FF/ PRECIOUS AUTUMN/ WINNER/ pt. 1


349879

PRECIOUS AUTUMN

 

 

Cast : Song Minho – Mino Winner

Jo Ara – OC

Genre : Romance, Fluff, Tennager

Author : Pandakim

 

 

Semilir angin menerbangkan daun – daun berwarna emas di jalanan yang menumpuk tinggi berserakan bebas. Ara gadis berperawakan tinggi, dengan rambut sebahu tersenyum melihat daun – daun berwarna emas berterbangan layaknya mereka sedang menari. Tidak perduli dengan gaun putih panjang selututnya di hembus angin, Ara berdiam diri memandang daun – daun itu berterbangan. Sambil memegang rok gaunnya agar tidak tersingkap angin. Gadis ini menghirup angin musim gugur. Yang katanya menenangkan dirinya. Setelah puas mengisi paru – paru nya dengan oksigen. Ia melanjutkan langkah kakinya menuju rumahnya. Sembari berjalan ia tersenyum. Rasanya ia sedang di ajak menari seperti daun – daun yang berterbangan ini.

 

 

Danah menghentak – hentakan kakinya di pintu keluar bandara Incheon. “Kenapa lama sekali” sunggutnya melihat arlojinya. Seharusnya pesawat penerbangan kakaknya German menuju Seoul sudah sampai 10 menit tadi.

Mencoba bersabar lebih lama. Danah mencoba bersiul men-senandungkan lagu twinkle – twinkle little star. Di tengah lagu siulannya di sambut seseorang. Danah menoleh. Ternyata kakaknya.

“YAAA OPPAA” pekiknya senang. Segera di peluk kakaknya dengan erat. Begitu juga Mino memeluk adiknya dengan erat juga. Rasa rindu menyelimuti kedua kakak-beradik ini.

“Aku sedari tadi menunggu mu” Danah mengkerucutkan bibirnya. Mino terkekeh kecil. Di acak poni depan Danah dengan gemas. “Tadi hampir kehilangan koper” Mino menunjuk kopernya.

“Ayo pulang. Ibu sudah menunggu” Danah menarik tangan Mino. Mino hanya menurut. Ia juga sudah tidak sabar berjumpa dengan ibu nya.

 

 

“Ibu… kami pulang” teriak Danah sesampainya dirumah. Di tariknya koper Mino membantu kakaknya.

“Yaampun. Mino ibu kangen” Ibu muncul dari arah dapur. Mino merentangkan tangannya lebar.

“Aku juga kangen Ibu” balas Mino dengan senyuman hangat. Segera di peluk ibunya. Di kecupnya pipi kanan-kiri ibunya.

“Bu.. aku lapar” Mino tersenyum kecil ke Ibunya. Ibunya menggeleng khas ibu-ibu layaknya.

“Ayo makan. Ibu sudah siapkan makanan spesial”

 

 

Setelah acara makan siang dengan menu spesial buatan ibu. Mino merebahkan dirinya yang lelah ke kamarnya. Di buka pintu kamarnya. Kamar nya tidak berubah dari 3 tahun yang lalu. Pintu kamar nya saja masih sama. Penuh dengan gambar-gambar anime hasil karya tangannya sendiri. Kamar khas anak lelaki. Mino menatap diam dengan rasa rindu terhadap kamarnya. Coretan – coretan tangannya di kertas putih masih terpasang rapi di dinding. Gambar – gambar hasil ilusinya juga masih tertata rapi di pintu lemarinya. Hanya sedikit kusam. Tapi tidak merubah goresan – goresan gambar di kertas putih tersebut.

Perlahan ia tidurkan dirinya. Di kasur empuknya yang sudah sekitar 7 tahun lamanya. Begitu nyaman,menenangkan. Ia seakan di nyanyikan lagu tidur. Perlahan matanya sayu – sayu tertutup.

Tiba – tiba ia tersentak. Ketukan pintu Ibu mengejutkannya. Terpaksa Mino membuka matanya. Dan bangkit dari tidurnya. Ibu masuk sambil membawa kotak kue.

“Ibu mengejutkan saja. Aku hampir tertidur bu” nadanya sedikit kesal. Ibu tersenyum kecil. “Mino tolong antarkan ini ke Ara. Ibu terlalu banyak membuat kue hari ini. Ara sangat menyukai pai apple” Ibu menyodorkan kotak kue ke Mino.

“Ara ? Ara siapa ? Suruh Danah saja bu. Aku mengantuk” Mino menidurkan kembali dirinya. Tapi Ibu dengan cepat mencegah kemudian di tarik tangan Mino.

“Danah baru saja keluar. Ibu sibuk membersihkan rumah. Hanya sebentar saja Mino. Rumah Ara di samping rumah kita kok” jelas Ibu.

“Rumah samping sudah ada penghuninya ?”

Ibu mengangguk. “Sebulan kau pergi Ara berserta keluarganya pindah dari Ilsan. Kemudian 7 bulan berikutnya, orang tuanya pindah ke Macau ada kerja dan harus menetap disana. Tapi Ara lebih senang tinggal disini. Jadi akhirnya ia memilih tinggal sendiri disini. Dan Ara bilang, ia senang karena ia punya teman tetangga yang akrab dengannya. Lagi pula kau belum berkelan denganyakan ? Ara anak yang baik kok” Ibu tersenyum.

Mino melemaskan bahunya. “Baiklah” akhirnya Mino dengan setengah hati mengantarkan kue buatan ibunya ke tentangganya.

 

 

Mino menatap heran rumah tetangganya ini. Halamannya penuh dengan daun – daun yang di tumpuk rapi. Dan properti – properti yang ada di halamannya. Rata- rata terbuat dari daun. Mungkin  ? Mino hanya menarik garis besarnya saja. Karena ia melihat tekstur – tekstur daun.

Di ketukkanya pintu yang bergambar daun – daun berwarna coklat. Tidak ada sahutan dari sang empunya rumah. Mino mengetuk sekali lagi. Nihil. Tidak ada sahutan sama sekali. Apa si empunya rumah sedang pergi ? Mino memiringkan kepalanya.

“Permisi mencari siapa ?” sahut seseorang dari belakang. Mino ssedikit terkejut, segera menoleh kebelakang. Beberapa detik ia terpaku. Ralat ia terpukau. Terpukau dengan gadis di depannya.

Gadis dengan tinggi semampai. Rambut sebahu berwarna coklat gelap terurai indah, gaun putih tosca lembut membungkus rapi tubuh rampingnya.

Lamunan Mino terbunyarkan melihat gadis ini tersenyum. “Ada yang bisa dibantu  ?” tanyanya lembut.

“…Eh.. ini..apa… rumah.. rumah” Mino mencoba mengingat nama pemilik rumah yang di katakan ibu tadi.

“Jo Ara.. ia Jo Ara.. apa anda Jo….”

Ara mengganguk. “Ya saya Jo Ara. Ada yang bisa di bantu ?”

Mino meneguk ludahnya. Di sodorkannya kotak kue ke Ara. “Ibu menitip ini, kata ibu tadi ibu terlalu banyak membuatnya. Ibu bilang kau menyukainya”

“Pai apple ?” seketika mata Ara berbinar. Di ambil cepat kotak kue dari tangan Mino dengan senang hati. Ara segera melangkah masuk kerumahnya. Tapi, kemudian langkahnya terhenti ia menoleh ke Mino.

“Mau mampir dulu tuan Song Mino?” tanya Ara. Mino menatap Ara diam. Bagaimana ia bisa tahu namanya. “Bibi sering bercerita tentang mu. Dan wajahmu sangat mirip dengan Danah. Mari masuk” ajak Ara.

Mino tampak berfikir. “Baiklah”

 

 

Mino menatap takjub taman rumah Ara yang berada di atap rumahnya. Bagaimana bisa atap rumah seperti ini di sulap menjadi rumput jepang yang hijau. Dan juga sebuah pohon cherry yang kini tinggal rating yang penuhi daun – daun yang akan gugur nantinya.

Taman yang pas buat menenangkan diri. Mino tersenyum, betapa kreatif nya pemilik rumah ini.

Ara datang membawa 2 cangkir teh di nampan.

“Teh melati dengan irisan lemon ?” Ara menyodorkan cangkir keramik tersebut ke Mino. Mino menatap Ara dan cangkir bergantian dengan heran.

“Ibu mu sering bercerita betapa kau menyukai teh melati dengan irisan lemon.” Jelas Ara.

Mino kemabli tersenyum mendengarkan penjelasan Ara. “Apa ibu sering bercerita tentang diriku ?”

Ara mengangguk. “Setiap berjumpa dengan bibi dia tidak pernah lupa menceritakan tentang dirimu.”

“Maafkan ibu, ibu memang suka begitu kepada orang – orang”

Ara menggeleng. “Tidak. Tidak . Tidak perlu meminta maaf. Aku senang. Karena aku mempunyai teman ngobrol” Ara tersenyum sekilas.

Mino mengangguk sekilas. Sesaat ia tertegun.

“Kenapa ? Tidak enak ya ?” Ara bertanya risau. Mino menggeleng. “Tidak. Hanya saja sudah lama aku tidak merasakan teh seenak ini. Aku kira hanya teh buatan ibu saja yang enak, ternyata teh buatan mu tidak kalah enaknya dengan buatan ibu”

Seketika Ara sedikit tersipu malu. Dengan gerak – gerik mempersilahkan Mino meminum tehnya lagi.

“Lihat indah bukan daun – daun kering itu berlayang – layang di tiup angin ?” Ara tersenyum lebar. Mino memperhatikan arah pandang Ara. Kedua alisnya menaut. Apa indahnya daun yag bertebangan itu pikir Mino. Kemudian ia menoleh menatap Ara yang masih tersenyum. Tanpa sadar ia menopang dagunya memperhatikan gadis di depan nya ini tersenyum.

“Kau pasti menganggap ku aneh menyukai daun – daun kering ?”

Mino tersentak. Ia menggeleng cepat. “Tidak!”

“Hanya saja aku heran. Aku lihat banyak sekali daun – daun kering di sekitar rumah mu”

“Aku tebak. Kau menyukai musim gugur ?”

Mendengarnya Ara tersenyum. “Ya ! Aku memang sangat menyukai musim gugur. Musim di mana membuat jalanan menjadi berwarna kuning keemasan. Dan semilir angin yang setiap saat menyapa.”

“Tapi daun – daun kering itu membuat jalanan menjadi tidak bersih. Dan setiap saat juga harus di bersihkan.” Sanggah Mino. Ara menggeleng. “Daun – daun kering itu akhirnya berguna. Contohnya saja menjadi pupuk alami buat tumbuhan.”

Mino mengangguk mendengar argumen Ara.

“Boleh aku bertanya ?” Ara menatap serius Mino. “Ya boleh brtanya saja. Selagi aku bisa menjawabnya” ucapnya sambil mencomot pai apple.

“Bagaimana berkecimpung di dunia arsitek ? Aku mendengar dari bibi kau kuliah dan ambil jurusan arsitek.”

Mino mengangguk. “Biasa saja. Tidak ada istimewa. Hanya saja setiap kau membuat desain rumah untuk orang lain, dan orang tersebut senang. Itu rasanya hati ini bahagia sekali.”

“Ngomong- ngomong kenapa bertanya seperti itu ?” kali ini Mino bertanya.

Ara tersenyum sebelum menjawab. “Aku sangat tertarik dengan dunia arsitek.”

Sorotan mata Mino terlihat bersemangat. “Benarkah  ?”

Ara mengganguk. “Aku ingin sekali membuat desain, sayangnya aku tidak bisa”

“Kenapa ?” Mino menopang dagunya. Ara memanyunkan bibirnya. “Aku tidak bisa menggambar” sunggutnya. Mino tertawa kecil. Bagi nya lucu melihat Ara seperti tadi.

“Kenapa tertawa ?”

Mino menggeleng pelan. Di paksanya tawanya berhenti. “Kau hanya terlihat lucu seperti tadi.”

“Nanti mau ikut makan malam dengan keluarga ku ?” tawar Mino. “Tadi terlihat ibu akan masak dengan banyak.” Lanjutnya.

Ara menatap Mino sebentar. Kemudian ia mengganguk. “Baiklah”

 

 

“Baru saja bibi ingin mengajakmu makan malam. Mino sudah mengajak duluan” sahut ibu memberi nasi kepiring Ara. Ara menerimanya dengan senyuman.

“Biasanya oppa seperti itu ada maunya. Jangan mau dengan dia” sindir Danah tanpa peduli.

Mino hanya bisa mencibirnya saja tanpa melawan.

“Makanlah yang banyak aku tidak suka wanita kurus” ujar Mino santai. Ara melihat tubuhnya yang terbalut dress coklat emas.

“Apa aku kurus ?” tanyanya pelan.  Danah menyangga cepat “Jangan mau dengar kata oppa, eonni sebaiknya makan saja” Danah segera menyodorkan kimchi ke Ara. Ara menerima dengan anggukan.

 

 

Mino terdiam berdiri dari dalam rumahnya melihat Ara yang sedang santai menikmati malam dari balkon rumah nya.

“Tolong berikan ini kepada Ara agar obrolan kalian semakin dekat” ungkap ibu dari belakang semabari membawa secangkir teh melati.

Awalnya Mino binggung kemudian ia mengambil teh buatan ibunya dan mendekati Ara.

“Apa yang kau lakukan disini” Mino segera memberikan teh kepada Ara yang disambut dengan senyuman manis.

“Hanya melihat sekitar, terlihat indah dari atas sini”

“Benarkah”

“Hmm” Ara hanya berdehem. Mino tak melepaskan pandangannya dari Ara. “Oh ya kita belum berkenalan secara resmi”

“Aku Song Mino” Mino mengulurkan tangannyanya. Ara tertawa kecil melihat tingkah Mino. Ara menyambut uluran tangan lelaki ini. “Aku Jo Ara, senang berkenalan dengan mu Tuan Song”.

Hampir setengah jam mereka mengobrol. Lelucon – lelucon Mino sukses membuat Ara tertawa terpingkal – pingkal.

“Bu mereka terlihat cocok” ucap Danah dari balik jendela.

“Iya, ibu juga menyukai Ara dia gadis yang manis” sahut ibu. Danah mengangguk setuju.

“Apa oppa sudah move on dari gadis jahat itu”

“Entahlah ibu juga kurang tau, tapi dari perlakuan Mino ibu melihat dia sudah melupakan gadis itu”

 

 

“Hahahaha.. “ Ara tak kuasa menahan tawanya. Hingga ia memeganggi perutnya.

“Cukup Mino sudah,perutku sampai sakit” eluh Ara, tapi ia sendiri masih tertawa.

Melihat Ara, Mino juga ikut tertawa. Tawa  terhenti tawa Ara begitu lepas, senyum tersungging di bibirnya. Gadis tetap menawan walaupun tertawa lepas.

“Sudah nona cantik, waktunya pulang mari aku antar”. Ara menghentikan tawanya, “hei rumah ku hanya berjarak 30 meter” Ara menunjuk rumahnya.

“Anak gadis tidak baik pulang malam sendirian” Mino berjalan duluan meninggal Ara yang sedang manyun.

“Bu, aku mengantar Ara ya” pamit Mino.

“Bibi terima kasih atas makan malamnya” ucap Ara sambil memengang tangan ibunya Mino. Ibu tersenyum menyambutnya “Ah Ara jangan berterima kasih, bibi juga senang kau makan disini, jadi ramai” ucap ibu.

“Kalau begitu Ara pamit bibi, selamat malam. Danah selamat malam” Ara sedikit berteriak karena Danah sedang membereskan ruang makan”

“Malam Ara” balas ibu.

“Malam Eonni” jawab Danah senang. Kemudian Danah mendekati ibunya.

“Bu, mereka benar – benar cocok bu”

“Iya ibu juga setuju” balas ibu bersemangat.

Terdengar nada dering dari arah ruang tamu.  “Bu sepertinya handphone oppa”

“Angkat sana, ibu kedapur dulu”. Danah segera melesat kearah ruang tamu.

“Oh my god ! Bu… lihat “ Danah berlari mendekati ibunya. “Baru juga di ceritai”

“Sudah reject saja, ibu tidak suka dengannya. Mau apa lagi dengan anak laki – laki ku” sunggut ibu kesal.

Danah mengangguk, kemudian ia me-reject cepat panggilan tersebut.

“Kalau bisa blokir nomor gadis itu” perintah ibu. Danah segera melakukan perintah ibunya.

“Ibu tidak habis fikir, bagaimana bisa oppa mu masih menyimpan nomor dia” nada ibu begitu kesal.

“Entahlah bu, semoga ia tidak menganggu oppa lagi. Cukup perbuatannya dahulu membuat oppa seperti mayat hidup”

 

 

“Terima kasih Tuan Song, atas jamuan makan malamnya dan terima kasih juga sudah mengantar ku selamat sampai rumah” canda Ara. Mino tersipu malu mendengarnya.

“Selamat malam Nona Jo” Pamit Mino. Senyum Mino begitu mempesona sehingga Ara terdiam sedetik dibuatnya. Tak kuasa menahan aura Mino Ara hanya mengangguk canggung.

Mino meninggal rumah Ara dan berjalan kerumahnya. Sepanjang perjalanan Mino senyum – senyum sendiri.

“Gila aku baru bertemu dengan pertama kali, tapi… kenapa dia sangat mempesona.. “ Mino menggelengkan kepalanya tidak habis fikir.

“Hayoo oppa siapa yang sangat mempesona “ Danah muncul dari balik pintu.

“Aish.. kau ini mau tau saja urusan orang lain”

“Huh ! Oppa, tau tidak. Ara eonni itu…. “ Danah sengaja mengantungkan kalimatnya.

“Ara kenapa ?” tanya Mino cepat tadi dengan nada setenang mungkin.

“Hhmm kenapa ya.. aku juga tidak tahu. Weekk ” Danah secepat kilat melarikan diri dari Mino.

“Ya ! Song Danah !” teriak Mino kesal. Mino hanya melihat adiknya berlarian menuju kamarnya. Hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah jahil adiknya.

Langkahnya menuju ruang tamu berniat mengambil handphonenya. Mino mengecek ponselnya melihat notification.

“Hanya obrolan grup” desisnya pelan.

Tapi diluar sana…

“Song Mino kenapa nomormu tidak bisa dihubungi !”gerutunya kesal.

 

——————–

 

 

Hallo…. yaampun sudah lama tidak menjamah dunia ff lagi. Akhirnya balik lagi walaupun dengan judul yang berbeda  (padahal judul lagi nunggak sudah bertahun – tahun ).

Buat readers selamat membacanya, pandakim mengharapkan koment sama komentarnya likenya juga hehehe. Biar semangat ngelanjutinnya. Koment kalian berguna buat pandakim loh. Kan jadi masukan.

Pandakim undur diri yach. KAMSIA

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s