FF/ MONSTER/ BANGTAN-BTS/ pt. 11


Monster 11

Title             : “Monster” [Part 11]

Author         : intan @sena_kuki

Rating                   : T (17+)

Genre           : school life, fantasy, romance, comedy, family etc.

Cast             :

  • Han Se Na (OC)
  • Kim Nam Joon
  • Min Yoon Gi
  • Park Han Na (OC)
  • Kim Seok Jin
  • Jung Ji Hwa (OC)
  • Park Jimin
  • Park Sang In (OC)
  • Kim Taehyung
  • Jang Ok Jung (OC)
  • Jeon Jungkook
  • Jung Eun Shi(OC)
  • Jung Hoseok
  • Park Subyong (OC)

 

Don’t go, just come..

 

♥♥♥

11 years ago..

 

       Diseberang jalan terlihat ibu muda dengan rambut yang diikat setengah menggunakan rok panjang berdiri sambil tersenyum tenang. Ia tengah menunggu anaknya yang bersekolah di TK Seeya itu. Sebuah TK yang terlalu berlebihan untuk anak biasa. TK yang biaya sekolahnya hampir menyamai biaya sekolah perguruan tinggi.

Segerombolan murid TK mulai keluar dari gerbang bersama bodyguard, kedua orang tua, orang-orang berjas atau mungkin orang yang mewakilkan orang tua mereka yang sibuk dengan kehidupan dunia.

“YYA!! KIM TAEHYUNG?? Kau benar-benar anak pemilik Jewelry?? Kita tidak pernah melihat ibumu? Kita hanya selalu melihat ayah dan anak buah ayahmu. Apa ibumu sudah mati?” Tanya seorang murid gemuk pada bocah kecil bernama Kim Taehyung dan diikuti anggukan beberapa temannya.

“Dia pasti hanya anak adopsi. Dia tidak diacuhkan ibunya karena ibunya tidak menyukainya. Ibu nya tidak bisa melahirkan dan hanya ayahnya yang mencintainya..” Gumam teman dari orang yang memanggil Taehyung tadi. Taehyung mulai emosi dan berlari keseberang jalan.

“TIIIT!!!!!!!!!!!!”

Dikoridor rumah sakit terlihat Taehyung dilumuri darah disekujur tubuhnya. Bocah kecil malang itu terluka parah. Dan sebenarnya hal inilah yang membuat taehyung menjadi Hematophobia. Taehyung masih membuka matanya dan memandang lampu langit-langit koridor rumah sakit. Ia mendengar suara tangisan. Taehyung menatap orang itu. Seorang ibu muda yang tadi berdiri disebalik jalan.

“Taehyung-ah. Kau harus bertahan! Bukankah kau ingin bertemu dengan Eomma mu? Eomma disini. Eomma datang untukmu. Kau harus bertahan untuk Eomma. Taehyung-ah..” Tangis ibu muda itu sambil berusaha berlari mengiringi Taehyung.

“Eomma? Eo-eomma??” Gumam Taehyung ragu dengan suara lemahnya.

Di dalam ruang rawat terlihat Taehyung yang masih belum sadar diatas ranjang nya. Disana Ibu muda yang mengaku sebagai Ibu Taehyung duduk disamping Taehyung sambil menggengam tangan anaknya dengan penuh kekhawatiran.

“Seohyun-ah..” Terdengar gumaman seorang lelaki dari pintu. Ya, dia adalah ayah Taehyung.

“D-daehyun-ah..” Sahut Seohyun pelan dan langsung berdiri menundukkan kepala. Daehyun terdiam tidak percaya kemudian berlari mendekati Seohyun. Menatap mata wanita itu dalam dan setelah yakin dia adalah wanitanya langsung ia peluk wanita itu. Seorang ibu yang sudah menghilang 4 tahun yang lalu.

“Kau kemana saja? Kau tau seberapa sulitnya waktu yang dilalui Taehyung dan aku tanpamu?” Seru Daehyun sedikit berteriak namun diiringi nada kekhawatiran. “Taehyung terus menanyai ibunya padaku. Aku hanya berkata kau akan kembali untuk Taehyung. Terimakasih sudah kembali, Seohyun-ah..” Daehyun tersenyum haru. Ia sangat senang ibu Taehyung kembali hingga lupa dengan anaknya sendiri Kim Taehyung. Taehyung yang sedang terbaring dengan luka parahnya.

“Maafkan aku.. Saat itu..”

“Aku tidak perlu penjelasan. Kau sudah kembali itu sudah cukup. Jangan meninggalkan aku dan Taehyung lagi eoh?” Peringat Daehyun sambil melepaskan pelukannya lalu menyentuh pipi Seohyun.

“Appa..” Gumaman kecil Taehyung yang baru sadar atau mungkin sedari tadi itu membuat Daehyun langsung mendatangi Taehyung.

“Taehyung-ah. Apa masih sakit? Dimana?” Tanya Daehyun sambil menggenggam tangan Taehyung. Taehyung hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. “Taehyung-ah. Ibumu datang..” Ucap Daehyun sambil menunjuk Seohyun disebelah kirinya berdiri sambil tersenyum haru pada Taehyung. Daehyun bahkan menarik tangan wanita yang dicintainya itu agar lebih mendekat. Taehyung hanya menolehkan tatapannya. Tatapan yang bisa dibilang tidak sopan bagi anak kecil kepada orang yang lebih tua. Taehyung terus menatap mata ibunya yang terlihat polos itu. Taehyung tersenyum sinis dan bergumam..

“Aku–, tidak punya ibu..”

♥♥♥

“TIIIT!!!!” Klason mobil menyadarkan Taehyung dari lamunannya. Taehyung menunduk bersalah kemudian mundur ke trotoar.

“Gwaenchana?” Tanya seseorang dibelakang Taehyung. Suara Jimin? Taehyung langsung menoleh tak menyangka.

“G-Gwaenchana..” Jawab Taehyung bingung. Mata Taehyung saat ini berkaca-kaca membuat Jimin sadar jika Taehyung sedang ada masalah. Jimin tau masalah apa yang membuat Taehyung seperti ini, ibunya.

“Kau bertemu ibumu?” Tanya Jimin sambil memberikan sumpit ramen pada Taehyung. Dengan ragu Taehyung menerima sumpit itu dan mengangguk pelan.

“Eoh jinjja.. Kau terlihat lemah jika menyangkut ibumu. Ini karena kau terlalu penasaran dengan ibumu dan mencuri pikirannya!” Eluh Jimin sambil sedikit meninju bahu Taehyung. “Kau tau kenapa rahasia disebut sebagai rahasia?” Tanya Jimin sambil mengaduk-ngaduk ramennya yang mulai melunak itu. Taehyung menggeleng lemah sambil ikut mengaduk ramennya lesu.

“Rahasia itu seperti Kotak Pandora. Jangan pernah mencoba membukanya jika kau tak ingin manusia terluka…” Ujar Jimin santai lalu mulai menggulung-gulung ramen dengan sumpitnya. Memakan ramen itu dengan lahap.

“Wanita itu menolak adik tiriku. Aku tau bagaimana rasanya ditinggalkan seorang ibu. Aku tidak ingin adik tiriku merasakan hal yang sama. Ibuku berteriak di telfon memarahi seseorang yang sudah mengatakan sesuatu pada anaknya. Ibuku menolak mentah-mentah adik tiriku dengan alasan membenci ayahnya..” Jelas Taehyung ragu. Tangan kanannya yang memegang sumpit terlihat bergetar. Jimin yang sedang mencerna makanan dan curhatan Taehyung terdiam ditambah lagi ia menyadari Taehyung seperti ketakutan. Jimin menatap tangan Taehyung yang bergetar. Sadar dengan keheranan Jimin Taehyung langsung memakan ramennya.

“Kau tau siapa adik tirimu? Berapa umurnya?” Tanya Jimin penasaran dan dibalas gelengan oleh Taehyung. “Kau akan mengatakan hal ini pada ayahmu?” Tanya Jimin lagi penasaran. Taehyung berhenti mengunyah dan menelan makanannya. Ia menatap Jimin ragu seakan bertanya ‘Menurutmu?’

“Kau harus menyuruh ibumu sendiri yang mengatakannya. Bukankah ayahmu sangat mencintai ibumu? Cepat atau lambat ibumu pasti akan sadar bagaimana kemauanmu..” Ujar Jimin dengan suara hangatnya.

“Gomawo..” Ucap Taehyung sambil tersenyum kecil kemudian menatap mata Jimin nakal. Taehyung penasaran dengan kejadian beberapa hari yang lalu kenapa Jimin melukai tangannya dan mencium Sang in kasar.

“Kau berusaha membaca pikiranku lagi?” Tanya Jimin malas.

“Aku hanya mebacanya seolah tidak pernah membaca apapun. Tenang saja aku tidak akan melakukan apapun..” Jelas Taehyung nakal sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya walaupun terlihat dimatanya setumpuk air yang menumpuk. “HOahh PEDAS!!”

♥♥♥

“Bukankah yang tadi itu benar-benar Subyong? Aku melihatnya sendiri dengan mataku. Ia terjatuh tiba-tiba kemudian tubuhnya dipenuhi bulu. Mata hijaunya mengeluarkan air mata..” Jelas Jihwa pada Sena yang kini duduk di sofa ruangan Hoseok tengah dirawat. Melihat respon Sena yang biasa saja membuat Jihwa sedikit emosi hingga menarik-narik baju Sena.

“Jangan mengatakan apapun pada siapapun tentang yang kau lihat tadi. Jika kau mengatakannya pada orang lain kau akan seperti Hoseok dan aku..” Peringat Sena sambil memegang pelipis-nya. Kepalanya terasa sakit sekarang. Berangsur semakin banyak yang mengetahui hal ini.

“S-seperti kau? A-apa yang terjadi denganmu?” Tanya Jihwa setengah takut.

“Berhenti memelihara rasa penasaran tentangku atau kau akan menyesal!” Peringat Sena menatap mata Jihwa tajam sekian detik kemudian beralih menatap keadaan Hoseok. Jihwa ikut menatap Hoseok yang kini sibuk dengan cerminnya.

“Ho-Hoseok.. Apa yang kau lakukan??” Gumam Jihwa kaget melihat Hoseok yang melepaskan perban-perban yang menutupi hidungnya yang patah seakan tidak terjadi apapun pada hidungnya.

Tidak mungkin..

Hoseok kini kebal terhadap apapun sama seperti Sena dan Yoongi. Sena sendiri juga bingung padahal Hoseok tidak melakukan apa-apa pada Subyong. Sedangkan Sena dan yoongi mulai kebal ketika menerima cairan dari tubuh Namjoon.

“Apa ini yang kau maksud agar aku tidak membocorkan kejadian hari ini? Jika aku membocorkannya aku akan menjadi orang aneh seperti kalian?” Tanya Jihwa sedikit takut. “Jadi ini yang membuatmu sembuh dalam satu malam tanpa bekas ditanganmu? Kupikir hal-hal seperti itu tidak ada dan ternyata?”

“Jihwa-ya.. Kumohon ini demi kebaikan seseorang..” Pinta Sena kini dengan wajah memelasnya.

“Kebaikan Monster yang pernah dikatakan Taehyung itu?” Tanya Jihwa sambil bergidik menunggu jawaban Sena. Sena mengangguk pelan. “Jadi itu benar karna kau berciuman dengan Yoongi Sunbae? Jadi dia itu Monster nya? Dia bukan manusia? B-Benarkah??” Tanya Jihwa tidak percaya.

“ANIYA!!! S-sebenarnya, Yoongi sunbae juga sama seperti aku dan Hoseok jadi tolong jangan katakan apapun jika kau tidak ingin terperangkap dengan hal menakutkan seperti ini..” Jelas Sena ragu. Ia takut jika Jihwa tidak mau menjaga rahasia tentang kejadian hari ini. Ia tidak ingin Subyong melemah dan Namjoon yang terbebani.

“Baiklah.. Aku akan merahasiakan ini tapi dengan satu syarat juga..” Ucap Jihwa sambil melipat kedua tangannya. Sena menatap Jihwa menunggu apapun permintaan dari Jihwa.

“Kejadian di UKS tadi. Saat aku memeluk Jin oppa. Anggab kau tidak pernah melihat hal itu..” Bisik Jihwa membuat Sena membulatkan matanya heran. Hanya itu? Apa Jihwa sebegitu malunya kepergok oleh Sena? “Jangan katakan pada siapa pun apa yang kau dengar! ARRA??” Teriak Jihwa sedikit kesal mengingat kejadian tadi sore. Sena mengangguk kencang kemudian meninggalkan Sena dan Hoseok dengan langkah mundur sambil menunjuk Sena dengan jari telunjuknya. Persis dengan apa yang dilakukan Sena saat di UKS tadi sore.

“Yoongi siapa?” Tanya Hoseok memecahkan keheningan ketika Jihwa sudah pergi.

“Kakak kandungku..”

“Mwo?? Bukankah kau anak tunggal??”

“Tidak sejak sebulan yang lalu..”

“W–Wae??” Hoseok menatap Sena penasaran. Sena menarik nafas dalam-dalam dan mulai bercerita. Menceritakan semuanya termasuk kejadian saat ia tinggal di Panti Asuhan.

“Kau tau dimana ibumu atau ayahmu sekarang?” Tanya Hoseok dengan nada prihatin. Sena menggeleng pelan. Hoseok tersenyum hangat sambil merangkul bahu Sena mengajaknya keluar dari Rumah Sakit. Sena tersenyum tipis dan ikut mengiringi langkah Hoseok yang merangkulnya. Hoseok dan Sena sudah sering seperti ini ketika bertetangga di Jepang dulu. Mereka sangat dekat seperti ini layaknya saudara kembar.

“Btw sepertinya kau melakukan kesalahan pada Subyong. Kenapa Namjoon oppa memukulmu seperti itu? Kenapa Subyong berubah secara tiba-tiba?” Tanya Sena ketika tengah berada didalam lift yang hanya dipenuhi oleh mereka berdua.

“Molla.. Mulai sekarang ini bukan urusanku lagi. Aku tidak mau berhubungan dengan Subyong lagi. Saat itu aku mendatanginya hanya karena Pe-Na-Sa-Ran dan sekarang aku sudah tau semuanya. Kesimpulannya aku.. Ti-Dak Ter-Tarik, puas?” Jelas Hoseok dengan penuh penekanan mewakilkan rasa kesal dan jengahnya.

“Benarkah? Tapi sepertinya kalian punya radar yang cukup kuat?” Tanya Sena ragu sambil memperlihatkan 2 buah V sign dikepalanya seperti antena. Kalian tidak pernah berciuman kan? Atau berbagi cairan tubuh? Atau melakukan ‘itu’??” Tanya Sena hati-hati.

“MICHEOSSEO?? Walaupun pria aku ini tidak murahan!!” Elak Hoseok kesal. Teriakan Hoseok membuat Sena langsung terjorok ke dinding lift saking kagetnya.

“Baiklah terserah padamu. Padahal aku berharap kalian bisa bersatu jadi kutukan ini akan berakhir..” Gumam Sena pelan membuat Hoseok menatap Sena heran. Kutukan bisa berakhir? “Kau sendiri bilang Terkadang kekuatan cinta lebih mujarab dibanding apapun. Dengan mencintai seseorang kau bisa membuat orang lain hidup lebih lama, bertahan dari cuaca, bertahan dari ancaman, bertahan dari kesakitan. Dengan hati yang tulus itu kau bisa melakukan hal yang ingin kau hindari..” Sena tersenyum penuh arti membuat Hoseok terdiam hingga suara pintu lift terbuka menyadarkannya.

♥♥♥

“Kenapa kita satu grup adalah pertanyaan yang terus terngiang ditelingaku sepanjang jalan menuju desa ini..” Gumam Okjung pada Taehyung yang berjalan disebelahnya.

“Bukankah ini kebetulan? 100 orang murid diantaranya adalah orang yang tak asing bagi kita..” Gumam Taehyung sambil tersenyum gaje. Taehyung sangat senang bisa berada di desa bersama Okjung. Gadis yang ia anggab sebagai miliknya secara sepihak.

100 orang murid ini juga akan dibagi menjadi 2 kelompok. Ditempatkan di desa tempat mereka berpijak sekarang dan desa sebelahnya. Jangan tanyakan sisa murid Jewelry lainnya. Mereka juga dibagi menjadi 100 orang dan di utus ke provinsi lainnya. Sosialisasi ini akan berlangsung selama 5 hari. Sekedar info Sosialisasi ini juga dapat membantu peningkatan nilai di saat penerimaan rafor nanti.

“HAH~ Sejuknya!! Sayangnya ini musim panas dan bukan musim semi. Benarkan adik kecil??” Tanya Eunshi sambil menoleh menatap Jungkook yang terus berjalan dengan wajah datar. “Kau tidak mendengarku?”

“Eoh? Kau bilang apa?” Tanya Jungkook polos.

“Lupakan..” Balas Eunshi kesal. Sebenarnya ia ingin memukul Jungkook tapi diurungkan karna ia pikir Jungkook memang punya masalah yang berat hingga ia seperti sudah kehilangan otaknya untuk memfungsikan segala indranya.

“Woah~ Kalian terlihat akrab setelah kejadian di kamar asrama itu yah? Ckckck Kalian memang cocok!!” Goda Taehyung yang berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Eunshi dan Jungkook.

“Taehyung-ah.. Berhenti menganggu orang dengan kemampuan membaca pikiranmu itu. Kau pikir hanya kau saja yang mempunyai kemampuan seperti itu, eoh?” Pekik Ok jung sedikit kesal lalu menarik kerah Varsity Taehyung untuk menjauh dari Eunshi dan Jungkook.

“Baiklah mulai sekarang aku hanya membaca pikiranmu saja Chagiya!! Mumumumu!!” Taehyung memonyong-monyongkan bibirnya sambil mencubiti kedua pipi Okjung gemas. Taehyung bahkan menggeleng-gelengkan kepala Okjung sambil mencubiti pipinya hingga membuat pipi chubby itu memerah.

“Kau tersipu chagiya?? Pipimu semerah tomat..” Gumam Taehyung sambil tersenyum nyengir memperlihatkan deretan giginya.

“Berhenti sebelum aku menendangmu..” Okjung bergumam melalui pikirannya sambil menatap mata Taehyung tajam seperti akan mengeluarkan sinar laser. Taehyung langsung menurunkan tangannya dan berusaha mencari topic pembicaraan yang baru. Sepertinya Taehyung takut dengan tatapan tajamnya Okjung itu.

 

Dalam 50 orang itu siapa sangka Sena, Hanna, Yoongi, Ok jung, Taehyung, Sang in, Jimin, Eunshi, Jungkook dan Hoseok berada di kelompok yang sama. Sedangkan Namjoon, Subyong dan Jihwa mereka berada diseberang desa. Mereka semua akan bertemu di hari terakhir di tengah hutan nanti dengan total grup 100 orang.

“Malam ini kalian bisa beristirahat setelah memompa tenda kalian masing-masing. Satu tenda untuk 3 orang dengan 2 buah lentera. Jika kalian tidur hanya 1 lentera yang dinyalakan. Besok pagi kalian harus bangun jam 5 subuh untuk membantu penduduk desa mengurus pertanian. Jangan sampai terlambat atau kalian tidak mendapatkan apa-apa untuk sosialisasi ini. ARRASSEO??” Jelas Kangin-saem dengan penuh penekanan membuat Mirae-saem menguap bosan.

“NE!!” Jawab semua murid dengan berbagai ekspresi yang mayoritasnya ‘Malas’. Murid-murid berpencar di lapangan hijau yang cukup luas itu untuk mencari tempat yang PW membangun sebuah tenda yang akan mereka gunakan selama 5 hari kedepan.

“Hai adik ipar??” Sapa Sena pada Eunshi tanpa rasa bersalah. Sepertinya Sena mulai ketularan Taehyung untuk menggoda pasangan itu. Tidak banyak orang yang tau jika Sena dan Jungkook sepupuan. Walaupun sebenarnya mereka tidaklah sepupu kandung.

“Jangan menggangguku. Sangin matikan lenteranya..” Perintah Eunshi sambil menarik resleting jaketnya pada Sangin yang baru masuk kedalam tenda. Sena yang tiduran sambil mengotak-atik HP nya hanya tersenyum geli. Ya, Sena, Sangin dan Eunshi berada di tenda yang sama.

To : Guardian Monster

“Kau sudah tidur oppa??”

“…..”

Sena memutar-mutar ponselnya. Sudah lebih 15 menit tidak ada balasan dari Namjoon membuat Sena mendengus kesal. Kesal?

“Aku hanya penasaran! Apa yang dia lakukan? Apa dia baik-baik saja?? Aku tidak kesal untuk apa aku kesal?? Aku tidak melihatnya semenjak kejadian itu!! Jika aku baik itu hanya karena membalas bu..”

“BERISIK!!!” Teriak Eunshi sambil menendang pantat Sena yang membelakangi Eunshi. Sena hanya menggaruk pelan kepalanya kesal. Kali ini baru ia mengakui bahwa ia sedang kesal. Tidak biasanya Eunshi seperti ini. Biasanya Eunshi bertingkah seakan ia lebih kecil dari Sena. Sepertinya Eunshi sedang PMS.

 

*Keesokan harinya

“Masing-masing kalian dibagi menjadi 10 orang, total 5 kelompok. Kelompok 1 mencari kayu bakar. Kelompok 2 mencari ubi jalar di kebun sana. Kelompok 3 mengangkat air dari sumur dekat kantor desa. Kelompok 4 merapikan tempat ini. Kelompok 5 ikut denganku dan Mirae-saem” Umum Kangin-saem dengan suara sok killernya membuat semua murid berteriak tidak terima. Beberapa member kelompok merasa tidak adil dengan kelompok lainnya.

“Selama 5 hari kalian rolling tugas!! Tidak terima angkat tangan? Jangan berisik!!” Pekik Kangin-saem sambil memonyongkan bibirnya lalu mengayun-ayunkan sebatang ranting pada Taehyung yang tadi mengeluh karena harus menerima takdir berada dikelompok 3. Bukan karena Taehyung tidak mau mengangkut air dengan gerobak dan ember itu tetapi karena ia harus berpisah dengan Okjung yang berada dikelompok 4 bersama bocah nakal Jungkook. Ia tidak suka dengan Jungkook karena ia fikir Jungkook menyukai Okjung. Entah sejak kapan Taehyung berspekulasi dan tidak menggunakan kemampuan membaca pikirannya tentang hal itu.

“Apa selama 5 hari kita hanya makan ubi jalar saem?” Tanya Hoseok mengangkat tangannya. Beberapa murid lain ikut bersuara merasa benar adanya pertanyaan Hoseok itu.

“Kelompok pencari makanan bebas mencari makanan di ladang desa asalkan kalian meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik kebun. Kalian taukan maksudku?” Tanya Kangin-saem sambil berjalan mengelilingi murid-murid yang kini sudah berbaris berdasarkan kelompok. Ketika tiba di depan Taehyung Kangin berbisik ditelinganya “JANGAN MENCURI!!” Pekik Kangin-saem membuat Taehyung langsung memiringkan kepalanya kebahu tidak berani menutup telinga menggunakan tangannya.

“Mirae-saem..” Gumam Kangin-saem sambil menaikkan alisnya seperti memberikan kode membuat Mirae-saem jengah. Mirae-saem mengambil beberapa kantong plastic besar didalam tenda membuat beberapa murid bersorak gembira. Ternyata didalam kantong plastic itu ada roti dan susu kotak untuk sarapan pagi mereka menjelang siang nanti. Kantong plastic itu diberikan kepada perwakilan masing-masing kelompok.

Semua murid mulai berpencar melaksanakan tugas mereka. Tugas-tugas yang mereka kira mudah ternyata tidak sama sekali. Taehyung yang bertugas mengangkut air kini malah dimintai tolong oleh seorang kakek tua untuk memompa, mengangkut air bahkan Taehyung juga menggendong seorang nenek centil dipunggungnya, menyebalkan.

Kelompok pencari makanan kini di ladang ubi sibuk mencangkul tapi malah disuruh mencangkul ladang kosong disebelahnya dulu. Mencabuti rumput liar di sekitar sayuran juga menyingkirkan batu-batu kecil. Sena merintih lelah sambil menyapu keringat dan memukul-mukul punggungnya kelelahan begitu juga Hanna yang satu kelompok dengannya.

Kelompok 4 yang bertugas merapikan perkarangan tenda kini sudah sampai hingga jalanan desa. Menyapu-nyapu kerikil yang bisa membuat petani tergelincir. Menyiram pestisida pada rumput-rumput liar disekitar jalan salah satunya Jimin dan Okjung. Kelompok pencari kayu bakar diantaranya adalah Eunshi dan Jungkook yang kini sibuk memunguti ranting kering lalu mengikatnya. Eunshi membantu mengangkat ranting itu ke pungggung jungkook agar dibawa ke tenda tapi melihat seorang anak kecil juga sibuk mencari beberapa ranting membuat Eunshi kasihan. Dengan kode memukul pundak Jungkook Eunshi menyuruh Jungkook mendatangi anak itu dan memberikan ranting itu padanya serta mengantar anak itu pulang.

Kelompok 5 yang ikut dengan Kangin dan mirae-saem diantaranya Yoongi, sangin dan Hoseok disuruh mengikat pita warna warni di beberapa pohon. Sepertinya akan ada games pada hari ke-5 di tengah hutan. Yoongi terlihat malas mengikuti gerombolan karena mereka tidak boleh berpencar. Tak sengaja Kelompok 5 bertemu dengan teman segrup mereka yang berada di desa tetangga mendapat tugas yang sama dengannya. Hal yang berbeda mereka malah mengikat pohon dengan pita berwarna hitam dan putih saja. Diantara kelompok itu terdapat Namjoon dan Subyong.

“Eoh?” Hoseok bergumam tak percaya melihat Namjoon kini menyentuh pohon yang sama dengannya. Tak jauh dari tempat Namjoon dan Hoseok berdiri ada Subyong juga disana yang memperhatikan mereka berdua.

“Kau yang memukulku kemaren kan?” Tanya Hoseok membulatkan matanya namun menahan suaranya agar tidak terdengar orang lain. Namjoon tidak menjawab sementara Subyong memperhatikan wajah Hoseok sekilas. Seperti memastikan tidak terjadi apa-apa pada Hoseok.

“Ayo..” Ajak Namjoon sambil menarik tangan Subyong beranjak pergi ke pohon selanjutnya. Namjoon tidak mempedulikan Hoseok yang terus menatapnya tak suka.

“Kenapa kau mengacuhkanku? Seharusnya kau minta maaf padaku!” Tagih Hoseok mengikuti Namjoon yang tengah mengikat sebuah pita hitam dibantu Subyong. Tidak diacuhkan lagi membuat Hoseok geram. “Kau menyukai Subyong? Kau begitu peduli dengannya? Bukankah kau menyukai Sena? Sena cinta pertamamu! Ciuman pertamamu juga dengannya kan? Kau hanya berencana membuat Sena terus disisimu agar kutukanmu tidak kambuh kan?” Tanya Hoseok sedikit sinis. “Sekarang kau berharab agar aku menerima Subyong agar kutukan ini berakhir..”

“Belum cukup aku mematahkan hidungmu? Bisa saja kepalamu itu berpisah dari badanmu sekarang juga..” Gumam Namjoon dengan suara menyeramkan plus tatapan mematikan itu. Bulu kuduk Hoseok langsung berdiri mendengar peringatan Namjoon. Tidak, ia tidak boleh kalah telak begitu saja dengan perkataan Namjoon. Subyong hanya diam sambil menggigiti bibirnya menahan rasa sakit hati nya pada ucapan Hoseok barusan.

“Coba saja! Bukankah aku juga kebal seperti Sena dan siapa? Yoongi kakak kandungnya Sena itu? Apa yang membuatku seperti ini? Apa karena gumiho ini?” Tanya Hoseok sambil menunjuk Subyong menggunakan mulutnya. Menatap Subyong tidak suka. Subyong merasa tersinggung dengan pertanyaan Hoseok itu. Apa salahnya Hoseok menyebut nama Subyong atau menunjuk Subyong menggunakan telunjuknya.

“Kau penasaran?” Tanya Subyong yang kini bersuara. Hoseok beralih menatap Subyong menunggu kalimat selanjutnya. “Kau mencuri kalungku. Kalung suciku ada padamu. Itu membuatmu kebal terhadap apapun. Kau harus mengembalikan kalungku jika tidak kau akan mati ditanganku..” Peringat Subyong dengan penekanan yang kuat pada kata mati itu. Hoseok teringat dengan penjelasan Hobeom lelaki misterius itu. Subyong kehilangan kalungnya dan jika kalung itu tidak ditemukan maka Subyong akan memakan Jantung manusia untuk terakhir kalinya dan itu adalah jantung Hoseok.

“Aku tidak mencurinya..” Elak Hoseok tidak terima.

“Benar kau tidak mencurinya. Namun benda itu ada padamu. Kau hanya perlu menyerahkannya padaku sebelum salju pertama turun..” Bisik Subyong ditelinga Hoseok kemudian pergi begitu saja bersama Namjoon. Hoseok terdiam membeku memikirkan hal-hal aneh itu lagi. Hoseok saja tidak sempat memasukkan kalung itu kedalam kantongnya, bentuk kalungnya saja ia tidak begitu ingat tapi gumiho itu bilang kalung itu ada padanya. Ada padanya?

“Yang benar saja..” Gumam Hoseok sambil menendang batang pohon lalu menoleh kebelakang. “eoh? Kemana semua orang??” Gumam Hoseok kaget. Tidak ada orang disekitarnya kecuali Namjoon dan Subyong yang mulai menjauh. Hoseok terpisah dengan kelompok mereka. Hoseok mulai cemas keringat-pun bercucuran dipelipisnya. Hoseok buta arah ia tidak ingat jalan yang dilaluinya. Bahkan pita-pita itu sama sekali tidak membantunya. Ia terlalu panik dengan situasinya sekarang.

“Kalian tidak butuh makan siang lagi kan? Semuanya pasti sudah makan siang bersama penduduk desa yang sudah kalian bantu. Kalian paham kan? Dengan membantu orang lain kalian tidak akan rugi sama sekali. Jika kalian sudah menjadi orang besar nanti ingatlah dengan apa yang kalian lakukan hari ini! Jangan pernah meremehkan orang kecil. Jika tidak ada mereka kalian tidak ada apa-apanya. ARRASEO??”

“NE~” Seru semua murid senang yang kini berkumpul mengelilingi benda-benda, makanan, minuman yang mereka dapat selama berpencar tadi.

“Serahkan absen setelah kalian merapikan semua ini. Nanti malam kita pesta api unggun dan ubi bakar. Masak air untuk membuat kopi dan teh bagi siapa yang mau. Aku akan pergi ke kantor desa dulu. Mirae-saem mengawasi kalian dan jangan keluar dari wilayah tenda ini. ARRA!!!”

“NE~..” Sahut murid lain yang kini mulai bersemangat. Bukan karena akan ada acara seru nanti malam melainkan Kangin-saem yang berisik sok mengatur dan sok killer itu sudah hilang dari peredaran.

“Hoseok dikelompok mana?” Tanya Sena pada Sangin sambil sibuk memilih ubi dari dalam karung.

“Sama denganku. Kami tadi ikut seonsaengnim mengikat pohon untuk games di hari terakhir..” Jawab Sangin santai.

“Kalian kehutan?? Lalu Hoseok dimana sekarang?” Tanya Sena mulai cemas. Sena hafal betul Hoseok tidak tau jalan jika tersesat. Jangankan tersesat melihat jalan saja ia sudah bingung. Apalagi jika tidak ada orang disekitarnya yang harus diikuti.

“Hoseok tidak ada seonsaengnim..” Seru seorang murid sepertinya ketua dari kelompok Hoseok.

“Sejak kapan?” Tanya Mirae-saem heran.

“Molla.. sepertinya di hutan..” Jawab ketua bingung.

Semua murid langsung berbisik-bisik cemas. Bagaimana jika Hoseok ditelan binatang buas dihutan sana. Sekarang sudah sore dan sebentar lagi gelap.

“JANGAN BERISIK!! Desa dan hutan sudah dipastikan tidak ada binatang berbahaya! Jangan menakuti orang lain. Semuanya berkumpul berdasarkan kelompok. Tidak boleh berpisah dari kelompok kalian. JANGAN MELEPASKAN TANGAN KALIAN ATAU KALIAN AKAN SEPERTI HOSEOK ARRA!!!!” Teriak Mirae saem yang kini mulai panik.

“Sena kau panggil Kangin-saem dan minta bantuan kepala desa..” Perintah Mirae-saem dan segera Sena berlari menuju kantor desa. Mirae-saem membagikan senter ke beberapa murid. Mirae-saem juga menggunakan ponselnya menelfon pengawas diseberang desa meminta bantuan juga.

100 orang murid kini memasuki hutan mencari keberadaan Hoseok. Semua orang berteriak memanggil Hoseok. Tidak tau apakah Hoseok mendengar atau tidak. Apakah Hoseok masih hidup atau tidak.

“Auuh menyebalkan. Di drama bukankah tokoh perempuan yang hilang dihutan? Kenapa malah Hoseok??” Keluh Taehyung kesal.

“Kau yang menyebalkan. Mirae-saem menyuruh kita berada dikelompok masing-masing tapi kenapa kau ada dikelompok-ku??” Gumam Okjung tak suka.

“Bagaimana jika kau hilang? Ketua kelompokmu pasti tidak becus menjaga membernya..” Gumam Taehyung yang dengan jernih didengar oleh sang ketua, Sungjae. Taehyung melambaikan tangannya sambil memamerkan deretan giginya seperti anak kecil tidak berdosa.

Sudah hampir gelap namun belum ada laporan tentang keberadaan Hoseok. Beberapa murid mengeluh kelelahan dan kelaparan. Mirae-saem dan Kangin-saem menganjurkan murid perempuan, murid kelelahan dan keleparan kembali saja ketenda bersama Mirae-saem. Sementara Kangin-saem bersama dengan beberapa murid yang tersisa tetap di hutan.

“Kita istirahat disini saja dulu. Kalian tidak kedinginankan? Ada yang punya korek? Paling tidak kita harus menyalakan api..” Gumam Kangin-saem sambil terduduk menjulurkan kedua kakinya ketanah lelah. Yoongi yang membawa korek menyalakan api setelah Jungkook dan Sena datang membawa beberapa ranting dan daun kering.

“Aku mendengar suara air. Ada sungai disekitar sini?” Tanya Sena pada Okjung yang duduk didepannya bersama Taehyung.

“Aku tidak mendengarnya..” Jawab Okjung polos sambil menajamkan pendengarannya.

“Benar kau tidak mendengarnya? Aku mendengarnya!!” Gumam Taehyung melotot tidak percaya pada kualitas pendengaran Okjung. Okjung terlalu lelah untuk meladeni Taehyung. “Kau mau tidur di air?” Tanya Taehyung datar namun tak ditanggapi oleh Sena.

“Seonsaengnim aku mau ke sungai buang air kecil sebentar. Aku mendengar suara air dari sini..” Izin Sena pada Kangin-saem yang entah sejak kapan tertidur dibawah pohon. Namun dibalik pohon itu terlihat Yoongi yang mendengar suara Sena. “Aishh, Kenapa malah tidur ditengah hutan seperti ini..” Gumam Sena kemudian pergi begitu saja meninggalkan Kangin-saem yang tidak mendengarnya.

Yoongi memperbaiki posisi duduknya lalu memperhatikan Sena yang berjalan bersama senternya untuk menuju Sungai. Yoongi merasa tidak aman berada dihutan ini. Ia takut jika terjadi sesuatu pada Sena dan tidak ada orang disampingnya. Bagaimana jika kejadian Yoongi saat SMP dulu terulang pada Sena? Yoongi melihat teman yang lainnya. Mereka hanya asik dengan urusan mereka sendiri dan beristirahat tidak memperhatikan Sena yang sudah pergi.

“Aku hanya takut jika terjadi sesuatu yang buruk..” Gumam Yoongi kemudian mengiringi langkah Sena dari belakang.

“Hoseok akan kembali besok…” Gumam Taehyung sambil menatap langit tajam. Entah apa yang membuat Taehyung berkata dengan yakin seperti itu.

“Kau bisa melihat sesuatu??” Tanya Eunshi penasaran. Jungkook dan beberapa murid yang lainnya menoleh menatap Taehyung.

“Kita ada berapa orang sekarang?” Tanya Taehyung tiba-tiba.

“Hmm hampir 20 orang” Jawab Okjung sambil berfikir dan memperhatikan sekitar.

“Kita semua harus kembali ketenda dan jangan sampai berpisah..” Gumam Taehyung pelan seperti berhati-hati. Eunshi dan Okjung terlihat kurang yakin dengan apa yang dikatakan oleh Taehyung.

“Sepertinya Taehyung benar. Kita harus kembali ke tenda..” Gumam Hanna.

“Hawa aneh berada disekitar kita. Kita hanya manusia biasa kecuali mereka yang tidak bersama kita sekarang didalam hutan. Kita harus pergi jika ingin selamat. Jangan dengarkan apapun. Jangan berteriak. Kalian hanya berjalan lurus dari sini..” Gumam Taehyung dengan tatapan matanya yang kosong. Seakan bukan Taehyung yang berbicara melainkan sesuatu yang lain menyuruhnya untuk mengatakan hal itu. Okjung terdiam heran melihat Taehyung. Baginya ini bukanlah Taehyung yang sebenarnya, entah mengapa. Jungkook menatap tidak percaya namun ia tetap berdiri. Jimin membangunkan Kangin-saem untuk kembali ke tenda. Kangin-saem menolak karena Hoseok belum ketemu.

“Saem, Hoseok sudah kembali..” Ucap Jimin bohong agar Kangin-saem mau kembali ke tenda. Semua orang kembali ketenda melupakan Hoseok, Sena dan Yoongi.

“Hanya lurus..” Gumam Taehyung datar.

“Hanya lurus..” Gumam seseorang diatas pohon, Subyong. Subyong menghembuskan nafasnya lega karena semua orang sudah kembali ke tenda kecuali orang-orang yang mengenal kaum mereka Hoseok, Sena dan Yoongi.

Disungai terlihat Sena yang malah sibuk melihat aliran sungai. Aliran sungai dimalam hari terlihat misterius baginya. Walaupun tidak ada sinar bulan ini lumayan indah baginya. Sangat tenang dan hanya aliran air yang terdengar. Dengan hati-hati Sena turun ke tepi sungai yang dihalangi oleh batuan yang cukup besar. Menyembunyikan tubuhnya untuk melakukan tujuan kedatangannya ke sungai. Untung tidak ada sinar bulan maka tidak ada yang bisa mengintipnya dengan jelas bukan?

“Andai Namjoon oppa juga disini. Ini lumayan indah..” Gumam Sena pelan sambil meriakkan air. Sena berjalan kearah aliran sungai lebih tinggi untuk mendapatkan air yang lebih bersih. “Bukankah hutan di panti asuhan juga ada sungainya? Aku pernah sekali kesana..” Gumam Sena sambil memiringkan kepalanya mengingat-ngingat masa lalu.

Namjoon yang tertidur diluar tenda terlihat berkeringat. Telinganya bergerak seperti mendengar sesuatu. “Andai Namjoon oppa juga disini..” Keringat bercucuran dikepalanya. Nafasnya tiba-tiba sesak.

“SENA!!!” Teriak Namjoon sambil terbangun dari tidurnya. Namjoon mengatur nafasnya menghapus keringatnya menoleh kanan kiri dan melihat jam tangannya. Pukul tiga pagi dan semua orang sudah tidur. Hanya api unggun kecil yang menyala didekatnya.

“Sena??” Tanya Jihwa yang baru datang membawa beberapa ranting. Namjoon hanya diam ia terus menghapus keringatnya. Mengatur nafasnya dan mengibas-ngibaskan kaosnya.

“Akhir-akhir ini kalian dekat? Kau sampai membawanya kedalam mimpi. Sepertinya perasaan itu sangat dalam..” Gumam Jihwa heran sambil meletakkan beberapa ranting di api agar api kecil itu tidak mati. “Aku mencari ranting agar api ini tidak mati karena kau tidur diluar..” Gumam Jihwa tanpa memperhatikan Namjoon karena ia fikir Namjoon tidak akan merespon ucapannya. Terbukti selama beberapa detik hanya diam tidak ada suara apapun.

“Gomawo..”

“eoh? Eoh.. Ne..” Jawab Jihwa heran karena Namjoon ternyata mendengarnya bicara. Menurut rumor yang beredar katanya Namjoon jarang bicara dan masuk kelas.

“Sepertinya percuma aku melakukan hal ini karena kau terlihat… Kepanasan?” Tanya Jihwa bingung.

“Aku ingin buang air kecil..” Gumam Namjoon sambil berdiri kemudian melangkahkan kakinya menuju hutan. Terlihat Namjoon meremas dadanya dan mengigiti bibirnya menahan kesakitan. Sepertinya kondisi Namjoon tidak stabil akhir-akhir ini. Namjoon mengadahkan kepalanya matanya berkilau merah. Dengan tarikan nafas yang dalam ia berusaha menahan rasa sakitnya. Berlari sejauh mungkin, sejauh yang ia bisa agar tidak ada yang melihatnya.

Subyong menjatuhkan tubuhnya dari pohon. Telinganya bergerak menajamkan pendengarannya. Mata Subyong berubah hijau dengan kornea berbentuk elips. Subyong terduduk lemas. Ia mengais tanah menahan rasa sakitnya. Menahan perubahan pada dirinya. Satu persatu ekor rubah mulai tampak dan bersinar. 9 ekor tampak bersinar menyinari hutan walaupun tidak ada cahaya bulan. Subyong berdiri ketika ia benar-benar sudah berubah dengan sempurna. Angin datang mengelilinginya. Membelai rambut panjangnya memperlihatkan wajah cantiknya.

“Hoseok..” Gumam Subyong seperti menemukan keberadaan Hoseok kemudian berlari sekencang mungkin.

Namjoon menyipitkan matanya seperti menelusuri kemana sebaiknya ia bersembunyi. Dengan radius bermeter-meter Namjoon bisa melihat apapun. Ia juga melihat Hoseok yang duduk dibawah pohon. Tak jauh disana ia melihat Subyong yang berlari kencang. Namjoon memajukan langkahnya perlahan ia melihat hal lain, Sungai. Namjoon melangkah lagi. Ia melihat Yoongi. Yoongi tengah terdiam kaku tidak bergeming dibalik pohon dan semak-semak. Namjoon memajukan langkahnya lagi, Sena.

“Sena..” Gumam Namjoon dengan tatapan mata heran. Apa yang dilakukan Sena ditengah hutan. Tidak ada murid lagi berada didalam hutan kecuali mereka.

“Hoseok-ssi. Kau ingin kuantar ke tenda?” Tanya Subyong yang datang entah dari mana pada Hoseok yang terduduk lemas dibawah pohon. Subyong membungkuk memegang dagu Hoseok untuk melihat wajahnya lebih jelas.

“Subyong-ah..” Gumam Hoseok lemah. “Aku sangat lapar. Kufikir aku akan mati kelaparan..” Gumam Hoseok lemah. Subyong menatap mata Hoseok lamat. Subyong tidak berkedip. Subyong merasa tenang ketika melihat tatapan Hoseok yang seperti sangat membutuhkan pertolongannya. “Tolong aku..” Pinta Hoseok lemas. Perlahan Hoseok meraih tangan Subyong menggenggamnya lemah. Subyong tersenyum tipis. Ia merasakan sesuatu yang sangat tenang ketika Hoseok menyentuhnya. Perlahan Subyong membantunya berdiri.

“Aiishh.. Kenapa aku memikirkan Namjoon oppa? Dia bahkan tidak memikirkanku. Apa yang dilakukannya bersama Subyong??” Tanya Sena pada air kemudian membasuh wajahnya dengan air kasar. “Bukan.. Bukan wajahku yang kepanasan. Hatiku kepanasan. Wae?” Gumam Sena sambil menyentuh dadanya. Berdetak kencang. Sena mengadah pikirannya melayang. “ANDWAE!!!” Teriaknya sambil memukul air dan tidak sengaja jarinya terluka oleh sebuah batu didasar sungai.

“Apa yang kupikirkan..” Gumam Sena kemudian meninggalkan sungai menuju hutan. Menuju markas teman-teman yang menunggunya namun sudah pergi. “Eoh? Yoongi oppa..” Gumam Sena ketika melihat Yoongi dihadapannya.

“Se-Sejak kapan.. Kau disini?” Tanya Sena sedikit takut namun Yoongi hanya menatap mata Sena tajam.

“Ke-kenapa kau menatapku seperti itu??” Tanya Sena hati-hati.

“Aku akan kembali kehutan..” Ujar Sena sambil menunjuk Kedalam hutan menggunakan jari telunjuknya. “Airnya lumayan dingin. Jika kau ingin ke sungai cepatlah nanti semua orang meninggalkanmu..” Pesan Sena dan mulai berjalan menuju hutan meninggalkan Yoongi yang menurutnya hendak mencuci muka juga. Sena berhenti melangkah ketika otaknya menyuruh untuk berhenti. Yoongi menahan pergelangan tangan Sena. Sena menoleh begitu juga Yoongi. Yoongi tidak bicara dan hanya menatap Sena tajam. Sena merasa risih ditatap tajam seperti itu.

“Kau menyukainya??” Tanya Yoongi langsung. “Atau kau baru menyukainya?” Lanjutnya.

“A-Apa yang kau bicarakan..” Jawab Sena sambil tertawa canggung dan berusaha melepaskan genggaman Yoongi.

“Dongsaeng..” Panggil Yoongi. Panggilan Yoongi sukses membuat Sena terdiam. Dongsaeng? Matanya sedikit berkaca-kaca merasa terharu. Untuk sesaat pikirannya yang barusan dikuasai oleh Namjoon tiba-tiba hilang terlupakan begitu saja. “Kau menyukainya?” Sambung Yoongi.

“Waeyo?”

♥♥♥

“Ekormu menghilang..” Gumam Hoseok ketika ia merangkulkan lengannya di bahu Subyong. “Matamu juga berubah..” Lanjut Hoseok sambil menatap focus pada mata Subyong. Membuat wajah mereka lumayan dekat.

“Sudah kubilang karna aku dekat dengan kalung suci ku. Kalung ku ada pada..” Subyong berhenti bicara ketika tiba-tiba ia merasakan sesuatu.

“Namjoon..” Gumam Subyong.

“Eoh?” Gumam Hoseok heran.

Dari jauh Subyong dapat merasakan mata Namjoon berubah merah. Rambutnya semakin berubah silver terang. Kuku-kukunya berubah tajam berwarna hitam seperti iblis.

“Dongsaeng kau menyukainya?” Subyong mendengar hal itu. Namjoon mendengar hal itu juga. Suara Yoongi terngiang jelas di telinga mereka.

“Sena mulai menyukai Namjoon tapi Yoongi mencoba untuk menghalanginya..” Gumam Subyong datar membuat Hoseok mengerinyutkan keningnya mengolah ucapan Subyong.

“Sena tipe orang yang memilih keluarga dan sahabat dari hal apapun termasuk cinta. Menurutku dia akan menuruti Oppa-nya..” Gumam Hoseok pasti pada Subyong. “Aku sudah lama mengenal Sena. Aku juga merasakan hal itu bahwa Sena mulai menyukai Namjoon. Dan dia seperti memintaku untuk membuka hatiku untukmu agar kutukan berakhir…” Ujar Hoseok sambil menatap tajam mata Subyong seperti meyakinkan Subyong benar adanya perkataan itu.

“Apa aku ini satu-satunya harapan kalian? Apakah aku kunci kehidupanmu yang terletak di jewelry itu?” Tanya Hoseok dengan nada serius. “Laki-laki yang pertama kali melihatmu sebagai Gumiho adalah lelaki yang ditakdirkan untukmu. Karena itu kau tersenyum saat jatuh dari pohon ketika aku menemukanmu?” Tanya Hoseok lagi.

“Hose..”

“Jika aku menolak takdir ini maka kau akan menghilang karena semakin lama perasaan Sena pada Namjoon akan semakin dalam. Namjoon kembali normal dan jika aku tidak menemukan kalungmu kau tetap bisa menjadi manusia ketika kau memakan jantungku dan batas waktunya saat salju pertama turun begitukan?” Tanya Hoseok tidak peduli dengan elakan Subyong. “Kau begitu licik dan lihai..” Lanjut Hoseok dengan suara dinginnya. Wajah Subyong berubah dingin.

“Jangan salah paham untuk hal ini. Anggab aku sedang menagih balas budi karena aku pernah menolongmu “ Peringat Hoseok pelan.

Dari jauh Namjoon menatap Subyong dan Hoseok. Namjoon tersenyum sakartis. Satu-satunya harapan Namjoon agar bebas adalah Hoseok. Hoseok sudah mengunci hatinya agar tidak memandang Subyong walalupun endingnya Hoseok akan mati. Selain itu Namjoon juga dapat merasakan perasaan Yoongi saat ini. Perasaan tak ingin Sena bersama Namjoon.

“Takdir begitu menyakitkan ketika wanita yang kucintai ternyata adalah adik kandungku. Baiklah aku akan menerima takdir ini, Tapi..” Ucap Yoongi menatap tajam mata Sena. “Tapi.. Bisakah adikku tidak menyukai Namjoon? Selain begitu menyakitkan melihatmu bersama Namjoon aku juga tidak ingin adikku dalam bahaya..”

“Oppa..” Gumam Sena hingga tanpa sadar air mata bergulir dipipinya. Pilihan yang begitu sulit baginya. Ia bingung karena ia sudah berjanji pada Namjoon akan selalu disisinya. Sementara Yoongi sang kakak mau menerimanya sebagai adik dengan persyaratan.

“Ayah kita masih hidup. Kau ingin bertemu dengannya?” Tawar Yoongi sambil tersenyum tipis dan tulus.

Sena terdiam sesaat.

“Aku.. Ingin bertemu dengan Ayah dan bersamamu, Yoongi Oppa..”

To be continued..

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

11 thoughts on “FF/ MONSTER/ BANGTAN-BTS/ pt. 11

  1. Oh ayolaaah ..
    Cerita ini sungguh bikin penasaran aja..
    Hoseok subyong..
    Namjoon sena yoongi..
    Tulung selamatkan mereka semuaa..

  2. Ommoo ommoo ak baru tw ternyta udh ada chapte 11 nya jebal ak seneng bgt wktu tw ternyata udh update dan aga sedih ak telat bgt😦 sampe” sempet lupa lur cerita sblm.a tp ak udh inget ko, dan astaga yoongi knpa adduuhh kan kesian jd.a sama namjoon tp– kasian juga yoongi.a aahh ngga tw deh ak pusing, kan kan jd penasaran lanjutan.a emang ff ini ak suka jalan cerita.a sbner.a ini ff bergenre fantasy yg pertama ak suka, ak ngga biasa baca yg fantasy tp ff ini bikin penasaran bgt dan emang ak suka kisah.a soal.a ada yoongi sih hhehe ( ื▿ ืʃƪ) semoga buat next chap ak ngga ketinggalan lg deh update-an nya hwaitiinng buat author-nim (҂’̀⌣’́)9 dtunggu next chap.a #bowing ( ˆ⌣ˆ​​​​ )

  3. Please eonni next cpet.. ff in bner2 bgus dan dinanti2 bngt eonni .. next eonni ditunggu part 12 dan sterusnya ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s