FF/ LOVE STORY/ F(X)-INFINITE/ pt. 1


lovestorr

FF Love Story (Chapter 1)

Title : Love Story

Author : Park Hye-Hee/ Revi Amalia

Genre : Romance, Sad, etc.

Length : Sequel

Cast :

  • Choi Sulli
  • Kim Myungsoo

Other Cast :

  • Krystal Jung
  • Choi Minho
  • Park Jiyeon
  • Etc

Note : FF ini murni hasil pemikiran saya. Jangan mengcopas tanpa izin dari saya. Saya tidak pernah mengcopas milik author lain. Maaf untuk typo yang bertebaran, feel yang nggak dapet, alur kecepetan, dan sebaginya. Author hanyalah manusia biasa. Happy reading!!!

“Berhenti dari sekarang! Aku tidak ingin menganggapmu lagi pacarku! Ani, bukan menganggap, bahkan kau bukan pacarku lagi!”teriaknya di depan pintu café. Beberapa orang melihati kami yang bertengkar dibawah derasnya hujan yang menusuk kedalam tulang-tulangku.

“Oppa! Ada apa denganmu? Mengapa dengan kau ini?”

“Oppa? Aku bukan oppamu! Aku juga tidak sudi mendengarnya dari bibirmu! Bukankah yang kukatan tadi sudah jelas? Kalau kau tidak mendengar yang tadi, akan kukatakan lagi. Kita sekarang putus!”

“Minho,”kataku sambil mendekat kearahnya dan memegang tangannya.

“Lepaskan! Aku tidak suka dengan gayamu yang sok imut ketika berada di dekatku! Aku benci itu!”ucap Minho sambil melepaskan genggaman tanganku yang membuat hatiku teriris dan badanku terlempar. Kristal hangat berurutan keluar dari mataku.

“Tapi kau sendiri yang memintanya!”

Tapi saat kau bertingkah imut dihadapanku, itu tidaklah imut sama sekali!”

“Minho,”panggilku. Namun Minho berlalu pergi. Setega itukah dia? membiarkan seorang yeoja dimalam hari ditengah hujan yang lebat. Aku kembali mencoba untuk berdiri dan berjalan kepinggir jalan dan menyetop taksi masih dengan keadaan menangis.

“Nona, kemana aku harus mengantarmu?”

Aku mengucapkan alamatku.

Setelah sampai aku keluar dan memberikan sejumlah uang sesuai dengan tarif yang ditetapkan.

“Sulli, ada apa denganmu? Mengapa kau jadi begini? Rambut acak-acakan baju basah dan menangis. Apa yang telah terjadi?”tanya Krystal eonni.

“Tidak ada apa-apa. Aku mau kekamar dan jangan memanggilku hanya untuk malam ini. Aku sedang ingin sendiri,”ujarku tanpa melihat kearah eonniku. Aku hanya berjalan lurus dan setelah sampai di depan pintu kamarku aku membukanya dan masuk ke dalamnya.

Aku tidur diatas kasur sambil menangis tersedu-sedu. Sudah banyak tisu yang kuhabiskan. Tak lama aku tertidur lelap.

***

“Sulli! Buka pintunya! Kau harus sarapan pagi ini!”

“Masukkan makanannya dari pintu kecil itu,”seperti air mataku tak akan habis, aku masih menangis untuk hari ini. Entah kenapa rasanya aku tidak tega ditinggalkan begitu saja dengan alasan yang tidak masuk akal.

Krystal eonni memasukkan sarapan pagiku lewat pintu kecil yang berada di sebelah pintu kamarku. Biasanya pintu itu adalah pintu untuk anjingku yang lama sudah kuberikan pada sepupuku.

“Jangan lupa untuk memakannya dan berhentilah menangis!”kata Krystal eonni.

Aku masih saja menangis tersedu-sedu. Mengingat kenangan yang sanagat perih. Setega itukah namja yang selama ini menampilkan kasih sayangnya padaku? Apakah dibalik itu mulutnya sangat berbisa?

Perih memang kenyataan yang harus kuhadapi. Ya, beginilah hidup. Apa yang bisa kuperbuat? Menelponnya? Dia bahkan sama sekali tidak mengacuhkannya. Sudah kucoba beberapa kali malam tadi. Mengiriminya pesan? Juga sudah kucoba dan membacanya saja tidak. Tidak ada cara lain untuk berhubungan dengan Minho.

***

1 minggu kemudian…

“Sulli, makanlah makanan yang sudah tertumpuk itu. aku sangat mengkhawatirkanmu.”

Aku tidak menghiraukan perkataan eonni. Berkali-kali dia memanggilku. Namun aku tak mau makan. Menyentuh makanan itupun tak pernah. Beberapa menit eonni diam. Lalu datang suara seorang laki-laki

“Sulli, buka pintunya untukku,”terdengar suara lembut yang familiar.

Aku diam tak mengatakan apapun.

“Sulli buka pintunya. Aku butuh bicara denganmu,”aku membuka pintu kamarku. Dan kembali duduk di ranjangku. Kulihat dia perlahan masuk ke kamarku dengan tangan yang memegangi semangkok bubur dan segelas air.

“Makanlah ini semua Sulli,”aku tak merespon seperti tak mendengarnya.

“Apa perlu kusuapi?”tanyanya sangat lembut. Aku masih menatap lurus tanpa mengiraukannya.

“Apa yang membuatmu menjadi begini? Ceritakan padaku,”aku tak merespon –lagi-. Aku menutup mataku dan kenangn buruk itu terputar otomatis di otakku. Kembali air mata menggenangi pipiku dan turun ke bajuku.

“Jangan menangis. Namja itu tidak hanya satu didunia ini. Memang mungkin kau sangat mencintainyaa. Tapi, kau harus bisa menyadari bahwa mungkin dia bukan jodohmu,”katanya sambil mengusap air mataku dengan sangat lembut. Beda dengan Minho yang tega melemparku di tengah hujan lebat.

“Makanlah,”ujarnya sambil mengisi sendok dengan bubur lalu menghadapkannya ke mulutku. Krystal eonni yang sedari tadi memperhatikan kami menutup pintu dan tidak menyaksikan kami lagi.

Perlahan aku membuka mulutku. Dia menyuapi sesendok bubur ke dalam mulutku. Sangat nikmat. Mungkin karena aku belum makan selama 1 minggu ini.

“Gumawoyo, Myungsoo”ucapku dengan suara parau.

“Ah, ini bukan apa-apa. Aku hanya ingin kau makan sehingga kau tidak mati kelaparan. Aku masih ingin melihatmu.”

“Buka lagi mulutmu, ini akan kusuapkan.”

“Tidak usah. Aku makan sendiri saja. Kalau kau juga ingin makan bubur ini kau bisa mengambilnya disana.”ujarku sambil menunjuk kumpulan mangkok yang berisi bubur dan beberapa gelas air.

“Tidak, kau makan saja semuanya agar badan kurusmu ini bisa kembali seperti semula,”jawabnya dengan senyuman tulus mengembang dibibirnya. Sangat manis.

“Eoh, terimakasih atas dukunganmu,”

***

Setelah hari itu aku dan Myungsoo sering bersama.

“Sulli, temanku punya acara tunangan. Apakah kau mau pergi bersamaku?”

“Tentu saja. Kau kan chingu terbaikku,”jawabku.

“Pertunangan itu besok jam 7 malam. Pastikan kau sudah dirumah dan berpakaian dengan cantik. Akan akan menjemputmu jam 7”

“Ne, arasseo. Tapi temanmu itu adalah mempelai pria atau wanita

“Dia adalah mempelai wanita. Sebenarnya aku malu mengatakan ini. Tapi dia itu mantan pacarku dulu. ”

“Ooo… jadi begitu?”jawabku sambil membenarkan syalku karena angin yang menerpa terlalu kencang hingga hampir saja membuat syalku terbang.

“Ayo kita masuk kedalam butikmu.”

“Ini bukan butikku. Aku hanya berkerja di sini,”kami berdua memasuki butik tempatku berkerja dan duduk di sebuah bangku panjang. Tak lama kami berbincang Myungsoo mendapat sebuah telpon.

“Mianhae Sulli. Aku tak bisa menemanimu disini. Eommaku menunggu dirumah. Dia sedang kesepian. Ingat, jam 7 besok malam.”ujarnya. Aku mengangguk dan tersenyum lalu melambaikan tangan. Dia balas melambaikan tangan.

***

“Eonni, aku pulang!”ujarku setelah menutup pintu apartemen.

“Oh, kau sudah pulang. Cepat makanlah!”jawab eonni. Hanya suaranya saja yang terdengar. Wujudnya entah dimana.

“Eonni, kau dimana?”

“Aku didapur mencuci piring”jawab eonni. Aku segera kedapur dan mendapati eonni disana.

“Duduk dan makanlah,”ujar eonni tanpa menoleh kearahku karena masih sibuk dengan tumpukan piring yang berada di depannya.

“Ne. Eonni, terima kasih untuk makanannya,”

“Aku tidak memasaknya. Tapi aku membelinya karena kita kehabisan bahan makanan untuk diolah. Setelah mencuci piring aku ingin ke supermarket.”

“Tidak usah. Biar aku saja. Aku juga membutuhkan sesuatu untuk dibeli.”

Setelah makan aku pergi ke supermarket.

“Apakah semua ini dibutuhkan? Daftarnya sangat panjang,”gumamku saat memasukkan rumput laut kedalam keranjang.

Setelah cukup lama berkeliling mencari bahan makanan yang ada di daftar aku menuju kasir.

“Gamsahamnida, lain kali silahkan datang lagi,”pelayan supermarket tersenyum ramah padaku setelah aku memberikan sejumlah uang.

“Hmmm.. harus ku follow atau tidak ya?”aku berjalan sambil memfokuskan pandanganku ke ponsel yang sedang kupegang.

Bruuk!!!

Seseorang baru saja menyenggolku dan membuat ponselku jatuh dan bagian ponselku berserakan di jalan yang ramai ini. Aku segera jongkok dan mengambil bagian ponselku. Seseorang juga ikut berjongkok dihadapanku dan mengambil baterai ponselku. Aku dan dia berdiri bersama.

“Jeosonghamnida. Saya tidak berjalan hati-hati dan menabrak anda.”dia menyodorkan baterai ponselku. Kutatap wajahnya. Aku terkejut.

“Cho.. cho.. Choi Sulli?”tanyanya sepertinya juga terkejut. Choi Minho? Benarkah ini dia? Kurasa duniaku berhenti berputar. Siapa yeoja disebelahnya. Ah, buat apa aku memikirkannya? Dia tentu saja sudah move-on dariku karena dia yang memutuskanku. Tak ingin berlarut-larut dengan pikiranku yang kacau ini aku membungkuk dan meninggalkannya.

Kuatur kembali nafasku dan duduk di kursi tunggu di lantai dasar apartemen ini. Kugigit bibir bawahku dan perlahan air mataku mulai menetes seiring dengan menutupnya mataku. Choi Minho? Benarkah tadi dia?

Advertisements

About fanfictionside

just me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s