FF/ TAE TAE PABBO/ BTS-BANGTAN/ pt. 1 of 2


Cover FF TaeBoo pt1

TaeTae pabbo

 

Author :

T & K

____________________

Cast :

You (y/n) | Kim TaeHyung (BTS V) | Park JiMin (BTS Jimin)

_____________________

Suporting Cast :

Jung HoSeok (BTS J-Hope) | EumJi (OC)

_____________________

Genre :

Love/Hate; school-life; lil Romance; fluff *gagal

_____________________

Rating :

PG-16

_____________________

Length :

Chapter (1&2)

______________________

Disclaimer :

Seluruh cast milik Tuhan, keluarga, BigHit dan fans especially ARMY-deul *ceileh~. Kalau TaeTae buat author aje ye? Gwaenchana toh reader-deul? :V *plakk!

Please! No Plagiarism, No copy-paste and No Tipu-tipu! *eh?

Sesungguhnya ni FF murni hasil dari otak dan pemikiran author yang rada sengklek. Nah, kalo ada kesamaan pada penulisan nama, alamat & tempat mau pun ide, alur & plot cerita yah ‘sorry-sorry Super-Junior’ dah. Mungkin itu suatu kebetulan saja~ :V

______________________

Warning!

Awas! Typo mungkin bertebaran. Ejaan yang tak sesuai EYD. Penggunaan bahasa tak baku, rada frontal *maybe -,-v

Alur & plot cerita yang kurang greget, aneh dan terkesan ngacokk :V

______________________

 

 

Summary :

“Aku menyukai mu pabbo! Jadi yeoja peka sedikit coba’!?”

 

“YAK! Bagaimana aku bisa peka eoh? kau selalu membuat ku emosi setiap saat IDIOT!!”

 

RCL juseyoo~😀

 

 

 

…..Happy Reading…..

 

 

((di FF ini pov overall You (y/n) yah!))

 

Part 1

 

“YA!! Kim TaeHyung kau idiot!!” teriak ku sesampai ku di kelas.

 

Namja idiot itu malah tertawa cekikikan di bangku nya.

Dua teman se’genk nya, Park Jimin dan Jung HoSeok hanya menatap bingung ke arah nya. Dengan kepala beruap-uap ku berjalan menghentakkan kaki ke bangku TaeHyung idiot itu.

 

“Heh! Kurang ajar! Apa yang telah kau campurkan dalam minuman ku sehingga aku bangun jam 12 siang kemarin hah!?” Dapat ku pastikan wajah ku merah padam menahan amarah.

 

Bagaimana aku tidak emosi? Seminggu yang lalu aku di tugaskan untuk satu kelompok dengan namja idiot ini. Dua hari yang lalu kami mengerjakan tugas presentase di rumah si idiot ini, waktu itu ia meracikkan minuman untuk ku (rasa minuman itu agak aneh namun hal ini tak ku hiraukan). Esok hari nya aku terbangun saat matahari sudah di atas kepala.

 

Tanpa perasaan bersalah namja idiot yang bernama Kim TaeHyung ini memperlihatkan senyum kotak nya.

 

“Obat tidur hehehe~” jawab nya dengan cengiran khas nya.

 

Aku membulatkan mata ku.

Ini sudah ke sekian kali nya namja idiot ini mengerjai diri ku, ia pernah mengunci ku di gudang, menyiramkan air pada ku saat di toilet, menaruh cicak di makanan ku, menyembunyikan catatan sejarah ku, melempar bola basket tepat mengenai kepala ku. Sudah terlalu banyak dosa yang ia perbuat pada ku. Ya Tuhan! emosi ku betul-betul tak tertahankan lagi. Langsung saja ku gebrak kasar meja nya.

 

“Apa kau ini terlahir idiot!? Kalau aku tak bangun-bangun lagi bagaimana!? Eoh!!?”

 

Aku tak peduli jika kata-kata ku menyakiti hati nya, aku hanya perlu kejelasan atas tindakan nya. Namja idiot ini juga tampaknya tak memiliki perasaan, bayangkan senyum kotak nya masih terpampang di wajah nya yang yah~ ku akui sedikit tampan! Sedikit kata ku!

 

“Lalu?” jawab nya dengan santai, ia memiringkan kepala dan menampilkan smirk andalan nya.

 

“Semudah itu kah sikap mu!?” lanjut ku.

 

“Wae? Kau tidak tidur selamanya bukan? Bukti nya hari ini kau masuk sekolah. Absen satu hari saja kan tidak akan merusak nilai raport mu” ujar TaeHyung menaik-turunkan sebelah alis nya.

 

“Namja siaalll!!” gumam ku dengan tangan mengepal kuat.

 

“Tapi kemarin itu kan saat presentase kelompok, kau ingin aku tak dapat nilai atas kerja keras ku!? harus nya kita bekerja satu tim!” ku tumpah kan semua emosi ku pada nya.

 

“Untuk itulah aku mengerjai mu. Kalau kita berdua maju saat presentase kemarin pasti Ssaem akan beranggapan bahwa hanya kau saja yang bekerja, kau pasti tak akan memberi ku kesempatan untuk berbicara di depan kelas” sekarang ia menatap ku sendu.

 

“tapi tindakan mu ini sudah keterlaluan TaeHyung!”

“ah! Terserah mu saja lah! Aku muak dengan mu!” kata ku meninggalkan bangku nya dan kembali ke tempat ku.

 

TaeHyung lalu beranjak dari tempat duduk nya, menaruh secarik kertas di meja ku kemudian melangkah ke luar kelas dengan Jimin dan HoSeok mengikuti nya dari belakang.

 

“hm? Ige mwoya?” aku mengernyit membalikkan kertas itu membacanya sekilas. Di sudut kiri atas terdapat tulisan besar yang dilingkari, aku membulatkan mata ku.

 

“A+!!” pekik ku kaget.

 

Pandangan ku mengarah pada TaeHyung yang sudah meninggalkan kelas duluan. Aku menghela napas panjang dan menumpuhkan wajah ku pada tangan yang ku lipat dia atas meja. Seperti nya aku telah salah menilai TaeHyung.

 

 

Sejak pelajaran pertama dan kedua tadi TaeHyung tampak menghindari ku. Di pelajaran olahraga kali ini ku lirik ke arah TaeHyung yang duduk agak berjauhan dengan ku ia tengah bercanda dengan kedua teman se’genk nya JiMin dan HoSeok. Ia masih saja tertawa-tawa se’akan tidak terjadi apa-apa pada nya hari ini. Aku mendengus kesal.

 

“Pelajaran cukup sampai di sini. Kalian boleh kembali ke kelas!” ujar Ssaem.

 

“hari ini ____ dan Kim TaeHyung bertugas mengembalikan matras di gudang” lanjut Ssaem yang sontak membuat mata ku membulat.

 

“Nde? Ssaem?” aku mencoba mengkonfirmasi ulang pernyataan Ssaem barusan.

 

“Kau ___ dan Kim TaeHyung harus mengembalikan matras-matras ini di gudang” pinta Ssaem seraya menunjuk tumpukkan matras di hadapan nya.

 

“kau keberatan?” Ssaem menatap datar ke arah ku.

 

Aku menggeleng pelan “Ani, Ssaem!”

 

“Bagaimana dengan mu Kim TaeHyung? tugas ini terlalu berat untuk mu?” Sekarang Ssaem bertanya pada TaeHyung.

 

Ku lirik TaeHyung, penasaran dengan bagaimana reaksi nya. Ia hanya menggelengkan kepala nya tanpa menoleh ke arah ku sama sekali.

 

“Cah~ Baik lah” Ssaem mengangguk dan beranjak dari posisinya untuk kembali ke kantor.

 

Aku pun beranjak dari posisi duduk ku, ku lirik lagi TaeHyung yang tengah berpamitan dengan HoSeok dan JiMin, ia menyuruh mereka berdua untuk duluan ke kelas.

Melihat TaeHyung tengah berjalan ke arah ku, aku langsung mengalihkan pikiran ku pada matras-matras di hadapan ku mengatur dan menyusun matras tersebut. TaeHyung pun ikut membantu ku menyusun nya. kemudian kami berdua mengangkat tumpukan matras-matras itu ke gudang, sesampainya di gudang kami menaruh tumpukan matras itu lalu menyusun dan merapikan nya ke tempat semula. Aku sungguh tak berani menatap TaeHyung saat itu dan tak ada satu pun dari kami berani mengeluarkan sepatah kata pun saat itu, benar-benar hanya keheningan yang konyol.

 

Menyadari tugas ku telah selesai, aku bergegas untuk keluar dari gudang namun tangan TaeHyung menahan ku. Tangan nya melingkari pergelangan tangan ku.

 

“A-apa yang-?” belum selesai berbicara, TaeHyung langsung memotong.

 

“Mianhae ___-ah” kata nya dengan wajah tertunduk.

 

“Mianhae, telah mengerjai mu selama ini” wajah nya masih tertunduk.

 

Aku menatap tak percaya ke arah nya. Ini sungguh TaeHyung!? Ini Kim TaeHyung!? Bukan hantu kan!?

 

“J-jeongmal m-mianhaeyo ___-ah” lanjut TaeHyung.

 

“Gwaenchana~” jawab ku pada nya menyentuh lembut tangan nya yang melingkari pergelangan ku.

 

TaeHyung mengangkat wajah nya, setengah tak percaya atas sikap ku. Aku tersenyum ke arah nya.

 

“Nado mianhae TaeHyung-ah, mian~ telah memanggil mu idiot selama ini”

 

“Kau tidak membenci ku?” tanya TaeHyung.

 

“Tentu saja tidak. Tapi tunggu, Apa kau ingin aku membenci mu??” aku menantap sebal ke arah nya.

 

“A-aniyo ___-ah! Aku hanya-” TaeHyung tampak tercekat dengan kata-kata nya.

 

Muncul ide gila di kepala ku.

 

“Mwo? Hanya apa? Hanya menyukai ku?” ujar ku dengan enteng.

 

“M-M-MWOYA!!?” respon TaeHyung tiba-tiba tergagap.

 

Wajah TaeHyung sekarang merah sama persis seperti kepiting yang baru saja di rebus hanya tinggal di tambah dengan efek uap-uap yang keluar dari kepala nya.

Aku tertawa karna membayangkan nya. Tangan nya bahkan sedikit gemetar ku rasakan.

 

Takut dengan balasan dari TaeHyung, Buru-buru ku lepas kan tangan TaeHyung yang tadi melingkari pergelangan ku dan beranjak pergi dari gudang meninggalkan TaeHyung yang masih terdiam di tempat ia berdiri.

 

 

“YAK!! IGE MWOYAA!? Sana kembali ke tempat mu Kim TaeHyung!?” teriak ku.

 

Esok hari nya ku dapati ia tengah tertidur di meja di samping tempat ku. Di tempat Park JiMin lebih tepat nya.

 

Aku menengok ke arah Jimin yang sekarang duduk di samping HoSeok (di tempat TaeHyung) tengah asyik berbincang dengan nya.

 

“YA!! Ireona!! Palli!!” seru ku.

 

Namja idiot ini tak bergeming sama sekali. Emosi kembali menggerogoti ku, Langsung saja ku jambak rambut kemoceng nya itu dengan geram.

 

“AAKKHH!!”

 

Mendapati sakit di kulit kepala nya, sukses membuat TaeHyung terbangun dari tidur indah nya. TaeHyung meringis lalu berdiri, mencabut headset yang ternyata sedari tadi telah menyumpal telinga nya dan mengusap-usap kepala nya.

 

“Pantas saja~ sampe urat leher ku putus pun, si idiot ini tak bakal menghiraukan ku” ketus ku dalam hati seraya menatap sebal ke arah nya.

 

“YAK!! Yeoja gila! apa kau ingin membuat rambut ku rontok semua HAH!?” ia melotot ke arah ku, mata nya bahkan hampir keluar dari tempat nya.

 

“Geurrae! Aku bahkan ingin membuat kepala mu tak memiliki sehelai rambut pun!!” ujar ku pada TaeHyung.

 

TaeHyung yang melihat wajah ku sekilas, entah mengapa langsung mundur, mengatur rambut nya dan duduk kembali.

 

“YA! kenapa kau duduk disini!? Ini tempat nya Jimin! Kaa!” lanjut ku mengusir TaeHyung untuk tidak duduk di samping tempat ku.

Ia menatap ku intens lalu menunjukkan smirk nya,

 

“Aku meminta pada Jiminie untuk bertukar tempat. Aku bosan duduk di samping Hobbie, teriakan nya mengganggu konsentrasi belajar ku” ujar TaeHyung tersenyum selagi melipat tangan ke belakang kepala nya.

 

HoSeok yang mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut TaeHyung hanya mem-pout-kan bibir nya dan mendengus kesal.

 

“Lalu. Kenapa harus di tempat nya Jimin? Kau kan bisa duduk di tempat lain?” tanya ku.

 

“Jiminie itu sahabat ku. Aku tidak terlalu dekat dengan teman-teman yang lain. Jadi aku minta Jiminie untuk bertukar tempat dengan ku” kata TaeHyung masih tersenyum ke arah ku.

 

“omong kosong~” aku memutar bola mata ku malas.

 

TaeHyung lalu berdiri dan mendekatkan wajah nya pada ku, “Kenapa ___-ah? Apa kau menyukai Jiminie?”

 

Seisi kelas sontak menatap ku tak percaya. Jimin menoleh, bahkan membulatkan mata nya ke arah ku tepat setelah mendengar nama nya di sebut-sebut oleh TaeHyung.

Aku yang menyadari tatapan intens dari Jimin buru-buru menjelaskan,

 

“M-mwo!? Apa maksud mu TaeHyung!? Kau ini mengada-ada!” bela ku.

 

Pipi ku kini terasa panas entah karena tatapan dari Jimin, atau karena TaeHyung semakin mendekatkan wajah nya.

 

“Hehehe~ lantas, kenapa kau tak ingin aku duduk di samping mu?” tanya TaeHyung.

 

“B-Bukan kah sudah jelas!? Kau selalu menganggu ku!”

 

“Benarkah? Atau diri mu memang tak ingin siapa-siapa selain Jimin yang duduk di samping mu? eoh?” TaeHyung sekarang tersenyum meledek.

 

“….” Lidah ku terasa keluh.

 

“Hehehe~ sekarang skor kita 1-1” ucap TaeHyung di telinga ku dengan pelan supaya hanya aku yang dapat mendengar nya. Ia memperlihatkan evil smirk juga memainkan alis nya.

 

Dengan wajah merah padam, emosi yang meletup-letup aku taruh tas ku di tempat ku dan segera keluar dari ruang kelas berjalan dengan menghentakkan kaki ke toilet. Sesampai nya aku di toilet, aku melesat masuk ke salah satu bilik dan membanting pintu nya sampai-sampai beberapa siswi yang tengah berada di toilet hampir copot jantung nya lantaran ulah ku.

 

“dasar namja siall!! Kim TaeHyung!! BRENGSEK!! IDIOT!!” aku tak peduli lagi jikalau teriakan amarah ku bisa merobohkan seisi gedung sekolah ini.

 

“berani-berani nya ia mempermalukan ku di depan teman-teman sekelas!!” lanjut ku selagi menendang-nendang pintu bilik.

 

Selang beberapa menit kemudian aku keluar, mencuci muka ku. Sedari tadi ternyata bel tanda pelajaran di mulai telah berbunyi. Aku menghela napas panjang.

 

“Jika aku masuk ke kelas sekarang, Ssaem pasti akan membunuh ku. Apalagi ini pelajaran matematika” gumam ku menatap pantulan wajah ku di cermin.

 

“awas kau Kim TaeHyung!! Kau tak akan ku maafkan!” aku membuang napas kesal, tangan ku mengepal kuat.

 

Aku melangkah kan kaki ku ke taman belakang sekolah,

“Aku membutuhkan udara segar” gumam ku.

 

Sesampai nya di taman aku langsung berbaring di rerumputan, menggunakan tas ku sebagai bantal. Persetan dengan seragam ku kotor atau tidak, aku butuh tidur sebentar. Angin yang bertiup semakin membuat ku ingin memejamkan mata.

 

“oh? ____-ah? Kenapa kau bisa ada di sini?” dari jauh suara seorang namja yang ku kenal memaksa ku membuka mata.

 

“hm? Ah~ kau toh Park Jimin. Aku pikir siapa” ucap ku melihat ia duduk agak berdekatan dengan ku.

 

Aku pun bangkit duduk memeluk lutut ku lalu menoleh ke arah Jimin, “kenapa kau berada di luar kelas? Bukan kah sekarang masih pelajaran matematika?”

 

“Buku tugas matematika ku tertinggal di rumah alhasil Ssaem mengusir ku keluar kelas karna tak mengumpulkan tugas. Hei? Aku yang bertanya itu duluan pada mu?” ujar Jimin pada ku.

 

“Aigooya~! Tugas matematika! Kenapa aku bisa lupa! Haish~ nilai ku kosong satu”  rengek ku sambil menepuk jidat.

 

Jimin tertawa kecil membuat ku mendengus, “Aku kelamaan di toilet sampai-sampai aku tak dengar kalau bel mulai pelajaran telah berbunyi. Ini semua gara-gara Kim TaeHyung idiot itu!” ucap ku geram mengepal kuat tangan ku.

 

Tiba-tiba kejadian di kelas tadi kembali terlintas di pikiran ku. Sial nya suara TaeHyung terngiang-ngiang di telinga ku,

 

Kenapa ___-ah? Apa kau menyukai Jiminie?

 

Mengingat itu pipi ku terasa panas kembali, ku beranikan diri untuk menatap ke arah Jimin.

 

“ah! Sial! Kenapa ia menatap ku seperti itu!? B-bagaimana ini!?” batin ku.

 

Jimin menatap ku dengan pandangan yang agak sulit ku artikan. Terdengar ia meneguk ludah lalu memalingkan wajah nya yang sedikit merah merona. T-Tunggu dulu!?

 

“oh~ ayolah~ Jimin. Kau tak mungkin percaya begitu saja dengan perkataan si idiot itu bukan!?” rutuk ku dalam hati.

 

“hm..Eh.. ____-ah? Yang dikatakan TaeHyungie saat di kelas tadi-” ucap Jimin terbata-bata.

 

“Wae?” jawab ku.

 

Mendengar jawaban ku Jimin secara refleks menoleh ke arah ku, aku dan Jimin pun saling bertukar pandang untuk beberapa detik, lalu kami sama-sama memalingkan wajah.

 

“B-bagaimana ini? Bagaimana aku harus menjelaskan nya? Aku takut kalau ia akan salah paham nanti nya” batin ku.

 

“um.. ____-ah, n-nan j-johaeyo” ucap Jimin kembali menatap ke arah ku.

 

“Jiminie~~!” terdengar suara TaeHyung dari jauh, mulai melangkah ke sini.

 

“maldo andwae~” batin ku menangis.

 

“Ah! Kau disini rupa nya” ucap TaeHyung yang sudah berdiri di samping Jimin.

 

“Jiminie. Kenapa kau bisa duduk-duduk disini dengan yeoja gila ini?” TaeHyung menatap ku dengan tatap meledek.

 

Aku buru-buru mengambil tas punggung ku lalu segera berlari meninggalkan mereka berdua, “DIAM KAU IDIOT! INI SEMUA ADALAH SALAH MU!!”

 

“____-ah!” panggilan dari Jimin di belakang ku tak ku hirau kan, aku terus saja berlari.

 

 

Kaki ku kini membawa ku ke atap sekolah dengan asal ku taruh tas sekolah ku.

Aku lalu berdiri di dekat tiang pembatas bertopang dagu,

“Padahal kita berdua sudah saling minta maaf kemarin, tampak nya aku dan si idiot tak’kan mungkin bisa akur” gumam ku.

 

Terbesit di pikiran ku soal pernyataan dari Jimin tadi, Aku menghela napas panjang. Sebenarnya aku tak memiliki perasaan apa-apa terhadap Jimin. Well, maksud ku sempat. Haish~ Nde! Nde! Aku memang sempat mengagumi nya, iya! Sempat mengagumi Park Jimin yang semenjak awal semester ini menjadi teman sebangku ku.

 

Siapa yang tidak mengagumi nya coba!? Ia baik pada semua orang, jago dalam hal olahraga, tubuh nya juga boleh di katakan atletis *ehm! (hei! Jangan tafsirkan aku sebagai seorang byuntae! Aku ini hanya seorang yeoja normal), belum lagi saat ia tersenyum, aku suka melihat eyesmile nya itu. Memikirkan nya membuat senyum ku mengembang.

 

“aigoo! ___-ah! Kenapa diri mu seperti ini!? Sadar lah!” gumam ku selagi mengelengkan kepala dan menampar pipi ku. Buru-buru ku tepis pikiran ku tentang Park Jimin.

 

Aku menghela napas panjang lagi.

 

“Tuhan ku mohon satu hari saja. Aku ingin sekolah tanpa ada gangguan sama sekali. Satu hari saja” gumam ku.

 

 

^Ke’esokkan hari nya^

Hari ini aku berniat untuk tidak menyapa mereka berdua, si Kim TaeHyung yang idiot itu dan Park Jimin. Dengan langkah gontai aku melangkah masuk ruang kelas, sengaja ku pasang headset yang telah ku pakai dari rumah tadi sebagai tameng. Hitung-hitung supaya tidak ada orang-orang yang menyulut emosi ku pada hari ini.

 

Diam-diam aku edarkan pandangan ku, berharap tak menemukan sosok TaeHyung dan Jimin.

 

“Aman~” batin ku.

 

Aku menghela napas, menaruh tas ku di meja dan duduk di kursi. Kemudian aku melipat tangan ku dan menelungkupkan kepala menikmati lagu-lagu yang mengalun dari headset ku, baru beberapa menit mata ku terpejam.. tiba-tiba..

 

“Ya! ___-ah! Ireona eoh!”

Samar-samar ku dengar seorang yeoja memanggil dan mengguncang bahu ku.

Aku yang mendengar nya mengangkat kepala ku, ku lepaskan Headset yang bertengger di telingaku.

 

“hm? Wae? EumJi-ah?” jawab ku malas pada EumJi teman kelas ku.

 

“Kau di panggil ke ruang guru sekarang! Palli!” ujar EumJi sedikit meninggikan suara nya.

 

Aku sontak kaget dan membulatkan mata ku, “WAEYO!?”

 

“ah~ molla! Yang penting, kau cepat-cepat pergi ke ruang guru sekarang!” lanjut EumJi sembari menarik ku berdiri lalu menyeret ku keluar kelas.

.

.

.

“Annyeong haseo! Ssaem memanggil ku?” aku memberi salam dan membungkukkan badan ku sesampainya aku di ruang guru (di depan meja wali kelas ku lebih tepat nya!)

 

Ssaem menyambutku dengan tatapan tajam. Membuat ku bergidik ngeri.

 

Aku sedikit kaget juga, ternyata bukan hanya aku yang dipanggil oleh Ssaem. Kim TaeHyung yang idiot itu juga Park Jimin berdiri tak jauh dari situ. Aku membulatkan mata ku, Ku perhatikan wajah mereka terdapat beberapa luka & lebam.

 

“Apa mereka berkelahi?” batin ku menatap kedua orang itu yang berdiri menghadap Ssaem.

 

“____-ssi! Kau tau kenapa kau ku panggil ke sini!?” ujar Ssaem masih menatap tajam ke arah ku.

 

Aku hanya bisa menggelengkan kepala ku perlahan.

 

“berdasarkan pengakuan dari Kim TaeHyung-ssi, kau yang menyebabkan mereka berdua berkelahi” lanjut Ssaem.

 

Mata dan jantung ku serasa hampir copot dari tempat nya.

 

“Tuhan~ cobaan apa lagi ini?” rengek ku dalam hati.

 

 

Aku duduk dan menyenderkan kepala ku di bangku taman, angin yang bertiup di taman belakang sekolah ini membantu meredakan emosi yang tertumpuk di kepala ku. Aku menghela napas panjang dan mencoba memejamkan mata.

 

Kejadian di ruang guru tadi terekam dan berputar ulang di kepala ku tampak seperti sebuah film,

 

[Flash Back On]

“Berdasarkan pengakuan dari Kim TaeHyung-ssi, kau yang menyebabkan mereka berdua berkelahi pagi ini!” ujar Ssaem pada ku.

 

“Ssaem! Aku bahkan tak tahu kalau mereka berdua ini berkelahi tadi pagi” bela ku.

 

Aku menatap kesal ke arah TaeHyung dan Jimin. TaeHyung tentu saja mengacuhkan pandangan ku sedangkan Jimin, ia hanya menunduk demi menghindari tatapan kesal ku.

 

“Lalu kata-kata siapa yang harus Ssaem percayai?” Ssem menatap ku dan TaeHyung bergantian.

 

“Saya berkelahi dengan Jimin, karna saya tak suka melihat nya mendekati yeoja yang ku suka Ssaem!” ucap TaeHyung menatap tegas pada Ssaem.

 

“MWORAGU!?” pekik ku kaget seraya menatap ke arah TaeHyung.

 

“Memangnya kenapa kalau aku mendekati ___, TaeHyung-ah? Kau kan bukan Namjachingu nya!” Jimin ikut menatap TaeHyung.

 

“Tetap saja tidak boleh! ____ itu yeoja ku!” TaeHyung balik menatap Jimin.

 

“Tapi aku menyukai ____! Kau tidak berhak melarang ku mendekati nya” Jimin meninggikan suara nya.

 

Aku dan Ssaem hanya menatap mereka berdua bergantian layak nya seorang penonton yang sedang asyik menonton drama.

 

“Aku yang menyukai ____-ah duluan! Aku sudah menyukai nya semenjak aku sekelas dengan nya!”

 

Pernyataan TaeHyung membuat mata ku terbelalak.

Aku bahkan tak berkedip, melihat ke arah TaeHyung.

 

TaeHyung lalu membalas tatapan ku. ia mendengus kesal sementara Jimin terlihat geram mengepalkan tangannya.

 

“Tampaknya permasalahan ini bisa kalian selesaikan sendiri! Ssaem harap kalian selesai kan secepatnya! Jangan sampai kalian berkelahi lagi!” ujar Ssaem menarik napas panjang sembari menyuruh kami bertiga keluar dari ruang guru. TaeHyung dan Jimin pun bergegas keluar, meninggalkan ku yang masih terdiam di posisi ku yang tadi.

 

“____-ssi. Ssaem tak percaya kau di perebutkan oleh teman sekelas mu” Ssaem tertawa, menepuk-nepuk pundak ku.

 

Aku langsung berwajah masam mendengarnya, “Ssaem macam apa bapak ini!?” pikir ku memutar bola mata ku malas.

[Flash Back Off]

.

.

.

“Geser sedikit! Aku ingin duduk!”

 

Tanpa membuka mata pun aku sudah tahu betul siapa pemilik suara berat ini, aku masih tak bergeming dari tempat ku.

 

“Haish~ mau apa lagi si idiot ini!” pikir ku.

 

“Andwae! Jauh-jauh Sana! Duduk saja di tanah atau di rumput! Aku tak peduli!” pinta ku pada nya.

 

Ia terdengar mendengus kesal. Tiba-tiba saja ia menggeser posisi badan ku dan duduk di samping ku. Menyadari perbuatan nya aku sontak membuka mata ku menatap tajam ke arah nya. TaeHyung hanya terdiam menatap ke depan.

 

Tak satu pun dari kami berbicara saat itu,

 

“hm. Mianhae~ telah menyeret nama mu saat di ruang guru tadi” akhir nya namja ini membuka suaranya setelah beberapa menit.

 

“Terserah mu saja lah~ Yang kalian berdua lakukan itu, termasuk tindakan yang ceroboh & bodoh menurut ku” jawabku enteng lalu kembali menyenderkan kepala ku di sandaran bangku taman.

 

“K-Kau..” TaeHyung mengantungkan kalimat nya.

 

“Mwo?” ucap ku malas tanpa menatap ke arah nya.

 

“K-kau sungguh-sungguh…m-menyukai Jiminie?” TaeHyung kini menundukkan kepala nya.

 

Entah mengapa lidah ku terasa keluh, entah apa yang harus ku katakan pada TaeHyung. Jauh di dalam hati ku, aku sedikit takut menjawab pertanyaan nya. Jujur, aku takut akan menyakiti perasaan nya. Astaga!! Ada apa dengan diri ku!? Apa yang terjadi pada ku!?. aku mengutuk diri ku sendiri dalam hati. Bisa-bisa nya aku mengasihani namja idiot yang hampir setiap saat membuat ku emosi sampai-sampai kepala ku serasa mau meledak!?

 

“Kalau ku bilang iya? Bagaimana perasaan mu?” ujar ku enteng, ku beranikan diri untuk melihat bagaimana reaksi nya sembari tersenyum miring.

 

TaeHyung masih terdiam dengan kepala menunduk, ia menggenggam bahkan meremas kuat kepalan tangan nya. Tak kunjung mendapat jawaban dari TaeHyung, membuat ku jenuh.

 

Aku menghela napas panjang. Segera beranjak dari bangku taman, “Aku akan kembali ke kelas duluan! Sebentar lagi pelajaran akan di mulai, aku tak ingin kehilangan poin lagi” ucap ku ketus.

 

Namun TaeHyung mencegat ku dengan menahan tangan ku,

“Kenapa Jiminie? Kenapa harus ia?” Kata nya kepala nya masih saja menunduk.

 

Sebelum aku melepaskan tangan nya dari lengan ku, “Setidak nya, ia tak pernah membuat kepala ku serasa mau meledak TaeHyung-ah” ucap ku mulai melangkah meninggalkan nya.

 

“Sebenci itu kah kau pada ku?”

Hanya itu kata-kata terakhir yang terdengar pelan di telinga ku. Tanpa menoleh ke belakang lagi aku percepat laju jalan ku sehingga aku jadi sedikit berlari, tanpa sadar satu bulir airmata mengalir di pipi kanan ku.

 

 

Di pelajaran sejarah ini suasana kelas tampak tenang. Mungkin karna pelajaran ini termasuk pelajaran yang membosankan. Ada beberapa murid yang bermain, berbincang bahkan ada yang tidur diam-diam.

Sesekali ku curi kesempatan untuk melirik ke arah TaeHyung yang duduk di samping ku (Yang Sebelumnya adalah tempat duduk nya Jimin), ia menopangkan dagu nya dengan tangan kanan nya sehingga ia tak menghadap ke arah ku dan mencorat-coret buku pelajaran nya bosan. Aku jadi tak bisa melihat ekspresi wajah nya. Lalu aku beranikan diri untuk menoleh ke arah Jimin di belakang yang duduk di samping HoSeok. Dalam hati aku sedikit bersyukur,

“Syukurlah luka nya telah di obati” batin ku.

Namun Jimin yang menyadari tatapan dari ku tampak berusaha menghindari tatapan ku dengan berpura-pura fokus pada pelajaran dan mencatat sesuatu di buku nya.

Aku mendengus kesal.

 

“Akting mu Park Jimin benar-benar payah” cibir ku dalam hati.

 

 

“Yobosseyo ____-ah? Mianhae~ Nanti malam Eomma akan pulang agak lama, jadi kau boleh jalan-jalan tapi ingat waktu ___-ah!” begitu pesan suara dari eomma yang ku terima di ponsel ku.

Aku menghela napas panjang. Aku sekarang tengah berdiri di halte bus, berdecak kesal mendengarkan pesan dari eomma tadi. Ku lirik jam di tangan ku.

’18.45’

 

Aku kembali menghela napas,

“Kalau saja eomma mengirimi pesan ini lebih awal, aku pasti berlama-lama jalan di mall nya”

 

“aku tak bisa ke perpustakaan, denda yang bulan kemaren belum ku bayar” rengek ku mem-pout-kan bibir ku.

 

“ah! Sial! Dingin sekali!” gerutu ku sambil mengusap-usap lengan ku.

Aku masih menggunakan seragam ku karna tadi sehabis pulang sekolah EumJi dan yang lain nya mengajak ku berjalan-jalan ke mall. Beruntung eomma masih berada di kantor, kalau tidak? Sudah pasti aku akan di bombardir dengan pertanyaan-pertanyaan dari nya.

 

“____-ah?” Suara seorang namja membuyarkan lamunan ku.

 

“eoh? Jimin-ah?” gumam ku.

Jimin memakai setelan kasual dan snapback di kepala nya.

 

“Kenapa kau masih memakai seragam?” tanya nya.

 

“Wah~ Ia tampan” batin ku.

Setelah beberapa detik memandangi Jimin dengan mata berbinar-binar,

“___-ah? Gwaenchanayo?” Jimin tengah melambaikan tangan nya di depan wajah ku.

 

“ah! Sial!” rutuk ku dalam hati.

 

“Nde?” ucapku.

 

Jimin hanya tertawa, “Aku tanya, kenapa kau masih memakai seragam?” menampakkan eyesmile nya yang sangat ku suka itu.

 

Aku mengangguk pelan, “Ah~ Aku baru saja pulang dari mall bersama teman-teman tadi. Hehe~” jawab ku.

 

“Kau sendiri?” ucap ku menatap bingung ke arah nya.

 

“aku hanya ingin jalan-jalan sebentar. Hitung-hitung untuk refreshing. Hehe~” Jimin tersenyum.

 

“ah ia. Kau ada rencana sekarang?” tanya Jimin.

 

“hm. Molla Jimin-ah. Sepertinya tidak ada” ujar ku pada nya.

 

“hm. ___-ah?” ia kembali bertanya pada ku.

 

“Nde? Waeyo?”

 

“Apa kau keberatan.. m-menemani ku jalan-jalan?” ucap Jimin terdengar dan terlihat agak gugup.

 

Aku tersenyum, “Aniya, why not?”

.

.

.

Kami berdua menyusuri jalanan kota, berkeliling, melihat-lihat toko souvenir dan banyak lagi.

Udara di malam hari semakin terasa dingin, berulang-ulang kali ku usap lengan dan telapak tangan ku, juga tak habis-habis nya mengumpat dalam hati karna tidak membawa jaket yang tebal. Bahkan kini tubuh ku terlihat sedikit gemetaran. Jimin yang tampak nya menyadari perbuatan ku ini, segera melepas jaket nya dan memakaikan nya pada ku.

 

Aku membulatkan mata ku terlihat sedikit kaget atas aksi nya,

“Jimin-ah. Aku-” belum selesai ucapan ku, Jimin menyela.

 

“Gwaenchana~ kau lebih membutuhkan nya. pluss aku sudah memakai beberapa lapis baju juga hoodie yang tebal” Jimin tersenyum menunjuk-nunjuk hoodie yang tengah ia pakai.

 

“Gomawoyo~” jawab ku membalas senyuman nya.

 

Jimin mengangguk.

 

“___-ah apa kau lapar?” Jimin menoleh ke arah ku.

 

“hm? A-ani”

 

*kruyuuk!*

 

Aku menunduk malu, “Damnit!” rutuk ku dalam hati.

 

Jimin menutup mulut dengan tangan nya terlihat menahan tawa.

 

“Berhenti tertawa!” aku mem-pout-kan bibir ku dan menatap ke arah lain.

 

“arra! Arra!” Jimin tertawa kecil mengangkat tangan nya menyerah.

 

Aku menatap nya datar.

 

Tapi ia hanya menengok kanan-kiri, “Kajja! Kita cari makanan yang enak!” ucap nya.

 

Jimin langsung saja menggenggam tangan ku, menarik ku sehingga aku berjalan maksud ku setengah berlari di samping nya.

 

Ku rasakan pipi ku terasa panas di karenakan aksi spontan nya ini,

“ah~ Jadi begini rasa nya berkencan dengan seorang namja”

“Berkencan dengan Jimin~”

Eh? T-tunggu dulu!!

“YAA!!! ____ pabbo! Sadarlah! Ini bukan date! Hanya jalan-jalan! JALAN-JALAN!” racau ku dalam hati sembari mengetuk-ngetuk kepala ku pelan. (Beruntung Jimin tidak memperhatikan)

 

 

Setelah mengisi perut, kami berdua kembali ke halte bus tempat kami bertemu tadi sekalian bersiap kembali ke rumah masing-masing.

 

“Gumawoyo~ ____-ah! Telah menemaniku hari ini. Aku sangat bersenang-senang” Jimin tersenyum riang.

 

Aku mengangguk, “Nado Jimin-ah! Gumawoyo~ Telah mengajak ku menghabiskan waktu hari ini” jawab ku.

 

“Nde! Kau, apa perlu ku antar pulang?” lanjut Jimin pada ku.

 

“ah~ aniya. Gwaenchana. Aku bisa pulang sendiri”

 

“Tapi. Ini udah malam” kata Jimin dengan raut penuh kekhawatiran.

 

Aku menepuk pundak nya sembari tersenyum, “Gwaenchana. Kau tidak perlu khawatir” timpal ku.

 

Aku melepas jaket yang ku pakai dan mengembalikan nya pada Jimin.

 

“baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksa” lanjut Jimin, ia menerima jaket itu dan terlihat sedikit memaksakan senyum nya.

 

“Ah! Bus ku sudah tiba!” ucap ku melihat bus.

 

“hm. Hati-hati di jalan ___-ah!” ucap Jimin sebelum aku bergegas memasuki bus.

 

Aku mengangguk pada nya.

 

Aku pun mulai mencari tempat duduk yang menurut ku nyaman dan menoleh ke arah Jimin yang masih berdiri di halte. Melambaikan tangan ku pada nya, ia pun membalas.

Mulut Jimin terlihat mengucapkan,

“an-nyeong!”

pelan-pelan tanpa suara lalu tersenyum dan kembali melambaikan tangan nya. Aku tersenyum.

 

Bus pun mulai bergerak meninggalkan halte, aku pun mengambil headset dan ponsel dari kantong seragam ku.

Tiba-tiba bus berhenti, beruntung aku sempat menahan badan ku jadi kepala ku tak sempat terantuk tempat duduk di depan.

Seseorang dengan buru-buru menaiki bus, ia terlihat memakai seragam namun aku tak terlalu memperhatikan jelas wajah nya dikarenakan topi yang ia pakai menutupi sebagian wajah nya. (Jujur aku tak terlalu peduli pada orang ini)

Aku mendengus kesal karna aksi nya, kemudian memasang headset di telinga ku lalu mendengarkan playlist lagu-lagu BTS di ponsel ku.

.

.

.

Tut. tut. tut

“Apa eomma belum pulang dari kantor?” gumam ku menatap cemas layar ponsel ku.

 

Ku lirik jam tangan ku,

’21.53’

Sudah 4 kali aku menelepon ke nomor eomma namun eomma tak kunjung mengangkat telpon dari ku. Membuat ku berasumsi kalau eomma belum ada di rumah. Aku menghela napas panjang.

“Semoga aku sampai di rumah duluan. Kalau tidak~” racau ku dalam hati.

Pikiran ku di penuhi hal-hal yang akan di pertanyakan dan yang akan di lakukan eomma jika aku pulang semalam ini dengan masih berseragam lengkap.

Aku tersenyum getir.

 

Tap. Tap. Tap.

Samar-samar ku dengar langkah kaki tak jauh dari belakang ku. Tapi ku geleng-gelengkan kepala ku guna menepis ketakutan yang mulai menyelimuti pikiran ku. Sengaja ku pelankan volume lagu yang ku dengar dari headset di telinga ku dan sesekali aku menoleh ke arah belakang, takut-takut figur di belakang ku ini berani macam-macam dengan ku. Aku mempercepat laju jalan ku bahkan aku sekarang tengah berlari kecil.

 

Aku menghela napas dan mengelus dada ku, “Ah! Syukurlah orang itu tidak mengikuti ku lagi” batin ku kini terasa lega.

Setelah beberapa menit sosok yang sedari tadi mengikuti ku dari belakang tidak terlihat lagi.

 

Tinggal jarak satu blok lagi baru aku bisa sampai di rumah. Dan sial nya sebelum itu aku harus melewati satu gang yang menurut ku agak menakutkan. Entah mengapa aku tidak memperhatikan ada beberapa orang yang tengah berdiri di samping jalan itu.

 

Tiba-tiba…

 

“hei~ coba liat apa yang kita dapat hari ini?”

Seorang ahjussi menghalangi jalan ku. Dan tampak seorang teman nya berjalan mendekati sembari tersenyum liar ke arah ku.

 

“Silhyehamnida ahjussi. Bisa kah kau minggir sedikit aku ingin lewat” ucap ku dengan sedikit memelankan suara ku agar terlihat sopan di depan nya.

 

Kedua Ahjussi itu tertawa lepas dan tercium bau alkohol dari mereka.

 

“Ah! Sial! Ini tidak bagus!” aku kembali mengumpat dalam hati.

Aku mencoba untuk menampakkan ekspresi tenang di wajah ku supaya ahjussi yang tengah mabuk ini tak memandang ku lemah.

 

“G-Geurrae! Geurrae! S-Silahkan lewat! M-Mian telah m-menghalangi jalan mu” salah satu ahjussi itu sedikit membungkuk dan mundur beberapa langkah dengan sedikit tertatih.

 

Aku membungkukkan badan ku berniat untuk melewati dan berencana untuk lari meninggalkan mereka. Namun baru beberapa langkah di belakang mereka, sebelum bergegas untuk berlari tangan nya telah menahan lengan kanan ku. Mencengkram nya kuat, membuat lengan ku terasa ngilu dan sakit. Aku ingin meringis tapi tetap ku pasang wajah tenang, aku harus bertahan!

 

“Kau pikir kami akan melepaskan mu begitu saja!? Kau pikir kami ini bodoh eoh!?” bentak ahjussi yang mencengkram lengan ku.

Sedangkan teman nya sekarang berada di belakang ku, mencengkram kedua bahu ku.

 

“agasshi cantik seperti mu tidak mungkin kami sia-siakan! Sayang kalau belum di nikmati. Hahaha!” ucap ahjussi di belakang ku.

 

Kata-kata mereka membuat ku bergidik ngeri.

“ottokhae?” pikir ku.

 

Ahjussi yang mencengkram lengan ku menyeringai lebar lalu mulai mendekati wajah ku. Aku yang sedikit membaca pergerakan nya, menundukkan kepala demi menghindari ahjussi bejat ini. Ahjussi dibelakang ku pun tak tinggal diam, ia sekarang mencengkram kedua pergelangan tangan ku sehingga bagian depan tubuh ku tak terhalang. Keringat dingin ku pelahan mengucur tatkala ahjussi di depan ku membungkam mulut ku dan tangan satu nya mencoba merobek blazer dan seragam ku.

 

“Seseorang tolong aku!” teriak ku dalam hati.

Aku berusaha keras untuk lepas dari cengkraman kedua ahjussi ini, namun kekuatan ku sungguh tak sebanding dengan mereka.

 

*plop! Plop!*

 

Kedua kancing seragam ku terlepas dan terlempar, pandangan ku sedikit mengabur dikarenakan airmata yang perlahan menggenang di pelupuk mata ku.

 

“hmph! L-Lepaskann akuu! Hmphhh!” aku kembali berteriak namun suara ku tertahan karna tangan ahjussi ini menutup mulut ku.

 

“Jangan menangis! ____-ah! Jangan menangis! Lawan mereka!”

Perlahan ku kumpulkan kekuatan ku.

 

Langsung ku gigit tangan ahjussi itu, ia pun meringis kesakitan.

 

“SESEORANG TOLONG AKU!!!”

urat leher ku rasa nya mau putus tapi aku tak peduli yang penting aku terlepas dari kedua ahjussi yang brengsek ini.

 

“dasar wanita bodoh!!”

ahjussi yang barusan meringis kesakitan itu langsung menampar pipi kanan ku. Airmata ku pun tak terbendung lagi, aku meringis menahan sakit di pipi ku.

 

*grepp!*

 

“APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP!? KAU INGIN MATI HUH!?”

Bentak nya melotot ke arah ku sembari mencengkram kuat kerah seragam ku, mengguncang tubuh ku yang sedikit terangkat.

 

Aku tersenyum miring, “lebih baik aku mati daripada menjadi pemuas nafsu konyol mu itu!” ucap ku sebelum aku meludah ke wajah nya.

 

Wajah ahjussi itu terlihat merah padam menahan amarah bahkan mata nya seperti akan keluar dari tengkorak nya,

 

“GEURRAE!! AKAN KU TURUTI PERMINTAAN MU!” ia kembali membentak ku.

 

Ia pun menampar ku kuat-kuat. Pandangan sebelah mataku sedikit mengabur, sudut bibir ku pun sedikit berdarah karna ulah nya.

 

“AKU SARANKAN KAU UNTUK MENYINGKIRKAN TANGAN KOTOR MU DARI NYA PAK TUA!!!”

Tiba-tiba terdengar teriakan dari seorang namja yang tampak nya ku kenal.

 

Perlahan ku menoleh ke asal suara tersebut, membulatkan mata ku.

 

 

“T-TaeHyung-ah”

 

.

 

T.B.C

 

.

 

Author notes : *Ketawa jahat* Hohoho! Dengan kejam nya saya taruh t.b.c se’enak jidat nya author~

Gumawoyo readers-nim yang sudah membaca ff debut ku ini. *bow*

Tak lupa juga Author ucapkan mianhae yang sebesar-besar nya untuk alur dan plot cerita yang terkesan rada’ ngawurr nan gaje ini. *deep bow*

 

Ah iya! Jangan lupa review nya nde? Readers-nim. Kritik dari readers-nim sangat diperlukan untuk kemajuan Author dalam menulis FF.

Terimakasih.

 

T & K

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s