FF vignette/ L’AMOUR DANS L’AMITIE/ BTS-BANGTAN


lamour-dans-lamitic3a9

L’amour  Dans L’amitie

Starring by ; Jeon Jungkook [BTS], Nam Heewon [OC]

Friendship,  School Life — Teenager — Vignette

 

.

.

 

Coolbebh’s  Present ** 2016

 

Siang yang menyongsong, menampakkan mentari menyinari bumi dengan panas teriknya. Jiwanya berhasil mengantarkannya pada sebuah pusat kota yang merentetkan pertokoan alat tulis sekolah tak lupa juga ditemani sang sahabat karibnya. Mereka beriringan dengan penuh riang dan menikmati degup jantung masing-masing.

 

Untuk kesekian kalinya, dwimaniknya menilik lekat pada sebuah pahatan wajah yang sempurna disampingnya. Si kurvanya secara tak sadar menaikkan beberapa senti dari asal semula, merespon semua penglihatannya kini. Orang yang kini tengah disampingnya sangat-sangat berubah dibandingkan dahulu kala. Yang selalu manja dan menangis, dan saat ini ia terhanyut akan sikapnya yang sangat dewasa.

 

Nam Heewon, gadis yang berhasil merebut perhatiannya akhir-akhir ini. Ia tak menyangka bahwa hatinya itu memilih sang jiwa terdahulu yang pernah singgah dikehidupannya. Termasuk saat ini. Dia kembali, kembali menjemput cita-citanya dan cinta yang selalu bermekaran.

 

Ya, siapa lagi? Jungkook.

 

Janjinya ia tepati meski terlalu melenceng dengan janjinya dulu. Menemui sang sahabat yang telah ditinggalnya setelah sepuluh tahun lamanya. Bukankah itu… sangat lama?

 

Oh, hell! Heewon sempat melupakannya dan tentunya tak mengenalinya sama sekali dan itu karena… namanya telah diubah menjadi ‘Jason Jeon’—nama Amerikanya. Tentu saja itu menimbulkan kebingungan dipihak masing-masing. Jungkook yang bingung mengapa Heewon melupakannya dan Heewon bingung siapa dia.

 

Dan mungkin karena hati mereka telah menyatu sejak dulu, tentunya itu bukanlah hal sulit bagi mereka. Beberapa potret kenangan telah mereka ungkapkan masing-masing dengan penuh canda tawa.

 

Heewon merasa bahwa Jungkook kini menatapnya dengan intens, hawa di sekitarnya terasa panas meski hanya beberapa detik. Jujur, ia tak suka ditatap seperti itu. Dan benar saja, Jungkook menatapnya dengan lekat tanpa berkedip sedetik pun.

 

BRUGH

 

Ugh, rasakan kau Jeon!

 

Jungkook berhasil menubruk tihang pembatas berwarna hitam legam. Ia mengaduh kesakitan sembari memegang dahinya memerah, ringisan pelan yang terdengar di mulut Jungkook tentunya mengundang rasa kekhawatiran Heewon. Segera Heewon menyingkirkan tangan Jungkook yang kini di dahinya untuk mengecek keadaan Jungkook sebenarnya.

 

“Lain kali hati-hati, Jungkook! Kalau jalan lihat-lihat, jangan menatapku terus,” ucapnya memulai sembari mengusap dahi Jungkook pelan.

 

Jungkook mematung sesaat, ada rasa aneh yang menjalar di hatinya kini. Entah apa itu, yang jelas dirinya merasakan kegugupan yang mendalam. Sedetik kemudian Jungkook tersadar akan lamunannya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali sembari memalingkan wajahnya yang terasa panas.

 

“Ti-tidak. Kata siapa aku memandangmu?”

 

Helaan napas pelan Heewon keluarkan. Kepalanya menggeleng sesaat melihat tingkah Jungkook yang tak jujur padanya. Oh… Heewon tak bisa lagi dibohongi seperti dulu yang selalu Jungkook lakukan. Misalnya, bermain bersama namun Jungkook selalu meninggalkannya tanpa izin darinya. Tahu-tahu sudah tidak ada. Menyebalkan bukan?

 

Heewon tahu, sangat-sangat tahu, bahwa Jungkook adalah spesies makhluk yang manja namun keras kepala. Jika dirimu telah mengenal Jungkook, imej cool-nya menghilang sudah bak ditelan bumi. Itu hanya acting belaka yang Jungkook buat supaya mengelabui wanita-wanita yang selalu menyerukan namanya.

 

Baik, Heewon akui bahwa Jungkook sangat berubah drastic seratus delapan puluh derajat. Dari mulai tinggi badannya yang semapai sampai otot-otot bisepnya yang sangat terlihat dibalik seragam sekolahnya yang kekecilan akibat terlalu pesat pertumbuhannya.

 

Apalagi… Jungkook terlihat seksi sekarang.

 

Upps! Heewon, jaga pikiranmu!

 

Heewon menggeleng pelan, menghilangkan semua bayang-bayang Jungkook yang tengah bermain bola basket dulu. Dia seperti layakanya atlet handal dan tentunya dengan tetesan peluh yang membasahi bajunya. Tak lupa suara napas yang terengah-engah seperti… Ah, sudahlah! Secara tak sadar, tungkai Heewon melangkah kembali dengan cepat tak mempedulikan Jungkook yang kini memanggilnya beberapa kali.

 

Dengan keramaian pusat kota tentunya Jungkook tak bisa berbuat apa-apa, ia tak bisa menyeludup atau pun melesak secara paksa yang pastinya menimbulkan riuhan protes. Oh, tidak! Jungkook tak ingin melakukannya.

 

Beberapa kali dwimanik lucu Jungkook menyapu seisi penjuru, mencari penampakan batang hidung Heewon. Sialnya, Heewon sudah masuk ke toko buku.

 

Huh, jadi dia benar-benar meninggalkan Jungkook sendirian?

 

Di sisi lain, Heewon terus melesakkan badannya dicelah-celah kesempitan lalu lalang orang-orang di toko. Niatnya, ia mencari beberapa bolpoint serta pencil untuk keperluan sekolahnya nanti. Mengingat sekolah tentunya dipikiran Heewon sangat menyeramkan. Di musim panas ini yang biasanya sekolah memberikan libur kepada semua muridnya sekitar satu bulan penuh, dan sekarang… entah kenapa tahun ini semua murid di sekolah hanya merasakan dua minggu saja, tak lebih.

 

Heewon melirik kesana kemari, menelaah semua harga-harga yang sesuai dengan uang sakunya. Ia harus berhemat-hemat di ujung akhir perjalanan SMA-nya. Beberapa merek telah ia genggam sembari tersenyum, namun ada rasa keganjilan yang sangat ia rasakan saat ini.

 

Bukankah ia pergi kesini dengan seseorang? Tepatnya… Jungkook? Lantas lelaki yang dibawanya kemana?

 

“Astaga! Aku meninggalkannya! Ya Tuhan.”

 

Heewon berlari keluar sembari tergesa-gesa tak mempedulikan semua tatapan tajam pengunjung yang ditujui kepadanya. Yang saat ini dikhawatirkannya adalah keselamatan sahabatnya, bagaimana jika terjadi sesuatu? Tentunya ia ikut andil ke dalam masalah tersebut.

 

Pandangannya kini menyapu keseluruh penjuru kota, beberapa kali ia berjinjit melihat ratusan bahkah ribuan kepala yang berbeda wajah. Nihil, tak ada!

 

“Hei!”

“Ya!”

 

Tepukan bahu yang mengejutkan dari arah samping berhasil tubuhnya terlonjak kaget. Entah mengapa orang yang dicarinya telah berada disampingnya dengan wajah yang tak memadai dikatakan indah. Heewon mengusap dadanya pelan sembari mengatur napasnya yang memburu.

 

“Kau kemana saja, Jungkook?!”

“Cih! Kau lupa? Sahabat lamamu ini ditinggalkan olehmu!”

“O-oh, ya?”

“Terserah.”

 

Jungkook melewati tubuhnya tanpa meliriknya sedikit pun, ia hanya berjalan sendirian tanpa meminta menemaninya seperti kebiasaannya dulu. Heewon bisa apa? Ia hanya bisa menggerutu tak jelas dan menyumpahkan kalimat sumpah serapah yang amat keramat di hatinya. Mungkin Heewon ingin balas dendam?

 

“Jungkook, tunggu aku!”

 

Sebuah panggilan pertamanya tak berhasil sesuai ekspektasi. Jungkook tetap berjalan di tengah gulungan makhluk hidup yang sedang berbelanja alat-alat sekolah. Termasuk dirinya. Kini, Heewon dengan secara paksa hati ia mengikuti arah Jungkook berjalan melewati beberapa buku. Setelah mendapati tubuh jangkungnya, refleks, Heewon menggenggam lengannya dengan erat.

 

“Jangan tinggalkan aku,”

 

GREP

 

Sebuah dekapan hangat yang berhasil mengantarkan aliran listrik yang mungkin berkekuatan 220 volt tak bisa ia hindari. Entah mengapa, ini terasa aneh namun sangat berbunga-bunga rasanya. Jungkook mendekapnya sembari memilih beberapa peralatan tanpa melepaskan tautannya.

 

“Diamlah disini, jangan kemana-mana. Aku takut ada hal yang tak diinginkan, mengerti?”

“Hmm.” Balasnya.

 

Ia seperti kangguru saja yang bersembunyi ditubuh induknya, seperti saat ini kepalanya tengah tersimpan di depan dada bidang Jungkook yang hangat. Heewon tersenyum dikala mengingat beberapa memori manis terdahulu yang Jungkook lakukan. Seperti memberikan kado sederhana sampai ucapan selamat pencapaian prestasi.

 

Baik, meski mereka sahabat, tetap saja mereka bersaing dalam mendapatkan peringkat ke satu umum di sekolah. Namun secara sehat tanpa sogokan sepeser pun tentunya. mereka tak luput saling memberikan informasi berita baru tentang penelitian makhluk hidup di dunia atau tentang astronomi lainnya. Menurutnya itu sangat bagus dibandingkan bermanja ria di kamar kesayangan sembari menatap status media social tak jelas.

 

“Selesai! Heewon, kau mau beli apa? Pensil, buku, pencase, atau—“

“Samakan saja.”

“Oh, oke.”

 

Setelah memilih, Jungkook menggiring Heewon ke tempat pembayaran yang penuh, ia tetap memegang Heewon dengan erat tanpa sedikit pun ada rasa ingin melepaskan. Yang tentunya itu sangat berbahaya. Heewon yang seorang perempuan yang harus dijaganya dan dirinya yang tak tahu rute pusat kota. Menyedihkan bukan?

 

Antrian sangatlah panjang, entah sampai kapan ini akan berakhir. Butuh kesabaran yang memadai apalagi di toko yang dipijaknya tak menyediakan AC untuk kenyamanan pelanggan. Padahal, pelanggan disini selalu membludak semakin hari ke hari.

 

“Jung—”

“Jungkook….”

 

Jungkook menoleh, “Ya?”

“Aku tunggu diluar saja, ya?”

“Tapi—“

“Aku ingin eskrim, Jung. Aku takkan meninggalkanmu, aku janji.” Anggukan kecil menjadi sebuah patokan persetujuan dibalik kebisuannya. Ia segera berlari ditengah-tengah kepengapan yang tak kuat lagi di udara panas kali ini. Segera ia mencari minimarket untuk memenuhi keinginannya kali ini. Eskrim rasa coklat dan tentunya untuk Jungkook juga—vanilla. Tangannya membawa dua buah eskrim corong untuk dibawakan ke kasir depan. Segera ia membawanya barang tersebut dan kembali ke tempat Jungkook berada.

 

Ia memandang Jungkook yang tengah membayar semua barang-barang dibawanya, dilihat dari arah samping Jungkook sangatlah rupawan dibandingkan dahulu yang memiliki rahang panjang. Namun, sekarang telah berubah, rahangnya sangat tegas dan lancip sesuai keinginan lelaki pada umumnya.

 

“Jungkook!”

Heewon melambaikan tangannya pada Jungkook yang kini menghampirinya dengan penuh senyuman. Terlihat Jungkook menenteng belanjaan beratnya yang sekitar lima kilo, mungkin. Lihatlah! Empat bungkus buku tengah Jungkook jinjing dengan penuh senang hati.

 

“Berapa harga total belanjaannya?”

“Nanti saja.”

 

“Ya sudah, ayo kita ke Taman. Aku ingin mengistirahatkan kakiku sejenak dan menikmati eskrim ini. Bagaimana?”

“Ide bagus!”

 

Mereka kembali berjalan beriringan dengan menatap satu sama lain. Ada hal lain yang berbeda, pandangan mereka telah berubah dengan seiringnya waktu, penuh sinar rasa cinta dibalik dwimanik masing-masing. Atsmosfer di sekitarnya berhasil menghasilkan kecanggungan yang amat kuat, terutama langkah mereka yang semakin memelan.

 

“Jung,”

“Heewon,” ucap mereka bersamaan. Kedipan mata Heewon berkali-kali tampak, manatap Jungkook yang kini tengah mengatup bibir sembari menunduk.

 

“Ada yang aku ingin bicarakan.” jelas mereka bersamaan lagi.

 

“A-ah, kau saja dulu, Heewon.”

“Kau saja Jungkook.”

“Kau….”

“Kalau begitu di Taman saja.”

 

Mereka berdua kembali mengukir tungkai di atas aspal bahu jalan. Entah mengapa, saat ini tidak ada yang berani membuka suara untuk memecahkan kecanggungan dan kegugupan yang serius. Mereka bergeming, hanya ketukan sepatulah yang mendominasi.

 

Setelah sampai pada tujuan keinginan—Taman—luncuran bokong telah terjadi beberapa detik yang lalu. Mereka menghela napas sebentar, menyesuaikan keadaan yang sangat sejuk dibandingkan tadi. Beberapa pohon beringin berhasil membuat keagungan yang memadai, termasuk kesejukan alam.

 

Hening. Namun, berganti menjadi hawa dingin. Jujur, Heewon dan Jungkook tak kuat keadaan seperti ini. Terdiam seperti orang bisu saja. Beberapa barang belanjaan disimpan rapi disamping Jungkook. Mereka terus menatap tujuan kosong tanpa membuka kunci mulut masing-masing.

 

Hati ingin berkata namun frasa terasa pilu.

 

“Heewon….”

“Ya?”

 

Akhirnya… Jungkook memberanikan diri membuka mulut untuk masalah ini. Mungkin Jungkook memaksakan kehendak hatinya. Kini, tatapan mereka berubah menjadi serius dan memliki arti yang dalam.

 

“A-aku….”

“Aku? Aku apa?”

 

Sejenak, Jungkook terdiam. Menjeda semua frasa yang akan dikeluarkannya secara frontal. Beberapa milisekon ia tertunduk menyembunyikan wajahnya yang terasa… aneh dipandang. Namun, apa daya, ia harus tetap mengatakannya secara jujur.

 

“Aku menyanyangimu, Heewon. Lebih dari apa pun.”

“Hanya itu?” Jungkook mengangguk pelan, “Sudah ku bilang berapa kali bahwa aku juga menyayangimu, Jungkook. Oh, hei! Bukankah hubungan sahabat tanpa ada rasa kasih sayang akan terasa hambar dan… berantakan? Mungkin akan terjadi saling bertumpah darah dan anti solidaritas.”

 

“Jadi?”

“Jangan khawatir, Jung. Percaya padaku.”

 

Seulas senyum Jungkook kuarkan. Ia menampakkan senyum indah nan tulus namun sehangat matahari. Entah mengapa, ada rasa kelegaan hati yang memenuhi relung jiwanya, tutur kata yang diharapkannya berhasil membuatnya tenang dan tentram. Ia akan mengingat semua kata-kata Heewon tadi, hubungan mereka memang sebatas sahabat namun dibalik itu semua adalah… rahasia harta hati yang takkan orang lain tahu.

 

Cinta dibalik hubungan sahabat.

 

Itu yang mereka jalin saat ini.

 

“Jung,”

“Ya?”

 

Heewon menatap Jungkook lekat, “Kau ingat tidak pada saat waktu kecil? Kau mengajakku ke pantai Haeundae untuk melihat pemandangan alam yang indah, mungkin sekitar umur tujuh tahun.”

“Tentu saja aku ingat, Heewon. Memangnya kenapa?”

“Hmm, bisakah aku balas dendam kepadamu?”

 

Jungkook terlonjak kaget, ia membelalakan matanya yang terasa akan keluar dari sarangnya. Semakin mencerna semua ucapan Heewon, semakin ia tak mengerti.

 

“Mak-maksudmu?”

“Katanya ingat, nyatanya tidak!”

“A-aku ingat, tapi… aku tak ingat semuanya.” gugupnya jelas.

 

“Kau meninggalkanku sendirian dan membawa eskrimku serta sepedaku, Jungkook! Dan tepat saat ini aku ingin menebus kesalahanmu padaku.”

“Ap-apa? Aku-aku….”

“Aku akan mengambil eskirimmu, Jungkook. Jika kau dapat, kau berhak mengambilnya, mengerti?”

 

“Tapi—“

“Satu… dua… tiga… Kejar aku!”

 

“Oh, hell! Ya! Jangan pergi, Heewon. Aku tak tahu rute kota! Dan barang-barang ini sangat berat! Heewon! Heewon!”

“Kejar aku, Jungkook! Selamat menderita. Hahahahaha.”

 

FIN

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s