FF/ FATE/ BTS-AOA/ pt. 12 FINAL


FATE Pt.12

Title : FATE Pt.12

 

Cast :

– Kim Seok Jin (BTS)

– Shin Hye Jeong (AOA)

 

Support Cast :

– Yagi Harumi

– Irie Naoki

– Min Yoongi

 

Genre : Sad, Friendship , Romance , NC

 

Length : Chapter

 

Author : Chahaekris

 

*

 

Gwacheon – Gyeonggi-do, South Korea.

 

Udara sejuk musim semi terasa sejak Hyejeong menginjakkan kakinya kembali ke Korea. Bunga-bunga Azalea menyambut kedatangan Hyejeong di sepanjang jalan menuju Gwacheon.

Hyejeong melihat pemandangan di sekelilingnya dengan wajah datar. Ia berusaha untuk tidak banyak bersedih di depan putrinya. Berusaha setegar mungkin menghadapi hal yang mungkin terjadi nanti ,Ia mendekap erat putrinya yang sedang tidur di pelukannya.

 

“Kau tak ingat pernah tinggal di sekitar daerah sini?” Tanya Yoongi sambil mengemudikan mobilnya memasuki gerbang utama suatu perumahan.

 

“Sepertinya…”

Dari pintu gerbang utama Hyejeong melihat ke rumah di kiri dan kanan. Yoongi kemudian memasuki gerbang dengan rumah bercat putih yang cukup besar. Halaman di sekelilingnya di tumbuhi bunga mawar dan bunga lilacs yang terlihat sangat terawat dan cantik.

 

Yoongi keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Hyejeong. Hyejeong keluar dari mobil dan menatap rumah tersebut. Yoongi menawarkan diri untuk membantu Hyejeong menggendong Hyejin.

 

Akhirnya….Setelah 5 tahun.

 

Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu rumah tersebut. Ia tersenyum ramah kepada Hyejeong dan Yoongi.

 

“Eomeoni…dia gadis yang aku ceritakan padamu waktu itu”ujar Yoongi

 

Wanita itu memperhatikan wajah Hyejeong dengan seksama,

“Kau sangat cantik…

Aku Kim Yewon Ibunya Jin…senang bertemu denganmu”

 

Hyejeong tersenyum kepada Ibu Jin sambil membungkukkan badannya “Annyenghaseyo, Shin Hyejeong imnida”

 

Nyonya Kim dengan cepat menoleh ke arah Yoongi yang ada di sebelahnya, matanya menyiratkan sesuatu yang Hyejeong sendiri tak mengerti artinya.

“Namanya mirip dengan gadis kecil yang dulu Jin sering ceritakan”

 

Yoongi tersenyum mendengar ucapan Nyonya Kim

“Ne omeoni dan dia memang teman Jin yang dulu”

 

“Jinjja?” Wanita itu tampak terkejut.

 

Hyejeong menganggukkan kepalanya.

 

“Ah sebaiknya kalian masuk dulu” Nyonya Kim meraih tangan Hyejeong dan mengantarnya ke dalam ruang tamu.

 

“Kau tunggu di sini ya, Yoongi kemari…kau bisa letakkan gadis kecil itu di kamar ini” Nyonya Kim dan Yoongi pun naik ke lantai atas.

 

Hyejeong memandang kesekeliling ruang tamu, dinding di atas perapian di ruangan itu terdapat foto keluarga. Laki-laki paruh baya itu pasti Ayah Jin, dan di sebelahnya Wajah Ibu Jin, ada 2 anak laki-laki dalam foto itu, Jin dan wajah yang Hyejeong tidak kenal. Rumah ini tampak sunyi dan sepi.

 

Yoongi menepuk pelan bahu Hyejeong, Hyejeong menolehkan kepalanya.

 

“Kau ingin bertemu dengan Jin sekarang?” Tanya Yoongi.

 

Hyejeong terdiam.

Ia tak tahu apa yang akan terjadi jika Ia melihat kondisi Jin sekarang. Ia hanya berharap Jin akan mengingatnya.

 

Hyejeong menganggukkan kepalanya pelan.

 

“Kakak laki-laki Jin Hyung tinggal di Seoul dengan istri dan anaknya. Jadi hanya Jin dan Ibunya yang tinggal di rumah ini” ujar Yoongi sambil menuntun Hyejeong naik ke lantai 2, melewati beberapa ruangan dan pintu. Mereka hanya tinggal berdua di dalam rumah sebesar ini?

 

Yoongi menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu  dan memutar kenopnya perlahan.

 

Hyejeong memandang Yoongi sebelum Ia masuk ke kamar itu.

“Gomawo Yoongi”

 

“Aku ada di ruangan sebelah jika kau memerlukan bantuan” Yoongi tersenyum dan meninggalkan Hyejeong.

 

Jantung Hyejeong berdegup cepat ketika Ia melangkahkan kakinya masuk ke kamar tersebut. Kamar ini memiliki ruang tamu, Hyejeong melangkahkan kakinya masuk ke ruangan kedua, langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang sedang terduduk di ranjang memunggunginya menatap ke arah jendela. Seseorang dengan bahu lebar yang sangat ia kenali.

 

Hyejeong perlahan mendekat ke arah Jin. Tangannya bergetar ketika ia hendak menyentuh punggung Jin. Air mata seketika jatuh ke pipi Hyejeong. Ia terisak pelan…dengan harapan Jin akan menoleh kepadanya.

 

Hyejeong semakin mendekat ke arah Jin. Ia berlutut di hapadan Jin, melihat wajah yang Ia selalu rindukan dalam 5 tahun terakhir, kini ada di hadapannya.

 

Wajahnya masih sama seperti terakhir kali Ia melihat Jin.

 

“Oppa….ini aku, Hyejeongie” Hyejeong meraih tangan Jin yang dingin.

Jin menoleh kepada Hyejeong tanpa ekspresi.

 

Jin menatap lurus ke arah Hyejeong , namun tatapan itu kosong…tak ada gairah.

 

“Aku membawa Hyejin, putri kita…

Oppa pasti akan senang melihat Hyejin….

Jin oppa….” Air mata Hyejeong tak henti-hentinya mengalir.

 

Hyejeong meraba wajah Jin pelan, mata, hidung dan bibir Jin.

 

“Oppa…wae? Apa kau tak ingat padaku?

Oppa…ini aku” Hyejeong memeluk Jin sambil menangis , tangis pilu yang mewakili perasaan Hyejeong saat ini. Jin yang tak mengenal dirinya sama sekali.

 

Nyonya Kim menatap Hyejeong dan Jin dari arah pintu. Wanita itu ikut menitikkan air mata melihat pemandangan di depannya.

 

**

 

Ibu Jin menyiapkan makan malam untuk Hyejeong,Hyejin dan Yoongi. Pikiran Hyejeong kini sangat kacau. Jin benar-benar tidak mengingat siapapun.

 

“Ibu…biar aku saja yang mengantar makanan ke atas” pinta Hyejeong pada Nyonya Kim.

 

“Baiklah” Nyonya Kim tersenyum kepada Hyejeong dan kembali duduk di kursinya.

 

“Ma…apakah Appa sudah makan? Mengapa Appa tidak makan bersama kita Ma?!Hyejin ingin bertemu dengan Appa”

 

Semua mata serempak menoleh ke arah Hyejin yang sedang menghabiskan makan malamnya.

 

“Appa sedang istirhat, besok Hyejin bisa bertemu dengan Appa, arra?”

Hyejeong berusaha menutupi kekacauan di hatinya. Ia menatap Nyonya Kim , wanita itu tersenyum memandang Hyejeong.

 

 

Hyejeong mengetuk pintu kamar Jin dengan membawa nampan berisi makanan.

Namun Hyejeong tak mendapati Jin di ranjangnya. Hyejeong mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Jin sedang mandi rupanya. Ia menunggu sambil meletakkan nampan tersebut dan duduk di ranjang Jin.

 

Tak lama Jin keluar hanya dengan handuk melilit di pinggangnya. Tanpa menoleh ke arah Hyejeong, Ia berjalan ke Wardrobe nya.

 

Hyejeong bangkit dari duduknya dan perlahan membuka satu persatu bajunya. Ia berfikir mungkin hal ini bisa mengingatkan Jin pada dirinya.

Hyejeong yang sudah telanjang bulat mendekat dan berdiri tepat di belakang Jin. Hyejeong memutar tubuh Jin perlahan, mata mereka bertemu. Hyejeong menatap dalam ke arah mata Jin.

Hyejeong melingkarkan tangannya di antara pundak Jin kemudian mencium bibir Jin. Jin tidak membalas ciuman yang di berikan Hyejeong padanya. Hyejeong semakin memperdalam ciumannya pada Jin dan melepaskan handuk yang melilit pinggang Jin.

 

Jin membelalakkan matanya, namun Pria itu masih terdiam.

 

Hyejeong berlutut dan menatap penis Jin. Ia menggengam lalu mencium penis Jin dan menjilatinya dengan pelan.

 

“Apa yang kau lakukan?”

 

Hyejeong menghentikan aktifitasnya. Ia berdiri dan menatap Jin.

“Kau tidak sakit…

kau hanya lupa ingatan dan…

sepertinya penismu menginginkanku”

 

Hyejeong meraba lagi penis Jin yang mulai menegang. Ia kembali mencium bibir Jin dengan agresif. Hyejeong meraih kedua tangan Jin dan menuntunnya menuju ranjang. Ia sangat rindu ketika Jin menyentuh tubuhnya. Hyejeong meletakkan tangan Jin pada dadanya, memaksa Jin untuk meremas dadanya, namun Jin hanya terdiam.

 

“Kau tidak menginginkan aku?” Tanya Hyejeong.

 

Jin menatap Hyejeong bingung, wajahnya memerah.

 

“Jika tidak, aku akan pergi”

 

Jin masih terpaku.

 

“Baiklah,aku akan pergi” Hyejeong turun dari ranjang dan hendak mengambil kembali bajunya yang tergeletak di lantai.

 

Grab.

 

Hyejeong menoleh ke arah Jin yang menahan tangannya.

 

Jin menatap dalam mata Hyejeong,

“Kau…sangat cantik” ujarnya

 

“Lalu?” Tanya Hyejeong sambil tersenyum.

 

“Lakukan itu lagi…apa yang kau tadi lakukan padaku” ujarnya.

 

“Seks?” Tanya Hyejeong.

 

Jin mengangguk.

 

Hyejeong tersenyum. Ia kembali berada di atas Jin dan menciumnya. Jin mulai merespon ciuman Hyejeong. Hyejeong menyunggingkan senyum bahagianya.

 

***

 

“Kau ingin roti dan susu?” Hyejeong duduk di sebelah Jin.

Jin menoleh ke arah Hyejeong.

 

Cup.

 

Hyejeong mengecup pelan bibir Jin.

 

Jin mengulurkan tangannya menerima piring berisi roti isi.

 

Hyejeong tersenyum melihat reaksi Jin. Nyonya Kim pun terkejut melihat respon anak bungsunya itu.

 

“Maa…Hyejin ingin bertemu dengan Appa”

 

Gadis kecil itu berlari ke kamar Jin dan berhenti tepat di depan Jin.

 

Namun Jin sangat terkejut melihat Hyejin.

 

Ia meletakkan piringnya di meja dekat ranjangnya. Tangannya terulur ingin menyentuh Hyejin.

 

“Appa…” Mata kecilnya berbinar melihat Appanya.

 

“Ini milik Hyejeong” ujar Jin pelan…tangannya terulur menyentuh ikat rambut yang Hyejin kenakan di rambutnya.

 

“kau mengingatnya?” Hyejeong menatap Jin pekat.

 

 

“Kami rasa kondisi Seok Jin sudah mulai membaik, kami akan mengatur jadwal untuk terapi lagi” ujar Dokter pribadi Keluarga Kim.

 

Mendengar hal itu, Nyonya Kim merasa sangat senang. Jin mulai banyak bicara dan sering tertawa.

 

“Jin, dia adalah anakmu…kau adalah Appanya, dan Hyejeong adalah istrimu…walau kalian belum secara resmi menikah, Eomma harap kalian bisa bersatu kembali” Nyonya Kim duduk di sebelah anaknya itu sambil menggenggam tangannya.

 

Jin menoleh kepada Ibunya dan tersenyum.

 

“Maafkan ibu nak…seandainya ibu tau kau memiliki kekasih, pasti tidak akan selama ini kau menderita” wanita itu mulai terisak.

 

“Maafkan aku Eomma” ujar Jin pelan.

 

“Ani bukan kau yang harusnya meminta maaf, tapi Ibu-”

Seketika Nyonya Kim menyadari sesuatu.

“Kau mengatakan apa tadi??”

 

“Maafkan aku eomma” Jin mengulangi kata-katanya lagi.

 

Wanita itu memeluk Jin dengan bahagia, air mata mengalir namun senyum juga tersungging di bibirnya.

 

Hyejeong turut bahagia melihat Ibu dan anak akhirnya bisa kembali seperti semula. Akhir-akhir ini Jin banyak bicara dan bertanya. Ia juga sering bermain bersama Hyejin. Namun ia sendiri ragu apakah Jin mengingatnya atau tidak.

 

Malam itu Jin untuk pertama kalinya ingin makan malam bersama di meja makan. Sesekali Jin menatap Hyejeong yang duduk di hadapannya. Ia mengamati setiap gerakan Hyejeong. Hyejeongpun sadar ketika ia mendapati Jin yang memperhatikannya.

 

Hyejeong baru saja menidurkan Hyejin dan hendak keluar dari kamarnya. Ia mendadak terkejut melihat Jin berdiri di depan pintunya.

 

Mereka saling memandang dalam diam.

 

“Bolehkah aku memintamu melakukan seks denganku?”

 

Hyejeong sangat terkejut mendengar apa yang barusan Jin katakan. Ia melihat arlojinya sekilas.

“Sekarang?”

 

Jin mengangguk kemudian menarik tangan Hyejeong entah kemana.

 

Jin mengajak Hyejeong menaiki tangga menuju Rooftop.

 

Rumah besar Jin memiliki 2 kolam renang, 1 kolam di taman belakang dan 1 kolam private di atas rooftop. Sepertinya tak ada yang pernah kemari.

 

Di pinggiran kolam di hiasi lampu temaram yang indah dan menambah keromantisan tempat itu.

 

Jin perlahan melepas kemeja yang ia kenakan dan juga celananya hingga menyisakan celana boxernya. Ia pun menarik tangan Hyejeong dan membantu Hyejeong melepas semua pakaiannya.

 

Jin menuntun Hyejeong ke dalam air yang lumayan hangat.

 

“Mengapa tiba-tiba ingin bercinta denganku oppa? Apakah kau mengingat sesuatu?” Tanya Hyejeong.

 

“Entahlah…hanya saja aku merasa nikmat ketika melakukan seks denganmu” tangan kiri Jin memeluk Hyejeong agar lebih mendekat pada dirinya. Tangan kanan Jin meremas pelan dada Hyejeong. Bibir Jin menciumi pipi,tengkuk dan leher Hyejeong. Hyejeong dapat merasakan penis Jin yang sudah sangat menegang di bawah sana.

Hyejeong meremas rambut Jin dan menikmati ciumannya di setiap inci tubuhnya.

 

Jin mengangkat kaki Hyejeong dan meletakkan Hyejeong terduduk di pinggiran kolam renang dengan posisi vagina Hyejeong yang tepat berada di wajah Jin. Dengan segera ia membenamkan wajahnya ke dalam vagina Hyejeong dan melumatnya.

 

Hyejeong tak kuasa menahan kenikmatan yang diberikan oleh bibir Jin pada vaginanya. Ia melenguh keras tanpa perduli jika suaranya terdengar. Lidah Jin dengan lihai bermain-main di vagina Hyejeong. Ia tersenyum, ini Jin yang Ia kenal. Jin yang mampu membuatnya terbuai. Hyejeong sudah mencapai klimaksnya hanya dengan 1 permainan pada vaginanya.

 

Jin keluar dari kolam dan menggendong Hyejeong ala bridal style ke gazebo di pinggir kolam renang itu. Jin dengan terburu-buru melepas celana boxernya dan menyiapkan penisnya memasuki vagina Hyejeong yang sudah sangat basah. Dengan sekali hentakan penisnya sudah tertancap sempurna.

 

“Oooh” Desah Jin.

Ia menggoyangkan pinggulnya maju mundur dengan pelan. Hyejeong ikut menggoyangkan pinggulnya mengikuti gerakan Jin.

 

Keduanya melenguh dengan nikmat.

 

Jin mencabut penisnya dengan cepat ketika ia merasakan sesuatu yang ingin keluar.

 

“Wae oppa? Keluarkan saja…aku tidak apa2” ujar Hyejeong.

 

Hyejeong mencium bibir Jin dengan penuh nafsu dan mendorong tubuh Jin , merubah posisi mereka. Hyejeong meraih penis Jin dan memasukkan ke dalam vaginanya. Ia mulai bergoyang naik turun.

 

“Kau … Sa-ngat cantik” ujar Jin.

 

“Kau mencintaiku oppa?” Tanya Hyejeong dengan nafas terengah-engahnya.

 

Jin mengangguk dengan tatapan nafsunya.

 

“Arghhhhh” Di cengkramnya paha Hyejeong agar mempercepat temponya.

 

Hyejeong mulai kelelahan, keringat bercucuran dari pelipisnya.

 

“Aahhh eumhhh” desah Hyejeong kencang.

 

“Se-dikit lagihh…” Ucap Jin sambil mengatur posisinya.

Lalu tiba-tiba saja Ia membalikkan tubuh Hyejeong dan memompa vagina Hyejeong dengan hentakkan hebat.

 

“Aahh aaaaaahhh” Hyejeong merasakan semburan sperma Jin pada vaginanya. Rasanya seperti waktu itu.

 

Jin tumbang setelah melepas penisnya sambil memegang kepalanya dan meringis pelan.

 

“Oppah…ada apa?”

Hyejeong mendekati Jin dan memeluknya.

 

“Hyejeong’a”

 

“Ne?” Nada Hyejeong berubah khawatir.

 

Kepala Jin berdenyut2 keras, sekelebat bayangan menghampiri memorinya. Jin masih memegang kepalanya dan menjambak rambutnya.

 

“Oppa … Wae?” Hyejeong menatap Jin khawatir.

 

Hyejeong semakin memeluk Jin erat,

“Aku tidak pernah memaksamu mengingatku, seperti yang dulu kau lakukan padaku”

 

*****

 

“Tinggalah bersama kami di sini”

 

Hyejeong terpaku menatap wanita paruh baya yang memohon di depannya.

 

“Aku tak pernah melihat Jin sebahagia ini dan kau tahu kan kami hanya tinggal berdua di sini…setidaknya kehadiranmu dan Hyejin membuat rumah ini menjadi ramai” pintanya

 

Hyejeong berfikir sejenak namun Ia segera mengangguk dengan senyum manisnya,

 

“Baiklah Ibu…tapi mungkin aku harus belanja, aku tak banyak membawa baju. Bolehkah aku mengajak Jin oppa juga bu?”

 

Nyonya Kim mengangguk dengan mantap.

“Tentu saja…Jin membutuhkan udara segar di luar”

 

Hyejeong berjalan ke lantai 2 menuju kamar Jin.

 

Tok tok tok…

 

Tak ada sautan.

 

Hyejeong memutar kenop pintu kamar Jin.

Namun Ia tak mendapati Jin di ranjangnya. Hyejeong mengetuk pintu kamar mandi pelan, lama tak ada jawaban Hyejeong pun memutar kenop pintu tersebut tetapi tidak juga mendapati Jin.

 

Keningnya berkerut.

Apa mungkin?

 

Hyejeong berlari menuju rooftop. Di bukanya pintu besar itu dan Ia melihat orang yang Ia cari-cari.

Namun Hyejeong terbelalak melihat Jin setengah telanjang , Ia hanya mengenakan bajunya.

 

Jin berdiri sambil memegang penisnya dan mengocok penisnya dengan kasar.

 

“O…oppa…” Panggil Hyejeong pelan.

 

Air mata mengalir di pipi pria itu. Ia sedikit terisak.

 

Hyejeong memberanikan dirinya berjalan menuju ke arah Jin.

 

“Jin oppa…a-apa yang k-kau lakukan?” Tanya Hyejeong terbata-bata.

 

“Aku berusaha mengingatmu…kemarin aku mulai mengingat sesuatu ketika bercinta denganmu. Aku ingin mengingat siapa dirimu dengan cara seperti ini,aku akan mengingatmu” ujar Jin, air matanya tak henti-hentinya mengalir.

 

“Andwe oppa…”

Hyejeong melepas tangan Jin yang memegang penisnya itu.

 

Mata Hyejeong berkaca-kaca. Ia menatap mata Jin yang memerah karna air mata.

 

“Aku minta maaf oppa…aku tidak bermaksud seperti ini, aku hanya ingin kau mengingat saat bahagia kita…aku tidak bermaksud membuatmu menderita dengan berusaha mengingat segalanya. Aku…ak-aku hanya ingin kau mengingat bahwa kita pernah saling mencintai” tangis Hyejeong pecah.

 

Ia memeluk Jin sambil menangis tersedu-sedu.

 

Jin tertunduk menatap Hyejeong yang ada di pelukannya.

“Aku merasa orang paling bodoh di dunia ini…” Ujarnya.

 

Hyejeong menggelengkan kepalanya.

“Ani…itu tidak benar”

 

“Aku bodoh sekali meninggalkan kau yang sedang mengandung Hyejin waktu itu”

 

Hyejeong terdiam.

 

Jin menitikkan kembali air matanya,

Ia terisak.

“Aku sungguh bodoh tidak bisa mengingat Ibuku sendiri dan kenangan kita”

 

Mereka berdua terisak sedih, tak tau harus mengatakan apa.

 

*****

 

“Hyung…”

 

Jin menoleh ke arah Yoongi yang memanggilnya kemudian tersenyum.

 

“Ini mau di letakan dimana?”

 

Jin menatap bingkai foto yang sedang Yoongi bawa. Ia beranjak dari duduknya dan membantu Yoongi meletakkan bingkai foto tersebut.

 

“Hyejeong sangat cantik” ujar Min Yoongi sambil menatap foto tersebut.

 

“Dia memang…sangat cantik” Jin tersenyum menimpali.

 

“Kau beruntung sekali Hyung” Yoongi menepuk pundak Jin sambil mengedipkan sebelah matanya.

 

Jin menatap foto dirinya dan Hyejeong. Di sebelahnya foto keluarganya dengan Ayah,Ibu dan kakak laki-lakinya. Dan di sebelahnya…foto Ajjuma Lee.

 

“C’mon Hyung…kau tidak ingin terlambat ke pesta  pernikahanmu sendiri kan?”

 

Jin merapikan jas putihnya , ia meremas-remas tangannya yang gugup menunggu mempelai wanitanya. Hyejeong terlihat sangat anggun dengan balutan dress berwarna merah muda yang sangat cantik. Ia berjalan perlahan menuju ke arah Jin dengan Pengacara Kang Min Hyuk berada di sampingnya.

 

Pengacara Kang menyerahkan Hyejeong kepada Jin. Jin meraih tangan Hyejeong dan menatap wanita itu penuh bahagia.

 

Hyejeong tersenyum menatap mempelai prianya yang sangat tampan.

 

Nyonya Kim terharu melihat anak bungsunya akan menikah, namun tak bisa di pungkiri wajahnya terlihat sangat bahagia melihat Jin dan Hyejeong. Di sampingnya ada Min Yoongi yang sedang mengendong Hyejin sambil bercanda riang. Di sebelahnya ada Kim Min Seok kakak laki-laki Jin beserta istri dan anak laki-lakinya. Mereka bertepuk tangan ketika Pendeta mengesahkan Jin dan Hyejeong sebagai pasangan suami istri.

Naoki,Harumi dan bayi mereka Yuuki pun turut hadir dalam acara sakral itu.

 

Hyejeong menatap Jin dengan mata berkaca-kaca.

 

“Maafkan aku karena tidak bisa mengingat semua kisah kita di masa lampau. Tapi aku bahagia kau datang lagi padaku” – Jin.

“Walaupun kau tidak bisa mengingatnya, jika kau ingin bersamaku takdir akan mempersatukan kita” – Hyejeong.

Jin tersenyum melihat Hyejeong kemudian meraih dagunya dan mencium bibir Hyejeong.

 

“I still remember the first day I met you…

If I could go back and do it all over again, I Would”

 

 

 

Flashback

 

Hyejeong memainkan tangan Jin yang sedang menggenggam tangannya. Mereka berdua tidur di atas ranjang Jin, dengan posisi Jin memeluknya dari belakang.

 

“Ini pertama kali setelah 5 tahun kita tidur bersama Oppa…” Hyejeong menggeliat semakin mempererat pelukan Jin padanya.

 

“Sudah selama itukah?” Tanya Jin

 

Hyejeong menganggukkan kepalanya.

 

Jin menghela nafasnya dengan berat di telinga Hyejeong. 

“Maaf…”

 

“Untuk apa?”

 

“Untuk segalanya”

Jin memutar tubuh Hyejeong menghadap dirinya.

 

“Aku tahu aku tak bisa mengingat dirimu,tetapi ketika kau muncul pikiranku selalu ada padamu”

 

Jin menatap dalam ke arah mata Hyejeong.

 

“Aku…aku tau kau berharap besar padaku. Tapi…ak benar-benar tak bisa mengingatmu, aku takut akan mengecewakanmu nantinya” Jin kembali menghela nafasnya.

 

Hyejeong menyentuh bibir Jin dengan jarinya. 

 

“Aku tahu…

Aku mencintaimu apa adanya. Bahkan ketika kau tak bisa mengenaliku, rasa ini tak akan pudar”

 

“Aku kecewa pada diriku sendiri…

Maafkan aku karena tidak bisa mengingat semua kisah kita di masa lampau. Tapi aku bahagia kau datang lagi padaku”

Hyejeong tersenyum mendengar kata-kata Jin.

“Walaupun kau tidak bisa mengingatnya, jika kau ingin bersamaku…takdir akan mempersatukan kita” 

“Kau percaya takdir?”

“Tentu…salah satunya karna takdir membawaku padamu sekarang” Hyejeong meletakkan kepalanya di dada bidang Jin.

“Aku tak mengerti…walau aku belum bisa mengingatnya ,tapi rasa nyaman saat berada di sampingmu selalu muncul. Rasa ingin terus berada di dekatmu…seperti ini” Ungkap Jin.

“Karena aku sebenarnya selalu ada di sini”

Hyejeong mengarahkan jari telunjuknya ke dada Jin.

 

“Yaaa…mungkin kau benar…”

 

Seketika mereka berdua terdiam dan kamar itu menjadi hening.

 

Jantung Jin berdegub dengan cepat , kepalanya mulai berdenyut-denyut kembali.

 

Jin meraih tangan Hyejeong dan meraba jari-jari lembut Hyejeong.

“Hyejeong’a…”

 

“Mmh?” 

 

“Maukah kau menikah denganku?”

 

 

The-End

 

Annyeong…

Akhirnya FF ini tamat juga T.T

Jadi Jin sebenernya belom bisa inget ama Hyejeong, tapi karena kesungguhan Hyejeong yang buat Jin jadi luluh. Cuit cuit… :’)

#AdminBaper

Jeongmal gomawo untuk semua reader yang selalu menanti kisah ini, jangan sedih yaa… Aku pasti datang kembali. ️

Maaf jika FF ini belum sempurna, krna aku hanya manusia biasa (?) hehehe

Jika ada yang ingin di tanyakan tentang FF ini follow aja akun twitter or ig : @luvhoseokjin

Gomawo…

 

Saranghae ️

LuvJin

 

 

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

One thought on “FF/ FATE/ BTS-AOA/ pt. 12 FINAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s