FF/ FALL/ BTS-BANGTAN/pt. 1


IMG_20150822_100730

Title: Fall

Genre: Romance, drama, angst.

Rating: T

Cast: Jeon Jungkook, Kim Jung Rae(OC), Kim Seok Jin.

Author: Silence Lullaby

Disclaimer: Characters belong to BigHit and other agencies (I only own the OC *sobs*). Story plot originally by me. All rights reserved.

Warning: Alur lambat, Sweet boring shit!!

Happy Reading^^

Copyright © Silence Lullaby 2015

Orang bilang cinta bisa disebut sebagai perasaan nyaman dan bahagia saat kau bersama orang tertentu. Lalu bagaimana kau mengetahui siapa orang yang kau cintai.

Seseorang menagatakan padaku, untuk mengetahui siapa orang yang kau cintai adalah saat kau sedang sedih atau senang, dia yang muncul dipikiranmu pertama kali saat itulah orang yang kau cintai.

Entahlah, aku belum pernah merasakannya, tidak, sampai aku bertemu dengannya.

***

Aku terbangun dari tidurku, membuka mata secara terpaksa. Hentakan keras dikaca jendela membuatku tersentak kaget. Beranjak bangun kubuka tirai jendela kamarku dan aku kembali terkejut melihat seekor burung kecil yang sedang mematuk-matukan paruhnya ke kaca.

“Burung sialan!” Umpatku kesal.

Kembali kududukan tubuhku keatas ranjang. Seperti biasa, hal rutin yang kulakukan setiap bangun tidur adalah melirik jam weker dan kalender duduk diatas meja belajarku.

Jam 6, masih terlalu pagi. Aku mendesah sambil menguap lebar. Dengan malas aku bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandi. Pandanganku tak fokus karena otakku memikirkan satu hal. Kutolehkan kepalaku menatap kalender dengan angka 1 yang tercetak besar diatasnya.

“Tanggal satu huh!” ucapku pelan.

Saat sampai dikamar mandi kuhentikan langkahku didepan wastafel, menatap refleksi wajahku pada cermin didepanku. Lingkaran hitam dibawah mataku nampak jelas. Aku menghela napas kemudian merabanya.

“Stupid insom!” gerutuku sambil melirik kalung yang tergantung disamping wastafel.

Setelah melakukan ritual pagi aku bersiap berangkat ke sekolah.

Diantar supir pribadi, Park ahjussi, aku mengawali hari ini dengan perasaan tenang. Semoga.

***

30 menit menempuh perjalanan akhirnya aku sampai. Baru saja kuinjakkan kakiku keatas tanah setitik air jatuh membasahi pipiku.

“Eoh!” seruku.

“Sepertinya akan hujan, biar kuambilkan payung dulu nona.” Ujar Park ahjussi.

“Tidak perlu, ahjussi. Hanya gerimis kecil, aku bisa berlari ke kelasku.” Kutengadahkan kepalaku menatap langit. Ya, hanya gerimis.

Meski terbilang jarang terjadi namun hujan datang mengawali musim gugur, mengawali hari pertamaku kembali ke sekolah, dan mengawali hari pertama dibulan September.

“Aku sudah sangat merindukanmu.” Bisikku pelan. Aku mulai merasakan rembasan air yang menyentuh kulit kepalaku. Errr.. Seharusnya kuterima tawaran payung Park ahjussi tadi. Dan akupun berlari menuju kelasku.

Aku mengusap-usapkan tanganku keseluruh bagian lenganku yang basah terkena hujan saat berjalan menyusuri koridor sekolah. Aish!

Kuperlambat tempo langkahku saat pikiranku berlari pada kejadian diruang makan saat sarapan pagi tadi. Appa, ia berangkat lebih awal dan terlihat terburu-buru. Tidak biasanya ia pergi duluan sebelum memastikan Park ahjussi yang mengantarku. Hal aneh juga terjadi pada Eoma, wajahnya terlihat aneh, pandangan matanya kosong sepanjang acara makan pagi tadi. Sesuatu mengganggu pikirannya.

“Jung Rae ya..” kudengar suara yang familiar memanggil namaku.

Sudah kuduga ucapku dalam hati saat melihat sahabatku yang aneh dan – aneh berlari kearahku.

Kupamerkan senyumku yang paling manis karena aku tahu dia pasti sangat merindukanku ‒ mengingat selama liburan ia menelponku sepanjang pagi dan malam.

“Hai Jungie!” Sapaku. Wajahnya langsung cemberut.

“Hai kau ini, kenapa memanggilku begitu!” gerutunya kesal.

Aku tersenyum puas karena berhasil menggodanya. Kami berjalan bersama kekelas.

Sampai dikelas, sudah ada beberapa teman sekelasku yang hadir dan duduk dibangku mereka masing-masing sambil menceritakan kisah liburan mereka.

Aku menuju tempat dudukku yang tepat berada disamping jendela.

“So, apa ceritamu kali ini Jung Rae ya? Apa liburanmu terlalu mengasyikan sampai-sampai kau jarang mengangkat telpon dariku.” Tanya sahabatku sambil melahap hotdog hangatnya.

Aku hanya mengedikan bahu – tanda bahwa tak ada hal spesial yang terjadi. Kuedarkan pandangan mataku ke sekeliling kelas hingga kulihat gadis cantik berambut sebahu berdiri didepan pintu kelas. Ia kemudian melihatku dan melambaikan tangannya.

“Hey guys!” sapanya dengan aksen bahasa ingris yang sering digunakannya. Aku tersenyum. Ia mengambil tempat duduk dihadapanku.

“Hai Jung Rae, Hai Jungi!” serunya dengan ceria.

“Astaga kukira setelah liburan panjang nama itu tidak akan disebut lagi.” Keluh sahabatku yang duduk disampingku. Aku pun terkekeh.

Sebenarnya nama itu hanya julukan saja, bahkan nama asli Jungi lebih indah. Juliette Park. Sangat barat memang namun Jungi tidak memiliki darah Amerika ataupun Eropa, ia berdarah Korea tulen. Namanya tercipta karena ibunya sangat menggilai kisah romantis nan tragis karya William Shakespeare. Ibunya ngotot ingin menamai putrinya demikian.

Juliette melakukan kekeliruan saat menyebutkan nama ilmiah jamur saat kelas Sains. Saat itu Oh sam memberikan sebuah pertanyaan padanya; apa nama ilmiah jamur, namun karena ia lebih memilih tertidur sejak awal jam pelajaran maka ia berakhir dengan tidak bisa menjawab pertanyaan mudah itu. Sejak kejadian itu teman-teman dikelasku menjulukinya Jungi – Juliette dan fungi.

“Libur panjang katamu? Kita libur hanya dua minggu, bayangkan! Hanya dua minggu, aku bahkan belum puas!” ujar sahabatku yang berwajah mungil.

“Itu karena sepanjang liburan ini aku tak ada kegiatan. Oh iya bagaimana Italia?” Tanya Jungi pada gadis berkulit kecoklatan didepanku. Yu Na. Sahabatku yang satu ini bisa dibilang primadona sekolah, wajahnya yang manis dan mungil, tubuhnya yang memiliki bentuk yang indah membuatnya dikagumi banyak orang, matanya bulat dan jernih seperti keinginan banyak gadis di Korea membuat gadis lain disekolah iri padanya.

“Hmm.. Aku kesal dengan ibuku. Jangankan Italia, aku bahkan batal pergi ke Eropa!” terang Yu Na dengan wajah kusut.

“Lalu kau kemana? Bukankah ibumu yang mengajakmu berlibur?” Yu Na menggelengkan kepalanya.

“Nope, mendadak ibuku terserang flu dan kami membatalkan rencana kami. Dan aku harus berakhir dirumah bibiku di Jepang!” Jungi tak dapat menahan ledakan tawanya.Ck, gadis ini benar-benar.

Yu Na biasa pergi keluar negeri untuk menghabiskan waktu liburannya. Italia adalah Negara impian Yu Na. Ia bahkan tak pernah berhenti membicarakannya saat sekolah mendekati waktu libur musim panas beberapa bulan lalu. Mendengar Yu Na gagal mengunjunginya pasti membuat Jungi sangat bahagia, karena ia lelah mendengar Yu Na selalu membicarakannya.

Aku tak menyimak pembicaraan mereka yang mulai merembet entah kemana, kugelengkan kepalaku saat melihat keduanya larut dalam konfersasi seru mereka. Kualihkan pandangnku keluar jendela, bagiku tak ada hal yangt lebih menarik yang dapat kuceritakan selain dengannya.

***

Aku berjalan menuju tempat yang sejak tadi ingin kudatangi. Bel istirahat telah berbunyi t3 menit yang lalu, tapi tak ada satupun makanan di kafetaria sekolah yang menggugah selera makanku. Meski kedua sahabatku mengajakku dengan susah payah, tetap aku tak bergeming untuk tetap pergi ketempat ini.

Aku hanya perlu menunjukan senyumku yang paling manis dan semua beres.

Sekarang aku sudah berdiri didepan sebuah kanopi besar yang daunnya mulai berjatuhan. Kuperhatikan sebuah pahatan kasar yang membentuk ukiran dua huruf yang sama persis yang saling berhadapan dalam lingkaran hati yang mengelilinginya dibatang pohon tersebut. Huruf yang sama dengan huruf yang tercetak dibalik liontin kalungku.

“Aku merindukanmu, dimana kau sekarang?” kutengadahkan kepalaku keatas, memejamkan mata saat air mata mulai mengalir dipipiku. Senyum lembut terlihat dalam bayanganku, ia mendekat padaku dan –

Ya Kim Jung Rae!” pikiranku buyar saat kudengar seseorang menyerukan namaku.

“Jungi, Yu Na, ada apa?” tanyakun heran.

“Kenapa kau tidak mengatakannya?” Tanya Yu Na dengan pandangan tajam kearahku. Aku semakin bingung.

“Itukah alasanmu tak semangat dihari pertama sekolah dihari pertama sekolah?” tambah Jungi. Tiba-tiba Yu Na memelukku, “Maaf kami lupa,” bisiknya ditelingakku.

“Ini tanggal 1 yang keberapa?” Tanya Jungi.

“Ke lima.” Jawabku dengan nada sedatar mungkin. Jungi kemudian ikut memelukku. Aku tersenyum berterima kasih.

“Hei, kenapa kalian sedih seperti ini? Kalian mengucapkan hal-hal seperti barusan hanya karena ini tanggal 1? Seperti sedang berbela sungkawa saja.” Keluhku saat melihat wajah sendu mereka.

“Benar! Ini kan hari jadimu, mana boleh kita bersedih.” Sela Yu Na.

“Benar, untuk itu aku akan mentraktir kalian setelah pulang sekolah nanti, kita akan bersenang-senang!” seruku riang.

“Maaf membuat kalian khawatir. Sekarang kembalilah ke kelas, aku baik-baik saja.” Mereka memandangku ragu.

“Sudah sana.” Usirku halus – tersenyum meyakinkan.

Setelah mereka pergi aku kembali terdiam. Benar, hari ini adalah hari jadiku yang pertama. Satu tahun. Dulu, setiap tiba tanggal 1 aku akan sangat senang menyambutnya, tapi tidak dengan 5 bulan terakhir.

Tanggal 1 adalah tanggal terindah bagiku karena pada tanggal itulah satu tahun yang lalu seseorang pernah menyatakan cinta untukku. Kami selalu merayakannya bersama, bukan anniversary tahunan seperti pada umumnya, namun setiap bulan kami melakukannya. Berlebihan memang namun aku tidak bisa menahan untuk tidak melakukannya.

Ia selalu mengajakku ke tempat-tempat yang menyenangkan, membuatku bahagia dalam satu hari, membuatku merasa beruntung memilikinya.

Air mataku menetes lagi saat kuingat tanggal 1 terakhirku bersamanya. Aku bahkan masih bisa mencium bau kembang api yang dinyalakannya malam itu, masih dapat merasakan lembut tangannya membelai pipiku, menghirup aroma parfumnya yang kusuka saat ia memelukku.

Sudah lebih dari dua tahun aku mengenalnya, ia menyatakan perasaannya saat kami masih ditahun kedua tahun lalu. Betapa senangnya aku saat mengetahui ia memiliki perasaan yang sama denganku, rasa yang sudah kupendam sejak pertama melihatnya saat masa orientasi dulu.

Mendapatkan pernyataan cinta dari laki-laki yang tidak pernah peduli pada gadis manapun yang mendekatinya – kecuali buku matematika yang selalu menemaninya seperti memenangkan lotere.

Ia selalu menjadikanku prioritas utamanya. Bahkan sampai kami sudah ditahun terakhir sekolah sekalipun. Saat ia sedang sibuk mempersiapkan olimpiade yang ia ikuti semester lalu ia tetap meluangkan waktunya untukku.

Namun 5 bulan ini ia menghilang. Tidak pernah muncul dihadapanku. Aku tidak mengetahui keberadaannya, aku sulit menghubunginya. Ia seperti ditelan bumi, tidak sekolah, tidak menghubungiku, tidak datang kerumahku seperti yang biasa ia lakukan. Orang bilang aku bodoh. Jelas-jelas sudah dicampakkan namun aku masih tetap menunggu dan mengharapkan.

Aku tahu ini keterlaluan, sudah sepantasnya aku membenci orangyang membuangku. Namun tiap kali aku ingin membencinya selalu teringat kata-katanya, bagaimanapun kau adalah malaikat kesayanganku. Apapun yang terjadi aku tak akan pernah meninggalkan malaikatku yang tak bersayap ini. Jadi tetaplah disisiku dan aku akan menjagamu, kau juga harus berjanji untuk menjagaku, arasseo?!

Ia selalu menganggapku sebagai malaikat tak bersayap ‒ cheesy, tipikal dirinya. Menurutnya aku seperti anak kecil, ceroboh. Aku sering melakukan hal bodoh yang bisa melukai diriku sendiri, baginya aku juga seorang gadis manja yang cengeng. Bukan salahku, aku dilahirkan sebagai anak satu-satunya dikeluargaku jadi kupikir itu wajar.

Benarkah aku gadis bodoh? Gadis yang tidak bisa membenci orang yang telah mencampakannya, benarkah aku telah dibuang, sejahat itukah kau Jin?

Sampai saat ini tidak ada yang mengetahui keberadaan Jin. Ini seperti mimpi dimana seseorang yang muncul didalamnya akan menghilang saat kau terbangun. Tapi kisahku dengan Jin bukan mimpi.

***

Aku berdiri didepan gerbang utama rumahku. Sesaat setelah turun dari taksi aku tak kunjung menghubungi petugas keamanan rumahku dan memilih berdiam diri disana. Malam ini aku pulang terlambat karena janjiku pada kedua sahabatku. Aku tersenyum mengingat keseruan kami di mall tadi.

Melirik jam dipergelangan tanganku aku kemudian membuka gerbang dan melangkah masuk kehalaman rumahku. Aku berjalan pelan menikmati angin malam.

Langkahku terhenti saat kulihat seseorang duduk dikursi teras rumahku. Sepertinya dia orang asing, bagaimana dia bisa masuk, kemana para petugas keamanan. Aku berjalan dengan pelan mendekatinya untuk menanyakan keperluannya namun tiba-tiba ia berdiri dan bergerak mendekatiku. Aku terkejut dan secara reflex menjatuhkan bungkusan yang berada ditanganku.

Laki-laki ini, ia tinggi, dan tubuhnya terlihat well built dengan perut yang rata, oh gosh Kim Jung Rae apa yang sedang kau pikirkan!

Ia menatapku sinis dengan mata sipitnya. Ditatap setajam itu akupun menunduk tak berani membalas tatapannya. Tatapan itu sepertinya tampak familiar, ah benar! Namja ini, dia yang menolong kami di mall tadi. Seorang pria muda menjambret tas Yu Na saat kami sedang melihat pertunjukan sulap di main hall mall yang kami kunjungi sore ini. Beruntung namja yang menurut Yu Na keren ini berhasil membantu kami menangkapnya.

Ceh, apa dia sakit mata? Kenapa menatapku setajam itu. Tanpa mau menghiraukannya lagi aku memilih masuk.

***

Aku sudah selesai membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Sekarang aku berada ditempat yang paling nyaman. Kutarik selimutku yang hangat, merebahkan tubuhku keatas spring bed empuk milikku. Kutatap langit-langit kamarku, memikirkan apa yang terjadi saat aku baru tiba dirumah tadi.

.

.

Tanpa mau menghiraukannya lagi aku memilih masuk. Aku terkejut dengan apa yang kulihat dihadapanku. Ada apa ini?

Kulihat Appa duduk bersimpuh dihadapan Eomma yang duduk diatas sofa favoritnya. Apa mereka sedang melakukan drama atau sejenisnya.

“Aku tahu ini akan terjadi.” Kudengar Eomma berdesis, Appa mengangguk pelan.

“Ya, kau benar. Terima kasih sudah mau menerimanya.” Jawab Appa seraya mengusap lembut jari-jari Eomma.

“Ada apa ini?” suaraku yang tidak terlalu pelan mengejutkan mereka.

Tiba-tiba namja bermata tajam tadi masuk dan langsung naik ke lantai dua rumahku.

Siapa dia? Kenapa tingkahnya seoalah-olah ia berada dirumah sendiri?

 

Kutatap kedua orang tuaku dengan bingung.

“Jung Rae ah, kemarilah!” panggil Appa.

Kududukan tubuhku disamping Eomma. “Kau lihat laki-laki yang baru saja naik?” Tanya Appa. Kuanggukan kepalaku ragu-ragu.

“Appa mengenalnya?” tanyaku. Kudengar Appa menghela napasnya sebelum menjawab,

“Ne, namanya Jeon Jungkook. Dia adikmu.”

“Mwo?!” Aku berseru kaget.

Adik? Bagaimana bisa?

Tbc

Wakakaaaa.. Jelek kan???

Ayo ayo, review juseyo hihii^^;;

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

2 thoughts on “FF/ FALL/ BTS-BANGTAN/pt. 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s