FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 8


11902518_869875126416742_4665585678208730251_n

Tittle :
BTS 7 Soul

Author :
Lingkyu88

Lenght :
Chapter

Genre :
Romance, Friendship, Fluff, Smut

Rate :
Mature, NC -17

Main Cast :
Boys :
Park Jimin ▶ 18 y.o, Taehyung classmate, Smart, Rich
Kim Taehyung ▶ 18 y.o, Jimin classmate, Rich, Cassanova
Jeon Jungkook ▶ 16 y.o, Jimin & Taehyung junior, Rich, Bi
Kim Seokjin ▶ 21 y.o, Manager in a Smartphone center, Rich, Handsome
Min Yoongi ▶ 20 y.o, Musician, Cool, Rich, Lazy ass
Jung Hoseok ▶ 19 y.o, College student, Rich, Moodmaker
Kim Namjoon ▶ 19 y.o, Leader of the group, Cafe owner, Rich, Sexy mind
Girls :
Kim Eunjin  ▶ 16 y.o, Kim Taehyung lil sister, Jungkook classmate, childish
Kwon Minyoung ▶ 18 y.o, Jimin & Taehyung classmate, nerdy, bullying victim
Lee Namjung ▶ 23 y.o, a nurse, mature
Han Ara ▶ 18 y.o, Jimin & Taehyung classmate, innocent
Shin Sang Eun ▶ 19 y.o, pool dancer, adopted by Paraiso’s owner
Choi Hyena ▶ 20 y.o, college student, Yoongi’s maid
Oh Yeonkyung ▶ 22 y.o, single parent, tomboyish, Namjoon’s cafe employer

Cover by :
Cover Story Fanfiction Korea

Disclaimer :
BTS members are not mine but this fanfic is pure my imagination. I give this fanfic mature rating cuz there will be parts that contains with sex, harrasment, bloods, and drugs. Please don’t be silent readers and plagiator. So ignore typos, enjoy the story!
Thanks~~ ♥♥♥

[CHAPTER 8 : BITTERSWEET]

-Author POV-

Bel istirahat berbunyi. Rombongan Jimin buru-buru lari ke kantin. Mereka segera mengantri untuk mengambil jatah makan siang mereka kemudian duduk di meja di dekat jendela, tempat mereka biasa duduk. Mereka makan sambil bercanda.

“Hyung!” Panggil Jungkook dari kejauhan.

Genk Jimin menoleh ke arah suara berasal. Dilihatnya Jungkook yang tengah berjalan dengan tray di kedua tangannya. Jungkook kemudian duduk di samping Jimin menghadap Ara.

“Hai, maknae! Mana Eunjin? Kau biasanya selalu berdua dengannya.” Tanya Jimin.

Jungkook melirik ke arah Taehyung. Benar saja, pria satu itu tengah menatapnya tajam. “Taehyung Hyung tidak mengijinkanku membawanya. Dia makan dengan teman-temannya di kantin dua,” jawab Jungkook.

Jimin tertawa. “Taehyung tidak ingin rahasianya terbongkar.”

“Hei!” Seru Taehyung pada Jimin yang masih saja menertawainya.

“Taehyung, kau mau kan malam ini menemaniku belanja?” Tanya Ara pada Taehyung.

“Aww…,” seru yang lain.

Taehyung tidak menjawab dan terus melanjutkan makannya.

“Tae…,” panggil Ara pelan.

Taehyung melirik Ara dan kembali meneruskan makannya.

“Hyung, Ara Noona bertanya padamu,” Jungkook ikut nimbrung.

“Aku tidak bisa,” jawab Taehyung.

Ara terdiam. Sebenarnya tanpa Taehyung bicara pun dia bisa membaca bahasa tubuh Taehyung yang menolak ajakannya.

“Kau ada acara? Paraiso?” Tanya Jimin dengan mata berbinar.

Taehyung menggeleng. “Aku ingin… di rumah saja.”

Jimin dan Jungkook mengerutkan keningnya. Biasanya mereka yang paling semangat jika berurusan dengan Paraiso.

“Hyung, kau tidak apa-apa?” Tanya Jungkook. “Tidak biasanya kau seperti ini.”

“Apa kau ada masalah?” Tanya Jimin. “Atau kalian sedang ada masalah?”

Ara menggeleng. “Sudahlah, hanya hal sepele. Mungkin Taehyung ingin beristirahat,” ujarnya dengan senyum yang dipaksakan.

Tidak ada pembicaraan setelah itu. Tiba-tiba saja suasana menjadi kaku. Tidak ada yang tahu kenapa Taehyung menjadi sensitif akhir-akhir ini.

Taehyung menoleh sekeliling seolah-olah mencari seseorang.

“Kau mencari siapa?” Tanya Jimin.

Taehyung menatap Jimin sejenak kemudian kembali meneruskan makannya. “Tidak.”

—000—

Hoseok mengemasi baju-bajunya dari lemari dan memasukkannya ke dalam koper kecil. Hari ini dia akan mulai menjalani perawatan di panti rehabilitasi. Keinginannya untuk berhenti ketergantungan dengan obat-obatan terlarang sudah bulat.

“Kau sudah siap?” Tanya Seokjin saat memasuki kamar Hyung-nya yang ditempati Hoseok.

Hoseok menoleh Seokjin sejenak kemudian meneruskan menyusun pakaiannya. “Sebentar lagi, Hyung.”

Seokjin duduk di tepian tempat tidur. “Kami akan sering-sering menjengukmu agar kau tidak bosan di sana,” ujarnya.

Hoseok tersenyum. “Terimakasih, Hyung.”

Setelah semuanya siap, mereka berangkat menuju panti rehabilitasi dengan mengendarai mobil Seokjin. Butuh waktu satu jam untuk sampai di tempat tujuan. Seokjin mengantar Hoseok sampai ke dalam. Mereka disambut dengan ramah oleh resepsionis. Hoseok menyerahkan surat rekomendasi dari dokter kemudian resepsionis itu memberikan informasi dimana letak kamar Hoseok akan dirawat.

Seokjin dan Hoseok berjalan menyusuri koridor-koridor panti rehabilitasi. Panti rehabilitasi tersebut bentuknya seperti rumah sakit. Tetapi setiap kamar pasien menyerupai kamar anak kosan. Satu kamar hanya ditempati oleh satu pasien. Sepanjang perjalanan mereka melihat para pasien rehabilitasi. Ada yang sedang membaca buku di depan kamar, menyirami tanaman, dan ada juga yang tengah bercanda dengan pasien lain.

Hoseok memasuki kamarnya yang terletak paling ujung. Terdapat satu tempat tidur kecil, satu lemari, satu meja kecil dengan dua kursi kecil, dan meja televisi di dalam kamar tersebut. Bangku panjang dari besi terletak di luar kamar. Hoseok meletakkan kopernya di dekat tempat tidurnya kemudian membuka jendela kamarnya. Jendela tersebut tepat menghadap taman.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Seokjin.

“Tidak seburuk yang aku bayangkan,” jawab Hoseok.

Tak berapa lama, seorang perawat masuk ke kamar itu. “Selamat siang,” sapanya.

Hoseok dan Seokjin menoleh ke sumber suara. Kedua mata Hoseok terbelalak melihat perawat di depannya itu. Dengan balutan seragam perawat panti rehabilitasi, rambut yang disanggul rapi, dan make-up tipis, perawat itu mampu membuat Hoseok ternganga.

“Saya Lee Namjung. Mulai hari ini saya bertanggungjawab melayani Tuan…,” perawat bernama Namjung itu membuka map yang dibawanya. “… Jung Hoseok.”

Hoseok masih saja melongo menatap perawat itu. Seokjin yang melihat reaksi Hoseok tersenyum kemudian menepuk pundak sahabatnya itu. Hoseok segera tersadar dan tersenyum malu.

“Ini data yang harus anda isi, Tuan Jung Hoseok. Setelah itu silahkan Tuan antarkan ke ruang administrasi di depan. Setelah data masuk, kami akan mulai melakukan pengobatan. Nanti saya akan memberikan jadwal sehari-hari anda di sini,” ujar Namjung sambil menyerahkan map di tangannya dan diterima langsung oleh Hoseok. “Tuan sudah boleh menempati kamar ini. Silahkan anda atur sesuka dan senyaman anda. Di dinding bawah dekat tempat tidur ada tombol emergency. Silahkan tekan jika ada hal-hal darurat dan membutuhkan bantuan dokter atau perawat di sini. Saya akan kembali dulu, Tuan.”

“Terimakasih,” kata Seokjin sambil membungkuk.

Namjung membungkuk kemudian berbalik meninggalkan mereka. Sementara Hoseok masih saja terpaku menatap kepergian perawat itu.

“Are you okay?” Goda Seokjin sambil menyenggol bahu Hoseok.

Hoseok tergagap. “Aku- aku- tidak apa-apa,” Hoseok salah tingkah.

Seokjin tertawa. “Perawat tadi cantik juga. Boleh lah sebagai hiburan.”

Hoseok memukul lengan Seokjin. “Hei, kau sudah memiliki Eunjin!”

Seokjin kembali tertawa sambil mengacak-acak rambut Hoseok. “Ayolah, aku hanya bercanda.”

-Author POV End-

—000—

-Kim Namjoon POV-

“Yeonkyung, kau sudah makan?” Tanyaku pada karyawan kesayanganku itu.

Yeonkyung menggeleng. “Belum, Tuan.”

“Kalau begitu ganti bajumu kemudian ikut aku,” perintahku.

“Kemana, Tuan?”

“Tidak usah banyak bertanya. Ikuti saja perintahku. Aku tunggu di depan,” kataku kemudian berlalu meninggalkannya.

Tak sampai lima menit Yeonkyung selesai mengganti seragam kerjanya dengan pakaian sehari-harinya. Aku menyuruhnya mengikutiku.

“Tuan, kita akan kemana?” Tanyanya bingung setelah duduk di jok depan mobilku.

“Makan,” jawabku santai.

“Tapi- Tuan aku bisa makan di tempat kerja. Lagipula jam istirahatku tidak lama,” sanggah Yeonkyung.

Aku mulai menyalakan mesin mobilku dan menjalankannya menuju salah satu restoran terkenal di Myeongdong. “Ikuti saja,” jawabku.

Sesampai di restoran tujuan, aku memilih meja dekat dengan dinding depan restoran yang terbuat dari kaca. Seorang pelayan mendekati kami dan memberikan menu pada kami.

“Kau mau makan apa?” Tanyaku pada Yeonkyung.

Yeonkyung hanya membuka-buka buku menu tersebut. “Aku… Aku tidak tahu, Tuan. Terserah Tuan saja.”

Aku menghempaskan nafasku berat. “Baiklah, pesankan menu yang sama denganku,” ujarku pada pelayan itu.

Pelayan itu mengangguk kemudian mencatat sesuatu di buku bill-nya. Setelah itu dia pergi meninggalkan kami.

“Ada apa, Tuan? Kenapa mengajakku makan di luar?” Tanya Yeonkyung padaku.

Aku tersenyum. “Tidak ada apa-apa. Hanya ingin refreshing saja.”

Seorang pelayan datang mengantarkan minuman pesanan kami.

“Terimakasih,” ujarku padanya.

Pelayan itu membungkuk kemudian pergi lagi.

“Minumlah,” ujarku pada Yeonkyung.

Dia mengangguk dan mulai menyeruput lemon ice pesanannya.

“Umm… ngomong-ngomong, apa kabar Chaeryung?” Tanyaku basa-basi.

“Baik, Tuan.”

Aku mengangguk-angguk. “Kapan-kapan bolehkah aku main ke rumahmu?”

Yeonkyung tampak terkejut. “Tapi untuk apa, Tuan?”

“Hanya ingin berkunjung saja,” jawabku santai.

“Bukan aku tidak mengijinkan. Tapi… Oh ya Tuan, beberapa hari yang lalu aku melihat teman Tuan ada di apartemenku. Aku tidak tahu apakah dia sedang mencari temannya atau tersesat. Tapi ini sungguh aneh. Tidak ada pemuda atau gadis yang tinggal di apartemenku. Semua yang tinggal di sana sudah berkeluarga,” kata Yeonkyung tiba-tiba.

Aku tertawa terbahak-bahak karena teringat ucapan Jungkook beberapa hari yang lalu.

Wanita di depanku itu mengerutkan keningnya. “Tuan?”

“Yeonkyung, dia sudah bercerita padaku,” ujarku pelan.

“Apa? Ma- maksud Tuan?”

“Temanku. Namanya Jungkook. Jeon Jungkook. Saat dia datang ke apartemenmu itu sebenarnya… dia sengaja mengikutimu.”

“Apa?! Tapi untuk apa?”

Aku tertawa kecil. “Jungkook… dia menyukaimu.”

Yeonkyung menunjukkan wajah shock-nya. “Tapi, Tuan… .”

Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Setelah mengucapkan terimakasih, kami mulai makan menu berupa lasagna yang kami pesan.

“Yeonkyung, aku tahu kau belum bisa dan tidak akan pernah bisa melupakan suamimu. Tapi kau juga harus membuka hatimu untuk orang lain. Jangan egois, Yeonkyung. Mungkin mudah untukmu menjalani hidup tanpa suami, tapi untuk Chaeryung? Pasti berat untuknya menjalani hidup tanpa ayah,” jelasku.

Yeonkyung menghentikan makannya. “Maaf sebelumnya, Tuan. Tapi aku harap Tuan tidak ikut campur dalam urusan keluargaku. Aku tahu niat Tuan baik, tapi aku lebih tahu apa yang terbaik untukku dan putraku.”

“Yeonkyung, selama ini kau selalu menolak bantuanku. Tapi aku harap kali ini kau pertimbangkan nasehatku,” ujarku.

Yeonkyung hanya menunduk. “Tuan, darimana teman Tuan tahu kalau aku adalah… wanita?”

“Aku sudah memberitahumu namanya Jungkook. Dia bilang dia mendengar Chaeryung yang memanggilmu ibu. Setelah itu dia bertanya padaku dan aku menceritakan semuanya.”

“Tapi, Tuan sudah berjanji tidak ingin memberitahu siapa-siapa tentang jati diriku.”

“Dia sudah mengetahuinya sebelum aku memberitahunya. Jadi sekalian saja aku memberitahu tentangmu.”

Yeonkyung hanya diam tidak menjawab.

“Yeonkyung… ada hal tentang Jungkook yang ingin aku beritahu padamu.”

“Tentang apa? Dan apa hubungannya denganku, Tuan?”

“Sebenarnya tidak ada hubungannya denganmu tapi aku ingin memberitahumu kalau ini adalah pertama kali Jungkook menyukai wanita.”

“Maksud Tuan… dia belum pernah menyukai seseorang sebelumnya?”

“Bukan. Jungkook itu… dia seorang gay.”

Yeonkyung terbatuk-batuk mendengar ucapanku barusan. Dia segera mengambil minumnya dan menenggaknya buru-buru.

“Yeonkyung, aku tidak bermaksud memanfaatkanmu atau apa pun tapi aku harap kau bisa membantunya menjadi pria normal.”

“Maksud Tuan?”

“Aku tidak memaksamu, Yeonkyung. Hanya jika kau mau saja. Keputusan kembali padamu. Aku tahu kau orang yang cerdas tapi aku yakin kau memiliki hati yang baik.”

Yeonkyung tidak menjawab. Hingga makan kami selesai pun dia tidak berbicara apa-apa.

“Tuan, jam kerja sudah mulai lima belas menit yang lalu,” ujarnya tiba-tiba.

“Lalu?”

“Aku harus kembali bekerja. Kasihan yang lain pasti repot kalau aku tidak ada.”

Aku mengeluarkan rokokku dari saku kemejaku dan menyulutnya sebatang. “Yeonkyung, berhentilah memikirkan orang lain dan pikirkanlah dirimu sendiri.”

“Ini bukan masalah memikirkan siapa, Tuan. Tapi tanggungjawab terhadap pekerjaan.”

Aku menghempaskan asap rokokku ke udara. “Besok kau libur bukan?”

Yeonkyung mengangguk.

“Ada acara?”

“Chaeryung ingin main ke pantai Tuan. Libur kemarin aku tidak jadi mengajaknya ke pantai karena dia sedikit demam. Jadi besok aku akan mengajaknya ke pantai.”

“Boleh aku ikut?”

“Untuk apa, Tuan?”

“Tidak untuk apa-apa. Sebenarnya aku dan anak-anak ada rencana ke pantai besok Sabtu. Kalau kau mau kau bisa ganti libur hari Sabtu dan ikut bersama kami,” ujarku berbohong.

“Tapi Tuan-“

“Ayolah, Yeonkyung. Sekali-kali ikutlah bersenang-senang bersama kami.”

“Tapi, bukankah teman Tuan adalah pria semua. Bagaimana aku bisa ikut?”

“Mereka akan membawa pasangan mereka juga. Kau bisa berkenalan dan berteman dengan mereka. Bagaimana?”

Yeonkyung tampak menimbang-nimbang tawaranku. Tapi aku terus menerus memberinya isyarat untuk ikut.

“Baiklah,” jawab Yeonkyung.

Akhirnya. Aku tersenyum lebar mendengar jawabannya. “Terimakasih, Yeonkyung.”

-Kim Namjoon POV End-

—000—

-Author POV-

Ara berkali-kali mengecek ponselnya. Sejak tadi pagi Taehyung mendiamkannya. Bahkan beberapa kali dia mengirimkan pesan pun tidak ada satu pun yang dibalas oleh kekasihnya itu. Ara menghempaskan nafasnya berat. Dia mencoba mencari-cari kesalahannya dimana hingga Taehyung mendiamkannya. Tapi pikirannya semakin kacau karena dia tidak pernah merasa menyakiti pria itu.

Ara mengirimkan pesan pada Minyoung.

/Minyoung, kau ada acara malam ini?/

Ara telentang di kasur lantainya menghadap ke langit-langit kamar. Tak berapa lama ponselnya berbunyi.

/Aku belum pulang dari tempat kerja, Ara. Ada apa?”/

Ara kembali mendesah kecewa. Dia butuh seseorang untuk berbagi kesedihannya saat ini.

/Tidak. Aku hanya ingin mengajakmu shopping kalau kau ada waktu luang./

Agak lama Minyoung membalas pesan Ara.

/Kalau kau mau aku besok libur./

“Aku butuh kau sekarang, Minyoung,” ujar Ara lirih.

/Baiklah./

Sent. Ara meletakkan ponselnya di dekat bantal. Entah kenapa pikirannya begitu kacau saat ini. Tiba-tiba Ara terbangun karena teringat sesuatu.

“Paraiso!”

Ara mengganti pakaiannya tidurnya dengan sebuah backless dress berwarna biru tua yang panjangnya hanya menutupi wilayah sensitifnya. Jika dia menunduk sedikit saja setiap orang bisa melihat ‘harta’nya. Setelah memakai high heels dan membawa pouch-nya, Ara bergegas meluncur ke Paraiso dengan taksi.

Ara memasuki Paraiso dengan gelisah. Matanya mencari-cari kesana kemari tapi dia tidak bisa menemukan genk kekasihnya itu. Dia juga mendatangi tempat biasa mereka nongkrong juga tidak ada. Ara putus asa. Dia memutuskan hanya duduk di bar dan memesan wine ke seorang bartender.

Ara menerima wine pesanannya dan meminumnya dengan sekali tenggak.

“Tequilla satu!”

Ara menoleh ke samping kiri. Suara berat seorang pria yang memesan tequilla itu begitu menarik perhatiannya. Pria itu menganggukkan kepalanya kepada Ara. Tetapi Ara hanya menatapnya tajam kemudian memainkan tepian gelas wine-nya dengan ujung jarinya.

“Mau?”

Ara menoleh. Pria itu menawarinya botol tequilla. Ara menyodorkan gelasnya pada pria tersebut. Dan pria itu menuangkan cairan berwarna coklat pekat tersebut ke gelas Ara. Ara mengangkat gelasnya kemudian meminumnya dengan sekali tenggak.

“Oh ya, ngomong-ngomong siapa namamu?” Tanya pria itu pada Ara.

“Jadi segelas minuman tadi untuk sebuah nama?” Tanya Ara pada pria itu centil. Tampaknya efek minuman yang diminumnya tadi mulai bereaksi.

Pria itu tertawa kecil. “Menurutmu?”

Ara memandang pria di depannya tersebut. Pria itu memiliki pandangan mata yang tajam, berhidung mancung, dan bibirnya begitu on point.

“Han Ara,” jawab Ara sambil mengulurkan tangannya.

Pria tersebut menyambut tangan Ara dan menciumnya. “Goo Junhoe. Tapi kau bisa memanggilku June.”

Ara tersenyum. Tiba-tiba saja dia lupa tujuannya ke Paraiso adalah untuk mencari Taehyung.

“Mau menari denganku?” Ujar June, pria yang baru dikenal Ara.

Ara mengangguk. June menarik tangan Ara menuju ke dance pool. Mereka menari bersama banyak pengunjung Paraiso.

Ara mulai menggoyangkan badannya mengikuti musik remix yang dimainkan oleh seorang DJ. June berdiri di belakang Ara sambil memegangi pinggangnya dan mengikuti gerakannya. Ara yang berada di bawah pengaruh alkohol mulai menari tanpa kendali. Tidak dipedulikannya tangan June yang mulai nakal beberapa kali meremas bokongnya.

Ara membalikkan badannya menghadap June dan mengalungkan kedua tangannya di leher June. Tangan June mendarat di bokong Ara. Badannya ditempelkan pada badan Ara agar bisa merasakan gundukan kenyal di dada gadis itu yang sedari tadi menggodanya.

Entah bagaimana ceritanya, Ara mau saja diajak oleh June menginap di salah satu kamar hotel megah tersebut. Tampaknya pengaruh alkohol tadi begitu kuat sehingga tanpa sadar Ara selalu menuruti kata-kata June.

June membaringkan tubuh Ara di ranjang mewah kamar tersebut. Setelah itu dia membuka kemejanya dan membuangnya ke sembarang arah. June merangkaki tubuh Ara dan mencium bibirnya. Ara pun membalas ciuman June. Tangannya terangkul di leher June.

Ciuman June berpindah ke leher jenjang Ara. Ara yang muai terbuai ciuman June mulai mendesah keenakan. Bibir June terus berpindah ke bawah hingga ke dada Ara. Dia menggigit pangkal dress yang Ara kenakan dan mulai menurunkannya hingga kedua payudaranya yang tidak tertutup bra langsung terekspos di depan mata June.

June mulai memainkan lidahnya pada puting payudara kiri Ara. Dia juga menghisapnya dengan lembut. June melakukannya secara bergantian pada kedua payudara Ara. Membuat Ara semakin menggelinjang dan meremas-remas rambut June seolah memaksa June untuk terus melakukannya.

Tangan June memegangi ujung dress Ara dan menaikkannya hingga sebatas perut. June mengusap bibir vagina Ara dengan perlahan.

“Sudah sangat menginginkanku, hm?” Goda June saat merasakan alat vital Ara yang mulai basah oleh cairan pre-cum.

Ara tidak menjawab. Dia hanya menikmati setiap sentuhan June yang memabukkannya. June melebarkan jarak kedua kaki Ara. Dia menyentuh wilayah paling sensitif Ara dengan lidah penuh skill-nya. June memainkan lidahnya dengan memasuk-keluarkan lidahnya di dalam lubang madu Ara. June juga beberapa kali menggigit klitoris Ara dan membuat gadis itu lemah.

Ara tidak teringat lagi akan dunianya. Tidak teringat akan statusnya sebagai kekasih Taehyung. Yang dia tahu saat ini seorang pria seksi berada di depannya dan bisa membantunya menghilangkan stress yang dialaminya.

June membuka kancing celana jeans-nya dan membuka resletingnya. Dengan perlahan dia menurunkan celana beserta celana dalam yang dikenakannya hingga lutut. Alat vitalnya yang sedari tadi tampak tersiksa di dalam celananya tampak mengacung dengan bebasnya. Ara memandangi alat vital June yang besar dan tegang. Memang tidak sebesar milik Taehyung, tapi junior June terlihat begitu gagah dan mampu memuaskan setiap wanita.

June menggesek-gesekkan kepala batang kemaluannya pada bibir vagina Ara. Dan dengan penetrasi tersebut sukses membuat cairan pre-cum yang keluar dari lubang kemaluan Ara semakin banyak.

“Ough!” Seru Ara saat June tiba-tiba saja memasukkan juniornya ke dalam lubang vagina Ara.

June tersenyum menyungging kemudian kembali melumat bibir Ara. Kedua tangannya pun tidak mau tinggal diam dengan meremas-remas kedua payudara Ara.

“Ah- ah- ah- ooohh… uuumm… ah-.” Ara terus saja mengerang saat June menggerakkan pinggulnya. Membuat juniornya keluar-masuk di dalam liang kenikmatan Ara. Bahkan suara desahannya semakin bergetar setiap kali June mempercepat sodokannya.

June mulai merasakan dinding vagina Ara menyempit dan semakin kuat menjepit juniornya. June semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Dia tahu kalau sebentar lagi Ara akan mencapai klimaks.

“Ouuugghhh…,” lenguh Ara saat akhirnya cairan klimaksnya keluar. Ara terengah-engah.

“Aku belum selesai,” kata June kembali menggerakkan pinggulnya.

“Biar aku selesaikan,” ujar Ara kemudian bangkit dan membuat ‘ular’ June keluar dari sarangnya.

Ara membaringkan tubuh June. Dengan segera digenggamnya penis June dan dijilatinya batang tegang tersebut yang masih berlumuran cairan klimaksnya.

Sekarang gantian June yang mengerang keenakan saat Ara memainkan ujung lidahnya pada kepala penis June. Erangannya semakin keras saat juniornya berada di dalam mulut hangat Ara. Tangan kiri Ara meremas-remas bola kembar June sementara mulutnya semakin kuat memompa junior June. Ara memang sangat pandai melakukan blow job. Dia bisa memuaskan pria hanya dengan mulut penuh skillnya itu.

“Ogh!” Seru June saat cairan klimaksnya keluar.

Ara cepat-cepat menelannya walaupun beberapa menetes melalui tepi mulutnya. June menarik bahu Ara dan mencium bibirnya dengan cepat. Sama-sama merasakan cairannya. Mereka saling melumat bibir masing-masing. Nafsu birahi masih terus saja menguasai keduanya.

“Second round?” Goda June.

“Why not?” Jawab Ara kembali melumat bibir pria yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu itu.

—000—

“Hyung, Eunjin dimana?” Tanya Jungkook pada Taehyung yang tengah menonton TV di ruang tamu.

“Ada di kamarnya. Masuk saja,” jawab Taehyung tanpa menoleh.

Jungkook bergegas berjalan menuju lantai atas, dimana kamar Eunjin berada. Tanpa mengetuk pintu lebih dahulu, Jungkook masuk begitu saja ke kamar Eunjin. Mereka memang sudah saling menganggap saudara.

Saat masuk ke dalam kamar Eunjin, Jungkook mendapati gadis itu duduk di depan meja rias dan masih dalam balutan handuk sembari mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.

“Oi, Jungkook, kemarilah,” ujar Eunjin saat menyadari kehadiran Jungkook. Dia segera mematikan alat pengering rambut di tangannya itu dan berjalan menghampiri Jungkook.

Jungkook duduk di tepian tempat tidur Eunjin. “Baru selesai mandi?”

“Uh-hum,” jawab Eunjin ikut duduk di samping Jungkook. “Ada apa?”

“Umm… ada hal yang ingin aku beritahu padamu,” kata Jungkook lirih.

“Hal apa?”

“Aku… umm Eunjin aku…”

“Kau kenapa?”

“Aku… aku menyukai seorang wanita…,” ujar Jungkook malu-malu.

Eunjin tersenyum lebar. “Benarkah? Whoooaaa selamat Jungkook!” Eunjin ikut senang melihat sahabatnya itu bahagia. “Lalu, siapa gadis beruntung itu?”

“Dia… bukan gadis. Dia salah satu karyawan Namjoon Hyung. Kau ingat, seseorang yang mengantarkan waffel saat kita berkumpul di cafe Namjoon Hyung?”

Eunjin tampak seolah-olah sedang mengingat sesuatu. “Wait! Bukankah yang mengantarkan waffel saat itu adalah seorang pelayan pria?”

Jungkook tersenyum. “Dia seorang wanita. Dia hanya menyembunyikan jati dirinya karena dia masih teringat dengan suaminya yang sudah meninggal.”

“Jadi dia… janda?”

Jungkook mengangguk. “Dia juga memiliki seorang putra. Tapi bagiku tidak masalah. Jika aku menyukainya artinya aku masih mempunyai peluang menjadi pria normal.”

Eunjin tampak memberikan pandangan mencibir pada Jungkook. “Kalau begitu aku tes,” ujarnya.

Eunjin melepas handuk yang dikenakannya dan membuangnya ke sembarang arah. Tubuh polosnya kini terekspos jelas di depan mata Jungkook.

Mata Jungkook menyusuri setiap inchi tubuh Eunjin. Tapi mengapa tidak ada nafsu yang timbul pada dirinya? Jungkook kembali bingung. Eunjin yang mengetahui gelagat Jungkook segera meraih tangan Jungkook dan diletakkan pada payudaranya.

“Tidak bereaksi?” Tanya Eunjin.

Jungkook menggeleng.

Eunjin melepaskan tangan Jungkook pada payudaranya. “Kau benar-benar membutuhkan wanita itu,” ujarnya pelan sembari memakai kembali handuknya.

—000—

Hyena memasukkan buku-bukunya ke dalam tas lusuhnya. Pagi ini dia ada jadwal kuliah jam 8.

Tok-tok-tok!

Seseorang mengetuk pintu kamar Hyena. Hyena menghentikan kegiatannya kemudian berjalan membuka pintu kamarnya.

“Bibi Yang, ada apa?” Tanya Hyena dengan senyum lebar.

“Boleh aku masuk dulu?” Salah satu pembantu Yoongi bernama Yang itu meminta ijin Hyena.

Hyena mengangguk dan mempersilahkan Bibi Yang masuk. Mereka duduk berdampingan di tepi tempat tidur Hyena.

“Hyena, ada hal yang ingin kutanyakan padamu,” kata Bibi Yang pelan.

Kening Hyena berkerut. Tidak biasanya Bibi Yang mengajaknya berbicara berdua pagi-pagi. “Tentang apa, Bibi Yang?”

“Tentang kau dan Tuan Muda Yoongi,” jawab Bibi Yang.

Ekspresi wajah Hyena berubah menjadi panik. Banyak pertanyaan berkecamuk di pikirannya. “Ada apa memangnya, Bibi Yang?”

“Aku ingin kau menjawab dengan jujur, Hyena. Apa kau memiliki hubungan khusus dengan Tuan Muda Yoongi?”

Hyena benar-benar panik kali ini. Bagaimana bisa Bibi Yang mengetahui hubungan gelapnya dengan Yoongi?!

“Jawab dengan jujur, Hyena,” kata Bibi Yang lagi saat dilihatnya Hyena hanya diam saja.

“Bagaimana bisa Bibi Yang menyimpulkan seperti itu?”

“Hyena, jawab dulu pertanyaanku.”

Hyena menunduk. Antara takut dan panik sehingga mulutnya enggan untuk menjawab.

“Hyena… aku sudah menganggapmu sebagai putriku sendiri. Ibumu juga selalu berpesan padaku agar menjagamu saat kau di sini. Aku bertanggungjawab atas dirimu di sini, Hyena. Jadi jawablah dengan jujur pertanyaanku,” kata Bibi Yang dengan lembut.

Hyena mengangguk.

“Jadi kau memang memiliki hubungan khusus dengan Tuan Muda Yoongi?”

Hyena menunduk sedih. Dia takut Bibi Yang marah.

“Hyena, berani sekali kau menyukai Tuan Muda Yoongi. Apa kau tidak memikirkan resiko ke depannya nanti? Bagaimana kalau Tuan dan Nyonya Min tahu tentang hal ini?”

“Bibi Yang, maafkan aku. Tapi aku mohon jangan beritahu hubungan kami pada siapa pun,” kata Hyena ketakutan.

Bibi Yang menghempaskan nafasnya berat.

“Bibi Yang tahu dari siapa tentang hubunganku dengan Tuan Muda Yoongi?”

“Beberapa waktu yang lalu saat aku mengambil baju kotor Tuan Muda Yoongi, aku juga menemukan bajumu di sana. Aku juga sering memperhatikan kau sering berada di kamar Tuan Muda Yoongi dan lama keluarnya. Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan, tapi tadi pagi saat aku mengambil baju kotor Tuan Muda Yoongi… .”

“Bibi mendengarnya?” Tanya Hyena panik.

Bibi Yang mengangguk.

Hyena menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Perasaannya bercampur aduk antara malu dan takut. Tadi pagi memang Yoongi meminta Hyena melakukan morning sex di kamar mandi Yoongi. Dia tidak menyangka kalau Bibi Yang masuk ke kamar Yoongi dan mendengar desahan-desahan mereka.

“Bagaimana kalau Tuan dan Nyonya Min mengetahui soal ini?”

Hyena buru-buru berlutut di depan Bibi Yang. “Aku mohon Bibi, jangan beritahu siapa-siapa tentang hubungan kami,” pinta Hyena. Butiran bening mulai membasahi pelupuk matanya.

Bibi Yang mengusap-usap kepala Hyena. “Hyena, aku bukan seseorang yang suka mengadu. Aku hanya takut orang lain yang mengetahui hal ini dan mengadukannya pada Tuan dan Nyonya Min. Aku sayang padamu, Hyena. Itu sebabnya aku memberitahumu lebih dulu. Kau tahu bukan resiko hubungan kalian?”

“Tapi aku mencintainya, Bibi Yang,” kata Hyena. Air matanya benar-benar jatuh kali ini.

Bibi Yang menarik tangan Hyena agar kembali duduk di sampingnya kemudian memeluknya penuh kasih sayang. “Benar kata orang cinta itu buta. Tapi jangan sampai cinta itu membutakan segalanya. Kau boleh mengikuti kata hatimu, Hyena. Tapi kau juga harus pertimbangkan dengan otakmu. Aku tidak melarangmu mempunyai hubungan khusus dengan Tuan Muda Yoongi. Tapi aku harap kau lebih berhati-hati.”

Hyena mengangguk-angguk.

“Ssttt, jangan menangis lagi. Kau ada kuliah pagi ini bukan? Cepat berangkat keburu terlambat,” ujar Bibi Yang.

Hyena mengusap kedua matanya dan meraih tasnya. Hyena tersenyum pada Bibi Yang. “Aku berangkat dulu, Bibi,” ujar Hyena dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Bibi Yang.

—000—

Minyoung tidak bisa konsentrasi menghadapi ulangan dadakan Matematika pagi ini. Bukan karena materinya yang sulit tetapi karena ketidakhadiran Ara hari ini. Tidak biasanya sahabatnya itu membolos.

Apa dia sakit? Tidak, tidak! Bukankah semalam Ara memintanya untuk menemaninya belanja?! Tiba-tiba Minyoung menyesal menolak permintaan Ara semalam. Mungkin saja dia sedang dalam masalah dan meminta solusi padanya.

“Apa ini ada hubungannya dengan Taehyung?” Tanya Ara dalam hati.  Setahu dia hubungan Ara dan Taehyung baik-baik saja. Dia juga tidak mau tahu urusan mereka kalau Ara tidak bercerita lebih dulu padanya.

“Apa nanti sepulang sekolah aku kesana saja?” Batin Minyoung.

Minyoung kembali memandangi lembar soal di mejanya dan mulai berkutat mengerjakan soal-soal tersebut.

-Author POV End-

—000—

-Han Ara POV-

Kepalaku terasa berat sekali. Tanpa membuka mataku aku meraba-raba tempat tidur dan mencari-cari ponselku untuk mengetahui jam berapa. Bukan ponsel yang aku temukan, tapi aku merasa menyentuh tubuh seseorang. Tunggu!

Aku membuka kedua mataku. Dan saat aku menoleh ke sampingku ternyata aku sedang bersama pria yang tidak aku kenal. Aku memandang tubuhku yang tidak terbalut sehelai kain pun.

Aku berteriak ketakutan dan menarik selimut yang tertindih oleh kaki pria itu. Aku berusaha menutupi tubuhku dengan selimut itu. Pria itu terbangun mendengar teriakanku.

“Pagi, Sayang,” katanya dengan suara sedikit serak.

Aku menatapnya horor. “Kau siapa? Bagaimana bisa aku bersamamu?”

Pria itu menyunggingkan senyumnya. “Hei, kau yang menggodaku semalam dan sekarang bertanya hal seperti itu?”

Hah?! Benarkah?! Kalau begitu aku benar-benar mabuk berat semalam. Tapi tunggu!

“Hei, semalam kita tidak melakukan apa-apa kan?” Tanyaku.

Pria itu tertawa. “Bagaimana kau bisa bertanya sepolos itu? Kau lihat sendiri bukan saat ini kita tidak memakai apa-apa? Dan kau lihat sendiri tubuhmu penuh dengan bekas cairan spermaku, bukan?”

Benarkah?! Berarti aku telah mengkhianati Taehyung?! Tunggu, bukankah semalam aku ingin mencari Taehyung? Dan yang paling penting… ternyata hari ini aku membolos sekolah!!!

Aku bergegas memunguti pakaianku dan mengenakannya satu per satu.

“Kau mau kemana?” Tanya pria itu.

“Bukan urusanmu!” Jawabku ketus sambil mengambil ponsel dan pouch-ku kemudian pergi meninggalkan pria itu.

Dengan langkah gontai aku berjalan menuju lift. Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Sedikit pun aku tidak bisa mengingatnya. Tapi yang jelas malam ini aku sudah melakukan seks dengan pria selain kekasihku. Taehyung, maafkan aku!

—TBC—

A/N :
Dear guys, author cuma mu ucapin makasih buat yang udah rajin baca & selalu nungguin ff author. Btw kalo pen kenal ama author, bisa kepo2 di akun twitter author @kimimoy95. Ato pen baca ff author yg lain?? Bisa baca di akun wattpad author @lingkyu88.😉

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

11 thoughts on “FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 8

  1. semakin seru semakin bikin penasaran. penasaran sama kelanjutan cerita Jungkook & Jhope. pokoknya selalu menunggu FF ini deh

  2. Ya ampun si junet ngapaen tiba2 muncul
    Sumpah gua lngsung ketawa tiba2 bca ada si junet
    Btw cerita nya makin seru aj thor
    LANJUTKAN….FIGHTING

  3. Aduduh~ Aku ketinggalan 2 part FF ini~ Mulai part 7 ama yg ini~

    Huayo loh, Araa~~~ Mabuk ama June hayoooo~~~ Tae ngelamun gitu psti ada sebabnya, kayaknya sih gara2 liat Minyoung di part 7 /sok tau/~😄
    Yeonkyung, terima aja dl usulannya Namjoon~ Hihihi~

    Semangat ya buat author-nim buat nerusin FFnya~ ^^

  4. ara ama junhoe..klo taehyung tau pasti marah banget. Ff y tmbah keren aja thor.. dan thor jgn trlalu banyak bhs inggris atau aplah..aku gak trllu ngerti… Mending pke bhs indo aja thor ps bgian rose.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s