FF/ ONESHOT/ BE BETTER/ BTS-BANGTAN


1970522_975608535804490_7284315890730908613_n

Judul: Be Better

Author: Kim Jaemi (@iimwae)

Cast: Kim Tae hyung

*Im Jaemi or You

Support Cast: Finded when you read it!!

Genre: Teen, Friendship, Sadness

Length: Oneshoot

Disclaimer: No Copas!!No Plagiarism! Happy reading guys ^^ #PeaceUp&V

Aku sadar aku masih jauh dari sempurna, itulah aku yang trenyuh dengan buku (Unfinished Journal) yang beberapa hari lalu kubaca. Aku bukanlah seseorang yang berjiwa nasionalisme tinggi, namun aku seorang mahasiswi yang ingin membawa perubahan.

*..*

Seorang pekerja lab mencoba untuk meniliti tentang atmosfer yang semakin hari semakin menipis. Untungnya Korea adalah negara maju, tak ada yang tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Banyak negera lain yang ingin memasuki negara Korea. Saat ini manusia hidup di tahun 2094, dimana tidak ada pepohonan, bahkan hutan yang dulu rimbun kini hanya menjadi dongeng belaka. Yeoja yang tengah meneliti beberapa penelitiannya seketika menghentikan aktifitasnya karena ponselnya berdering. Seorang namja dari seberang menanyakan apa yang sedang dilakukannya. Yeoja itu mematikan ponsel dengan sepihak kemudian melanjutkan meneliti kembali. Ia tak punya waktu untuk memikirkan sesuatu yang menurutnya tak penting.

Keesokan hari tiga laki-laki berjalan mengendap-endap hendak menyelinap masuk Korea. Mereka tidak menyangka bahwa masih ada negara yang mempunyai pohon dan air mengalir dengan jernih. Oh bukan-bukan ini bukan neraga tropis, bagaimana bisa pohon-pohon berdiri dengan indahnya, seperti inikah Indonesia dulunya? Ketiga laki-laki ini masih tercengang dengan keadaan di negara maju seperti Korea. Meskipun cuaca masih sangatlah panas namun ini jauh lebih baik dari pada keadaan di Indonesia.

Baiklah… kini seorang namja tampan berjalan mendekati mahasiswi yang tengah membaca buku di salah satu bangku taman. Namja tampan nan kaya, Kim tae hyung yaah namja itu bernama Tae hyung. Anak manja yang semuanya harus dituruti, saat ini ia tengah menggilai seorang yeoja yang tak begitu pintar namun cerdas. Dia bukanlah yeoja yang pintar di setiap materi namun dia adalah yeoja yang cerdas setiap kali memecahkan masalah. Itulah yang membuat namja bernama Tae hyung menyukainya. Semua di kampus ini mengetahui bahwa anak penguasa Korea Kim tae hyung menyukai Im jaemi gadis biasa yang sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Gadis itu mencoba meneruskan penelitian ayahnya yang sempat tertunda karena ayahnya telah dipanggil oleh sang pencipta.

Cuaca di Korea semakin panas saja, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di negara ini selanjutnya. Banyak yang mengatakan bahwa di negara selain Korea masyarakatnya harus membeli udara, bayangkan saja bagaimana bisa bernafas harus dibeli, dan air lebih mahal dari pada barang elektronik. Namun itulah yang saat ini terjadi. Untunglah orang-orang Korea yang menjaga lingkungan mereka, namun bagaimana dengan negara lain? Saat ini hanya ada ego masing-masing. Semua orang beranggapan siapa yang salah jika sudah seperti ini, menyalahkan orang terdahulu pun tak ada gunanya.

“Jangan mencintaiku! Karena aku tidak pernah mencintaimu.”

“Kenapa? Kita bisa hidup bersama.”

Orang kaya sepertimu mungkin bisa hidup lebih lama Kim tae hyung, lalu bagaimana dengan Jaemi, bagaimana dengan penelitiannya? Cobalah untuk mengerti keadaan yang terjadi saat ini! Korea memang menjadi syurga dunia, kita lihat beberapa tahun yang akan datang, dampak dari global warming sudah memasuki Korea, negara yang dulunya dingin meskipun di musim panas saat ini justru di semua musim sama, sama-sama panasnya. Tingkat kejahatan pun juga meraja lela, tak ada yang bisa dilakukan oleh pemerintah, semua pemerintah sibuk memikirkan diri sendiri.

Jaemi mencoba menanam tumbuhan di sekeliling rumahnya, bahkan saat ini rumahnya sudah seperti hutan. Tetap saja semua itu tak menolong keadaan karena semakin hari cuaca semakin memanas. Percuma jika hanya Korea yang sadar, negara-negara lain sudah kering kerontang kecuali benua Amerika. Mereka memiliki alat yang benar-benar canggih. Aku rasa gelar Indonesia sudah berpindah tangan ke Amerika. “JANTUNG DUNIA.” Bukan lagi Indonesia yang memiliki gelar itu. Amerikalah satu-satunya negara yang masih memiliki musim salju. Atmosfir disana masih terjaga, mereka memang sadar betul dengan keadaan lingkungan. Bahkan mereka mengekspor udara ke negara-negara berkembang. Miris bukan udara sampai di ekspor. Untungnya Korea masih rimbun dengan hutan.

“Aku mencintaimu.”

“Sudah kubilang cinta bukan prioritas utamaku.” Lagi-lagi penolakanlah yang didapat oleh Tae hyung. Namja itu berusaha untuk merebut hati yeoja dingin yang selama ini dicintainya.

Keesokan malam seorang yeoja berjalan di hutan perbatasan negara, miris sekali ketika melihat negara tetangga yang kering tanpa ada pohon sedikit pun. Itulah alasan kenapa negara lain berbondong-bondong ke Korea. Yaah Jaemi masih berusaha memecahkan masalahnya dengan berjalan-jalan di hutan yang tak jauh dari rumahnya. Sempat nyalinya menciut ketika melihat negara tetangganya yang benar-benar hancur. Mungkinkah kiamat sudah dekat? Ooh tidak ini sudah kiamat pikirnya lagi.

“Aaa.’ Teriak seorang yeoja ketika mendapati tiga laki-laki terkulai lemas di tanah. Seketika juga ia menutup mulutnya agar penjaga berbatasan tak mendengar teriakannya. Kini ia tengah bingung, ia juga tidak tahu harus berbuat apa karena ketiga namja itu bukan berasal dari Korea. Segera ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi Tae hyung, awalnya ia enggan namun ia harus.

Jaemi memberikan minuman pada ketiga namja yang tengah terbaring lemas di sofanya.

“Jika kau ketahuan kau akan di hukum Jaemi-ya.” Jaemi tak menghiraukan ungkapan Tae hyung, ia harus dan berkewajiban menolong sesama, terlebih lagi orang yang ditolongnya berasal dari Indonesia. Sebelum ayahnya meninggal, ayahnya menceritakan bahwa dirinya masih berketurunan Indonesia. Itulah sebabnya dia memiliki kulit tan dan mata yang lebar, berbeda dengan orang Korea umumnya.

Jaemi memperingatkan ketiga namja itu untuk tidak keluar sebelum ia kembali dari membeli makanan. Dengan ditemani dan diantar Tae hyung ia mencari-cari bahan yang bisa dimasak dan dimakan. Tae hyung tak hentinya memperingatkan yeoja di sampingnya untuk tidak terlibat permainan ketiga namja itu.

“Kau bilang ini permainan, mereka berjuang untuk negara mereka, dan kau bilang ini permainan?”  Jaemi semakin kesal dengan Tae hyung. Ia meninggalkan namja itu dengan berjalan kaki.

“Hei… Jangan marah!” Kini Tae hyung berjalan di samping seorang yeoja yang tak meresponnya.

‘Terimakasih nona kau sudah menyelamatkan kami. Kami harus segera pergi dari rumahmu, kami tidak ingin membuatmu terkena masalah karena menyelamatkan kami. Aku senang ternyata masih ada orang sepertimu, aku lebih senang lagi setelah mengetahui bahwa kau masih memiliki darah Indonesia. Aku akan berhasil menyelinap ke Amerika dan mempelajari teknologi disana.’

Salamku Abimanyu.

(Dalam cerita aslinya Abimanyu pergi ke Jepang lalu ke canada kemudian ke Amerika kenapa bisa di Korea hanya Author yang tau)

Jaemi menutup mulutnya tak percaya, tadi pagi ia melihat berita bahwa saat ini pemerintah akan memperketat di wilayah perbatasan.

“Wae?” Tanya Tae hyung ketika melihat raut wajah yeoja di sampingnya. Ia juga merebut secarik kertas di tangan yeoja itu. Namun semua sia-sia karena pesan itu menggunakan bahasa Inggris sedangkan ia tak mengerti bahasa Inggris. Dengan frustasi Jaemi mencengkram tangan Tae hyung meminta bantuan padanya.

“Doajo… doajoseyo Tae hyung-a.” Kekhawatiran serta kepanikan terpapar jelas di wajah yeoja itu, ia tak bisa membayangkan hal itu sedikit pun.

Tae hyung memeluk yeoja di depannya mencoba untuk menenangkan yeoja tu yang masih berdiri ketakutan di pelukannya. Mereka berdua memutuskan untuk pergi mencari ketiga namja itu. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan aparat pemerintah, salah satunya adalah ayah Tae hyung, orang yang berperan penting membangun negara.

“Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya tuan Kim.

Hati mereka benar-benar dag dig dug, mereka bingung harus berkata apa. “Kim tae hyung apa ini yeoja yang selalu kau ceritakan pada appa?” Tuan Kim tersenyum ketika melihat siapa yeoja yang disukai oleh anaknya. “Kau Im jaemi kan yeoja yang berusaha untuk membuat tanah seperti di daerah tropis.” Yeoja itu menganggukan kepalanya. Tuan Kim menepuk bahu Jaemi mendukung sepenuhnya usaha yang akan dilakukan oleh yeoja itu, bahkan ia juga mengatakan agar tidak perlu mengawatirkan masalah biaya. “Apa sudah berhasil?” Jaemi yang masih menundukan kepalanya mulai menggelengkannya.

Para aparat itu pergi meninggalkan mereka berdua, kali ini mereka harus lebih berwas-was, untung saja ada Tae hyung. Setidaknya namja itu bisa sedikit membantu Jaemi.

Sekitar satu jam mereka berada di hutan yang jarang sekali pohonnya, mungkin bisa dihitung. Jaemi melihat ada bayangan di dalam gua segera ia memasuki gua itu. Rupannya ketiga namja asing itu bersembunyi disini. Jaemi menghela nafas melihat mereka baik-baik saja.

“Yaa Tae hyung-a cepat kau lihat keadaan di luar!” Perintah Jaemi yang seketika mendapat respon baik.

Tae hyung berjalan dengan hati-hati, tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat seseorang tengah berjaga. Ia tak habis akal dia mendekati orang itu, kemudian memberi pesan pada Jaemi untuk segera pergi dari gua.

“Anyeonghaseyo!” Sapa Tae hyung dengan wajah tololnya, siapa yang tidak kenal Tae hyung anak orang dermawan di Korea. Orang itu membungkukan tubuhnya pada Tae hyung. Tae hyung merangkul orang itu untuk berjalan menjauh dari gua, ia bertanya apa ada orang yang menyelinap masuk. Penjaga itu menggelengkan kepalanya dengan pelan. Tae hyung mengintip ke belakang, ia melihat Jaemi dan ketiga namja itu tengah mengendap-endap melewati hutan. Tae hyung semakin merangkul penjaga itu kemudian menanyakan apa keluarganya baik-baik saja. ketika dia melihat mereka sudah pergi jauh segera ia menyusul mereka.

“Sudah kubilang jangan pergi dari rumah ini!” Ucap Jaemi kemudian memberikan tiga gelas berisi teh hangat.

“Waah… apa ini benar-benar air? Di negaraku kau tidak akan mungkin memberikan air secara cuma-cuma.” Ungkap Abimanyu dengan tersenyum.

Bisa terlihat kekesalan di wajah Tae hyung karena hanya dia satu-satunya orang yang tak mengerti percakapan di dalam rumah yang layaknya hutan ini.

Mereka berlima mencari jalan keluar untuk cepat bisa mengatasi masalah negara yang entah butuh berapa lama untuk memumilhkannya. Jaemi memberitahu pada ketiga namja itu tentang penelitiannya yang dua tahun belakangan ini dilakoninya.

“Aku bukanlah gadis pintar, tapi aku ingin berusaha agar semua kembali seperti semula.” Jaemi menghembuskan nafasnya kemudian menundukan kepalanya.

*..*

Di rumah besar tempatku tinggal, aku masih memikirkan bagaimana cara bisa mengatasi masalah ini. Aku tak pernah seserius ini dalam hidupku. Mungkin ini saatnya aku berubah menjadi dewasa, aku harus membantu Jaemi yeoja yang kucintai itu. Yaah… aku harus membantunya, apapun caranya aku akan membantunya. Di meja makan aku tak konsen karena saking seriusnya memikirkan cara untuk membantu Jaemi. Bahkan aku juga tak meghiraukan teguran appa padaku. Otakku penuh dengan kata bagaimana, bagaimana dan bagaimana.

Aku tahu bagaimana caranya? Segera aku berlari menuju kamarku kemudian mengambil beberapa peralatan lab, aku memang seorang mahasiswa berjurusan ilmuan. Ayahku yang memaksaku untuk menjadi seorang ilmuan, namun apa daya otak tak sampai kesana, memikirkannya saja sudah membuatku pusing.

Aku mengendarai mobilku menuju rumah Jaemi, asal kalian tau saja untuk saat ini Korea tengah melarang warganya menggunakan kendaraan. Ini juga salah satu cara mencegah global warming, jika kalian melihat keadaan di Korea kalian hanya akan melihat orang berlalu-lalang dengan berjalan kaki atau bersepedah pancal. Yaah itulah Korea baru-baru ini, pastinya kalian bertanya kenapa aku masih menggunakan mobil? Yaa karena aku berbeda, aku Kim tae hyung anak orang terpenting di Korea. Itulah yang membedakanku dengan warga lainnya.

“Kau menggunakan mobil?” Aaah aku lupa kalau yeoja di depanku ini benar-benar sadar akan lingkungan.

*..*

Tae hyung hanya bisa terdiam melihat yeoja di depannya memarahinya, hal ini mengingatkan Abimanyu dengan kebodohannya. Di saat negaranya yang seperti itu ia malah mondar-mandir dengan menggunakan mobilnya, ia mulai menitihkan air mata. Sudah hampir setahun ia tak menghubungi keluarganya yang berada di Indonesia, ia benar-benar bertekad harus kembali ke negaranya dengan membawa keberhasilan. Bahkan ia juga tidak tau bagaimana keadaan keluarganya saat ini, masih hidupkah mereka? Itulah yang terlintas di benaknya.

“Eoppa!” Jaemi memecahkan lamunan seorang pria yang tengah duduk di sofa. Ia juga mendekati namja itu dan menanyakan dengan keadaan di Indonesia. Jarum jam sudah berada di angka Sembilan malam, Tae hyung sudah kembali ke rumahnya sedangkan Jemhet namja berwajah bule itu mencoba meneruskan penelitian Jaemi dengan alat-alat yang dibawa Tae hyung.

Untuk sesaat Jaemi melihat sedih kearah namja yang berada di sampingnya. Warga Indonesia harus membayar tiga juta rupiah perkepala? Apa itu masuk akal? Separah itukah Indonesia?

“Dulunya ayah selalu bercerita padaku bahwa Indonesia adalah JANTUNG DUNIA, aku rasa semua itu adalah kebohongan belaka.” Ungkap Jaemi.

Abimanyu juga menceritkan bahwa warga Indonesia menggunakan Vilidis untuk pengganti air, itulah yang dipergunakan oleh warga Indonesia untuk mencuci atau untuk mandi. (Katanya sih sejenis air tapi bukan air kental tidak menghilangkan rasa haus sama sekali. Tuhan itu apa?)

“Vilidis?”

“Yaa vilidis yang kami pergunakan untuk membuat minuman dan bahan-bahan lain yang membutuhkan air.”

Jaemi semakin miris mendengar ungkapan namja yang semakin terlihat frustasi itu.

Sudah hampir seminggu ketiga namja itu berada di rumah Jaemi, kali ini mereka senang karena penelitian mereka berhasil. Mereka berhasil membuat tanah seperti di negara tropis, sebenanrnya penemuan itu sudah lama Jaemi temukan namun ia menutup semua rapat-rapat karena ia tau pastinya nilai tanah ini bernilai jual tinggi, ia tidak mau hasil jerih payahnya dinikmati oleh pemerintah yang hanya akan mengambil keuntungan dari sini. Bahkan ia juga bisa membuat air keruh menjadi jernih (Anggap aja pureit yaaah hahaha.)

“Jangan pergi ke Amerika, kalian akan tertangkap nantinya.” Jaemi memberikan sekotak kecil ukuran 5×10 senti yang isinya belum ditemukan namanya.

“Ini apa?”

“Kalian akan membutuhkan ini nantinya di perjalanan kalian kembali ke Indonesia, aku belum memberi nama pada penemuanku itu, semua sudah ku uji coba. Seberacun dan sekeruh apapun airnya bisa menjadi jernih jika kalian memasukkan ke dalam sini.” Jaemi memberikan penemuan berharga satu-satunya pada Abimanyu, ia juga menjelaskan cara penggunaan alat itu.

Jaemi dan Tae hyung menunjukan jalan keluar melalui jalur aman pada ketiga namja itu, sebelumnya Jaemi juga memberi sepot kecil tumbuhan kesayangannya, ia juga memberikan sekantong kecil tanah yang subur pada mereka.

“Thank you… kami sangat berutang padamu.” Mereka mengucapkan selamat tinggal pada Jaemi dan Tae hyung yang sudah menolong mereka.

*..*

Lega rasanya aku bisa membantu orang dengan semua kemampuanku, sebenarnya dengan berat hati aku melepas penemuan berhargaku itu. Tapi aku tahu aku tidak boleh egois, ada yang jauh lebih membutuhkan alat itu ketimbang aku. Kini aku berjalan berdua dengan namja di sampingku.

“Terimakasih sudah membantuku.” Ungkapku sembari tersenyum manis.

Malam sudah sangatlah larut, aku tak merasakan hawa dingin di daerah sini juga tak merasakan hawa panas, hanya biasa-biasa saja.

Keesokan sore aku pulang dari kampus, betapa terkejutnya aku melihat rumahku yang sudah berantakan. Segera aku berlari menuju ruang lab, untungnya mereka tidak sampai ke ruang labku. Aku mendapat panggilan dari nomor tak dikenal, orang diseberang mangatakan bahwa dirinya adalah tuan Kim, seketika aku meminta maaf padanya. Ia ingin menemuiku, hatiku mulai tak tenang. Apa tuan Kim mengetahui sesuatu?

Tenang Jaemi tak akan terjadi apa-apa padamu. Aku mengetuk pintu sebuah ruangan di depanku. Segera aku memasuki ruangan setelah si pemilik ruangan memperisilahkanku untuk masuk. Sudah sewajarnya si pemilik ruangan mempersilahkanku untuk duduk dan memberi segelas minuman. Aku teringat dengan Abimanyu eoppa, di negaranya memakai vilidis, seperti apa rasanya?

“Jaemi-ssi!” Aku tersadar dari lamunanku, segera aku meminum teh yang sempat kutunda.

Sudah kuduga ayah Tae hyung bukanlah orang yang baik, ia mendesakku agar cepat menyelesaikan tanah tropis. Dari awal aku memang sudah mengira tidak ada niat baik yang tersembunyi pasti akan ada maksud tertentu setelahnya. Kini aku memandang muak pada ayah Tae hyung, aku muak sampai-sampai aku ingin pergi dari ruangan namun aku masih menahan.

*..*

Seorang yeoja baru saja keluar dari ruangan, tatapannya dingin dan marah. Bahkan pandangannya pun juga kosong, ia tak menghiraukan sapaan Tae hyung yang berjalan di sampingnya. Sampai akhirnya Tae hyung berdiri tepat di depannya, menghentikan langkah kakinya.

“Apa yang terjadi?”

“Amudo anya (tidak terjadi apa-apa).” Jawabnya yang kini mulai melangkah kaki kembali, sejenak Tae hyung berpikir kemudian mengajaknya untuk keluar. Tae hyung menyuruhnya untuk menaiki sepedah yang sudah dinaikinya.

“Cepat!” Perintah Tae hyung dengan menarik tangan yeoja itu agar segera menaiki sepedah. Dengan dibonceng Tae hyung mereka berdua berkeliling di kota besar Seoul.

“Tidak apa jika kau tak mencintaiku, asalkan kau selalu bersamaku.” Ucap Tae hyung yang masih mengayuh sepedahnya, sedangkan yeoja di depannya hanya diam tak menjawab.

Kini mereka berhanti di sungai Han, Tae hyung menjagrak sepedahnya kemudian berdiri di samping yeoja yang menghirup udara seakan melepas beban.

“Kau punya masalah?” Jaemi menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Jinjja?” Tae hyung meyakinkan dengan mengintip wajah yeoja di sampingnya tepat di depan wajah Jaemi, membuat Jaemi terkejut dan tertawa karena tingkah konyolnya.

-Kling-

Tae hyung memberi pesan pada yeoja yang dicintianya namun ia tak melihat ada balasan. Segera ia mengayuh sepedahnya menuju rumah yeoja tersebut. Ia dikejutkan dengan perabotan rumah yang berantakan dan berserakan di lantai. Ia mencoba menghubungi ponsel yeoja itu, kali ini ia benar-benar frustasi karena ponsel yeoja itu ditemukannya di balik sofa.

‘Tae hyung-a selamat tinggal, sejujurnya aku juga mencintaimu.’ Itulah recorder yang di dengarkan oleh Tae hyung saat ini, rupanya Jaemi sudah memperkiraan hari ini sebelumnya. Sengaja ia membuat recorder untuk namja yang selalu membantunya itu. Dalam recorder ia mengatakan banyak hal tentang penemuannya. Ia juga memberi kode masuk untuk memasuki lab. “Selamat tinggal Kim tae hyung.” Berkali-kali Tae hyung mencoba mencerna isi dari recorder tersebut, segera ia berlari sekencang mungkin setelah benar-benar tersadar. Matanya mulai berkaca-kaca, langkahnya semakin dipercepat.

*..*

Aku masih terikat dan terduduk di sebuah ruangan, ini adalah keputusanku aku tidak akan menyesal. Meskipun aku harus kehilangan nyawaku aku tidak akan menyerahkan tanah itu padanya. Aku semakin muak dengan orang yang berdiri di depanku, aku ingin menitihkan air mata namun aku masih menahannya karena aku tidak ingin terlihat lemah.

Saat itu aku masih duduk di kelas dua Sma di salah satu sekolah negeri karena mendapat beasiswa. Aku memang bukanlan yeoja yang pintar tapi aku yeoja yang cerdas, apa bedanya! Bukankan pintar dan cerdas itu sama? Yaah memang sama, keduanya memang saling berkaitan, namun ada satu hal yang membedakan pintar dan cerdas. Seseorang yang cerdas mampu menyelesaikan masalah tanpa teori tanpa belajar. Biasanya dimiliki berdasarkan keturunan, anugrah Tuhan dan sifat bawaan dari lahir. Berbeda dengan pintar, seseorang yang pintar akan memecahkan masalah berdasarkan teori, seseorang harus berusaha mendapatkan ilmu dengan proses belajar. Pintar itu memerlukan proses sedangkan cerdas sudah mengalir di dalam hidupnya. Jadi masih ada kemenungkinan seseorang menjadi pintar dengan melalui proses yang bermacam-macam sesuai dengan kemampuan seseorang.

Sepulang sekolah aku melihat rumahku tengah dipenuhi oleh banyak orang, ayahku berhasil menumbuhkan tanaman tropis di tanah pot yang ditelitinya. Tuan Kim berniat mengambil tanaman itu kemudian akan memperbanyaknya lalu diekspor keluar negeri dengan harga yang sangat-sangat fantastik. Ayahku menolak permintaannya, karena ayah sengaja akan memberikan tanaman ini secara cuma-cuma pada negara lain agar bisa seperti dulu lagi. Dimana hutan bukanlah dongeng, dimana air jernih mengalir dengan melimpah dan dimana kehidupan tak seburuk saat ini. Ayah pasti senang jika negara lain yang sudah teramat parah itu kembali bangkit lalu warganya menyadari atas kerusakan yang sudah terjadi.

-Dooor- 

Aku menutup mulutku yang ternganga setelah melihat apa yang baru saja terjadi. Tuan Kim menembak ibu dan ayahku, aku hendak melangkah masuk namun niatku terhenti. Aku harus hidup, aku harus menuruskan cita-cita ayahku.

Aku semakin marah ketika aku mengingat-ingat kejadian itu, kini aku sudah berada di lapangan. Semua warga mencemoohku dan menganggapku sebagai pengkhianat Negara, karena telah menyelundupkan tiga laki-laki asing ke rumahku. Rupanya kepolisian telah membaca surat yang ditulis Abimanyu eoppa padaku dulu.

“Aku berikan kesempatan terakhir, dimana kau menyembunyikan semua penemuanmu?” Ucap tuan Kim tepat di telingaku, sedangkan aku hanya diam tak menjawab. “Suruh dia meminum racun itu!” Perintahnya.

Aku dapat mencium air jernih di depanku yang berbau sangat menyengat, air ini adalah air racun yang didapatkan di daerah tropis. (Minuman yang juga diminum oleh Fairus di dalam buku)

Aku tau minuman ini sudah dicampur dengan berbagai racun, jika sekali aku meminumnya mungkin aku tidak akan bertahan walaupun hanya untuk satu jam lamanya. Aku melakukan hal yang benar, sudah cukup penderitaan rakyat karena minimnya udara dan air. Aku harap Tae hyunglah orang yang bisa meneruskan cita-citaku dan ayahku. Selamat tinggal Tae hyung-a saranghae. Aku meminum segelas air di depanku, aku merasa tenggorokanku panas sekali, rasanya seperti terbakar. Aku ingin cepat mati saja, karena saat ini rasa sakit menjalar di sekujur tubuhku. Inilah pertama kalinya aku menangis di depan orang banyak. Aku tidak akan menyesal, yaah aku tidak akan menyesal.

*..*

Aku berlari sekencang mungkin menuju balai kota, aku menerobos masuk dari kerumunan orang-orang. Aku melihat seorang yeoja tengah merintih kesakitan sembari memegangi dadanya, mirisnya tak satu pun orang yang menolongnya. Aku menidurkan kepalanya di pangkuanku, air mataku juga tak hentinya menitih di kedua pipiku.

“Siapa yang menyuruhmu untuk menangis?” Aku semakin menangis melihatnya yang tersenyum sembari mengusap air mata di pipiku. Kini dia memuncratkan cairan berwarna merah dari dalam mulutnya.

“Aku akan membawamu ke rumah sakit.” Ia menggelengkan kepalanya.

“Aku percaya padamu Tae hyung-a, Sarang…” Belum sempat melanjutkan suaranya sudah terhenti, ia juga menjatuhkan tangannya yang sedari tadi berada di pipiku. Aku tak merasakan detak jantungnya lagi.

“Andwe…” Aku memeluknya dengan sangat erat, ingin rasanya aku membunuh orang yang sudah melakukan ini pada yeoja yang kucintai. “Jaemi-ya aku mohon bukalah matamu.” Tangisanku berubah menjadi jeritan yang menjadi-jadi. Baru kali ini aku merasakan kehilangan seseorang, seseorang yang benar-benar aku cintai. Dengan perlahan aku meletakan kepalanya di atas tanah kemudian menatap tajam kearah orang-orang yang berdiri melihat melo drama yang baru saja terjadi.

“Siapa yang sudah melakukan hal menjijikan ini padanya?” Teriakku.

Aku melihat ayah mendekat kearahku kemudian mengatakan bahwa pengkhianat pantas mati.

“Pengkhianat? Ayah…” Ucapanku terhenti. “Baiklah aku tau sekarang seperti apa dirimu ayah.”

Setelah aku menceritakan bagaimana kehidupan yeoja yang terbaring tak bernyawa itu semua orang baru sadar dan menangisi kepergiannya.

“Apa salah jika dia menolong orang lain selain orang Korea? Apa jika kalian berada di posisinya akan diam saja?” Semua semakin menangis meratapi kepergian yeoja yang saat ini ku gendong untuk menuju suatu tempat.

Beberapa tahun berlalu aku melakukan apa yang dipinta oleh yeoja itu. Tak membantu banyak memang namun keadaan sudah semakin membaik, Korea tak sepanas beberapa tahun lalu. Aku tengah berada di pemakanan membacakan surat untuk yeoja yang sudah tertidur dengan tenang di alamnya.

“Im jaemi, terimakasih sudah memberikan penemuan berharga untuk negara kami, berkat penemuanmu negaraku jauh lebih baik dari sebelumnya. Saat ini orang-orang sudah mulai sadar dengan lingkungan. Tanaman yang dulu kau berikan padaku kini sudah menjulang tinggi di dekat rumahku. Nona Jaemi kedua orang tuaku sudah meninggal, kini aku hanya tinggal bersama adikku Ardi Nurdiana. Sekali lagi aku berterimakasih padamu, oh ya Ardi juga menitip salam padamu.”

Salamku Abimanyu.

Setelah selesai membaca aku mengelus batu nisan kemudian tersenyum lalu mulai melangkahkan kaki.

The End.

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

One thought on “FF/ ONESHOT/ BE BETTER/ BTS-BANGTAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s