FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 6A (SUGA’S POV)


HERO-HEROINE-BTS (1)

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: School-life, Friendship, Romance, a bit comedy||Main Characters: (BTS) Suga/Yoongi, & (OC) Geum Hajin||Additional Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) J-Hope/Hoseok, (BTS) Jimin & (FX) Sulli||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by a fiction story titled ‘Crazy’ By Emolicious. Original ver casted by (B1A4) Suga & OC||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s). [!!!] Used some ‘frontal(?)’ words. Please don’t bash!
@@@@@
“Min Himchan.”
Aku terkejut mendengar nama itu terucap dari mulut Hajin. Yang benar saja! Aku diajari oleh orang itu? Cih!
“Tidak mau!” tolakku.
“Kenapa? Bukankah dia kakakmu?” ujar Hajin. “Lagi pula, waktu kecil, kau sering diajar olehnya, kan?”
Tunggu sebentar. Dari mana Hajin tahu semua itu? Aku kan tidak pernah memberitahu hal itu padanya. Apa… jangan-jangan Seokjin yang mengatakan hal itu?
Kutatap Hajin curiga. “Dari mana kau tahu?”
“I-Itu—” Dia gelagapan.
“Aku yang katakan hal itu padanya,” ucap seseorang yang berdiri di ambang pintu dapur. Himchan? Aku langsung menoleh ke arahnya, menatap dia dengan tatapan yang sama ketika aku melihatnya di pantai waktu itu. Emosiku langsung meledak.
“HEI! APA YANG KAU LAKUKAN DI APARTEMENKU? KELUAR!” usirku, beranjak menghampirinya. Namun tiba-tiba, Hajin mencegatku, berdiri di hadapanku sambil merentangkan tangannya.
“Apa yang kau lakukan, Hajin-ah? Menyingkir dari hadapanku!”
“Tidak mau!”
Apa maunya gadis ini?
Dengan nada geram, aku mencoba mengancamnya, “Hajin-ah, menyingkir atau a—”
“Aku yang membawa Himchan Oppa ke sini. Kalau kau mengusirnya, aku juga akan pulang.”
Apa-apaan dia?
“Hei! Kenapa kau membelanya, eoh? Sebenarnya kau ini pacar siapa? Aku atau dia?”
“Ini tidak ada hubungannya dengan hal itu Suga! Kau bilang kau butuh orang yang bisa membantumu, kan? Himchan Oppa bisa membantumu. Lalu, apa salahnya?”
Aku menghela nafas dalam-dalam sambil memejamkan mataku untuk menahan amarahku. Sebenarnya apa yang Hajin dan Himchan rencanakan? Mereka berdua bertemu dimana? Dan apa maksudnya dia membawa Himchan untuk mengajariku? Bukankah sudah aku bilang aku tidak butuh pembimbing!
“Aku tidak mau diajar oleh dia!” geramku sambil menunjuk ke arah Himchan yang masih berdiri di ambang pintu, di belakang Hajin.
“Kenapa? Dia kakakmu. Dia satu-satunya saudaramu. Kenapa kau tidak mau diajar oleh dia?”
Dia satu-satunya saudaramu. Kata-kata Hajin itu mengingatkanku pada eomma. Tapi, aku… aku tidak mau diajar oleh Himchan. Diajar olehnya sama saja menunjukkan kalau dia lebih hebat dariku. Aku tidak suka! Aku tidak mau disamakan dengan dia!
“BERISIK!”
Satu-satunya kata yang bisa aku ucapkan saat ini.
“Sudahlah, Hajin. Dia tidak mau! Aku pulang saja, ya?” ucap laki-laki itu, hendak beranjak meninggalkan dapur.
“Tidak! Jangan pulang dulu,” cegah Hajin. “Dengar, Min Suga, aku tahu kau membenci Himchan Oppa. Aku tahu itu. Tapi, bisakah kau sedikit demi sedikit menghilangkan kebencianmu itu pada kakakmu sendiri? Walau bagaimana pun, darah yang mengalir dalam tubuhmu itu juga mengalir dalam tubuhnya. Kalian juga lahir dari satu rahim yang sama, dibesarkan oleh orang tua yang sama dan kalian melewati masa kecil bersama-sama,” ucapnya panjang lebar. “Jadi, kau bisa kan kembali bersikap seperti layaknya seorang adik dari Himchan Oppa?”
Aku tertegun mendengar ucapannya. Kutatap matanya dalam-dalam, lalu kualihkan pandanganku ke arah lain.
¬-Flashback-
13 years ago
Hospital
“Ekh~”
Aku tersadar begitu sebuah cahaya putih menelusup masuk ke dalam mataku. Kukerjap-kerjapkan mataku beberapa kali, sekaligus mengumpulkan nyawaku yang seolah terbang ke sana-sini.
“Uh? Ini dimana?”
“Suga-ya? Kau tidak apa-apa?” Aku menoleh ke arah kiri dan kudapati wajah hyung-ku, Himchan, di sana.
“Kita dimana, Hyung?” tanyaku, memperhatikan suasana di ruangan tempat aku berbaring saat ini. Semuanya terlihat bersih dan tercium sedikit bau yang aneh.
“Rumah sakit.”
Eeeh? Rumah sakit? Ah, ya…, tadi… ada sebuah mobil yang melaju kencang dari arah depan mobil eomma dan menabrak, kemudian… Ah! Aku tidak ingat!
“Ukh!” Kurasakan sedikit nyeri di dahi kiriku. Ketika tangan kecilku ingin menyentuh bagian sakit itu, kudapati kasa yang menutupinya.
“Kenapa? Lukamu sakit?” tanya Himchan Hyung. Aku mengangguk. Tidak lama, seorang suster pun masuk ke ruangan.
“Adik kecil…, bagaimana keadaanmu?” tanyanya saat menghampiriku.
“Aku… aku baik-baik saja, Suster. Terima kasih.”
Kemudian, Himchan Hyung pun bertanya, “Suster, bagaimana keadaan eomma kami?”
Ah, ya…. Aku tidak melihat eomma. Dimana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja?
Suster tersebut terlihat sedikit gugup, tapi dia mengajak aku dan Himchan Hyung untuk mengikutinya. Mungkin kami akan diajak ke tempat eomma dirawat. “Ng, apa kau bisa jalan? Suster ambilkan kursi roda, ya?” tanya suster tersebut padaku saat melihat aku berhati-hati turun dari tempat tidur yang cukup tinggi untuk anak kecil berusia 6 tahun sepertiku.
“Tidak perlu, Suster,” sahutku, “Aku bisa jalan.”
Tiba-tiba, Himchan Hyung menolak. “Tidak, Suster. Pakai kursi roda.”
“Baiklah kalau be—” Suster tersebut hendak keluar dari ruangan, bermaksud mengambil kursi roda.
“Tidak, Hyung. Aku bisa jalan,” bantahku. “Aku ingin cepat-cepat bertemu eomma. Pakai kursi roda lama, Hyung. Suster Noona baru mau pergi mengambilnya,” kataku yang sudah berdiri di lantai.
Himchan Hyung memutar bola matanya kesal, lalu tiba-tiba berjongkok membelakangiku. “Naik ke punggung, Hyung,” perintahnya.
Aku sedikit terkejut. “Tapi, Hyung~”
“Naik atau kau tidak usah ikut ke ruangan eomma?” Himchan Hyung membentakku. Akhirnya, aku pun naik ke punggungnya. Setelah itu, kami mengikuti Suster Noona menuju ruangan tempat dimana eomma berada.
Intensive Care Unit
Masih berada di gendongan Himchan Hyung, kami memasuki sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu, kulihat eomma terbaring di atas tempat tidur dengan wajah yang sangat pucat. Appa berada di samping tempat tidurnya, menggenggam tangan kanan eomma sambil menciuminya sesekali. Appa terlihat meneteskan air mata.
Ada apa sebenarnya?
Himchan Hyung pun menurunkanku, lalu kami berdua menghampiri eomma di sana. Eomma melihat kami berdua dan ia pun tersenyum. Appa pun melihat ke arah kami.
“Himchan-ah? Suga-ya?” gumam eomma dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
“Eomma-ya?” balas Himchan Hyung dengan nada cemas.
Aku hanya melihat eomma, tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini. Tangan eomma dihubungkan dengan selang yang mengalirkan cairan di dalam kantung yang digantung di atas tiang di samping tempat tidur eomma. Lalu, dikedua lubang hidung eomma ada selang lagi yang terhubung dengan sebuah tabung berwarna biru tinggi yang berada di dekat tempat tidurnya.
“Eomma-ya? Eomma kenapa?” tanyaku.
Eomma melepas tangannya pelan dari genggaman appa, kemudian membelai pelan rambut hitamku dan rambut hitam kecoklatan milik Himchan Hyung secara bergantian. “Hhh… Hi-Himchan-ah, Su-Suga-ya… hhh….” Napas eomma tersengal-sengal. “Eo-eomma… hhh… ma-maaf… hh… eomma… hhh… ti… hh… tidak bisa… hhh… menemani kalian lagi… hhh.”
Uh? Tidak bisa menemani kami? Maksudnya?
Setetes demi setetes cairan bening keluar di sudut mata kanan eomma, mengalir hingga membasahi bantal yang berada di bawah kepalanya. Appa pun terlihat sedih, ingin menangis tapi air matanya tidak keluar.
Ada apa?
“Hi-Himchan-ah?” Eomma memanggil Himchan Hyung, membelainya lagi.
“Ya?” sahut Himchan Hyung.
“Hhh… Himchan Hyung… hhh… hyung… bisa kan… hhh… menjaga… hhh… Suga setelah eomma… hhh… tidak ada?” Himchan Hyung menangis sambil mengangguk.
“Me-memangnya… eomma mau kemana?” tanyaku polos. Appa, eomma dan Himchan Hyung menangis. Hanya aku sendiri yang masih tidak tahu apa yang terjadi di sini.
“Eomma… hhh… eomma… mau pergi ke… hh… tempat yang… hh… jauh…, sayang~”
“Kalau begitu, Suga ikut saja dengan eomma? Boleh, kan?”
Eomma menggeleng sambil membelai lembut rambutku. “Hhh… Suga… hhh… tinggal… di sini… hh… saja… dengan appa… hh… dan… hhh… Himchan Hyung… hhh. Su… hh… Suga… harus… menuruti… kata-kata… hhh… appa dan hyung…, paham? Suga… hhh… tidak boleh… nakal….”
“Tapi, aku mau ikut dengan eomma! Aku mau ikut dengan eomma!” rengekku.
“Hhh… Su-Suga… ti-tidak bisa… hhh… ikut. Su-Suga… hhh… dan Himchan… hhh… kalian… harus… saling… hhh… menjaga… hhh…, mengerti? Kalian… hhh… harus saling… membantu.”
“Tapi, eomma~” rengekku sekali lagi.
Kenapa aku tidak boleh ikut dengan eomma? Kenapa? Biasanya eomma selalu mengajakku kalau dia pergi. Kenapa sekarang dia melarangku ikut? Apa karena tadi… aku memaksa eomma ke tempat kursus musik. Karena aku nakal, jadi eomma tidak mau mengajakku pergi dengannya?
Tiba-tiba, eomma menarik nafas panjang, terlihat sangat kesakitan. Dengan paniknya appa berteriak memanggil dokter. Himchan Hyung pun semakin deras mengeluarkan air matanya. Begitu seorang dokter dan beberapa orang suster masuk ke dalam ruangan dan menghampiri eomma, mereka langsung melakukan tindakan yang aku tidak tahu.
Appa semakin panik, meminta dokter agar melakukan apapun yang bisa mereka lakukan agar eomma tidak terlihat kesakitan lagi. Dokter dan suster-suster tersebut terlihat sangat sibuk menangani eomma. Sampai akhirnya… terdengar bunyi ‘tiiit’ panjang yang berasal dari sebuah benda kotak mirip televisi kecil, tapi di layarnya tidak terpampang spongebob, power rangers, kamen rider dan kartun lainnya, melainkan garis lurus yang panjang.
Seiring dengan bunyi ‘tiiit’ itu, dokter dan suster-suster menghentikan tindakan-tindakan yang mereka lakukan, appa histeris sambil memeluk tubuh eomma yang matanya terpejam—mungkin tidur—dan Himchan Hyung juga ikut memeluk eomma.
Kutarik-tarik ujung lengan kaos Himchan Hyung. “Hyung-ah? Ada apa? Kenapa kau dan appa menangis? Kenapa dokter dan suster-suster itu berwajah sedih, Hyung?”
Himchan Hyung berbalik menghadapku, menunduk untuk menyejajarkan tingginya dengan tinggiku, lalu… dia pun memelukku sambil berbisik, “Eomma meninggal.”
Aku mengernyitkan dahiku, bingung. “Meninggal? Ma-maksud hyung…, eomma… eomma… pergi ke tempat Tuhan berada seperti halmeoni bulan lalu?” tanyaku.
“Iya, Suga. Iya.”
Tubuhku bergetar dan sedikit demi sedikit air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Karena tidak muat saking banyaknya, akhirnya cairan bening itu menetes membasahi pipiku. Aku pun menghampiri tubuh eomma, menarik-narik tangannya pelan, bermaksud untuk membangunkannya.
“Eomma-ya, bangun~ huhuhuhu… eomma… bangun… huhu… eomma… eomma… huhuhu.”
Dan, tidak lama kemudian, suster pun menutup tubuh eomma dengan selembar kain putih.
-End Of Flashback-
Entah kenapa, Hajin…, ma-maksudku… kata-katanya mengingatkanku pada pesan eomma sebelum eomma… eomma meninggal. Uh! Kau tidak boleh menangis, Min Suga!
“Di dunia ini, tidak ada namanya mantan saudara, Suga,” tambah Hajin lagi.
“Be-berisik!” balasku, berniat untuk membentaknya, tapi… aku… tidak bisa. Aku pun melangkah ke kursi, duduk, lalu menyantap sepotong paha ayam. Sungguh, aku bingung dengan semua yang terjadi hari ini. Hajin, eomma, laki-laki itu…. Ah! Menyebalkan!
“Jadi…, kau mau kan diajar oleh Himchan Oppa?” tanya Hajin yang menghampiriku, berdiri di sampingku.
“Su-Suga… hhh… dan Himchan… hhh… kalian… harus… saling… hhh… menjaga… hhh…, paham? Kalian… hhh… harus saling… membantu.” Kata-kata eomma terngiang-ngiang di telingaku.
“Suga-ya?”
“Nanti. Aku makan dulu!” jawabku ketus.
“Terima kasih,” balas Hajin. Aku hanya tidak mau mengecewakan eomma-ku dan… dan juga kau, Hajin. Tapi, untuk berbaikan dengan laki-laki itu… aku rasa… aku rasa… masih butuh waktu. Tidak lama, Hajin berjalan ke arah laki-laki itu.
“Hei! Kau mau kemana, Geum Hajin? Temani aku makan!” cegahku cepat tanpa melihat ke arahnya. Mau apa lagi dia? Jangan sampai dia merencanakan yang aneh-aneh lagi dengan laki-laki itu.
“Kau temani saja dia,” ucap laki-laki itu. Lalu, Hajin pun berbalik, berjalan menuju kursi yang berada di hadapanku, menemaniku makan.
@@@@@
“Proses perpindahan molekul pelarut dari larutan encer ke larutan yang lebih pekat disebut dengan peristiwa osmosis, paham?”
“Mmm~”
Aku mengangguk saja saat laki-laki itu menanyakan apakah aku sudah mengerti tentang materi pelajaran kimia yang baru saja dia jelaskan. Jujur, saat ini aku merasa sangat canggung. Aneh rasanya setelah beberapa tahun tidak melakukan hal seperti ini. Maksudku, diajari oleh laki-laki itu. Sejak aku duduk di sekolah dasar, mm… Himchan memang sering membantuku kalau aku kesulitan. Tapi, setelah aku masuk SMA, tepatnya setelah kami tidak tinggal serumah, kegiatan ini tidak pernah lagi kami lakukan.
Ya, aku masih ingat saat pertama kali Himchan mengajariku. Waktu itu…, aku masih kelas 1 SD, sedangkan Himchan kelas 3 SD.
-Flashback-
11 years ago
“Tok… tok….”
Kepalan tangan kecilku mengetuk pintu kamar Himchan Hyung yang berada di samping kamarku.
“CKLEK!”
“Oh? Suga-ya? Ada apa?” tanya Himchan Hyung begitu melihatku berdiri di depan pintu kamarnya, membawa sebuah buku tulis dan kotak pensil.
“Uh, bantu aku mengerjakan PR, Hyung,” jawabku. Himchan Hyung pun mempersilakanku masuk ke dalam kamarnya. Lalu, aku disuruh duduk di kursi yang berhadapan dengan meja belajar, sementara ia sendiri menyeret sebuah kursi di sudut kamarnya dan meletakannya di sampingku, lalu duduk di atasnya.
Aku masih ingat kata Himchan Hyung sebelum aku memulai hari pertama masuk sekolah. Kata Hyung, “Sekolah itu menyenangkan!”. Uh, menyenangkan apanya? Tiap hari diberi PR. Aku kan mau main!
“Mana PR-mu?” tanya hyung. Kusodorkan buku tulisku ke hadapannya dan di sana tertera PR Matematika.
Untuk beberapa detik Himchan Hyun melihat buku tulisku, lantas berkata, “Oh, pengurangan?”
Aku mengangguk.
Aku yakin pasti Himchan Hyung bisa menjawabnya karena aku selalu mendengar kalau dia selalu juara di kelas. Artinya dia pintar, kan? Bahkan, appa pernah membelikan Himchan Hyung hadiah mobil-mobilan yang ada di iklan. Mobil-mobilan yang pakai remote control itu.
“Soal pertama, 8 – 3 = …?”
“Jawabannya berapa, Hyung?” tanyaku polos.
“Coba hitung sendiri!” pinta Himchan Hyung.
“Tapi, aku tidak tahu, Hyung,” jawabku polos. Kalau aku tahu, aku tidak akan datang menemui hyung, kan? Hyung ini bagaimana?
Himchan Hyung pun menunjukkan 8 jari di hadapanku, lalu pelan-pelan, dia membimbingku. “Lihat! Jari hyung ada 8.” Aku mengangguk. Lalu, hyung pun melipat 3 jarinya. “Sekarang, hyung lipat 3 jari.” Aku mengangguk lagi. “Sekarang, sisa berapa jari hyung?”
Aku pun menghitung jari-jari Himchan Hyung yang tersisa. “1… 2… 3… 4… 5. Sisa 5, Hyung.”
“Jadi, 8 – 3 = …?”
“5, Hyung.”
“Ya.”
Dengan semangat aku pun menulis angka 5 di belakang tanda ‘sama dengan’. Begitu seterusnya, hyung membantuku mengerjakan PR atau mengajariku setiap aku akan ulangan harian.
-End Of Flashback-
“Jadi, untuk menghitung tekanan osmosis larutan-larutan encer menurut Van’t Hoff, kau bisa menggunakan persamaan gas ideal: π . V = n RT atau π = M. R. T!”
Aku mengangguk lagi.
“Kalau begitu, coba kerjakan soal ini,” perintahnya sambil menunjuk sebuah soal yang tertera di buku paket. Soal yang berkaitan dengan materi yang baru saja dia jelaskan. Kugeser buku paket tersebut agar lebih dekat denganku, lalu kubaca soal yang dia tunjuk tadi.
Jika 3,6 gram glukosa (MrC6H12O2 = 180g/mol) dilarutkan dalam air sampai volumenya 200 mL pada suhu 27 derajat celcius, berapa tekanan osmosis larutan? (sumber: Justiana, Sandri dan Muchtariadi.2009.Chemistry 3 For Senior High School: Yudistira)
Cih! Menyebalkan! Sekarang dia santai-santai sambil meminum minuman dingin, sedangkan aku dibiarkan berkutat dengan osmosis… bla… bla… bla… yang tidak penting ini!
“Susah, ya?” Entah sejak kapan gadis genit ini berada di sampingku. Pakai acara meledek segala lagi.
Aku menoleh ke arahnya, memandangnya sinis. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau mengganggu, tahu!”
“Uh~”
Aku kembali berkutat dengan satu soal itu. Mencoba menghitungnya di kertas buram, mengikuti rumus yang tadi diterangkan oleh Himchan.
Lalu, dia pun berkata, “Sepertinya ini sudah malam sekali untuk belajar. Jadi—” Sepertinya dia sudah mau pulang. Bagus!
“Jadi, kau bisa datang ke sini lagi besok, kan?” potong Hajin. Sontak, aku melihat ke arahnya. Hei! Geum Hajin, jangan bercanda!
“Hei! Hei! Geum Hajin, apa maksudmu, eoh? Kau mau menyuruh Himchan mengajariku terus?” sewotku.
Hajin menoleh ke arahku. “Ya. Tidak apa-apa, kan, Himchan Oppa?” Aku melihat ke arah Himchan.
“Aku sih… tidak keberatan.”
Apa?
“Tap—”
“Himchan Oppa mengajarimu atau kita putus?” ancam Hajin. Apa-apaan gadis ini? Kenapa dia berkata seperti itu padaku? Dia benar-benar ingin Himchan terus mengajariku, huh?
“Kau… kau berani mengancamku seperti itu?” geramku. Tarik kembali kata-katamu, Geum Hajin!
Sayang, apa yang aku harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Gadis genit bernama Geum Hajin ini malah mengangguk. Itu artinya hubungan kami putus kalau aku tidak mau mengijinkan Himchan untuk mengajariku. Grr… GEUM HAJIN, kau belum tahu siapa aku atau kau lupa siapa aku, huh! Tidak akan kubiarkan hanya aku yang menderita di sini. Hahahahaha.
“Cih! Baiklah, aku mau diajar oleh dia, tapi… kau, Geum Hajin, juga harus datang ke sini setiap hari selama dia mengajariku.”
Kulihat dia terkejut.
HAHAHA. JANGAN COBA-COBA MENGANCAM MIN SUGA, GEUM HAJIN!
“Hei! Hei! Kenapa aku ha—”
Dengan tatapan dan senyum menantang, aku memotong kata-katanya, “Datang atau… aku tidak mau diajari oleh dia!”
Dia terlihat gelisah. Hahaha.
“Ayo, Hajin, pick one!”
Dan pada akhirnya, dia mengangguk. Hahaha. Ternyata mudah sekali mengalahkanmu, Hajin.
“Ya sudah, kalau begitu, aku mau pulang,” pamit Himchan.
“Aku juga,” ucap Hajin.
“Bagaimana kalau kita pulang sama-sama, Hajin?” tawar Himchan Oppa.
Hei! Hei! Apa-apaan dia? Dia mau mengambil Hajin dariku, huh? Dia mau mengambil kesempatan berdua dengan Hajin?
“Tapi…, kau kan tidak bawa mobil.”
Bagus, Hajin. Kau harus menolak ajakannya.
“Tidak apa-apa. Aku bisa menyuruh taksi untuk mengatarmu lebih dulu.”
Hei! Min Himchan! Kau benar-benar mau merebut Hajin dariku?
Aku menatap Hajin, berusaha untuk bertelepati padanya, menyuruhnya agar menolak ajakan calon bisnisman genit bernama Himchan. Tapi, sepertinya, Hajin tidak mengerti. Dasar gadis bodoh! Dia malah bekata, “Ya, aku ambil tasku dulu.”
GEUM HAJIN! KAU BENAR-BENAR MAU MEMBUATKU MEMAKANMU HIDUP-HIDUP?
Setelah mengambil tasnya yang berada di sofa di depan televisi, dia pun menghampiri Himchan. Laki-laki itu keluar duluan dari ruang apartemenku, kemudian Hajin. “Kami pulang, ya?” pamit Hajin padaku yang sudah bersiap untuk menutup pintu.
“Ya, sana pulang! Hush! Hush!” usirku. Dasar dua orang penganggu!
“BLAM!” Dan aku pun menutup pintu.
Aku berjalan ke sofa, duduk di atasnya sambil menyandarkan punggungku. Kuperhatikan buku paket, buku tulis, beberapa lembar kertas buram dan dua gelas kosong yang berada di atas meja. Semuanya persis seperti dulu.
ISH! Apa maunya laki-laki itu ke sini dan mengajariku?
Apa ada yang ingin dia bicarakan atau… dia sedang disuruh appa untuk mengawasiku.
Lalu, kenapa Hajin sepertinya memaksakan sekali agar aku… mau jadi ‘murid’ laki-laki itu lagi? Apa… apa jangan-jangan… dia menyukai Himchan?
ASTAGAA!
Gadis itu benar-benar!
Tidak akan kubiarkan kau berpacaran dengan laki-laki itu di belakangku!
Bergegas aku berlari ke kamar, mengambil kunci mobilku. Lalu, aku pun berlari keluar dari ruangan apartemen. Mereka berdua masih berjalan menyusuri lorong menuju lift di ujung sana. Terlihat akrab sekali.
Huh! Menyebalkan!
Segera kususul mereka, lalu sengaja melewati jarak di antara keduanya sambil berkata, “Aku antar kalian pulang!”
@@@@@
Waktu telah menunjukkan pukul 06.12 sore. Aku duduk menonton televisi sambil menunggu kedatangan 2 makhluk yang selama hampir seminggu belakangan ini datang ke apartemenku. Ya, siapa lagi kalau bukan Hajin dan laki-laki itu. Tapi, kenapa Hajin belum datang? Biasanya jam segini dia sudah berada di apartemen, menggerutu tidak jelas atau sekedar menggodaku. Tapi, dimana dia sekarang?
“Ting… Tong….”
Panjang umur!
Itu pasti dia.
Aku melompat dari sofa, berlari menuju pintu depan. Namun, ketika aku mengintip dari balik kaca kecil yang berada di pintu, orang yang memencet bel bukan Hajin, tapi… laki-laki itu. Uh? Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa aku biarkan saja dia di luar sampai Hajin datang? Kalau kubiarkan dia masuk, nanti rasanya akan canggung sekali.
“Ting… Tong….”
Tapi, kalau tidak aku biarkan masuk, dia bisa terus-terusan memencet bel. Aish!
“CKLEK.”
Akhirnya, kuputuskan untuk membuka pintu.
“Selamat sore,” sapanya, lalu tersenyum.
Aku hanya mengangguk pelan, lalu berkata, “Mm… sore.”
Kupersilahkan dia masuk, kemudian menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu. Begitu dia duduk, aku beranjak menuju ruang tengah, namun… dia mencegahku dengan pertanyaannya.
“Hajin belum datang?”
Aku berhenti berjalan, kemudian melihat ke arahnya. “Belum. Mungkin sebentar lagi,” jawabku. Setelah menjawab pertanyaannya, buru-buru aku berjalan ke ruang tengah. Tanganku langsung meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas sofa ruang tengah, kemudian aku pun menghubungi Hajin.
“Ya? Halo?” sahutnya saat menjawab teleponku.
“Kenapa belum datang?” tanyaku dengan nada tinggi. Dalam keadaan seperti ini—hanya berdua dengan laki-laki itu—cukup membuatku kesal.
“Memangnya kenapa? Himchan Oppa sudah datang?”
Bagus juga, dia sudah tahu apa maksudku tanpa perlu aku katakan.
“Ya.”
“Lalu, kenapa kalau dia sudah datang? Belajar saja dulu. Aku masih ada kerjaan.”
Cih! Dia tidak paham! Lagi pula, apa yang sedang dia kerjakan? Paling pekerjaan tidak penting. Dia ini selalu sok sibuk. Aku mendengus sebal. “Memang apa yang lakukan?”
“Ah, sudahlah… tidak ada hubungannya denganmu.”
Sudah kuduga, pasti pekerjaan tidak penting.
“Ish! Baiklah, begitu kau selesai, cepat ke sini, oke? Aku tidak suka tinggal berdua dengan dia, kau tahu?”
“Ya.”
“Jangan lupa bawa makanan yang banyak.”
“Ya.”
“Ya, sudah,” kataku, lalu mengakhiri panggilan. Kulempar pelan ponselku ke atas sofa, lalu duduk, melanjutkan acara nonton televisiku yang sempat tertunda. Baru beberapa saat aku menikmati acara musik yang sedang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi, tiba-tiba laki-laki itu menghampiriku.
“Suga-ya? Bisa kita bicara sebentar?”
“Mau bicara apa?” tanyaku datar tanpa melihat ke arahnya.
“Aku, kau… dan… Chorong.” Tanganku yang sempat terjulur untuk meraih remot televisi yang berada di atas meja pun terhenti begitu mendengar jawabannya. Kutolehkan kepalaku ke arahnya, sedikit mendongak agar aku bisa menatapnya.
CHORONG?
“Tidak mau! Aku malas membahasnya!”
Lalu, ia pun bergerak, mengambil tempat duduk di sampingku, membuatku terpaksa mengikuti ke arah mana ia bergerak.
“Tidak! Kita harus menyelesaikan masalah di antara kita dan Chorong, Suga.”
“Untuk apa? Bukankah semua sudah selesai sejak lama? Chorong sekarang tidak mau menemuiku. Anggap saja semua sudah selesai.”
“Tidak! Chorong justru ingin menemuimu. Kau tidak bisa menganggap semuanya sudah selesai!”
“Untuk apa dia ingin menemuiku? Bukankah dia membenciku? Iya, kan? Lagi pula, aku sudah tidak mau menemuinya!” balasku ketus.
Dengan lantangnya laki-laki itu berkata, “Bohong! Aku tahu kau pasti juga ingin menemui Chorong, kan?”
Kukepal kedua tanganku kuat-kuat untuk menahan emosi. Aku pun berkata, “Siapa yang bilang aku ingin menemui Chorong? Jangan sok tahu!”
Lalu, dia tertawa samar, kemudian membalas, “Siapa yang sok tahu, Suga? Kau jangan berbohong padaku! Aku tahu kau masih mencintai Chorong!”
“LALU, BAGAIMANA DENGAN KAU, HAH? KAU MASIH MENCINTAI DIA JUGA, KAN?”
Dia diam.
“Untuk apa aku menemuinya? Aku sudah punya Hajin!” lanjutku.
“Cih! Hajin? Apa kau mencintai dia, hah?” tanyanya sinis.
Apa maksud pembicaraan orang ini?
“Kau tidak bisa jawab, kan? Aku tahu sebenarnya kau tidak mecintai Hajin. Kau masih mencintai Chorong. Dan kata-katamu tadi…, aku tahu kau pasti cuma bohong, kan?”
“JANGAN SOK TAHU!” balasku, menatapnya tajam.
“SIAPA YANG SOK TAHU?”
Aku diam sejenak sembari mengatur nafasku. “Kau yang sok tahu, Min Himchan! Dan jangan seenaknya menuduh aku sedang berbohong padamu! Karena itu, jangan sok tahu! Kau tidak tahu apa-apa tentang aku.”
“Cih! Aku tahu, Suga! Aku tahu semua tentang kau! Apa kau lupa, hah? Kita ini saudara! Kau harus ingat itu!”
“BERISIK!”
“Kau persis seperti appa!”
“JANGAN KATAKAN ITU! AKU TIDAK SUKA!” bentakku emosi. Rahangku terasa bergetar karena menahan emosi. Tahan, Suga! Tahan!
“Kenapa? Kenapa kau tidak mau mengakui dirimu mirip appa, hah? Dia appa-mu, appa kita! Kenapa kau tidak pernah mau menemuinya?”
“APPA-KU? MANA ADA APPA YANG SELALU MEMBEDA-BEDAKAN ANAKNYA, HAH? APPA SELALU MEMBANGGAKAN KAU! APA KAU TIDAK TAHU ITU, HAH? DAN, KAU TIDAK TAHU BAGAIMANA PERASAANKU SAAT APA MEMBANDINGKAN KITA? KAU TIDAK TAHU, KAN?”
“PLAAAAK!”
Dia menampar pipi kiriku. Perih sekali rasanya. Aku ingin sekali membalas, tapi… entah…, seperti ada sesuatu dari dalam diriku yang menahanku untuk tidak melakukannya.
“KAU PIKIR AKU SENANG DIPERLAKUKAN SEPERTI ITU OLEH APPA? KAU PIKIR AKU SENANG? KAU PIKIR AKU SENANG SETELAH KAU MEMUTUSKAN UNTUK TINGGAL DI SINI, HAH? AKU SAMA SEKALI TIDAK SENANG, SUGA-YA! KAU TAHU KENAPA? KARENA DENGAN BEGITU, AKU TIDAK BISA MENJAGAMU SEPERTI PERMINTAAN TERAKHIR EOMMA!”
Nafasnya tersengal-sengal setelah berteriak-teriak di depanku.
Aku diam saja sambil menatapnya, begitu juga dengan dia.
Perlahan, aku pun duduk kembali, mengatur nafasku yang juga tersengal sambil menundukkan kepala memandangi lantai di bawah sana. Kata-kata terakhir sebelum mendiang eomma meninggal terus berputar-putar di kepalaku.
Eomma? Apa yang aku lakukan selama ini salah? Apa selama ini aku telah nakal? Eomma…, kalau kau bisa mendengarku, tolong jawab! Tolong jawab aku, Eomma!
“Se-selama ini… aku… membantumu untuk… mengembalikan hubungan kita seperti semula. Kata-kata… kata-kata eomma terus membebani pikiranku dan… dan… itu membuatku merasa bersalah pada beliau,” katanya lirih.
Aku menghela nafas.
Uh? Apa yang harus aku lakukan sekarang?
“Dddrrtt.”
Ponsel yang tergeletak di sampingku bergetar. Siapa yang mengirimi aku pesan di saat seperti ini?
From: Gadis Genit
“Hei, Pendek! Aku sudah berada di depan pintu!”
Pendek? Grrrr.
Aku menoleh ke arah laki-laki itu, memperhatikannya untuk beberapa detik, lalu berkata, “Hajin sudah datang. Aku mau bukakan pintu untuknya.”
Lalu, aku pun beranjak menuju pintu depan.
“CKLEK!”
“Kenapa lama sekali?” tanyaku kesal ketika kulihat dia berdiri di depan pintu. Huff, aku harus bersikap seperti biasa. Hajin tidak boleh tahu kalau tadi aku dan Himchan sedikit bertengkar.
Dengan kesal juga, dia membalas, “Kan sudah kubilang kalau aku ada kerja—Hei! Pipimu kenapa?”
Uh? Apa bekas tamparan laki-laki itu terlihat?
Aku pun memalingkan wajahku ke kiri, menghalangi Hajin untuk melihatnya. “Tidak apa-apa! Masuk!”
Dia pun melangkah masuk, berjalan di belakangku.
“Suga-ya? Apa tadi terjadi sesuatu?” tanyanya, terdengar hati-hati.
“Berisik!” balasku.
Hajin tidak perlu tahu tentang apa yang terjadi barusan. Dia tidak ada hubungannya. Aku tidak mau mendengar dia memberiku ceramah seperti minggu lalu.
@@@@@
BRRRMM…
Setelah makan malam dan belajar sebentar, sekarang aku sedang mengemudikan mobilku menuju rumah. Mengantar laki-laki itu pulang ke… rumah. Sesekali kulihat dia yang duduk di jok belakang sendirian melalui spion tengah.
“Se-selama ini… aku… membantumu untuk… mengembalikan hubungan kita seperti semula. Kata-kata… kata-kata eomma terus membebani pikiranku dan… dan… itu membuatku merasa bersalah pada beliau.”
Kata-katanya tadi kembali terlintas di pikiranku.
Eomma? Maaf. Maaf kalau selama ini aku… aku tidak menuruti kata-kata terakhirmu. Maaf. Aku terlalu mengikuti emosiku belakangan ini sampai-sampai… aku sempat melupakan kata-katamu. Aku salah karena… karena aku sempat membenci Himchan Hyung.
Maaf, Eomma. Maaf.
“CKIIIT!”
Mobil golden brown-ku berhenti di depan rumah yang sudah beberapa tahun aku tinggalkan. Rumah tempat aku menghabiskan waktuku bersama eomma, laki-laki itu dan… appa.
“Kau… tidak mau masuk, Suga-ya? Memberi salam pada appa?” tanya laki-laki itu padaku. Aku diam, antara ingin dan tidak ingin menemui appa.
“Suga-ya, sebaiknya kau masuk,” bujuk Hajin.
Aku masih bergeming.
“Ya, sudah. Kalian berdua hati-hati di jalan,” ucap laki-laki itu, lalu keluar dari mobilku. Dia pun berjalan menuju pagar. Tanpa sadar, aku menurunkan jendela samping mobilku.
“H-Hyung-ah!” teriakku spontan tanpa melihat ke arah laki-laki itu.
Himchan Hyung berbalik, menunjukkan mimik wajah terkejutnya.
“Terima kasih,” lanjutku.
“Sama-sama~” balas Himchan Hyung.
Segera aku menaikkan kembali kaca jendela mobil, kemudian mulai melajukan mobil menuju rumah Hajin. Ya, aku rasa… sudah saat semua kembali seperti semula. Sudah seharusnya aku bersikap seperti seorang dongsaeng, karena aku memang dongsaeng-nya. Bahkan, seharusnya dulu… aku tidak membencinya karena seperti kata Hajin, di dunia ini tidak ada yang namanya mantan saudara.
-TaehyungBelumCebok (^/\^)-
Anditia Nurul ©2015
-Do not claim this as yours-
-Do not re-blog / re-post without permission-

A/N: Annyeong ^^/
Pertama-tama mau bilang makasih ya udah ngikutin FF ini sampai di chapter ini. Makasih banget buat yang udah bela-belain komen. Maaf komennya telat dibalas—kadang gak dibalas sama sekali ._.v
Pokoknya terima kasih banget deh.
Ngomong-ngomong, mulai dari chapter ini sampai beberapa chapter ke depan akan ada bonus chapter dimana ceritanya dilihat dari sudut pandang Suga (SUGA’S POV). Kan normalnya/?, FF ini kan diceritakan dari sudut pandangnya Geum Hajin. Ini sengaja supaya kalian juga bisa tahu masa seperti apa karakter Suga di FF ini. Kenapa dia galak, bagaimana hubungannya dengan Himchan memburuk, juga latar belakang keluarga Suga di cerita ini. Tapi tenang aja kok, ini selang-seling dengan POV Normal (Hajin’s POV) .
Hope you like it ^^
Oh, ya, satu lagi.
Aku jangan dipanggil ‘THOR’, ya. Thor pan serem. Aku ngga serem kok… wkwkwk
Aku satu line sama Seokjin *uhuk*
Iya, saya tau saya tu* (sengaja disensor😛 :D)
Jadi, kalau merasa lebih muda dari Seokjin, panggil kakak / eonni (noona, kalau ada fanboy)—terserah, mana saja yang bikin kalian nyaman😀 Kalau yang lebih tua, panggil nama aja, tidak apa-apa😀
Oke deh. Segini aja ngomongnya😀

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

5 thoughts on “FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 6A (SUGA’S POV)

  1. huwaaa akhirnya 6A di post jugaaa T.T huwaa ternyata mereka bertengkar T.T tp thor kok pendek?? tp tetep kocak juga si suga hajin xD ditunggu lanjutannya segera thorr !! Fightingg !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s