FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 9


PicsArt_1455445456391

Author : AL lee

Title : DARK BLUE DREAMCATCHER

Cast :

  • Jang Woo Ren (OC)
  • Min Yoongi
  • Jung Hoseok
  • Park Jimin
  • Kim Soekjin
  • Kim Namjoon
  • ect

Genre  : School life, romance, comedy(?), sad(?)

 

Woo Ren pov

BRAKK

Kedua laki-laki itu sepertinya sudah masuk ke dalam toilet. Suara decitan sepatu mereka terdengar jelas. Aku sangat ketakutan, jantungku berdebar tak beraturan. Orang di belakangku terus membekap mulutku, aku tidak tahu siapa dia karena aku belum melihat wajahnya.

“Dia tidak ada. Bagaimana ini?”

“Sepertinya dia tidak ke sini. Aah… kita melewatkannya.”

“Ah, kau itu memang payah! Tidak seharusnya aku menuruti perkataanmu. Kau bilang dia ke sini tapi tidak ada. Ini hanya membuang-buang waktu saja.”

Tak berselang lama suara mereka sudah tak terdengar. Aku menghela nafasku, lega. Tapi seketika aku ingat kalau saat ini ada seseorang yang sedang membekapku dari belakang. Ah sial! Aku memutar tubuhku dengan cepat menghadap ke arahnya. Mataku membulat seketika ketika melihat siapa orang itu. Aku memundurkan langkahku menjauhinya sampai punggungku membentur pembatas kamar mandi. Ya, kami masih berada di salah satu sekat kecil kamar mandi. Dia menatapku.

“Tidak usah takut, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Sebaiknya kau lebih berhati-hati.”

Dia keluar begitu saja meninggalkanku. Aku mengikutinya ke luar dari kamar mandi. Dia terus melangkah keluar toilet sampai langkahnya sudah tak terdengar sekarang. Aku mematung. Terdiam memikirkan yang baru saja terjadi. Hoseok… Bagaimana bisa? Kenapa dia ada di sini? Atau jangan-jangan dia sudah mengetahui kalau akulah si Cool girl itu? Aku meraba wajahku, masih ada masker yang menutupinya. Sebenarnya apa yang terjadi? Tapi apapun itu, Hoseok sudah menyelamatkanku.

Dengan langkah cepat aku keluar dari toilet menuju parkiran. Sekolah sudah sangat sepi sekarang. Jujur saja aku masih shok dengan kejadian tadi, tapi sudahlah, itu sudah berlalu. Aku memasang headset di telingaku dan memutar lagu dari ponselku. Dengan mendengarkan lagu suasana hati dan fikiranku biasanya akan berubah, semoga saja akan sama dengan saat ini.

Motorku sudah terlihat, tinggal motorku saja yang masih terparkir di sana. Aku semakin mempercepat langkahku. Tiba-tiba seseorang menahan pergelangan tanganku. Aku menoleh ke belakang. Wajah laki-laki itu nampak kesal.

“Pantas saja.” Yoongi melepaskan headset yang ku pakai “Kau kemana saja? Kenapa baru keluar?”

“Tidak apa-apa.”

“Ya! Buka maskermu itu, aku sedang berbicara padamu.”

“Yasudah katakan saja.”

Dia terdiam menatapku. Ah tatapannya itu…

“Sudahlah, aku ingin pergi bekerja.”

“Kau pulang kerja jam berapa?”

“Sembilan malam.”

“Mwo? Kalau begitu bisakah kau tidak bekerja hari ini?”

“Tidak bisa. Sudah ya?” tanpa menunggu jawabannya aku berbalik, tapi dia menarik tanganku lagi

“Hey tunggu dulu! Nanti sebelum jam tujuh aku akan menjemputmu.”

Aku mengerutkan keningku, “Untuk apa?”

“Kencan.”

“MWO?!” Apa dia bilang? Kencan? Oh ya ampun… dia mulai lagi. Dia masih saja beranggapan seperti itu rupanya. Jadi permintaan maafnya hanya sekedar omongan saja? Ah dasar. “Tidak bisa aku sibuk.”

“Aku tidak peduli, pokoknya nanti malam kita kencan.”

“Kau tidak mengerti ya? Aku harus bekerja.”

“Aku akan datang ke rumahmu dan bilang pada appa-mu kalau kau bekerja part time.”

“Mwo?! Omo omo… kau ini benar-benar.”

“Sudah ya, aku mau pulang. Kau pulanglah, hati-hati. Dan satu lagi… berdandanlah yang cantik.” Dia tersenyum padaku. Whoa, apa itu? menjijikan sekali mendengarnya. Ya baiklah aku tidak akan bekerja hari ini. Dan aku juga tidak akan berkencan dengannya! Huh! Dasar!

*****

Still Woo Ren pov

Aku terbangun dari tidurku. Sepertinya ini sudah malam. Ya, aku tidak bekerja hari ini, untungnya bosku yang baik itu mengizinkanku. Ide Min Yoongi bagus juga, dengan begini aku bisa istirahat dengan cukup. Aku mengambil ponselku yang ada di atas meja di samping tempat tidurku.

“Whoa… aigoo…” aku cukup terkejut melihat ada delapan pesan dan duapuluh panggilan tak terjawab, siapa orang gila yang melakukannya kecuali Min Yoongi?

Aku melihat jam yang tertera di sudut atas layar ponselku, ini sudah jam tujuh malam lewat lima belas menit. Aku tertawa. Yeah, aku senang mengerjai orang itu. Biar saja dia terus menungguku, aku tak akan datang. Teruslah menunggu sampai lumutan Min Yoongi hahaha.

Ternggorokanku rasanya kering sekali. Aku beranjak dari tempat tidurku lalu keluar kamar. Hmm seperti biasa, rumah sepi. Abeoji belum pulang, ya dia biasa pulang diatas jam sebelas malam. Oh ya bagaimana dengan halmoni, kasihan dia pasti sendirian dan kesepian karena tak ada yang menemani.

Hwa jom naejima hajima jebal geureojima
Jjajeungna yeorina neol saranghajanha
Myeot beoneul malhaeya neon nae mameul alkka

Aku menuruni anak tangga sambil bernyanyi-nyayi menyanyikan lagu B.A.P-Stop it. Sepertinya penampilanku sudah tak karuan. Aku menoleh ke ruang tamu yang ada di sebelah tangga sambil mengacak rambutku ketika mendengar suara halmoni. “Jebal jom uk! Haji….ma.”

Tanganku perlahan turun dari kepalaku. Mata dan mulutku terbuka sempurna ketika melihat Min Yoongi sedang duduk di hadapan halmoni, mereka menghentikan obrolan mereka dan melihat ke arahku.

“Wooren, kau sudah bangun? Ke sini.”

“YA!!” bukannya menjawab halmoni aku malah menunjuk ke arah Min Yoongi

Dia memperhatikanku dari ujung kepala sampai ke ujung kaki dengan wajah datarnya. Omo! Aku segera menyembunyikan diriku di balik tembok tangga. Aish… aku merapikan rambutku dan sedikit menurunkan celana pendekku. Aduh.. penampilanku saat ini benar-benar kacau. Aku hanya memakai kaus putih dan celana jeans yang hanya menutupi setengah pahaku, bagaimana ini? Aduh… kenapa dia ada di sini?

“Wooren, kemarilah.” Halmoni memanggilku lagi

Aku keluar dari persembunyianku dan berjalan dengan ragu menghampiri mereka yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Aku menundukkan kepalaku. Haaah… bagaimana ini?

“Aigoo… kenapa penampilanmu masih seperti ini? Oppa-mu sudah menunggumu sedari tadi.”

Aku mengangkat kepalaku, “Oppa?” aku menatap halmoni dengan kerutan di keningku

Halmoni mengalihkan pandangannya ke depan, mataku mengikuti arah pandangannya, Min Yoongi. Dia memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki, lagi-lagi, sial!

“Yak, kenapa memperhatikanku seperti itu?!”

“Aigoo… Woorenie, jangan membentak oppa-mu seperti itu.”

“Dia bukan oppa-ku halmoni.”

“Tapi dia bilang…”

“Dia bohong.” Aku memotong perkataan halmoni.

Aku mengalihkan pandanganku pada Yoongi, dia menatapku dengan wajah tanpa dosanya.

“Yasudah, halmoni ke kamar dulu ya. Pulangnya jangan terlalu malam. Yoongi, tolong jaga Wooren kami ya.” Halmoni tersenyum pada laki-laki yang menyebalkan itu

“Nde halmoni, aku pasti akan menjaganya.” Yoongi membalas senyuman halmoni

Halmoni beranjak dan pergi meninggalkan kami. Sekarang tinggal aku berdua dengan Yoongi di ruang tamu. Hah aku tak sabar ingin menghardiknya. Dia menatapku.

“Untuk apa kau ada di sini?” tanyaku ketus

“Kau ingin berkencan dengan berpakaian seperti itu?”

“Siapa juga yang mau berkencan?”

Dia menyandarkan punggungnya sambil menghela nafas. “Halmoni…” Dia sedikit berteriak memanggil halmoni, “Ada yang ingin ku bicarakan dengan halmoni. Aku ingin memberitaukan sesuatu, kalau Wooren…”

“Ya! Oke oke, baiklah. Aku akan pergi.” Dia menunjukkan senyumnya yang menjengkelakan

“Kau tunggu saja di mobilmu. Lima belas menit lagi aku akan datang.”

Dia beranjak dari sofa. Huh! Rasanya aku ingin memukul kepalanya saja saat dia lewat di dekatku sambil menunjukkan smirknya padaku. Menyebalkaaaann!

Author pov

Yoongi berdiri bersandar pada pintu mobilnya. Pandangannya tertuju pada langit malam yang terbentang luas di atas sana. Tiba-tiba dia mendengar suara sepatu yang sedang berjalan ke arahnya. Dia menoleh. Dia sedikit tercengang melihat gadis yang sedang berjalan ke arahnya. Yoongi memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah.

“Ya! Kenapa penampilanmu seperti ini?”

“Diam kau! Bawel!”

“Kalau seperti ini apa bedanya dengan yang tadi? Lebih baik tadi kita langsung saja pergi. Kau ini..”

Dia kembali memperhatikan gadis di hadapannya. Sebenarnya wajah gadis itu terlihat sangat cantik, hanya saja… dia memakai hoodie tanpa kancing ataupun resleting berwarna merah dan juga celana jeans panjang. Dan sepatunya itu… sangat tidak cocok dengan pakaiannya. Sepatu boots dengan heels yang cukup tinngi berbahan jeans biru pudar dengan hiasan renda berwarna pink soft. Sepatu itu lebih terlihat seperti sepatu sekolah. Rambut hitamnya diikat menjadi satu dengan belahan poni ke kiri. Cantik, hanya saja… “Ah gadis ini.” batin Yoongi

“Sampai kapan kau akan memandangiku?” gadis itu menyadarkannya

Yoongi segera membukakan pintu untuk Wooren, gadis itupun masuk dan duduk di sebelah bangku pengemudi. Yoongi bergegas menuju pintu satunya lagi lalu. Setelah memasang safety belt diapun menjalankan mobilnya.

Yoon Gi pov

Aku memarkirkan mobilku. Aku memutuskan untuk mengajaknya ke mall, aku pikir perempuan akan suka itu. Aku membuka safety beltku. Tak sengaja ku lihat gadis di sebelahku malah terdiam memandang ke luar jendela.

“Hey, kita sudah sampai.”

“Oh? Ah, nde.” Dia melepas safety belt yang dipakainya.

Aku membuka pintu di sebelahku dan segera keluar. Saat hendak menutup kembali pintunya aku melihat gadis itu hanya duduk terdiam. Aigoo… dia itu lamban sekali. Sepertinya dia memang tak berniat untuk pergi.

“Ya! Cepat turun!”

“Kau keluar duluan saja.”

“Mwo?”

“Sudah tutup pintunya!”

Aigoo gadis itu kasar sekali. Aku segera menutup pintu mobilku. Kenapa dia menyuruhku duluan? Bagaimana bisa begitu? Dia itu gadis yang aneh. Aku mengitari mobilku, berjalan menuju pintu mobil dimana Wooren duduk. Baru saja akan membuka pintunya gadis itu terlebih dulu membukanya dan keluar.

Aku terkejut melihatnya. Dia menatap ke arahku. Dia… cantik sekali. Dia memakai baju berwarna biru pasta. Baju dengan bunga-bunga kecil yang menimbul karena rangkaian benang yang membentuknya. Baju tanpa lengan, hanya menutupi bahunya, di bagian itu bahannya transparan. Kerahnya model eton tak dikancing. Rambut hitamnya bergelombang dengan belahan poni ke kiri yang tadi diikatnya sekarang terurai. Kenapa penampilannya berubah seperti ini? Ini baru terlihat sempurna, simple namun sangat menawan.

Woo Ren pov

Dia terus saja memandangiku. Hah dia pikir aku tak bisa berdandan seperti gadis lain? ya… walaupun simple tapi ini mampu membuatnya tak berhenti menatapku seperti itu. Dia pikir dia yang paling keren? Bahkan dia hanya memakai kaus putih dilapisi jaket berbahan jeans berwarna biru pudar dan ujung lengannya dilipat. Penampilan kencan macam apa itu? Tapi… aku suka melihatnya seperti itu.

“Jangan memandangi seperti itu.” ucapku dingin

“Kau… cantik se…”

“Ya aku tau itu. Sudahlah, ayo!” potongku, aku berjalan meninggalkannya

Aku melangkahkan kakiku berjalan dengan cepat, dia mensejajarkan langkahku. Aku mengedarkan pandanganku ketika kami sudah berada di dalam mall.

“Lalu kenapa tadi kau memakai hoodie?”

“Tentu saja karena dingin babo, inikan malam.”

“Jadi kau merasa kedinginan?” Yoongi menunjukkan smirknya, “Setelah ini aku akan menjaminnya kalau kau akan merasa hangat.”

“Sudahlah jangan seperti itu, membuatku ingin muntah. Kita kemana sekarang?” ucapku tanpa memandangnya

“Bioskop. Menonton film.”

Aku menoleh menatapnya, “Film apa?”

“Kau manya apa?”

“Terserah kau saja.”

Yoon Gi pov

Sepertinya dia tidak takut sama sekali. Wajahnya biasa-biasa saja. Aku pikir dia akan takut menontonnya. Aku sengaja memilih film thriller agar dia takut, pasti akan lucu jika dia menunjukkan wajah ketakutannya, berteriak, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, atau… dia akan bersembunyi di belakang badanku hahahaha. Tapi melihatnya seperti ini rencanaku sepertinya gagal. Dia menoleh, sepertinya dia menyadari kalau aku sedari tadi memperhatikannya.

“Kenapa malah memandangiku bukannya menonton filmnya?”

“Kau tidak takut?”

“Apa kau berharap begitu? Kau berharap aku akan berteriak lalu memelukmu atau aku akan bersembunyi di balik badanmu begitu? Hah, tidak akan. Aku tidak takut menontonnya.” Dia kembali menatap layar di depannya

Gadis itu dingin sekali. Apa dia benar-benar tidak takut? Lihatlah itu, pembunuhan, banyak darah, ada hantu yang nampak juga. Jujur saja sebenarnya aku juga sedikit merinding melihatnya, tapi dia malah datar-datar saja seperti itu. Apa dia itu psikopat?

Woo Ren pov

Aduh, kapan film ini berakhir? Aku tak tahan melihat darah, benda tajam yang mengkilat, apa lagi pembunuhan. Ugh… membuatku merinding dan mulas dalam waktu bersamaan. Aigoo… orang itu benar-benar gila, dasar psikopat! Kenapa Yoongi memilih fim ini sih?

Aku menggigit kuku ibu jariku ketika melihat perempuan di layar itu sudah terpojokkan, sedangkan laki-laki berjubah itu terus mendekatinya dengan sebilah pisau di tangannya. Aigoo, mendengar perempaun itu yang terus menjerit membuatku merinding. Keningku berkerut, bukan karena bingung, tapi karena memang seperti ini jika aku menonton film yang adegannya serius, apa lagi yang seperti ini. Oh! Laki-laki itu menngangkat pisaunya dan… aku memjamkan mataku dengan erat, tak ingin melihatnya. Aku membuka mataku ketika tiba-tiba seseorang memelukku dari samping, Yoongi. Dia membenamkan kepalaku ke dada bidangnya, ih apa sih yang dia lakukan ini? Tak lama kemudian dia melepaskan pelukannya dan saat itu juga aku memberikan tatapan tajamku padanya.

“Katanya kau tidak takut, lalu kenapa memjamkan matamu seerat itu? Dan jangan menggigit kuku ibu jarimu seperti ini.” dia memegang tanganku dengan kedua tangannya lalu menurunkannya perlahan

“A..aku..aku tidak  takut.”

“Lalu kenapa memjamkan matamu seperti itu?”

“Karena aku mengantuk.”

“Jinjja? Kalau begitu tridurlah.” Dia menepuk-nepuk bahunya, mengisyaratkan agar aku menaruh kepalaku di sana

“Cih. Tidak! Aku sudah tidak mengantuk.” Aku mengalihkan pandanganku kembali ke layar

“Kalau begitu tonton filmnya. Jangan sampai matamu itu terpejam lagi.”

“Memangnya kenapa? Terserah aku.”

“Ya, baiklah. Tapi jangan salahkan aku jika saat kau memejamkan matamu kau merasakan sesuatu yang hangat dan begitu manis menempel di bibirmu.”

Aku menoleh ke arahnya dengan cepat. Apa maksudnya? Dia tertawa. Ish! Dia itu menyebalkan sekali. Apa yang dia maksud adalah… Aaagrh! Tidak akan! Awas saja kalau dia sampai melakukannya. Kalau begitu aku tak akan pernah memjamkan mataku. Lebih baik aku menyaksikan pembunuhan itu dibanding harus… harus… yah apapun yang dimaksudnya itu.

*****

Still Woo Ren pov

Ahkirnya film itu sudah berakhir. Aigoo bagaimana jika aku jadi terbayang-bayang? Omo… Aku sangat tak suka menonton film pembunuhan, penyiksaan dan semacamnya. Aku lebih suka menonton film horor yang menunjukkan wajah seram hantunya secara tiba-tiba.

“Kita kemana sekarang?”

“Apa kau lapar? Bagaimana kalau kita makan dulu?”

“Sebenarnya aku  tidak nafsu, tapi… baiklah.”

“Tidak nafsu kenapa?”

Aku terdiam tak menjawabnya. Tentu saja tidak nafsu karena menontong film itu bodoh! Bahkan aku menyaksikannya dengan jelas bagaimana wanita itu memuncratkan darahnya. Aah dia tega sekali.

“Ooh.. karena kau masih terbayang-bayang film tadikan?” dia menyunggingkan senyumnya yang menyebalkan

“Ani.” Aku mengalihkan pandanganku ke depan

Aku bisa mendengar dia tertawa walau samar-samar. Dia itu licik sekali. Aku mengedarkan pandanganku. Mall ini besar juga, aku belum pernah ke sini. Sejak sepeninggalnya eomma dua tahun lalu aku tidak pernah berjalan-jalan ke mall lagi karena biasanya aku selalu pergi ke mall bersama eomma. Tak sengaja aku melihat seorang laki-laki yang sangat tak asing di penglihatanku. Aku hanya bisa melihat punggung dan rambut hitamnya saja. Tapi rambut itu… aku sangat mengenalinya.

“Kau mau makan apa?”

Laki-laki itu… apa dia… dia…

“Hey, gadis anggrek!”

Mataku tak terlepas dari sosok itu. Aku terus memperhatikannya.

“Wooren!”

Entah mengapa kakai tergerak untuk berlari ke arahnya. Hatiku yang menyuruhnya. Dia terus berjalan lurus ke depan dan akupun terus mengejarnya. Entah mengapa aku merasa mataku sudah mulai berair. Aku tak menghiraukan Yoongi yang terus memanggiku. Aku mengulurkan tanganku hendak menyentuh bahunya, sedikit lagi sampai. Dan sekarang aku sudah menyentuh bahunya.

“Jungkook-ah.” Panggilku lirih

Dia menoleh. Seketika air mataku jatuh karena tak terbendung lagi oleh pelupuk mataku. Laki-laki itu menatapku. Yoongi berhenti di sampingku, melihatku dan laki-laki itu secara bergantian. Aku menghembuskan nafas beratku.

“Ada apa nona?” laki-laki itu menatapku dengan kerutan di keningnya

“Tidak apa-apa. Maaf mengganggumu.” Aku menurunkan tanganku dari bahunya

Laki-laki itu mengangguk lalu kembali melangkahkan kakinya. Aku menundukkan kepala sampai poniku menutupi wajahku. Airmataku tak bisa ku kendalikan, dia terus mengalir dengan deras. Aku telah salah orang… aku salah, dia bukan Jungkook. Mungkin aku terlalu merindukannya.

“Apa yang kau lakukan?” aku tidak menjawab Yoongi

“Wooren?”

Airmataku terus mengalir membasahi kedua pipiku. Aku menggigit bibir bawahku agar isakkannya tak keluar. Mengapa dadaku terasa sesak? Mengapa hatiku terasa begitu sakit?

“Jang Wooren!” Yoongi memegang kedua bahuku lalu memutarnya agar aku menghadapnya

Kenapa aku seperti ini? Rasanya sulit sekali untuk bernafas, hatiku seperti dipukul dengan benda tumpul berkali-kali. Tanpa sengaja aku mengeluarkan isakkan kecil. Yoongi hanya menatapku tak percaya sambil terus memgang kedua bahuku. Perlahan dia mengangkat daguku agar aku menatapnya. Begitu melihat wajahku dia begitu terkejut. Dengan cepat aku mengusap airmata yang membasahi pipiku.

“Bisakah kita pulang saja?”

Setelah menlihat anggukan kepala dari Yoongi aku langsung berjalan menuju parkiran, meninggalkannya di belakang. Jungkook… kenapa sekarang kau kembali menghantuiku? Dimana kau sebenarnya saat ini? Jungkook, tidakkah kau merindukan ku? Aku sangat merindukanmu… tanpa ku sadari airmataku kembali mengalir.

Begitu sampai di depan pintu mobil Yoongi aku menghentikan langkahku. Dimana laki-laki itu? lama sekali, aku tidak bisa masuk karena kunci mobilnya tentu ada padanya. Ah bodoh! Kenapa isakkanku tak bisa tertahan seperti ini? Kenapa airmataku malah keluar semakin deras? Untungnya parkiran sangat sepi dan sedikit gelap, maka tidak ada orang yang  akan melihatnya.

Tiba-tiba tanganku ditarik sampai tubuhku memutar menghadap belakang. Aku tetap menundukkan kepalaku tak berani menunjukkan wajahku pada Yoongi, sedangkan dia hanya terdiam memandangku. Lagi-lagi aku mengeluarkan isakkanku, bodoh! Kenapa aku tak bisa menahannya?

Author pov

Yoongi hanya bisa terdiam menatap perempuan yang ada di hadapannya. Melihat airmata yang mengalir di pipi gadis itu membuat dadanya terasa sesak. Dan sekarang dia mendengar isakkan gadis itu, hatinya seperti tercabik. Yoongi menarik tangan gadis itu lalu memeluknya. Yoongi memeluknya dengan erat sambil memejamkan matanya. Gadis yang ada di dalam dekapannyapun hanya terdiam, tak berusaha untuk keluar dari pelukannya.

Hanya suara tangisan gadis itu yang terdengar. Bahkan isakkannya semakin menjadi-jadi. Itu semua membuat hati Yoongi terasa begitu sakit, dia seperti bisa merasakan apa yang sedang dirasakan gadis itu. Tangannya terangkat lalu mengelus kepala gadis itu dengan lembut. Dia terus mengelus kepala gadis itu sampai akhirnya gadis itu membalas pelukannya. Untuk yang pertama kalinya, gadis itu mau memeluknya.

“Sudah jangan menagis terus, tenangkan dirimu.”

Perkatannya hanya dibalas oleh isakkan gadis itu. Wooren melepaskan pelukannya, begitu juga Yoongi. Gadis itu menatap laki-laki di hadapannya dengan matanya yang basah dan memerah. Menatap gadis dengan pipi yang terbasahi oleh air mata di hadapannya, tangan Yoongi tergerak untuk menghapus airmatanya. Dia menagkupkan kedua tangannya ke wajah gadis itu lalu ibu jarinya mengusap airmata yang ada di pipi gadis itu.

“Jangan menangis, itu membuat dadaku begitu sesak.” Ucapnya pelan

Dia memegang pergelangan tangan Wooren lalu tangannya yang satu lagi membuka pintu mobilnya. Begitu terbuka dia menarik tangan gadis itu agar masuk ke dalam. Setelah gadis itu masuk dia bergegas menuju tempat kemudi dan masuk ke dalamnya. Tanpa basa-basi lagi Yoongi langsung menjalankan mobilnya.

Yoon Gi pov

Aku melirik ke arahnya, dia terdiam memandang ke luar jendela, matanya begitu sayu memancarkan kesedihan. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apa yang membuatnya menagis sampai seperti itu? Tadi dia sempat menyebut nama Jungkook, siapa itu Jungkook?

“Wooren, kau benar mau pulang?”

Dia menghela nafasnya, “Ani.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya

“Kalau begitu kita kemana?”

“Kemana saja.” pandangannya hanya tertuju ke luar jendela

Woo Ren pov

Yoongi menghentikan mobilnya. Kenapa dia membawaku kesini? Ini adalah sungai Han. Setelah dia membukakan pintu untukku aku segera keluar. Tanpa menunggunya aku berjalan ke kursi panjang yang ada di pinggir sungai.

Aku duduk menyandarkan punggungku di bangku. Yoongi duduk di sebelahku. Mataku mengelilingi tempat yang luas ini, di sini hanya ada kami berdua. Pandanganku tertuju pada sungai Han di depanku. Sunyi… tak ada perbincangan apapun diantara kami, yang terdengar hanyalah suara kendaraan yang melintas cukup jauh di sana. Angin bertiup kencang, menerbangkan helaian-helaian rambutku. Aku tahu saat ini Yoongi sedang memandangiku.

“Kenapa kau membawaku ke sini?” pandanganku tetap tertuju ke depan

“Ku pikir kau akan sedikit tenang jika berada di sini.”

Aku tersenyum kecut, “Kau malah membuatku semakin ingin menangis babo.”

“Memang kenapa?”

“Kau membuatku semakin memngingatnya.”

Ini adalah salah satu tempat yang pernah beberapa kali ku kunjungi bersama Jungkook.

“Nugu? Seseorang yang bernama Jungkook itu?”

Aku menoleh menatapnya. Apa dia mendengar ketika aku memanggil orang yang ku kira Jungkook itu?

“Benarkan?”

Aku tak menjawabnya dan kembali memandang lurus kedepan.

“Berceritalah, aku akan mendengarkannnya.”

Aku terdiam. Kenapa dia ingin mendengarnya? Sekarang difikiranku hanya ada wajah laki-laki itu, laki-laki yang menjadi cinta pertama dalam hidupku. Aku mengingat setiap kenanganku bersamanya. Hatiku terasa pedih dan dadaku terasa begitu sesak.

Aku menatap sungai Han di depanku, “Jungkook…. dia adalah laki-laki yang menjadi cinta pertama dalam hidupku, aku begitu menyukainya. Dia sangat baik dan sopan. Dia selalu mampu membuat jantungku berdebar-debar, membuat perasaanku begitu senang jika bersamanya. Hatiku terasa tenang jika dia ada di sampingku.” Entah mengapa aku akhirnya menceritakannya pada Yoongi

Mataku mulai berkaca-kaca. Yoongi hanya terdiam menatap lurus ke depan. Aku menatap kosong sungai Han di hadapanku. Aku seakan bisa melihat Jungkook yang sedang tersenyum padaku.

“Mata hitamnya yang bersinar dan tatapan hangatnya, senyumnya yang tak pernah bisa untuk ku lupakan, dan sentuhannya yang begitu lembut padaku. Aku ingat saat dia menyentuh pipiku dengan lembut, mencubit pipiku dengan gemas, menggenggam tanganku dengan hangat, dan juga mengacak rambutku. Aku selalu mengingatnya, aku tak bisa melupakannya.”

Angin malam berhembus terhempas ke wajahku. Aku menghirupnya, membiarkannya masuk ke dalam relug-relug jantungku, begitu dingin.

“Hari-hari ku lewati bersamanya selama lebih dari dua tahun, aku merasa hidupku sangat bahagia. Dia sangat sering datang ke rumahku, menemaiku jika aku sendirian. Dia yang menemaiku saat eomma dan appa sangat sibuk bekerja. Dia punya hubungan yang sangat baik dengan appa, terutara dengan eomma.”

Flashback on

Wanita cantik dan laki-laki yang sudah seperti anaknya itu tertawa bersama, tertawa dengan cerianya. Sedangkan anak perempuan yang duduk di samping anak laki-laki yang sebaya dengannya itu hanya cemberut menatap mereka dengan kesal.

“Ya! Eomma… kau ini eomma-ku atau eomma Jungkook? Kau harusnya membela anakmu yang cantik ini bukannya malah ikut menertawaiku.”

“Woorenie… anak eomma yang cantik, tentu saja aku eomma-mu. Tapi yang dikatakan Jungkook itu benar.” Wanita itu kembali tertawa

“Wooren, akui saja kalau kau memang pemalas. Kerjaanmu hanyalah tidur dan kau selalu mengigaukan hal-hal yang tak jelas saat kau tertidur, bahkan kau juga selalu mendengkur.”

“YA! Jungkook!”

“Kau itu cantik Wooren-ah, tapi laki-laki mana yang tidak akan kabur jika mengetahui kebiasaanmu itu?”

Laki-laki itu kembali tertawa. Tawanya itu benar-benar menyebalkan bagi gadis yang duduk di sampingnya itu. gadis itu nampaknya sangat kesal dengan perbuatannya.

“Ada!”

Jungkook berhenti tertawa dan menatap gadis itu, “Nugu?”

“Kau.”

Seketika jungkook terkejut mendengarnya, dia terdiam. Eomma Wooren yang melihat kedua remaja berusia lima belas tahunan di hadapannya itu hanya tersenyum. Betapa manisnya mereka. Sekarang mereka berdua hanya terdiam saling menatap satu sama lain.

“Sudah, jangan bertatapan kaku seperti itu. Apa kalian tidak lapar? Eomma akan memasakkan makanan untuk kalian.”

“Jinjja? Ah iya eomma aku sangat lapar.” Ucap gadis itu dengan manja

“Tidak perlu omonim, itu merepotkanmu.”

Park Hyera tersenyum mendengar perkataan Jungkook, “Tidak apa-apa Jungkoo-ah. Kau tolong temani Wooren ya? Omonim mau memasak dulu, nanti kita makan bersama.” Wanita itupun melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu

“Wooren, bagaimana kalau kita membantu eomma-mu memasak saja?”

“Ah ya, kau benar juga. Kita akan membuat makan yang sangat lezat. Kajja!” gadis itu bangkit dari sofa yang sedari tadi di dudukinya, diikuti oleh Jungkook. Mereka berdua menuju dapur.

Flashback Off

Aku tersenyum getir mengingatnya. Hari itu Jungkook ikut aku pulang ke rumah karena aku yang memintanya. Waktu itu ku pikir eomma akan pulang larut malam karena sibuk dengan pekerjaannya, ternyata eomma tidak bekerja hari itu. Dan satu hal yang membuatku benci pada kenyataan, bahwa saat itu aku tak tahu kalau eomma tak pergi ke tempat kerjanya karena penyakitnya kambuh.

“Tapi di akhir tahun ketiga kebersamaan kami dia menghilang… aku tidak tau dia kemana dan aku tak pernah tau sekarang dia ada dimana. Bahkan…” aku tak sanggup melanjutkan perkataanku

Pandanganku berbayang karena airmata yang memenuhi mataku saat ini. Yoongi menoleh ke arahku karena aku tak juga melanjutkan perkataanku.

“Bahkan aku tidak tau apa dia masih hidup atau tidak.” Airmataku pun akhirnya terjatuh

Yoongi segera memelukku. Dan untuk kedua kalinya di hari yang sama, aku menangis di dalam pelukannya. Tangisku pecah begitu aku merasakan tangannya mengelus kepalaku dengan lembut. Aku teringat pada Jungkook yang sering mengacak rambutku.

“Jangan menangis lagi Wooren-ah… itu membuat hatiku terasa sakit. Jika dia adalah cinta pertama dalam hidupmu maka aku akan datang sebagai cinta terakhir dalam hidumu.”

*****

Still Woo Ren pov

Setelah rapi berpakaian aku segera turun ke lantai satu menuju ruang makan untuk sarapan. Seperti biasa, appa dan halmoni sudah duduk di sana. Aku mengambil tempat di sebelah halmoni seperti biasa. Aku menyendok makanan ke piringku. Saat ini appa tengah menatapku, aku tahu itu, tapi aku tak peduli dan berpura-pura tidak tahu.

“Ganti pakaianmu itu dengan seragam sekolahmu.”

Aku mengangkat kepalaku menatap appa. Dia terus menatapku. Aku kembali memakan makananku, tak mempedulikannya.

“Jangan pakai treining dan jaket kulitmu itu, pakai rok dan jas sekolahmu.”

Aku tetap terdiam, memakan makananku dengan santai.

“Kau tidak akan pergi ke sekolah dengan motor besar itu, kau akan ke sekolah dengan mobil.”

Seketika aku menghentikan makanku. Dengan cepat aku menoleh ke arah appa menatapnya yang duduk di dekat halmoni.

“Mwo?!”

“Kau akan ke sekolah diantar supir Kim. Pulang sekolah nanti kau juga akan dijemput olehnya. Dan mulai sekarang setiap hari akan seperti itu.”

“Shireo.”

“Kau tidak bisa menolaknya.”

“Tapi kenapa?”

Appa tak menjawabku. Dia kembali memakan makanannya dengan santai.

“Katakan padaku alasannya abeoji!”

Dia mengangkat kepalanya, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Karena appa tau selama ini kau selalu pulang jam sembilan malam. Dan appa juga tau kau pulang di jam seperti itu karena bekerja paruh waktu di sebuah taoserba.”

Mataku membulat seketika. Tak ada yang bisa ku katakan. Halmoni menoleh menatapku dengan tatapan tak percaya, dia nampak sangat terkejut mendengarnya.

“Benarkah itu Wooren?” aku tak menjawab pertanyaan halmoni

-TBC-

 

Haaii apa kabar para pembaca? (kalo ada sih ya -_-‘) udah lama ya ga update soalnya aku mau UN nih, minta doanya chingu ^^….

Jangan lupa comment

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

7 thoughts on “FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s