FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 10


PicsArt_1455445456391

Author : AL lee

Title : DARK BLUE DREAMCATCHER

Cast :

  • Jang Woo Ren (OC)
  • Min Yoongi
  • Jung Hoseok
  • Park Jimin
  • Kim Soekjin
  • Kim Namjoon
  • ect

Genre  : School life, romance, comedy(?), sad(?)

 

Woo Ren pov

“Benarkah itu Wooren?” aku tak menjawab pertanyaan halmoni

Mulutku tetap bungkam. Aku terdiam tak menjawab pertanyaan halmoni, hanya menatap appa dengan tak percaya. Kenapa appa bisa mengetahui itu? tahu dari mana dia? Apa.. Yoongi yang memberitahukannya? Kemarin dia bilang jika aku tak mau berkencan dengannya maka dia akan memberitahu appa dan halmoni kalau aku bekerja part time. Ya… itu bisa saja karena kemarin aku terlambat menemuinya sampai dia datang kemari. Tapi halmoni tidak tahu, mungkin karena dia tidak memberitahukannya pada halmoni dan menggunakan itu untuk mengancamku saat dia ada di sini. Ya, itu bisa saja. Ah tapi sepertinya tidak, tidak mungkin dia benar-benar memberitahukannya, bahkan dia tak tahu appa-ku.

“Aku tidak mau abeoji, aku akan tetap pergi dengan motorku.”

“Ya… kau boleh melakukannya asalkan kau berhenti dari pekerjaanmu itu.”

“Aku tidak akan berhenti.”

“JANG WOOREN!” aku tersentak karena appa membentakku

“Jangan berani-beraninya kau melawan appa! Anak macam apa kau ini? Kau sama saja menghina appa dengan bekerja seperti itu. Apa uang yang appa berikan tak cukup untuk mu? Mau taruh dimana wajah appa jika ada orang lain yang tau anak seorang Jang  Hanjoon bekerja paruh waktu di sebuah toserba!?”

“Tapi… tapi aku punya alasan sendiri abeoji, aku…”

“Sudah, appa tak mau mendengarnya. Lebih baik kau segera berangkat ke sekolah jika tidak kau akan terlambat.” Appa memotong kata-kataku dengan dingin

“Aniyo, shireo.”

Tiba-tiba dua laki-laki berbadan besar dengan jas hitam mengapitku. Mereka menarik tanganku dan memaksaku untuk mengikuti mereka. Ya, mereka adalah orang-orang pesuruh appa. Sekuat tenaga aku meronta berusaha melepaskan diriku, tapi jelas aku kalah tenaga. Mereka sangat kuat dibanding aku. Mereka menarikku masuk ke dalam mobil putih yang terparkir di luar rumah, supir Kim sudah bersiap di tempat kemudinya. Aku di dudukkan di kursi belakang, kedua orang itu ikut masuk dan duduk di samping kanan dan kiriku. Aaghr… kenapa seperti ini?!

@Seoul International High School

Kedua laki-laki yang sedari tadi duduk mengapitku membuka pintu mobil yang ada di sebelahnya masing-masing dan keluar. Aku keluar dari dalam mobil. Begitu aku keluar semua murid-murid yang ada di lapangan melihat ke arahku. Ya aku tahu ini adalah pemandangan yang tak biasa. Kedatangan dan kepulanganku selalu menjadi sesuatu yang misterius, dan sekarang aku datang dengan mobil mewah sama seperti mereka, bahkan dengan dua orang pengawal seperti ini. Ini sangat berlebihan.

“Nona kami akan kembali untuk menjemputmu begitu jam pelajaran berakhir, dan kau tak bisa menolaknya karena itu perintah dari tuan besar.”

Aku menghela nafasku, “Terserah saja.” aku melangkahkan kakiku meninggalkan mereka

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah. Min Yoongi, apa ini benar karena ulahnya? Tapi rasanya tidak mungkin dia. Dia bahkan tidak pernah bertemu dengan appa, jadi mana dia tahu yang mana appa-ku.

“Wooren!” aku menoleh ketika mendengar seseorang memanggilku

“Hoseok?” Hoseok berlari-lari kecil menghampiriku

“Kau yang diantar dengan mobil putih mewah bersama dua orang bodyguard itu ya?”

Aku memutar bola mataku dengan malas. Tanpa memperdulikannya aku kembali melangkahkan kakiku. Dia mengikutiku, berjalan di sampingku sambil terus menatapku. Mulutnya itu terus saja berbicara, mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sangat menyebalkan untukku. Dia itu bawel sekali.

Aku menoleh menatapnya, “Kau bisa diam tidak?” seketika dia terdiam

@Class 2-1

Aku memasuki kelasku bersama dengan Hoseok. Aku menghampiri tempat dudukku dan segera duduk menyandarkan punggungku di sana. Pagi ini begitu menyebalkan, sepertinya hari ini akan berjalan dengan sangat tak menyenangkan. Sekarang appa tidak akan melepaskanku begitu saja, pasti dia akan terus mengekangku, melarangku, dan akan selalu menaruh curiga padaku. Haah… bagaimana ini?

“Aaah~ Taehyungie-ah… kau ini nakal sekali.”

Taehyung terkekeh. “Siapa suruh kau manis sekali seperti itu? Aku sangat senang menjahilimu.”

“Ya! Kau akan merasakan akibatnya jika menjahiliku lagi.” Hyerim mengacungkan tangannya yang terkepal di depan wajah Taehyung

Cih, mereka itu menjijikan sekali. Kenapa mereka selalu bermesraan seperti itu? Tak peduli dimana pun gadis itu terus bermanja-manja pada kekasihnya yang sangat senang menggodanya itu. Hah… kenapa aku harus duduk di belakang mereka? Ini membuatku melihat tingkah menjijikan mereka setiap hari, menyebalkan.

Omo… Lihat itu! sekarang Hyerim malah menaruh kepalanya di pundak Taehyung sambil menggelayut di lengan Taehyung dengan manja, sedangkan laki-laki itu tertawa sambil mencubit gemas hidung kekasihnya, menjijikan sekali, aku benci gadis manja!

“Kenapa kau memandangi mereka seperti itu Wooren? Kau iri pada mereka eoh?”

Aku menoleh ke arah Hoseok, “Mwo? Cih!”

“Akui saja. Kau juga ingin seperti merekakan?” Hoseok menunjukka senyumannya yang menjengkelkan

“Kenapa aku harus iri? Aku bahkan jijik melihatnya.”

“Oh jinjja? Apa kau tidak pernah bermanja seperti itu pada Min Yoongi?”

“Ya! Apa yang kau katakan?!”

Dia tertawa. Apa yang dikatakannya itu? Aku tidak bisa bayangkan jika aku bermanja-manja dengan laki-laki sok keren itu, hiii membayangkannya saja sangat menakutkan.

“Kenapa kau marah seperti itu? Akukan hanya bertanya.”

“Aaah Taehyung~ aku sangat mencintaimu.” Aku dan Hoseok menoleh bersamaan ke arah Hyerim yang duduk di depan kami. Cih, menjijikan sekali gadis manja seperti itu.

“Hey, jangan memandang mereka seperti itu. Kau juga ingin seperti itu hm? Ayo kemarilah.”

Dengan cepat aku menoleh menatap Hoseok. Apa yang dikatakannya itu? Dia merentangkan tangannya di hadapanku sambil tersenyum padaku. Cih, benar-benar menjijikan. Aku kembali meluruskan pandanganku. Dia tertawa, tawanya itu sangat menjengkelkan.

Tiba-tiba saja aku teringat pada kejdian kemarin saat pulang sekolah. Dia… diakan yang menyelamatkan identitasku dari dua orang laki-laki yang entah siapa itu. Apa Hoseok sebenarnya sudah tahu? Tapi kurasa tidak, bahkan sikapnya biasa saja sekarang. Mungkin itu sebuah kebetulan. Aku yakin dia tidak tahu yang sebenarnya.

“Hoseok…” dia menatapku

“Apa… Apa kemarin kau pulang terlambat dari sekolah?”

Keningnya berkerut, “Ani. Wae?”

“Tidak? Mmm… lalu apa yang kau lakukan setelah jam pelajaran berakhir kemarin?”

“Oh, ya.. aku kemarin memang pulang lebih lambat dari biasanya. Itu karena aku ada urusan dengan tim sepak bolaku. Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Apa kau… Ng… Apa… Apa kau kemarin menolong seseorang?”

Kerutan di keningnya semakin terlihat jelas, “Darimana kau tau?” tatapannya menyelidik

“Oh, nega… ah… itu. Yah.. itu karena sebenarnya aku juga pulang lebih lambat dari biasanya kemarin. Kemarin sebelum pulang aku sempat ke toilet, tak sengaja aku mendengar suaramu dari dalam toilet perempuan. Aku… aku mengumpat saja, tidak lama kemudian kau keluar dari sana dengan langkah yang terburu-buru.”

“Ah, ya. Kemarin aku menolong Cool girl. Kau tau gadis itukan? Hanya itu.”

“Lalu… apa kau tau sipa dia sebenarnya?”

“Ani. Aku tidak sempat melihat wajahnya tanpa masker hitam yang selalu menutupi wajahnya.”

Aku mengangguk. Benarkan? Hoseok tidak tahu kalau gadis itu sebenarnya adalah aku. Yang kemarin itu hanyalah kebetulan. Tapi… kenapa dia ada di dalam toilet perempuan? Ini membingungkan. Yasudahlah itu tak penting, yang terpenting adalah dia tidak tahu kalau gadis itu adalah aku.

*****

Author pov

Saat ini Wooren dan Minah sedang duduk berhadapan di kantin, ya saat ini sedang istirahat. Minah terus saja berbicara, gadis itu menceritakan tentang laki-laki yang bernama Kinm Namjoon yang akhir-akhir ini selalu bersamanya. Wooren hanya mendengarkan setiap kata yang diucapkan gadis cantik itu.

“Hmm… Wooren-ah?”

“Nde?” Wooren menghentikan acara meminum jus jeruknya

“Hmm… apa yang kau tau tentang Kim Soekjin sunbae?”

Gadis itu hampir saja memuncratkan jus jeruk yang ada di mulutnya ketika mendengar pertanyaan temannya itu.

“Ke-kenapa kau menanyakan itu?”

“Ah… aku… Kau beritahu aku dulu baru aku akan menjawabmu.”

“Hm… dia itu orang yang sangat baik. Dia adalah laki-laki yang lembut dan sopan. Dia sangat murah senyum dan sangat peduli pada orang-orang di dekatnya.”

“Apa dia punya kekasih?”

“Entahlah, tapi aku tidak pernah mendengarnya.”

Minah mengangguk. Dia sekarang sedang memikirkan sesuatu.

“Aku sudah menjawabnya, sekarang ku harus menjawab pertanyaanku tadi.”

“Nde?” gadis itu menatap teman yang ada di hadapannya “A…ah, ng.. aku ingin membeli minum dulu ya.” Gadis itu segera beranjak dari kursinya.

Sebenarnya dia sedang menghindari pertanyaan itu. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, dia tak tahu akan memulai menceritakannya dari mana.

Setelah dia mendapat milkshake stroberinya dia kembali ke tempatnya diamana temannya sedang menunggunya. Langkahnya begitu pelan, dia ragu untuk kembali ke tempat itu. karena pasti Wooren akan kembali menanyakannya. Sekarang tinggal beberapa langkah lagi dia sampai di hadapan temannya itu. Minah menunduk memperhatikan milkshake stroberinya. Tiba-tiba dia menabrak seseorang. Gadis itu hampir terjatuh karena terpeleset oleh milkshake yang dia tumpahkan sendiri. Tapi untungnya dia tak sampai jatuh. Matanya membulat begitu melihat wajah laki-laki yang begitu dekat dengan wajahnya. Laki-laki itu menagkapnya. Posisi mereka begitu tidak enak untuk dilihat, terlalu terdramatisir. Ya… bisa dibayangkan bagaimana posisi perempuan yang hampir jatuh namun ditangkap oleh seorang laki-laki. Ada noda berwarna merah muda di baju laki-laki itu, itu adalah tumpahan milkshake milik Minah.

“A…a… Mi-mianhae.” Gadis itu bangun dari posisinya, begitu juga laki-laki itu, dia kembali ke posisi normalnya

“Tidak apa-apa Minah.”

“Keundae… igo, ada noda di bajumu karena milkshake ku.”

Laki-laki itu melihat ke jas sekolahnya, “Ah, ne. Tidak apa-apa.”

“Jeongmal mianjae Namjoon-ah.”

Laki-laki itu tersenyum menatap gadis yang wajahnya begitu cemas di hadapannya, “Gwenchana.”

Namjoon melangkahkan kakinya. Dia akan pergi ke toilet untuk membersihkan noda di jas sekolahnya itu. Minah terduduk di hadapan Wooren dengan wajahnya yang masih merasa bersalah.

“Non gwenchana?”

“Ne… tapi Namjoon sedang tidak baik-baiik saja. Hah~ ottokhae? Aku merasa sangat bersalah.”

Melihat sikap temannya itu Wooren hanya tersenyum. Gadis itu nampaknya sangat menghawatirkan laki-laki itu. Sepertinya gadis itu telah jatuh hati juga kepada laki-laki itu. Lihat saja, bagaimana perempuan itu merasa sangat bersalah seperti itu.

“Jadi bagaimana? Kenapa kau menanyakan Soekjin sunbae?”

Gadis itu mengangkat kepalanya. Dia nampak bingung hendak menjawab apa, “Ah itu… karena… ak…aku…” gadis itu tergagap

Gadis itu menggantungkan perkatannya. Sedangkan Wooren terus menatapnya, menunggu temannya itu melanjutkan perkataannya.

“Aku… Aku menyukainya.”

“MWO?!” Wooren terbelalak, dia begitu terkejut mendengarnya

“Aish! Pelankan suaramu itu.”

Wooren menutup mulutnya.

“Kau jangan beritahukan pada siapaun ya? Hanya kau yang boleh mengetahuiya.”

“Tapi bagaimana dengan Namjoon?”

“Namjoon? Ah… aku hanya berteman dengannya, seperti aku berteman denganmu. Aku menganggapnya sebagai teman baikku, ya… dia memang sangat baik padaku. Ya! Kenapa kau menanyakan dia? Memangnya dia kenapa?”

Wooren menghela nafas panjangnya. Bagaimana dia memberitahukan pada Minah kalau sebenarnya laki-laki itu menyukainya? Sepertinya gadis itu tidak tahu sikap baik Namjoon selama ini padanya karena laki-laki itu menyimpan perasaan padanya. Masalah ini, biarkan saja Namjoon yang mengurusnya, pikir Wooren begitu.

“Wooren?”

“Hm?” Wooren menatap Minah

“Kau maukan membantuku untuk bisa dekat dengan Soekjin sunbae?”

“Mwo? Kenapa aku? Aku… aku tidak bisa.”

“Aish… Tentu saja karena kau adalah teman dekatku. Bagaimana kau tidak bisa? Kaukan kekasihnya Yoongi sunbae, Yoongi sunbae dan Soekjin sunbae bersahabat. Jadi pasti kau juga dekat dengan sahabat kekasihmu.”

“Ya! Aku bukan kekasih Min Yoongi! Lagi pula aku tidak terlalu dekat dengan Soekjin sunbae.”

“Ah ya, baiklah baiklah. Kalau begitu kau harus mendekatinya lalu setelah itu kau dekatkan aku dengannya. Ya? Ya? Jebal Woorenie…” minah mengepalkan kedua tangannya seperti orang yang sedang memohon.

Wooren mendengus, “Ah ya baiklah baiklah… ah kau ini.”

*****

Woo Ren pov

Kepalaku menyembul dari balik tembok toilet, pandanganku menelusuri lorong sekolah dengan teliti. Dua laki-laki berbadan kekar dengan jas hitam itu sudah tidak ada. Sepertinya mereka sudah pergi. Hahaha laporkan saja pada atasanmu itu! Carilah aku sampai dapat, aku tidak akan pulang ke rumah. Eh tapi kalau tidak pulang bagaimana aku bisa hidup? Aku mau tinggal dimana? Ah… ya sudahlah, aku akan pulang nanti, aku akan masuk di saat keadaan rumah sepi.

Kakiku melangkah dengan santai menyusuri lorong sekolah. Sekarang aku harus kemana ya? Rumah Minah… tidak, rumah Hana… ah sekarang kami sudah jarang bersama, Hyerim pasti sedang berpacaran dengan Taehyung. Aku harus kemana? Apartemen Yoongi? Aish gila! Tidak mungkin. Ke toserba milik Jang ahjussi? Tidak, pasti appa akan menyuruh orang-orang pesuruhnya mencariku ke sana. Sebaiknya aku tetap di sekolah.

Aku memperlambat langkahku begitu sampai di lapangan spak bola sekolah. Mataku memandang ke anak-anak yang sedang berlatih di sana, itu adalah tim sepak bola sekolah kami. Aku duduk di salah satu bangku di tribun yang ada di bagian bawah. Sepertinya aku akan menghabiskan waktuku disini, menonton para laki-laki itu berlatih sepak bola.

Mataku menangkap sosok Jimin yang sedang berlarian mengejar bola. Helaian-helaian rambutnya beterbangan seiring semakin cepatnya ia berlari. Peluhnya mengalir dari kepala dan lehernya, membasahi jersey biru yang dipakainya. Dia tidak buruk juga dilihat dengan memakai jersey lengan pendek, celana pendek di atas lutut, dan kaus kaki di atas betis.

Oh! Itu Hoseok, si wajah lonjong. Dengan lincah dan gesit dia menggiring bola di kakinya menuju gawang. Satu persatu orang yang berusaha menghadangnya dapat ia lewati dengan baik. Wah… kemampuan bermain sepak bolanya memang tidak diragukan lagi, pantas saja dia menjadi kaptennya. Pandanganku tak terlepas dari sosoknya. Sama seperti Jimin, jerseynya itu sudah lepek karena keringatnya. Penampilannya sama seperti anak-anak lainnya, tapi dia memakai kaus kaki semata kaki sehingga kakinya itu terlihat. Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti itu, hm… kakinya itu… sexy juga. Entah mengapa melihatnya seperti itu rasanya… Ih! Apasih yang aku fikirkan? Aigoo… aku tidak boleh beranggapan seperti ini.

Dia berhasil memasukkan bola yang digiringnya itu ke dalam gawang. Teman-temannya bersorak dan bertepuk tangan, sedangkan dia terlihat biasa saja. Dia berbalik dan tak sengaja dia melihat ke arahku. Langkahnya terhenti dan untuk beberapa detik kami saling memandang. Dia menoleh ke arah salah seorang temannya lalu mereka terlihat berbicara. Setelah temannya itu pergi dia berjalan ke arahku.

“Kenapa kau ada di sini?” dia berdiri di hadapanku

“Tidak apa-apa. Memangnya kenapa? Apa aku mengganggu latihan kalian?”

“Sama sekali tidak.” Dia duduk di sampingku. “Kau sendirian?”

“Tidak.” Dia menoleh ke arahku. “Aku sedang bersamamu.” Jawabku dengan wajah datar

Hoseok tertawa. Apanya yang lucu? Ada yang salah dengan perkataanku? Memang benarkan aku sedang bersamanya saat ini?

“Jadi kau ke sini untuk melihatku?”

“Percaya diri sekali kau. Aku hanya tidak sengaja ke sini karena aku tidak tau harus kemana.”

“Jinjja? Hm… Karena kau sudah kesini untukku maka aku akan di sini saja menemanimu.”

Aku memutar bola mataku dengan malas seraya menghela nafasku. “Kalau begitu aku pergi saja.” aku berdiri lalu melangkahkan kakiku meninggalkannya

“Ya! Jang Wooren! Aku hanya bercanda, kenapa kau marah?”

Aku tetap melangkahkan kakiku. Biar saja dia terus berteriak seperti orang gila itu. Ku lirik jam tangan yang melingkar di tanganku, jam lima sore. Aku masih belum mau pulang, tapi sekarang aku harus kemana? Mall? Taman kota? Ah… kemana ya? Aku mendongakkan kepalaku ketika  mendengar suara petir. Aku pikir langit gelap karena hari sudah sore, tapi sepertinya sedikit lagi akan turun hujan. Oh damn! Baru saja aku menggumamkannya di dalam hati, sekarang rintikan hujan sudah turun. Haa… ottokhae? Aku harus kemana? Aish… hujannya makin deras. Aku segera berlari.

Aduuh kenapa halaman sekolah ini luas sekali sih? Bajuku sudah basah sekarang, uhg dingin… Aku semakin mengencangkan lariku. Tubuhku terputar ke belakang karena ada seseorang yang menariknya.

“Ternyata benar… Ya! Gadis anggrek yang bodoh! Kenapa kau malah bermain hujan-hujanan seperti ini eoh?”

Dia sebenarnya yang bodoh. Aku sedang berlari menghindari hujan tapi dia malah menarikku dan mengajakku mengobrol seperti ini. Sekarang aku basah kuyup. Sama sepertiku, dia juga sudah sangat kuyup, air hujan mengalir dan menetes dari wajahnya.

“Aku sedang tidak main hujan-hujanan. Dan sebenarnya kaulah yang bodoh! Kenapa malah mengajak ku menobrol di tengah hujan seperti ini?” aku sedikit berteriak agar dia bisa mendengar suaraku diantara suara hujan

Tanpa aba-aba dia menarik tanganku. Mengajakku berlari menuju parkiran. Sesampainya di sana dia langsung menyuruhku masuk ke dalam mobilnya. Aku hanya menurutinya saja.

@Yoongi’s apartement

Yaah.. pada akhirnya aku ke sini juga. Tapi tidak apa, aku bisa berlama-lama di sini menunggu rumahku sepi. Appa pulang biasanya jam sebelas atau bahkan lewat, aku pulang jam berapa ya? Hm… kalau dia belum tidur maka aku akan dicecar dengan beribu pertanyaan darinya yang tak inginku jawab sama sekali.

Aku melihat pantulan diriku di cermin yang ada di kamar mandi apartemen Yoongi.

“Oh! Bibirku memerah.” Gumamku

Yeah memang selalu seperti ini. Setelah sikat gigi, makan makanan pedas, dingin atau hangat, bibirku pasti  memerah. Aku tersentak begitu mendengar ketukan pintu kamar mandi.

“Kau tertidur di dalam ya?”

“Ah? Ani.”

Aku membuka pintu dan keluar dari sana. Ku lihat Yoongi sudah berada di balik meja pantry-nya lagi, sepertinya dia sedang memasak sesuatu. Aromanya harum sekali. Aku berjalan menghampirinya sambil menggosok-gosok rambutku dengan handuk yang bergelayut di bahuku. Untungnya aku membawa celana pendek di dalam tasku yang tahan air itu, tapi celana ini sedikit ketat, aku jadi tidak nyaman memakainya di depan laki-laki itu. Tapi untungnya kaus abu-abu yang Yoongi pinjamkan ini ukurannya besar di badanku, jadi bisa menutupi lekuk tubuhku, setidaknya.

Aku melihat ke dalam panci di atas kompor yang sedang diaduknya itu. Ternyata dia memasak ramen. Dia menoleh sekilas ke arahku.

“Kau lapar?”

“Hm, sedikit.” Aku kembali menggosok-gosok rambutku dengan handuk di bahuku

Yoongi menaruh garpu yang digunakannya untuk mengaduk ramen. Dia menoleh ke arahku. Dia menatapku, aku membalas tatapannya dengan wajah datarku. Kenapa sih dia? Tak ingin berlama-lama bertatapan mata dengannya aku melangkahkan kakiku keluar dari dapurnya.

Tiba-tiba dia menarik tanganku lalu membenturkan punggungku ke tembok, kedua tangannya berpegangan pada tembok di belakangku. Kepalanya sedikit dia miringkan lalu menatapku. Apa yang dia lakukan?

“Apa.. apa yang kalu lakukan?”

“Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan? Apa kau sedang mencoba menggodaku?”

Alis kananku terangkat, “Menggodamu?”

Matanya beralih menatap bibirku. Omo! Apa yang ingin dia lakukan? Jangan-jangan dia mau… aigoo. Akan aku tonjok wajahnya itu sampai hidungnya menjorok ke dalam. Tanpa ku sadari pergerakannya sekarang ibu jari tangan kanannya sudah menempel di bibirku, ibu jarinya menusap perlahan bibir bawahku dari sudut kiri sampai sudut kanan. Huuuaa apa yang dia lakukan?!

“Kau menggodaku dengan bibir merahmu.” Pandangannya terus tertuju pada bibirku

Oh Sh*t! Mungkin seharusnya tadi aku tak menggosok gigiku jika akan seperti ini. Dan kenapa juga bibirku harus sensitif dengan cepat memerah seperti ini? Aku mengalihkan pandanganku ke panci ramen yang ditinggalkannya itu.

“Oh!” aku menunjuk ke belakangnya, ke arah panci itu. “Kuah ramenmu mendidih.”

Dia menoleh ke belakang. Melihat kuah ramennya sudah mendidih dia beranjak meninggalkanku. Fiuh… untung saja, aku terselamatkan. Terimakasih Tuhan… Aku melangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Tak lama kemudian dia datang membawa panci yang berisi ramen yang tadi dimasaknya.

“Ada yang perlu ku bantu?”

“Ambilkan mangkuk untuk kita memakannya.” Aku segera berdiri dan melangkahkan kakiku menuju dapurnya. Setelah mengambil dua buah mangkuk dari lemari di bagian atas meja pantry aku segera kembali ke ruang tamu.

Yoongi kembali ke dapur. Beberapa detik kemudian dia keluar dari sana dengan dua buah cangkir di kedua tangannya. Dia pun duduk di sampingku, di atas hambal putihnya. Aku melirik isi cangkir setelah dia meletakkannya di dekat panci ramen, ternyata teh. Ada sedikit asap yang keluar dari cangkir itu. setelah menlihatnya menyendok ramen aku juga mulai menyendok ramen dari panci ke dalam mangkokku.

Uh panas. Tapi ramen ini sangat lezat. Apa dia tahu kalau aku suka makanan pedas? Ramen ini pedas juga apa lagi dimakannya semasih panas begini. Aku melirik Yoongi di sampingku. Aku tersenyum kecil, sepertinya dia kepedasan. Dia mengambil cangkir tehnya kemudian menyesapnya.

“Kau suka makanan pedas?”

“Ne. Nado jinjja choahae.” Jawabku sambil menunjukkan senyumku

“Hari ini kau tidak membawa motormu?” aku hanya menggeleng

“Wae?”

ku hirup udara dalam-dalam sebelum menjawabnya. “Abeoji tau kalau aku bekerja paruh waktu. Aku tidak tau kenapa dia sampai mengetahuinya. Yang jelas sekarang hidupku berada dalam kekangannya.”

Yoongi hanya terdiam setelah mendngar jawaban dariku. Sebenarnya aku tak yakin menceritakan ini padanya. Tapi aku tak tahu harus menceritakan ini pada siapa lagi kalau bukan Yoongi, ya karena hanya dia satu-satunya orang yang tahu.

I need you girl
wae honja saranghago honjaseoman ibyeolhae
I need you girl
wae dachil geol almyeonseo jakku niga piryohae~

Aku melihat ke layar ponselku yang menyala. Sebelum mengambilnya aku menyempatkan untuk meminum teh hangatku. ‘Abeoji’ nama yang tertera di layar ponselku. Hah, sepertinya dia mulai mencariku dan menghawatirkanku. Mungkin pesuruh-pesuruhnya itu melaporkan padanya kalau aku tak ditemukan. Biarkan saja, teruslah mencariku abeoji! Aku me-reject panggilannya lalu menaruhnya kembali di dekat kakiku.

Kami(aku dan Yoongi) menaruh mangkuk ramen kami bersamaan di atas meja yang ada di hadapan kami. Aku kembali meminum tehku yang masih hangat itu. Punggungku tersandar ke sofa di belakangku bersamaan dengan hembusan nafas panjangku. Yoongi menoleh ke arahku.

I need you girl
wae honja saranghago honjaseoman ibyeolhae
I need you girl
wae dachil geol almyeonseo jakku niga piryohae~

Ku lirik layar ponselku yang menyala. Hanya memandanginya, tak mempedulikannya. Itu adalah abeoji. Biarkan saja dia terus menelponku.

“Kenapa tidak mengangkatnya?”

Aku menoleh pada Yoongi di sampingku, “Biarkan saja.” aku kembali meluruskan pandanganku

Yoongi mengambil ponselku, “Kalau begitu silent saja.” jarinya mengutak-atik layar ponselku. Aku hanya diam.

Aku menekuk kedua kakiku lalu memluknya. Pandanganku kosong menatap tembok yang tak jauh di hadapanku. Saat ini laki-laki di sampingku sedang memandangiku, aku tahu itu tapi aku tidak mempedulikannya dan tetap terdiam.

“Wooren!”

Aku menoleh. Dan seketika aku terkejut begitu merasakan bibir Yoongi yang sudah menempel di bibirku. Mataku membulat. Aku melihat Yoongi memejamkan matanya. Entah mengapa tubuhku sangat kaku dan tak bisa di gerakkan. Jantung memburu, berdebar begitu cepat. Bibir kami terus menempel, tak ada pergerakan. Cukup lama sampai akhirnya dia mengatupkan bibir atas dan bawahnya di bibir bawahku. Dia kembali ke posisi awalnya. Aku masih saja terdiam, tak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Bahkan mataku tak berkedip sama sekali.

“Kenapa kau…” aku tak dapat melanjutkan perkataanku

“Karena kau habis makan ramen. Aku tak mau merasakan ramen dari mulutmu. Yah… walaupun kau sudah meminum tehmu yang manis itu.”

“YAK! Kau pikir aku mau bertanya kenapa kau melepaskan ciumanmu? Aku mau bertanya kenapa kau menciumku?!”

Dia terkekeh, “Tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa bibirmu merah seperti itu? Itu membuatku tergoda.”

“Ya! Apa di otakmu hanya ada ciuman eoh? Kenapa kau terus saja berusaha menciumku?!”

“Aku sudah mendapatkannya.” Dia tertawa, menjengkelkan sekali

“Dan aku akan terus berusaha untuk mendapatkannya lagi.”

“YA!” aku memukul lengannya dengan kencang, dia hanya tertawa sambil memegangi lengannya

“Tapi kenapa bibirmu sering memerah seperti itu hah?”

“Mollaso. Setiap makan makanan yang pedas, dingin ataupun panas. Dan juga setelah menyikat gigi. Aku tidak tau kenapa bibirku sesensitif itu.”

“Oh jinjja? Kalau begitu kau harus berhati-hati jika memakan makanan seperti itu.”

Aku memberikan tatapan tajamku.

“Tapi bibirmu itu manis juga.”

“YA!!”

Dia tertawa.

*****

Still Woo Ren pov

Yoongi menghentikan motornya di depan toserba milik Jang ahjussi. Aku segera turun dari motor sport putihnya. Tadi aku memintanya mangantarku ke sini, tak ku sangka dia mengajakku naik motor, ternyata dia punya motor sport juga. Aku membuka helm yang ku pakai, begitu juga Yoongi.

Kami masuk ke dalam toko. Aku mengedarkan pandanganku mencari Jang ahjussi karena aku tak melihatnya di meja kasir, bahkan meja itu kosong. Ternyata dia ada di tempat minuman, dia sedang menaruh minuman-minuman kaleng di sana. Aku menghampirinya, Yoongi berjalan mengikutiku.

“Jang ahjussi?”

Dia menoleh, “Oh! Wooren?” dia menghentikan pekerjaannya

Jang ahjussi membalikkan tubuhnya menghadapku. Pandangannya tertuju pada Yoongi yang berdiri di belakangnku lalu melirikku. Aku mengerti, pasti dia bertanya-tanya siapa laki-laki yang bersamaku ini.

“Ah, perkenalkan ini Min Yoongi. Dia temanku.”

“Teman?” Yoongi langsung memprotesku dengan kerutan di keningnya

“Ya teman, memangnya apa?”

Dia mengalihkan pandangannya dengan malas sambil menghembuskan nafasnya. Jang ahjussi yang melihat itu tersenyum. “Tidak usah malu mengakuinya sebagai namjachingu-mu padaku Wooren.”

“Mwo? Tidak, dia memang temanku. Dia bukan pacarku.”

“Yasudah kalau begitu. Jadi apa yang membawamu ke sini?”

“Mmmm… begini ahjussi, sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu. Beberapa hari terakhir aku sering tak masuk bekerja dan sekarang aku ingin mengundurkan diriku. Aku akan berhenti bekerja.”

“Memang kenapa?” nampaknya Jang ahjussi sedikit terkejut

“Karena… ah… igo…”

“Karena dia kelelahan jika setiap hari harus bekerja. Ahjussi juga mengetahui kalau dia masih pelajar tingkat SMA. Kegiatannya begitu padat, setiap hari bangun pagi dan berangkat ke sekolah, baru pulang saat sore hari, harus bekerja sampai malam. Belum lagi dengan tugas-tugas sekolahnya. Dia hanya tidur kurang dari enam jam perhari dengan aktivitas padatnya.” Yoongi meyela perkataanku

Aku hanya mengangguk sambil menatap Jang ahjussi. Kali ini Yoongi menyelamatkanku. Alasan yang dibuatnya itu cukup bagus dan masuk akal. Karena aku tak mungkin mengatakan kalau aku dipaksa appa-ku untuk berhenti bekerja karena sebenarnya aku adalah anak dari seorang pengusaha yang cukup terkenal. Raut wajah Jang ahjussi menyimpan cemas dan iba padaku. Sedetik kemudian dia menghembuskan nafasnya lalu tersenyum padaku.

“Baiklah Wooren, kalau itu memang kemauan dan keputusanmu. Maafkan aku jika selama menjadi bosmu aku punya banyak kekurangan dan kesalhan.”

“Ahjussi, mianhae hajima… aku yang seharusnya mengatakan hal seperti itu padamu. Karena aku tidak menjadi pekerja yang baik untukmu. Terimakasih untuk kesempatan selama ini.” aku membungkukkan badanku memberi hormat padanya

“Tunggu sebentar, aku akan memberi gaji terakhirmu.” Dia bergegas ke ruangannya yang ada di sebelah meja kasir.

Aku dan Yoongi hanya terdiam menunggu Jang ahjussi kembali. Tiba-tiba pintu toko terbuka, kami menoleh bersamaan. Nami eonni terlihat berjalan ke meja kasir. Tak sengaja dia menoleh ke arah kami.

“Oh! Wooren?” dia tersenyum padaku

“Eonni.” Aku menghampirinya

“Kemana saja kau? Kenapa akhir-akhir ini kau jarang datang?” Nami eonni mengerucutkan bibirnya

Aku terkekeh melihat tingkahnya, “Mianhae… aku hanya kecapean dengan sekolahku.”

“Lalu sedang apa kau di sini di jam segini? Bahkan ini sudah lewat dari jam sembilan malam.”

“Aku… sebenarnya aku ingin berhenti bekerja.”

“Berhenti? Wae?” Nami eonni sepertinya terkejut mendengarnya

“Seperti yang ku katakan tadi, aku terlalu capek dengan sekolahku eonni. Maafkan aku.”

“Kalau begitu belajarlah yang pintar Wooren-ah.” Nami eonni membelai puncak kepalaku sambil tersenyum

Dia mengalihkan pandangannya pada Yoongi yang sedari tadi berdiri di belakangku. Seketika senyum di wajahnya surut. Dia menatap Yoongi tak percaya, mulutnya sedikit terbuka. Aku menoleh melihat Yoongi. Dia menatap Nami eonni dengan tajam, sangat tajam. Seperti ada kemarahan di matanya. Aku kembali melihat Nami eonni, tatapannya melemah, mulutnya bergerak-gerak seperti tergagap ingin mengatakan sesuatu namun suaranya tak keluar. Matanya mulai berkaca-kaca. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa mereka bertatapan seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi?

-TBC-

 

Haaiii… aku post lagi nih. Adakah yang menanti? Ga ada ya? Oke no prob

Syudah selese UN nih chingu, semoga bisa post lebih cepat dan ceritanya lebih baik lagi ya…

Jangan lupa comment-nya

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

7 thoughts on “FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 10

  1. Keren thor..ditunggu banget lanjutannya.. maap baru ninggalin comment :’3
    Masih penasaran sama si jungkook :’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s