FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 4


11902518_869875126416742_4665585678208730251_n

Tittle :

BTS 7 Soul

Author :

Lingkyu88

Lenght :

Chapter

Genre :

Romance, Friendship, Fluff, Smut

Rate :

Mature, NC -17

Main Cast :

Boys :

Park Jimin ▶ 18 y.o, Taehyung classmate, Smart, Rich

Kim Taehyung ▶ 18 y.o, Jimin classmate, Rich, Cassanova

Jeon Jungkook ▶ 16 y.o, Jimin & Taehyung junior, Rich, Bi

Kim Seokjin ▶ 21 y.o, Manager in a Smartphone center, Rich, Handsome

Min Yoongi ▶ 20 y.o, Musician, Cool, Rich, Lazy ass

Jung Hoseok ▶ 19 y.o, College student, Rich, Moodmaker

Kim Namjoon ▶ 19 y.o, Leader of the group, Cafe owner, Rich, Sexy mind

Girls :

Kim Eunjin ▶ 16 y.o, Kim Taehyung lil sister, Jungkook classmate, childish

Kwon Minyoung ▶ 18 y.o, Jimin & Taehyung classmate, nerdy, bullying victim

Lee Namjung ▶ 23 y.o, a nurse, mature

Han Ara ▶ 18 y.o, Jimin & Taehyung classmate, innocent

Shin Sang Eun ▶ 19 y.o, pool dancer, adopted by Paraiso’s owner

Choi Hyena ▶ 20 y.o, college student, Yoongi’s maid

Oh Yeonkyung ▶ 22 y.o, single parent, tomboyish, Namjoon’s cafe employer

Cover by :

Cover Story Fanfiction Korea

Disclaimer :

BTS members are not mine but this fanfic is pure my imagination. I give this fanfic mature rating cuz there will be parts that contains with sex, harrasment, bloods, and drugs. Please don’t be silent readers and plagiator. So ignore typos, enjoy the story!

Thanks~~ ♥♥♥

[CHAPTER 4 : HEARTSTRING]

-Author POV-

“Minyoung, aku minta maaf atas sikap kasarku kemarin padamu. Aku hanya tidak ingin kau menjelek-jelekkan Taehyung. Bagaimana pun juga aku menyukainya,” kata Ara sambil duduk di samping Minyoung.

Mereka tengah beristirahat setelah selesai olahraga basket. Minyoung dan Ara duduk di bawah pohon rindang di tepi lapangan basket.

Minyoung tersenyum. “Aku mengerti, Ara. Sejujurnya aku tidak menyukai penampilan barumu. Tapi itu semua hakmu. Aku tahu betul kehidupan mereka. Foya-foya, menghabiskan uang orangtua, membully orang miskin dan jelek sepertiku. Sebagai teman aku hanya ingin mengingatkan. Aku harap kau tidak melupakan pelajaranmu.”

“Minyoung, maafkan mereka.”

“Tsk! Terlalu banyak hal buruk yang mereka lakukan padaku. Tapi aku tidak punya kuasa apa-apa untuk membalas mereka. Biarkan saja, aku percaya karma itu ada dan mereka akan menerimanya kelak.”

“Minyoung. Aku janji padamu aku akan membuat Taehyung lebih baik.”

“Kau yakin? Boleh aku jujur? Dia terlalu bossy dan kau yang menyukainya bukan dia yang menyukaimu, bukan?”

Ara mengangguk.

“Aku tidak yakin dia akan berubah. Tapi, goodluck Ara. Semoga kau berhasil. Ingat, jangan lupakan pelajaranmu.”

Ara memeluk Minyoung. “Terimakasih, Minyoung. Aku janji aku tidak akan melupakan pelajaranku.”

“Minyoung, tadi Soohwa ssaem menyuruhmu mengembalikan bola-bola ke gudang,” kata seorang murid wanita pada Minyoung.

“Iya sebentar,” jawab Minyoung. “Ara, aku pergi dulu mengembalikan bola sebentar. Jika jam pelajaran sudah berganti kau masuk kelas saja dulu. Nanti aku menyusul.”

“Apa perlu aku bantu?” Tawar Ara.

“Tidak usah. Lagipula bolanya tidak banyak dan sebentar lagi jam pelajaran Boram ssaem dimulai. Aku pergi dulu, Ara,” kata Minyoung sambil berlalu meninggalkan Ara.

Minyoung pergi memberesi bola-bola basket. Mengumpulkannya menjadi satu ke dalam net bola dan membawanya menuju gudang. Gudang olahraga memang terletak paling belakang dari sekolah itu.

Minyoung membuka pintu gudang tersebut dan meletakkan net bola basket ke tempatnya. Namun tiba-tiba Minyoung mendengar seperti ada yang mengunci pintu gudang. Minyoung berlari menuju pintu dan menggoyang-goyangkan knop pintu. Terkunci! Sepertinya ada orang berniat yang mengerjainya.

Minyoung melihat ke sekeliling. Gelap! Gudang tersebut memang tidak memiliki jendela. Hanya ada lubang ventilasi yang membuat udara dan cahaya bisa sedikit masuk.

“Toloooooooooong!” Minyoung berusaha menggedor-gedor pintu gudang. Letak gudang paling belakang sekolah itu membuat orang jarang melewatinya.

Minyoung panik. Dia berusaha mencari-cari cara agar bisa keluar dari gudang gelap tersebut.

Minyoung menarik kursi dan meja yang ada di gudang itu dan menyusunnya di dekat ventilasi. Dia juga mengambil bola lembing. Minyoung naik ke atas susunan meja dan kursi tersebut. Dia memecahkan kaca ventilasi dengan bola lembing.

Minyoung terengah-engah. Bola lembing tesebut sangat berat. Ditambah pecahan kaca melukai beberapa bagian tangannya hingga berdarah.

Krek! Braaaakkkk!!

Tiba-tiba meja tempat Minyoung berpijak ambruk. Meja itu memang meja rapuh yang sudah lama tidak dipakai. Minyoung jatuh terduduk. Kakinya ikut terluka terkena bekas patahan meja. Minyoung merasakan dadanya sesak. Pandangannya berkunang-kunang dan lama-kelamaan menjadi gelap.

Sementara itu di kelas, Ara merasakan perasaannya tidak enak tentang Minyoung. Hampir setengah jam pelajaran, Minyoung belum juga kembali dari gudang.

“Boram ssaem, aku meminta ijin ke toilet,” kata Ara.

“Baiklah, jangan lama-lama!” Jawab Boram ssaem.

Ara bergegas keluar. Bukan ke toilet seperti ijinnya tapi ke gudang belakang. Ara memutar-mutar knop pintu gudang namun terkunci.

“Minyoung?! Minyoung?!” Ara menggedor-gedor pintu gudang namun tidak ada jawaban.

“Kemanakah anak itu?” Batinnya.

Tak kurang akal, Ara berlari ke ruang penjaga sekolah. Dia meminta kunci pintu gudang pada sang penjaga sekolah. Dengan diikuti penjaga sekolah, Ara berlari kembali ke gudang olahraga. Ara membuka kunci pintu dengan tergesa-gesa. Dia benar-benar panik. Dan saat pintu gudang terbuka, Ara terkejut saat melihat Minyoung pingsan dengan beberapa luka di tangan dan kakinya. Ara dan penjaga sekolah tersebut membopong Minyoung menuju unit kesehatan sekolah.

Di dalam ruang kesehatan, Minyoung langsung diperiksa oleh petugas kesehatan. Perasaan Ara sudah tidak karu-karuan. Panik, gelisah, dan takut menjadi satu.

“Ara, kau sudah boleh kembali ke kelas. Gadis ini tidak apa-apa. Dia pingsan karena kehabisan udara, sebentar lagi dia sadar. Untuk luka di tangan dan kakinya, mungkin akan sembuh dalam beberapa hari. Tapi itu hanya luka ringan. Masih bisa dia gunakan untuk aktifitas sehari-hari,” terang sang penjaga unit kesehatan.

“Sukurlah. Terimakasih Eungyeol-nim. Kalau begitu aku kembali dulu ke kelas,” pamit Ara kemudian kembali ke kelasnya.

“Darimana saja kau, Han Ara? Kenapa lama sekali?” Seru guru Matematika itu saat Ara masuk ke kelasnya.

“Maaf Boram ssaem. Minyoung terkunci di dalam gudang. Dia pingsan dan terluka tapi sekarang sedang beristirahat di ruang kesehatan,” jawab Ara.

“Astaga! Bagaimana bisa?”

“Aku juga tidak tahu Boram ssaem. Sepertinya ada yang sengaja mengunci pintunya dari luar.”

“Siapa yang berani mengerjainya, eoh? Baiklah, kalau begitu kau sekarang duduklah. Nanti istirahat kita jenguk dia.”

Ara mengangguk dan kembali ke tempat duduknya. Ara sempat menoleh ke arah Taehyung dan Jimin. Firasatnya mengatakan kalau mereka lah yang mengerjai Minyoung. Tapi mereka terlihat seolah-olah tidak peduli.

Saat istirahat, Ara pergi ke kantin bersama Taehyung. Mereka berkumpul bersama dengan rombongan Jimin dan Jungkook.

“Taehyung, Jimin, apa kalian yang mengunci Minyoung di dalam gudang olahraga?” Tanya Ara.

“Jangan sembarangan menuduh. Apa kau punya bukti kami yang melakukannya?” Kata Taehyung.

“Lagipula dia cocok tinggal di dalam gudang. Berkumpul dengan saudara-saudaranya. Ciiit-ciiit-ciiit-ciiit,” Jimin meledek dengan menirukan suara tikus dan hal itu mengundang tawa yang lain.

“Tidak. Tapi bukankah selama ini kalian lah yang selalu mem-bully Minyoung. Aku mohon hentikanlah perbuatan kalian. Dia anak yang baik. Dia hanya ingin belajar di sini. Jadi-”

“Ara hentikan!” Taehyung menggebrak meja makan mereka. “Silahkan kau bela sahabatmu itu dan hubungan kita sampai di sini saja.”

“Tapi Tae-”

“Tidak ada tapi. Silahkan kau pilih aku atau gadis kampungan itu,” kata Taehyung lagi.

Ara mendesah. Dia menyayangi sahabatnya itu, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Taehyung. Hubungan mereka baru seumur biji jagung dan dia tidak rela harus memutuskannya. Lagipula dia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia lah yang akan merubah Taehyung.

“Baiklah. Maafkan aku Taehyung,” ujar Ara lirih.

Taehyung mengusap-usap rambut Ara. “Ini baru pacarku. Jadi, mulai sekarang kau tidak usah memikirkan gadis gembel itu.”

Ara mengangguk sedih. “Maafkan aku, Minyoung,” batinnya.

“Oh ya, tadi Namjoon Hyung mengirimkan pesan agar besok Sabtu siang kita datang ke cafe-nya,” kata Jungkook.

“Ada acara apa?” Tanya Jimin.

“Entahlah. Dia juga tidak memberitahuku ada acara apa. Hanya meminta besok Sabtu kita berkumpul disana,” jawab Jungkook.

“Ini nih yang aku tidak suka. Kalian suka membuat kejutan-kejutan aneh,” keluh Jimin.

“Hei, kejutan-kejutan kami tidak aneh. Tapi menyenangkan bukan?” Goda Taehyung. Dia ingat kejutan saat ulang tahun Jimin kemarin yaitu Rose.

“Ya ya ya. Jangan-jangan kau bersekongkol lagi dengan Namjoon Hyung,” Jimin menatap curiga pada Taehyung.

Taehyung memukul kepala Jimin. “Kali ini aku benar-benar tidak tahu, Bodoh!”

Jimin meringis sambil mengusap-usap kepalanya. “Kau ini kenapa suka sekali membullyku?” Gerutunya.

“Oh ya, Hyung, hari ini Eunjin kenapa tidak masuk?” Tanya Jungkook pada Taehyung.

“Benarkah? Tapi tadi pagi dia bilang dia ingin berangkat lebih awal bersamamu karena ada tugas yang belum kelar,” ujar Taehyung terkejut.

Jungkook menggeleng. “Tidak ada tugas apa-apa. Aku juga berangkat sendiri.”

Jimin tertawa. “Wah, adikmu mulai pintar berbohong. Jangan-jangan dia punya pacar diam-diam.”

“Pacar? Aku tidak pernah tahu dia dekat dengan pria lain selain Jungkook. Lagipula selama ini dia selalu menempel denganku. Bagaimana bisa mempunyai pacar?”

“Oi, Taehyung! Ini jaman modern. Bisa saja kan dia kenal dari media sosial,” ujar Jimin.

“Iya sih. Tapi, dia jarang memegang ponselnya,” bantah Taehyung.

“Itu saat bersamamu. Saat di kamarnya? Apa kau tahu apa yang dia kerjakan?” Jimin mempengaruhi Taehyung.

“Benar juga. Sial aku kecolongan!” Seru Taehyung membuat yang lain tertawa.

“Biarlah Eunjin sudah besar. Sudah waktunya mengenal pacaran,” komen Jimin.

“Tapi aku tidak mau dia sembarangan memilih pacar. Dia itu masih sangat kekanakan dan labil.”

“Justru dengan dia berpacaran dia akan belajar tentang kehidupan dan membuatnya berpikiran dewasa,” ujar Jimin.

“Kau ini gaya bicaramu sok tua sekali. Kau sendiri masih seperti anak-anak.”

“Hei, kau juga!” Seru Jimin.

“Sudah-sudah! Taehyung, nanti kau bisa menanyai Eunjin secara langsung. Setidaknya dia harus jujur padamu jadi kau tetap bisa mengontrolnya,” saran Ara.

Taehyung mengangguk-angguk setuju.

—000—

Eunjin masuk ke sebuat pusat smartphone terbesar di kota. Dia melihat-lihat beberapa model ponsel terbaru tanpa berniat membelinya. Eunjin tahu pusat smartphone tersebut adalah milik salah satu sahabat kakaknya, Seokjin. Eunjin pernah mendengar dari kakaknya, Taehyung, kalau setiap hari Kamis dan Jum’at Seokjin datang mengontrol kondisi toko besarnya itu.

Tiba-tiba Eunjin melihat sosok Seokjin. Dia bergegas pura-pura menanyakan harga ponsel pada sang penjual.

“Hei, Eunjin. Mau membeli ponsel baru kah?” Sapa Seokjin.

“Hai, Seokjin Oppa. Ah, iya. Aku bingung memilih yang mana,” kata Eunjin sambil melihat-lihat katalog ponsel terbaru.

“Ponselmu sudah iphone 6 plus. Apa lagi yang kurang?” Tanya Seokjin.

“Umm, aku bosan. Di sekolah sudah banyak yang memakai ponsel yang sama,” jawab Eunjin.

“Kau mau mencoba ponsel LG ini?” Tanya Seokjin sambil menunjuk sebuah ponsel model flip berwarna pink. “Fiturnya tidak secanggih smartphone lain tapi desainnya unik. Aku juga memakainya.”

“Benarkah? Sama dengan milik Oppa? Baiklah, aku beli yang ini ya,” kata Eunjin pada sang penjual ponsel.

Eunjin mengeluarkan dompetnya berencana mengambil kartu kreditnya. Tapi Seokjin menahannya.

“Tidak usah. Biar aku yang membayarnya,” kata Seokjin.

“Tapi, Oppa, ini mahal.”

“Tidak mahal untuk gadis cantik sepertimu,” kata Seokjin. “Oh ya, kau buatkan aku tanda bukti biar aku tandatangani setelah itu kau ambil uangnya di kantorku,” ujarnya pada sang penjual ponsel.

“Baik, Tuan.” Penjual itu menyerahkan tanda bukti pembelian pada Seokjin. Dan setelah ditandatangani, penjual itu menyerahkan ponsel yang dibeli Eunjin. “Terimakasih, atas kedatangannya.”

Eunjin membungkuk setelah itu pergi dari situ bersama Seokjin.

“Kau membolos?” Tanya Seokjin saat melihat Eunjin masih mengenakan seragam sekolah.

Eunjin nyengir. “Hari ini ada guru killer. Aku malas masuk kelas.”

“Kau tidak boleh begitu. Sekolah itu penting untuk masa depanmu. Oh ya, kau sudah makan?”

Eunjin menggeleng.

“Kau mau makan siang bersamaku?”

“Tapi, Oppa… Apa aku tidak merepotkan?”

Seokjin mengusap-usap rambut Eunjin. “Tidak, Cantik. Kau mau makan dimana?”

“Biasanya Oppa makan dimana?”

“Aku? Aku biasanya pulang ke apartemen dan memasak sendiri. Tapi kalau kau mau makan di restoran aku menurut saja.”

“Kalau begitu kita pulang saja ke apartemenmu, Oppa. Lagipula aku juga ingin mencicipi masakan Oppa,” jawab Eunjin sambil tersenyum manja.

Seokjin tersenyum. “Baiklah.”

Seokjin dan Eunjin berjalan beriringan menuju parkiran mobil dan bersiap pulang ke apartemen Seokjin. Perjalanan ke apartemen Seokjin dari pusat smartphone tersebut tidak lama. Hanya sepuluh menit mengendarai mobil.

Seokjin menekan password apartemennya. Setelah terbuka dia masuk dan mengajak Eunjin masuk juga. Eunjin melihat-lihat sekeliling. Apartemen Seokjin lumayan luas. Desainnya minimalis namun tetap elegan. Kursi tamu tersusun rapi di depan. Untuk menuju ruang selanjutnya terdapat tangga-tangga kecil. Di situ terdapat ruang menonton TV dengan sofa malas. Ruang selanjutnya adalah dua buah kamar. Dan di ujung sekali terdapat dapur beserta ruang makannya.

“Oppa, kau tinggal sendiri?” Tanya Eunjin sambil duduk di sofa malas.

“Tadinya aku tinggal dengan Hyung. Tapi dia sekarang sedang mengikuti wajib militer dan keluar tahun depan. Jadi sementara ini aku sendiri,” jawab Seokjin. “Oh ya, kau mau ganti baju?”

“Aku tidak membawa baju ganti, Oppa.”

“Kau bisa memakai bajuku.”

“Umm, baiklah.”

Seokjin masuk ke kamarnya dan mengganti setelan jasnya dengan t-shirt putih dan celana baggy warna cream. Seokjin juga membawakan t-shirt untuk Eunjin.

“Nah, pakai ini,” kata Seokjin pada Eunjin.

Eunjin menerima t-shirt Seokjin yang masih terbungkus plastik. “Oppa, ini baru?”

Seokjin mengangguk. “Kebetulan aku ada stok t-shirt baru jadi kau tidak memakai baju bekasku. Hahaha.”

Eunjin membuka kancing bajunya di situ juga. Baru satu kancing terbuka, Seokjin sudah berteriak.

“Hei, gantilah di dalam kamarku.”

“Kenapa, Oppa? Aku biasa ganti baju di depan Taehyung Oppa.”

Seokjin tersenyum sambil mengusap-usap rambut Eunjin. “Eunjin, kenapa kau polos sekali. Lain kali kau tidak boleh mengganti baju di depan pria dewasa. Entah itu kakakmu, ayahmu, atau siapapun. Kau sudah besar Eunjin. Harusnya kau tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak.”

“Tapi Taehyung Oppa tidak pernah protes.”

“Beruntung sekali Oppamu itu benar-benar menjagamu, Eunjin. Tapi lain kali jangan diulangi ya. Sekarang kau ganti di kamarku sana.”

Eunjin menurut. Dia bergegas menuju ke kamar Seokjin. Eunjin menatap penjuru kamar Seokjin. Bau maskulin mendominasi kamarnya. Dindingnya bercat peach. Beberapa fotonya dan juga genk BTS terpajang di sana. Tempat tidur Seokjin berupa spring bed berwarna pink. Di dekat jendela terdapat meja komputer yang bersebelahan dengan lemari kayu besar. Bufet kaca yang diletakkan tepat di seberang tempat tidurnya berisi miniatur-miniatur dan juga boneka-boneka tokoh game Super Mario Bross.

Eunjin buru-buru mengganti kemeja sekolahnya dengan t-shirt Seokjin. Eunjin tertawa sendiri melihat dirinya di kaca lemari dengan t-shirt Seokjin yang kebesaran untuknya. Eunjin mengikat rambutnya tinggi-tinggi dan melepas sepatunya. Setelah siap Eunjin keluar menemui Seokjin.

“Oppa, ayo!”

Seokjin yang tengah berbaring di sofa malas segera bangkit dan menarik tangan Eunjin menuju dapur.

“Kau bisa memasak?” Tanya Seokjin sambil mengeluarkan beberapa sayuran dari lemari es.

Eunjin menggeleng.

“Baiklah, kau duduk saja di sini. Biar Oppa yang masak,” ujar Seokjin sambil mengenakan appronnya.

“Tapi Oppa. Aku mau membantu Oppa memasak,” rengek Eunjin.

Seokjin mengusap-usap rambut Eunjin. “Baiklah. Kau bisa membantu Oppa memotong ini,” katanya sambil menyerahkan beberapa lembar daun sawi. “Potong panjang-panjang.”

Eunjin mencoba memotong daun sawi tersebut. “Segini?”

“Umm, pintarnya adik Taehyung. Kalau sudah selesai jangan lupa dicuci ya.”

“Siap, Oppa.”

“Oh ya, pakai ini,” kata Seokjin sambil memakaikan appron pada Eunjin.

Seokjin sangat cekatan memotong daging ayam menjadi kecil-kecil dan merebusnya. Sementara menunggu empuk dia meracik bumbu-bumbu.

“Oppa sudah selesai. Apa lagi?”

“Kau potong ubi ini menjadi dadu ya,” perintah Seokjin.

Eunjin menurut. Dia memotong ubi tersebut sesuai perintah Seokjin.

Mereka memasak sambil bercanda. Eunjin beberapa kali membuat pose aneh dengan sayur-sayuran yang telah dipotongnya dan hal itu membuat Seokjin terbahak-bahak. Seokjin menyuruh Eunjin mencicipi rasa masakannya. Setelah dirasa pas, Seokjin mematikan kompornya dan menyusun hasil masakannya di meja makan.

“Waaahhh, sepertinya sangat lezat,” kata Eunjin sambil mencium aroma chicken gangjong di piring saji. Chicken gangjong adalah campuran ayam dan ubi yang dibumbu bistik pedas dengan taburan wijen. Eunjin bahkan memfoto hasil masakan mereka tersebut dengan ponsel barunya.

Seokjin menyendokkan nasi di piringnya dan juga piring Eunjin. Mereka makan dengan lahap.

“Oppa, nanti aku sering-sering main kesini ya. Aku ingin belajar masak darimu,” kata Eunjin.

“Boleh saja. Tapi tidak boleh membolos lagi.”

“Siap, Oppa.”

—000—

Hyena mengetuk pintu kamar Yoongi namun tidak ada jawaban. Hyena membuka pintu kamar tersebut dan ternyata… kosong. Hyena masuk ke kamar Yoongi dan membuka pintu studio musiknya. Dia menoleh-noleh dan melihat Yoongi yang sedang duduk di kursi santai dengan telinga tertutup headset.

Hyena berjalan mendekati Yoongi dan memeluk lehernya dari belakang.

“Yoongi, pizza pesananmu datang,” ujarnya sambil menunjukkan bungkusan pizza di tangan kanannya.

Yoongi melepaskan headsetnya dan membiarkannya menggantung di lehernya. “Terimakasih, Sayang,” katanya sambil mengusap-usap rambut Hyena.

Hyena melepaskan pelukannya kemudian duduk di samping Yoongi. “Kau mendengarkan musik apa?” Tanyanya sambil meraih headset Yoongi dan mencoba mendengarkan musik yang dia dengarkan.

“Astaga ini musik apa?” Seru Hyena.

Yoongi tertawa. “Hiphop, Sayang.”

“Hah, itu suara orang mengoceh-ngoceh bukan musik.”

“Bagimu. Bagiku ini aliran musik favoritku. Hiphop adalah musik kebebasan. Dimana kita bisa menuangkan apapun yang ada di hati dan pikiran kita. Musik hiphop biasanya digunakan untuk menyindir atau mengkritik sesuatu. Tidak semua orang bisa melakukan rapping karena membutuhkan pernafasan yang bagus. Itu sebabnya aku sangat menyukai hiphop,” terang Yoongi.

“Kalau syaratnya hanya pintar mengoceh-oceh mungkin ibuku juga bisa jadi rapper,” ujar Hyena yang membuat mereka tertawa.

“Jenis musik apa yang kau sukai, Sayang?” Tanya Yoongi sambil memakan potongan pizza pesanannya.

“Aku lebih menyukai musik ballad. Tidak apa-apa kan, Yoongi?”

Yoongi tertawa. “Itu hakmu. Aku tidak memaksamu untuk menyukai apa yang aku sukai. Selama kita sepikiran dan berniat untuk bersama, perbedaan itu bukan alasan.”

Hyena tersenyum. “Yoongi…”

“Ya?”

“I love you.

Yoongi mengecup bibir Hyena sekilas. “I love you more.”

“Oh ya, tadi pagi Nyonya Min menelpon. Dia bilang dia akan pulang besok,” ujar Hyena.

Yoongi menghentikan makannya. “Aku tidak peduli. Ada atau tidaknya mereka bagiku sama saja.”

“Yoongi… Kau tidak boleh begitu. Bagaimanapun juga mereka orangtuamu. Kalau mereka tidak ada, kau juga tidak akan ada.”

“Mereka meninggalkanku sejak kecil dan membiarkanku dirawat oleh pembantu. Jangan heran kalau aku lebih menyayangi pembantuku daripada mereka.”

“Yoongi, mereka mencari uang untukmu. Kau pikir darimana uang yang selama ini kau pakai untuk foya-foya, mabuk…”

“Kalau boleh memilih aku lebih memilih lahir dari keluarga sederhana. Tidak apa jika aku juga harus bekerja keras, asalkan ada waktu untuk berkumpul bersama dengan keluarga.”

“Yoongi…”

“Sudahlah, aku malas membahas mereka. Oh ya, ayo kita makan pizzanya sama-sama,” kata Yoongi sambil menyerahkan sepotong pizza pada Hyena.

Hyena menerima pizza pemberian Yoongi dengan senyuman palsu. Hyena menatap ekspresi wajah Yoongi. Disana tersirat guratan kesedihan. Dia baru sadar mengapa selama ini pria di sampingnya itu menghabiskan uangnya untuk clubbing atau mabuk. Baginya itu adalah cara melepaskan kesepiannya selama ini.

Hyena menarik kepala Yoongi kemudian mencium bibirnya dengan penuh gairah. Yoongi yang awalnya terkejut refleks membalas ciuman Hyena.

“Yoongi…,” bisik Hyena di tengah-tengah ciuman mereka.

“Hmm?”

Hyena melepaskan bibirnya dari bibir Yoongi. “Ayo lakukan malam ini.”

Kening Yoongi berkerut. “Lakukan apa?”

“Seks…”

-Author POV End-

—000—

Kim Taehyung POV-

Jam 9 malam. Namun Eunjin belum juga menampakkan batang hidungnya. Aku berulang kali mengganti channel TV yang kutonton. Rasa kesalku pada adikku itu sudah memuncak.

Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Aku bergegas menghampiri pintu dan membukanya. Aku melihat Seokjin Hyung bersama Eunjin yang menunduk ketakutan di sampingnya.

“Terimakasih, Hyung,” kataku pada Seokjin Hyung.

“Baiklah, aku pulang dulu, Taehyung. Eunjin, Oppa pulang dulu ya,” katanya yang dianggukkan olehku.

Seokjin Hyung meninggalkan rumahku menuju mobilnya.

“Eunjin, ikut Oppa!” Perintahku pada adik perempuanku itu.

“Oppa…”

Aku menarik tangan Eunjin menuju kamarku. Aku mendudukkannya di tempat tidurku dan aku berjongkok di depannya.

“Kau darimana saja?” Tanyaku menahan amarah.

Eunjin tidak menjawab dan semakin menunduk ketakutan.

“Eunjin jawab Oppa!” Seruku.

“Aku… Aku dari tempat Seokjin Oppa…,” jawabnya dengan suara bergetar.

“Apa yang kau lakukan di sana? Tadi pagi kau bilang kau berangkat sekolah awal dengan Jungkook karena ada tugas.”

“Oppa, maaf…”

Aku melihat air matanya menetes. Sebenarnya aku tidak tega memarahinya. Sedari kecil aku tidak pernah memarahinya karena dia selalu menurut kepadaku.

“Eunjin… Oppa tidak melarangmu bergaul dengan siapapun. Entah itu Jungkook, Seokjin Hyung, atau siapapun teman-temanmu. Tapi Oppa tidak suka kau berbohong pada Oppa. Oppa ingin tahu dengan siapa kau bergaul karena kau masih benar-benar kekanakan, Eunjin. Oppa tidak bisa melepasmu begitu saja. Kau masih perlu diawasi. Oppa benar-benar menyayangimu karena hanya kau harta berharga Oppa satu-satunya. Siapa lagi yang akan melindungimu selain Oppa? Bahkan Ayah dan Ibu tidak peduli dengan kita. Kau mau menjadi liar sepertiku?”

Eunjin menggeleng. Air matanya semakin banyak menetes.

Aku duduk di samping Eunjin dan menarik kepalanya ke dadaku. Tangisnya semakin keras. Aku memeluknya erat-erat. “Tadi siang Seokjin Hyung menelpon. Dia bilang kau bersamanya. Masih untung ada pria baik sepertinya. Kau… menyukainya?”

Eunjin mengangguk.

Aku mengusap-usap rambutnya. “Eunjin, Oppa tidak melarangmu menyukai siapapun. Tapi Oppa ingin kau jujur. Seokjin Hyung orang yang baik. Tapi Oppa masih belum yakin menyerahkanmu seratus persen padanya. Dia sama liar sepertiku. Tapi setiap manusia punya kesempatan untuk berubah. Sampai waktunya tiba, jangan dulu kau berpacaran dengannya.”

Eunjin mengangguk-angguk paham.

“Adikku sudah besar ya. Sudah tahu menyukai pria…”

“Oppa…”

Aku tertawa dan mengeratkan pelukanku padanya. “Oh ya, katanya kau membeli ponsel baru? Mana Oppa mau lihat.”

Eunjin melepaskan pelukanku dan mengusap air matanya. Dia mengeluarkan ponsel barunya dari dalam tasnya.

“Waaahhh, kenapa mirip dengan ponsel Seokjin Hyung? Apa kau mencuri ponselnya, hm?”

“Tidak, Oppa. Seokjin Oppa membelikanku ponsel yang sama dengannya,” jawabnya dengan suara serak khas orang habis menangis.

“Membelikanmu? Jadi, ini Seokjin Hyung yang membelikan?”

Eunjin mengangguk.

“Hmm, pantas kau suka dengannya ya. Dia royal padamu.”

Eunjin menggeleng. “Seokjin Oppa pintar memasak. Oppa, aku ingin kursus memasak boleh kan?”

“Euumm, boleh. Asalkan hal positif Oppa pasti setuju. Atau sebagai permulaan kau bisa belajar memasak pada Bibi Song dulu. Nanti Oppa carikan guru privat memasak untukmu.”

Eunjin memelukku erat. “Oppa, terimakasih.”

Aku mengecup kepala adikku satu-satunya itu lama. Aku harap Seokjin Hyung bisa membantunya menjadi lebih dewasa.

-Kim Taehyung POV End-

—000—

-Choi Hyena POV-

Yoongi membopongku ke tempat tidurnya. Dia membaringkanku di sana dan ikut berbaring di sampingku. Malam ini akan menjadi malam pertama untukku. Jantungku berdegub kencang. Perasaan antara gugup, senang, khawatir, serta excited bercampur aduk menjadi satu.

“Hyena, kau yakin siap?” Tanyanya lirih.

Aku mengangguk mantap. Mencoba meyakinkan diriku sendiri.

“Tapi ini bukan tempat yang istimewa.”

“Asalkan bersamamu, setiap tempat bagiku istimewa, Yoongi.”

Yoongi tersenyum kemudian mencium bibirku. Kami berciuman dengan penuh gairah. Tangan kanan Yoongi masuk ke dalam kaosku dan meremas payudaraku yang masih tertutup bra secara bergantian.

Tangan Yoongi berhenti memainkan kedua payudaraku dan menurunkan resleting celananya. Dia menuntun tangan kiriku agar masuk ke dalam celananya dan memegang juniornya. Ini pertama kalinya aku memegang alat kelamin pria dewasa. Rasanya hangat dan tegang. Yoongi juga menggerakkan tanganku maju-mundur pada batang kemaluannya.

Yoongi membuka kaosku dan melepaskan bra yang kukenakan. Dia juga membuka kaos miliknya sehingga kami sama-sama topless. Kulit Yoongi sangat putih dan bersih. Aku juga melihat tulang rusuknya terlihat. Ah, betapa kurusnya kekasihku itu.

Yoongi mulai menaiki tubuhku dan menciumi telinga, jawline, leher, dan dadaku. Ciumannya meninggalkan bekas merah kebiruan di sana-sini.

“Malam ini kau milikku seutuhnya,” ujarnya sebelum menyesap puting payudaraku dan meremasnya secara bergantian.

Aku meremas rambutnya. Setiap sentuhannya membuat tubuh bagian bawahku berdenyut aneh.

Lidah Yoongi mulai menjalar menjilati perutku hingga pangkal rok yang kukenakan. Yoongi melepaskan rokku beserta dengan celana dalamku dan mulai menjilati bagian paling sensitifku itu. Sejujurnya aku malu. Dia adalah pria pertama yang aku ijinkan melihat dan menyentuhnya. Lidahnya yang bermain disana menimbulkan sensasi aneh pada tubuhku dan membuatku tidak bisa berhenti mendesah.

Aku melihat dia mulai membuka celananya. Batang penisnya dengan gagahnya berdiri sempurna. Ini juga kali pertama aku melihat alat vital pria secara langsung.

Yoongi menggesek-gesekkan ujung juniornya pada lubang vaginaku. Membuatku semakin mengerang tidak karuan.

“Sayang, ini akan sedikit sakit pada saat pertama. Tapi aku harap kau bisa menahannya. Kau siap?” Ujarnya.

Aku mengangguk. Aku juga mengetahui kalau saat pertama itu akan merasakan sakit. Tapi jika dilakukan dengan orang yang kita cintai, saat pertama itu juga adalah yang paling indah.

Yoongi mencoba menghujamkan alat vitalnya ke dalam liang kemaluanku tapi gagal. Aku merasakan sedikit nyeri di tubuh bagian bawahku itu.

“Ah!” Seruku saat dia mencoba memasukkan kembali juniornya. Namun lagi-lagi gagal. Aku ingin menangis. Ternyata rasanya benar-benar sakit.

“Sabar ya, Sayang. Sedikit lagi,” ujarnya menenangkanku. Aku melihat dia meludahi lubang vaginaku, mencoba membuat pelumas dengan lidahnya itu.

Yoongi memposisikan ujung juniornya tepat di lubang alat vitalku. Dia kemudian berbaring di atasku. Kedua tangannya menggenggam kedua tanganku dan bibirnya mencium bibirku. Yoongi mencoba kembali menghujamkan miliknya ke dalam milikku.

“Eeeeuuuunnnngggghhhh…,” jeritku tertahan oleh bibir Yoongi. Aku menggenggam tangannya sangat erat bahkan menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Setelah beberapa kali dipaksakan akhirnya juniornya itu bisa masuk ke dalam vaginaku.

Yoongi tidak bergerak. Dia mencoba membiarkan lubangku agar menyesuaikan dengan ukuran miliknya. Dia juga mengusap air mataku yang keluar.

“Sakit sekali kah?” Tanyanya.

Aku mengangguk.

“Sssttt… Hanya sebentar, Sayang. Nanti jika sudah terbiasa tidak akan sakit lagi.”

Aku mengangguk. Yoongi kembali mencium bibirku. Mulai malam ini aku miliknya. Seutuhnya!

Yoongi mulai menggerak-gerakkan pinggulnya. Membuat juniornya yang berada di dalam vaginaku juga bergerak maju-mundur. Rasa sakit yang awalnya kurasakan perlahan menghilang dan berganti dengan sensasi kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Yoongi mulai mempercepat gerakannya. Membuat kami mendesah dan mengerang. Hingga akhirnya aku merasakan vaginaku berdenyut-denyut dan seperti akan mengeluarkan sesuatu. Penis Yoongi juga terasa semakin membesar di dalam milikku.

“Hyena! Hyena!” Yoongi memanggil namaku sebelum akhirnya menyemprotnya cairan spermanya di dalam rahimku. Tubuhnya ambruk di atas tubuhku. Keringat kami bercampur menjadi satu.

Aku memeluknya. Ini pertama kali aku melakukannya dengan orang yang aku sayangi. Walaupun hubungan kami masih sangat baru tapi aku sangat percaya padanya. Yoongi, pria yang aku harap menjadi yang pertama dan terakhir untukku.

 

-Choi Hyena POV End-

—000—

-Author POV-

“Oh! Rupanya kau masih hidup?” Kata Jimin saat memasuki kelas dan melihat Minyoung yang tengah membaca buku. Beberapa plester luka tertampal di tangannya.

Minyoung tidak merespon. Dia pura-pura tidak mendengarnya dan tetap saja meneruskan membacanya.

“Kau ini sudah hitam, dekil, buruk rupa, miskin, tuli pula,” ledek Jimin.

Lagi-lagi Minyoung bersikap cuek dan tidak meladeni omongan Jimin. Jimin yang kesal menggebrak mejanya, membuat beberapa murid menoleh ke arahnya.

“Maaf, hari ini ada ulangan jadi aku tidak ada waktu meladeni omongan tidak pentingmu,” kata Minyoung tanpa menoleh ke arah Jimin.

Jimin membuang buku yang tengah dibaca Minyoung. Hal itu membuat Minyoung kesal.

“Aku tidak mengerti maumu apa, orang kaya sombong tapi bodoh!”

Plakk!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Minyoung. Namun hal itu malah membuatnya tertawa. “Kalian itu tidak hanya bodoh tetapi juga pengecut!” Ujar Minyoung menekankan kata “pengecut”.

“Apa maksudmu, Hitam?!” Jimin naik pitam.

“Kalian hanya berani pada wanita. Apa namanya kalau bukan pengecut? Kau ingat satu hal, Orang Kaya, bukan aku takut pada kalian tapi aku hanya malas meladeni tindakan kekanakan kalian. Dan ingat juga Tuan Muda Jimin… Pada saatnya nanti kaulah yang akan memohon kepadaku!”

Jimin yang semakin marah mencoba mencekik leher Minyoung. “Sebelum aku memohon kepadamu, aku pastikan kau musnah lebih dulu, Hitam!”

Minyoung mencoba melepaskan cengkeraman tangan Jimin di lehernya. Tapi semakin dia mencoba semakin kencang cekikan Jimin. Murid lain melihat namun tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak ada yang berani melawan kekuasaan Jimin dan kawan-kawan.

“Jimin, hentikan!” Seru Ara saat melihat tindakan kejam Jimin tersebut.

Jimin melepaskan cengkeraman tangannya pada leher Minyoung. Minyoung terbatuk-batuk karena tindakan Jimin padanya.

“Minyoung, kau tidak apa-apa?” Tanya Ara sambil mengambil air minum di tasnya dan memberikannya pada Minyoung. “Jimin, tolong jangan keterlaluan padanya.”

“Dia mengucapkan kata-kata yang tidak sopan kepadaku. Aku harus memberikannya pelajaran agar dia tidak mengulanginya lagi.”

“Tapi Jimin kali ini kau keterlaluan. Bagaimana kalau Minyoung meninggal dan kau dilaporkan ke polisi, hah?”

“Siapa yang berani melaporkanku, hah? Lagipula orang seperti dia mati juga tidak ada yang peduli. Dia tidak lagi mempunyai orangtua ataupun saudara, bukan? Jadi, siapa yang akan merasa kehilangan?” Jawab Jimin kemudian tertawa terbahak-bahak.

Ara diam. Lama-lama dia malas meladeni omongan Jimin yang menurutnya terlalu sadis.

—000—

A/n :

Guys.. thank you for keep supporting this fic. Author suka membaca komen2 kalian. Itu jadi semangat author buat lanjutin ceritanya. Jadi jangan lupa komen yah buat kemajuan skill menulis author.

Thank chu~~ ♥

About fanfictionside

just me

20 thoughts on “FF/ BTS 7 SOUL/ BTS-BANGTAN/ pt. 4

  1. jimiinn kenapa sih thor nyebelin bgt di sinii semoga dia karma terus dia suka sma minyoung biar dia tau rasaa..thor jin di banyakin dong muncul nya kasian amat dia dikitt bgt peran nya TT.TT next chap di tunggu yaa thorr :*

  2. aaaaaaaa authorrrrr saranghae muah muah xD suka bgt ff ini apa lagi bagian yoongi nya>< jangan pisahin hyena sama yoongi plis…….
    minyoung itu rose kan? ㅋㅋㅋㅋ
    jangan kelamaan part 5 nya thor, pengin tau jimin gimana nt sama si minyoung xD keep writing tor! fightinggggg

  3. aciad ciad ciad >.< baru baca langsung naksir ini ff. thor a6 thor :'))))
    serius gemez banget sama kth & pjm di sini😡😡😡 j-hope nya dong thor tolong anuin lebih banyak lagi , adegannya(?) pokonya suka sama ini ff , semangat author-nim , lanjutannya jangan lama lama ya /kasih lope/

  4. Kirain eunjin nya jadi sama jungkook, tpi kayaknya malah sama jin nihh. Jimin nya ngeselin banget, sadis. But over all keren banget, ceritanya gk mudah ketebak. Bikin makin penasaran. FIGHTING😍👍👍💕

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s