FF/ UN.TITLED/ BTS-BANGTAN/ pt. 8


Title: Un.Titled Pt. 8

Author: Choco96

Genre: Romance, Sad, Friendship, School-Life, Family

Length: Chapters

Rating: PG-17

Main Cast: Jung Merry (OC) || Jeon Jungkook (BTS) || Kim Taehyung (BTS) || Min Yoongi (BTS)

Support Cast: kim seokjin (BTS) || Jung Eunji (Apink) ||

Disclaimer:  100% hasil dan punya saya. Chara idol milik Tuhan, keluarganya, dan agensi masing-masing! Please, Don’t be silent readers. Don’t be plagiarist ppl!

 

Summary:

Tak kenal namun dipertemukan.

Mata yang tak pernah bisa kupahami dari pertama kali aku bertemu.

-Merry

 

Un.Titled Part 8

 

Angin berhembus tampaknya tak ramah dengan penduduk di kota tersebut. Hembusan yang sedikit nakal—yang bisa meniup rok minim dengan mudahnya. Dedaunan yang kebanyakan gugur pada bulan September. Tak begitu banyak orang yang berada di taman kota dekat apartemen.

Langkah seorang gadis sedikit menyeret—sore hari itu terasa melelahkan dan ditambah cuaca yang tak mendukung. Bukan karena hukuman yang membuatnya tak ada semangat hidup untuk hari itu, hanya saja beberapa bulan ini terasa lebih lelah dari biasanya.

Ia tak menghiraukan sepasang mata yang melihat kakinya yang menyeret dengan malas. Masa bodoh—Kakinya sangat lelah untuk berjalan. Jarak tempuh untuk pulang juga tak sedekat  rumahnya dulu yang ia tinggali. Sekarang hidupnya sudah pindah di sebuah apartemen dan jaraknya dengan sekolahnya cukup jauh.

Sesekali ia memijat pelipis hanya sekadar menghilangkan rasa lelah dan kantuk kemudian ia melanjutkan berjalan lagi. Selang lima menit, gadis bermarga Jung tersebut sudah berada di depan apartemennya. Dengan wajah yang sedikit lega.

Ia menekan dua tombol pada lift—angka dua belas dan up. Tubuhnya yang ia sandarkan pada dinding lift dan menahan rasa letihnya untuk tidak ambruk di dalam lift.

 

Sedikit lagi rintihnya dalam hati.

 

Ting!

Pintu itu membuka lalu langkahnya dipercepat. Ia hanya khawatir kalau seandainya tubuhnya yang ternyata sudah tersungkur di atas lantai dan ternyata tak ada yang menolongnya. Dengan gerakan cepat ia mengeluarkan kartu untuk ia gesekkan pada samping pintu.

Mungkin staminanya yang semakin lama habis, kepalanya terasa berputar. Pandangannya semakin buram dan menghitam.

Tepat setelah menutup knop pintu, tubuhnya tersungkur pada dinginnya lantai kamar apartemennya.

 

∞∞∞

 

Dengungan yang berasal dari alat pemanas ruangan menggema di seluruh ruangan yang dihuni sepasang muda-mudi. Aroma terapi juga sudah terpasang di sebelah sosok yang masih belum siuman dari pingsan.

Di lain tempat, seseorang berada di pantry membuat segelas teh dan semangkuk bubur. bubur yang masih baru dan panas tentunya sudah ia sajikan pada nampan coklat berbahan kayu. Tak lupa beberapa biskuit ia taruh pada nampan tersebut—walaupun hanya sebagai pemanis ataupun kalau orang yang ia suguhkan mau, bisa diambil juga.

Sudah siap, langkah kakinya menuju pada satu tujuan. Ya, perempuan yang tertidur di kamar mereka. Ia duduki dirinya pada sebuah bangku kecil di samping gadis itu. Tangannya mengarah untuk menyelimuti gadis itu—agar tak kedinginan.

 

Mungkin sudah cukup

 

Memang cuaca yang tak menentu pada musim gugur sering membuat sebagian orang terserang flu atau meriang. Tak jarang ibunya sering memarahi dia jikalau tak membawa baju hangat maupun syal misalnya. Ya, sebaik-baik ibu Yoongi, sifat perfeksionis pada ibunya tak pernah luntur dari kebiasaannya.

Tas yang ia taruh di sebelah bangkunya ia ambil dan mencari buku yang akan ia pelajari. Buku mata kuliah yang tergolong tebal itu ia buka dan ia baca. Beberapa halaman ia beri tanda—hal-hal penting pada bloknya. Segelintir hobi yang dia punya.

Sesekali kedua matanya melihat sekilas keadaan gadis yang masih terlelap dari pingsannya tiga jam yang lalu. Masih nihil, matanya masih belum membuka. Hembusan darinya sedikit kecewa.

 

Apa mungkin Merry selelah ini?

 

“Erm…”

 

Sebuah suara mengambil atensi dari lelaki berkulit pucat di samping gadis tersebut. Secepatnya buku yang ia baca ditaruh pada meja dekat lampu tidur dan mengecek kesadaran gadis di hadapannya.

 

“Ada yang sakit?” tanyanya dengan tatapan datarnya walaupun terisi perasaan khawatir.

 

“Aku pingsan?” hanya satu pertanyaan dua kata itu yang bisa disampaikan oleh seorang Jung Merry.

 

Hanya anggukan—gadis itu cepat mengerti.

Gadis bermarga Jung itu tahu betul kalau ia sudah tak sadar setelah pintu apartemen ditutup. Ketika ia memicingkan matanya, ada rasa nyeri di sekitar matanya. Ya, kepalanya terantuk pada dinginnya lantai.

 

“dahimu sakit bukan? Aku ambilkan kompres—“

“aku saja yang mengompres sekalian—sekarang jam berapa?” tanyanya sembari mencari arlojinya yang sudah tak berada di pergelangan tangannya.

Sebelum lelaki itu berbalik mengambil arloji pada pemiliknya, gadis itu sudah mengulur tangannya mengambil sendiri. Gadis itu tak ingin berhubungan dengan orang lain, walaupun dia sudah terikat dengan ‘perjanjian’ orang tuanya.

 

“Kau mau kemana?”

 

“Makan malam belum kusiapkan—“ ia mengambil jas seragamnya yang tergantung pada sandaran bangku dan tak terduga gerakannya sudah dihentikan oleh uluran tangan dari lelaki yang notabene sebagai suaminya.

 

“kau butuh istirahat. Ini Buburmu, air mineral, dan sedikit biskuit kalau kau ingin tambahan makanan.”

 

“Lalu makan malammu?” matanya yang memandang ke dalam mata lelaki itu sedikit berharap kalau ia bisa keluar dari kamar.

 

Tapi sayang, yang diinginkan selalu tak sejalan. Tubuhnya disuruh Yoongi duduk di pojokan ranjang sembari dan lelaki itu mengenakan arloji silver kepunyaan Merry itu pada pergelangan gadis yang dirawatnya sekarang dan tak lupa ia sangat hati-hati.

 

“Tenang saja, aku sudah makan di luar dengan temanku.” Senyum yang pernah sekali ia lihat waktu dulu—sebelum ia benar-benar kenal dengan Min Yoongi. Merry tak pernah memungkiri kalau senyuman pria yang ia nikahi beberapa bulan yang lalu memiliki daya tarik sendiri.

Ya, pria ini manis dan tampan dalam satu waktu.

 

“Seharusnya kau hubungi aku, Merry-ah.” Yoongi menduduki tubuhnya di samping ranjang,” dan juga kau berbaring di ranjang saja.”

 

Apa ini perintah? Batinnya sedikit tergelak karena pemikirannya sendiri.

 

Tanpa disuruh, tubuhnya mengerti intruksi dari lawan bicaranya. Merangkak menuju ranjang dan berbaring di sana. Kedua tangan lelaki itu menutupi tubuh gadis itu dengan selimut cream.

Ia memandang gadis itu seksama—ia tak pernah menduga kalau gadis ini bisa bekerja sama dengan apa yang disuruhnya. Bukan ia berpikiran buruk, tapi tahu sendiri sewaktu pertemuan mereka yang—berjalan sangat kurang baik, Merry yang ia kenal karena insiden ponsel tersebut adalah gadis yang susah diatur.

Namun asumsi itu terpatahkan dengan mudahnya. Merry bukan gadis yang suka memberontak. Mungkin lelaki itu sedikit mereka-reka penyebab gadis itu memberontak pada ibunya.

 

Pasti perjodohan.

 

Ya, hanya itu alasan yang kuat untuk sementara ini,

Memangnya ada alasan lain? Gadis itu masih murid SMA pasti pikirannya masih dangkal daripada lelaki bermarga Min. itulah anggapannya.

 

“kau, bisa membuat bubur?” satu pertanyaan yang membuat lamunan Lelaki Min hilang seketika.

 

Seketika ia memandang perempuan itu—dan juga sebaliknya, perempuan itu memandangnya. Merry mereka-reka, sejak kapan laki-laki seperti dia bisa membuat bubur, jangankan bubur terkadang menanak nasi pun mereka tak bisa.

Mata sipit dengan iris coklat itu memandang keluar jendela, “Bisa kamu lihat sendiri. Kalau aku tak bisa membuat hal sekecil ini, bagaimana aku merawat pasienku nanti?” nada itu sedikit arogan tapi ada benarnya juga.

 

Satu hal yang ia tangkap dari laki-laki di sampingnya. Pria ini tipikal tak bisa mengindahkan perkataan orang.

 

Ya Tuhan sejak kapan aku mendapatkan seseorang yang kurang sopan seperti ini?

 

“pasien maksudmu? Yoongi-ssi… erm, kau mahasiswa medis?” Tanya perempuan berambut sepunggung dengan heran. Mengapa ia tak mengetahui ini sebelumnya?

 

Sekali anggukan, pertanyaan telah terjawab. Ah, sudah ia duga. Kata merawat pasien itu selalu melekat pada seorang medis—lebih tepatnya dokter. Tapi pikiran gadis itu tak hanya sampai situ saja, banyak pertanyakan yang menyelimuti sebagian otaknya.

Mengapa ibunya tak pernah mengatakan apapun tentang Yoongi—apalagi tentang pendidikan ataupun dari mana dia dilahirkan.

 

“Yoongi-ssi.” Panggil gadis itu dengan lirih.

 

“Ya? Apa ada yang ingin kamu lakukan?”  tanyanya sembari mengupas apel yang ia bentuk sedemikian rupa seperti layaknya binatang kelinci.

 

Bagaimana bisa dia punya keahlian seperti ini?

 

“aku hanya tanya, Yoongi-ssi kuliah semester empat?” entahlah terkadang rasa penasaran gadis tersebut pada lelaki di sampingnya sedikit berlebihan. Apa karena kejadian tempo dulu terlalu cepat hingga ia rasa tak punya waktu untuk berkenalan atau…

 

dulu aku yang tak pernah… mendengarkan ibuku?

 

“Ya. Ibumu tak pernah cerita tentangku?” dengan sekali pandang,

Jangan lupa, kehadiran tamu tak diundang—Ya, detak jantung Jung Merry terasa berhenti berdetak saja. Tak habis pikir mengapa belakangan ini ia dipermainkan organnya sendiri. Lucu, bukan?

 

Mengapa dia bisa membuatku seperti ini?

 

“Omong-omong, apa aku demam, Yoongi-ssi?” pertanyaan yang pasti bukan pertanyaan yang memang sangat penting. ini hanya alibinya untuk mengubah topik pembicaraan pada hal lain. Gadis itu tak ingin memberatkan pikirannya hanya untuk memikirkan sosok yang merawatnya saat ini. Ia tak suka repot tentang hal jantung yang kerap membuat orang salah tingkah.

 

“bukan, dehidrasi ringan.” Jawabnya singkat, ”tapi besok kamu bisa berangkat ke sekolah kalau kamu makan dan minum yang teratur. Kulihat kau…” selang berapa detik suaranya menghilang dan digantikan dengan heningnya suasana.

 

Menunggu jawaban dari teman bicaranya dan tetap saja kesunyian yang menang atas suasana diantara mereka. Memang benar, sejak mereka menginjakkan kaki ke apartemen mereka, suasana lebih didominasi dengan keheningan.

Pada akhirnya lelaki tersebut memandang kearah luar jendela. Ia tak pernah jujur pada apa yang ia rasakan. Ia tak begitu suka berbagi apapun—Apapun, selain untuk seseorang di masa lalunya.

 

“ah, bukan apa-apa. Aku ingin membersihkan badanku dulu.” Ia menunjuk kearah pintu di seberang sana.

 

Ia membalikkan badannya dan semakin menjauh dari keberadaan gadis itu. Merry yang bersandar pada kepala ranjang memandang punggung sosok yang akan tinggal bersamanya. Setelah itu ia menghela napas pelan dan memejamkan mata.

Tiba-tiba, terlintas satu pikiran yang membuat matanya yang beberapa detik menutup kemudian membuka kembali.

 

“Yoongi-ssi…”

 

“Ya?”

 

“Jangan bilang keadaanku pada ibu.” Matanya mulai berkaca-kaca, ”apapun yang bisa membuatnya khawatir.”

 

Kemudian gadis tersebut memandang langit-langit. Ia memejamkan matanya lagi, seraya menutup kedua kelopak mata dengan punggung tangannya.

Di balik semua itu, ia tak ingin terlihat lemah di samping laki-laki tersebut. Walaupun, kata suami yang sudah disandang oleh pria itu—tak bisa membuat hatinya terbuka untuk ke lain lelaki.

 

Pria yang ia simpan rapi itu…

Ada di seberang lautan.

Entah dimana.

Tapi ia yakin, pria itu masih memikirkannya.

 

∞∞∞

 

/Jungkook/

 

Cairan hitam yang sudah tak terasa panas lagi—mendingin. Mataku yang memandang jalanan yang dilintasi kendaraan umum, bukan berarti aku fokus pada jalanan akan tetapi hal yang lain.

Hobi yang entah darimana aku menemukannya. Ya, hobi yang kulakukan minggu-minggu ini melamun dan menerawang, menerawang jauh pada suatu yang mungkin tak bisa disangka sebelumnya.

Aku tak mendapat jawaban dari Merry Jung. Sampai detik ini.

 

Apa yang salah dariku?

Apa aku melakukan kesalahan yang fatal sampai pesan singkatku tak dijawab?

Apa salahnya aku meminta dia melihatku di atas panggung?

 

Entahlah. Pikiranku dibuat berpikir sangat keras hanya karena rasa penasaran yang tak pernah surut. Sesekali aku melihat layar ponselku. Tak ada lampu kedip, tak ada pop-up pesan singkat. Tak ada apapun yang mengisi notifikasiku. Hanya berisi waktu dan tanggal saja.

 

Apa harus kutelepon?

 

Jujur aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Menghadapi guru killer ataupun pelatih yang jahat pun tak pernah merasa ketakutan. Tapi bodohnya, tanganku serasa bergerak involunter.

 

Ya Tuhan, aku ingin kembali seperti yang dulu.

 

∞∞∞

 

/Yoongi/

 

Apapun yang terjadi, tolong jaga anakku…

Aku sudah gagal membuat kebahagiaan untuk anakku…

Yoongi-ah,

Aku tahu ini sulit dan pasti kamu merasa sebagai korban dari perjajian kami,

Maafkan kami Yoongi-ah.

Tapi percayalah, bibi hanya ingin jangan seperti Bibi yang hancur seperti ini.

Tolong bahagiakan anak Bibi dan berbahagialah dengan keluargamu kelak…

 

Ingatan yang terpatri sangat kuat tersebut, tak bisa kuhapus sedetik sekalipun.

Aku ingat betul bagaimana air mata bibi mengalir dengan lembut menyusuri kedua pipinya. Pertemuanku dengan Bibi saat di gerbang Universitasku tanpa disengaja. Saat itu beliau  sedang bersandar di pintu mobilnya. Kami mengobrol dari hal yang ringan, seperti menanyakan kuliah bagaimana, apa sangat sulit masuk ke fakultas medis atau apapun yang berhubungan dengan akademikku.

 

Kudengar ayahmu yang memilihkan jurusanmu?

 

Bibi yang tersenyum ketika anggukanku ia artikan sebagai ‘iya’.

 

Dasar ayahmu itu.. yang mau siapa yang kuliah siapa?

 

Kerutan yang samar-samar tapi terlihat di samping matanya turut tak membuat kecantikan Bibi menurun. Ah bukan aku menyukai bibi tapi kuakui bibi memang cantik. Benar kata ayah, bibi memang cantik walaupun sedikit make-up. Umur sudah berkepala empat pun masih enak dilihat, bagaimana mudanya dulu. Pantas saja ayah pernah menaruh perasaannya pada bibi.

 

Tapi kamu nggak kesulitan kan?

 

Aku menggeleng pelan kemudian dilanjutkan bibi yang mengangguk-anggukan kepalanya. Setelah itu kami berdiam sejenak. Mungkin kami kekurangan bahan obrolan sampai keadaannya seperti ini.

 

Yoongi-ah…

 

aku menoleh pada bibi ‘ada apa bi?’

 

Bibi sangat bahagia kalau Merry bisa menikah denganmu.

 

Kata-kata bibi yang menggantung itu—aku bisa melihat dari sudut matanya terdapat sesuatu yang berkilauan. Ya, aku tahu itu. Suara yang semakin serak dan parau tersebut, tak menutup kemungkinan, bibi menahan emosinya sedari tadi.

 

Air matanya.

 

Semakin lama keberadaan butiran Kristal yang sudah lolos satu dua kali. Pada akhirnya pembicaraan yang dimana tak membutuhkan emosi—entah siapa yang memulainya, aku merasa bodoh. Bodoh tak bisa menjaga perasaan bibi untuk saat ini. sedari tadi Bibi membahas tentang putri semata wayangnya.

 

Yoongi-ah…

 

‘iya Bi? Bibi ingin saya antar pulang, nanti saya kembali kesini dengan bus—‘

 

Bukan begitu.

 

Aku pindah posisi—tepat di depan Bibi. Aku mengulurkan kedua lenganku dan menarik bibi pada pelukanku. Entahlah, aku tak begitu paham apa yang telah terjadi selama ini dengan Bibi, ataupun dengan Merry.

 

Tolong jaga anak Bibi.

 

Di sini aku hanya ingin menjaga Bibi. Tak luput dari anak semata wayangnya…

 

Ingatan itu selalu terputar dengan jelas dan nyata—kadang aku merasa sedikit terganggu. Maafkan aku, Bi. Bukannya aku tak ingin menjaga bibi maupun pasanganku.

Namun bi, kurasa tanggung jawabku semakin banyak dan mungkin lebih berat dari beberapa bulan yang lalu. Kau tahu Bi, aku takut kalau tanggung jawabku tak bisa kujalani seperti apa yang bibi inginkan.

 

Membahagiakan Merry Jung.

 

∞∞∞

 

/Taehyung/

 

Taehyung-ah…

 

Panggilan itu yang selalu menggelitikku. Kalian tahu sisi mana yang membuat aku berpikir seperti itu? Pertama dia lebih muda dariku sepuluh bulan, kedua suaranya yang cukup dingin untuk sebagian perempuan, dan terakhir panggilan yang diberikan padaku tak ada manisnya.

 

Taehyung-ah…

Kau melamun?

Taehyung-ah jangan menggodaku.

 

Senyumnya yang mungkin tak pernah ia tunjukkan pada semua orang, hanya orang tertentu yang bisa diperbolehkan melihat dia tersenyum. Kau tahu, senyumnya yang paling kusukai dari dirinya.

Ya Tuhan aku ingin bertemunya…

 

6 Maret

17.00. Taehyung-ah kau dimana?

20.00. Taehyung-ah kau tak kerja di kedai lagi?

 

7 Maret

6.00. Taehyung-ah?

7.30. Kamu dimana?

16.00. Aku tunggu di taman pertama kali bertemu.

21.00. Kim Taehyung.

22.45. Mengapa tak membalasku? Kau marah denganku?

23.00. Jawab aku.

 

Pesan singkat terakhir yang ia kirim padaku. Entahlah, aku bingung untuk membalasnya—bagaimana aku harus bersikap. Saat itu aku kacau—sangat kacau lebih tepatnya.

Ayahku pindah ke Jepang tiba-tiba, disusul dengan ibu juga. Aku tak bisa menolak ajakan dari ayahku. Aku sangat menghormati ayahku—secara tak langsung ayah berhak penuh untuk memilihkanku pendidikan yang layak, meskipun harus keluar dari Negara penghasil ginseng.

 

Maafkan aku.

Semoga kita bisa bertemu di lain waktu dan tempat.

Tapi jangan lupa, perasaanku padamu tak pernah luntur sedikitpun.

Meski jarak yang mengganggu kita,

Aku sangat berharap bisa bertemu denganmu.

Dengan senyummu, dengan suaramu yang khas itu.

Dengan kau memanggilku…

 

Taehyung-ah.

 

∞∞∞

 

/Merry/

 

Beberapa hari ini, ingatan itu sering terlintas—dengan jelas, bagaimana pesan singkatku yang tak dibalasnya. Tak seperti biasanya. Aku tahu jelas, dia bukan tipikal orang yang mengabaikan notifikasi dari ponselnya. Ya, mungkin bisa dikatakan ‘peka’ pemberitahuan.

Sampai detik ini pun, aku yang terkadang harap-harap cemas memeriksa notifikasi… dari dia mungkin. Aku khawatir dengan lelaki yang bermarga kim. Atau…

Aku yang khawatir dengan apa yang kutakutkan selama ini.

 

Aku tunggu di taman pertama kali bertemu.

 

Nihil.

 

Kim Taehyung.

 

Nihil.

 

Mengapa tak membalasku? Kau marah denganku?

 

Nihil.

 

Jawab aku.

 

Terakhir kali aku berharap, getaran pada ponsel juga tak kunjung terasa maupun kedipan lampu notifikasi. Ya, Nihil.

 

Cahaya lampu taman yang tadinya tak menyala, tak terasa menerangi taman yang mulai kekurangan sinar dari matahari. Apa aku sudah menetap disini sekitar satu jam? Ya Tuhan sejak kapan aku bisa tahan menunggu selama itu?

Sekali lagi aku menengok arloji warisan nenekku, jarumnya yang menunjukkan 150 derajat. Pukul lima sore?

Mataku yang semakin lama semakin memanas, butiran air yang ingin keluar dari mataku. Apa aku boleh menangis untuk hari ini?

Dadaku yang semakin sesak, sekeras mungkin aku mengatur pernapasanku untuk mendapat pasokan oksigen yang lebih. Berharap rasa sesak ini semakin berakhir—tentunya ingin memungkiri kalau sesakku bukan karena rasa kecewa.

 

“Merry-ah.” Panggil seseorang yang kudengar sangat familiar dengan suara ini.

 

Aku tak ingin memperlihatkan wajah kacauku di hadapannya. Dia tak berhak mendapat macam ekspresiku, karena dia bukan seseorang yang kupercaya—apalagi dekat dengannya.

 

“…”

 

Aku mendengar suara bangku yang sedikit bergetar karena diberi beban. Tapi itu bukan suara orang yang duduk di sampingku, lalu dia berada dimana?

Aku memberanikan diri melihat siapa orang yang memanggilku barusan. Aku mengenal suaranya, tapi apa mungkin benar dia berada di dekat taman?

Tak salah tebakanku. Lelaki berkulit pucat itu sudah berada di depanku lengkap mengenakan topi hitam yang menaungi mukanya sehingga tak begitu terlihat wajahnya. Matanya yang menangkap basah wajah kacauku.

 

“kuantar pulang.”

 

Entahlah, dua kata itu—sangat singkat sampai aku bingung ingin berkata. Apa wajahku mengatakan ingin pulang? Bodohnya.

Tanganku yang segera mengusap air mata yang masih mengalir, sudah ada yang menyeka jejak airmataku. Ya, tangannya yang cukup besar itu menyeka dengan lembut.

Apa semua lelaki bersikap lembut sepertimu, Yoongi oppa?

 

“pakai ini.” tangannya itu dengan cekatan merapikan rambutku yang sedikit berantakan—surai yang menutupi daun telingaku, ia selipkan suraiku pada daun telingaku. Kemudian mengenakan topi hitamnya dan tak lupa menyeka air mataku lagi.

 

“Kau bisa cerita denganku, merry-ah selama diperjalanan. Kuantar pulang sekarang.” Tangannya kemudian meraih tanganku dengan erat. Apa ia tahu perasaanku?

 

Tapi aku tak mau pulang dulu. Aku tak mau ibu khawatir padaku.

 

“Temani aku sebentar.”

 

Entahlah sadar atau tidak, aku merasakan kehangatan di sekitarnya. Ia tersenyum padaku dan tak lupa menggenggamku seperti memberikan kekuatan padaku.

Konyol bukan?

 

Aku sedang kecewa. Bertemu dengan Yoongi oppa. Ia menyeka air mataku. Menutupi kesedihanku. Menggenggamku dengan hangat. Senyumnya juga tak lupa dari presensi.

 

Mengapa sangat kebetulan?

Aku bertemu dengan seseorang yang diam tapi seperti mengenalku dengan baik.

Sekebetulan ini?

Tak mungkin kan Tuhan?

 

Mengapa Taehyung-ah?

 

XXX TO BE CONTINUED XXX

 

NB: Maaf ya readers kalo ngelanjutin fanficnya lama kayak nunggu kepastian masa depan aja (?) tolong mengertilah heuheu TT_TT kalo ceritanya kerasa pendekan, itu artinya lagi butek hohoho

Tapi kuusahakan aktif nulis dan gak janji buat cepet updatenya. Bbyong~!

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s