FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 10


11902518_869875126416742_4665585678208730251_n

Tittle :
BTS 7 Soul

Author :
Lingkyu88

Lenght :
Chapter

Language :
Indonesia

Genre :
Romance, Friendship

Rate
Mature, NC -17

Main Cast :
Boys :

Park Jimin ▶ 18 y.o, Taehyung classmate, Smart, Rich

Kim Taehyung ▶ 18 y.o, Jimin classmate, Rich, Cassanova

Jeon Jungkook ▶ 16 y.o, Jimin & Taehyung junior, Rich, Bi

Kim Seokjin ▶ 21 y.o, Manager in a Smartphone center, Rich, Handsome

Min Yoongi ▶ 20 y.o, Musician, Cool, Rich, Lazy ass

Jung Hoseok ▶ 19 y.o, College student, Rich, Moodmaker

Kim Namjoon ▶ 19 y.o, Leader of the group, Cafe owner, Rich, Sexy mind

Girl :

Kim Eunjin ▶ 16 y.o, Kim Taehyung lil sister, Jungkook classmate, childish

Kwon Minyoung ▶ 18 y.o, Jimin & Taehyung classmate, nerdy, bullying victim

Lee Namjung ▶ 23 y.o, a nurse, mature

Han Ara ▶ 18 y.o, Jimin & Taehyung classmate, innocent

Shin Sang Eun ▶ 19 y.o, pool dancer, adopted by Paraiso’s owner

Choi Hyena ▶ 20 y.o, college student, Yoongi’s maid

Oh Yeonkyung ▶ 22 y.o, single parent, tomboyish, Namjoon’s cafe employer

Cover by :
Cover Story Fanfiction Korea

Disclaimer :
BTS members are not mine but this fanfic is pure my imagination. I give this fanfic mature rating cuz there will be parts that contains with sex, harrasment, blood, & drugs. Please don’t be silent readers and plagiator. So ignore typos, enjoy the story!
Thanks~~ ♥♥♥

[CHAPTER 10 : FLASH IN LASH]

-Author POV-

Ara berdiri mematung di depan pintu kelas. Hal yang membuatnya ragu adalah reaksi Taehyung jika melihat penampilan barunya. Ara menghela nafasnya dalam-dalam kemudian melangkahkan kakinya ke dalam kelas.

Beberapa murid yang berpapasan dengannya menyapa dan memuji penampilan barunya. Tidak terkecuali Jimin dan anggota genk-nya.

Jimin menghampiri Ara yang baru saja meletakkan pantatnya dibangkunya dan menaruh tasnya ke dalam laci meja.

“Wow! Kau cantik sekali dengan penampilan barumu, Ara,” puji Jimin.

“Terimakasih,” jawab Ara.

“Aku dengar kau putus dari Taehyung. Sebenarnya ada apa?” Tanya Jimin ingin tahu.

“Kau sahabatnya. Harusnya kau lebih tahu tentang dia,” jawab Ara sambil mengeluarkan buku Matematikanya.

“Dia tidak menceritakannya padaku.”

“Itu artinya kau tidak diijinkan untuk tahu. Jadi sebaiknya kau tidak usah tahu.”

“Tsk! Yang membuatku lebih penasaran adalah kenapa Taehyung menjadi baik pada si Hitam gembel itu. Apa ini ada hubungannya denganmu?”

“Sebaiknya kau tanyakan langsung pada orangnya. Maaf, Jimin, aku ingin belajar jadi sebaiknya kau kembali ke tempatmu dan belajar juga,” kata Ara ketus.

Jimin kembali ke tempatnya dengan kesal. Dan perasaan kesalnya itu semakin memuncak tatkala dilihatnya Taehyung masuk ke dalam kelas bersama Minyoung, musuh bebuyutannya.

Minyoung duduk di tempat duduknya. Sementara Taehyung terus menatap Ara yang kini sibuk berkutat dengan buku Matematikanya. Baru saja dia duduk dan meletakkan tasnya, Jimin sudah menghampiri dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan tentang Ara dan Minyoung.

“Taehyung, aku tidak mengerti mengapa kau tiba-tiba baik pada Minyoung dan memutuskan hubunganmu dengan Ara,” kata Jimin.

“Ara tidur dengan pria lain. Oke mungkin aku juga tidur dengan wanita lain, tapi dia itu wanita. Harusnya bisa menjaga kehormatannya. Bisa dibilang aku ini egois. Aku tidak bisa berpacaran dengan orang yang tidak sepenuhnya menyukaiku,” jawab Taehyung.

“Lalu apa hubungannya dengan si Hitam itu?”

“Dia satu-satunya orang yang dekat dengan Ara. Aku hanya ingin merusaknya dan membuat Ara hidup dipenuhi penyesalan.”

“Wow! Kejam sekali kau, Taehyung,” komen Jimin.

Taehyung tersenyum menyungging. “Kau bisa membayangkan bukan menikmati virgin seperti dia?”

“Kau yakin dia masih virgin?” Tanya Jimin.

“Dengan penampilan buruknya itu, mana ada pria yang ingin dekat dengannya?”

“Benar juga. Bahkan sekedar melihatnya saja aku sudah jijik,” kata Jimin.

-Author POV End-

—000—

-Jung Hoseok POV-

Ah, segar sekali selesai mandi pagi. Dengan handuk terlilit di tubuh bagian bawahku, aku duduk di tepian tempat tidur. Aku teringat kejadian semalam dengan perawat yang menjagaku, Namjung Noona. Saat kami hampir berciuman tetapi tidak jadi karena aku melihat cincin tunangan melingkar manis di jari manis kirinya.

Aku kecewa karena dia telah memiliki pria lain. Kenapa dia meresponku seolah-olah ingin membalas perasaanku? Padahal dia sudah memiliki tunangan yang dia bilang adalah seorang dokter di rumah sakit tempat dia bekerja dulu sebelum dipindahkan di panti rehabilitasi ini. Atau memang aku saja yang ke-GR-an?

Aku menghempaskan nafasku berat. Tidak seharusnya aku menggodanya. Tapi, bagaimana bisa? Dia terlalu cute dan menyenangkan. Dan poin lebihnya, dia mempunyai bentuk tubuh yang errrr… menggodaku untuk menyentuhnya. Terutama bokongnya yang montok dan payudaranya yang sintal.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Namjung Noona masuk dengan tray berisi menu sarapan pagiku di tangannya.

“Selamat pagi, Hoseok. Ini sarapan pagimu,” katanya seraya meletakkan tray tersebut di meja Hoseok.

Aku menoleh ke arahnya. Dia tampak tergesa-gesa hendak keluar. Aku segera menghampirinya dan menarik tangannya.

“Noona, aku minta maaf,” kataku lirih.

“Meminta maaf untuk apa, Hoseok? Kau tidak salah apa-apa,” jawabnya tanpa menolehku.

Aku menarik tubuh Namjung Noona dan mendudukkannya di tepi tempat tidurku. “Noona, aku minta maaf semalam bersikap kurang ajar padamu. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak mau merusak hubungan orang lain.”

Namjung Noona memandangku. “Maaf, Hoseok. Aku tidak tahu. Aku terkejut saat kau tiba-tiba mengatakan menyukaiku padahal kita baru dua hari bertemu.”

Aku tersenyum lebar. “Aku janji tidak akan macam-macam padamu. Tapi, aku ingin kita tetap berteman Noona. Boleh kan aku berteman denganmu?”

Dia menganggukkan kepalanya. “Oh ya, segera pakai pakaianmu kemudian sarapan dan minum obatmu. Nanti jam sembilan pagi ada penyuluhan di aula. Kau harus datang,” katanya sambil berdiri dan bersiap meninggalkanku. “Aku harus mengantarkan sarapan untuk pasien lain. Aku pergi dulu, Hoseok,” lanjutnya kembali meninggalkanku sendiri.

Aku duduk termangu. Berteman? Tsk! Mungkin lebih tepat disebut merebut hatinya dengan cara halus. Selama mereka belum mengantongi buku menikah, kenapa tidak?!

-Jung Hoseok POV End-

—000—

-Choi Hyena POV-

Lagi-lagi Yoongi menyuruhku ke kamarnya. Padahal aku sudah memberitahunya untuk tidak sering-sering menyuruhku ke sana. Aku takut orang lain curiga pada hubungan kami dan melaporkannya pada Tuan dan Nyonya Min. Aku belum siap dipecat dari pekerjaanku ini karena bukan hanya beresiko sulit bertemu Yoongi tapi juga masa depanku, adikku, juga pengobatan ibuku.

Aku menatap Yoongi yang tengah menelpon seseorang. Tangannya memberi gestur menyuruhku mendekatinya. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Yoongi memelukku dengan tangan kanannya sembari memegang ponsel dengan tangan kirinya.

“Baiklah, Hyung, akan kuberi tahu jawabannya nanti.” Kudengar itulah kalimat terakhirnya sebelum memutuskan sambungan telponnya.

Yoongi mengecup bibirku berkali-kali, namun aku tidak meresponnya. Dia mengerutkan keningnya. Mungkin bingung dengan ekspresiku yang datar.

“Kau ada masalah apa?” Tanyanya.

Aku tersenyum. “Yoongi, Bibi Yang mengetahui hubungan kita.”

Dan bisa ditebak. Reaksinya tampak tidak peduli sama sekali.

“Lalu?”

Aku menghela nafasku. “Yoongi, dia menyuruhku untuk tidak terlalu dekat denganmu.”

“Cih! Siapa dia mengatur-aturmu untuk tidak dekat denganku?”

“Yoongi… . Bibi Yang sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Ibuku menitipkanku padanya. Dia hanya takut Tuan dan Nyonya Min mengetahui hubungan kita dan-“

Yoongi memotong kata-kataku dengan bibirnya. Melumatnya perlahan dengan kedua mata terpejam. Aku membalas ciumannya. Dia pun pelan-pelan membaringkan tubuhku di ranjangnya dengan posisi kaki yang masih menjuntai di tepian tempat tidur.

Yoongi menarik bibirnya dari bibirku dan memandangku lembut. Kedua mata single eyelid-nya begitu tajam namun meneduhkan.

“Aku lelah memberitahumu, Hyena. Tidak akan terjadi apa-apa pada hubungan kita. Aku akan berjuang untuk kita walaupun tidak ada yang menyetujui hubungan kita.”

“Tanpa restu orang tua kita tidak bisa menikah, Yoongi,” kataku pesimis.

“Kita bisa menikah di Las Vegas,” ujarnya santai.

“Maksudmu?” Tanyaku bingung.

Yoongi tersenyum manis. Ya Tuhan, bolehkah aku memanggilnya dengan sebutan ‘Gula’? Selain wajah menggemaskannya, Yoongi juga memiliki senyuman yang sangat manis seperti gula.

“Aku dengar kita bisa menikah secara sah di sana tanpa restu orang lain,” ujarnya.

“Yoongi, aku masih memiliki ibu. Kau juga masih memiliki keluarga lengkap. Tidak seharusnya kita memilih cara tidak sopan seperti itu. Kau tahu bukan adat Korea yang menjunjung tinggi orang tua di atas segalanya?”

“Kalau begitu kita ambil jalan dengan resiko besar.”

Resiko besar. Ya, resiko terbesar Yoongi adalah dicoret dari daftar keluarga. Dan resiko terbesarku adalah cacian dari orang lain yang akan mengataiku sembrono karena berani menyukai pria yang tidak sederajat denganku.

“Kalau kau takut dikucilkan orang-orang di sekitarmu, aku akan membawamu pergi dan kita hidup berdua saja. Dan suatu saat nanti keluarga kecil kita akan bertambah dengan adanya satu anak laki-laki dan satu anak perempuan,” ujarnya membesarkan hatiku.

Aku terharu. Ternyata dia benar-benar memiliki niat untuk berhubungan serius denganku. Aku bahkan tidak menyangka dia memiliki angan-angan untuk membangun keluarga bahagia denganku.

Aku memeluk kekasihku itu. Air mataku mengalir terbawa emosi. Priaku begitu dewasa. Di sebalik sikap dingin dan kakunya pada orang lain, dia memiliki pribadi hangat terhadap orang-orang yang dia sayang.

“Aku tidak mau lagi mendengar kau berkata pesimis tentang hubungan kita. Itu sama saja kau meragukanku,” bisiknya lirih di telingaku.

Aku mengangguk-angguk dalam peluknya.

Yoongi melepaskan pelukanku. “Sudah jangan menangis. Kau terlihat jelek saat menangis,” goda Yoongi sambil mengusap air mataku yang luruh. “Oh ya, besok Sabtu, Namjoon mengajak kita menginap di penginapannya yang di dekat pantai. Dia bilang dia ingin membuat pesta barbeque. Apa kau bisa ikut?”

“Aku tidak bisa Yoongi. Bagaimana dengan ibuku?”

“Hari Jum’at petang aku akan mengantarmu pulang sekaligus meminta ijin pada ibumu. Aku akan memberimu libur ekstra pada hari Senin. Kau bisa memanfaatkannya untuk pulang dan menemui ibumu.”

“Tapi, Yoongi-“

“Tidak ada tapi!” Katanya sembari menaikkan kaos dan bra yang kukenakan hingga atas payudaraku. “Aku haus.” Yoongi menghisap payudara kiriku.

“Yoongi, aku sedang datang bulan,” kataku berusaha menjauhkan wajahnya dari payudaraku. Tapi semakin keras aku mendorong wajahnya, semakin kencang hisapannya. Aku menyerah dan menatapnya yang tengah menyusu seperti anak kecil. Kedua matanya terpejam dan mulutnya berdecak-decak lucu persis seperti bayi.

Aku tersenyum sembari mengusap-usap rambut pirangnya. “Yoongi, terimakasih sudah hadir dalam hidupku,” bisikku lirih.

-Choi Hyena POV End-

—000—

-Han Ara POV-

“Unnie, ada undangan dari panitia organisasi sekolah untuk Unnie.” Seorang gadis yang menjabat posisi sekertaris organisasi sekolah mendekatiku dan menyerahkan sebuah undangan padaku.

Aku menerima undangan tersebut dan melihat isinya sekilas. “Undangan apa?”

“Acara pengembangan organisasi sekolah. Bulan depan kami berencana mengadakan studi banding dengan sekolah lain,” jawab adik kelasku itu.

Aku mengerutkan keningku. “Lalu apa hubungannya denganku? Aku sudah tidak menjabat sebagai anggota organisasi sekolah,” tanyaku bingung.

“Hanya untuk sekedar berbagi ilmu dan pengetahuan tentang keorganisasian. Karena menurut informasi, organisasi sekolah angkatan Unnie adalah angkatan terbaik. Banyak proposal-proposal yang disetujui oleh Kepala Sekolah dan berhasil,” jawabnya.

Aku mengangguk-angguk paham. “Baiklah. Terimakasih, undangannya.”

“Mohon kedatangannya.” Gadis itu membungkuk kemudian pergi meninggalkanku.

Aku kembali berjalan menapaki koridor sekolah dengan santainya. Walaupun tadi seharian aku kesal karena Taehyung terus saja mendekati Minyoung. Aku tidak masalah jika dia mendekati gadis lain. Tapi ini Minyoung! Sahabat dekatku. Aku takut dia hanya mempermainkan Minyoung. Bukankah kata June, Taehyung menyukai Rose si pelacur itu? Kenapa tiba-tiba dia mendekati Minyoung?

“Araaa,” panggil Minyoung sambil berlari mendekatiku. Aku menoleh kemudian menghentikan langkahku dan tersenyum melihatnya.

“Kau darimana?” Tanyaku padanya yang tengah terengah-engah akibat berlari tadi.

“Aku tadi kebelet buang air kecil,” jawabnya.

Kami berjalan bersama keluar sekolah. Walaupun arah rumah kami berlawanan arah tapi kami selalu bersama menunggu bus di halte.

“Ara, kau lihat sendiri bukan perubahan drastis sikap Taehyung kepadaku?” Tanya Minyoung.

Aku mengangguk pelan.

“Menurutmu apa yang membuatnya begitu? Kau tahu bukan kalau selama ini sikapnya padaku begitu kasar.”

“Entahlah. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Manusia AB susah ditebak,” jawabku.

“Aku takut kecurigaanku benar. Dia ingin memanfaatkanku untuk membalasmu,” katanya.

“Lebih baik kau berhati-hati saja mulai sekarang. Seandainya itu benar, aku tidak akan memaafkannya,” kataku.

Aku, Minyoung, dan banyak siswa menunggu di halte bus depan sekolah. Tampaknya bus ke arah rumahku sedikit terlambat. Bus menuju rumah Minyoung yang biasanya datang setelah bus yang menuju ke rumahku, kini sudah datang. Minyoung melambaikan tangan padaku dan menaiki bus nya.

Aku masih saja menunggu. Hingga tak lama berselang setelah bus Minyoung berjalan, sebuah motor sport merah berhenti tepat di depanku berdiri. Sang pengendara membuka helm-nya.

“June!” Seruku saat tahu si pemilik motor.

June tersenyum padaku. “Ayo aku antar!” Tawarnya.

Aku mengangguk kemudian bersiap menaiki boncengan motornya. Namun saat June menyalakan mesin motornya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti menghalangi jalan.

Bukankah itu mobil Taehyung?

Benar saja. Dengan muka memerah, Taehyung berjalan tergesa-gesa mendekati kami.

Bugh!

Kepalan tangan Taehyung mendarat di pipi kanan June. Aku bergegas turun dari boncengan motor June. Eunjin yang berada di dalam mobil Taehyung juga ikut keluar mendekati kakaknya. Beberapa murid yang lain hanya bisa menonton tanpa komentar.

“Apa-apaan ini, Taehyung?!” Seruku kesal. Aku melihat ada lebam di tulang pipi June.

“Kalau terjadi apa-apa pada Ara, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!” Seru Taehyung pada June.

Aku semakin bingung. Ini sebenarnya ada apa?

“Tsk! Seharusnya kata-kata yang kau ucapkan itu adalah kata-kata dariku untukmu, Taehyung,” jawab June santai. “Ingat, playboy! Jangan pernah mempermainkan perasaan wanita. Kau memiliki adik wanita. Bisa kau bayangkan kalau adikmu dipermainkan oleh pria lain.”

Bugh!

Lagi-lagi wajah June menjadi korban kemarahan Taehyung. Taehyung ingin kembali meninju June tapi aku dan Eunjin berusaha menahannya.

Masih dengan emosi Taehyung berencana berjalan kembali ke mobilnya. Namun saat tangannya menggamit tanganku, aku melepaskannya. Aku bisa melihat wajahnya menunjukkan raut kebingungan.

“Hubungan kita sudah berakhir, Taehyung. Kau tidak perlu mencemaskanku. Dan kalau kau mencintai Rose, kejarlah dia. Aku percaya kalau kau berusaha, suatu saat nanti dia akan membuka pintu hatinya untukmu. Dan satu hal lagi. Kalau kau benci padaku balaslah padaku langsung. Jangan memanfaatkan orang-orang terdekatku untuk membalasku,” kataku pada Taehyung.

Aku mendekati June dan kembali menaiki motornya. June segera memakai kembali helmnya dan kembali menyalakan mesin motornya. Motor June perlahan melaju meninggalkan Taehyung yang masih berdiri di tempat tanpa reaksi apa-apa.

“Ayo masuk,” kataku pada June yang tampak mematung di depan pintu apartemenku. Aku menarik tangannya untuk masuk. “Aku tahu tempat ini lebih pantas kau sebut gudang, tapi kau harus tahu aku bukan dari golongan orang kaya sepertimu. Bahkan bisa tinggal di tempat seperti ini saja aku sudah bersyukur,” ujarku sembari melepas sepatuku dan menggantungkan tasku.

June duduk bersila di depan tv. “Bagaimana bisa kau tinggal di tempat seperti ini?” Gumamnya.

Aku mengambil air minum untuk June dan meletakkannya di depannya. Setelah itu aku mengambil air hangat dan handuk kecil. Aku duduk di dekat June dan mulai mengompres handuk kecil dengan air hangat dan menempelkannya pada lebam di pipi kanannya.

“Aish, aku tidak mengerti apa kemauan Taehyung. Gara-gara aku kau jadi lebam begini,” gerutuku.

June tersenyum. “Kau sangat cute.”

Pipiku memerah mendengar pujiannya barusan.

“Kau… kenapa tadi kau tidak mengikuti Taehyung?” Tanyanya.

“Dia tidak mencintaiku, June. Waktu itu aku terlalu percaya diri bisa membuatnya mencintaiku tapi- ternyata semua itu sia-sia. Kalau untuk melupakannya, aku tidak akan pernah bisa. Tapi aku akan belajar mengurangi perasaan sukaku padanya sedikit demi sedikit,” jawabku.

“Ara,” panggil June lirih.

“Hm?”

“Bagaimana kalau kau tinggal di rumahku saja?” Tawarnya.

Aku terkejut. “June, bukan aku tidak mau tapi- di rumahmu banyak orang. Ada ibumu juga. Bagaimana aku bisa tinggal di sana sedangkan kita baru saling mengenal?”

“Aku akan bilang pada ibuku kalau kau pacarku,” jawabnya.

Deg! Apalagi ini?!

“June, yang benar saja ibumu mengijinkan pacarmu tinggal di rumah kalian. Lain ceritanya kalau kau tinggal di rumahmu sendiri.”

“Ibuku tidak pernah protes. Aku selalu mengajak pacar-pacarku dulu tinggal bersama di rumah.”

“Tapi aku bukan pacarmu,” kataku lirih.

“Kalau begitu maukah kau jadi pacarku?”

Ucapan June barusan membuatku terkejut. Menurutku semua ini terlalu tiba-tiba.

“Aku tidak memaksamu. Aku hanya menawarkan tempat tinggal yang layak untukmu. Kalau kau mau kau juga bisa bekerja di tempat ibuku. Aku dengar dari Minyoung kau membutuhkan pekerjaan sampingan.”

Kedua mataku berbinar mendengarnya. “Benarkah?”

June mengangguk-angguk.

Aku bergegas memeluknya erat-erat. “Terimakasih banyak, June. Kalau begitu aku mau tinggal di rumahmu,” jawabku.

Hei! Siapa juga yang tidak mau tinggal di rumah mewah secara gratis?! Aku bahkan diberi pekerjaan sampingan untuk menambah uang sakuku.

“Kalau begitu, kapan kau mulai pindah?”

“Bagaimana kalau Sabtu pagi? Aku libur.”

“Baiklah. Oh ya, sebaiknya barang-barangmu ditinggal saja. Kau membawa badan dan peralatan sekolahmu saja.”

“Tapi, June, aku membelinya memakai uang.”

“Tsk! Barang-barangmu ini hanya akan mengotori rumahku saja,” jawab June.

Ah, aku lupa kalau dia itu super kaya.

“Baiklah.”

-Han Ara POV-

—000—

-Author POV-

Jimin menyetir dengan pelan. Dia baru saja pulang dari rumah Taehyung. Tiba-tiba matanya terpaku pada sesosok gadis yang berhenti di tepi mobilnya karena mesinnya mati. Jimin merasa mengenali gadis itu. Dia memarkirkan mobilnya di depan mobil itu kemudian keluar menemui si pemilik mobil. Untung saja mobil itu berhenti di jalanan yang sepi sehingga tidak mengganggu lalu lintas.

Jimin memperhatikan wajah gadis itu dari samping. “Hayoung?” Panggilnya.

Gadis itu menoleh. “Jimin? Hei, apa kabar?”

Jimin menggaruk-garuk tengkuknya. “Aku baik. Oh ya, mobilmu kenapa?”

“Mesinnya tiba-tiba mati. Aku sudah memanggil bengkel langgananku tapi mereka belum datang,” jawab Hayoung gelisah.

“Aku temani kau menunggu kalau begitu,” tawar Jimin. “Bagaimana kalau menunggu di dalam mobil saja?”

Hayoung mengangguk. Dia menekan tombol buka kunci mobilnya dan membuka pintu depan. Hayoung duduk di kursi sopir sedangkan Jimin duduk di sampingnya.

“Sudah lama kita tidak bertemu,” kata Jimin memecah keheningan.

Hayoung tersenyum manis. “Kau terlihat semakin tampan saja, Jimin,” puji Hayoung. Matanya tidak lepas dari memandangi Jimin.

“Terimakasih. Kau juga semakin cantik, Hayoung. Oh ya, ngomong-ngomong mana tunanganmu itu?” Tanya Jimin tiba-tiba.

Raut wajah Hayoung berubah menjadi ekspresi sedih. “Dia meninggal karena kecelakaan beberapa bulan yang lalu.”

“Astaga, Hayoung maaf aku sungguh-sungguh tidak tahu,” kata Jimin.

“Tidak apa-apa. Setidaknya kami belum sampai jenjang pernikahan jadi aku tidak terlalu kehilangan,” ujar Hayoung.

Jimin menatap gadis di depannya itu. Gadis yang dulu menyandang status kekasihnya. Namun hubungan mereka harus kandas karena Hayoung telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan anak rekan bisnis mereka. Setelah mereka berpisah, mereka sama sekali tidak lagi saling berhubungan baik melalui telpon ataupun secara langsung. Dan beruntung sekali mereka tidak satu sekolah.

“Lalu sekarang?”

“Maksudmu?” Hayoung tidak paham.

Jimin tersenyum aneh. “Umm… kekasihmu… yang baru.”

Hayoung tertawa geli. “Aku belum berfikir ke sana, Jimin. Aku sedang fokus pada sekolahku. Kebetulan aku terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk olimpiade Matematika.”

“Wah, selamat Hayoung. Aku iri padamu,” kata Jimin.

“Terimakasih, Jimin. Hei, kau sudah menjadi perwakilan sekolahmu tahun lalu,” jawab Hayoung.

Jimin tersenyum malu. “Tapi aku tidak menang.”

“Bukan masalah menang atau tidak. Tapi usahamu sudah patut diacungi jempol,” kata Hayoung menunjukkan kedua jempol tangannya. “Ah, Jimin, tampaknya itu mobil derek bengkel langgananku.” Hayoung menunjuk ke luar kemudian dia juga keluar dari mobilnya dan menghampiri sopir mobil derek tersebut.

Jimin keluar dari mobil Hayoung kemudian masuk ke mobilnya dan memindahkannya agar tidak menghalangi mobil derek tersebut.

“Lalu, kau bagaimana pulangnya?” Tanya Jimin.

“Aku bisa naik taksi.”

“Mau aku antar?” Tawar Jimin.

“Tidak usah, Jimin. Nanti merepotkanmu,” tolak Hayoung.

“Ayolah, jangan menolak. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu,” rayu Jimin.

“Hei, aku tidak pernah berpikir seperti itu,” jawab Hayoung.

“Kalau begitu bagaimana? Kau mau kan?”

Hayoung mengangguk.

Jimin tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya. “Ayo!”

—000—

“Oppa!” Seru Eunjin saat dilihatnya pria yang kini menjadi kekasihnya itu berdiri di depan pintu kamarnya. Eunjin memeluk dan mengecup sekilas bibir Seokjin.

“Sudah siap?” Tanya Seokjin.

Eunjin mengangguk-angguk.

Hari ini rencananya Seokjin ingin mengajak ke tempat dokter kandungan untuk mengikuti program penundaan kehamilan. Setelah Taehyung memberi tahu Eunjin untuk berhati-hati dalam berhubungan seksual, Eunjin langsung menghubungi Seokjin dan meminta jalan keluar. Satu-satunya cara adalah penundaan kehamilan karena Seokjin menolak menggunakan kondom. Morning after pill tidak baik jika digunakan terus-menerus, mengingat intensitas hubungan seksual mereka yang terlalu tinggi.

Eunjin menggamit tangan Seokjin dan berjalan mendekati Taehyung yang tengah menonton TV di ruang santai.

“Taehyung, aku ingin mengajak Eunjin keluar.” Seokjin meminta ijin pada kakak pacarnya itu.

Taehyung memandang dua sejoli yang berdiri di hadapannya itu. “Kemana?”

Eunjin menyenggol-nyenggol Seokjin dengan sikunya. Seokjin nyengir aneh dan hal itu membuat Taehyung tertawa geli.

“Hyung, kau belum pernah berpacarankah? Mengajak kencan seorang gadis saja bingung. Kau baru berhadapan dengan kakaknya, bagaimana kalau kau langsung berhadapan dengan ayahnya?” Kata Taehyung seolah-olah mengejek Seokjin.

Seokjin tersenyum malu.

“Eunjin sangat manja, Hyung. Aku harap kau bisa meng-handle sifat manjanya. Tapi dia sangat polos dan lugu. Aku yakin dia akan menuruti apapun yang kau mau karena dia begitu menyukaimu,” kata Taehyung lagi. “Pergilah. Aku percaya padamu, Hyung,” lanjutnya.

Eunjin dan Seokjin tersenyum lebar. Sementara Taehyung tertawa geli.

“Terimakasih, Kakak Ipar. Aku janji akan menjaga adikmu baik-baik,” kata Seokjin.

“Tsk! Sudah pergi sana kalian,” jawab Taehyung sambil mengganti-ganti channel tv yang ditontonnya.

“Oppa tidak ingin kemana-mana?” Tanya Eunjin.

Taehyung menggeleng. “Aku sedang malas. Lagipula sepertinya nanti Jungkook akan kesini,” jawab Taehyung.

“Sudah, Oppa pacaran saja sama Jungkook,” Eunjin menjulurkan lidahnya kemudian menarik Seokjin pergi sebelum Taehyung melemparinya dengan bantal.

“Eunjin, jujur aku malu padamu dan juga Taehyung,” kata Seokjin saat mereka di dalam mobil.

“Kenapa, Oppa?”

“Seharusnya aku yang memberitahu Taehyung lebih dulu tentang hubungan kita. Aku pernah berjanji padamu untuk lebih dulu meminta ijin pada Taehyung, tapi aku tidak bisa memenuhinya.”

Eunjin menyandarkan kepalanya di bahu Seokjin. “Sudahlah, Oppa, jangan dipikirkan. Lagipula Taehyung Oppa selalu menuruti keinginanku.”

Seokjin mengecup kepala Eunjin sekilas. “Ini bukan masalah Taehyung yang selalu menuruti keinginanmu. Tapi harga diriku sebagai seorang pria, Eunjin.”

“Sudahlah, Oppa. Yang jelas sekarang Taehyung Oppa sudah menyetujui hubungan kita.”

“Aku… aku takut menyakitimu, Eunjin.”

“Selama Oppa tidak selingkuh aku tidak masalah.”

“Tapi kau juga jangan selingkuh. Kau dekat sekali dengan Jungkook. Bahkan sering tidur bersama.”

“Hei, Oppa. Tidur bersama itu tidak berbahaya. Justru yang berbahaya itu melek bersama. Dengan kondisi sadar seorang pria dan wanita yang bukan saudara berdua-dua, bisa saja melakukan hal yang iya-iya.”

Seokjin melepas satu tangannya pada setir mobil untuk mengusap-usap kepala kekasihnya itu. “Kau ini ada-ada saja. Aku percaya padamu.”

Sesampainya di rumah dokter kandungan, Seokjin dan Eunjin segera masuk ke rumah praktek dokter tersebut. Sebenarnya dokter kandungan tersebut adalah kekasih kakak Seokjin. Dan semalam Seokjin sudah membuat appointment dengan dokter tersebut.

“Hai, Seokjin! Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu,” sapa dokter kandungan itu saat melihat Seokjin.

Seokjin menggandeng tangan Eunjin dan mendekati tempat dokter kandungan itu duduk. “Aku sehat. Hani Noona bagaimana? Ah, sudah lama sekali Noona tidak pernah datang ke rumah,” sapa Seokjin sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter kandungan bernama Hani tersebut.

“Bagaimana aku mau datang ke rumah kalau kakakmu saja tidak ada? Oh ya, gadis ini yang kau ceritakan padaku semalam kah?” tanya Hani menunjuk Eunjin yang sedari tadi diam saja.

Seokjin tersenyum. “Iya, Noona. Dia pacarku. Cantik bukan?”

Hani mengangguk-angguk. “Aku senang kau sudah berhenti menjadi playboy,” komen Hani kemudian tertawa.

“Ck! Aku bukan playboy,” gerutu Seokjin.

“Memang bukan. Tapi kau tidak pernah mengakui pacar-pacarmu sebelumnya,” kata Hani. “Dan kau boleh bangga karena si playboy ini akhirnya memiliki niat untuk berhubungan serius denganmu,” ujarnya lagi pada Eunjin. “Siapa namamu?”

Eunjin tersenyum senang. Walaupun dia tahu Seokjin belum sepenuhnya mencintainya, tapi dari ucapan Hani barusan, dia semakin yakin kalau Seokjin tidak main-main dengannya. “Kim Eunjin.”

Seokjin tidak berkomentar lagi. “Tsk! Oh ya, Noona, langsung saja. Kami ingin konsultasi tentang penundaan kehamilan. Aku tahu ini tidak seharusnya dilakukan karena kami belum menikah tapi… .”

“Kalian sering berhubungan badan?” Tebak Hani. “Tapi, kalian takut Eunjin hamil?”

Eunjin dan Seokjin mengangguk malu. “Tsk! Kalau bukan adik pacarku, aku tidak akan mengijinkan kalian konsultasi di sini karena kalian pasangan yang belum menikah.”

“Hei, seolah-olah Noona dan Hyung tidak pernah berhubungan seks. Aku sering mendengar suara Noona mendesah keras sekali saat Noona berada di kamar Hyung.” Seokjin membuka aib dokter kandungan di depannya itu.

“Hei!” Wajah Hani memerah karena malu. Dan hal itu membuat Eunjin menahan tawa.

Seokjin tersenyum penuh kemenangan.

“Baiklah kalau begitu sebelum aku memberikan solusi, kalian isi dulu data ini,” kata Hani sambil menyerahkan form data pada Seokjin dan Eunjin. “Dari data tersebut aku akan menyimpulkan metode apa yang sebaiknya kalian pakai.”

Eunjin dan Seokjin menerima kertas form tersebut dan mengisinya. Tak sampai lima menit mereka telah selesai mengisi data yang diminta dan menyerahkannya kembali pada Hani.

Hani mengenakan kacamata bacanya dan mulai meneliti data yang telah diisi Seokjin dan Eunjin.

“16 tahun?!” Seru Hani shock.

Eunjin mengangguk takut-takut.

“Sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak bisa membantu kalian dengan pencegahan tidak efektif kecuali dengan penggunaan kondom. Eunjin terlalu muda untuk menjalani program penundaan kehamilan tidak efektif. Usia minimal yang diijinkan mengikuti program ini adalah 17 tahun,” jelas Hani.

“Unnie, tolonglah. Aku tidak mau hamil di usia sekolah. Aku tidak mau kakakku membunuhku nantinya.” Eunjin memohon pada Hani.

Hani menggeleng. “Ini adalah peraturan medis, Eunjin. Jika aku melanggarnya, aku bisa terkena kasus hukum dan akan berpengaruh pada karirku ke depan.”

Eunjin memandang Seokjin risau. Seolah-olah meminta Seokjin untuk berbicara pada Hani.

“Lalu, apa yang sebaiknya kami lakukan, Noona?”

“Mau tidak mau kalian harus menggunakan metode kontrasepsi alamiah. Yaitu dengan cara tidak melakukan hubungan seks selama masa subur atau dengan mengeluarkan sperma di luar vagina atau disebut putus senggama. Tapi aku tidak yakin ini efektif pada kalian karena aku baca data yang kalian isi, kalian terlalu sering berhubungan seks,” jawab Hani.

Eunjin tampak menghempaskan nafasnya kecewa.

“Sebaiknya gunakanlah kondom, Seokjin. Aku tahu penggunaan kondom bisa mengurangi kenikmatan dalam berhubungan seks, tetapi dengan intensitas hubungan seks kalian yang terlalu tinggi dan usia Eunjin yang masih sangat muda, ini satu-satunya solusi paling efektif,” nasehat Hani.

Seokjin menoleh pada Eunjin. Dan yang ditoleh hanya menggedikkan bahunya.

“Sebenarnya ada satu lagi solusi kontrasepsi tidak efektif untuk kalian. Yaitu dengan spermisida.”

“Spermisida? Apa itu?”

“Itu adalah alat kontrasepsi yang mengandung zat kimia yang berfungsi membunuh sperma. Caranya dengan dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual. Tapi jangan dilakukan sebelum oral seks karena beresiko pada kesehatan kalian. Ada beberapa bentuk spermisida, seperti : aerosol, krim dan jelly, tissue, dan lain-lain. Tapi untuk sementara ini spermisida tidak dijual legal di Korea Selatan. Spermisida baru dijual legal di negara-negara Amerika dan Eropa.”

“Lalu, bagaimana aku mendapatkannya?” Tanya Seokjin.

“Tsk! Kenapa kau tidak minta saja pada ayahmu? Bukankah dia bekerja di Amerika?” tanya Hani.

“Aku tidak mau membahas tentang dia,” ujar Seokjin kesal. Seokjin dan orang tua nya memang tidak memiliki hubungan yang baik.

“Aku mempunyai seorang teman. Kebetulan dia dari Spanyol. Nanti aku coba meminta tolong padanya. Biasanya beberapa bulan sekali dia pulang ke Spanyol,” ujar Hani mencoba memberi solusi.

“Terima kasih banyak, Noona,” seru Seokjin. Eunjin juga menatap Seokjin dengan penuh kegembiraan.

“Tapi aku tidak bisa memberitahu kalian kapan pastinya dia akan pulang ke Spanyol. Jadi untuk sementara kalian gunakanlah kondom. Aku juga akan memberikan beberapa butir morning after pil. Tapi jangan terlalu sering dikonsumsi. Maksimal penggunaan adalah tiga kali dalam seminggu,” terang Hani.

Eunjin dan Seokjin mengangguk setuju.

Hani berjalan menuju lemari obat-obatannya dan mengambil beberapa pak kondom dan morning after pill dan membungkusnya dengan paperbag. Setelah mencatat bill-nya, Hani menyerahkannya pada Seokjin.

“Terimakasih banyak, Noona,” kata Seokjin sambil menerima paperbag tersebut sekaligus membayar total harga.

Setelah selesai transaksi, Seokjin dan Eunjin pamit pulang. Hani mengantar mereka hingga pintu depan. Saat di koridor depan mereka berpapasan dengan seorang wanita seksi berkulit tan dan berambut blonde yang berjalan menuju ruang praktek Hani.

“Hei, Rosaline Javier Bracamontez! Sudah lama kau tidak kesini.” Samar-samar Eunjin dan Seokjin mendengar Hani menyapa wanita itu.

“I’m sorry, Hani. Aku sedikit sibuk akhir-akhir ini,” jawab wanita itu.

—000—

A/n :

Dear, guys!
Thank you udah nungguin BTS 7 SOUL update. Author apresiasi & seneng bnget bacain komen2 kalian yang selalu kasih support plus give attention sama BTS 7 Soul. Seperti biasa kalau mau baca ff Author yg lain, bisa follow akun wattpad Author @lingkyu88.

Lottaluv
Lingkyu88 ლ(⌒▽⌒ლ)

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

8 thoughts on “FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 10

  1. Seru bnget ditunggu yah ka nextnya haha trs knpa yah tae mau bls dendam sma ara emangnya dya ska yah sma ara, pnsaran sma prsaannya tae ke ara, trs jimin balikan lagi ga yah sma mantannya haha seru ka

  2. Kangen sama ff ini… Akhirnya dipost jugaa 😍
    Bingung sama june dan taehyung, sebenernya yg playboy siapa? Yg jahat siapa? Itu taehyung kok jadi peduli lagi sama ara? Suka kah sama ara? Duuh penasaraaan
    Keep writing author! Selalu ditunggu 💕

  3. Kyaaa makin seru aja nih ceritanyaaa😀

    Taehyung kok ngebingungin gitu yah, dulu pan sebodoan sama Ara, eh sekarang malah sok peduli gitu. asli pen gue timpuk tuh namja :v btw gue makin penasaran sama June😀

    Itu siapa lagi Hayoung? mantan Jimin? Kok gue agak keganggu yah Thor sama dia, tp penasaran juga sih kelanjutannya :v

    Hoseok ciyeee lg nyari kesempatan bang?😄

    Yoongi so sweet gila :* tp tetep aja agresif xD

    itu itu itu… Seokjin sama Eunjin datang ke dokter tempat persinggahan(?)nya Rose?😄

    Thor, cepet lanjut yah ceritanya, semangat!😀

  4. …. *hening*

    Iyaaah~ kau benar-benar pedofil(?), oppa!! *digampar Jin*

    Baiklah, aku hanya akan bilang bahwa ff ini sangat bagus dan cetar!!😄

    Semangat buat bikin ff-nya, thor😄

    Ditunggu kelanjutannya😄

  5. ff ya tmbah seru dn keren thor jangan lama” updatenya.
    Dan..kayanya taehyung suka beneran ama ara Yes! Please tlg baikin lgi taekhyung ama ara ..aku ska bgt ama couple ini. aku penunggu setia ff ini. jgn” lama”updatenya thor..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s