FF oneshoot/ A CONFESSION/ EXO


PhotoGrid_1453245396633.jpg

Author : @Yunietananda (IG, Twitter)

 

Title : A CONFESSION

 

Main Cast : Kim Jongdae / Chen (EXO), Park Eun Jung (Fiction Cast).

 

Other Cast : –

 

Genre : Angst, Sad.

 

Rating : PG – 17

 

Lenght : Oneshoot

 

Disclaimer : EXO’s Chen mutlak milik Keluarga, SMEnt dan EXO-L. Alur cerita beserta fiction cast murni karangan / ciptaan author. No Plagiat! Jika ditemukan kesamaan nama, karakter, watak, waktu dan tempat merupakan unsur ketidak sengajaan. Harap untuk tidak mengCopy Paste sebuah hasil karya orang lain.

 

Author Notes : FF ini aku tulis saat kegilangan ide, namun keinginan menulis sangat tinggi. Jadi, maaf jika cerita akan serasa absurd. Selamat membaca, dan di tunggu komentar, kritik, dan sarannya. Trims.🙂

 

Story :

 

A CONFESSION

 

(Author POV)

 

Rasa bosan menyergap namja yang sejak beberapa hari lalu hanya bisa berbaring di ranjangnya. Ia juga tak bisa leluasa membolak balik badannya seperti biasa lantaran terdapat sebuah selang di tangan kirinya. Ya, hampir sepekan namja yang merupakan member EXO itu harus mendapatkan perawatan medis pasca kecelakaan saat tampil yang membuat kakinya cidera, selain itu ia juga mengalami kelelahan selama menjalani World Tour yang membuatnya harus menjalani istirahat total.

 

2 jam kemudian, tampak di sebuah lorong rumah sakit seorang namja yang sedang kesulitan berjalan. Bagaimana tidak? Tangan kanannya memegang tongkat yang membantunya berpijak karena kaki kanannya belum pulih, sedangkan tangan kirinya sibuk mendorong tiang infus. Chen, begitulah ia biasa disapa. Saat ini ia berniat mencari udara segar untuk mengusir kejenuhan yang dirasakannya. Namun langkah kakinya terhenti sejenak saat sekelompok tenaga medis dengan sigap nan cepat mengeluarkan pasien yang terlihat kritis dari sebuah kamar VVIP menuju ruang ICU. ‘Kasihan sekali dia, semoga saja semua berjalan lancar.’ Gumam namja kelahiran ’92 itu bersimpati dalam hati.

 

“Nuguseyeo?” Seru Chen terkejut disuatu pagi kepada sesosok yeoja yang duduk tepat di samping ranjangnya.

“Annyeong!” sapa yeoja yang mengenakan pakaian sama dengan Chen, baju seorang pasien.

“Kamu?” Gumam namja itu mencoba mengingat wajah yeoja bersurai cokelat yang terasa tak asing.

“Aku pasien kamar 207, tempo hari sebelum aku masuk ruang ICU rasanya aku sempat melihat Oppa berdiri di pintu kamarku. Aku kira itu hanya mimpi, tapi kata suster yang merawatku, Oppa benar – benar dirawat disini.” Ujar anak itu dengan santainya.

“Kamu mengenalku?”

“Dwae, aku ini penggemarmu Oppa!”

“Jinca? Lalu kenapa kamu masih disini? Apakah penyakitmu parah?”

“Leukimia.”

“Mwo?”

“Kenapa Oppa shock mendengarnya?”

“Hya! Bagaimana kamu bisa sesantai ini?” Kali ini Chen benar – benar tercengang melihat lawan bicaranya itu.

“Lalu aku harus bagaimana? Menangis? Meratapi nasib? Atau menyalahkan Tuhan? Tentu saja aku harus menikmatinya Oppa. Lantas apa yang terjadi padamu Oppa? Kenapa Oppa belum keluar juga dari rumah sakit? Apa cideramu parah?” Omel gadis itu.

“Aku tidak akan memberitahumu.” Celetuk Chen sambil tersenyum, sedangkan wajah yeoja itu terlihat masam. Tak lama waktu berselang seorang perawat membuka pintu kamar Chen dengan wajah penuh amarah, terlebih saat menatap yeoja itu.

“Baiklah Oppa, waktunya aku pergi!” Pamitnya.

“Jamkkamman, siapa namamu?” Tanya Chen.

“Park Eun Jung.”

 

Sejak saat itu Chen sering terlihat bersama Park Eun Jung, fans sekaligus tetangga sebelah tempat ia dirawat. Perasaan suntuk yang tadinya menghinggapi Chen, perlahan memudar setelah berbincang – bincang dengan Eun Jung. Awalnya mereka hanya sering pergi ketaman (di rumah sakit), lambat laut mereka berdua adalah pembuat onar disana. Tak hanya satu atau dua kali mereka ketahuan melakukan balapan dengan kursi roda tapi hampir setiap hari. Dan itu yang membuat mereka menjadi couple versi para perawat, dokter ataupun petugas keamanan disana.

.

.

.

Semakin hari pemulihan cidera yang diderita Chen mengalami kemajuan pesat. Namun hal sebaliknya justru menimpa Eun Jung. Gadis itu harus beberapa kali keluar masuk ruang ICU. “Kondisinya belum stabil.” begitulah jawaban hampir semua petugas medis saat Chen menanyakan keadaan Eun Jung didalam ruangan yang tak sembarang orang boleh memasukinya.

 

Darah terus menerus keluar dari hidung yeoja bermata indah itu, dengan cepat ia menyekanya lalu menengadahkan kepalanya keatas berusaha menghentikan pendarahan saat mendengar langkah kaki mendekati ranjangnya.

 

“Neo gwaenchana?” Tegur namja bertinggi badan 173 cm tersebut sedikit cemas.

“Nan gwaenchana.” Jawab Eunjung menyembunyikan rasa nyeri yang dirasa dengan senyumannya.

“Jika itu sakit, katakanlah sakit. Kau tidak perlu berbohong pada orang lain.”

“Ani! Nan gwaenchana Oppa, jinca gwaenchana!” Eunjung masih mencoba menutupi rasa sakitnya. Chen sangat tahu bahwa yeoja itu berbohong. Terlihat dari gerak gerik Eunjung yang diam – diam menggigit bibir pucatnya sendiri.

“Aku akan memanggil dokter!”

“Sirheoyeo!” Tolak Eunjung.

“Wae?”

“Aku tidak mau kembali kesana Oppa! Disana sangat sepi dan dingin. Berada di ruang ICU membuatku takut dan merasa dekat dengan kematian. Aku tahu semua orang pasti akan mati, tapi aku tidak ingin mati disana dalam keadaan kesepian.” Ujar Eunjung yang kali ini diikuti derai air mata.

“Tenanglah! Kau yeoja yang baik, kau pasti sembuh.” Chen mencoba membesarkan hati yeoja yang kini menangis dalam pelukannya.

“Gomawo Oppa, Jal Ga!” Celetuk Eunjung yang membuat Chen merasa tak enak hati.

“Mianhae, Eunjung-a. Aku harus pergi.”

“Arasseo.”

“Kau jangan khawatir, aku akan sering berkunjung kesini.” Hibur Chen.

“Andwae! Itu akan menimbulkan rumor, sebaiknya Oppa fokus saja berlatih. Jika nanti aku sembuh, aku yang akan mengunjungi Oppa. Berjanjilah bahwa Oppa akan sering berada di acara TV ataupun majalah agar aku bisa mengetahui kabarmu dari sini.”

“Baiklah, aku janji.”

 

Waktu terus bergulir, sebisa mungkin Chen berusaha menepati janji kepada Eunjung. Ia tak ingin membuat yeoja itu merasa kesepian. Oleh sebab itulah sering kali Chen mengirimkan Voice Note untuk menyemangati Eunjung meskipun tak pernah dibalas.

 

Belakangan ini perasaan Chen tak tenang saat Voice Note yang dikirim tak dibuka oleh Eunjung. ‘Apakah dia masuk ICU lagi? Apakah kondisinya menurun?’ sepanjang fansign hari ini, pikiran namja bernama asli Kim Jongdae hanyalah tentang Eunjung.

.

.

.

 

Langkah itu menyusuri koridor rumah sakit dengan sangat cepat. Hanya ada pikiran negatif yang memenuhi otaknya, membuat rasa khawatir itu kian besar. ‘Jangan ICU! Kumohon jangan ICU!’ gumam Chen bermaksud memanjatkan doa setelah mendapati kamar 207 sudah berganti penghuni.

 

“Kim Jong Dae-ssi?” Seru seorang perawat.

“Ah annyeonghaseyo.”

“Apa yang sedang anda lakukan disini?”

“Noona, dimana Park Eunjung? Kenapa dia tidak berada di kamarnya?Apa dia sedang berada di ruang ICU.”

“Ani, Park Eun Jung sudah pergi.”

“Mwo?” Mendengar ucapan perawat itu kaki Chen tiba – tiba serasa lemas dan hampir tak mampu menompang berat tubuhnya.

“Neo gwaenchana?” Perawat itu panik saat Chen terduduk lunglai dan mengeluarkan air mata. “Joesonghabnida, sepertinya kamu salah mengartikan maksudku.” Lanjut perawat tadi.

“Huh?”

“Park Eun Jung sudah pergi dari rumah sakit ini, kondisinya berangsur membaik dan dokter mengijinkannya untuk beristirahat di rumah.” Penjelasan Noona yang merawat Eunjung itu akhirnya membawa senyum kelegaan di wajah Chen.

“Joesonghabnida Noona, terima kasih atas infonya.” ujar Chen sedikit malu dan salah tingkah. Kini Lead Vocal EXO-M tersebut bisa merasa lega mengetahui keadaan yeoja yang menemaninya selama di rumah sakit.

 

6 Bulan kemudian…

 

“Oppa!” Suara itu serasa familiar di telingah Chen.

“Eunjung-a!” Sahut namja itu sedikit terlambat karena harus mengenali ulang wajah yeoja bertopi rajut didepannya. “Bagaimana kabarmu?” imbuh Chen ramah.

“Aku baik, bagaimana dengan Oppa?”

“Na tto. Maaf aku hampir tidak mengenalimu dengan penampilan seperti ini.”

“Haruskah aku menghadiri fan sign dengan seragam rumah sakit lain kali?”

“Hya! Kau ini bicara apa?”

“Hehehe aku bercanda. Senang bisa melihatmu lagi Oppa.” Ujar Eunjung sambil tersenyum.

“Neo gwaenchana?” Tanya Chen amat panik lantaran hafal dengan senyuman palsu itu.

“Nan gwaenchana.” Jawab yeoja yang mulai mengeluarkan darah dari hidungnya. Spontan Chen melompat dari kursinya lalu berusaha menompang tubuh lemah tersebut. “Mianhae Oppa. Naneun… johae.” Gumam Eunjung lalu tak sadarkan diri.

 

Berita tentang fans yang jatuh pingsan saat fansign EXO dengan cepat tersebar luas. Terlebih saat yeoja penderita Leukimia itu menutup mata untuk selama – lamanya. Puluhan EXO – L terlihat memadati rumah duka silih berganti. Dan Chen, namja itu berdiri menyambut para pelayat sebagai pihak keluarga yang berduka. Sekalipun pertemuan keduanya sangat singkat, namun Chen memiliki perasaan lebih terhadap Eunjung.

“Aku juga menyukaimu.” itulah kalimat yang dibisikkan oleh Chen kepada Eunjung selama yeoja itu dirawat diruang ICU hingga menghembuskan nafas terakhirnya.

 

-FIN-

 

By Yunietananda

25.12.2015

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

2 thoughts on “FF oneshoot/ A CONFESSION/ EXO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s