FF/ PENDENCY LOVE/ BTS-BANGTAN/pt.1


pendency

Tittle : PENDENCY LOVE

Author : morschek96 (Anita Ray)

Genre : School Life, Teen, Romance

Cast :

Kim Jaeri (OC)

Jeon Jungkook (BTS), Kim Taehyung (BTS)

Others.

[he finally call me by my name]

***

Jam telah menunjukkan pukul 21.47 pm, berarti sudah lebih dari 15menit ia duduk menunggu di helte ini. Ia mendengus sebal, lebih tepatnya kecewa kepada lelaki yang berjanji akan menjemputnya di tempat kerja petang ini, tapi malah lelaki itu sendiri yang membatalkan karena ada tugas. Jujur saja ini yang pertama kalinya.

Bayangkan saja dia telah menunggu didepan tempat kerjanya selama lebih dari 30menit, namun orang yang berjanji menjemputnya memberi kabar jika tidak bisa. Kenapa tidak bilang dari awal saja eoh? Dan jadilah ia pulang dengan menunggu bus seperti ini.

Samar-samar Jaeri melihat sebuah siluet diujung sana, seperti seorang laki-laki, tak terlihat jelas karena sosoknya memakai snapback yang menutupi setengah wajahnya. Semakin mendekat kearahnya lalu duduk disebelahnya dihalte tersebut, hingga lelaki tersebut sedikit menengadahkan pandangannya. Sedikit tercengang ketika mengetahui siapa ternyata lelaki tersebut.

Bukankah itu Jeon Jungkook? Anak baru dikelasnya yang terlampau dingin itu?

Jaeri segera membalik pandangannya, kemana saja asalkan tidak menatap Jungkook. Namun entah mendapat dorongan dari mana, lama kelamaan ia kembali memperhatikan lelaki tersebut.

“berhenti menatapku Kim Jaeri-ssi. Aku risih jika terus dipelototi seperti itu”

Tunggu, apa lelaki ini berbicara kepada.. Jaeri? Padanya? Sedikit terkejut tatkala Jungkook ternyata mengetahui namanya. Ia segera berdehem pelan untuk mengurangi sedikit kecanggungan dalam dirinya.

“a-aku tidak menatapmu. Kau saja yang terlalu percaya diri” ucapnya cepat, juga terselip nada gugup ketika mengucapkannya. Jaeri harus mati-matian menahan malu saat ini.

“berhenti berbohong. Kau tidak berbakat menjadi pemain sineteron. Dan.. oh lihatlah wajahmu sudah memerah seperti itu.”

Dan benar, kini pipi Jaeri lebih bersemu dari sebelumnya.

“kurang ajar kau Jungkook-ssi! Aku tidak berbohong”

Perkataan Jaeri malah membawa Jungkook untuk beranjak lebih dekat. “Apa? Bilang sekali lagi, Jaeri-ssi.”

“a-aku bilang aku tidak sedang berbohong.”

“Sekali lagi.”

“a-aku bilang—”

“Sekali lagi.” Wajah Jungkook berada tepat di hadapannya, sangat dekat hingga napas hangat lelaki itu bisa ia rasakan dengan jelas.

“a-aku….”

Tepat setelah itu bus yang mereka tunggu pun akhirnya tiba. Jungkook segera bangkit dari tempat duduknya, namun tidak dengan Jaeri yang masih duduk mematung dengan mata terbelak.

Sial! Umpatnya dalam hati. Jaeri menaiki bus yang telah penuh dengan penumpang tersebut. Untung saja masih ada kursi yang kosong, dan yang terpenting adalah kursi tersebut jauh dari tempat Jungkook.

.

.

.

oOo

Jaeri kembali meminum air putihnya, setelah pelajaran olahraga membuatnya banyak kehilangan tenaga. Ia melangkah menuju kantin karena ini memang waktunya istirahat, bersama Heera sahabatnya.

Keduanya mendudukan diri disalah satu bangku di kantin tersebut.

“kau ingin jajangmyeon?” dan Jaeri hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan sahabatnya. Memang Jaeri masih berada ditingkat 2 sekolah menengah atas, namun ia memutuskan untuk bekerja paruh waktu disebuah caffee. Ya, setelah eommanya berpisah dengan appanya, akan kurang untuk membiayai hidup jika hanya mengandalkan gaji eommanya yang seorang perawat di rumah sakit. Mengingat ia hidup di kota sebesar Seoul.

Heera membawa dua mangkuk berisi jajangmyeon untuk dirinya juga Jaeri. Heera memperhatikan Jaeri yang entah mengapa terlihat lebih lesu dari biasanya. Sedikit khawatir akan pekerjaan paruh waktu sahabatnya tersebut, apalagi Jaeri masih belum genap 17tahun.

“apakah kau selelah itu?” Heera bertanya hati-hati.

“ahh.. tidak juga. Aku hanya kurang tidur semalam” Yeah bagaimana ia bisa tidur setelah kejadian yang menimpanya dengan Jungkook semalam. Jujur saja Jaeri terus saja mengingat-ingatnya hingga tengah malam kalau bisa jika saja matanya tidak memaksa untuk terpejam.

“kau harus memperhatikan kesehatanmu. Ingatlah dirimu bukan mesin” sahabatnya ini memang sangat cerewet, lebih dari eommanya. Dan Jaeri hanya tersenyum tipis karena ia tengah mengunyah jajangmyeon didalam mulutnya.

Hampir saja Jaeri tersedak jika saja ia tidak mengunyah dengan pelan-pelan. Seseorang menepuk punggungnya lalu mengembil duduk bersebelahan dengannya. Jaeri membuang muka setelah melihat siapa orang tersebut, Taehyung. Ia   memasang wajah jengah dengan tujuan agar lelaki ini segera tersadar akan kesalahannya.

“annyeong Jae!”

“hmm” Jaeri hanya menanggapinya dengan sedikit gumaman.

Dan akhirnya mereka hanya berdiam dalam kecanggungan karena tidak ada yang mau membuka suara. Jaeri menyibukkan diri dengan terus focus pada makanannya, dan Heera dengan Taehyung hanya bisa saling menatap tidak mengerti. Tidak biasanya Jaeri bersikap seperti ini.

Hingga ada sesuatu yang menarik perhatian Jaeri, juga Heera dan Taehyung yang melihat kemana arah pandang Jaeri pun ikut memperhatikan sosok tersebut. Lelaki itu mengambil minuman kaleng yang telah ia beli dari mesin otomatis.

Ketika lelaki itu berbalik arah, pandangannya dengan Jaeri pun bertemu beberapa detik hingga lelaki itu semakin melangkah menjauh.

“kau mengenalnya?” Taehyung bertanya kepada Jaeri setelah ia tersadar dari apa yang telah ia lakukan barusan.

“tentu saja” Jaeri menjawab cepat dengan nada datar yang dibuat-buat. Jujur saja, perasaan gugup itu masih ada dibenaknya.

“dia anak baru dikelas kita Tae.” Heera sedikit menjelaskan kepada Taehyung, kemudian beralih kepada Jaeri “Kau sudah pernah berbicara dengannya? Melihat tatapannya padamu, sepertinya kalian telah saling mengenal baik?”

“ya” dan hanya itu yang Jaeri ucapkan.

Jawaban Jaeri mau tidak mau membuat keduanya lebih terlihat bingung dari sebelumnya.

“kapan?” Tanya Heera sekali lagi.

Jaeri sedikit menarik napas sebelum sedikit menjawab. Keadaan ini membuatnya kembali kesal terhadap Taehyung yang membuatnya berlama-lama menunggu tadi malam.

“di halte depan tempat kejaku, hampir pukul 10, kemarin malam” ujarnya cepat lalu meninggalkan kedua manusia yang duduk mematung memperhatikan dirinya yang berlalu meninggalkan kantin.

Tentu saja lelaki barusan adalah Jungkook, tapi bisa-bisanya Jaeri berkata seperti itu? Berkali-kali ia merutuk dalam hati atas ucapannya barusan. Percaya diri sekali dia ketika ia mengatakan telah mengenal Jungkook, padahal yang tadi malam itu bisa saja dikatakan dengan kebetulan.

***

Pulang sekolah ini ia memutuskan untuk pergi membeli buku, ya setelah ia mandi terlebih dulu pastinya. Karena badannya yang bau juga dipenuhi peluh setelah olahraga tadi.

Pukul 14.03 artinya memang sudah waktunya pulang, ia langkahkan kakinya gontai keluar kelas. Sambil membawa tas selempang yang ia letakkan dibahu kirinya, Ia berjalan malas menuruni anak tangga karena ruang kelasnya berada dilantai dua sekolah tersebut, sungguh hari yang melelahkan.

Ketika Jaeri melewati koridor lantai satu, ia sayup-sayup mendengar suara seseorang, terasa begitu familiar ditelinganya. Ia mencoba berjalan mendekat kesumber suara, dan benar saja, ia melihat Taehyung sedang berada didalam ruang kelasnya, bersama… seorang gadis.

“nanti malam ada film baru juga, kau akan menemaniku lagi kan?” suara gadis itu sungguh terdengar menjijikkan ditelinga Jaeri. Apalagi senyumnya yang dibuat semanis mungkin dihadapan Taehyung.

Baiklah, Jaeri terlihat seperti penguntit jika seperti ini. Lebih baik ia segera pergi sebelum salah satu dari mereka yang menyadari keadaannya yang menguping.

Ooh.. jadi ia tahu kebenarannya sekarang, yang Taehyung bilang ada tugas tadi malam dan tidak bisa menjemputnya ternyata adalah tugas menemani Jihyo (gadis itu) menonton film. Dengan perasaan dongkol Jaeri segera melesatkan diri pulang kerumahnya.

4 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal Taehyung, dimulai dari Junior High School ketika selama 3 tahun mereka selalu berada dikelas yang sama. Entah kebetulan atau memang takdir, dari situ Jaeri menyadari jika Taehyung adalah cinta pertamanya, namun ia buang jauh-jauh fakta tersebut dan hanya menganggap Taehyung sebagai sahabat.

Setidaknya ia tidak mau jika Taehyung mengetahui jika ia menyayanginya, Taehyung malah akan menjauh darinya. Karena ia tahu bahwa Taehyung juga hanya menganggap dirinya tidak lebih dari Sahabat.

[you’ve lost the love, I love the most]

.

***

Setelah memilih beberapa buku, akhirnya Jaeri memutuskan membeli buku berjudul LUCIFER untuk dibelinya. Ketika Jaeri hendak melangkah menuju kasir, tak sengaja ia melihat sesosok yang tidak asing dimatanya. Seorang lelaki yang mengambil uang kembaliannya dari penjaga kasir lalu melangkah pergi dari toko tersebut. Jeon Jungkook

Tak ingin berlama-lama melamun, akhirnya Jaeri membawa buku yang ia beli menuju tempat kasir. Sedikit mengorek tasnya guna mengambil—

Mwo? Apakah ia meninggalkan dompetnya? Kenapa tidak ada?

Matilah kau Kim Jaeri!

“semuanya jadi 30ribu won” ucap sang penjaga kasir.

Dan membuat Jaeri lebih gugup dari sebelumnya, ayolah.. berpikir. Kau sangat bodoh Kim Jaeri, bisa-bisanya kau ketinggalan dompet disaat seperti ini. Namun ia meningat sesuatu, segera saja ia tinggalkan tasnya di atas meja kasir.

“sebentar eonnie, aku akan segera kembali” ujarnya cepat sambil berlari keluar. Semoga saja idenya kali ini berhasil, dan untunglah yang dicari masih berada tak jauh dari ia berdiri.

Jungkook hendak memasuki mobilnya namun dengan segera pergelangan tangannya ditahan oleh Jaeri. Dan Jungkook hanya bisa mendelik tak paham atas perlakuan Jaeri padanya.

“Jungkook-ssi, apakah kau mau membantuku?” ucapnya dengan napas terengah-engah.

“kenapa aku harus membantumu?”

“ya!.. bantu aku ne? kita kan satu kelas” ujarnya dengan memasang wajah sesedih mungkin.

Jungkook dengan perlahan menutup kembali pintu mobilnya lalu focus menatap Jaeri yang sedang memohon padanya. “ohh.. jadi karena kita satu kelas jadi aku harus membantumu?”

“ne.. tentu saja” Jaeri berujar bahagia menanggapi pernyataan lelaki semampai dihadapannya tersebut.

Juga ditanggapi dengan seyuman Jungkook, “tapi aku tidak mau” ucap Jungkook setelahnya. Dan nyaris saja membuat Jaeri terjungkal, bagaimana bisa ia tersenyum ramah, tapi kemudian ia menolak dengan datar.

Jungkook hendak kembali membuka pintu mobilnya , dan lagi-lagi ditahan oleh Jaeri. Kini genggaman tangannya pada lengan Jungkook lebih erat dari sebelumnya.

“ayolah Jungkook-ssi.. kau akan terlihat sangat tampan jika mau membantuku” rengeknya sambil menghentak-hentakkan kakinya.

“aku memang tampan” ujarnya cuek.

“ya! Ayolah.. 30ribu won saja”

Dan kalimat yang dilontarkan Jaeri malah membuat jungkook melotot kearahnya. Ternyata masalah uang? Jungkook sedikit menahan tawa ketika mendengar kalimat tersebut.

“kenapa kau malah tertawa? Aku benar-benar serius. Aku pinjam 30ribu won saja, tidak lebih. Karena dompetku tertinggal dirumah dan aku tidak mungkin jauh-jauh kembali kesana hanya untuk—“

“baiklah” mendengar celotehan Jaeri yang tak henti-henti sungguh mengganggu telinganya. Lalu Jungkook mengambil dompet yang berada disaku celananya lalu memberikan uang 40ribu won pada Jaeri.

“aku kan hanya mau pinjam 30ribu won Jungkook-ssi”

“kau bilang dompetmu tertinggal, apa kau mau saat pulang harus jalan kaki?” ujarnya lalu masuk kedalam mobil AUDI putihnya.

Diam-diam Jaeri bersorak dalam hati. Tak apa jika ia harus pulang berjalan kaki, toh tadi ia berangkat kesini juga dengan jalan kaki. Ternyata Jungkook baik padanya, namun segera ia tepis pikiran tersebut. Ia kembali berlari kembali kedalam toko lalu membayar bukunya.

.

.

.

oOo

Malam, ia sejajarkan tubuhnya diantara kaca dan jendela yang dengan sengaja ia biarkan terbuka. Membiarkan semilir angin malam sedikit demi sedikit menerpa wajahnya. Terus menatap keatas tanpa ada niatan untuk bergerak. Sungguh melelahkan, Jaeri baru saja pulang dari kerja, namun ia tak ingin untuk sekedar merebahkan diri di tempat tidur.

Hingga sesuatu mengganggu kegiatannya. Ada seseorang yang membuka pintu kamarnya lalu masuk kedalam, berjalan mendekat kearahnya.

Taehyung?

Apa yang dilakukan anak itu disini malam-malam begini? Taehyung melihat kearah Jaeri dengan pandangan berbinar. Seolah kedatangannya adalah hal yang luar biasa untuk Jaeri. Namun sebisa mungkin Jaeri tetap mengacuhkannya dengan tetap melihat keatas setelah beberapa detik pandangannya tertuju pada Taehyung.

“aku sudah bilang pada eomma-mu untuk masuk kesini” ujarnya pelan seraya mengambil tempat berdiri bersebelahan dengan Jaeri.

“…”

“Jae? Apa kau lelah?”

“…”

“Jae”

“Jae.. aisshh jinjayo?? Kau benar-benar mengacuhkanku?!” kini Taehyung sedikit menaikkan oktaf suaranya. Dan berhasil, Jaeri kini menujukan pandangannya kepada Taehyung.

“ya, aku lelah” ucapnya datar. Mungkin tak seharusnya juga ia bersikap seperti ini. Taehyung bukan siapa-siapanya, dia berhak bergaul dengan siapapun termasuk Jihyo. Dan untuk urusan Taehyung yang membohonginya kemarin malam, mungkin ia bisa langsung maafkan saja tanpa harus ia ungkit-ungkit lagi.

Jaeri yakin Taehyung punya alasan sendiri kenapa harus sampai berbohong padanya. Namun jujur saja, perasaan kecewa itu masih ada.

“kalau begitu istirahatlah”

Lalu Jaeri melangkah menuju tempat tidur dan duduk ditepinya, disusul dengan Taehyung yang juga duduk bersebelahan dengannya.

“aku hanya memastikan kau baik-baik saja. Kau terlihat berbeda saat disekolah tadi”

“haha benarkah?” Tersenyum, dalam hati menangis. Itulah Jaeri saat ini, berkali kali sumpah serapah dilontarkannya kuat-kuat dalam hati. Tidakkah lelaki ini sedikit merasa bersalah padanya?

“ya, aku bahkan sempat takut terjadi apa-apa padamu” Taehyung mengangkat tangan kanannya, mengarahkan kepuncak kepala Jaeri. Sedikit mengelusnya lalu dengan perlahan menyisir surai cokelat Jaeri dari atas kebawah dengan jari-jari tangannya.

Gerakan kecil Taehyung mampu membuat hatinya terbang kemana-mana. Shit! She can’t handle him. Tatapan Jaeri tak terlepas barang sedetikpun untuk tak memperhatikan Taehyung. Kalau boleh jujur, Taehyung terlihat sangat tampan malam ini.

“aku baru saja mengantar Jihyo jalan-jalan. Dan langsung kerumahmu”

DERR!!

 

Bagai telah diagungkan setinggi-tingginya lalu dihempaskan begitu kasar ketanah. Tatapan mata Jaeri seketika berubah sendu.

“b-benarkah?” Jaeri berujar pelan. “kalau begitu kau pasti capek, pulanglah dan beristirahat” Hatinya meronta-ronta ingin segera mengisir Taehyung, namun yang keluar dari bibirnya hanya saran halus sebagai seorang sahabat baik.

Setelah Taehyung memutuskan untuk meninggalkan kamarnya dan pulang, Jaeri segera menutup kuat-kuat wajahnya dengan bantal. Sadarlah Kim Jaeri.. Taehyung itu hanya sahabat, tidak lebih.

Berhenti berharap padanya atau ia akan benar-benar membencimu lalu meninggalkanmu. Tentu saja Jaeri tidak ingin hal itu benar terjadi.

***

Jaeri tidak begitu mengerti sebenarnya. Kau tahu, mengetahui isi hati tidak semudah menyusun puzzle. Terlalu banyak teka-teki yang bahkan tidak ia ketahi clue-nya. Taehyung begitu sulit dipahami, begitu sulit ditebak. Begitu banyak kepingan yang sama sekali dapat Jaeri baca dari dirinya, dan semuanya hanya membuat frustasi.

Seperti halnya tadi malam, kali ini Taehyung kembali bersikap hangat padanya. Menguncirkan rambutnya yang semula hanya ia gerai biasa. Hal-hal seperti ini yang membuatnya takluk akan sosok Taehyung. Jadi tak heran jika saja Jaeri menganggap Taehyung memperlakukan dirinya secara khusus.

Tapi apakah itu memang benar atau hanya dirinya yang terlalu menganggap serius? Sepertinya dirinya saja yang terlalu percaya diri, jauh didalam hatinya ia sadar bahwa Taehyung hanya menganggap dirinya sebagai sahabat.

“nah kau lebih cantik jika seperti ini” ujarnya gembira setelah berhasil menguncir rambut Jaeri. Juga tak bisa Jaeri sembunyikan semburat merah yang ada di pipinya. Keduanya saling terkekeh pelan hingga—

“Tae.. eommaku ingin bertemu denganmu sepulang sekolahl ini. Kau mau kan?”

Jaeri memandang kearah gadis tersebut dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Detik-detik berlalu dengan ia yang menjadi seorang penonton.

“sepulang sekolah ini?”

“ne, ia bilang kalau kau harus sering-sering datang kerumah.”

“e-em.. baiklah” Taehung melirik Jaeri sekilas yang nampak diam tak bergeming, “Jae, ini Jihyo.”

Demi apapun Kim Taehyung… sungguh kau tidak perlu mengenalkan apa-apa, Jaeri sudah mengenalnya.

“Jihyo akan mengikuti festival piano bulan depan.”

Jaeri hanya tersenyum simpul menanggapi penuturan Taehyung. Lalu disusul dengan Jihyo yang tersipu malu akan ucapan lelaki tersebut, great! Dilihat dari sisi ini saja dirinya sudah kalah telak. Gadis ini sempurna untuk Taehyung.

“kau telah berjanji untuk datang melihatku di festival ne?” Jihyo terkekeh pelan sambil memukul lengan Taehyung.

”tentu saja. Kau juga harus terus berlatih agar dapat juara”

Terlihat Jaeri yang kini mulai menundukkan wajahnya, memperhatikan lantai dan memainkan ujung jari. Ia… diabaikan?

.

.

-To Be Continue-

Annyeong! Kali ini saya hadir bawa FF dengan cast BTS. J gk tau kenapa pas pertama lihat video mereka yg Danger, aku jadi suka banget ngeliat si dedek Jungkook (dia liner 97) hahah sedangkan saya liner96..

Aku juga gak tau feelnya dapet atau gak, ceritanya nyaman atau gak.. lihat tanggepan kalian ajah deh.. kasih comment mau lanjut atau gak. Atau sudah cukup sampai di chapter1 ini ajah?

About fanfictionside

just me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s