FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 19


11902518_869875126416742_4665585678208730251_n

Tittle : BTS 7 Soul

Author : Lingkyu88

Lenght : Chapter

Language : Indonesia

Genre : Romance, Friendship, Rate Mature, NC -17

Main Cast :
Boys :
– Park Jimin
– Kim Taehyung
– Jeon Jungkook
– Kim Seokjin
– Min Yoongi
– Jung Hoseok
– Kim Namjoon

Girl :
– Kim Eunjin
– Kwon Minyoung
– Lee Namjung
– Han Ara
– Shin Sang Eun
– Choi Hyena
– Oh Yeonkyung

Other Cast :
– Goo Junhoe
– Max Changmin
– Oh Hayoung
– Park Eunsol
– Yoon Bomi

Cover by :
Cover Story Fanfiction Korea

Disclaimer :
BTS members are not mine but this fanfic is pure my imagination. I give this fanfic mature rating cuz there will be parts that contains with sex, harrasment, blood, & drugs. Please don’t be silent readers and plagiator. So ignore typos, enjoy the story! Thanks~~ ♥♥♥

-Kim Taehyung POV-

Aku menggonta-ganti channel TV-ku dengan malas. Rasanya bosan sekali. Eunjin menginap di tempat Seokjin Hyung dari semalam, Jungkook juga tidak bisa kuhubungi.

Sebenarnya hari ini Ara mau datang. Tapi sudah hampir tengah hari dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Tsk! Lagipula aku juga tidak mengharapkan kedatangannya.

Terdengar sedikit kejam memang, tapi sikap dinginku padanya ada alasannya. Walaupun sejujurnya aku kasihan padanya, tapi tetap saja.

Ting-tong!

Bel di rumahku berbunyi tapi aku tetap tidak beranjak dari tempat dudukku.

Ting-tong! Ting-tong!

Aish, kemana perginya Bibi Song?

Dengan langkah malas aku berjalan menuju ruang depan. Kubuka pintu rumahku karena si tamu terus menerus menekan bel rumahku dan itu sangat mengganggu.

“Taehyung…”

Suara itu…

“Taehyung, ini aku…”

Aku memandang sosok di depanku. Dia, masih dengan gaun violet yang kuberikan waktu itu. Dan juga senyum khasnya yang begitu indah dengan lesung pipi yang sangat dalam.

Senyumku merekah.”K- kau… pulang?”

“Taehyung? Kau… tidak apa-apa?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Ara?”

Gadis itu tersenyum. “Iya ini aku, Ara. Kau… tidak apa-apa?”

Oh, aku pikir dia kembali. Apa yang kupikirkan baru saja? Tapi baju itu- Baju yang Ara pakai sama persis dengan baju yang kuberikan untuknya.

“Kau… tidak menyuruhku masuk?” Tanyanya.

“A- ah, masuklah.”

Ara masuk ke dalam, aku hanya mengekorinya dari belakang.

“Eunjin kemana?” Tanyanya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.

“Ke tempat pacarnya,” jawabku singkat.

“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

“Ngomong-ngomong, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Tanyanya.

“Tentu saja.”

“Kau… darimana kau mendapatkan gaun itu?”

Ara melihat gaun yang dikenakannya sekilas. “Ini… Apa aku terlihat tidak pantas memakainya?”

“Aku hanya bertanya darimana kau mendapatkan gaun itu?”

“Umm… ini- sebenarnya… June yang memberikannya untukku,” jawabnya takut-takut.

“June?” Emosiku tersulut. Aku mencengkeram kedua bahu Ara dengan kasar. “Katakan! Apa yang kalian rencanakan?”

“Taehyung, lepaskan! Ini sakit!” Ujarnya.

“Tidak. Katakan dulu apa yang kalian rencanakan!” Aku semakin kencang mencengkeram bahunya. Aku tidak peduli dia yang terus menerus mengeluh kesakitan.

“Aku tidak merencanakan apa-apa, Taehyung.”

“BOHONG! Lalu kenapa kau meminta untuk tinggal di sini sehari kalau kau tidak ada maksud tertentu?!” Seruku padanya.

“Lepaskan dulu, Taehyung!”

“Tidak! Jawab dulu pertanyaanku!”

“KARENA AKU MERINDUKANMU, KAU PUAS?!” Teriaknya.

Perlahan aku mengendurkan cengkeraman tanganku di bahunya.

“Kau memiliki segalanya, Taehyung. Uang, kuasa, ketampanan. Sehingga dengan seenaknya kau mempermainkan hati orang! Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya dicampakkan? Kau tidak pernah tahu rasanya ditinggalkan? Aku tahu aku pernah membuat kesalahan fatal yang membuatmu meninggalkanku. Tapi apa kau tahu aku memendam amarahku padamu selama kita masih bersama? Kau menyatakan cinta pada gadis lain di belakangku. Kau mencintai Rose, pelacur-“

Plakk!

Entah kenapa aku begitu emosi saat Ara menyebut Rose sebagai pelacur sampai-sampai tanpa sadar aku menamparnya. Tapi yang mengejutkan Ara tidak marah ataupun menangis. Dia malah tertawa tapi terdengar menyakitkan.

“Kau bahkan menamparku padahal aku mengatakan yang sebenarnya.”

Aku terdiam. Ya, kau benar Ara, dia pelacur.

“Ah, aku lupa kalau hari ini aku ingin menikmati waktu kita berdua. Kali ini aku memaafkanmu. Dan… berpura-puralah menjadi kekasihku untuk hari ini saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Aku mengerutkan keningku. Kenapa dia begitu berbeda dengan Ara yang selama ini kukenal? Yang aku tahu Ara itu gadis pendiam dan pengalah. Memang baru saja dia mengalah, tapi dia terlihat sangat berbeda dan seperti menyimpan sesuatu di balik semua ini.

“Tapi ada satu syarat,” kataku.

“Apa itu?”

“Ganti bajumu. Pakailah baju Eunjin. Sepertinya ukuran pakaian kalian sama.”

“Tapi-“

“Tidak ada tapi.”

“Baiklah.”

Aku menarik tangannya menuju kamar Eunjin di lantai atas. Tapi aku baru tahu kalau Eunjin mengunci pintu kamarnya. Sial! Aku tidak mau melihat Ara dengan gaun itu. Gaun itu terlalu menyakitkan untuk dilihat.

“Tampaknya Eunjin mengunci pintu kamarnya,” ujarnya.

Huft! Pikirkan cara lain, Taehyung! Pikirkan!

“Ayo,” aku menarik tangan Ara ke kamarku. Dia hanya diam menurut.

Aku mengacak-acak lemariku dan mencarikan baju untuk dia pakai. “Ini, pakailah!” Aku menyodorkan kemeja putih polos padanya.

“Tapi…”

“Pakailah. Dan aku akan berpura-pura menjadi pacarmu hari ini,” kataku.

Ara mengangguk.

Tiba-tiba suasana menjadi kaku.

“Kau… bisakah keluar dulu? Aku mau mengganti pakaianku,” ujarnya.

“Sudahlah, ganti saja. Toh aku sudah pernah melihatnya,” jawabku cuek.

“Umm, memang. Tapi-“

“Kemari!” Aku menarik tangannya dan membuatnya berdiri di depan cermin besar di lemariku. “Gaunmu memiliki resleting di belakang. Kau pasti kesulitan membukanya,” bisikku di telinganya. Aku tahu dia pasti terkejut karena aku sempat melihatnya membelalakkan matanya.

Dengan pelan aku menurunkan resleting gaunnya yang memiliki resleting sepanjang punggung. Aku menurunkan bagian atas gaunnya hingga sebatas dada bagian atas.

“Taehyung…” ujarnya lirih.

“Sssttt… Jangan protes. Ingat hari ini aku adalah pacarmu,” kataku kemudian mengecup bahu kirinya.

Ara tidak merespon apa-apa. Dia hanya diam.

Aku menurunkan gaunnya hingga pinggang dan dengan sendirinya gaun itu terlepas dari tubuhnya. Aku melihat dari cermin Ara menundukkan wajahnya. Entah malu entah apa karena saat ini dia hanya mengenakan bra tanpa tali dan celana dalamnya saja.

“Kau terlihat lebih kurus. Apa kau terlalu memikirkanku?” Aku memeluk pinggangnya dan menyandarkan daguku di bahu kirinya. Lagi-lagi dia hanya diam.

“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu memikirkanku,” kataku sembari mengambil kemejaku di tangannya. Aku membuka kancing kemeja itu dan memakaikannya ke badan Ara dari belakang. Kemeja itu kebesaran dipakai olehnya dan hanya menutupi hingga bagian bawah bokongnya.

Aku membalik tubuhnya menghadapku dan mengancingkan kemejaku yang kini sudah menempel di badannya. Dan dia tetap diam saja tanpa suara.

Aku meraih dagunya dan mendekatkan wajahku padanya. “Ayolah bicara sesuatu, Sayang. Apa kau akan mendiamkanku seperti ini jika aku menjadi pacarmu, hm?”

Aku tidak tahu apa rencanamu, Ara. Biarkan aku mengikuti permainan yang kau buat.

“Bagaimana kalau kita menonton? Kemarin Eunjin membeli kaset baru,” saranku.

Dia masih juga diam.

Aku mengecup bibirnya sekilas.

“Taehyung?” Ujarnya lirih.

“Akhirnya bersuara juga. Ayo kita menonton,” aku membopong tubuh Ara.

“Taehyung, aku bisa jalan sendiri,” ujarnya.

Aku tidak menjawab.

“Taehyung turunkan aku,” pintanya.

“Diam atau kucium kau!”

Ara pun terdiam.

-Kim Taehyung POV End-

—000—

-Oh Yeonkyung POV-

Suasana kafe lumayan ramai hari ini. Aku maklum karena hari ini adalah weekend. Aku rasa Tuan Namjoon perlu mencari karyawan baru karena aku mulai kewalahan melayani pelanggan yang datang. Apalagi setiap akhir pekan seperti ini.

Hari masih siang tapi aku rasa aku sudah melayani seratus orang pelanggan. Ada yang menikmati waktu luang di kafe, dan ada juga yang hanya sekedar membeli kue atau minuman.

Bel kafe berbunyi. Tandanya ada orang baru masuk. Aku segera mengambil notes-ku dan buku menu. Tapi kedua mataku terbelalak saat melihat siapa yang datang. Itu Jungkook dan… Chaeryung! Aku pun bergegas mendekati meja mereka.

“Jungkook, apa yang kau lakukan di sini? Dan bagaimana bisa kau membawa Chaeryung?” Tanyaku.

“Ibu, tadi Jungkook Hyung menjemputku di rumah Sunghwan. Jungkook Hyung mau membelikanku es krim,” jawab Chaeryung.

Aku melirik kesal pada Jungkook yang saat ini tengah tersenyum seperti orang tanpa dosa. Kenapa dia sama sekali tidak memberitahuku?

Aku memegang pulpen dan notes-ku. “Mau pesan apa, Tuan-Tuan tampan?”

Jungkook menggerakkan tangannya memberiku kode untuk mendekat. Aku pun membungkukkan badanku.

“Pesan dirimu, Noona,” bisiknya genit.

Aku mendengus kesal. “Jungkook jangan bercanda.”

“Aku serius, Noona,” bisiknya lagi kemudian mengedipkan sebelah matanya. Pfffttt, aku baru tahu kalau dia itu memang genit.

“Ibu, aku mau es krim,” kata Chaeryung.

“Chaeryung, jangan sering-sering makan es krim. Nanti gigimu rusak, Sayang.”

“Tapi aku mau es krim, Ibu. Hyung, aku mau es krim,” rengek Chaeryung.

“Iya, Chaeryung boleh pesan apa pun yang Chaeryung mau,” jawab Jungkook.

“Hyung, aku mau ini,” Chaeryung menunjukkan buku menu pada Jungkook.

“Nah, Chaeryung mau ini,” Jungkook menyodorkan sebuah gambar es krim coklat vanilla dengan hiasan cherry dan daun mint di atasnya. “Oh ya, cupcake ini juga dua dan coklat panas satu.”

Aku mencatat pesanannya kemudian mengambil buku menu itu dan berjalan ke belakang untuk membuatkan pesanannya.

“Kyung, aku rasa kau lebih pantas menjadi wanita. Aku melihat pria tadi mengedipkan matanya padamu,” goda salah seorang karyawan di sini, Jinyeol.

Memang aku wanita, kan?

“Mungkin pria itu gay,” jawabku tanpa menoleh padanya dan tetap sibuk menyajikan cupcake spesial untuk Jungkook. Aku menghiasi cupcake itu dengan whipecream berbentuk smile.

“Tsk! Bahkan pria pun tertarik padamu. Mungkin kalau kau wanita aku juga akan menyukaimu,” ujarnya lagi.

“Berhentilah meledekku, Jinyeol,” kataku sembari menyusun pesanan Jungkook dan Chaeryung di nampan.

“Mau aku bantu?” Tawar pegawai lain.

Aku menggeleng. “Tidak usah. Biar aku saja,” aku membawa nampan tersebut menuju si pemesan.

“Whoaaaa, Chaeryung, kau senang?” tanya Jungkook pada Chaeryung.

Chaeryung mengangguk-angguk. Aku tahu dia pasti sangat senang. Aku jarang sekali membelikannya jajanan mahal. Apalagi membawanya ke kafe-kafe mewah.

“Sayang, bilang apa?”

“Terimakasih, Jungkook Hyung,” ujar Chaeryung kemudian memakan es krimnya.

“Terimakasih, Jungkook.”

Jungkook tersenyum penuh arti. “Tidak perlu berterimakasih, Noona. Lagipula ini akan menjadi kewajibanku nanti.”

Aku tercekat. Lagi-lagi dia terlalu percaya diri berbicara tentang masa depan. Bukan aku tidak siap, aku justru takut dia yang tidak siap. Dia masih sangat muda dan terlalu muda untukku.

“Ah, Noona, malam ini biar Chaeryung menginap di rumahku ya?”

“Heh?”

“Aku belum puas bermain dengannya. Ya, Noona, ya. Aku mohon,” Jungkook mengatupkan kedua tangannya di dadanya.

Aku menghempaskan nafasku berat. “Baiklah.”

-Oh Yeonkyung POV End-

—000—

-Choi Hyena POV-

Rasanya malas sekali untuk melakukan apa-apa. Jujur saja aku merindukannya. Aku merindukan pelukannya. Aku merindukan ciumannya. Aku merindukan sentuhannya. Aku merindukanmu, Yoongi.

Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Ini semua sudah keputusanmu. Bukan, keputusan kita. Aku sendiri bingung apakah keputusan yang aku pilih ini benar. Aku dan Yoongi… mungkin memang tidak berjodoh.

Kunyalakan ponselku dan kubaca kembali semua pesan darinya.

/Hyena, aku merindukanmu. Kau yakin tidak merindukanku?/

Aku merindukanmu Yoongi. Sangat.

Scroll up.

/Kau tidak mau berjuang bersamaku? Akan kulakukan apapun untuk kita./

Terimakasih Yoongi. Tapi maaf, aku tidak mampu.

Scroll up. Scroll up.

/Jadi kau benar-benar menyerah? Setelah semua yang kita jalani bersama? Setelah aku berusaha menentang orangtuaku untukmu?/

Aku tidak memaksamu, Yoongi.

Scroll up. Scroll up. Scroll up. End.

/Aku menerima keputusan orangtuaku./

Pesan diterima 5 hari yang lalu.

Aku duduk di tempat tidurku dan memeluk lututku. Lagi-lagi air mataku menetes. Membaca terus-menerus pesan terakhirnya itu membuatku terasa hancur. Ditambah teringat saat dia melewatiku begitu saja dan berpura-pura tidak mengenalku. Berbicara begitu formal padaku seolah-olah tidak ingat kalau kami pernah menjadi pecinta.

Bukan. Ini semua bukan salah dia. Ini murni salahku. Aku yang ragu padanya. Aku yang melepaskannya. Aku yang tidak mau berjuang untuk cinta kami.

“Hyena…,” suara lembut seorang wanita mengejutkanku. Aku menghapus air mataku dengan lengan bajuku kemudian tersenyum padanya.

Bibi Yang. Dia mendekatiku dan tersenyum lembut padaku. “Aku tahu apa yang kau rasakan, Hyena. Bagaimana pun aku juga pernah muda. Tapi kau tidak boleh terus menerus seperti ini. Kau masih muda. Banyak pria lain yang jauh lebih baik dan lebih sepadan denganmu daripada Tuan Muda Yoongi, Hyena.”

Tidak, Bibi. Bagiku Yoongi yang terbaik.

“Apa menurut Bibi Yang keputusanku sudah tepat?”

“Aku tidak tahu, Hyena. Perasaan itu milikmu. Tepat atau tidaknya bukan orang lain yang mengatur, tetapi kalian berdua. Suatu hubungan itu dibangun dengan landasan komitmen dan saling percaya. Tidak ada hubungan hanya sepihak. Jadi kau pikir lagi matang-matang. Tuhan menciptakan permasalahan dengan solusinya, Hyena. Entah itu menyenangkan ataupun menyakitkan, tapi itulah solusi. Jalan kalian keluar dari permasalahan itu,” nasehatnya panjang lebar.

Aku memeluk Bibi Yang dan kembali menumpahkan kesedihanku. Air mataku kembali menetes.

“Hyena, melepaskan seseorang itu memang berat dan menyakitkan. Tapi itu hanya di awal. Artinya Tuhan akan memberikanmu kebahagiaan yang jauh lebih-lebih dari sekarang,” ujarnya sembari mengusap-usap kepalaku. Tiba-tiba aku teringat ibuku. Aku ingin segera pulang dan memeluknya.

Kami terdiam. Tidak ada suara selain isakanku.

“Kau… menyesal?” Tanyanya lirih.

Menyesal? Apa aku menyesal? Lalu apa yang kusesali? Bertemu dengannya? Atau berpisah dengannya?

“Setiap manusia diberikan kesempatan untuk menyesal agar tidak menjadi manusia bodoh dan melakukan kesalahan yang sama ke depannya.”

Kau benar, Bibi. Tapi apa aku akan menjadi manusia bodoh?

“Kau ada kuliah hari ini kan?”

Aku mengangguk-angguk.

“Berangkatlah. Jangan sia-siakan masa depanmu. Ingat ibu dan adikmu, Hyena.”

Ah, iya. Aku bahkan sampai lupa kalau aku memiliki tanggungjawab pada mereka. Aku melepaskan pelukanku pada Bibi Yang.

“Ssssttt… Jangan menangis lagi ya. Kehidupan mengajarkanmu agar lebih kuat,” nasehatnya.

Aku mengangguk-angguk. “Terimakasih, Bibi Yang.”

Aku pun bangkit dari tempat tidurku dan bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukaku. Setelah memoleskan make up tipis dan mengganti pakaianku, aku segera meraih tasku dan keluar dari kamarku.

Baru di ruang tengah langkahku terhenti. Yoongi berjalan dari arah yang berlawanan denganku. Ya Tuhan, ingin sekali aku berlari ke arahnya kemudian memeluknya erat-erat.

Beberapa langkah lagi aku akan berpapasan dengannya. Sungguh aku ingin menyapanya.

Tiga langkah…

Dua langkah…

Satu langkah….

Dan…

Dia mengacuhkanku begitu saja untuk yang kesekian kalinya.

-Choi Hyena POV End-

—000—

-Author POV-

“Hai,” Namjung meletakkan nampan berisi makanan ke meja Hoseok. Namjung tersenyum kemudian duduk di samping Hoseok yang tengah sibuk bermain game di di ponselnya.

Namjung menghela nafasnya panjang. “Akhir-akhir ini kau mendiamkanku. Apa aku memiliki salah padamu?”

Hoseok tidak menjawab tapi malah sibuk berkutat dengan ponselnya.

“Kalau iya tolong katakan, Hoseok, dimana salahku. Kita sudah berjanji bukan kalau kita ini berteman?”

Dan Hoseok masih sibuk mengetuk-ketuk layar ponselnya.

“Hoseok-“

“Argh, berisik sekali sih? Aku jadi kalah kan?” Seru Hoseok kesal. Tapi dia kembali mengetuk tombol retry di game yang sedang dimainkannya.

Namjung terperangah tidak percaya. Kemana Hoseok yang selama ini dikenalnya sangat ceria?

“Hoseok, katakan sebenarnya ada apa? Kalau kau mendiamkanku terus menerus aku tidak akan pernah tahu salahku. Tolong jangan kekanakan, Hoseok.”

Hoseok menghentikan gerakan tangannya kemudian menghempaskan nafasnya berat. “Kau tidak salah apa-apa. Tidak perlu khawatir.”

“Bagaimana aku tidak khawatir? Kau terus menerus mendiamkanku.”

“Benarkah?” Hoseok diam sejenak. “Aku hanya ingin… pulang.”

“Pulang?”

Hoseok mengangguk. “Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku ingin pulang.”

“Tapi, Hoseok. Tinggal dua bulan lagi perawatanmu. Jangan sampai semua yang kau lakukan sia-sia,” ujar Namjun panik.

Hoseok tersenyum miris. “Memang. Semuanya akan berakhir sia-sia.”

“Tidak ada yang sia-sia di dunia ini kalau kau mau belajar dari pengalaman, Hoseok.”

“Tsk!” Hoseok meraih tangan kiri Namjung kemudian mengangkatnya. “Termasuk ini?”

Namjung mengerutkan keningnya bingung. “Maksudmu?” Namjung menatap tangannya. Dia lupa kalau di jari manisnya tersemat cincin pertunangannya dengan Changmin. “Oh.”

Tiba-tiba suasana menjadi canggung. Hoseok maupun Namjung tidak ada yang mau membuka suara.

“Maaf, Hoseok,” suara Namjung lirih memecah keheningan.

Tidak ada jawaban hingga beberapa menit ke depan. Sepi.

“Jangan berharap lebih padaku, Hoseok. Aku tidak akan mungkin meninggalkan Changmin.”

Hoseok tersenyum menyungging. Senyum pahit.

“Aku menghargai perasaanmu, Hoseok.”

Diam.

“Jujur saja, aku nyaman bila bersamamu. Kau selalu membuatku ceria sehingga aku lupa kepenatanku sehari-hari. Kau membuatku tertawa sampai aku lupa kalau aku memiliki masalah. Walau terkadang kau membuatku kesal dengan tingkahmu yang manja. Kau-“

“Hentikan. Sudah cukup.”

“Hoseok.”

“Aku lapar. Aku ingin makan jadi sebaiknya kau keluar,” ujar Hoseok dingin tanpa menatap gadis di sampingnya itu.

“Hoseok-“

“Aku yakin kau mendengar apa yang kukatakan barusan.”

Namjung menghempaskan nafasnya berat. “Baiklah,” katanya kemudian keluar meninggalkan Hoseok seorang diri.

Sepeninggal Namjung, Hoseok mengusap wajahnya frustasi.

“Apa aku harus menyerah?”

—000—

Ara berdiri di depan balkon kamar Taehyung sambil memandang keluar jendela. Tangannya menggenggam ponsel dan wajahnya nampak gelisah. June baru saja menelponnya dan menanyakan keadaannya.

“Ada apa?” Suara Taehyung membuyarkan lamunan Ara. Ara berbalik arah. Dilihatnya Taehyung yang sedang duduk tepian tempat tidurnya.

“Tidak apa-apa,” Ara berjalan mendekati Taehyung kemudian berjongkok di depannya. Kedua lengannya disandarkan pada paha Taehyung.

Taehyung mengambil ponsel Ara dari tangannya. “Siapa yang menelpon?” Tanyanya cuek sembari membuka-buka ponsel Ara.

“June. Hanya menanyakan kemana aku pergi.”

“Oh.” Taehyung membuka galeri foto Ara. Tidak banyak foto yang tersimpan. Kebanyakan foto-foto keluarganya. Ayahnya, ibunya, adik laki-lakinya.

“Ini siapa?” Aku memperlihatkan sebuah foto di galerinya.

“Itu Minyoung. Aku mengambilnya saat dia tidur. Dia cantik bukan tanpa kacamata dan poninya?”

“Hm.”

Suasana kembali canggung. Bahkan sedari tadi saat menonton film pun mereka hanya diam. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Taehyung berulang kali mencoba mencairkan suasana tapi Ara lebih memilih banyak diam.

“Kalau kau diam saja, sia-sia kau memintaku berpura-pura menjadi pacarmu hari ini.”

Ara mengusap tengkuknya. “Ah, iya juga.”

“Kemari,” Taehyung menarik tangan Ara agar berdiri. “Duduk sini,” ujarnya sambil menepuk-nepuk pahanya.

Ara menurut, duduk di pangkuan Taehyung menghadapnya. Kedua kakinya terlipat di samping kanan dan kiri kaki Taehyung. Dikalungkannya kedua tangannya ke leher Taehyung, sementara tangan Taehyung melingkar di pinggang gadis itu.

Taehyung mengecup bibir Ara. Singkat tapi berkali-kali. “Maaf, Ara. Selama menjadi pacarmu aku tidak pernah membuatmu senang.”

“Sudahlah. Toh semuanya sudah berlalu.”

Taehyung mengendus-endus leher Ara, tapi gadis itu malah tertawa geli.

“Taehyung, hentikan, Taehyung. Geli. Hahaha.” Ara tertawa geli tapi Taehyung malah mengerjai Ara dengan menggesek-gesekkan jawline-nya di leher Ara.

“Cambangmu mulai tumbuh. Kau pasti malas bercukur,” ujar Ara setelah Taehyung menghentikan serangannya.

“Iya aku malas.”

Ara tersenyum. Turun dari pangkuan Taehyung kemudian menarik tangan Taehyung menuju kamar mandi. Ara duduk di wastafel sementara Taehyung duduk di antara kedua kaki Ara.

“Sini, biar aku yang mencukurnya,” ujar Ara. Dia mengambil foam dan menyemprotkannya di sepanjang jawline Taehyung. Ara meraih alat pencukur dan mulai menggesekkannya di tempat-tempatnya menyemprotkan foam di wajah Taehyung.

Ara tertawa karena Taehyung menggerak-gerakkan bibirnya kesana kemari mengikuti gerakan tangan Ara. “Taehyung, jangan banyak gerak nanti wajahmu lecet.”

Taehyung diam. Tapi saat Ara kembali berkonsentrasi mencukur cambangnya, Taehyung kembali mengerjainya. Kali ini dia membuat-buat matanya seperti juling. Ara kembali tertawa terbahak-bahak.

“Hentikan, Taehyung. Nanti wajahmu lecet.”

Setelah sekiranya bersih, Ara membersihkan sisa-sisa foam dengan air dari sink wastafel.

“Sudah tampan.”

Taehyung mengaca dan mulai berpose ala model-model pencukur rambut di TV. Ara tertawa melihatnya.

“Terimakasih, Sayang.”

Tiba-tiba Ara terdiam mendengar ucapan Taehyung barusan. Bagaimanapun juga dia masih menyukai pria di depannya itu. Tapi rencananya juga harus tetap berjalan dan tidak boleh gagal.

Ara mengecup bibir Taehyung lama. Tapi saat dia hendak menarik wajahnya, Taehyung lebih dulu melumat bibirnya. Ara mengalungkan kedua tangannya di leher Taehyung dan melingkarkan kedua kakinya di pinggang Taehyung.

Mereka berciuman dengan penuh nafsu. Ara beberapa kali mencoba menggigit bibir Taehyung dan mendominasi pertarungan lidah mereka. Dia merindukan ciuman Taehyung. Juga sentuhan Taehyung.

Taehyung mengangkat tubuh Ara dan membopongnya keluar dari kamar mandi tanpa melepaskan ciuman mereka. Bahkan Taehyung hanya menendang pintu kamar mandi untuk membukanya.

Taehyung merebahkan tubuh Ara di tempat tidurnya dan tetap tanpa melepaskan ciuman mereka. Tangannya menangkup wajah mantan pacarnya itu dan memperdalam ciumannya.

Ara menjauhkan wajah Taehyung dari wajahnya. Dadanya naik turun mengikuti nafasnya yang memburu. “Aku hampir kehabisan nafas,” ujarnya ngos-ngosan.

Taehyung tersenyum sambil menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajah Ara.

“Nanti kubuat kau benar-benar kehabisan nafas,” bisiknya lirih.

—TBC—

Advertisements

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

2 thoughts on “FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s