FF/ IF I KNEW/ BTS-BANGTAN/ pt. 5


Poster FF Nyep

Title : If I Knew (Chapter 5)

Author : Chela

Genre : Romance, Sad, Friendship, School life.

Rating : PG-17

Length : Chapter

Main Cast :

  • Jeon Jungkook (BTS)
  • Kim Taehyung (BTS)
  • Shin Hyewon (OC)
  • Choi Jihyun (OC)

Support Cast :

BTS members & Other OC(s)

Disclaimer : FF ini author sedikit terinspirasi dari sebuah film barat, tetapi sisanya tetap murni ide author, jadi dilarang plagiat/copy-paste karya author, terima kasih ^^)

***

“T-Taehyung?”

Gadis itu terus memandangi Jungkook yang tiba tiba melontarkan pertanyaan kepadanya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Jungkook akan menanyakan hal itu. Kini gadis itu tak tahu harus menjawab apa.

Ne, Taehyung. Ada apa? Apakah dia membuatmu tidak nyaman?” tanya Jungkook terus menatap Hyewon.

“Ah tidak tidak. H-hubunganku baik-baik saja dengannya. Semua berjalan dengan lancar.” jawab Hyewon sedikit memaksakan senyumannya.

Mendengar jawaban Hyewon, Jungkook pun menghela nafasnya sekilas. Ia sendiri tidak tahu apakah ucapan Hyewon itu sebuah kabar baik atau kabar buruk baginya.

“Hmm, araseo. Beritahu aku jika dia menyakitimu ne.” Jungkook membuang tatapannya.

‘Justru itu Jungkook-ah, aku sendiri tidak yakin apakah Taehyung akan menyakiti diriku. Karena dia begitu baik padaku.’ gumam Hyewon dalam hati sambil menatap sunset di depannya.

“Ah aku cemburu dengan Taehyung. Bagaimana jika nanti kau lebih menyukai dirinya dibanding diriku?”

“Hahahaha mwoya! Tenang saja, aku akan lebih memilih sahabatku dibanding siapapun.” kekeh Hyewon menepuk-nepuk kepala Jungkook.

‘Karena kau tidak akan tergantikan oleh siapapun, Jungkook-ah.’

***

Hari senin pun tiba. Itu artinya murid murid Daehan High School harus kembali bersekolah. Pagi itu Hyewon datang ke sekolah cukup pagi, tidak seperti biasanya yang selalu datang hampir terlambat.

Hyewon menuju ke lokernya yang berada di depan kelasnya itu. Namun tiba tiba ia dikejutkan oleh pintu lokernya yang sudah terbuka sedikit. Pintu loker itu nampaknya telah dibobol oleh seseorang. Gadis itu mematung sejenak melihat lokernya yang selalu dikunci itu, kini telah dibobol oleh seseorang. Tangannya pun meraih pintu loker itu, lalu dibukanya loker itu perlahan.

“KYAAAAAAA~!!”

Teriak Hyewon sambil memundurkan tubuhnya dengan cepat. Kedua tangannya menutupi mulutnya, matanya terbuka dengan lebar melihat isi lokernya. Banyak sampah sampah yang dimasukkan ke lokernya, kaos olahraganya telah basah, tulisan tulisan mengutuk juga ditempeli di setiap dinding lokernya.

“Dasar Wanita Bodoh!”

“Pelacur!”

“Mati Kau!”

“Perusak Hubungan!”

Dan yang paling parah, banyak sekali serangga serangga seperti kecoa, cacing, dan belalang yang sengaja dimasukkan ke dalam loker Hyewon. Tidak heran jika gadis itu terlihat begitu panik. Teriakan gadis itu sukses membuat beberapa murid yang melewatinya menoleh kearahnya penasaran.

‘Siapa yang melakukan ini..’ Gumam Hyewon dalam hati dengan tangannya yang bergetar.

Karena begitu terkejut sampai sampai gadis itu tidak tahu harus berbuat apa. Dirinya tidak dapat berpikir jernih saat ini. Begitu banyak pertanyaan yang melintas di pikirannya. Apa yang telah ia lakukan sampai ia mendapat haters seperti ini.

Tiba tiba seorang lelaki menepuk pundak Hyewon pelan. Gadis itupun reflek menoleh ke belakang. Jeon Jungkook, untunglah sahabatnya yang satu itu muncul di saat yang tepat.

“Apa-apaan ini?” tanyanya sambil memandangi loker Hyewon, diambilnya salah satu tulisan di dinding lokernya itu. Lelaki itu membacanya sejenak, lalu diremuknya kertas itu. “Ini pasti ulah Jihyun.” ucapnya geram sambil memukul loker di sampingnya. Saat Jungkook hendak pergi mencari Jihyun, dengan cepat Hyewon menahan bahu Jungkook.

“Jungkook-ah, tunggu. Kau tahu darimana ini semua ulahnya? Kita tidak memiliki bukti. Kita tidak bisa menyalahkannya begitu saja.”

“Baiklah ayo kita ke ruang cctv.” ucapnya dengan serius menatap kedua mata Hyewon. Lelaki itu pun langsung menarik tangan Hyewon untuk segera pergi dari situ. “Aku tidak terima kau diperlakukan seperti ini.”

Memang benar setelah dilihat ternyata ini semua adalah ulah Jihyun. Gadis licik itu sengaja datang lebih pagi lagi untuk melakukan semua rencanya busuknya itu. Melihat itu Hyewon sangat amat kecewa dengan rivalnya, ia bahkan tidak pernah memulai pertengkaran dengan Jihyun. Setelah melihat semua itu, akhirnya kepala sekolah menindak-lanjuti Jihyun. Gadis itu akan segera diberikan beberapa sanksi serta dipanggil kehadiran orangtuanya.

Tampak Jungkook yang tengah membantu Hyewon membersihkan lokernya. Tanpa banyak bicara lelaki itu langsung mencabuti kertas kertas yang ada di situ, serta membuang serangga serangganya. Demikian juga Hyewon yang sibuk membuang sampah sampah yang memenuhi lokernya itu. Namun tiba tiba ia meraih kaos olahraganya.

“Bagaimana aku akan berolahraga hari ini, bajunya basah.” gerutunya sambil memandangi kaos itu.

“Tenang saja, pakailah baju olahragaku.” respon Jungkook tanpa menatap ke arahnya, dirinya begitu sibuk membersihkan loker Hyewon.

Eoh? Bajumu? tidak tidak, nanti bagaimana denganmu? Guru akan memarahimu jika kau tidak mengenakan baju olahraga.”

“Sudah, tidak masalah. Nanti aku akan beralasan kepada guru.”

“T-tapi..”

“Ssstt, jangan membantah Hyewon-ah.” ucap Jungkook sambil menaruh satu jarinya di depan bibir Hyewon.

“B-baiklah, gomawo..” Dengan suara pelan Hyewon mengucapkan terima kasih kepada sahabat lelakinya itu.

***

Mwo?! Skors 3 hari? Ta-tapi gyojangnim..

“Tidak ada tapi tapian Jihyun-ah. Perbuatanmu bully-mu memang kelewatan sehingga kau perlu mendapatkan skors selama 3 hari serta pemanggilan orangtua. Kau sudah tahu bukan konsekuensinya bila melanggar aturan?” Jelas kepala sekolah Daehan High School.

“I-itu aku hanya bercanda gyojangnim.. Se-sebentar lagi Shin Hyewon akan berulang tahun, itulah sebabnya mengapa aku-”

“Baiklah, kalau begitu bercandamu memang kelewatan.” potong kepala sekolah.

“Sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kau boleh meninggalkan ruanganku. Ah, dan jangan lupa.. besok kau tidak boleh masuk sekolah.” ucapan kepala sekolah membuat Jihyun sudah tidak tahan lagi. Akhirnya gadis itupun mengepalkan kedua tangannya, menatap kepala sekolah, kemudian membungkukan tubuhnya sembilan puluh derajat. Dengan kesal ia pun meninggalkan ruangan itu.

“Lihat saja kau Hyewon-ah, aku tidak akan menyerah.” gerutu Jihyun sambil mengambil ponselnya. Setelah mencari kontak yang dituju, tampak gadis itu pun tengah menelepon seseorang.

Ya, aku minta kau beserta rekanmu datang ke sekolahku pukul 4 sore. Kita bertemu di lapangan parkir belakang sekolah. Jangan sampai terlambat, aku punya pekerjaan untuk kalian berdua, mengerti?” setelah mengatakan itu, selang beberapa waktu ia pun mematikan ponselnya. Dilihat layar ponselnya sambil tersenyum licik. Sepertinya gadis itu memiliki rencana busuk yang baru.

Hari ini Hyewon tidak pulang bersama Jungkook maupun Taehyung karena dirinya ada kegiatan ekskul sampai jam 5. Sehingga gadis itu terpaksa menolak ajakan pulang kedua lelaki itu, ia hanya tidak mau membuat mereka menunggunya.

Jihyun telah mengetahui jadwal pulang Hyewon hari ini, maka dengan sengaja ia pun telah membuat rencana busuk. Pada pukul 4 sore, sesuai dengan janjinya Jihyun pergi ke lapangan parkir belakang sekolah. Dari kejauhan, gadis itu sudah bisa melihat 2 orang yang telah ia panggil. Jihyun pun menaikkan salah satu sudut bibirnya. Kedua orang yang dipanggilnya bukanlah orang biasa. Mereka berbadan besar dan juga mengenakan pakaian hitam yang modelnya kurang lazim untuk dikenakan. Begitu pula juga dengan penampilan rambut mereka yang lebat dan kurang rapih. Nampaknya gadis itu telah memanggil 2 preman.

Jihyun meraih sebuah amplop coklat dari tasnya, lalu ia menyodorkan amplop itu kepada kedua preman di depannya. Tanpa mengatakan apapun, kedua preman itu langsung mengintip isi amplop dan menganggukkan kepalanya setuju. Nampaknya sejumlah uang yang diberikan kepada dua orang itu cukup banyak.

“Jadi begini rencananya…” Jihyun pun menjelaskan rencananya dengan panjang lebar.

Tepat pada pukul 5, Hyewon yang telah menyelesaikan kegiatan ekskulnya keluar dari ruangan itu. Bersama dengan Irene dan Wendy, mereka segera menuju ke lobby sekolah.

“Wah, langit sudah hampir gelap. Ayo kita cepat pulang.” ucap Wendy dengan khawatir.

“Hyewon-ah, jalan pulangmu berbeda arah dengan kami. Mungkin sebaiknya kita akan mengantarmu terlebih dahulu sampai di halte bus dekat gang Jeonju yang sepi itu.” sambung Irene.

“Ah, araseo.” Hyewon menjawab dengan senang hati.

Jalan menuju halte bus gang Jeonju memang sepi pada hari biasa seperti ini, apalagi sekarang bukanlah jam pulang murid sekolahan ataupun pekerja. Langit yang mulai gelap menambah kekhawatiran mereka dalam perjalanan pulang.

“Inilah mengapa sebabnya aku tidak suka pulang terlalu sore, terlalu sepi dan berbahaya.”

Tiba tiba saat mereka bertiga berhenti di samping halte kecil itu, muncullah 2 orang preman berbadan besar dari balik gang kecil berjalan mendekati mereka bertiga. Melihat itu Hyewon beserta kedua temannya berusaha untuk tetap terlihat tenang. Namun lama kelamaan kedua preman itu berjalan semakin mendekat ke arah mereka. Wendy dan Irene yang sudah bertatapan sejak tadi mulai panik meraih ponselnya. ‘Bagaimana ini, apa yang harus kita perbuat’ batinnya.

“Hei cantik, belum pulang?” Kedua preman itu kini berdiri tepat di samping Hyewon sambil menggodanya. Tentu saja Hyewon tidak berani membalas perkataanya. Tubuhnya spontan telah menegang serta keringat dingin.

“Mau kuantar pulang? Apa kita bermain di tempatku saja?” Kini salah satu tangan preman itu mulai lancang memegang lengan Hyewon.

Anehnya, kedua preman itu hanya fokus kepada Hyewon. Irene bisa merasakan itu sedari tadi. Dirinya dan Wendy sama sekali tidak dihiraukan. Maka dengan diam diam Irene pun meraih ponselnya dan mengetik sebuah pesan kepada Jungkook.

To : Jeon Jungkook

 

Jungkook-ah,

Cepat datang ke halte bus dekat gang Jeonju.

Hyewon dalam bahaya!

 

Sent. (5.24 p.m)

“Lepaskan!” Hyewon reflek menyingkirkan tangan preman itu dengan kasar.

“Wah wah berani sekali kau ya!” Kedua preman itu langsung menarik tangan beserta tas sekolah Hyewon.

“LEPASKAN! KYAAAAAAA~! TOLONG!” Hyewon teriak begitu kencang namun di jalan itu sama sekali tidak ada orang yang berlalu lalang.

Dengan panik Irene dan Wendy pun langsung membantu Hyewon untuk melepaskan tangan tangan preman itu dari tubuh Hyewon. Sambil berteriak minta tolong mereka berdua berusaha untuk menarik-narik tangan preman itu. “TOLONG!! TOLONG!!” Beberapa kali Irene dan Wendy berusaha memukul-mukul preman itu. Bahkan menjambak rambutnya. Namun dengan kasar preman itu mendorong tubuh Wendy hingga terjatuh ke aspal. “Wendy-ah! cepat cari bantuan!” teriak Irene yang tengah sibuk merebut kembali tas Hyewon. Dengan sigap Wendy pun langsung meraih ponselnya dan menelpon seseorang.

tut… tut… tut…

“Taehyung?!”

“Taehyung-ah! C-cepat kemari! Hyewon.. Hyewon.. Ia dalam bahaya!”

“…”

“Uhh.. Ja-jalan kecil! Eoh, halte bus! Dekat gang Jeonju! Cepat kemari Taehyung-ah!!!”

Setelah menutup telepon, Wendy pun kembali berdiri menolong Hyewon.

Dibalik gang kecil tersebut, tampak seorang gadis yang tengah tersenyum melihat kejadian yang ada di depan matanya. Ia sukses menyuruh kedua premannya untuk menculik dan menaruh Hyewon dalam bahaya. Dirinya tidak sadar bahwa kini ia benar benar terlihat seperti iblis.

***

‘Mwo? Hyewon dalam bahaya?’ dahinya berkerut ketika membaca pesan dari Irene. Jungkook pun menatap layar ponselnya sejenak, lalu ia sadar bahwa sahabatnya benar benar dalam keadaan bahaya. Dengan cepat Jungkook pun langsung turun ke garasinya. Tanpa berpikir apa apa lagi, dirinya langsung menaiki mobilnya dan segera pergi ke lokasi.

Selama perjalanan, wajah Jungkook pun terlihat tidak santai. Ia menatap jalan di depannya penuh keseriusan. Jantungnya pun berdegup cukup kencang. Banyak sekali pertanyaan yang melintas di pikirannya. Ia sangat amat khawatir dengan keadaan Hyewon. Bahaya macam apa lagi yang melanda gadis malang itu. Ia pun langsung menambahkan kecepatan mobilnya.

Setelah sampai di halte bus gang Jeonju, Jungkook memang mendapati pemandangan yang pahit. Dilihatnya tiga gadis yang sibuk melawan dua preman berbadan besar itu. Terlebih Hyewon yang sudah ditahan-tahan oleh kedua preman itu. Jungkook membelalakan matanya. Dengan cepat ia turun dari mobil dan berlari ke arah kerumunan itu.

Namun tiba tiba ada seorang lelaki lain yang berlari dari arah lain. Lelaki itupun juga berlari ke arah kerumunan itu. Wajahnya terlihat panik dan terdapat sebuah keseriusan di matanya. Ternyata Kim Taehyung datang tepat waktu.

BHUKKKK!

Sebuah tonjokan kuat dari Taehyung mendarat di salah satu wajah preman itu hingga membuatnya terjatuh ke aspal. Begitu pula dengan Jungkook yang ikut menghantam preman lainnya. Pukulan yang mereka berikan begitu keras hingga membuat hidung beserta mulut preman itu sedikit berdarah.

“KYAAAAAA~!” teriakan itu keluar dari mulut Irene dan Wendy yang tidak biasa melihat aksi kekerasan.

Beberapa kali Taehyung menonjok wajah preman itu hingga melebam. Terlihat keseriusan dan amarah pada wajahnya. Namun tiba tiba Preman lainnya menghantam wajah Jungkook hingga lelaki itu terjatuh.

“JUNGKOOK-AH!!” teriak Hyewon yang berdiri di dekat Irene dan Wendy.

Saat Taehyung telah menghabisi lawannya, Taehyung pun mulai berjalan ke arah preman yang menghantam Jungkook. Tepat saat preman itu hendak menghantam Jungkook lagi, dari belakang Taehyung menendang punggung preman itu dengan keras. Tendangannya sukses membuat preman itu jatuh, masih dengan amarah yang belum reda, Taehyung pun menghampiri preman itu dan mulai menghabisinya.

Untungnya, preman yang telah dipanggil Jihyun kurang mahir dalam pertengkaran. Bahkan Taehyung dapat menghabisinya hingga berdarah dan lebam-lebam. Dengan wajah yang ketakutan, kedua preman itu menyerah. Mereka pun langsung kabur sambil berlarian.

Jungkook mulai bangkit berdiri dari jatuhnya. Hyewon beserta kedua temannya masih tidak percaya melihat aksi pertengkaran yang barusan terjadi. Taehyung yang tengah berdiri, menatap Hyewon sejenak lalu dirinya menghampiri Jungkook. Ditariknya baju Jungkook dengan kasar.

“Kau… Lelaki macam apa yang tidak tahu sahabatnya dalam bahaya! Pantaskah kau disebut sahabat?!” bentak Taehyung sambil mengangkat satu tangannya yg mengepal.

Melihat itu, Hyewon langsung berlari ke arahnya dan berdiri di tengah tengah mereka. Kedua tangannya membentang lebar seperti hendak melindungi Jungkook dari pukulan maut Taehyung.

“Taehyung-ah! Cukup! Hentikan!” tatapan Hyewon penuh dengan rasa kekhawatiran dan takut. tangannya bergetar dan jantungnya berdegup dengan kencang. Dirinya benar benar berharap bahwa Taehyung tidak akan memukul sahabatnya.

Taehyung mengehembuskan nafasnya kasar, dirinya menatap Hyewon dengan dingin. Dengan cepat ia melepaskan baju Jungkook yang ditariknya. Dirinya begitu kecewa mendengar ucapan gadis itu. Setelah menatap Jungkook yang berada di belakang Hyewon sekilas, dirinya membalikan tubuh kemudian berjalan meninggalkan mereka semua.

Irene dan Wendy yang sedari tadi menyaksikan semua itu hanya terdiam sambil berpegangan. Tak lupa keseriusan pun ada pada wajah mereka.

Hyewon menatap punggung Taehyung yang mulai menjauh darinya. Dirinya pun membalikkan tubuh dan menatap Jungkook lamat. Tiba tiba saja raut wajahnya berubah menjadi khawatir.

Gwaenchana?” ucap gadis itu khawatir sambil menyentuh sudut bibir Jungkook yang terluka.

Eoh, aku baik baik saja. Bagaimana denganmu?” balas lelaki itu sambil melihat kondisi tubuh Hyewon.

“Syukurlah, Nado gwaenchana.” jawabnya sambil tersenyum.

“Jungkook-ah, maafkan aku karena kurang berhati-hati. Seharusnya aku-”

Aniya. Aku yang seharusnya minta maaf. Benar kata Taehyung, aku hampir gagal melindungimu.” potong Jungkook penuh penyesalan.

Lelaki itu menarik tangan Hyewon dan memeluknya dengan erat. Satu tangannya berada kepala Hyewon, dan tangan lainnya melingkar di pinggang gadis itu. “Aku berjanji ini tidak akan terjadi lagi.” ucap lelaki itu. Perlahan gadis itu mulai membalas pelukan Jungkook. Kedua tangannya pun berada di punggung lelaki itu. Matanya mulai berlinang air mata karena perasaannya begitu tercampur aduk saat ini. Senang, sedih, kesal, takut, khawatir. Semua bercampur menjadi satu.

Namun ditengah tengah momen itu, ponsel Jungkook berbunyi. Setelah ia melepas pelukannya, Jungkook pun segera mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Dilihat layar ponselnya yang berbunyi, dan disitu terpampang jelas nama salah satu pelayan rumahnya.

“Ada apa?”

“Tuan muda, Ibumu telah batuk berdarah dan kini beliau sulit bernafas. Tetapi jangan khawatir karena kami sudah memberinya beberapa obat. Kami juga sudah menghubungi ayahmu namun beliau belum bisa kemari. Bisakah tuan muda agar lekas sampai di rumah?” pinta salah satu pelayan rumahnya.

“Aku akan pulang sekarang.” jawab Jungkook singkat lalu mematikan panggilannya.

Wae? Ada apa?” tanya Hyewon penasaran sambil menghapus air matanya.

“Sesuatu terjadi pada ibuku. Aku harus cepat pulang. Kau, ikut saja denganku.” Saat Jungkook hendak menarik tangan Hyewon, dirinya teringat dengan kedua teman Hyewon.

“Ohya, lebih baik kalian berdua kuantar pulang. Hari sudah semakin gelap dan ini terlalu berbahaya untuk pulang sendiri.” Ucap Jungkook dengan gentle-nya.

Akhirnya Irene dan Wendy pun diantar pulang terlebih dahulu oleh Jungkook dengan cepat. Kemudian bersama dengan Hyewon, ia pun pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, seperti biasa Jungkook dan Hyewon disambut oleh pelayan rumahnya.

“Tuan muda, apa yang terjadi pada wajahmu?”

“Tolong panggilkan perawat.” perintah pelayan itu kepada pelayan lainnya.

“Tidak usah, aku baik baik saja. Apakah Ibu berada di kamarnya?” ucap Jungkook yang berdiri di samping Hyewon.

“Iya, tuan muda.”

“Hyewon-ah, tunggu sebentar. Aku akan menghampiri ibuku.” setelah mengucapkan itu, Jungkook pun pergi menemui ibunya. Namun ia tidak lupa untuk membersihkan lukanya terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar ibunya tidak khawatir.

Ketika Jungkook berada di depan kamar ibunya, ia sudah bisa mendengar suara batuk yang dikeluarkan oleh ibunya. Dirinya pun begitu gugup namun ia berusaha untuk tetap terlihat tenang. Diketuknya pintu kamar itu dan kini ia memasuki kamar ibunya.

Eomma?” Mata Jungkook mencari-cari keberadaan ibunya.

Ibunya yang kini terbaring dikasur beserta 2 pelayan yang menemaninya hanya bisa batuk batuk mendengar panggilan putranya.

Jungkook pun segera menghampiri ibunya yang terbaring lemah di kasur.

Eomma…” panggilnya pelan sambil memegang tangan ibunya.

“Jungkook-ah.” jawab ibunya tersenyum menatap putra tunggalnya itu.

“Apakah eomma baik baik saja? kita harus tetap melakukan rutinitasmu. Ayo kita check-up ke rumah sakit.”

“Mengapa kita sering sekali ke rumah sakit? aku baik baik saja Jungkook-ah. Ini hanya sakit kecil.” Ibunya terkekeh mendengar ucapan putranya.

Aniyo, kita harus ke rumah sakit eomma. Jika tidak, kita akan membuat Appa khawatir.”

Aigoo, mengapa orang orang begitu berlebihan? baiklah ayo kita ke rumah sakit.” ucap ibunya sambil tertawa kecil. Sementara Jungkook sama sekali tidak tersenyum. Dirinya begitu khawatir akan keadaan ibunya.

Tampak Jungkook turun tangga bersama ibunya dan juga kedua pelayannya. Pemandangan itu membuat Hyewon yang terduduk sambil memegang secangkir teh mulai berdiri.

Annyeonghaseyo eommonim.” Hyewon membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat.

“Hyewon-ah, kau disini!” Ibu Jungkook senang melihat kehadiran Hyewon.

N-ne eommonim hehe.”

“Apakah kau akan ikut mengantarku ke rumah sakit?”

Ne eommonim!” jawabnya dengan yakin.

“Baiklah, kajja Jungkook-ah.” ucap Ibu Jungkook sambil menggandeng lengan putranya.

***

Ya, TaeTae-ah! Mengapa kau tadi pergi dengan terburu-buru?” tanya Jimin sambil menyantap omelette-nya di meja makan.

Taehyung yang baru saja kembali itu tidak langsung membalas perkataan Jimin. Lagi-lagi dirinya tidak bersemangat. Ia pun melemparkan tubuhnya ke sofa.

“Aku habis menyelamatkan pujaan hatiku dari serangan maut.” jawabnya datar.

Ya jangan bercanda.” Jimin terkekeh dengan matanya yang menyipit itu.

“Itu benar. Aku tidak bercanda.”

Eoh? Ada apa dengan Hyewon?”

Taehyung pun menceritakan kejadian tadi seadanya kepada Jimin.

“Dan bagian yang paling mengerikan adalah bukan dimana saat aku melawan preman preman itu. Tetapi saat gadis itu melindungi sahabatnya tepat di hadapanku.” ucap Taehyung sambil memandangi langit langit apartemennya.

Oh my God.” respon Jimin singkat sambil mengunyah makanannya.

“Aku tidak tahu Jimin. Jelas sekali gadis itu menyukai sahabatnya sendiri. Aku sudah merasakannya sejak dulu.” Taehyung menghela nafasnya.

“Taehyung-ah, jangan dulu kau pupus harapan.”

“Bukan begitu. Hanya saja aku heran, apa yang telah Jungkook lakukan hingga gadis itu begitu menyukainya.” jawab Taehyung kepada sahabatnya yang tidak berhenti makan itu.

“Bukan bermaksud apa apa, tetapi kita tidak tahu apa yang telah mereka lalui bersama-sama sejak dulu. Apa yang telah membuat mereka begitu dekat. Kau tahu sendiri kan mereka bersahabat se-jak ke-cil.” Jimin melontarkan opininya.

Mendengar itu Taehyung terdiam sejenak kemudian mengacak rambutnya. Dirinya terlihat begitu stres hanya karena memikirkan gadis yang disukainya.

‘Hyewon-ah, kau mulai membuatku gila.’

***

“Apa gejala gejala yang telah Aera-ssi alami?”

“Batuk darah dan kesulitan bernafas. Lalu saya sering merasa letih tanpa sebab, dan juga saya kehilangan berat badan padahal saya sudah mengatur pola makan dengan baik.” jawab Lee Aera, Ibu Jungkook.

Dokter itu mendengarkan pasiennya sambil menulis sesuatu pada kertas di hadapannya.

“Sudah berapa lama gejala ini terjadi pada anda?”

“Hmm.. mungkin sudah berjalan 5-6 bulan.”

“Aera-ssi, gejalanya sudah berjalan cukup lama. Apakah sebelumnya anda sudah pernah check-up atau melakukan pengobatan di tempat lain?”

Ne, tetapi baru 3 kali sejak bulan lalu.” jawab ibu Jungkook.

“Baiklah, mari kita tes darah terlebih dahulu. Sehabis itu akan dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan X-ray dada.”

Lee Aera mengikuti instruksi dokter beserta prosedurnya. Setelah beberapa lama, Jungkook pun keluar dari ruang pasien. Lelaki itu menatap Hyewon yang sedari tadi duduk menunggunya di luar. Ia pun menghampiri gadis itu dan duduk di sebelahnya. Wajahnya begitu datar dan tubuhnya lemas. Tatapannya yang kosong pun terarah ke lantai. Hyewon meraih tangan Jungkook dan menggenggamnya. Gadis itu menatap Jungkook khawatir, seolah memberi isyarat agar lelaki itu memberi tahu kondisi ibunya.

“Kanker paru paru, stadium 1.” ucap Jungkook pelan.

Wajah Hyewon seketika berubah. Gadis itu begitu terkejut akan penyakit yang melanda ibu Jungkook. Hyewon pun memejamkan matanya sejenak berusaha untuk tetap terlihat tenang.

“Apakah sel kankernya sudah menyebar?” tanya gadis itu dengan hati-hati.

“Tidak. Sel kanker terbatas pada area paru-paru saja. Jaringan disekitar paru-paru tetap normal.” jawab Jungkook seadanya.

“Jungkook-ah, mengapa kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya?”

Mendengar pertanyaan Hyewon, lelaki itu hanya terdiam sejenak dan tetap menatap lantai rumah sakit.

“Aku tahu kau punya masalah sendiri. Aku hanya tidak ingin menambahimu beban pikiran.”

“Jungkook-ah.” Hyewon berusaha memanggil agar lelaki itu mau menatapnya. Namun Jungkook hanya meliriknya sambil mendengarkan.

“Masalahmu jugalah masalahku. Begitu pula sebaliknya.. Apapun yang terjadi kita akan menghadapinya bersama-sama. Kita akan mengatasinya bersama-sama. Bukankah itu arti dari persahabatan?” gadis itu berusaha menghibur dan meyakini Jungkook.

‘Yah, walaupun aku tidak yakin apakah ini persahabatan atau lebih.’ lanjut Hyewon dalam hati.

Gomawo.” akhirnya Jungkook menatap gadis itu sambil mengucapkan terima kasih karena telah membuatnya sedikit lebih nyaman.

***

Hari yang telah ditunggu-tunggu namun menegangkan ini akhirnya tiba. UKDHS (Ujian Kelulusan Daehan High School) untuk kelas 3 akan segera dimulai. Tampak di koridor sekolah murid murid ramai membicarakan ujian. Tak terkecuali Hyewon bersama dengan kedua temannya.

Good luck ya chingu!” sahut Irene semangat sambil mengepalkan kedua tangannya.

Eoh! kalian juga ya!” saat membalas ucapan Irene tiba tiba saja mata Hyewon teralihkan oleh lelaki yang lewat di belakangnya. Tanpa meninggalkan kata kata dirinya pun membalikkan badan dan mengikuti langkah lelaki itu.

Hyewon pun menepuk pundak lelaki itu sekilas. Saat lelaki itu menoleh ke arahnya, muncul senyuman lebar pada wajah gadis itu.

“Taehyung-ah, Apakah kau siap untuk ujian?” tanya Hyewon dengan ceria.

“Hyewon? Ujian? Ahh.. tentu saja aku siap.” jawab lelaki itu sambil tersenyum tipis.

Taehyung memang mulai bertingkah beda semenjak kejadian seminggu yang lalu, saat Hyewon lebih membela Jungkook ketimbang dirinya. Hyewon tentu saja bisa merasakan perbedaan itu. Di sekolah pun ia menjadi sangat jarang melihat keberadaan Taehyung. Entah mengapa gadis itu merasa Taehyung seperti menjauhinya. Karena gadis itu tetap ingin dekat dengan Taehyung, Hyewon pun berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka.

“Semoga kita lulus dengan hasil yang terbaik ya, jangan lupa berdoa Taehyung-ah!” Hyewon terus menyemangatinya sambil tersenyum.

Eoh, kau juga.” balas lelaki itu sedikit memaksakan senyumannya.

“Nanti ketika lulus kau ingin mengambil jurusan apa?”

Melihat Hyewon dari kejauhan membuat Jungkook berniat untuk menghampirinya. Di kerumunan murid murid itu, dirinya hanya bersama Hoseok sedari tadi. Namun saat Jungkook berjalan ke arahnya, dilihatnya lawan bicara gadis itu, Kim Taehyung. Melihat Hyewon yang tengah asik mengobrol bersama Taehyung membuatnya mengurungkan niatnya sendiri. Jungkook pun berhenti sejenak, ditepuknya lengan Hoseok dan dia segera mengajak Hoseok untuk berjalan ke arah lain.

Ujian pun dimulai. Setiap kelas diberikan waktu sekitar 2 jam untuk mengerjakan soal. Setelah 2 jam itu usai, murid diperbolehkan untuk langsung pulang. Kegiatan itu terus berjalan selama 4 hari. Karena hanya ada 4 mata pelajaran yang perlu diuji yakni Bahasa Korea, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA/IPS. Pekan UKDHS memang membuat semua murid mengurung dirinya untuk belajar di rumah. Sedikit dari mereka yang berani keluar bermain saat pekan UKDHS. Meski masa masa itu adalah masa yang sulit, namun badai pun pasti berlalu.

Setelah pekan UKDHS selsai, akhirnya hasil ujian pun telah dibagikan. Hyewon, Jungkook, Taehyung, Irene, Wendy, Hoseok dan Jihyun pun telah lulus dengan hasil yang memuaskan. Hyewon juga berhasil mendapatkan beasiswa di Konkuk Univesity, Seoul. Mendengar kabar itu Hyewon pun sangat senang, begitu pula dengan kedua orangtuanya yang sangat bangga mengenai putrinya.

Setelah itu, akhirnya mereka semua menghadiri acara graduation.

***

“Apakah kau bangga denganku?” Tampak Hyewon berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Sambil bermalas-malasan di kasur, malam ini Hyewon menghabiskan waktunya untuk mengobrol bersama Jungkook.

Eoh, tentu saja. Bisa mendapatkan beasiswa, itu hal yang luar biasa.”

Mendengar ucapan Jungkook, gadis itu tersenyum senang.

“Biar kutebak, saat di Konkuk University nanti kau akan mengambil jurusan art. Benar kan?”

Maja! benar sekali hehehe, kau memang tahu aku.” jawab Hyewon atas tebakan sahabatnya.

“Jungkook-ah, ngomong-ngomong.. Apakah kau sudah menentukan akan masuk ke universitas apa?”

Pertanyaan Hyewon tidak langsung dijawab oleh Jungkook. Dirinya terdiam sejenak, di balik telepon itu, lelaki itu tengah menyiapkan diri untuk memberitahu sesuatu yang penting.

“Hyewon-ah..”

Wae?

“…”

“…”

“Aku ingin memberitahumu sesuatu, tetapi berjanjilah kepadaku bahwa kau tidak akan sedih.” ucap Jungkook yang membuat gadis itu penasaran.

“Memangnya apa yang akan kau katakan?”

“Janji dulu kepadaku.”

A-aniyo, aku tidak bisa janji karena itu tergantung. Bisa saja yang kau katakan akan membuatku sedih namun bisa saja tidak.” jawab gadis itu sambil menatap langit langit kamarnya yang kosong.

“Cepat beri tahu…”

*Flashback*

“Jungkook-ah, demi kelancaran dalam melanjutkan perusahaan ayahmu nanti, aku menginginkan agar kau kuliah di tempat ini.” pinta Ibu Jungkook sambil menunjuk tempat universitas yang terpampang pada layar laptop itu.

Jungkook pun melihat lokasi universitas itu. Tiba tiba saja dahinya berkerut lalu dirinya terdiam sejenak.

“Tetapi eomma, Tidakkah universitas ini terlalu jauh?” tanya Jungkook berharap ibunya berubah pikiran.

Aniya, ibu menginginkan agar kau mendapatkan pendidikan yang terbaik. Dan disinilah tempat yang sangat bagus.” jawab Ibunya sambil tersenyum tipis.

Eomma, di Seoul juga banyak universitas unggul dan mengapa-”

Uhuk.. uhuk.. uhuk..

Ibu Jungkook mulai batuk batuk kembali. Melihat keadaan Ibunya, Jungkook menghentikan kata-katanya sejenak. Ia mulai berpikir untuk menuruti segala kemauan ibunya. Dirinya tidak dapat membantah lagi. Ia tidak ingin membuat ibunya kecewa. Ia hanya ingin membuat ibunya berbahagia. Walaupun sangat sulit untuk menyetujui permintaan ibunya itu, Namun ini adalah hal yang dapat Jungkook lakukan demi membahagiakan ibunya. Akhirnya dengan berat hati lelaki itu pun setuju.

Araseo eomma. Aku akan kuliah di tempat itu.” ucap Jungkook sembari mengusap-usap punggung ibunya.

*Flashback End*

“Hyewon-ah, aku akan kuliah di Amerika Serikat.”

Mwo?” Seketika jantung Hyewon seperti berhenti berdetak. Bibirnya pun ikut mematung. Dirinya begitu kaget hingga ia membulatkan matanya. Namun gadis itu berusaha agar tetap terlihat tenang.

“A-Amerika Serikat? Hahahahaha kau pasti bercanda kan?” bibir gadis itu mulai bergetar.

“Tidak.. aku tidak bercanda. Harvard Univesity di Cambridge, Massachusetts. Aku sudah mendaftarkan diri di situ.”

A.. Aniya! kau pasti bercanda hahahahaha.” tak sadar air mata mulai berlinang pada mata gadis itu.

“Hyewon-ah..”

“Y-Yang aku tahu kau akan kuliah bersamaku di sini, di Seoul. Bukankah begitu katamu?” suara gadis itu mulai bergetar.

“Maafkan aku.. aku terpaksa harus kuliah disitu. Ini semua adalah permintaan ibuku.” kini suara Jungkook mulai memelan.

“Ayo katakanlah bahwa kau akan kuliah di Seoul.” balas gadis itu tak mau menerima kenyataan.

“Hyewon-ah..”

“Dan itu semua hanya bohong kan…”

“Hyewon..”

“ITU SEMUA BOHONG KAN?!” sentak gadis itu tiba tiba.

Suasana pun berubah menjadi hening. Mereka berdua terus terdiam tanpa kata. Di satu sisi Hyewon sangat tidak percaya atas perkataan Jungkook. Dirinya terus mengelak realita. Ia tidak bisa menerima keputusan sahabatnya yang satu ini. Sementara di sisi lain, Jungkook sangat amat bimbang dengan perasaannya. Ia tahu segala sesuatu akan memiliki resiko, namun demi membahagiakan ibunya ia rela melakukan apa saja. Jungkook pun merasa sangat bersalah karena harus menyakiti Hyewon sekali lagi.

Hiks…

 

Hiks…

“Me-mengapa kau tidak memberitahuku sebelumnya..” ucap gadis itu lirih sambil terisak.

“Hyewon-ah, kau menangis?” tanya Jungkook dengan berhati-hati.

“M-maafkan aku, aku sama sekali tidak bermak-”

tut… tut… tut…

Telepon pun terputus.

Gadis itu sengaja mematikan panggilan itu. Hyewon benar benar tidak dapat menahannya. Air mata telah mengalir deras di pipinya. Kedua tangannya yang terus bergetar menutupi seluruh wajahnya. Ruangan itu kini dipenuhi oleh tangisan dan isak.

‘Mengapa harus di luar negeri.’ kata kata itu terlintas di benaknya. Tangisannnya pun tak kunjung berhenti.

‘Apa yang harus kulakukan. Long Distance Relationship?’

 

‘Bisakah aku melakukan itu?’

‘Membayangkannya saja sudah membuatku sakit.’ Begitulah kata kata yang terus terlintas di benaknya. Matanya yg mulai sembab itu terus mengeluarkan air mata.

Drrttt… Drrttt…

Ponsel yang terletak di sebelah kepala Hyewon terus berbunyi. Tanpa melihatnya gadis itu pun sudah tahu bahwa peneleponnya adalah Jungkook. Ia terus memikirkan ucapan lelaki itu hingga tidak ingin menjawab panggilannya.

Drrttt… Drrttt…

10 menit pun berlalu sejak ia memutus teleponnya. Kini Hyewon hanya terbaring menatap langit langit kamar yang kosong. Wajahnya begitu datar dan suram. Air mata yang mengering di pipinya, serta matanya yang bengkak. Gadis itu benar-benar suram.

Tok.. Tok.. Tok..

Ketukan pada pintu kamarnya sukses membuat matanya melirik ke sudut itu.

Noona-ya, Jungkook hyung datang!” suara Hansoo terdengar cukup kencang dari balik pintu.

Jungkook pun membuka kenop pintu dan memasuki kamar Hyewon perlahan. Hyewon yang tengah berbaring segera memposisikan tubuhnya duduk sembari mengusap wajahnya.

“A-apa yang kau lakukan..” tanya Hyewon tanpa memandang Jungkook.

Jungkook pun segera menghampirinya lalu memeluk gadis itu dengan hangat. Akibat tingkah lelaki itu, Hyewon pun kembali menetaskan air mata dan terisak pelan. tangannya memukul lemah dada Jungkook, pertanda bahwa dirinya amat kesal.

Wae..” suara Jungkook terdengar jelas di telinga Hyewon. “Mengapa kau begitu sedih? aku hanya pergi untuk sementara, setelah itu aku akan kembali ke Korea. Aku berjanji..”

Hyewon pun mendorong tubuh Jungkook pelan, membuat lelaki itu melepas pelukannya. “Berapa lama?” tanya gadis itu tanpa memandang ke arahnya.

“Hanya 4 tahun. Sebentar bukan?” Jungkook berusaha meyakinkan Hyewon sambil terus menatap wajahnya.

Hyewon pun hanya menghela nafas berusaha untuk menerima kenyataan. Akhirnya Hyewon pun mulai mengangguk pelan sembari mengusap wajahnya. “A.. araseo.” ucapnya.

Mendengar itu Jungkook pun tersenyum tipis sambil menatap Hyewon. Ia tahu bahwa Hyewon menjawab itu tidak sepenuh hatinya. Namun apa yang bisa dilakukannya, dirinya pun juga tidak ingin semua ini terjadi.

“Berjanjilah untuk menungguku kembali eoh?” tanya Jungkook sambil membelai rambut gadis itu. Sementara Hyewon pun mulai menaikkan sudut bibirnya hingga tersenyum kecil. Ia pun mengangguk yakin.

‘Hanya saja aku tidak bisa jauh jauh darimu, Jungkook-ah.’

***

Annyeonghaseyo, nuguseyo?” bungkuk salah satu pelayan rumah Jungkook.

“Ah, Choi Jihyun imnida. Bolehkah aku bertemu dengan Jungkook? Aku temannya.” gadis itu pun tersenyum ramah.

Ne, tunggu sebentar.”

Pelayan itu pun memanggil Jungkook. Tak lama kemudian sosok lelaki itu muncul dari balik pintu.

“Jihyun?” Jungkook yang hanya memakai kaos dan celana sebatas lutut itu mengerutkan keningnya.

“J-Jungkook-ah, ada sesuatu yang ingin kubicarakan.” ucap gadis itu sembari menaruh kedua tangannya di belakang punggung.

Jungkook menoleh ke arah pelayan pelayan yang ada di belakangnya, kemudian ia mengangguk sekali. Jungkook mengisyaratkan agar mereka meninggalkan lelaki itu berdua dengan Jihyun, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan. Setelah pelayannya tidak menampakkan diri, Jungkook pun merapatkan pintu rumahnya.

“Ada apa?” katanya sembari menghela nafas.

“Kudengar-dengar, besok kau akan berangkat dan menetap di AS untuk kuliah..” gadis itu memainkan jemarinya.

Eoh, wae?” jawab Jungkook cuek.

“H-hanya saja, aku ingin mengucapkan salam perpisahan.” ucapnya kemudian menunduk. “Baik-baiklah di sana, belajar yang giat, dan jangan lupa jaga kesehatan.” Kepala gadis itu terus tertunduk tak mau mendongak. Jungkook pun hanya terdiam memandangnya. “Aku.. aku juga ingin minta maaf lagi atas kejadian waktu itu.”

“Sudahlah tak usah mengungkitnya lagi, aku sudah memaafkanmu.” jawab Jungkook cepat ketika mendengar kalimat itu.

Jihyun pun segera mendongakkan kepala dan tersenyum ke arahnya. “Benarkah?” tanyanya dengan mata berbinar.

Jungkook pun hanya mengangguk sembari tersenyum tipis. “Hari sudah malam, pulanglah istirahat.”

“Ah ne.. ne.. baiklah kalau begitu aku pulang ya? Annyeong Jungkook-ah!” gadis itu pun tersenyum kemudian melambai ke arahnya. Namun tiba tiba gadis itu langsung memeluk Jungkook dengan cepat. Jungkook pun membulatkan matanya kaget. Ia sama sekali tidak membalas pelukan Jihyun. Setelah melepaskan pelukannya, Jihyun pun menatap Jungkook lamat sembari tersenyum.

“Annyeong.” ucap Jungkook datar, kemudian membuka pintu rumahnya.

Jihyun pun membalikkan tubuhnya siap pergi. Hatinya begitu berbunga-bunga hingga membuatnya tersenyum terus.

***

Tampak seorang lelaki tengah dikelilingi oleh teman temannya. Lelaki itu mengenakan jaket tebal berwarna hitam serta kaos putih di dalamnya, celana jeans dan juga sepatu putih. Lelaki itu membawa satu koper yang sangat besar dan juga beberapa tas yang ditentengnya. Jeon Jungkook pun siap berangkat ke Amerika.

“Kookie-ah, baik baiklah di sana! Jangan lupa bawakan aku seorang gadis ketika kau kembali ke Korea!” ucap Hoseok sambil terkekeh.

“Ada ada saja kau, hyung.” Jungkook menjawab Hoseok dengan tertawa kecil.

“Jangan lupa sering sering mengabariku. Ketika ada waktu berlibur jangan lupa untuk pulang ke Korea.” Hyewon menaruh satu tangannya di pundak Jungkook.

“Iyaa, dasar bawel.” Jungkook juga menaruh tangannya di bahu Hyewon. Mereka pun bertatapan sembari tersenyum.

“Ya, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?” sahut Jungkook kepada lelaki yang sedari tadi hanya berdiri memandangi mereka. Hyewon dan Hoseok pun reflek ikut menoleh ke arah lelaki itu.

Take care. Apa itu cukup?” jawab lelaki yang bernama Kim Taehyung itu. Sebenarnya lelaki itu ikut datang mengantar Jungkook hanya karena ia ingin menemani Hyewon.

Mendengar itu Jungkook hanya menghela nafas kemudian tertawa kecil. “Kemarilah aku ingin berbicara sesuatu padamu.” ucap Jungkook sambil meninggalkan Hyewon dan Hoseok. Bersama dengan Taehyung, dirinya berdiri cukup jauh dari Hyewon dan Hoseok.

“Ada apa?” tanya Taehyung dengan wajah datar.

Aigoo, aku tidak percaya akan mengatakan ini.” ucap Jungkook dengan berat hati. Dirinya seperti terpaksa untuk mengatakan ini. Setelah menghela nafas panjang, Jungkook pun menatap Taehyung.

“Tolong jagalah Hyewon untukku.”

to be continued.

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

6 thoughts on “FF/ IF I KNEW/ BTS-BANGTAN/ pt. 5

  1. demi apa gua mulai sebel sama sikapnya hyewon yang gaje –”
    baper baca nih ff… but fighting ya thor nulisnya !!!!

  2. Kok aku ngeship taehyung-jihyun yah :’v *dibacok*
    Gak kok bercanda hmz;( aku suka nih sama ff nya. Lanjut yah :’v pokonya harus lanjut secepat mungkin! .maksa
    Keren ff nya thor bikin baper;;((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s