FF oneshot/ YOU’VE GOT ME/ EXO


wnds uve got me

Tittle   : You’ve Got Me

Author            : wnd (@oppars101)

Cast     :

  • Huang Zi Tao [EXO]
  • Oh Sura [OC]

Length            : Oneshot

Genre  : Marriage Life,Romance, Fluffy Angst

Rating : PG-15

Author’s Note : comments needed, visit my own wp wndsart.wordpress.com

“aku tidak butuh yang sempurna, cukup kau yang sederhana tapi selalu membuatku bahagia.”

–––––

Dengan teliti Sura mencari perlengkapan bulanan yang harus ia beli di super market yang terletak di dekat apartmentnya, ditemani Tao yang berjalan mendampinginya.

“kau mau daging sapi atau babi?” tanya Sura.

“sapi.” Jawab Tao.

“sebentar.”

Dengan cepat Sura memilih daging sapi yang menurutnya paling segar, lalu menaruhnya dalam keranjang trolly.

“butuh apa lagi?” tanya Tao.

“cemilan.” Jawab Sura sambil menyengir.

“dasar Beruang.” Ejek Tao.

“diam kau Panda.” Balas Sura lalu menggandeng lengan kanan Tao dan berjalan bersama.

 

“dia yang ada di berita kan?”

“pstt–– bukankah dia atlet itu?”

“dia yang mantan atlet sepak bola yang di tv kan?”

Beberapa bisikan orang-orang yang terdengar saat melewati Tao dan Sura. Tao memilih untuk menulikan pendengarannya sedangkan Sura menatap sinis orang-orang yang berbicara tadi.

“Sura-ssi.” Panggil suara lelaki.

Sura dan Tao langsung menoleh kearah pemilik suara.

“ah, Luhan-ssi.” Balas Sura.

“sedang belanja bulanan?” tanya Luhan.

“tentu, kau sendiri?”

“ya, sama. Kau bersama siapa?” Luhan melirik kearah Tao, dibalas tatapan tak suka dari Tao.

Sura menatap Luhan sejenak. Benar, Sura baru ingat bahwa Luhan adalah pegawai yang baru beberapa bulan lalu bekerja di kantornya, wajar jika Luhan belum tau.

“kenalkan dia suamiku, Huang Zi Tao.”

Luhan terkesiap mendengarnya, “suami?”

“aku sudah menikah sejak beberapa bulan sebelum kau bekerja di YOSE, Luhan.” Ujar Sura menjawab kebingungan Luhan.

“ah, benar. Maaf, maaf, aku Xi Luhan rekan kerja Oh Sura.” Kata Luhan menyadari tatapan tajam dari Tao.

Tao hanya diam enggan untuk merespon.

“kau sudah makan? Mau makan bersama?” tanya Luhan berniat untuk mengajak Sura dan suaminya makan bersama.

“tidak perlu.” Jawab Tao dingin.

Luhan menatap Tao dengan tatapan bertanya.

“aku dan Tao sudah makan di rumah, Luhan-ssi.” Ujar Sura menjelaskan.

“ah, begitu. Kalau begitu aku duluan. Selamat siang!” pamit Luhan sambil tersenyum dan berlalu membawa keranjang jinjingannya.

–––––

Tao melihat pemandangan tidak mengenakan dari balik jendela aprtmentnya yang bisa melihat langsung kearah parkiran mobil. Istrinya, Sura. Sedang dibukakan pintu oleh pria asing yang diperkirakan adalah teman sekantor Sura. Rahangnya mengeras dan terus bergemeluk.

‘Memang sudah saatnya kau mencari pengganti.’ batinnya.

“aku pulang.”

“kemana saja?” tanya Tao dingin.

Sura menjatuhkan tubuhnya lemas di atas sofa yang sedang di duduki Tao.

“aku sedang banyak kerjaan dikantor.” Jawab Sura sambil memejamkan mata saking lelahnya.

Tao menatap Sura sekilas, “aku kira kau sedang menyibukkan diri.”

Sura mendelik tajam begitu mendengar ucapan Tao yang merupakan sindiran, tak lama menghela nafas malas, “aku sedang tidak ingin berdebat.” Lalu kembali memejamkan matanya.

“tidur di kamar.” Tukas Tao.

“iya, nanti.” Jawab Sura singkat.

“Oh Sura!” Geram Tao, kembali memberikan peringatan agar Sura tidur di kamarnya.

Sura justru melingkupi wajah dengan lengan kirinya, sedangkan lengan kanannya mengacungkan jempol pertanda Sura mengerti perintah Tao.

Tao menghela nafas kesal, kalau memang bisa Tao pasti sudah menggendong Sura ke kamar mereka sedari tadi, “terserahlah!” bentak Tao, tak lama terdengar bunyi bantingan pintu kamar mereka.

Sura tersentak dan langsung menegakan duduk sambil melihat kearah pintu kamar, “dia kenapa sih?” gumamnya bingung.

–––––

Dokter Kang Seungyoon menjabarkan perkembangan kondisi kesehatan Tao pada Sura sambil sesekali menunjukan titik-titik saraf lewat gambar hitam putih yang sedang ditampilkan dalam layar komputer.

“apa Tao-ssi sering mengeluh sakit?” tanya Dokter Kang.

“tidak,” Sura berfikir sejenak, “tapi dia lebih sering marah akhir-akhir ini.”

Dokter muda berambut coklat tua itu mengangguk paham, “karena saraf kakinya yang terganggu, itu akan membuatnya sering merasakan nyeri yang sangat menyakitkan, tentuakan mempengaruhi hormon dan tingkat sensitifitasnya. Jadi tolong maklumi jika amarahnya datang secara tiba-tiba.” jelasnya.

Sura mengangguk mengerti, pantas saja suaminya sedikit tempramen akhir-akhir ini.

“ne, gomapseumnida Kang Seonsaeng.”

“aku yakin kalian berdua bisa bersabar.” Ucap Dokter Kang menyemangati.

Sura tersenyum mendengarnya. Setelah berpamitan, Sura segera menghampiri ruang check up Tao.

Lengan kanan Tao menggandeng Sura sedangkan lengan kirinya memegang tongkatnya yang setidaknya bisa membuatnya sedikit mudah berjalan.

“kenapa melamun terus?” tanya Tao begitu mereka sampai di mobil. Istrinya terus melamun sejak melewati koridor rumah sakit.

Sura segera tersadar dari lamunannya yang memikirkan Tao sejak tadi, “kau kenapa tidak bilang kalau sering merasa sakit?” tanya Sura serius.

Tao menyergitkan alisnya sebentar, “aku tidak mau membuatmu repot, lagi pula tidak terlalu sering.” Jawabnya.

“tetap saja aku juga harus tau, kalau sakit lagi kau harus mengatakannya padaku dan aku akan menyuntikan obatnya.” Balas Sura.

“tidak perlu, aku bisa sendiri.” Balas Tao lagi, “sekarang cepat menyetir dan jangan melamunkan hal-hal yang tidak penting.”

Sura mendengus, ‘hal tidak penting katanya? Menyebalkan.’

–––––

Pintu masuk terbuka, menampakan Sura yang lagi-lagi pulang dengan wajah kusutnya. Bagaimana tidak, hampir tiga minggu penuh ia bekerja lembur hingga larut karena kantornya sedang kebanjiran banyak proyek yang menguntungkan, membuat hampir semua karyawannya harus bekerja tanpa jeda. Jika tidak ingat dengan tangung jawab dan bonus tambahan akhir bulan, Sura pasti tidak akan rela menetap dipekerjaan melelahkan seperti ini.

“pulang larut lagi?”sindir Tao.

“iya, beberapa bulan ini kantorku dapat banyak project tentu saja karyawannya lembur.”

“kenepa tidak mengabarkanku?”

“aku kira kau sudah tau.”

Tao mendengus, “kau sudah tidak menganggapku?”

“bukan begitu!” ujar Sura tak terima.

“siapa lelaki yang rutin mengantarmu pulang sejak selasa kemarin?” tanya Tao penuh selidik.

“teman kantorku, namanya Xi Luhan.”

Tao mengangguk mendengarnya, “oh jadi dia lelaki yang di super maket itu?Baguslah, dia terlihat baik, jangan membahas pernikahan kita agar kau bisa tetap dekat dengannya.”

Sura mengarahkan tatapan tajamnya pada Tao, “apa maksudmu?”

“apa aku harus merincikannya?” tanya Tao balik.

“kau menuduhku selingkuh?”

“aku tidak bilang begitu.”

“sialan kau.” Sura mengeluarkan umpatan kasarnya.

“aku tidak melarangmu berselingkuh! Bersenang-senanglah sesukamu! Tapi setidaknya kabari aku, kau masih tangung jawabku!” balas Tao.

Sura memilih masuk dan membanting pintu kamarnya. Tidak mau berdebat dengan suaminya yang berakhir dengan dirinya yang tidak bisa menahan tangis.

Suami yang dulunya selalu bersikap lembut dan penuh perhatian dibalik wajah dinginnya, sekarang berubah sejak kecelakaan naas itu. Membuatnya menjadi lebih pendiam akibat kecelakaan mobil empat bulan lalu.

Siapa yang tidak terpukul saat kaki emasnya yang selalu dipuji akan kelincahan dan kegesitan kini harus terkulai lemah tak berasa. Suaminya, Huang Zi Tao, seorang atlet tim sepak bola nasional Korea Selatan berumur 27 tahun yang harus kehilangan cita-cita yang susah payah dicapai dan idam-idamkan sejak kecil akibat kecelakaan maut beruntun saat perjalanan pulang usai menghadiri turnamen.

Hampir tiga minggu secara berturut-turut teman satu tim dan para kerabat Tao yang lain datang untuk menjenguk dan menyemangatinya. Tapi tentu saja tidak membuat Tao bisa menerima kenyataan pahitnya semudah itu. Sura hanya bisa mendukung Tao dengan menunjukan ketulusan dan selalu berada di sisi Tao.

Bukan hanya Tao, Sura juga sedih dan hampir menangis tiap malam. Sedih melihat pria yang saat itu baru resmi menjadi suaminya selama sebulan lebih mendapat musibah seberat ini. Kecelakaan itu merubah impian Tao, merubah sikap cerianya dan merubah hubungan mereka.

––

07.13 AM

klek–

Sura melihat kearah pintu kamarnya yang terbuka, menampakan Tao yang masih berantakan sebangun tidur dan berjalan dengan tongkat bantu di lengan kirinya.

“aku buatkan bimbimbap.” Ucap Sura sedatar mungkin, mencoba menunjukan dia masih marah atas perkataan Tao semalam.

“oo.” Tao menjawab singkat.

Sebenarnya bisa saja Sura langsung berangkat tanpa pamit dan memasak makanan apapun, tapi Sura tetap mencoba mengerti suaminya yang masih dalam keadaan sensitive. Sura tidak mau egois, jika Sura mengalami hal seperti Tao sudah pasti dia juga akan sepeti itu.

Tidak percaya diri.

Sura terus menerka pemikiran dari sisi pandang suaminya, berfikir positif dan mencari solusi.

–––––

–YOSE Corp–

“Oh Sura!” panggil Minji rekan sekantor Sura.

“wae?”

“aku sudah merevisi laporan dari tim lapangan.” Jawab Minji.

“bagus, segera berikan pada Sajangnim.” Kata Sura datar masih serius dengan tugasnya.

“lalu kemana proposal pengajuan kerja sama untuk YF Corp?” tanya Minji lagi.

“yang mana?” tanya Sura acuh masih serius mengetik laporan bulanannya.

Minji menatap Sura kesal, “yang aku tinggalkan di mejamu sebelum aku pulang. Aku menitipkannya padamu untuk diberikan pada Sajangnim hari ini.”

Sura menghentikan kegiatannya lalu mencari berkas yang Minji maksud di tumpukan map meja kerjanya. Sura mengalihkan pandangannya penuh maafnya pada Minji.

“sepertinya aku meninggalkannya di rumah.” Lalu membenturkan pelan kepalanya pada kubikel kayu penyekat meja para karyawan, “mian.”

“hah.” Minji menghembuskan nafas beratnya, “baiklah, dimana alamatmu? Biar aku yang mengambilnya, sepertinya kau masih banyak kerjaan.”

Dengan segera Sura menggeleng, “tidak. Bagaimana jika aku mengambilnya sekarang dan kau membantuku menyalin laporan? Aku sudah membuat data mentahnya.” Tawar Sura, sambil berharap bisa mencuri waktu makan siangnya bersama Tao dirumah nanti.

“baiklah.” Balas Minji setuju.

“sekali lagi maaf, Minji-ah.” Bujuk Sura dengan raut wajah seperti anak anjing.

Minji mengerutkan dahinya malas melihat bujukan Sura yang menurutnya menggelikan, “hentikan, aku tidak marah padamu! Santai saja.” Jawabnya membuat Sura lega, lalu segera pulang ke rumahnya.

Ruangan makan menjadi sunyi senyap begitu Tao menuturkan penjelasan pada Ibunya. Ibunya tampak kesal dan menunjukan wajah tidak suka pada anaknya.

“Eomma, tolong izinkan.” Pinta Tao.

“tapi… kenapa?” tanya Nyonya Huang, masih tidak mau menuruti permintaan Tao.

Tao menghela nafas dengan berat, “aku hanya tidak ingin terus merepotkannya, aku menikahinya bukan untuk menjadi beban dan mengganggunya, Eomma. Mengertilah.”

Nyonya Huang sedih mendengar rentetan kalimat anaknya, “tapi, akan sulit bagimu mencari pengganti Sura, nak.” Ujar nyonya Huang realistis.

“aku memang tidak berminat mencari penggantinya setelah bercerai.”

Nyonya Huang mengangguk mengerti maksud anaknya, membuatnya semakin sedih, “apa Sura sudah tau?”

“belum, dia tidak perlu tau untuk saat ini.”

“apa kau yakin?”

Tao mengangguk pasti, “Sura masih cukup muda dan sangat sehat, meskipun aku sudah mengambil miliknya, tapi dia belum pernah hamil. Aku yakin masih banyak pria lebih baik diluar sana yang mau mendampingi Sura. Benarkan?” tanya Tao pada Eommanya.

Nyonya Huang tersenyum getir, “tentu saja, karena Sura wanita yang baik.”

Baru saja masuk kedalam apartmentnya dan senang menemukan sepasang sepatu wanita yang sudah pasti milik Ibu martuanya, kini Sura justru membeku begitu mendengar percakapan Ibu–anak tersebut di ruang makan.

“kau mau menceraikanku?” kini Sura mengeluarkan suaranya yang sedari tadi tercekat dan hanya bersembunyi di balik dinding dapur.

“kau sudah pulang?” tanya Nyonya Huang kaget.

Tao meraih tongkat bantunya kaki kirinya dan berdiri.

“Eomma, tolong tinggalkan kami berdua.” Pinta Tao.

“Eommonim?” Sura menatap martuanya penuh tanya.

“aku pulang dulu, Sura. aku berharap kalian mendapat hasil yang terbaik.” Ujar Nyonya Huang iba.

Suasana menjadi hening begitu terdengar suara pintu apartmen yang tertutup pertanda bahwa Nyonya Huang sudah pergi, memberikan waktu berdua pada rumah tangga anaknya untuk digunakan secara bijak.

“ayo cerai.” Kata Tao.

“wae?” tanya Sura kesal.

“sudah cukup aku menahanmu, kau akan lebih bahagia tanpa aku.” Jawab Tao seadanya.

Sura terdiam sebentar, “terserah apa katamu.” Ujar Sura singkat lalu berjalan masuk kedalam kamar.

Belum sampai semenit Sura keluar dari kamarnya sambil membawa beberapa dokumen kantornya, Sura melewati Tao begitu saja, tanpa berpamitan Sura langsung menghilang dibalik pintu apartment tidak lupa dengan dentuman keras daun pintu.

*

Tut––Tut––

Tidak ada jawaban dari yang Sura, padahal ini sudah panggilan ke duapuluh satu dari Huang Zi Tao.

Tao : kau dimana?

Tao : jam berapa kau pulang?

Tao : maafkan aku, cepat balas.

Tao : Oh Sura kau dimana sekarang?

Tao : angkat ponselmu!

Rentetan pesan terus dikirimkan Tao sembari mencoba menelefon Sura. Bagaimana tidak cemas, ini sudah lewat jam tengah malam dan Sura belum memberi kabar apapun, benar memang jika beberapa bulan ini Sura memang pulang larut, tapi sebelum jam 11 malam dia sudah tiba dirumah.

“Minji-ssi, apa Sura sekarang bersamamu?” Tao berinisiatif menelfon Song Minji, teman dekat Sura.

“tidak, apa dia belum pulang?” tanya Minji.

“apa kau tidak tau dimana dia sekarang?” cecar Tao tanpa menjawab pertanyaan Minji.

“Sura sudah pulang setelah menyerahkan dokumen yang tertinggal di rumahnya tadi siang. Dia bilang tidak enak badan.” Jawab Minji serius.

“bisa kau membantuku mencarinya? Aku benar-benar tidak tau lagi siapa teman kantor terdekatnya.” Pinta Tao.

“tentu, aku akan mengabarimu begitu tau.”

“terimakasih banyak, Minji-ssi.”

“ne.”

BIP––

Sambungan terputus, Tao kembali mencoba menghubungi Sura dan kerabatnya yang mungkin tau keberadaannya.

Drtt––drtt––

Song Minji : Hotel Kukdo kamar 176 lantai 3.

Tak lama Minji mengirimkan pesan berisi alamat hotel tempat Sura menginap.

Oh, Huang Zi Tao tidak tau harus seperti apa mengucapkan terimakasih yang sangat teramat tulus pada Minji.

Tao : terimakasih banyak, Minji-ssi.

Balas Tao singkat, otaknya sudah tidak bisa berfikir untuk merangkai kalimat yang untuk Minji. Kini pikirannya hanya tertuju pada alamat yang diberikan Minji. Demi Tuhan, Song Minji adalah penyelamatnya malam ini, mungkin Tao harus mengajak Song Minji makan malam super mewah bersama Sura kapan-kapan.

  • Hotel Kukdo, Jung-gu, Seoul. 45 AM

Tao berjalan cepat menyusuri koridor lantai tiga Hotel Kukdo. Jalan cepat yang menurutnya hampir menyamai siput membuatnya semakin mengutuk kaki kirinya yang mati rasa.

Room 176

Sampai. Butuh perjuangan untuk tiba didepan kamar ini dalam waktu perjalan emapat puluh dua menit dari kediaman mereka. Lagi-lagi Tao membenci kakinya, pasti akan lebih cepat jika kakinya masih berfungsi dengan normal.

TING TONG––

“nuguseyo?” tanya suara serak wanitanya dari dalam.

Tak ada jawaban. Sura sedang menghindari Tao, sudah pasti tidak akan membukakan pintu kamarnya jika tau Tao yang tiba.

“Song Minji?” tanya Sura lagi, kini suaranya sudah tidak se-serak tadi.

Lagi, Tao bergeming diam.

klek–

Begitu pintu hotel dibuka, sepersekian detik Tao langsung menyerbu masuk.

Sura membelalakan mata begitu melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini. Huang Zi Tao, suami sialannya yang sedang ia hindari. Sura memutar otak menerka dari mana Tao mengetahui keberadaannya, dan terkutuklah Song Minjisi mulut lebar! pikir Sura.

“kenapa tidak pulang kerumah?” tanya Tao langsung.

“aku sedang ingin sendiri.” Jawab Sura datar.

Rahang Tao mengeras mendengar jawaban singkat Sura, selalu membuat orang khawatir! Batin Tao, “kenapa tidak mengabarkan ku? Kenapa tidak menjawab panggilanku?”

“aku bilang aku butuh waktu sendiri.” jawab Sura kesal.

Tao menghembuskan nafasnya, dan mengendarkan pandangan kesekeliling kamar hotel. Melihat sesuatu yang janggal diatas nakas hotel, Tao memicingkan pengelihatannya. Jas berwarna biru tua milik laki-laki.

“kau bersama pria?” tanya Tao penuh selidik.

Sura melebarkan matanya tanpa menjawab.

“dengan Luhan-ssi?” tanya Tao lagi.

PLAK!

Sura mendaratkan tamparan tepat pada pipi kanan Tao, membuat yang ditampar merasa wajahnya memanas.

Tao mendengus pelan, “aku lega sempat melihatnya beberapa kali saat mengantarmu pulang, aku rasa dia pria yang baik.” Ujar Tao.

PLAK!

Sura kembali menampar wajah Tao di bagian yang sama.

“kau pikir aku sejalang itu? Mana mungkin aku bersama pria lain disaat aku masih menjadi istri orang!” bentak Sura penuh emosi.

Tao tersentak mendengar perkataan Sura, “tidak! Tentu kau bukan! Wajar jika kau bosan denganku dan mencari pria lain Oh Sura, itu manusiawi. Aku tak menyalahkanmu!” jelas Tao.

“sialan!” pekik Sura makin marah.

“maaf,” suara Tao terdengar getir, “telah mengganggumu.” Lanjutnya.

“segera pulang kerumah dan tanda tangani surat perceraian kita. Kau akan lebih leluasa dan aku tidak akan mengganggu waktu bebasmu lagi.” Ujar Tao lagi, kini lebih terlihat datar dan tegar.

Sebelum Tao sempat memutar tumitnya kearah pintu, dengan cepat Sura menarik kerah jaket abu suaminya dengan kedua tangan agar mereka bisa saling berhadapan.

“kau benar-benar ingin berpisah?” tanya Sura dengan mata memerah menahan tangis.

“ya.” jawab Tao singkat membalas tatapan Sura.

“munafik! Jelas-jelas kau berbohong!” balas Sura setelah menatap lamat mata Tao dan menemukan banyak kebohongan.

“ya, aku memang tidak mau. Tapi aku akan tetap melakukannya agar kau bisa bahagia.” Jawab Tao.

“apa yang membuatmu berfikir aku akan bahagia?” tanya Sura putus asa.

“karena kau sudah menemukan pria yang lebih baik.”

“pria lebih baik?” cecar Sura.

“pria baik yang lebih bisa mengerti dirimu, menjagamu, dan lebih sempurna dariku. Xi Luhan memiliki semua keriteria itu.” Ujar Tao.

BUGH!

Sura memukul bahu Tao dengan kepalan tangannya.

nappeun saekki! Kau pikir aku menikahimu karena kau sempurna?!” pekik Sura sambil menundukan wajahnya dan menangis masih dengan tangannya yang memukul bahu Tao tapi semakin melemah.

Tao terhenyak mendengarnya. “aku tidak sekuat dulu lagi, akan susah untuku melindungimu, aku sudah cacat, Oh Sura! dan akan terus menyulitkanmu.”

Sura mendongakkan wajahnya yang berair, “aku kira empat tahun kita saling berhubungan sudah membuatmu paling tidak sedikit memahamiku. Ternyata kau benar-benar tidak mengerti.”

“akan sulit jika kita terus memaksa menjalaninya, Sura.” Bujuk Tao.

“sulit bukan berarti tidak bisa kan?!” tanya Sura dengan raut wajah sedih dan marah.

Tao semakin menciut melihatwajah Sura yang hancur begitu, detik itu juga Tao segera membenamkan wajah Sura kedalam dadanya, tak memperdulikan tongkat bantu kaki kanannya yang terjatuh.

“maaf, maafkan aku.” Ujar Tao tulus sambil menciumi puncak kepala Sura.

“aku mencintaimu.” Lirih Sura disela isakan tangisnya.

Tao terperangah mendengarnya, semua yang terjadi diluar pikirannya, “aku juga.”

“jahat.” Lirih Sura lagi.

“maaf aku sudah jahat padamu.” Jawab Tao.

“pembohong.”

“aku tidak akan berbohong lagi jika aku ingin berpisah denganmu.”

“egois.”

“Aku akan mendengarkan dan mengerti dirimu sepenuhnya.”

“pengecut.”

“aku tidak akan takut lagi untuk membayangkan masa depan bersamamu, maafkan si Pengecut ini.”

“jangan pernah mengulangnya lagi.” Pinta Sura begitu tangisnya mereda.

“aku berjanji.” Jawab Tao.

“jangan berprasangka buruk padaku karena aku tidak akan berkhianat.” Kata Sura lagi.

“hmm.” Jawab Tao sambil mengeratkan pelukan hangatnya.

Sura menarik nafas panjangnya yang sedikit bergetar pasca menangis, “apa ada yang ingin kau sampaikan padaku, Oppa?” tanya Sura tanpa melepaskan dekapannya pada Tao, terlalu malu untuk memanggilnya Oppa.

Tao terkekeh mendengar panggilan Oppa dari Sura.

“beri aku kabar jika kau pergi.” Ucap Tao lembut.

“ne.”

“jangan membuatku khawatir lagi.”

“ne.”

“jadi, jas siapa yang tergeletak di nakas samping tempat tidurmu?” tanya Tao dengan nada serius, melenyapkan mulut lembutnya yang baru saja berujar beberapa detik lalu.

Sura melepaskan pelukan Tao dan memalingkan wajah kearah yang Tao maksud, “itu… punya Luhan.” Jawab Sura ragu, “tapi sungguh kami tidak punya hubungan apa-apa, dia hanya bermaksud baik meminjamkan jasnya padaku saat aku izin pulang karena tidak enak badan tadi siang.”

Tao memasang wajah tidak sukanya saat mendengarkan penjelasan Sura, bisa ia bayangkan bagaimana perasaan spesial yang dimiliki lelaki bernama Luhan itu pada istrinya, “jaga jarak dengan teman kantormu yang bernama Xi Luhan itu.”

Sura mendongakan wajahnya, “tapi beberapa menit yang lalu kau menyuruhku untuk tetap dekat dengannya.” Tukasnya.

Tao menatap Sura tajam begitu mendengar ucapannya, “sudah tidak berlaku!”

Sura tertawa, “aku bercanda.”

Mereka melepas tertawa bersama sejenak, melupakan suasana panas penuh emosi yang memenuhi ruangan beberapa saat lalu. Setelah puas melihat wajah masing-masing Sura kini menyusupkan wajahnya pada bahu Tao yang mengharuskannya sedikit berjinjit.

“kau harus tau aku tidak butuh kau yang sempurna, cukup kau yang sederhana tapi selalu bisa membuatku bahagia.” Ujar Sura.

Tao mengeratkan dekapannya dan mengusap helaian rambut Sura, “gomawo.”

Mereka terdiam dengan posisi tetap selama beberapa saat, meresapi momen indah mereka yang penuh kebahagiaan.

“Taozi, ayo kita ubah rencana kita saat awal menikah.”

“hn?” tanya Tao tidak mengerti sambil mengeratkan dekapan tangan kanannya pada pinggang Sura.

“rencana awal kita, tentang pertemuan rutin saat waktu kosongmu, rencana tentang rekreasi dua kali dalam sebulan, dan rencana tentang keluarga kecil kita.” Ujar Sura.

Tao tersenyum mendengar perkataan Sura, “kajja, kita ubah dan susundari awal.” Jawab Tao.

Sura tersenyum cerah mendengarnya dan kembalimengeratkan pelukannya pada Tao.

“bagaimana jika rencana anak pertama kita dimajukan jadi tahun ini?” tanya Tao sambil berbisik tepat di telinga Sura.

Sura merasakan wajahnya memanas, “bukankah kita sudah sepakat saat kita umur 32 tahun?”

“ayo ubah.”

Sura menegakkan wajahnya agar bisa menatap Tao, tapi justru menyesali keputusannya karena justru ia tidak bisa berkutik dan berfikir jernih saat terkunci dalam tatapan tajam suaminya.

“aku bukan atletlagi, aku pasti akan selalu mendampingimu saat melahirkan nanti.” Jawab Tao sambil menatap dalam Sura, menempelkan dahi mereka dan perlahan memajukan langkahnya yang membuat Sura mau tak mau ikut melangkah mundur.

DUK!

Tanpa sadar kaki Sura sudah menabrak pinggir tempat tidur, detik itu juga Tao melepas tongkat bantu kaki kirinya, dan menghempaskan tubuh mereka berdua.

saranghae, Huang Sura.” Ucap Tao masih belum melepaskan tatapan dalamnya yang lembut pada Sura.

nado, uri nampyeon.” Jawab Sura sambil tersenyum lembut dibawah kukungan suaminya, Huang Zi Tao.

–FIN–

About fanfictionside

just me

One thought on “FF oneshot/ YOU’VE GOT ME/ EXO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s