FF/ TAE TAE PABBO/ BTS-BANGTAN/ pt. 2 of 2


Cover FF TaeBoo pt2

TaeTae pabbo

 

Author :

T & K

____________________

Cast :

You (y/n) | Kim TaeHyung (BTS V) | Park JiMin (BTS Jimin)

_____________________

Suporting Cast :

Jung HoSeok (BTS J-Hope) | EumJi (OC)

_____________________

Genre :

Love/Hate; school-life; lil Romance; fluff *gagal

_____________________

Rating :

PG-16

_____________________

Length :

Chapter (1&2)

______________________

Disclaimer :

Seluruh cast milik Tuhan, keluarga, BigHit dan fans especially ARMY-deul *ceileh~. Kalau TaeTae buat author aje ye? Gwaenchana toh reader-deul? :V *plakk!

Please! No Plagiarism, No copy-paste and No Tipu-tipu! *eh?

Sesungguhnya ni FF murni hasil dari otak dan pemikiran author yang rada sengklek. Nah, kalo ada kesamaan pada penulisan nama, alamat & tempat mau pun ide, alur & plot cerita yah ‘sorry-sorry Super-Junior’ dah. Mungkin itu suatu kebetulan saja~ :V

______________________

Warning!

Awas! Typo mungkin bertebaran. Ejaan yang tak sesuai EYD. Penggunaan bahasa tak baku, rada frontal *maybe -,-v

Alur & plot cerita yang kurang greget, aneh dan terkesan ngacokk :V

______________________

 

 

Summary :

“Aku menyukai mu pabbo! Jadi yeoja peka sedikit coba’!?”

 

“YAK! Bagaimana aku bisa peka eoh? kau selalu membuat ku emosi setiap saat IDIOT!!”

 

RCL juseyoo~😀

 

 

 

…..Happy Reading…..

 

 

((di FF ini pov overall You (y/n) yah!))

 

 

Previously di part 1

“Kau pikir kami akan melepaskan mu begitu saja!? Kau pikir kami ini bodoh eoh!?” bentak ahjussi yang mencengkram lengan ku.

Sedangkan teman nya sekarang berada di belakang ku, mencengkram kedua bahu ku.

 

“agasshi cantik seperti mu tidak mungkin kami sia-siakan! Sayang kalau belum di nikmati. Hahaha!” ucap ahjussi di belakang ku.

 

Kata-kata mereka membuat ku bergidik ngeri.

“ottokhae?” pikir ku.

 

Ahjussi yang mencengkram lengan ku menyeringai lebar lalu mulai mendekati wajah ku. Aku yang sedikit membaca pergerakan nya, menundukkan kepala demi menghindari ahjussi bejat ini. Ahjussi dibelakang ku pun tak tinggal diam, ia sekarang mencengkram kedua pergelangan tangan ku sehingga bagian depan tubuh ku tak terhalang. Keringat dingin ku pelahan mengucur tatkala ahjussi di depan ku membungkam mulut ku dan tangan satu nya mencoba merobek blazer dan seragam ku.

 

“Seseorang tolong aku!” teriak ku dalam hati.

Aku berusaha keras untuk lepas dari cengkraman kedua ahjussi ini, namun kekuatan ku sungguh tak sebanding dengan mereka.

 

*plop! Plop!*

 

Kedua kancing seragam ku terlepas dan terlempar, pandangan ku sedikit mengabur dikarenakan airmata yang perlahan menggenang di pelupuk mata ku.

 

“hmph! L-Lepaskann akuu! Hmphhh!” aku kembali berteriak namun suara ku tertahan karna tangan ahjussi ini menutup mulut ku.

 

“Jangan menangis! ____-ah! Jangan menangis! Lawan mereka!”

Perlahan ku kumpulkan kekuatan ku.

 

Langsung ku gigit tangan ahjussi itu, ia pun meringis kesakitan.

 

“SESEORANG TOLONG AKU!!!”

urat leher ku rasa nya mau putus tapi aku tak peduli yang penting aku lolos dari kedua ahjussi yang brengsek ini.

 

“dasar wanita bodoh!!”

ahjussi yang barusan meringis kesakitan itu langsung menampar pipi kanan ku. Airmata ku pun tak terbendung lagi, aku meringis menahan sakit di pipi ku.

 

*grepp!*

 

“APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP!? KAU INGIN MATI HUH!?”

Bentak nya melotot ke arah ku sembari mencengkram kuat kerah seragam ku, mengguncang tubuh ku yang sedikit terangkat.

 

Aku tersenyum miring, “lebih baik aku mati daripada menjadi pemuas nafsu konyol mu itu!” ucap ku sebelum aku meludah ke wajah nya.

 

Wajah ahjussi itu terlihat merah padam menahan amarah bahkan mata nya seperti akan keluar dari tengkorak nya,

 

“GEURRAE!! AKAN KU TURUTI PERMINTAAN MU!” ia kembali membentak ku.

 

Ia pun menampar ku kuat-kuat. Pandangan sebelah mataku sedikit mengabur, sudut bibir ku pun sedikit berdarah karna ulah nya.

 

“AKU SARANKAN KAU UNTUK MENYINGKIRKAN TANGAN KOTOR MU DARI NYA PAK TUA!!!”

 

.

.

.

 

Part 2

 

Perlahan aku menoleh ke asal suara tersebut, membulatkan mata ku.

 

“T-TaeHyung-ah~” ucap ku lirih.

 

Ahjussi itu kembali tertawa lepas, “Bocah tengik seperti kau ini, bisa apa HUH!?” komen nya seraya menghempaskan tubuh ku dan berjalan mendekati TaeHyung.

 

Ahjussi itu berniat menghajar TaeHyung namun TaeHyung dengan cepat menghindar lalu meninju wajah ahjussi itu,

 

*brukk!*

 

Ahjussi itu pun tumbang sambil memegangi wajah nya, mengerang kesakitan. Ahjussi yang mencengkram tangan ku sedari tadi, menghempaskan tubuh ku kuat sampai aku tersungkur di jalan meringis kesakitan.

 

“T-taeHyung-ah! Awas!”

Sebelum terdengar oleh TaeHyung, ahjussi itu sudah memukul TaeHyung duluan. Ahjussi itu Memukul perut TaeHyung sehingga TaeHyung ambruk memegangi perut nya. Ahjussi itu tak memberi ampun pada TaeHyung, ia lalu menendang perut TaeHyung berulang-ulang. Tak sampai di situ, ahjussi yang di pukul TaeHyung tadi ikut menghajar nya bahkan melayangkan tinju nya berulang kali pada wajah TaeHyung.

 

“GEUMANHAE!!” teriak ku pada mereka.

Airmata ku mengalir deras di pipi, aku yang tak sanggup melihat nya hanya bisa memejamkan mata ku.

Ini tampak seperti film horor di mata ku.

 

Ahjussi itu lalu tertawa gila,

“BOCAH IDIOT SEPERTI MU LEBIH PANTAS UNTUK MATI!!” ucap nya selagi menatap liar pada TaeHyung yang terbaring mengerang kesakitan, sekarang sudut bibir nya mengeluarkan darah segar.

 

*grepp*

 

Tiba-tiba aku mendapatkan kekuatan yang entah dari mana, perlahan ku kumpulkan keberanian ku. kemudian ku ambil dan menggenggam erat balok kayu yang tergeletak tak jauh dari situ.

 

“YAA!”

seru ku sebelum aku memukul kepala mereka dengan balok kayu di tangan ku.

 

*brakk!!*

 

Setelah mereka berdua jatuh berlutut memegangi kepala mereka, aku menatap tajam ke arah mereka.

 

“HANYA. AKU. YANG. BOLEH. MEMANGGILNYA. I-D-I-O-T!!” pekik ku seraya menghujani mereka dengan pukulan bertubi-tubi di kepala mereka.

Entah setan apa yang merasuki ku sampai aku bertindak sebrutal itu. TaeHyung yang sekarang tengah terduduk memegangi perut nya bahkan tak berkedip menatap ke arah ku.

 

*srepp*

 

Ku jatuh kan balok kayu yang telah ku pakai untuk menghajar kedua ahjussi itu. Ku terdiam dan menatap sebentar kedua ahjussi. (mereka dalam keadaan pingsan dan kepala mereka sedikit mengeluarkan darah)

 

Aku berlari ke arah TaeHyung yang terduduk, tanpa ba-bi-bu lagi langsung memeluk nya erat.

 

TaeHyung tertawa kecil, “ya! yeoja gila~ kenapa tadi kau berlari saat melihat ku eoh?” ucap nya.

 

Aku melonggarkan pelukan ku dan memandang wajah nya yang di hiasi dengan smirk di tampang bodoh nya dan luka baru di sudut bibir nya.

 

Aku menangis terisak,

“Mianhaeyo. Hiks. TaeHyung-ah. Hiks. Karna aku. Hiks. Kau kembali terluka. Hiks” rengek ku pada nya.

 

TaeHyung kembali tertawa lalu mengacak rambut ku,

“Gwaenchanayo?” ucapnya sebelum menarik ku dalam pelukan nya. Aku hanya bisa menangis histeris dipelukan nya.

 

“Mianhae ____-ah. Aku tidak datang sebelum dua orang brengsek ini melukai mu” lanjut TaeHyung dengan nada sedih, mengusap-usap rambut ku.

 

Aku memeluk nya erat, masih menangis di pelukan TaeHyung.

 

Aku menghela napas panjang, “Yang penting kita berdua selamat” pikir ku.

 

Tak lama kemudian terdengar suara sirine polisi.

 

 

“Kalian berdua tidak apa-apa?” Tanya seorang polisi yang baru sampai di tempat itu.

 

TaeHyung hanya mengangguk lemah sedangkan aku masih saja terisak dengan tangan masih menempel erat di tubuh TaeHyung.

 

 

Aku mendekap erat blazer TaeHyung yang ia pakaikan pada ku saat berada di mobil polisi tadi, kemudian menatap ke arah TaeHyung yang tengah berbaring di sofa di ruang tamu ku.

 

“Kamsahamnida Pak Petugas telah mengantar kami” aku membungkukkan badan ku pada polisi yang datang ke tkp tadi.

 

“hm. Nde! Cheonman agasshi. Kau beruntung memiliki namjachingu seperti dia” polisi itu menunjuk ke arah TaeHyung di sofa.

Aku membulatkan mata ku.

 

“Ahjussi, si idiot ini bukan pacar ku” batin ku.

 

“Kalau ia tidak menelpon polisi, aku rasa kalian berdua tidak akan mungkin selamat, kedua pria yang kalian buat pingsan tadi adalah tersangka pembunuhan seorang pemilik klub malam yang terkenal. Sudah 2 minggu mereka buron” lanjut pak Polisi itu tersenyum, menggelengkan tak percaya.

 

Sedikit kaget dengan omongan petugas polisi ini, aku semakin membulatkan mata ku mulut bahkan sedikit menganga seakan tak percaya.

“Benarkah itu ahjussi?” ucap ku.

 

Polisi itu mengangguk.

“Apa kau ingin aku menghubungi orangtua mu agar cepat pulang?” tawar polisi itu padaku.

 

Aku menggeleng, “Aniya. Gwaenchanseumnida ahjussi. Biar aku sendiri yang menghubungi nya” jawab ku.

 

“cah~ baiklah kalau begitu. Beristirahat lah dengan baik agasshi. Kau dan namjachingu mu itu benar-benar anak yang kuat” Polisi itu tersenyum sambil menepuk pundak ku pelan. Tak lupa mengacungkan jempol nya ke arah ku.

 

“Ahahaha~ Nde! Jeongmal Kamsahamnida atas bantuan mu ahjussi!” kata ku tersenyum getir atas ucapan nya barusan seraya membungkuk hormat pada nya.

.

.

.

“T-TaeHyung-ah!”

Setelah ku taruh peralatan p3k di meja, Ku guncang-guncangkan tubuh nya berniat membangunkan sekalian mengobati luka nya.

 

Sial! bocah ini tak bergeming sama sekali. Apa ia sudah mati? Aku tertawa dalam hati, mengatai diri ku bodoh karena sudah berpikiran konyol sedemikian rupa.

 

“Yya! pabbo! Ireonna eoh! APA KAU TULI HUH!?” teriak ku langsung di telinga nya. TaeHyung dengan sigap bangun dari tidur nya, duduk dan mengorek-ngorek telinga nya lalu menatap tajam ke arah ku.

 

 

“Ani. Aku tidak tuli. Tapi lama-lama aku bisa tuli kalau berdekatan dengan mu!” cibir TaeHyung.

 

Aku tertawa kecil.

 

“Sini kemari! Biar ku bersihkan luka mu” ujarku sambil membasahi kain dengan air bersih yang telah ku taruh di mangkuk lalu menuangkan sedikit alkohol di kapas.

 

Ku raih wajah nya dan mulai membersihkan luka di wajah nya. Ia sedikit menundukkan kepala nya lalu dengan cepat mengangkat kembali wajah nya, kalau ku perhatikan wajah nya sedikit merah merona. Ku beranikan diri untuk bertanya pada nya.

 

“Waeyo? TaeHyung-ah? Kau sakit? Demam?” ku coba meraba kening nya, yang ternyata tidak terasa panas sama sekali.

 

TaeHyung hanya terdiam menatap ke arah atas dengan pipi merona. Aku menatap nya bingung, “WAEYO!?” ucapku sedikit meninggikan volume suara ku.

 

 

“I-Itu. A-anu” ujar nya gelagapan.

TaeHyung yang masih menatap ke atas kemudian sedikit gemetar mengatur kancing seragam nya. Aku yang sedikit menangkap maksud TaeHyung, menengok ke arah seragam ku.

 

“Heol!” pikir ku.

Ternyata aku baru sadar kalau 2 kancing seragam ku telah terlepas karena ulah kedua ahjussi mesum tadi, Membuat Bra ku bahkan belahan dada ku sedikit terpampang jelas di sela-sela seragam ku.

 

“Pantas saja wajah nya merah seperti kepiting rebus” pikir ku memasang muka masam pada TaeHyung.

 

Aku berusaha menahan tawa ku melihat tingkah imut nya. Menggelengkan kepala ku tak percaya,

 

“Anak ini polos juga ternyata” ucap ku dalam hati.

 

“Ah~ Gwaenchana santai saja TaeHyung-ah” ujar ku sambil kembali mengobati luka di wajah nya. Ia menatap ku lugu dengan rona merah di pipinya. Aih~ Melting aku bisa-bisa.

 

Sesaat kemudian TaeHyung mulai bersuara,

“Mian. Seharusnya aku datang lebih awal tadi” ucap nya menatap sendu ke arah ku.

 

“Kenapa tak datang lebih awal eoh!? Aku hampir saja kehilangan kesucian ku, KAU TAHU!?” bentak ku.

 

“YA!! AKU KAN HARUS MINTA BANTUAN POLISI DULU! KALAU KITA BERDUA MATI DITANGAN KEDUA AHJUSSI ITU BAGAIMANA!? EOH!?” TaeHyung malah balik membentak ku.

 

Kesal terhadap perlakuan TaeHyung langsung saja ku usap kasar kapas yang sudah ku beri alkohol. Ia lalu meringis.

 

“YA!! PELAN-PELAN! Sakit tau!?” menatap tajam ke arah ku.

Yang hanya ku respon dengan menjulurkan lidah ku, mengejek nya.

 

Selang beberapa menit aku hampir selesai mengobati luka di wajah TaeHyung, ia menatap ku intens.

“____-ah? A-Apa K-Kau senang menghabiskan waktu dengan J-Jiminie?” ucapan TaeHyung membuat aksi ku terhenti sebentar, ia kini menundukkan wajah nya.

 

“hm. Sedikit. Aku serasa berkencan dengan Jimin. Haha” ledek ku pada nya.

 

“Haish~” gumam TaeHyung memalingkan wajah nya dari ku.

 

“Apa saja yang lakukan dengan nya?” lanjut nya masih tak mau menoleh pada ku.

 

Aku tersenyum, “Kau penasaran hm?” ucap ku seraya mendekati nya.

 

TaeHyung tak kunjung menjawab tapi aku yakin ia penasaran setengah mati dalam pikiran nya.

 

“Kita berkeliling, melihat-lihat toko souvenir, Jimin membelikan ku makanan yang enak” aku kembali meledek nya.

 

“Ia bahkan mengenggam tangan ku erat seperti ini TaeHyung-ah.” lanjut ku dengan nada riang seraya mempraktekkan nya pada TaeHyung.

 

Ia akhirnya menoleh ke arah ku. Mem-pout-kan bibir nya lengkap dengan hiasan rona di pipi nya.

 

“Hanya itu kan!?” komen nya.

 

Aku tersenyum ke arah nya.

 

“YA! aku tanya, Hanya itu kan!?” TaeHyung terlihat menggemaskan sekarang.

 

“Wae? Apa kau iri pada nya?” aku tersenyum lebar ke arah nya, menopang dagu dan memainkan alis ku.

 

“Untuk apa aku iri? Dia kan belum pernah mencium mu. Aku pernah!” TaeHyung mulai berani mendekatkan wajah nya dengan ku.

 

“Pernah apa! Kau mana pernah menci-hmph!” timpal ku, namun sebelum aku menyelesaikan ucapan ku TaeHyung sudah lebih dulu menempelkan bibir nya di bibir ku.

 

TaeHyung hanya menempelkan bibir nya tanpa ada gerakan apa pun, mata nya tengah terpejam sedang mata ku terbelalak karena aksi spontan nya ini.

 

Ia lalu melepaskan dan menjauhkan bibir nya dari ku. Kemudian menatap wajah ku dalam-dalam, tersenyum lebar.

 

“Y-Ya! idiot! A-Apa yang k-kau lakukan eoh!?” pekik ku.

 

“Kau menikmati nya bukan?” ledek TaeHyung yang nampak puas.

 

“Namja brengsek! Lagi-lagi ia berani mempermaikan ku!” rutuk ku dalam hati.

 

“Waktu nya pembalasan!” ucap ku mantap dalam hati.

 

“TaeHyung-ah~” ku panggil nama nya dengan sedikit sensual.

Perlahan ku buka sedikit bagian atas seragam ku yang dua kancing nya telah tertanggal.

 

*glekk!*

Wajah TaeHyung semakin memerah bahkan lebih merah dari awal tadi telinga nya pun merah, berulang kali meneguk ludah.

Aku semakin memperkecil jarak di antara kami berdua sedangkan TaeHyung semakin memundurkan badan nya.

 

TaeHyung langsung menutupi wajah nya, “YA!! ____-ah! GEUMANHAE!!” pekik TaeHyung.

 

“Jangan tertawa ____-ah! Kita beri pelajaran dulu pada namja pabbo tampan ini” pikir ku sambil menahan geli tawa ku.

 

Aku berusaha menyingkirkan tangan yang menutupi wajah nya, setelah berhasil lalu tampak lah tampang Kepiting rebus TaeHyung. Pandangan nya beralih dari wajah ku ke arah dada ku dan membelalakan mata nya.

 

“YA!!” pekik TaeHyung.

 

Perut ku yang terasa nyerih sekali sedari tadi menahan geli tawa, Aku pun jatuh tertawa terpingkal-pingkal di lantai.

 

“aih~ Jinjja! TaeHyung-ah! Neomu kyeopta~” ucap ku tertawa di lantai sambil memegangi perut ku.

 

“haish~ Menyebalkan!” ketus TaeHyung memalingkan wajah nya dari ku.

 

Terlihat kepala TaeHyung beruap-uap sekarang, kurasa aku sudah keterlaluan menggoda nya. Aku pun bangun dari lantai dan mendekati TaeHyung yang duduk membelakangi diri ku.

 

“Mian, mian telah menggoda mu” aku menepuk-nepuk pundak nya.

 

“Haish~ Cepat ganti baju mu sana!” kata nya masih tidak mau menoleh ke arah ku.

 

Aku tertawa kecil, “Arra. Arra!”

.

.

‘22.10’

Aku menghela napas, “Seperti nya eomma masih sibuk” gumam ku pada ponsel di tangan ku.

 

“Waeyo?” Tanya TaeHyung berhenti sebentar menonton tv dan menoleh ke arah ku.

 

“Aku sudah coba 3 kali menelpon eomma, tapi tak diangkat-angkat juga” timpal ku, menempelkan ponsel di telinga ku yang lagi-lagi hanya terdengar nada sambung.

 

“hm. Mungkin ia sedang dalam perjalanan pulang” TaeHyung tersenyum.

 

Aku menggangguk mengiyakan. Kemudian mengambil keripik kentang di kulkas lalu duduk di samping nya untuk ikut menonton. Ku perhatikan dengan seksama wajah namja yang duduk di samping ku ini, ia terlihat serius menonton drama yang tengah di tayangkan di layar tv.

 

“TaeHyung-ah?” tanya ku.

 

“hm?” jawab TaeHyung, mata nya tak beralih sedikit pun dari tv.

 

“Ya! Kenapa kau hobi sekali mengerjai diri ku?” menatap kesal TaeHyung.

 

“Kalo aku tak mengerjai mu, aku tak’kan bisa mendapatkan perhatian dari mu” ucap TaeHyung enteng, ia asyik mengemil keripik kentang sekarang.

 

Aku membulatkan mata ku. Aku baru sadar, perkataan nya memang benar. Sebelum nya aku tak pernah bertegur sapa dengan TaeHyung, aku hanya sering melihat nya saat di kantin. Sebelum aku sekelas dengan TaeHyung, aku jarang sekali bergaul dengan teman-teman sekelas ku apalagi dengan para namja. Namun semenjak TaeHyung mengerjai ku, aku mulai berani membuka suara ku.

 

“Kau bersungguh-sungguh dengan yang kau katakan saat di ruang guru tadi pagi? Kalau kau menyukai ku semenjak kau sekelas dengan ku?” lanjut ku menatap intens ke arah nya.

 

‘uhuk!’

TaeHyung hampir tersedak mendengar pertanyaan ku, “Kau pikir aku ini pembohong!? Eoh!?”

 

“A-aniya! Hanya saja-”

“Nde! Aku menyukai mu pabbo! Jadi yeoja peka sedikit coba’!?” timpal TaeHyung terdengar sedikit membentak ku.

 

“YAK! Bagaimana aku bisa peka eoh? kau selalu membuat ku emosi setiap saat IDIOT!!” aku balik membentak nya.

 

TaeHyung lalu menunduk, “Mian” ucapnya.

 

Aku mem-pout-kan bibir ku, melipat tangan di depan dada lalu duduk bersandar di sofa dan mengalihkan pandangan ku dari TaeHyung.

 

“Nado mianhae” lanjutku.

 

TaeHyung kemudian menatap ku intens, tapi tatapan nya terlihat sedikit berbeda. Apa yang ada dipikiran si idiot ini?

Ia mulai memperkecil jarak di antara kami, mulai mendekatkan wajah nya dengan wajah ku. Deruh nafas nya terasa hangat menerpa wajah ku.

 

Demi mengantisipasi apa yang akan di lakukan namja idiot ini buru-buru ku tempelkan jari telunjuk ku tepat di kening nya,

 

“The hell you think you’re doing huh?” ucap ku datar.

 

TaeHyung menurunkan telunjuk ku dari kening nya.

 

“Diam lah~” ujar TaeHyung memperlihatkan smirknya pada ku.

 

Terkutuklah aku dan imajinasi liar ku. Tapi Tuhan, ia terlihat sangat seksi di mata ku sekarang. Seseorang tolong panggilkan dokter untuk ku. Arghh!

Dan…

 

*CUP!*

Bibir TaeHyung sukses menempel di bibir ku lagi. Mata ku terpejam menikmati bibir manis namja idiot ini. Ia mulai sedikit melumat bibir ku, aku yang memang belum berpengalaman dalam hal ini (ehem!) mencoba mengikuti pergerakan dari bibir TaeHyung. Tapi..

 

“hiss~”

 

Kami berdua saling melepas ciuman kami. Lalu meringis sakit, meraba sudut bibir kami masing-masing.

 

“Luka sialan” ketus TaeHyung.

 

Aku hanya bisa diam menunduk, memegang kedua pipi ku yang mungkin sudah semerah tomat sekarang. Sedangkan TaeHyung menatap ku riang dengan cengiran khas nya, Aku yakin sebentar lagi ia pasti akan mengejek ku kembali.

 

Aku segera beranjak dari sofa, “A-aku ke dapur sebentar, mau bikin teh” ucap ku berlari kecil ke arah dapur.

 

Samar-samar terdengar suara TaeHyung tertawa di ruang tamu.

 

“namja sial~” gumam ku.

 

Sesampai ku di dapur aku lalu memanaskan air dan menyiapkan dua gelas untuk membuat teh. Lantaran pikiran ku yang sedikit kurang fokus karena kejadian tadi hampir saja aku menaruh garam di dalam gelas teh tadi. Aku meracau dalam hati.

 

*ting! Tong!*

Tiba-tiba terdengar seseorang menekan bel rumah, “ah~ itu pasti eomma!” gumam ku.

 

“Biar aku yang bukakan pintu nya ____-ah!” ucap TaeHyung yang suara nya terdengar sampai ke dapur.

 

“nde! Gumawoyo~ TaeHyung-ah” timpal ku selagi menyelesaikan membuat teh.

 

“___-ah! Eomma pu- YA!! NUGUYA!!” terdengar suara memekik eomma di ruang tamu.

 

*prakk! Brukk!*

 

“T-tunggu dulu eommoni! A-Aku bukan orang jahat!” Suara TaeHyung terdengar panik.

 

Bukan nya mendengar salam dari eomma, telinga ku malah mendengar suara gaduh dari ruang tamu. Otak ku langsung berpikir kalau sesuatu yang gawat pasti sedang terjadi. Kan bisa gawat kalau eomma menghajar TaeHyung habis-habisan, Bisa-bisa TaeHyung tidak akan keluar dari rumah ini hidup-hidup. Apalagi eomma tak pernah melihat TaeHyung.

 

“Kenapa kau bisa masuk ke sini! DI MANA PUTRI KU!? KAU APAKAN PUTRI KU EOH!!?” lanjut eomma.

 

Buru-buru aku berlari sekencang mungkin ke ruang tamu,

Aku membulatkan mata ku.

 

“EOMMAA HAJIMAA!” pekik ku. Aku menghalangi eomma yang memang terlihat ingin menghajar TaeHyung, bahkan tangan nya sudah mengacungkan sapu ke arah TaeHyung!

 

“___-ah? Kau tidak di apa-apakan oleh berandalan ini kan?” tanya eomma dengan nada panik.

 

“ah~ Eomma aku tidak apa-apa, sekarang bisakah eomma menurunkan sapu itu. Bisa-bisa ada yang terluka nanti” timpal ku mencoba menenangkan eomma.

 

 

“Silahkan~ Makan yang lahap yah nak TaeHyung” kata eomma tersenyum lembut selagi menyodorkan semangkuk nasi pada TaeHyung.

 

TaeHyung membalas senyuman eomma, “Nde! Kamsahamnida! Eommoni~” jawab nya dengan mulut penuh.

 

“Ommo~ ommo~” Eomma tertawa mendengar jawaban dari TaeHyung.

 

“ckck..Dua orang ini” batin ku berdecak kagum. Melihat keakraban mereka berdua padahal tadi eomma seperti ingin membumihanguskan sosok TaeHyung. Tapi coba lihat sekarang, mereka lebih mirip seperti ibu dan anak. Aku bergidik ngeri.

 

“Eomma~ berhenti menatap nya seperti itu” ucap ku ketus.

 

Kami bertiga sekarang tengah makan di ruang makan, eomma membawa daging sebagai hadiah karena telah pulang malam hari ini.

 

“Wae? eomma hanya ingin melihat wajah namja yang sudah menyelamatkan putri ku. Apa itu salah?” timpal eomma.

 

Sedari tadi eomma menatap berbinar-binar ke arah TaeHyung yang tengah asyik melahap makanan. Namun orang yang di tatap nya ini seakan mengacuhkan tatap berbinar dari eomma ku. Aku menghela napas.

 

Aku melirik ke arah TaeHyung dan menyikut lengan nya, “Kapan kau akan pulang? Kau tidak lihat ini sudah jam berapa?” ujarku.

 

*pletakk!*

“Ah~! Eomma” rengek ku seraya mengusap-usap kepala ku yang sukses mendapatkan jitakkan dari eomma.

 

“Ya! apa begitu cara mu mengucapkan terimakasih pada ‘teman’ mu?” ujar eomma menekankan kata ‘teman’. Apa maksud eomma!?

 

“nak TaeHyung ini kan ‘teman’ pertama yang kau bawa ke rumah” eomma kembali tersenyum pada TaeHyung. Hentikan eomma kau membuat ku malu!

 

TaeHyung menghentikan acara mengunyah nya, “Benarkah Eommoni?” ucap nya sedikit terkejut.

 

Eomma mengangguk pelan, “Nde! Selama ini ___-ah tak pernah memperkenalkan teman-teman nya pada ku” sedikit berakting sedih di depan TaeHyung.

 

“Kalau begitu, suatu kehormatan untuk saya Eommoni jadi teman pertama yang dikenalkan ___-ah pada Eommoni!” TaeHyung memperlihatkan senyum kotak nya.

 

Aku semakin malas menghiraukan mereka berdua dan kembali asyik menyantap daging di piring ku.

 

“Bibi pikir nak TaeHyung ini pacar nya ___-ah?” kata eomma.

 

*uhukk!*

Oh Tuhan! hampir saja aku mati tersedak mendengar perkataan eomma.

 

“Hehehe~ nde Eommoni! Kami berdua memang pacaran!” jawab TaeHyung tiba-tiba.

 

*uhukk!*

Sial! Aku hampir mati tersedak dua kali. Jantung ku juga hampir loncat dari tempat nya. Buru-buru ku ambil minuman dan menelan makanan ku.

 

Ku gebrak pelan meja makan, “Ya! sejak kapan kita pacaran eoh!?” ketus ku.

 

“___-ah~ kenapa tak beritahu eomma, kalau kau mempunyai pacar setampan nak TaeHyung ini” eomma tersenyum bahagia pada TaeHyung. Namja idiot ini juga cengar-cengir tidak jelas.

 

“Eomma~ masa’ kau lebih percaya pada orang ini ketimbang aku. Anak mu sendiri!?” rengek ku dalam hati.

 

Tuhan~ Apa aku boleh menangis sekarang?

 

 

@Pagi di sekolah

 

“Selamat pagi chagiya~” sapa TaeHyung sambil memeluk ku dari belakang dan mengecup pipi ku.

 

“Y-Ya! brengsek! A-apa yang baru saja kau lakukan eoh!?” pekik ku sedikit kaget oleh ulah tiba-tiba si TaeHyung. Aku buru-buru melepaskan diri dari pelukan si idiot ini.

 

“wae? kau mau yang lebih? menuntut morningkiss dari ku eoh?” lanjut nya memonyongkan bibir nya ke arah ku.

 

“Sial! Orang ini benar-benar!” pikir ku.

 

Langsung saja ku dorong wajah nya menjauh dari ku, beruntung ia sempat menahan bobot tubuh nya ia hampir saja terjungkal ke belakang. Aku mendengus kesal.

 

“Ya! Kenapa kau mendorong ku!? Padahal semalam kau mau-mau saja di cium oleh ku!?” timpal TaeHyung sedikit berteriak.

 

Sontak membuat perhatian kelas mengarah pada ku. Beberapa membelalakan mata nya ke arah ku, kelihatan sangat kaget.

 

“Keparat kau Kim TaeHyung!” ketus ku dalam hati dengan tangan mengepal kuat.

 

Dengan emosi memuncak ku tarik belakang kerah baju nya lalu menyeret nya keluar kelas, “IKUT DENGAN KU!!” ketus ku.

 

Ku seret dia ke taman belakang sekolah dan memaksa nya duduk di bangku taman.

 

“APA KAU SUDAH GILA KIM TAEHYUNG!!?” pekik ku.

 

“Nde! Aku gila karena mu! WAE!?” ujar nya enteng.

 

“Y-Ya! jangan berbicara yang aneh-aneh! Semalam itu kan kau yang menciumku duluan!” lanjut ku membela diri.

 

“Tapi kau membalas ciuman ku bukan!? Kau bahkan memperbolehkan ku mencium mu semalam” timpal TaeHyung berdiri melipat tangan di depan dada nya sambil mengembungkan pipi nya kesal.

 

“I-itu kan-” aku mem-pout-kan bibir ku.

 

[Flash back on]

 

“Kamsahamnida Eommoni atas hidangan nya tadi, neomu masitda” kata TaeHyung tersenyum mengacungkan jempol nya pada eomma.

 

“Nde! Cheonman nak TaeHyung. Sering-sering lah berkunjung kesini yah?” ujar eomma tersenyum.

 

“Tentu saja Eommoni! Kalau perlu, setiap hari aku datang berkunjung!” TaeHyung tertawa kecil.

 

Eomma ikut tertawa, “ommo~ ommo~ Kau tinggal beritahu ___-ah saja. Nanti akan ku masakkan makanan yang enak untuk mu” sesekali menepuk pundak TaeHyung.

 

Aku menatap mereka jijik. Hiyy!!

 

“Baiklah~ Eommoni saya pulang dulu” TaeHyung membungkukkan badan nya.

 

“ah~ Nde! Hati-hati di jalan eoh?” ujar eomma.

 

TaeHyung mengangguk ria.

 

“Sana~ antar dia ke depan!” gumam eomma sedikit mendorong ku.

 

“waee? dia kan bisa keluar sendiri” respon ku pada eomma yang langsung melotot ke arah ku.

 

“arraseo!” ketus ku.

 

Aku melangkah mendahului TaeHyung keluar dari pintu depan. Berdiri di jalan depan rumah lalu menatap ke langit.

 

Aku menghela napas, “Semoga saja tidak hujan” gumam ku.

 

“Sudah~ kau tak perlu mengkhawatirkan ku” ucap TaeHyung yang sudah berdiri di samping ku.

 

“Cih! Ke-PeDe-an!” Aku mendengus kesal.

 

TaeHyung hanya tertawa kecil.

 

“G-Gumawoyo telah menyelamatkan aku TaeHyung-ah. Kalau kau tidak datang tadi, aku pasti sudah-”

 

“Gwaenchana~” potong TaeHyung tersenyum hangat ke arah ku.

 

Kenapa aku baru sadar ternyata manusia yang paling menyebalkan dalam hidup ku ini sangat tampan. Senyuman di wajah TaeHyung yang biasa nya terlihat di buat-buat bahkan terlihat menyebalkan di mata ku, kali ini membuat nya terlihat tampan. Aku membalas senyuman nya.

 

*srekk!*

 

Refleks ku arah kan pandangan ku ke sumber suara,

 

“Eomma~! Berhenti mengintip!”

 

Eomma yang kedapatan tengah mengintip kami dari balik pintu rumah hanya cengar-cengir, mengibas-ngibaskan tangan nya dan menutup pintu.

 

Aku menghela napas, menggeleng tak percaya.

TaeHyung kembali tertawa.

 

Untuk sesaat suasana menjadi hening, “um. ___-ah?” ujar TaeHyung menatap lembut ke arah ku.

 

Aku menatap ke arah nya bingung, “waeyo?”

 

TaeHyung terlihat malu-malu, “um. B-bolehkah aku mencium mu l-lagi?” ujar TaeHyung gelagapan.

 

“MWO?” aku membulatkan mata ku.

 

“Andwae!!” pekik ku.

 

Se’enak jidat nya mau mencium ku lagi. Ia pikir bibir ku ini mainan nya apa!?

 

“Hanboman? Eoh?” rengek nya pada ku, menatap ku dengan ‘puppy-eyes’ nya sambil mengacungkan jari telunjuk nya.

 

“Jebal~”

 

Hiyy! Menjijikan sekali! Seumur-umur, Baru si idiot ini namja pertama yang merengek-rengek minta cium pada ku. Hehehe tapi ekspresi nya imut juga.

 

Setelah berpikir sejenak, “baiklah! Tapi sekali saja eoh!?” ujar ku menatap nya tajam.

Yah~ daripada ia merengek dan tak mau pulang sebaik nya ku kabulkan saja permintaan nya.

 

*grepp!*

 

TaeHyung langsung melingkarkan lengan nya di pinggang ku, mendekap ku ke pelukan nya. Ia menatap ku sejenak dan tersenyum lembut.

 

“Saranghae ___-ah” bisik nya.

 

Jantung ku serasa berhenti sementara saat menatap mata nya.

dan.

Cup.

 

Untuk kesekian kali nya, bibir TaeHyung menempel lagi di bibir ku. Perut ku terasa aneh seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di dalam nya. Perasaan aneh apa ini!?

 

Lalu TaeHyung semakin memperdalam ciuman kami, mungkin karena terbawa suasana aku pelan-pelan mengalungkan lengan ku di leher TaeHyung. Terasa TaeHyung tersenyum di sela-sela ciuman kami.

 

Kemudian kami sama-sama melepaskan ciuman kami. Dengan napas sedikit tersengal, aku menundukkan wajah ku. Pipi ku pasti merah lagi.

 

TaeHyung yang tertawa kecil lalu meraih dagu ku dan mengangkat wajah ku, menatap ku penuh arti.

 

“Kau milik ku sekarang” ucap nya dengan smirk menghiasi wajah tampan nya.

 

Aku yang memang sudah salah tingkah melepaskan diri dari pelukan nya lalu mendorong nya pelan, “Sudah sana pulang! Bisa-bisa kau terlambat ke sekolah besok” ujar ku sedikit gelagapan.

 

Lihatlah! ia malah memamerkan senyum kotaknya.

 

“Hehehe~ hanboman!” kata TaeHyung memonyongkan bibir nya.

 

Dengan terkekeh ku balikkan badan nya dan kembali mendorong nya, “Andwae! Sana pulang! Palli~” pipi ku masih semerah tomat.

 

TaeHyung tertawa terkekeh melangkah pergi lalu menoleh ke arah ku lagi seraya melambaikan tangan nya.

 

“Sampai jumpa besok chagiya~” timpal nya.

 

Aku kembali terkekeh membalas lambaian tangan nya, “dasar pabbo!” batin ku.

 

[Flash Back off]

.

.

.

“Itu kan apa?” Taehyung berusaha meledek ku.

 

Aku terdiam. Tak tahu harus berkata apa lagi.

 

“Masih berani mengelak lagi” lanjut nya tersenyum ke arah ku.

 

Aku merutuki diri ku sendiri dalam hati. Kenapa juga tadi malam aku mau-mau saja menerima ciuman dari nya. Kalau saja semalam aku membiarkan Jimin mengantar ku pulang. Batin ku menangis. Ah! Iya! Jimin! Apa yang harus ku katakan pada nya?. Bagaimana aku harus bersikap di hadapan nya. Aku mengacak rambut ku frustasi.

 

Tak terasa bel tanda pelajaran di mulai telah berbunyi.

Aku langsung saja berlari ke kelas meninggalkan TaeHyung di belakang ku.

 

“Ya! Chagii tunggu aku!” teriak nya dari belakang.

 

 

Setelah pelajaran ipa tadi akhir nya kami mendapat istirahat juga, aku merapikan meja ku dan melipat tangan ku bersiap untuk memejamkan mata ku sebentar. Alih-alih memejamkan mata, aku malah mencari sosok namja idiot yang musti nya duduk di samping ku namun batang hidung nya tak kelihatan setelah bel istirahat berbunyi tadi. Begitupun sosok Jimin juga yang sedang tak berada di tempat duduk nya, hanya ada Jung HoSeok yang terlelap imut di meja nya.

 

“Hm. Kemana mereka?” gumam ku pelan.

 

Lalu aku beranjak dari kursi ku menuju ke meja HoSeok.

Aku mencolek-colek lengan nya demi membangunkan sosok yang sedang tertidur ini. Usil memang, tapi yah mau bagaimana lagi? Orang ini kan bagaikan kembar tiga si Kim TaeHyung dan Park Jimin. Dan mungkin orang yang tahu di mana kedua sosok sahabat nya itu.

 

“HoSeok-ah palli ireona!” kata ku.

 

“eungh~” HoSeok yang mengerjap-ngerjap mata nya, akhirnya terbangun juga.

 

“ah~ Waeyo ___-ah?” ucap nya malas sambil mengusap-usap mata kiri nya.

 

“Kemana si TaeHyung dan Jimin?” aku langsung ke inti nya saja.

 

Ia menjawab dengan mengendikkan bahu.

 

“haish~ manusia satu ini memang tak bisa diharapkan” pikir ku menatap datar ke arah nya.

 

“Ya sudah! Mianhae sudah membangunkan mu. Kembalilah tidur” lanjut ku meninggalkan meja nya lalu kembali ke tempat ku semula.

 

HoSeok hanya mengangguk-ngangguk dan kembali ke posisi tidur semulanya.

 

Aku berdecak kesal, “ah~ molla! Yang penting sekarang aku mau tidur dulu” pikirku sembari melipat tangan ku di atas meja.

 

Namun sayang, belum lima detik ku taruh kepala ku, EumJi dengan nafas tersengal-sengal sehabis berlari berseru ke arah ku.

 

“____-ah! KIM TAEHYUNG DAN PARK JIMIN SEDANG BERKELAHI DI ATAP GEDUNG SEKOLAH!!” seru nya mengguncang-guncangkan badan ku.

 

Aku membelalakan mata ku, “HEEHH!?”

.

.

.

“YAK! MINGGIR!! YAK!!” seru ku pada orang-orang yang tengah menonton dan ternyata sudah sampai duluan dari ku.

 

Aku langsung saja menerobos pintu keluar atap, “YAK! Kim TaeHyung hentikann sekara-” pekikan ku tiba-tiba terhenti.

 

TaeHyung dan Jimin sontak menatap ku bingung.

 

“Ah~ chagiya kau mencari ku?” ujar TaeHyung berjalan mendekati ku. Lalu merangkul ku dan berjalan ke arah Jimin.

 

“K-Kalian tidak berkelahi?” ucap ku gelagapan menatap mereka berdua secara bergantian.

 

“Hahahaha~”

 

TaeHyung dan Jimin tertawa lepas. Saling menepuki pundak mereka masing-masing.

 

TaeHyung mengusap airmata yang sedikit keluar disudut mata nya, “ahaha~ chagiya. Kata siapa kami berkelahi?” lanjut TaeHyung yang tersenyum lalu merangkul Park Jimin disebelah nya. Namja yang sedang dirangkul TaeHyung ini malah terkekeh.

 

“k-keundae.. kata E-EumJi tadii..”

 

Pikiran ku dibuat tambah bingung,

“Apa rencana kalian berhasil?” ucap EumJi yang tersenyum riang melongokkan kepala nya dari sela-sela pintu.

 

TaeHyung dan Jimin sama-sama mengangguk mantap ke arah EumJi.

Mereka berdua!? Rencana apa!? Apa yang mereka rencanakan!? Kenapa aku tidak tahu apa-apa!?

EumJi tersenyum mengacungkan jempol nya, berlalu dan menutup pintu.

 

Aku menatap kesal kepada mereka berdua.

 

“Aku menuntut penjelasan! Sekarang juga!” ketus ku melipat tangan di depan dada ku.

 

Jimin melangkah maju menghela napas panjang, “MianHae ___-ah! Sebenarnya ini semua ide TaeHyungie” ucap nya.

 

TaeHyung sedikit kaget lalu memukul pelan lengan si Jimin, “enak saja~ ini semua kan usul mu” timpal TaeHyung.

 

Perasan ku yang marah, kesal, bingung serta gembira bercampur aduk menjadi satu. Aku hanya diam di posisi ku mengharap penjelasan dari mereka berdua.

 

“Ini semua usul ku. agar TaeHyung mengungkapkan perasaan nya pada mu ___-ah” Jimin menatap ku penuh arti.

 

“Sebelum sekelas dengan mu aku dan TaeHyung memang sudah suka pada mu. Sebenarnya kami berdua sudah lama memperhatikan mu, karena kau termasuk yeoja yang kurang suka bergaul jadi kami agak sulit mendekati mu”

 

Aku memutar bola mata ku kesal.

 

“Dan kami benar-benar beruntung saat kami sekelas dengan mu tahun ini. Sejak saat itu kami berdua berkompetisi dalam hal ‘siapa yang bisa mengenal mu lebih jauh’. Aku sebenarnya kurang suka juga dengan taktik yang TaeHyung gunakan adalah dengan mengerjai mu. Tapi aku sadar TaeHyung mengerjai mu demi mendapatkan perhatian mu ___-ah! Dan iya! Aku memang menyukai mu, tapi TaeHyung adalah namja yang terbaik untuk mu” lanjut Jimin tersenyum lembut ke arah ku.

 

Tanpa sadar aku menitikkan airmata ku. Aku lalu menundukkan wajah ku, “J-jadi aku ini hanya.. bahan taruhan kalian berdua?” ucap ku lirih.

 

TaeHyung buru-buru memeluk untuk menenangkan ku, “Ya~ Kau ini pabbo sekali! Kami berdua hanya bertarung secara sehat untuk mendapatkan mu!” jelas TaeHyung.

 

“Dan gumawoyo~ kau sudah memilih ku!” ia sedikit tertawa.

 

Aku melepaskan pelukan nya dan menatap nya penuh arti.

 

“L-lalu kenapa kalian waktu itu sempat berkelahi?” tanya ku menatap bingung mereka berdua.

 

TaeHyung mem-pout-kan bibir nya menatap ke arah Jimin yang meresponnya dengan menggaruk belakang kepala nya.

 

“Kami hanya terbawa suasana saja~ hehehe” ucap TaeHyung dengan senyum dipaksakan.

Begitu pun Jimin yang mengangguk mengiyakan.

 

Aku menghela napas.

 

TaeHyung kemudian menatap ku sendu, “Aku hampir putus asa saat kau bilang kau menyukai Jiminie. Aku pikir aku akan kehilangan mu” ucap nya lirih.

 

“oh? Apa kau bersungguh-sungguh Kim TaeHyung?” timpal ku menatap nya datar.

 

TaeHyung merespon dengan cengiran khas nya, menghapus airmata ku dan memeluk ku erat.

 

Lalu menghadap Jimin, “Jiminie yeoja ini milik ku sekarang! Jangan kau berani untuk mendekati nya!” seru TaeHyung.

 

Aku pun hanya tertawa dipelukan TaeHyung. Yap! Setidak nya mereka berdua tidak berkelahi lagi.

 

Tapi…

*brakk!*

 

“oh~ astaga~ jangan lagi” pikir ku.

 

“Kim TaeHyung-ssi, Park Jimin-ssi dan kau ____-ssi! KE RUANGAN KU! SE-KA-RANG!” seru wali kelas kami tiba-tiba mendobrak pintu atap.

 

Kami bertiga hanya bisa menghela napas.

.

.

.

 

Setelah melewati proses perdebatan panjang di antara mereka bertiga juga mendengar penjelasan panjang lebar dari Park Jimin dan Kim TaeHyung. Akhirnya Ssaem memperbolehkan kami bertiga kembali ke kelas.

 

Aku hanya berdecak kesal mengingat ucapan Ssaem tadi pada ku.

 

“Jadi kau jatuhkan pilihan mu pada Kim TaeHyung? Ssaem harap kau tahan berpacaran dengan nya. Hahahaha!”

 

Bahkan tawa menggelegar nya Ssaem yang memenuhi ruang guru itu masih terngiang-ngiang jelas ditelinga ku. Aku tersenyum getir, dalam hati aku berharap sama dengan apa yang dikatakan Ssaem tadi.

 

“Semoga saja Tuhan memberiku kesabaran ekstra untuk menghadapi si idiot satu ini” batin ku.

 

Senyum ku mengembang melihat dua orang sahabat ini, TaeHyung dan Jimin tengah asyik bercanda di depan ku.

 

“Idola ku ternyata menyukai ku. hehehe. Lumayan juga diri ku ini” gumam ku pelan terkekeh sendiri.

 

“Coba kau lihat dia TaeHyung. Dia ketularan aneh setelah berpacaran dengan mu” ledek Jimin.

 

Ternyata mereka berdua berhenti sebentar lalu mengamati ku.

Aneh nya si TaeHyung ini malah asyik cengar-cengir.

 

Aku mem-pout-kan bibir ku, “diam kalian berdua!” ketus ku.

 

Mereka kembali tertawa.

 

TaeHyung tersenyum lembut ke arah ku, “palli! Kita ke kelas sebentar lagi pelajaran matematika! Kalian tidak mau bukan kehilangan poin!?” seru nya yang langsung saja berlari diikuti Jimin, meninggalkan ku sendiri di belakang.

 

“Ya!! TUNGGU AKU!!” pekik ku kaget ikut-ikutan berlari.

 

 

Hari ini tepat 3 bulan, sejak aku dan namja idiot ku ini berpacaran. Ya siapa lagi kalau bukan Kim TaeHyung si namja idiot nan tampan ini, teman sekelas juga teman sebangku ku.

Dan hari ini aku sedang duduk di salah satu bangku taman hiburan. Menunggu TaeHyung membeli cemilan untuk kami. Oh iya! cerita soal TaeHyung, sekarang ia sedang tersenyum lembut berjalan ke arah ku dengan 2 es krim dan 2 bungkusan gulali di tangan nya.

 

Aku buru-buru merebut es krim dari tangannya, “Haish~ Jinjja! Kenapa kau lama sekali beli es krim nya!?” ketus ku.

 

“Bagaimana aku tidak lama, Agasshi penjual gulali ini terus saja mengoda ku” ucap TaeHyung berusaha membuat ku kesal.

 

Aku tidak menghiraukan perkataan nya dan terus saja menyantap es krim vanila di tangan ku, ia seperti nya tampak kesal sekarang sangat terlihat jelas dari wajah nya yang di tekuk.

 

Dengan hanya beberapa gigitan TaeHyung telah menghabiskan es krim bagian nya, “Ayo kita naik rollercoaster! Aku ingin mencoba nya!” rengek TaeHyung sembari bergelayut di lenganku.

 

Aku menepis tangan nya, masih asyik menikmati es krim vanila ku.

 

“tunggu dulu~ es krim ku belum habis” ujar ku.

 

*hap!*

Dengan secepat nya TaeHyung meraih tangan ku dan mengarahkan es krim ku ke mulut nya lalu memakan nya.

 

“YAA!! ITU ES KRIM KU!!” pekik ku menatap horor stik sisa es krim di tangan ku dan menjitak pelan jidat nya.

 

“Kajja! Kita main rollercoaster! Es krim mu kan sudah habis” timpal TaeHyung dengan enteng nya terkekeh lalu menarik tangan ku berjalan ke arah antrean panjang wahana rollercoaster itu.

 

Aku mendengus kesal, mengikuti langkah TaeHyung dengan malas.

.

.

.

“Ini tiket nya untuk dua orang!” ucap TaeHyung menyodorkan tiket pada petugas wahana tersebut.

 

“Silahkan!” jawab petugas itu.

 

TaeHyung mengangguk riang sedangkan aku tampak seperti nyaris tak berjiwa di samping nya.

Setelah kami duduk dan memasang safetybelt nya, TaeHyung menatap ke arah ku lalu menggenggam erat tangan ku.

 

“Kau ada kata-kata terakhir?” ledek nya.

 

Tiba-tiba muncul ide gila di kepala ku…

 

“Permainan ini akan segera di mulai. Persiapkan diri anda! Kami akan mulai menghitung mundur” ujar petugas wahana rollercoaster itu dari speaker.

 

4.

 

“TaeHyung-ah aku ingin membuat pengakuan. Aku harap kau tak akan marah” ucap ku menatap wajah TaeHyung yang terlihat over excited.

 

3.

 

“Mwo? Apa itu?” jawab TaeHyung.

 

2.

 

“Sebenarnya..” lanjut ku sedikit enggan.

 

1.

 

“SEBELUM AKU MENYUKAI MU, AKU MENYUKAI JIMINIE DULUAN!!” seru ku.

 

“MWOOORAGUU!!?” pekik TaeHyung.

 

.

 

“MULAII!!” seru petugas rollercoaster.

 

.

 

“Tega sekali kau pada ku ____-ah!”

 

Aku hanya tertawa melihat ekspresi TaeHyung yang sebelumnya terlihat excited sekarang malah terlihat ingin menangis tersedu-sedu.

 

“Hahaha! RASAKAN ITU TAEBBO!” tawa ku dalam hati.

 

 

END

 

. . .

 

Author notes : Kamsahamnida readers-nim yang telah membaca FF ku yang nista ini *bow.

Tak lupa juga saya atas nama Author T&K mengucapkan Jeoseonghamnida yang sebesar-sebesarnya kepada saudara Kim TaeHyung yang telah saya pinjam nama nya dan saya nistakan dalam ff ini. Jeongmal mianhaeyo taetae oppa. -,-v Sebenernya bias Author ni si mas AgusD. Apalah daya karena kepincut image cool pluss imut nya 4D alien ini, jadi nya tercipta lah ff nista nan gaje ini.😀 *ndak nanya thor!*

 

Ah iya! Jangan lupa review nya nde? Readers-nim. Kritik dari readers-nim sangat diperlukan untuk kemajuan Author dalam menulis FF.

Terimakasih.

 

T & K

 

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

One thought on “FF/ TAE TAE PABBO/ BTS-BANGTAN/ pt. 2 of 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s