FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 12


PicsArt_1434709030654

Author : AL lee

Title : DARK BLUE DREAMCATCHER

Cast :

  • Jang Woo Ren (OC)
  • Min Yoongi
  • Jung Hoseok
  • Park Jimin
  • Kim Soekjin
  • Kim Namjoon
  • ect

Genre  : School life, romance, comedy(?), sad(?)

 

 

Woo Ren pov

@Rooftop

Yoongi mengehntikan langkahnya di dekat tembok pembatas atap sekolah, dia menarik tanganku agar aku berdiri di hadapannya. Dilihat dari raut wajahnya sepertinya dia sedang kesal. Dia menatapku tepat di manik mata. Perlahan dia melangkahkan kakinya mendekat ke arahku, reflek aku melangkah mundur. Dia terus mendekat sambil menatapku dengan tajam sampai akhirnya aku tak bisa bergerak lagi karena punggungku sudah menempel di tembok yang tingginya hanya sebatas punggungku. Kedua tangannya memegang bagian atas tembok sehingga menciptakan ruang. Dia mendekatkan wajahnya perlahan. Apa yang harus aku lakukan? Aku bisa saja jatuh kalau terus memundurkan kepalaku, tembok pembatas ini hanya setinggi dadaku. Sekarang wajahnya benar-benar dekat. Apa dia ingin menciumku? Ya ampun, kenapa laki-laki ini terus berusaha menciumku? Sepertinya benar, pandangannya sekarang tertuju pada bibirku, bahkan dia mulai memiringkan kepalanya. Oh God… tolong aku. Ketika dia kembali menatapku aku langsung memberikan tatapan tajamku. Seketika dia berhenti. Masih dengan posisi yang sama dia terdiam menatapku. Tak berselang lama akhirnya dia kembali ke posisi normalnya seraya menghembuskan nafasnya yang terdengar jelas di telingaku.

“Kenapa kau membawaku ke sini?” tanyaku dingin

“Apa maksud semua ucapanmu pada Jin tadi?”

“Aku hanya bermaksud mendekatkan Minah dengannya.”

“Memangnya kenapa itu harus?”

“Karena Minah menyukainya?”

Keningnya berkerut, “Gadis itu? Gadis yang sering bersama si bodoh Namjoon?”

“Iya. Oh ya, Namjoon tidak bodoh.”

“Kenapa kau membelanya? Bukankah kau membencinya sama seperti kau membenci Hoseok?”

“Aku tidak memebenci mereka. Mereka temanku, dan mereka orang yang baik.”

“Apa?!”

“Namjoon selalu bersikap baik padaku, begitu juga Hoseok, dia selalu mempedulikanku dan juga… melindungiku.”

“Kau…” kerutan di keningnya semakin jelas terlihat. “Apa kau menyukainya?”

“Ani.”

“Lalu kenapa membelanya seperti itu?”

“Aku tidak membelanya, aku hanya mengatakan kebenarannya.”

Tiba-tiba kerutan ke keningnya itu meghilang. Matanya lurus menata mataku. Dia seperti sedang memperhatikan sesuatu. “Apa kau habis menangis semalaman?”

Mendengar itu aku langsung memalingkan wajahku. “Ani.”

“Jujurlah padaku! Katakan, apa yang membuatmu menangis?”

Aku hanya terdiam tak berniat menjawab pertanyaannya. Aku tahu dia tidak akan menyerah begitu saja, dia pasti akan terus menanyaiku. Yeah, dia adalah orang yang keras kepala dan selalu memaksakan kehendaknya. Yoongi menangkupkan kedua tangannya ke wajahku lalu memutar kepalaku agar aku melihat ke arahnya.

“Katakan padaku.” Benarkan apa yang ku bilang. Hah… dia itu selalu saja seperti ini.

“Aku akan mengatakannya jika kau mau menjawab pertanyaanku.”

“Apa?”

“Aku melihat kau dan Nami eonni saling bertatapan, dia menatapmu dengan mata sendunya, tapi kau menatapnya dengan sangat tajam. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Tatapannya melemah. Dia menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Aku membencinya.”

“Tapi kenapa?”

“Kesempatanmu bertanya sudah habis Wooren, sekarang katakan padaku.”

Aku melepaskan tangannya dari wajahku. Aku menghela nafasku sambil memutar tubuhku ke arah tembok pembatas. Pandanganku tertuju pada pemandangan kota dengan gedung-gedung dan atap rumah yang bisa terlihat dari sini.

“Aku kehilangan suatu benda yang sangat penting untukku.”

“Apa itu?”

“Sebuah benda kecil berbentuk dreamcatcher berwarna birutua.”

Entah mengapa dia terdiam. Dari ekor mataku aku tahu kalau dia sedang memandangiku dengan tatapan yang tak ku tahu maksudnya itu. Karena dia hanya terdiam maka aku juga terdiam. Mungkin aku terlihat bodoh, hanya kehilangan benda seperti itu saja sampai menangis semalaman, sampai mataku bengkak seperti ini. Tapi benda itu sungguh berarti untukku. Mungkin akan banyak dipasaran tapi yang itu menyimpan semua cerita dibalik kenanganku bersama eomma dan juga Jungkook.

“Memang apa pentingnya benda itu untukmu?” dia akhirnya buka suara

“Benda itu sangat berarti untukku. Benda itu adalah pemberian eommaku sebelum dia meninggal. Benda kecil itu menyimpan banyak cerita tentang aku, eomma dan juga… Jungkook.”

“Laki-laki itu lagi. Apa kau begitu mencintainya?”

“Entahlah, tapi itu yang aku rasakan dua tahun lalu… ya, aku sangat mencintainya.”

“Aku bisa memberikannya jika kau mau.”

“Kau tidak bisa menemukan yang sama dengan itu. Eomma yang membelikannya untukku ketika kami sedang berjalan-jalan di sebuah tempat wisata di Asan, kota tempat eomma dilahirkan… dan dimakamkan. Aku yang meminta dibelikan karena aku melihat Jungkook punya benda seperti itu di kamarnya, dengan warna yang sama, birutua. Hanya saja punya Jungkook besar, dreamcatcher yang sesungguhnya, sedangkan punyaku hanya sebuah gantungan kecil berbentuk dreamcatcher. Aku selalu membawanya kemanapun. Dan semenjak sepeninggalnya eomma benda itu selalu menemaniku datam keadaan apapun. Aku tau ini terdengar bodoh, menjadikan benda kecil yang aneh sebagai teman. Setiap kali aku memandangi benda itu aku seakan merasakan kehadiran eomma di sampingku, karena itulah aku selalu bercerita dengan benda itu, seperti orang gila… itu karena aku merasa seperti sedang bercerita dengan eomma.” Aku menceritakannya sambil memandang lurus ke depan

Yoongi memasukkan tangannya ke dalam saku jas sekolahnya. Dia mengeluarkan sesuatu dari sana, entah apa itu. “Ige. Aku kembalikan padamu.”

Aku menoleh, melihat ke arah benda itu. Betapa terkejutnya aku begitu melihat benda di tangannya itu. Itu adalah dreamcatcher birutuaku, bagaimana bisa ada padanya? Aku menatap Yoongi tak percaya.

“Ba-bagaimana itu bisa ada padamu?”

“Saat aku berpapasan denganmu di lorong sekolah benda ini terjatuh dari tasmu. Saat itu kau berpenampilan sebagai Cool girl.”

“Kalau kau sudah tau itu milikku kenapa kau tidak langsung memberikannya padaku?”

“Aku kira akan menarik jika aku menyimpannya. Dan tak disangka, aku akan punya hubungan seperti ini dengan sosok dibalik masker hitam itu.”

“Kau jahat sekali, membiarkanku terus menangis karena kehilangan benda itu.”

“Jadi kau sudah sering menangis seperti itu karena kehilangan ini?”

“Tentu saja, itu sangat berharga bagiku.” aku menatapnya tajam

“Jeongmal minhae. Aku tidak tau jika ini sangat berharga bagimu.”

“Sekarang kembalikan!” aku berusaha mengambil benda itu dari tangannya, tapi dia lebih dulu menarik tangannya dan menjauhkannya dariku. “Kau mau ini kembali?” sekarang apa maunya? Dia tersenyum licik padaku

“Apa maumu?”

“Kau harus berkencan denganku besok.”

“Mwo?! Lagi? Aigoo… “

“Yang kemarin itu gagal karena laki-laki bernama Jungkook itu.”

“Tidak bisa, aku sibuk.”

“Sibuk apa? Kau sudah berhenti dari pekerjaanmu.”

“Aku sibuk menyibukkan diriku sendriri.”

“Mwo?” dia tertawa, “Yasudah kau tak akan mendapatkannya. Hm.. sebaiknya aku membuangnya, aku tak memerlukannya, bahkan pemiliknya tak ingin dia kembali.” Yoongi memandangi gantungan dreamcatcher di tangannya dengan tatapan cemasnya dan bibirnya yang mengerucut. Dia itu menyebalkan sekali.

Dengan cepat aku menggerakkan tanganku untuk merebutnya tapi dia bergerak lebih cepat dariku, dia memasukkan benda itu ke dalam saku celananya, aku tak bisa merebutnya. Aku mendengus kesal. “Kembalikan.” Kataku dingin.

“Sudah ku bilang kau harus berkencan denganku kalau ingin mendapatkannya.”

“Kan kita sudah berkencan beberapa hari yang lalu.”

“Kalau begitu… cium aku.”

“MWO?!”

Tanpa aba-aba tangan kanannya meraih tengkukku sedangkan tangan kirinya memgang bahuku. Perlahan dia mendekatkan wajahnya sambil terus menatapku, dia memiringkan kepalanya ketika sedikit lagi bibirnya akan menyentuh bibirku. Aish… dia itu benar-benar membuatku gila.

“Ya baiklah! Aku memilih berkencan. Apa kau puas?”

Dia kembali ke posisi semula sambil terkekeh. Dia itu benar-benar menyebalkan.

*****

Author pov

“Woorenie.” Gadis itu menoleh pada halmoninya yang sedang berdiri di ambang pintu kamarnya

“Kemarilah.” Gadis itu menurut, dia melangkahkan kakinya menghampiri halmoninya.

Wanita yang sudah lanjut usia itu masuk ke dalam kamarnya diikuti cucu perempuannya. Mereka duduk di pinggiran tempat tidur milik wanita itu.

“Ada apa halmoni?” tanya gadis itu lembut

“Aku ingin menanyakan sesuatu. Apa yang dikatakan appamu itu benar? Kalau kau bekerja paruh waktu di sebuah toserba?”

Gadis itu menghela nafasnya lalu mengangguk.

“Tapi kenapa?”

“Karena aku ingin mendapatkan uang untuk membantu anak-anak jalanan halmoni. Selama ini aku menggunakan gajiku untuk membantu mereka, setidaknya agar mereka bisa makan.”

Mendengar jawaban yang keluar dari mulut cuucnya, wanita itu merasa tersentuh. Dia merasa bersukur memiliki cucu cantik yang baik hati seperti yang ada di hadapannya saat ini. Nenek itu tersenyum menatap cucunya.

“Kau sangat baik Woorenie. Kenapa kau tidak memintanya pada appamu? Dia punya uang yang cukup untuk membantu anak-anak jalanan itu.”

“Apa appa akan peduli pada mereka? Bahkan appa saja tak peduli padaku.”

“Tentu. Appamu akan memberikannya jika kau memintanya. Dia akan memberikan apa yang kau inginkan.”

Gadis itu tersenyum kecut, “Aku tidak percaya pada appa.”

“Apa kau percaya pada halmonimu ini?”

“Tentu saja. Aku sangat mempercayaimu halmoni.” Gadis itu tersenyum

“Kalau begitu percayalah pada perkataanku, kalau appamu sebenanrnya sangat menyayangimu. Appamu sangat peduli padamu, bahkan setiap hari dia selalu menyempatkan diri menanyakan keadaanmu padaku saat dia sedang bekerja di kantor. Dia sering meminta bibi Hwan dan bibi Kim untuk memasak makanan yang kau suka.”

Gadis itu hanya terdiam mendengarnya. Sebenarnya dia ingin menentang perkataan halmoninya, dia ingin mengelak sebuah kenyataan yang tidak diketahuinya itu. Karena di matanya appa-nya adalah orang yang jahat, tidak mempedulikannya dan juga mendiang eomma yang sangat dicintainya itu. gadis itu membenci appa-nya.

“Aku menyayangimu halmoni.” Gadis itu memeluk wanita tua di sampingnya itu. Begitu juga wanita itu, dia memeluk erat cucu tersayangnya. Ada kesedihan yang tersirat di hati wanita renta itu, entah mengapa. Sebenarnya itu adalah suatu bentuk pernyataan gadis itu bahwa dia sebenarnya tak bisa mengakui perkataan halmoninya, dia ingin bilang bahwa dia tak bisa mempercayai appa-nya dan hanya wanita tua itu yang disayanginya karena memang saat ini hanyalah halmoni yang ia punya. Tanpa disadari gadis itu wanita tua yang sedang memeluknya erat itu menitihkan air mata, entah mengapa dia tak ingin melepaskan gadis itu dari pelukannya. Hatinya terasa pedih pada kenyataan di sisa-sisa hidupnya ini. Ya… itulah yang dia rasa karena umurnya yang sudah tua itu.

*****

Gadis itu terus memandangi appa-nya. Dia ingin sekali berbicara pada appa-nya itu namun dia terlalu malas untuk memulainya duluan. Suapan demi suapan nasi masuk ke dalam mulutnya tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Sejujurnya dia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk mengatakannya. Halmoni yang duduk di sebelahnya menoleh ke arahnya, sepertinya wanita tua itu menyadari kalau sedari tadi cucu cantiknya itu memandangi appa-nya. Wanita itu mengalihkan pandangannya pada pria paruh baya yang gagah di dekatnya. Seperti mengetauhi tatapan itu, pria itu membalas tatapan wanita itu lalu beralih menatap anak perempuannya yang sedang memandang ke arahnya.

“Ada apa?” tanyanya pada gadis yang duduk di samping wanita tua

Akhirnya, gadis itu bisa berbicara pada appa-nya tanpa harus memulainya terlebih dulu.

“Aku sudah menuruti perintamu, sekarang tepati janjimu.”

“Hm.” Pria itu menganggukkan kepalanya lalu merogoh saku jasnya

“Inikan maksudmu?” dia megantungkan kunci motor di tangannya

“Berikan padaku.”

“Ini.” dia meletakkannya di dekat piringnya, “Kalau kau masih pulang malam itu berarti kau masih ke toko itu, dan aku tak akan segan melakukan apa yang aku katakan.”

Setelah meminum air putih di gelasnya gadis itu segera bangun dari bangkunya, menghampiri tempat appa-nya lalu mengambil kunci dan pergi tanpa basa-basi lagi.

“Wooren!” gadis yang sudah diambang ruang makan menoleh ketika mendengar suara perempuan tua yang memanggilnya

“Hati-hati ya.” Dia tersenyum dengan manisnya lalu menganggukkan kepalanya

*****

Hoseok pov

Setelah mengunci motorku aku memebuka helm yang membungkus kepalaku. Aku menoleh ketika mendengar suara motor yang berat, bukan hanya aku, tapi semua murid-murid yang ada di parkiran. Seketika senyumku melebar, gadis itu kembali.

Dia memarkirkan motornya sejajar tak jauh dari motorku. Aku terus memandangi gadis yang sedang turun dan membuka helmnya itu, aku masih duduk di atas motorku. Dia melihat ke arahku, mata kami bertemu, dia segera menundukkan pandangannya lalu berjalan pergi.

@Class 2-1

“Ya! Namjoon, kau pelit sekali, biarkan aku melihatnya.” Aku hanya tertawa ringan melihat kedua sahabatku ini berebut sebuah kotak merah yang di pegang Namnjoon

“Tidak! Ini bukan untukmu, berhentilah memaksaku Jimin!”

“Hey… Hey. Kalian berebut terus, kalian bahkan tak mempedulikan keberadaanku.” Ucapku di sela-sela adegan tarik-menarik kotak merah itu

“Oh mian Hoseok-ak, aku tak bermaksud seperti itu tapi si kecil ini terus saja mencoba merebut benda yang bukan miliknya ini.”

“Apa katamu?! Kecil?! Ya! Kenapa kau pelit sekali? Aku hanya ingin melihatnya.”

“Tidak, ini bukan untukmu kenapa kau ingin sekali mengetahuinya?”

“Sudah sudah, Namjoon…” Namjoon menoleh

“Sini coba aku lihat.” Aku mengulurkan tanganku sambil tersenyum. Dia terbelalak, menatapku tak percaya. Aku tertawa melihatnya seperti itu, dia lucu sekali. Sepertinya dia memnganggapnya serius padahal aku hanya bercanda.

“Ya! Hoseok kenapa kau tertawa eoh? Kau menertawaiku?”

Aku tak menjawabnya, aku masih sibuk tertawa sambil memegangi perutku. Lihatlah wajahnya itu, hahaha dia lucu sekali.

“Hoseok.” Aku menoleh ke sampingku ketika mendengar suara lembut perempuan memanggilku

“Oh, nona Jung!” dia mengerutkan keningnya

“Nona Jung?”

“Hm.” Aku mengangguk, “Kau.”

“Ya! Namaku Jang Wooren, kau tidak bisa mengganti margaku.”

“Tentu saja bisa. Kau akan menjadi milikku nona.”

“Oh ayolah… kenapa ada dua laki-laki gila yang mengtakan aku ini miliknya sesuka hati mereka?” dia menaruh tasnya di atas meja

“Minggir kau!” dia mendorong bahuku

Ya, aku memang sedang duduk di bangkunya saat ini dan karena itulah dia memanggilku tadi. Dia tidak akan pernah menyapaku. Mata gadis itu sudah normal tidak seperti kemarin, sepertinya dia tidak menangis lagi. Hari ini si Cool girl juga sudah kembali. Mungkin kemarin-kemarin masalahnya ada pada motornya. Aku hanya bisa berharap semoga gadis ini tak lagi menangis dan datang ke sekolah dengan matanya yang bengkak.

“Hey, hari ini gadis itu kembali setelah beberapa hari dia tak terlihat.”

“Iya. Aku rasa ada sesuatu yang menjadikan gadis misterius itu menghilang beberapa hari ini.”

Hyunjae, Bumjo, dan Il sook berjalan memasuki kelas. Biasa memang, ketiga lelaki yang bermulut seperti perempuan itu memang selalu meramaikan keadaan kelas. Mereka bertiga sekarang mengalahi peringkat aku, Jimin, dan Namjoon. Kami bertiga biasanya selalu menjadi biang keributan, tapi sekarang, semenjak aku dekat dengan Wooren entah mengapa aku jadi lebih pendiam. Mungkin aku tertular sikap dinginnya, begitu kata Jimin dan Namjoon.

Mereka bertiga menghampiri tempatnya yang tak jauh dari tempatku dan Wooren. Hyunjae melihat ke arah Wooren, dia mengacungkan jari telunjuknya ke arah Wooren, mulutnya terbuka membentuk ‘O’.

“Wooren. Kau sudah datang? Aku tak melihat mobil putih mewahmu itu, apa kau tak pergi dengan itu lagi?”

Bumjo melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, “Iya juga. Biasanya jam segeni kau baru datang. Seharusnya kita bertemu di loby tadi.”

Ah dasar laki-laki ini… tidak bisakah mereka menutup mulut mereka yang bau itu? gadis di sampingku hanya terdiam menatap mereka bergantian. Kemarin Il sook, sekarang mereka. Tapi sekarang Il sook hanya diam. Aku melihat ke arah Il sook, dia mengalihkan pandangannya dari Wooren pada ku.

“Wooren, sejak kau datang dengan mobil Cool girl tidak nampak. Dan sekarang… dia kembali hadir sedangkan kedatanganmu kembali misterius.”

“Jadi intinya? Kau ingin mengatakan kaulau aku adalah gadis itu? Begitu?” ujar Wooren dengan dingin

Mereka terdiam, memandang satu sama lain. Sampai akhirnya Hyunjae buka suara. “Buktikanlah kalau kau bukan dia. Kau mengertikan maksudku?” dia mengalihkan pandangannya. Menaruh tasnya di atas meja lalu duduk di sana. Begitu juga dengan Bunjo dan Il sook

Ah gadis ini… Apa yang bisa ku lakukan untuk membantunya? Dia selalu punya masalah yang selalu dihadapinya sendiri. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku, “Mwo?” Apa aku harus mengatakan padanya kalau aku mengetahui yang sebenarnya? Kalau dia adalah Cool girl? Dia memalingkan wajahnya. “Wooren, aku ingin bicara padamu. Bisa kita ke suatu tempat?”

“Di sini saja.” dia menoleh ke luar kelas

Ah gadis itu tak mengerti. Yang lain akan mendengarnya jika aku mengatakannya di sini. Aku mendekatkan wajahku, berniat membisikkannya. Dia masih memandang ke luar kelas saat bibirku sudah dekat di telinganya. Baru saja aku akan mengatakan sesuatu dia menoleh. Tak sengaja aku mencium pipinya. Dia nampaknya sangat terkejut, matanya terbuka sempurna. Aku yang menyadari apa yang tak sengaja ku lakukan langsung menjauhkan tubuhku darinya. Dia menatapku masih dengan wajah terkejutnya, wajahku tak kalah terkejut dengannya.

“Kau… Apa yang kau lakukan?!” dia memegangi pipi kirinya

“A-aku…”

Dia bangun dari kursinya dan pergi meninggalkanku. Aku menghembuskan nafas panjangku, melihat punggung gadis itu yang semakin menjauh. Sepertinya dia marah padaku. Kau salah paham, aku tak sengaja melakukannya. Lagi pula kenapa kau menoleh?

*****

Woo Ren pov

Setelah meneguhkan hatiku aku akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruang kepala sekolah. “Masuk.” Setelah mendengar suara nyonya Min aku membuka pintu dan masuk

“Kau Wooren?” aku hanya tersenyum sambil berjalan menghampirinya yang sedang duduk di meja kerjanya

“Duduklah.” Beliau mempersilahkan ku duduk di kursi yang ada di hadapannnya

“Apa yang membawamu ke sini?” tanyanya ketika aku sudah duduk

“Hum… begini, aku…”

“Katakan saja, tidak usah sungkan.” Nyonya Min melebarkan senyum manisnya

“Aku ingin menanyakan sesuatu.” Beliau hanya mengangguk

“Maaf jika ini sedikit mengganggu anda. Kau bilang Yoongi sebenarnya adalah anak yang baik dan penurut.”

“Oh~ jadi ini tentang Yoongi. Iya memang dia seperti itu.” senyumnya semakin melebar

“Eumm… semua murid di sekolah mengenalnya dengan citra yang kurang baik. Jadi… boleh aku tau kenapa dia sampai berubah menjadi seperti itu?”

Nyonya Min mengalihkan pandangannya seraya menghela nafas beratnya. Beliau terdiam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya ia membuka suara

“Yoongi kami adalah anak yang baik, sopan, dan penurut, dia juga anak yang pintar. Appanya sangat menyayaginya, begitu juga aku. Dia punya seorang kakak laki-laki, Min Jae hyun. Dia adalah anak kami yang tampan dan sangat baik hati. Keluarga kami hidup bahagia dengan kebersamaan dan juga segala kecukupan yang kami punya. Kedua anak laki-laki kami itu sangat dekat, mereka tumbuh bersama. Min Jae hyun terpaut enam tahun lebih tua dari Yoongi, tapi mereka tetap begitu akrab. Jaehyun sangat menyayangi Yoongi, begitu juga Yoongi yang sangat menyayangi Jaehyun.”

“Yoongi sunbae punya kakak?” keningku berkerut

“Hm.”

“Lalu dimana dia sekarang?”

Nyonya Min tersenyum getir “Jaehyun kami sudah meninggal empat tahun yang lalu.”

“Nde? A…a.. Mi… Mianhaeyo.”

“Gwenchana. Jaehyun meninggal karena sebuah kecelakaan. Dan karena itu Yoongi merasa sangat terpuku. Kakak satu-satunya yang sangat dicintainya itu pergi meninggalkannya. Disaat Yoongi terpukul, aku dan tuan Min malah sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Yoongi selalu sendiri, dia merasa tak punya teman. Ini memang salah kami sebagai orang tuanya. Sejak saat itu  Yoongi menjadi dingin dan tak peduli pada apapun, dia merasa dia hanya hidup sendiri. Dia marah dan kecewa. Dan dia mulai berubah menjadi anak yang nakal, suka berkelahi, malas belajar, dan selalu memaksakan kehendaknya.”

“Jadi karena itu… Karena dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau hyungnya sudah tiada, dia menjadi seperti itu?”

“Bukan hanya itu, dia juga kurang diperhatikan oleh kami.” Aku hanya mengangguk

“Tapi percayalah Wooren, kami sangat menyayanginya.” Tatapan nyonya Min menggambarkan jelas kesedihan yang ada di hatinya

“Iya, aku percaya itu.” aku menunjukkan senyumku. Nyonya Min tersenyum

“Terimakasih atas jawaban anda gyojangnim. Aku permisi dulu.” Aku beranjak dari kursi, tak lupa membungkukkan badanku memberi hormat padanya

Aku menutup pintu ruang kepala sekolah. Kakiku tak langsung melangkah dari sana. Jadi karena itu… Min Jae Hyun, kakak Min Yoongi yang meninggal empat tahun lalu. Yoongi sangat menyayangi kakak laki-lakinya itu. Kasihan juga dia, ternyata dia punya kisah cerita yang tak kalah menyedihkannya denganku. Apa selama ini aku telah salah menilainya? Apa aku telah salah bersikap padanya? Aku menghela nafasku lalu melangkahkan kakiku.

Langkahku begitu pelan menyusuri lorong sekolah. Fikiranku masih di penuhi oleh perkataan nyonya Min. Yoongi berarti sama sepertiku, dia berubah menjadi orang yang dingin karena kehilangan orang yang dikasihinya. Hanya saja dia kehilangan seorang, tapi aku dua orang. Aku trsenyum kecut

“Wooren.” aku mengangkat kepalaku

Begitu melihat wajah Hoseok aku langsung membuang wajah dan mempercepat langkahku. Dia tertinggal di belakang, sepertinya dia tidak mengejarku. Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menghindar darinya? Tidak, dia pantas menerima perlakuanku ini. Dia mencium pipiku, bagaimana aku tidak marah? Aku tidak tahu apa maksudnya tapi… aku merasa ada sesuatu yang aneh pada diriku. Rasanya darahku berdesir dan jantungku menjadi berdetak tak beratur saat merasakan bibirnya menyentuh pipiku dengan lembut. Aku jadi ingat ketika melihatnya berlatih sepak bola, dia memakai kaus kaki semata kaki sehingga kaki putihnya itu terekspos. Entah kenapa sejak saat itu aku jadi selalu terbayang wajahnya. Sebenarnya bukan karena itu, tapi semenjak dia menolongku di kamar mandi waktu itu. Aku selalu ingat saat dia membantuku, menaruh perhatian padaku, dan juga… saat dia tersenyum padaku.

Aish! Apa sih yang aku pikirkan?! Bodoh! Aku memukul-mukul pelan kepalaku dengan tanganku sendiri.

“Ya! Kenapa kau memukul-mukul kepalamu sendiri?” aku melihat ke arah Namjoon di hadapanku

“Kenapa diam saja? Jawab aku, kenapa kau memukul kepalamu sendiri eoh? Mau ku bantu?” dia mengeluarkan senyum bodohnya

“Ya!” dia tertawa. Aku mlirik sebuah kotak merah yang ada di tangannya, apa itu?

“Igo mwoya?”

“Ah ini… aku akan memberikan ini pada Minah.” Dia memandangi kotak itu sambil tersenyum

Memberikannya pada Minah? Laki-laki ini… ah… apa aku harus memberitahukannya kalau sebenarnya Minah hanya menganggapnya sebagai teman baik? Kalau sebenarnya Minah tidak punya perasaan apa-apa padanya dan justru menyukai Soekjin sunbae… Bagaimana agar dia mengetahui kebenarannya dan berhenti melakukan ini semua? Jika semakin lama maka dia akan semakin terluka saat mengetahui semuanya. Tapi aku juga tak punya hak untuk memberitahunya.

“Sudah ya, Minah sudah menungguku di taman sekolah.” Dia melangkahkan kakinya meninggalkanku ke arah yang berlawanan

“Namjoon!” dia menoleh

“Aku hanya ingin bilang… Kau… jangan mengaggap lebih ini semua.” Aku melangkahkan kaki ku, meninggalkannya yang masih berdiri dengan raut wajah yang bingung

Namjoon… kau laki-laki yang baik. Jangan sampai kau menjadi tidak baik hanya karena patah hati dengan seorang gadis. Mungkin ini salahku, aku seolah memberinya semangat dan kesempatan untuk mengerjar Minah, sedangkan gadis yang dicintainya itu ternyata jatuh cinta dengan orang lain. Ditambah  sekarang aku malah menuruti permintaan gadis itu untuk mendekatkannya dengan laki-laki yang disukainya. Oh Tuhan… aku harus bagaimana?

*****

Still Woo Ren pov

Seperti biasa, aku pulang di saat sekolah sudah sepi. Sendirian aku melangkahkan kakiku di loorng sekolah. Saat ini aku sudah berpakaian lengkap menjadi sosok Cool girl dengan jaket kulit, celana treining di bawah betis, sepatu sport birutua, kaus kaki semata kaki, dan masker hitam di wajahku. Entah sampai kapan aku akan seperti ini. Aku selalu berfikir untuk berhenti berpura-pura misterius seperti ini. tapi aku bingung bagaimana cara mengakhirinya, dan belum siap untuk menerima dampak yang akan muncul nantinya. Tidak ada yang tahu akan seperti apa dampaknya bukan?

Aku berbelok, dan seketika langkahku menjadi pelan. Hoseok berjalan berjalan ke arahku. Jujur saja aku sedikit takut, dia terus menatapku. Sebisa mungkin aku bersikap biasa dan kembali mempercepat langkahku seperti tadi. Saat kami hampir berpapasan dia menghentikan langkahnya. Aku inut menghentikan langkahku karena jalanku terhalang oleh tubuhnya. Dia terus menatapku.

“Anyeong.” Sapanya sambil tersenyum, senyumnya itu terlihat… licik?

Aku hanya tediam. Perlahan dia menlangkah mendekat ke arahku.

“Apa kau senang akhirnya kau bisa kembali mengendarai motor besarmu itu…. Wooren-ah?”

Seketika mataku membulat sempurna. Apa? Bagaimana… dia bisa tahu.

“Tidak usah terkejut seperti itu.”

“Bagaiman kau…” akhirnya aku bersuara

Dia tersenyum. Lalu mengalihkan pandangannya ke bawah, lebih tepatnya ke kaki kiriku. Dia berjongkok lalu memegang pergelangan kakiku. “Apa ini luka yang ku buat? Sepertinya cukup parah.” Dia mendonga menatapku. “Kenapa kau tak mau memafkanku waktu itu? Dan apa sekarang kau sudah memaafkanku?”

Aku tetap terdiam. Dia berdiri. Tangan kanannya bergerak ke wajahku, dia membuka pengait masker di telinga kiriku perlahan. Sebelum sempat terbuka sepenuhnya aku menahan tangannya. Dia berhenti, terdiam menatapku.

“Ya… kenapa aku harus membukanya kalau aku sudah mengetahuinya dengan pasti.” Hoseok menurunkan tangannya

“Aku hanya ingin mengatakan… sebaiknya kau lebih berhati-hati mulai sekarang.”

-TBC-

 

Angyeong readerdeul… adakah yang menanti FF ini? (gaada..oke)

Oh iya disini ada yang punya aplikasi Wattpad ? Cuma mau bilang aja kalao aku juga buat cerita disana, baru satu work sih dan masih dalam proses pembuatan. Tapi bukan FF Cuma cerita Teen fict biasa cerita anak SMA, maklum saya juga baru lulus SMA kkk~. Judulnya My Badboy *Inimahpromosi… hehe maaf yah.
Cari aja nama akunku Silky_G makasih…

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

5 thoughts on “FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 12

  1. Wahhh thor bagus bangettttt jadi ng feel tapi pengen dibanyakin kisah2nya woorem sama yoongi apalagi lucu kalau yoongi udh cemburu kkkkk~
    Cepet2 ya thor update nya..,
    Fighting thor!!!!

  2. gilakkkkk niee epepp yg ditunggu tunggu ampe lumutan :v . oiya beb nie ff dimasukan aja ke wattpad psti laku :3 . next next thor ^_^ ditunggu yakkkkk🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s