FF/ ALL YOU HAD TO DO WAS STAY/ BTS-BANGTAN/ pt. 1


IMG_0981
Title : All You Had To Do Was Stay ( Chapter 1 )
Author : F12L.
Genre : Romance, Comedy, Sad, Teenagers life,
Rating : PG-17 (NO NC).
Length : Chapter.
Disclaimer : Cover, cerita dan segala isinya disini adalah hasil kerja keras author yang baru pertama kalo bikin ff ;’) maaf kalau typo bertebaran~ dilarang copy paste atau plagiat ya!! jangan lupa comment! thanks!!
Cast :
– Jeon Jung Kook
– Song Yoon Hi // IU Visualization.
Support Cast :
– Find by yourself.

“Mungkin memang dirimu dan diriku harus berada pada jalan yang berbeda. Kau menuju ke ‘sana’.. Dan aku tetap berada di ‘sini’.”
Terpaan langit pada kulit wajah membuat snapback yang dikenakan sedikit terguncang. Langit dengan rona magenta membuat senyuman terpatri dengan lembutnya saat dilihat.
“Syukuri apa yang ada…” Lirihnya sesaat sebelum menundukkan kepalanya.
Sebentar lagi sang surya akan hilang di ufuk barat. Suasana seperti ini-lah yang hanya bisa dinikmati seorang Song Yoon Hi selama 3 tahun belakangan ini.
Hitungan menit telah berlalu. Hanya bersisakan rona oranye-magenta-keunguan yang menghiasi langit. Kata lainnya adalah berarti gadis tersebut harus segera kembali ke tempat asalnya, Kamar 306.
Namanya Song Yoon Hi, umurnya 17, seharusnya menduduki bangku SMA taun akhir. Tetapi yang ada dirinya terpaksa terkurung di kamar berukuran 6×6 dan sudah 3 tahun lamanya ia ber’sarang’ di kamar ini. Dimana lagi kalau bukan rumah sakit?
‘Kata Eomma cukup 3 hari saja aku disini.’
‘Kata Eomma 3 minggu lagi aku bisa kembali beraktifitas!’
‘Ah. 3 bulan tidak terlalu lama kok. Aku akan sembuh!’
Dan akhirnya sudah 3 tahun dirinya terjebak disini.
Kanker sumsum tulang belakang. Katanya itu nama penyakit yang perlahan menggerogoti tubuh gadis ini. Tidak, tidak ada sekali-pun dipikirannya ia mengidap penyakit mematikan ini.
Dan semenjak saat itu, waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi gadis satu ini. Canda tawa, senyuman, dan lontaran jahil adalah sesuatu yang sangat langka bagi Yoon Hi sendiri. Kalau masih ada Chae Yoon mungkin dirinya tidak merasa terlalu kesepian, namun sayang temannya yang berjuang melawan kanker juga, sama sepertinya, harus mendahuluinya untuk ‘berpulang’.
Wangi khas bunga lily kembali menyeruak. Sengaja jendela dibuka agar suara deru ombak yang berasal dari pantai sebelah terdengar.
Kamar 306, kamar yang sangatlah sunyi karena hanya berisikan seorang gadis yang sedang membaca novel dengan topi yang menutupi kepalanya. Semenjak 2 tahun lalu, ia tidak pernah melepas topinya tersebut karena malu akan kepalanya yang tidak memiliki rambut satu helai-pun. Apalagi kalau bukan karena efek samping kemo terapi?.
‘KRIEET!’ Suara pintu yang dibuka menggema diruangan tersebut.
“Ah.. Pasti Eomma..” Katanya singkat lalu menutup buku beberapa ratus halaman itu.
“Eomma? Sudah datang?” Tanya gadis itu sambil berusaha untuk turun dari ranjang ber-sprei putih. Tangan menggapai tirai-pun akhirnya tersibak.
Ups, ternyata bukan sang ibu yang datang.
Sesosok lelaki dengan surai hitam legam, satu tangan menjinjing tas, sedangkan satu lagi tergantung lemas begitu saja. Pakaiannya tidak terlalu rumit. Hanya kemeja dengan celana sebatas lutut dan kaki beralaskan converse.
Raut kebingungan tidak nampak pada gadis bernama Yoon Hi tersebut. Tentulah menurutnya tidak sopan jika ia mengekspresikan raut itu. “Ah.. Maaf..” Katanya singkat dahulu karena salah mengira.
“Tidak apa..” Suara lembut memasuki indra pendengaran si gadis, balasan dari lelaki tersebut.
“Tapi.. Kau…? Siapa..?” Dari pada gadis itu curiga terhadap lelaki bersurai legam tersebut, akhirnya ia bertanya.
“Aku? Aku katanya di-tempatkan di ruangan ini. Tetapi aku tidak tahu kalau sudah ada yang di dalam sini.” Jelas lelaki tersebut dengan raut wajah bingung.
Memang sih, kamar ini di peruntukkan untuk dua orang. Tetapi tidak mungkin kan kedua yang berlawanan jenis berada di satu ruangan yang sama?
“Eh?” Tanya Yoon Hi singkat karena bingung. “Memang kamar berapa?” Lanjutnya singkat.
“306?” Jawab lelaki itu sambil menunjukkan secarik kertas yang baru saja ia ambil setelah merogoh kantungnya.
Manik senada biji kopi milik Yoon Hi membaca jelas apa yang tertulis dikertas tersebut.
Tidak berani meloloskan kekehan panjang akhirnya Yoon Hi hanya terkekeh kecil sebelum akhirnya membalas. “Kau di 309… Kau salah baca..” Senyuman pun terpatri setelah menyudahi kata katanya.
“Eh? Iyakah?” Buru buru lelaki tersebut menarik tangannya kedepan wajah guna melihat apa yang tertulis. Benar saja, itu 309 bukan 306.
“Untuk 309 Ada tepat di serong kanan ruangan ini..” Jelas Yoon Hi masih dengan senyuman.
“Ah.. Oke.. Terimakasih terimakasih..” Ucap lelaki itu sambil membungkuk dan lalu memutar balikkan tubuhnya, berjalan ke ruangan yang di peruntukkan untuk lelaki tersebut.
Hanya ingin memastikan apa lelaki tersebut dapat menemukan ruangannya, Yoon Hi mengikutinya sampai di ambang pintu. Kekehan kecil lolos dari bibir si gadis setelah melihat lelaki tersebut memasuki ruangannya.
Subuh menjelang pagi, dimana semua pasien nampaknya masih menikmati tidurnya terkecuali gadis dengan topi bewarna hitam yang masih bergelut dengan novelnya.
“Dan pada akhirnya, semuanya tidak akan seindah yang di bayangkan….” Lirihnya pada tulisan terakhir di novel tersebut.
“YA! SONG YOON HI!?” Omelan khas terdengar langsung menggema di kamar tersebut, tidak mungkin gadis yang tengah terduduk itu tidak terkejut mendengar suara menggelegar seperti itu.
“KAU BELUM TIDUR!? INI SUDAH SUBUH!!!” Rentet orang itu kembali berjalan mendekati ranjang gadis tersebut.
“Aish eomma… Kali ini saja…” Ucapnya menjelaskan lalu menaruh bukunya diatas nakas berpelitur. Ya, siapa lagi pemilik suara menggelegar ini kalau bukan Nyonya Kang Min Young? Istri dari Song Jeo Hoon yang adalah ibu dari gadis yang terduduk itu.
“Kali ini saja apanya!? Kau sudah sering tidak tidur hanya untuk membaca satu novel!” Rentetan tidak berhenti menyerang si gadis. Tak dipungkiri juga gadis tersebut tersentak kebelakang dengan mata terpejam setiap kali ibunya mengomel.
“Ini terakhir!! Aku janji!!” Kata gadis itu seraya menutup kedua telinganya, mencoba menggentikkan omelan sang Ibu.
“Huh..” Helaan nafas lolos dari bibir sang Ibu. Entah apa yang salah tapi nampak dari mata Ibunya tersebut kalau wanita itu sedang membendung air mata.
“Mwohae?-” Tanya gadis itu lalu memindahkan posisinya menjadi menduduki pinggiran ranjang.
“Jaga kesehatan penting nak.. Istirahat yang banyak..” Kata Ibunya seraya membalikkan badan agar wajahnya tidak terlihat.
Yoon Hi, yang notabenenya adalah anak dari wanita tersebut tidak bisa melakukan apa apa kecuali menahan tangisnya. Helaan nafas pendek juga lolos dari bibir gadis tersebut yang merasa sangat sedih karena harus membebankan kedua orang tuanya.
“Ne.. Eomma.. Tenang-lah.. Aku akan sembuh!” Ucap gadis dengan presentase hidup 30% itu.
[skip]
Tidak ada yang bisa dilakukan gadis ini selain mengurung diri dikamar bersama buku kesukaannya. Memang tipe tipe gadis seperti Yoon Hi terdengar sangat membosankan maka dari itu juga dirinya tidak pernah mempunyai apa yang namanya ‘kekasih’.
‘TOK TOK’ Ketukan suara pintu membangunkan gadis dari buku ke-3nya dalam minggu ini.
“Eh? Nuguya?” Tanya-nya dari dalam kamar.
“Penghuni 309…” Balasan terdengar tepat setelah pertanyaan terlontar dari bibir gadis tersebut.
“Hee? Untuk apa?..” Tanyanya pelan agar tidak terdengar sampai luar. Beberapa detik berlalu baru-lah terdengar suara dari luar lagi, “Bolehkah aku masuk?”
“Boleh!” Jawab gadis itu begitu saja pada lelaki yang ia temui kemarin malam.
Pintu terbuka, sesosok lelaki dengan pakaian rumah sakit terlihat memasuki ruangan setelah menutup pintu.
“Ada apa?…” Tanya gadis itu bingung karena baru kali ini dalam seumur hidup dirinya dihampiri seorang lelaki.
“Tidak apa sih. Aku bosan saja sendirian disana.” Jelas lelaki itu lalu berjalan menuju jendela.
“Wah! Pemandangan disini lebih bagus!” Kata lelaki tersebut setelah melihat taman dari jendela kamar Yoon Hi.
Kekehan kecil lolos dari bibir gadis tersebut melihat reaksi lelaki tersebut.
“Kau mau kesana?” Tawar Yoon Hi pada lelaki yang belum ia ketahui namanya. Mengingat mereka belim saling mengenal, akhirnya gadis itu-pun memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
“Omong omong nama-ku Song Yoon Hi.. Kau?” Tanyanya balik pada lelaki bersurai legam tersebut.
“Aku Jeon Jung Kook, ayo kesana!” Ujar lelaki itu bersemangat. “Kau bisa jalan kan?” Jungkook pun  memastikan dulu apakah Yoon Hi bisa berjalan atau tidak. Tentunya Kekehan kembali lolos dari bibir gadis itu.
“Tentu bisa-lah!” Ujarnya percaya diri. Yoon Hi pun langsung turun dari ranjang yang tidak terlalu tinggi itu dan mengenakan sepatunya.
“Aku kira kan harus pakai kursi roda.. Rumah sakit ini cukup ribet.. Aku saja kemarin pas datang harus pakai kursi roda!” Ujar Jungkook panjang lebar sebelum akhirnya berjalan mendekati Yoon Hi.
Tingginya semampai, bisa dikatakan ujung kepala Yoon Hi hanya setinggi dada lelaki itu. “Kau.. Besar sekali.. Aku merasa seperti kurcaci..” Kata Yoon Hi sesaat yang membuat lelaki tersebut terkekeh.
“Kau terlalu pendek Nona Song..” Kata lelaki tersebut lalu berjalan mendahului si gadis.
Jam masih menunjukkan pukul 10.15 yang terbilang tidak cukup panas bagi setiap kaumnya untuk bermain di daerah taman.
“Ya, Jeon Jung Kook! Tunggu!” Teriak gadis yang tertinggal 3meter di belakang lelaki tersebut.
Jungkook yang notabenenya adalah seorang lelaki baik, berhenti hanya demi menunggu gadis yang baru ia ketahui namanya tersebut.
Sesaat setelah gadis tersebut sudah berada di sebelahnya, ia langsung berkata, “Tidakkah kau seharusnya memanggil-ku Oppa?”
‘Eh?’ Tanya Yoon Hi dalam hati. Tentulah gadis tersebut terkejut dan langsung menghadapkan wajah mungilnya kearah lelaki tersebut. “Harus-kah? Aku 18 tahun.. Memang kau berapa?” Tanya Yoon Hi memastikan dahulu, takut takut kalau mereka seumuran.
“Kan benar, kau harus memanggil-ku Oppa. Aku umur 19!” Kata lelaki itu dengan bangga lalu menunjukkan deretan giginya yang membuat kerutan di daerah hidung.
‘…’ Dalam sesaat Yoon Hi terdiam melihat ke-arah lelaki tersebut. Bukan, bukan terpesona. Memang mereka mengenal satu sama lain baru beberapa jam yang lalu, tetapi yang bisa Yoon Hi simpulkan, lelaki bernama Jeon Jung Kook ini tergolong sedikit ‘nyebelin’ dan kepedean.
“Apa lihat lihat? Hati hati nanti kau jatuh cinta padaku!” Ujar lelaki tersebut lalu kembali meninggalkan gadis tersebut.
“Aish.. Jinjja..” Rutuk si gadis sesaat sebelum akhirnya berjalan guna menyamakan langkah dengan lelaki tersebut.
Menduduki bangku taman berdua, layaknya novel novel yang ia baca beberapa hari lalu. Tidak dipungkiri bahwa suasana menjadi sedikit canggung mengingat hanya mereka berdua yang berada di taman ini.
“Kau kenapa?” Tanya Jungkook pada Yoon Hi yang terlihat murung.
Bukan, bukan murung. Hanya saja gadis itu bingung mau melakukan apa.
“Tidak apa kok.. Aku-..” Omongannya terputus saat itu juga. Saat Jungkook menaruh telapak tangannya di kening milik gadis bertopi itu.
“Kau.. Yakin?” Tanya Jungkook dengan manik menatap dalam kearah manik lawan bicaranya, Yoon Hi.
-to be continued-

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s