FF/ LOVE DISASTER/ SHINee-EXO/ pt. 4


sarah-nabila-request-poster-love-disaster

Title : Love Disaster (Part 4)

Scriptwriter : Sarah Nabila

Main Cast : Kai EXO, Key SHINee, and OC.

Support Cast : SM Artist and OC

Genre : Fantasy, Romance, Tragedy, School Life.

Length : Series

Rating : PG-15

Summary :

Harusnya aku tidak pernah meminumnya….

Harusnya aku tidak pernah…

Pandangan mataku kabur. Samar samar, aku melihat bayangan hitam.

Dewa kematian kah? Sudah kuduga…dia akan datang…

*Han Hyora PoV*

“Baiklah. Aku akan menunggunya…”

Setelah beberapa lama, akupun ingin melepas pelukan itu. Namun Kai malah memelukku lebih erat.

“Jebal…tetaplah seperti ini untuk beberapa saat lagi. Ne?”

Aku mengangguk. Dapat kurasakan jantungku berdebar. Kurasa…aku takkan menunggu lama.

“Saranghae…Hyora-ya…”

“Ara…” Jawabku sembari tersenyum. Air mata sudah mendesak ingin keluar dari mataku.

“Hyora-ya.” Seru Minho menghampiriku. “Apa yang kalian lakukan?”

“Eo?” Kataku terkejut yang lalu melepaskan pelukanku dengan Kai.

“Ini…tidak seperti apa yang kupikirkan, kan?” Tanya Minho dengan nada bergetar.

“Ini memang seperti apa yang Hyung pikirkan.” Ujar Kai pada Minho.

Minho menatap Kai tajam. Ini gawat. Aku langsung mengambil tangan Minho dan tersenyum padanya. “Ada apa memanggilku Oppa? Apa sebentar lagi waktunya untuk tampil? Kalau begitu sebaiknya kita cepat ke ruangan backstage.”

Minho melepas genggamanku di tangannya. Dia tidak bergeming di tempatnya lalu menatapku dengan tatapan seperti seseorang yang dikhianati. “Apa maksudnya ini? Bukankah…bukankah hatimu milik Taemin?”

“Sudahlah Oppa, sebaiknya kita cepat kembali…kita bisa mendapat masalah kalau kita tidak segera kembali..” Ucapku lalu kembali berusaha menarik tangan Minho menjauh dari Kai.

“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku??” Bentak Minho. “Kalau kau seperti ini…aku tidak punya pilihan lain selain mempercayai pikiran sialan ini..!!”

“Oppa…” Ujarku. Terkejut dengan sikap Minho. Sihir ini…sudah melewati batasnya…

“Katakan padaku kalau ini bukan seperti apa yang kupikirkan! Kalau kau yang mengatakannya, aku akan percaya.” Pinta Minho sembari menatapku dengan tatapan memohon.

“Mianhaeyo Oppa…” Ucapku sembari menunduk. Aku tak tahu semuanya akan sekacau ini…

“Kenapa bukan aku??” Tanya Minho sembari berusaha mati-matian menekan amarahnya. Dia lalu menghampiri Kai dan menggenggam kerahnya erat.

“Oppa!” Seruku lalu berusaha melepas genggamannya. Tapi tangan Minho terlalu kuat.

“Apa yang kurang dariku sehingga Hyora memilihmu!??” Bentak Minho pada Kai.

“Hyung tidak mencintai Hyora…”

“Apa maksudmu?? Kau tak tahu betapa tersiksanya aku karena perasaan ini!! Kau tak tahu betapa besarnya aku mencintai Hyora!”

Kai balas menggenggam kerah Minho. “Hyung tahu APA??”

“Kalian berdua hentikan..! Ini di backstage, semua orang bisa melihat kalian! Kumohon hentikan! Dan Oppa, ini adalah pilihanku. Tak bisakah kau menghormatinya? Siapa kau sehingga harus menyetujui terlebih dulu apa yang kulakukan?? Ini hakku memilih siapa yang akan menjadi kekasihku!”

“Kekasih?” Tanya Minho. Aku menutup mulutku. Babo! “Ternyata kalian sudah sejauh itu rupanya…chukkahanda.”

Minho lalu berjalan menjauh dariku dan Kai. Aku bisa mengetahui betapa marahnya dia saat ini. Sihir terkutuk itu.

***

*Author PoV*

“Hyung, kudengar kau berpacaran dengan Hyora?” Tanya Sehun pada Kai yang sedang dimake-up di backstagenya. Gosip benar-benar menyebar dengan sangat cepat.

“Eo…” Jawab Kai. Kau tak tahu betapa senangnya dia saat ini.

“Daebak, bukankah Hyora mencintai Tae…”

“Ara…tapi dia tetap menerimaku. Kurasa dia ingin segera melupakan perasaannya pada Taemin hyung. Kulihat saat itu dia menangis sebelum menerimaku, sepertinya Taemin hyung habis mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya.” Potong Kai.

“Yaa~ kau datang di waktu yang tepat! Andai aku yang sedang ada di posisimu, dia juga pasti akan menerimaku.” Ujar D.O.

“Entahlah. Aku meragukannya.” Ucap Kai sembari tersenyum.

“Wah~ sepertinya kau sangat membanggakan dirimu setelah Hyora menerimamu. Tak heran, hampir semua artis menyukainya dan dia malah memilihmu. Kau benar-benar beruntung!” Kata Baekhyun.

“Aah..kurasa aku akan galau untuk sementara waktu. Hyung, aku benar-benar iri denganmu!” Seru Sehun.

“Memang sudah seharusnya seperti itu.” Kai tersenyum lebar.

Jinpyo, yang berada di luar backstage, berpura-pura menjadi staff, mengerutkan alisnya. Mwoya? Hyora menyukai Taemin? Tapi Taemin malah membuatnya menangis? Bukankah seharusnya Taemin juga terkena sihir itu? Kalau memang Hyora menyukai Taemin kenapa dia tidak meminum ramuan yang membuat Taemin mencintainya? Kenapa dia malah membuat semua pria tampan mencintainya? Apakah Taemin kebal dengan sihir itu? Ada apa juga dengan permintaan Han Hyora? Aneh sekali…apa Soonwoo sudah mengetahui hal ini?

***

*Author PoV*

Jinpyo, yang sedang memasuki kantornya, melihat Soonwoo yang sedang fokus dengan komputernya. Jinpyo lalu menghampiri Soonwoo. “Kasus Han Hyora. Kau benar-benar sudah menyelidiki semuanya?”

“Bukankah sudah kubilang hyung? Jangan membawa-bawa nama gadis itu di depanku lagi.” Ucap Soonwoo malas.

“Aku tahu…kau bahkan sudah mencari tahu tentang informasi tempat di mana Hyora mendapatkan sihir itu dan apa yang dilakukannya sehingga dia mendapatkan sihir itu. Kau meneliti tempat itu dengan benar-benar menyeluruh dan susah payah mendapatkan orang-orang yang pernah datang ke tempat itu…kau mencari tahu tempat itu sampai tidak melewatkan hal terkecilpun. Tapi…apa kau sudah mencari tahu lebih jauh tentang Lee Taemin dan Han Hyora?”

“Apa sebenarnya yang ingin hyung katakan?” Tanya Soonwoo tanpa melepas tatapannya di komputer.

“Taemin…dia tidak ikut terkena sihir itu…!”

“Aku sudah mengetahuinya.”

“Tapi kau tidak merasa aneh sama sekali? Han Hyora menyukai Taemin, tapi justru hanya Taemin yang tidak terkena sihir itu. Meski aku memikirkannya berulang kali juga aku tidak bisa mengerti dengan pikiran Han Hyora yang malah memilih untuk membuat semua laki-laki mencintainya!”

“Eo…” Ucap Soonwoo setengah hati. Dia kemudian terdiam sebentar lalu menatap Soonwoo. “Mworago? Hyora menyukai Taemin? Dari mana hyung mengetahuinya?”

“Aku menyelinap ke backstage Inkigayo tadi, dan itulah yang kudapatkan dari menguping di ruangan EXO, mereka sedang membicarakan hal itu…bahwa Taemin membuat Hyora menangis karena kata-katanya dan Hyora berpacaran dengan Kai untuk melupakan Taemin. Itu saja.”

“Jadi begitu rupanya…sekarang semuanya jelas! Sudah kuduga Han Hyora bukan gadis seperti itu! Hyung, gomapda! Tapi, apa yang hyung katakan tadi? Hyora berpacaran dengan Kai?” Tanya Soonwoo setelah melepas pelukannya dengan Jinpyo.

“Ah!” Jinpyo langsung memukul bibirnya. “Harusnya aku tidak mengatakan bagian itu! Gwaenchana?”

“Gwaenchana. Aku hanya sedikit kaget. Itu saja.” Ucap Soonwoo berbohong.

***

*Han Hyora PoV*

Aku mendengus kesal. Orang terkutuk itu! Sekarang dia bahkan menerorku dengan memenuhi lokerku dengan darah dan mengataiku pelacur lewat tulisan di dinding sekolah tapi dia bahkan tidak berani menunjukkan batang hidungnya sama sekali! Pengecut terkutuk! Batinku sembari berjalan dan menendang-nendang kerikil di depanku dengan kesal.

“Han Hyora! Hati-hati!!” Teriak seseorang yang lalu berlari ke arahku dan memelukku hingga terjatuh.

Ada apa ini?

“Gwaenchana?” Tanya Junghwan, orang yang memelukku tadi. Kulihat kepalanya berdarah.

“Eo…” Jawabku.

Junghwan tersenyum lega. “Syukurlah…”

Setelah itu, dia tidak sadarkan diri. Dan saat itu juga aku melihat meja yang sepertinya terjatuh dari lantai atas tadi. Alasan kenapa Junghwan memelukku. Tidak…ini buruk…

“Junghwan-ah! Junghwan-ah gwaenchana?? Sadarkan dirimu Junghwan-ah!!”

***

*Junghwan PoV*

Putih…aku dimana?

Mataku kemudian mengerjap karena cahaya terang yang memasuki mataku. Kepalaku terasa sangat pusing.

“Kau sudah sadar?” Tanya seseorang, aku menoleh, Sohee.

“Eo…Sohee-ya..” Aku memegang kepalaku yang terasa sakit. “Aku ada dimana?”

“Jeongmal molla? Atau…kau mau berpura-pura tidak tahu lagi seperti yang kau lakukan terakhir kalinya?” Ujar Sohee dengan nada dingin.

“Apa maksudmu?”

Sohee meneteskan air matanya. “Bukankah sudah kubilang? Atau kata-kataku kurang jelas? Jangan pernah mendekati gadis jalang itu lagi! Jangan…bahkan hanya untuk melihatnya sedetik saja! Tapi ini apa??”

Aku menggenggam tangan Sohee. “Sohee-ya, dengarkan penjelasanku dulu…”

“Lepaskan ini!” Bentak Sohee sembari melepas tanganku. “Kau pikir aku tidak tahu? Kau selalu memperhatikan jalang itu kapanpun dan dimanapun dia berada! Kau beralasan apapun padaku agar dapat mengikuti jalang itu!! Kau jelas-jelas memiliki perasaan dengannya!!”

“Sohee-ya, aku melakukan itu karena aku khawatir dengannya. Bukankah kau sudah tahu? Dia akhir-akhir ini di-bully, dan…”

“Lalu kenapa?? Lalu kenapa kalau dia dibully, HAH!? Aku tidak peduli apa yang akan terjadi dengan jalang itu! Bahkan kalau dia mati sekalipun!!”

“Sohee-ya! Jaga kata-katamu!” Bentakku. “Tak kusangka kau lebih buruk daripada yang kupikirkan!”

“Lalu kenapa!? Kau pikir aku seperti ini karena siapa??” Teriak Sohee histeris. “Aku kekasihmu! Seharusnya kau memahami perasaanku saat aku mengatakan hal itu! Seharusnya kau mengutamakanku dibandingkan jalang itu!!”

“Lalu? Apa aku harus membiarkannya begitu saja saat gadis itu hampir tertimpa meja??”

“Memang harus seperti itu! Kau memang tidak memiliki hak untuk melindungi siapapun kecuali diriku! Kau pikir kau siapa??”

Aku tersenyum. “Jadi itu rupanya…kau memang tak pernah mencintaiku, kan? Kau hanya terobsesi memilikiku. Karena kau tak pernah tidak memiliki yang kau inginkan, dan kau beruntung aku sedang dalam keadaan yang tak memungkinkanku untuk menolakmu. Kalau bukan karena ibuku yang sedang koma di rumah sakit dan kecelakaan mematikan yang membunuh seluruh keluargaku juga uang yang kau miliki aku takkan menerimamu! Kalau bukan karena itu semua, aku takkan mungkin mau bersama denganmu sampai saat ini! Atau…jangan-jangan kau…”

Sohee tersenyum licik. “Majayo. Aku yang membuat semua itu terjadi. Keluargamu berakhir seperti itu memang aku yang menyebabkannya. Tak kusangka kau benar-benar bodoh. Baru menyadari hal itu sekarang.”

Mataku memerah. “Neo…!!”

“Mwo? Apa yang akan kau lakukan? Dengan keadaanmu yang seperti itu kau bisa apa?” Ujar Sohee. “Sejujurnya aku kasihan padamu, dengan polosnya berpacaran dengan orang yang telah membunuh keluargamu. Tapi tenang saja, kau sudah menyakiti hatiku. Jadi aku sudah memutuskan untuk putus denganmu. Mari kita akhiri…hubungan ini. Karena aku sudah tidak membutuhkanmu, kau tahu pasti apa yang akan terjadi dengan ibumu, kan? Annyeong, jagiya.”

“NEO…!! Kau bahkan bukan manusia!! KAU LEBIH BURUK DARI IBLIS!!” Kutukku mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Sohee sama sekali tidak menolehkan kepalanya dan keluar dari ruangan itu. Air mataku mengalir. Aku menggenggam tanganku penuh amarah.

***

*Author PoV*

Sohee, yang sedang duduk di bangku belakang mobil mewahnya, mengangkat suaranya. “Han Hyora. Cari tahu semua hal tentang gadis itu. Karena dia, hubunganku dengan Junghwan hancur…”

“Baik, Nyonya..”

***

*Han Hyora PoV*

Aku sedang melangkah pulang dari sekolahku. Kejadian kemarin saat Junghwan menyelamatkanku dan Sohee yang mengusirku dari bangsal Junghwan masih terngiang di kepalaku. Apa dia benar-benar baik-baik saja? Kurasa hubungannya dengan Sohee dalam bahaya karena diriku. Sihir itu benar-benar!

Tidak ada reporter yang menunggu di gerbang lagi. Kurasa mereka sedang fokus dengan skandal perselingkuhan seorang aktor Korea papan atas. SM Entertainment sepertinya berhasil memendamnya, meski aksi bully padaku masih saja gencar dilakukan oleh pengecut terkutuk itu. Aku sudah menyusuri jalan yang belum terlalu jauh dari gerbang sekolahku saat seseorang menarik tanganku. Orang itu memakai topi dan masker sehingga aku tidak begitu jelas melihat wajahnya.

“Omo! Neon nuguya!?” Seruku kaget. Orang itu kemudian meletakkan jarinya di bibirku.

“Ssst…kalau kau berbicara terlalu keras orang-orang akan melihat kita!” Bisiknya di telingaku, aku menoleh.

“Jongin Oppa?” Tanyaku kemudian. Kulihat matanya menyipit dan dia mengangguk. “Apa yang Oppa lakukan disini? Oppa gila ya? kalau ada orang lain yang melihat kita bagaimana?”

“Karena itu aku memintamu untuk jangan berisik. Dan kau pikir untuk apa penyamaran ini? Kaja.” Ucapnya lalu menarik tanganku.

“Eodi?”

“Bersenang-senang. Tentu saja.”

***

*Han Hyora PoV*

“Kau mau yang mana? Rasa coklat atau strawberry?” Tanya Kai padaku. Saat ini kami sedang ingin membeli ice cream setelah berjalan-jalan cukup lama di taman yang sedang lumayan sepi ini.

“Coklat.”

“Tolong 2 rasa coklat.” Kata Kai pada penjual es krim itu. Setelah membelinya kami kembali berjalan-jalan mengelilingi taman ini. “Mian, karena pekerjaanku aku hanya bisa mengajakmu ke taman ini. Seharusnya aku mengajakmu ke tempat yang lebih menyenangkan.”

“Gwaenchanayo Oppa. Dari kecil aku sangat menyukai taman. Ini tempat yang sempurna untuk kencan pertama kita.” Ujarku. Meski aku agak malu saat mengatakan ‘kencan’.

Mata Kai menyipit. “Aku tidak menyangka kau akan mengatakan hal itu dengan begitu blak-blakan. Apa yang kau katakan tadi?”

“Diamlah. Aku juga malu mengatakannya.”

“Aigoo~ lucu sekali! Kau sangat lucu saat wajahmu memerah seperti itu, ara?” Ucap Kai sembari mencubit pipiku.

“Ah Oppa!”

Kai lalu melepas masker yang sedari tadi dipakainya.

“Oppa neo mwohae? Kalau ada orang yang melihat Oppa bagaimana??” Seruku kaget.

“Justru orang-orang akan memperhatikan kita kalau kau mengatakan hal itu..” Ujar Kai santai.

“Tetap saja…”

“Tenanglah, hanya beberapa orang yang ada di taman ini…dan sebagian besarnya adalah manula yang sepertinya tidak terlalu tertarik dengan kehidupan boyband jadi untuk apa kau khawatir? Dan lagi, kalau aku tidak membuka maskerku bagaimana aku akan memakan es krim ini?”

Aku cemberut.

“Ada yang ingin kutanyakan…” Ucap Kai lalu menatap mataku. “Apa kau…masih dibully?”

“Yah…aku tidak bisa bilang tidak…” Aku menatap Kai. “Oppa…ada banyak hal yang ingin kuceritakan pada Oppa…”

***

*Author PoV*

Sohee, yang sedang menciumi bunga mawar di halaman rumahnya, mendapatkan SMS.

“Siapa ini? Mengganggu saja…”

Sohee lalu melihat isi SMS itu.

“Eo?”

-Nyonya, saya mengikuti Hyora seharian. Dan ini yang saya dapatkan…-

[Foto Kai mencubit pipi Hyora]

[Foto Kai tertawa dengan Hyora]

[Foto Kai mencium pipi Hyora]

Sohee tersenyum, dia lalu mengirim SMS.

-Kerja bagus. Serahkan foto-foto itu pada kantor berita Entertainment, aku penasaran dengan reaksi mereka-

***

*Han Hyora PoV*

“Yura-ya…” Panggilku. Wanita itu, yang sedang kupanggil, malah mempercepat jalannya. “Neo jinjja…Yura-ya!”

Aku berhasil menggenggam tangannya.

“Ah…mwo? Apa yang kau inginkan?” Tanya Yura tanpa melihat wajahku.

“Lihat wajahku..!” Pintaku sembari memegang kedua tangannya. “Ada apa denganmu? Kau terus menerus menjauhiku! Kau bahkan tidak membalas sapaanku dan tidak pernah melihat wajahku! Terakhir kali kita berbicara adalah saat kau membantuku menyingkirkan para wartawan itu! Kenapa kau tidak mau berbicara denganku? Padahal ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu!”

“Aku tidak ingin berbicara denganmu…” Balas Yura sembari berusaha melepas genggaman tanganku.

“Kenapa kau seperti ini??”

“Seharusnya itu yang kutanyakan padamu! Kenapa kau seperti ini? Kau ingin terus menghukumku? Aku tak tahan dengan rasa bersalah yang terus kurasakan setiap kali aku melihatmu! Terakhir kali aku menolongmu, kupikir aku bisa memaafkan diriku setelah apa yang kulakukan padamu tapi ternyata tidak! Aku terus merasa bersalah dan aku benar-benar tersiksa dengan rasa bersalahku! Kenapa kau terus muncul di hadapanku??” Seru Yura menatapku dengan genangan air mata di matanya.

“Benar! Aku memang ingin menghukummu! Semuanya sudah kacau balau begini tapi kau yang juga ikut andil membuat semua ini terjadi malah lari dari tanggung jawabmu! Kau tak tahu betapa inginnya aku melakukan hal itu! Lari dari semua yang terjadi! Tapi aku tidak bisa! Karena itu aku menghukummu! Kau harus…harus merasakan rasa bersalah itu lebih dalam lagi! Karena itu satu-satunya caramu untuk membalas dosa yang telah kau lakukan pada seluruh pria itu! Tapi apa yang kau lakukan? Lari dariku? Benar-benar…”

Yura menangis. “Mianhaeyo Hyora-ya…aku sangat pengecut. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk membalas semua dosaku jadi satu-satunya yang bisa kulakukan adalah lari dari rasa bersalahku dan mencari cara untuk menemukan ramuan penawarnya. Tapi, aku tak bisa menemukannya. Padahal aku sudah mengunjungi banyak sekali paranormal ternama, tapi tak ada di antara mereka yang lebih hebat dari penyihir itu. Aku…tak tahu semuanya akan jadi kacau seperti ini. Aku benar-benar tak tahu…harusnya aku tidak membuat permintaan bodoh itu. Aku tidak berpikir panjang…”

“Berhentilah menangis. Kau sudah melakukan semampumu.” Ujarku sembari menghapus air mata Yura. “Bukankah kau sudah bilang akan melakukan apapun yang kuperintahkan? Kemana janjimu itu?”

“Mian…aku melupakannya.”

“Sebaiknya kau menepati janjimu. Karena aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.”

“Mwonde?” Tanya Yura.

“Jangan pernah…bahkan sekalipun. Menjauh lagi dariku. Tak peduli seberapa besar rasa bersalahmu. Karena aku benar-benar tidak akan memaafkanmu kalau kau melakukan hal itu lagi. Dan…terimalah perasaan Taemin Oppa.”

“Mwo?” Yura menatapku terkejut.

“Apa itu sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan?”

“Ani…tapi bukankah kau menyukai Taemin Oppa? Aku sudah berjanji padamu untuk tidak menerima perasaan Taemin Oppa…aku tak ingin menyakitimu…” Ujar Yura sembari menundukkan kepalanya.

“Ingkari janjimu. Ini permintaanku. Lagipula, aku…sudah memiliki Jongin Oppa. Kau tahu? Dia menyukaiku sejak aku menari bersamanya. Aku akan melupakan Taemin Oppa. Kau juga tidak tahu kan seberapa tersiksanya mereka yang terkena sihir itu? Siksaan itu…aku tak ingin Taemin Oppa mengalaminya. Karena itu aku meminta padamu…aku meminta dengan benar-benar tulus…terimalah perasaan Taemin Oppa.” Pintaku padanya.

“Aku mau bagaimana lagi? Ini permintaanmu…” Kata Yura kemudian. “Aku akan melakukan yang terbaik untuk menjalankan perintahmu, Nyonya.”

“Mwoya? Kau bilang aku apa?” Tanyaku sembari tertawa dan mendorong Yura dengan salah satu tanganku. Dia ikut tertawa.

***

*Author PoV*

Kai dan anggota EXO yang lain melangkah keluar dari apartemen mereka untuk menghadiri sebuah acara saat para wartawan mengerubunginya.

“Kai-ssi, apa benar kau berpacaran dengan Hyora?”

“Bukankah Hyora adalah perempuan yang dicium oleh Key? Ada apa sehingga kau bisa menjadi kekasihnya?”

“Di foto yang kita dapatkan terlihat kau tidak memakai penyamaran apa-apa, apa kau memang ingin hubunganmu terekspos oleh publik?”

Pertanyaan demi pertanyaan saling tumpang tindih menyerbu telinga Kai, hanya beberapa pertanyaan yang jelas sampai di telinga pria tersebut. Para wartawan ini benar-benar…

“Permisi…kalian menghalangi jalan. Anak-anak ini sedang buru-buru!” Seru Heo Jaehyuk, manager EXO K, sembari mengusir para wartawan tersebut. Tapi mereka malah semakin maju menyerbu Kai. Ada apa ini? Para wartawan itu baru pertama kalinya seliar ini…

‘Tutup mulutmu dari skandal ini. Jangan menjawab pertanyaan apapun dari wartawan. Kami yang akan mengurusnya.’

“Aku…” Kai angkat suara. Otomatis ribuan pertanyaan itu berhenti seketika. “Memang memiliki hubungan sepasang kekasih dengan Han Hyora.”

“Ya! Kau gila ya??” Bisik Suho di telinga Kai.

Jaehyuk berbalik dan menatap Kai dengan tatapan tak percaya.

“Karena itu…jangan sampai ada seorangpun yang menyentuhnya. Kalau ada yang ingin melakukannya, langkahi dulu mayatku.”

***

*Han Hyora PoV*

Saat ini di backstage SHINee, semua sedang sibuk dengan dirinya masing-masing. Keempat member SHINee sedang tidak dalam mood yang baik sekarang ini, alasannya jelas : skandal terbaru Kai dengan Hyora. Sedangkan aku dan Yura sedang asyik berbincang-bincang. Jin menghampiri kami berdua.

“Kalian sudah berbaikan?” Tanyanya sembari tersenyum menatapku dan Yura.

“Seperti yang Oppa lihat.” Ucap Yura sembari tersenyum manis pada Jin. Taemin memperhatikan Yura sembari tersenyum melihat senyuman wanita tersebut. Hatiku serasa tergores pisau. Tapi bukan itu bagian paling menyakitkannya. Aku, yang tidak terkena sihir tersebut, sudah sangat sakit melihat Taemin memperhatikan Yura seperti itu. Bagaimana dengan mereka yang terkena sihir tersebut?

“Anak-anak, sepertinya mereka sedang tidak dalam mood yang baik hari ini.” Ujar Jin sembari menatap para member SHINee.

“Kurasa mereka seperti ini karena seorang gadis. Aku penasaran sihir apa yang dimilikinya sehingga bisa membuat mereka jadi seperti ini.” Seru seorang penari yang sedang berdiri di dekatku. Aku tahu pasti untuk siapa ditujukannya kalimat tersebut.

“Jihyun-ssi, jangan berbicara seperti itu…kau tahu mereka seperti itu karena perasaan mereka sendiri.” Kata Jin pada wanita itu.

“Tidakkah Oppa merasa aneh? Seorang gadis yang bahkan tidak terlalu istimewa bisa merebut hati banyak sekali pria tampan. Teman-temanku yang memiliki tampang di atas rata-rata semuanya jatuh hati dengan gadis tersebut. Tidakkah menurutmu gadis itu habis melakukan sesuatu? Sihir misalnya?”

Kata-katanya benar.

“Ya! Apa maksudmu berbicara seperti itu? Tidakkah kau merasa kata-katamu itu terlalu kejam?” Ucap Yura sembari menatap gadis itu tajam. Dia lalu berdiri dari tempat duduknya dan melipat tangannya kemudian kembali mengangkat suara. “Atau kau memang iri dengan Hyora?”

“Mwo? Iri? Dengan jalang itu? Hah…kau pasti bercanda!”

Perhatian keempat member SHINee yang sedang sibuk dengan diri mereka masing-masing beralih kepada Jihyun.

“Mwo? Jalang? YA!” Yura lalu menjambak rambut wanita tersebut dengan sepenuh tenaganya.

“YA! Singkirkan tanganmu dari rambutku!”

“Yura-ya! Keumanhae! Sebentar lagi kita tampil! Ah..jinjja! Neo mwohae!?” Ucapku sembari berusaha memisahkan mereka berdua. Tapi tenaga kedua wanita itu benar-benar kuat.

Taemin lalu menghampiri mereka, ikut berusaha memisahkan kedua wanita tersebut. Gagal. Jin juga ikut memisahkan mereka. Gagal lagi. Jonghyun, yang dari tadi sedang sibuk dengan handphonenya, menghampiri kedua wanita tersebut. Dia berhasil memisahkan kedua gadis itu dalam sekali coba. Dia lalu menahan Yura dan Jin menahan Jihyun.

“Keumanhaja. Tak ada gunanya mengotori tanganmu untuk wanita seperti itu.” Ujar Jonghyun pada Yura.

“Mwo? Oppa, mworago?” Tanya Jihyun dengan wajah tak percaya.

“Apa aku salah?” Jonghyun balik bertanya sembari melihat wanita itu penuh kebencian.

“Harusnya itu yang kukatakan! Apa aku salah? Memang benar sangat aneh bukan jika ada seorang gadis yang bisa menarik hati hampir semua pria tampan? Secantik apapun seorang gadis, tetap tidak mungkin untuk bisa menarik hati semua pria tampan begitu saja! Jatuh cinta pada pandangan pertama? Tidak mungkin ada pria yang tidak mencintainya? Hah, sihir itu pasti sudah membuat otak mereka tumpul!”

“Lalu kenapa? Kenapa memangnya kalau dia menggunakan sihir!? HAH?? Lebih baik kau hentikan omong kosongmu itu! Aku benar-benar muak mendengarnya!” Bentak Jonghyun pada Jihyun.

“Oppa!”

“Kau tahu apa, hah?” Tanya Yura pada gadis itu. “Kau itu tak tahu apa-apa tentang Hyora! Gadis itu, bukanlah orang yang akan melakukan sesuatu yang menjijikkan seperti itu! Jadi, lebih baik kau berhati-hati dengan kata-katamu…atau kau akan mati dengan tanganku sendiri!”

Menjijikkan? Yura, apa maksud dari perkataanmu?

“Ah sudahlah sudah hentikan kalian berdua! Sebentar lagi kalian tampil tapi apa yang kalian lakukan dengan rambut kalian, hah!? Daripada bertengkar, lebih baik kalian mulai rapihkan rambut kalian!”

***

*Author PoV*

‘Tidakkah Oppa merasa aneh? Seorang gadis yang bahkan tidak terlalu istimewa bisa merebut hati banyak sekali pria tampan. Teman-temanku yang memiliki tampang di atas rata-rata semuanya jatuh hati dengan gadis tersebut. Tidakkah menurutmu gadis itu habis melakukan sesuatu? Sihir misalnya?’

‘Memang benar sangat aneh bukan jika ada seorang gadis yang bisa menarik hati hampir semua pria tampan? Secantik apapun seorang gadis, tetap tidak mungkin untuk bisa menarik hati semua pria tampan begitu saja! Jatuh cinta pada pandangan pertama? Tidak mungkin ada pria yang tidak mencintainya? Hah, sihir itu pasti sudah membuat otak mereka tumpul!’

Sohee tersenyum mendengar rekaman tersebut. Dia lalu menatap seorang wanita berjas hitam di depannya. “Kerja bagus. Siapa yang berbicara di rekaman ini?”

“Jihyun, Nyonya. Seorang penari yang juga ikut menari bersama Hyora.”

“Kasus ini sudah semakin menarik.” Ujar Sohee. “Han Hyora. Aku sudah memegang kunci matinya.”

***

*Han Hyora PoV*

Aku melangkah memasuki ruangan yang sedang mengadakan kematian Junghwan. Pria itu, meninggal dengan menggenaskan. Dia menjatuhkan dirinya sendiri dari atap gedung rumah sakit, meninggalkan sebuah surat yang kata orang ditujukan padaku. Dia…meninggal karena aku.

“Hyora-ya! Gwaenchana?” Seru Yura sembari menghampiriku yang hampir terjatuh.

“Eo…gwaenchana…” Jawabku sembari memegang dinding di sampingku.

“Kau yakin kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat…” Ucap Yura sembari menopangku berdiri.

“Aku…hanya tidak percaya ini benar-benar terjadi. Junghwan…dia bunuh diri karena aku…” Aku berjalan dengan langkah gontai. “Karena ramuan terkutuk itu…karena aku…”

“Berhenti menyalahkan dirimu Hyora-ya. Ini bukan salahmu. Mereka yang sudah baca surat itu bilang, Sohee yang menjadi alasan dia bunuh diri. Bukan kamu. Karena itu baca dulu surat Junghwan, kau akan mengerti masalahnya setelah itu..” Ujar Yura.

“Sohee? Kenapa Sohee?” Tanyaku pada Yura. Wajah wanita itu seperti ragu untuk mengatakan kata-kata selanjutnya.

“Wanita itu…dia iblis…”

Aku mendekati tempat dimana terdapat foto Junghwan yang sedang tersenyum dengan bunga di sekelilingnya. Aku berhenti di depannya dan melakukan ritual penghormatan pada Junghwan lalu membungkukkan diri pada Kyungmin, teman dekat Junghwan yang menjadi pengurus upacara kematian Junghwan. Berhubung seluruh keluarga Junghwan telah berpulang kepada Yang Maha Kuasa.

“Kau datang? Gomapda! Jinjja gomapda!” Seru Kyungmin sembari menggenggam tanganku. Aku tersenyum kikuk. Kyungmin lalu menjentikkan jarinya pada seorang laki-laki yang sepertinya juga berada di sekolahku. Laki-laki itu lalu memutar sebuah lagu dari radio di depannya.

 

Who are you looking at?~

What are you thinking of?~

Aku mengangkat suaraku. “Ini…”

 

I often just watch you from your side~

“Ini lagu yang ingin sekali diputar Junghwan untukmu…sebelum dia meninggal dia meneleponku dan memintaku untuk memutar lagu ini untukmu di hari kematiannya. Aku bergegas ke rumah sakit setelah itu. Tapi aku terlambat…” Cerita Kyungmin. Air mata sudah menggenangi matanya.

 

You probably don’t know~

Your back feels sad~

When you turn around~

I want to spread my arms~

Aku meneteskan air mataku. Lirik ini…benar-benar menggambarkan perasaannya padaku.

And hug you~

Don’t go, I want to hold onto you~

Don’t know why my eyes only look for you~

Why it hurts while looking at you~

Why my heart beats like crazy~

I don’t know~

The words ‘I love you’ that I cannot bear to say~

I’m scared that my eyes would tell everything~

Don’t know why my eyes only look for you~

Why it hurts while looking at you~

Why my heart beats like crazy~

I don’t wanna let you go~

I don’t wanna let you go~

 

Air mataku mengalir deras. Aku jatuh terduduk dan memukul-mukul dadaku. “Junghwan-ah…Junghwan-ah eotteokhae?”

“Keumanhae..kau menyakiti dirimu!” Perintah Kyungmin sembari menggenggam kedua tanganku. Aku meronta, tapi tenagaku tak cukup untuk melepas genggamannya. Semua yang ada di ruangan ini meneteskan air matanya. Junghwan…bahkan di detik-detik akhir kehidupannya dia hanya memikirkan diriku… “Tenangkan dirimu! Masih ada surat dari Junghwan yang harus kau baca! Ini adalah yang ditinggalkannya di bangsalnya sebelum dia meninggalkan kita semua!”

Aku berhenti. Kyungmin lalu mengeluarkan sepucuk surat dari balik jasnya dan memberikannya padaku. Aku membukanya.

Untuk Hyora…aku meminta maaf.

Aku tidak bisa lagi melindungimu seperti yang kulakukan dulu…kuharap kau baik-baik saja tanpa diriku. Biar bagaimanpun juga, aku harus melepasmu. Disana…kuharap aku dapat bertemu lagi dengan seluruh keluargaku. Dengan ibuku yang juga sebentar lagi akan meninggalkan dunia ini dan semuanya…mereka yang telah dibunuh oleh Min Sohee.

Aku membelalakkan mataku. “Ini…apa maksudnya?”

“Entahlah. Dia menulisnya sebelum kematiannya. Polisi sudah datang kesini dan melihat surat itu. Sohee sedang diselidiki sekarang.”

Dia benar-benar berbahaya. Min Sohee itu. Berhati-hatilah dengannya. Dia iblis dari neraka. Selama ini aku berpacaran dengannya tanpa mengetahui kenyataan itu. Aku benar-benar bodoh.

Aku bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh.

Dia terus menulis bodoh sampai akhir kertas itu. Tulisannya berantakan. Penuh dengan emosi. Aku menatap kertas itu dengan tatapan tidak percaya.

“Hyora-ssi?” Tegur seseorang. Aku menoleh. Dari pakaiannya sepertinya dia adalah seorang detektif.

“Ne?”

“Kami punya beberapa pertanyaan untuk anda. Kuharap anda mau meluangkan waktu anda…”

***

*Author PoV*

Sohee, yang sedang duduk di bangku ruangan interogasi mengunyah permen karetnya sembari menatap polisi di depannya dengan pandangan merendahkan.

“Ibwayo Agassi! Agassi ingin berada selamanya disini?? Ini sudah berapa jam? Cepat jawab pertanyaanku!!” Bentak polisi di depannya seraya memukul meja di depannya. Sohee tidak bergeming. Dia malah membuat balon dengan permen karetnya dan meletuskannya di depan polisi itu, lalu mengunyahnya kembali. Polisi itu berdiri dan hampir-hampir memukul wanita itu dengan tumpukan kertas yang dipegangnya. Dia lalu mengurungkan niatnya dan duduk lagi di tempatnya dengan amarah memuncak yang berusaha ditahannya. “Aah..JINJJA! Inilah kenapa menginterogasi seseorang yang memiliki status sosial benar-benar menyusahkan! Agassi, setidaknya angkat suaramu! Katakan sepatah atau dua patah kata!”

Sohee tidak menjawab, dia malah tersenyum sinis pada polisi itu.

“Hah, tersenyum? Kau malah tersenyum? Kau benar-benar telah menghabisi kesabaranku! Kalau kau tersenyum seperti itu kau benar-benar terlihat seperti pembunuhnya, ara?” Polisi itu kemudian mendekat pada Sohee. “Benar kau yang membunuh keluarga Seo Junghwan?”

Sohee tidak bergeming.

“Setidaknya anggukkan atau gelengkan kepalamu! Kau bisa membela dirimu dan kalau kau memang tidak bersalah kau bisa memberikan kesaksianmu! Baru pertama kalinya aku berurusan dengan seseorang yang sangat keras kepala sepertimu!” Kesal polisi itu, yang bernama Hongbin, dengan wajah penuh amarah. Dia lalu mengangkat surat yang ditinggalkan Junghwan di hari kematiannya dan menunjukkannya pada Sohee. “Disini jelas-jelas dikatakan kalau kau adalah pembunuhnya! Motifnya jelas, kau menghabisi keluarga Junghwan agar dapat menjalin hubungan sepasang kekasih dengannya! Ini cukup untuk menjadikanmu tersangka utama dalam kasus ini!”

Pintu tempat interogasi itu berlangsung terbuka, masuk ke dalamnya seorang polisi yang lalu membisikkan sesuatu pada Hongbin.

“Mworago? Kenapa aku harus membebaskannya?” Tanya Hongbin tak terima.

“Ketua memberikan intruksi untuk membebaskannya. Katanya bukti yang kita miliki tak cukup kuat untuk membuatnya menjadi tersangka. Itu hanyalah kesaksian seseorang yang sudah mati. Jadi ketua menyuruhmu untuk membebaskannya.”

Hongbin tak mampu mengatakan apapun lagi. Di luar pintu tersebut, sudah berdiri seorang wanita berjas hitam yang merupakan bodyguard Sohee. Wanita itu kemudian berdiri dari tempat duduknya,

“Sugohaesseoyo.” Ucap Sohee pada Hongbin, dia lalu berjalan menuju pintu keluar. Laki-laki itu lalu menatap Sohee penuh amarah.

“Baru sekarang kau buka mulutmu!??”

“Tahan amarahmu! Kau bisa dapat masalah!” Seru polisi di sampingnya sembari menahan Hongbin.

“AAH!!” Teriak Hongbin penuh amarah. Sedangkan Sohee, tersenyum licik lalu menghampiri bodyguardnya.

“Kaja.” Ujar Sohee.

***

*Han Hyora PoV*

Aku sudah membereskan tasku dan sedang berusaha keras membersihkan permen karet yang ada di rok belakangku karena ulah pengecut itu sembari berjalan keluar kelas saat seseorang menghalangi pintu keluarnya. Min Sohee. Aku menelan ludah. Pembunuh itu.

“Permisi…kau menghalangi jalanku.” Ucapku dengan nada bergetar. Isi surat Junghwan masih terekam jelas di otakku. Status sosialnya pastilah yang meloloskannya dari cengkraman hukum.

“Kau sudah menyakiti hatiku…” Ujar Sohee sembari tersenyum melihatku. “Selain menghancurkan hubunganku dengan Junghwan, sekarang kau bahkan melihatku seperti melihat seorang pembunuh? Kau itu benar-benar kejam, ara?”

“Memang benar, bukan?” Balasku berusaha mengumpulkan seluruh nyaliku. ‘Berhati-hatilah dengannya. Dia iblis dari neraka.’

“Wah, kau itu benar-benar bermuka tebal kau tahu? Seharusnya kau meminta maaf karena telah menghancurkan hubunganku dengan Junghwan dan membuatnya bunuh diri! Tapi apa yang kau katakan padaku? Pembunuh? Hah, kau percaya dengan gosip konyol itu?” Kata Sohee sembari berjalan mendekatiku dengan tangan terlipat.

“Gosip konyol? Sejak kapan isi surat Junghwan menjadi sebuah gosip konyol bagimu?” Ujarku berusaha tidak menampakkan rasa takutku, menatap Sohee langsung pada matanya.

“Hah, rupanya gadis sepertimu sudah tidak sadar posisinya ya?” Desis Sohee tajam. “Jangan coba-coba macam-macam denganku jalang tengik! Karena aku memiliki kunci matimu!”

“Apa maksudmu?” Tanyaku. Kunci mati?

“Mollayo? Atau kau hanya berpura-pura tidak tahu? Apa yang sudah kau lakukan…pada seluruh pria itu. Sehingga mereka semua terjatuh pada pesonamu. Termasuk Junghwanku yang malang.” Ucap Sohee sembari mengelus pipiku dengan jari-jarinya.

“Aku tidak mengerti arti dari ucapanmu.” Ujarku dengan nada bergetar. Dia mengetahuinya…

“Kau dan Junghwan sama saja rupanya. Mana mungkin kau tak tahu maksud dari ucapanku dengan nada bergetar seperti itu? Seharusnya kau melatih poker facemu itu. Kau pikir aku bodoh? Seorang wanita mampu menarik hati semua pria tampan hanya dengan satu jentikkan jari. Kira-kira sihir apa yang dimilikinya?” Ujar Sohee sembari tersenyum menatapku. “Kau sudah menggangguku. Kau pikir aku akan diam begitu saja? Orang yang sudah mengusik Min Sohee, orang itu takkan bisa hidup dengan bahagia.”

“Apa maumu?” Sial. Kenapa nadaku harus segemetar ini?

“Akui apa yang sudah kau lakukan…atau aku sendiri yang akan mengungkapkannya. Aku memberimu waktu 3 hari.” Katanya lalu melangkah keluar dari kelasku. Wajahku memucat. Semuanya terbongkar…

***

*Han Hyora PoV*

“Hyora-ya, gwaenchana?” Tanya Hyomin padaku.

“Eo? Eo…” Ujarku sembari berusaha tersenyum.

“Kau jelas-jelas terlihat tidak baik-baik saja. Dari tadi kau tidak memakan makananmu, kau hanya memainkannya dengan sendokmu dengan tatapan kosong. Ada masalah apa? Ceritakan padaku.” Ujar Hyomin. Aku benar-benar mengenal Hyomin eonni. Kalau aku tidak mengatakan masalahku dia akan marah denganku selama berhari-hari. Salahku yang menunjukkan ekspresi seperti ini di depannya.

“Eonni…kalau eonni telah melakukan sebuah dosa yang tak termaafkan apa yang akan eonni lakukan?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau habis melakukan sesuatu?” Tanya Hyomin sembari mengunyah makanannya.

“Mian eonni. Aku tak bisa memberitahumu.” Ujar Hyora sembari menunduk.

“Kau tidak melakukan sesuatu…seperti ritual memuja setan, kan?” Tanya Hyomin seraya menatapku tak percaya.

“Tentu saja tidak! Sudahlah, cepat jawab! Atau aku benar-benar akan seperti ini untuk hari-hari berikutnya!” Ancamku pada Hyomin.

“Arasseo…arasseo! Apa dosa itu menyiksa banyak orang?” Tanya Hyomin lagi. Aku mengangguk. “Kalau begitu aku akan melakukan apapun untuk menghukum diriku sendiri. Dan aku akan menjadikan diriku lebih tersiksa daripada mereka yang tersiksa karena diriku. Aku tidak akan membiarkan sedetikpun dari hidupku merasakan kebahagiaan. Setidaknya dengan begitu aku bisa sedikit memaafkan diriku.”

Deg.

Apa yang selama ini kau lakukan Han Hyora? Kau wanita terkutuk tak tahu malu!

“Karena aku sudah menjawabnya makanlah makananmu!” Perintah Hyomin.

“Eo…” Ujarku sembari berusaha mati-matian menahan air mata yang mendesak ingin keluar dari mataku. Selama ini aku hanya berusaha mencari kambing hitam untuk disalahkan atas dosaku, benar-benar terkutuk.

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s