FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 20


11902518_869875126416742_4665585678208730251_n

Tittle : BTS 7 Soul

Author : Lingkyu88

Lenght : Chapter

Language : Indonesia

Genre : Romance, Friendship, Rate Mature, NC -17

Main Cast :
Boys :
– Park Jimin
– Kim Taehyung
– Jeon Jungkook
– Kim Seokjin
– Min Yoongi
– Jung Hoseok
– Kim Namjoon

Girl :
– Kim Eunjin
– Kwon Minyoung
– Lee Namjung
– Han Ara
– Shin Sang Eun
– Choi Hyena
– Oh Yeonkyung

Other Cast :
– Goo Junhoe
– Max Changmin
– Oh Hayoung
– Park Eunsol
– Yoon Bomi

Cover by :
Cover Story Fanfiction Korea

Disclaimer :
BTS members are not mine but this fanfic is pure my imagination. I give this fanfic mature rating cuz there will be parts that contains with sex, harrasment, blood, & drugs. Please don’t be silent readers and plagiator. So ignore typos, enjoy the story! Thanks~~ ♥♥♥

AUTHOR POV

Taehyung menarik tangan Ara menuju suatu ruangan di salah satu sudut rumah megahnya itu. Suatu ruangan penuh kenangannya. Taehyung memasukkan kunci ruangan itu kemudian membuka pintunya. Dia menarik tangan Ara ke dalam ruangan itu.

Taehyung menyalakan lampu ruangan itu. Ternyata ruangan tersebut adalah ruang keluarga dengan tungku api penghangat. Sebuah sofa merah panjang terletak di depan tungku api tersebut. Lantainya tertutup karpet berwarna emas. Taehyung membuka tirai jendela ruangan itu kemudian menyalakan tungku api penghangat. Ara hanya bisa diam memandangi gerak-gerik Taehyung.

Taehyung kembali mematikan lampu ruangan itu. Cahaya api yang keluar menerangi seluruh ruangan. Taehyung duduk di karpet dan menyandarkan punggungnya pada sofa.

“Kemari,” ujarnya pada Ara yang sedari tadi berdiri mematung di depan tungku api tersebut. Ara menurut. Taehyung menarik tangannya agar gadis itu duduk di antara kedua kakinya menghadap tungku api. Dia mengambil selimut tebal yang terlipat rapi di sofa dan melingkarkannya pada tubuhnya dan tubuh Ara.

“Kau adalah wanita kedua selain keluargaku yang pernah aku bawa masuk kesini,” ujar Taehyung lirih.

“Benarkah?”

“Eoh.”

“Lalu siapa yang pertama?”

Taehyung mempererat pelukannya pada tubuh Ara. “Aku takut kau cemburu jika mendengarnya.”

Ara tertawa kecil. “Apa gadis bernama Milley itu?”

Taehyung diam sejenak. “Eoh.”

“Kau pasti sangat mencintainya.”

“Hm.”

“Pasti sangat berat untukmu.”

“Hm.”

Ara menyandarkan punggungnya ke dada Taehyung. “Aku tidak bermaksud menjadi pengganti dirinya. Setiap orang pasti memiliki kenangan dan sampai kapanpun aku tidak akan bisa menembus ruangan khusus Milley di hatimu.”

“Bagaimana bisa kau sesabar itu menghadapiku?”

“Sayang. Itu perasaan yang kumiliki untukmu. Sepasang manusia menikah karena dilandasi oleh cinta dan kasih sayang. Cinta lebih didasari oleh nafsu dan akan luntur seiring berjalannya waktu. Tapi saat pasangan tersebut sudah tua dan tidak lagi memiliki nafsu, perasaan sayang adalah pengikat hati mereka agar tetap bersama sampai akhir usia.”

Hening.

“Aku tahu kau tidak bisa membalas perasaanku tapi aku berterimakasih padamu. Kau memberiku banyak warna yang sebelumnya bahkan tidak pernah kualami. Dan hari ini… mungkin adalah hari terbaik selama hidupku. Walaupun hanya satu hari, setidaknya aku merasa aku milikmu seutuhnya. Bahkan hari ini lebih indah dari 2 bulan yg kita jalani bersama sebelumnya.”

Hening.

“Kau mencintai Rose, bukan?”

“Eoh.”

“Kejarlah dia dan pastikan dia memiliki perasaan yang sama denganmu.”

“Kau tidak cemburu?”

“Tsk! Pertanyaan bodoh. Tentu saja aku cemburu.”

“Lalu kenapa kau berkata seperti itu?”

“Karena kau berhak bahagia, Taehyung. Sudah cukup kau hidup dibayang-bayangi oleh Milley. Walaupun aku sedikit iri karena aku tidak bisa menjadi salah satu dari mereka. Tapi aku juga ingin memulai kehidupanku yang baru. Aku masih muda. Aku juga ingin hidup bahagia dengan orang lain yang memiliki perasaan yang sama denganku.”

“June?”

“Entah June, entah bukan. Yang jelas seseorang yang memiliki perasaan yang sama denganku.”

Hening.

“Aku berterimakasih kau mau membawaku ke tempat ini. Walaupun hanya sebentar tapi setidaknya aku merasa istimewa.”

Ara membuka pouch-nya dan mengeluarkan ponselnya. “11.50. Sepuluh menit lagi waktuku habis.”

Taehyung tertawa kecil. “Kau seperti Cinderella saja.”

Ara ikut tertawa. “Memang Cinderella, kan? Hanya seorang Upik Abu yang berharap menjadi seorang puteri. Walaupun waktuku terbatas, setidaknya hari ini aku bisa merasakan menjadi seorang puteri. Dan aku sangat bahagia.”

Hening.

Ara kembali membuka pouch-nya dan mencari sesuatu. “Ini untukmu,” Ara menyerahkan sebuah i-pod pada Taehyung.

Taehyung membuka selimut yang menutupi tubuh mereka dan menerima i-pod hijau pemberian Ara.

“Hanya ada satu lagu di dalamnya. Tapi itu adalah lagu kesukaanku. Kau harus mendengarkannya.”

Taehyung bangkit dari duduknya dan memasang i-pod tersebut di audio player yang terletak di meja dekat tungku api penghangat.

I want you to stay, never go away from me
Stay forever

Taehyung kembali mendekati Ara dan duduk di samping gadis itu.

But now, now that you’re gone
All I can do is pray for you
To be here beside me again

“Lagu ini… Selalu mengingatkanku padamu,” ujar Ara lirih.

Why did you have to leave me?
When you said that love would conquer all?

“Lagunya enak didengar,” komen Taehyung.

“Maukah kau berdansa denganku?” tawar Ara.

Why did you have to leave me?
When you said that dreaming was as good as reality?

“Tentu.”

Ara mengulurkan tangannya. Mereka saling berdiri berhadapan. Ara mengalungkan kedua tangannya di leher Taehyung. Sementara Taehyung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ara.

And now I must move on
Trying to forget all the memories of you and me

Ara dan Taehyung menggerakkan kaki mereka pelan ke kiri dan ke kanan. Kedua mata mereka saling bertatapan.

But I can’t let go of your love that has taught me
To hold on

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mereka. Mata mereka yang saling bersitatap cukup mewakilkan perasaan yang ada di dalam diri mereka.

I want you to stay never go away from me
Stay forever

Ara menyandarkan kepalanya di dada Taehyung. “Apa kau mendengarnya? Debaran jantungku yang begitu kencang?” batinnya.

But now, now that you’re gone
All I can do is pray for you
To be here beside me again

“Perasaan apa ini? Kenapa begitu aneh saat memeluknya dalam suasana seperti ini?” batin Taehyung.

Why did you have to leave me?
When you said that love would conquer all?

“Seandainya waktu dapat kuhentikan, aku ingin menghentikan waktu saat ini juga,” batin Ara.

Why did you have to leave me?
When you said that dreaming was as good as reality?

“Entah kenapa aku ingin terus memelukmu seperti ini, Ara,” batin Taehyung.

And now I must move on
Trying to forget all memories of you and me

Ara mendongakkan kepalanya. “Sudah jam 12 malam. Aku harus pulang,” ujarnya.

But I can’t let go of your love that has taught me
To hold on

“Kau tidak mau menginap di sini saja?” tanya Taehyung.

Why did you have to leave me?
When you said that love would conquer all?

Ara menggeleng kemudian melepaskan pelukan Taehyung. Diraihnya pouch-nya yang tergeletak di karpet.

Why did you have to leave me?
When you said that dreaming was as good as… Stay with me

“Mau aku antar?” tanya Taehyung.

Ara menggeleng. “June menjemputku di luar.”

“Ara…,” Taehyung menarik tangan Ara dan membalikkan tubuh gadis itu.

Why did you have to leave me?
When you said that love would conquer all?

Taehyung menangkup wajah Ara kemudian mencium bibirnya. Melumatnya dengan kasar seolah hari ini adalah hari terakhir mereka bersama.

Why did you have to leave me?
When you said that dreaming was as good as reality

Ara membalas ciuman Taehyung tak kalah kasar. Dia ingin melepaskan semua perasaannya untuk Taehyung. Dan mulai menerima kenyataan bahwa dia memang bukan untuk Taehyung.

I want you to stay never go away from me
Stay forever

Ara melepaskan pagutan bibir mereka. “Selamat tinggal, Taehyung.”

I want you to stay never go away from me
Stay forever

Taehyung hanya bisa mematung memandangi punggung Ara yang mulai menjauh darinya dan pada akhirnya menghilang di sebalik pintu ruangan tersebut.

“Tsk!”

Taehyung berjalan menuju jendela. Ditatapnya langit malam yang kelam.

“Aku melepaskanmu, Milley. Tenanglah kau di sana… Goo Minri,” Taehyung kembali menutup tirai jendela ruangan itu.

—000—

Hoseok mengemasi baju-bajunya. Dengan dibantu Seokjin, Hoseok memberesi perlengkapannya selama tinggal di panti rehabilitasi. Sebenarnya Seokjin bingung dengan keputusan mendadak dari Hoseok. Tapi Hoseok keras kepala dan memaksa diri untuk menghentikan terapinya.

“Sudah semua?” tanya Seokjin.

“Kurasa sudah semua,” jawab Hoseok lemah.

Seokjin tahu, Hoseok pasti memiliki masalah pribadi dengan Namjung. Tapi dia tidak mau memaksa Hoseok untuk menceritakannya.

“Hoseok.”

Hoseok dan Seokjin menoleh ke pintu. Dilihatnya Namjung datang dengan nafas yang memburu dan kedua matanya berair. Dia berjalan mendekati mereka.

“Aku mohon, sembuhkanlah dulu dirimu,” pinta Namjung sembari memegangi lengan Hoseok.

Hoseok tampak tidak peduli dengan ucapan Namjung barusan. Tangannya melepaskan pegangan Namjung di lengannya.

“Hoseok, aku mohon…,” Namjung menunduk. Hoseok dan Seokjin melihat tetesan air mata jatuh ke lantai kamar perawatan Hoseok.

Hoseok hanya diam.

“Hoseok…,” suara Namjung mulai serak. Dia menangis.

“Semakin lama aku di sini, justru membuatku semakin sakit. Jadi, aku minta maaf… Noona,” ujar Hoseok lirih. Digendongnya tas ranselnya dan bersiap keluar dari kamar tersebut.

Bahu Namjung bergetar. Isakannya terdengar semakin keras.

Hoseok membalikkan badannya kemudian merangkul leher Namjung menggunakan tangan kanannya dari belakang. “Jangan menangis, Noona. Percayalah aku pasti sembuh. Dan… Semoga kau berbahagia dengan tunanganmu. Terimakasih atas pertolonganmu selama ini,” Hoseok melepaskan rangkulannya pada Namjung. Tapi belum lagi terlepas sempurna, Namjung kembali menarik tangan Hoseok kemudian mencium bibirnya. Hoseok hanya bisa membelalakkan kedua matanya tidak percaya. Hoseok membalas ciuman Namjung. Bibir gadis itu semakin basah oleh air mata yang terus-menerus mengalir dari kedua matanya.

Hoseok melepaskan ciuman mereka dan menjauhkan wajahnya dari wajah Namjung. “Jangan menangis… teman,” ujar Hoseok lirih. Hoseok membalikkan badannya dan terus berjalan tanpa menoleh kembali. Tidak dipedulikannya isakan Namjung yang terdengar semakin keras.

“Selamat tinggal, cinta pertama.”

“Kau mau langsung pulang?” tanya Seokjin. Matanya tidak berhenti memandangi jalan di depannya.

“Eoh.”

Seokjin menoleh Hoseok sekilas. Pria itu hanya memandang hampa keluar jendela mobilnya.

“Aku harap kau mendapatkan perawatan yang terbaik di Jepang.”

“Hm.”

“Bukan hanya fisikmu. Tapi juga hatimu.”

“Terimakasih, Hyung.”

Seokjin memarkirkan mobilnya di halaman rumah Hoseok. Dikeluarkannya koper dari dalam bagasi mobilnya kemudian dibawanya masuk menyusul Hoseok.

Hoseok memandang pintu rumahnya. Agak ragu-ragu sebenarnya. Dia takut salah memberikan keputusan. Tapi pada akhirnya hatinya telah memantapkan pilihannya kali ini.

“Noona,” Hoseok memanggil kakaknya yang tengah sibuk membaca majalah. Dia menghampirinya dan memeluk tubuh kakaknya itu erat-erat.

“Aku senang akhirnya kau mau ikut dengan kami,” ujar kakak Hoseok, Jiwoo, riang.

“Ayah…” Hoseok hanya diam memandang pria paruh baya di depannya itu. Pria yang selama ini dianggapnya telah mati karena sedikitpun tidak peduli padanya.

Ayah Hoseok, Tuan Jung, mendekati putranya itu. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana korduroinya. Wajahnya angkuh dan dingin. Tapi sikap angkuh dan dinginnya itu musnah tatkala dia semakin dekat dengan Hoseok. Dipeluknya tubuh anak laki-laki satu-satunya itu. Air matanya menetes seiring diusapnya punggung Hoseok.

“Kau anak ayah. Jadi jangan pernah jauh dari ayah. Sekejam apapun ayah itu semua ayah lakukan untuk kebaikanmu, anakku.”

Air mata yang sedari ditahan-tahan oleh Hoseok akhirnya luruh juga. “Maafkan aku, ayah. Sudah menjadi anak yang tidak penurut.”

Seokjin dan Jiwoo saling berpandangan. Mereka tersenyum satu sama lain menyaksikan pertemuan bahagia anak-beranak di depannya itu.

Ayah Hoseok melepaskan pelukannya pada Hoseok. Ditolehnya wanita yang berdiri di belakangnya. “Dia ibumu, Nak. Mungkin tidak bisa menggantikan posisi ibu kandungmu di hatimu. Tapi terimalah dia sebagai ibumu.”

Wanita itu membungkuk pada Hoseok. Hoseok tersenyum melihatnya.

“Bagaimana kalau kita makan dulu? Aku sudah memasakkan makanan yang enak untuk kalian,” ujar ibu tiri Hoseok.

Hoseok mengusap air matanya dengan lengan bajunya. Kepalanya mengangguk-angguk setuju. Senyumnya juga tidak lepas dari bibirnya.

Keluarga adalah rumah. Sejauh apapun kita pergi, merekalah tempat kita kembali.

—000—

“Hyena, kau tidak apa-apa?” tanya Bibi Yang khawatir. Hyena memang terlihat pucat dan sangat kurus.

Hyena menggeleng. “Aku baik-baik saja, Bibi Yang,” jawab Hyena lemah. Disusunnya buku-buku materi yang hendak dia bawa kuliah.

“Apanya yang baik-baik saja? Kau kurus sekali sekarang. Kau mulai malas makan dan lihat!” Bibi Yang menggenggam kedua tangan Hyena. “Tubuhmu begitu pucat. Kau sudah seperti mayat hidup, Hyena.”

“Aku baik-baik saja, Bibi Yang,” jawab Hyena dengan tatapan kosong.

“Berhentilah berpura-pura kau baik-baik saja, Hyena! Aku lelah melihatmu mengerjakan pekerjaan tanpa semangat dan tatapan hampa!”

“Apa aku terlihat seburuk itu?”

“Ya. Kau terlihat sangat mengenaskan, Hyena. Sudahlah, berhenti memikirkan Tuan Muda Yoongi! Dia sudah memiliki tunangan yang jauh lebih pantas dan sederajat dengannya!”

Butiran bening mulai menghiasi kedua pelupuk mata Hyena. “Kenapa derajat begitu tega memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai, Bibi?”

“Itulah dunia, Hyena. Kenapa aku selalu melarangmu berhubungan dengan Tuan Muda Yoongi bukan tanpa alasan.”

Air mata Hyena luruh membasahi kedua pipinya. “Kenapa dunia begitu tidak adil? Mereka yang tidak memiliki derajat tinggi juga berhak bahagia, bukan?”

“Kau akan bahagia, Hyena, kalau kau meletakkan posisimu dengan benar.”

“Jadi ini semua terjadi karena aku yang sudah lancang menyalahi kodratku.” Hyena mengusap air matanya. “Bibi Yang, aku pergi kuliah dulu,” Hyena menggendong tasnya kemudian berjalan keluar kamarnya dengan langkah gontai.

Hyena berjalan menyusuri lobby kampusnya dengan langkah lemah. Beberapa kali langkahnya terhenti karena kepalanya begitu pusing dan pandangannya mulai kabur.

“Nona, kau tidak apa-apa?” seorang mahasiswa di kampus itu menanyainya penuh khawatir.

Hyena menggeleng. Tapi baru selangkah berjalan, tubuh Hyena ambruk. Dan beruntung mahasiswa tadi masih berdiri di dekatnya. Beberapa mahasiswa lain mendekati mereka dan membantu membawa Hyena menuju ruang kesehatan kampus.

—000—

Jungkook mengerjapkan kedua matanya. Senyumnya merekah saat dilihatnya sesosok wanita yang sangat dia cintai tertidur pulas di sampingnya. Dia menyibakkan helaian rambut yang menutupi wajah wanita itu.

“Rambutmu mulai panjang, Noona. Dan kau terlihat semakin cantik,” puji Jungkook pada wanita di depannya itu, Yeonkyung.

Jungkook menyentuh dagu Yeonkyung dan mengusap-usap bibirnya. Bibir yang semalam dia lumat dengan ganas. Bibir yang mendesahkan dan meneriakkan namanya semalaman. Tangannya menyusuri leher dan dada Yeonkyung. Beberapa bercak merah keunguan tanda cinta darinya terukir di sana sini. Jungkook mengusap kedua payudara Yeonkyung yang tidak tertutup bra. Benda yang semalam dia remas dan dia hisap dengan brutal. Jungkook kembali mengusap tubuh Yeonkyung hingga perutnya. Ada juga tanda cintanya di dekat pusar dan di pinggangnya.

Jungkook menggenggam tangan Yeonkyung kemudian menciumnya. Tangan yang semalam menjambak rambutnya. Tangan yang semalam menyentuh seluruh tubuhnya. Tangan yang semalam mencakar punggungnya karena kenakalan yang dia buat.

Tangan Jungkook mulai nakal. Disentuhnya wilayah paling sensitif Yeonkyung yang terletak di antara kedua kakinya. Benda kecil yang membuatnya gemas dan tidak ingin berhenti untuk terus menyentuh dan mencumbunya.

“Eungh,” Yeonkyung menggeliat. Kedua matanya terbuka. Dilihatnya Jungkook yang tengah menatapnya tajam. Yeonkyung tersenyum. “Kau ini genit,” ujarnya dengan suara serak. Dijepitnya tangan Jungkook dengan kedua kakinya.

“Selamat pagi, masa depanku,” kata Jungkook. Senyumnya terukir di bibir mungilnya.

Yeonkyung mencubit hidung mancung Jungkook. Perasaannya begitu bahagia. Setelah semalaman mereka bergumul di atas tempat tidur Jungkook. Ini adalah pertama kali ada pria yang menyentuhnya setelah tiga tahun terakhir. Dia merasa seperti kembali merasakan malam pertamanya.

Begitu pula Jungkook. Setelah perjuangannya sekian bulan terakhir bersama Yeonkyung, akhirnya dia berhasil kembali ke kodratnya. Dan itu terbukti dengan begitu banyak sperma di sprei, selimut, dan juga tubuh Yeonkyung. Seolah seperti pasangan yang baru pertama kali melakukannya, mereka benar-benar menikmati sepanjang malam berdua.

Yeonkyung melirik jam dinding. Sudah pukul 10 siang. Wajar saja, pukul 5 pagi mereka baru berhenti bergulat.

“Aku harus menjemput Chaeryung,” Yeonkyung hendak bangun tapi ditahan oleh Jungkook.

“Aku sudah bilang pada ibu Sunghwan kalau kita akan menjemput Chaeryung sore hari,” kata Jungkook tersenyum lebar.

“Apa? Ck! Kau ini-“

Belum lagi selesai berkata-kata, Jungkook sudah membungkam mulut Yeonkyung dengan bibirnya.

“Ayo kita lanjutkan yang semalam,” Jungkook mencubit kemaluan Yeonkyung.

“Ugh, aku membencimu, Jungkook.”

“Aku juga mencintaimu, Noona,” Jungkook pun kembali menindih tubuh Yeonkyung.

“Jungkook, tunggu!”

Jungkook mengerutkan keningnya bingung.

“Tugasku sudah selesai, kan?”

Jungkook menghela nafasnya panjang. Dipandanginya wanita yang tengah berbaring di bawahnya itu.

“Tugasku hanya sampai kau kembali normal, kan? Setelah itu aku tidak lagi memiliki beban padamu.”

Jungkook diam saja.

“Jungkook?”

“Tidak bisakah aku berharap lebih? Aku tulus menyayangi Noona. Bukan hanya Noona, aku juga tulus menyayangi Chaeryung. Tidak usah pedulikan umurku, Noona. Tunggu aku lulus dan aku akan langsung melamarmu.”

“Kau masih sangat muda, Jungkook.”

“Lalu apa salahnya?!”

“Tidak ada.”

“Lalu?! Apa karena statusku yang mantan seorang gay?!”

“Bukan begitu, Jungkook.”

“Lalu?!” Air mata Jungkook menetes membasahi dada Yeonkyung.

Yeonkyung mengusap air mata Jungkook. Dia iba pada pria di depannya itu. Tapi hatinya masih belum bisa disentuh oleh siapapun. Yeonkyung meraih kepala Jungkook dan menyandarkannya di dadanya.

“Beri aku waktu untuk memikirkan semuanya, Jungkook.”

—000—

Ibu Hyena, Yura, dan Bibi Yang duduk di tepi ranjang tempat Hyena dirawat. Siang tadi Yura menerima telpon kalau Hyena dibawa ke rumah sakit setelah pingsan di kampusnya. Karena menunggu lamanya perjalanan, Ibu Hyena menyuruh Bibi Yang menunggui Hyena lebih dulu.

Ibu Hyena mengusap-usap tangan anaknya yang kini terbaring lemah itu. Selang infus tertampal di lengan kirinya. Hyena sudah sadar tapi pandangannya masih kosong. Bibi Yang menjadi semakin bingung. Dia tidak tega melihat Hyena seperti itu, tapi dia juga tidak bisa jujur pada Ibu Hyena tentang hubungan Hyena dan Yoongi.

“Hyena, ini ibu. Coba beritahu ibu apa yang membuatmu seperti ini, hm?” suara Ibu Hyena terdengar panik. Tangannya tak berhenti mengusap-usap tangan Hyena.

Hyena menoleh pada ibunya. Ditatapnya wajah wanita yang telah melahirkannya itu. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Hanya tetes air mata yang mulai mengalir di pipinya.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Hyena? Lihatlah kau begitu kurus sekarang,” suara ibu Hyena bergetar. “Apa pekerjaanmu begitu berat?”

Hyena menggeleng.

“Apa kuliahmu terlalu melelahkan?”

Hyena diam saja.

“Maafkan, Ibu, Hyena. Kalau ibu sehat, Ibu tidak akan membiarkanmu menderita seperti ini. Ibu akan menyuruhmu kuliah saja dan tidak bekerja,” Ibu Hyena mulai menangis. Diciuminya tangan Hyena. Yura dan Bibi Yang yang melihatnya ikut menangis.

“Aku tidak apa-apa, ibu. Aku hanya sedikit kelelahan,” jawab Hyena lirih.

“Berhenti bekerja, ya? Nanti ibu mencari pekerjaan yang ringan. Agar kau bisa lebih fokus kuliah saja.”

Hyena menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik saja, Ibu. Aku hanya perlu sedikit istirahat.”

“Tapi-“

“Keluarga pasien Choi Hyena?” seorang perawat mengagetkan mereka.

Ibu Hyena mendekati perawat itu. “Aku ibunya, Suster.”

“Hasil cek laboratorium Nyonya Choi Hyena sudah keluar. Pihak keluarganya silahkan menemui Dokter Kim di ruangannya. Nanti akan dijelaskan sendiri oleh Dokter Kim.”

Ibu Hyena mengangguk-angguk. “Aku segera kesana,” jawabnya. “Yura, ayo ikut Ibu. Eonni, tolong jaga Hyena sebentar.”

Bibi Yang mengangguk. Ibu Hyena dan Yura berjalan keluar ruangan Hyena diikuti perawat tadi. Mereka masuk ke ruangan dokter yang menangani Hyena.

“Silahkan duduk. Anda keluarga pasien Choi Hyena?”

Ibu Hyeonji dan Yura duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi dokter tersebut. “Aku ibunya, Dokter.”

“Suaminya belum datang?”

Ibu Hyena bingung. “Su- suami? Maksud Dokter? Anakku belum menikah, Dokter.”

“Begitukah? Tapi… Maaf sebelumnya. Tes darah membuktikan kalau Nyonya Choi Hyena… saat ini sedang hamil.”

Mulut Ibu Hyena terbuka mendengar pernyataan Dokter barusan. Menurutnya semua itu tidak mungkin.

“Usia kandungannya memasuki 80 hari. Dan kondisi kandungannya kurang sehat karena Nyonya Choi Hyena kurang memperhatikan kondisinya sendiri ataupun kondisi kandungannya. Jadi aku sarankan agar keluarganya lebih memperhatikan kesehatannya.”

“Tapi- Dokter, anakku gadis baik-baik, Dokter. Tidak mungkin dia hamil di luar nikah,” ibu Hyena panik. Tangannya meremas-remas tangan Yura.

“Untuk urusan itu, aku minta maaf, Nyonya. Itu di luar jangkauan kami. Kami hanya melakukan pemeriksaan sesuai prosedur yang ada. Dan hasil pemeriksaan sudah kujelaskan pada Nyonya. Tolong lebih beri perhatian lebih padanya.”

Ibu Hyena memeluk Yura. Tidak bisa lagi ditahannya air matanya. “Katakan kalau semua ini hanya mimpi, Yura. Aku tidak percaya semua ini. Aku tidak percaya kakakmu seperti itu,” katanya dalam tangisnya.

Yura mengusap-usap punggung ibunya. Dia ingin mengatakan semua itu adalah mimpi untuk menghibur ibunya. Tapi kenyataan sudah di depan mata. Apalagi yang akan diingkari?

Ibu Hyena melepaskan pelukannya pada Yura kemudian mengusap air matanya. “Ah, sepertinya aku terlalu mendramatisir keadaan. Aku minta maaf, Dokter. Terimakasih atas infonya. Kami permisi dulu,” Ibu Hyena dan Yura berjalan beriringan seusai membungkuk pada sang dokter.

Ibu Hyena menatap nanar pintu kamar perawatan Hyena. Dia menghempaskan nafasnya berat sembari membuka pintu kamar tersebut. Dilihatnya Hyena yang masih terbaring lemah dengan tatapan kosong.

“Siapa ayah dari bayi yang kau kandung, Hyena?” tanya Ibu Hyena dengan nada dingin.

Hyena kembali ke alam sadarnya. Ditatapnya ibunya penuh heran. “Ibu, aku tidak paham.”

“JANGAN BERPURA-PURA BODOH, HYENA! Katakan siapa yang sudah menghamilimu?!”

Mata Hyena terbelalak terkejut. Begitu pula Bibi Yang yang masih duduk di samping Hyena. “Ha- hamil?”

“Ya, kau hamil, Hyena! Katakan siapa yang sudah menghamilimu, hah?! Tuan Muda Yoongi?!”

Hyena menangis. Kepalanya menggeleng lemah.

“Lalu siapa, Hyena, katakan!”

Hyena tidak menjawab. Air matanya semakin banyak menetes.

“Kenapa kau membuat malu keluarga kita, Hyena? Kenapa?” Ibu Hyena ikut menangis. “Padahal aku berharap kau bisa mengangkat derajat keluarga kita dengan menyekolahkanmu tinggi-tinggi agar kau sukses nanti. Tapi ini balasanmu? Membuat malu keluarga! Ayahmu pasti juga sangat malu di atas sana, Hyena!”

“Ibu… Maafkan aku…”

“Kalau begitu katakan siapa ayah dari bayi yang kau kandung?!” seru ibu Hyena.

Lagi-lagi Hyena menggeleng. Dia tidak ingin ibunya tahu kalau Yoongi adalah pria yang harus bertanggungjawab atas kehamilannya. Dia tidak mau membuat masalah lebih besar lagi.

“Aku kecewa padamu, Hyena. Aku tidak mendidikmu menjadi wanita tidak benar. Sekarang semua terserah padamu. Aku tidak peduli lagi,” ujar ibu Hyena dingin.

“Ibu…,” suara Hyena semakin lemah karena tertutup tangisnya. Bahkan hidungnya sudah begitu merah.

“Jangan panggil aku ibu. Aku malu mempunyai anak sepertimu.”

“Jung Hana!” seru Bibi Yang. “Kau tidak boleh berkata seperti itu!”

“Jangan pernah pulang tanpa membawa pria yang sudah menghamilimu. Ayo kita pulang, Yura,” Ibu Hyena menarik tangan Yura keluar.

“Ibu-” Hyena bangkit dari tempat tidurnya untuk mengejar ibunya. Tidak dipedulikannya rasa sakit akibat jarum infus yang terlepas dari tangannya.

Brugh!

“Hyena!” Bibi Yang berlari mendekati Hyena yang ambruk di depan pintu ruangan itu.

“Ibu….” Hyena merasa kepalanya begitu berat.

“I-” Hyena pingsan. Bibi Yang panik. Dia mencari tombol pemanggil perawat yang terletak di samping tempat tidur Hyena kemudian menekannya.

—000—

Masih dalam balutan bathrobe-nya, Namjoon sibuk memilih-milih pakaian di lemarinya. Senyumnya tak lepas dari bibirnya.

Rencananya hari ini dia akan memberi kejutan dengan datang ke rumah Eunsol. Setelah sekian bulan memikirkannya, dia memutuskan untuk memilih Eunsol dan melupakan perasaannya untuk Sangeun. Dia teringat pesan Yoongi padanya beberapa bulan yang lalu saat Sangeun marah padanya.

Hanya ada 2 cara. Pertama adalah melupakan perasaanmu. Dan yang kedua adalah mencari tahu kelemahannya.

Dan kali ini dia memilih untuk melupakan perasaannya untuk Sangeun. Sesuai dengan yang Sangeun bilang, mereka tidak bisa memiliki hubungan lebih dari pelacur dan pelanggannya.

Namjoon meraih longcoat hitam, turtleneck putih, dan celana jeans panjang hitam kemudian memakai semua itu. Dia mengaca di depan kaca lebar persegi di kamarnya. Tangannya meraih pomade dan mengoleskannya di rambut blonde-nya.

Perfect!” ujarnya sembari memberi gestur seperti orang menembak di depan cermin.

Namjoon terus bersiul. Dia mengambil setangkai bunga mawar merah yang khusus dia beli untuk diberikan pada Eunsol di atas tempat tidurnya.

I’m ready, Eunsol.”

Namjoon menaiki mobil sport-nya dan melajukannya ke rumah Eunsol. Hatinya berbunga-bunga. Eunsol selalu memberikan respon positif setiap kali dia menggodanya. Seperti yang paman Eunsol bilang, gadis itu memang periang dan pekerja keras.

Namjoon memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana. Namjoon menarik nafasnya dalam-dalam dan menghempaskannya melalui mulut. Dia mencoba mengatur detak jantungnya yang terus saja berdegub kencang setiap mengingat gadis pujaan hatinya itu.

“Fighting!” Namjoon berkata pada dirinya sendiri. Dia keluar dari mobilnya dan berjalan menuju pintu rumah Eunsol. Hatinya kembali dag-dig-dug tidak karuan. Dia menyembunyikan bunga mawar untuk Eunsol di belakang punggungnya.

“Kau harus percaya diri, Namjoon.”

Namjoon tersenyum kecil. Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu rumah Eunsol. Tapi belum terlaksana keinginannya itu, pintu rumah Eunsol sudah terbuka lebih dulu.

“Namjoon Oppa?” Eunsol terkejut melihat Namjoon yang berdiri di depan pintunya dengan tangan kanan terangkat dan wajah bodohnya.

Namjoon menurunkan tangan kanannya. “Oh, kau-“

“Namjoon Oppa ada apa? Kenapa tidak memberitahuku kalau kau akan datang?” tanya Eunsol dengan senyum khasnya.

Namjoon mengusap-usap tengkuknya. “Itu… Aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu.”

“Kejutan?”

Namjoon mengangguk. “I-“

“Sayang, aku sudah selesai. Ayo berang- Oh, ada tamu?”

Mata Namjoon terbelalak melihat pria yang tiba-tiba saja datang dari dalam rumah Eunsol dan berdiri di sampingnya.

“Namjoon Oppa, perkenalkan, dia pacar baruku. Namanya Choi Minho,” Eunsol menarik tangan pria itu kemudian menyandarkan kepalanya di lengannya. “Dia Namjoon Oppa yang selalu kuceritakan.”

Pria bernama Minho itu membungkukkan badannya. Sementara Namjoon masih berdiri dengan tampang bodohnya.

“Sebenarnya kami akan pergi, Oppa. Seharusnya kau memberitahuku lebih dulu kalau kau akan datang,” kata Eunsol.

Namjoon menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Aku akan datang lagi lain kali.”

“Kalau begitu, kami pergi dulu, Oppa,” Eunsol berkata sambil melambaikan tangannya pada Namjoon. Tangannya masih melekat di lengan Minho.

Namjoon hanya bisa menatap kecewa mereka yang tengah bercanda di sepanjang jalan keluar. Dia menghempaskan nafasnya berat. Kembali dipandanginya mawar yang seharusnya dia berikan pada Eunsol.

“Aku benci wanita. Mereka begitu aneh dan sulit dimengerti.”

Namjoon membuang bunga itu di depan pintu rumah Eunsol dan menginjaknya saat dia berjalan keluar dari situ.

—000—

“Eunjin?”

Untuk beberapa detik kedua mata Taehyung menatap nanar tubuh Eunjin yang tergeletak di lantai kamarnya bersimbah darah. Pikirannya bimbang memikirkan apakah ini nyata atau mimpi.

“Eunjin!” Akhirnya dia berlari menghampiri Eunjin. Diraihnya tubuh Eunjin dan dipeluknya erat-erat.

“Eunjin! Eunjin, bangun ini Oppa!” Taehyung terus mengguncang-guncangkan tubuh Eunjin. Dia menatap wajah adiknya yang pucat dan mulai dingin.

“Eunjin! Eunjin, bangun! Eunjin jangan tinggalkan Oppa!” Tangis Taehyung pecah. Didekapnya kepala adik satu-satunya itu.

Taehyung mulai sadar. Walaupun masih sangat panik, dia membopong tubuh Eunjin keluar dari kamarnya untuk dibawa ke rumah sakit. Tidak dipedulikannya darah yang terus keluar dari tubuh Eunjin dan mengotori baju mereka.

“Hyung, bagaimana Eunjin?” tanya Jungkook yang baru datang bersama rombongan BTS yang lain. Mereka berdiri di depan ruangan tempat Eunjin diperiksa.

Taehyung menggeleng. Pandangannya kosong. Yang dia butuhkan saat ini hanyalah berita dari dokter kalau Eunjin baik-baik saja.

Sudah dua jam berlalu dari waktu Eunjin dibawa masuk ke dalam. Tapi rombongan dokter belum juga keluar. Tidak hanya Taehyung, anggota BTS yang lain juga bingung. Tidak terkecuali Seokjin yang notabene kekasih dari gadis yang kini tengah berjuang untuk hidupnya di dalam sana.

Tiba-tiba pintu ruangan tempat Eunjin diperiksa terbuka. Rombongan dokter mulai keluar. Pada baju putih mereka terdapat banyak bercak darah.

Taehyung, Seokjin, dan Jungkook adalah orang yang pertama menyambut rombongan dokter tersebut.

“Bagaimana kondisi Eunjin, Dokter?” tanya Taehyung panik.

Dokter itu menghempaskan nafasnya berat kemudian menggelengkan kepalanya.

“Maksud Dokter?”

“Kami minta maaf. Kami sudah mencoba yang terbaik tapi kami tidak berhasil menyelamatkan nyawanya,” kata Dokter itu hati-hati.

Taehyung berang dan menarik kerah baju dokter itu.

“Taehyung, hentikan!” Yoongi menarik tangan Taehyung.

“Lebih baik Tuan ikut aku saja. Aku akan menjelaskan apa yang terjadi di ruanganku,” kata Dokter itu.

Taehyung menangis keras. Dia tidak percaya semua ini terjadi. Dia tidak percaya Eunjin pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Tanpa pamit, tanpa pesan terakhir.

“EUNJIN!” teriaknya seperti orang kesetanan.

[Song : Stay by Daryl Ong]

—TBC—

 

Advertisements

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

One thought on “FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 20

  1. Author.. Ceritanya makin seru… Tapi menurutku ini alurnya terlalu cepat :v…
    Konflik yoongi paling ku tunggu :v

    Semangat ya thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s