FF/ ONESHOOT/ ORANGE LILY/ BANGTAN-SHINEE


wpid-picsart_1437835891719.jpg

Title                         : Orange Lily

Author                     : lookatmafeet

Cast                         : ● SHINEE’s Taemin ● BTS’ Suga

Length                     : OneShoot

 

Dunia penuh dengan kejutan.
Dirinya yakin, ia tidak pernah mengalami kecemasan seperti ini.

Setahunya, ia tidak pernah memikirkan hal tidak penting dalam hidupnya, terkecuali hal yang satu ini. Yoongi, teman dekatnya tidak pernah mengabaikan pesan yang ia kirim—terkadang Yoongi membalasnya 30 menit sejak pesan itu terkirim. Sungguh ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan temannya itu.

Mungkin, Yoongi sedang terdampar di pulau yang tidak berpenghuni—ia harap begitu. Atau ponselnya sedang mati dan si pemilik sedang menikmati pesta—mana ada pesta di siang hari. Mungkin juga, Yoongi sedang dirawat di rumah sakit karena virus yang mematikan—pemikiran yang tidak masuk akal.

Berkali-kali ia melakukan aktivitas ‘menghidupkan dan mematikan’ ponselnya, hasilnya tentu tidak berubah. Akhirnya ia menyerah. Mungkin, Yoongi sudah melupakannya, pikirnya.

Seulas senyum terukir di wajah cantiknya—teman satu kelasnya mengakui itu. Lalu ia berdiri dari tidurnya, menghidupkan musik yang berada di dalam playlistnya dengan acak. Kaki dan tangannya digerakkan sesuai alunan lagu yang berputar.

Rasa cemasnya perlahan memudar. Bak; salju yang meleleh di awal musim semi—sekarang sudah berada di pertengahan musim panas. Ponselnya berdering, pesan masuk tertera di layar.

Ternyata ia tidak dilupakan, pikirnya.

Sudah lebih dari seminggu sejak terakhir Yoongi menulis sebuah kata sebagai balasan untuk dirinya. Meskipun saat ini Yoongi hanya menulis 5 kata, baginya hal itu sudah cukup menghapus dugaan buruk yang telah ia buat. Baginya Yoongi adalah teman dekatnya selain Kim Jongin—pelengkap di antara dirinya dan Min Yoongi.

Sungguh, mati saja Yoongi kalau sampai melupakannya.

Suara ketukan pintu terdengar dengan pelan. Ia segera membukanya, dan tersenyum saat melihat si pengetuk. Sama seperti dirinya, Yoongi—si pengetuk ikut tersenyum.

“Aku takut banyak yang mencurigai kita, Min,” bisik Yoongi kepada seseorang bernama Min. Min hanya menghela nafas, “Kita hanya teman saja, Yoon,”

Yoongi memasuki rumah Min tanpa permisi, dan meninggalkan sang pemilik yang masih akan mengikuti Yoongi. Langkahnya tertuju pada sofa hitam yang tidak jauh dari dirinya, Yoongi menempatkan tubuhnya di atas sofa milik Min. “Aku teringat saat pertama kita bertemu, Min,” ucap Yoongi membuka pembicaraan.

Min duduk di samping Yoongi yang menatap sang teman disertai dengan senyum lebar. “Dulu kau terlihat lugu,” balas Min.

“Kau juga, Min,”

“Namaku bukan Min, tapi Taemin,” lirih Taemin yang dibalas kekehan kecil Yoongi. Tatapan tajam diberikan Taemin kepada seseorang yang dianggap sahabatnya. “Kau tidak berubah, Taemin,” ucap Yoongi yang masih memasang senyumannya. Matahari sedang bahagia hingga membuat manusia kesal dengan ulahnya, alasannya karena para manusia tidak tahan dengan panas matahari.

Termasuk Yoongi yang memilih Rumah Taemin sebagai tempat pendingin sementara, dan Taemin agak keberatan rumahnya ditempati oleh Yoongi meskipun sebentar. Sungguh ia menyesal mencemaskan temannya itu. Suasana menjadi hening, dan canggung. Akhirnya Yoongi mengalah, ia memilih untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.

“Kau ingat Song Minho—siswa yang pindah ke London tahun lalu?”

Taemin mengangguk sebagai jawaban pertanyaan temannya. Ia bertanya, “Kenapa?” Yoongi hanya menghela nafas melepaskan beban dunianya.

Sang pemilik rumah mengambilkan dua kaleng cola dingin dari dalam kulkas, menurutnya cola sangat cocok dengan kondisi temannya hari ini—ia sangat tahu perilaku temannya. Sebuah kaleng sudah terbuka, dan siap untuk diminum, namun sang pembuka masih memegang kaleng—tanda belum berminat untuk meminumnya. Cuaca hari ini sangat panas hingga pendingin ruangan saja tidak cukup untuk mengubah suhu menjadi lebih rendah. Yoongi masih memikirkan kalimat yang cocok untuk diucapkan.

“Aku memiliki hubungan dengan mantan pacarnya yang ia tinggalkan tahun lalu,” ucap Yoongi.

“Itu bagus,” sahut Taemin yang disambut tatapan ‘Kau tidak mengerti, Taemin’ milik Yoongi. “Hubungan kami rumit, Min,” balas Yoongi. Ia tidak menyangka kondisi temannya begitu rumit, sungguh ia tahu harus berbuat apa. Kaleng cola milik Yoongi sudah habis tak bersisa, meninggalkan jejak di ujung bibirnya dalam beberapa detik ia menyadarinya, dan segera menghapusnya menggunakan punggung tangannya.

“Aku tidak pernah tahu kalau ia menyukaiku, dan semua terjadi begitu saja semalam,”

Taemin menaikkan sebelah alisnya—tanda ia sedang bingung, dan Yoongi hanya memandang wajah temannya. Namun, beberapa saat kemudian Taemin berkata dengan nada tinggi, “Itu bagus, Yoon, berarti rumor itu tidak benar,” ia tertawa hambar. Yoongi menghela nafas, lalu mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.

“Dia menyukaimu, lalu kau bagai—”

“Lalu aku menyukaimu, Min,” balas Yoongi dengan senyuman lembut, namun membuat Taemin tercengang, lalu tertawa paksa. Ada rasa tidak percaya dalam nada tawanya, dan nada menghina juga terdapat dalam nada tawa itu—tetapi Yoongi tidak tahu. Mungkin ia sedang tidak waras, pikirnya. Atau mungkin cuaca panas membuat akal pikirannya agak kacau—entahlah ia tidak begitu yakin. “Jangan mengada-ada, Yoon,” ucap Taemin saat tawanya berhenti. Namun seseorang yang ia tertawakan hanya memandang dirinya dengan serius, tidak ada tanda bahwa ia sedang bercanda di sana.

Taemin berdiri, lalu berjalan ke dapur—ingin membuat dua cangkir cokelat panas, tujuannya hanya ingin mencairkan suasana, walaupun cuaca sudah cukup panas bagi mereka. Dan Yoongi masih berdiam diri di atas sofa Taemin dengan segala masalah yang mengganjal di pikirannya. Sungguh Taemin tidak suka jika berurusan dengan perasaan seseorang—ia bukan tipe seseorang yang suka ingin tahu masalah orang lain. Kemudian Taemin membawa dua cangkir cokelat panas yang salah satunya untuk dirinya sendiri, dan yang satu untuk temannya—Min Yoongi yang sedang menatapnya bingung.

“Aku hanya ingin mencairkan suasana,”

“Oh,”

Tidak ada satupun dari mereka berdua yang membuat konfrontasi setelah Yoongi berkata ‘oh’ tanpa lanjutan apapun, dan Taemin sangat kesal ketika Yoongi hanya membalasnya dengan kata ‘oh’ meskipun ia berceloteh 5 paragraf sekaligus. Rasanya ia ingin mencekik leher temannya lalu mematahkannya dengan satu pukulan—andai ia bisa melakukan itu, tanpa takut apapun. Dalam sekali tegukan lelaki berambut hitam itu langsung menghabiskan cokelat panas yang ia buat sendiri, ia sedang kesal sekarang. Sinar matahari yang terik tertutup oleh awan cumulonimbus—pertanda hujan akan segera datang, dan pertanda Yoongi akan bertahan lebih lama di rumahnya hingga hujan sudah reda. Menyebalkan, pikir Taemin.

“Kau tidak terkejut kalau aku menyukaimu?”

Taemin hanya tertawa sarkastis—lagi—sebagai jawaban untuk pertanyaan Yoongi. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar pernyataan seperti itu—baik laki-laki maupun gadis-gadis menurutnya menyebalkan, jadi ia sudah terbiasa. “Kau bukan lelaki pertama yang menyatakan itu kepadaku,” jawabnya yang masih setengah tertawa.

Setelah ia berhenti tertawa, ia menambahkan, “Song Minho yang pertama, lalu Kim Jongin yang kedua. Dan kau yang terakhir.”

Yoongi nampak tercengang setelah mendengar nama Song Minho—yang selama ini memiliki gelar lelaki tulen—disebut oleh teman dekatnya. Jika siswa di sekolah mendengar aib tersebut, pasti akreditasi Minho akan tercemar meskipun ia sudah pindah. Lalu Taemin menambahkan, “bahkan aku dan Jongin pernah berkencan,” tawanya berlanjut, namun sekarang tawanya sungguh lepas, dan Yoongi tertawa hambar. Beberapa menit kemudian semua kembali hening, tidak ada satupun suara yang terdengar, kecuali suara hujan, dan suara jam dinding yang berdetak. Akhirnya Yoongi mengalah dengan rasa segannya—rasa ingin tahunya memenangkan konfrontasi kecil antara rasa ingin tahu dan rasa segan dalam dirinya.

“Lalu, kau memiliki hubungan dengan salah satu di antara mereka?”

Konyol.
Taemin menatap Yoongi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan—yang ditatap hanya meruntuki dirinya sendiri, menyesal mengeluarkan pertanyaan konyol itu blak-blakan. Namun rasa penyesalan itu perlahan menghilang saat Taemin tidak lagi menatapnya, dan tergantikan oleh senyum tipis nya. Dan mulai bersuara, “aku bahkan bersyukur Jieun mau berpacaran denganku, Yoon.”

Hujan masih turun dengan deras, meskipun petir tidak semenakutkan seperti tadi. Taemin memutar gravity milik Sara Bareilles sebagai pendamping bunyi butiran air hujan yang terjatuh, dan kembali duduk di samping Yoongi yang menutup matanya menenangkan diri—anggap saja begitu. Kedua matanya terbuka saat mendengar Taemin membuka pembicaraan.

“Ada yang ingin kubicarakan, Yoon,”

Tatapan Taemin kembali serius, tidak ada tanda kalau ia sedang bercanda. Ini pertama kalinya Yoongi melihat tatapan temannya seperti itu—atau ia yang tidak pernah peduli dengan tatapan Taemin. “Apa?” Tanya Yoongi sambil membenarkan duduknya, dan Taemin menarik nafas menyiapkan kalimat yang akan ia lontarkan.

“Aku—” disaat Taemin ingin berbicara sesuatu ponsel milik Yoongi juga ingin berbicara, namun sang pemilik mendesah seolah tidak ingin mendengar ocehan dari ponselnya. Namun, ocehan ponsel begitu mengganggu sehingga membuat Yoongi mengangkat panggilan dari—yang ia yakini—dari ibunya. Dan benar saja, Yoongi menyuruh Taemin untuk menunggu sejenak, karena ibunya ingin berbicara sesuatu. Sialnya, ibunya justru menyuruh pulang ke rumah, dan berbicara di rumah saja. Mencoba menjadi anak baik, Yoongi akan melakukan apa yang ibunya perintahkan. Sepuluh menit cukup dirasa untuk mendengar satu kalimat Taemin yang terpotong—meskipun ia tidak yakin hanya satu kalimat yang diucapkan temannya.

“Setelah lulus nanti, aku akan menikah, Yoon.”

Benar. Taemin tidak mengucapkan satu kalimat saja, melainkan lebih. Dan fakta selanjutnya, Yoongi benar-benar terkejut dengan kalimat yang diucapkan temannya. Sungguh, apa yang dikatakan Taemin jauh dari ekspektasi yang berada di pikiran Yoongi. Dari dulu ia tidak bisa ditebak, tidak berubah, aku Yoongi.

“Dengan Naeun?” Tanya Yoongi penasaran, namun hanya dijawab dengan senyuman—misterius. Tetapi sisi misteri Taemin menghilang begitu saja saat bibirnya membuka dengan kalimat yang diucapkan beruntun. “Sudah 6 bulan sejak aku putus dengan Naeun, Yoon,” jawab Taemin dengan senyum yang masih lengket di wajahnya—seolah dilengketkan dengan lem perekat yang tahan lama. Yoongi melihat waktu yang terus berjalan di tangannya, lalu ia berdiri ingin meminta izin untuk pulang, karena waktu yang ia punya sudah habis.

Namun saat sudah berada di ujung pintu, Taemin mencoba menahan sahabatnya. Walaupun aksara tidak terucap, indra penglihatan pun mencoba menyampaikan aksara yang tersirat. Sayangnya Yoongi bukanlah seorang cenayang yang dapat mengetahui apa yang tidak ia ketahui. Ia hendak keluar dari rumah Taemin, namun sekali lagi sang pemilik rumah menahan dengan aksara yang terucap. Dan Yoongipun terhenyak, ia memandang Taemin yang tersenyum lega—entah lega atau menyembunyikan beban di hati.

“Setelah kita lulus, aku akan menikah dengan ibumu, Yoon—”

Ucapan Taemin begitu mengejutkan. Oh, dan jangan lupa kalimat selanjutnya. “Dan aku akan menjadi ayah tirimu, Yoon.”
.
.
.
.
.
.
Mungkin Yoongi akan mengalami shock selama 3 bulan atau 1 tahun penuh. Entahlah, lain kali ia akan lebih peduli dengan temannya—ralat, ayah tirinya.

FinDunia penuh dengan kejutan.
Dirinya yakin, ia tidak pernah mengalami kecemasan seperti ini.

Setahunya, ia tidak pernah memikirkan hal tidak penting dalam hidupnya, terkecuali hal yang satu ini. Yoongi, teman dekatnya tidak pernah mengabaikan pesan yang ia kirim—terkadang Yoongi membalasnya 30 menit sejak pesan itu terkirim. Sungguh ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan temannya itu.

Mungkin, Yoongi sedang terdampar di pulau yang tidak berpenghuni—ia harap begitu. Atau ponselnya sedang mati dan si pemilik sedang menikmati pesta—mana ada pesta di siang hari. Mungkin juga, Yoongi sedang dirawat di rumah sakit karena virus yang mematikan—pemikiran yang tidak masuk akal.

Berkali-kali ia melakukan aktivitas ‘menghidupkan dan mematikan’ ponselnya, hasilnya tentu tidak berubah. Akhirnya ia menyerah. Mungkin, Yoongi sudah melupakannya, pikirnya.

Seulas senyum terukir di wajah cantiknya—teman satu kelasnya mengakui itu. Lalu ia berdiri dari tidurnya, menghidupkan musik yang berada di dalam playlistnya dengan acak. Kaki dan tangannya digerakkan sesuai alunan lagu yang berputar.

Rasa cemasnya perlahan memudar. Bak; salju yang meleleh di awal musim semi—sekarang sudah berada di pertengahan musim panas. Ponselnya berdering, pesan masuk tertera di layar.

Ternyata ia tidak dilupakan, pikirnya.

Sudah lebih dari seminggu sejak terakhir Yoongi menulis sebuah kata sebagai balasan untuk dirinya. Meskipun saat ini Yoongi hanya menulis 5 kata, baginya hal itu sudah cukup menghapus dugaan buruk yang telah ia buat. Baginya Yoongi adalah teman dekatnya selain Kim Jongin—pelengkap di antara dirinya dan Min Yoongi.

Sungguh, mati saja Yoongi kalau sampai melupakannya.

Suara ketukan pintu terdengar dengan pelan. Ia segera membukanya, dan tersenyum saat melihat si pengetuk. Sama seperti dirinya, Yoongi—si pengetuk ikut tersenyum.

“Aku takut banyak yang mencurigai kita, Min,” bisik Yoongi kepada seseorang bernama Min. Min hanya menghela nafas, “Kita hanya teman saja, Yoon,”

Yoongi memasuki rumah Min tanpa permisi, dan meninggalkan sang pemilik yang masih akan mengikuti Yoongi. Langkahnya tertuju pada sofa hitam yang tidak jauh dari dirinya, Yoongi menempatkan tubuhnya di atas sofa milik Min. “Aku teringat saat pertama kita bertemu, Min,” ucap Yoongi membuka pembicaraan.

Min duduk di samping Yoongi yang menatap sang teman disertai dengan senyum lebar. “Dulu kau terlihat lugu,” balas Min.

“Kau juga, Min,”

“Namaku bukan Min, tapi Taemin,” lirih Taemin yang dibalas kekehan kecil Yoongi. Tatapan tajam diberikan Taemin kepada seseorang yang dianggap sahabatnya. “Kau tidak berubah, Taemin,” ucap Yoongi yang masih memasang senyumannya. Matahari sedang bahagia hingga membuat manusia kesal dengan ulahnya, alasannya karena para manusia tidak tahan dengan panas matahari.

Termasuk Yoongi yang memilih Rumah Taemin sebagai tempat pendingin sementara, dan Taemin agak keberatan rumahnya ditempati oleh Yoongi meskipun sebentar. Sungguh ia menyesal mencemaskan temannya itu. Suasana menjadi hening, dan canggung. Akhirnya Yoongi mengalah, ia memilih untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.

“Kau ingat Song Minho—siswa yang pindah ke London tahun lalu?”

Taemin mengangguk sebagai jawaban pertanyaan temannya. Ia bertanya, “Kenapa?” Yoongi hanya menghela nafas melepaskan beban dunianya.

Sang pemilik rumah mengambilkan dua kaleng cola dingin dari dalam kulkas, menurutnya cola sangat cocok dengan kondisi temannya hari ini—ia sangat tahu perilaku temannya. Sebuah kaleng sudah terbuka, dan siap untuk diminum, namun sang pembuka masih memegang kaleng—tanda belum berminat untuk meminumnya. Cuaca hari ini sangat panas hingga pendingin ruangan saja tidak cukup untuk mengubah suhu menjadi lebih rendah. Yoongi masih memikirkan kalimat yang cocok untuk diucapkan.

“Aku memiliki hubungan dengan mantan pacarnya yang ia tinggalkan tahun lalu,” ucap Yoongi.

“Itu bagus,” sahut Taemin yang disambut tatapan ‘Kau tidak mengerti, Taemin’ milik Yoongi. “Hubungan kami rumit, Min,” balas Yoongi. Ia tidak menyangka kondisi temannya begitu rumit, sungguh ia tahu harus berbuat apa. Kaleng cola milik Yoongi sudah habis tak bersisa, meninggalkan jejak di ujung bibirnya dalam beberapa detik ia menyadarinya, dan segera menghapusnya menggunakan punggung tangannya.

“Aku tidak pernah tahu kalau ia menyukaiku, dan semua terjadi begitu saja semalam,”

Taemin menaikkan sebelah alisnya—tanda ia sedang bingung, dan Yoongi hanya memandang wajah temannya. Namun, beberapa saat kemudian Taemin berkata dengan nada tinggi, “Itu bagus, Yoon, berarti rumor itu tidak benar,” ia tertawa hambar. Yoongi menghela nafas, lalu mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.

“Dia menyukaimu, lalu kau bagai—”

“Lalu aku menyukaimu, Min,” balas Yoongi dengan senyuman lembut, namun membuat Taemin tercengang, lalu tertawa paksa. Ada rasa tidak percaya dalam nada tawanya, dan nada menghina juga terdapat dalam nada tawa itu—tetapi Yoongi tidak tahu. Mungkin ia sedang tidak waras, pikirnya. Atau mungkin cuaca panas membuat akal pikirannya agak kacau—entahlah ia tidak begitu yakin. “Jangan mengada-ada, Yoon,” ucap Taemin saat tawanya berhenti. Namun seseorang yang ia tertawakan hanya memandang dirinya dengan serius, tidak ada tanda bahwa ia sedang bercanda di sana.

Taemin berdiri, lalu berjalan ke dapur—ingin membuat dua cangkir cokelat panas, tujuannya hanya ingin mencairkan suasana, walaupun cuaca sudah cukup panas bagi mereka. Dan Yoongi masih berdiam diri di atas sofa Taemin dengan segala masalah yang mengganjal di pikirannya. Sungguh Taemin tidak suka jika berurusan dengan perasaan seseorang—ia bukan tipe seseorang yang suka ingin tahu masalah orang lain. Kemudian Taemin membawa dua cangkir cokelat panas yang salah satunya untuk dirinya sendiri, dan yang satu untuk temannya—Min Yoongi yang sedang menatapnya bingung.

“Aku hanya ingin mencairkan suasana,”

“Oh,”

Tidak ada satupun dari mereka berdua yang membuat konfrontasi setelah Yoongi berkata ‘oh’ tanpa lanjutan apapun, dan Taemin sangat kesal ketika Yoongi hanya membalasnya dengan kata ‘oh’ meskipun ia berceloteh 5 paragraf sekaligus. Rasanya ia ingin mencekik leher temannya lalu mematahkannya dengan satu pukulan—andai ia bisa melakukan itu, tanpa takut apapun. Dalam sekali tegukan lelaki berambut hitam itu langsung menghabiskan cokelat panas yang ia buat sendiri, ia sedang kesal sekarang. Sinar matahari yang terik tertutup oleh awan cumulonimbus—pertanda hujan akan segera datang, dan pertanda Yoongi akan bertahan lebih lama di rumahnya hingga hujan sudah reda. Menyebalkan, pikir Taemin.

“Kau tidak terkejut kalau aku menyukaimu?”

Taemin hanya tertawa sarkastis—lagi—sebagai jawaban untuk pertanyaan Yoongi. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar pernyataan seperti itu—baik laki-laki maupun gadis-gadis menurutnya menyebalkan, jadi ia sudah terbiasa. “Kau bukan lelaki pertama yang menyatakan itu kepadaku,” jawabnya yang masih setengah tertawa.

Setelah ia berhenti tertawa, ia menambahkan, “Song Minho yang pertama, lalu Kim Jongin yang kedua. Dan kau yang terakhir.”

Yoongi nampak tercengang setelah mendengar nama Song Minho—yang selama ini memiliki gelar lelaki tulen—disebut oleh teman dekatnya. Jika siswa di sekolah mendengar aib tersebut, pasti akreditasi Minho akan tercemar meskipun ia sudah pindah. Lalu Taemin menambahkan, “bahkan aku dan Jongin pernah berkencan,” tawanya berlanjut, namun sekarang tawanya sungguh lepas, dan Yoongi tertawa hambar. Beberapa menit kemudian semua kembali hening, tidak ada satupun suara yang terdengar, kecuali suara hujan, dan suara jam dinding yang berdetak. Akhirnya Yoongi mengalah dengan rasa segannya—rasa ingin tahunya memenangkan konfrontasi kecil antara rasa ingin tahu dan rasa segan dalam dirinya.

“Lalu, kau memiliki hubungan dengan salah satu di antara mereka?”

Konyol.
Taemin menatap Yoongi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan—yang ditatap hanya meruntuki dirinya sendiri, menyesal mengeluarkan pertanyaan konyol itu blak-blakan. Namun rasa penyesalan itu perlahan menghilang saat Taemin tidak lagi menatapnya, dan tergantikan oleh senyum tipis nya. Dan mulai bersuara, “Aku bahkan bersyukur Jieun mau berpacaran denganku, Yoon.”

Hujan masih turun dengan deras, meskipun petir tidak semenakutkan seperti tadi. Taemin memutar gravity milik Sara Bareilles sebagai pendamping bunyi butiran air hujan yang terjatuh, dan kembali duduk di samping Yoongi yang menutup matanya menenangkan diri—anggap saja begitu. Kedua matanya terbuka saat mendengar Taemin membuka pembicaraan.

“Ada yang ingin kubicarakan, Yoon,”

Tatapan Taemin kembali serius, tidak ada tanda kalau ia sedang bercanda. Ini pertama kalinya Yoongi melihat tatapan temannya seperti itu—atau ia yang tidak pernah peduli dengan tatapan Taemin. “Apa?” Tanya Yoongi sambil membenarkan duduknya, dan Taemin menarik nafas menyiapkan kalimat yang akan ia lontarkan.

“Aku—” disaat Taemin ingin berbicara sesuatu ponsel milik Yoongi juga ingin berbicara, namun sang pemilik mendesah seolah tidak ingin mendengar ocehan dari ponselnya. Namun, ocehan ponsel begitu mengganggu sehingga membuat Yoongi mengangkat panggilan dari—yang ia yakini—dari ibunya. Dan benar saja, Yoongi menyuruh Taemin untuk menunggu sejenak, karena ibunya ingin berbicara sesuatu. Sialnya, ibunya justru menyuruh pulang ke rumah, dan berbicara di rumah saja. Mencoba menjadi anak baik, Yoongi akan melakukan apa yang ibunya perintahkan. Sepuluh menit cukup dirasa untuk mendengar satu kalimat Taemin yang terpotong—meskipun ia tidak yakin hanya satu kalimat yang diucapkan temannya.

“Setelah lulus nanti, aku akan menikah, Yoon.”

Benar. Taemin tidak mengucapkan satu kalimat saja, melainkan lebih. Dan fakta selanjutnya, Yoongi benar-benar terkejut dengan kalimat yang diucapkan temannya. Sungguh, apa yang dikatakan Taemin jauh dari ekspektasi yang berada di pikiran Yoongi. Dari dulu ia tidak bisa ditebak, tidak berubah, aku Yoongi.

“Dengan Naeun?” Tanya Yoongi penasaran, namun hanya dijawab dengan senyuman—misterius. Tetapi sisi misteri Taemin menghilang begitu saja saat bibirnya membuka dengan kalimat yang diucapkan beruntun. “Sudah 6 bulan sejak aku putus dengan Naeun, Yoon,” jawab Taemin dengan senyum yang masih lengket di wajahnya—seolah dilengketkan dengan lem perekat yang tahan lama. Yoongi melihat waktu yang terus berjalan di tangannya, lalu ia berdiri ingin meminta izin untuk pulang, karena waktu yang ia punya sudah habis.

Namun saat sudah berada di penghujung pintu, Taemin mencoba menahan sahabatnya. Walaupun aksara tidak terucap, indra penglihatan pun mencoba menyampaikan aksara yang tersirat. Sayangnya Yoongi bukanlah seorang cenayang yang dapat mengetahui apa yang tidak ia ketahui. Ia hendak keluar dari rumah Taemin, namun sekali lagi sang pemilik rumah menahan dengan aksara yang terucap. Dan Yoongipun terhenyak, ia memandang Taemin yang tersenyum lega—entah lega atau menyembunyikan beban di hati.

“Setelah kita lulus, aku akan menikah dengan ibumu, Yoon—”

Ucapan Taemin begitu mengejutkan. Oh, dan jangan lupa kalimat selanjutnya. “Dan aku akan menjadi ayah tirimu, Yoon.”
.
.
.
.
.
.

Mungkin Yoongi akan mengalami shock selama 3 bulan atau 1 tahun penuh. Entahlah, lain kali ia akan lebih peduli dengan temannya—ralat, ayah tirinya.

 

 

Fin

Advertisements

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s