FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 9


11902518_869875126416742_4665585678208730251_n

Tittle :
BTS 7 Soul

Author :
Lingkyu88

Lenght :
Chapter

Genre :
Romance, Friendship, Fluff, Smut

Rate :
Mature, NC -17

Main Cast :
Boys :
Park Jimin ▶ 18 y.o, Taehyung classmate, Smart, Rich
Kim Taehyung ▶ 18 y.o, Jimin classmate, Rich, Cassanova
Jeon Jungkook ▶ 16 y.o, Jimin & Taehyung junior, Rich, Bi
Kim Seokjin ▶ 21 y.o, Manager in a Smartphone center, Rich, Handsome
Min Yoongi ▶ 20 y.o, Musician, Cool, Rich, Lazy ass
Jung Hoseok ▶ 19 y.o, College student, Rich, Moodmaker
Kim Namjoon ▶ 19 y.o, Leader of the group, Cafe owner, Rich, Sexy mind
Girls :
Kim Eunjin  ▶ 16 y.o, Kim Taehyung lil sister, Jungkook classmate, childish
Kwon Minyoung ▶ 18 y.o, Jimin & Taehyung classmate, nerdy, bullying victim
Lee Namjung ▶ 23 y.o, a nurse, mature
Han Ara ▶ 18 y.o, Jimin & Taehyung classmate, innocent
Shin Sang Eun ▶ 19 y.o, pool dancer, adopted by Paraiso’s owner
Choi Hyena ▶ 20 y.o, college student, Yoongi’s maid
Oh Yeonkyung ▶ 22 y.o, single parent, tomboyish, Namjoon’s cafe employer

Cover by :
Cover Story Fanfiction Korea

Disclaimer :
BTS members are not mine but this fanfic is pure my imagination. I give this fanfic mature rating cuz there will be parts that contains with sex, harrasment, bloods, and drugs. Please don’t be silent readers and plagiator. So ignore typos, enjoy the story!
Thanks~~ ♥♥♥

[CHAPTER 9 : THE TRUTH]

-Author POV-

Sepulang sekolah, Minyoung tidak langsung pulang. Dia sudah berencana untuk datang ke apartemen Ara. Dia begitu penasaran mengapa hari ini teman sekelasnya itu tidak masuk sekolah. Dan satu yang membuatnya penuh tanda tanya adalah tadi Taehyung memberikan sebuah senyuman padanya.

Minyoung menunggu bus di halte bersama dengan murid yang lain. Tiba-tiba sebuah mobil sport hitam tanpa kap berhenti tepat di depannya. Minyoung pura-pura tidak peduli karena dia tahu pria pengendara mobil itu pasti akan mem-bully-nya.

“Mau pulang bersamaku?” Tanya pengendara mobil itu pada Minyoung.

Minyoung memandang pria itu penuh selidik. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan pria itu memang sedang berbicara padanya.

“Aku berbicara padamu… Minyoung,” kata pria itu seolah-olah tahu apa yang ada di pikiran Minyoung.

Alih-alih menjawab, Minyoung malah menunduk ketakutan. Dia takut pria itu akan menyakitinya seperti biasa.

“Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin mengantarmu pulang,” ujar pria itu lagi.

Minyoung memandang pria di depannya itu. Pria itu tersenyum padanya. “Kau… sehat kan?”

Pria itu tertawa. “Tentu saja. Ayolah, ikut denganku,” kata pria itu lagi.

Kali ini Minyoung menurut. Dia berjalan mengikuti pria itu dan duduk di jok depan mobilnya. Pria itu pun segera menjalankan mobilnya.

“Aku mau ke rumah Ara dulu, Taehyung,” kata Minyoung pada pria itu. “Jadi tolong antarkan aku ke apartemennya.”

“Untuk apa?” Tanya Taehyung.

“Tentu saja menengoknya. Hari ini dia membolos, apa kau tahu ada apa dengannya?”

Taehyung menggedikkan bahunya.

“Tapi kau pacarnya. Harusnya kau tahu apa yang terjadi padanya,” ujar Minyoung agak kesal.

“Kau sudah mengiriminya pesan?”

Minyoung mengangguk. “Tapi dia tidak membalasnya. Dan aku juga sudah mencoba menelponnya tapi dia tidak menjawab telponku.”

“Aku tadi pagi menelponnya.”

“Lalu?”

“Yang menjawab telponku adalah seorang pria. Dan dia mengaku kalau dia adalah pacar Ara. Dia juga bilang kalau mereka bercinta semalaman. No wonder kalau hari ini dia tidak masuk, bukan?”

Minyoung terkejut. “Apa?! Jangan bohong! Ara bukan tipe gadis playgirl. Satu tahun lebih dia hanya menyukaimu dan mengabaikan banyak pria yang menyukainya. Aku tahu betul Ara. Dia bukan tipe gadis yang mudah selingkuh.”

“Tapi kenyataan sudah di depan mata, Minyoung,” bantah Taehyung.

“Tidak. Aku tetap tidak percaya. Aku jadi curiga jangan-jangan kau baik padaku hanya untuk membalasnya, bukan?”

“Terserah apa yang kau pikirkan. Tapi biarkan saja kenyataan yang bicara, Minyoung.”

Minyoung diam saja tidak menjawab. Walaupun begitu banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya.

Mobil Taehyung berhenti di depan apartemen Ara. Minyoung mengajaknya ikut menjenguk Ara tapi Taehyung tidak mau. Pria itu tampaknya masih sakit hati. Minyoung turun dari mobil Taehyung dan berjalan menuju kamar Ara. Minyoung mengetuk pintu kamar Ara.

Setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Ara, sesosok gadis berpenampilan kusam terlihat dari sebalik pintu.

“Ara, kau tidak apa-apa?” Tanya Minyoung panik melihat kondisi Ara yang tampak acak-acakan.

Ara berjalan ke dalam kemudian kembali berbaring di kasur lantainya. Minyoung semakin bingung melihat kondisi sahabatnya itu. Dia duduk di samping Ara sambil menatap punggung teman dekatnya yang memunggunginya tersebut.

“Ara, apa kau sakit?” Tanya Minyoung lirih.

Ara tidak menjawab.

“Jangan membuatku panik, Ara!” Seru Minyoung.

“Katakan kalau ini semua adalah mimpi, Minyoung,” ujar Ara lirih.

“Ara ada apa sebenarnya? Aku tidak mengerti. Tolong kau jelaskan pelan-pelan!”

“Hidupku sudah berakhir, Minyoung. Taehyung mengakhiri hubungan kami.” Air mata Ara menetes tepat seusai dia mengatakan kata-kata itu.

“Jadi, apa yang diceritakan Taehyung tadi itu benar?” Tanya Minyoung.

Ara membalik badannya kemudian duduk menghadap Ara. “Jadi dia sudah bercerita pada teman-temannya?”

Ara menggedikkan bahunya. “Dia bercerita padaku secara langsung. Aku juga tidak tahu harus memulai cerita dari mana tapi hari ini dia sangat baik padaku bahkan dia memberikanku tumpangan ke sini.”

Kedua bola mata Ara terbelalak. “Benarkah?”

Minyoung mengangguk. “Aku juga tidak tahu apa tujuan dia baik padaku sebenarnya. Aku curiga dia ingin membalas dendam padamu dengan memanfaatkanku?” Minyoung menghela nafasnya. “Kau tahu bukan, mereka itu sangat licik,” lanjutnya.

“Apa yang dia ceritakan padamu?” Tanya Ara.

“Dia bilang… semalam kau tidur dengan pria lain. Tapi tenang Ara, aku yakin itu tidak terjadi, bukan? Aku tahu dia pasti berbohong dan membuat-buat cerita untuk memutuskanmu. Cih, playboy macam dia itu-“

“Dia berkata benar, Minyoung,” Ara memutus kata-kata Minyoung. Wajahnya tertunduk. Air matanya kembali menetes perlahan.

Sementara Minyoung tampak benar-benar shock mendengar pengakuan Ara. “Maksudmu? Ara jangan berusaha melindungi pria-pria bodoh macam mereka!”

“Aku yang bodoh, Minyoung!” Seru Ara. Tangisnya semakin keras. “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, Minyoung. Semua ini membingungkan,” kata Ara di sela-sela tangisnya.

Minyoung memeluk Ara. Diusapnya dengan lembut rambut panjang gadis itu. “Ara, tenangkan dirimu, ya. Setelah itu kau bisa bercerita apa yang sebenarnya terjadi padaku. Mungkin aku tidak bisa memberi solusi tapi setidaknya dengan berbagi beban padaku, beban itu akan menjadi sedikit ringan.”

Ara melepaskan pelukan Minyoung kemudian mengusap air matanya. Ara mengambil sebuah ponsel di dalam tasnya.

“Ponsel ini milik pria yang tidur denganku semalam. Sepertinya tadi pagi aku salah mengambil ponselku karena ponsel kami sama dan letaknya berdekatan. Tampaknya pria itu menghubungi Taehyung menggunakan ponselku dan memberitahu Taehyung yang kami lakukan semalam,” terang Ara.

“Bagaimana bisa kau tidur dengan pria lain? Dan siapakah pria itu?”

“Random guy. Semalam aku mencari Taehyung ke klab tempat dia biasa nongkrong, tapi dia tidak ada. Setelah itu aku mabuk dan bertemu dengan pria itu. Lalu kami… seperti yang dia bilang, aku tidur dengannya. Tapi aku dalam keadaan setengah sadar saat itu. Aku tidak berniat mengkhianati Taehyung,” kata Ara.

“Apa sebelumnya kau memang sudah mempunyai problem dengan Taehyung? Semalam kau mengirimiku pesan untuk menemanimu shopping. Apa kau sedang ingin lari dari masalahmu saat itu?”

Ara mengangguk. “Sebenarnya aku tidak tahu apa salahku karena dia mendiamkanku. Aku mengiriminya pesan meminta maaf tapi dia tidak membalasnya. Dia juga tidak menjawab telponku. Aku hampir putus asa semalam. Tapi ternyata pada akhirnya kami benar-benar harus berpisah. Bukan karena dia tapi karena kebodohanku sendiri.”

“Aku menyesal semalam aku tidak menuruti permintaanmu. Mungkin kalau aku menuruti permintaanmu hal seperti ini tidak akan pernah terjadi,” kata Minyoung penuh sesal.

“Bukan salahmu, Minyoung.”

“Tsk! Lagipula untuk apa kau mempertahankan Taehyung? Aku tidak yakin dia tidak selingkuh di belakangmu.”

“Aku tahu dia sering tidur dengan pelacur di klab. Dan aku masih bisa menerima itu. Aku memiliki keyakinan bisa merubahnya menjadi lebih baik.”

“Meski sekarang hubungan kalian sudah berakhir?”

Ara diam saja. Minyoung benar, dia terlalu percaya diri. Padahal dia sadar kalau dia tidak sebanding dengan mereka. Tiba-tiba ponsel June berbunyi. Walaupun tidak tersimpan Ara bisa mengenali kalau nomor yang menghubungi adalah nomornya. Ara menekan tombol bergambar ponsel berwarna hijau.

“Hai, Sayang,” kata suara di seberang sana.

“Berhenti memanggilku seperti itu. Itu terdengar menjijikkan,” jawab Ara.

“Eww. Aku memanggilmu ‘Sayang’ dan kau bilang itu menjijikkan? Lalu bagaimana panggilan yang menurutmu enak didengar? Slut? Bitch? Whore?” Kata June sambil tertawa terbahak-bahak.

“Fuck you!” Umpat Ara kesal.

“Fuck you harder, Ara,” jawab June.

“Kembalikan ponselku,” kata Ara.

“Temui aku malam ini di Paraiso,” jawab June.

“Tidak! Jangan harap aku mau menemuimu di tempat itu lagi.”

“Umm… kalau begitu datanglah ke rumahku.”

“Tidak! Temui aku di mall malam nanti.”

“Dimana rumahmu?”

“Untuk apa?”

“Aku ingin menjemputmu. Atau ponselmu tidak akan kukembalikan.”

Ara melirik Minyoung. “Nanti kukirim melalui pesan,” jawab Ara.

Tiba-tiba saja sambungan telponnya dimatikan. Ara mendesah. Sebenarnya apa mau pria itu?

“Ada apa?” Tanya Minyoung.

“Pria itu akan kesini nanti,” jawab Ara.

“Untuk apa?”

Ara menggedikkan bahunya. “Aku juga tidak tahu. Aku tidak mengerti apa yang dia inginkan.”

“Jangan-jangan dia ingin menjebakmu lagi. Kalau begitu biarkan aku ikut menunggui jika kalian bertemu nanti,” usul Minyoung.

Ara mengangguk setuju.

—000—

Eunjin menyajikan hasil masakannya di meja makan. Sejak berpacaran dengan Seokjin, Eunjin jadi rajin belajar memasak. Walaupun hasil awalnya sangat hancur, tapi lama-lama Eunjin terbiasa dan mampu membuat masakan yang rasanya lumayan.

“Oppa, cicipi bento buatanku ini. Aku membuatkannya khusus untuk Oppa,” kata Eunjin sambil mengambil beberapa bento dan meletakkannya di piring Taehyung.

Taehyung mencicipi hasil masakan Eunjin tersebut. Kepalanya terangguk-angguk karena menurutnya hasil masakan Eunjin sudah mengalami perkembangan pesat.

“Enak. Adikku sudah pandai memasak sekarang. Sudah siap menjadi ibu rumah tangga kah?” Goda Taehyung.

Eunjin meninju lengan Taehyung manja. “Tentu saja aku belum siap, Oppa. Tapi aku ingin membuat Oppa dan Seokjin Oppa bangga padaku.”

“Kenapa ada Seokjin Oppa? Kalian berpacaran?” Goda Taehyung lagi.

Eunjin terdiam. Dia takut untuk memberitahu Taehyung tentang hal ini.

“Eunjin, jangan pernah bohongi Oppa lagi,” kata Taehyung.

Eunjin merangkul lengan Taehyung dengan manja. “Oppa, jangan marah padaku. Juga jangan marah pada Seokjin Oppa. Aku yang memaksa dia untuk tidak memberitahu Oppa tentang hubungan kami,” jawab Eunjin lirih.

Awalnya Taehyung tampak terkejut. Karena sebenarnya dia hanya berniat mencandai Eunjin. Tapi ternyata jawaban yang dilontarkan Eunjin benar-benar di luar dugaannya. Taehyung mengusap-usap kepala adik satu-satunya itu pelan.

“Eunjin, Oppa sudah berkali-kali memberitahumu. Oppa tidak akan melarang kau berhubungan dengan siapa pun. Yang Oppa tidak mau adalah kau berbohong pada Oppa. Jujur saja Oppa terkejut tahu kau diam-diam berpacaran dengan Seokjin Hyung. Tapi, kau sudah jujur pada Oppa jadi mau tidak mau Oppa harus menerimanya,” kata Taehyung mencoba menenangkan Eunjin.

“Terimakasih, Oppa.” Eunjin memeluk Taehyung dengan erat.

Taehyung melepaskan pelukan Eunjin dan mereka kembali memakan bento buatan Eunjin. “Hmm… selain ponsel dan ilmu memasak, apa lagi yang telah diberikan oleh Seokjin Hyung padamu? Seks?”

Eunjin yang tengah mengunyah bentonya menjadi tersedak mendengar ucapan kakaknya barusan. Dia segera meraih segelas air putih di depannya.

“Tsk! Jadi itu juga benar?”

Eunjin diam saja. Menurutnya ucapan Taehyung kali ini adalah hal paling sensitif dan tidak seharusnya dibahas sekarang.

“Eunjin… Oppa tidak juga tidak melarangmu melakukan hubungan seks dengan Seokjin Hyung. Kau sudah besar, Eunjin. Dan Oppa yakin teman-teman sebayamu juga banyak yang sudah pernah melakukan hubungan seks. Tapi ingat pesan Oppa kali ini Eunjin. Suruh Seokjin Hyung menggunakan pengaman. Oppa tidak mau kau hamil di usia sekolah dan memalukan nama Oppa!”

Eunjin mengangguk pelan.

“Apa Seokjin Hyung memaksamu untuk melakukan hubungan seks?”

Eunjin menggeleng. “Aku yang menggodanya lebih dulu, Oppa,” jawab Eunjin sambil menunduk ketakutan.

“Kau ini tampak polos dan manja tapi diam-diam berotak mesum,” gerutu Taehyung.

“Oppa!” Seru Eunjin kesal.

-Author POV End-

—000—

-Han Ara POV-

Pukul enam petang. Aku menunggu June datang untuk mengembalikan ponselku. Aku tidak tahu lagi apa yang ada di otak pria itu. Minyoung yang kesal pada pria itu juga ikut menunggu di apartemenku.

Seseorang mengetuk pintu apartemenku beberapa kali. Aku membukanya dan di hadapanku muncul lah seorang pria tampan berambut blonde dan berbadan atletis yang tampak gagah dengan balutan kemeja hitam ketat berlengan panjang dilipat sesiku serta celana jeans belel biru.

“Hai, Han Ara,” sapanya.

“Kau mau masuk? Tapi rumahku berantakan,” kataku.

“Tidak. Aku ke sini hanya untuk menjemputmu,” jawabnya.

Tiba-tiba Minyoung mendatangi kami dan bersiap melontarkan kata-kata. “Jadi kau pria yang… June?” Katanya seusai melihat pria di depan kami.

“Minyoung, kau mengenalnya?” Tanyaku shock.

June ingin berkata sesuatu tapi Minyoung menutup mulut June. “Dia… dia… anak majikan tempatku bekerja,” jawab Minyoung kemudian menarik June pergi dari hadapanku.

Aku memandangi kepergian mereka. Minyoung membawa June ke taman kecil di depan apartemenku. Mereka tampak terlibat obrolan serius. Minyoung juga terlihat emosi dan menunjuk-nunjuk June. Apa Minyoung tengah memarahinya? Sayangnya aku tidak bisa mendengar obrolan mereka.

Minyoung kembali ke tempatku tanpa June. Pria itu menunggu di bawah pohon di depan apartemenku.

“Minyoung, bisa kau jelaskan semua ini?” Tanyaku saat Minyoung mencapai depan kamarku.

“Dia bilang dia hanya ingin mengenalmu lebih dalam. Karena itu dia ingin mengajakmu pergi. Tapi tenang saja, aku sudah mengancamnya agar tidak macam-macam lagi padamu. Atau kalau dia masih macam-macam padamu, kau beritahu saja aku. Nanti aku adukan pada ibunya,” jawab Minyoung.

Aku tersenyum kemudian memeluk sahabatku itu. “Minyoung, terimakasih banyak.”

Minyoung mengusap-usap punggungku.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu Minyoung. Kau masih di sini bukan?” Kataku sembari melepaskan pelukanku.

Gadis berkacamata di depanku itu mengangguk-angguk. “Hati-hati! Kalau ada apa-apa segera hubungi aku,” pesannya.

Aku mengangguk kemudian berjalan meninggalkannya menghampiri June yang masih setia menungguku. Dia mengajakku menaiki motor sport merahnya. June mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Aku begitu ketakutan karena rasanya seperti terbang.

Motor June berhenti di sebuah mall besar di pusat kota. Kami turun dan berjalan memasuki mall tersebut.

“Kita mau kemana?” Tanyaku.

“Ikuti saja,” jawab June.

June menarik tanganku menuju sebuah butik mahal. Dia memilih-milih kemeja pria. Sementara aku hanya diam mengikutinya. Aku pura-pura melihat-lihat beberapa kemeja pria juga. Tapi saat melihat banderol harganya, aku kembali meletakkan kemeja itu.

“Kau… tidak mau membeli sesuatu?” Tanyanya padaku.

Aku menggeleng. “Baju-baju di sini mahal-mahal. Satu baju saja harganya sama dengan biaya hidupku satu bulan,” jawabku.

Pria itu hanya menunjukkan smirk-nya kemudian kembali memilih-milih baju.

“June!” Tiba-tiba seorang gadis berpakaian seksi mendekati kami.

June menyambut gadis itu dengan senyum lebar. Mereka juga saling berpelukan.

“Belanja baju?” Tanya gadis itu pada June.

June mengangguk. “Yuri Noona, bisakah kau membantuku?”

“Tentu. Apa yang harus kubantu?”

“Pilihkan baju model terbaru yang sesuai dengan karakter gadis ini,” June berkata pada Yuri sambil menarik tanganku.

Aku terbelalak. Apa maksudnya dia berkata seperti itu? Aku memandang June penuh tanda tanya di kepala tapi dia malah tersenyum.

“June, siapa dia?” Tanya Yuri.

“Pacar baruku,” jawabnya asal. Membuatku semakin bingung. Apa yang tengah dia rencanakan?

Gadis itu juga tampak terkejut. “June, kau tidak bercanda bukan? Bagaimana dengan Jisoo?”

“Jangan bahas dia. Aku sudah muak dengannya,” jawab June. “Sudah, segera carikan dia baju terbaikmu!”

Yuri tersenyum kepadaku kemudian menyuruhku mengikutinya. Walaupun masih tidak paham dengan situasi sekarang aku menurut saja. Yuri membawaku ke bagian pakaian wanita. Yuri mengambilkan beberapa baju dan menyuruhku mencobanya. Aku mencoba hampir sepuluh model pakaian hanya untuk mencari yang cocok untukku menurutnya. Akhirnya pada pilihan terakhir dia menyetujuinya.

Aku memandang diriku di cermin. Tube mini dress selutut dengan bahan campuran kain batik cokelat tua dan sutera biru itu sangat indah membalut tubuhku.

“Kau cantik sekali dengan pakaian ini. Terlihat berkelas. Tidak seperti pakaianmu tadi yang lebih terlihat seperti… pelacur murahan,” komen Yuri.

Aku sedikit kesal mendengar kata-katanya barusan. Sungguh tidak sopan untuk ukuran orang yang baru dikenal.

Yuri tersenyum. “Hei, jangan marah! Aku berkata seperti itu untuk kebaikanmu. Aku jujur, pakaian yang kau kenakan tadi memang bukan gaya orang berkelas. Itu lebih macam gaya orang-orang kelas menengah yang berusaha bergaya seperti orang elit tapi gagal. Dan kalau kau ingin mengimbangi June, cobalah browsing tentang model-model pakaian masa kini.”

Tiba-tiba nyaliku menciut. Siapakah June sesungguhnya? Bahkan model pakaian yang disukai orang berada macam Taehyung pun masih mereka bilang tidak berkelas. Padahal aku sudah menguras sebagian tabunganku untuk mengumpulkan pakaian-pakaian itu.

“Terimakasih, Yuri,” ujarku lirih.

Yuri mengantarkanku kembali pada June dengan pakaian pilihannya.

“Tada!” Serunya pada June.

Aku memandangi June yang tampak surprise dengan pakaian baruku.

“Cantik sekali,” puji June membuatku tersipu malu.

“Ini model desain pakaian terbaruku. Aku memesan kain batiknya langsung dari Indonesia. Batik saat ini sedang hits di runaway. Karena itu aku mencoba membuat desain menggunakan batik,” papar Yuri.

“Kau memang yang terbaik, Noona!” June menunjukkan kedua jempol tangannya pada Yuri.

“Oh ya, aku sarankan kau suruh dia mengubah warna rambutnya. Akar rambutnya sudah tumbuh dan itu terlihat buruk sekali. Oh ya, juga make-up yang dia kenakan sangat tidak cocok dengan kepribadiannya,” saran Yuri.

Mengubah warna rambut? Mengubah gaya make-up? Hei! Kau tidak tahu aku sudah menghabiskan banyak uang untuk gaya seperti ini demi Taehyung?! Tapi, bukankah hubunganku dan Taehyung sudah berakhir?!

“Siap, Noona!” Jawab June dengan gestur memberi hormat. “Kalau begitu aku pergi dulu. Terimakasih banyak, Noona,” lanjutnya sambil menarikku menuju kasir.

Aku melihat June menyerahkan black card-nya pada penjaga kasir. Mataku terbelalak saat melihat harga baju yang kupakai di monitor. Satu juta won hanya untuk satu baju?! Geez! Apa pekerjaannya sampai dia mampu membelikanku baju semahal ini?

“June, baju ini terlalu mahal,” ujarku lirih.

June tersenyum. “Tidak untukku.”

Setelah menerima kembali black card-nya, June mengajakku mendatangi sebuah salon rambut dan kecantikan. Dia menemui seorang karyawan wanita di salon tersebut.

“Hai, Kei! Bisakah kau bantu aku merubah penampilan gadis ini?” Tanya June pada seorang karyawan salon yang sangat cute.

“Tentu saja, Tuan Muda June. Model apa yang anda inginkan, Nona cantik?” Tanyanya padaku.

Aku menatap June sebal. Sejujurnya aku tidak ingin merubah gaya rambut dan make-upku.

“Rubah warna rambutnya sesuai dengan tren masa kini. Juga make-up nya rubahlah agar tampak anggun dan dewasa tapi tidak norak,” sela June.

“Baik, Tuan Muda,” jawab karyawan bernama Kei itu. Dia menggamit tanganku kemudian mendudukkanku di kursi rias.

“Bisakah kau mewarnai kembali warna akar rambutku menjadi blonde? Aku takut seseorang akan membenciku kalau aku merubah gaya rambutku,” pintaku pada Kei.

“Rambut blonde itu sangat tidak cocok dengan wajah tirusmu. Kau terlihat jauh lebih tua dari usia aslimu,” jawabnya sambil memakaikan kain pelindung di badanku.

“Tapi-“

“Sssttt… percayalah padaku, Nona cantik,” ujarnya sambil menyiapkan alat-alat yang diperlukan.

Kresss!!

Aku memejamkan kedua mataku saat mendengar gunting dan rambutku saling beradu. Gaya macam apa yang akan dibuat olehnya aku tak ingin tahu detik demi detik prosesnya.

Setelah memakan waktu hampir satu jam, proses make over rambutku selesai. Aku masih tidak mau membuka kedua mataku. Tapi aku bisa merasakan kalau rambutku sangat pendek sekarang.

“Nona cantik, sekarang sudah selesai. Kau bisa membuka kedua matamu sekarang,” kata Kei sambil merapikan rambutku.

Aku membuka kedua mataku perlahan. Dan hasilnya benar-benar mengejutkan. Tidak ada lagi Ara yang berambut blonde. Kei mengubahnya menjadi light brown dan memotongnya bentuk bob pendek. Antara senang dan sedih melihatnya. Senang karena aku terlihat lebih fresh sekaligus sedih karena bagaimana pun aku masih menyukai Taehyung. Dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya melihat penampilanku sekarang. Tapi bukankah dia sudah memutuskanku? Aku rasa dia tidak akan peduli lagi denganku.

“Nona lebih terlihat cantik dan segar dengan model rambut yang sekarang. Aku hanya perlu merubah sedikit gaya make up Nona,” ujarnya lagi.

“Tapi-“

“Aku janji tidak akan membuat perubahan terlalu jauh. Hanya sedikit menipiskan make up Nona agar tidak terlihat terlalu dewasa,” katanya sambil membersihkan wajahku dengan lotion pembersih wajah.

Aku melirik June yang masih saja asyik membaca majalah di ruang tunggu.

Entah apa-apa saja yang dipoleskan di wajahku, tapi setelah proses make up selesai dan aku memandang cermin, memang lebih baik daripada make up yang kubuat biasanya. Kei menebalkan alisku dan menipiskan maskara, eyeliner, dan eyeshadow coklat di mataku.

“Nona masih bisa memakai lipstik merah tanpa terlihat seperti seorang bibi-bibi. Nona harus bisa memfokuskan pada bagian mana yang akan Nona buat on point. Kalau semua Nona buat tebal, yang ada Nona terlihat lebih tua. Apalagi wajah Nona tirus,” paparnya.

Aku mengangguk-angguk setuju. Aku kembali memandang cermin. Kini aku bukanlah Ara yang lama, yang terlihat kusam. Tapi aku juga bukan Ara yang bergaya seperti… pelacur murahan. Kini wajah yang kupandang adalah Ara yang baru, yang fresh dan sesuai umurnya.

“Terimakasih, Kei,” kataku sambil berdiri.

“Sama-sama Nona. Sering-sering datang kesini,” jawabnya.

Aku mengangguk kemudian mendekati June. Dia tampak tercengang dengan penampilan baruku.

“Wow! Aku lebih suka kau yang sekarang,” katanya dengan senyum lebar.

“Terimakasih, June.”

June segera membuka dompetnya dan menyerahkan black card-nya pada Kei. Kei membawanya menuju kasir. Setelah transaksi selesai dia mengembalikan black card tersebut pada June dan menyerahkan paperbag berisi shampoo, conditioner, hair vitamin, dan hair mask padaku.

Kami segera meninggalkan salon tersebut. Kami berjalan berdampingan mengelilingi mall.

“June, aku tidak paham dengan semua ini,” kataku pelan.

June tertawa kecil. “Hanya ingin menyenangkanmu saja. Anggap saja sebagai permintaan maafku atas kejadian semalam.”

“June… tadi siang pacarku memutuskan hubungan kami melalui telpon. Aku tahu kau menceritakan kejadian semalam padanya. Kau juga memberitahu nomormu padanya sehingga dia langsung menelponku dan mengakhiri hubungan kami. Aku tidak tahu apa tujuanmu sampai kau tega mengatakan semuanya padanya,” kataku dengan menahan air mataku agar tidak jatuh.

“Aku sangat mengenal pacarmu itu, Ara. Kim Taehyung. Dia tidur dengan pelacur di Paraiso di belakangmu.”

“Aku tahu itu, June!”

“Lalu kenapa kau masih bertahan dengannya? Dia bahkan terang-terangan selingkuh di depanmu.”

“Lalu apa bedanya dia denganku yang sudah tidur denganmu, June? Aku juga mengkhianatinya,” seruku emosi.

June menoleh ke sekitar. Beberapa orang tampak memperhatikan mereka. “Ara! Ara! Sebaiknya kita bahas di tempat lain. Ayo!” June menarik tanganku keluar dari mall.

June mengajakku menaiki motornya. Kembali motornya melesat ke kawasan perumahan elit. Sampai di sebuah rumah mewah di ujung jalan, June berbelok masuk ke halaman rumah tersebut dan memarkirkan motornya di depan rumah tersebut.

Aku ternganga melihat rumah mewah tersebut. Baru kali ini aku mendatangi rumah semegah ini.

June menarik tanganku masuk ke dalam rumah tersebut. Beberapa pembantu menyapa kami. Dia membawaku ke kamarnya.

Aku tercengang. Kamarnya begitu lebar. Bahkan lebih lebar dari apartemenku. June menyuruhku duduk di sofa mewah berwarna merah. Aku hanya menurut. Dia juga mengeluarkan sebotol besar soju dari bufet dan dua gelas kecil.

“Minumlah,” ujarnya sambil menyerahkan segelas soju kemudian duduk di sampingku.

Aku menerimanya kemudian meminumnya sekali tenggak.

“Sudah berapa lama kau berhubungan dengan Taehyung?” Tanyanya.

“Belum lama. Hampir dua bulan,” jawabku sambil menyandarkan badanku di sandaran sofa.

“Kau tahu dia tidur dengan pelacur lain tapi kau tidak marah?”

Aku menggeleng. Bagaimana bisa aku marah? Aku terlalu mencintainya.

“Gadis bodoh!” Umpatnya. “Ara, aku mengenal Taehyung sudah lama. Aku tahu dia seperti apa. Kau harus tahu kalau Taehyung mencintai seorang pelacur di Paraiso. Semenjak kenal dengan pelacur itu, Taehyung tidak pernah tidur dengan pelacur lain. Jadi aku rasa kau sia-sia mencintainya,” katanya lagi.

“Siapakah dia? Dan apa yang dia miliki sampai Taehyung bisa mencintainya? Bukankah wanita itu hanya pelacur? Wanita murahan,” kataku geram.

“Tsk! Pelacur yang dia cintai itu memiliki tarif lima puluh juta won per malam. Sedangkan kau… berapa Taehyung membayarmu setiap kalian melakukan hubungan seks?”

Aku kesal mendengar kata-katanya yang tampak merendahkanku.

“Ara, aku tidak bermaksud jahat padamu. Aku hanya ingin membuka matamu, agar kau bisa melihat kenyataan. Apa yang sudah dia berikan sampai kau benar-benar tergila-gila padanya? Rumah? Mobil? Baju mewah? Perhiasan? Tsk! Bahkan sekedar cinta pun dia tidak bisa memberikan padamu.”

Aku terdiam. Apa yang dikatakannya semuanya benar. Taehyung tidak pernah memberikan apa-apa untukku. Selalu aku yang berkorban untuknya. Tiba-tiba hatiku sakit. Air mata yang sedari kutahan akhirnya luruh juga.

June meraih kepalaku dan menyandarkannya di dadanya. Air mataku tumpah membasahi kemejanya. Dia mengusap-usap rambutku seolah-olah menenangkanku.

“Setahun lebih aku menyukainya. Aku pikir dengan merubah penampilanku seperti keinginannya mampu membuat dia berubah,” kataku di sela-sela isak tangisku.

“Kau tahu, saat aku melihatmu semalam aku melihatmu begitu menarik dan aku menganggapmu biasa saja. Tapi setelah aku tahu kau pacar Taehyung, aku baru tahu kalau dia membuatmu mirip dengan pelacur yang dia cintai itu.”

Aku menjauhkan tubuhku dari tubuhnya. “Maksudmu?”

“Pelacur itu memiliki style rambut blonde, smookey eyes, dan red lips. Sama sepertimu sebelum kita ke salon tadi. Hanya saja dia memiliki bola mata hijau dan berkulit tan.”

“Tampaknya kau begitu mengenalnya. Apa dia sering ke Paraiso?”

“Dia selalu stand by di kamar khusus untuknya. Dan tidak semua orang bisa memakai jasanya tanpa seizin dia dan juga pemilik klab itu.”

“Kau pernah tidur dengannya?”

“Kadang-kadang. Dan servisnya di ranjang sungguh… wow!”

Tunggu! Aku seperti pernah mendengar kata-kata seperti itu saat berkumpul dengan teman-teman Taehyung.

“Apakah pelacur itu bernama… Rose?” Tanyaku.

“Yups! Taehyung pernah memberitahumu?”

Aku mengangguk. “Oh ya, semalam… kita benar melakukan hubungan seks, bukan?”

June mengangguk.

“Menurutmu… apakah aku bisa memuaskanmu?” Tanyaku malu-malu.

June tertawa mendengar pertanyaanku barusan. “Kau ingin membandingkan dirimu dengan Rose?”

Aku diam saja. Aku rasa pipiku sudah semerah tomat sekarang.

“Poin lebih Rose dibanding dirimu adalah dia lebih sering menjadi pihak aktif. Dia juga bisa sangat lama menggoyangkan pinggulnya dalam posisi women on top. Sedangkan kau lebih sering menjadi pihak pasif yang hanya ingin dipuaskan pria,” jawabnya blak-blakan.

“Begitukah? Itu sebabnya Taehyung selalu memuja-muja permainan ranjang pelacur itu?”

“Tapi ada satu poin yang menurutku kau lebih baik melakukannya dibanding Rose.”

“Apa itu?”

“Blow job!”

Aku memukul lengannya. “Sial!”

—TBC—

A/N :
Dear guys, author cuma mu ucapin makasih buat yang udah rajin baca & selalu nungguin ff author. Btw kalo pen kenal ama author, bisa kepo2 di akun twitter author @kimimoy95. Ato pen baca ff author yg lain?? Bisa baca di akun wattpad author @lingkyu88.😉

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

11 thoughts on “FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 9

  1. Ya ampun jadi taehyung suka sama rose? Sama kaya jimin suka sama rose?!
    Ara kasian banget sih, june baik ngga ya? Kalo baik mending sama ara aja deh wkwk

  2. Kyaaaa!!~ ini tanda tanya besar(?) sebenarnya, June itu siapaaa???

    Btw, Taehyung suka sama Rose? terus gimana nasib Jimin??? :v

    Taehyung tiba-tiba aja baik sama Minyoung, ini memperkuat bukti(?) kalo Rose itu adalah Minyoung? :v *sok tau*

    Part ini bener-bener bikin penasaran, next thor jangan lama-lama yaaa😉

    FIGHTING!!!~😀

  3. Aduuuhh Juunnee~~~ So cool~ *-*)/\
    Tp ya gak usah nyablak gitu atuh June~
    Jadi penasaran ama siapa sebenernya June, sampe sekaya itu~ Aiguuuu~~~
    Hayoloh Tae, gimana itu~ Ara direbut ama June~😄
    Fighting buat chapter selanjutnya ya, author-nim~ ^^

  4. hai. erha disini….
    aku baca ff ini seru banget, sampai terkadang nyesss sendiri. seru, seru, seru banget…
    sori banget bukan mau jadi silent readers, tetapi baru ini sempet comment. ceritanya bagus hadeuhhh >,<
    sori ya sekali lagi ^ ^
    oh iya boleh jujur ga, aku gak punya wattpad jadi post fanfiction ini di blog ini aja. pasti! aku akan selalu comment.

    #semangat Lingkyu88

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s