FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 7


PicsArt_1434709030654

Author : AL lee

Title : DARK BLUE DREAMCATCHER

Cast :

  • Jang Woo Ren (OC)
  • Min Yoongi
  • Jung Hoseok
  • Park Jimin
  • Kim Soekjin
  • Kim Namjoon
  • ect

Genre : School life, romance, comedy(?), sad(?)

 

Hoseok pov

Dengan lincah dan gesit aku melewati lawan-lawan yang mencoba menghalangi dan merebut bola yang ada di kakiku. Satu lagi, Soohan, yang menjadi penghalang bagiku, setelah melewatinya maka gawang akan ada di mepan mataku. Dan… Yup! Aku melewatinya. Sekarang gawang ada di hadapanku, aku menganbil ancang-ancang untuk menendang bola. Dan goal! Ini adalah goal ke tigaku dipermainan hari ini. Aku tersenyum puas. Suara cempreng Jimin terdengar bersorak paling keras diantara suara yang lain, dan tak lupa suara tepukan tangan.

PRIIIIT

Suara peluit yang ditiup oleh pelatih kami terdengar, pertanda latihan hari ini telah selesai. Kami berkumpul di hadapan pelatih.

“Untuk latihan hari ini kalian terlihat semakin baik dari latihan sebelum-sebelumnya. Saya akui semakin hari kalian semakin membaik. Dan selamat untuk Hoseok.” Pelatih melihat ke arahku

“Kau tampil sangat baik hari dan menggairahkan ini.”

“Terimakasih pak.” Aku sedikit membungkukkan badanku

“Kalau begitu kita cukupkan latihan sore hari ini. Silahkan kalian pulang ke rumah masing-masing dan selamat… besok adalah hari libur.”

Setelah bubar aku dan Jimin langsung menghampiri Namjoon yang duduk di bangku tribun paling bawah.

“Whoo… selamat kapten! Semangatmu membara sekali.” Namjoon mengangkat tangannya untuk mengajakku bertosan

Aku tersenyum seraya menyambut tangannya sehingga kamipun bertosan. Aku mengambil tempat duduk di sampingnya.

“Kau terlihat luar biasa sekali.”

“Ya! Bagaimana denganku? Aku juga bermain dengan baik.” Protes Jimin

“Baik apanya Jimin? Kau hanya lari-larian saja mengejar kemana arah bolanya. Kau tidak sama sekali mecetak goal.”

“Yak, Permainan sepak bola memang seperti itu pabbo! Soal tidak mencetak goal itu karena aku belum beruntung.”

“Makanya buat suatu keberuntungan jangan hanya menunggu keberuntungan, kau akan tua menunggunya. Coba lihat si kapten ini, permainannya sangat baik.” Namjoon menepuk-nepuk pundakku

“Tau apa kau tentang sepak bola? Kau saja tidak menyukainya bahkan memainkannya.”

“Aku pernah memainkannya ketika aku masih sekolah dasar.”

“Terserah kau saja.” Jimin menenggak air mineralnya

“Sudah akui saja permainan Hoseok itu bagus sedangkan kau tidak.”

Jimin hampir saja menyemburkan air yang ada di mulutnya jika dia tidak menahannya. Setelah menelannya dia berkacak pinggang menatap Namjoon.

“Aku akui permainan Hoseok memang bagus, tapi aku tidak bisa mengakui kalau permainanku jelek!”

“Ya! Hentikan! Kalian akhir-akhir ini sering mendebatkan hal-hal tidak penting.”

Jimin dan Namjoon menoleh ke arahku. “Memangnya kenapa? Kau tidak diajak dan mau ikutankan?” keduanya bersamaan

Aku terenyak. Sedetik kemudian aku tertawa dengan lepas dan mereka ikut tertawa. Ada-ada saja kelakuan kedua sahabatku ini. mereka selalu bisa menghiburku, bahkan disaat aku tak membutuhkan hiburan sekalipun seperti saat ini. Ya, itu karena suasana hatiku sedang senang. Aku tak tahu pasti apa yang membuatku senang. Tapi sejak Wooren mengatakan dia sudah memaafkanku suasana hatiku menjadi berubah seperti ini.

“Moodmu sepertinya sangat bagus hari ini. Ada apa?”

Aku menoleh pada Namjoon, “Entahlah, tapi suasana hatiku berubah sejak Wooren mau berbicara denganku lagi pagi ini.”

“Wooren?” Jimin dan Namjoon bersamaan. Aku hanya mengangguk. Dari ekor mataku aku melihat mereka saling bertatapan.

“Apa kau jatuh cinta padanya?”

“Entahlah.” Jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari lapangan di depanku

“Ya! Namjoon, aku ingin bertanya padamu. Kau juga sedang jatuh cintakan?”

Aku menoleh ke arah Namjoon. Dia sepertinya kaget. Aku dan Jimin terus memandangnya karena dia tak kunjung menjawabnya. Dia malah menundukka kepalanya sekarang.

“Hey, jawab aku! Kau sedang jatuh cintakan? Dengan Choi Minah.”

Lama Namjoon tak menjawab sampai akhirnya dia membuka suara.

“Aku juga tidak tahu apa yang aku rasakan padanya saat ini adalah cinta atau bukan.”

Mendengar itu aku dan Jimin langsung tertawa. Dia mengangkat kepalanya dan menatap kami bingung dengan bibirnya yang mengerucut.

“Kau ini namja macam apa Namjoon-ah? Bagaimana kau bisa mengungkapkannya pada yeoja yang kau sukai kalau perasaanmu sendiri kau tidak tau hahahaha.”

“Tapi kenapa kau tidak menceritakannya pada kami?” mendengar ucapanku Jimin berhenti tertawa, sedangkan Namjoon hanya terdiam. Dia seperti sedang berfikir.

“Ah, igo… Aku… Seperti yang ku katakan tadi, aku masih belum tau apa yang ku rasakan ini benar-benar cinta atau bukan.”

“Ya! Kau pikir kami ini siapamu eoh? Hal semacam ini kau tidak berani menceritakannya pada kami.” Jimin berkacak pinggang

“Namjoon-ah, apa gunanya sahabat kalau kau memndam masalah yang sedang kau hadapi sendiri? Aku dan Jimin akan selalu mendengarkan ceritamu, kami akan selalu bersedia membantumu.”

Jimin mengangguk-angguk melihatku dan Namjoon bergantian.

“Mianhae. Lain kali aku tidak akan seperti ini. baiklah mulai sekarang aku akan membagi ceritaku tentang perasaanku pada gadis itu. Tapi…”

Jimin dan aku menatapnya penasaran karena dia menggantungkan kalimatnya. Namjoon mengangkat kepalanya dan menatap Jimin

“Apa kau tak punya kisah cinta?” tanya Namjoon polos

Jimin tersentak mendengar pertanyaan Namjoon yang tertuju padanya.

“Kenapa kau tidak membaginya pada kami?” lanjut Namjoon

“Ne… Nega… Ya! Apa kau sedang meledekku eoh? Aku memang sedang tak punya seoarang gadis untuk diukai saat ini.”

“Jeongmal?”

“Nde.”

“Kalu begitu kau boleh menyukaiku.” Namjoon mengedipkan sebelah matanya

Jimin mengeluarkan ekspresi ngeri melihat tingkah Namjoon. Dia sepertinya jijik dengan kelakuan sahabatnya yang satu itu. Aku tertawa melihat sikap mereka, begitu Namjoon. Tak lama Jimin pun ikut tertawa.

*****

Yoon Gi pov

Aku mendrible bola basket yang ada di tanganku lalu melompat ketika sudah berada di dekat ring. Hup! Bolapun masuk dengan mulus ke dalam ring. Setelah bolanya jatuh aku kembali menangkapnya dan pergi menjauh dari ring untuk kembali memainkan bolaku. Peluh mengalir di wajah dan leherku, bahkan aku bisa mendengar nafasku yang sedikit tersengal. Tapi seperti tak merasa capek aku kembali mendrible bolaku dan membuat sebuah tembakan lagi.

“Yoongi-ya, berhentilah!”

Seperti tak mempedulikan Jin aku tetap melanjutkan permainanku.

“Yoongi, ini sudah hampir dua jam dan kau tak juga berhenti. Sudahlah, kau bisa pingsan jika terus memaksakan seperti itu. Siapa yang mau menggotongmu?”

Setelah berhasil memasukkan bola sekali aku akhirnya menuruti perkataan Jin. Aku berjalan menghampirinya dengan bola basket yang ada di tanganku lalu duudk di sampingnya. Dia memberiku sebotol air mineral. Tanpa basa-basi aku langsung meminumnya. Aku menyalakan layar ponselku untuk melihat jam, ini sudah pukul tujuh malam.

“Kenapa kau selalu seperti ini? Berceritalah padaku jika kau punya masalah.”

Aku tak menggubrisnya dan hanya terdiam menatap lapangan basket di depanku. Saat ini kami berada di lapangan basket indoor di dekat rumah Jin. Ya, seperti yang dia bilang, aku selalu seperti ini. Jika aku punya masalah yang membebani fikiranku maka aku akan bermain basket sampai lupa diri. Dengan melompat aku merasa bebas, dengan memasukkan bola ke dalam ring aku merasa puas. Dengan bermain basket aku bisa sedikit melupakan masalahku.

“Sebenarnya ada apa? Apa masalahnya pada gadis itu?”

Aku menghembuskan nafas beratku, “Aku tidak tahu Jin. Sepertinya ada sesuatu yang berbeda yang ku rasakan padanya.”

“Kau benar-benar jatuh cinta padanya?”

Aku menggeleng, “Molla.”

“Kalau begitu kau harus memastikan perasaanmu padanya. Dan jangan membuatnya terluka dan pergi darimu.”

“Tapi sepertinya aku sudah melukai perasannya. Dia sangat marah padaku.”

“Wae? Memangnya apa yang kau lakukan?”

“Aku selalu memperlakukannya sesuka hatiku, aku selalu membuatnya malu. Dia bilang begitu.”

“Yoongi-ya… Apa dia itu benar-benar yeoja-mu?”

Aku menoleh pada Jin. Pertanyaan Jin menyadarkanku. Aku memang bukan kekasihnya, dia selalu bilang begitu. Ya, aku memang membuat pernyataan sendiri kalau kami berpacaran. Aku juga tak menyadari hal gila yang telah ku lakukan saat itu. Tapi entah kenapa sejak saat itu setiap hari aku sellau merasa perasaanku yang awalnya biasa saja padanya menjadi sesuatu yang tidak biasa. Setiap aku melihatnya ada sesuatu yang berbeda yang dirasakan oleh hatiku. Dan setiap kali aku menatap matanya entah mengapa jantungku berdebar-debar.

“Kau tidak boleh seperti ini. Kau tidak boleh melakukan itu padanya. Yeoja tak bisa dipaksa.”

“Ne, arra. Tapi awalnya aku melakukan itu untuk melindunginya, dan entah mengapa perasaanku berubah.”

“Melindunginya?” kening Jin berkerut

“Hm.” Aku mengangguk sambil mengalihkan pandanganku ke arah lapangan, “Aku tau kalau dia adalah Cool girl yang selama ini dibicarakan murid-murid di sekolah. Dan aku selalu melihatnya diganggu oleh Hoseok. Karena itu aku ingin melindunginya.”

“Kau bisa melindunginya tanpa memaksakan dia untuk menjadi kekasihmu.”

“Ya… aku tau aku salah Jin.”

“Kalau begitu minta maaflah padanya. Dan jangan membuatnya merasa terlukai lagi.”

Aku mengangguk tanpa melihatnya. Jin benar, tidak seharusnya aku melakukan ini. Jika aku memang telah jatuh cinta padanya maka aku tak boleh melukai perasaannya. Jika memang aku jatuh cinta padanya aku tak akan memaksakannya untuk menjadi yeojachingu-ku, tapi aku akan membuatnya juga mencintaiku.

*****

Author pov

Hari ini adalah hari libur, karena itu Wooren masih betah merebahkan tubuhnya di kasurnya dan berselimut dengan nyaman. Bahkan matanya masih tertutup rapat.

“Nona Wooren?” seorang pelayan yang bekerja di rumahnya mengetuk pintu kamarnya

Gadis itu tetap tidak membuka matanya.

“Nona?” pelayang itu kemnali mengetuk pintu kamar gadis itu

“Hm?” dengan malas gadis itu menjawab dengan matanya yang masih terpejam

“Halmoni dan tuan besar menunggu anda di ruang makan untuk sarapan.”

“Nde.” Dengan malas akhirnya dia bangun dari tidurnya

Dia msih terduduk di ranjangnya.gadis itu mengacak rambutnya lalu melihat ke arah jam di atas meja yang terletak tepat di samping tempat tidurnya, pukul delapan pagi.Diapun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.

Setelah rapi berpakaian dia turun ke ruang makan dimana sudah ada appa dan halmoninya. Dia mengambil tempat duduk di sebelah halmoninya seperti biasa. Gadis itu mengambil selembar roti lalu menolesinya dengan selai cokelat.

“Kenapa kau hanya makan roti Woorenie? Makanlah nasi dan lauk yang lain.”

“Tidak apa halmoni, aku makan ini saja halmoni.” Gadis itu tersenyum pada halmoninya

Tanpa dia sadari appa-nya memperhatikannya. Halmoni menoleh menatap Jang Hanjoon, ayah Wooren. Hanjoon membalas tatapan ibu mertuanya itu. Dia menghela nafas seraya mengalihkan pandangannya pada anaknya.

“Wooren, makanlah nasi. Bibi Hwan membuatkan telur dadar dan daging asap yang kau sukai, appa yang memintanya membuatkannya.”

“Halmoni, tolong katakan pada pria ‘baik hati’ itu untuk jangan mengurusi.” Gadis itu tak menoleh sama sekali, dia terfokus mengoles rotinya dengan selai cokelat

Halmoni disebelahnya hanya terdiam menatapnya khawatir. Khawatir pada hubungan anak-ayah ini yang semakin hari semakin memburuk. Ayahnya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya sampai kurang memperhatikan anak perempuan semata wayangnya dan anaknya yang selalu memulai peperangan dingin itu.

“Wooren, hari ini appa libur sama sepertimu. Appa tidak akan kemana-mana, apa kau mau ke suatu tempat? Appa akan mengantarmu.”

“Jinjja?” wajah gadis itu langsung semringah

Hanjoon mengangguk. Halmoni tersenyum melihat apa yang baru saja terjadi. Ini baru terjadi lagi setelah dua tahun lamanya.

“Kalau begitu aku ingin pergi ke suatu tempat dimana aku tak akan melihatmu lagi appa.” Gadis itu tersenyum tipis, tatapannya tajam tertuju pada appanya

Appa dan halmoni-nya terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut gadis yang kini sedang memakan rotinya dengan santai.

“Wooren…” panggil halmoninya dengan lirih sedangkan gadis itu hanya diam

“Apa yang kau katakan Wooren?!”

“Wae? Abeoji marah padaku?”

“Woorenie, kenapa kau berbicara seformal itu pada appa-mu?”

“Kenapa kau selalu seperti ini Wooren? Appa selalu berusaha bersikap baik dan memperhatikanmu, tapi seperti ini balasanmu pada apaa?” sepertinya laki-laki paruh baya itu mulai kesal dengan perlakuan dari puterinya yang selalu bersikap dingin dan terbilang kurang ajar padanya

Wooren menghela nafasnya. Tak ingin berdebat dengan ayahnya, gadis itu beranjak dan meninggalkan ruang makan kembali ke kamarnya. Sedangkan appa dan halmoni-nya hanya terdiam tetap di tempatnya masing-masing.

Gadis itu berdiri di balkon kamarnya, melihat jalanan sekitar rumahnya yang cukup ramai pagi ini. Sinar matahari mulai menyinari bumi dengan hangat. Mata gadis itu tak sengaja melihat ke taman yang tak jauh dari rumahnya. Pikirannya kembali teringat pada seseorang. Dengan wajah datarnya gadis itu terus menatap taman itu, tepatnya ke sebuah bangku taman yang ada di sana.

Wooren menghembuskan nafas beratnya. Entah sudah berapa lama dia berdiri di sini memandangi taman itu sampai kakinya terasa pegal sekarang. Dia melangkahkan kakinya meninggalkan balkon. Dia duduk di pinggir kausrnya dan hanya terdiam di sana. Diliriknya jam yang ada di atas meja di sebelah kasurnya, pukul sembilan pagi. Tiba-tiba dia mendengar suara perutnya sendiri yang lapar. Membosankan sekali, tidak ada yang dia lakukan, bahkan dia tidak sempat menghabiskan selembar rotinya tadi.

Dia melangkahkan kakinya ke lemari bajunya. Dia mengambil hoodie putihnya yang tanpa kancing ataupun resleting itu lalu memakainya. Dia mengikat rambutnya menjadi satu dengan poni yang terbelah ke kiri. Gadis itu menganbil beberapa lembar uang lalu memasukkannya ke dalam saku belakang celana pendeknya, tak lupa dia memasukkan ponselnya ke dalam saku hoodienya.

Wooren melangkahkan kakinya dengan santai menuju minimarket yang tak jauh dari rumahnya. Dia malas berada di rumah, dia lapar tapi tak ingin memakan makanan yang ada di rumahnya karena itu dia ke sini. Setelah membeli keripik pedas berukuran sedang kesukaannya dan juga ice cream vanilla dia keluar dari sana. Sekarang dia menuju taman yang tak jauh dari sana.

Sebelum sempat menduduki bangku di bawah pohon besar yang menghadap ke air mancur yang ada di taman itu dia terlebih dulu memandanginya dengan wajah datar. Dia pun akhirnya duduk di bangku itu. Kripik pedas yang ada di tangannyapun ia buka dan mulai memakannya. Pandangannya kosong menatap ke depan. Sambil terus memakan kripik pedasnya dia mengedarkan pandangannya. Tak banyak orang yang ada di taman ini, bisa dihitung dengan jari. Ada mobil yang terparkir di pinggir taman itu, dia terus melihat mobil itu. Dia teringat pada seseorang, lagi-lagi orang itu. laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.

Tak terasa kripiknya sudah habis. Wooren menyukai makanan pedas, baginya makanan pedas itu selain menggugah selera, juga menantang. Selain itu dia juga suka teh manis yang hangat, sama seperti mendiang eomma-nya. Kini dia membuka bungkus ice creamnya. Dia memandangi ice cream vanilla yang ada di tangannya itu sebelum sempat memakannya.

Falsh back on

“Apa kau juga suka ice cream vanilla?”

Gadis yang berumur kira-kira lima belas tahun itu mengalihkan pandangannya dari air mancur yang yang instalasinya mati yang sedari tadi dipandanginya, dia menoleh ke arah laki-laki yang duduk di sampingnya, “Asalkan kau yang membirikannya aku akan suka, apapun itu.”

Laki-laki yang sebaya dengannya itu tertawa dengan manisnya, dia kembali memakan ice cream yang dipegangnya. Sama seperti laki-laki itu, Wooren juga kembali memakan ice creamnya. Mereka berdua terlihat aneh dengan memakan ice cream di saat musim salju seperti ini. Seperti tak ingat dengan jaket tebal dan shal yang melingkar di leher mereka masing-masing mereka malah asyik memakan ice cream yang dingin itu.

“Setelah ini kita mau kemana Jungkook-ah?”

“Kau maunya kemana?”

“Kemana saja asal jangan pulang ke rumah.”

“Kalau begitu kita tetap di sini saja ya?”

“Hm.” Gadis itu menganggukkan kepalanya

Di taman ini hanya ada mereka berdua, ya… siapa yang mau pergi ke taman pada hali libur di musim dingin seperti ini, lebih baik menghangatkan diri di dalam rumah dari pada bepergian. Ice cream nya sudah setengah ia habiskan. Sepertinya gadis itu tak menyadari ada ice cream yang yang menempel di bibir bawahnya, dia hanya menatap kosong ke depan.

“Wooren-ah…”

Gadis itu menoleh. Dia terkejut ketika melihat wajah Jungkook berada sangat dekat dengan wajahnya, matanya membulat. Bukannya menghindar anak laki-laki itu malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah gadis di hadapannya yang wajahnya sudah memerah itu. Gadis itu menggenggam tangkai ice creamnya dengan kuat ketika jarak antara wajah mereka semakin menipis. Beberapa centi lagi bibir mereka akan bersentuhan Wooren menenggelamkan dagunya ke dalam shal besar yang melilit di lehernya sehingga bibirnya ikut tertutup oleh shal, sambil tetap menatap Jungkook dengan malu bercampur takut. Jungkook memundurkan tubuhnya kembali ke posisi semula sambil tertawa.

“Ya~! Jungkook-ah kau sedang mempermainkanku ya?”

“Hahaha. Kau seperti anak kecil Wooren-ah, ada sisa ice cream di bibirmu.”

“Oh?” gadis itu mengusap lembut bibirnya dengan jari-jarinya

“Kenapa kau tidak mangatakannya saja? Kau sengaja ingin mempermainkanku eoh?”

“Mempermainkan mu? Jadi kau ingin benar-benar dicium olehku ya?”

“Bo-boya?” gadis itu nampak malu dengan kata-kata yang tanpa sengaja ia ucapkan

Jungkook kembali tertawa. Wooren hanya memandangi laki-laki itu. Laki-laki yang selalu bersamanya, menemaninya dan menlindunginya. Laki-laki yang selalu tersenyum dengan lembutnya pada dirinya, laki-laki yang selalu menatapnya dengan hangat. Tanpa disadari bibirnya tersenyum melihat laki-laki yang sedang tertawa di sampingnya itu.

Flash back of

Wooren menatap kosong ke depan dengan nanar. Ada senyum getir yang menghiasi wajahnya. Dia menatap ice cream yang baru setengah ia makan. Ice cream vanilla dengan merek yang sama dengan yang diberikan Jungkkok padanya waktu itu. Bahkan dia memakannya di tempat yang sama dengan dua tahun yang lalu.

“Jungkook-ah, kau kemana? Kau bilang kau akan selalu berada di sampingku, menemaniku, dan menjagaku. Kau berbohong Jungkook-ah.” Ucapnya lirih

Tanpa disadarinya air matanya jatuh dari peupuk matanya yang sudah tak mampu menampungnya. Air matanya mengalir membasahi kedua pipinya.

“Kookie-ah non eodiso?”

Wooeren kembali memakan ice cremnya. Tanpa gadis itu sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya dari jauh. Bahkan laki-laki itu melihatnya menangis sambil memakan ice cream yang ada di tangannya. Melihat Wooren menangis, dada laki-laki itu terasa sesak. Dia seperti bisa merasakan apa yang di rasakan Wooren.

Woo Ren pov

“Eoh! Bibirku memerah.” Gumamku sendiri sambil melihat wajahku di camera depan ponselku

Ya memang selalu seperti ini, setiap aku memakan sesuatu yang pedas, dingin ataupun panas pasti bibirku memerah. Setelah sikat gigi juga. Entahlah kenapa bibirku mudah memerah seperti itu. Aku kembali memasukkan ponselku ke saku hoodieku.

Aku harus kemana ya? Aku tidak mau pulang ke rumah. Ah andai ada Jungkook, pasti dia akan menemaniku jadi aku tidak sendirian, dan kami akan pergi kemanapun aku mau. Aku terus melangkahkan kakiku, aku tak tahu mau kemana. Aku menghela nafasku sambil memasukkan kedua tanganku ke saku hoodie putih yang ku pakai.

Kenapa hari libur menjadi membosankan? Setiap orang menginginkan hari libur, tapi tidak dengan ku. Aku lebih baik tidak masuk ke sekolah dan menjalani rutinitasku dari pada harus menjalani hari libur yang tidak jelas seperti ini. Aku memperhatikan kakiku yang cukup jenjang ini terus melangkah. Kenapa aku keluar rumah dengan celana pendek seperti ini? bahkan celana ini tidak menutupi lututku. Sejak kehidupanku menjadi kacau seperti ini aku jadi kurang memperhatikan penampilanku. Lihat saja hari ini! Aku keluar rumah dengan hoodie putih yang cukup tebal, celana pendek, dan sepatu convers hitam senada dengan celanaku. Bahkan aku mengikat rambutku menjadi satu dengan poni ke sebelah kiri.

Aku merapikan poniku. Jika Jungkook ada disini, dia pasti akan menertawai penampilanku yang seperti ini. Ya, jika pergi dengan Jungkook aku akan berpenampilan seperti perempuan-perempuan yang manis. Membiarkan rambutnya terurai, memakai baju-baju yang cantik-cantik, dan memakai flat shoes. Aku tersentum sendiri mengingatnya. Aku memang seperti itu dulu, ya, dulu.

Kenapa jalanan sesepi ini? mungkin karena ini masih jam setengah sepuluh pagi. Oh! Mobil siapa ini? Apa Jung ahjussi punya mobil baru? Ya, pasti itu mobil baru Jung ahjussi kalau tidak kenapa mobil itu terparkir di depan rumahnya. Wah sepertinya beliau selalu punya banyak uang, jika aku tidak tahu malu pasti aku akan meminta uang padanya hihihi.

Aish! Kenapa orang yang ada di dalam kemudianya membuka pintunya ketika aku hendak lewat di samping mobil ini? hampir saja aku terkena kalau saja orang itu terlambat dua detik, maka badanku pasti akan sangat sakit. Hah ada ada-ada saja. Aku menyerongkan langkahku agar tak terkena pintu mobil yang terbuka itu.

“O-Oh!” tiba-tiba aku tertarik masuk ke dalam mobil itu saat melewati pintunya yang terbuka

Mataku membulat sempurna ketika menyadari posisiku saat ini. Aku jatuh menindih tubuh seseorang yang tubuhnya terebahkan di jok mobil. Sepertinya orang itu jatuh ke posisinya yang seperti itu karena aku jatuh menimpanya. Dan yang paling membuatku sangat terkejut kitika aku mengetahui kalau orang itu adalah Min Yoongi. Wajah kami begitu dekat. Nampaknya dia juga terkejut karena posisi kami yang seperti ini. Mata kami bertemu.

“Ya! Apa yang kau lakukan padaku eoh?”

“MWO!? Ya! Kau yang menarikku ke dalam sini.”

“Aku hanya menarik lenganmu, tapi kenapa reaksimu berlebihan sampai jatuh menindihku seperti ini?”

“Ma..mana aku tau.”

Tiba-tiba dia mengeluarkan smirknya “Kau ingin menggodaku ya?”

“MWO!?”

“Kau sengaja membawaku ke posisi seperti ini untuk menciumku kan? Lihat saja, bahkan kau juga menggodaku dengan bibirmu yang merah itu.”

Boya? Huh, lucu sekali dia. Dia pikir aku gila sampai berniat untuk menggodanya seperti ini? Dan apa tadi dia bilang? Aku mau menciumnya? Huh! Bahkan melihat wajahnya saja aku tak mau.

“Oke… Oke… Arraseo. Baiklah aku akan memjamkan mataku sekarang.” Dia memejamkan matanya sambil tersenyum. Cih! Menjijikan sekali. Rasanya aku ingin menginjak-injak wajahnya saja sampai tak berbentuk.

Saat dia memejamkan matanya aku segera bangun dari posisiku yang menindih tubuhnya. Karena tak mndapat respon dariku dia akhirnya membuka matanya dan melihatku yang sudah berdiri di depan pintu mobilnya yang sudah terbuka. Dia tertawa. Apa yang dia tertawakan itu? apa dia menertawaiku? Hey dia seharusnya menertawai dirinya sendiri. Aku berdiri dengan kedua tanganku yang ku masukkan ke dalam saku hoodieku. Aku sengaja tidak langsung pergi untuk menghardiknya terlebih dulu.

Dia masih tertawa. Aku hanya diam memandanginya dengan wajah datar. Dia akhirn menghentikan tawanya lalu menatapku dengan sisa senyum di wajahnya.

“Sudah puas tertawanya? Sekarang aku akan membuatmu tak akan pernah tertawa lagi.”

Dia hanya terdiam menatapku. Wajahnya sangat santai menunggu perkataanku selanjutnya. Ah menjengkelkan sekali.

“Kau!” aku menunjuka wajahnya dengan jari telunjukku, “Kau jangan berharap aku ingin menciummu, bahkan melihat wajahmu pun aku tak mau. Kau pikir aku wanita macam apa yang sengaja terjatuh hanya untuk menggoda laki-laki, apa lagi laki-laki macam dirimu. Kau itu aneh! Bodoh! Idiot! Aku benci dirimu! Iya! Aku sangat membencimu.”

Ekspresi wajahnya berubah seiring perkataan yang keluar dari mulutku. Aku mengucapkannya dengan semngat yang membara dan itu sukses membuatnya tak bergemin seperti itu. Hah! Lihatlah betapa payahnya dirimu itu Min Yoongi! Baru seperti itu saja sudah diam. Aku berkacak pinggang. Aku belum selasai! Asal kau tahu saja.

“Kenapa kau selalu muncul di hadapanku huh? Kau tau? Sejak kau masuk di kehidupanku, hari-hariku yang berantakan menjadi lebih tak karuan! Kau pikir laki-laki macam apa yang memaksa yeoja yang bahkan tak dikenalnya untuk menjadi kekasihnya eoh? Cuma kau yang melakukan itu! Michin namja!” Fiuh… ternyata cukup membuang tenaga juga, sepertinya mataku hampir keluar

Karena dia hanya terdiam menatapku dalam, aku kembali melangkahkan kakiku untuk pergi menjauh darinya. Aku puas! Yeah, aku puas hahaha. Rasakan itu Min Yoongi. Tapi untuk apa dia ada di sini? Apa dia menguntitku? Huh dasar! Ya, aku tahu dia itu gila.

Baru beberapa langkah aku menjauh dari mobilnya dia kembali menarik tanganku sampai badanku terputar menghadapnya. Aku memutar bola mataku dengan malas seraya menghela nafasku. Mau apa lagi sih dia? Lihat saja, bahkan dia hanya memandangiku dan tetap terdiam saat aku sudah ada di depan matanya. Aku hanya berpura-pura tidak tahu saja sambil memandang ke arah lain.

“Aku tau aku salah dengan menjadikanmu kekasihku tanpa persetujuan darimu.” Aku beralih menatapnya, wajahnya nampak serius

“Tapi perlu kau ketahui kalau aku tidak memaksamu.” Keningku berkerut mendengarnya

“Apa aku pernah memaksamu untuk menjadi yeoja-ku? Apa aku pernah mengatakan ‘Kau harus menjadi yeoja-ku!’ tidak pernah bukan?”

Oh my God… sekarang aku yang terdiam tak bisa menjawabnya. Ya, dia benar. Dia hanya membuat pengakuan secara sepihat itu, tapi tak pernah memaksaku untuk menjadi kekasihnya. Tapi perlakuan seenaknya padaku itu sama saja seperti memaksaku. Ah dia itu benar-benar…

Sedetik kemudian dia tertawa. Apa yang dia tertawakan? Ish dia itu sepertinya memang beanr-benar gila, dugaanku tidak meleset sedikitpun.

“Kau mau kemana?” aku mengernyit mendengar pertanyaannya

“Apa kau mau pergi ke suatu tempat?”

“Hm. Tapi aku tidak punya tujuan.”

“Kalau begitu ikut aku.” Dia menarik tanganku untuk masuk ke mobilnya

*****

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Apa ini? Kenapa dia membawaku ke apartemannya lagi?

“Hey! Jangan norak seperti itu! kau baru kali ini melihat apartemen ya?”

Aku mengalihkan pandangaku padanya, “Kenapa kau membawaku ke sini?”

“Karena kau bilang kau tak punya tujuan, dan aku juga tidak tau mau mengajakmu kemana.” Dia berlalu ke dapur

Aku mengikutinya ke dapur. Sebenarnya dapur ini tak punya ruangan khusus seperti dapur di rumahku. Ini hanya ruangan yang terbentuk karena jarak yang ada antara dinding dan meja pantry, lalu ditaurh kompor, lemari pendingin, westafle, dan lain-lain seperti yang ada dapur. Ya, kebanyakan dapur apartemen memang seperti ini.

“Kau mau minum apa?”

“Terserah saja.”

“Kopi?”

“Aku tidak terlalu suka kopi.”

“Jus? Susu cokelat? Sirup? Soda?”

“Ya! Kau punya semua itu?”

“Ani. Kalau kau menginginkannya aku akan membelinya di minimarket yang ada di lantai bawah.”

“Yak, pabbo. Aku mau teh saja.”

“Teh?”

“Ya, teh yang manis dan hangat.”

“Kau suka teh?”

Aku mengangguk. Tanpa basa-basi lagi dia mengambil cangkir yang ada di laci bagian atas pantry. Aku melangkahkan kakiku keluar dari dapur. Aku duduk menyandarkan punggungku di sofa berwana hitam yang ada di ruang tamu. Aku tidak duduk di sofa, aku hanya menyandarkan punggungku ke sofa. Aku terduduk di hambal putih yang ada di lantai. Lebih nyaman duduk di sini karena aku bisa melipat kakiku. Tidak sopan rasanya kalau duduk di sofa sambil mengangkat kaki. Aku meminkan ponselku sambil menunggunya datang dengan tehku.

“Kenapa kau duduk di bawah?”

Aku mendonga ketika dia sudah ada di dekatku sambil membawa dua cangkir minuman di tangannya. Dia ikut duduk di sampingku lalu memberikan secangkir teh padaku. Aku menerimanya dengan sebelah tangan karena tanganku yang satu lagi sedang memegang ponsel. Yoongi meminum tehnya, aku juga meminum teh ku sambil masih terfokus pada ponselku. Uh hangat, aku bisa merasakan kehangatan yang menjalar di dalam mulutku karena teh ini. Sebenarnya aku sedang membalas kakao dari Minah. Semenjak Namjoon mendekatinya Minah jadi sering mengirim kakao padaku hanya untuk bercerita tentang Namjoon, apa dia juga mulai menyukai laki-laki itu?

Dari ekor mataku sepertinya Yoongi sedang memperhatikanku. Mungkin dia bosan karena tidak ada percakapan diantara kami dan aku malah asyik sendiri dengan ponselku.

“Wooren…” aku menoleh setelah dia memanggilku

“Bibirmu memerah.”

Mataku membulat ketika dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Apa yang mau dia lakukan? Bahkan matanya terus tertuju pada bibirku. Apa dia… apa dia ingin menciumku? Oh Sh*t! Dia mengalihakn pandangannya ke mataku karena aku memundurkan tubuhku, tapi dia tetap mendekatkan wajahnya. Iiih! Apa sih yang dia lakukan? Apa dia benar-benar ingin menciumku? Aku akan membuat wajahnya tak berbentuk setelah ini jika dia benar-benar melakukannya. Pandangannya kembali tertuju pada bibirku, dia terus mendekatkan wajahnya. Bahkan bibir kami sudah berdekatan. Bibir kami hampir bersentuhan dan tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang menggerayangi pahaku.

“AAAAAA!”

-TBC-

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

2 thoughts on “FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s