FF/ DEADLY/ SJ-EXO/ pt. 1


deadly1

Deadly by truwita
Jasmine Oh ; Cho Kyuhyun ; Oh Sehun
Angs, Action, Romance
PG : 13
Length : Chapter
Cp : Jungleelovely @ Poster Channel

Disclaimer : Ide dan keseluruhan alur cerita punya author.
Harap saling menghargai dengan tidak mengcopy-paste tanpa izin,
apa lagi memplagiat. Terima kasih, dan selamat membaca J

***

Cinta hanya akan membuatmu lemah. Cinta hanya akan membuatmu goyah, menjadi seorang pengecut hanya untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya terlalu tabu untuk kau dapatkan sebagai seorang pembunuh bayaran.

NOONA!”

Sehun tersenyum lebar sambil melambai-lambaikan tangannya saat melihat sosok Jasmine keluar dari pintu penerbangan.

Noona, aku merindukanmu.”

Sehun berlari dan langsung menghambur memeluk Jasmine. Keduanya berpelukkan saling melepas rindu selama beberapa saat sebelum sebuah suara mengintrupsi kegiatan keduanya.

“Saya mohon maaf telah merusak suasana Tuan dan Nona, akan tetapi Tuan Besar sudah menunggu di rumah.”

Sehun berdecak melepas pelukannya dengan enggan, sementara Jasmine hanya mengulum senyum melihat mimik wajah adiknya. “Berhenti memasang wajah seperti itu Sehun, ingat. Kau sudah berumur dua puluh satu tahun, hmm?”

Lelaki muda itu hanya mendesah, kemudian melangkahkan kakinya mengikuti sang kakak. Keduanya berjalan menuju pintu keluar bandara yang diikuti oleh seorang pria paruh baya dengan setelan formal.

“Bagaimana keadaan Manhattan?” Tanya Sehun setelah keduanya berada dalam sebuah mobil.

“Baik.”

Sehun berdecak, see? Dia bahkan tak pernah repot-repot menoleh untuk menjawab pertanyaanku.“Misimu?”

“Selesai.”

Sehun mengangguk kecil, “Noona, berjanjilah padaku.” ia menyentuh punggung tangan kakaknya. Dan saat gadis itu menoleh, ia memasang wajah penuh dengan permohonan.

“Apa?”

“Setelah aku berhasil mengumpulkan banyak uang, kau harus ikut denganku. Meninggalkan dan melupakan semua kehidupan kita yang sekarang, lalu kita akan pergi ke tempat yang menyenangkan dan memiliki hidup yang menyenangkan pula. Di sana, kita akan memulai hidup baru.”

Gadis itu memandang Sehun yang memertahankan ekspresi memohonnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia tersenyum kecil dan memalingkan wajahnya kembali menatap pada keramaian yang terjadi di sepanjang jalan lewat kaca jendela mobil. Merasa ucapan sang adik adalah sebuah lelucon.

Noona! Aku serius!” Sehun menarik tangannya agar sang kakak mau menatapnya kembali dan berjanji untuk hal itu.

“Hiduplah sampai hari itu tiba.”

***

Tok. Tok. Tok.

“Permisi Tuan, Nona dan Tuan Muda sudah datang,” Suara seorang wanita mengalun lembut mengintrupsi lamunan seorang pria yang tengah duduk di atas kursi kebesarannya sambil menatap keluar jendela.

“Masuk.”

Pintupun terbuka. Menampakkan seorang gadis dan seorang pemuda yang masing-masing memasang wajah dingin mereka.

“Hai Ayah, tidak bisakah kau membiarkan Jasmine noona beristirahat sebentar? Kau bisa menemuinya setelah makan malam nanti,” Sehun berkata sambil menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa kulit berwarna hitam.

Pria itu memutar kursinya menghadap pada dua orang yang baru saja memasuki ruangannya. “Aku hanya merindukkan noona-mu Sehun-ie. Dan ada beberapa hal yang harus disampaikan padanya.”

Pria itu bernama Oh Hyunjo. Lelaki bertubuh tegap dengan wajah yang masih terlihat tampan di umurnya yang hampir menginjak setengah abad itu. Bawaannya yang selalu terlihat tenang—ciri khas seorang pria kebapak-an—dengan senyum lembut penuh kasih sayang. Yang justru membuat Oh Sehun muak setiap kali melihat wajah Ayahnya.

Siapapun tak akan menyangka bahwa pria paruh baya itu adalah seorang pemimpin kelompok pembunuh bayaran. Wajahnya tak pernah menujukkan kesangaran seperti para pembunuh pada umumnya, bahkan nyaris selalu tersenyum seperti malaikat. Ya, Malaikat—Malaikat pencabut nyawa, mungkin.

“Duduklah, Jasmine.”

Tanpa mengatakan apapun, Jasmine duduk di sebuah sofa yang tak jauh dari tempat Sehun merebahkan tubuhnya, diikuti oleh Hyunjo yang duduk di hadapannya.

“Bagaimana kabarmu, Nak?” Hyunjo memulai pembicaraan. Sehun mendengus mendengar nada bicara Hyunjo yang terlalu tenang. Serasi dengan wajah kebapakannya.

“Seperti yang kau lihat, Ayah.”

“Aku senang kau berhasil dengan sangat menajubkan. Kau memang putriku, Jasmine. Ayah bangga padamu.”

“Terima kasih, kau terlalu berlebihan Ayah.”

“Aku tahu kau pasti sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Jadi, langsung saja.” Hyunjo meraih sebuah map berwana hitam di atas meja kerjanya. “Ini adalah berkas-berkas untuk misimu selanjutnya.”

Mendengar kata ‘misi’ disebutkan, Sehun yang awalnya menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dengan kepala menegadah menatap langit-langit, langsung menegakkan tubuhnya dan mentapa tajam ke arah Ayahnya.

“Kau gila? Ini bahkan belum sampai dua puluh empat jam sejak noona menyelesaikan tugasnya di Manhattan. Ia baru saja sampai di Korea kurang dari satu jam yang lalu. Dan demi Tuhan Ayah, noona itu manusia!”

“Cho Tae Jin?” Gumam Jasmine saat melihat sebuah foto yang terdapat di dalam map.

“Hah?” Sehun langsung menoleh ke arah Jasmine.

“Ya, Ceo JM Group. Kau bisa menolak jika kau ingin.”

Sehun mendesah. “Tidak noona, jangan—”

“Aku terima.”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Namun Jasmine masih asik dengan kegiatannya di depan komputer portabel kesayangannya. Mengakses beberapa informasi yang diperlukan untuk menjalankan misi selanjutnya.

Sementara di pojok ruangan sana, tepatnya di atas sebuah sofa panjang, Sehun tak berhenti menggerutu. Ia melampiaskan kekesalannya pada game yang sedang dimainkannya. Memencet asal setiap tombol yang ada pada benda bernama PSP itu, dan berteriak tak jelas.

Jasmine tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Sehun yang tak ubahnya seperti bocah berumur lima tahun yang sedang merajuk ingin membeli mainan.

“Aku tahu kau sudah bekerja, dan gajimu lebih dari cukup untuk membeli sepuluh PSP yang baru. Tapi itu pemborosan Sehun-ie.”

“Apa pedulimu?”

Jasmine bangkit dan mendekat ke arah Sehun. Duduk di sebuah sofa yang berdampingan dengan sofa yang diduduki adiknya.“Tentu saja aku peduli, bocah! Kau itu adikku.”

“Kalau kau peduli, kau seharusnya mendengarkanku! Jangan ambil misi ini. Terlalu berbahaya. Masih banyak yang bisa menanganinya selain dirimu. Kalau perlu, aku yang akan mengerjakan misi ini untukmu,” Ketus Sehun.

“Kau tahu ini berbahaya, tapi kau juga bersedia mengambilnya kan?”

“Untukmu,” sanggah Sehun cepat.

“Yayaya. Aku juga melakukan ini untukmu, Oh Sehun.”

Sehun menoleh, alis pemuda itu terangkat sebelah, namun sorot matanya tetap tajam dan menuntut Jasmine untuk menuruti kemauannya.

Jasmine tersenyum hangat. Senyum yang mampu meluluhkan hati siapapun. Termasuk orang sekeras kepala Sehun. Dan pemuda itu membenci kenyataan tersebut.

“Bukankah kaubilang kau ingin pergi dari sini? Memulai hidup baru di tempat yang menyenangkan?”

Sehun diam tak menjawab. Tapi ia memalingkan wajahnya dari Jasmine. Itu memang cita-citanya. Keinginannya sejak dulu. Sejak ia mengerti begitu mengerikannya hidup seperti yang selama ini ia geluti. Meski mereka hidup sangat berkecukupan, tetap saja mereka juga manusia. Punya hati nurani dan belas kasihan.

“Bayarannya sangat besar. Kau tahu? Dua setengah juta dollar hanya untuk satu nyawa saja yang melayang. Itu lebih dari cukup untuk kita memulai hidup baru, ditambah lagi uang tabunganku yang masih menumpuk di bank. Kita akan hidup sejahtera nantinya.”

“Tapi itu sangat mustahil Noona. Kau tahu kan Ricker Kim? Pembunuh berdarah Rusia yang sudah tersohor akan kemampuannya dalam membunuhpun tewas saat menjalankan misi ini,” Sehun mendesah frustasi. “Lagi pula, apa kau yakin hanya akan membunuh satu orang saja? Aku tahu caramu bekerja, Noona.”

Senyum hangat itu lenyap seketika dari wajah cantik Jasmine. Berganti dengan ekspresi datar dan sorot mata dingin. Jasmine menegakkan duduknya, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menekan bibinya hingga membentuk sebuah garis tipis.

Jangan tanyakan tentang Ricker Kim, gadis itu jauh lebih mengenal pria berdarah Rusia-Korea itu dari siapapun. Tentu saja ia tahu tentang kemampuan pria itu juga tentang kegagalannya dalam misi yang berakhir dengan kematian beberapa waktu lalu. Itu jugalah salah satu sebab ia memutuskan untuk mengambil pekerjaannya di Manhattan. Agar ia bisa melampiaskan kesedihannya atas kematian Ricker Kim. Kekasihnya. Bukan, tepatnya calon kekasihnya. Mantan calon kekasihnya.

Jasmine behutang nyawa padanya. Dulu, saat Jasmine menjalankan misi pertamanya saat berumur lima belas tahun, dan hampir mati karena sebuah peluru yang bersarang di perutnya, pria itulah yang menemukannya. Menolongnya. Menyelamatkannya.

Terlepas dari pekerjaannya sebagai seorang pembunuh bayaran professional, Ricker adalah sosok pemuda yang baik, dan tahu bagaimana menyikapi seorang gadis. Jasmine tahu bahwa Ricker memiliki perasaan khusus padanya. Jauh sebelum pria itu mengatakannya beberapa waktu lalu. Sebelum ajal menghampirinya—tentu saja.

Lelaki itu akan menagih jawaban Jasmine setelah menyelesaikan misinya—membunuh pengusaha terkenal Cho Tae Jin—sebagai hadiah keberhasilannya nanti. Namun nyatanya, ia tak pernah mendapatkan hadianya. Padahal, berhasil atau tidak. Asalkan ia kembali hidup-hidup, Jasmine akan memberikan hadiahnya.

Gadis itu baru saja ingin menata hidupnya lagi. Membuka hatinya sebagai balasan untuk orang yang pernah menyelamatkan nyawanya. Membalas kebaikan Ricker selama ini, hanya dengan belajar menerima dan mencintainya bukanlah hal yang sulit bukan?

Tapi kematian Ricker menghancurkan semua rencananya. Membuatnya geram dan sedih sekaligus.

Jasmine menyesal, mengapa ia tidak melakukannya lebih awal. Ia malah bermain-main dengan perasaannya terhadap seorang pemuda saat sekolah menengah. Jika saja ia membalas budi lebih cepat pada Ricker, mungkin ia tidak akan merasakan penyesalan dan kesedihan yang begitu mendalam seperti sekarang. Banyak sekali hutang budi yang harus ia bayar pada Ricker. Dan Jasmine bernci berhutang.

Jemari lentiknya turun menyentuh bagian perut sebelah kanan, bagian yang dulu koyak dan hampir membunuhnya karena sebuah peluru yang bersarang disana. “Maka dari itu, aku mengambil misi ini.”

“Aku akan mengenyahkan Cho Tae Jin untuk dua juta setengah dollar. Dan mengenyahkan orang-orang berengsek yang berani menghalangiku untuk Ricker.”

Ya, dengan begitulah. Dengan membunuh orang-orang yang akan menghalanginya dalam misi nanti (yang kemungkinan besar juga orang-orang yang sama menghalangi Ricker dalam misinya, atau jika beruntung. Ia dapat membunuh orang yang juga membunuh Ricker), ia akan membalas budinya. Membayar hutangnya.

***

Dengan segala rencana yang sudah tersusun di dalam otak cantiknya, Jasmine siap memulai misi barunya. Gadis itu menyiapkan beberapa senjata seperti revolver dan pisau lipat yang ia sembunyikan dibeberapa tempat dibaik bajunya.

Klik.

Suara pintu dibuka. Namun sama sekali tak membuat perhatian Jasmine teralih dari beberapa senjata yang tengah dipersiapkannya.

“Kau serius? Secepat ini?”

Jasmine menoleh setelah selesai dengan kegiatannya. “Kapan lagi? Lebih cepat lebih baik, bukan?”

Sehun mendesah. “Kau tidak lelah? Kenapa tidak besok saja?”

“Kau tahu aku tak suka menunda.”

Jasmine melenggang pergi dengan sebuah ransel di punggungnya. Meninggalkan Sehun yang mematung dengan wajah frustasi.

“Eissshh, dasar keras kepala!”

***

Jasmine memarkirkan mobilnya 50 meter dari kediaman Tuan Cho. Rumah besar itu tak terlalu tampak dari luar, karena dikelilingi oleh dinding beton dan gerbang besi otomatis yang menjulang tinggi.

Jasmine mengedarkan pandangan untuk mengetahui dimana titik-titik yang dipasangi cctv. Sesaat setelah ia mengamati rumah besar itu dari kejauhan, Jasmine berdecak. “Sial, hampir semua tempat dapat terekam cctv.”

Jasmine mengeluarkan sebuah kotak berisi chip-chip kecil yang berfungsi seperti virus yang bisa merusak jaringan computer. Memasukkan beberapa chip kedalam sebuah alat yang persis seperti pistol berukuran mini, dan membidik beberapa kamera dengan alat tersebut.

Dari kejauhan, tanpa sepengetahuannya. Sehun sedang mengawasi Jasmine dengan perasaan was-was. Bukannya ia meragukan kemampuan kakaknya itu. Bukan. Ia hanya khawatir. Memasukki kediaman Cho Tae Jin diam-diam sama saja kau menyerahkan kepalamu untuk digorok.

Mengingat bagaimana para pembunuh bayaran yang tewas secara mengenaskan (termasuk Ricker Kim), membuat nyalinya menciut. Dan rasa percaya dirinya berkurang. Tapi, dengan mantapnya gadis itu melangkah, menantang kematian, membuat Sehun mau tak mau juga menceburkan diri, ikut menyerahkan kepalanya jika memang itu harus. Ia tak mungkin membiarkan kakaknya sendirian. Orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Bahkan jauh lebih berharga dibanding nyawanya sendiri. Ia tak mungkin memaafkan dirinya sendiri seandainya terjadi sesuatu pada Jasmine.

Sehun meraih beberapa senjata dan menyembunyikannya dibalik pakaian yang dikenakannya. Tak lupa ia juga menyampirkan tas ransel berisi beberapa peralatan yang mungkin akan ia butuhkan nanti. “Semuanya, baru saja akan dimulai. Mari kita akhiri secepat mungkin.”

***

“Mereka berhenti dikawasan Gangnam.” Seonmi mengalihkan pandangannya dari layar computer yang menampilkan pergerakan titik merah pada sosok pria jangkung yang kini menatap lurus tanpa ekspresi.

“Segera siapkan pasukkan!”

“Baik.”

“Tunggu,” Seseorang mengintrupsi pergerakan para agen. “Mau pergi kemana kalian?”

“Tersangka bergerak. Kini sedang berada di kawasan Gangnam,” Jawab Seonmi pada seorang pria berpakaian formal yang baru saja memasuki ruang kontrol pusat.

Pria itu mengangguk singkat. “Kalau begitu bawa dia,” Pria itu menoleh pada sosok gadis yang sedari tadi berdiri dibelakangnya. “Park Soohye, 19 tahun. Agen baru, khusus lapangan.”

“Hah? Tapi pak Ketua—”

“Do Kyungsoo, 22 tahun. Akan menggantikan posisi Lee Sungmin di departemen IT. Dan Xi Luhan, 24 tahun. Akan menggatikan posisi Victoria di departemen forensik.”

“Selamat bekerja anak-anak!” pria itu terseyum kecil sambil berlalu meninggalkan para anak buahnya dalam keterkejutan.

“Apa maksudnya?” Seonmi begumam pada diri sendiri sebelum akhirnya memerhatikan gadis bernama Park Soohye dari ujung kaki hingga ujung rambut—menilainya. Sementara kedua lelaki bernama Do Kyungsoo dan Xi Luhan mulai bergabung dengan rekan satu departemen mereka.

“Park Soohye imnida. Mohon bimbingannya, Sunbae-nim.”

“Kau—”

“Aku Cho Kyuhyun. Dan dia Han Seonmi,” Kyuhyun memotong ucapan rekannya. “Kau sudah diberi senjata bukan? Kita menuju Gangnam-gu.” Soo Hye mengangguk singkat lalu mengikuti langkah Kyuhyun dan Seonmi keluar ruangan.

“Kyuhyun!” Seonmi berlari kecil mensejajarkan langkahnya. “Kita tidak bisa membawanya ikut serta untuk sekarang ini. dia masih sangat baru, umurnya saja masih sembilan belas! Kemungkinan terjadi kesalahan fatal sangat besar.”

“Ini kehendak Ketua Jang. Lagi pula, kau tidak bisa menilainya begitu saja, Agen Han.”

Seonmi tak habis pikir dengan apa yang dikatakan orang-orang hari ini. Mungkin ia masih bisa memaklumi pemikiran Ketua Jang, karena menurutnya ketua Jang memang sedikit gila. tapi Kyuhyun? Sepanjang Seonmi mengenal Kyuhyun, sejak menjadi trainee hingga menjadi seorang agen, Kyuhyun adalah orang yang selalu realistis dan penuh perhitungan. Mereka selalu sejalan dalam pemikiran apapun. Tapi tidak untuk kali ini. lelaki itu menyetujui perintah ketua Jang untuk membawa serta seorang agen lapangan baru untuk beroprasi di hari pertama ia masuk kerja! Demi Tuhan, bahkan agen tersebut belum diperkenalkan secara resmi.

Tanpa sepengetahuan Kyuhyun dan Seonmi, Soohye tersenyum lebar. Senang mendengar apa yang tadi dikatakan Kyuhyun. Bahwa agen bernama Han Seonmi itu tidak bisa menilainya begitu saja. Mulai detik itu Soohye menetapkan diri untuk mengagumi sosok sunbaenya itu.

“Aku tahu kau sedang Khawatir Kyu—”

“Aku sama sekali tidak mengkhawatikan ayahku, Seonmi-ssi. Jika itu yang kau maksud. Dia bisa menjaga dirinya sendiri,” Kyuhyun berkata tanpa menoleh sedikitpun pada Seonmi.

“Aku hanya ingin menangkap pembunuh Victoria. Dia harus membayar perbuatannya,” Ujar Kyuhyun dengan mata berkilat dan langkahnya yang mantap keluar dari gedung pusat NIS.

 

 

Jasmine mendarat mulus di atas rumput hijau di halaman rumah besar kediaman keluarga Cho. Ia berhasil melewati dinding tinggi itu setelah merusak sisitem keamanan dan beberapa cctv terlebih dahulu. Meski demikian, Jasmine tahu tak perlu waktu lama untuk membuat para pengawal itu menyadari kehadirannya. Maka dari itu ia harus bergerak cepat sebelum ditemukan.

Ia berlari menuju rumah bagian belakang dengan sebuah revolver di masing-masing tangannya. Tubuhnya yang ramping sangat membantu Jasmine dalam bersembuyi dibalik tiang-tiang besar rumah itu. Meski tak penutup kemungkinan, tubuhnya masih bisa ditangkap oleh kamera cctv.

Jasmine melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam lagi, meminimalisir waktu dan sesegera mungkin menemukan pria tua dua setengah juta dollar-nya. Belum sampai lima langkah gadis itu bergerak sebuah cengkraman erat di bahunya membuat gadis itu sedikit meringgis dan dengan terpaksa menolehkan wajahnya sambil mengayunkan siku-nya.

Serangannya sama sekali tak berbuah apapun. Karena dengan mudahnya seseorang yang tadi mencengkram bahunya itu mengelak dan menangkap pergelangan tangannya. Menjatuhkan kedua revolver ditangannya dan mengunci kedua tangan kurus itu dibelakang tubuhnya.

“Kau terlalu cantik untuk menjadi seorang penyusup nona,” Bisiknya.

Jasmine mendengus sambil berusaha melepaskan diri. “Adakah kata lain yang jauh lebih baik dari ‘penyusup’ Tuan?”

Dan dengan gerakkan cepat Jasmine menginjak kaki lelaki itu dengan tumitnya, bersamaan dengan sikunya yang mendorong tubuh kekar pria itu.

Meski terlepas, dan lelaki itu berhasil dibuatnya mundur beberapa langkah, tetapi secepat itu pula kawanannya datang dan mengepung Jasmine.

“Sial. Mereka datang cepat sekali.”

 

Sehun bersembunyi dibalik sebuah pohon besar yang berada di sudut halaman rumah besar itu. Mengamati situasi yang mulai kacau. Ia tahu, bahwa keberadaan kakaknya sudah diketahui. Karena dengan cepat para pria bertubuh kekar itu menyebar diseluruh sudut rumah.

Sehun mengambil sesuatu di dalam tasnya. Sebuah bendah berbentuk bulat seukuran bola kasti. Sekuat tenaga ia melemparkan benda itu hingga memecahkan salah satu kaca jendela yang ada. Benda itu mengeluarkan asap yang cukup tebal untuk menghidupkan alarm kebakaran. Sebagian besar para pengawal berlari mencari sumber suara itu, membuat Sehun menyunggingkan senyum puas.

Dengan gerakan luwes, ia menembak para pengawal yang tersisa dari jarak 300 meter. Setelah sebelumnya memasang peredam pada revolvernya. Jangan ragukan kemampuannya dalam menembak. Meski terbilang muda, Sehun adalah seorang penembak jitu dalam kelompoknya.

Sehun berlari memasuki rumah. Mata tajamnya memerhatikan setiap detail dekorasi dan benda-benda yang mengisi setiap sudut ruangan dalam rumah mewah itu. Hingga sebuah jeritan mengalihakan semua fokusnya. Jasmine!

Instingnya harus bekerja lebih keras saat ini. ia harus segera menemukan tempat dimana Jasmine berada. Gadis itu pasti sedang dalam bahaya. Dan waktunya sama sekali tidak banyak. Sehun mengumpat, dan mengutuk tentang betapa luas dan banyaknya ruangan di dalam rumah itu yang membuatnya kesulitan menemukan Jasmine.

“AARRGGH.”

Lagi, sebuah jeritan terdengar. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Sehun semakin mempercepat langkahnya dengan rasa takut yang kini mulai menghampirinya. Sebentar noona. Bertahanlah!

“Kau…” sebuah suara lemah terdengar oleh Sehun. “Setitik saja, kau berani menyentuh wajahku dengan benda itu. Aku bersumpah akan membunuhmu!”

“HAHAHA. Dasar wanita. Selalu mengutamakan wajah.” Kali ini suara lelaki yang terdengar seperti mengejek.

Sehun mengintip dari celah pintu. Matanya membulat sempurna saat mendapati sosok Jasmine yang terikat di sebuah tiang dengan kondisi mengenaskan. Seorang lelaki dengan setelan jas resmi dan bertubuh besar dengan tinggi hampir dua meter berdiri di hadapannya dan belasan lelaki berbadan tak jauh kekar dengan kaos hitam ketat berdiri mengelilinginya.

Lelaki berjas menggenggam sebuah pisau bedah di tangan kanan dan sebuah alat kejut listrik di tangan kiri.

“Berarti kau memilih ini?” lelaki itu megacungkan tangan kirinya.

Jasmine diam tak menjawab. Hanya menatap tajam seolah menantang.

“Ah ya,” lelaki itu menggeleng lalu maju beberapa langkah dan mendekatkan bibirnya pada telinga Jasmine—membisikan sesuatu yang tak bisa didengar oleh Sehun.

Jasmine meludahi lelaki itu “Bastard!

Beberapa pengawal yang sedari tadi diam mengelilingi Jasmine hendak maju namun tangan kanan lelaki berjas terangkat sebagai isyarat bagi anak buahnya untuk berhenti.

“HAHAHA, jangan terlalu munafik. Hey Jalang,” Lelaki itu mencolek dagu Jasmine. “Katakan iya, maka akan kupastikan kau keluar hidup-hidup dari sini.”

Jasmine mendengus, dan secara kebetulan ekor matanya melihat anich celah pintu. “Bodoh!”

Suara pukulan telak terdengar dari luar. Membuat Jasmine berdecak untuk menyamarkan rasa anic yang kini mulai mendera. Kemudian pintu terbuka. Seorang pengawal masuk sambil mengeret Sehun yang kini sudah terikat dan tak sadarkan diri.

“Woah, ada tamu baru rupanya.”

Jasmine mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Otaknya berpikir keras. Mencari jalan keluar untuk melepaskan diri. Ini akan sulit, karena ia sama sekali tidak bisa menemukan cara apapun untuk bisa melepaskan diri. Ditambah lagi keberadaan Sehun akan semakin mempersulitnya.

“Nah, sekarang kau tidak sendiri lagi nona,” lelaki berjas hitam itu tersenyum licik.

“Sejak tadi aku memang tak sendiri, Brengsek. Kau lupa? Kau bersamaku sejak aku menginjakan kaki disini,” Jasmine memutar matanya jengah. “Ngomong-ngomong pak tua, bisakah kau melepaskan tanganku sebentar? Aku ingin memperbaiki ikatan rambutku yang berantakan. Sungguh tidak nyaman.”

“Apa kau bilang? Pak tua?” lelaki berjas itu memelototi Jasmine. “Kau pikir aku bodoh? Melepaskan tanganmu?” lelaki itu terkekeh. “Hanya jika kau menyerahkan tubuhmu.”

Jasmine kembali meludahi wajah lelaki itu. “Dalam mimpimu.” Kemudian satu tamparan telak mendarat di pipi kiri Jasmine. Sebuah tamparan yang yang membuat sudut bibirnya sedikit robek.

“Kau—sudah cukup main-mainnya. Mari kita mulai.”

Lelaki itu melangkah lebih dekat. Mengacungkan pisau bedah dan alat kejut listrik yang ada di kedua tangannya. “Karena aku lebih menyukai pisau, mari kita memulainya dengan pisau.”

Lelaki itu maju selangkah lebih dekat dengan seringai mengerikan di wajahnya. Jantung Jasmine perpacu cepat, namun ia masih terlihat tenang. Lebih tepatnya berusaha terlihat tenang.

Jasmine memejamkan mata saat pisau itu hampir saja menggores kulit wajahnya. Namun sebuah suara bantingan pintu yang cukup keras mengalihkan semua perhatian para pengawal termasuk pria berjas yang hendak melukai wajah Jasmine.

“Tu-tuan muda,” salah seorang pengawal bersuara.

Jasmine membuka matanya dan mebelalak kaget. Saat kedua matanya menangkap sosok tubuh tegap dengan sorot mata tajam berdiri di ambang pintu. “Apa yang sedang kalian lakukan?”

-TBC-

a/n : sebelumnya, makasih banyak buat admin yang mau publish fic ini. ini pertama kalinya aku kirim ff ke sini. Semoga berkenan yaa! Ini juga ff perdanaku yang bergenre action. Kalo agak aneh, jadi mohon dimaklum. Namanya juga amatir😄
makasih juga buat yang udah baca fic abal ini sampe beres. Mohon kritik dan sarannya yaa!

-truwita

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s