FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 5


PicsArt_1434709030654

Author : AL lee

Title : DARK BLUE DREAMCATCHER

Cast :

  • Jang Woo Ren (OC)
  • Min Yoongi
  • Jung Hoseok
  • Park Jimin
  • Kim Soekjin
  • Kim Namjoon
  • ect

Genre : School life, romance, comedy(?), sad(?)

 

Yoon Gi pov

Dia sepertinya masih di kamar mandi. Sepertinya aku membuatnya menunggu lama, aku mengganti bajuku dulu tadi barulah aku ke sini dengan membawa kotak P3K. Walau aku tak tahu sebenarnya kenapa kakinya mengeluarkan darah dari luka yang sepertinya masih baru itu tapi aku merasa kasihan padanya. Ada rasa bersalah di hatiku karena aku kakinya kembali berdarah. Lukanya itu lumayang besar, aku saja ngeri melihatnya. Sebagai namja yang baik dan bertanggung jawab aku akan mengobati lukanya.

Kenapa dia lama sekali? Apa yang dia lakukan di kamar mandi? Aku duduk di sofa lalu menyandarkan punggungku. Tak sengaja ku lihat tasnya tergeletak di samping ku. Aku membuka resleting tasnya dan mencari ponselnya. Ah ini dia! Ponselnya berwarna putih dilapisi cast berwarna birutua. Apa dia suka warna biru tua? Sepatu sport yang dipakainya jika menjadi Cool girl berwarna birutua, gantungan berbentuk dreamcatcher yang terjatuh dari tasnya berwarna birutua, dan sekarang cast ponselnya. Dia sepertinya menyukai warna-warna gelap, lihat saja motor sport dan helmnya yang berwarna hitam. Dia itu maskulin sekali.

Hahaha bodoh, dia tidak memberi password pada ponselnya. Dia itu terlalu malas atau terlalu bodoh? Aku terus mengutak-atiknya ponselnya.

“YA!” aku menoleh ke asal pekikan yang membuat telingaku terganggu

Oh ternyata dia sudah kembali. Dengan langkah seribu dia menghampiriku lalu merebut ponselnya dari tanganku, aku hanya terkekeh. Dia mengerucutkan bibirnya dan menatapku dengan tajam. Itu sama sekali tidak menakutkan, itu justru terlihat sangat menggemaskan. Dia itu… lucu juga.

“Apa yang lakukan pada ponselku?”

“Tidak ada.”

“Bohong, pasti kau melakukan sesuatu.”

“Hey gadis anggrek, kau lihat saja sendiri ponselmu apa ada yang rusak?”

Dia tak menjawabku dia hanya mendengus kesal lalu duduk di sampingku sambil terus mengutak-atik ponselnya.

“Ya! Sunbae, kau ini tidak sopan sekali. Memainkan ponsel orang lain tanpa sepengetahuannya, ponsel itukan menampung sebagian privasi orang.”

“Orang lain katamu?”

Dia menoleh menatapku heran dengan kerutan di keningnya.

“Kaukan yeojachingu-ku, orang lain dari mananya?”

Dia menghela nafas, “Sunbae, berhentilah menyebutku sebagai yeojachingu-mu.” Dia kembali menatap layar ponselnya.

Aku beralih duduk di hambal putih yang ada di kaki sofa. Ku tarik lap yang sudah terlebih dulu ku basuh dengan air hangat dan juga kotak P3K dari atas meja lalu membukanya. Dia sepertinya belum menyadari pa yang sedang ku lakukan, dia masih terfokus pada ponselnya. Ku pegang kakinya lalu mengelap darah yang sudah mengering di kakinya dengan lembut. Dia sepertinya terkejut, kakinya sedikit bergerak. Aku tetap terfokus pada luka yang ada di kakinya walaupun aku tahu saat ini dia sedang memandangiku.

“Sunbae apa yang kau lakukan?”

Aku tak menjawabnya. Setelah darah yang ngering terhapuskan dari kaki putihnya aku membasuhnya dengan cairan antiseptik menggunakan kapas. Dia meringis kecil namun aku masih bisa mendengarnya. Sepertinya ini menyakitkan, lukanya cukup besar dan dalam walau hanya berbentuk sebuah garis. Setelah selesai aku menempelkan plester untuk menutupi lukanya. Aku beranjak dan berjalan ke dapur untuk menaruh kembali kotak P3K di atas kulkas.

Woo Ren pov

Dia beranjak dan berjalan ke dapur. Aku terus memandanginya. Jujur saja aku tak percaya atas apa yang barusan dia lakukan. Aku tak menyanka seorang Min Yoongi yang sombong dan sok keren itu mengobati lukaku, bahkan dia mengerjakannya dengan lembut dan sangat hati-hati. Entah mengapa aku merasa dia memperlakukanku berbeda dengan orang lain. Dia bahkan menunjukkan senyum manisnya padaku yang tidak pernah ditunjukkannya pada orang yang tidak dekat dengannya.

Dia kembali dan duduk di sampingku. Untuk beberapa saat kami hanya terdiam, sunyi sekali, tak ada perbincangan, tak ada suara apaun yang terdengar. Dia masih betah menlipat tangannya di dadanya, hey! Itu seperti gaya Hoseok. Apa semua laki-laki menyukai gaya itu?

“Kenapa kakimu terluka seperti itu?” dia akhirnya membuka pembicaraan

Aku menoleh, “Tadi di kelas memasak, ada seseorang yang tidak sengaja menjatuhkan pisau di tangannya lalu pisau itu jatuh dan menyayat kakiku.”

“Kenapa bisa?” tanyanya enteng

“Tentu saja bisa!” dia menatapku dengan tatapan yang entah apa artinya itu

“Dia…dia menahan tanganku lalu aku menepisnya kuat-kuat sampai pisau yang ada di tangan kanannya terjatuh. Aku juga tidak tau kenapa padahal aku menepis tangan kirinya, mungkin karena aku menepisnya terlalu kuat.”

“Siapa orang itu?”

“Ah… dia… dia Hoseok.” Sebeanrnya aku ragu menjawabnya tapi dia terus menatapku

Ekspresinya langsung berubah. Ah… aku menyesal mengatakannya. Pasti dia akan mengolok-olok ku karena tak bisa menjaga diri dari Hoseok dan mungkin dia besok akan memberi pelajaran pada Hoseok. Eh, kenapa aku percaya diri sekali?

“Sudah ku bilang jangan biarkan dia mengganggumu lagi. Lihat apa yang dia perbuat padamu! Luka di kakimu itu membutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikannya ke keadan semula. Dan mungkin dia akan membekas dan tidak hilang.”

“Jangan berkata seperti itu… iya aku akan menjaga diriku dari Hosoek.” Eh! Astaga… apa yang ku katakan barusan? Bahkan aku mengucapkannya sambil mengerucutkan bibirku, bukankah itu terkesan manja? Aigoo apa yang aku lakukan…

“karena ku sudah mengobati lukamu kau harus memberiku imbalan”

“Mwo? Jadi kau tidak iklas?”

“Ani.” Jawabnya enteng. Ish… dasar orang ini, menyebalkan!

“Kau harus menjawab pertanyaanku dengan jelas dan jujur.”

“Aku akan menjawab pertanyaanmu tapi dengan satu syarat.”

“Mwo? Mana bisa begitu?”

“Tentu saja bisa. Mau tidak?”

“Baiklah. Apa syaratnya?” kami bertatap mata dalam waktu yang cukup lama, “Nanti saja, apa pertanyaanmu?”

“Kenapa kau menjadi misterius dengan menutupi wajahmu dengan masker dan berpenampilan seperti itu? Bahkan kau tidak terlihat seperti perempuan.”

Pertanyaan macam apa itu? dia ingin bertanya apa ingin meledekku? Aku harus menjawabnya apa? Aigoo, kenapa dia menanyakan hal ini, dia sepertinya senang sekali mencampuri urusanku.

“Karena aku tidak ingin mereka tau kalau akulah gadis dengan motor sportnya.”

“Kenapa kau tidak ingin mereka tau?”

“Karena aku berbeda dengan murid-murid yang lain, yang setiap hari diantar jemput ke sekolah oleh supir menggunakan mobil mewah mereka. Ya… walaupun bukan hanya aku yang mengendarai motor ke sekolah, tapi mereka semua itukan laki-laki dan jelas jika mereka menggunakan motor sport. Jika mereka tau aku menggunakan motor seperti itu mereka akan bertanya padaku, bertanya dan terus bertanya dan jika pertanyaan mereka lebih dalam itu akan menyangkut keluarga ku.”

Dia mengerutkan keningnya, “Keluargamu?”

“Hm.” Aku mengangguk, “Aku tidak ingin diantar jemput oleh supir pribadi dengan mobil seperti mereka. Karena aku….” aku meliriknya sekilas, dia terlihat penasaran

“Karena aku benci pada abeoji. Aku tidak akan mau menurutinya walaupun itu adalah ke sekolah dengan supir pribadi yang dia pekerjakan. Aku benci pada abeoji, aku benci pada orang-orang pesuruhnya. Aku benci terus dikekang dan dilarang. Terkadang orang-orang pesuruh itu menguntitku, bahkan mengejarku lalu membawaku pulang dengan paksa. Karena itu aku membutuhkan motor itu. Agar aku bisa pergi kemanapun sesuai kehendakku, agar aku bisa kabur dari kejaran pesuruh-pesuruh abeoji. Ku rasa motor bisa lebih cepat ketimbang mobil.”

Dia mengangguk mengerti, “Lalu kenapa kau bekerja part time?”

“Apa aku harus menjawab itu juga?”

“Tentu saja.”

Aku menghela nafas. Orang ini benar-benar ingin mencampuri urusanku. Kenapa dia ingin tahu tentang kehidupanku? Kehidupan yang bahkan ku rahasiakan dari siapapun tak terkecuali halmoni

“Karena aku ingin mendapatkan uang.”

“Apa uang yang ayahmu berika tak cukup?”

“Tentu saja tidak cukup.”

“Memangnya kau pergunakan untuk apa? Apa kau sama seperti perempuan lain yang menghabiskan uangnya untuk belanja? Atau jangan-jangan kau…”

“Ya! Apa yang kau pikirkan sunbae? Enak saja. Aku menggunakan uangku untuk tujuan mulia.”

“Tujuan mulia apa?”

“Untuk anak-anak jalanan. Aku punya hati nurani, aku punya jiwa kemanusiaan, tidak sepertimu!” aku meliriknya sekilas, dia membulatkan matanya dan tampak kekesalan di wajahnya setelah itu.

“Anak-anak jalanan… mereka yatim piatu, tak punya keluarga. Mereka tak bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, mereka masih kecil tapi harus berjuang melawan kerasnya hidup, bekerja apapun demi mendapat uang dan agar bisa makan. Mereka bahakan tak punya tempat tinggal. Mereka tak tau bagaimana rasanya bersekolah, punya banyak teman, dan bermain dengan gembira. Karena itulah, aku berusaha membantu mereka memenuhi kebuthan mereka, setidaknya dengan memberi mereka makanan, pakaian, dan juga mainan. Dan tentu saja untuk itu aku membutuhkan uang. Aky tak akan memintanya pada abeoji karena aku yakin dia tak akan peduli, bahkan denganku saja dia tak peduli. Ya… memang ia memberiku uang yang sebenarnya sangat cukup untuk ku. Tapi jelas itu kurang untuk membantu mereka.” aku tersenyum dengan terpaksa, “Abeoji… bahkan dia tidak mencintaiku, dia jauh lebih mencintai bisnisnya. Aku bahkan ragu, apa aku harus menganggapnya sebagai abeojiku atau tidak? Aku seperti tak punya abeoji.” Aku tersenyum nanar

Yoongi yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan penjelasakanku sekarang tetap tak bergeming setelah mendengarkannya. Mungkin dia sedang berfikir. Dia terus memandangiku tapi aku tak mempedulikannya, aku tetap memandang ke depan.

“Satu pertanyaan terakhir… Bagaimana kau bisa tau kalau orang yang ada di dalam moil hitam yang terparkir di depan toserba tempatmu bekerja itu adalah aku?’

Aku tertawa ringan. Sepertinya dia tidak malu menanyakan hal ini, karena itu sama saja menunjukkan betapa bodohnya dia. Dia menguntit tapi tak tahu bagaimana caranya untuk tidak ketahuan, hahaha itu lucu sekali, benar-benar bodoh.

“Hmm… entahlah, tapi saat melihat mobil hitam itu pertama kali aku seperti pernah melihatnya. Dan ketika dengan bodohnya kau menunjukkan dirimu dengan masuk ke toko, aku bisa mengenalimu dengan mudah. Entah kenapa. Tapi hanya dengan melihat postur tubuhmu, kulit, dan juga bagian rambutmu yang tidak ikut tertutupi topi aku bisa tau kalau itu adalah Min Yoongi. Dan satu lagi yang membuatnya semakin jelas… saat kau membuka dompetmu di hadapanku aku bisa melihat kartu pelajarmu, yeah.. walaupun aku hanya melihat nama sekolah kita disana..”

Oh… lihatlah betapa bodohnya dirimu itu Min Yoongi, hahaha. Coba lihat di cermin bagaimana wajahmu saat ini, benar-benar bodoh. Dan kau sekarang masih berani menatapku? Jika aku jadi kau aku akan menutup wajahku dengan kedua tanganku lalu berlari dan menceburkan diriku ke kubangan lumpur bersama para babi.

“Sekarang giliran ku.” dia menatapku, “Baiklah, apa syaratmu?”

“Kau harus menjawabku. Kenapa kau menguntitku ke tempat kerja?”

“Aku tidak menguntitmu, hanya saja waktu itu aku tidak sengaja melihat motor sport hitammu yang terparkir di depan toko. Aku tahu itu adalah milik Cool girl dan aku penasaran siapa dia sebenarnya. Hari itu aku tak melihat satupun siswi dari sekolah kita karena waktu itu kau berada di meja kasir dan sedang berdiri memunggungiku, jadi ku pikir tidak mungkin Cool girl menjadi seorang kasir. Hari berikutnya aku membuka maskermu dengan paksa di lorong tempat loker-loker, aku deikit terkejut melihat wajahmu, kau adalah gadis yang sering di ganggu Hoseok. Aku mengikutimu sampai ke tempat kerjamu, aku penasaran kenapa kau selalu datang ke sana. Setelah beberapa lama kau terlihat di meja kasir dengan rompi khas toserba itu. Lalu dengan penyamaran seadanya aku masuk untuk melihat wajahmu lebih jelas.”

“Lalu kenapa kau membuat pengumuman bahwa aku adalah kekasihmu?”

Dia mengangkat sudut bibir kirinya sambil menatapku, “Karena aku sudah tau kau itu Cool girl.”

“Lalu dimana masalahnya?”

Yoongi menghela nafas panjangnya dan kembali menyandarkan punggungnya “Aku juga tak tau kenapa setelah aku melihat wajahmu aku merasa ingin melindungimu. Padahal aku tidak suka sekali dengan sosok Cool girl itu.”

“Melindungiku?” apa maksudnya dia ingin melindungiku?

Dia kembali menatapku “Ya, aku ingin kau tetap pada penyamaranmu sebagai gadis dingin yang mieterius itu, gadis yang terlihat sangat keren dimata murid-murid yang lain. Aku akan melindungi identitasmu, dan aku… Akan melindungimu dari Hoseok.”

Aku terkejut mendengar jawabannya. Melindungiku dari Hoseok? Tapi untuk apa? Kenapa dia ingin melindugni dari Hoseok? Memang apa pentingnya aku sampai dia ingin melindungiku dari Hoseok? Ah, terlalu banyak pertanyaan yang muncul di benakku, aku pusing.

Aku beranjak bangun lalu mengambil tas dan jaketku. Tiba-tiba Yoongi menahan tanganku, “Mau kemana?”

“Tentu saja pulang. Gara-gara kau aku tidak bekerja hari ini, mungkin besok aku akan diomeli bosku.”

“Kalau begitu bilang padanya kalau kau ada keperluan yang tak bisa ditinggalkan, maka dia akan mengerti. Tunggu sebenatar aku akan mengantarmu.” Dia melepaskan cengkramannya lalu bangun dari sofa mengambil kunci mobilnya.

*****

Author pov

Gadis itu terbangun dari tidurnya ketika alarm yang ada di dekat berbunyi. Dia beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi. Dia akan memulai rutinitasnya lagi hari ini.

Setelah selesai mandi dan selesai berpakaian dia kini menguncir rambutnya sambil duduk di meja riasnya. Tiba-tiba ponsel yang ada di atas meja riasnya berbunyi.

I need you girl
wae honja saranghago honjaseoman ibyeolhae
I need you girl
wae dachil geol almyeonseo jakku niga piryohae~

Dengan malas dia mengambilnya. Dilihatnya layar ponselnya, matanya terbelalak begitu melihat nama yang tertera di sana, “Siapa dia? Chagiya?” gumamnya pada ririnya sendiri. Dia segera menjawab telfon itu.

“Yobseyo?”

“Kau sudah bangun?” gadis itu mengernyit, siapa laki-laki disebrang sana?

“Nuguseyo?”

“Mwo? Ya! Gadis anggrek, kau tidak mengenali suaraku?”

Gadis itu mengeutkan keningnya mencoba mengingat siapa orang yang memiliki suara seperti itu. Seketika dia membulatkan matanya sambil membuka mulutnya begitu dia mengingat siapa orang dengan suara berat seperti itu.

“Yak! Sunbae kau… Aish… apa maksudnya ini? Dari mana kau mendapat nomorku? Lalu kenapa kau menyimpan nomormu di ponselku? Bahkan kau menamainya ‘Chagiya’.”

“Kau cerewet sekali. Lima belas menit lagi aku akan menjemputmu, kau harus sudah siap.”

“Nde? Ani, shireo.”

“Pilih! Kau mau ke sekolah bersamaku atau dengan orang-orang pesuruh ayahmu?” gadis itu terdiam. Dia tidak ingin ke sekolah dengan supir pribadi yang dipekerjakan ayahnya tapi dia juga tidak mau berangkat bersama sunbae gila itu.

“Kau tak bisa menolakku. Sekarang aku sudah dalam perjalanan ke rumahmu. Oh ya, jangan memakai celana treining dan jaket kulitmu itu, pakai seragammu dengan lengkap.”

Gadis itu menghela nafasnya, “Arraso.” Akhirnya dia hanya bisa menuruti laki-laki itu

Setelah sarapan dan berpamitan pada halmoninya, Wooren melangkahkan kakinya ke luar rumah. Sudah ada mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya. Dia memutar bola natanya dengan malas. Itu adalah mobil milik Min Yoongi.

Wooren membuka pintu mobil itu lalu duduk di bangku sebelah pengemudi. Tak berniat menyapa atau sekedar berbasa-basi pada Yoongi, dia hanya terdiam memandang ke depan dengan wajah dinginnya. Bahkan dia tidak peduli pada Yoongi yang memperhatikannya.

Dia menoleh pada Yoongi yang tak kunjung menjalankan mobilnya, “Cepatlah, nanti kita bisa terlambat.” Ucapnya dengan wajah kesal

Yang diperlakukan seperti itu malah tersenyum, “Kau cantik berpakaian seperti itu. Setidaknya kau terlihat seperti perempuan.” Yoongi pun menghidupkan mesin mobilnya lalu menjalankannya.

Woo Ren pov

@Seol High School

 

Begitu aku dan Yoongi keluar dari mobilnya semua murid-murid yang ada di parkiran memandang ke arah kami. Ya ampun jangan seperti itu… aku risih sekali. Aku memang sudah biasa diperhatikan seperti itu ketika aku menjadi sosok Cool girl yang mereka kenal tapi pasalnya kali ini aku diperhatikan karena aku keluar dari mobil Min Yoongi. Mereka terus saja memandangi kami ketika kami berjalan keluar parkiran. Ugh, lain kali aku tidak mau ke sekolah bersamanya lagi.

Saat di lorong sekolahpun sama, mereka semua memandangi kami. Mereka menepi memberikan kami jalan. Aku tak pernah diperlakukan sampai seperti ini, mungkin karena ada namja sok keren ini. Rasanya sungguh tak enak. Tapi namja di sebelahku malah berjalan dengan santai sambil sesekali mengedarkan pandangannya pada murid-murid yang memperhatikan kami. Samar-samar aku bisa mendengar beberapa dari mereka berbisik membicarakan kami. Ada yang membicarakan ketampanan Yoongi, pesonanya, dan ada juga yang membicarakan kenapa aku bisa menjadi kekasih seorang Min Yoongi. Hey kalian pikir aku mau? Lagi pula aku tidak merasa sebagai kekasihnya.

Yoongi menahan tanganku saat aku hendak menaiki eskalator. Apa lagi yang dia inginkan? Aku menoleh menatapnya.

“Temani aku ke kantin.”

“Nde? Untuk apa?”

“Sarapan.”

“Aku sudah sarapan.”

“Yak, kau ini egois sekali. Kau mungkin sudah sarapan tapi aku belum.”

“Apa masalahnya untukku?” tanyaku dengan wajah datar

Dia memperhatikanku dengan tatapan yang sulit diartikan, “Kau harus menemaniku.” Tanpa aba-aba dia langsung menarik tanganku menuju kantin

Oh… apa dia tidak puas menjadi pusat perhatian sejak di parkiran, lorong, dekat eskalator, sekarang malah di kantin. Dia itu sepertinya senang menjadi pusat perhatian. Yaampun kenapa aku selalu dibuat seperti hewan peliharaan? Tidak Hoseok tidak Yoongi, mereka sama saja. Tak ku sangka sepagi ini kantin sangat ramai sama seperti saat istirahat. Aku tidak pernah ke kanting pagi-pagi makanya aku tidak tahu kalau keadaannya ternyata seperti ini.

Yoongi menghentikan langkahnya ketika kami hendak berpapasan dengan Hoseok dan kedua orang yang diakui sebagai sahabatnya itu. Hoseok maupun Yoongi sama-sama menghentikan langkahnya saat mereka berhadapan. Argh damn! Hoseok menatapku dengan tatapan yang sulit diperhatikan. Beberapa detik kemudian dia membalas tatapan Yoongi dengan tatapan dinginnya. Apa yang akan terjadi? Kenapa mereka terus saling menatap dingin satu sama lain.

“Bisa beri kami jalan?” nada suara Yoongi terdengar seperti merendahkan

Hoseok menyunggingkan senyum sinisnya, dia beralih menatapku. “Anyeong Wooren-ah. Tumben sekali jam segini kau sampai, bahkan kau ke kantin pagi-pagi seperti ini.”

“Aku… hanya mengantar Yoongi sunbae”

“Oh… jangan memanggilku seperti itu chagiya. Oppa.” Yoongi menyuruhku memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’. Dia bahkan berbicara padaku dengan manja

“Kau berharap dia memanggilmu seperti itu?”

Pandangan Yoongi beralih pada Hoseok.

“Memangnya kau siapa sampai dia harus memanggilmu seperti itu?” tambah Hoseok dengan senyumnya

Yoongi hanya terdiam sambil menatapnya tajam. Dan Hosoek sekarang tertawa. Oh ayolah, semua orang memperhatikan kami bertiga, tidak bisakah dua orang ini berhenti?

“Wooren-ah, boleh aku bertanya padamu?” aku hanya terdiam mendengar perkataan Hoseok yang tertuju padaku

“Kau siapanya dia?” kepala Hoseok bergerak ke arah Yoongi tapi tatapannya tetap padaku

Bagaimana aku menjawabnya? Jika aku menjawab tidak maka Yoongi mungkin akan menghabisiku setelah ini, tapi aku juga tak mungkin menjawab iya. Disaat aku terus berpikir tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan yang lingkar di pinggangku. Aku terkejut dan menoleh menatap Yoongi. Tangan kanannya melingkar di pinggangku lalu dia mengaitkan tangan kanannya ke tangan kirinya shingga pinggang kami berdempetan. Dia menatap Hoseok sambil tersenyum.

“Tentu saja dia yeojachingu-ku.”

Dia menoleh menatapku dengan senyum di bibirnya. Aku mengernyit. Sedetik kemudian dia mencium pipiku sekilas. Mataku membulat seketika. Dia kembali menatapku dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya. Aku mendengar beberapa siswi menjerit histeris. Apa yang baru saja dia lakukan? Dia membuatku malu. Tidak, dia menghinaku. Memangnya dia pikir dia siapa? Seenaknya saja dia memperlakukanku seperti ini, dia menurunkan harga diriku.

“Cih.” Hoseok mendecih seraya mengalihkan pandangannya dari kami, dia pun pergi diikuti oleh Jimin dan Namjoon.

Aku masih menatap Yoongi, kali ini aku menatapnya dengan tajam. Tapi sepertinya dia belum menyadarinya. Dia terus menatap Hoseok sambil tersenyum penuh kemenangan. Apa dia sedang mempermainkanku lagi? Ya, lagi-lagi aku hanya dijadikan alat untuk membuatnya merasa menang dari Hoseok. Dia menoleh padaku, seketika raut wajahnya berubah karena melihat tatapan sinis yang ku berikan padanya. Dengan paksa aku melepaskan tangannya yang masih memeluk pinggangku.

“Apa kau sudah merasa menang dari Hoseok?”

Dia hanya terdiam menatapku

“Kau pikir itu keren?” aku membalikkan tubuhku dan segera pergi meninggalkannya.

*****

Hoseok pov

Mataku tak bisa terlepas dari gadis yang saat ini duduk di sampingku. Dia menaruh kepalanya di atas meja sedari tadi, di telinganya terpasang headset berwarna putih. Walau aku hanya dapat melihat rambut hitam legamnya aku tetap saja memandanginya.

Kenapa aku seperti ini? Apa yang sebenarnya tengah dirasakan oleh hatiku saat ini? Dia membalikkan wajahnya menghadapku, matanya terpejam. Entah mengapa pandanganku tak bisa beralih dari wajahnya. Wajah tenangnya dengan mata yang tertutup seperti itu. Poninya trurun menutupi sebagian matanya. Tanpa ku sadari tanganku bergerak untuk membenarkan poninya itu.

Pandanganku beralih pada ponselnya yang tergeletak di dekat kepalanya. Aku mengambilnya. Eh? Dia tidak menguncinya. Aku tersenyum kecil, dia terlalu malas atau terlalu bodoh? Aku melihat lagu apa yang sedang dia dengarkan saat ini. ternyata dia sedang mendengarkan Rain Sound milik B.A.P. Tapi apa dia masih bisa mendengranya ketika tertidur seperti itu? Aku beralih ke kontaknya. Aku menuliskan nomor ponselku di sana sambil tertawa-tawa kecil. Aku mengernyit ketika melihat urutan satu kontaknya, ‘Chagiya’? Apa ini kontak Min Yoongi? Aku menatapnya, apa dia benar-benar kekasih Yoongi?

Tiba-tiba dia membuka matanya dan langsung menatapku. Tatapannya menjadi tajam ketika dia melihat ponselnya ada di tanganku. Dia mengangkat kepalanya lalu merebut ponselnya dari tanganku. Aku hanya tersenyum melihatnya.

*****

Woo Ren pov

Sudah sekitar lima belas menit aku terduduk di bangku panjang. Saat ini aku berada di stasiun kereta, aku akan menaiki KTX (Korean Train eXpress) untuk pergi ke Asan. Sepulang sekolah tadi aku langsung ke sini, aku ingin pergi mengunjungi makam eomma yang ada di Asan. Hari ini aku sangat merindukan eomma. Setiap hari aku selalu merindukannya, tapi entah mengapa kali ini aku benar-benar sangat merindukannya.

Aku menatap kosong lurus ke depan. Ada kereta yang datang tapi entah mengapa aku enggan bergerak untuk menaikinya. Tiba-tiba saja aku mengingat dia…. Aku menatap kosong kaca jendela kereta yang sedang berhenti di depanku. Aku bisa melihat pantulan diriku di kaca-kaca itu. Rasanya seperti dejavu, tapi sayangnya saat ini aku hanya sendirian.

Flash back on

Begitu melihat kereta yang baru saja datang kami langsung berdiri dan melangkahkan kaki mendekati pintu kereta. Ketika pintunya terbuka laki-laki di sampingku langsung menarik tanganku untuk masuk. Bahkan ketika kami sudah duduk bersebelahan dia tetap menggenggam tanganku. Aku memperhatikannya tapi dia sepertinya tak menyadarinya, dia tetap memandang ke depan. Ada seulas senyum di wajahku saat memandangnya. Wajah polosnya yang begitu tenang, mata hitamnya yang bulat dan bibirnya yang berwarna pink membuatku tak pernah berhenti memuja wajahnya.

Dia menoleh dan menatpku, “Kenapa kau terus memandangiku?”

Aku melebarkan senyumku, “Kenapa kau terus menggenggam tanganku?”

Alis sebelah kanannya terangkat. Mungkin dia bingung kenapa aku menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan. Aku hanya tersenyum menatapnya.

“Gomawo Jungkook-ah, karena sudah mau mengantarku ke Asan.”

“Gomawo hajima, karena akan selalu seperti ini. Aku akan selalu berada di sampingmu dan menemanimu Wooren-ah” dia mengacak rambutku

Aku mengerucutkan bibirku karena perlakuannya itu padaku. Aku menarik tangan kananku yang sedari tadi digenggamnya lalu membenarkan rambutku. Dia tersenyum melihat tingkahku yang sedikit manja.

“Tapi kenapa jika eomma-mu pergi bekerja ke Asan kau selalu menyusulnya?”

“Karena aku ingin bersamanya.”

“Lalu kenapa kau tidak menyusulnya juga kalau dia pergi bekerja ke Incheon, Busan atau kota-kota lainnya?”

“Karena aku tak mungkin melakukannya pabbo! Itu jauh. Lagi pula Asankan tempat eomma-ku dilahirkan dan dibesarkan sampai dia SMA. Begitu SMA dia baru pindah ke Seoul.”

“Kau manja sekali pada eomma-mu Woorenie. Kau harusnya di rumah saja.”

“Jika aku hanya di rumah aku merasa kesepian karena appa sangat sibuk dengan pekerjaannya.”

“Kan masih ada halmoni.”

“Apa yang bisa ku bicarakan dengan halmoni? Beliau sudah tua, apa dia akan mengerti cerita-ceritaku?” Jungkook tertawa mendengar jawabanku

“Kau masih merasa kesepian jika aku ada di sampingmu eoh?”

“Kau tidak ada di sampingku saat aku di rumah Kookie-ah.” Ucapku dengan manja

Lagi-lagi dia tertawa. Sekian detik kemudian dia mencubit pipiku gemas. Aku rasa wajahku kini bersemu merah karena apa yang dilakukannya barusan. Aku menyukai sentuhan lembut yang dia berikan padaku saat dia mencubit gemas pipiku atau sekedar mengacak rambutku. Aku menyukai caranya menggenggam tanganku, aku menyukai tatapan lembutnya padaku, aku menyukai senyum tulusnya yang selalu dia berikan padaku. Aku menyukainya… Aku sangat menyukainya. Aku sangat menyukai Jungkook.

Flash back of

Pintu kereta kembali tertutup. Dengan perlahan kereta itu kembali berjalan dan kecepatannya bertambah seiring semakin ia berjalan. Pandanganku tetap lurus ke depan. Aku bisa melihat pantulan diriku di kaca-kaca jendela kereta yang bergerak semakin cepat. Yang ku lihat hanyalah pantulan diriku yang duduk sendirian di bangku ini, hanya sendirian…

-TBC-

 

 

Anyeong… aku kembali ada yang menunggu cerita flat-ku ini? aku harap ada ya kkk~ jangan lupa like atau pun komentarnya yaa.. gomawoyo

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s