FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 7


11902518_869875126416742_4665585678208730251_n

Tittle :
BTS 7 Soul

Author :
Lingkyu88

Lenght :
Chapter

Genre :
Romance, Friendship

Rate
Mature

Main Cast :
Boys :
Park Jimin ▶ 18 y.o, Taehyung classmate, Smart, Rich
Kim Taehyung ▶ 18 y.o, Jimin classmate, Rich, Cassanova
Jeon Jungkook ▶ 16 y.o, Jimin & Taehyung junior, Rich, Bi
Kim Seokjin ▶ 21 y.o, Manager in a Smartphone center, Rich, Handsome
Min Yoongi ▶ 20 y.o, Musician, Cool, Rich, Lazy ass
Jung Hoseok ▶ 19 y.o, College student, Rich, Moodmaker
Kim Namjoon ▶ 19 y.o, Leader of the group, Cafe owner, Rich, Sexy mind
Girls :
Kim Eunjin  ▶ 16 y.o, Kim Taehyung lil sister, Jungkook classmate, childish
Kwon Minyoung ▶ 18 y.o, Jimin & Taehyung classmate, nerdy, bullying victim
Lee Namjung ▶ 23 y.o, a nurse, mature
Han Ara ▶ 18 y.o, Jimin & Taehyung classmate, innocent
Shin Sang Eun ▶ 19 y.o, pool dancer, adopted by Paraiso’s owner
Choi Hyena ▶ 20 y.o, college student, Yoongi’s maid
Oh Yeonkyung ▶ 22 y.o, single parent, tomboyish, Namjoon’s cafe employer

Cover by :
Cover Story Fanfiction Korea

Disclaimer :
BTS members are not mine but this fanfic is pure my imagination. I give this fanfic mature rating cuz there will be parts that contains with sex, harrasment, blood, & drugs. Please don’t be silent readers and plagiator. So ignore typos, enjoy the story!
Thanks~~ ♥♥♥

[CHAPTER 7 : TRUST]

-Author POV-

“Hi, Mr. Taehyung. Come here!” Kata Rose, saat melihat Taehyung memasuki kamarnya.

Taehyung berjalan mendekati Rose yang tengah berbaring di tempat tidur kemudian ikut berbaring di sampingnya. Mereka saling berhadapan.

“It’s been long time,” ujar Rose sambil mengusap dada Taehyung.

“Yeah. I miss you,” kata Taehyung sembari memegang dagu Rose.

“Uh-hum? But you’re not come to me for long time. Are you busy with other girl?”

“Nope! I’m busy with school activites so… I don’t have enough time to visit here. Especially, you… Rose.”

“Mentiroso!”

“Pardon me?”

“I’ve said good. You have to focus on your school.”

“Yeah. That’s why I missed you so much,” Taehyung mengecup bibir Rose sekilas.

“Thank you.”

Taehyung meletakkan rambut Rose yang menjuntai ke belakang telinganya. “Rose…,” panggilnya lirih.

“Hmm?”

“I remember our first time. Ah, I mean your first time,” kata Taehyung kemudian tertawa kecil.

Rose memukul lengan Taehyung. “Don’t reminding me about that kind of stuff. That’s our past though.”

Setahun yang lalu, Taehyung adalah pria pertama yang mengambil kesucian Rose. Dia harus membayar 5 kali lipat untuk mendapatkannya. Dan dia merasa beruntung karena sekarang Rose sudah sangat pandai melayani pria dan selalu memberikan Taehyung pelayanan ekstra. Rose selalu membatalkan kencannya dengan pria lain jika Taehyung memintanya untuk melayaninya.

Taehyung menyusuri tepian topeng yang dikenakan Rose. “But I’m still curious with what’s behind your mask. Some of prostitutes here mind to open their mask to their favorite customers.”

“You are not my favorite customer. Hihi,” ledek Rose sambil tertawa kecil.

Taehyung mengerutkan keningnya. Kecewa. “Then, who is he?”

“Umm.. does it important for you?” Goda Rose sambil memainkan dagu Taehyung.

“Yeah… kinda.”

Rose tertawa. “To be honest, there’s no one.”

“Not even me?”

Rose menggeleng. “Maybe, I had special memories with you. But, my heart is still empty. I’m sorry, Mr. Taehyung.”

Taehyung menghempaskan nafasnya berat. “It’s okay. I understand your job.”

“Umm, now… kiss me!” Pinta Rose sambil menyentuh bibirnya dengan ujung jarinya.

“Only kiss?”

“Wants more?”

“It’s… up to you. What do you want from me?” Taehyung ganti menggoda Rose.

“Fuck me then…,” bisik Rose di telinga Taehyung.

Taehyung menunjukkan smirk-nya. “With my pleasure, My Lady,” jawab Taehyung kemudian mencium bibir Rose dengan cepat.

Rose membalas ciuman Taehyung dengan penuh gairah. Tangannya mulai membuka kancing kemeja putih Taehyung satu per satu. Begitu juga Taehyung membuka bathrobe yang dikenakan Rose.

Taehyung melepaskan ciumannya kemudian berbaring telentang. “Ride me!” Perintahnya.

Rose tersenyum. Dia menaiki tubuh Taehyung dan duduk tepat di atas alat vital Taehyung yang masih tertutup celana. Tangan Rose menyusuri tubuh Taehyung dan menggerak-gerakkan pinggulnya maju-mundur. Cairan pre-cum-nya keluar mengotori celana Taehyung.

Tangan Rose meraih headbord tempat tidurnya dan menarik tubuhnya ke depan. Dia menggerak-gerakkan pinggulnya di atas wajah Taehyung. Membuat vaginanya bergesekan dengan wajah Taehyung. Gerakan pinggulnya terkadang terhenti jika Taehyung menggigiti klitorisnya. Dan yang keluar dari mulut mereka hanya desahan-desahan seksual.

—000—

Hari ini ada penilaian praktek renang di kelas Taehyung. Semua murid di kelasnya berkumpul di kolam renang sekolah. Menunggu aba-aba dari guru PE mereka.

Minyoung duduk sendiri di bangku ujung. Ara yang biasa menemaninya lebih memilih berkumpul bersama genk Taehyung. Dia memang sedikit menjaga jarak dengan Minyoung apabila tengah berada di sekitar genk Taehyung.

Jimin berjalan mendekati Minyoung. Dia berdiri di depan Minyoung sambil melipat kedua tangannya di dadanya. “Oi, Hitam! Aku tidak mengerti mengapa kau selalu memakai pakaian menyelam seperti itu. Apa jangan-jangan untuk menutupi tubuhmu yang penuh dengan bekas koreng?!” Katanya kemudian tertawa terbahak-bahak.

Minyoung memang tidak pernah memakai pakaian renang yang terbuka seperti yang lain. Dia selalu memakai pakaian menyelam. Lengkap dengan penutup kepalanya namun poninya tetap dikeluarkan.

Minyoung tidak mempedulikan Jimin. Dia bahkan membuang mukanya ke sembarang arah dan pura-pura tidak melihat Jimin.

Jimin menoleh ke arah Soohwa Ssaem yang tengah sibuk mengetik sesuatu di smartphone-nya. “Awas kau!” Ancam Jimin sambil menempeleng kepala Minyoung kemudian meninggalkan gadis itu dengan menahan kesal.

“Baiklah, anak-anak. Hari ini kalian penilaian praktek berenang gaya bebas. Nama-nama yang saya panggil silahkan mengambil posisi,” ujar Soohwa Ssaem, sang guru PE di kelas Taehyung.

Murid-murid mulai mengambil posisi masing-masing sesuai urutan yang disebutkan oleh Soohwa Ssaem. Dan Soohwa Ssaem pun mulai menilai kecepatan berenang anak didiknya.

“Noh Minwoo, Han Ara, Lee Sungjae, Kim Namjoo, Kwon Minyoung, silahkan kalian ambil posisi!” Perintah Soohwa Ssaem.

Nama-nama yang dipanggil mulai berjalan mengambil posisi masing-masing. Namun saat Minyoung baru berjalan beberapa langkah, Jimin menghalangi langkah gadis itu sehingga gadis itu terjatuh.

“Ah!” Seru Minyoung saat terjatuh. Minyoung meringis kesakitan saat dirasanya kakinya terkilir.

Soohwa ssaem beserta beberapa murid mendekati Minyoung.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Soohwa ssaem.

Minyoung tidak menjawab namun hanya meringis kesakitan sambil memegangi kaki kanannya.

“Manja sekali. Sedang mencari perhatian kah?!” Ujar Jimin.

“Baiklah, tolong 2 orang bawa dia ke unit kesehatan,” perintah Soohwa ssaem.

“Aku tidak apa-apa, Ssaem. Aku masih bisa melanjutkan penilaian,” kata Minyoung sambil mencoba berdiri.

“Tidak. Walaupun hanya terkilir tapi bisa berbahaya dan terlalu beresiko jika dipaksakan,” Soohwa ssaem tidak mengijinkan Minyoung mengikuti penilaian berenang.

“Aku sudah tidak apa-apa, Ssaem,” Minyoung melompat-lompat agar Soohwa ssaem percaya kalau dia masih bisa mengikuti penilaian. Walaupun sebenarnya dia menahan sakit yang luar biasa.

“Benar tidak apa-apa?”

Minyoung mengangguk.

“Baiklah, kalau begitu kalian segera ambil posisi!” Seru Soohwa ssaem.

Minyoung mengambil posisi start untuk penilaian berenang. Peluit dibunyikan oleh Soohwa ssaem. Mereka mulai berenang secepat mungkin. Saat hendak mencapai finish, Minyoung merasakan kakinya kram. Tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan dan mulai tenggelam. Murid-murid yang lain menjadi panik, begitu juga dengan Soohwa ssaem. Ara yang saat itu mengambil posisi start bersamaan dengannya berbalik arah dan menolong Minyoung.

Soohwa ssaem juga ikut terjun ke kolam renang dan membantu Ara menarik tubuh Minyoung. Mereka membaringkan tubuh Minyoung di tepi kolam. Murid-murid yang lain mengerubuti Minyoung, kecuali genk Jimin.

“Tolong kalian segera menyingkir! Beri dia ruang untuk bernafas!” Seru Soohwa ssaem.

Soohwa ssaem menekan dada Minyoung berkali-kali. Soohwa ssaem membuka resleting pakaian renang Minyoung dan melepaskan kaitan bra-nya agar pernafasan Minyoung lancar. Dia juga berusaha memberikan nafas buatan tetapi Minyoung tidak ada respon positif sama sekali. “Taehyung, Jisoong, bantu bawa dia ke ruang kesehatan!” Serunya panik.

Murid bernama Jisoong segera mendekati Soohwa ssaem, tetapi Taehyung diam saja.

“Taehyung, cepat bantu Jisoong atau aku akan mengurangi nilaimu!” Seru Soohwa ssaem.

Taehyung berdecak kesal tapi tetap berjalan mendekati Minyoung. Taehyung mencoba mengangkat tubuh Minyoung dengan malas. Namun saat tubuh Minyoung telah dibopongnya, mata Taehyung terbelalak. Setelah itu dia bergegas membawa tubuh Minyoung ke ruang kesehatan sekolah.

“Baiklah, yang lain tetap teruskan penilaian!” Seru Soohwa ssaem membuat murid-murid yang lain kembali ke posisi masing-masing.

Sementara Jimin dan Ara masih terpaku dan saling berpandangan.

-Author POV End-

—000—

-Jung Hoseok POV-

Aku duduk terdiam di ranjang rumah sakit. Aku melirik jam dinding berkali-kali. Hampir jam 3 sore tapi Seokjin Hyung belum juga datang menjemputku.

Hari ini aku diijinkan pulang ke rumah setelah aku harus dirawat di rumah sakit ini 5 hari yang lalu. Tapi setelah ini aku harus menjalani therapy di panti rehabilitasi. Aku sadar selama ini aku telah terlalu dalam bergantung pada obat-obatan terkutuk tersebut. Tetapi aku ingin berhenti karena itu aku setuju dengan keputusan dokter.

“Hoseok Oppa, menunggu siapa?” Tanya seorang gadis kecil berkepala botak yang menghuni ruangan perawatan ini bersamaku.

Aku tersenyum. “Oppa menunggu teman Oppa, Nana.”

Gadis kecil bernama Nana itu berjalan mendekatiku. “Oppa hari ini pulang?” Tanyanya lucu. Di tangannya terdapat boneka barbie.

“Iya, Sayang. Kau mau ikut?” Kataku sambil mengusap-usap kepalanya yang tidak ditumbuhi rambut. Bukan tidak ditumbuhi rambut, tetapi pihak rumah sakit selalu rutin mencukur rambutnya hingga botak.

Nana adalah seorang pasien kanker darah. Ibunya yang bercerita kepadaku. Gadis kecil itu sudah mengidap penyakit itu sejak 2 tahun yang lalu. Tetapi baru-baru ini diketahui pihak keluarganya. Gadis kecil itu sudah harus mengikuti kemotheraphy seminggu sekali dan cuci darah 3 hari sekali.

Gadis kecil berusia sekitar 7 tahun itu menggeleng. “Aku mau ikut nanti kalau sudah sehat. Hari ini kata dokter aku harus ikut kemo lagi. Kau tahu Oppa? Kemo itu benar-benar sakiiiiiiit sekali. Tapi kata Ibu kalau aku tidak mau kemo aku tidak akan sembuh.”

Aku begitu iba melihatnya. Gadis kecil itu tidak sehat namun berusaha untuk bertahan hidup. Sedangkan aku yang sehat sudah menyia-nyiakan hidupku dengan mengonsumsi obat-obatan terlarang.

“Oppa percaya Nana pasti sembuh. Nana harus kuat ya,” kataku. Air mataku tiba-tiba mengalir begitu saja.

Nana mengangguk. “Oppa kenapa menangis? Oppa sudah besar harusnya malu kalau menangis. Nana pasti sembuh. Nana mau punya rambut panjang seperti barbie,” ujarnya sambil menunjukkan boneka barbie di tangannya.

Aku mengangguk-angguk. “Oppa sedih karena Oppa harus pulang dan tidak bertemu lagi dengan Nana,” kataku bohong.

“Nanti saat kita bertemu lagi rambut Nana sudah panjang. Dan Oppa jangan jatuh cinta padaku.”

Aku tertawa. Gadis kecil itu seperti tidak takut menghadapi kematian. “Kalau Nana tumbuh jadi gadis cantik Oppa pasti jatuh cinta pada Nana.”

“Kalau Nana sudah besar Oppa pasti sudah tua. Nana tidak mau!” Ujarnya sambil memanyunkan bibirnya.

Aku tertawa melihatnya.

Tiba-tiba ibu gadis kecil itu datang bersama seorang perawat yang membawa kursi roda.

“Nana jangan ganggu Oppa,” kata ibunya.

“Nana tidak nakal, Ibu,” jawab Nana manyun.

Aku tersenyum pada ibu Nana. Ibu Nana masih muda dan baru memiliki seorang anak yaitu Nana. Suaminya bekerja keras sepanjang hari dan akan datang menjenguk Nana saat gadis itu sudah tertidur pulas di malam hari dan pergi lagi pagi-pagi sekali saat Nana belum bangun.

“Nana hari ini ikut kemo ya biar cepat sembuh,” rayu sang perawat.

Nana berjalan menuju kursi roda yang dibawa perawat itu dan duduk di atasnya. “Oppa, Nana pergi kemo dulu ya. Sampai jumpa lagi, Hoseok Oppa.”

Aku mengangguk. “Nana harus kuat melawan penyakit Nana. Fighting!”

Nana tersenyum. Perawat itu mulai mendorong kursi roda Nana keluar. Aku hanya bisa menatap kepergian mereka. Aku kembali melihat jam dinding. Lama sekali Seokjin Hyung.

“Hoseok, maaf aku harus menjemput Eunjin lebih dulu,” suara seorang pria mengagetkanku.

Aku menoleh ke arah pintu dan melihat Seokjin Hyung dan Eunjin yang masih dalam balutan seragam sekolah tengah bergandengan tangan.

“Wow! Kalian berpacaran?” Godaku.

Seokjin Hyung dan Eunjin mendekatiku. Mereka tidak menjawab tapi hanya saling tersenyum malu.

“Geez! Apakah Taehyung tahu tentang ini?” Tanyaku penasaran.

“Oppa, jangan beritahu Taehyung Oppa, please,” pinta Eunjin.

Aku menggeleng-geleng. “Dengan alasan apa kalian menyembunyikan hubungan kalian pada Taehyung?”

“Aku… aku ingin memberitahunya tapi Eunjin tidak mengijinkanku. Dia bilang dia takut pada Taehyung,” jelas Seokjin Hyung.

“Hyung, kenapa kau setuju dengannya? Aku yakin Taehyung pasti ingin yang terbaik untuk Eunjin. Kalau dia melarang Eunjin berpacaran aku yakin dia punya alasan di balik semua itu,” ujarku.

“Hoseok, banyak hal yang kita tidak akan pernah tahu bagaimana ke depannya. Aku tahu Taehyung ingin melindungi Eunjin. Tetapi dengan dia semakin mengikat Eunjin, semakin kuat pula keinginan Eunjin lepas dari ikatan itu. Dia harus mengerti perasaan tidak bisa dipaksakan. Eunjin bukan gadis yang gampangan. Dia juga harus belajar mempercayai Eunjin,” terang Seokjin Hyung.

Aku menghempaskan nafasku berat. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Seokjin Hyung. Hanya saja aku kurang menyetujui caranya menutupi hubungan mereka.

“Terserah kalian saja. Aku akan pura-pura tidak tahu,” ujarku pasrah.

Eunjin dan Seokjin tersenyum. Aku tidak mengerti lagi apa yang ada di benak mereka berdua.

“Oh ya, ayo segera berangkat,” kata Seokjin Hyung sambil mengangkat tas berisi baju-bajuku. “Aku sudah memberesi semua administrasinya. Oh ya, kau setuju pulang ke rumahku bukan?”

Aku menolehnya. Beberapa hari yang lalu Seokjin Hyung menawarkanku tinggal bersamanya. Menurutnya aku masih perlu pengawasan dan di antara 6 member BTS yang lain hanya Seokjin Hyung yang mempunyai waktu paling luang. Itu sebabnya dia yang menawariku tinggal di tempatnya untuk sementara.

Aku mengangguk. Eunjin menggandeng tanganku dan membantuku berjalan. Kami keluar dari ruangan tersebut dan disapa oleh sang dokter dan beberapa perawat. Mereka mengucapkan selamat jalan padaku.

Setelah 30 menit perjalanan dengan menggunakan mobil, akhirnya kami sampai di apartemen Seokjin Hyung. Dia meletakkan tasku di kamar depan, kamar Hyung-nya yang sedang mengikuti wajib militer. Aku berbaring di tempat tidur karena kepalaku masih sedikit pusing.

“Kalau kau bosan kau bisa menonton TV. Lakukan apa saja sesukamu. Anggap saja rumah sendiri,” kata Seokjin Hyung padaku.

Aku mengangguk. Seokjin Hyung keluar dari kamarku. Aku menatap langit-langit kamar. Pikiranku melayang-layang kemana-mana. Tiba-tiba air mataku menitik. Aku teringat ibuku. Apa yang tengah dia lakukan hingga sedikitpun mengingat aku dan Noona, anak-anaknya. Semenjak ditinggal ayah menikah lagi dua tahun yang lalu, dia pergi entah kemana dan baru pulang sekali saat malam natal tahun kemarin. Dia bilang dia tinggal di New York bersama dengan kakaknya. Dan dia sempat mengajakku pindah kesana tetapi aku menolaknya. Terkadang aku menyesal harus dilahirkan dari keluarga seperti ini. Tapi aku percaya pasti semua ini sudah direncanakan oleh Tuhan dan akan ada masa depan yang lebih baik.

-Jung Hoseok POV End-

—000—

-Author POV-

Jungkook berjalan pelan mengikuti langkah Yeonkyung dari kejauhan. Dia begitu penasaran dengan karyawan Namjoon itu. Yeonkyung pun sama sekali tidak curiga ada seseorang yang mengikutinya diam-diam. Jungkook mengikutinya dari cafe Namjoon hingga turun di halte bus yang jaraknya lumayan dari cafe tempatnya bekerja.

Jungkook melihat seseorang yang tengah dibuntutinya itu masuk ke sebuah apartemen kumuh. Dia hanya bisa mengikutinya diam-diam. Saat melihat sosok yang dibuntutinya itu mengetuk pintu salah satu kamar di apartemen tersebut, Jungkook bersembunyi di dinding dekat tangga dan diam-diam mengintipnya.

“Ibu!” Seru seorang anak kecil yang keluar dari pintu tersebut.

Kedua mata Jungkook terbelalak. “Ibu?! Jadi dia perempuan? Lalu kenapa berpura-pura menjadi pria? Lalu, apa anak kecil itu benar anaknya?” Batin Jungkook.

Jungkook kembali mengintip mereka. Mereka berpamitan kepada pemilik kamar tersebut dan berjalan menuju pintu kamar di sebelahnya.

Jungkook mengerutkan keningnya. Dia benar-benar penasaran dengan Yeonkyung dan ingin mengenalnya lebih dekat lagi.

“Kau siapa?” Suara seorang wanita paruh baya mengejutkan Jungkook.

“Aku….”

“Hmmm… kau pasti ingin mencuri bukan?” Ujar wanita itu sambil memandang Jungkook dari atas ke bawah.

“Hei, Bibi. Kau tidak lihat aku memakai seragam sekolah elit? Untuk apa aku mencuri di tempat kumuh seperti ini?” Jawab Jungkook.

“Lalu kalau kau orang kaya untuk apa mengendap-endap ke sini hah? Jangan-jangan itu baju hasil mencuri di tempat orang kaya!”

“Oi, Bibi. Tampangku saja tidak terlihat orang miskin. Untuk apa aku-“

“Ada apa ini?” Seseorang memotong kata-kata Jungkook.

Jungkook dan wanita paruh baya itu menoleh. Ternyata orang itu adalah Yeonkyung. Jungkook hanya bisa nyengir aneh.

“Kau- kau teman Tuan Namjoon, bukan?” Tanya Yeonkyung.

“Yeonkyung, kau mengenalnya?” Tanya wanita paruh baya itu pada Yeonkyung.

Yeonkyung mengangguk. “Dia teman majikanku, Bibi Ahn.”

Jungkook menjulurkan lidahnya pada bibi paruh baya itu. Dan wanita paruh baya itu memandangnya kesal. “Dasar anak-anak orang kaya tidak tahu sopan santun,” gerutunya lalu berjalan menuruni tangga meninggalkan Jungkook dan Yeonkyung berdua.

“Boleh saya tahu ada keperluan apa Tuan kesini? Apa Tuan sedang mencari seseorang atau… tersesat?” Tanya Yeonkyung.

Jungkook menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Aku… aku…”

“Ibu, ayo buatkan aku bubur kacang merah.” Chaeryung, putra semata wayang Yeonkyung menghampirinya dan menarik-narik celana korduroi yang dipakainya.

“Maaf, Tuan. Aku harus kembali.” Yeonkyung membungkuk kemudian menarik tangan Chaeryung menuju ke dalam kamar apartemennya.

Jungkook hanya bisa memandangi Yeonkyung dan putranya hingga sosok mereka menghilang di sebalik pintu.

“Jadi dia benar-benar wanita? Berarti… aku mulai menyukai wanita?” Jungkook tersenyum senang. Dia bergegas berjalan keluar dari apartemen tersebut dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Dia tidak sabar ingin memberitahu Eunjin tentang hal ini.

—000—

Hyena membuka pintu kamar Yoongi dengan membawa segelas susu di tangannya. “Yoongi, ini susu pesananmu,” katanya saat melihat Yoongi tengah memainkan ponselnya sambil berbaring di tempat tidurnya.

Yoongi meletakkan ponselnya di nakas dan menyambut Hyena dengan senyuman lebar. “Kemari!” Perintahnya.

Hyena berjalan mendekati Yoongi dan menyerahkan segelas susu tersebut pada majikannya. “Ini, habiskan,” ujar Hyena sambil duduk di samping Yoongi.

Yoongi menerima gelas berisi susu tersebut dan meminumnya setengah gelas kemudian meletakkannya di nakas.

“Aku senang kau mulai mengonsumsi makanan dan minuman sehat. Aku ingin badanmu berisi, tidak kurus sekali seperti sekarang,” ujar Hyena.

Yoongi mengusap-usap pipi Hyena. “Aku melakukannya untukmu, Sayang,” jawabnya lirih.

Hyena menggeleng. “Kau… tidak boleh begitu. Kau harus melakukannya untukmu sendiri. Untuk kesehatan dan masa depanmu sendiri. Kau boleh menjadikanku motivasi, tapi jangan menjadikan aku alasan. Kita tidak akan pernah tahu rencana Tuhan. Karena aku tidak mau menjadi alasanmu jika suatu saat kau menemui kesulitan nanti.”

Yoongi menggedikkan bahunya. “Tapi aku ingin kita bersama-sama menghadapi kesulitan itu. Aku tidak ingin kehilanganmu, Hyena.”

Hyena menatap Yoongi tajam. Dia juga menginginkan hal yang sama. Walau dia sedikit ragu, apakah mereka sanggup menghadapinya bersama. Bukan Hyena pesimis, tapi dia tahu rintangan terbesar yang akan mereka hadapi nanti adalah restu orangtua Yoongi. Juga sanksi sosial dari orang-orang di lingkungan mereka. Komentar negatif dan juga pandangan masyarakat atas kesenjangan sosial mereka. Walaupun sekarang sudah jaman modern, tapi Hyena tahu kedua orangtua Yoongi masih memiliki pemikiran kolot.

Yoongi menarik tangan Hyena dan menyuruh gadisnya itu duduk di pangkuannya menghadapnya. Yoongi menangkup wajah Hyena dengan kedua tangannya. “Bisakah kau percaya padaku? Bukankah aku sudah pernah memberitahumu, jangan dengarkan orang lain. Aku hanya percaya padamu, kau juga harus percaya padaku,” ujar Yoongi lirih.

Hyena mengangguk. Yoongi selalu bisa menenangkannya dan berusaha membuatnya percaya diri. “Terimakasih, Yoongi.”

Yoongi tersenyum kemudian mengecup bibir mungil Hyena. “Manis.”

“Kau baru saja minum susu,” komen Hyena.

“Tapi bibirmu lebih manis. Membuatku ketagihan,” kata Yoongi terus-terusan mengecup bibir Hyena.

“Yoongi hentikan,” ujar Hyena.

“Kalau aku tidak mau?” Goda Yoongi masih terus saja mengecup bibir Hyena.

“Aku akan menghukummu!” Kata Hyena.

“Aku rela kau hukum apa saja asalkan bisa menciummu terus-menerus,” Yoongi meledek Hyena dengan membuat suaranya mengecil.

Hyena mencubit hidung Yoongi. “Kau ini!”

Yoongi tertawa. “Oh ya, Hyena, apa kau bisa menyanyi?”

Hyena menggeleng. “Aku… suaraku tidak indah, Yoongi.”

“Benarkah? Coba kau menyanyi. Aku ingin sekali-kali mendengar kekasihku ini menyanyi,” ujar Yoongi sambil mencubit pipi Hyena.

“Umm… aku akan mencoba tapi kau jangan tertawa mendengar suaraku yang… hancur,” jawab Hyena.

Yoongi tertawa. “Suara apapun yang keluar dari bibirmu, aku pasti menyukainya. Kau berbicara, kau menyanyi, dan yang paling aku suka… kau mendesah,” goda Yoongi.

Hyena memukul lengan Yoongi. “Kau ini terus saja genit seperti itu.”

Yoongi mencubit pipi Hyena. “Aku tidak begini dengan orang lain. Aku hanya begini jika bersamamu, Hyena. Oh ya, katanya kau mau menyanyi. Ayo menyanyi untukku!”

Hyena tersenyum sambil mengusap-usap pipi Yoongi.

Eojjeomyeon na
Nan neo bakkae mollaseo
Dareun sarang hal su eobnabwa
Jakku nae mami isanghae
Neol gidarigo ittneunde
Neoneun ajikdo nae mameul moreunabwa

Yoongi bertepuk tangan. “Ternyata kekasihku ini tidak hanya pandai memasak, berberes rumah, dan mengurusku. Dia juga pandai menyanyi. Membuatku semakin tergila-gila padanya,” puji Yoongi sambil mengecup bibir Hyena berkali-kali.

“Yoongi hentikan! Kau terus-menerus menciumku,” kata Hyena.

“Suaramu indah sekali, Sayang. Kau tidak berniat ikut audisi di agensi-agensi musik?” Tanya Yoongi. “Kau juga cantik. Badanmu juga bagus. Sepertinya sayang kalau disia-siakan.”

Hyena menggeleng. “Aku ingin menyanyi untukmu saja, Yoongi. Tapi… selera musik kita berbeda. Kita… benar-benar berbeda dalam segi apapun Yoongi,” ujar Hyena tertunduk sedih.

Yoongi menaikkan dagu Hyena dan membuat gadis itu menatapnya. “Hyena, kau tahu sepatu? Pasangan terbaik itu sama seperti sepasang sepatu. Bentuknya tak sama persis, tapi serasi. Saat dipakai untuk berjalan tak pernah kompak berdampingan, tapi memiliki tujuan yang sama. Posisinya juga tidak bisa berganti, kanan di kanan, kiri di kiri, tapi saling melengkapi. Dan apabila yang satu hilang, maka yang lain tidak memiliki arti. Aku ingin hubungan kita seperti sepasang sepatu. Berbeda tapi saling melengkapi,” terang Yoongi.

Kedua mata Hyena berkaca-kaca. Dipeluknya erat-erat kekasihnya itu. Dia tahu Yoongi adalah pria yang serius dan bertanggungjawab. Walau seringkali dia ragu akan hubungan mereka, namun Yoongi selalu membesarkan hatinya dan berusaha meyakinkannya.

“Hyena… seberat apapun masalah yang akan kita hadapi, aku yakin kita mampu menyelesaikannya berdua. Percaya padaku,” ucap Yoongi lirih.

Hyena mengangguk-angguk. “I trust you!”

-Author POV End-

—000—

-Jeon Jungkook POV-

Malam ini hanya aku, Jimin Hyung, dan Namjoon Hyung yang datang ke Paraiso. Seokjin Hyung sibuk merawat Hoseok Hyung, Yoongi Hyung malas keluar, sementara Taehyung Hyung mengantar Eunjin shopping.

Aku duduk di samping Namjoon Hyung yang sibuk menonton para penari erotis. Malam ini Sangeun tidak tampil. Dia seperti orang stress karena terus-menerus menyulut rokoknya dan berdecak tidak jelas. Sementara Jimin Hyung tampak menikmati tarian penari tersebut.

“Hyung, kau tidak apa-apa?” Tanyaku pada Namjoon Hyung.

Namjoon Hyung hanya melirikku dan kembali sibuk menghisap rokok di tangannya.

“Hyung, kalau ada masalah berbagilah,” kataku padanya.

Namjoon Hyung menghempaskan asap rokok yang dihisapnya ke udara. “Kau… tahu apa tentang kehidupan Jeon Jungkook. Kau masih terlalu muda untuk mengetahui masalahku,” jawabnya.

“Tapi, Hyung, kita ini satu tim. Aku tahu mungkin aku belum banyak pengalaman sepertimu tapi setidaknya dengan berbagi, beban yang kau miliki akan lebih ringan,” ujarku.

Namjoon Hyung menepuk-nepuk bahuku. “Kau lebih dewasa sekarang, Jungkook. Tapi untuk masalah ini aku belum bisa berbagi denganmu. Tapi aku janji aku akan menceritakannya padamu nanti.”

Aku menghempaskan nafasku berat. “Baiklah. Oh ya, Hyung, karyawanmu yang bernama Kyung itu… dia… wanita?”

Namjoon Hyung mematikan puntung rokoknya di asbak. “Kau, tahu darimana?” Tanyanya heran.

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. “Aku… aku mengikutinya, Hyung. Ternyata dia tinggal di sebuah apartemen kumuh. Dan aku melihat seorang anak kecil memanggilnya dengan sebutan ‘ibu’. Dari situ aku baru tahu kalau dia adalah seorang wanita.”

Namjoon tertawa terbahak-bahak. Membuat Jimin Hyung yang tadinya cuek, mendekat dan ingin tahu.

“Ada apa?” Tanya Jimin Hyung. “Ada hal yang menarik kah?”

Namjoon Hyung masih terus saja tertawa. Membuatku sedikit kesal. Jimin Hyung menyenggol bahuku dan mengerutkan keningnya. Seolah-olah bertanya apa yang tengah terjadi.

Namjoon Hyung menghentikan tawanya kemudian merangkulku. “Kyung memang seorang wanita. Nama lengkapnya Oh Yeonkyung. Dia adalah seorang janda muda. Suaminya meninggal dua tahun yang lalu. Dan sekarang dia tinggal bersama putra semata wayangnya, Chaeryung.”

“Kyung? Kyung siapa? Aku tidak mengerti siapa yang kalian bicarakan,” tanya Jimin Hyung bingung.

“Kyung adalah kepala karyawan di cafe-ku. Dia memang selalu berpenampilan seperti pria,” jawab Namjoon Hyung.

“Hyung, apa kau tahu kenapa Kyung melakukan hal itu? Maksudku, menyamar menjadi pria,” tanyaku.

Namjoon Hyung menghempaskan nafasnya. “Kyung bilang, dia sangat mencintai suaminya yang telah meninggal. Dia tidak ingin ada orang lain yang menggantikan posisinya. Itu sebabnya dia menutup dirinya. Aku juga pernah menyarankan agar dia membuka hatinya dan menikah lagi, tapi dia tetap bersikukuh dengan pendiriannya.”

Ah, jadi begitu alasannya. Tapi sungguh hal itu membuatku sedih. Tanpa perlu penjelasan panjang lebar aku sudah bisa menarik kesimpulan kalau aku tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendekatinya.

“Berarti… aku tidak memiliki kesempatan lagi?” Tanyaku sedih.

Namjoon Hyung kembali menyalakan koreknya dan menyulut sebatang rokok di mulutnya. “Sesungguhnya Kyung memiliki pribadi yang hangat. Dia juga cerdas. Tetapi aku yakin akan ada masanya untuk membuka hatinya. Dia masih muda, Jungkook. Aku yakin dia akan merindukan belaian seorang pria. Tapi aku harap kau pelan-pelan mendekatinya,” saran Namjoon Hyung.

Jimin Hyung juga ikut menepuk-nepuk bahuku. “Kalau butuh bantuan, kau bisa bertanya padaku. Aku sangat pandai merayu wanita. Haha,” kata Jimin Hyung.

Aku ikut tertawa. “Hyung, mohon bantuannya,” ujarku senang.

Jimin Hyung dan Namjoon Hyung mengusap-usap kepalaku. Ya, mereka selalu bersikap manja kepadaku karena aku adalah yang paling muda di antara anggota BTS yang lainnya.

-Jeon Jungkook POV End-

—000—

-Park Jimin POV-

Aku duduk bersandar di headboard ranjang Rose. Dia juga duduk dengan kepala bersandar di dadaku. Kami kelelahan setelah menghabiskan waktu untuk bercinta. Aku benar-benar merindukannya. Merindukan kecantikannya, tubuhnya, desahannya.

“Rose…,” bisikku di telinganya.

“Hmm?” Rose memainkan jemariku.

“How long you had been here?” Tanyaku.

Rose mengerutkan keningnya. “What do you mean?”

“You live in Korea. How long?”

“Umm… almost 3 years.”

“Can you speak in Korean?”

“I can’t. I mean, Madam Celine also Spaniard. She’s always speak in Spanish to me. And I’m not that close with the others. I thought… I only understand ‘Oppa, saranghae’,” jawabnya kemudian tertawa.

Aku ikut tertawa. “What’s the mean of ‘Oppa’?”

“Umm, I don’t know how to say it in English. But it’s kind of ‘older brother’, isn’t it?” Jawabnya.

“Yeah. But only women who can call ‘Oppa’,” ujarku. “And, how about ‘saranghae’?”

“It’s ‘I love you’, right?”

“I love you too.”

Rose memutar bola matanya. “Geez! Jimin…”

“Rose…”

“Gosh! I’m serious Jimin…”

“So do I.”

Aku melihat dia hanya terdiam. “Rose…,” bisikku lirih. Lagi-lagi dia tidak menjawab.

“You have to know that in Korean, ‘sa’ means ‘die’, ‘rang’ means ‘together’, and ‘hae’ means ‘doing’. So if there’s someone say ‘saranghae’ to you, it means ‘let’s die together’ or ‘let’s live until die together’,” paparku.

Rose menolehku. “Really? Eww, simple word but has deep meaning.”

“Yeah,” anggukku. “Rose….”

“Hmm?”

“Saranghae,” ujarku sembari memeluknya erat-erat dari belakang.

Rose mengusap-usap rambutku. “Jimin… I’d already told you before. Don’t fall in love with me.”

“I don’t care. I’d already fell in love with you,” jawabku sambil menghirup aroma mawar tubuhnya.

“We’re just met for several times. How come you love me?”

“I don’t know. I was slept with other sluts before. But I never have conversation after I fucked them. It’s pure for sex activities only. But after I met you, I don’t know why but I want to know you better. And everytime I saw you when we had sex, I feels like there’s butterflies in my stomach,” kataku sambil menciumi pipinya.

Gadis di depanku itu tidak menjawab. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Tapi sepertinya cintaku padanya bertepuk sebelah tangan. Benar-benar sulit menaklukkan gadis ini.

“I wish I could loving you back,” jawabnya lirih.

Dan aku hanya bisa mendesah kecewa.

—TBC—

A/N :
Dear readers ffside. Makasih yah buat yg udah nungguin ff author. Maaf lama, tpi kalau kalian mu baca ff author yg lain bisa cek di akun wattpad author @lingkyu88
Makasih juga buat admin-nim yg udah support ff abal author.. 😘😘

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

6 thoughts on “FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 7

  1. Entah kenapa ai yakin Rose itu Minyoung *soktau
    Btw Suga katakatanya manis, jadi berasa ai yang digituin(?) ama Suga bhahahakk

    Tapi part ini kayaknya rada pendek ya? Apa karena gada nc nya? *otak yadong ketauan kkk~
    Oke segitu aja, keep writing thor.. Ai tunggu part selanjutnya! #cipokbasahauthor

  2. Wow jangan” taehyung tau..klo minyoung itu rose..dan aku ykn kayanya minyoung th rose.. klo bner haha sh jimin cintanya bertepuk seblah tangan dong..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s