FF/ SHE’S DIFFERENT/ GOT7-LOVELYZ-VIXX/ pt. 4


mark mijoo new(1)

Title : She’s Different (Chapter 4)

Cast : Lee Mijoo (Lovelyz), Mark Tuan (GOT7), Park Myungeun, Seo Jisoo, Lee Jaehwan (VIXX)

Genre : Romance

Rated : PG 17+

Author : Kim Ara

 

A/N : Kemarin di chapter 1, Ara nulis mereka baru kelas 2, naaah disini Ara ralat ya, mereka udah kelas 3 mau lulus. Okeee gomawo buat pengertiannya… *deepbow*

 

 

~~She’s Different Chapter 4~~

 

(Mijoo POV)

 

Entahlah nasibku ini bisa dikata beruntung atau justru sial. Aku akan menjadi kaya mendadak tapi aku harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku cintai. Terlalu mencintai uang membuatku buta memang, tapi setidaknya aku bisa membedakan yang mana cinta yang mana bukan. Sekarang untuk menghindarinya ku rasa sudah sangat susah, karena sekarang semuanya berbeda, dia tidak seperti yang aku pikirkan sebelumnya. Dan aku mulai merasakan perbedaannya setelah aku mulai merasa hancur dan tidak memiliki kuasa. Mark Tuan, tetaplah denganku, lindungilah aku.

 

(Author POV)

 

Menjaga jarak sejauh mungkin, itu yang dilakukan Mijoo selama beberapa hari ini dari pada dia kehilangan kesadarannya lagi jika dekat-dekat dengan Mark. Sebuah bencana kalau hal itu terulang lagi atau bahkan terjadi hal lebih dari itu. Membayangkannya saja membuat Mijoo gila sambil mengacak-acak rambutnya. Semua pelajaran yang telah dilewatinya layaknya sebuah dongeng yang hanya sekedar lewat, pikirannya masih kacau karena insiden ciuman yang sama sekali tidak ia tolak. Meskipun Mijoo tidak pernah minum-minuman beralkohol, tapi ciuman Mark seperti alkohol yang membuatnya tidak sadar. Menyesal? Entahlah, karena kenyataannya Mijoo menikmatinya.

 

“Hyaaa, Lee Mijoo… kau benar-benar aneh akhir-akhir ini, banyak melamun” sahut Myungeun menyenggol bahu Mijoo.

 

“Apa kau sedang bertengkar dengan Mark?” lanjut Jisoo membalikkan posisi duduknya menghadap Mijoo.

 

“Bahkan lebih parah dari itu… Ahhhh bisakan kita tidak membahas orang itu? Aku sekarang  sedikit lebih damai, karena dia tidak lagi duduk di belakangku” balas Mijoo malas.

 

Ya memang posisi tempat duduk para siswa untuk setiap minggu harus berpindah-pindah. Karena itu sekarang Mark tidak lagi duduk di belakang Mijoo.

 

Bahkan sampai pulang sekolah pun Mijoo akan terus menghindari Mark sebisa mungkin. Beralasan mampir ke rumah Myungeun lah, atau ke rumah Jisoo lah, yang penting dia tidak pulang berdua dengan Mark.

 

Tapi satu tempat yang memang tidak bisa dihindari Mijoo untuk berdua dengan Mark, rumah. Usaha satu-satunya yang dilakukan Mijoo adalah mengurung diri di kamar dan keluar hanya untuk memasak dan mandi. Selebihnya tidak akan terlihat jejak Mijoo dilantai 1.

 

Langit sudah mulai berubah warna menjadi khas senja. Waktunya Mijoo untuk kembali ke rumah setelah tanpa alasan dia hanya berdiam diri di rumah Jisoo. Langkah berat bagi Mijoo untuk kembali ke rumah dan bertemu dengan si otak mesum, Mark.

 

“Aku pulaaang…” sahut Mijoo malas dan langsung bergegas menuju kamarnya di lantai 2.

 

“Hyaaa… Lee Mijoo, aku lapar, kau tidak menyiapkan makanan untukku?” celetuk Mark sambil duduk santai di sofa depan tv.

 

“Haaahhhh (membuang nafas kasar)… baiklah!”

 

Mijoo yang masih terlihat lusuh dengan seragam yang masih menempel di tubuhnya, menyiapkan makanan yang tergolong sangat simple. Pikirnya ini jika lebih cepat membuat makanan, maka lebih cepat juga dia meninggalkan Mark.

 

“Sampai kapan kau akan menghindariku nona? Toh kau sendiri juga menikmatinya, jadi di bagian mananya yang salah?” sahut Mark yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Mijoo.

 

“Hyaaa… jangan mendekat, jangan menyinggung hal itu lagi, dan jangan pernah menciumku lagi” seru Mijoo sambil mengarahkan alat penggorengnya di depan Mark.

 

“Apa kau yakin tidak mau merasakan bibirku lagi?” goda Mark dengan tatapan yang bisa memabukkan para gadis, tidak terkecuali Mijoo.

 

‘Kendalikan dirimu Lee Mijoo… jangan terpengaruh oleh tatapan itu!’ oceh Mijoo dalam hatinya.

 

“Tidak akan…” Mijoo hendak pergi meninggalkan Mark usai menyiapkan makanan yang sangat sederhana untuk Mark. Namun Mark menarik tangan Mijoo dan menyuruhnya duduk dan menemaninya makan di meja makan.

 

Canggung. Satu kata yang tampak di mata Mijoo. Memang Mijoo tidak seharusnya menyalahkan Mark, karena Mijoo pun tidak menolaknya. Mijoo berniat mengalihkan pandangannya tapi sebenarnya dia terkadang sedikit melirik ke arah Mark. Sepertinya Mijoo sedikit merasa bersalah karena marah pada Mark. Pikirnya dia sendiri juga harusnya marah pada dirinya sendiri apalagi saat itu sepertinya Mark sedang ada msalah.

 

“Mian….” sahut Mijoo singkat yang membuat Mark langsung mengalihkan perhatiannya pada makanan.

 

“For what?”

 

“Ahhhhh… lupakan!” Mijoo memutar-mutar bola matanya layaknya sedang mencari ide untuk mengalihkan pembicaraan. “Mark, apa kau tau dimana oppaku?” tanya Mijoo sambil menundukkan kepalanya.

 

“Molla… aku hanya memberinya uang, dan dia pergi entah kemana… apa kau mau ku bantu mencarinya?” tanya Mark balik.

 

“Annii…. dari pada aku membunuhnya setelah bertemu”

 

“Mijoo-ya… sebenarnya kenapa kau sangat mencintai uang dan kenapa kau lebih memilih tinggal disini denganku? Awalnya ku pikir kau akan kabur” tanya Mark.

 

“Kenapa aku cinta uang? Karena uang lah yang menghiburku di saat aku kesepian, entahlah semua mindset di otakku berubah semenjak orangtuaku meninggal. Awalnya ketika oppa bercerita kalau dia kalah judi dan aku sebagai bahan taruhannya, aku akan lapor ke polisi dan kabur dari rumah ini. tapi kenyataannya ternyata kau yang mengalahkan oppaku, setelah ku pikir-pikir kalau aku kabur dan lapor ke polisi, kau pasti akan menceritakan kehidupan keluargaku yang sebenarnya pada teman sekelas, karena itu aku lebih memilih tinggal disini denganmu, dengan semua perjanjian itu” Mijoo memainkan makanannya dengan sumpit dan tatapan kosong ke arah makanan itu. Khayalannya terbang ketika mengingat orangtuanya, seandainya orangtuanya masih hidup, dia tidak akan hidup seperti ini, hidup dengan bergantung pada laki-laki.

 

“Eoh, aku masih penasaran, sebenarnya kenapa kau setelah dari parkiran itu terlihat sangat marah? Apa aku membuat kesalahan?” tanya Mijoo sekali lagi.

 

Mark menghembuskan nafas kasar mendengar pertanyaan yang tidak mungkin dijawab olehnya.

 

“Aku sudah kenyang, aku mau tidur cepat hari ini…. bye!” Mark langsung bergegas beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar.

 

Mijoo justru semakin penasaran dengan reaksi Mark yang tidak biasa. Mark yang banyak berceloteh, sekarang jadi enggan untuk bercerita. Seperti ada sesuatu hal besar yang disembunyikan oleh Mark.

 

=======

 

Pukul 02.00 am (dini hari)

 

JEDAAARRRRRRR……

 

JEDAAARRRRRRR…..

 

JEDAARRRRRRRR……

 

“OPPAAAAAAA……” teriak Mijoo sekencang-kencangnya dari kemarnya.

 

Mendengar teriakan Mijoo, Mark langsung tersadar dari tidur lelapnya dan hendak beranjak ke sumber suara. Memang Mark melanggar peraturannya, tapi ini karena dia khawatir pada Mijoo. Iya Mark merasa khawatir pada gadis itu. Apa ini sebuah cinta? Entahlah, hanya Mark dan author yang tau, hahahhha😀

 

Mark perlahan membuka kenop pintu kamar Mijoo. Dilihatnya Mijoo menenggelamkan wajahnya diantara lipatan kaki dan tangannya, badannya bergetar menunjukkan betapa katakutannya dia saat ini. samar-samar Mark mendengar gumaman gadis itu.

 

“Oppaaaa…. tolong aku, oppa, ku mohon tolong aku…oppaa” gumam Mijoo lirih yang masih dengan posisi sama dan suara lirih, bahkan hampir tidak terdengar. Mark mengertukan keninngnya melihat Mijoo yang terlihat sangat buruk, bahkan kalau orang melihatnya sudah berpikir Mijoo itu gila.

 

Mark memberanikan diri mendekati Mijoo meskipun sedikit ada perasaan ragu. Jangan berpikir Mark ragu karena menganggap Mijoo sudah tidak waras, tapi karena bagaimanapun juga, disini hanya ada mereka berdua, namja dan yeoja tinggal seatap bahkan sekarang di kamar yang sama, dan Mark tetaplah laki-laki normal, perlu diingat, Mark juga sama seperti laki-laki yang lain. Gulp…

 

“Mijoo-ya…. gwaencanha?” tanya Mark lirih, Mark juga takut kalau tiba-tiba Mijoo berubah menjadi singa betina lagi.

 

“Oppaa… temani aku disini, oppaaa… ku mohon… oppaaa, aku takut orang itu datang lagi, oppa…” gumam Mijoo yang membuat Mark semakin bingung maksud perkataannya.

 

‘Aigooo… sebenarnya apa yang terjadi padamu Lee Mijoo, sampai kau setakut ini pada petir, bahkan kau selalu berhalusinasi aku ini oppamu… dan siapa orang yang kau maksud?’ batin Mark memikirkan Mijoo yang benar-benar terlihat kacau dengan air mata yang deras mengalir di pipi mulusnya. Dengan sedikit ragu, Mark mendekati Mijoo dan duduk di tepi ranjang Mijoo, dia menarik tubuh Mijoo ke pelukannya dan membelai lembut rambut penjang Mijoo. Mark berharap dengan seperti ini bisa membuat Mijoo lebih tenang.

 

Tepat dugaan Mark, dalam beberapa menit berada dipelukannya, Mijoo lebih tenang dari sebelumnya. Mark membaringkan tubuh Mijoo dan berniat kembali ke kamarnya sebelum Mark berpikir yang tidak-tidak. Masih ingat kan Mark tetaplah laki-laki normal. Tapi sebuah bencana bagi Mark, sesaat dia akan melepas tangan Mijoo di tangannya, Mijoo malah menggenggamnya sangat erat seakan membuat isyarat untuk jangan pergi darinya.

 

“Oppaaa… temani aku… aku takut orang itu datang.. oppa, jaebal!” gumam Mijoo sekali lagi. tangannya menarik Mark sampai Mark hampir jatuh di atas tubuh Mijoo, untung Mark masih menahannya dengan satu tangannya yang masih bebas sehingga insiden itu tidak terjadi. Dan diluar dugaan Mark, Mijoo memeluk tubuhnya sangat erat seperti berharap untuk dilindungi.

 

“Oppaaa… tetaplah seperti ini, temani aku sampai orang itu benar-benar pergi, aku takut oppaa..” Mijoo semakin memeluk erat tubuh Mark yang dikiranya adalah oppanya. Mijoo menenggelamkan wajahnya tepat di dada bidang Mark.

 

Jangan kira Mark akan tetap bisa bersikap cool, justru sekarang Mark terlihat seperti sebuah patung yang sama sekali tidak bisa bergerak. Tubuhnya kaku, bahkan satu tangannya tidak benar-benar memeluk Mijoo. Posisi ini membuat laki-laki yang sebelumnya memiliki otak mesum, menjadi laki-laki yang bodoh dan polos. Berkali-kali Mark menelan ludah kasar dan mengalihkan pandangannnya ke segala arah. Detak jantungnya semakin cepat selaras dengan aliran darah yang semakin cepat pula.

 

Mark bermain dengan pikirannya yang kini terpecah menjadi dua. Mark black version dan Mark white version.

 

Mark black version : Mark, ini kesempatanmu untuk mendapatkannya seutuhnya, tunggu apa lagi…. dia tepat ada dipelukanmu, ayolah… mumpung dia sedang tidak sadarkan diri, ayolah Mark!

 

Mark white version : Mark, ingat ini bukan tipemu, kau tidak mungkin melakukan hal macam-macam pada orang yang sedang tidak sadar. Mijoo butuh perlindunganmu, jangan memanfaatkan situasi ini, kau harusnya turut prihatin dengan kondisi Mijoo.

 

Mark black version : Mark, jangan dengarkan saran bodoh itu, ayo lanjutkan Mark!

 

Mark white version : Mark, kau seorang laki-laki sejati, jangan lakukan!

 

‘Aiisshhhh… menyingkir kalian dari pikiranku, dasar berisik!’ gerutu Mark dalam batinnya, seakan dalam pikiran Mark dia sedang membawa sebuah pedang excalibur dan menebas dua versi  Mark yang terus bertengkar dalam pikirannya.

 

Mark memberanikan diri menatap wajah Mijoo yang tidur dengan sangat pulasnya. Tangan, kaki, kepala bahkan sekujur tubuh Mark masih kaku tidak sanggup bergerak. Bahkan untuk tidur saja dia tidak bisa, karena sekuat tenaga dia menahan gejolak di tubuhnya yang tidak seperti biasa. Tapi lama kelamaan setelah berjam-jam di posisi yang sama, Mark bisa menutup matanya tanpa bergeser dari posisinya sedikitpun.

 

======

 

Udara pagi yang terasa dingin mulai menusuk kulit Mark yang tak tertutup selimut sama sekali. Sinar matahari mulai menyelip ke sela-sela gorden kamar gadis berparas ayu. Masih dengan posisi yang sama, kedua anak SMA ini masih seperti semalam, Mark memeluk Mijoo sementara Mijoo menenggalamkan wajahnya di dada Mark.

 

Sedikit demi sedikit Mijoo membuka kelopak matanya yang masih terasa berat. Penglihatannya masih belum bekerja sempurna, tapi indera penciuman serta indera perabanya sudah bekerja sangat maksimal.

 

‘Hangat…nyaman…. tapi aroma ini? kenapa kamarku beraroma lain? Tunggu…. tangan? Tangan siapa ini? Changjoo?’ batin Mijoo yang masih belum sempurna membuka mata sipitnya. Sekian lama dia menyadari apa yang terjadi saat ini, dia me-replay ingatannya, ‘Tunggu… ini bukan Changjoo, ini…..’

 

“KYAAAAAAAAAA…” pekik Mijoo.

 

BUGGGGGGGGG

 

GEDUBRAAAKKKKKK

 

“AWWWWWWW…….” seru Mark yang dengan kasar tubuhnya menghantam lantai bebas. Mark masih berusaha mengumpulkan nyawanya karena baru tertidur beberapa jam saja. Dia memijat-mijat punggungnya layaknya orangtua yang sakit pinggang.

 

“HYAAAAA…. LEE MIJOO, APA KAU SUDAH GILA? HUH?” seru Mark kesal.

 

“HYAAAA…. KAU YANG GILA.. APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU, HUH?? DAN…” Mijoo sedikit membuka selimutnya dan memeriksa apa pakaiannya masih lengkap atau tidak. Dia menghembuskan nafas lega setelah memastikan pakaiannya masih lengkap.

 

“Cihhh… kau yang menahanku semalaman disini? Kau tidak ingat, huh?” Mark masih meringis kesakitan di daerah pinggangnya.

 

Sekilas Mijoo mulai mengingat kejadian semalam. Sampai akhirnya dia merubah ekspresi wajahnya setelah mengingat sesuatu. ‘Sial… kenapa aku berhalusinasi lagi’ rutuk Mijoo pada dirinya sendiri.

 

“Hya-hyaa-hyyaaaa…. se-setidaknya kau tidak menurutiku, kau tau sendiri aku suka berhalusinasi jika phobiaku kambuh” sanggah Mijoo tak mau kalah.

 

“Aigooo… lagian aku tidak akan melakukannya dengan mayat hidup, aku hanya akan melakukannya kalau kau sendiri yang meminta” raut wajah Mark berubah menjadi sedikit menggoda.

 

Mijoo melempar gulingnya.

 

“Hyaaaa…. jangan bernah berharap dan bahkan jangan pernah bermimpi!” pekik Mijoo kesal.

 

“Sayangnya aku sudah memimpikannya nona!”

 

“HYAAAAAA….. MARK TUAAANN!!!!!”

 

Singa betina sudah lolos dari kandangnya sepagi ini. Mark memang menyukai hal yang berbau ekstrem. Wkkwkwwk lol!

 

======

 

 

Seperti biasa Mark dan Mijoo makan bersama di meja makan. Tidak pernah berpikir acara makan bersama mereka akan terlihat romantis. Apalagi untuk pagi ini, dimana Mark sudah melepaskan singa betina yang bersemayam dalam tubuh Mijoo. Bahkan sampai sekarang Mijoo masih saja mengerucutkan bibirnya, tak mau memberikan senyuman barang 1 detik saja.

 

“Apa kau mau ku potong gajimu bulan ini? huh?” ceplos Mark karena melihat lawan bicaranya ini yang terus bermuka masam. Yaelah, itu salahmu juga kali Mark, ckckck!

 

“Potong saja, aku tidak peduli… setidaknya aku masih punya banyak uang dari gajiku bulan lalu… aku hanya perlu bersabar untuk 2 bulan ini” sanggah Mijoo kesal.

 

“Kau lupa isi surat wasiat papaku?” cecar Mark lagi.

 

“Aku juga tidak peduli, yang jelas aku tidak mau melihatmu lagi”

 

Bohong besar… Memang sebuah kesalahan telah tinggal berdua dengan Mark. Entah perasaan apa yang menguasai Mijoo, dia selalu pasrah dengan semua perlakuan Mark. Berpegangan tangan, pelukan, ciuman, bahkan tidur dipelukan Mark, semua yang Mijoo rasakan bukan seperti ancaman baginya, tapi justru rasa nyaman dan hangat untuknya. Mijoo sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta dengan sumber uangnya, untuk itu sebelum hal itu terjadi, dia harus menghindari Mark, bahkan setelah perjanjian ini selesai, Mijoo ingin menyingkir dari Mark. Itulah yang dipikirkan Mijoo saat ini.

 

Mark membuang muka mendengar ucapan Mijoo. Sepertinya Mark jadi lebih sensitif saat ini.

 

drrttttttt…. drrttttttt…. drrttttt

 

Ponsel Mark bergetar. Nama sekretaris Shin terpampang di layar ponselnya. Tanpa babibu, Mark mengangkat panggilan dari orang yang dianggapnya hyung itu.

 

“Wae hyung?” sahut Mark to the point.

 

“………….”

 

“Mwo? baiklah aku kesana sekarang!” ucap Mark lagi dengan ekspresi berubah drastis.

 

Biippp

 

Mark langsung memasukkan ponselnya di saku blazer dan meraih tas serta kunci mobil mewahnya. Tanpa mengajak Mijoo, Mark langsung melesat meninggalkan Mijoo di meja makan.

 

“Aku pergi dulu…” ya hanya itu kata-kata yang dikatakan Mark selagi berlari keluar rumah.

 

“Aigoo… datang seenaknya dan sekarang pergi seenaknya, dasar!” rutuk Mijoo melihat kepergian Mijoo. Dan dengan terpaksa Mijoo harus berangkat ke sekolah naik bus umum.

 

======

 

Bukan hanya meninggalkan rumah secara tiba-tiba, sekarang Mark pun juga membolos sekolah. Mijoo jadi memikirkan apa yang terjadi dengan Mark. Raut wajah yang berubah drastis setelah menerima sambungan telepon tadi, membuat Mijoo berpikir pasti ada masalah serius yang terjadi. Tapi kenyataannya pikiran negatif Mijoo ke Mark jauh lebih tinggi, disisi lain Mijoo berpikir kalau Mark bermain judi lagi, hahahah.

 

Mijoo memandangi lapangan sekolahnya yang biasanya ada mobil Mark terparkir disitu. Hari ini dia merasa sedikit kesepian karena tidak ada yang mengganggunya dan mengekorinya kemanapun Mijoo pergi. Bisa dikatakan Mijoo sedikit merasa rindu dengan tingkah polah Mark.

 

Bahkan pada teman-temannya pun Mijoo jadi tak banyak bicara. Pertanyaan tentang Mark yang membolos sama sekali tak digubrisnya, karena kenyataannya dia tak tau apa-apa. tapi di tengah-tengah lamunannya, Mijoo mengingat satu kalimat yang ia lontarkan pada Mark, “Aku juga tidak peduli, yang jelas aku tidak mau melihatmu lagi”. Dia jadi berpikir jangan-jangan karena kata-kata itu Mark membencinya.

 

Sepulang dari sekolahpun Mijoo hanya tertunduk lesu. Sepertinya Mark sudah sedikit banyak mempengaruhi kehidupan gadis ini, layaknya sebuah candu yang tidak bisa dihentikan barang 1 menit.

 

“Mijoo-ya…. apa kau benar baik-baik saja pulang sendiri?” ujar Myungeun sedikit mengkhawatirkan Mijoo pulang sendiri di saat kondisinya yang tiba-tiba letih lemah lesu lunglai *lebay banget ini thor*.

 

“Aku tidak apa-apa, aku pulang dulu ya… daaa!” Mijoo turun terlebih dahulu dari bus yang ia tumpangi dengan kedua sahabatnya.

 

Saat ini Mijoo baru menyadari kehadiran Mark yang sangat mempengaruhi kehidupannya. Di rumah pun dia tak bisa meneriaki Mark karena sosok itu tak ada di rumah. Bahkan sampai malam, Mijoo terus menunggu kepulangan Mark. Entahlah sebenarnya apa yang dirasakan gadis ini, yang jelas dia sangat membutuhkan Mark sekarang.

 

“Baiklah… tidak apa-apa… ini justru lebih baik dari pada Mark berada disini, mungkin dia sudah kembali ke rumahnya, bagus lah!” monolog Mijoo meyakinkan dirinya sendiri.

 

========

 

Pagi menjelang, cahaya metahari mulai menyentuh kulit putih gadis berparas ayu ini. kehangatan yang menyentuh kulitnya membangunkannya dari tidur yang terbilang kurang nyenyak. Bagaimana bisa nyenyak, pikirannya sekarang kacau memikirkan Mark yang tak kunjung menghubunginya atau bahkan pulang kerumahnya.

 

Ya sekarang sudah 2 hari dia tidak melihat Mark sama sekali, kabar pun dia tidak tau. Bahkan di sekolah pun dia bingung harus menjawab apa saat para guru menanyai keberadaan Mark. Menghampiri rumahnya? Oh ayolah,  Mijoo seorang perempuan dengan ego sangat tinggi, dia tidak mungkin ke rumah Mark hanya untuk menanyakan, ‘Mark kau kenapa? Kenapa tidak masuk sekolah’, pikir Mijoo mungkin setelah dia menanyakan itu, Mark langsung punya kepala yang membesar.

 

=========

 

Hari ke 3 masih belum ada kabar, Mijoo masih tak tau kabar apa-apa dari Mark. Masih dengan wajah kusut Mijoo memasuki kelasnya. Myungeun dan Jisoo langsung mengeroyok Mijoo di bangkunya. Mereka berdua terlihat ingin menyampaikan hal penting, bukan ekspresi panik, tapi sejenisnya, entahlah apa.

 

“Mijoo-yaa… kau tidak pergi ke rumah Mark?” celetuk Jisoo menggebu-gebu.

 

“Wae? Kenapa aku harus kerumahnya?” balas Mijoo polos.

 

“Hyaaaaa… Lee Mijoo, kau ini benar-benar pacarnya Mark atau bukan, bagaimana kau bisa sesantai ini saat pacarmu sedang berduka” jelas Myungeun tanpa titik koma.

 

“Mwo? Maksud kalian?” jawab Mijoo lagi yang benar-benar tak tau apa-apa.

 

“Lee Mijoo, kau tidak di hubungi Mark? Atau kau tidak melihat berita setidaknya?” Mijoo langsung menjawabnya dengan anggukan yakin, “Aigooo…. presiden direktur Daejeong grup meninggal dunia, dia papa dari Mark Tuan” mendengar penjelasan Myungeun, Mijoo membulatkan mata tak percaya. Reflek gadis ini meraih tasnya dan berlari keluar kelas. Bisa ditebak Mijoo berniat membolos dan menuju rumah Mark.

 

======

 

15 menit perjalanan dengan manaiki taksi, Mijoo sudah berada di rumah Mark. Penjagaan ketat dari para bodyguard berjas hitam berjejer rapi di depan pintu masuk. Mijoo sedikit ragu untuk bisa masuk ke rumah Mark. Tapi langkah kakinya tetap menuntunnya untuk masuk ke dalam menemui Mark.

 

“Maaf  nona… anda tidak bisa masuk” seorang bodyguard berniat mencegat langkah Mijoo, maklum saja yang berada di dalam adalah jajaran orang ternama, tidak sembarang orang bisa masuk.

 

“Tapi… saya…” Mijoo tak mampu menyelesaikan kata-katanya, lidahnya kelu melihat Mark dengan tatapan sendu yang terlihat dari luar.

 

“Maaf nona…” lanjut bodyguard itu.

 

“Biarkan dia masuk, diatunangan tuan muda” celetuk seseorang dari belakang tubuh bodyguard itu yang ternyata adalah sekretaris Shin.

 

“Ohhh… maafkan saya nona, saya benar-benar tidak tau” bodyguard itu membungkukkan badannya sangat rendah karena merasa lancang pada Mijoo yang disebut tunangan Mark.

 

Tanpa menghiraukan permintaan maaf bodyguard itu. Mijoo langsung melangkah memasuki rumah duka. Sebelum memberikan penghormatan terakhir pada papa Mark, dia melirik Mark dengan ekor matanya. Mijoo seperti meyakinkan dirinya kalau sekarang Mark baik-baik saja. setelah yakin dengan hipotesisnya, dia memberikan penghormatan terakhir dengan memberikan bunga krisan putih di depan foto mendiang papa Mark.

 

“Mark…aku…”

 

“Kenapa kau kesini?” celetuk Mark menginterupsi ucapan Mijoo dengan raut wajah dingin tak seperti biasanya.

 

 

“Aku…. aku hanya….”

 

“Ikut aku….” lanjut Mark menginterupsi ucapan Mijoo lagi. Mark meraih tangan Mijoo agar mengikuti langkahnya.

 

Dengan langkah yang terbilang cepat, Mark menuntun Mijoo di tempat yang lebih sepi dari penglihatan orang-orang yang melayat. Mark menatap dingin wajah Mijoo yang kini tepat berada di depannya.

 

“Mark…. aku… mian…kemarin aku…”

 

Sreettttt….

 

Mark sama sekali tidak memperdulikan kalimat apa yang akan Mijoo lontarkan. Mark justru bersandar di bahu Mijoo, kalau orang lain melihat, pasti berpikir Mark dan Mijoo sedang berpelukan. Mijoo merasakan Mark menahan isakannya. Untuk saat ini Mijoo sangat paham dengan apa yang dirasakan Mark, karena dirinya juga pernah merasakannya.

 

“Mark… menangislah kalau itu membuat bebanmu lebih ringan” tutur Mijoo.

 

‘Meskipun kau terlihat tidak dekat dengan papamu, ternyata dia tetap orang yang sangat berharga di matamu, ya karena dia satu-satunya keluarga yang kau miliki’ batin Mijoo yang saat ini mengangkat tangannya dan meletakkan di punggung Mark, Mijoo menepuk-nepuk punggung Mark untuk memberikan sedikit kenyamanan untuk Mark.

 

Cukup lama Mark meluapkan semua emosi kepedihan  yang ditahannya di depan Mijoo. Sampai akhirnya Mark harus kembali ke tempat persemayaman karena tamu yang terus berdatangan.

 

“Kalau kau membutuhkanku, datanglah kerumahku” mendengar itu, Mark hanya menganggukkan kepalanya, “Baiklah aku pulang dulu, jaga dirimu baik-baik, fighting!” Mijoo mengepalkan tangannnya dan mengangkatnya ke atas, seperti mengisyratkan kepada Mark agar semangat.

 

“Mijoo-ya… gomawo!” celetuk Mark di sela-sela langkah Mijoo yang menjauh.

 

Mendengar itu, Mijoo tersenyum tipis pada Mark.

 

Mijoo keluar dari rumah Mijoo, tanpa sengaja dia melihat wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik masuk ke dalam rumah dengan gaya bak bangsawan. Tapi seketika itu pula dia seperti mengingat pernah melihat wanita itu. Ya wanita itu yang dulu bersama Jaehwan dan di panggil Jaehwan sebagai omma. Pikir Mijoo, mungkin karena dia rekanan bisnis papa Mark, makanya datang memberi penghormatan terakhir.

 

=======

 

 

Mijoo masih sendirian berada di rumahnya. Malam ini rasanya sangat sepi baginya, apalagi namja yang bisa diharapkan bisa menghiburnya justru sedang terpuruk dalam kesedihan. Tapi….

 

Ceklekkkkk…

 

Ada seseorang yang membuka pintu rumah Mijoo. Hanya dirinya, Changjoo dan Mark yang tau kode rumah Mijoo. Dan binggo… ternyata yang datang adalah Mark.

 

“Mark?? Kau kenapa kesini?” seru Mijoo heran.

 

“Aku bosan melihat wajah munafik dari orang-orang yang datang” Mark langsung duduk di sofa yang juga diduduki Mijoo, mereka kini duduk bersebelahan. “Apa aku boleh tidur disini?” lanjut Mark dengan tatapan sedikit menggoda.

 

“Terserah kau saja….toh memang perjanjian kita masih berlaku” balas Mijoo santai.

 

Buuuggggggg….

 

Mark ternyata justru tidur di pangkuan Mijoo, jadi ini maksud perkataan Mark sebelumnya.

 

“Hyaaaa… Mark Tuan, cepat bangun, apa yang kau lakukan, bangun!” Mijoo mencoba membuat kepala Mark menjauh dari pahanya.

 

“Kau bilang tadi terserah aku” celetuk Mark yang justru sudah menutup matanya.

 

“Maksudku tidak seperti ini…”

 

“Biarkan seperti ini sebentar saja” lanjut Mark, kali ini dengan nada yang terlihat lebih serius, terlihat raut wajah Mark pun berubah, sebelumnya dia menunjukkan tatapan menggoda, namun saat ini kembali dingin dan sendu.

 

Mijoo membiarkan Mark tertidur di pangkuannya. Tapi di luar dugaan, detak jantung Mijoo menjadi tidak karuan saat ini . Jantungnya berdebar melihat Mark sedekat ini setelah tidak melihatnya selama 3 hari. ‘Seulma?’

 

TBC

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

5 thoughts on “FF/ SHE’S DIFFERENT/ GOT7-LOVELYZ-VIXX/ pt. 4

  1. uwwaaa bagus thor.. jdi penasaran sama kisahnya si mark. gak sabar. semangat thor buat chap selanjutnya ^^

  2. Keren banget.. ga ada kesan sedih sebenernya, tpi feel dari kekesalan mark waktu ngeliat ibu nya jaehwan tu kerasa banget,, ato jangan” ibu nya mark juga?? Cakep ff nya❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s