FF/ FATE/ BTS-AOA/ pt. 10


FATE 10

Title : FATE Pt.10

 

Cast :

  • Kim Seok Jin (BTS)
  • Shin Hye Jeong (AOA)

 

Support Cast :

  • Yagi Harumi
  • Irie Naoki

 

Genre : Sad, Friendship , Romance , NC

 

Length : Chapter

 

Author : Chahaekris

 

 

*

Fujikawaguchiko , Tokyo.

 

Hyejeong mencelupkan perlahan kakinya ke dalam Osen (kolam air panas) rasanya sangat nyaman. Osen adalah tempat yang harus di kunjungi jika musim dingin. Kali ini Hyejeong dan Jin berlibur ke daerah Tokyo, 5 jam lamanya waktu yang di tempuh dari Osaka. Mereka ingin menghabiskan waktu liburan musim dingin dengan menyewa sebuah Resort di daerah Kawaguchi. Hyejeong melihat sekelilingnya yang membuatnya terkagum-kagum, pemandangan Gunung Fuji sekaligus dengan Danau Kawaguchi yang indah yang bisa Ia nikmati langsung dari Private Outdoor Bath di Resort ini. Seluruh tubuh Hyejeong kini sudah terendam, ia memejamkan mata untuk melepas merelaksasikan tubuhnya.

 

 

 

 

“Perkenalkan aku adalah pengacara Kang Min Hyuk”

 

“aku Kim Seok Jin ,ada apa anda tiba-tiba ingin bertemu dengan Hyejeong?” Jin menatap pria yang hampir paruh baya di depannya.

 

“Anda pasti sangat bingung aku ini siapa, aku pengacara pribadi Tuan Shin Ki Hwang, ayah Nona Shin HyeJeong. Aku sudah mengenal Keluarga Shin lebih dari 25 tahun. Nona Hye…apakah anda tidak mengingatku?” tanyanya pada Hyejeong.

 

Hye? Jin mengingat kembali Ajjuma Lee juga memanggil Hyejeong dengan panggilan seperti itu.

Hyejeong hanya terdiam, ia menatap laki-laki itu namun menggelengkan kepalanya.

 

“Maaf…Hyejeong tidak bisa mengingat sejak kejadian kecelakaan yang menimpanya” jelas Jin.

 

“Dulu Nona Hye suka memanggilku Minguk Ajjushi, karena tak bisa menyebut Hyuk” lelaki itu terkekeh namun kembali serius.

“Aku mendengar berita kematian Lee Ah Young dari seorang kawan, aku menyesal tidak bisa berada di sampingmu pada saat itu Nona Hye, tetapi aku sangat bersyukur ada kau Tuan Kim”

“Sebenarnya tujuan kedatanganku kemari adalah ingin memberikan surat yang di berikan Tuan Shin sebelum ia meninggal” lelaki itu menyodorkan kertas yang berisi tulisan tangan Ayah Hyejeong.

 

Hyejeong meraih surat itu dan membacanya dalam diam.

 

“Di bunuh?

Kakak tiri?

Jadi Ayahku mengetahui bahwa ia akan di bunuh?” Air mata mengalir dari pelupuk matanya.

 

Min Hyuk mengangguk

“Beliau sudah mengetahui niat buruk Kakak tirinya itu, lalu Beliau memilih pindah ke Jepang agar terhindar dari perbuatan jahatnya, namun tanpa Ia ketahui orang suruhan Kakak Tirinya mengejarnya sampai ke Jepang. Sebelum meninggal Ia berpesan padaku untuk menjauhi Nona Shin dari Kakak tirinya, maka dari itu aku meminta Lee Ah Young menjagamu Nona. Karena Ayahmu meninggal semua harta kekayaan jatuh ke tangan Kakak tirinya itu, namun Ayah anda memilik harta yang sangat cukup untuk menghidupi putrinya ini. Aku melakukan transfer dana untukmu secara diam-diam tanpa di ketahui oleh siapapun, hanya aku dan Lee Ah Young yang mengetahuinya. Dan sekarang waktunya aku mengembalikan apa yang harusnya menjadi milikmu Nona”

 

Hyejeong masih menatap surat dari Ayahnya itu, air mata tak henti-hentinya mengalir ke pipi gadis itu.

 

“Mengapa kau memanggil Ajjuma Lee tanpa embel-embel Nona?” pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari bibir Jin.

 

Min Hyuk tersenyum kecil,

“sebenarnya aku sudah lama menyukai Lee Ah Young, namun aku terlalu pengecut sehingga tidak berani mengatakan padanya-“ Min Hyuk menghentikan kalimatnya sejenak,

“sampai akhirnya aku mendengar berita kematiannya, aku sangat-sangat menyesal tidak mengatakannya dari awal, sebelum ia pergi ke Jepang” Pria itu menunduk tanda kesedihannya tersendiri.

 

“aku tidak bisa menerima semua ini”

 

Min Hyuk dan Jin secara bersamaan memandang ke arah Hyejeong.

“kenapa Nona Hye? Kakak tiri Ayahmu sudah meninggal ,itu semua adalah milikmu sekarang.”

 

“Aku tidak bisa menerima semua ini Tuan Kang, aku tidak mau menikmati kekayaan yang Ayahku pernah miliki. Aku ingin kau mendonasikan semua ini, Ayahku pasti akan sangat senang” ujar Hyejeong.

 

“Kau yakin Nona?”

 

Hyejeong mengangguk mantap.

 

“Seandainya Ayahmu masih hidup, Ia pasti akan sangat bangga padamu Nona Hye. Aku akan tetap menyimpan harta Ayahmu selama aku masih hidup , kau tidak akan tau di masa depan mungkin kau akan membutuhkannya.” Min Hyuk tersenyum.

“apa rencanamu ke depan Nona Hye? Apakah kalian akan segera menikah?”

 

Hye menatap Jin yang duduk di sebelahnya, Jin yang sedari tadi mengenggam tangan HyeJeong pun mengangguk.

“jika tidak ada halangan kami akan menikah tahun ini, apakah kau bersedia datang ke acara pernikahan kami nanti?”  

 

Min Hyuk menganguk sambil tersenyum “ tentu saja, ini kartu namaku. Kau bisa mengabariku kapan saja Tuan Kim”

“Nona Hye…aku ikut bahagia, kau menemukan lelaki yang benar-benar mencintaimu”

 

“ya…ini seperti takdir.”

 

“Baiklah, hanya itu saja yang ingin aku sampaikan, terima kasih atas ketersediaanya waktunya menemuiku maaf sudah mengganggu waktu kalian” Min Hyuk membungkukkan badannya.

 

Jin dan Hyejeong menatap punggung lelaki itu , namun tak lama pria itu berbalik.

 

“ah Nona Hye, bolehkah aku tau dimana Lee Ah Young di makamkan?”.

 

 

 

Hyejeong membuka matanya yang dari tadi terpejam, udara dingin yang menerpa wajahnya menyadarkan pikirannya.

 

“huaaaaa dinginnyaaa…kau baik-baik saja?”

 

Hyejeong menoleh ke arah Jin yang baru saja ikut merendam tubuhnya.

Dada bidang Jin yang masih terlihat setengah, mengaihkan pemandangan menakjubkan di depan Hyejeong, sejenak Ia mengagumi betapa maskulinnya tubuh Jin >.<

 

“Ne, aku baik-baik saja Oppa…hanya saja aku masih memikirkan perkataan Min Hyuk Ajjushi, mengapa Ia tak mengatakannya kepada Ajjuma…Setidaknya jika Ia mengatakannya dari awal mungkin hal itu tidak akan terjadi ”

 

“Ia pria yang baik, memendam perasaan selama lebih dari 20 tahun bukanlah hal yang mudah. Mungkin Ia memliki alasan tersendiri mengapa Ia tak mengungkapkannya dari awal”

Jin memandang Hyejeong yang tidak menatapnya itu.

 

“Hyejeong’a…dan ini adalah takdir kita, setelah 14 tahun akhirnya kita bisa bertemu kembali. Sejujurnya aku tidak percaya akan adanya takdir, namun seiring berjalanya waktu ternyata itu benar.” Jin merangkul bahu Hyejeong dan menarik gadis itu ke pelukannya erat dan mencium keningnya.

 

“Hyejeong’a…jangan pernah meninggalkan aku lagi”

 

 

**

 

Udara malam ini sangat dingin sehingga mereka memutuskan untuk menikmati makan malamnya di dalam kamar dan menghangatkan diri di dalam kotatsu ( meja dengan pemanas ).

Makanan yang di sediakan sangat nikmat. Mereka memesan semangkuk Yudofu (Tahu Jepang yang di rebus dengan kaldu panas) dan satu set Yosenabe ( terdiri dari udang,daging,sayuran,telur,tahu dan di masak bersamaan di dalam Hot Pot).

 

 

Jin hendak beranjak tidur ketika ia mendapati gadisnya berdiri di depan jendela beranda.

Ia mendekati Hyejeong dan memeluk gadis itu dari belakang.

“Apa yang kau pikirkan?” bisik Jin di telinga kanan Hyejeong.

 

“Seandainya Orang tuaku masih hidup, aku pasti sangat bangga memperkenalkan dirimu sebagai kekasihku Oppa”

 

“hmmm lalu?” Jin memindahkan kepalanya ke sebelah kiri.

 

“Mereka pasti akan sangat bahagia karena kau orang yang sangat baik” Hyejeong tersenyum menatap keluar jendela yang di hiasi langit malam Kawaguchiko yang indah.

 

“Aku lebih bahagia lagi”

“Aku ingin selalu seperti ini…denganmu” Ucap Jin pelan.

 

Hyejeong menyentuh tangan Jin yang melingkar di pinggangnya.

“Pasti Oppa…kita akan selalu seperti ini”

 

Jin semakin memperat pelukannya pada Hyejeong, mengecup pelan leher gadisnya, membuat Hyejeong menutup kedua matanya, terbuai oleh kecupan Jin di tiap inci lehernya.

Jin memutar tubuh gadis yang sudah pasrah itu menghadap dirinya, dan dengan segera mendaratkan bibirnya pada bibir pink peach Hyejeong. Ciuman mereka bergairah serirama dengan sentuhan tangan Jin pada punggung Hyejeong.

Jin mengangkat kedua kaki Hyejeong dengan bibir yang masih saling melumat dan berjalan ke arah ranjang, menidurkan Hyejeong dengan perlahan. Tautan mereka terlepas, Hyejeong mengatur nafasnya dengan terengah-tengah sambil menatap wajah Jin yang tepat berada di atasnya. Bibirnya sudah basah tercampur salivanya dan saliva Jin.

Entah seperti ada yang bergejolak di dalam tubuh Jin, Ia menginginkan itu. Menginginkan hal yang sudah lama Ia tahan. Selama 2 tahun berpacaran dengan Hyejeong tak sekalipun Jin ingin berhubungan intim dengan Hyejeong, itu karena Ia sangat menghargai wanitanya itu.

 

“Oppa…aku percayakan hidupku padamu…jadikan aku milikmu untuk selamanya”

 

Jin mencium kening Hyejeong mendengar ucapannya,

“Saranghae” ujarnya lalu kembali menyambar bibir Hyejeong dan melumatnya lebih agresif lagi. Kali ini Hyejeong meraba dada bidang Jin dengan penuh nafsu, Ia meraih t-shirt Jin dan menyingkapnya ke atas. Sekarang Jin sudah topless, namun Jin menghentikan kegiatannya. Ia kembali menatap wanitanya itu.

 

Seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran Jin, Hyejeong membuka tali baju tidurnya dengan pelan dan menatap Jin,

Gerakan tangan Hyejeong sangat sensual menurut Jin, ia mengikuti tiap gerakan tangan Hyejeong. Hyejeong membuka belahan kimononya sampai di atas dadanya, memperlihatkan indah bahunya dan bagian atas dadanya yang sedikit menyembul menggoda.

 

“ahh” Jin tidak bisa menahan lagi, Ia menciumi Hyejeong dengan sedikit jilatan pada lehernya,turun ke pundak gadisnya dan kini bibir Jin tepat berada di atas dada Hyejeong. Sejenak Ia ragu namun nalurinya sebagai lelaki tidak mampu menahannya lagi. Jin menutup matanya dan membiarkan nalurinya menuntunnya, tangannya perlahan membuka kimono yang menutupi tubuh Hyejeong dan kini hanya pakaian dalam yang menghiasi tubuh Hyejeong. Jin menengguk ludahnya, Ia sadar bahwa Hyejeong memiliki tubuh yang ideal dan sexy bagaikan model.

 

Hyejeong mengatupkan kedua kakinya, menandakan bahwa Ia juga sedang menahan nafsunya. Jin kembali mencium bibir Hyejeong, tangan kanannya berjalan ke arah dada Hyejeong dan meremasnya pelan.

 

“emmhhh” suara lenguhan itu berasal dari bibir Hyejeong,

 

Ini pertama kalinya Jin menyentuh wanita dan Ia ingin menandai bahwa hanya Ia yang boleh menikmati tubuh Hyejeong. Ia akan membuat Hyejeong menjadi miliknya selamanya.

 

“ahhh oppa” Hyejeong meremas sprei ketika Bibir Jin mendarat di dadanya, menjilatinya dengan gemas namun pelan,

 

Hyejeong tak henti2nya melenguh,

Jin menjilati dada Hyejeong bagaikan bayi yang kehausan,

Tangan kanannya menggesek-gesek vagina Hyejeong yang mulai basah oleh cairan nafsunya.

Dengan agresif bibirnya berjalan menuju ke pusar Hyejeong dan terhenti di bagian paling intim pada tubuh Hyejeong. Ia menurunkan celana dalam Hyejeong.

 

Jin kau pasti bisa , batin Jin.

 

Hyejeong membelalakkan matanya ketika Jin mulai menjilati vaginanya, Ia melihat orang yang paling Ia cintai di bawah sana tengah melahap vaginanya dengan penuh nafsu,

 

“aaaghhhh oppaaa ssshhhh aaaahhh”

Tangan Hyejeong meremas rambut Jin, Hyejeong yang sudah meledak-ledak  hanya bisa melenguh nikmat. Tiba-tiba Hyejeong menghentikan aktifitas Jin di bawah sana. Mata keduanya bertemu kembali, namun kini Hyejeong mendorong tubuh Jin dengan perlahan dan membalikkan posisi mereka. Jin terkejut melihat Hyejeong yang “tidak biasa” namun Ia hanya menurut.

 

Hyejeong menatap Jin dengan wajahnya yang menggoda, meraba dada bidang Jin dan jemarinya yang lentik.

“nado saranghae oppa” Hyejeong mencium bibir Jin yang menjadi candunya.

Tanpa ragu Hyejeong meremas milik Jin yang sudah sangat tegang  dan masih terperangkap dalam celana tidurnya.

 

Kini Jin yang menikmati tiap ciuman yang di berikan Hyejeong pada tubuhnya, Ia memejamkan matanya ketika Hyejeong mencium leher dan dada bidangnya, Jin melenguh nikmat.

 

Jin menutup dan membuka matanya yang sayu, hasratnya kini sudah mencapai puncaknya.

Melihat Hyejeong yang sudah telanjang bulat di atasnya benar-benar membuatnya ingin malam ini tak kan pernah berakhir.

 

“ohhh…..” lenguh Jin

 

Hyejeong meremas dan memijat penis Jin dengan tangannya yang bergerak nak turun,

Jadi ini rasanya…menjilati dan menghisap milik Jin, batin Hyejeong.

Ia tidak ingin melukai Jin karena Ia belum begitu mahir dalam hal seperti ini. Namun hawa nafsunya membuatnya ingin mencoba hal yang baru ini.

 

Jin tak tahan lagi, Ia segera menyambar tangan Hyejeong dan menariknya ke samping tempat tidur mengembalikan posisinya semula.

Menghadiahi bibir Hyejeong dengan ciumannya yang bertubi-tubi.

 

Jin mempersiapkan miliknya untuk memasuki vagina Hyejeong,

“Tahan lah sebentar,mungkin akan sedikit sakit di awal”

 

Hyejeong mengangguk pasrah.

 

Jin mengusap-usap miliknya ke vagina Hyejeong sebelum Ia memasukkannya, sempit dan rasanya geli sekali.

 

“ughhh…oppa” Hyejeong meremas lengan tangan Jin dengan keras,

 

Jin berusaha memasukkan miliknya ke dalam lubang vagina Hyejeong,

Perlahan namun pasti, Jin berhenti sesaat ketika miliknya sudah masuk sepenuhnya, membiarkan miliknya terbiasa.

 

Mata Hyejeong tertutup sangat erat, Jin ingin membuat Hyejeong merasakan nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, Jin mencium kening Hyejeong sebelum ia menggerakan pinggulnya.

 

“aaakhhh oppaa….saakitt” jerit Hyejeong,

 

Jin berkonsentrasi penuh pada kegiatannya menggerakan pinggulnya maju dan mundur, sampai ia menemukan titik kenikmatan Hyejeong.

 

Sedikit demi sedikit rasa sakit yang Hyejeong rasakan mulai memudar,tergantikan oleh nikmatinya rasa yang di berikan penis Jin pada vaginanya, gesekan yang sangat lembut.

 

Keduanya melenguh seirama dengan setiap hentakan yang di berikan pinggul Jin.

 

Keringat mengucur dari pelipis Jin, Ia melepas miliknya perlahan kemudian memutar tubuh Hyejeong membelakanginya, Hyejeong yang sudah pasrah mengikuti Jin tanpa bantahan, tubuhnya kini menginginkan Jin untuk melakukan lebih.

 

Jin menatap tubuh sexy Hyejeong dari belakang, nafsu telah membuatnya gila.

Ia bersiap-siap memasukkan kembali miliknya, kali ini dengan satu kali hentakan.

 

“akhhhhhh ohh oppaah” Hyejeong meremas bantal dengan sisa tenaga yang ia miliki, penis Jin sudah mulai terbiasa di vaginanya, suara decakan antara penis Jin dan vaginanya bersaing dengan suara desahan mereka.

 

Jin menggerakan pinggulnya dengan liar,

“ohhhhh…yeaahh…” Jin mendesah menikmati percintaanya dengan Hyejeong malam ini, ternyata benar inilah sensasi bercinta yang dulu Ia sering dengar, apa yang Naoki sering katakan benar, bercinta ternyata senikmat ini.

 

Dengan tangan yang meremas kedua dada Hyejeong dan pinggul yang bergoyang seirama membuat Hyejeong semakin mendesah nikmat,

Jin mempercepat gerakan pinggulnya ketika ia merasakan sesuatu ingin melesak keluar, Jin memompa vagina Hyejeong yang sangat basah itu dengan sekuat tenaga, memberikan Hyejeong hentakan yang amat sangat keras dan nikmat.

 

“ohhh…aahhh….arrgghhhhhhhh” hentakan Jin semakin keras dan cepat, hingga akhirnya Jin mencapai klimaksnya.

 

Jin terkulai lemas, tubuhnya jatuh di atas tubuh Hyejeong dan memeluk gadisnya itu dengan penis yang masih menempel pada vagina Hyejeong.

 

Jin melepas tautan intim mereka dengan perlahan lalu jatuh ke ranjang di samping Hyejeong, ia mendapati tubuh yang tidak di tutupi apapun , dengan rambut yang berantakan dan dengan wajah lemas memandangnya.

 

Jin masih mengatur nafasnya, detak jantungnya masih berdegup dengan cepat.

 

Hyejeong tersenyum memandang lelaki yang sangat Ia cintai, meraih wajahnya dan mencium bibirnya.

 

Jin ikut tersenyum “aku sangat mencintaimu Hyejeong’a”

Sambil menarik tubuh Hyejeong kedalam pelukannya.

 

“aku juga sangat mencintaimu oppa”

 

 

 

 

Hyejeong menggeliat di dalam selimutnya, ia merasakan pegal di sekujur tubuhnya pagi ini.

Lelaki di sebelahnya masih tertidur dengan lelap, Hyejeong beranjak dari ranjangnya dan mengintip ke arah jendela. Matahari melesak masuk dari celah-celah tirai, pemandangan indah di pagi hari yang indah.

Ia ingin membangunkan Jin,namun melihat wajah lelahnya ia enggan. Hyejeong menatap dirinya di depan cermin, melihat tubuh sempurnanya yang masih telanjang. Bercak-bercak merah di leher dan dadanya mengingatkannya pada kejadian tadi malam, bagaimana Jin menciumnya dan  memberikan begitu banyak kissmark di tubuhnya. Hyejeong memejamkan matanya lalu tersenyum malu, ia berlari kecil menuju kamar mandi.

 

 

**

 

Jin terdiam terpaku melihat layar ponselnya,

“Ayahmu sakit…pulanglah”

 

Hyejeong mendekati kekasihnya yang bersikap tidak biasanya,

Ia membaca pesan yang ada di ponsel Jin lalu menatap Jin,

 

“pulanglah…oppa” ujarnya

 

Jin menatap Hyejeong yang berada di sebelahnya,

“ikutlah bersamaku”

 

Hyejeong menggeleng,

“ani…aku belum mengurus passportku, lagipula Ayahmu lebih butuh perhatianmu sekarang”

 

Hhhhh…Jin menghela naas beratnya,

“aku akan kembali ke sini bersama orang tuaku saat aku wisuda nanti, dan memperkenalmu sebagai calon istriku” Jin tersenyum seraya meraih tangan Hyejeong.

“aku akan kembali secepat mungkin”.

 

Hyejeong mengangguk dan memeluk Jin erat,

“aku berharap agar Ayahmu sehat kembali oppa…itu yang paling utama,jangan cemaskan aku”

 

 

Keesokan harinya, Hyejeong mengantar kepergian Jin ke Korea.

Ini pertama kalinya mereka akan berpisah, Hyejeong tahu benar bahwa Ia tak akan bisa berpisah jauh dari Jin, namun Ia tak bisa melakukan apapun.

Karena sebenarnya di balik itu , Ayah Jin sejak awal tidak menyetujui kepergian anak bungsunya ke Negeri Sakura ini. Hyejeong sengaja tidak ingin merusak suasanya di dalam keluarga Jin, maka dari itu Ia memilih tinggal.

 

Jin memeluk Hyejeong untuk yang terakhir kali sebelum Ia menaiki pesawat.

Air mata mengalir ke pipi Hyejeong, Ia mendongakkan kepalanya melihat air mata tersebut berasal dari mata Jin.

 

“mengapa kau menangis oppa?”

 

Jin menggelengkan kepalanya masih memeluk Hyejeong,  mereka berdua terdiam.

 

“aku akan segera kembali…jaga dirimu” Hyejeong menggangguk menatap wajah Jin sambil tersenyum,

Jin mencium bibir Hyejeong dengan lembut, seakan tak ingin melepas tautannya.

“Saranghae…”

 

 

TBC-

 

 

Annyeong….

Whoaaaaa aku sedih nih mengingat kalo tinggal 1 chapter lagi untuk FF ini, T.T

Gomawo semua yang masih luangin waktu untuk membaca kelanjutan kisah Hyejeong x Jin.

Btw Jinnya agresif bgt yah kali ini aaaaaaaak >.<

Di sini nulisnya sambil remes-remes keyboard (?)

Hihihi

Well…di tunggu yah chapter selanjutnya…

 

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

3 thoughts on “FF/ FATE/ BTS-AOA/ pt. 10

  1. Akhirnya keluar nc nya di chap ini walopun udah cukup umur buat bacanya tapi tetap bikin malu/senyum” sendiri >< wuoah udah mo tamat yak hmm semoga happy ending ;3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s