FF/ LOVE DISASTER/ SHINee-EXO/ pt. 5


sarah-nabila-request-poster-love-disaster

Title : Love Disaster (Part 5)

Scriptwriter : Sarah Nabila

Main Cast : Kai EXO, Key SHINee, and OC.

Support Cast : SM Artist and OC

Genre : Fantasy, Romance, Tragedy, School Life.

Length : Series

Rating : PG-15

Summary :

Harusnya aku tidak pernah meminumnya….

Harusnya aku tidak pernah…

Pandangan mataku kabur. Samar samar, aku melihat bayangan hitam.

Dewa kematian kah? Sudah kuduga…dia akan datang…

*Han Hyora PoV*

Sohee menghampiriku yang sedang berjalan di koridor sekolah dengan senyum liciknya. “Ternyata kau benar-benar bermuka tebal ya? Ini sudah 3 hari, aku masih memberimu kesempatan. Cepat akui dosamu sekarang!”

“Dosa apa? Aku tidak merasa pernah melakukan dosa apapun.” Ujarku dengan ekspresi datar. Hukum aku.

“Hah, benar-benar! Sampai akhir kau akan terus seperti ini rupanya. Setidaknya kau sudah memperbaiki poker facemu. Kalau begitu, tunggu kejutan yang akan kutunjukkan padamu. Annyeong.” Sohee lalu melangkah menjauhiku.

***

*Han Hyora PoV*

Kelasku sedang mempelajari tarian balet. Musik klasik mengalun mengiringi tarian kami. Tapi otakku tetap saja tidak fokus dengan setiap gerakan yang kutarikan. Min Sohee. Dosa yang kulakukan. Yura. Wanita itu. Sihir. Key. Hal-hal semacam itulah yang menari-nari di otaku sekarang. Membuatku sama sekali tidak fokus dengan kelas yang kuikuti.

“Cukup.” Kata Miss Cathlyn, guru tari balet di sekolahku. “Hyora, ada apa denganmu? Kau jelas-jelas terlihat tidak fokus dengan tarianmu! Semuanya jadi hancur! Apa kau sedang ada masalah?”

“Joesonghamnida seonsaengnim. Aku…sepertinya sedang melamun tadi.”

“Hyora-ya, kau itu murid terbaik yang pernah kulatih. Sudah menjadi penari latar di usia semuda ini, benar-benar prestasi yang patut kau banggakan! Tidak biasanya kau membuat kesalahan seperti ini! Apa yang sedang kau pikirkan sehingga merusak tarian indahmu?” Ucap Miss Cathlyn sembari berkacak pinggang.

“Joesongham…”

‘Tidakkah Oppa merasa aneh? Seorang gadis yang bahkan tidak terlalu istimewa bisa merebut hati banyak sekali pria tampan. Teman-temanku yang memiliki tampang di atas rata-rata semuanya jatuh hati dengan gadis tersebut. Tidakkah menurutmu gadis itu habis melakukan sesuatu? Sihir misalnya?’

Semua menatap ke sudut kelas, menuju radio sekolah yang menempel di atas sana. Perhatian satu sekolah terfokus pada benda itu.

‘Memang benar sangat aneh bukan jika ada seorang gadis yang bisa menarik hati hampir semua pria tampan? Secantik apapun seorang gadis, tetap tidak mungkin untuk bisa menarik hati semua pria tampan begitu saja! Jatuh cinta pada pandangan pertama? Tidak mungkin ada pria yang tidak mencintainya? Hah, sihir itu pasti sudah membuat otak mereka tumpul!’

“Nuguya?” Tanya seorang perempuan di kelasku pada temannya. Sama sekali tidak mendapat jawaban.

‘Han Hyora? Aku memang pernah melihatnya memakan mawar…tapi aku sama sekali tidak menyangka gadis itu memakan mawar itu untuk memperkuat apa yang kau bilang tadi? Sihir untuk menarik hati semua pria tampan? Hah, gadis jalang itu!’

Itu suara Jinni. Murid-murid di kelasku mulai bergantian menatapku dengan tatapan jijik. Inilah hukuman untukmu Han Hyora!

“Jadi itu rupanya alasan Sohee menanyai kita tadi….aku pikir dia hanya membuat-buat gosip palsu untuk menutupi pembicaraan tentangnya…” Ucap salah seorang gadis yang lalu menatapku dengan tatapan tak percaya.

Mollayo? Atau kau hanya berpura-pura tidak tahu? Apa yang sudah kau lakukan…pada seluruh pria itu. Sehingga mereka semua terjatuh pada pesonamu.’

‘Seorang wanita mampu menarik hati semua pria tampan hanya dengan satu jentikkan jari. Kira-kira sihir apa yang dimilikinya?’

‘Apa maumu?’

“Hah, dengar betapa gemetarnya suara wanita itu…benar-benar memalukan.”

‘Dosa apa? Aku tidak merasa pernah melakukan dosa apapun.’

‘Dosa apa? Aku tidak merasa pernah melakukan dosa apapun.’

‘Dosa apa? Aku tidak merasa pernah melakukan dosa apapun.’

“Hah…aku benar-benar tidak menyangkanya…Han Hyora?” Kata seorang penari.

“Sampai akhir dia tidak mau mengakuinya. Bermuka tebal juga.” Sahut yang satunya lagi.

“Lihat wajahnya. Dia bahkan benar-benar menunjukkan ekspresi seseorang yang seperti tak punya dosa. Benar-benar memalukan. Dia tidak merasa bersalah sama sekali?”

“Banyak pasangan yang putus di sekolah kita. Key mencium bibirnya. Kai yang jelas-jelas mengetahui hal itu masih saja mau berpacaran dengannya. Sekarang aku tahu apa alasannya.”

‘Han Hyora kau jalang tengik! Apa sekarang kau sudah ingat dosa apa yang telah kau lakukan? Benar-benar tidak tahu malu. Kau sadar karenamu Key jadi kambing hitam? Kai dengan butanya jatuh cinta padamu? Dan banyak sekali pasangan di sekolah kita yang putus karenamu? Semuanya karena dirimu! Kau pantas dibully! Karena kau telah dengan sengaja meminum ramuan itu! Ramuan yang membuat semua pria tampan mencintaimu! Bukankah kau sudah tahu? Ramuan itu akan membuat mereka cinta mati padamu! Mau berapa banyak pria yang kau buat tunduk padamu? Kau berencana ingin membuat mereka tersiksa padamu, kan? Kau jalang tengik! Bagaimana kejutanku? Memuaskan rasa penasaranmu kan?’

“Apa benar yang disiarkan disana Hyora? Kau meminum ramuan untuk membuat semua pria jatuh cinta padamu?” Tanya Miss Cathlyn.

“Ne. Itu benar. Aku memang meminumnya dengan sengaja.” Jawabku berbohong.

“Kau sadar dosa apa yang telah kau lakukan?” Tanya Miss Cathlyn lagi dengan wajah tak percaya menatapku.

“Aku tidak menganggap itu sebuah dosa. Apa aku salah? Aku, seperti wanita lainnya, ingin dicintai dan menerima kasih sayang dari lawan jenisku. Aku ingin membuang pria yang telah menguasai hatiku belakangan ini dan mencari cinta yang baru. Aku ingin menunjukkan padanya kalau aku juga bisa dicintai oleh banyak pria. Apa itu sebuah dosa?” Ujarku dengan wajah tak berdosa. Semua murid di kelas ini menatapku tajam dengan ekspresi jijik sembari menahan amarah mereka. Belum…ini belum semuanya.

“Sayang, itu sebuah dosa. Kau telah menyiksa hati banyak orang karena keinginanmu itu! Itu bahkan sebuah dosa besar!” Ucap Miss Cathlyn berusaha memakai nada lembut padaku. “Kau harus sadar dampak apa yang akan timbul karena kesalahanmu itu! Berhentilah memakan mawar, kasihani mereka yang terkena sihirmu! Mereka benar-benar tersiksa! Sudahi obsesimu itu!”

“Aku tidak mau.” Kataku sembari menatap mata Miss Cathlyn tajam. Kuharap aku sudah menyembunyikan air mataku dengan baik. Miss Cathlyn lalu memandangku dengan air muka tak percaya lalu mengipaskan mukanya dengan telapak tangannya.

“Ya ampun…panas sekali disini! Class, sudah cukup untuk hari ini! Kita istirahat!” Kata Miss Cathlyn yang lalu berjalan keluar dari ruangan ini dengan langkah panjang-panjang. Tak butuh waktu lama untuk rambutku dijambak oleh Eunjeong, murid di kelasku yang sepertinya baru-baru ini diputusi oleh pacarnya yang terkenal karena ketampanan dan kepintarannya : Lee Jinki.

“KAU JALANG TENGIK!! KARENAMU OPPAKU MEMUTUSKANKU!! KAU PANTAS MATI!!” Teriaknya padaku lalu mendorongku sampai menabrak tembok.

“A!”

“Seharusnya dari awal aku sudah curiga, Oppaku yang tidak pernah selingkuh dan benar-benar tahu caranya menjaga hatiku tiba-tiba meminta putus karena dia tidak lagi mencintaiku! Harusnya aku tahu semua itu karena sihir terkutukmu!”

Dia lalu meludahi mukaku. Aku memejamkan mataku.

“Karenamu! Aku harus menggugurkan bayi yang dikandung olehku! Aku harus mengubur mimpiku untuk menikah dengan Oppaku! Kau tak tahu betapa tersiksanya aku saat aku menggugurkan bayiku kau jalang tengik!” Bentaknya dengan air mata mengalir deras.

Mianhae…ani…jangan memaafkanku. Aku tersenyum menatapnya. “Bayi? Kau memiliki bayi? Bukankah itu berarti kau juga jalang? Murahan sekali, untuk cinta kau rela melakukan segalanya. Oppamu itu memutuskanmu karena dia sudah ‘merasakan’ tubuhmu dan sudah bosan dengannya! Dan kau mengatakan kalian putus karena sihirku? Benar-benar menyedihkan!”

“NEO!! KAU PANTAS MATII!!!!” Teriaknya penuh amarah lalu menarik rambutku keluar dari ruangan ini sampai aku menabrak dinding pembatas dan mendorong kepalaku sampai aku dapat melihat lapangan sekolah di bawahku. Tidak ada yang menghentikannya.

“Eunjeong-ah!” Panggil seorang laki-laki, itu Lee Jinki. Dia lalu mendorong Eunjeong dan menyelamatkanku yang hampir terjatuh dari gedung ini dan memegang kedua lengan atasku. “Gwaenchana?” Tanyanya padaku.

“Hah, liat bagaimana dia benar-benar buta karena sihir itu.” Ucap seorang gadis dengan nada sinis. Jinki lalu menatapnya penuh dengan amarah.

“Lebih baik kau menutup mulut kotormu itu.” Desis Jinki pada wanita itu. Dia lalu menatapku dengan mata penuh kekhawatiran. Sihir terkutuk. “Gwaenchana?”

“Oppa, harusnya kau buka matamu itu! Kau benar-benar tidak punya hati, ara? Eunjeong mengandung anakmu tapi kau malah memalingkan wajahmu darinya hanya karena jalang tengik ini? Sadarkan dirimu Oppa! Dia telah menyihirmu! Yang kau rasakan sekarang ini bukanlah cinta!” Maki Suzy, murid yang ada di kelas yang sama denganku, pada Jinki.

“Eunjeong-ah!” Panggil Ahreum pada Eunjeong yang berlari dari tempat itu karena tak tahan melihat pemandangan di depannya. Ahreum lalu menatap Jinki penuh kebencian. “Nappeun nom!”

Ahreum lari mengejar Eunjeong begitu pula dengan murid lain di kelasku. Sedangkan Jinki, dia tetap di sampingku, menatapku khawatir.

“Gwaenchana? Kumohon jawab pertanyaanku! Hyora-ya!”

“Apa aku terlihat baik-baik saja bagimu?!” Makiku pada Jinki. “Oppa terlambat datang! Karena Oppa, aku diludahi oleh mantanmu yang jalang itu! Oppa juga tidak tahu betapa sakitnya aku saat dijambak olehnya, kan? Aah…jinjja! Singkirkan tangan Oppa dari lenganku! Menjijikkan!”

Apa aku terlalu berlebihan…?

“Sekarang kau bisa berhenti.” Ujar Jinki padaku.

“Apa maksud Oppa? Apanya yang berhenti?” Tanyaku sembari merapihkan rambutku.

“Dengan aktingmu. Kau berusaha terlihat agar kau bisa dibenci banyak orang, kan? Ramuan itu…kau tidak mungkin meminumnya dengan sengaja.”

“Wah, tak kusangka Oppa benar-benar naif.” Ucapku sembari tersenyum lebar. “Baiklah. Ini keuntunganku karena sihir itu…”

Jinki memelukku. Aku jelas berusaha lepas dari pelukannya. Sial. Aku tidak bisa menahan air mataku.

“Sudah kubilang kau bisa berhenti. Berhenti menyiksa dirimu…”

Lalu apa yang kau lakukan?? Kau memutuskan Eunjeong bahkan saat dia sedang mengandung anakmu! Dan kau menyuruhku untuk berhenti menyiksa diriku? Apa ini bahkan sebuah siksaan?

“Lepaskan aku…” Suruhku sembari berusaha lepas dari pelukan Jinki. Dia malah memelukku lebih erat. Gawat. Air mataku sudah mengalir keluar. “Lepaskan aku…!!”

Pertahananku runtuh. Aku menangis.

“Gadis bodoh…”

***

*Author PoV*

Para member EXO sedang sibuk dengan diri mereka sendiri di dorm mereka. Masih beberapa jam lagi sampai acara mereka selanjutnya dimulai. Hanya Chanyeol dan Baekhyun yang tidak hadir di dorm karena ada schedule. Sehun, yang sedang tiduran di sofa ruang tamu, mendengar bel di pintu depan.

“Ye, tunggu sebentar..” Ucapnya lalu membuka pintu tersebut. Seorang pengantar paket datang.

“Paket untuk Kim Jongin-ssi.” Ujar pria tersebut yang menundukkan kepalanya dalam, seolah tak ingin wajahnya terlihat oleh Sehun.

“Ah, ye…” Sehun lalu menandatangani kertas tanda bukti terima paket itu.

“Keurom, annyeonghikyesipsio…” Katanya lalu bergegas pergi.

“Eo…annyeonghikaseyo…” Ucap Sehun lalu melangkah memasuki dorm sembari membawa paket yang merupakan kardus yang berukuran sedang tersebut. “Jongin hyung..! Ada paket!”

Kai yang baru keluar dari kamar mandi mengelap rambut basahnya dengan handuk sembari menghampiri Sehun yang ada di ruang tamu. “Dari siapa?”

Sehun lalu membaca kertas yang menempel di paket tersebut. “Dari…Miss L, cinta sejati Kai? Mwoya, kenapa paket seperti ini bisa sampai ke sini?”

“Coba buka dulu..” Perintah Kai yang langsung dilaksanakan oleh Sehun. Mereka lalu menutup hidung mereka. Bau amis darah.“Apa ini??”

“Molla…hyung, jangan-jangan…!”

Mereka lalu membuka plastik hitam di dalam kardus itu yang sepertinya merupakan asal dari bau amis tersebut, hampir saja mereka muntah melihatnya. Bangkai anak kucing.

“Siapa yang mengirim hal seperti ini??” Tanya Sehun dengan ekspresi jijik.

“Di dalamnya ada surat, ambil.” Suruh Kai pada Sehun.

“Aah…sirheo! Hyung, kau tahu aku benar-benar tidak tahan dengan hal-hal seperti ini..!”

“Ada apa?” Tanya Suho yang keluar dari kamarnya, dia lalu membelalakkan matanya melihat bangkai anak kucing tersebut dan menutup hidungnya. “Ah jinjja…! Sasaeng fans lagi??”

“Sepertinya begitu. Hyung, di dalamnya ada surat. Boleh tolong ambil?” Pinta Kai.

“Tak ada di antara kalian yang berani mengambilnya?” Kata Suho. Kai dan Sehun mengangguk. “Aah…jinjja!”

“Ada apa?” Tanya D.O keluar dari kamarnya, dia lalu mengendus-endus sebentar sebelum menutup hidungnya. “Bau apa ini?”

“Darah.” Jawab Suho yang sedang menyiapkan mentalnya untuk mengambil surat yang terletak di dekat plastik hitam berisi bangkai anak kucing tersebut.

“Mwo? Darah siapa? Darimana?” Tanya D.O lagi kemudian menunduk melihat isi kardus yang terletak di tengah-tengah ruang tamu tersebut. Dia kemudian menutup matanya dan membalikkan badannya. “Sasaeng fans LAGI? Kali ini fans siapa?”

“Jongin hyung.” Ujar Sehun yang sedang berusaha menahan jijik melihat bangkai anak kucing tersebut.

Suho kemudian menjulurkan tangannya ke dalam kardus tersebut dan mencoba mengambil surat yang ada di dalamnya.

“Hyung, MWOHAE??” Tanya D.O histeris begitu dia membalikkan badannya lagi melihat tangan Suho memasuki kardus tersebut.

“Ada surat di dalamnya, aku meminta Suho hyung mengambilnya.” Jawab Kai yang berusaha keras menahan muntah.

“Dapat!” Ucap Suho yang lalu mengeluarkan tangannya dari kardus tersebut.

“Deorowo! Hyung, cuci tanganmu setelah ini! Benar-benar menjijikkan!” Seru D.O yang masih menutup hidungnya dan berdiri agak jauh dari ketiga member EXO lainnya.

“Eo…” Ujar Suho yang lalu mengelap tangannya ke celananya.

“HYUNG!!” Teriak D.O histeris.

“Arasseo imma! Kau dan sifatmu itu.” Ucap Suho sembari tertawa kecil.

“I hyung jinjja…” Kata D.O yang masih tak habis pikir dengan kelakuan Suho. “Apa isi surat itu? Jongin-ah, bukankah itu ditujukan padamu? Coba bacakan.”

Kai lalu mengambil surat itu dan membacanya. “Oppa, apa kabar? Kau pasti sedang memikirkan jalang itu kan? Han Hyora?”

“Mwoya? Kenapa Hyora disebut-sebut?” Tanya Suho sembari mendekati Kai. Semuanya mengikuti Suho, sepertinya nama Han Hyora benar-benar menarik perhatian mereka. Nama gadis yang mereka cintai.

“Aku tahu Oppa, kalian pasti sangat tersiksa karena perasaanmu itu. Aku sangat mengerti dengan perasaan kalian.” Lanjut Kai yang mulai merasakan firasat buruk saat membaca surat tersebut.

“Sepertinya itu ditujukan pada kita.” Ucap D.O.

“Diamlah.” Suho yang pandangannya tak lepas dari surat tersebut angkat suara.

“Apa Oppa sudah tahu? Jalang itu menggunakan sihir untuk menarik hati kalian. Sihir hitam yang didapatnya dari seorang penyihir.”

“Sihir? Apa maksudnya?” Tanya Suho.

“Dia pasti orang gila.” Balas Sehun.

“Tapi Oppa tenang saja, aku akan mengakhiri siksaan kalian……jalang itu benar-benar!!” Kai lalu berdiri dari tempat duduknya dan berlari keluar dorm.

“Ya! Pakai dulu jaket dan maskermu! Jongin-ah!” Teriak Suho pada Kai yang jelas tidak dibalas oleh Kai. “Mwoya? Memang apa isi suratnya?”

Sehun yang berada paling dekat dari surat tersebut membacanya, dia lalu ikut berlari keluar setelah mengambil jaket dan dua masker, satu untuk Kai. D.O tanpa berbicara apapun melakukan hal yang sama dengan Sehun dan berlari keluar dorm. Suho, yang tersisa sendirian. Membaca akhir surat tersebut.

“Jalang itu benar-benar…!” Dia langsung mengikuti yang lainnya.

Karena aku…akan memastikannya berakhir seperti kucing yang malang ini…

***

*Han Hyora PoV*

Aku terbangun merasakan diriku disiram oleh air. Kepalaku terasa pusing. Dimana ini? Aku melihat seorang gadis manis yang memakai seragam sekolah yang sama denganku. Dia…Kang Eunjin. Apa yang ingin dia lakukan?

Eunjin melempar ember yang dipakainya untuk menyiramku. Dia lalu memegang daguku.

“Bagaimana Han Hyora? Apa kau mimpi indah?” Tanyanya dengan senyum manisnya.

Otakku memutar adegan terakhir yang kuingat sebelum berada di tempat ini. Aku sedang berjalan pulang dari sekolahku dan seseorang tiba-tiba menyerangku dari belakang, membekap mulutku dengan sebuah sapu tangan yang membuatku tak sadarkan diri. Dan sekarang, aku terbangun di tempat ini, dengan tangan diikat di kursi dan mulut dilakban.

“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Mengecewakan sekali…” Ujarnya sembari memasang wajah aegyo-nya. Dia gila… Eunjin lalu berdiri tegak dan berjalan mengelilingi kursiku sembari memainkan pisau di genggamannya. Ini buruk. “Sudahlah. Aku juga muak bila harus mendengar suaramu itu. Kau sepertinya sudah tahu kan alasanku membawamu ke sini? Kau…telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh anak yang baik…”

Dia kembali mendekatiku. “Kau sudah melakukan dosa yang sangat besar. Tapi sayangnya tidak ada yang menghukummu setimpal dengan apa yang sudah kau lakukan…jadi biar aku yang melakukannya. Sebenarnya aku ingin langsung menghabisimu, tapi kalau begitu tidak akan seru…jadi, sebaiknya aku menyiksamu secara perlahan….dan mendengar rintihanmu itu. Wajah cantikmu itu, akan kucabik-cabik sampai tidak bisa dikenali.”

Pisau itu lalu menyentuh pipiku. Terasa dingin. Aku memejamkan mataku. Siapapun tolong aku!!

Terdengar suara dobrakan pintu. Kai, beberapa member EXO, dan 2 polisi memasuki tempat ini. Eunjin yang panik lalu menusuk pisau itu ke perutku. Aku berteriak tertahan. Rasa apa ini? Ini…sangat sakit…! Jadi ini rasanya ditusuk oleh pisau…

“Kau harus mati!!” Desisnya di telingaku. Eunjin lalu mencabut pisau itu dari perutku dan baru saja ingin menikam jantungku saat kedua polisi itu menahannya. “Lepaskan aku!! Lepaskan!!”

“HYORA-YA!” Teriak Kai. Dia lalu menghampiriku yang sedang merintih kesakitan. Kai menatap darah yang mengalir dari perutku, dia meneteskan air matanya. “Hyora-ya…bagaimana ini bisa terjadi?”

Kai mengambil pisau yang tergeletak di lantai itu. Dengan mata memerah, Kai lalu menghampiri Eunjin dengan pisau di genggamannya. “Neo!! Kau pantas mati!!”

Suho menahan Kai yang meronta ingin menikam Eunjin dengan pisau di genggamannya, diikuti D.O dan Sehun.

“Jongin-ah kendalikan dirimu! Ada polisi!” Seru Suho.

Jadi kalau tidak ada polisi Oppa mau membiarkannya begitu??

“Hyung, sudahlah! Lebih baik kita panggil ambulans! Keadaan Hyora lebih penting!” Kata Sehun yang juga susah payah menahan Kai.

“AAAAAAHHH!!! Lepaskan aku!! LEPASKAN AKU!!” Teriak Kai yang seperti hilang akal. Sehun dan yang lainnya mati-matian menahan amukan Kai.

“Ahjussi, tolong bawa jalang itu keluar dari sini!” Pinta Suho pada polisi itu. Kenapa dia menggunakan kata jalang?? “Kyungsoo-ya neo mwohae?? Cepat panggil ambulans!”

“Ne, hyung!” Ucap D.O lalu mengetik beberapa nomor di ponselnya dan meletakkan ponsel itu di telinganya.

Aku…hampir saja mati.

***

*Eunjeong PoV*

Angin malam menerpa wajahku, memainkan rambut panjangku. Aku menatap jalanan dan mobil-mobil yang terlihat kecil di bawahku. Hari ini…adalah hari aku meninggal…Jinki Oppa meninggalkanku…aku menggugurkan bayiku…tak ada lagi yang berarti di kehidupanku…semuanya kacau…

Aku menyalakan handphoneku, menekan nomor 1, dan menaruh handphoneku di telinga.

“Eunjeong-ah…ada apa meneleponku?” Tanya Jinki di seberang sana. Aku tersenyum miris. Ini…adalah suara lelaki yang sangat kucintai dan kubenci…

“Ani Oppa…aku hanya ingin mendengar suaramu…”

“Ada apa dengan suaramu? Eunjeong-ah…neo mwohae?”

Seperti biasanya…kau masih seseorang yang sangat perhatian…

“Aku tidak sedang melakukan apa-apa…aku…hanya ingin mendengar suara Oppa untuk yang terakhir kalinya…” Ujarku sembari meneteskan air mataku. “Aku mungkin…akan sangat merindukan suara ini nantinya.”

“Eunjeong-ah…neo mwohae?? Gunakan akal sehatmu! Hentikan apapun yang sedang ingin kau lakukan sekarang juga! Aku akan menghampirimu! Kau sekarang ada dimana? Aku akan kesana!” Serunya dengan nada panik.

“Gomawo…mianhae…dan juga…saranghaeyo Oppa…”

Aku mematikan handphone itu. Sembari memegangnya erat, aku meloncat dari atas gedung ini.

***

*Author PoV*

Soonwoo, yang sedang sibuk dengan komputer di depannya, dihampiri oleh Kim Changwoo (Kim Sunbaenim). “Ya, ada berita bagus hari ini. Kau masih ingat gadis itu kan, Han Hyora?”

Soonwoo berhenti mengetik. Tentu saja aku sangat mengingatnya, dia tidak mau pergi dari otakku bahkan sedetikpun. “Eo, ada apa dengan Hyora Sunbaenim?”

“Sudah kubilang singkirkan ‘nim’mu itu imma! Kau itu terlalu kaku, ara? Aku bergidik setiap kali mendengarnya!” Seru Changwoo sembari memukul kepala Soonwoo dengan tumpukan kertas di tangannya.

“Ne, Sunbae.”

“Han Hyora itu…ternyata dia menggunakan sihir untuk menarik hati semua pria tampan seketika!”

“Mwo?” Tanya Soonwoo terkejut. Bagaimana…Kim Sunbaenim mengetahuinya??

“Molla? Kabar ini sudah tersiar ke seluruh dunia! Itulah kenapa berita online kita berada di urutan paling belakang, karena kau tak pernah mengais berita sampai ke akarnya! Kita keduluan kantor berita entertainment lain imma! Karena itulah…aku ingin bertanya padamu, bagaimana rasanya terkena sihir itu?” Tanya Changwoo sembari mendekat pada Soonwoo.

“Apa maksud Sunbae dengan bagaimana? Aku tidak memiliki perasaan apa-apa pada gadis itu.” Ucap Soonwoo berbohong.

“Eii…jangan berbohong! Kau sudah melihat fotonya, dan kau bahkan bertemu langsung dengannya! Mana mungkin kau tidak terjerat oleh pesona gadis itu? Seluruh pria tampan di dunia ini semuanya sedang tersiksa karena sihir itu imma!”

“Sunbaenim, aku melihat fotonya sudah lama sekali, sihirnya saat itu bahkan belum kuat. Dan aku belum sempat melihat wajahnya karena tertipu dengan penyamaran teman wanitanya itu! Jadi bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta padanya?” Jelas Soonwoo pada Changwoo.

“Bagaimana kau tahu?”

“Tahu apa?”

“Kalau sihir itu akan semakin kuat seiring berjalannya waktu. Bukankah kau memohon padaku untuk tidak berurusan dengan kasus Han Hyora sejak kukirim kau sekolahnya? Jadi bagaimana mungkin kau tahu tentang sihir itu?” Selidik Changwoo sembari menatap Soonwoo dengan pandangan curiga.

“Yah…itu…”

“Jawabannya jelas! Karena kau sudah mengetahui lebih dulu semua hal tentang Han Hyora dan sihir itu sebelum yang lain menemukannya bukankah begitu? Lalu kenapa kau menyembunyikan hal itu dariku imma! Itu bisa menjadi headline di seluruh dunia!!”

“Begini….itu karena aku…” Soonwoo terdiam. Ragu-ragu dengan apa yang akan dikatakannya selanjutnya. “Aku membuang seluruh bukti tentang keterlibatan Han Hyora dengan sihir itu karena saat itu aku tidak sedang dalam akal sehatku…”

“Mwo!?” Bentak Changwoo sembari membelalakkan matanya pada Soonwoo. “Jadi kau tidak terima dengan kenyataan kalau Han Hyora bukanlah gadis sepolos dan sebaik yang kau pikirkan?”

“Bukan seperti itu Sunbaenim! Aku saat itu sedang salah pa…”

“Karena itu…! Kau menyembunyikan kenyataan kalau Han Hyora telah memiliki sihir hitam itu dan bukannya melaporkannya padaku?”

“Sun…”

“Karena itu harusnya kau tidak termakan oleh perasaanmu itu imma!” Maki Changwoo pada Soonwoo. “Kita kehilangan berita besar!!”

“Sunbaenim, kau salah paham…Han Hyora, dia tidak menginginkan sihir tersebut…!”

“Jangan bersikap naif! Tak sadarkah kau sudah menusukku dari belakang karena sikap naifmu??”

“Bukan begitu Sunbaenim…!”

“Berhenti memanggilku Sunbae’nim’! Aah…jinjja! Han Hyora, gadis yang sangat kau cintai itu, ditusuk oleh seorang sasaeng fans karena ketahuan menggunakan sihir hitam untuk menarik hati idolanya!”

“Mwo??” Tanya Soonwoo kaget.

“Itu saja yang akan kusampaikan padamu! Aah…jinjja! Kau sudah merusak mood baikku!” Changwoo lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut.

“Sunbae! Di rumah sakit mana Hyora dirawat!? Aah…SUNBAE!!”

***

*Han Hyora PoV*

“Saranghae…”

Key…dia berbisik di telingaku…

“Neol saranghanikka. Karena aku mencintaimu, aku tidak tahan melihat orang lain membuatmu seperti ini! Karena aku mencintaimu, aku setengah mati ingin melindungimu! Karena aku mencintaimu, aku ingin menghajar siapapun yang sudah membuatmu seperti ini!”

Onew…dia terlihat sangat marah…

“Neol saranghanikka.”

Key…dia menenangkanku…

“Aku…tak bisakah kau mencintaiku?”

Minho…dia terlihat sangat sedih…

“Saranghae…Hyora-ya…”

Kai…dia sangat bahagia…

“Gwaenchana?”

Junghwan…kepalanya berdarah…kenapa dia malah mengkhawatirkanku?

“Lalu kenapa? Kenapa memangnya kalau dia menggunakan sihir!? HAH?? Lebih baik kau hentikan omong kosongmu itu! Aku benar-benar muak mendengarnya!”

Jonghyun…dia marah…padahal gadis itu mengatakan yang sebenarnya…

Semua pria itu…semua pria itu mengelilingiku…Mereka terlihat sangat gila dan tersiksa…

“Lalu kenapa? Lalu kenapa kalau kau menggunakan sihir?? Kami tidak peduli!! Karena itu, makan mawarmu! Makan mawarmu! Kau…kau harus tetap hidup!”

Aku membuka mataku. Hanya mimpi rupanya. Haus…aku berusaha menolehkan kepalaku. Tidak bisa. Ini adalah hari ketiga setelah aku tidak memakan mawar itu. Aku memang berencana untuk tidak memakannya lagi. Kata-kata bahwa paranormal itu dapat membuat ramuan penawarnya hanyalah omong kosong. Sudah dua nyawa yang melayang karena ramuan itu…Seo Junghwan dan Cheong Eunjeong, mereka sama-sama loncat menuju kematian mereka karena aku meminum ramuan itu. Aku pantas mati.

***

2 hari yang lalu…

*Han Hyora PoV*

Kabar bahwa aku ditusuk oleh sasaeng fans sudah mendunia. Sehun, setelah kejadian ini, mengepost sebuah foto yang berisi surat teror tersebut dan bangkai kucing di dalam paket yang dimaksudkan untuk Kai di akun instagramnya dan mengatakan bahwa dia sangat kecewa dengan kelakuan fans sasaeng itu juga meminta mereka yang masih memiliki hati nurani untuk melindungiku atau setidaknya tidak ikut-ikutan dalam aksi ingin membunuhku. Pembunuhan itu jelas adalah sebuah tindakan kriminal, katanya.

Dampaknya cukup mengejutkan, aku merasa seperti dijaga oleh seseorang selama 24 jam. Dan rumah sakit memberikan perintah khusus untuk menjagaku karena nyawaku masih sedang dalam bahaya. Jadi, dokter ataupun suster terutama mereka yang ingin mengunjungiku harus diawasi dengan ketat sebelum bisa menemuiku. Meskipun, sampai saat ini belum ada yang mengunjungiku kecuali kakakku sendiri dan beberapa pria tampan di sekolahku. Dan Yura, aku sama sekali belum mendengar kabar tentangnya. Aku memiliki asumsi bahwa dia mungkin menjauhiku lagi setelah kejadian Sohee menyiarkan ke seluruh sekolah tentang sihir itu.

‘Aku mau bagaimana lagi? Ini permintaanmu… Aku akan melakukan yang terbaik untuk menjalankan perintahmu, Nyonya.’

Pembohong.

Kakakku tidak menanyakan apapun tentang sihir yang kumiliki, dia hanya mengkhawatirkan keadaanku dan mengatakan kalau ucapannya kemarin hanyalah sebuah pendapat dari seseorang yang belum dewasa seperti dia jadi jangan menganggapnya terlalu serius dan dia memintaku untuk berhenti menyiksa diriku dan mulai belajar memaafkan diriku. Setelah itu dia pergi karena harus ikut KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sebuah daerah terpencil. Ibu dan Ayahku? Mereka adalah tipe orang tua yang terlalu sibuk berkarier dan sejak aku hadir di dunia sangat jarang sekali aku melihat wajah mereka apalagi berbincang dengan mereka. Hubungan mereka sangat buruk tapi mereka tak ingin pusing-pusing mengurus surat cerai karena sibuk bekerja sehingga jadilah aku dengan kakakku yang tinggal di rumah besar itu berdua saja.

Kepalaku tiba-tiba terasa sangat pusing. Aku memegangnya sembari merintih kesakitan. Apa ini? Apakah ini karena aku belum memakan mawar seharian? Jadi ini dampaknya… Aku mendengar suara pintu kamarku terbuka, Jinki masuk ke dalam. Matanya sembab, seperti habis menangis. Buru-buru aku menurunkan tanganku dan berusaha terlihat baik-baik saja.

“Annyeong…bagaimana kabarmu? Apa lukanya sudah membaik?” Tanyanya sembari tersenyum padaku lalu mengambil tempat duduk di samping kasurku. Jelas dia sedang memaksakan dirinya untuk terlihat baik-baik saja.

“Sudah lebih baik dibanding kemarin.” Jawabku. “Bagaimana dengan Oppa? Apa kabar?”

“Seperti yang kau lihat.” Ujarnya sembari tersenyum tipis. “Mian…karena datang ke sini terlambat.”

“Gwaenchana. Oppa pasti punya alasan kenapa Oppa tidak bisa datang ke sini kemarin.”

“Eunjeong, dia meninggal.” Katanya.

“M…meninggal?? Bagaimana bisa?”

“Dia bunuh diri…” Ucap Jinki yang lalu tersenyum miris. “Sampai detik terakhir kehidupannya dia hanya memikirkan diriku. Seperti itulah…”

Aku terdiam. Aku tahu seseorang sepertiku sama sekali tak pantas memberikan hiburan untuknya.

“Kau tahu, betapa aku mencintainya dulu…harusnya aku sudah benar-benar muak melihatmu.” Katanya. “Tapi, yang kulakukan malah semakin mengkhawatirkanmu. Bagaimana jika keluarga Eunjeong mengetahui alasan di balik meninggalnya Eunjeong, bagaimana jika mereka malah menyimpan dendam padamu dan berusaha untuk mencari cara untuk membalaskan dendam mereka padamu…seperti itulah. Karena itu, aku berharap setidaknya dendam itu ditujukan padaku, sehingga kau tidak usah ikut merasakan dampaknya. Karena aku pasti akan gila melihatmu menderita lebih dalam lagi. Dibandingkan mendengar berita Eunjeong bunuh diri, aku lebih cemas mendengarmu ditusuk…kalau bukan karena rasa bersalahku, aku tidak akan datang ke tempat itu. Aku…menjadi seseorang seperti ini.”

***

*Han Hyora PoV*

Air mataku mengalir. Aku merasakan pandangan mataku mulai kabur, nafasku sangat sesak, seperti ada sesuatu yang merebut seluruh oksigen dari hidungku.

Harusnya aku tidak pernah meminumnya….

 

Harusnya aku tidak pernah…

 

Pandangan mataku kabur. Samar samar, aku melihat bayangan hitam.

Dewa kematian kah? Sudah kuduga…dia akan datang…

“Laporannya?” Ujar bayangan hitam itu pada bayangan lainnya. Ada tiga, tidak…empat bayangan di ruangan ini. Apa dewa kematian sebanyak ini?

“Sejak kemarin tubuhnya melemah. Pencernaannya tidak bekerja dengan baik lagi. Responnya untuk cahaya dan sentuhan juga berkurang. Kepalanya terasa sangat pusing dari kemarin. Tapi semua itu tak ada hubungannya dengan luka di perutnya. Tak ada penjelasan medis tentang kenapa dia bisa seperti ini sekarang.” (Maklumin Author ya kalau bahasanya salah atau terlalu sederhana, author kurang jago bahasa kedokteran… :P)

Apa yang wanita itu katakan? Apa…dia bukan dewa kematian? Mereka suster dan dokterku?

“Tunggu…! Kenapa seluruh tubuhnya sangat membiru??” Seru pria itu kaget.

“Eo? Bagaimana bisa? Kemarin dia tidak seperti ini…” Ujar wanita tadi sembari memegang tanganku. “Tubuhnya lemah sekali…”

“Han Hyora-ssi? Kau bisa mendengarku?” Tanyanya. “Kalau ya, tolong kedipkan matamu dua kali.”

Aku mengedipkan mataku dua kali.

“Kebutuhan oksigennya meningkat! Ini kondisi kritis!” Panik suster itu. “Seonsaengnim, apa yang harus kita lakukan??”

Dokter tidak menjawab apa-apa. Dalam hati aku tersenyum lega. Sebentar lagi…aku bisa mengakhiri kutukan ini…

Tiba-tiba, seseorang memasuki ruangan ini. Perhatian para suster dan dokter itu beralih ke arah orang itu.

“Jeosonghajiman, pasien ini tidak menerima kunjungan sekarang.”

“Aku punya obat untuk menyembuhkan pasien ini!” Ujarnya cepat begitu dia didorong oleh para suster untuk keluar.

“Obat apa? Keadaan pasien ini tidak bisa dijelaskan secara medis!”

“Karena itu…! Percayalah padaku dan pasien ini akan sembuh! Jebal, kau tidak lihat wajahku? Aku tidak mungkin menyakiti dia!”

Para suster itu berhenti mendorongnya. Sepertinya dia pria tampan. Gawat…dia bisa menggagalkan semuanya…

“Kurasa kita bisa mempercayainya.”

Pria itu lalu mendekat padaku dan mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, dia lalu memasukkannya ke dalam mulutku. Aku hafal tekstur apa ini…ini…bunga mawar. Aku berusaha keras memuntahkannya, tapi aku tidak memiliki tenaga sama sekali.

“Ha…jima…” Pintaku dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi pria itu terus menyumpalkan mawar itu ke dalam mulutku. Apa suaraku terlalu lemah?

Pria itu kemudian mendudukkanku, memasukkan ke dalam mulutku setengah gelas air dan mendongakkan kepalaku menghadap langit-langit. Mawar-mawar itu tertelan masuk ke tenggorokanku. Dia kemudian memasuki setengah gelas selanjutnya sedikit demi sedikit sampai mawar-mawar itu tertelan semuanya. Air mataku mengalir. Pria itu menidurkanku kembali.

Detik demi detik berlalu. Pandangan mataku mulai membaik dan aku bisa mengenali siapa pria itu. Dia…wartawan tampan yang berdebat dengan Kang Ahjussi beberapa waktu yang lalu.

“Warna tubuhnya kembali dan ketergantungannya pada oksigen menurun! Tanda vitalnya kembali normal! Pasien selamat!” Seru si suster dengan senyum mengembang.

“Syukurlah…” Ujar dokter itu, dia lalu menjabat tangan wartawan itu. “Jeongmal kamsahamnida! Anak muda, ireumi mwoeyo?”

“Jang Soonwoo imnida.” Katanya sembari tersenyum. Raut kekhawatiran di wajahnya mulai sirna. “Mulai sekarang, tolong beri dia asupan bunga mawar sekali sehari. Kalau tidak, keadaannya akan kembali seperti tadi. Meskipun dia menolaknya, tolong paksa dia.”

“Aah…ne. Akan saya lakukan. Suster Nam, kau mendengarnya kan?”

“Ne, Seonsaengnim!”

“Jadi begitu rupanya…kehidupan wanita itu bergantung pada bunga mawar itu. Dia pasti sangat menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya sehingga memilih untuk mengorbankan nyawanya…” Bisik seorang suster pada temannya. Mungkin hanya aku dan teman suster itu yang mendengarnya.

“I BABOYA!!” Teriakku pada Soonwoo. “Apa yang sudah kau lakukan!? Karenamu semuanya kacau! Aku tidak tahan hidup seperti ini lagi tapi apa yang kau lakukan!?”

“Aku tidak mungkin tidak melakukannya! Aku bisa gila kalau aku tidak melakukannya!” Balas Soonwoo padaku.

“Kau benar-benar bodoh! Ini adalah satu-satunya cara supaya kutukan ini berakhir! Ini satu-satunya cara untukku menebus semua dosaku dan menghentikan semua siksaan yang dirasakan olehmu! Kau tak tahu betapa tersiksanya aku setiap kali memakan mawar tapi apa yang kau lakukan??” Makiku dengan air mata mengalir deras. Aku lalu mencabut infus di tanganku dan berdiri dari tempat tidurku.

“Neo mwohae!? Kembali ke tempat tidurmu! Lukamu bahkan belum sembuh! Kau juga masih dalam bahaya dan harus diawasi 24 jam!” Bentak Soonwoo sembari menggenggam tanganku erat.

“Lepaskan…!” Perintahku sembari berusaha keras melepas genggamannya. “Sakit..!”

“Karena itu berhentilah melawan!” Soonwoo lalu menarikku kembali ke tempat tidur dan menahanku disana. “Kumohon diamlah!”

Aku berteriak dengan air mata mengalir deras. Tidak boleh…tidak boleh berakhir seperti ini…aku harus mati…!

“Suster, siapkan 4 helai kain putih panjang!” Suruh dokter itu. Keempat suster tersebut langsung keluar dari ruangan ini.

“Mwo? Kain untuk apa?” Tanya Soonwoo.

“Untuk mengikatnya tentu saja. Dalam keadaan seperti ini, dia akan terus melawan dan mungkin kabur sewaktu-waktu.”

***

*Han Hyora PoV*

Aku sedang menatap langit-langit kamar saat seseorang memasuki kamarku. Aku tidak menoleh untuk melihat siapa orang itu. Sudah hampir 2 minggu sejak kedua tangan dan kakiku diikat, luka di perutku sudah hampir tidak terasa lagi, tapi mereka masih saja tidak mengizinkanku pulang. Aku belum pulih benar, kata mereka.

“Hyora-ya…”

Aku terkejut. Itu suara yang sangat kukenal. Kai.

“Oppa, bagaimana kau bisa datang kesini?” Tanyaku padanya. Dia hampir-hampir menangis melihat keadaanku.

“Bagaimana kau bisa seperti ini?” Tanyanya lalu duduk di sampingku. “Perutmu masih sakit?”

“Aku bahkan hampir-hampir tidak merasakan rasa sakitnya lagi. Entah kenapa tak ada orang disini yang setuju untuk mengeluarkanku.”

“Mana ada yang mau mengeluarkanmu saat keadaanmu saja masih sangat mengkhawatirkan seperti ini?” Ujarnya dengan sinar mata yang benar-benar khawatir. “Wajahmu terlihat sangat pucat, kau yakin kau baik-baik saja?”

“Kenapa Oppa bisa datang ke sini?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Sajangnim mengizinkanku. Sudah tidak banyak reporter yang mengerubungi rumah sakit ini dan aku bisa gila karena khawatir dengan keadaanmu…” Ucapnya lalu membelai rambutku. “Juga karena aku merindukanmu.”

“Oppa pasti benar-benar tersiksa, kan?”

Kai tersenyum. “Kenapa kau bertanya seperti itu? Dan ada apa dengan wajahmu melihatku seperti itu? Na gwaenchana…harusnya itu yang kutanyakan padamu. Kenapa kau berpikir untuk menghabisi nyawamu?”

“Karena itu satu-satunya cara…”

“Apa maksudmu dengan satu-satunya cara? Sudah banyak paranormal ternama yang mendengar beritamu dan tertantang untuk membuat ramuan penawarnya. Jadi bersabarlah…dan kumohon jangan bertindak bodoh seperti itu lagi…”

Kai Oppa terlihat benar-benar tenang…

“Kau sudah makan?” Tanyanya lagi. Aku menggeleng. Dia lalu mencubit pipiku sembari menunjukkan giginya. “Anak nakal…!”

Dia lalu melihat piring yang ada di atas meja. Makananku tinggal setengah, suster tidak sengaja menumpahkannya tadi saat membujukku untuk makan. Kai menatap selimutku yang juga terkena tumpahan makanan tersebut dan sepertinya dia baru menyadarinya. Air mata menggenangi matanya sebelum dia kembali mengangkat suara.

“Kumohon jangan seperti ini, eo?” Pintanya padaku. “Ikatanmu takkan dilepas dan kau takkan keluar dari rumah sakit kalau kau terus-terusan seperti ini…kau tak suka melihat orang lain tersiksa, kan?”

“Joesonghaeyo Oppa…”

Dengan seperti ini…mereka malah akan lebih tersiksa..harusnya aku tidak termakan emosiku dan berpikir dengan akal sehatku..

“Karena itu…jadilah anak baik dan makan makananmu. Kau mau aku suapi atau makan sendiri?”

“Apa maksud Oppa? Oppa mau melepas ikatanku begitu?” Tanyaku kaget.

“Yah…dokter sebenarnya melarangku tapi mau bagaimana lagi? Kau pasti sudah sangat muak dengan ikatan itu.” Ujarnya.

“Kalau begitu…tolong…”

Kai lalu melepas ikatan kedua tangan dan kakiku, perhatiannya langsung terpaku pada bekas memerah di pergelangan tangan dan kakiku.

“Oppa…” Panggilku berusaha mengalihkan perhatiannya.

“Eo?” Tanyanya lalu menatap wajahku. Aku membuka mulutku. Dia tersenyum. “Dasar…”

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s