FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 6


PicsArt_1434709030654

Author : AL lee

Title : DARK BLUE DREAMCATCHER

Cast :

  • Jang Woo Ren (OC)
  • Min Yoongi
  • Jung Hoseok
  • Park Jimin
  • Kim Soekjin
  • Kim Namjoon
  • ect

Genre : School life, romance, comedy(?), sad(?)

 

Hoseok pov

Matahari mulai menampakkan dirinya dan memberikan sinarnya yang hangat ke bumi. Dengan langkah santai aku menapaki lapangan sekolah sambil memainkan kunci motorku, tanganku yang satu lagi ku taruh di saku celanaku.

Semua mata teralih padanya begitu dia masuk ke dalam gerbang sekolah. Aku juga ikut menolehkan kepalaku seperti yang dilakukan semua murid yang ada di lapangan, melihat ke arah orang itu. Dia menjalankan motornya ke parkiran sekolah. Dia adalah gadis yang disebut sebagai Cool girl. Dia selalu seperti itu, memakai jaket kulit berwarna cokelat mudanya, sepatu sport birutua, celana treining yang tanggung itu dan kaus kaki semata kaki sehingga kulitnya putihnya sedikit terlihat. Hey tunggu! Apa itu di kakinya? Ada sesuatu di atas mata kakinya, bentuknya seperti garis yang sedikit menyerong. Itu seperti… Luka.

Aku kembali melanjutkan langkahku. Sebeanrnya apa yang menarik darinya sampai seisi sekolah membicarakannya. Ya walaupun sebenarnya aku penasaran siapa dia sebenarnya. Entah hanya perasaanku saja atau memang begitu, tapi aku merasa tidak asing padanya. Entahlah….

Woo Ren pov

Terdengar bunyi bel pertanda dimulainya pelajaran. Aku keluar dari toilet, menghampiri cermin besar di hadapanku. Ku rapikan seragam dan rambutku. Aku mengeluarkan sepatu sekolahku dari dalam tas. Ku buka sepatu sport birutuaku dan hendak menggantinya dengan sepatu cokelatku. ‘Ah iya, kaus kakinya!’ aku hampir saja lupa mengganti kaus kaki pendekku ini. Ku rogoh isi tasku mencari kaus kaki panjang yang setiap hari ku bawa untuk mengganti kaus kaki pendek yang ku pakai dari rumah. ‘Eh… tidak ada.’. Ah aku lupa membawanya. Ya… aku ingat aku tak memasukkan kaus kaki yang baru untuk ku ganti di sekolah. Ya sudah apa boleh buat.

Setelah merapikan penampilanku aku bergegas keluar dari kamar mandi. Dengan sedikit berlari aku menuju kelasku yang ada di lantai tiga. Ku perhatikan kaki jenjangku, apa jika seperti ini tidak akan ada yang mengenaliku atau mencurigaiku sebagai Cool girl? Ah biarkan saja, itu tidak akan terjadi. Masa hanya karena aku memakai kaus kaki pendek ada yang mengenalinya? Lagi pula yang memakai kaus kaki semata kaki bukan hanya aku.

Hoseok pov

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang ketika aku hendak masuk ke dalam kelas. setelah ku toleh ternyata Jimin. Dia masih menggunakan tasnya, apa itu artinya dia juga baru datang? Tidak biasanya dia baru datang di jam begini. Ya… sama denganku, aku juga tidak biasanya datang di jam seperti ini. Ini kerena aku terlambat bangun karena menonton pertandingan sepak bola semalam. Aku tidak ingin melewatkannya apa lagi yang bertanding adalah kesebelasan favoritku, Barca. Yeah, sepak bola adalah duniaku.

“Kau baru datang juga Hoseok?”

“Hm. Kau kenapa baru datang jam segini?”

“Ah… itu karena semalam aku menonton pertandingan sepak bola. Barca vs Juventus, aku tidak mungkin melewatkannya. Kau sendiri kenapa baru datang?”

“Alasannya sama sepertimu.”

Kami sampai di meja kami masing-masing. Setelah menaruh tasku dan duduk aku memutar badanku menghadap ke belakang karena Jimin dan Namjoon duduk di belakangku. Aku dan Jimin kembali membicarakan pertandingan sepak bola semalam.

“Ya! Kalian bisa tidak jangan membicarakan sepak bola saat ada aku?” protes Namjoon

“Tidak bisa kali ini. Pertandingan semalam benar-benar seru.”

“Jeongmal? Se-seru apapun itu bisakah kalian membicarakannya nanti saja?”

“Aigoo kau ini namja atau bukan Namjoon-ah? Semua namja membicarakan sepak bola tapi kau malah tidak menyukainya.”

Aku hanya bisa tersenyum melihat kedua sahabatku yang berdebat hanya karena masalah sepele. Sebeanrnya ini soal selera, Jimin menyukai sepak bola sama seperti ku. sedangkan Namjoon menyukai dunia hiphop. Nanmjoon lebih memilih mengikuti klub musik ketimbang klub olahraga seperti aku dan Jimin. Dia bilang baik sepak bola ataupun basket, itu tidak ‘SWAG’.

“Ya Park Jimin! Ke jantanan seorang namja tidak ditunjukkan oleh olahraga yang digemarinya.”

“Oh ya, aku tau kau bahkan tak suka olah raga. Lihatlah Namjoon! Karena kau tak suka berolah raga lemak ditubuhmu jadi menebal, bahkan bibirmupun ikut menebal.”

“YA!”

“Hey sudah-sudah.” Aku melerai perdebatan mereka

Mereka saling memalingkan wajah ke arah yang berlawanan, seperti anak kecil saja mereka. Beberapa detik kemudian Namjoon menoleh ke arah pintu kelas dan entah mengapa air mukanya berubah. Aku menoleh dan yang ku lihat adalah Minah yang baru saja memasuki kelas lalu duduk di bangkunya yang ada di depan. Aku kembali melihat Namjoon, dia masih memandangi Minah. Apa yang sebenarnya dia lihat? Apa dia memperhatikan Minah atau yang lainnya.

“Namjoon, kau sudah buat pr bahasa Inggris?”

Dia tak menjawab pertanyaanku dan tetap memandang ke depan.

“Namjoon?” panggilku lagi

Jimin yang mendengar pertanyaanku dan tidak digubris Namjoon menoleh pada laki-laki yang duduk di sampingnya itu.

“Ya!” Jimin menegur Namjoon. Sama seperti ku, Jimin juga tak di dengarkan oleh Namjoon

“KIM NAMJOON!” Jimin berteriak di telinga Namjoon

Seketika Namjoon memasang jurus taekwondonya dengan menyilangkan tangannya depan dada dan mengarahkannya pada Jimin di sebelahnya. Sontak Jimin memundurkan badannya dari Namjoon.

“Ya! Kenapa kau memasang jurus taewondomu padaku?”

“Kenapa kau berteriak di telingaku? Aku tidak tuli!”

“Tidak tuli bagaimana? Kau tidak mendengar panggilanku dan Hoseok.”

“Oh jinjja? Kapan kalian memanggilku?”

“Hah… sudah ku bilang kau itu tuli.”

“Mianhae, aku tidak menyadarinya.”

Sikap Namjoon aneh sekali. Apa yang membuatnya tidak mendengar panggilanku dan Jimin dalam jarak sedekat ini? bahkan dia tidak menyadarinya. Aku menoleh ketika seseorang duduk di kursi yang ada di sampingku. Wooren, dia memandang ke depan dengan wajah datarnya. Dia terus terdiam padaku sejak kejadian dua hari yang lalu, aku tidak tahu kenapa dia sampai semarah itu padaku. Yang ku ingat waktu itu dia terus memegangi kakinya setelah dia menepis tanganku kuat-kuat.

Park seonsaengnim masuk ke dalam kelas. Semua murid di dalam kelas ini langsung duduk di bangkunya msing-masing dan terdiam. Dengan sedikit basa-basi sebagai pembukaan beliaupun segera menyuruh kami membuka buku paket kami masing-masing.

Alih-alih mendengarkan penjelasan Park ssaem, aku malah melirik Wooren yang terdiam menatap buku di hadapannya. Awalnya aku hanya tak sengaja meliriknya tapi sekarang aku jadi memperhatikannya. Ada yang berbeda dari penampilannya hari ini. Setelah ku telusuri ternyata dia tidak memakai kau kaki selutut seperti biasanya, dia memakai kaus kaki pendek semata kaki sehingga kulit putih mulus kaki jenjangnya itu terlihat.

Eh apa itu?’ tak sengaja aku melihat segores luka yang cukup panjang diatas mata kakinya. Luka yang sepertinya baru mengering. Aku baru tahu dia punya luka di kakinya, mungkin karena kakinya selalu terbalut kaus kaki putihnya. Tapi luka itu…. Aku membelalakkan mataku. Pandanganku beralih pada wajahnya. Dia menoleh menatpku dengan wajah datarnya.

*****

Woo Ren pov

Kenapa Hoseok sedari tadi memperhatikanku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan penampilanku? Bahkan dia beberapa kali memperhatikan kaki dan wajahku secara bergantian. Oh mungkin karena ini pertama kalinya dia melihat aku memakai kaus kaki semata kaki.

“Wooren-ah, apa kau mau ke kantin?”

Aku mendongakan kepalaku menatap Minah yang baru saja menghampiriku, “Iya. Kau mau ke kantin bersamaku?”

“Ne. Kajja!”

Hari ini Hana tidak masuk, temanku ini jadi sendirian duduk di kursinya. Aku memang terkenal dingin bahkan aku terkesan tak punya teman karena aku lebih sering sendirian dari pada bersama teman. Tapi aku punya teman yang setidaknya cukup dekat denganku, ya walaupun tidak terlalu dekat. Dia adalah Minah, hanya dia orang yang aku percaya dan bisa membuatku nyaman. Tapi tetap saja dia tak tahu seluk beluk tentang diriku, aku hanya bercerita yang kiranya pantas untuk diceritakan kepada seorang teman.

Setelah mendapatkan makan siang kami memilih tempat duduk yang ada di dekat jendela. Kami duduk saling berhadapan.

“Wooren-ah, aku dengar kemarin pagi kau dan Yoongi sunbae sarapan bersama.”

Seketika aku menghentikan proses makanku. Yoongi… aku kesal sekali mendengar nama itu. Dia orang yang telah mempermainkanku, dia sudah menurunkan harga diriku. Dia pikir aku perempuan macam apa yang bisa diciumnya semaunya, ya walaupun dia hanya mencium pipiku sekilas.

“Kau tidak ke kantin bersamanya? Apa dia tidak mengajakmu?”

“Minah…” dia menatapku dengan wajah polosnya

“Menurutmu itu benar? Maksudku… Apa kau benar-benar percaya pada omong kosong itu?”

“Omong kosong?”

“Hey ayo lah… Aku bukan yeojachingu-nya. Kami tidak berpacaran. Kenapa kau ikut mempercayai hal itu?”

“Mwo? Aku kira kau… Ah mianhae, bodoh sekali aku mempercayai hal itu.” dia tertawa ringan

“Gwenchana.” Aku tersenyum padanya lalu kembali memakan makananku

“Mmm… Wooren-ah, kau tau Kim Soekjin sunbae kan? Teman dekat Yoongi sunbae.”

Aku hanya mengangguk sambil mengunyah makananku.

“Apa menurutmu dia tampan?”

Aku mengernyit. Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba dia menanyakan hal semacam ini?

“Molla.” Jawabku asal

“Aish kau ini. Kau tidak bisa menilai fisik seseorang eoh?”

“Entahlah, aku hanya lupa wajahnya.” Alasan yang tidak masuk akal

“Kalu begitu lihat itu! Lihat ke sana, dia ada di sana.” Minah mengarahkan pandangannya ke arah belakangku dan memberi isyarat agar aku melihat ke sana

Aku menoleh ke belakang. Cukup jauh, di dekat tembok sana ada Soekjin sunbae yang sedang memakan makanannya sambil berbicara pada Yoongi di hadapannya. Seketika aku menyadari kalau Yoongi sedang melihat ke arahku, sepertinya memang sedari tadi atau mungkin bahkan sebelum aku menoleh ke arah mereka. Dia seolah tak mempedulikan soekjin yang sedang berbicara padanya, dia malah menatapku. Aku membalas tatapannya dengan sinis lalu kemmbali menghadap ke depan.

“Ottae?”

“Hm, kyeopta.”

“Apa dia orang yang dingin seperti Yoongi sunbae?”

“Mana aku tahu.” Ada-ada saja pertanyaannya

*****

Author pov

Bel pulang berbunyi. Semua murid bersiap untuk pulang. Dibangkunya Wooren sedang membereskan buku-bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas. Suasana kelas menjadi riuh ketika Kim seonsaengnim keluar dari kelasnya. Termasuk dua orang yang duduk di belakangnya, Jimin dan Namjoon, mereka berisik membicarakan Ipod keluaran terbaru. Sedangkan Hoseok yang biasanya ikut-ikutan menjadi bianng keributan bersama dua sahabatnya itu hanya diam sambil memasukkan bukunya ke dalam tas. Minah menghampiri Wooren ke tempatnya.

“Wooren-ah, apa kau bisa mengantarku ke mall setelah ini?”

Entah mengapa begitu Minah berbicara Jimin dan Namjoon jadi menghentikan pembicaraan mereka. Padahal Minah hanya berbicara pada Wooren.

“Ah mianhae, aku tidak bisa. Ajak saja Hyerim.”

“Ya seperti yang kau tau, dia sibuk dengan kekasihnya yang berambut kemonceng itu.”

“Mian, tapi aku benar-benar tak bi…”

“Aku bisa menemanimu.”

Wooren dan Minah langsung menoleh ke asal suara. Bahkan Hoseok dan Jimin yang ada di sebelah Namjoon. Yang tadi berbicara itu adalah Namjoon. Wooren mengangkat sebelah alisnya. Jimin dan Hoseok hanya menatap temannya dengan aneh. Sedangkan yang diperhatikan hanya menatap Minah dengan serius.

“Ah… tidak perlu Namjoon, itu akan merepotkan…”

“Tidak apa. Aku akan senang bisa menemanimu.”

Wooren menahan tawanya. Jimin dan Hoseok membulatkan matanya melihat temannya bertingkah seperti itu. sungguh tak biasanya. Mungkin karena merasa tak enak Minah kahirnya menerima tawaran baik dari Namjoon.

“Wooren-ah, aku duluan ne.” Minah melambaikan tangannya pada Wooren. Mereka (Minah dan Namjoon) pun pergi.

“Aigoo, ada apa dengan si bibir tebal itu?” Jimin terus saja memandangi temannya yang semakin menjauh itu

“Entahlah, mungkin dia sedang berusaha menunjukkan perasaannya.” Jawab Hoseok acuh

“Apa kau juga merasa seperti itu? Aku rasa dia menyukai Minah.” Kening Jimin berkerut

“Namjoon menyukai Minah?” kini Wooren ikut berbicara

Jimin mengalihkan pandangannya pada Wooren. Dia mengangguk, “Bahkan dia menanyakan pertemanan Minah denganmu juga Wooren. dia bertanya ‘Apa mereka sedekat itu? bahkan Minah memanggilnya Woorenah, dia juga selalu mengajak Wooren bersamanya’ begitu katanya.”

“Lalu kau jawab apa?”

“Aku jawab sesuai yang aku tahu. Aku bilang kalian memang dekat, ’teman dekat Wooren adalah Hyerim, Hana dan Minah. Dan yang paling dekat adalah Minah, dan sepertinya Minah juga begitu’ aku jawab seperti itu.”

Wooren hanya mengangguk mendengar penjelasan Jimin. Hey, baru kali ini mereka akur. Biasanya Wooren tak pernah mau berhubungan dengan segenk-an biang keributan itu, bahkan untuk sekedar berbicara, terutama pada Jimin.

*****

Tidak seperti biasanya, Wooren sudah bersiap untuk pergi ke sekolah sepagi ini. Dia berubah fikiran, menurutnya dia harus sampai di sekolah ketika masih sepi jadi tidak ada yang akan melihatnya, mnguntitnya, dan semacamnya. Akhir-akhir ini semenjak Yoongi tau sebenarnya dialah sosok Cool girl yang selalau dibicarakan murid-murid, dia menjadi tak tenang. Mungkin alasan Wooren untuk menyembunyikan identitasnya terbilang tak masuk akal bahkan tidak penting. Tapi ini semua sudah terlanjur, jika sekarang dia membukanya maka semuanya mungkin akan berubah dan tak terbayangkan.

Wooren beranjak dari bangkunya dan berpamitan pada halmoni-nya sebelum ia melangakahkan kakinya meninggalkan rumah. Seperti tak mempedulikan appa-nya, Wooren hanya berpamitan pada halmoni-nya. Sepasang ayah anak ini seperti sedang perang dingin, seperti inilah setiap harinya. Wooren benci pada appa-nya, dia menganggap appa-nya adalah penyebab kematian eomma-nya. Dan bahkan setelah eomma-nya meninggal appa-nya lebih tak memperhatikannya, appa-nya semakin sibuk dengan bisnisnya.

“Wooren, berpamitanlah juga pada appa-mu.” Ujar halmoni dengan lembut ketika Wooren melangkahkan kakinya dari ruang makan

“Appa? Apa aku masih punya appa? Aku tidak ingat.” Wooren kembali melangkahkan kakinya

“Jang Wooren!” gadis itu menghentikan langkahnya

“Kenapa kau selalu bersikap seperti itu pada appa? Kau masih beranggapan seperti itu? harus berapa kali appa bilang itu tidak benar, itu terjadi tidak seperti yang kau pikirkan.”

Gadis itu tidak menggubrisnya dan kembali melanjutkan langkahnya.

“Sebaiknya kau berangkat ke sekolah diantar supir dengan mobil Wooren. Kau akan lebih aman dan dengan begitu kau tidak perlu capek-capek mengndarai motor besar yang berat itu..”

“Halmoni, tolong katakan pada pria itu untuk tidak usah berpura-pura perhatian padaku.”

“Wooren…” ucap halmoni lirih. Betapa ia tak sanggup melihat peperangan dingin antara anak dan ayahnya yang terjadi di keluarga ini.

“Aku pergi.”

Gadis itu menghidupkan motornya dan menjalankannya ke luar gerbang. Seorang pelayang di rumahnya membukakan pintu pagar untuknya. Begitu dia keluar dari gerbang dia menoleh ke arah mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya, dia melihat laki-laki yang berdiri bersandar pada pintu mobilnya. Yoongi, laki-laki itu terkesiap ketika melihat seseorang yang keluar dari rumah itu dengan motor sportnya. Mereka bertatap mata, namun Wooren segera mengalihkan pandangannya dengan sinis. Gadis itu segera meninggalkan rumahnya dan menambahk kecepatan laju motornya.

Woo Ren pov

Aku merapikan seragamku sambil melihat diriku dipantulan cermin. Untung hari ini aku tidak lupa membawa kaus kaki panjangku lagi. Aku mengambil tasku yang ku taruh di dekat kakiku lalu segera keluar dari toilet. Ternyata udara di sekolah sejuk juga di pagi hari seperti ini. Sepertinya sudah mulai ramai dibanding saat aku datang tadi.

“Hey gadis anggrek!” Aku menghentikan langkahku ketika seseorang menyebutkan arti namaku.

Suara itu sepertinya tak asing. Tiba-tiba seseorang menarik tanganku sampai tubuhku memutar ke belakang. Ah ternyata benar… Min Yoongi.

“Kenapa kau tidak mendengarkanku? Bukankah sudah ku kirim pesan pada mu untuk berangkat ke sekolah bersamaku? Apa kau tidak membacanya?”

“Aku baca.” Jawabku dingin

“Lalu kenapa kau malah pergi dengan motormu? Kau membiarkanku yang sudah capek-capek datang dan menunggmu.”

“Memangnya siapa yang menyuruhmu melakukan itu? tidak ada kan?”

Yoongi membulatkan matanya. Dia nampaknya kesal dengan perkataanku. Biar saja, aku tidak takut. Dia telah mempermainkanku, sekarang biar dia merasakan perkataanku yang tajam ini. Aku tidak akan tinggal diam diperlakukan seperti itu olehnya.

“Kau…”

Aku terenyak. Entah mengapa aku menjadi takut melihat ekspresi wajahnya yang sekarang ini. Aku melangkah mundur, tapi tak bisa lebih karena tanganku pasih dipegangnya. Dia mengencangkan cengkramannya. Aku semakin takut. Mungkin sekarang aku terlihat sangat bodoh. Dia memelototiku sambil terus mendekat ke arahku.

“Berhenti!” aku mengangkat tanganku di depan wajahnya. Tapi dia mengangkat kepalanya sambil terus mendekat

“Berhenti atau kalau tidak aku akan…” aku terus melangkah mundur

“Akan apa?”

Aduh… kenapa aku seperti orang bodoh begini? Apa yang hendak aku lakukan? Tiba-tiba ada seseorang yang berjalan menuju ke arah kami. Oh itu adalah teman sekelasku, Il sook. Lebih baik aku meminta perlindungan padanya saja. “Il sook!” dia menoleh ke arahku

“Il Sook, to… tolong aku. Tolong aku dari orang ini.” aku menunjuk Yoongi

Il sook melihat ke arah Yoongi sekilas lalu kembali menatapku dengan keeruttan di keningnya, “Ya! Jang Wooren, Apa sih yang kau bicarakan? Sudah ya, aku ingin ke kelas dulu.” Dia mengangkat tangannya lalu pergi meninggalkanku

Ah dasar! Mungkin aku salah meminta perlindungan pada si tukang gosip itu. Aku melirik Yoongi, dia sedang menatapku dengan wajah dinginnya yang sok keren itu. Aahh…. saat aku menoleh aku tak sengaja melihat Kyumin, teman sekelasku yang badannya besar dan tegap itu. Dia sedang berjalan ke arah sini. Aku akan meminta bantuan padanya saja.

“Kyumin!” dia mengangkat kepalanya yang tertunduk karena sedang memainkan ponselnya

“Tolong aku.” Dia nampaknya bingung, “Tolong?”

“Iya! Tolong lindungi aku, aku mo….”

“Kenapa aku harus melindungimu di saat kekasihmu ada di sebelahmu? Yoongi sunbae akan lebih mampu melindungimu dari pada aku.”

Aku membulatkan mataku. Apa?! Bahkan aku belum menyelesaikan kata-kataku dan dia sudah memotongnya. Apa ini? Apa semua orang merasa takut pada manusia sok keren yang tingginya tak seberapa ini? Oh Tuhan…

“Lihatlah, siapa yang akan menolongmu sekarang?”

Yoongi kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arahku. Uh tatapannya itu… kenapa semenakutkan itu? Aku menoleh ketika ada seseorang yang berjalan ke arah kami. Itu adalah Hoseok, dia berjalan dengan santainya sambil memutar-mutar kunci motor di jarinya. Hoseok menghentikan langkahnya begitu melihat kami. Dia melihat Yoongi dan aku secara bergantian.

“Oh, Hoseok!” panggilku

Aku melepaskan tanganku dari cengkraman Yoongi dengan kasar lalu menghampiri Hoseok yang berdiri tak jauh dari kami.

“Kau mau ke kelaskan? Aku ikut bersama mu.”

Dia sepertinya sedikit bingung dengan tingkahku yang tiba-tiba dan tak seperti biasanya ini. Dia melihat Yoongi sekilas lalu kembali melihat padaku. Tanpa ba-bi-bu lagi aku mengaitkan tanganku pada lengannya, “Kajja!” aku menariknya

Setelah ku rasa jauh aku menoleh ke belakang untuk memastikan kalau Yoongi tak mengikutiku. Saat ku lihat Hoseok sedang menatapku sambil tersenyum dengan senyumnya yang menjengkelkan itu. Aku segera melepaskan kaitan tanganku pada lengannya lalau berjalan lebih cepat meninggalkannya.

“Jang Wooren!” aku lebih mempercepat langkahku, aku tahu sekarang ini Hoseok sedang berusaha mengejarku

Secepat apapun langkahku dia tetap bisa mengejarku. Ah harusnya aku berlari saja tadi. Dia mensejajarkan langkahnya dan berjalan di sampingku.

“Apa kau masih marah padaku?”

Aku tak menjawabnya dan segera menaiki eskalator. Dia mengikutiku dan berdiri di sampingku. Mengikutiku? Kenapa aku bisa berkata seperti itu? Diakan sekelas denganku, tentu saja dia menuju tempat yang sama denganku.

“Ayolah, kenapa kau sedingin ini padaku? Katakan saja apa salahku.”

Aku menoleh, “Jangan salah paham atas apa yang terjadi tadi. Aku hanya ingin menghindari Min Yoongi.”

“Aku bisa membantu mu untuk menghindari Min Yoongi setiap saat asalkan kau mau mengatakan apa salahku dan mau memaafkanku.”

“Tidak perlu, gomapseumnida.”

“Kau yakin? Min Yoongi itu gila.”

Aku tak menggubrisnya dan tetap memandang ke depan

“Kalau begitu katakan saja apa salahku sampai kau semarah ini padaku?”

“Kau bodoh? Atau amnesia? Kau tak ingat apa yang kau lakukan padaku? Baik aku akan mengingatkannya. Kau mengumpatkan bukuku sampai aku dikeluarkan dari kelas Jo ssaem, bukan hanya itu, kau juga membuat kakiku terluka dengan pisau yang kau bawa untuk mengancamku.”

“Mengancammu? Sudah ku bilang aku tidak mengancammu, aku hanya tak sadar dengan pisau yang ada di tanganku. Dan apa tadi kau bilang? Kakimu terluka gara-gara aku?”

“Iya!”

Dia terdiam. Ekspresi wajahnya berubah, dia seperti memikirkan sesuatu. Aku segera masuk ke dalam kelas. Aku duduk di bangku ku. tak berselang lama Hoseok duduk di bangkunya, di sampingku. Dia menoleh menatapku.

“Jeongmal mianhae.”

Aku menatapnya. Dari wajahnya sepertinya dia benar-benar menyesal atas apa yang telah diperbuatnya padaku. Ini pertamakalinya aku melihat raut wajahnya seperti itu dan entah mengapa hatiku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku menghela nafasku lalu mengangguk menjawab perkataannya. Seketika dia mengeluarkan senyum semringahnya, dan ini juga pertamakalinya aku melihatnya seperti itu.

“Jadi kau sudah tidak marah padaku lagikan?”

“Hm.”

“Gomawo.” Aku hanya mengangguk

*****

Woo Ren pov

Peluh mengalir di dahi dan pelipisku. Aku mengatur nafasku yang masih sedikit tersengal-sengal karena bermain tenis barusan. Huh bagaimana bisa Ban seonsaengnim memberi ku lawan seorang Kyumin yang badannya besar dan tegap itu, dia sangat kuat dibanding aku. Dan sekarang Minah dirivalkan dengan Daejyeong, ah yang benar saja. Daejyeong sama saja seperti Kyumin, berbadan besar dan kekar, sedangkan Minah… Dia bahkan lebih lemah dariku. Dia adalah gadis yang lembut, dia mungkin tak pernah bekerja keras sepertiku, aku yakin dia tidak kuat jika harus mengendarai motor besarku yang berat itu.

Aku menatap heran pada Namjoon yang tiba-tiba ada dihadapan ku sambil mengulurkan sebuah minuman kaleng yang dingin padaku. Dia tahu saja kalau aku kehausan, aku mengambil minuman itu dari tangannya dan langsung membukanya. Namjoon duduk di sebelahku sambil membuka minumannya. Tumben sekali dia berlaku baik padaku, ada apa ini?

“Bagaimana Ban ssaem bisa memberimu lawan seorang Kyumin?” dia membuka cakapan tanpa memandangku, dia terfokus pada pertandingan Minah dan Daejyeong

“Molla.” Aku menghabiskan minumanku

Namjoon memperhatikanku “Kau sangat kehausan ya?”

“Nde.” Ku taruh kaleng yang sudah kosong itu di sampingku

Tak ada lagi percakapan diantara kami. Aku memperhatikannya, pandangannya terfokus pada Dajyeong dan Minah yang sedang bertanding saat ini. Ada yang aneh darinya, kenapa dia sebaik ini padaku? Dia bahkan perhatian sekali padaku, tidak biasanya. Tiba-tiba dia menoleh padaku.

“Apa kau sangat berteman sangat dekat dengan Minah?”

Aku mengangkat alisku sebelah. Minah? Kenapa dia menanyakan itu secara tiba-tiba. Aku teringat pada kejadian kemarin saat pulang sekolah. Apa perkataan Jimin dan Hoseok benar? Bahwa Namjoon sedang jatuh cinta pada Minah.

“Kau pasti tau banyak tentang dia kan? Seperti… apa benda kesukaannya, apa warna kesukaannya, bagaimana kepribadiannya yang sebenarnya?”

“Hm, tentu saja.”

“Dia itu sebenarnya orang yang bagaimana?”

“Ya! Apa kau bersikap seperti baik padaku karena ini eoh?” aku menatapnya menyelidik

“A…ani. aku memang orang yang baik.”

“Kenapa kau tergagap seperti itu? Aku akan menjawabnya asal kau mau mengakui bahwa kau menyukai Minah.”

Dia terlihat terkejut mendengar perkataanku. Sepertinya apa yang dikatakan Jimin dan Hoseok benar. Tapi sayangnya mereka tidak mengetahuinya dari sahabatnya yang satu ini, aku yang akan menjadi orang pertama yang mendengar pengakuan laki-laki berambut putih ini. Dia sepertinya sedang berfikir, dia belum juga menjawabku.

“Iya… aku… aku memang sedang jatuh cinta padanya.” Omo, lihat itu! dia tidak berani menatapku, dia hanya menatap aspal yang ada di bawah kakinya. Rasanya aku ingin menertawainya sekarang juga sekencang-kencangnya.

“Baiklah aku akan memberitaukanmu. Minah itu gadis yang lembut, dia orang yang baik dan suka membantu, dia tidak akan memaksakan kehendaknya. Tapi terkadang dia manja dan bertingkah seperti anak-anak. Dia adalah pendengar yang baik dan bisa dipercaya.”

“Lalu apa yang dia sukai? Apa dia punya koleksi sesuatu?”

“Dia suka mengoleksi sepatu dengan heels tinggi, ya… seperti yang terlihat, dia itu girly. Dia suka warna-warna pasta.”

“Apa dia suka bunga?”

“Mawar putih, dia suka itu.”

“Wooren…”

Aku menoleh menatapnya.

“Aku minta maaf jika selama ini aku selalu menjengkelkan untukmu.”

Aku mengernyit. Apa sih yang dia lakukan itu? Apa orang yang jatuh cinta selalu seperti ini? Dia itu lucu sekali, rasanya aku ingin menertawainya saja. Aku mengangguk menjawabnya.

“Jadi apa sekarang kita bisa berteman?”

“Apa kau ingin berteman denganku agar kau bisa mengetahui lebih banyak tentang Minah? Apa karena kau inginbisa lebih dekat dengannya?” aku menatapnya datar

“Aigoo… Kenapa kau selalu berfikiran buruk tentangku? Tidak, aku benar-benar ingin berteman denganmu.”

“Kalau bukan karena itu lalu karena apa?”

“Karena… ternyata kau tidak seperti yang ku pikirkan. Kau adalah orang yang baik.”

Aku memalingkan wajahku sambil tertawa. “Benarkan itu?”

“Ne.”

“Kalau begitu… tentu saja.”

“Tentu saja apa?” dia menatapku bingung

“Tentu saja kau bisa berteman denganku.”

Seketika wajahnya bersemringah. Hah dasar orang ini…

Hoseok pov

Keadaan kelas saat ini sepi. Itu karena sebenarnya saat ini sedang istirahat. Hanya ada beberapa orang di dalam kelas dan sisanya tentu saja pergi ke kantin. Mataku tak bisa terlepas dari wajah gadis yang sedang tertidur pulas di sampingku. Dia selalu tertidur di kelas. Setiap melihat wajah tenangnya yang sedang tertidur entah mengapa senyumku tak pernah hilang dari wajahku dan mataku tak pernah mau teralihkan darinya. Akhir-akhir ini dia selalu tertidur dengan headset putih yang terpasang di telinganya.

Dengan perlahan aku mengangkat kepalanya sedikit lalu mencabut headset yang ada di telinga kanannya dengan hati-hati. Setelah meletakkan kembali kepalanya di atas meja aku memasangnya di telinga kananku. Hmm Rain Saound milik B.A.P. Kenapa dia selalu mendengarkan lagu ini? Aku menaruh kepalaku di atas meja dengan wajahku yang menghadap wajahnyanya. Dia sangat cantik jika dilihat dalam jarak sedekat ini. Lagunya berganti, ini adalah lagu Unbreakable milik B.A.P. Apa dia hanya punya lagu-lagu B.A.P? Apa dia menyukai boyband itu? Aku mengambil ponselnya yang tergeletak diantara kami. Banyak sekali lagu B.A.P di daftar musiknya. Sepertinya dia memang menyukai boyband yang sekarang kabarnya tak jelas itu.

Ku letakkan kembali ponselnya di tempat semula dan kembali memandangi wajahnya. Dia tertidur lelap, sepertinya dia kecapean. Kenapa setiap hari dia selalu tidur di kelas? Gadis ini benar-benar membuatku penasaran. Aku sangat tertarik padanya, karena aku baru menemukan gadis sedingin dia. Dia selalu mampu berkata-kata dengan tajam sambil memasang wajah datarnya, dan aku suka itu, dia terlihat sangat keren. Mata indahnya selalu mengeluarkan tatapan yang tajam. Tapi sepertinya itu memang bawaannya sejak lahir, mau sebiasa apapun tatapannya tetap saja itu terkesan tajam.

Samar-samar aku mendengar suara perempuan yang memanggil namanya. Tapi seperti tak peduli aku tetap pada posisiku dan terus memandanginya.

Yoon Gi pov

Aku berdiri di depan pintu samabil melongo kedalam kelas 2-2. Dimana tempat duduk gadis itu? Aku yakin dia ada di dalam karena aku tidak menemukannya di kantin. Tiba-tiba ada seorang murid perempuan yang keluar, aku segera menahannya.

“Apa ada Wooren?”

Dia menoleh ke dalam kelasnya lalu meneriaki nama gadis itu. “Oh, apa dia tertidur lagi?” gumamnya sendiri lalu menoleh padaku

“Dia sedang tirdur di mejanya sunbae.”

“Yang mana tempatnya?”

“Itu di sana, di dekat tembok urutan kedua sebelum barisan terakhir.”

Tanpa berucap apa-apa lagi aku langsung masuk ke dalam, ke tempat yang dimaksud perempuan itu tadi. Aku terkejut melihat apa yang ada di hadapanku saat aku sampai ditempat itu. Hoseok menaruh kepalanya di atas meja sambil memandangi gadis yang sedang tertidur pulas di sampingnya, wajah mereka berhadapan. Bahakn mereka memakai headset yang sama berdua. Walau aku tak bisa melihat wajah gadis itu tapi aku tahu jelas bahwa dia adalah Jang Wooren.

Dengan amarahku yang sudah memuncak, aku mencabut headset yang ada di telinga keduanya. Hoseok mengalihkan pandangannya padaku, dia nampak terkejut. Dia mengangkat kepalanya sambil terus menatapku. Sedangkan gadis itu masih tertidur.

“Sedang apa kau disini?”

“Sedang apa katamu? Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan dengan yeoja-ku!?”

Dia tertawa, “Yeoja-mu katamu?” dia kembali tertawa

Gadis itu mengangkat kepalanya. Dia baru terbangun. Dengan matanya yang masih sayu dia melihat ke arah Hoseok dan aku secara bergantian. Matanya membulat seketika ketika dia menyadari aku yang sedang berdiri di dekatnya dengan wajah kesalku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” dia bertanya padaku dengan keningnya yang berkerut

Tanpa aba-aba aku langsung menarik tangannya dan membawanya ke luar kelas. Dia berusaha melepaskan tangannya tapi aku semakin mencengkramnya dengan kuat. Murid-murid yang ada di koridor memperhatikan kami. Aku mempercepat langkahku dan menariknya menuruni eskalator.

Begitu turun dari eskalator dia menghempaskan tangannya dengan kuat sehingga tangannya terlepas dari cengkramanku. Wajahnya begitu kesal menatapku. Semua murid yang ada di lantai dua melihat ke arah kami, bahkan murid-murid yang ada di lantai tiga ikut melihat ke bawah memperhatikan kami.

“Kenapa kau selalu memeperlakukan ku sesuka mu?”

Aku hanya terdiam menatapnya. Aku mengedarkan pandanganku ke murid-murid yang sedang memperhatikan kami. Sebagian besar dari mereka langsung berbisik-bisik satu sama lain. Aku kembali menatap Wooren. ku langkahkan kakiku mendekatinya lalu menangkupkan tangan kananku ke pipinya

“Apa yang kau katakan chagiya? Baiklah aku minta maaf.”

Dengan kasar dia menepis tanganku dari wajahnya. Wajahnya nampak sangat kesal, tatapannya begitu tajam padaku.

“Berhentilah mengangguku!”

Seperti tidak peduli pada murid-murid yang sedang memperhatikan kami dia membentakku dengan suara keras. Ah kenapa dia bersikap seperti ini di depan seluruh murid-murid yang ada?

“Chagiya…”

“AKU BUKAN KEKASIHMU!” belum sempat aku selesai berbicara dia memotong kata-kataku dengan membentakku seperti itu

“Berhentilah menganggapku sebagai yeoja-mu!”

“Berhentilah, jangan membuatku malu.” Ucapku pelan padanya, hampir berbisik agar tidak di dengar orang lain

“KAU YANG HARUSNYA BERHENTI. BERHENTILAH MEMBUATKU MALU!”

Dia pergi meninggalkanku begitu saja. sedangkan aku hanya menatap punggungnya yang semakin menjauh. Dia mempermalukanku di depan semua murid-murid walaupun aku tahu aku yang memulainya, tapi aku tak bisa menerima perlakuannya, dia membuatku kesal. Tapi entah mengapa dadaku terasa sesak.

-TBC-

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

5 thoughts on “FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s