan Muda Yoongi bahagia dengan Nona Bomi.”

“Hm.”

Bibi Yang meremas-remas kedua tangannya. Dia sedikit takut untuk memberitahu kebenarannya pada majikannya itu.

“Sudah? Ada lagi?”

“Umm… Itu…”

“Ada apa?”

“Sebenarnya Hyena tidak mengijinkanku untuk memberitahu Tuan Muda.”

“Lalu?”

“Tapi aku rasa Tuan Muda harus tahu.”

“Tsk! Apa itu?”

“Hyena… sedang hamil, Tuan Muda.”

Dan tubuh Yoongi seketika kaku mendengarnya.

—000—

Minyoung merasakan kepalanya begitu nyeri dan sakit di seluruh tubuhnya. Dan pada saat dia membuka kedua matanya, dia.baru sadar kalau kini dia terikat pada sebuah kursi yang diikatkan pada sebuah tiang. Dia berusaha berteriak tapi semuanya sia-sia karena mulutnya tertutup oleh isolasi.

Minyoung berusaha memberontak dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya agar tali yang mengikatnya itu mau terlepas. Minyoung menatap ke sekitar. Ruangan itu sangat redup dengan cahaya lampu berwarna kuning.

Minyoung mencoba mengingat-ingat apa yang tengah terjadi padanya. Siang tadi saat sepulang sekolah dia menerima pesan agar menemui Ara di gudang belakang. Kondisi persahabatannya dengan Ara sedang tidak baik sehingga pada saat Ara berkata ingin menemuinya dan berbicara dengannya, dia begitu senang. Tapi siapa sangka saat memasuki gudang tersebut seseorang membekapnya dari belakang dan menyeretnya entah kemana. Dia langsung tidak sadar pada saat itu.

Pintu ruangan itu terbuka dan sesosok pria berdiri di tengahnya. Minyoung mencoba menoleh ke pintu tapi dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang datang.

“Apa kabar, Hitam?” ujar pria itu sembari menyalakan lampu ruangan itu.

Minyoung terkejut. Jimin?!

Jimin menyeringai licik setelah menutup pintu ruangan itu. Di tangannya terdapat tongkat kecil seukuran stik drum. Dia berjalan mendekati Minyoung dan menaikkan dagunya dengan tongkat yang dipegangnya.

“Tsk-tsk-tsk! Kau tampak menyedihkan,” ujarnya dengan nada mengejek. Minyoung hanya bisa memandang tajam ke arah Jimin.

“Aku ingat kau pernah berkata padaku kalau kau ingin menghancurkanku bukan? Ck! Kau lihat dirimu sekarang! Bahkan untuk menyelamatkan dirimu sendiri saja kau tidak mampu.”

Minyoung berteriak mengumpat Jimin tapi sia-sia karena mulutnya tertutup isolasi.

“Hah? Apa? Aku tidak mendengarnya. Hahaha,” Jimin meledek Minyoung.

Minyoung geram dan terus berusaha melepaskan ikatannya.

“Jangan banyak bergerak. Aku mengikatmu kuat-kuat jadi semakin kau berusaha melepaskan diri, tubuhmu sendiri yang akan terluka,” ujar Jimin santai.

Minyoung terus meronta sia-sia.

Jimin berjongkok di depan Minyoung. “Kau mau bicara apa, hm? Coba kudengarkan,” Jimin membuka isolasi yang membungkam mulut Minyoung barusan.

Cuih!

Minyoung meludahi Jimin. “BAJINGAN KAU JIMIN!”

Plak!

Jimin menampar wajah Minyoung dengan sangat keras. Dia juga memukul kaki Minyoung berkali-kali dengan tongkatnya itu. Tidak dipedulikannya Minyoung yang berteriak kesakitan.

Jimin menekan leher Minyoung dengan ujung tongkatnya dan hal itu membuat Minyoung sesak nafas. Tapi dia tidak bisa melakukan perlawanan karena kaki dan tangannya terikat.

“Aku bisa saja membunuhmu saat ini, Hitam!” Jimin melepaskan tongkatnya dari leher Minyoung. Gadis itu terbatuk-batuk akibat perbuatan Jimin barusan.

“Tapi tenang saja, itu tidak akan kulakukan sebelum aku puas menyiksamu.”

“BUNUH SAJA AKU, BODOH! DAN AKAN KUPASTIKAN KAU MENYESAL SEUMUR HIDUPMU!” seru Minyoung. Beberapa bagian tubuhnya terasa sakit dan nyeri.

“Ck! Menyesal? Justru aku senang makhluk menjijikkan sepertimu musnah dari dunia ini.”

Sret!

“Argh!” Minyoung merasakan pipi kirinya perih. Dia tidak menyadari sejak kapan Jimin mengeluarkan pisaunya dan menggoreskannya sepanjang pipi kirinya.

“KAU MEMANG SIAL JI-“

Sret!

“Argh!” Kali ini Jimin menggoreskan pisaunya di pipi kanan Minyoung. Dia ingin menangis tapi ditahannya. Darah mulai menetes ke seragam sekolahnya.

“Semakin banyak kau bicara, aku tidak akan segan-segan menusukkan pisau ini ke tubuhmu, Hitam!”

“LAKUKAN SAJA, BODOH!”

Sret!

Kali ini bibir Minyoung yang menjadi korban keganasan pisau Jimin. Goresan sepanjang bibir atas hingga dagunya baru saja ditorehkan oleh Jimin. Lidahnya merasakan cairan asin dan anyir yang tidak lain adalah darah yang keluar oleh goresan pisau Jimin barusan.

Jimin mengarahkan pisaunya ke dada Minyoung. Satu persatu dia membuka kancing seragam Minyoung menggunakan pisaunya.

“Tidak hanya wajahmu, pisau ini juga akan menyakiti tubuhmu.”

Sret!

Jimin menggoreskan pisaunya sepanjang leher bawah Minyoung hingga bagian atas payudaranya. Darah mulai keluar dari bekas goresan tersebut. Minyoung hanya bisa meringis menahan perih.

Sret!

Pisau tajam Jimin kembali menggores tubuh Minyoung. Kali ini perut bagian atas Minyoung yang menjadi korban.

“Kau akan menyesal, Jimin,” ujar Minyoung lemah.

“Tsk! Sudah tidak bisa apa-apa pun masih menyombongkan diri,” Jimin menyibakkan seragam yang dipakai Minyoung. Tapi apa yang dilihatnya benar-benar diluar dugaannya. Tubuh Jimin seketika membeku.

“Tsk! Sudah kubilang kau pasti akan menyesal, Jimin,” kata Minyoung lagi lemah.

“Ti- tidak mungkin! Kau-“

Minyoung tersenyum miris. “Ya, aku. Wanita yang selalu kau agung-agungkan. Pelacur yang selalu ingin kau miliki.”

Jimin benar-benar panik. Tangannya mengusap tatto mawar hitam di bahu depan Minyoung. “Tidak mungkin!”

Jimin merobek bagian atas rok Minyoung dan yang dilihatnya semakin membuatnya shock berat. Tatto pelacur kelas satu Paraiso terukir sepanjang pinggang Minyoung.

“Kau masih tidak percaya?”

“Tidak mungkin! Rose adalah orang Spanyol.”

Minyoung tertawa miris. “Bukan. Ayahnya hanya seorang duta negara yang ditugaskan ke Spanyol.”

Jimin menyibakkan poni tebal yang selama ini menutupi kening Minyoung. Ada! Luka sayat di atas pelipisnya. Sama persis dengan yang dimiliki Rose.

“Rose tidak bisa bicara Korean dan hanya bisa bicara menggunakan bahasa Inggris!”

Don’t you remember that I always got A+ for English in class?

“Rose berbola mata hijau!”

Softlens.”

“Rose cantik!”

“Make up.”

“Tidak mungkin!” Jimin terduduk lemah. Pisau yang sedari dipegangnya terlepas dari tangannya.

“Bunuh aku sekarang, Jimin. Karena kalau tidak, aku yang akan membunuhmu.”

Jimin terhenyak. Itu sebabnya Minyoung selalu percaya diri menantangnya? Karena dia tahu dia adalah kelemahannya.

“Kau tahu Alexander Agung?”

Jimin diam saja.

“Dia memiliki segalanya. Harta dan tahta. Dia bisa menaklukkan daratan Eropa dan Asia. Tapi kau tahu penyebab kematiannya?”

Hening.

“Wanita.”

—000—

Taehyung merasa hidupnya hancur dan berantakan. Yang dia kerjakan setiap hari hanya menangis di tempat tidur Eunjin sambil memeluk boneka kelinci kesayangan Eunjin. Tidak mau makan dan tidak mau menemui orang lain.

“Oppa? Oppa kenapa?”

“Tidak apa-apa Eunjin. Oppa hanya merindukanmu.”

“Oppa… Kenapa sekarang jadi Oppa yang manja, hm?”

“Oppa- Oppa belum siap kau tinggalkan, Eunjin.”

“Aku tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkan Oppa.”

“Kenapa kau berbohong pada Oppa, Eunjin? Kau bilang kau tidak akan pernah meninggalkan Oppa,” Taehyung mempererat pelukannya pada boneka kelinci kesayangan Eunjin.

“Eunjin, jalan hidupmu masih panjang. Ingat baik-baik satu hal. Oppa tidak mau kau hamil di usia sekolah.”

“Oppa tenang saja. Kami sudah konsultasi ke dokter kandungan.”

“Kau bahkan meyakinkan Oppa kalau kau tidak akan hamil di usia sekolah.”

Cklek!

Pintu kamar Eunjin terbuka tapi Taehyung tidak mempedulikan siapa yang datang. Bahkan saat ayah dan ibunya pulang pun dia tidak peduli dan malah menyalahkan mereka.

“Taehyung…,” suara lembut wanita menyadarkannya dari lamunannya. Dia memandang sosok yang datang padanya itu.

“Aku melihat Ara Unnie. Dia menceritakan masalah kalian. Aku minta maaf, Oppa, tapi- aku ingin kalian bersama kembali.”

“Aku tidak bisa.”

“Oppa, aku mohon. Ara Unnie gadis yang baik.”

“Taehyung?”

“Ara?”

Ara mendekati Taehyung kemudian duduk di sampingnya. Diusapnya pipi Taehyung yang basah oleh air mata. “Aku tahu kesedihanmu. Tapi kau tidak boleh larut seperti ini. Yang Eunjin butuhkan saat ini hanya doa. Dia pasti juga sedih melihatmu seperti ini.”

“Kau tidak tahu rasanya kehilangan, Ara.”

“Aku tahu, Taehyung. Tapi kau juga harus ingat kalau kau juga memiliki kehidupanmu sendiri. Apa kau tidak kasihan dengan orang-orang yang menyayangimu? Mereka mengkhawatirkanmu. Me-“

“Ini semua gara-gara Seokjin!”

“Taehyung!”

“Kalau dia menolak Eunjin mungkin semua ini tidak akan terjadi. Kalau dia tidak menyentuh adikku sekarang dia pasti masih hidup.” Taehyung membuang boneka kelinci Eunjin kemudian bangkit dari tempat tidur Eunjin keluar.

“Taehyung kau mau kemana?” Ara menyusul Taehyung panik.

“Membunuh Seokjin.”

“Taehyung, jangan bodoh!” Ara mencoba menghalangi Taehyung tapi pria itu malah mendorongnya hingga tersungkur.

“Taehyung!” Ara kembali mengejar Taehyung yang kini sudah keluar menuju mobilnya.

“Noona, ada apa?” Kebetulan sekali Jungkook datang dan berpapasan dengan Ara.

“Taehyung. Jungkook, cepat kejar Taehyung. Dia mau membunuh Seokjin Oppa!” Seru Ara panik.

Jungkook terkejut. Ditariknya tangan Ara ke rumahnya yang memang bersebelahan dengan rumah Taehyung. Dia mengambil motornya dan menyalakan mesinnya dengan panik juga. Ara membonceng di belakang setelah itu Jungkook melajukan motornya dengan kecepatan penuh.

Mata Ara dan Jungkook ternganga. Mereka melihat Taehyung membawa botol bekas yang sudah dipecahkan bagian bawahnya dan Seokjin yang tersudut ketakutan melihat Taehyung.

“TAEHYUNG!” seru Ara. Tapi Taehyung tidak menghiraukan panggilan Ara tersebut.

“KAU HARUS MATI, SEOKJIN!” Taehyung menghunuskan bagian bawah botol yang pecah ke perut Seokjin.

“TAEHYUNG!” Seru Ara lagi.

Mata Ara, Seokjin, Taehyung, dan Jungkook terbelalak. Darah terpercik ke baju Taehyung.

“Tae- Taehyung!” suara Ara melemah. Tubuhnya merosot ke bawah.

“ARA!” Seru Taehyung panik. Rupanya pada saat Taehyung menghujamkan botol tersebut pada Seokjin, Ara sudah berlari lebih dulu menghalangi Seokjin. Dan botol itu tidak mengenai Seokjin, tetapi Ara.

“ARA!” Taehyung meraih tubuh Ara dalam pelukannya. Dia menangis panik.

“Tae- Taehyung… Ja- jangan menyim- pan dendam… pada- siapa pun,” ujar Ara terbata-bata.

Seokjin buru-buru berlari untuk menghubungi rumahsakit.

“Ara!” Taehyung kembali berteriak. Dicabutnya botol yang tertancap di perut Ara. Darah terus keluar dari bekas tancapan botol tersebut.

“Tae- hyung aku- kedi- nginan…”

“Ara jangan pergi!” Taehyung memeluk tubuh Ara. “Ara, kumohon…”

Taehyung memandang wajah Ara. Gadis itu sudah memejamkan kedua matanya dan tidak lagi bergerak.

Taehyung menepuk-nepuk pipi Ara yang mulai dingin. “Ara? Ara bangun!”

“ARA!”

—THE END—

A/n :

Finally END!!! Pfffttt~~~
Makasih buat readers setia yang udah setia nunggu ff ini update walau kadang ampe sekian bulan baru update kekeke~~

Lottaluv
Lingkyu88

Advertisements

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

One thought on “FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 21 END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s