FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 5


11902518_869875126416742_4665585678208730251_n

Tittle :

BTS 7 Soul

Author :

Lingkyu88

Lenght :

Chapter

Genre :

Romance, Friendship, Fluff, Smut

Rate :

Mature, NC -17

Main Cast :

Boys :

Park Jimin ▶ 18 y.o, Taehyung classmate, Smart, Rich

Kim Taehyung ▶ 18 y.o, Jimin classmate, Rich, Cassanova

Jeon Jungkook ▶ 16 y.o, Jimin & Taehyung junior, Rich, Bi

Kim Seokjin ▶ 21 y.o, Manager in a Smartphone center, Rich, Handsome

Min Yoongi ▶ 20 y.o, Musician, Cool, Rich, Lazy ass

Jung Hoseok ▶ 19 y.o, College student, Rich, Moodmaker

Kim Namjoon ▶ 19 y.o, Leader of the group, Cafe owner, Rich, Sexy mind

Girls :

Kim Eunjin  ▶ 16 y.o, Kim Taehyung lil sister, Jungkook classmate, childish

Kwon Minyoung ▶ 18 y.o, Jimin & Taehyung classmate, nerdy, bullying victim

Lee Namjung ▶ 23 y.o, a nurse, mature

Han Ara ▶ 18 y.o, Jimin & Taehyung classmate, innocent

Shin Sang Eun ▶ 19 y.o, pool dancer, adopted by Paraiso’s owner

Choi Hyena ▶ 20 y.o, college student, Yoongi’s maid

Oh Yeonkyung ▶ 22 y.o, single parent, tomboyish, Namjoon’s cafe employer

Cover by :

Cover Story Fanfiction Korea

Disclaimer :

BTS members are not mine but this fanfic is pure my imagination. I give this fanfic mature rating cuz there will be parts that contains with sex, harrasment, bloods, and drugs. Please don’t be silent readers and plagiator. So ignore typos, enjoy the story!

Thanks~~ ♥♥♥

[CHAPTER  5 : I NEED U]

 

-Author POV-

Siang ini Jungkook, Seokjin, Jimin, Taehyung, dan Eunjin berkumpul di ruang yang dijadikan kantor oleh Namjoon di cafenya. Walaupun ruangan ini lebih mirip ruang santai daripada kantor. Mereka duduk di sofa kulit berwarna coklat tua yang mengelilingi sebuah meja kaca berbentuk oval.

“Hyung, sebenarnya ada acara apa?” Tanya Jungkook pada Namjoon.

“Sebenarnya tidak ada acara apa-apa. Hanya ingin berkumpul bersama kalian saja,” jawabnya.

“Sialan! Aku kira ada acara apa,” gerutu Jimin.

“Malam ini tidak ada yang ke Paraiso? Satnight, bruh!” Seru Taehyung.

“Aku malas,” jawab Namjoon.

“Aku juga malas,” jawab Jimin.

“Hei, biasanya kau paling semangat. Kenapa? Apa sudah ada orang lain yang mem-booking Rose?” Tanya Taehyung sambil tertawa.

“Kata Madam Celine, dia tidak melayani pelanggan selama seminggu. Ibunya sakit jadi dia harus pulang ke Spanyol.”

“Benarkah? Ck! Aku kira wanita-wanita pelacur disana tidak ada yang teringat keluarganya,” kata Taehyung.

“Dia juga sama manusia, Taehyung. Hanya saja aku tidak mengerti kenapa mereka memilih jalan hidup seperti itu. Apakah mereka berasal dari keluarga miskin? Tapi, hei, lima puluh juta won per malam bukan uang yang sedikit. Coba kalikan satu bulan. Dalam sebulan saja pendapatan mereka lebih banyak dari uang sakuku,” ujar Jimin.

“Entahlah. Aku juga tidak mengerti,” jawab Taehyung.

“Hei, ada Eunjin disini dan kalian membicarakan hal-hal tidak seronok seperti itu,” kata Seokjin.

“Tidak apa-apa Oppa. Aku ingin tahu apa yang Taehyung Oppa bicarakan kalau sedang berkumpul dengan kalian,” kata Eunjin.

“Oppa-mu itu playboy. Tentu saja yang dia bicarakan adalah gadis-gadis yang menarik perhatiannya. Hahaha,” jawab Jimin.

“Sialan kau!” Umpat Taehyung.

“Biarlah dia belajar dewasa Hyung. Tidak melulu merengek-rengek pada Oppa-nya,” ujar Jungkook sambil memeluk Eunjin yang memang duduk di sampingnya.

“Oppaaaaaaa…,” rengek Eunjin pada Taehyung.

“Nah, belum apa-apa sudah merengek seperti ini,” kata Jungkook.

“Aish! Oh ya Jungkook, aku punya ponsel baru. Tadaaaa!” Eunjin memamerkan ponselnya pada Jungkook.

“Hei, ini ponsel Seokjin Hyung,” komen Jungkook.

“Bukaaaaannn… Ini ponselku. Seokjin Oppa membelikanku ponsel yang sama dengannya.”

“Wow! Hyung, kau menggoda adik Taehyung?” Namjoon yang sedari tadi sibuk mengotak-atik ponselnya ikut nimbrung.

Seokjin tersenyum. “Aku tidak mempunyai adik, karena itu aku menyayanginya seperti adikku sendiri. Eunjin itu menggemaskan. Tidak seperti Oppa-nya yang menyebalkan. Haha,” jawab Seokjin membuat Taehyung menatapnya sebal.

“Eunjin, Oppa tidak jadi merestui kau dengan Seokjin Hyung,” ancam Taehyung.

“Eyyy… Eunjin, kau menyukai Seokjin Hyung?” Goda Jungkook.

“Aish, Oppa membuatku malu,” gerutu Eunjin.

“Aku kira kau akan menyukai Jungkook. Kemana-mana kau selalu dengan Jungkook. Lihat, di sampingmu Seokjin Hyung tapi kau lebih memilih memeluk Jungkook,” kata Jimin.

“Jungkook itu… seperti anak kecil, Oppa. Jadi aku menganggapnya seperti adikku sendiri,” ujar Eunjin membuat Jungkook melotot kepadanya.

“Hei, tidak kebalik? Kau itu yang seperti anak kecil. Kau juga lebih muda dariku,” kata Jungkook.

“Hanya satu hari,” Eunjin menjulurkan lidahnya pada Jungkook.

“Sudah-sudah. Kalian ini selalu begitu,” Taehyung melerai. “Hyung, ngomong-ngomong Yoongi Hyung dan Hoseok Hyung kemana?” Tanyanya pada Namjoon.

“Yoongi bilang orangtuanya pulang jadi dia tidak bisa datang,” jawab Namjoon.

“Tidak biasanya dia lebih mementingkan orangtuanya daripada kita,” komen Jimin.

“Semenjak dia pacaran dengan Hye- oops! Aku kelepasan bicara,” Namjoon nyengir aneh.

“Pacaran? Yoongi Hyung punya pacar?” Taehyung tertawa terbahak-bahak. “Aku pikir dia benar-benar gay. Hyung, siapa pacarnya?”

“Sebenarnya Yoongi Hyung tidak mengijinkanku memberitahu siapa-siapa,” kata Namjoon.

“Ayolah, tidak boleh ada rahasia diantara kita, bukan?” Ujar Seokjin.

“Itu… Hyena.”

“Hyena?!” Seru mereka bersamaan.

“Hyena pembantunya itu?” Tanya Jimin.

Namjoon mengangguk.

Gosh! Terakhir aku datang ke rumahnya mereka sepertinya tidak ada hubungan apa-apa,” komen Taehyung. “Atau aku yang memang tidak memperhatikan?”

“Aku juga tidak tahu. Kalian tahu, dia yang sangat dingin dan kaku di depan orang lain, ternyata sangat manja pada Hyena,” Namjoon tergelak mengingat kejadian kemarin.

“Setahuku, sedingin dan sekaku apapun pria jika dia sudah bertemu dengan Miss Right-nya maka dia akan bertekuk lutut di depannya,” kata Jimin sok puitis.

“Cih! Roman picisan, eoh?” Cibir Taehyung.

“Hoseok Hyung kemana?” Tanya Jungkook.

“Aku tidak tahu. Dari tadi aku menghubungi ponselnya tidak diangkat,” jawab Namjoon.

“Biar aku susul, Hyung. Perasaanku tidak enak tentangnya,” ujar Taehyung.

“Baiklah. Pastikan dia baik-baik saja. Mungkin dia hanya ketiduran,” kata Namjoon.

Taehyung memakai jaket kulitnya dan meraih kunci mobilnya di meja.

“Taehyung, aku ikut,” ujar Jimin.

“Ayo!” Jawab Taehyung dan diikuti Jimin meninggalkan ruangan itu.

Namjoon memegang ponselnya dan men-dial nomor seseorang. “Kyung, tolong bawakan waffel coklat kemari… Iya… Tidak usah… Oke!” Namjoon mematikan ponselnya.

“Hyung, kau benar tidak akan ke Paraiso malam ini?” Tanya Jungkook.

“Aku sedang tidak dalam mood yang bagus untuk sekedar membuang waktu di sana,” jawabnya.

“Ah, aku bosan, Hyung jika tidak kesana,” desah Jungkook. “Eunjin, malam ini aku menginap di tempatmu ya?” Kata Jungkook pada Eunjin yang tengah sibuk ber-selca dengan Seokjin.

“Boleh. Lagipula Taehyung Oppa pasti menginap di tempat pacarnya,” jawab Eunjin.

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan seorang pelayan masuk membawa nampan berisi waffel pesanan Namjoon.

Jungkook menatap pelayan itu hingga terbengong. Entah mengapa pelayan itu begitu menarik perhatiannya.

“Terimakasih, Kyung,” ujar Namjoon pada pelayannya itu, Yeonkyung. Yeonkyung yang meminta dipanggil Kyung saja agar tidak ada yang curiga kalau dia adalah wanita.

Yeonkyung mengangguk dan bersiap meninggalkan tempat itu.

“Tunggu!” Seru Jungkook pada pelayan itu.

Pelayan itu, Kyung, menghentikan langkahnya. “Ya, Tuan?”

Jungkook menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Aku… ah, tidak apa-apa,” ujarnya dengan senyum aneh.

Yeonkyung hanya mengangguk kemudian meninggalkan tempat itu.

“Hei, kau kenapa?” Tanya Namjoon.

Jungkook nyengir aneh. “Dia… pria?”

Namjoon menaik-turunkan alisnya. “Kenapa?”

Jungkook salah tingkah. “Aku… tidak apa-apa, Hyung.”

“Hei… kau menyukai pelayan itu?” Goda Eunjin.

Jungkook mencubit pipi Eunjin. “Sembarangan!”

“Aww!” Seru Eunjin sambil memegangi pipinya yang baru saja dicubit Jungkook. “Wajahmu memerah saat melihat pelayan itu,” gerutu Eunjin.

“Benarkah?” Tanya Jungkook panik. Dia takut teman-temannya mengetahui dia kembali menyukai pria karena dia pernah berjanji untuk merubah tingkah menyimpangnya tersebut. “Oh ya, waffel-nya enak,” lanjutnya sambil mengambil sepotong waffel dan memakannya.

Namjoon, Eunjin, dan Seokjin tertawa melihat Jungkook yang nampak salah tingkah.

“Ah, Hyung aku ke toilet dulu,” ujar Jungkook tiba-tiba. Meninggalkan Namjoon, Eunjin, dan Seokjin yang menahan tawa. Jungkook memang tidak pandai menyembunyikan perasaannya.

“Oh ya, aku ke bawah dulu sebentar,” kata Namjoon meninggalkan Eunjin dan Seokjin berdua saja.

Eunjin sibuk mengutak-atik ponselnya. Sementara Seokjin sibuk menikmati waffel yang tersedia di meja.

“Kau mau?” Tawar Seokjin pada Eunjin sambil menunjukkan potongan waffel yang masih utuh.

Eunjin meletakkan ponselnya di meja dan menerima waffel dari tangan Seokjin. Eunjin memakan waffel tersebut dengan pelan namun lelehan topping coklatnya mengotori tepi bibirnya. Seokjin yang melihatnya tertawa. Membuat Eunjin bingung.

“Ada apa, Oppa?” Tanya Eunjin bingung. Kedua matanya terbelalak dan terlihat sangat cute.

Seokjin mendekatkan wajahnya pada wajah Eunjin sambil menatapnya tajam. Membuat Eunjin semakin panik. Tangan kanan Seokjin menarik dagu Eunjin dan mendekatkan bibirnya pada bibir Eunjin. Sementara Eunjin menutup kedua matanya karena panik.

Seokjin mengambil tisu di meja dengan tangan kirinya dan membersihkan lelehan coklat waffel di tepi bibir Eunjin. “Kau ini… makan saja masih belepotan bagaimana bisa punya pacar,” ujar Seokjin sambil tersenyum manis.

Eunjin membuka kedua matanya dan menatap Seokjin yang sibuk mengelap bibirnya. “Oppa… .”

“Hmm…,” jawab Seokjin sambil membuang tisu bekas Eunjin tersebut di asbak rokok yang terletak di atas meja.

“Aku pikir kau akan menciumku,” gerutu Eunjin membuat Seokjin tertawa terbahak-bahak. Eunjin semakin kesal karena tawa Seokjin seolah-olah mengejeknya.

Seokjin mengusap-usap kepala Eunjin. “Kalau kau bukan adik Taehyung sudah kulakukan dari kemarin-kemarin, Eunjin.”

“Apa masalahnya? Kau menyukai Taehyung Oppa?” Eunjin melipat kedua tangannya di dadanya.

“Eunjin… dengarkan Oppa. Kau tahu bukan hubungan kami bertujuh? Kami sudah seperti keluarga. Itu sebabnya aku juga hanya menyayangimu seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya. Bukan aku tidak bisa menyukaimu, tapi aku tidak ingin persahabatan kami rusak karena aku bersamamu,” kata Seokjin sambil menatap wajah Eunjin.

“Tapi apa hubungannya? Bukankah kalau kita bersama justru akan membuat kalian benar-benar menjadi keluarga?” Kata Eunjin masih saja kesal.

“Eunjin… Dunia ini keras. Kadang apa yang kita harapkan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Aku takut… suatu saat nanti aku menyakitimu dan berimbas pada persahabatanku dan Taehyung. Aku tahu Taehyung benar-benar protektif padamu. Dan dia juga tahu aku seperti apa.”

“Tapi bukankah perasaanku aku yang memilikinya? Bukan dia. Dia tidak berhak mengaturku untuk menyukai siapa saja.”

“Eunjin… tidak ada kakak yang ingin adiknya mendapatkan hal buruk. Seburuk apapun seorang kakak, dia pasti menginginkan sosok yang lebih baik untuk adiknya. Jika dia tidak mengijinkan kita bersama, dia pasti sudah mempertimbangkannya matang-matang. Nanti jika waktunya sudah tepat aku akan meminta ijin padanya.”

Eunjin tersenyum sumringah. Kini dia paham posisi mereka di mata Taehyung. “Benarkah? Oppa, terimakasih.”

“Jadi kau bersabar ya. Oh ya, kau juga harus belajar dewasa dan mandiri. Berhentilah merengek-rengek pada Taehyung ataupun Jungkook,” Seokjin mencubit pipi Eunjin.

Eunjin mengangguk-angguk senang.

“Hyung, kita harus segera ke rumah sakit!” Seru Jungkook yang tiba-tiba datang mengagetkan Seokjin dan Eunjin.

“Ada apa?” Tanya Seokjin panik.

“Hoseok Hyung. Dia overdosis. Taehyung dan Jimin membawanya ke rumah sakit,” jawab Jungkook. “Namjoon Hyung dimana?”

“Di bawah,” jawab Seokjin sambil memakai jaket denimnya dan mengambil ponselnya. Mereka bertiga bergegas turun menjemput Namjoon.

-Author POV End-

—000—

-Min Yoongi POV-

Aku duduk di ruang tamu bersama Ayah dan Ibu. Ibu sibuk bercerita tentang pengalamannya di negara lain. Sementara aku bosan sekali mendengarkan ocehan mereka.

“Yoongi, bagaimana kuliahmu?” Tanya Ayah.

“Baik,” jawabku singkat.

“Ayah ingin kau belajar yang benar agar kelak bisa menggantikan Ayah memegang perusahaan,” katanya lagi.

Huh?! Mereka tidak tahu kalau aku jarang masuk kuliah karena aku sama sekali tidak paham tentang manajemen perusahaan. Aku ingin sekali masuk kuliah jurusan Musik tapi Ayah memaksaku untuk mengambil Manajemen dengan alasan akulah yang akan menjadi penerus mereka. Seharusnya ada Hyung-ku tapi hubungan mereka sedang tidak baik. Hyung dan Ayah sama-sama keras kepala. Aku juga keras kepala tapi aku masih menghormati mereka sebagai kedua orangtuaku.

“Yoongi, apa kau sudah memiliki pacar?” Tanya Ibu.

“Kenapa?”

“Kami kemarin bertemu dengan keluarga Yoon Jongmin. Kau ingat bukan putri mereka, Bomi? Dia sekarang tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan pin-“

“Ibu, jangan berharap aku mau dijodohkan dengannya,” ujarku.

“Tapi kenapa? Dia cantik, pintar, berasal dari keluarga yang terhormat.”

“Ibu, aku sudah mempunyai pacar jadi berhentilah untuk berpikir menjodohkanku dengan rekan bisnis kalian.”

“Benarkah? Siapa? Kuliah dimana? Keluarganya memiliki perusahaan apa?”

“Ayahnya sudah meninggal. Ibunya sakit-sakitan dan gadis itu bekerja sebagai pembantu di sebuah keluarga kaya harta namun miskin kasih sayang.”

“Jadi dia bukan dari kalangan terhormat?” Tanya Ayah.

Aku menggeleng. “Bagiku mereka dari kalangan terhormat. Aku menilai mereka bukan berdasar harta yang mereka miliki.”

“Ayah tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian!” Seru Ayah.

“Aku sudah menduga itu. Tapi aku tidak peduli. Sudah cukup Ayah dan Ibu memaksaku bersekolah di sekolah yang bahkan aku tidak mengerti sama sekali apa yang tengah aku pelajari. Ayah dan Ibu tidak usah ikut campur lagi dalam urusan jodohku.”

“Yoongi!” Seru Ayah.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku mengecek layar ponselku. Jimin! Aku menekan gambar telpon berwarna hijau di layar ponselku.

“Hyung, ke rumah sakit sekarang!” Serunya dari seberang sana.

“Ada apa?”

“Hoseok Hyung overdosis. Sekarang dia sedang di ruang gawat darurat.”

“Baiklah, aku kesana,” jawabku sambil mematikan sambungan telpon kami dan segera bangkit dari dudukku.

“Yoongi, duduk!” Seru Ayah.

Namun aku tidak memperdulikannya dan tetap melengang pergi meninggalkan mereka.

“Yoongi kau mau kemana? Cepat kembali atau…”

Aku pura-pura tidak mendengar.

—000—

Sesampainya di rumah sakit aku melihat Seokjin Hyung, Namjoon, Jimin, Taehyung, Jungkook, dan Eunjin tengah gelisah di depan ruang gawat darurat. Aku berlari-lari mendekati mereka.

“Apa yang terjadi?” Tanyaku.

“Tadi aku dan Taehyung berencana menjemput Hoseok Hyung ke apartemennya. Namun saat kami kesana tidak ada jawaban dari Hoseok Hyung. Kami nekat masuk dan mendobrak printu kamarnya. Ternyata dia sudah terkapar dengan alat suntik di tangannya. Aku juga melihat obat-obatan terlarang di sekitar tempat dia pingsan,” terang Jimin.

“Dia memakai obat-obatan terlarang? Sejak kapan?” Tanyaku.

“Aku juga tidak tahu, Hyung. Tidak ada satu pun diantara kita yang mengetahuinya,” jawab Taehyung.

Aku mendesah. Aku sempat melihat dia beberapa kali meminum tablet berwarna putih saat kami berkumpul di Paraiso beberapa waktu yang lalu. Tapi dia bilang itu hanya obat sakit kepala.

Tak berapa lama beberapa dokter dan perawat keluar dari ruangan tersebut.

“Adakah keluarga Jung Hoseok di sini?” Tanya seorang dokter pria paruh baya.

“Kami keluarganya, Dok,” jawabku.

“Maksudku, keluarganya asli,” katanya.

“Dok, jika ada hal yang perlu dibicarakan, kau bisa percayakan pada kami. Kami adalah keluarganya karena tidak ada satu pun keluarga aslinya yang peduli padanya,” jawabku.

Dokter itu mengerutkan keningnya bingung. Namun tak lama kemudian dia mengangguk. “Baiklah, kita bicarakan di ruanganku saja. Tapi hanya satu orang saja. Yang lainnya, kalian sudah boleh menjenguk pasien,” ujarnya.

Aku mengangguk dan mengikuti langkah dokter tersebut. Sementara yang lain satu persatu memasuki ruangan gawat darurat.

Dokter tersebut melepas stetoskop yang tergantung di lehernya kemudian menyuruhku duduk di bangku yang berhadapan dengannya.

“Pasien mengalami overdosis obat-obatan terlarang. Apa kalian tahu kalau dia mengonsumsi obat-obatan terlarang tersebut?” Tanyanya.

Aku menggeleng. “Aku sempat melihatnya meminum obat tapi dia bilang itu hanya obat sakit kepala, Dok.”

“Sepertinya dia sudah cukup lama mengonsumsi obat-obatan terlarang tersebut. Terdapat beberapa luka sayatan di lengan kirinya. Sepertinya dia menggunakan obat-obatan terlarang jenis kokain dan shabu-shabu.”

“Lalu bagaimana sebaiknya, Dok?”

“Dia sudah berada di level tinggi dalam mengonsumsi obat-obatan terlarang tersebut. Aku sarankan dia dibawa ke panti rehabilitasi mengingat yang anda bilang bahwa pasien tidak memiliki keluarga yang peduli padanya. Akan sangat sulit jika hanya melakukan pengobatan di rumah karena tidak ada yang bisa mengontrolnya setiap waktu.”

Aku terdiam. Aku tidak mengetahui kalau Hoseok sudah sejauh ini dalam mengonsumsi obat-obatan terlarang tersebut. Ah, itukah sebabnya selama ini dia begitu gembira dan kadang-kadang flying? Yang aku tahu itu hanya efek alkohol atau soju yang sering kami minum.

“Sementara ini pasien akan dirawat dulu di sini sampai racun dari overdosis tersebut benar-benar hilang. Setelah itu, seperti yang aku sarankan, sebaiknya kalian segera membawanya ke panti rehabilitasi.”

Aku mengangguk. “Baik, Dok. Lakukan apapun yang terbaik untuknya.”

Dokter itu mengangguk-angguk kemudian aku pergi meninggalkan ruangan tersebut. Aku kembali ke ruang gawat darurat, di mana Hoseok dirawat. Sampai di sana aku menjumpai anak-anak tengah berdiri mengelilingi Hoseok yang masih belum sadarkan diri.

“Bagaimana, Hyung?” Tanya Namjoon.

“Hoseok overdosis narkoba. Ternyata dia sudah cukup lama mengonsumsi obat-obatan terlarang tersebut. Dan Dokter bilang, dia perlu dirawat di panti rehabilitasi.”

“Bagaimana bisa satu pun dari kita tidak ada yang mengetahuinya,” gumam Namjoon.

“Lalu, apa kita akan memberitahu orangtuanya?” Tanya Seokjin.

Aku menggedikkan bahuku. “Aku juga tidak tahu. Aku tidak mengetahui keberadaan dan nomor telpon mereka. Hoseok sangat tertutup denganku. Sebaiknya nanti kita bicarakan dengan Hoseok dulu.”

“Dia pernah bercerita kalau ayahnya tinggal dengan istri barunya di Jepang. Kalau ibunya… entahlah. Hoseok Hyung sendiri juga tidak mengetahuinya dan tidak mau peduli dengan mereka,” kata Taehyung.

“Kalau begitu sebaiknya kita menjaganya secara bergantian,” saran Seokjin Hyung.

“Malam ini biar aku yang menungguinya. Siapa yang mau menemaniku?” Tanyaku.

“Aku, Hyung,” jawab Taehyung. “Jungkook, kau malam ini menemani Eunjin di rumah,” katanya pada Jungkook.

Jungkook mengangguk.

“Aku juga, Hyung. Karena besok malam aku tidak bisa menungguinya. Besoknya aku ada ulangan,” ujar Jimin.

“Baiklah. Malam ini aku, Taehyung, dan Jimin yang menunggui Hoseok. Besok aku, Seokjin Hyung, dan Namjoon yang menungguinya,” kataku.

“Aku, Hyung?” Tanya Jungkook.

“Kalian yang masih sekolah, sebaiknya fokus pada sekolah kalian. Sepulang sekolah kalian boleh datang menjenguk,” jawab Seokjin Hyung yang dianggukkan oleh yang lain.

-Min Yoongi POV End-

—000—

-Author POV-

Jam 4 sore. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di cafe, Yeonkyung bergegas pulang. Dia tidak sabar ingin segera menemui putranya, Charyeong.

Yeonkyung mengetuk pintu tetangga apartemennya. Tempat dia menitipkan Charyeong. Tetangganya itu juga memiliki anak seumuran dengan Charyeong.

“Ibu!” Seru seorang bocah kecil berumur 3 tahun saat pintunya terbuka.

Yeonkyung menunduk dan memeluk putra semata wayangnya itu.

“Wangi sekali. Sudah mandi?”

Charyeong mengangguk. “Tadi aku bermain air bersama Sunghwan. Lalu Bibi Jinyoung menyuruh kami mandi sekalian.”

“Umm, lain kali tidak boleh nakal ya. Jangan merepotkan Bibi Jinyoung,” Yeonkyung mengusap-usap kepala Charyeong.

“Hei, Yeonkyung. Maaf baru selesai memakaikan baju Sunghwan,” suara seorang wanita di belakang Charyeong berjalan mendekati Yeonkyung bersama seorang anak lak-laki kecil.

“Tidak apa-apa, Unnie. Maaf selalu merepotkanmu,” Yeonkyung membungkukkan badannya.

“Tidak. Charyeong sangat lucu dan penurut.”

“Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu, Unnie. Charyeong, ayo pamit pada Bibi Jinyoung dan Sunghwan.”

“Bibi Jinyoung, Sunghwan… Charyeong pulang dulu. Besok main kesini lagi.”

“Iya. Charyeong jangan menyusahkan Ibu ya di rumah. Ibu pasti lelah baru pulang kerja.”

“Iya, Bibi. Charyeong tidak nakal, koq,” ujar Charyeong membuat yang lain tertawa.

Yeonkyung membawa Charyeong pulang ke apartemennya. Mereka berbaring di kasur lantai di kamar mereka. Yeonkyung tidak mempunyai tempat tidur. Hanya kasur lantai sebagai alas tidur dia dan putra semata wayangnya tersebut.

“Ibu kapan libur?” Tanya Charyeong.

“Lusa, Nak. Kau mau jalan-jalan kemana?” Jawab Yeonkyung.

“Aku mau ke pantai, Ibu. Tadi Sunghwan memperlihatkanku foto dia jalan-jalan ke pantai.”

Yeonkyung tersenyum. “Baiklah, Nak. Lusa kita jalan-jalan ke pantai.”

“Benarkah? Yeay!”

Yeonkyung menciumi pipi putra kecilnya, Charyeong. Wajah Charyeong sama persis seperti ayahnya, Lee Howon. Mata, hidung, bibir, dan bentuk wajahnya seperti copycat Howon.

Terkadang Yeonkyung ingin menangis jika mengingat suaminya yang kini telah meninggalkannya ke surga. Saat Charyeong masih berumur satu tahun, Howon menderita demam berdarah tanpa diketahui. Sekitar dua minggu kemudian dia meninggal akibat terlambat membawanya ke rumah sakit. Sejak saat itu Yeonkyung selalu dihantui perasaan bersalah pada suaminya itu. Itu sebabnya dia belum siap membuka hatinya untuk orang lain dan merubah penampilannya seperti pria agar tidak ada pria yang menyukainya.

“Ibu melamun?” Tanya Charyeong mengagetkan Yeonkyung.

Yeonkyung tersenyum. “Ibu teringat ayahmu, Nak. Besok sebelum jalan-jalan kita ke makam ayahmu dulu ya.”

Charyeong mengangguk. “Baik, Ibu.”

“Kau sudah makan?”

“Belum, Ibu.”

“Kau mau makan apa? Biar Ibu masak dulu.”

“Aku mau sayur udang, Ibu.”

“Baiklah. Kau mainan sendiri dulu ya. Ibu masak dulu.”

“Iya, Bu.”

Yeonkyung bangkit kemudian pergi menuju dapur.

-Author POV End-

—000—

-Han Ara POV-

Sore ini aku mengajak Minyoung jalan-jalan ke mall. Siang tadi Taehyung mengirimiku pesan kalau dia tidak bisa datang ke rumah karena Hoseok Oppa masuk rumah sakit. Sebenarnya aku ingin menjenguknya tapi Taehyung tidak mengijinkanku karena Hoseok Oppa belum sadarkan diri.

“Kau ingin membeli apa?” Tanya Minyoung saat kami menaiki eskalator menuju lantai atas.

“Aku ingin membeli modul Matematika. Modul yang aku beli kemarin ternyata kurang lengkap,” jawabku. “Kau ingin membeli apa?”

“Liat nanti saja. Tapi aku juga sekalian mau membeli alat tulis.”

Kami bergegas menuju salah satu toko buku di dalam mall ini. Di dalam toko buku aku berpisah dengan Minyoung karena tujuan yang ingin kami beli berbeda. Aku ke bagian buku-buku dan dia ke bagian alat tulis.

Setelah buku yang kucari ketemu, aku melihat-lihat beberapa buku-buku modul pelajaran lain. Banyak sekali buku-buku baru. Namun aku belum berencana membeli lagi.

“Ara, kau sudah selesai?” Tanya Minyoung tiba-tiba.

“Uh-hum. Ayo kita keluar,” kataku. Setelah membayar ke kasir kami pergi dari toko buku tersebut.

“Kau ingin membeli apa lagi?” Tanya Minyoung padaku.

“Umm… tidak ada hal spesifik yang ingin aku beli selain buku tadi. Jadi kita jalan-jalan saja dulu. Tapi ngomong-ngomong bagaimana kondisi kakimu?” Aku lupa kalau dia masih memiliki luka dari insiden di gudang beberapa hari yang lalu.

“Sudah sembuh. Hanya tinggal menghilangkan bekas lukanya saja. Oh ya, masuk kesana yuk!” Minyoung menarikku masuk ke dalam salah satu toko pakaian dalam bermerek.

Minyoung tampak menanya-nanyakan model pakaian dalam terbaru pada salah satu karyawan toko tersebut. Mereka terlihat sangat akrab. Tampaknya Minyoung sering berbelanja di sini. Aku melihat-lihat beberapa model pakaian dalam yang lucu-lucu. Ada salah satu model bra yang menarik perhatianku. Bra berwarna putih tulang dengan motif silang dan cup kerut. Namun saat melihat harganya aku tercengang.

Seratus lima puluh ribu won?! Wow! Harga yang fantastis untuk sebuah bra saja.

Aku mengembalikan bra tersebut ke tempatnya dan mendekati Minyoung yang tengah menunggu sang karyawan mengambilkan pesanannya.

“Minyoung, kau serius membeli pakaian dalam di sini?” Tanyaku.

Minyoung mengangguk. “Aku biasa membeli di sini. Setiap ada model terbaru mereka selalu mengirimiku pesan. Tapi sudah hampir dua bulan ini aku tidak datang ke sini.”

“Tapi dengan harganya yang super fantastis untuk ukuran pelajar miskin seperti kita, dari mana kau mendapatkan uangnya?

“Ara, kau tahu bukan kalau aku bekerja sampingan sepulang sekolah?”

“Iya aku tahu. Tapi, dari pada gajimu kau hambur-hamburkan untuk membeli pakaian dalam, lebih baik kau beli yang biasa saja dan sisa uangnya bisa kau tabung untuk masa depan.”

“Ara, bagiku pakaian dalam berkualitas lebih penting karena fungsinya melindungi organ terpenting kita. Aku tidak peduli harga bajuku hanya sepuluh ribu won. Tapi untuk pakaian dalam aku selalu memilih yang nyaman dan sehat. Dan kau jangan munafik. Aku tahu kau menghabiskan uangmu untuk menyenangkan Taehyung bukan?”

Aku terdiam. Minyoung menghabiskan uangnya untuk kesenangan dirinya sendiri. Bagiku menyenangkan Taehyung juga merupakan kesenangan tersendiri bagiku. Tapi masih mending Minyoung mempunyai pendapatan sendiri. Sedangkan aku hanya mengandalkan uang dari orangtuaku yang bahkan tidak tahu uangnya aku hambur-hamburkan untuk hal-hal tidak jelas.

“Minyoung, aku juga ingin bekerja sambilan. Apa di tempatmu bekerja tidak ada lowongan?”

Minyoung tertawa. “Lowongan? Sebenarnya banyak, tapi bekerja di tempatku tidak mudah. Kau harus benar-benar siap fisik dan mental. Nanti aku tanyakan pada atasanku. Tapi aku tidak yakin kau sanggup.”

Bukankah hanya melayani pembeli, apanya yang tidak sanggup? Apa jangan-jangan atasannya sangat galak?

“Ayo!” Katanya.

“Kau sudah selesai?”

“Sudah. Kau ingin apa lagi?”

“Umm… aku lapar.”

Fastfood?”

Aku mengangguk.

Lotteria!”

-Han Ara POV End-

—000—

-Jeon Jungkook POV-

Aku memandang langit-langit kamar Eunjin. Aku tidak bisa tidur malam ini. Aku masih kepikiran pelayan Namjoon Hyung siang tadi. Entah mengapa dia begitu menarik perhatianku. Pria cantik itu terlihat kesepian dan penuh dengan beban hidup. Entah benar atau tidak, tapi itu yang aku lihat dari sorot matanya. Dia tampak dingin dan mencoba menghindari orang-orang yang mungkin ingin dekat dengannya.

Aku menoleh Eunjin yang tengah tidur di sampingku. Entah kenapa aku tidak bisa menyukainya layaknya seorang pria menyukai wanita. Aku hanya menyukainya sebagai teman dekat atau adikku sendiri.

Perlahan aku mengusap pipi Eunjin. Wajahnya sangat mirip dengan Taehyung Hyung. Bahkan dia seperti Taehyung Hyung yang sedang memakai wig panjang. Sejak kecil aku tumbuh bersamanya. Orangtua kami jarang memperhatikan kami. Kami tumbuh bergelimang harta tapi tidak pernah menerima kasih sayang dari mereka. Mereka lebih fokus mengejar karir dan harta. Aku tahu maksud mereka juga untuk masa depan kami. Namun menurutku cara mereka juga salah.

Tiba-tiba Eunjin membuka kedua matanya. “Jungkook? Ada apa?” Tanyanya saat melihatku yang tengah memandanginya.

“Aku tidak bisa tidur,” jawabku lirih.

“Kenapa? Ceritakan padaku,” ujarnya.

Aku mengusap-usap bibir Eunjin. “Eunjin… kalau aku bisa… aku ingin menyukaimu.”

Gadis itu tampak bingung. “Kenapa begitu tiba-tiba?”

Aku mendesah. “Entahlah.”

“Kau… menyukai pelayan Namjoon Oppa?”

“Darimana kau tahu?”

Eunjin tertawa kecil. “Jungkook, kita sejak kecil tumbuh bersama. Kau senang aku ikut senang. Kau sakit aku pun ikut sakit. Bagaimana mungkin aku tidak memahamimu?”

“Tapi Eunjin… aku ingin menjadi normal. Menyukai wanita sepenuhnya.”

Eunjin mengusap pipiku pelan. “Jungkook… setiap perubahan membutuhkan proses. Lagipula menyukai seseorang tidak bisa dipaksakan. Aku juga ingin membantumu, Jungkook. Tapi perasaan… bukan kita yang menentukan.”

“Eunjin…”

“Hmm?”

“Bolehkah aku meminta tolong padamu?”

“Apa?”

“Maukah kau… telanjang di depanku?”

Eunjin nampak bingung. Namun pada akhirnya menganggukkan kepalanya. “Baiklah.”

Eunjin bangkit dari tidurnya dan mulai melucuti pakaiannya satu per satu. Hingga benar-benar telanjang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.

Aku duduk dan bersandar pada headboard tempat tidur Eunjin. “Kemari,” kataku menyuruhnya duduk di pangkuanku.

Eunjin menurut. Dia duduk di pangkuanku menghadap ke arahku. Aku memandang wajahnya yang menunjukkan kebingungan.

“Eunjin… .” Aku mendekatkan wajahku padanya dan mencium bibirnya.

Eunjin mengalungkan kedua tangannya di leherku dan membalas ciumanku. Kami memang sering berciuman. Aku juga tidak mengerti kenapa kami melakukannya. Tanganku merambat ke bawah. Meremas kedua payudaranya. Membuatnya mendesah di sela-sela ciuman kami.

Aku menghentikan remasanku pada payudaranya dan menjauhkan bibirku dari bibirnya. Aku menyandarkan dahiku di bahu kirinya. Air mataku menitik.

“Eunjin… Sampai kapan aku seperti ini?”

Eunjin memelukku dan mengusap rambutku.

“Sedikitpun aku tidak bernafsu padamu. Sama seperti biasa. Aku mencoba tidur dengan para pelacur di Paraiso. Dari kelas bawah hingga kelas atas. Satu pun tidak ada yang bisa membuatnya bereaksi,” ujarku. Bahkan Eunjin sekalipun tidak bisa membuat juniorku ber-ereksi.

“Jungkook, suatu saat nanti, saat kau temukan orang yang tepat. Aku yakin pasti ada wanita yang mampu membuatnya bereaksi.”

Aku melepaskan pelukannya dan memandang wajahnya. Gadis ini benar-benar polos dan baik.

“Eunjin, terimakasih selama ini kau mau membantuku. Andai aku bisa aku ingin menyukaimu.”

Eunjin tersenyum. “Jangan memaksakan diri, Jungkook. Lagipula kau tahu bukan kalau aku menyukai Seokjin Oppa.”

Aku mengangguk. “Kau ini. Kenapa begitu dewasa jika kita hanya berdua saja?”

“Bukankah aku sudah bilang kau yang kekanakan?” Katanya sambil menjuluran lidahnya, meledekku.

Aku mencubit hidung mancungnya. “Seokjin Hyung sangat beruntung jika memilikimu.”

Eunjin mendesah. “Sebenarnya… Aku tidak yakin aku dan Seokjin Oppa akan bersama.”

“Kenapa?”

“Taehyung Oppa. Seokjin Oppa bilang dia tidak mau hubungan kami merusak persahabatannya dengan Taehyung Oppa.”

“Eunjin, kau harus yakin dengan perasaanmu. Aku yakin suatu saat nanti Taehyung Hyung menyetujui hubungan kalian.”

“Aku juga berharap begitu.”

“Sekarang pakai lagi bajumu.”

“Aku tidak mau.’

“Eunjin…”

“Aku tidak mau, Jungkook.”

“Kau tidak malu?”

“Kenapa malu? Kau sudah melihatnya dari tadi.”

Aku tertawa kecil. “Andai aku normal sudah kuhabisi kau dari tadi.”

Eunjin mengecup bibirku berkali-kali. “Aku harap begitu.”

“Kau ini. Sudah tidak tahan ingin melakukan hubungan seks?”

“Jungkook, banyak gadis seumuran kita sudah berpengalaman dalam hubungan seks. Yein misalnya. Dia selalu pamer dan mengejekku. Aku kesal padanya.”

“Jadi kau ingin berhubungan seks hanya karena iri dengannya?”

“Iya. Tapi tidak juga.”

Aku tertawa. “Sekarang siapa yang kekanakan?”

“Aish!” Gerutunya.

—000—

Hello lagi guys.. Thank chu so much dah relain waktu kalian sebentar untuk membaca FF abal author. Thank chu banyak buat Min Puya yang juga support FF author. Author jadi tersanjung nih kek judul sinet jaman lawas wkwk~~

Laffya~~

Lingkyu88

About fanfictionside

just me

23 thoughts on “FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 5

  1. Heol…. daebak 😍😚 Next.. Next.. next 😄 walau terlalu sedikit tapi ….tetap seru kok ✌ gw suka bighit sama kapel kookie & eunjin . Gw harap kookie berakhir di pelukn eunjin , dn bukan sama Yeonkyung . Dan juga semoga aja eunjin gk kapelan sama Jin .-. Gw tunggu kapel suga sama Hyena nya chingu ^^ … Ara sm Taehyung juga 😄 [serakah amat gw] *Bomat* ….

    Jan lama-lama pt.6 ny chingu .

  2. akhirnya di update juga…. part ini bikin saya ngerasa penasaran dan banyak bilang “loh kok” dalam hati. ternyata pasang-pasangan couple nya melenceng dari apa yg saya pikirin. bikin penasaran.
    ditunggu kelanjutannya lagi

  3. ff nya nggak ke duga keren, lanjutin lagi yaa tapi jangan sampai nggak di lanjutin ff nya di tunggu ^^ owh jungkook nya masa sama emak emak T.T

  4. Hai author-nim~
    Aku baru hari ini baca FFnya author, tp ceritanya bagus~ Nnjukin kl seumpama Bangtan pnya Dark Side yg kelam banget~
    Keep up the good work, author-nim~ Fighting! ^^

  5. Demi apa baru kali ini nemu cerita cem gini 😂🔫
    Thor, si eunji sm kookie aja lah.. Kasian(?) :’v
    Ku tunggu ff nya thor, baru baca neh, ntr mau nyelem(?) ke chapter1 nya dulu #plakk

  6. Kerenn banget >< . Aku sukaa . Yang keenam belum keluar ya ? Aku cari nggak jumpa . Di tunggu ya , penasaran sama keadaan my lovely hoseok . My taehyung and my yoonggi semoga setia ya ….

  7. THOR PLEADE PT.6 CEPET DI POST.UDA GA SABAR LIAT KEJUTAN KEJUTAN YG LU BIKIN. BTW ITU SI EUNJIN SMA JUNGKUK LANJUTIN AJA NCNYAFIGHTING THOR♡♡

  8. keren sumpah ❤❤ aku baca dr pt 1-5 langsung dan gak nyangka di couple couple nya hihi. suka deh yoongi sama ara. eh jimin bikin baper nih, jahat amat nih bocah hahaha minta dikarungin apa? gak tau aja si minyoung siapa hahaha. author………. jungkook mau di couple in sama kyung? emmmmmmm mending sama adek kesayangan tae aja hihi. tapi sama kyung juga gapapa, aku dukung ❤❤ kan disini couple couple nya mengejutkan. cepet cepet post pt 6 yaaa author baik dan keren. author jjang!! eh entar hoseok nya banyakin yaaaaaa. pasti kisah cintanya sama si suster kannnnn, iyakannn??? selamat melanjutkan thor ❤❤

  9. Minyeong misterius banget ya. Kerja sambilan apa sampai harus membeli pakaian dalam yang super mahal… jangan jangan dia kerja di paraiso. Dia bilang butuh fisik dan mental bukan? Wooo sesuatu banget dia.

  10. Ceritnya gak nyangka ..aku suka bgt ama nh ff. Minyoung beli daleman ampe mahal bngt apa jgan” minyoung itu.. semangat thor utk lanjutin ffnya 💪👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s