FF/ LOVE ISN’T ALWAYS ABOUT HAVING/ BTS-BANGTAN/ pt. 3


COVER PT 3.jpg

Tittle: Love isn’t Always About Having

Author : AQL

Cast : Min Yoongi | Kim Nana(OC) | Jung Hoseok | Park Hyera(OC) | (Cast yang lain akan menyusul)

Genre : Romance, slice of life

Length : Chaptered

Rating : T

Disclaimer : Hanya sebuah cerita fiksi dari penulis amatir. Cast murni milik BigHit Ent, Hanya Cerita dan OC milik author.

Warning :  Typo bertebaran.

Summary :

Mengapa ini Semua terjadi padaku ?

Mengapa harus aku yang merasakannya ?

-Kim Nana-

Preview :

[NANA POV]

“Topeng yang bagus, Akting yang luar biasa. Mengapa kau tidak ingin debut menjadi seorang aktris Nana-ya?”

Tiba-tiba seseorang berucap di belakang ku, segera ku hapuskan airmataku sebelum ku balikkan badan menghadap sang pemilik suara.

Aku kaget melihat siapa pemilik suara yang mengatakan hal seperti itu.

“Ada apa? Sejak kapan disana?”

Aku bertanya kepada orang itu. Orang itu hanya Diam saja tak menjawab. Yang Ia lakukan hanya menatap ku dengan tajam dan ekspresi yang tak dapat ku artikan.

—–

“Yoongi Oppa, jawab aku. Apa yang ingin kau lakukan.” Langkahnya semakin mendekatiku.

“Sampai kapan kau ingin memakai topeng dan bersikap kuat seperti ini?” Dia berkata sambil tetap berjalan mendekatiku.

“Urus saja urusanmu Oppa. Jangan pedulikan aku. Kau tak tahu apa-apa”

“Jangan gunakan topengmu itu di depanku, aku tahu semuanya.”

Aku kaget, darimana ia bisa tau apa yang terjadi.

“B..bagaimana bisa? Apakah Hoseok menceritakan kepadamu?”

“Tidak”

“Lalu?”

“Aku melihatnya, aku melihat semuanya”

“….” diam. Hanya hembusan angin yang terdengar.

“Kau masih tak sadar juga? Kau tak tau siapa yang mengantarkanmu pulang di tengah hujan waktu itu?”

Aku kaget, apa mungkin namja itu adalah Yoongi Oppa?

“J..jadi, Namja yang mengantarkan aku pulang kemarin malam adalah kau oppa?”

Ntah apakah ada yang salah dengan pertanyaanku, setelah aku bertanya seperti itu, tiba-tiba yoongi oppa mencubit pipiku.

“Sakit Oppa.” Aku mencoba melepaskan tangannya

“Mangkanya, lain kali, seberapa burukpun keadaan hatimu, jangan pernah melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu. Bagaimana jika lelaki yang menemukanmu malam itu bukan aku ?”

Aku terdiam, melihat Yoongi Oppa mengatakan hal yang seperti itu, membuat bayangan Hoseok Oppa tiba-tiba muncul di benakku. Ia juga pernah mengatakan hal yang hampir sama.

“Kenapa kau begitu peduli padaku oppa?”

“Karena aku tak suka jika melihatmu dalam keadaan kacau.”

Dia mengatakan hal seperti itu dengan tatapan yang tak dapat diartikan, ntah mengapa rasanya ada sesuatu yang berbeda saat ia mengatakannya.

“Menangislah jika kau memang ingin menangis.” Lanjutnya

“Ani, Aku tak bisa.”

“Wae?”

“Cukup bagiku untuk menangis. Dan juga, Hoseok Oppa pernah mengatakan bahwa aku tak boleh menangis jika tak ada dirinya. Jangan menangis di depan orang lain selain dirinya.” Aku memcoba mengatakan sambil tersenyum, mengatakan hal itu, seakan-akan aku menyakiti hati kecilku sendiri.

“CUKUP KIM NANA! SAMPAI KAPAN KAU AKAN TETAP MENGHARAPKAN JUNG HOSEOK!” Yoongi oppa berteriak kepadaku.

Untuk pertama kalinya aku melihat ia seperti ini. Nafasnya terlihat berhembus dengan kasar. Aku sedikit takut melihatnya marah seperti ini.

“Baiklah, Aku akan mencoba berhenti mengharapkannya, walaupun aku tahu kemungkinan berhasilnya sangat sedikit.”

Aku mengatakan itu tak tau hanya untuk meredakan emosi yoongi oppa yang melihatku masih mengharapkan seorang Jung Hoseok atau memang dari hati kecilku ingin berhenti mengharapkannya. Aku pun tak tau.

Tak ada respon dari lawan bicara, ia hanya menatapku. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan aku katakan.

“Ternyata seperti ini rasanya ya, ketika orang yang satu-satunya bisa membuat tertawa, orang yang satu-satunya menjadi sandaran saat bersedih adalah orang yang kali ini membuat terpuruk, ,membuatku terlihat sangat menyedihkan. Rasanya sangat sakit.” Aku pun tertawa kecil, mencoba menahan airmata uang sudah membendung di pelupuk mata ini. Aku tak bisa menangis di depannya.

“Tawa yang menyedihkan” katanya sakarstik.

Tiba-tiba sebuah tangan menarikku. Seketika posisiku sudah ada di pelukannya. Ia memelukku. Yoongi Oppa menarikku ke dalam dekapannya. Aku hanya bisa mematung. Sama sekali tak bergerak.

“Menangislah dalam dekapanku jika kau tak ingin aku melihatnya. Menangislah hingga tak tersisa setetespun kesesihan yang ada di dalam dirimu. Menangislah seakan-akan ini terakhir kalinyanya kau mengangis karna di khianati.”

Kata-katanya membuat hatiku mencelos. Akhirnya air mataku tumpah, aku menangis, mengangis dalam dekapannya. Ia membiarkan diriku menangis sejadi-jadinya. Yang ia lakukan hanya membelai rambutku dengan lembut. Ia tak peduli baju yang ia kenakan menjadi basah karenaku.

Setelah ia merasa tangisanku mereda, ia mulai angkat bicara.

“Jung Hoseok, aku mengenalnya sudah lama. Dia sudah ku anggap seperti adik sendiri. Hoseok adalah orang baik, namun belum tentu ia yang terbaik bagimu. Jangan membencinya karna hal ini.”

Aku tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari dirinya. Apakah dia membela Hoseok Oppa?

“Aku tak membela Hoshiki, aku hanya bisa menjadi penengah diantara kalian” ia berkata seakan-akan ia bisa membaca jalan pikiranku.

“Nana-ya, akan ku beritahu satuhal. Kau bisa mencintai siapapun, namun belum tentu kau dapat memilikinya, karena cinta tak selama tentang memiliki. Kau mengerti”

“Cih, kau mengatakannya seperti orang yang sudah sangat berpengalaman oppa.”

Aku sudah berhenti menangis. Namun pelukan kami belum lepas juga, ia pun tak berniat melonggarkan dekapannya. Entah apa yang membuatku tergerak, aku malah membalas pelukannya, terasa hangat dan nyaman. Kami pun kembali heningbuntuk beberapa saat.

“Jangan pernah berfikir ketika kau di tinggal oleh Hoseok, tak ada lagi yang peduli padamu. Ia tetap peduli, begitu juga member yang lainnya. Kami sudah menganggapmu seperti adik sendiri Nana-ya.”
Ia melepas pelukan kami. Ia memegang pundakku. Mencondongkan kepalanya hingga setara dengan wajahku jarak kami sangat dekat hanya beberapa.centi.

‘Tampan’, itu fikiran yang pertama kali muncul di benakku. Ini pertama kalinya aku melihat wajah seseorang dengan dekat seperti ini, apalagi ia adalah seorang Min Yoongi.

“Jika kau tak tau dimana tempat untuk bersedih, aku bisa meminjamkan pelukkanku untuk tempat kau menangis, pundakki untuk kau bersandar. Kau mengerti?”
ia mengatakannya dgn Lembut dan pelan, namun aku masih bisa mendengarnya.

“Ne, Arraseo” aku mengangguk.

“Aku tau kau yeoja yang kuat, kau bisa melewati semua ini Kim Nana.” Kali ini ia berkata sambil mengusap pipiku, menghapus sisa-sisa buliran cairan bening yang ada. Pipiku rasanya memanas, namun aku mencoba bersikap biasa saja.

Ku liat jam yang ada di tanganku. Hampir menuju pukul 2.

“Oppa, waktu istirahat akan berakhir”

“Benarkah? Kalau begitu kau turun duluan untuk memperbaikin make up mu yang luntur. Aku masih ingin disini untuk beberapa saat.” Katanya

“Baiklah aku kembali, gomawo untuk semuanya Oppa, dan juga mian, aku mengganggu waktu istirahatmu.”
Aku pun beranjak dari tempat itu untuk kembali kedalam.

Belum beberapa langkah ku dengar ia memanggilku.

“Nana-ya, karena kau sudah berbagi tentang dirimu, mungkin aku akan memberitahu kepadamu sesuatu.”

Tak mengerti apa maksud yang di katakan Yoongi Oppa, aku kemudian membalik posisi badanku menghadapnya.

“Maksud Oppa?”

“Aku harap kau dapat menjaga rahasia ini dari siapapun, begitu juga memberku. kau paham?”

“Ne, jadi rahasia apa? Apa kau mengencani anggota girlband lain? Atau saat ini kau memakai boxer Jungkook lagi?” Kataku sambil tertawa mencoba menggodanya.

Aku tak punya pikiran sedikit pun tentang apa yang ia ingin katakan

[Nana POV End]

[Yoongi POV]

Ntah apa yang aku pikirkan sebelumnya, hingga bisa dengan refleks menariknya ke dalam pelukanku. Itu semua terjadi di luar kendali akal sehatku. Aku hanya tak tega melihatnya terus-terusan memakai topeng seperti ini.

Aku tau, kata-kataku yang sedikit kejam tidak membuat keadaannya semakin membaik, malah sebaliknya.

Aku sadar, diriku tak mampu menghibur seseorang yang sedang bersedih dengan kata-kataku. maka dari itu, yang bisa ku lakukan hanya menariknya ke dalam pelukanku.

Ku biarkan ia menangis di pelukanku, mungkin itu yang ia benar-benar butuhkan saat ini.

Entah mengapa tanganku dengan reflek membelai rambut hitamnya yang panjang. Ku coba menenangkan dirinya.

Setelah ku rasa dirinya cukup tenang, aku mulai membuka pembicaraan, setidaknya kali ini aku sudah mengatur kata-kataku agar tak menyakiti dirinya.

Aku tak menyangka aku bisa berbicara sebanyak itu kepada seseorang. Dia juga pasti berfikiran seperti itu.

Seorang Min Yoongi yang terkenal dengan sifat dinginnya tiba-tiba menjadi banyak bicara seperti itu. Ah hancur sudah image yang sudah ku bangun di depannya. Untungnya hanya dia, tidak di depan para penggemarku.

Ia melepaskan pelukannya denganku dan terlihat sudah benar-benar selesai menangis. Ku hapus sisa air mata yang ada di pipinya. Saat tanganku menyentuh pipinya, tubuhku terasa sedikit menegang, ku lihat ia juga sedikit salah tingkah.

‘Astaga Min Yoongi, apa yang kau lakukan’ kataku pada diri sendiri.

Untuk mengusir suasana canggung yang mungkin ada karena diriku, aku lantas melanjutkan nasehatku kepadanya.

Setelah beberapa saat, Nana yang dari tadi hanya diam mendengar ocehanku membuka suara. Ia mengatakan waktu istirahat kami akan segera habis

Astaga sudah berapa lama aku berbicara dari tadi? Dan sekarang waktu istirahatku segera habis? Padahal tadi saat break aku berniat beristirahat sambil menikmati angin yang sejuk ini.

Aku menyuruhnya kembali terlebih dahulu untuk memperbaiki makeupnya yang telah luntur karena airmatanya tadi. Saat ia menangis seperti ini entah mengapa itu membuatku teringat pada masa lalu ku yang menyakitkan dahulu. Masa lalu ku dengan Park Hyera, ya manajerku sendiri. sudah saatnya aku tidak memendamnya sendirian. Mungkin Nana adalah orang yang tepat untuk diriku berbagi.

Ku panggil namanya, sebelum ia benar-benar hilang dari hadapanku. Ia berbalik, namun ketika melihat wajahnya entah sesuatu apa yang mendorongku enggan mengatakannya. Mungkin ini bukan waktu yang tepat.

Sepeninggalan aku duduk menyandarkan diri pada kursi panjang yang memang sengaja ada di sana. Aku sangat lelah. Berniat untuk terlelap sejenak menghabisakan sisa waktu istirahat sebelum benar-benar habis.

Ku pejamkan mataku, tiba-tiba kilas balik kejadian-kejadian itu berputar di pikiranku. Seperti adegan pada film-film romantis. Terlihat sangat jelas bagaimana aku dulu menghabisan waktu bersama Hyera, hingga bagaimana dia meninggalkanku dengan alasan ia tak bisa bersamaku dan menyuruhku untuk menggapai mimpiku tanpa dirinya.

Dan kini ia kembali ke kehidupanku sebagai manajerku. Seharusnya aku senang karena sampai saat ini aku masih tetap mencintainya. Namun rasa sakit yang dahulu di buatnya masih terasa sampai saat ini, itu membuatku belum siap untuk mengatakannya.

Mungkin nanti, jika saat yang tepat itu datang, aku akan mengatakan bahwa aku masih tetap memcintainya dan berharap bisa kembali bersamanya. Dan untuk masalah Hoseok, aku harap ia bisa mengerti. Lagi pula ia memiliki banyak kenalan yeoja dari kalangan grup idol.

Ku buka mataku, kulihat jam telah menunjukan lewat pukul 2. Itu artinya aku sudah telat. Aku bergegas kembali turun. Saat aku berdiri dari tempat dudukku tiba-tiba kepalaku terasa berat, dan keringat dingin keluar dari tubuhku apakah ini efek dari membayangkan masalalu itu? Ntahlah.

Ku lawan rasa sakit itu. Dan bergegas menuju tangga. Saat hampir mencapai tangga terakhir. Rasanya badanku melemah, peganganku pada ganggang tangga pun semakin melonggar. Sakit kepala itu semakin menjadi. Aku tak kuat lagi, keseimbanganku hilang. Aku jatuh.

Sakit, itulah yang ku rasakan ketika badanku membentur beberapa anak tangga, hingga terhenti. Sayup-sayup terdengar seseorang bertariak memanggil namaku sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaranku. Setelah itu semuanya gelap.

 

-TBC-

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

2 thoughts on “FF/ LOVE ISN’T ALWAYS ABOUT HAVING/ BTS-BANGTAN/ pt. 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s