FF/ FATE/ BTS-AOA/ pt. 9


 Fate 09_resized

      Title : FATE Pt.9

 

Cast :

  • Kim Seok Jin (BTS)
  • Shin Hye Jeong (AOA)

 

Support Cast :

  • Yagi Harumi
  • Irie Naoki

 

Genre : Sad, Friendship , Romance , NC

 

Length : Chapter

 

Author : Chahaekris

 

 

P.S :

Listen to BTS Ballad Song to immerse the feeling ♥

 

 

 

*

I can only see you
I can only see you alone
Look, I’m fair with everyone else but you
Now I can’t live a day without you, please

Hold me tight, hug me
Can you trust me, can you trust me
can you trust me
Pull me in tight
Hold me tight, hug me
Can you trust me, can you trust me
Please, please, please pull me in and hug me…

 

HyeJeong melangkahkan kakinya dengan riang menuju Apartmentnya ,

Senyum tak henti menghiasi wajah gadis itu ,

Ia merogoh sakunya dan meraih ponselnya , menekan tombol 4.

 

Lama tak ada jawaban dari seberang…

HyeJeong mengerutkan alisnya, ia menghubungi sekali lagi dan menunggu…

 

“chagiyaaaa…”

 

HyeJeong tersenyum mendengar sahutan hangat yang selalu lelaki ini berikan padanya.

 

“oppa…apakah hari ini kau pulang cepat?”

 

Hyejeong terdiam sesaat mendengarkan apa yang di katakan Jin,

 

“begitukah?

Arrata…aku akan menunggumu”

 

Pip.

 

Hyejeong mematikan sambungan telepon dan bergegas menuju dapur,

Ia mengeluarkan tepung , telur , gula dan alat-alat membuat kue,

 

**

 

 

Jin masih berkutat dengan tugas-tugas kampus yang menumpuk mengingat tahun ini adalah tahun kelulusan Jin.

Matanya masih menatap layar computer dengan jari-jarinya yang sedang mengetik dengan lincah pada keyboard.

 

Harumi yang hendak pulang merapikan perlatannya di atas meja dan melirik sekilas ke arah Jin

“kau belum selesai?” tanyanya.

 

“ehm…sebentar lagi selesai” Jin berbicara namun tatapannya masih pada layar computer.

 

Harumi menarik kursiya lebih mendekat di sebelah Jin dan menatap pria di sampingnya ini.

 

“apa rencanamu setelah lulus nanti?”

 

Jin yang masih terfokus pada layarnya menghentikan ketikannya dan menoleh ke arah Harumi.

 

“Kembali ke Korea…” ucap Jin sambil tersenyum.

 

Harumi menganggukkan kepalanya “benar…kau akan kembali ke Korea…apa Hyejeong akan ikut bersamamu?”

 

Jin mengangguk “tentu…aku dan HyeJeong akan tinggal di Korea setelah kelulusan ini”

 

“tapi…bukankah Hyejeong…tak ada keluarga lagi di sana?” dengan hati-hati Harumi bertanya

 

Jin mematikan komputernya dan merapikan barang-barangnya di atas meja,

Lalu tersenyum ke arah Harumi “bukankah aku juga keluarganya sekarang,”

 

“lalu kalian akan tinggal bersama juga? Jin…apakah orang tuamu sudah kau beritahukan tentang HyeJeong?”

 

Jin terdiam sejenak lalu ia kembali tersenyum,

“aku akan mengatakannya ketika aku kembali ke Korea sebelum kelulusan tahun ini, aku ingin Ibu dan Ayahku bertemu dengan HyeJeong secara langsung”

 

“dan aku harap Keluargamu sangat menyukai HyeJeong…aku sangat mengharapkan hal seperti itu terjadi padaku…” kata Harumi sambil menundukkan kepalanya.

 

“ada apa?

Apakah kau baik-baik saja?” Jin menatap Harumi dengan bingung.

 

Harumi menghela nafasnya,

“minggu yang  lalu ketika aku dan Naoki kembali ke Apartment  setelah pulang kuliah…tiba-tiba saja muncul seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang bisa di katakan Elegan di depan pintu Apartment Naoki, yang tidak lain itu adalah Ibunya Naoki….ahhhh Jin bolehkah aku bercerita padamu…“ rengek Harumi

 

“yaa lanjutkan aku akan mendengarkannya”

 

“Ibunya menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan yang bisa di bilang … menjijikkan.” Harumi mulai menghela kembali nafas beratnya sebelum ia melanjutkan kata-katanya,

“kami bertiga duduk di ruang tamu dan Ibunya mulai berbicara”

 

“Naoki…ibu sangat tau teman-temanmu yang membuatmu seperti ini…kau menjadi urakan , susah di atur dan menjadi pembangkang. Ayahmu meninggalkan Ibu sendirian dan sekarang kau juga seperti ini pada Ibumu?”

 

“Ibu…aku sama sekali tak mengerti maksudmu bu” potong Naoki dengan emosi

 

“Naoki ibu ingin kau kembali ke rumah…sekarang juga”

 

“apa?? Tidak…aku tidak mau kembali tinggal di rumah itu.”

 

“apa maksudmu?”

 

“aku tidak ingin mengingat semua kejadian yang pernah ia lakukan padaku” ujar Naoki menahan amarahnya.

 

Harumi yang tidak tau apa-apa hanya membungkam bibirnya, menundukkan kepalanya dan terdiam seperti hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu.

 

“kau tidak ingin kembali ke rumah karena wanita ini bukan?” cibir wanita paruh baya tersebut.

 

“Ibu…aku meninggalkan rumah jauh sebelum aku mengenal Harumi. Jadi jangan sama sekali mengikut campurkan Harumi dalam masalah ini. Lagipula aku lebih nyaman dengannya bukan dengan Ibu” jawab Naoki dengan enteng.

 

Wajah wanita paruh baya itu memerah menahan amarah mendengar ucapan putranya.

 

Harumi masih menundukkan kepalanya tidak berani menatap wanita yang di panggil Ibu oleh Naoki.

 

“Ibu bisa mencarikanmu gadis yang lebih baik Naoki, yang lebih pantas untukmu, bukan gadis yang menjual pahanya sebagai iklan berjalan”

 

Naoki tersenyum kecut “oh…apa hanya dengan menilai orang dari luar Ibu tau bagaimana menilai gadis baik dan buruk?”

 

“apapun yang Ibu katakan aku sudah tidak peduli lagi…seperti kata-kataku sebelum aku meninggalkan rumah. Aku tidak akan pernah kembali lagi” ujar Naoki dengan mantap.

 

Wanita paruh baya itu berdiri dan merapikan pakaiannnya yang tidak kusut sama sekali “Baiklah…jika kau memilih gadis ini. Ibu tidak akan pernah menganggapmu sebagai anak lagi.”

 

“setelah mengatakan hal itu , Ibunya langsung pergi begitu saja tanpa menoleh lagi kearahku ataupun Naoki…sampai sekarang aku masih memikirkan perkataannya Jin…apa yang harus aku lakukan?” Harumi mulai terisak

 

Jin terdiam mendengarkan cerita Harumi…

“apakah Naoki juga mengatakan sesuatu padamu?”

 

“ia hanya mengatakan tenang saja…Ibunya memang seperti itu. Tapi kau tau kan rasanya jika kau menjadi aku Jiiiiinn” isakan Harumi semakin keras.

 

Jin mengelus pelan pundak sahabatnya itu “jika Naoki sudah berkata seperti itu , kau harus percaya padanya…jika Cinta kalian kuat kalian tidak akan pernah berpisah”

“hanya kalian berdua yang bisa tau bagaimana cara menghadapinya” Jin tersenyum.

“Naoki pasti punya cerita di balik sikapnya yang kasar terhadap Ibunya”

 

Harumi menganggukkan kepalanya mengerti.

Ia merogoh sakunya yang bergetar karena ponselnya “Halo…” Harumi berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar seperti terisak.

 

“Naoki sudah bawah…kau ingin ikut dengan kami? Kebetulan Naoki membawa mobilnya”

 

“tidak usah…aku masih ada keperluan sebentar, kau duluan saja” ujar Jin

 

“benarkah?”

 

Jin mengangguk meyakinkan

 

“Hyejeong sangat beruntng bisa memilikimu Jin, kau memang yang terbaik,terima kasih…  baiklah aku duluan bye bye” Harumi melambaikan tangannya dan berjalan menuju pintu.

Jin mengambil ponselnya dan menatap lock screennya, fotonya dan HyeJeong. Ia  tersenyum kemudian menyambar tasnya.

 

Perasaannya hari ini sangat senang, sehingga ia ingin cepat-cepat bertemu dengan HyeJeong.

 

Cuaca dingin mulai terasa di daerah Osaka dan sekitarnya, hanya saja di sini salju turun sekitar 2-3 kali dalam setahun sepanjang musim dingin. Salju pertama turun di awal bulan Desember ,Jin mengusap-usap tangannya untuk memberinya kehangatan. Ia menuju Toko Bunga dekat kampusnya untuk membelikan HyeJeong bunga. Namun ketika Jin berbalik dan ingin membuka pintu ,tiba-tiba badai salju di luar sana. Ia menghela nafasnya berat,menyayangkan ia sangat ingin pulang lebih awal malam ini . Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu di dalam Toko Bunga itu yang kebetulan memiliki connecting room dengan Café yang ada di sebelahnya.

 

Sambil menyesap Caramel Macchiatonya ,Jin menatap layar ponselnya namun ia tidak mungkin memberitahukan HyeJeong bahwa ia terjebak di toko bunga, bukankah ia ingin memberikan HyeJeong kejutan.

Sekumpulan remaja, gadis dan Ibu-ibu selalu tersenyum malu-malu jika melewati Jin , Jin hanya tersenyum ketika ada yang memperhatikannya.

Mereka manatap Jin dalam kekaguman akan ketampanan dan keramahan Jin.

Bisa di bayangkan Jika melihat senyum Jin setiap hari , beruntungnya HyeJeong.

 

Pukul 10 malam , selama sejam Kota Osaka di hujani badai salju lebat.

Jin yang merasa risih di perhatikan terus dengan orang-orang di sekelilingnya mempunyai inisiatif ingin bertemu dengan si pemilik Toko Bunga ini.

 

Jin bertemu dengan Ibu separuh baya yang sepertinya seumuran dengan Ibunya yang sangat ramah.

 

“kau serius ingin mencoba berbisnis bunga nak?”

 

Jin mengangguk “calon istriku tepatnya, aku ingin bertanya-tanya sedikit mengenai apa saja yang harus aku siapkan”

 

Tidak beberapa lama Jin tersenyum sambil membungkukkan badannya berterima kasih pada Ibu pemilik toko, senyum bahagia masih menghiasi wajahnya ketika ia keluar dari toko.

 

Jin segera mempercepat langkahnya namun hati-hati karena salju yang lebat ,tak sabar ingin segera sampai memberitahukan kabar gembira ini pada HyeJeong.

 

Namun sesampainya Jin di Apartmentnya ,ia mendapati Hyejeong yang tertidur di Sofa ruang tamu, pasti gadis ini ketiduran menungguku pulang, batin Jin dalam hati.

 

Jin terseyum melihat ekspresi wajah Hyejeong yang tertidur dengan pulas, perlahan Jin mengangkat tubuh Hyejeong dan memindahkan ke dalam kamar.

 

“oppa…”

Belum sempat Jin meletakkan HyeJeong  di ranjang , gadis itu membuka matanya perlahan.

 

“mengapa kau bangun?”

 

“pukul berapa ini oppa?” tanyanya kembali.

 

Jin yang masih berdiri melirik ke arah jam dinding “pukul 11.44”

 

“mengapa kau pulang selarut ini oppa?” Hyejeong mempoutkan bibirnya.

 

Jin menurunkan Hyejeong di ranjang dalam keadaan terduduk,

 

“kau tunggu sebentar di sini, aku akan mengambil sesuatu” ujar Jin , namun dengan cepat Hyejeong menyambar lengan lelaki ini dan menariknya hingga terduduk di samping Hyejeong.

 

Jin yang terkejut hanya menatap gadisnya dengan mata lebar,

 

“oppa..kau yang tunggu di sini, aku akan segera kembali , mengerti?” Hyejeong menghambur berlari keluar kamar.

 

Jin masih memasang wajah bingungnya.

 

 

 

Hyejeong segera membuka kulkas dan mengeluarkan kue yang ia buat sendiri dan memasangkan 4 lilin pada masing-masing sudut dan menyalakannya.

 

Jin menatap pintu yang memantulkan cahaya menerawang perlahan mendekat,

 

“Saengilchuka hamnida,

Saengilchuka hamnida,

Saranghaneun Jin oppa…saengilchuka hamnida” Hyejeong muncul sambil membawa kue mendekat ke arah Jin,

Jin tersenyum dan berdiri menghadap Hyejeong.

 

“oppa make a wish”

 

Jin menutup matanya sejenak dan meniup lilin.

 

“apa yang kau mohon oppa?”

 

“itu rahasia…”

 

“baiklah…sekarang aku ingin memberikanmu kejutan kedua” Hyejeong meletakkan kue ulang tahun Jin di atas meja lalu berlari ke luar kamarnya dan kembali dengan sesuatu di balik pungungnya.

 

“aku harap oppa suka…” Hyejeong memberikan sebuah kotak dengan pita pink di atasnya,

 

Jin memperhatikan kotak itu dan kemudian membukanya,  matanya membesar melihat sebuah bingkai yang berisi sketsa dirinya dan Hyejeong kecil dengan sepedanya sedang tertawa bahagia, tawa bahagia yang bahkan Jin sendiri tidak bisa mengartikan apa artinya.

Ia sangat mengingat saat bagaimana Hyejeong kecil tertawa dan tersenyum menatap dirinya ketika itu, saat dimana Jin menyadari bahwa ia selalu ingin membuat gadis kecil ini tertawa, saat dimana ia merasakan bahwa ia “menyukai” gadis kecil ini sejak pertama kali ia bertemu.

Dan sekarang ia sangat “Mencintai” gadis kecil ini.

“Oppa?”

 

Jin tersadar dari lamunan masa lalunya,kemudian ia tersenyum “mianhe tiba-tiba saja aku mengingat bagaimana kita pertama kali bertemu” Jin menyadari ada sesuatu di balik bingkai itu, sebuah sweater biru.

 

Hyejeong menunggu respon Jin apakah ia suka dengan pemberiannya itu.

 

“Hyejeong’a…terima kasih banyak,ini sangat bagus…aku akan memakainya besok”

 

Hyejong mengangguk senang.

 

Jin berjalan menuju rak buku di sebelah tempat tidur Hyejeong dan meletakkan bingkai tersebut, sedikit menata letaknya agar terlihat bagus.

 

“oppa…masih ada hadiah ketiga untukmu”

 

Jin membalikan tubuhnya dengan cepat “masih ada lagi?” tanyanya dengan heran.

 

‘wae? Kau tidak mau hadiah ketigamu?” Hyejeong mempoutkan bibirnya kecewa.

 

“ani…bukan begitu, kau memberiku banyak sekali hadiah malam ini. Itu saja sudah cukup membuatku bahagia di tambah lagi dengan adanya kau di sini bersamaku” ujar Jin menghampiri Hyejeong yg tengah terduduk di ranjangnya.

Ia duduk di sebelah Hyejeong dan menunggu.

 

Hyejeong tersenyum “kau menunggu hadiahmu?”

 

Jin mengangguk dengan senyum manisnya.

 

Cup.

 

Bibir Hyejeong mendarat tepat di bibir Jin.

 

Sudah ia duga , Hyejeong pasti akan melakukan hal ini padanya. Perlahan ia menutup matanya menikmati bibir Hyejeong yang mulai melumat bibir Jin lembut.

Hyejeong meletakkan tangannya pada leher Jin,

Jin memeluk pinggang Hyejeong, ciuman mereka semakin dalam.

Tak berapa lama Hyejeong melepas tautan bibir mereka dan memandang Jin dalam tatapan yang penuh arti.

 

“gomawo…sekarang kau tetap di sini , kini giliranku yang memberikanmu kejutan” Jin dengan segera keluar dari kamar dan kembali dengan membawa sebuket bunga di tangannya.

 

“maafkan aku karena aku pulang telat, aku terjebak badai salju di toko bunga setelah membeli ini…dan aku sudah meminta Ajjuma di toko bunga itu untuk membantu kita dalam tahap membuka usaha, dia dengan senang hati akan membantu kita Hyejeong’a”

 

Hyejeong menerima bunga yang Jin berikan dan menatap Jin dengan mata berkaca-kaca

“aku yang harusnya berterima kasih atas segala yang kau berikan padaku oppa…”

 

Hyejeong memeluk Jin dengan bahagia,

Mata mereka bertemu kembali, Jin dengan segera mencium bibir Hyejeong dengan cepat.

Kali ini Hyejeong tak terkejut, ia membalas setiap tautan bibir Jin.

Jin tak henti-hentinya melumat bibir Hyejeong.

Hyejeong meletakkan bunga yang sedari tadi ia pegang ke atas ranjang.

Perlahan Jin menidurkan Hyejeong ke atas ranjang dengan dirinya berada di atas Hyejeong,

Bibir mereka masih bertautan, jemari Jin tak sabar ingin menyentuh tubuh Hyejeong.

Hyejeong tak mengelak , ia pun ingin Jin menyentuhnya lebih jauh lagi.

Jin beralih menciumi telinga Hyejeong , turun ke leher jenjangnya yang putih.

Menggoda Hyejeong dengan segala godaan yang ia miliki,

Hyejeong melenguh pelan dengan mata terpejam , menandakan bahwa ia menikmati setiap sentuhan yang Jin berikan padanya.

Jin kembali menatap Hyejeong yang masih memejamkan matanya.

Ia menikmati apa yang aku lakukan padanya , batin Jin.

Tak lama Hyejeong mulai membuka matanya karena Jin menghentikan kegiatannya menciumi Hyejeong.

 

“Kau percaya padaku?”

 

Hyejeong tak kuasa menahan tatapan tajam Jin yang menurutnya seksi dan menggoda itu.

Ia mengangguk pelan.

 

Namun suasana yang mendukung itu terganggu karena suara bell pintu yang berbunyi.

 

Jin tersenyum kemudian mencium kening Hyejeong,

“aku yakin itu Naoki dan Harumi” ia menarik tangan Hyejeong agar mengikutinya menyambut “penggangu” di depan pintu itu.

 

Perkiraan Jin tepat , Harumi & Naoki muncul dengan sorak sorai di depan pintu.

Apartment yang tadinya sepi dan tenang mendadak menjadi ramai dengan pesta dadakan merayakan ulang tahun Jin.

 

Hyejeong tersenyum melihat kebahagiaan di mata Jin,

Senyuman anak laki-laki yang ia temui 14 tahun yang lalu masih sama.

 

 

 

***

Ting tong

Ting –tong

 

“Tuan Kim Seok Jin , ada kiriman surat untuk Nona Shin Hyejeong”

 

“Baik, terima kasih banyak Tuan Amura” Jin berjalan menghampiri Hyejeong dengan sebuah amplop di tangannya. Ia memberikannya pada Hyejeong.

 

To : Ms. Shin Hye Jeong

From : Mr. Kang Min Hyuk

 

“Kang Min Hyuk? Aku tidak mengenal Tuan Kang ini” Hyejeong membuka amplop tersebut dan mulai membacanya.

 

“Dear Nona Shin Hyejeong, saya adalah pengacara Tuan Shin Ki Hwang-“ tenggorokan Hyejeong terasa tercekat membaca nama Shin Ki Hwang , nama Ayahnya. Ia mengatupkan kedua bibirnya, terkejut pasti.

 

Tanpa Jin mengerti, Ia meraih surat tersebut dan melanjutkan membaca isi surat misterius itu,

“melalui surat ini , ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan secara langsung kepada anda.

Saya harap agar anda bisa menemui saya di Restaurant Yamada pada tangal 6 pukul 18.00”

 

Hyejeong masih shock dengan datangnya surat itu,

“dia pengacara ayahku oppa…”

 

“Aku akan menemanimu ke sana”.

 

 

TBC

 

 

Annyeong Readers…

Maaf banget yah aku sempet hiatus selama kurang lebih 6 bulan yah…3 bulan lagi brojol(?)

Mian bgt yah…

Aku terharu bgt baca comment2 kalian di part yang sebelumnya, ternyata banyak yang masih nunggu FF ini lanjut T.T

Dan aku selalu take a note untuk comment2 yang di berikan, FF ini ak buat untuk menuangkan ide dan kepuasan tersendiri karena JinxHyejeong Shipper. Sekedar pemberitahuan karena FF ini lebih ke Gendre “Sad” aku ga begitu meluapkan segi NCnya ( walau sebenarnya ingin >.< ) karena nanti ceritanya jadi ga nyambung. Hehe..

Tapi nanti PASTI kok aku kasi NCnya biar readers jadi greget bayangin Jin, aaaaak *.*

FF ini awalnya aku mau akhiri sampai part 10 aja, itu sebabnya ga ak lanjutin aja cerita bertemunya HyeJeong ama si Pengacara karena ak ingin ada 2 part lagi untuk mengakhiri FF ini.

 

Semoga readers selalu mendukung FFku ini…untuk part selanjutnya masih dalam masa pengerjaan jadi akan di post ontime…Kamsahamnida

 

Love Pinkies

Chahaekris

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

6 thoughts on “FF/ FATE/ BTS-AOA/ pt. 9

  1. Knapa ada penggangu di saat yg paling romantis (ketauan bgt yadongnya) *plakkk
    Itu knapa ada pengacara sgala emng nya ada apa
    Lnjutkan thor mkin kesini mkin bagus cerita nya Author fighting

  2. Selalu menanti kelanjutan cerita ff ini🙂 apalagi aku penggemar berat AOA jadi senang banget nemu ff ini xixi~ semangat terus thor!!! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s