FF/ LOVE YOU TO DEATH/ BTS-BANGTAN/ pt. 1


PicsArt_1426068099510

Love You To Death pt. 1

Cast:

+ Kim Taehyung (BTS’s V)

+ Jeon Jiyoon

+ Jung Hoseok (BTS’s Jhope)

+ Kim Seokjin (BTS’s Jin)

+ Yoon Sera

+ Jeon Jungkook (BTS’s Jungkook)

+ Song Juyeon

+ Park Jimin

+ Jung Sohyun

Genre: romance, hurt/?,

 

 

 

 

 

 

Langit cukup cerah hari ini, tapi entah kenapa hujan turun cukup deras pagi ini. Kim Taehyung atau yang lebih akrab dipanggil Taehyung ini dengan sabarnya memayungi seorang gadis di depannya. Senyumannya tak henti-henti nya ia tunjukan. Ia merelakan setengah tubuhnya basah karna rela memayungi gadis yang ia sukai sejak kelas 1 SMP itu. Gadis itu melarang Taehyung berdampingan dengannya, jadi Taehyung memayungi gadis itu dari belakang.

Taehyung begitu bahagia bisa memayungi gadis cantik bernama Jiyoon itu. Hal itu bisa dilihat dari raut wajahnya yang terus terusan menunjukan senyum bahagianya. Entah apa yang merasuki Taehyung hingga ia rela melakukan apapun demi Jiyoon.

“aku sangat senang bisa melindungimu dari hujan” ujar Taehyung sambil tersenyum bahagia.

“haltenya sudah dekat!” tanpa menghiraukan perkataan Taehyung tadi, Jiyoon menunjuk halte yang biasa mereka datangi untuk menunggu bis ke sekolah. Jiyoon pun berlari karna memang hujan semakin deras saja. Taehyung yang menyadari itu tidak mau Jiyoon terkena guyuran hujan, akhirnya Taehyung juga ikut berlari sambil memayungi kepala Jiyoon, membiarkan seluruh tubuh dan tasnya basah.

Semua orang yang ada di halte sempat melihat kejadian itu. Bahkan mereka iri, tapi dimata Jiyoon perlakuan itu sudah biasa. Bahkan ia sampai muak dengan perlakuan Taehyung yang seperti ini sejak mereka dekat saat duduk di kelas 2 SMP. Satu tahun lamanya Taehyung menunggu agar bisa dekat dengan Jiyoon. Itupun sepertinya dewi fortuna sedang ada di pihaknya, kalau bukan karena mereka sekelas saat kelas 2 SMP itu, mungkin sampai sekarang Taehyung masih berangan-angan memayungi Jiyoon seperti tadi.

“kau basah? Kau kedinginan?” tanya Taehyung khawatir.

“aku tidak apa-apa” jawab Jiyoon santai.

Mendengar itu Taehyung pun diam. Sesekali Taehyung melirik ke arah Jiyoon yang lebih pendek darinya itu. Jiyoon tampak kedinginan, sedari tadi ia menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Taehyung menghela nafasnya dan mengambil jaket yang ia bawa di tasnya. Untungnya jaket itu cukup tebal. Taehyung langsung memakaikan jaket itu ke tubuh Jiyoon.

“hujan semakin deras, aku tahu kau kedinginan” kata Taehyung pelan sambil mengeratkan jaket itu.

Taehyung kembali berdiri di samping Jiyoon dan menatap hujan yang jatuh membasahi bumi. Sepertinya Taehyung juga kedinginan, sedari tadi ia juga ikut menggosok-gosokan telapak tangannya.

Jiyoon menyadari itu. Gadis itu menelan ludahnya. Tangannya pun terulur untuk menggenggam tangan kanan Taehyung dengan erat. “kau juga kedinginan” Jiyoon menatap Taehyung.

Taehyung langsung memegang dadanya dengan tangan kirinya. Seperti orang bodoh, ia tampak terkejut ketika mendapati jantungnya berdegup lebih cepat. “wah, jantungku berdegup lebih cepat! Saat kau menggenggamku, jantung ini terasa seperti dagdigdugdagdigdug” Taehyung mengatakan ‘dagdigdugdagdigdug’ dengan cepat, seperti menggambarkan detak jantungnya sekarang.

Jiyoon memutar bola matanya. “jika jantungmu tidak berdegup, itu artinya kau mati, bodoh”

“tapi ini berbeda” Taehyung mengotot.

“ini pasti karna kau. Kau tahu, jantungku selalu berdegup cepat seperti ‘dagdigdugdagdigdugdagdigdug’ saat bersamamu” dengan wajah polos nan idiotnya, Taehyung mengatakan apa adanya, apa yang ia rasakan setiap bersama Jiyoon.

Jiyoon tak mengindahkan perkataan Taehyung di telinganya, apalagi di hatinya. Jiyoon melepaskan tangan Taehyung dan langsung menaiki bis yang baru saja sampai, diikuti Taehyung dibelakangnya.

Jiyoon pun duduk di salah satu bangku. Kebetulan semua bangku sudah penuh, jadi Taehyung harus mengalah. Ia satu-satunya penumpang yang berdiri di bis.

“hachimm” Taehyung bersin. Sepertinya efek kehujanan ‘yang disengaja’ tadi.

“kau akan terkena flu. Lagipula kenapa kau memayungiku tadi? Kau kan jadi basah kuyup” ujar Jiyoon sambil menyodorkan tisu dari tasnya.

Taehyung mengambil tisu itu beberapa lembar. “tidak apa-apa. Aku merasa senang jika kau tidak kehujanan” Taehyung tersenyum tulus.

Deg. Jujur saja, Jiyoon cukup tersentuh dengan perkataan Taehyung tadi. Sebegitu besarkah Taehyung menyukai nya? Seberapa besarkah Taehyung menyukainya? Apa perasaan Taehyung padanya tulus?

“kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Taehyung membuat lamunan Jiyoon buyar.

“jangan buat jantungku berdegup dengan cepat lagi” Taehyung tersenyum malu-malu.

“dasar idiot” gumam Jiyoon pelan.

Bis yang mereka tumpangi pun berhenti di halte berikutnya, halte dekat sekolah mereka. Jiyoon dan Taehyung pun menuruni bis itu. Untung saja hujannya sudah berhenti, hanya genangan air yang tersisa.

Taehyung berjalan mengikuti Jiyoon dari belakang. Karna ia sangat tahu, Jiyoon tidak menyukai jika jalan berdampingan dengan Taehyung. Taehyung tahu betul jika ia benar-benar terlihat bodoh jika seperti ini, tapi ia tidak peduli. Ia sangat menyukai Jiyoon. Benar benar menyukai gadis itu.

“ya ampun Taehyung, bajumu basah. Kau kehujanan?” baru sampai depan gerbang, seorang murid perempuan menghampiri Taehyung dan bertanda pada pria yang mempunyai kepribadian 4D itu.

Jiyoon yang mendengarnya pun membalikan badannya dan menatap kesal gadis ganjen itu.

“iya, aku kehujanan tadi. Tapi tidak apa-apa, kau jangan khawatir” jawab Taehyung ramah.

Taehyung memang cukup terkenal di sekolah. Bukan hanya ketampanannya saja, ia juga terkenal sebagai murid yang pintar, baik dan ramah. Taehyung juga murah senyum.

“kau bisa terkena flu.” Murid perempuan tadi berusaha mengechek kening Taehyung, siapa tahu Taehyung mulai demam.

Namun dengan cepat Jiyoon menepis tangan yang berusaha menyentuh kening Taehyung. Ia menatap gadis itu kesal.

“yak, Taehyung mungkin memang terlalu baik dan ramah. Tapi dengan mudahnya kau ingin menyentuh kening si idiot ini? Aigoo, aku tidak habis pikir dengan kelakuan anak muda jaman sekarang. Apa kau merasa tidak enak pada Taehyung? Ah ya, kau juga pasti memanfaatkan sifatnya yang terlalu baik ini agar bisa menyentuh keningnya, berusaha sekhawatir mungkin, dan sok perhatian. Benar, kan?!” kata Jiyoon panjang lebar.

“kau ini bicara apa? Aku hanya ingin mengechek suhu tubuhnya”

“tak ada yang bisa menyentuh keningnya. Walaupun itu hanya sehelai rambut Taehyung. Jika kau berusaha melakukannya lagi, ku pastikan lehermu patah” Jiyoon menatap tajam dan mengancam.

Taehyung yang merasa dirinya sedang ‘di selamatkan’ pun tersenyum-senyum tidak jelas. Ia sangat senang jika Jiyoon bersikap begitu. Entah apa yang Taehyung sukai dari gadis kasar dan tempramental itu.

“Taehyung-ah, kajja” Jiyoon menarik tangan Taehyung menjauh dari murid perempuan yang terlihat kesal itu.

“AAARRRGGHHTT” terdengar suara teriakan kekesalan. Sudah pasti murid perempuan yang ‘ganjen’ tadi yang berteriak. Mendengar itu pun Jiyoon tersenyum kemenangan.

Sedangkan Taehyung masih tersenyum-senyum tidak jelas karna telalu senang tangannya di genggam oleh Jiyoon. Jiyoon tidak melepas genggamannya di tangan Taehyung.

Sampai mereka sampai di kelas pun, Jiyoon dan Taehyung masih berpegangan tangan. Sampai akhirnya Jiyoon menyadarinya dan melepaskan tangan Taehyung kasar.

“pasti kau senang karna aku menggenggam tanganmu” ujar Jiyoon kesal.

“a-aku.. tentu saja aku senang” Taehyung membalas dengan cengiran lebar.

Jiyoon memutar balikan bola matanya. Jiyoon pun duduk di kursinya yang kebetulan Taehyung juga duduk disampingnya.

“besok jika para gadis yang menggodaiku seperti tadi, kau harus menarikku seperti tadi. Dan mengancam akan mematahkan leher mereka jika berusaha menggodaku seperti tadi. Oke?” ujar Taehyung setelah mereka duduk.

“jika kau mematahkan leher setidaknya 100 fansmu di sekolah ini, lalu tanganku yang akan menjadi korban juga, tanganku akan patah dan kemudian aku akan menyalahkanmu dan akan ku patahkan juga tanganmu” Jiyoon mengatakan itu sambil menekan kata ‘patahkan juga tanganmu’.

Taehyung menelan ludahnya. “kalau begitu jangan. Tanganmu bisa patah dan kau tidak akan bisa menulis lagi”

“dasar idiot” kesal Jiyoon.

Taehyung hanya tersenyum lebar sehingga giginya terlihat.

“Jiyoon-ah… Taehyung-ah…” teriak seorang gadis yang baru saja masuk kelas bersama dengan seorang pria.

“good morning!” sapa gadis bername tag Jung Sohyun itu.

“good morning!” jawab Taehyung.

Pria yang bersama Sohyun itu langsung duduk di tempat duduknya yang kebetulan berada di belakang tempat duduk Taehyung. sedangkan Sohyun berdiri di tengah-tengah mereka.

“Jeon Jiyoon. Apa tadi malam kau tidur nyenyak?” tanya Jung Hoseok, teman sekelas mereka.

Taehyung yang mendengar itu langsung menghadap belakang, lalu menatap Hoseok yang tepat di depannya. “kenapa kau bertanya seperti itu?”

“aah.. itu.. tadi malam aku dan Jiyoon saling balas pesan. Dia bilang ia susah tidur.” Jawab Hoseok

“ya! Lalu kami melakukan video calling, lalu Hoseok menunjukkan kemampuan rapnya. Dia sangat sangat sangat keren!” Jiyoon mengacungkan dua jempolnya di depan mata Taehyung.

“Vi-video call????!!” Taehyung menatap tak percaya.

“andwae! Kalian ini bukan sepasang kekasih! Video call ditengah malam? Seharusnya kau tidur, Jeon Jiyoon! Bagaimana kalau itu bisa mempengaruhi kesehatanmu?!”

“kau itu bawel sekali. Kau bahkan bukan ibuku”

“tapi..”

Jiyoon langsung membalikkan wajahnya ke arah berlawanan dengan Taehyung. sepertinya Jiyoon marah lagi.

Taehyung mengambil buku dari tasnya. Ia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan membaca buku. Setelah itu, matanya kembali menatap Jiyoon yang berbalik muka sehingga Taehyung tidak bisa melihat wajahnya.

**

Jungkook berjalan menelusuri lorong menuju kantin. Ia membawa sebatang cokelat di tangannya. Para gadis yang melihatnya berteriak melihat itu, mereka berpikir bahwa Jungkook akan memberikan salah satu dari mereka cokelat itu. Jungkook yang tahu bahwa dirinya cukup terkenal di kalangan kaum hawa di sekolahnya pun tidak membuang kesempatan untuk sekedar ‘sok ngartis’.

Langkah Jungkook terhenti ketika seorang gadis menghadang jalannya dengan malu-malu. Jungkook melirik nametag gadis itu. ‘oh, namanya Kim Yerin’ batin Jungkook.

“ada apa Kim Yerin-ssi?” tanya Jungkook.

Gadis bernama Yerin itu melotot. “ka-kau tahu namaku?” ia balik bertanya.

“nametag mu” Jungkook tersenyum.

Gadis bernama Yerin tadi tersenyum pahit. Ternyata Jungkook tahu namanya dari nametagnya. “ka-kau membawa cokelat di tanganmu, kan? Sebentar lagi hari valentine, bagaimana kalau kau memberi cokelat itu padaku?” tanya gadis itu nekat dan ‘kepedean’.

Jungkook tertawa kecil. “Kim Yerin-ssi, ini bukan cokelat milikku. Tapi cokelat ini milik Taehyung hyung” Jungkook tersenyum.

Yerin menunduk malu. Ia meruntuki dirinya yang nekat bertanya seperti itu. Dan hasilnya nihil, itu bukan cokelat milik Jungkook.

Jungkook pun berlalu. Sudah beberapa langkah lagi menuju tempat yang di duduki Taehyung di kantin. Jungkook melempar coklat batangan itu ke atas meja.

Taehyung yang sadar itu Jungkook pun menatap Jungkook kesal. “yak, jangan di lempar seperti itu. Nanti cokelatnya bisa patah!” omel Taehyung.

“sudah kubilang, nunaku bukan maniak cokelat tapi dia maniak soju!” kata Jungkook kesal. “lagipula hyung, kenapa kau selalu mengejar-ngejar cinta nunaku? Dia sama sekali tidak meresponmu” tanya Jungkook kemudian.

“kau berkata seperti itu karna kau belum pernah merasakan jatuh cinta. Kalau kau sudah merasakannya, kau pasti akan melakukan hal yang gila seperti aku”

“kau memang gila” cibir Jungkook.

“whoa cokelat!” seru seorang gadis yang langsung duduk di samping Taehyung.

Taehyung yang menyadari gadis itu datang pun segera menyembunyikan cokelat yang ia pegang.

“hyung! Aku ingin cokelat itu!” gadis itu menunjuk cokelat yang sedang Taehyung genggam erat-erat.

“h-hyung? Dia waria?” tanya Jungkook kebingungan.

“waria?! Jaga omonganmu, bocah tengik!” bentak gadis itu pada Jungkook.

“dia sepupuku. Namanya Jieun. Jangan heran kalau dia memanggilku hyung, dia gadis tomboy. Dia kakak kelasmu” Taehyung memperkenalkan gadis di sampingnya itu.

“dan aku satu-satunya murid perempuan yang tidak menggilaimu” sahut Jieun.

“kau bukan satu-satunya” jawab Jungkook.

“Jiyoon juga tidak menggilainya. Dia adiknya Jiyoon” kata Taehyung pada Jieun.

“kakak adik sama saja. Sama sama menyebalkan” umpat Jieun.

“yak!” bentak Jungkook kesal.

“aku kakak kelasmu! Berani sekali kau membentakku!” Jieun menyolot.

“sudah sudah! Aku pergi dulu ya, aku ingin mencari Jiyoon dan memberikan cokelat ini padanya” Taehyung tersenyum tidak jelas karna saking senangnya akan memberi cokelat pada Jiyoon. Taehyung pun pergi meninggalkan Jieun dan Jungkook berdua.

“kau tahu, sepupumu itu pasti sudah gila. Nunaku tidak pernah meresponnya selama hampir 5 tahun. Tapi dia tetap menggilai nunaku yang temperamental itu” Jungkook menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap punggung Taehyung yang makin lama makin menghilang dari pandangan mereka.

“begitulah cinta. Dia sudah buta. Yang ia lihat di dunia ini hanyalah Jiyoon unnie. Bahkan saat ia duduk di kelas 3SMP, dia merengek meminta dibelikan rumah tepat didepan rumah Jiyoon unnie setelah melihat iklan penjualan rumah itu. Ibunya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Taehyung hyung terlalu menyukai nuna mu” Jieun bercerita singkat tentang kebenaran yang terjadi, bukti bahwa Taehyung sangat menyukai Jiyoon.

Jungkook menghela nafasnya berat. Jujur saja, Jungkook tidak ingin Taehyung tersakiti nantinya karna sifat dan sikap nunanya yang kasar, dingin dan temperamental. Semenjak Jungkook mengenal Taehyung 2 tahun yang lalu, saat keputusan Taehyung hidup mandiri dan pindah ke rumah depan rumahnya, saat itu juga lah Jungkook mengetahui bahwa Taehyung sangat menyukai Jiyoon, nuna nya. Kini Jungkook harus memutar otaknya untuk berpikir bagaimana caranya agar Jiyoon dan Taehyung semakin dekat, kemudian menjadi sepasang kekasih. Jungkook sangat mendukung Taehyung untuk menjadi kakak iparnya nanti.

**

Hembusan angin menerpa wajah cantiknya, siang ini Jiyoon lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya di atap sekolah. Atap sekolah adalah tempat favoritenya untuk menghabiskan waktu tanpa Taehyung.

“Jeon Jiyoon!” panggil seseorang. Jiyoon langsung menoleh ke belakang. Ia mendapati sosok Hoseok yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

Hoseok tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “rupanya kau disini. Menghabiskan waktu istirahat di atap sekolah, ya?”

“tidak juga. Aku sedang menghindar dari Taehyung, makanya aku kemari” jawab Jiyoon.

Hoseok pun berjalan mendekati Jiyoon, kemudian ia berdiri tepat disamping Jiyoon. “menghindari Taehyung rupanya..”

“begitulah. Kau tahu kan dia seperti apa? Overprotective padaku, padahal dia bukan ibuku. Aku membenci ibuku yang cerewet, begitupula Taehyung yang cerewet”

Hoseok tertawa kencang. “kau gadis yang aneh.”

“aneh?”

“ya. Gadis lain yang menggilai Taehyung pasti sangat iri padamu. Tapi kau malah ingin menjauh darinya. aneh”

Kini giliran Jiyoon yang tertawa kecil.

Mereka pun melanjutkan perbincangan dengan topik konyol lainnya. Membuat mereka tertawa terbahak-bahak, mereka tertawa bersama.

Sementara itu Taehyung sibuk mencari Jiyoon. Hampir satu sekolah ia kelilingi hanya untuk mencari gadis itu. Ia hanya ingin meminta maaf karna sudah membuat gadis itu kesal hari ini. Taehyung terus berlari kesana kemari mencari-cari gadis itu sambil menggenggam cokelat yang entah kenapa masih mengeras padahal sudah lama berada di luar ruangan.

Tak lupa ia bertanya kepada satu persatu teman kelasnya yang ia temui di jalan, namun tetap tak ada yang tahu dimana Jiyoon.

“Hara! Apa kau melihat Jiyoon?” tanya Taehyung pada Hara, teman sekelasnya.

“tadi aku lihat dia mengarah ke atap sekolah.” Jawab Hara.

Senyum Taehyung merekah. Akhirnya ia tahu dimana Jiyoon. “terimakasih terimakasih” ucap Taehyung kegirangan. Taehyung pun langsung berlari menuju tangga dan menaiki setiap anak tangga itu dengan cepat, agar cepat sampai di lantai paling atas sekolah.

“ada apa dengan anak itu?” gumam Hara pelan.

Taehyung terus menaiki anak tangga yang jumlahnya lumayan banyak untuk bisa sampai ke lantai teratas dengan perasaan gembiranya. Akhirnya, senyumannya kembali merekah ketika ia sudah sampai. Taehyung cukup berkeringat untuk mencapai lantai ini, dan nafasnya cukup terengah-engah untuk bisa mencapai lantai ini.

Taehyung membuka pelan pintu yang ada di depannya. Namun ia langsung mengerutkan keningnya ketika mendengar tawa Jiyoon dan tawa seorang pria. Matanya mulai mengintip, dengan siapa Jiyoon sebenarnya?

Taehyung menghela nafasnya berat ketika melihat yang ada di depan matanya. Jiyoon tertawa lepas saat bersama Hoseok, berbeda saat bersama Taehyung. Taehyung tersenyum, ia menutup pintu itu kembali. Kemudian ia meletakan cokelat tadi di depan pintu itu, beserta secarik kertas bertuliskan ‘maafkan aku karena sudah membuatmu kesal^^’.

Badan Taehyung tiba-tiba lemas. Ia terlalu lelah untuk menuruni tangga ini. Tapi mau tak mau ia harus menuruni tangga ini, sebelum Hoseok dan Jiyoon menyadari kehadirannya.

Sambil menuruni tangga, ponsel Taehyung berdering. Taehyung menatap sebentar layar ponselnya sebentar. Itu dari Jungkook.

“ya, Jungkook-ah ada apa?” tanya Taehyung malas.

“ada apa dengan nada suaramu, hyung?” tanya Jungkook dalam telepon.

“aniya. Kenapa kau menelponku?”

“bagaimana? Sukses tidak? Nunaku menerima cokelatmu, kan?”

“ya, dia menerimanya. Aku sangat senang. Terimakasih sudah mau membantuku ya tadi”

“tak masalah hyung. Hanya membelikan cokelat untukmu itu bukan apa-apa. Baiklah aku tutup ya teleponnya”

Bip. Jungkook mematikan teleponnya. Taehyung menghela nafasnya.

Bohong. Itu semua bohong. Menerimanya? Jiyoon mungkin tidak akan tahu siapa yang meninggalkan cokelat itu. Taehyung terpaksa berbohong pada Jungkook, agar Jungkook juga tidak kecewa. Jujur saja, Taehyung cemburu sekaligus merasa iri pada Hoseok. Hoseok bisa membuat Jiyoon yang dingin dan temperamental juga kasar tertawa dengan lepas seperti tadi. Berbeda 360 derajat saat bersama Taehyung. Saat bersama Taehyung, Jiyoon pasti selalu merasa kesal dan marah.

Yeah, Whatever you do, I just need to endure it.

Menahan rasa sakit ketika Jiyoon tertawa dengan laki-laki lain

Menahan rasa cemburu ketika Jiyoon dan Hoseok saling tersenyum dengan manisnya

Menahan rasa sesak ketika Jiyoon mengacuhkan dirinya

Even if all of me dies, I just need you to breathe.

Tengtengtenttengggg

Bell berbunyi. Beberapa detik kemudian semua murid pun berhamburan keluar kelas. Waktu seperti ini memang ditunggu-tunggu, waktunya pulang ke rumah!

Jungkook berjalan keluar kelasnya sambil bercanda ria dengan teman sebayanya. Lalu matanya menangkap sosok Taehyung yang berdiri tak jauh darinya sambil melambaikan tangan.

Jungkook semakin terheran ketika Taehyung tersenyum lebar seperti orang bodoh. Jungkook menatap Taehyung dari atas hingga bawah. Apa dia benar-benar sudah gila?

Jungkook pun menghampiri Taehyung. “hyung, kau tak pulang bersama nuna?” tanya Jungkook.

“aku ingin pulang bersamamu” jawab Taehyung.

“tak seperti biasanya. Aku biasa sendiri. Kau dan nuna selalu meninggalkanku”

“hari ini aku ingin pulang bersamamu”

Jungkook menyerah. Ia tidak bisa menebak apa yang terjadi sehingga Taehyung betingkah seperti ini.

Sedari tadi mereka jalan berdua berdampingan,Taehyung terus-terusan mengoceh tidak jelas. Bahkan Jungkook tidak bisa mengerti. Taehyung terlalu cepat mengubah topik pembicaraan.

“Jungkook-ah, Gdragon akan menggelar konser lagi di seoul! Kau tidak membeli tiketnya? Sebenarnya aku ingin menonton konser Gdragon, tapi aku butuh buku-buku baru dan mainan baru di kamarku. Oh ya, menurutmu lebih bagus ironman atau spiderman? Ah, andaikan aku menjadi spiderman menyelamatkan MJ dari penjahat, syuttt syutt” Taehyung meniru gaya spiderman saat menembak dengan jaringnya.

“hyung, kau ini kenapa?” tanya Jungkook frustasi.

“aku tidak apa-apa.” Jawab Taehyung santai.

“pasti ada yang salah” Jungkook menatap Taehyung.

Taehyung terdiam.

Benar.

 

Aku ini kenapa?

 

Hanya karena Hoseok dan Jiyoon…

 

Sebegitukah aku menyukainya?

 

Ya, aku memang menyukainya

Semua pertanyaan itu berputar dalam kepalanya. Orang-orang bilang cinta itu buta, mereka benar, cinta memang buta. Semua orang bilang cinta itu indah, mereka salah, cinta yang tak terbalas itu sakit. Tapi Taehyung tetap tidak menyerah, ini bukan apa-apa. Ia tidak akan pernah lelah mengejar cinta Jiyoon.

“kau benar. Ada yang salah denganku” ujar Taehyung tiba-tiba.

Jungkook menoleh ke arah Taehyung.

“jika kau merasa lelah dengan apa yang kau lakukan selama ini, kau akan merasa kecewa. Lalu meruntuki dirimu sendiri, kenapa aku tidak berbuat lebih baik lagi?. Itu yang selalu akan kau ucapkan ketika kau melihat dia bersama yang lain. Aku mungkin lelah, tapi aku takkan menyerah. Aku tidak lelah” Taehyung tersenyum.

Jungkook menatap Taehyung bingung.

“ah, bisnya sudah datang. Ayo cepatlah Jungkook!”

“i-iya!”

**

Jungkook membuka pintu rumahnya.

“aku pulang” Ia berjalan lunglai menuju kamarnya. Hari ini cukup membuat tenaganya terkuras. Sangat melelahkan menjadi seorang murid SMA.

Jungkook membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk yang ada di kamarnya. Kamarnya dominan warna biru dengan banyak mainan lego di dalamnya, membuat pikiran Jungkook sedikit tenang.

“kau sudah pulang? Kau lelah? Apa perlu ibu siapkan air hangat?” tanya ibunya yang masuk ke kamar Jungkook.

“ya, tolong siapkan air hangat ya, bu” pinta Jungkook manja.

“kau pasti sangat lelah. Oh ya, apa kau tahu siapa yang sedang dekat dengan Jiyoon akhir-akhir ini?” tanya ibunya yang masih terlihat muda itu.

“tentu saja Taehyung hyung. Siapa lagi?” jawab Jungkook.

“kalau Taehyung aku juga sudah tahu. Tapi ini pria yang berbeda. Tadi nunamu itu diantar pulang oleh seorang pria tinggi. Dia cukup sopan dan tampan, sepertinya berasal dari keluarga yang kaya karena ia mengendarai mobilnya sendiri”

“berbeda? Siapa?” Jungkook tampak antusias.

“bu, jangan suka menggosipi anakmu sendiri!” kesal Jiyoon yang ternyata dari tadi mendengar pembicaraan mereka. Karena memang kamar Jiyoon berdepanan dengan kamar Jungkook.

“yak nuna!” Jungkook langsung bangkit dari tempat tidur dan menyusul Jiyoon ke kamarnya.

“kau pulang bersama siapa tadi?” tanya Jungkook sudah setengah marah.

“Hoseok. Jangan khawatir dia anak yang baik” jawab Jiyoon santai sambil merapikan kamarnya yang sedikit berantakan.

“pantas Taehyung hyung terlihat kacau hari ini. Dia pulang bersamaku, dan aku hampir ikutan gila!”

Jiyoon berhenti dari aktifitas membereskan kamarnya. “kacau?” tanya Jiyoon.

“ya, kacau balau!” kesal Jungkook.

“Jiyoonie, Jungkookie, sebenarnya ada apa? Taehyung kacau balau kenapa?” tanya ibunya.

“bu, tadi aku hampir setengah gila karna Taehyung hyung. Dia terus mengoceh tidak jelas dan—”

“keluar. Keluar dari kamarku. Kau berisik” Jiyoon memotong pembicaraan Jungkook dan ibunya.

Jungkook dan ibunya pun menatap Jiyoon aneh. Padahal dari awal tidak apa-apa, tapi kenapa sekarang disuruh keluar dari kamarnya?

“kenapa?”

“pokoknya keluar saja dari kamarku, Jeon Jungkook”

“ba-baiklah..” Jungkook pun keluar dari kamar Jiyoon.

BRAAKK.

Jiyoon menutup pintu kamarnya kasar dan menguncinya. Jungkook dan ibunya sempat terkejut dan merasa aneh dengan kelakuan Jiyoon barusan.

“apa aku membuatnya kesal, bu?”

“ah sudahlah, nuna mu memang seperti itu. Ibu akan menyiapkan air hangat untukmu”

Jiyoon mengunci pintu kamarnya. Pandangannya beralih ke sebuah jendela yang menghadap keluar sana. Jika kita melihat pemandangan dari jendela kamar itu, maka balkon kamar Taehyung juga akan terlihat. Biasanya Taehyung selalu melihat bintang dimalam hari dari balkon kamarnya itu.

Perlahan Jiyoon berjalan menuju jendela kamarnya yang tertutup horden itu. Ia sedikit menintip dari balik horden itu. Yang ia lihat adalah…

Taehyung.

Taehyung sedang menatap ke arah jendela kamarnya dengan tatapan yang tenang, namun bisa ditebak, pria berambut cokelat itu sedang sedih. Jiyoon mengintip cukup lama, namun ketika Taehyung kembali masuk ke dalam rumahnya, Jiyoon juga menyudahi aktifitas mengintipnya(?)

“apa dia tahu kalau aku pulang bersama Hoseok?” batin Jiyoon.

Jungkook yang baru saja selesai mandi merasa perutnya harus diisi sesuatu, karena sejak dari tadi perutnya terus saja berbunyi. Sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk kecil, Jungkook mengitari dapurnya, mencari-cari makanan yang bisa ia makan.

Jungkook pun membuka pintu kulkasnya. Ia mengambil air minum dan meneguknya langsung dari botol minumnya. Tangannya masih mengacak-acak kulkas itu. Dibukanya freezer, dan ia langsung terheran ketika melihat sebatang cokelat. Ia merasa heran, tumben sekali keluarganya menaruh cokelat di kulkas, setahunya di keluarga kecilnya ini tidak ada yang suka cokelat selain dirinya. Dan Jungkook merasa tidak menyetok cokelat di kulkas. Jungkook menutup kembali freezer itu. Ia berjalan menuju ruang tengah dimana ibunya sedang menonton tv disana.

“bu, cokelat yang di freezer milik siapa?” tanya Jungkook santai, masih sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang bertengger di lehernya.

“oh, itu punya nuna mu. Jangan dimakan, dia bilang cokelat itu jangan dimakan, nanti nuna mu marah. Kalau kau mau, beli saja di supermarket” jawab ibunya tanpa menoleh ke arah Jungkook karna terlalu serius dengan drama yang sedang ia tonton.

“Jungkook-ah, lihatlah betapa tampannya Jo Insung” histeris ibunya ketika melihat sosok Jo insung di layar televisinya.

“bu, berhentilah menonton drama! Ibu sama saja seperti anak-anak muda diluar sana yang menggilai pria tampan. Lagipula Jo Insung itu kan lebih muda daripada ibu” cibir Jungkook.

“aishh, Yak!!” bentak ibunya kesal.

“apa salahnya jika aku menonton drama, huh?” omel ibunya.

“bu, jika kau tergila-gila dengan Jo insung, lalu bagaimana dengan ayah? Kau akan mengedit foto pernikahanmu dengan Jo insung?”

“Jeon Jungkook!!” kesal ibunya sambil berdesis.

“Jungkook-ah, aku punya cokelat di freezer. Kau boleh memakannya” sahut Jiyoon tiba-tiba, sambil menuruni tangga.

Jungkook menatap nuna nya itu heran. Jiyoon duduk di sofa, tepat disamping ibunya sedang asik menonton drama.

“aku tidak mau. Pasti itu berharga sekali untukmu” Jungkook sedikit tersenyum-senyum, karna mengetahui bahwa cokelat Taehyung sudah sampai pada Jiyoon.

“tidak juga. Aku menemukannya di depan pintu atap sekolah tadi siang, dan disitu tertulis ‘maafkan aku karena sudah membuatmu kesal’. Bahkan aku bingung siapa yang meninggalkannya disana ” jawab Jiyoon santai.

Jungkook menatap tidak percaya. Kemudian ia menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan tangannya kesal. “nuna! Itu dari Taehyung hyung, Kim Taehyung, Kim Taehyung, Kim Taehyung!”

Jiyoon sedikit terkejut. “kenapa dia memberiku cokelat? Kau yang suka cokelat, aku tidak”

“yak Jeon Jiyoon! Seharusnya kau mengapresiasi perjuangannya selama ini! Dia hanya ingin meminta maaf padamu!”

“hey kalian! Kenapa kalian selalu bertengkar?! Tidak bisakah kalian diam?! Drama kesayanganku sedang tayang!” teriak ibunya frustasi.

“ibuuu!!” teriak Jungkook dan Jiyoon berbarengan.

Jiyoon kembali menatap Jungkook. “a-apa benar kalau itu dari Taehyung?” tanya nya.

“tentu saja! Aku sendiri yang membelikan cokelat itu untuknya. Ia selalu bertanya apa yang kau sukai. Padahal sudah kubilang kau tidak suka cokelat, tapi ia bilang semua orang suka cokelat. Hyung langsung berlari dan—”

Belum selesai Jungkook menjelaskan, Jiyoon langsung berlari ke arah kulkasnya dan mengambil cokelat itu dari freezer. Jungkook memasang wajah badmoodnya sambil melihat kelakuan nuna nya yang terkesan terburu-buru itu.

“bu! Aku kerumah Taehyung, ya?” teriak Jiyoon.

Brak. Pintu tertutup begitu kasar.

“bu, mau tahu apa yang terjadi selanjutnya antara nuna dan Taehyung hyung?” Jungkook tersenyum kemenangan melihat nunanya begitu terburu-buru menuju rumah Taehyung yang hanya beberapa langkah dari rumahnya.

“seharusnya kau menciumnya! Ah, kenapa adegan romantis seperti ini tidak ada adegan ciumannya?! Apa perlu aku yang menjadi sutradaranya?!”

Jungkook menghela nafas beratnya sambil menunjukan wajah badmoodnya. Perkataannya tidak di hiraukan oleh ibunya.

“bu, aku ke kamar, ya” Jungkook berjalan malas menuju kamarnya.

Brak. Jiyoon menutup pintu rumahnya kasar. Ia sangat terburu-buru menuju rumah Taehyung yang hanya ya.. mungkin hanya 5 langkah dari rumahnya. Sesampainya di depan rumah Taehyung, Jiyoon terlebih dulu merapikan dandanannya. Merapikan poninya dan rambut panjangnya.

Taehyung yang melihat Jiyoon dari layar monitor pun sedikit tertawa karena melihat Jiyoon berdandan. Tak lama, bell pun berbunyi.

Ting tong

Jiyoon memijit tombol bell rumah Taehyung. Taehyung langsung membuka pintu rumahnya dengan memijit salah satu tombol di layar monitor kecil seperti tablet itu, otomatis pintu pun terbuka.

Jiyoon langsung memasuki rumah Taehyung sambil menggenggam cokelat yang ada di tangannya. Kemudian ia mengangkat tangannya, memperlihatkan cokelat itu pada Taehyung.

“maafkan aku karna sudah membuatmu kesal” Jiyoon membaca tulisan yang masih menempel di bungkus cokelat itu. Seketika mata Taehyung melotot.

“ini kau yang memberikannya untukku?”

To be continued….

 

Gimana? Gimana? Semoga kalian suka yaaa<3

Maaf kalo gaje banget alur nya >..< oh ya bayangin aja ya, ibunya Jungkook sama Jiyoon disini kaya ibunya Baek Seungjo di playfullKiss, kkk. Tapi bedanya ibunya Jungkook sama Jiyoon pecinta drama hahahaa.. oh ya itu monitor yang kaya di drama drama gituuu, yang kaya tablet itu tuhh aku juga belum tau itu namanya apa xD

Tunggu chapter selanjutnya yaaa~

About fanfictionside

just me

4 thoughts on “FF/ LOVE YOU TO DEATH/ BTS-BANGTAN/ pt. 1

  1. MINNN ASTOGEHH KEREN >,< UGHH TAEHYING BIKIN MEWEK BENERANNN ARGHHHHHHH ARGHHHHH PLS UPDATE SOON MIMIN CANTIKKK IMUT DISAYANG ORTU RAJIN MENABUNG XDDDD *LOL* MODUS ASTGA

  2. Thor….satu kata buat author D A E B A K !!
    Keren bget…dan mungkin ini epep bakal dicap sebagai epep favorite aku :v
    Suka bgt sama jln ceritanya, apalagi tingkah Taehyung :3

    nextnya jgn lama2 thor….fighting😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s