FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 13


PicsArt_1455447159844

Author : AL lee

Title : DARK BLUE DREAMCATCHER

Cast :

  • Jang Woo Ren (OC)
  • Min Yoongi
  • Jung Hoseok
  • Park Jimin
  • Kim Soekjin
  • Kim Namjoon
  • ect

Genre  : School life, romance, comedy(?), sad(?)

 

Woo Ren pov

Apa yang dimaksud oleh Hoseok? Kata-katanya masing terngiang di telingaku.” Sebaiknya kau lebih berhati-hati mulai sekarang.” Apa itu berarti sebuah ancaman? Atau… peringatan? Tapi yang membuatku pusing adalah sebuah kenyataan bahwa sebenarnya selama ini Hoseok sudah mengetahui kalau akulah sosok Cool girl.

Aku menapaki lapangan sekolah menuju parkiran. Bagaimana dia bisa tahu? Dan kenapa selama ini dia menyembunyikan itu dariku? Ah dia membuatku pusing memikirkannya, aku tak mengerti. Tubuhku terputar ketika ada seseorang yang menariknya.

“Kau tuli ya?” aku hanya diam menatap Yoongi dengan wajah datar

“Ya! Kenapa hanya diam saja?”

“Apa maumu?”

“Eh? Itu… aku hanya ingin mengingatkan agar kau tak lupa dengan janjimu.” Dia menggaruk tengkuknya yang mungkin sebenarnya tidak gatal

“Iya aku mengingatnya.” Aku kembali melangkahkan kakiku

 

Aku harus mencari tahu, tapi bagaimana? Masa aku harus menanyakannya sendiri pada Hoseok? Ah itu rasanya sedikit aneh. Tapi kalau bukan dari dia dari siapa lagi? Dan… apa mungkin sebenarnya Jimin dan Namjoon juga mengetahuinya?

 

“Hey, ada apa denganmu?” laki-laki itu kembali menarik tanganku

“Bisakah kau untuk menhilangkan kebiasaanmu menarik tanganku?”

Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah dia mengembalikan pandangannya padaku dia membuka maskerku.

“Ya! Jangan membukanya sembarangan!” aku merebut paksa maskerku yang ada di tangannya

“Tidak ada orang lain. Lagi pula kau kan sedang berbicara padaku.”

 

Dia memang benar, tapi aku masih ingat jelas apa yang dikatakan Hoseok padaku tadi. Setelah mendengar perkataannya aku jadi merasa was-was. Walau aku tak tahu apa maksudnya yang sebenarnya dari perkataanya itu. Aku kembali memakai maskerku.

“Aish kau ini. Sudah, aku mau pulang.”

“Eeh tunggu dulu.” Lagi-lagi dia menarik tanganku

“Harus berapa kali ku bilang, jangan menarik tanganku!?”

“Aish kau ini! Iya ya baiklah.”

“Cepat katakan!”

Keningnya berkerut, “Katakan apa?”

 

Aku menghela nafasku sambil memutar bola mataku dengan malas. Kenapa orang ini bodoh sekali sih? Dia diberi makan apa oleh orangtuanya? Oh iya aku lupa, dia tinggal sendiri dan orangtuanya sibuk bekerja.

“Kau terus menahanku untuk tidak pergi. Lalu apa maumu? Pasti ada yang ingin kau katakan kan?”

“Oh iya. Eum.. untuk kencan kali ini kau mau kemana?”

“Terserah kau saja.” aku mengalihkan pandanganku. “Bahkan kalau boleh memilih aku tak akan pergi bersamamu.” gumamku pelan

“Ya! Apa tadi kau bilang?!” ternyata dia mendengarnya

“Aniya. Apa kau sudah selesai?” aku menatapnya malas

“Kenapa kau buru-buru ingin pulang eoh? Biasanya kau tidak betah di rumahmu. Kau takut diomeli appamu ya?”

“Kata siapa aku tidak betah di rumah? Aku betah-betah saja, karena ada halmoni.”

“Tapi baru kali ini kau ingin cepat-cepat pulang, ada apa?”

Aku mendengus, “Karena aku ingin mempersiapkan diri untuk berkencan denganmu! Kau puas?”

“Nde?” dia nampak sangat terkejut

 

Hah bodoh! Kau percaya Min Yoongi? Aku hanya asal mengucapkannya saja agar aku bisa pulang. Percaya diri sekali kau. Bahkan sekarang wajahmu semringah begitu.

“Ah, yasudah. Kau pulanglah, nanti aku jemput jam tujuh malam di rumahmu. Hati-hati di jalan ya sayangku.” Dia meninggalkanku dengan wajah yang ceria, dasar idiot. Tadi dia bilang apa? Sayangku? Cih! Sayang… sayang… gigimu gendut!

*****

Author pov

Lemari pakaian terbuka lebar di hadapan gadis itu. Mata gadis itu menjalar ke setiap baju-baju yang tergantung di sana. Bingun, dia bingung hendak memakai baju yang mana. Pandangannya terhenti pada sebuah dress selutut bercorak bunga-bunga kecil berwarna biru dengan warna dasar putih. Wajahnya datar menatap baju itu yang tergantung diantara baju-bajunya yang lain. Itu adalah dress yang pernah dipakainya untuk pergi bersama Jungkook. Seorang laki-laki mengajaknya keluar malam-malam untuk jalan-jalan berdua, apa lagi namanya kalau bukan kencan? Yah… setidaknya begitu menurut gadis itu.

 

Wooren tersenyum kecut menatap dress yang tergantung di lemari pakaiannya itu. Dia mengambil sebuah baju atasan berwarna oren peach yang terbilang tipis. Baju tanpa kerah dengan bahan yang agak licin berbentuk renda bergelombang yang bertumpuk-tumpuk. Pilihannya jatuh pada baju yang terbilang sederhana itu untuk kencannya dengan Yoongi kali ini.

*****

Yoon Gi pov

Seorang gadis keluar dari rumah yang ada di depanku. Dia berjalan dengan malas ke arahku sambil memegangi tali tas kecil yang terselempang di tubuhnya. Mataku memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Dia memakai celana jeans hitam, sepatu boots berheels putih yang menutupi mata kakinya, baju berwarna oren peach yang tipis dan membawa tas selempang kecil berwana hitam. Dia mengangkat kepalanya begitu sampai di hadapanku.

“Haduuh kau ini… Kau tidak bisa berdandan ya? Kenapa kau selalu memakai pakaian seperti ini setiap berkencan?”

“Memang harusnya aku pakai apa?”

“Setidaknya kau memakai dress.”

Tatapannya melemah. Dia mendengus sambil menundukkan pandangannya. “Aku tidak mau memakai dress.”

“Wae? Gadis-gadis suka memakainya.”

“Aku bukan gadis!” Aku mengernyit. Apa maksudnya? Dia bukan gadis lalu apa? Perempuan? Wanita? Dia itu sensitif sekali…

“Lalu kau itu apa?”

“Aku adalah monster es! Begitukan menurutmu?”

 

Eh? Kenapa dia tahu apa yang selama ini ada di fikiranku? Ya, dia itu memang seperti monster es. Jutek dan dingin, terkadang dia marah-marah dan saat sedang mara dia itu sangat menyeramkan seperti monster.

“Aku tidak bilang begitu. Bagiku kau adalah gadis paling manis dan cantik.” Aku tersenyum menatapnya

“Terserah apa katamu. Sudah ayo jalan.” Dia melangkahkan kakinya ke arah jok belakang

“Hey! Kenapa kau membawa motor di kencan kali ini?”

“Memangnya kenapa?”

“Tidak apa.”

*****

Woo Ren pov

Yoongi  menghentikan motornya di suah area kosong yang dijadikan sebagai parkiran. Aku turun dari motor, begitu juga Yoongi. Aku membuka helm putih yang sedari tadi ku pakai. Mataku mengelilingi tempat terbuka ini, langit malam gelap dan berawan. Di sini dingin, anginnya berhembus cukup kuat. Aku sedikit menyesal karena memakai baju tipis ini dan tidak membawa jaket. Aku tidak tahu kalau dia mengajakku ke sini.

“Hey jangan memandangi langit terus, di sini ada laki-laki tampan yang lebih menarik untuk dipandangi.” Aku menoleh pada Yoongi di sampingku. Dia merebut helm di tanganku lalu menggantungkannya di gagang spion motornya.

“Kita akan kencan di tempat seperti ini?” leherku menoleh ke kanan dan ke kiri memperhatikan area terbuka yang berbentuk seperti lapangan

“Tidak. Ini hanya tempat parkiran bodoh! Kita akan jalan-jalan.”

“Jalan-jalan?”

“Sudahlah, ayo.” Dia menarik pergelangan tanganku

 

Jalanan di sini cukup ramai walaupun sudah malam seperti ini. Sebenarnya ini belum terlalu malam yeah ini masih pukul setengah delapan malam. Aku baru tersadar kalau ini ada di gwanghwamun, lebih tepatnya sebuah jalan di gwanghwamun.

 

Tak sedikit muda-mudi yang ada di sini, mereka terlihat seperti pasangan. Pandanganku tertuju pada sepasang kekasih yang duduk di bangku pinggir jalan, tangan kanan laki-laki itu merangkul perempuannya, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat tangan perempuan itu, mereka terlihat bahagia sekali dengan saling tersenyum seperti itu. Aku mengalihkan pandanganku pada sepasang muda-mudi yang hampir berpapasan denganku. Tak berbeda jauh dengan pasangan sebelumnya, kedua tangan mereka saling menggenggam dengan erat, jari-jari mereka berada di sela-sela jari pasangannya. Tiba-tiba perempuan itu melepaskan kaitan tangannya, dia mengusap-usap lengannya dengan kedua tangannya. Laki-laki itu tersenyum menatap gadisnya. Beberapa detik kemudian dia ikut mengusapkan lengan gadis itu dengan kedua tangannya. Pandangan mereka bertemu. Sedetik kemudia laki-aki itu mencium kening gadis di hadapannya.

“Sudah jangan memandangi mereka seperti itu. Kau juga ingin seperti itu heum?”

“Cih!”

 

Yoongi mengambil tanganku, mengaitkan jari-jariku di sela-sela jarinya. Begitu juga jarinya yang sekarang berada di sela-sela jariku. Entah mengapa aku tak berniat untuk melepaskannya. Yah… aku aku akui tangannya hangat, dan udara di sini dingin dengan angin malam yang terus berhembus.

Kami masuk ke dalam suatu cafetaria. Yoongi mengajakku duduk di bangku yang ada di dekat jendela. Tempat duduknya sofa yang cukup untuk dua orang berwarna merah, tapi sebenarnya itu cukup untuk empat orang karena sofanya berhadapan dengan meja kayu yang berada diantaranya. Yoongi duduk di hadapanku.

“Selamat datang. Apa yang ingin anda pesan?” seorang pelayan perempuan datang menghampiri kami

“Kau ingin pesan apa?”

“Sama saja denganmu.”

“Kalau begitu aku pesan dua caramel machiatto.”

“Baik. Akan segera kami antarkan. Selamat malam.” Pelayan itu membungkukkan badannya kemudian pergi

“Kenapa kau memesan itu?”

Yoongi mengernyit, “Tadi kau bilang yang sama denganku. Lagi pula memangnya kenapa?”

Aku menghela nafas sambil menyandarkan punggungku, “Sebenarnya aku tidak begitu suka kopi. Aku pernah mengatakan itu padamu kan? Dan aku tak suka caramel.”

“Oh aku lupa.” Dia menepuk pelan jidatnya, “Tapi caramel machiatto itu enak, kau pasti suka jika mencobanya.”

“Hyaah.. kalau sudah terlanjur ada kopi di depanku maka aku akan tetap meminumnya. Tapi kalau caramel seperti itu…”

“Kau harus mencobanya dulu baru berkomentar.” Potongnya

 

Baiklah.. omongannya benar juga. Aku tak bisa berkomentar kalau belum mencicipinya. Aku terdiam, tak lagi berniat untuk mengadakan pembicaraan. Pandanganku tertuju ke arah luar, ke arah sebuah troroar jalan yang cukup sepi di sana. Seketika bayangan tentang Jungkook terputar di otakku. Aku ingat ketika kami sedang berjalan berdua di trotoar suatu jalan yang sepi pada malam hari. Saat itu aku merasa kedinginan walau memakai jas sekolahku. Waktu itu hatiku terasa begitu tak tenang, ya… aku merasa takut waktu itu. Aku takut akan terjadi sesuatu, jelas saja, itu sudah malam, jalanan sepi, dan kami hanya berdua. Banyak fikiran-fikiran negatif di otakku, misalnya saja jika tiba-tiba ada orang-orang jahat yang menodong kami, melukai kami atau semacamnya. Jungkook memberikan jas sekolahnya padaku, membirakan tubuhnya hanya terbalut kemeja putih sekolah yang tipis. Dia bahkan terus memegang ke dua lenganku, membekapnya dari samping. Dia tak hentinya menenangkanku, dia bilang tidak akan ada yang terjadi, semuanya akan baik-baik saja, dan dia akan selalu melindungiku.

Aku tersenyum getir menatap trotoar jalan sepi yang tak jauh di sana. Meski itu bukan jalan yang sama dengan yang waktu itu tapi jalan itu membuatku teringat pada kenangan itu.

“Ya! kenapa kau senyum-senyum seperti itu huh?” Yoongi menyadarkanku

“Ani. Hanya saja… aku teringat pada sesuatu.”

“Ini pesanan anda.” Pelayang perempuan yang tadi mewari pesanan pada kami kembali datang dengan nampan berisi dua gelas caramel machiatto. “Selamat menikmati.” Yoongi tersenyum sambil mengangguk pada pelayang itu. Diapun pergi.

 

Yoongi meminum caramel machiato dinginnya dengan sedotan. Aku hanya memandangi minuman dingin di hadapanku. Ya, ini terlihat enak dan menggiurkan.

“Jangan hanya memandanginya, cobalah.”

 

Entah mengapa aku menuruti perkataannya. Aku mulai menyedot minuman itu dengan sedotan. Yoongi terus memperhatikanku.

“Ottae?”

“Hm. Tidak buruk.” Dia tersenyum mendengarnya

 

Keheningan menjalar diantara kami. Tak ada satupun yang berbicara. Yoongi sibuk memainkan ponselnya, entah apa yang dia lakukan. Sedangkan aku hanya memandang ke arah luar jendela. Tiba-tiba aku teringat pada kejadian di toserba waktu itu. Sampai sekarang aku masih belum mengerti kenapa Yoongi dan Nami eonni saling bertatapan seperti itu.

“Eum.. Sunbae?”

“Jangan memanggilku seperti itu.” pandangannya tetap pada layar ponselnya

“Yoongi?”

“Panggil aku Oppa, Suga oppa.”

“Mwo?”

 

Dia mengalihkan pandangannya padaku, “Kalau tidak aku tak mau menanggapimu bicara.” Lalu kembali menatap ponsel di tangannya.

“Ah baiklah… Suga, boleh aku bertanya sesuatu?”

Dia hanya diam memainkan jarinya di layar ponselnya, bahkan dia tidak menatapku.

“Ya! Aku kan sudah memanggilmu sesuai kemauanmu.”

“Kau memanggilku sesuai kemauanmu bukan sesuai kemauanku.”

Aku mendengus kesal. Orang ini…

“Suga oppa?”

“Hm?” dia meletakkan ponselnya, melipat kedua tanggnya di atas meja lalu menatapku “Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Apa hubunganmu dengan Nami eonni?”

 

Seketika raut wajahnya berubah. Dia tak menjawab pertanyaanku untuk beberapa waktu dan hanya terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Aku tak punya hubungan apa-apa.”

 

Hei ada apa dengan nada bicaranya itu? dingin sekali. Secepat itukah dia berubah hanya karena aku menyebut nama Nami eonni? Ini semakin terasa janggal bagi ku.

“Lalu kenapa kau menatapnya penuh kebencian?”

“Karena aku membencinya.”

“Kenapa kau membencinya?”

Dia menghela nafas panjangnya seraya menyandarkan punggungnya. Matanya memandang ke luar jendela.

“Karena dia Hyungku mati.”

 

Aku sangat terkejut mendengarnya. Apa aku tak salah dengar? Aku ingat perkataan nyonya Min kemarin. Yoongi punya seorang kakak laki-laki bernama Min Jaehyun. Mereka begitu dekat dan Yoongi sangat menyayanginya.

“Ma-maksudmu?”

“Hyungku dan perempuan itu adalah sepasang kekasih dulunya. Mereka begitu kompak dan saling mencintai. Aku juga dekat dengan perempaun itu karena statusnya sebagai yeoja kakak-ku. Tapi suatu hari mereka bertengkar, entah mengapa. Perempuan itu berlari sambil menangis dan hyungku mengejarnya. Perempuan tak tau diri itu terus berlari sampai tak menyadari kalauada sebuah truk yang akan melintas begitu dekat dengannya. Hyungku berlari ke arahnya, mendorongnya dan membiarkan dirinya yang tertabrak oleh truk.” Yoongi tersenyum miring setelah menyelesaikan kalimatnya. Tapi mata itu sudah jelas, begitu nanar, menjelaskan bagaimana perasaannya yg sebenarnya.

 

Aku hanya bisa terdiam mendengar penjelasan darinya. Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. ada banyak pertanyaan yang muncul di benakku. Tapi entah mengapa mulutku hanya bungkam. Yoongi mengalihkan pandangannya padaku.

“Sudahlah kita tak perlu membahas itu di kencan kita.”

“Tapi kau kan tidak tahu kenapa Nami eo…”

“Sudah ku bilang jangan membahasnya!” seketika aku terdiam. Dia menatapku nyalang, nampak sangat kesal.

“Kita harus melanjutkan perjalanan kita.” Dia bangun dari sofa dan menarik tanganku keluar cafe.

 

Entah mengapa suasana menjadi kaku seperti ini. Dia berubah menjadi sangat dingin. Dan itu membuat semuanya terasa semakin dingin bagiku, tidak hanya udara malam ini, tapi juga sikapnya. Agh.. sial! Kenapa anginya berhembus semakinkencang dan begitu dingin? Aku memeluk diriku sendiri sambil menundukkan kepalaku.

“Kau kedinginan? Hya, aku juga merasa begitu.” aku mengangkat kepalaku menatap Yoongi

“Kita ke sana saja, mungkin di sana ada toko yang menjual jaket.” Dia menunjuk ke arah di sebelah kirku dengan dagunya. Aku menoleh ke arahnya yang dimaksud. Di sana ada jalanan besar yang sangat terang dan ramai. Ada banyak kios-kios pedagang di sana. Entahlah itu namanya apa.

 

Yoongi memegang tanganku dan menariknya untuk berjalan ke arah tempat itu. Tangannya begitu hangat menggenggam tanganku. Aku memperhatikan wajahnya, dia nampak begitu tenang dengan wajah datarnya. Aku tahu dia sering sekali menarik tanganku, tapi di perjalanan kami yang disebutnya kencan ini dia memegang tanganku dengan cara yang berbeda. Dia menggenggam tanganku, bukan menariknya dengan paksa. Genggamannya terasa begitu hangat dan entah mengapa aku tak bisa menolaknya.

 

Kepala Yoongi tertoleh ke kanan dan ke kiri, pandangannya beredar ke sana-sini. “Kau mau ke toko yang mana?” matanya terus memperhatikan toko-toko di sepanjang jalan.

“Oh! Itu, sepertinya mereka menjual banyak baju hangat.”

 

Kami memasuki sebuah toko yang cukup besar. Benar, di sini banyak baju-baju hangat. Sweater, jaket, dan beberapa macam baju hangat lainnya. Yoongi melepaskan genggamannya dari tanganku. Dia berhenti dan memperhatikan beberapa hoodie yang ada di dekatnya. Aku melangkahkan kakiku ke deretan sweater yang tergantung di dinding. Mataku memperhatikan sweater-sweater yang beragam warnanya itu.

“Wooren!” aku menoleh ke arah Yoongi yang beberapa langkah di belakangku. Di tanganya ada sebuah hoodie berwarna putih. Aku menghampirinya, berdiri di sampingnya dan ikut memeperhatikan hoodie itu.

 

Hoodie dengan penutup kepalanya itu tanpa kancing ataupun resleting. Di bagian depannya ada gambar mahkota dengan tulisan “His Mine” berwarna pink di atasnya.

“Jja.” Dia menempelkannya di bahdanku, aku mengambilnya

 

Mataku tertuju pada hoodie yang masih tergantung di samping tempat jaket yang ku pegang tergantung sebelumnya. Yoongi mengambilnya.

“Hey itukan hoodie couple.”

“Ya, aku tau. Ini lumayan juga.”

“Kau tak bisa membelinya.”

Dia menoleh menatapku, “Kenapa?”

“Karena kau tak punya couple.” Jawabku enteng

“Tentu saja aku punya.”

“Oh? Ah~ kalau begitu gadis itu sungguh sangat sial. Dia menjadi couple seorang… gangster sekolah.”

“Hm. Gadis itu sungguh malang ya? Tapi aku akan membuatnya menjadi gadis paling bahagia.”

“Hyahh… semoga saja begitu. Aku kasihan pada gadis itu.”

“Ya! Gadis itu adalah kau sendiri.”

“Mwo?! Kenapa aku? Aku bukan pasanganmu!”

“Tidak, kau adalah pasanganku.” Mataku membulat ketika merasakan tangan Yoongi yang melingkar di pinggangku. Dia menarik tubuhku sampai pinggang kami berdempetan. Ugh, aku jijik sekali melihat senyumnya itu.

 

Kami keluar dari toko itu. Dia sudah memakai hoodie yang baru dibelinya itu. Hoodie putih dengan model yang sama denganku. Di bagian depannya ada gambar mahkota dengan tulisan “I’m Hers” berwarna biru di atasnya. Hoodie yang ada di tanganku ini adalah pasangan hoodie yang dipakainya. Aku sengaja hanya memegangnya karena tak ingin memakai hoodie couple ini dengan Yoongi.

“Ya! Kenapa kau tidak memakainya? Bukankah kau kedinginan?”

“Ini sudah jam sembilan malam, ayo kita pulang!” aku mengalihkan pembicaraan

“Ya baiklah, ayo kita ke parkiran itu.”

Untuk yang kesekian kalinya dia menggenggam tanganku. Kami berjalan berdampingan. Jalanan sudah tak seramai sat kami sampai di sini. Angin malam berhembus semakin dingin. Aku berusaha menahannya.

“Hey, kau mau makan Ice cream?”

“Eoh? Ya, itu boleh juga.”

Dia menarikku ke sebuah tempat yang menjual es krim di pinggir jalan. “Kau mau ice cream apa?”

“Vanilla.” Aku selalu teringat pada Jungkook setiap kali memakan es krim vanilla

Tak butuh lama, Yoongi memberikanku es krim berwarna putih di cone yang cukup besar. Keningku berkerut memperhatikan es krim di tanganku. Ini terlalu banyak untukku sendiri.

“Kajja.” Dia kembali menggenggam tanganku

“Eh? Kau tak membelinya untukmu?” dia hanya tersenyum padaku

 

Kami sudah sampai di samping motor Yoongi yang terparkir. Tempat ini sangat sepi. Masih banyak motor-motor yang terparkir di sini, tapi hanya ada kami berdua saat ini. Lagi-lagi angin malam berhembus cukup kuat. Aku jadi tak berminat untuk memakan es krim di tanganku, itu hanya akan membuat ku merasa kedinginan.

“Kenapa kau tidak memakannya?”

“Eoh?” aku tersadar dari fikirankum “Ah~ Apa kau mau?”

Dia menatapku menyelidik, “Bukannya kau menginginkannya? Lalu kenapa tidak memakannya?”

“Eoh? Dingin.” Ups! Ih apa sih yang aku katakan? Aku mengucapkannya tanpa sadar.

 

Kening Yoongi berkerut menatapku. Beberapa detik kemudian dia tersenyum. Dia berjalan ke belakangku, entah apa yang ingin dia lakukan. Tiba-tiba saja dia memelukku dari belakang dan menaruh dagunya di bahu kananku. Aku sangat terkejut dan reflek berusaha melepaskannya. Tapi dia malah memelukku lebih erat. Aku menyerah dan memutuskan untuk diam.

“Biar saja tetap seperti ini. Bukankah kau kedinginan heum?” aku hanya terdiam. Entah mengapa aku merasa gugup, wajahku memanas. Mungkin saat ini wajahku sudah memerah.

“Apa kau sengaja tak memakai jaketmu dengan alasan ini?”

“A-alasan apa?”

“Agar aku memelukmu.”

“mwoya? A-ani.” Aku memalingkan wajahku

 

Yoongi semakin mengeratkan pelukannya seraya menghela nafas dalam. Kepalanya masih berada di bahuku dengan mata yang terpejam. Aku memperhatikan wajahnya yang begitu dekat. Bahkan sekarang wangi parfumnya tercium sangat jelas. Dia membuka matanya dan menatapku. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke depan.

“Kenapa kau tak memakan ice creamnya?”

“Kau mau?” aku mendekatkan es krim di tanganku ke wajahnya

“Kau makan dulu.” Aku menurutinya. Ku gigit es krim itu, gigiku terasa sedikit ngilu karena menggigitnya. Setelah memakannya aku mendekatkan es krim di tanganku ke mulutnya. Dia membuka mulutnya lalu memakannya. Aku bisa merasakan pergerakan rahangnya karena kepalanya yang ada di bahuku.

“Kau suka ice cream vanilla?”

“Hm.” Aku kembali memakan ice cream di tanganku. Sambil merasakan lelehan ice cream di dalam mulutku aku kembali mendekatkan es krim ke mulutnya. Dia menggeleng. “Aku tidak mau ice cream yang ini.”

“Kau mau yang mana?”

“Aku ingin yang ada di dalam mulutmu.”

 

Aku terdiam berusaha mencerna perkataannya. Di dalam mulutku? Apa maksudnya es krim? Es krim yang ada di dalam mulutku? Keningku berkerut. Seketika mataku melebar, aku menoleh cepat ke arahnya. “YA!” aku melepaskan pelukannya dengan kasar. Yoongi tertawa. Apa dia pikir itu lucu? Dasar otak mesum.

“Kenapa kau berteriak? Telingaku jadi sakit.” Ucapnya dengan nada manja sambil mengelus telinganya. Huh bahkan di saat telinganya yang dibilang sakit itu dia masih saja tertawa

“Iya! Tertawa saja terus!”

“Kenapa kau melepaskan pelukanku eoh? Bukankah kau bilang dingin?”

“Lebih baik aku menggigil kedinginan.” Aku membuang wajahku.

 

Hah dia pikir dia itu siapa memelukku seenaknya seperti itu? Lagi pula aku juga tak berharap untuk dipeluk olehnya. Tiba-tiba Yoongi menggendongku ala bridal style

“YA! YA!” karena tak ingin jatuh aku mengalungkan tanganku ke lehernya. Dia mendudukkanku di atas motornya menghadap samping.

Aku tak bisa berkata-kata ketika dia berdiri di hadapanku dan memeluk pinggangku, kami begitu dekat. Ya, bagaimana tidak? Coba kalian bayangkan saja bagaimana posisi kami saat ini. Aku duduk menyamping di atas motornya dan dia berdiri di hadapanku sambil memeluk pinggangku. Dia hanya memluknya dari jauh, maksudku dia hanya melingkarkan kedua tangannya, tapi tidak menempelkan tubuhnya.

“Ya! Apa yang kau lakukan?! Untung saja ice cream ini tidak jatuh, bajumu bisa kotor!”

“Memangnya kenapa? Kan bajuku, bukan bajumu. Heum… kau perhatian sekali padaku.” Dia tersenyum, menjengkelkan sekali senyumannya itu rasanya aku ingin sekali meonjok wajahnya.

“Ya babo! Itu bisa saja berimbas padaku, bisa saja ice cream ini juga tumpah di pakaianku.” Aku menggerakkan kakiku untuk bisa turun, tapi motornya malah ikut bergerak.

“Jangan bergerak-gerak seperti itu, kau bisa jatuh.” Ya, aku menyadari itu. Bahkan bukan aku saja yang bisa jatuh, tapi motornya juga bisa jatuh. Bahkan dampak buruknya bisa saja aku tertindih motor berat ini. Akhirnya aku memutuskan untuk diam.

“Nah begitu. Sekarang kau bisa memakan ice creammu dengan santaikan?”

“Aku mau turun.”

“Kau taukan kalau makan itu tak boleh berdiri? Kalau makan dan minum harus duduk, itulah yang terbaik untuk kesehatan. Sudah, sekarang kau makan saja ice creammu.”

 

Ya, yang dikatakannya itu memang benar. Dan entah mengapa aku menurutinya lagi. Aku mulai memakan ice cream yang sudah mulai meleleh itu. Ternyata walau udara di sini dingin tetap saja tak cukup untuk membuat es krim ini tetap pada bentuknya, ya… tentu saja karena ini bukan freezer.

“Kau mau?” aku mendekatkan es krim di tanganku ke mulut Yoongi yang ada di hadapanku. Dia tersenyum kemudian memakannya.

 

Aku teringat sesuatu. Waktu itu adalah musim salju, aku pergi keluar bersama Jungkook dan dengan bodohnya kami berdua malah membeli es krim. Rasanya yang sedang ku lakukan saat ini sama bodohnya dengan waktu itu. Di malam yang udaranya sedingin ini aku malah memakan es krim bersama Yoongi.

 

Aku kembali memakan es krimku. Aku sangat terkejut karena wajah Yoongi begitu dekat dengan wajahku, dia memakan es krim yang ada di tanganku di saat yang bersamaan denganku. Aku kembali ke posisi normalku ketika sudah berhasil memasukkan sedikit es krim ke dalam mulutku setelah sempat terpaku beberapa saat. Begitu juga Yoongi, dia kembali ke posisi awalnya dengan es krim yang ada di mulutnya. Aku menundukkan kepalaku. Pasti saat ini wajahku memerah. Aish kennapa dia melakukannya? Apa dia sengaja? Iya, pasti sengaja. Huh dasar licik!

“Kenapa menundukkan kepalamu?” aku terdiam dan tetap menunduk, “Kau menggemaskan sekali.” Yoongi mencubit pipiku dengan lembut. Aku mengangkat wajahku karena terkejut dia mencubit pipiku, baru kali ini dia bersikap dengan lembut.

Mata kami bertemu, senyum di wajahnya yang mengembang lama-lama menjadi surut. Dia menatap lurus ke mataku. Kemudian aku merasakan tangannya yang mencubit pipiku bergerak terbuka, mengusap perlahan pipiku dengan telapaknya yang halus.

“YA!” aku tersadar dengan apa yang terjadi. Reflek aku mendorong tubuh Yoongi menjauh dariku. Itu sukses membuatnya menjauh dariku bahkan tangan kanannya yang semula masih melingkar di pinggangku terlepas. Mulutku terbuka ketika melihat tumpahan es krim yang mengotori hoodienya.

“YA! Kau mengotori bajuku! Aish…” dia membersihkan bagian depan hooidenya dari es krim yang menempel di sana.

“Mi-mianhae. Ya! Siapa suruh kau seperti itu?”

“Aish kau ini…”

*****

Akhirnya aku bisa memakai hoodie ini. Uh andai saja aku memakainya sedari tadi, ini benar-benar hangat. Aku bisa memakainya karena Yoongi sudah melepaskan hoodienya yang kotor terkena es krim hahaha. Kenapa dia membiarkanku kedinginan dalam waktu selama itu? Diakan sudah membawa jaket hitamnya yang dia gunakan saat mengendarai motornya seperti sekarang ini, tapi dia malah memebeli jaket lagi dan memakainya.

Tiba-tiba tangan Yoongi menarik tangan kiriku yang sedari tadi berpegangan pada saku jaketnya lalu menempelkan tanganku di perutnya, sedetik kemudian dia menarik tangan kananku dan menumpuknya di atas tangan kiriku. Tentu saja tubuhku jadi ikut tertarik, sekarang aku memeluknya. Tangan kirinya berada di atas tumpukan ke dua tanganku, dia terus memegangi tanganku. Dia kenapa sih? Dan ada apa denganku? Kenapa aku tak menolaknya dan melakukan pemberontakan? Hey bukankah ini aneh?

 

Akhirnya kami sampai di toserba tempatku bekerja dulu, lebih tepatnya beberapa hari yang lalu. Yoongi memarkirkan motornya di depan toko. Aku segera turun dan melepas helm yang ku pakai. Yoongi melepas helmnya, tapi dia tidak turun dari motornya.

“Kenapa kau mengajakku ke sini?”

“Sudah ayo turun!” aku menarik lengan Yoongi. Dia menghela nafasnya lalu mengikuti perintahku.

“Eeeh… kenapa aku harus ikut ke dalam?”

“Agar kau bertemu dengan Nami eonni.”

“Apa?!” dia menghentikan langkahnya. “Sudahlah menurut saja.” aku kembali menarik lengannya

 

Begitu kami masuk ke dalam aku langsung melihat Nami eonni berada di meja kasir. Dia menoleh ke arah kami. Aku melambaikan tanganku sambil tersenyum lebar padanya. Dia nampaknya sedikit terkejut dengan kedatanganku, wajahnya menjadi semringah. Aku menarik lengan Yoongi dan berjalan mendekati Nami eonni.

“Wooren kau datang?” senyum Nami eonni semakin melebar ketika aku sampai di hadapannya

“Bagainmana kabarmu eonni?”

“Baik. Bagaimana denganmu sendiri?”

“Sama baiknya denganmu. Oh ya, aku ingin mempertemukanmu dengan seseorang.” Aku menarik lengan Yoongi agar berdiri di sampingku. Dia menolehkan kepalanya ke arah lain bukannya melihat ke arah Nami eonni. Sementara itu Nami eonni nampaknya terkejut melihat Yoongi di hadapannya.

“Min Yoongi?” Yoongi menoleh, menatap Nami eonni dengan tajam, “Jangan menyebut namanku.” Ucap Yoongi dingin.

“Omo… kau tidak boleh seperti itu sunbae. Eonni… eum… aku membawanya ke sini agar kalian bisa berbicara. Aku tau masalah yang ada diantara kalian, aku tidak bermaksud mencampurinya. Tapi aku hanya ingin kalian dapat menyelesaikan masalah itu.” Yoongi menoleh ke arahku, akupun menoleh. Dia menatapku dengan death glarenya. Hah aku sama sekali tak takut Min Yoongi, asal kau tahu saja!

“Kalian bicaralah di luar, aku yang akan menjaga kasirnya.” Aku menoleh pada Yoongi lagi, “Sunb… ah, Suga oppa, kau… maukan?” dia nampaknya sedikit terkejut dengan panggilanku barusan. Hey! Ini sebenarnya agar dia mau melakukan apa yang ku suruh saja. Dia hanya diam menatapku.

“Oppa…” kataku manja sambil menggoyangkan lengannya. Huuwweh… sebenarnya aku ingin muntah. Dia menghembuskan nafas beratnya lalu mengangguk pasrah. Yes! I got it. Aku melihat ke arah Nami eonni lalu menganggukkan kepala.

*****

Pengunjung yang datang hanya satu atau dua orang dalam jeda waktu yang lama. Jelas saja, ini sudah pukul sepuluh malam. Aku melihat ke arah luar pintu kaca toko, ku lihat Nami eonni sedang berbicara pada Yoongi, sedangkan laki-laki itu hanya diam mendengarkannya tapi dia sama sekali tak melihat ke arah Nami eonni. Aku menggelengkan kepala, dia itu dingin sekali pada orang lain. Di sekolah sikapnya juga seperti itu, sangat dingin dan tak peduli. Haha dia itu dia itu sok keren.

I need you girl
wae honja saranghago honjaseoman ibyeolhae
I need you girl
wae dachil geol almyeonseo jakku niga piryohae~

 

 

Aku mengambil ponselku dari dalam saku rompi toserba yang ku pakai. Tanpa melihatnya terlebih dulu aku langsung mengangkatnya, “Yobseyo?”

“Wooren kau dimana?” matilah aku… Appa! Aku mengedarkan pandanganku ke jalanan di depan toserba, kali-kali saja dia sedang mengawasiku. Sepi, hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang.

“Me-memangnya ke-kenapa?”

“Pulanglah.” Suara appa terdengar begitu lemah

Hatiku sedikit bergetar, baru kali ini appa berbicara dengan nada seperti ini. “Waeyo?”

“Kau akan tau setelah kau sampai di rumah. Cepatlah pulang, ku mohon.” Suaranya bergetar

 

Sebenarnya ada apa? Kenapa nada suara appa tak biasa seperti ini? Dia yang selalu berbicara tegas juga acuh tak acuh padaku, sekarang dia berbicara dengan nada lemah bahkan suaranya bergetar. Seketika suasana hatiku jadi tak enak. Apa ada sesuatu yang terjadi?

-TBC-

 

Naah… buat yang pada penasaran apa hubungan Yoongi dan Nami sudah terjawab di part inikan? Hehe maaf ya kalo ceritanya bertele-tele, maklum aku penulis amatir. Semoga ada yang suka cerita ini. Terimakasih sudah membaca dan jangan lupa komentarnya… ^,^

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

2 thoughts on “FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s