FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 3


PicsArt_1434709030654

Author : AL lee

Title : DARK BLUE DREAMCATCHER

Cast :

  • Jang Woo Ren (OC)
  • Min Yoongi
  • Jung Hoseok
  • BTS Member
  • ect

Length : Chaptered

Genre : School life, romance, comedy(?), sad(?)

NB : Anyeong… aku mau ngucapin terimakasih banyak untuk admin yang sudah mau mempost cerita saya yang satu ini. Dan untuk para pembaca yang saya harap kalian bersedia unutk memberi komentar kalian. Semoga kalian suka sama ceritaku… selamat membaca ^^

Woo Ren pov

“Aku?” Yoongi mengalihkan pandangannya pada ku

“Aku namjachingu-nya.” dia menunjukkan smirknya

“MWO!?” apa yang baru dia katakan? Aku tidak salah mendengarnya?

Semua pandangan mata tak teralihkan sama sekali dari kami. Bagaimana tidak, Min Yoongi yang selalu menjadi perhatian, Jung Hoseok yang sama saja seperti Yoongi, dan aku… Oh Tuhan… apa salahku sampai harus ikut-ikutan menjadi pusat perhatian seperti sekarang ini? apa lagi terlibat oleh kedua manusia sok keren ini.

“Aigoo… tidak usah memekikkan suaramu seperti itu chagiya.”

Aku membulatkan mataku. Dia justru semakin melebarkan senyumnya yang ekhem, manis itu. Ah tidak! Senyumnya yang terlihat… jahat? Senyum macam apa itu, terlalu memaksakan memperlihatkannya, dia pikir aku akan tertarik jika dia menunjukkan senyum seperti itu padaku?

Yoongi memperhatikan tangan Hoseok yang masih merangkul bahuku. Kemudian dia menatap Hoseok dengan senyum sinisnya. Aku menoleh dan sedikit mendonga untuk melihat wajah Hoseok. Dia hanya terdiam menatap Yoongi. Tatapan tak percaya dan terkejut namun terbalut oleh tatapan tajamnya. Oh ayolah sampai kapan akan seperti ini terus? Aku lah yang terlihat seperti orang bodoh.

Tiba-tiba Yoongi menarik tanganku lalu menempatkanku di sampingnya. Aku tak bisa berbuat apa-apa, bahkan aku sangat bingung harus melakukan apa. Sekarang Hoseok ada di hadapanku. Dia menatapku dengan dingin.

“Jangan pernah menyentuhnya lagi dengan tangan kotormu itu.”

Apa!? Apa yang dikatakan manusia sok keren ini? memangnya dia pikir dia siapa? Tapi… itu bagus juga. Bukan karena aku menyukainya, tapi karena itu berarti Hoseok tak akan menggangguku lagi. Ah tapi entahlah… dia selalu menjadi rival Yoongi, dia bahkan berani menentang si anak pemilik yayasan yang maniak berkelahi ini.

“Gadis ini, gadis yang berada di sampingku saat ini. Dia adalah yeojachingu-ku. Jangan ada yang mengganggunya atau bahkan menyentuhnya! Atau kalau tidak… dia akan berurusan denganku.” Yoongi mengedarkan pandangannya pada semua orang yang ada di kantin saat ini.

Manusia macam apa sebenarnya dia ini? Seenak jidatnya saja berteriak membuat pengumuman seperti itu. Sekalian saja buat pengumuman di papan pengumuman lalu tempel fotoku di sana, bodoh sekali. Dia pikir aku mau jadi yeojachingunya? Cih, aku tak sudi.

“Mwo? Apa yang kau katakan itu Min Yoongi?” walau aku tak mengatakannya dengan kencang seperti yang dilakukan Yoongi tadi, aku yakin semua orang mendengarnya karena mereka semua terdiam dan melihat ke arah kami.

Yoongi mencengkram pergelangan tanganku dengan kuat. Dia menarikku ke arahnya lalu dia mendekatkan bibirnya ke telingaku. “Diamlah, atau kau akan mati.”

Whoa, apa dia baru saja mengancamku? Laki-laki macam apa yang mengamcam perempuan seperti ini? apa lagi mengancam akan membunuhnya seperti ini, dasar gila. Aku tidak peduli apa yang dikatakannya itu. Aku tidak takut! Sekali lagi, aku tidak takut padanya!

“Kalian semua, dengarkan aku! Yang dikatakan Yoongi itu….”

Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku Yoongi menarik tanganku dan membuatku jatuh ke pelukannya. Tidak ini bukan pelukan. “Sekali lagi kau berbicara maka aku akan menciummu.” Dia membisikkannya tepat di telingaku

“Bo..boya?” aku memundurkan badanku lalu menatapnya.

Dia tersenyum sambil menatapku. Dia bahkan belum melepaskan pelukannya. Senyumnya itu… aku belum pernah melihat senyumnya yang seperti itu. Sangat manis. Aku dengar dia dijuliki Suga, katanya itu karena saat dia memiliki senyum yang semanis gula. Saat pertama kali aku mendengarnya aku merasa orang yang menjulukinya Suga itu sangat bodoh. Tapi setelah melihat senyumnya yang seperti ini sepertinya pemikiranku berubah. Ah tetapi tetap saja dia adalah orang yang dingin, jutek, kasar, sok keren, dan memaksakan kehendaknya. Dia tidak terlihat manis sama sekali, dia itu jahat.

Dia melepaskan pelukannya. Dengan bodohnya aku masih saja memandanginya. Hei aku memandanginya karena tak percaya dengan apa yang dikatakannya, bukan karena senyumnya yang manis. Dia kembali memegang pergelangan tanganku, tapi kali ini dia menariknya, membawaku ikut berjalan mengikutinya.

“Ya! Kau mau membawaku kemana?” aku baru berani berbicara ketika kami sudah keluar dari kantin

Dia tidak menjawabku. Dia terus saja menarikku, memaksaku mengikuti langkahnya. Ya Tuhan… kenapa aku selalu diperlakukan seperti hewan peliharaan? Kenapa aku selalu ditarik dan dipaksa berjalan mengikuti orang –orang menyeramkan ini? aku memang terlepas dari si bodoh Hoseok tapi sekarang malah lebih parah, aku malah berurusan dengan orang jahat yang gila seperti diaaa huaa. Tuhan tolong akuuu.

Sesamapainya di atap sekolah dia langsung melepaskan tanganku. Dia mengunci pintunya. Hei kenapa dia menguncinya? Dia melangkahkan kakinya meninggalkanku. Apa itu? Sikapnya itu sangat semena-mena. Aku mengikutinya menuju pembatas atap.

Semilir angin bertiup menerbangkan helaian-helaian rambut sepunggungku. Aku memperhatikan Yoongi, wajah tenangnya terlihat tampan dengan poni yang tertiup oleh angin. Dia menggantungkan tangannya di atas dinding pembatas yang tingginya hanya sedadanya. Jemarinya saling bertautan diantara sela-sela jari tangannya. Apa yang dipikirkannya? Dia hanya terdiam memandang lurus ke depan.

“Jangan memandangiku terus, aku tau aku tampan.”

Aku terkesiap mendengar kata-katanya barusan. Apa dia bilang? Tampan? Ya… mungkin dia memang tampan, tapi hanya orang tua nya yang bilang hahaha. Tapi… aku jadi malu karena ketahuan sedang memperhatikannya.

Aku berdiri di sampingnya ikut memandang ke depan seperti yang dia lakukan. Dari sini aku bisa melihat gedung-gedung dan rumah-rumah penduduk, di sini aku juga bisa melihat langit yang luas. Sekolah kami berlantai lima, akrena itu atapnya cukup tinggi untuk melihat pemandangan. Jujur saja sebenarnya aku belum pernah ke sini sama sekali. Tempat ini menarik juga.

Angin kembali bertiup, menerbangkan helaian-helaian rambut hitamku. Aku tersadar bahwa saat ini Yoongi sedang memperhatikanku. Aku menoleh dan membalas tatapannya.

“Siapa namamu?”

“Cih. Bahakan kau tidak tau namaku. Lalu kenapa kau mengaku sebagai pacarku tadi?” aku mengalihakan pandanganku kembali ke depan. “Wooren… Jang Wooren.” lanjutku tanpa mengalihkan pandangan

“Gadis anggrek? Hmm…” setelah itu kami terdiam beberapa saat

Aku sedikit terkejut ketika tersadar bahwa Yoongi sedang memainkan rambutku yang beterbangan tertiup angin. Aku menoleh menatapnya dengan mataku yang membulat. Wajahnya datar, dia terfokus pada rambutku yang ada di jemarinya.

“Jadi kau gadis itu? Gadis yang selalu menjadi perbincangan murid-murid? Gadis yang selalu mengendarai motor sport hitamnya ke sekolah, gadis yang menyembunyikan wajahnya dibalik masker hitamnya. Jadi kau si Cool girl itu?”

Aku memalingkan wajahku sambil mendengus kesal mendengar perkatannya. Ya! Akulah perempuan itu, perempuan dengan motor sport hitamnya. Akulah yang disebut mereka sebagai Cool girl, akulah oranya. Min Yoongi, kemarin dia menjebakku. Aku sangat terkejut ketika melihatnya sedang memandangiku begitu aku menutup lokerku. Aku kira hanya tinggal aku di sekolah kemarin sore, ternyata masunia sok keren ini masih ada di sana. Dia menarikku ke dalam posisi yang sulit untuk bergerak lalu dia menarik maskerku dengan paksa.

“Kenapa kau melakukannya?”

“Melakukan apa?”

“Kenapa kau bilang pada semua orang yang ada di sekolah ini kalau aku pacarmu?”

Dia tertawa. Apa yang lucu? Aku menatapnya dengan tajam. Apa dia menertawakanku? Jadi apa dia mengatakan itu semua hanya untuk mempermainkanku?

“Apa jika aku katakan alasannya kau juga akan mengatakan padaku apa alasanmu berpura-pura misterius seperti itu?”

“Kalau begitu tak usah kau katakan dan jangan mencampuri urusanku.” Aku kembali menatap ke depan

“Hei gadis bodoh, Kau ini sekarang milikku jadi aku berhak mencampuri urusanmu.”

“Bodoh katamu? Hah… lalu memaksakan gadis bodoh untuk menjadi miliknya itu yang kau sebut pintar?”

Binggo! Dia membulatkan matanya menatapku. Hah, apa dia tak tahu bagaimana seorang Jang Wooren? Dia sudah mempermainkanku, dia pikir dia itu keren? Aku tidak akan diam saja jika diriku ditindas seperti ini. Dia bilang apa? Aku miliknya? Dia pikir aku ini benda apa!? Lihat saja Min Yoongi!

“Kenapa kau mengikutiku sampai ke toko tempat ku bekerja?”

“Kau… Dari mana kau tau kalau itu adalah aku?”

Aku menoleh menatapnya lalu mengangkat sudut bibir kiriku, “Sudah ku bilang kau itu bodoh.”

Dia semakin membulatkan matanya. Aku pikir dia kesal, bahkan wajahnya memerah. Dan sekarang dia malah memelototiku, haha itu sama sekali tidak membuat ku takut. Dia pikir aku anak kecil yang akan takut hanya dengan dipelototi seperti itu? Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Entah mengapa dia malah menunjukkan smirknya.

“Apa kau selalu memperhatikanku? Apa karena itu kau dapat mengetahui kalau orang itu adalah aku?”

Aku terkejut mendengar ucapannya. Aku mematung seketika. Bagaimana aku harus menjawabnya? Bagaimana aku mengatakan padanya bahwa dia yang ada di fikiranku ketika memperhatikan orang yang selalu memarkirkan mobil hitamnya di depan toko? Aku sendiri bingung kenapa aku bisa mengenalinya dengan baik bahkan ketika dia memasuki toko dengan topi, masker dan kaca mata hitam yang menutupi seluruh wajahnya. Aku tidak tahu mengapa aku bisa mengenalinya.

“Kenapa kau diam? Hm? Apa aku benar?” aku tetap tak bergeming

“Hmm… aku rasa aku benar. Kau memperhatikanku. Apa kau menyukaiku?”

“Aku…aku…” ah bodoh kenapa aku tak bisa berbicara apapun. Ah, kenapa sekarang aku yang tak bisa berkata-kata seperti ini?

Dia tertawa, “Jadi kau benar menyukai ku ya?”

“YA! Tidak, aku tidak menyukaimu.”

“Sudahlah jangan mengelak. Apa kau senang sekarang kau sudah menjadi milikku?” dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku melangkah mundur, “Mwo?” kataku pelan

Bel pertanda masuk berbunyi. Dia kembali ke posisi normalnya sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

“Jangan biarkan Hoseok mengganggumu lagi. Kalau tidak aku yang akan malu karena yeoja-ku dengan mudah diperlakukan seperti itu oleh orang idiot seperti dia.”

Dia berjalan pergi meninggalkanku. Aku masih berdiri mematung. Apa itu tadi? Apa itu suatu bentuk perhatian? Atau semacamnya?

*****

Still Woo Ren pov

Sesampainya aku di dalam kelas semua menatap ke arahku. Aku mengedarkan pandanganku, bahkan diantara mereka ada yang saling berbisik sambil menatapku. Aku kembali meluruskan pandanganku.

Begitu aku duduk di bangkuku beberapa orang mengerubungi bangkuku. Ya, mereka adalah orang-orang yang hobinya membicarakan gosip setiap hari di kelas ini. Taehyung yang duduk di depanku membalikkan posisi duduknya dengan bangku yang tetap menghadap ke depan.

“Wooren, kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau adalah kekasihnya Min Yoongi sunbae?” aku hanya menatap ke depan tanpa peduli pada Il Sook di sampingku

“Hei sejak kapan kau berpacaran dengannya?” Oh ayolah, ketua kelas sampah ini memulainya lagi. Kenapa Bum Jo lebih mengurusi gosip dari pada permasalahan kelas ini?

“Wooren-ah, bagaimana bisa kau menjadi yeojachingu seorang Min Yoongi sunbae?” aku hanya menjawab pertanyaan Hyerim dengan hembusan nafasku

Mereka semua terus saja menanyakan pertanyaan-pertanyaan mengenai hal yang sama. Tak bisakah mereka menutup mulut bau mereka? Apa mereka tak sadar telah membuat polusi di sekitarku? Aku bisa mati karena terus menghirup udara yang tercemar di sini. Bahkan Hoseok di sampingku hanya duduk diam dengan gayanya yang seperti biasa sambil memperhatikanku.

Daejyong menghampiri mejaku. Badannya yang cukup besar itu menambah mejaku terlihat penuh karena manusia-manusia yang sepertinya tak bisa hidup tanpa gosip ini.

“Wooren, aku minta maaf karena aku pernah menjahili mu waktu itu. Maaf, aku tidak tau kalau kau adalah kekasihrnya Min Yoongi sunbae.”

Aku menoleh ke arah Daejyong, “Maaf, aku tidak tau kalau kau pacarnya Min Yoongi, tadi kau bilang seperti itu?” dia mengangguk.

“Cih. Jadi kau meminta maaf padaku karena aku adalah kekasihnya Min Yoongi? Bukan karena kesalahanmu padaku?”

“Iya.. aku.. aku minta maaf karena keduanya.” Dia menundukkan kepalanya

Hah lucu sekali dia. Dia fikir aku akan memaafkannya jika alasannya seperti itu? memang apa kerennya manusi sok keren itu? Kenapa semua murid tunduk padanya? Aku harus bagaimana ini? apa aku harus senang atau sedih karena menjadi yeojachingu-nya sekarang?

“Jadi kau benar-benar yeojachingu-nya?” aku menoleh ke arah Hoseok yang duduk di sampingku, dia memandang lurus ke depan

“Padahal aku tadi berfikir kalau yang dikatakannya tidak benar. Tapi setelah mendengar perkataanmu pada Daejyong aku jadi kembali berfikir.” Pandangannya beralih menatapku

Oh damn! Aku baru tersadar akan ucapanku pada Daejyong barusan memang terkesan bahwa aku mengakui kalau aku memang kekasihnya Min Yoongi.

“Oh…” Taehyung mengangguk-ngangguk menatap Hoseok, “Jadi kau mengakuinya Wooren?” pandangannya teralih padaku

Aku hanya terdiam. Ah bodoh, ucapanku tadi itu benar-benar bodoh. Apa yang hahrus ku katakan sekarang? Mengelak? Bahkan perkataanku yang tadi itu sudah jelas mengatakan bahwa aku mengakuinya. Aku memilih diam tak menjawabnya.

“Ya, Wooren-ah, kenapa kau hanya diam saja?” Hyerim bertanya dengan gaya sok imutnya itu dan aku tetap terdiam

Tiba-tiba Jo seonsaengnim masuk ke dalam kelas kami. Mereka langsung terbirit-birit kembali ke tempatnya masing-masing begitu mengetahui guru sejarah yang kiler itu sudah ada di dalam kelas. Ah aku sangat berterimakasih kali ini pada Jo seonsaengnim.

“Kumpulkan PR kalian sekarang!”

Semua langsung sibuk mengambil bukunya di tas masing-masing, begitu juga aku. Untung aku sudah mengerjakannya semalam, bahkan aku baru tidur jam setengah dua malam. Hei! Dimana buku sejarahku? Aku yakin aku sudah memasukkannya ke dalam tas setelah selesai mengerjakannya semalam. Aku sangat panik begitu teman-temanku satu per satu maju mengumpulkan buku mereka tapi aku tak juga mendapatkan bukuku. Ku cari di kolong mejapun tak ada. Apa aku lupa membawanya? Bagaimana ini?

“Jang Wooren!” aku terkesiap ketika Jo seonsaengnim memanggilku. Ah matilah aku

“Apa yang kau lakukan? Jangan bilang kau tidak mengerjakannya.” Ah? Bagaimana dia bisa tahu? Apa dia memperhatikanku sedari tadi?

“N… Ne… Ne ssaem?”

“Mana PR-mu?”

“Itu… PR-ku… PR-ku tertinggal di rumah.”

“Cepat lari mengitari lapangan sepuluh kali! Dan jangan masuk ke dalam kelas sebelum pelajaranku berakhir!”

Ah… sial! Aku beranjak dari bangkuku dan melangkahkan kakiku ke luar kelas. Bodoh! Kenapa aku bisa meninggalkannya? Tapi aku yakin sudah memasukkannya ke dalam tas. Oh Tuhan… kenapa hari ini begitu sial? Apa kesalahan yang telah ku perbuat? Mulai dengan Hoseok yang memperlakukanku seperti hewan peliharan, Yoongi yang mengaku sebagai namjachingu-ku, dan sekarang di pelajaran terakhir hari ini aku dikeluarkan dari kelas seperti ini? Oh ya ampun…

Aku mulai berlari memutari lapangan. Ah sial! Sekarang kelas 3-2 sedang jam pelajarn olahraga. Oh Tuhan… lagi? Aku tak mempedulikan murid-murid kelas 3-2 yang memperhatikanku. Aku terus berlari. Dari ekor mataku aku melihat si manusia sok keren itu sedang memperhatikanku dari tempatnya berdiri. Oh ayolah jangan memperhatikanku seperti itu.

Enam…

Tujuh…

Huh nafasku tersengal-sengal. Untunglah mereka sudah tak memperhatikanku. Sepertinya pernyataan yang dibuat Yoongi di kantin tadi membuat dampak yang besar. Dan sialnya aku yang menjadi orang pertama yang terkena dampak itu.

Delapan…

Aku tak sengaja melihat Min Yoong sunbaei yang sedang mendrible basket di tangannya. Dia dapat melewati teman-temannya yang berusaha menghalanginya dengan baik, dia melempar bolanya, masuk! Itu memang keahliannya, semua murid di sekolah ini tau kehebatannya dalam bermain bola basket. Tapi yang barusan itu… dia… keren juga. Tiba-tiba dia melihat ku, aku buru-buru mengalihkan pandanganku.

Ini adalah putaran kesembilanku. Syukurlah, berarti satu lagi dan aku akan menyelesaikannya. Tapi habis ini aku harus kemana? Ah yang penting aku tidak di sini lagi, dan tidak harus melihat manusia sok keren itu lagi.

Tiba-tiba aku menabrak seseorang di depanku. Tidak, sepertinya dia sengaja berdiri di situ. Aku mengangkat kepalaku. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa orang itu adalah Yoongi sunbae. Dia menatapku, wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Aku menunduk.

“Kau dihukum? Apa kau lelah?”

Apa dia sedang mengejekku? Aku tak menjawabnya. Aku berjalan ke arah kanannya berniat melanjutkan putaran lariku, tapi dia mengikuti langkahku dan tubuhnya menghalangiku. Aku melangkahkan kakiku ke kiri, tapi dia menghalangiku lagi. Aku menghembuskan nafasku lalu mengangkat kepalaku menatapnya. Dia tersenyum menatapku.

“Apa kau sedang menghindariku? Kau ingin pergi dariku?”

“Minggir!” jawabku dingin

“Whoa… Apa kau begitu kelelahan sampai emosi seperti ini?”

Oh Tuhan… kenapa kau pertemukan aku dengan orang ini? Aku melangkahkan kakiku ke kanan, dan lagi-lagi dia melangkahkan kainya dan menghalangi jalanku.

“Menyingkirlah!” aku mulai kesal.

Sekarang kami menjadi pusat perhatian murid-murid yang ada di lapangan. Ya, memang mereka semua hanya teman sekelas Yoongi sunbae. Tapi tetap saja aku malu menjadi pusat perhatian seperti ini. Ini gara-gara laki-laki yang tinggi badannya tak seberapa itu.

“Jangan marah-marah seperti itu chagiya.” Aku sangat terkejut ketika tangan kanannya memegang pipiku, ibu jarinya itu mengelus-elus lembut pipiku, dia bahkan tersenyum menatapku. Aku hanya bisa menatapnya tak percaya.

Aku menepis tangannya dari wajahku. Menatapnya dengan tajam lalu kembali melangkahkan kakiku tapi lagi-lagi dia menghalangiku.

“Jangan bermain-main denganku. Jangan mempermalukanku seperti itu.” dia mengatakannya seperti berbisik sambil menatapku dingin

“Kalau beigtu jangan menghalangi jalanku… Sunbae.” Balasku tak kalah dingin dengan menekankan kata ‘sunbae’

Dia mundur dan sedikit memiringkan badannya, memberiku jalan. Akupun melanjutkan langkahku meninggalkannya. Ini adalah putaran terakhirku dan setelah ini aku akan pergi dari tempat ini.

Sepeuluh!

Selesai sudah. Aku langsung pergi dari lapangan. Aku memilih untuk menghabiskan waktu di taman belakang sekolah, pasti di sana sepi dan aku bisa tenang berada di sana.

Sesampainya aku disana benar saja, sepi, tak ada orang satupun. Aku akan tenang di tempat ini. aku duduk di bangku panjang yang ada di sana. Huh capek juga, tapi aku rasanya masih tak percaya kalau aku meninggalkan bukuku. Aku sangat ingat dengan jelas ketika aku memasukkannya ke dalam tasku semalam.

Bel pertanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Aku terbangun dan mendapatkan diriku berada di bangu taman belakang soklah. Aku ingat aku tertidur di sini setelah berlari tadi. Sekarang sudah waktunya pulang, Jo ssaem sepertinya sudah keluar dari kelasku. Akupun melangkahkan kakiku menuju kelas.

Benar saja, Jo ssaem sudah keluar. Bahkan teman-temanku sudah ada yang keluar dari kelas, hanya tinggal beberapa yang masih berada di dalam. Aku menghampiri mejaku. Aku membereskan barang-barangku yang ada di atas meja. Hosoek memperhatikanku sambil tersenyum dari bangkunya, aku tahu itu. Aku, membalas tatapannya. Sepertinya dia merasa senang karena aku keluar dari kelas. Uh, menyebalkan sekali wajahn lonjongya itu.

“Bagaimana hukumanmu? Apa kau menikmatinya?”

“Sangat.” Jawabku ketus

Dia mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya lalu menaruhnya dia atas mejaku. “Itu, ku kembalikan milikmu.”

Aku membulatkan mataku. Aku menatap tak percaya benda itu. Itu adalah buku sejarahku. Jadi… jadi dia mengumpatinya? Jadi aku benar-benar membawanya? Aku mengalihkan tatapanku padanya.

Jung Hosoek pov

Dia membulatkan matanya. Dia menatap tak percaya bukunya sendiri. Itu adalah buku sejarahnya. Aku mengambilnya saat dia tak ada di kelas tadi, sepertinya dia sedang bersama Yoongi. Aku yang mengumpatkannya di dalam laci mejaku. Aku ingin membuktikan perkataanku padanya, bahwa aku tidak main-main. Jujur saja aku masih kesal ketika dia sok keren dengan membela Hana waktu itu, dia terlihat seperti Yoongi di mataku saat itu. Dia mengalihkan tatapanya padaku.

Betapa terkejutnya aku begitu melihat matanya yang berkaca-kaca menatapku. Seketika senyum di wajahku luntur.

“Kau… kau tega sekali melakukan ini padaku. Aku mengerjakannya susah payah sampai aku baru tidur jam setengah dua malam. Dan ternyata kau yang mengambilnya dan mengumpatkannya dariku. Aku menahan malu ketika Jo ssaem mengeluarkanku dari kelas, aku harus menguras tenangaku untuk berlari mengitari lapangan, dan juga harus bertemu manusia gila yang sok keren itu di sana. Kenapa kau melakukan itu?” matanya berkaca-kaca menatapku

Aku hanya bisa terdiam melihatnya. Dia menatapku dengan dingin, tapi bukan itu yang membuatku terdiam. Tapi karena air mata yang mengalir di pipinya itu. Dia menangis, ini pertama kali aku melihatnya.

“Apa salahku sejak awal padamu? Kenapa kau selalu melakukan ini padaku? Aku… aku tak menyangka kau memperlakukan ku seperti ini.” dia pun pergi meninggalkanku

Aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh dariku. Aku masih terdiam. Kenapa aku seperti ini? Bukan, bukan karena aku menyadari apa yang telah aku lakukan padanya. Tapi kenapa hatiku merasa sangat bersalah seperti ini padanya? Kenapa hatiku terasa sesak ketika melihatnya menangis karena perbuatanku?

-TBC-

Gimana? Gimana? Aku harap kalian suka sama ceritaku yang mungkin ga bagus-bagus amat ini. Dan untuk para pembaca yang saya harap kalian bersedia unutk memberi komentar kalian apapun itu yang bisa membangus semangat saya. Terimakasih sudah membaca, tunggu chapter selanjutnya yaa…

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 3

  1. Hehe, kayaknya hoseok bakalan mulai suka sama worennya. Hello thoor, maaf baru komen dsini, suka sama ceritax, alurnya rapi-teratur,, gak lambat gak cepat. Tetap semangat lanjutin thoor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s