FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 2


PicsArt_1434709030654

Author : AL lee

Title : DARK BLUE DREAMCATCHER

Cast :

  • Jang Woo Ren (OC)
  • Min Yoongi
  • Jung Hoseok
  • BTS Member
  • ect

Length : Chaptered

Genre : School life, romance, comedy(?), sad(?)

Min Yoon Gi pov

Aku melangkahkan kakiku dengan santai di lantai tiga, kenapa eskalatornya harus terletak di sana? Membuatku harus berjalan jauh lagi memutari lantai ini.

“JUNG HOSEOOOOOKK!”

Seketika aku menghentikan langkahku begitu mendengar teriakan itu. aku menoleh ke arah kelas yang berada tepat di sampingku, pintunya terbuka lebar. Aku melihat seorang gadis yang terduduk di lantai. Ada runtuhan bangku di sebelahnya, sepertinya dia terjatuh dan bangkunya hancur. Wajahnya memerah, entah karena malu atau karena kesal tapi sepertinya karena keduanya. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Hoseok yang sedang tertawa dengan gaya sok kerennya sambil menatap gadis itu. Gadis itu meneriaki namanya tadi, pasti dia penyebabnya. Tiba-tiba saja Hoseok melihat ke arahku, tatapannya berubah menjadi tajam. Aku tak mempedulikannya dan kembali melangkahkan kakiku.

Ada-ada saja ulah si manusia bodoh itu. Apa dia ingin mencari sensasi? Dia pikir dia itu hebat dan keren? Hah, si bodoh itu bahkan tidak ada apa-apanya kalau urusan berkelahi denganku. Dia hanya besar mulut dengan gaya sok kerennya.

Begitu terlihat tulisan 3-2 aku langsung memasuki kelas itu. Beberapa murid laki-laki yang semula duduk di atas meja langsung turun begitu aku memasuki keas. Aku menatap mereka sekilas dengan tatapan dinginku.

Aku menyandarkan punggungku ke bangku. Aku mengingat sesuatu, jadi benar perempuan itu….

“Yoongi, tadi aku lihat kau berpapasan dengan si Cool girl itu ya?” aku bisa merasakan Hanwoo yang baru saja menghampiriku dan sekarang berdiri di samping meja Joonbum di belakangku

“Dia tidak menepi, mengosongkan jalan untuk kau lewat. Dia sudah berlaku tidak sopan padamu.”

“Yoongi lakukanlah sesuatu, buka saja kedoknya selama ini. Siapa sebenarnya perempuan it…”

“DIAMLAH!” aku membentak Hanwoo yang terus saja berbicara

Jin yang duduk di sebelahku hanya menghela nafas. Dia menoleh ke arah Hanwoo. Dari ekor mataku aku melihat Jin memberi isyarat agar Hanwoo segera pergi.

“Kau kenapa? Apa ada masalah?”

“Aku hanya tidak suka dia terus membicarakan gadis itu.” jawabku tanpa menatap Jin

“Tapi seluruh murid di sekolah membicarakannya setiap hari.”

“Tapi aku tidak suka Hanwoo terus berbicara tanpa henti seperti itu, dia bahkan lebih tidak sopan padaku dibanding gadis yang dia bicarakan itu.”

Jin tak lagi berbicara. Dia tahu bagaimana keadaanku saat ini. Jin adalah sahabatku, hanya dia satu-satunya teman dekat yang ku miliki, hanya dia orang yang tahu tentang semua masalahku. Aku tidak tahu darimana dia mendapatkann kesabaran sebesar itu uuntuk bertahan menjadi sahabatku. Menjadi sahabat bagi orang sepertiku yang seperti ini. Bahkan aku selalu bersikap cuek padanya, aku juga tidak pernah tertawa bersamanya, aneh bukan? Apa itu pantas disebut sebagai sahabat? Tapi satu hal yang pernah dia lihat namunn tak pernah dilihat orang lain dariku, ketika aku menangis.

Aku merogoh saku jasku lalu mengeluarkan sebuah benda. Ku pandangi benda berwarna biru tua itu. Bentuknya seperti… Dreamcatcher. Ukurannya kecil bahkan aku bisa menggenggamnya dengan satu tangan, panjangnya kira-kira duabelas sentimeter. Aku mendapatkannya dari perempuan itu karena benda ini terjatuh dari tasnya. Kenapa gadis itu punya benda konyol seperti ini? benda konyol yang dianggap dapat menagkap semua mimpi-mimpi baik. Tapi benda ini lumayan juga.

*****

Woo Ren pov

Begitu bel istirahat berbunyi Choi seonsaengnim langsung membereskan buku-bukunya dan segera keluar dari kelas. Seisi kelasku berhamburan keluar kelas menuju kantin. Akupun beranjak dari bangkuku, perutku ini terasa sangat lapar karena tadi pagi aku tidak sarapan. Tiba-tiba bahuku terdorong dengan kencang dari arah belakang, untung saja tidak sampai jatuh. Orang itu mendahuluiku. Baru saja aku menstabilkan tubuhku lagi-lagi seseorang mendorong bahuku lagi dengan bahunya. Yang pertama adalah Park Jimin dan yang barusan itu adalah Namjoon, kedua orang idiot itu kini berjalan di depanku sepertinya sengaja melakukannya.

Saat akan melangkahkan kakiku keluar dari pintu kedua orang idiot itu menghadangku. Aku hanya menatap mereka dengan tatapan tajam tapi mereka malah cengar-cengir. Sepertinya mereka benar-benar idiot.

“Minggir.” Aku akhirnya buka suara karena mereka tak kunjung memberiku jalan

“Kau tidak boleh keluar Wooren.” Jimin menunjukkan deretan gigi-giginya, rasanya aku ingin menggetok giginya dengan palu agar runtuh berkeping-keping seperti di film kartun.

“Awas, jangan menghalangi jalanku!”

“Aigoo kau jangan membentak kami seperti itu Wooren-ah, kami semakin tidak akan membolehkanmu pergi.” Aku tersenyum sinis pada si monster berbibir tebal di hadapanku, untung saja bibirnya itu tidak hitam sperti orang afrika, ya… masih terbilang menarik untuk dicium oleh seekor nyamuk agar bertambah tebal.

“Aku bilang menyingkir!”

Aku merasa ada beberapa orang yang berjalan di belakangkku. Ternyata masih ada orang, aku pikir hanya tinggal kami bertiga. Tiba-tiba seseorang merangkul pundakku. “Kau boleh keluar asalkan kau pergi ke kantin bersamaku.”

“Shireo.” Aku memberikan tatapan tajamku padanya. Aku tahu dia pasti menyadari tatapanku tapi dia berpura-pura bodoh dengan hanya melihat ke depan sambil tersenyum

“Jangan coba-coba menolakku.”

“Lebih baik aku mati-matian menahan rasa laparku dibanding harus ke kantin bersamamu.”

“Terserah kau saja. kau ingin ke kantin bersamaku dengan Jimin dan juga Namjoon atau kau mati-matian menahan lapar di sini dan…” dia menggantungkan kalimatnya lalau menoleh ke arahku

“Dan kau harus merasakan badanmu akan babak belur.”

Kyumin dan Daejyeong, kedua laki-laki berbadan besar dan kekar itu berjalan ke hadapanku sambil membunyikan jari-jarinya dengan tangannya yang terkepal. Apa sekarang mereka sudah menjadi anggota genk orang-orang idiot ini? oh ayolah, aku tahu mereka baik, mereka adalah teman sekelasku, aku tahu bagaimana mereka.Apa mungkin mereka juga terpaksa melakukannya seperti Hyewon kemarin? Aku tahu jelas apa maksud perktaan Hoseok barusan. Dia benar-benar gila sepertinya.

“Tapi aku masih punya hati, aku tidak mungkin membiarkan perempuan lemah dipukuli oleh dua orang laki-laki. Kau tidak bisa menolakku Wooren.” tanpa menunggu komentarku dia langsung berjalan ke luuar kelas, lengannya kirinya yang masih merangkul pundakku membuatku terseret mengikutinya. Ah sial, aku seperti hewan peliharaannya saja.

Begitu di kantin semua mata langsung tertuju pada kami. Bukannya menuju tempat duduk dia malah sengaja berhenti di depan pintu. Aku hanya bisa menahan malu karena dia membuatku terlihat sperti hewan peliharaan terlebih dengan Jimin dan Namjoon yang ada di belakangku, aku seperti hewan liar yang harus dijaga agar tidak kabur. Pandangannya menelusuri seisi kantin. Tak lama kemudian dia berjalan ke arah bangku kosong yang berada di tengan kantin.

Saat berjalan menuju bangku itu Hoseok masih merangkulku. Aku memegang tangan Hoseok berusaha melepaskannya, dia berhenti karena perlakukan yang terbilang kasar dariku. Dia menatapku dengan tajam tapi aku terus berusaha melepaskan rangkulannya. Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di hadapan kami. Hoseok mengalihkan pandangannya dariku ke orang itu. Dia adalah Min Yoongi.

Yoongi sempat menatapku sebentar sebelum akhirnya menatap tajam pada Hoseok. Rangkulan Hoseok melemah dan kesempatan ini ku gunakan untuk melepaskannya. Entah dia tidak menyadarinya atau saking terfokus pada Yoongi sunbae di hadapannya tapi dia seperti menurut ketika aku menurunkan tangannya dari pundakku. Mereka hanya terdiam saling menatap tajam satu sama lain. Dan terus saja seperti itu sampai akhirnya Yoongi sunbae kembali melangkahkan kakinya makin mendekat ke arah kami, terus mendekat sapai akhirnya ketika tepat di hadapan aku dan Hoseok dia mendorong bahu kami sehingga kami bergeser dan menciptakan ruang untuk dia lewati. Dia lewat begitu saja dengan gaya sok cool-nya itu, Soek Jin sunbae yang sedari tadi hanya diam mengikutinya dari belakang. bahkan dia juga ikut lewat di celah antara aku dan Hoseok yang diciptakan Yoongi barusan.

Jimin menepuk pundak Hoseok berusaha menenangkannya lalu entah mengapa Hoseok malah menunjukkan senyumnya yang terkesan merendahkan itu, tentu saja bukan untuk Jimin karena bahkan dia tidak menatap Jimin di sebelahnya. Hoseok kembali menarikku tapi kali ini dia menarik tanganku.

Namjoon mendudukkan ku dengan paksa kemudian dia duduk di sebelahku, sedangkan Hoseok duduk di hadapanku dan Jimin duduk di sebelahnya. Aku memutar bola mataku dengan malas dan lebih memilih memandangi sekitar dari pada memandangi Si wajah lonjong di hadapanku.

“Kau mau makan apa?”

Aku pura-pura tidak mendengar pertanyaan Hoseok dan tetap menoleh ke kanan melihat murid-murid yang lain. Tiba-tiba kepalaku bergerak menghadap Hoseok dan terpaksa aku harus menatapnya. Itu tadi tangan Namjoon yang memutar kepalaku dengan memegang bagian atasnya lalu menghadapkannya ke Hoseok. Aku menoleh pada Namjoon dan memberikan tatapan laserku.

“Tidak sopan sekali kau! Kau pikir kepalaku ini mainan? Sembarangan sekali kau memutarnya.”

“Kau pikir kau sopan dengan berpura-pura tidak mendengan Hoseok, kau bahkan tak memandangnya yang sedang berbicara padamu. Kau tidak menganggapnya?”

“Lalu apa urusanmu? Bahkan dia diam-diam saja, kau ini sebenarnya temannya atau pesuruhnya?”

“Pesuruh?!” Namjoon terlihat terkejut sekaligus emosi mendengar pertanyaanku

“Dia bukan keduanya. Dia adalah sahabatku, sahabat!” Hoseok menyela perdebatanku dengan Namjoon. Dia mengucapka kata ‘sahabat’ dengan penekanan

“Terserahlah.” Aku memutar bola mataku dengan malas, “Dasar kumpulan orang aneh, genk idiot.” Umpatku dengan suara kecil

“Apa kau bilang?!” ucap Jimin dan Namjoon bersamaan, huh sepertinya mata mereka hampir keluar menatapku. Ternyata mereka mendengarnya

“Sudahlah…Jadi, kau mau makan apa?” tanya Hoseok lagi padaku

“Aku tidak mau makan.”

“Wae?”

Aku beralih menatapnya dengan tajam “Karena ada kalian di sini.” Dengan menekan kata ‘kalian’

“Mwo?” mereka saling bertatapan satu sama lain kemudian tertawa bersama-sama. Bodoh, memangnya apa yang lucu? Oh mungkin mereka merasa bangga mendengar kata-kataku, idiot.

“Baiklah kalau begitu aku akan memesankannya untukmu, kau harus memakan apapun yang aku pesankan.” Aku tak lagi menaggapinya, terserah dia saja.

“Jimin, bisa tolong kau pesankan dua ttaeokbokki?”

“Pesankan kimbap untukku juga Jimin.” Seru Namjoon saat Jjimin beranjak dari bangkunya. Bodoh sekali si Jimin itu, mau saja dia disuruh-suruh seperti itu. sahabat macam apa yang menjadikan sahabatnya lebih mirip seperti pembantunya.

Hoseok memandangiku dengan senyum yang menjengkelkan itu di wajahnya. Kenapa dia suka sekali menunjukkan senyum jeleknya itu? dia seperti orang gila yang tersenyum-senyum sendiri. Jujur saja aku merasa risih karena dia sering sekali menatapku seperti itu, tapi tak ada yang bisa ku perbuat, yang ada aku malah harus berdebat panjang dengannya, aku terlalu malas untuk itu. Aku hanya melipat kedua tanganku di dada sambil mengedarkan pandanganku. Tak sengaja aku melihat Min Yoongi sedang memandang ke arahku, entahlah siapa yang sebenarnya dia lihat. Tapi ku rasa… dia melihatku.

Jimin kembali dengan seseorang dibelakangnya, itu adalah petugas kantin yang membawakan makanan-makanan kami. Jimin kembali duduk di sebelah Hoseok. Petugas itupun membagikan makanan kami lalu segera pergi. Pandanganku masih terfokus pada Yoongi yang juga masih melihat ke sini. Sambil menyuap makanannya dia terus melihat ke arahku. Dia bahkan tidak mempedulikan Jin di hadapannya yang sedang berbicara.

“Ini untuk mu.”

Aku mengalihkan pandanganku pada Hoseok lalu menatap tteokbokki yang masih hangat di hadapanku. Kenapa dia memesankan ini untukku? Apa dia tahu kalau aku suka makanan pedas? Tapi aku tak akan memakannya walaupun aku lapar karena jika memakannya sama saja aku telah menurutinya.

“Ya! Kenapa kau tidak memakannya?”

“Bukankah sudah ku bilang?” aku menatapnya dingin

Dia menghentikan kegiatan makannya lalu membalas tatapan dinginku “Kau harus memakannya.” Itu terdengar seperti ancaman.

Aku tak bergeming. Biar saja dia memandangku dengan tatapan seperti itu, aku tak peduli. Jimin dan Namjoon yang menyadari tingkah kami berdua hanya menatap aku dan Hoseok secara bergantian lalu mereka(Jimin dan Nnamjoon) menatap satu sama lain. Aku bisa mendengar Hoseok menghembuskan nafasnya.

“Kau mau aku yang suapi?”

Aku mentap Hoseok tak percaya begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya. Dan sekarang dia menunjukka smirknya, iiuuuwhh.

Hoseok menyumpit tteokbokki dari piringku dengan sumpitnya lalu mengarahkannya ke mulutku, “Jja!” Seraya menyuruhku membuka mulut

“Cih.” aku memalingkan wajahku. Namun begitu aku menoleh aku langsung melihat wajah Namjoon yang cukup dekat denganku, dia menatapku seolah mengatakan ‘jangan bertingkah seperti itu, kau mau mati?’

Karena tak menerima respon dariku Hoseok menunrunkan sumpitnya, dia kembali meletakkan tteokbokki di piringku.

“Oh mungkin aku harus duduk di sampingmu. Namjoon!” dia memeberi isyarat agar Namjoon bertukar tempat duduk denganya

Setelah duduk di sampingku dia kembali nyumpit tteokbokki dari piringku dengan sumpitnya kemudian mengarahkannya ke mulutku. Aku hanya menatapnya, tak berniat untuk memakannya bahkan untuk sekedar membuka mulutku. Aku menatap Hoseok dengan tatapan dinginku. Seketika tatapannya berubah menjadi tajam, “Makan!” Huh apa itu? apa dia sedang mengancamku?

Aku mengalihkan pandanganku, tak jauh dari tempatku Min Yoongi melihat ke arahku dan Hoseok dengan tajam. Aku terkejut begitu merasakan tangan Hoseok menarik tengkukku “YA! YA!” aku terpaksa membuka mulutku begitu melihat tteokbokki berada tepat di depan mulutku. Ya… akhirnya aku memakan tteokbokki yang disuapinya. Aku memakannya karena tak ingin mulutku terkotori dengan bumbu tteokbokki jika aku tak membuka mulutku, aku yakin dia pasti akan berusaha menjejalkannya.

Aku menatap Hoseok dengan tatapan laserku sambil mengunyah tteobokki yang ada di mulutku. Tapi dia malah menatapku sambil tersenyum dengan senyum kemenangan. Ah aku benci melihatnya. Aku mengalihkan pandanganku darinya dan entah mengapa pandanganku terarah ke tempat itu lagi, Yoongi sunbae. Dia masih saja melihat ke arah aku dan Hoseok. Sebenarnya apa yang dia lihat? Kenapa dia terus saja melihat ke sini dengan tatapan seperti itu?

*****

Woo Ren pov

Aku berusaha fokus pada penjelasan Lee ssaem tapi tetap saja aku terganggu dengan orang bodoh di sebalhku. Si biang keributan itu terus saja mengganggu Taehyung dengan merik-narik rambut orennya. Walaupun bukan aku yang menjadi korbannya tapi jelas saja itu mengganggu ku karena Taehyung duduk di depanku dan untuk mencapai kepalanya maka tangan Hoseok akan lewat di depan wajahku. Bukan itu saja, aku juga kasihan pada Taehyung. Fokusnya pada penjelasan Lee ssaem pasti terganggu, dan pasti kulit kepalanya itu sakit.

“Hoseok…. Hentikanlah.”

Dia menoleh menatapku. Awalnya ekspresi wajahnya biasa saja tapi sekarang dia menyunggingkan senyumnya yang menyebalkan. “Whoa… ini menarik.” Aku hanya diam.

Konyol sekali yang dilakukannya itu. Sekarang dia memandangiku sambil tersenyum dengan senyumnya yang menjengkelkan itu. Dan yang membuatku rasanya ingin menonjok wajahnya karena posenya itu, dia menopang kepalanya dengan tangannya yang bertumpu di meja, dia menghadapkan wajahnya padaku. Siapa yang tak mau muntah dipandangi seperti itu? Kalau saja yang memandangiku seperti itu adalah J-Hope BTS maka aku akan senang dan betah dipandangi.

Aku menoleh ke arahnya lalu menatapnya dengan tatapan tidak suka. Ah, aku tak tahan lagi ketika dia terus mentapku bahkan dia beberapa kali memajukan posisinya itu sehingga jarak kami menjadi dekat seperti ini. Tidak bisakah dia tidak menggangguku?

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku dingin

“Menurutmu apa?” dia menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan dan senyumnya itu membuat ku muak.

“Wajahmu itu… Menarik juga.” Apa dia bilang? Apa yang dikatakannya barusan? Dia benar-benar membuatku geram, aku sudah tidak dapat menahan emosiku. Baiklah kalau itu maunya, lihat saja Jung Hoseok! Aku menghebuskan nafas beratku.

“Ssaem.” Aku mengacungkan tanganku lalu Lee seonsaengnim pun membalikkan badannya dan melihat ke arahku

“Ada apa? Apa ada yang ingin kau tanyakan?”

“Pak, apa yang anda lakukan kalau ada seorang murid yang mengganggu temannya saat anda sedang mengajar?”

“Tentu saja aku akan mengusir murid pengganggu itu ke luar kelas.”

“Kalau begitu bisa tolong usir dia?” aku menunjuk Hoseok. Lee seonsaengnim melihat ke arahnya dan mendapati si ketua genk idiot itu masih tetap dengan posisinya yang seperti itu. dia itu bodoh tuli atau apa? Sepertinya dia belum juga menyadarinya

“Hoseok!” dia baru tersadar setelah Lee seonsaengnim membentaknya

“Keluar kau!”

Si bodoh ini kalang kabut sekarang. Dia gelagapan, melihat ke arahku dan Lee seonsaengnim bergantian. Bahkan mulutnya itu tak bisa terkatup, sepertinya dia ingin membela diri namun kata-kata itu sudah terlanjur keluar dari mulut Lee seonsaengnim dan dia tak bisa mengelaknya lagi. Dia sekarang hanya menatapku tak percaya.

“Kau…” dia tak melanjutkan kata-katanya lagi

Aku menoleh padanya lalu menunjukkan ekspresi cemas dan manja padanya “Ah mianhe Hoseok-ah.”

“Apa yang kau lakukan?”

Aku mengangkat sudut bibir sebelah kiriku “Membuatmu tak betah duduk denganku. Membuatmu sangat menyesal telah duduk di sampingku.” Aku menekan kata ‘sangat menyesal’. Dia nampaknya sangat terkejut mendengar perkataanku.

“Jung Hoseok! Kau dengar tidak? Cepat keluar!”

Aku terus menatapnya dengan tajam sambil menunjukkan senyumku yang terkesan meledek. dia bangkit dari bangkunya sambil tetap menataku dengan tatapan yang sulit diartikan, antara tak percaya dan juga tajam tapi aku sama sekali tak takut dengan itu. Dia mengalihkan pandangannya dengan dingin lalu mulai melangkahkan kakainya. Kalau begini baru belajarku akan tenang. Hah… dasar wajah lonjong! Kau pikir aku tidak bisa melakukannya? Lihatlah! Ini baru akan dimulai….

***

Author pov

Sekolah sudah hampir sepi karena bel pulang sudah berbunyi setengah jam yang lalu. Dari toilet perempuan keluar seorang gadis dengan masker hitam yang menutupi wajahnya, jaket kulit berwarna cokelat muda yang membalut tubuh rampingnya. Kulit kakinya yang putih dan mulus sedikit terlihat karena celena treningnya yang hanya sebetis dan kaus kakinya semata kaki. Dia berjalan dengan langkahnya yang cepat. Sepatu sport birutua yang dipakainya membuatnya semakin gesit melangkahnkan kakinya dengan mantap.

Dia berjalan menyusuri lorong sekolah yang sepi sampai akhirnya dia berhenti di depan sebuah loker. Dia membuka lokernya dan mengambil sesuatu dari sana.

Yoon Gi pov

Aku melangkahkan kakiku dengan santai sampai tiba-tiba ak melihat perempuan yang baru saja berbelok, dia sekarang berada tak jauh di depanku. Wanita dengan rambut hitam legamnya yang diikat menjadi satu itu terlihat terburu-buru.

Dia berhenti di salah satu loker lalu membukanya. Sepertinya itu loker miliknya, dia terlihat sedang mengambil sesuatu dari dalam sana. Aku melihat sekelilingku, sepi, tak ada orang kecuali aku dan gadis itu. Aku sebenarnya penasan dengan wajah dibalik masker hitam itu. Siapa sebenarnya gadis yang selalu dibicarakan murid-murid setiap pagi? Aku berhenti beberapa langkah darinya. Tak lama kemudia dia menutup lokernya. Dia menoleh ke arahku sepertinya dia terkejut melihatku.

Aku melangkah mendekatinya. Dia nampak sedikit ketakutan, dia menunduk dan mundur perlahan-lahan. Hm, kukira dia akan berlagak sok keren seperti si bodoh Hoseok dan berani melawanku, tapi melihat tingkahnya yang seperti itu fikiranku berubah.

Dia membalikkan badannya sebelum sempat aku menahan pergelangan tangannya. Dia meronta untuk melepaskan cengkramanku tapi itu hanya akan menjadi sia-sia baginya. Aku menarik tangannya dan membenturkan badannya ke loker. Matanya sempat terpejam lalu dia membukanya kembali, sepertinya karena sakit di punggungnya akibat membentur loker. Aku berdiri di hadapannya dalam jarak yang sangat dekat. Ku tatap matanya lekat-lekat. Mata dengan manik berwarna hitam yang indah. Dia kini menatapkudengan dingin, hah benari juga rupanya dia. Aku mengangkat tanganku hendak meraih masker yang menutupi setengah wajahnya itu tapi tangannya lebih dulu menahan tanganku. Dia melepaskan tanganku lalu melangkahkan kakinya. Baru satu langkah yang ditapakinya aku kembali menariknya dan mengembalikannya ke posisi semula, kali ini lebih kasar. Begitu dia ada di hadapanku aku langsung menarik masker hitamnya dengan kasar sampai terbuka dengan sempurna dan memperlihatkan wajahnya. Dia sepertinya sangat menyesali itu. Dia menundukkan kepalanya seraya memejamkan matanya, menggertakkan giginya dengan kuat, sepertinya dia sangat geram.

Aku terus memperhatikan wajahnya, jadi ini wajah gadis pengendara motor sport itu, cantik juga. Dia kini menatapku dengan tajam, mungkin dia membenciku setelah kejadian ini. Aku menunjukkan smirkku sedangkan dia hanya menatapku tajam. Aku memegang tangan kanannya dan mengangkatnya. Tangan kiriku memberikan masker yang tadi ku lepas dengan paksa dari wajahnya. Setelah itu akupun pergi meninggalkannya.

***

Woo Ren pov

Entah mengapa aku merasa ada seseorang yang sedang mengikutiku. Aku melihat kaca spion motorku, tapi entah kendaraan mana yang sebenarnya sedang mengikutiku. Aku menambah kecepatan laju motorku.

Akhirnya aku samapai di toko tempat ku bekerja. Aku akan memulai jam bekerja paruh waktuku. Setelah memarkirkan motorku aku segera masuk ke dalam.

“Wooren, kau sudah datang?”

Aku tersenyum pada Jang ahjussi, dia adalah bosku. Toko tempat ku bekerja ini adalah miliknya pribadi. Toko yang menjual berbagai makanan, minuman dan beberapa kebutuhan lain ini bisa disebut sebagai mini market. Di sini juga di sediakan bangku dan meja untuk tempat memakan dan meminun makanan atau minuman yang dibeli di sini.

“Ne. Sini, berikan padaku.” Aku mengulurkan tanganku meminta rompi yang dipakainya.

“Ja. Kau sudah makan? Kalau belum ambil saja ramen instan yang ada di sini, kau boleh memakannya.”

“Tidak perlu, aku sudah.”

“Oh baiklah kalau begitu. Yang semangat ya bekerjanya, aku mau pulang dulu.”

“Ne. Hati-hati ahjussi.” Jang ahjussi tersenyum sambil melambaikan tangannya. Dia pun keluar.

Seseorang membuka pintu, aku menoleh ke arahnya. Aku sedikit terkejut dan juga heran begitu melihat orang yang memakai kaos hitam dan celana selutut itu. Siapa dia? Orang macam apa yang ke mini market dengan kaca mata hitam dan masker seperti itu? Bahkan topi hitam yang dipakainya itu menutupi bagian matanya. Aneh sekali.

Dia melihat ke arahku beberapa detik kemudian dia beranjak ke tempat minuman kaleng dingin. Aku terus saja memperhatikannya. Apa dia pencuri? Sebelum dia beranjak dari sana dia menoleh ke arahku lalu ia melangkahkan kakinya ke tempat ramen instan dan mengambil beberapa dari sana. Sekarang dia berjalan ke arahku. Dari caranya berjalan aku seperti pernah melihatnya, sepertinya tidak asing. Siapa dia sebenarnya?

Dia menaruh dua cup kopi di meja kasirku. Dengan cepat aku mengambilnya dan menghitungnya. Sepertinya dia sedang memperhatikanku. Walau matanya terhalang oleh kaca mata hitamnya tapi aku dapat merasakannya.

“Semuanya dua puluh lima won.”

Dia mengeluarkan dompetnya dari saku celananya. Tak sengaja aku melihat isi dompetnya itu, whoa sepertinya dia orang kaya, tapi tingkahnya aneh seperti itu. Dia sebenarnya siapa? Kenapa aku seperti mengenalnya? Hey! Tunggu! Itu…

Dia menutup dompetnya lalu memberikan beberapa lembar uangnya padaku. Aku menerima uang yang diberikannya. Setelah itu dia mengambil kantung belanjaannya dan pergi. Pandanganku terus mengikutinya sampai dia berada di luar. Tak sengaja aku melihat mobel hitam yang terperkir di luar. Mobil hitam itu lagi? Aku begitu terkejut begitu melihat orang aneh itu masuk ke dalam mobil itu dan duduk di tempat kemudinya. Siapa sebenarnya orang itu?

*****

Author pov

Bel istirahat berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar dari kelas mereka seperti anak-anak TK yang kegirangan. Wooren memasukkan buku-buku yang ada di atas mejanya ke dalam tasnya. Dia melirik Hoseok di sebelahnya yang hanya terdiam sedari tadi. Aneh sekali, tumben dia tidak menggangguku, batinnya. Tiba-tiba Minah menghampirinya

“Wooren aku boleh ke kantin bersamamu?”

“Oh, tentu saja.” Wooren tersenyum sambil masih memasukkan bukunya

“Kajja.” Wooren bangkit dari bangkunya

Belum sempat ia melangkahkan kakinya, tangannya terlebih dulu ditahan oleh Hoseok. Dia menoleh dan menatap Hoseok heran. Yang ditatapnya itu malah menatap Minah yang juga meihat aneh ke arah mereka berdua.

“Tidak. Wooren ke kantin bersamaku.” Kata Hoseok dingin kepada Minah

“Mwo?” Wooren terkejut. Ternyata dia salah kalau berfikiran Hoseok tak mengganggunya hari ini.

“Kau, pergilah…” Hosoek tak mempedulikan Wooren, dia malah mengusir Minah

“Ah… baiklah.” Minah melirik Wooren sebelum akhirnya pergi

“Kau ini. tidak puaskah kau…” belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya Hoseok menarik tangannya, berjalan keluar kelas

Semua murid-murid yang ada di koridor lantai dua memperhatikan mereka. Lagi-lagi Hoseok memperlakukannya seperti ini, menjadikan gadis itu terlihat seperti hewan peliharaannya.

“Ya! Ya!” Wooren menggerak-gerakkan tangannya dengan kasar berusaha melepaskan tangannya dari Hoseok. Tapi itu hanya menguras tenanganya saja karena Hoseok tak juga melepaskannya, bahkan dia lebih mengencangkan cengkramannya.

Mereka memasuki kantin, semua murid-murid yang ada di sana langsung melihat ke arah mereka. Wooren merasa sangat malu diperlakukan seperti ini oleh Hoseok sampai semua orang melihat ke arah mereka. Dia kembali menggerak-gerakkan tangannya berusaha melepaskan tangannya. Tiba-tiba Hosoek menghentikan langkahnya dan secepat kilat Wooren melepaskan tangannya dari cengkraman Hoseok.

“Aku bukan hewan peliharaanmu!”

Hoseok hanya menatapnya dingin sebelum akhirnya kembali menarik tangannya. Dengan cepat Wooren kembali melepaskan tangannya. Mereka saling menatap tajam satu sama lain. Mereka seperti tak mempedulikan pandangan murid-murid yang memperhatikan mereka. Hosoek mendekatkan dirinya pada Wooren sampai-sampai gadis itu harus sedikit mendonga untuk menatapnya. Mereka masih menatap tajam satu sama lain. Hoseok mendekatkan wajahnya ke wajah Wooren.

“Kau harus menurut dengan ku.” katanya pelan di telinga Wooren

Hosoek melingkarkan tangannya di bahu Wooren lalu kembali melangkahkan kakinya. Lagi-lagi kejadian kemarin terulang bahkan di tempat yang sama. Wooren ikut melangkahkan kakinya dengan terpaksa atau lehernya akan tercekik. Dia memgangi tangan Hoseok berusaha melepskannya.

“Hei!” Hoseok menghentikan langkahnya

Wooren juga ikut menghentikan langkahnya. Dia menurunkan tangannya ketika tangan Hoseok yang menarik lehernya mengendor begitu saja. Dia melihat ke orang yang ada di hadapannya saat ini. matanya membulat begitu melihat wajah orang itu, Min Yoongi. Mereka bertatapan mata. Wooren segera memalingkan wajahnya. Tangan Hoseok masih merangkul bahu Wooren, laki-laki itu hanya terdia menatap tajam ke arah Yoongi di hadapannya. Begitu juga Yoongi, dia menatap Hoseok dengan tajam.

Yoongi mengalihkan pandangannya ke arah Wooren. Gadis itu masih memalingkan wajahnya. Dia tersenyum dengan sebelah bibirnya terangkat melihat tingkah gadis itu. Yoongi melangkah mendekat. Wooren yang menyadari itu melihat ke arah Yoongi

“Hei, kenapa kau ada di rangkulannya?”

Wooren hanya menatapnya dengan tatapan bingung. Mulutnya sedikit terbuka, dia ingin mengatakan sesuatu tapi dia tak bisa mengatakannya. Yoongi tersenyum padanya, senyuman yang entah apa artinya itu. Yoongi kembali menatap Hoseok.

“Bisa kau lepaskan tanganmu itu?”

“Kenapa aku harus melepaskannya?”

“Karena kau tidak seharusnya menyentuhnya.” Yoongi menyunggingkan senyumnya yang terkesan merendahkan

“Cih. Memangnya siapa kau melarangku?” Hoseok tak mau kalah, dia tersenyum pada Yoongi dengan senyum merendahkan

“Aku?” Yoongi mengalihkan pandangannya pada Wooren

“Aku namjachingu-nya.” Yoongi menatap Wooren dengan tatapan yang entah apa artinya, menunjukkan smirknya pada Wooren.

“MWO!?”

-TBC-

Hallauuu… Reader-deul bagaimana pesan dan kesannya untuk tulisanku di part ini? Maaf ya kalo ga memuaskan, dan ga bisa dapet feel. Mohon maklumi karena aku hanyalah penulis abal yang membaeranikan diri mempost karyaku dan karena itu juga mohon komennya ya….

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF/ DARK BLUE DREAMCATCHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 2

  1. Anyeong ak reader baru ( ˆ⌣ˆ​​​​ ) mf ak comment.a dsini😦 ak baca.a sekaligus😀 aaahh ak suka ff.a sbner.a ak lg hiatus tp wktu liat cast.a aduh ak ngga nahan buat baca😀 deuuhhh kangen bgt ama syugaaaaaa aaahh ngga sabar baca lanjuta.a nih🙂 hwaiting buat next chap.a ( ‘̀⌣’́)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s