FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 11


30 DAYS CUPID (1)

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, School-life, Friendship||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) V/Taehyung & (OC) Oh Shina||Additional Characters: (OC) Jeon Junmi, (BTS) Suga/Yoongi, (A-Pink) Bomi, (BAP) Youngjae, (OC) Gu Sonsaengnim||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Prolog|Chp.1|Chp.2|Chp.3|Chp.4|Chp.5|Chp.6|Chp.7|Chp.8|Chp.9|Chp.10>>Chp.11

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

Gadis itu, Shina, terlihat keluar dari sebuah mobil berwarna hitam yang baru saja berhenti di depan gerbang SOPA. Ia sempat tersenyum, melambaikan tangan kepada seorang wanita paruh baya yang mengantarnya ke sekolah, eomma-nya.

“Jangan lupa makan bekalnya, Shina,” pesan eomma Shina. Ah, pagi ini eomma Shina membuatkan bekal lagi untuk gadis itu—tentu saja dengan kotak bekal yang lain karena kotak bekal yang satu lagi masih berada di tangan Jungkook. Sungguh, eomma-nya tidak mengerti kalau anak gadisnya sedang diet.

“Iya, Eomma~” Gadis itu mengangguk, lantas berjalan memasuki gerbang SOPA.

Menghirup udara pagi yang segar, gadis itu tampak ceria berjalan menyusuri koridor sekolah. Ada sesuatu yang membuatnya senang hari ini. Ah, sebenarnya, sejak kemarin ia senang seperti ini. Kupikir kau tahu apa alasannya.

Yap!

Jeon Jungkook.

“Shina~~” Suara riang Bomi membuat gadis itu tersenyum saat masuk ke dalam kelasnya. Di sana, ia bisa melihat Bomi sedang duduk bersama beberapa gadis lainnya.

“Sejak kemarin kau terlihat senang, Nona Oh. Ada apa, hm?” tanya Bomi dengan nada menggoda begitu Shina duduk di dekatnya, membuat perhatian para gadis lainnya mengarah pada Shina.

Gadis manis itu mengulum senyum malu-malu, lengkap dengan semburat merah muda yang menghiasi kedua belah pipinya. Bomi sungguh sangat mudah menebak apa yang sedang terjadi padanya. “Tidak ada. Hanya ingin senang saja. Tidak boleh?” balas Shina.

“Haaa… jadi kau tidak mau menceritakan sesuatu yang membuatmu bahagia kepada kami, hm?” sahut Bomi dengan nada menggoda, melirik 1 per 1 gadis yang berada di dekatnya untuk mencari dukungan.

“Iya. Kau tidak mau berbagi cerita dengan kami, Shina?” ujar siswi yang duduk di sebelah kiri Bomi.

“Bukan begitu~” Shina membela diri. “Aku… agak malu mengatakannya~” sambung gadis itu. Gadis-gadis lainnya terkekeh.

“Biar aku tebak! Pasti… tentang… laki-laki?” tebak gadis lain, ikut menggoda Shina.

Semburat merah muda di kedua pipi gadis manis itu semakin terlihat. Ukh, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Melihat reaksi Shina, gadis-gadis di sekitarnya semakin gencar menggodanya.

Oh, God.

Lihatlah! Gadis manis itu menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya saking malunya. Dan goda-godaan dari teman-temannya semakin kencang. Haha… ayolah, gadis-gadis memang seperti itu, kan?

“Ehm! Ehm!”

Dan kehebohan itu berhenti ketika terdengar suara deheman dari seseorang. Sontak, para gadis terdiam dan menoleh ke arah seseorang yang merusak keasikan mereka.

“Uh? Jungkook-ssi?” seru Bomi terkejut.

Tidak ingin berlama-lama menjadi pusat perhatian para gadis, dengan cepat Jungkook meletakkan benda yang dibawanya—kotak bekal Shina di atas meja—tepat di hadapan Shina dan berkata, “Terima kasih.”

Tanpa berkontak mata dengan si pemilik kotak bekal, pemuda itu langsung berjalan cepat keluar dari kelas. Sukses membuat para gadis yang ditinggalkannya penasaran. BAGAIMANA BISA KOTAK BEKAL MILIK SHINA ADA PADA LELAKI PALING DINGIN DI KELAS MEREKA?

“Hei! Kenapa kotak bekalmu bisa ada pada Jungkook, hah?” tanya Bomi mewakili para gadis yang penasaran. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Shina, begitu pun gadis-gadis lainnya.

Merasa risih, Shina pun berkata, “Ya, kenapa kalian penasaran seperti itu, hm? Memangnya kenapa kalau kotak bekalku ada pada Jungkook?”

“Kami hanya ingin tahu saja. Kau tahu kan bagaimana sikap Jungkook terhadap para gadis? Dia dingin, cuek dan… ya… semacam itulah~” tutur gadis di sebelah kiri Shina. “Bukankah aneh kalau dia mau menerima kotak bekal darimu?” tambah gadis itu.

Shina menghela napas. “Kemarin Jungkook lupa membawa uang. Dari pada dia lapar, lebih baik aku memberikan bekalku, kan? Lagi pula aku sedang diet,” jelas gadis manis itu.

“Begitu?” tanya Bomi dengan tatapan menggoda. Oh, ya, di antara para gadis yang mengerumuni Shina, hanya Bomi yang tahu perasaan Shina pada Jungkook.

Shina langsung mengangguk cepat. “Ah, aku mau ke toilet sebentar~” ucap Shina, sejujurnya berniat kabur sebelum teman-temannya bertanya lagi. Tidak akan ada habisnya kalau Shina terus meladeni pertanyaan mereka.

“Ciyeee~~~” koor para gadis, membuat Shina semakin mempercepat langkahnya keluar dari kelas.

@@@@@

Entah untuk keberapa kalinya dalam kurun waktu beberapa minggu terakhir, siswa-siswi kelas 1.2 harus menghabiskan jam pelajarannya di perpustakaan. Kali ini mata pelajaran ke-2, Astronomi. Kata guru konseling, Seo Sonsaengnim tidak masuk karena istrinya melahirkan.

Seperti biasa, Jungkook dan Taehyung duduk di bangku di sudut ruangan. Sialnya, hari ini tidak ada 1 pun dari mereka yang membawa komik. Jungkook memilih untuk mendengarkan musik melalui earphone sambil memejamkan kedua matanya. Menikmati suara Zion T lewat lagu Two Melodies-nya sambil bersenandung kecil.

Taehyung yang duduk di sebelah Jungkook pun melakukan hal yang sama. Mendengarkan musik melalui earphone sambil menggerak-gerakkan kepalanya samar mengikuti beat yang terdengar di telingnya. Kedua matanya bergerak melihat-lihat sekitar sampai tanpa sengaja… sekilas ia mendapati Shina memandanginya—ah, memandangi Jungkook yang berada di sebelahnya.

NYUTT~

Taehyung pura-pura tidak menyaksikan adegan itu. Ya, kau tahu rasanya bagaimana jika orang yang kau suka malah menyukai orang lain, apalagi sahabatmu sendiri. Sakit? Tentu saja. Tapi, Taehyung tidak mau menggubris perasaannya. Pemuda berambut light caramel itu mengambil sebuah buku yang berada di rak sebelahnya, pura-pura membaca untuk mengalihkan perhatiannya.

Sekitar 15 menit kemudian, bel tanda istirahat pun terdengar. Siswa-siswi kelas 1.2 bergegas kelaur dari perpustakaan. Oh, ayolah, siapa yang tahan berdiam di ruangan itu selama berjam-jam, hah? Hanya para nerdy dan orang-orang yang terpaksa mengerjakan tugas saja.

“Kau tidak ke kantin, Taehyung-ah?” tanya Jungkook ketika menyadari Taehyung malah berjalan lurus saat keluar dari perpustakaan, bukannya berbelok ke kiri untuk menuju kantin.

“Dompetku ketinggalan di tas. Aku mau ke kelas untuk mengambilnya dulu. Kau duluan saja ke kantin,” sahut Taehyung.

Jungkook mengangguk paham. “Ya, sudah. Kalau begitu aku duluan.”

Sepeninggal Jungkook, Taehyung pun mengayunkan langkah. Sebenarnya, dompet yang ketingagalan di kelas itu hanya alasannya saja. Ada sesuatu yang ingin ia lakukan. Agak tergesa pemuda itu menyusuri koridor. Kedua matanya tidak lepas memandang 2 orang gadis yang berjalan beberapa langkah di depannya, Yoon Bomi dan… Oh Shina.

“Shina-ssi, bisa kita bicara sebentar?” Taehyung tiba-tiba menarik tangan kanan Shina, membuat gadis itu terkejut.

“Ah, Taehyung-ssi. Kau membuatku kaget,” kata Shina, berhenti berjalan karena Taehyung memegang pergelangan tangannya. “Kau mau bicara apa?” tanya gadis itu kemudian, perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Taehyung yang melonggar.

“Kita bicarakan di tempat lain. Tidak di sini,” jawab Taehyung.

“Oh, baiklah. Ayo, Bomi tema—”

“Hanya kita berdua,” potong Taehyung, membuat kedua gadis di dekatnya terkejut sekali lagi.

“Memangnya apa yang mau kau bicarakan dengan Shina?” tanya Bomi.

Taehyung melirik gadis itu. “Kau tidak perlu tahu, Bomi-ssi,” jawab pemuda itu. “Bagaimana, Shina-ssi, bisa?”

Shina menoleh ke arah Bomi, seperti meminta pendapat. Sementara sang sahabat hanya menggidikkan bahunya, seolah berkata semua keputusan ada pada Shina. Dan…, sedetik kemudian, gadis itu mengangguk sambil berkata, “Baiklah~”

Gadis manis itu lantas berjalan mengikuti Taehyung. Dalam diam, gadis itu bertanya-tanya, kira-kira apa yang akan ditanyakan Taehyung padanya? Bukankah… selama ini ia tidak pernah punya urusan pribadi dengan Taehyung? Atau jangan-jangan—ah! Tidak mungkin!

“Duduk di sini, Shina~” ucapan Taehyung membuyarkan lamunan gadis itu. Mendapati Taehyung duduk di bangku taman depan sekolah, di dekat kolam ikan yang luas. Shina bergerak ke tempat Taehyung, duduk di sebelah lelaki itu.

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Taehyung-ssi?” tanya gadis itu, menoleh ke arah Taehyung.

Pemuda itu mengembuskan napas. “Kuperhatikan…, belakangan ini kau dekat dengan Jungkook, ya?” tanya pemuda itu sambil memandang ke arah kolam yang berada di depannya.

Shina mengernyitkan dahi mulusnya. “Uh? Ti-tidak juga. Memangnya kenapa?”

Taehyung tersenyum samar—tepatnya, memaksakan dirinya tersenyum samar. “Tidak usah bohong padaku,” Taehyung lantas menoleh ke arah Shina, “Kau pernah bilang kalau kau menyukai Jungkook, kan?!”

Shina terhenyak. Ah, kenapa dia lupa kalau ia pernah memberitahu Taehyung hal itu, hm? Dia benar-benar lupa kalau selama ini… ada Kim Taehyung yang juga tahu perasaannya terhadap Jungkook.

Gadis itu menghela napas. “Ya.”

“Bukankah… itu berarti bagus untukmu, hm? Sekarang Jungkook sudah mulai baik padamu. Maksudku, dia tidak sedingin yang dulu, bukan?” Taehyung kembali menoleh ke arah kolam.

“Ya. Aku senang Jungkook seperti sekarang.”

“Apa Jungkook tahu kalau kau masih menyukainya?” tanya Taehyung lagi.

Shina lantas menolehkan wajahnya ke arah kolam. “Sepertinya…, tidak. Entahlah. Kemarin dia menanyakan hal itu padaku. Tapi, aku tidak menjawabnya karena… kau datang.”

“Lalu, apa kau mau memberitahunya?” Taehyung menoleh ke arah gadis itu. Mendapati lekuk wajah sempurna seorang Oh Shina. Bahkan dari samping seperti ini pun, gadis itu sungguh terlihat manis di mata Taehyung.

“Entahlah, Taehyung. Aku takut kalau Jungkook akan bersikap seperti dulu. Aku takut kata-kata yang diucapkannya sama seperti apa yang ia ucapkan saat di ruang kesehatan waktu itu. Mungkin… aku biarkan saja seperti ini,” jawab Shina.

Taehyung terdiam.

Shina pun terdiam.

Hanya terdengar suara kendaraan yang melintas di jalan raya di depan sekolah.

“Kalau aku boleh tahu, sebenarnya… apa yang kau sukai dari Jungkook?”

Shina menoleh ke arah pemuda itu. “Kenapa kau ingin tahu?”

“Aku hanya penasaran. Kalau kau tidak mau jawab juga tidak apa-apa.”

Gadis manis itu kembali mengalihkan wajahnya ke arah kolam. “Aku juga tidak tahu, Taehyung-ssi. Pertama kali melihatnya, aku langsung menyukainya. Itu saja.”

“Bahkan setelah ia membuatmu menangis di ruang kesehatan waktu itu?”

Shina mengangguk pelan. “Waktu itu aku memang sakit hati, Taehyung-ssi. Sakit rasanya mendengar Jungkook berkata bahwa ia melarangku untuk menyukainya dan malah menyuruhku untuk menyukai orang lain. Tapi…, entahlah. Sejak Jungkook mulai bersikap baik, rasa sakit itu pelan-pelan sembuh.”

“Lalu…, bagaimana dengan orang yang selalu menaruh bunga mawar di lokermu?” tanya Taehyung lagi.

“Youngjae Sunbae, maksudmu?” Shina memastikan. “Jujur, aku terkejut begitu tahu kalau ternyata… selama ini Youngjae Sunbae yang meletakkan mawar di lokerku.”

“Bagaimana… kalau ternyata bukan Youngjae Sunbae yang meletakkan mawar di lokermu?”

Sontak, Shina menoleh, menatap Taehyung heran. “Maksudmu?”

“Ya. Bagaimana kalau ternyata Youngjae Sunbae hanya mengaku sebagai orang yang meletakkan mawar di lokermu, tapi… sebenarnya bukan dia yang melakukannya?”

Shina mengernyitkan dahinya. “A-apa yang kau bicarakan, Taehyung-ssi?”

Pemuda itu mengalihkan wajahnya dari tatapan Shina. Antara ingin mengaku sekarang, namun… di satu sisi ia juga masih ragu. Bagaimana kalau Shina marah? Bagaimana kalau gadis manis itu kecewa padanya setelah apa yang ia lakukan selama ini?

“Taehyung-ssi, sebenarnya ada apa, hm? Apa… kau tahu sesuatu tentang… mawar itu, hm?” tanya Shina penasaran.

Taehyung mendukkan kepalanya sembari bergumam, “Sebenarnya…” ia menghela napas, “sebenarnya… orang yang meletakkan mawar di lokermu itu… adalah…”

Pemuda itu tidak jadi meneruskan ucapannya begitu mendengar sebuah ponsel berdering. Ponsel Shina. Buru-buru gadis manis itu merogoh saku blazer-nya, melihat layar yang tengah berkedap-kedip padanya.

Yoon Bomi’s calling.

Itu yang tertera di layar.

“Ya, Bomi. Ada apa?” jawab Shina, merapatkan ponsel di telinga kirinya.

“…”

“Baiklah. Aku ke sana sekarang,” balas Shina, lalu memutuskan panggilan dari Bomi. Tidak lama, gadis itu berkata pada Taehyung, “Kita harus ke kantin sekarang. Sesuatu terjadi pada Jungkook.”

Bergegas gadis itu berlari menuju kantin, tidak peduli Taehyung mengikutinya atau tidak. Sementara itu, Taehyung yang melihat Shina berlari begitu mendengar sesuatu terjadi pada Jungkook, hanya bisa tersenyum miris.

Hah~ sepertinya dia memang tidak punya kesempatan.

@@@@@

Shina bergegas ke ruang UKS setelah diberitahu oleh salah satu siswa yang ditemuinya di kantin mengatakan bahwa Jungkook kini berada di ruang kesehatan. Tanpa permisi, gadis manis itu langsung masuk ke ruang kesehatan, mendapati Jungkook duduk di atas tempat tidur, sementara Bomi terlihat sibuk mencari-cari sesuatu di lemari. Mendengar kegaduhan dari Shina yang teburu-buru masuk, Bomi dan Jungkook mengalihkan perhatiannya ke arah pintu.

“Hah~ syukurlah kau sudah datang, Shina-ya~” sahut Bomi. “Bantu aku mencari cairan antiseptik. Luka lebam di pipi Jungkook harus segera dibersihkan~” lanjut gadis itu.

Tidak mempedulikan ucapan Bomi, Shina langsung menghampiri Jungkook. “Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu bisa seperti ini, Jungkook-ssi?”

Jungkook menggeleng pelan. “Tidak. Bukan apa-apa.”

“Youngjae Sunbae memukulnya!” celetuk Bomi.

Sontak, Shina terkejut. “Ha? Apa benar yang dikatakan Shina?” Gadis manis itu melihat ke arah Jungkook, sementara pemuda itu malah mengalihkan wajahnya, menghindari kontak mata. Shina menghela napas. Aish~

“Ini cairan antiseptik-nya. Luka Jungkook harus dibersihkan,” ujar Bomi menghampiri Shina yang berdiri di dekat tempat tidur, menyodorkan sebotol cairan antiseptik yang dicari-carinya sejak beberapa menit lalu kepada Shina.

Tanpa bersuara, Shina mengambil cairan antiseptik itu dari tangan Bomi. Bergerak menuju lemari, mengambil mangkuk stainless kecil dan kapas dari sana. Ya, dia siswi yang masuk di klub kesehatan. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Sementara Bomi dan Jungkook hanya bisa diam memperhatikan gadis itu.

Oh Shina kemudian duduk di sebelah Jungkook dan berkata, “Lukamu harus dibersihkan~”

Mengerti maksud dari ucapan itu, Jungkook menggeser tubuhnya hingga berhadapan dengan Shina. Tergambar sangat jelas di matanya, raut kecemasan di wajah gadis manis itu. Ya Tuhan, Shina benar-benar masih menyukainya. Lalu, bagaimana dengan misi terakhirnya jika keadaannya seperti ini?

Terlebih…, bagaimana dengan perasaannya sendiri?

“Sebenarnya ada apa? Kenapa Youngjae Sunbae bisa memukulmu, hm?” tanya Shina di sela-sela kegiatannya membersihkan luka di pipi Jungkook. Sesekali terdengar ringisan dari pemuda berambut merah marun itu.

Jungkook mengembuskan napasnya sejenak. “Dia kesal karena dia pikir aku mendekatimu. Dia melihatku pulang bersamamu kemarin.”

Shina menghentikan sejenak kegiatannya. Menatap pemuda di hadapannya lamat. “Apa? Hanya karena itu dia memukulmu? Astaga. Aku tidak percaya Youngjae Sunbae—”

“Masih ada sebab lain, iya, kan Jungkook?” potong Bomi, menatap Jungkook penuh intimidasi. Ya, gadis itu tahu betul apa yang terjadi. Ia berada di kantin saat itu.

Shina menatap Jungkook dan Bomi bergantian. “Sebab lain? Apa?”

Jungkook menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Bomi yang mengintimidasinya. Aish! Gadis satu ini benar-benar sulit.

“Kenapa diam, Jeon Jungkook? Cepat katakan yang sebenarnya pada Shina,” ujar Bomi terkesan menuntut. “Apa perlu aku yang mengatakan hal itu pada Shina, hm?” Kali ini Bomi sedikit mengancam.

Sang gadis manis masih menatap Jungkook dan Bomi bergantian. Bingung dengan apa yang telah terjadi. “Sebenarnya ada apa, hm? Apa yang terjadi? Jungkook-ssi, Bomi-ya, ada apa sebenarnya?”

Bomi menghela napas setelah berdetik-detik Jungkook tidak bersuara. Sepertinya dia yang harus mengatakan yang sebenarnya, “Shina-ya, sebenarnya… Tuan Mawar yang sebenarnya bukan Youngjae Sunbae,” Bomi menggantungkan ucapan yang berhasil membuat Shina membulatkan kedua matanya, “tapi…”

“Jungkook-ah, kau tidak apa-apa?”

Semuanya menoleh ke asal suara, mendapati pemuda berambut light caramel itu berjalan mendekati Jungkook. Seketika pemuda berambut merah marun itu menghela napas.

“Ya, aku tidak apa-apa,” jawab Jungkook, lalu memaksakan dirinya tersenyum sebagai bukti bahwa ia memang baik-baik saja.

“Apa yang terjadi, hah? Kau berkelahi?” tanya Taehyung lagi, mengambil tempat di sebelah Jungkook.

“Dipukul Youngjae Sunbae,” sahutnya.

“Memangnya… apa yang terjadi, hah?”

Jungkook terdiam. Tidak mungkin ia mengatakan kalau… dia dipukul karena Youngjae Sunbae berpikir bahwa ia mendekati Shina. Tidak! Dia tidak akan mengatakan itu di depan Taehyung. Yang benar saja? Kalau Taehyung tahu bahwa ada Youngjae Sunbae yang akan memukul siapa pun laki-laki yang mendekati Shina, Taehyung benar-benar akan menjauhi Shina.

Itu tidak boleh terjadi!

Jungkook hanya ingin melindungi Taehyung dari Youngjae agar misi terakhirnya ini bisa berhasil. Ya, meski itu menjadikan dirinya sebagai tumbal untuk Youngjae.

“TEEEEETT!!!”

Dan tepat di saat itu, bel tanda jam istirahat berakhir pun berbunyi.

“Ah, sudah bel. Nanti saja aku ceritakan, Taehyung-ah. Sebaiknya kalian semua cepat kembali ke kelas,” ujar Jungkook, diam-diam ingin mengusir Taehyung, Shina dan Bomi dari ruang kesehatan.

“Tapi, kau… benar-benar tidak apa-apa, hah?” tanya Shina cemas. “Apa… sebaiknya kau pulang saja?” usul gadis manis itu.

Jungkook menggeleng. “Tidak. Aku baik-baik saja, Shina-ssi. Aku mau istirahat di sini sebentar. Lee Sonsaengnim pasti akan maklum kalau aku terlambat masuk ke kelas,” tutur Jungkook.

Taehyung berdiri dari duduknya, kemudian menepuk pundak Jungkook dan berkata, “Ya, sudah. Kau istirahat di sini saja. Nanti aku yang akan memberitahu Lee Sonsaengnim kalau kau terlambat masuk.”

Jungkook mengangguk.

“Ayo. Shina, Bomi, kita ke kelas,” ajak Taehyung kemudian.

Di saat Taehyung, Shina dan Bomi hendak beranjak meninggalkan Jungkook, tiba-tiba pemuda itu menarik tangan kanan Bomi, membuat gadis itu berhenti dan menoleh padanya.

“Jangan beritahukan pada Shina tentang Tuan Mawar. Aku mohon,” pinta Jungkook dengan suara pelan. Tidak mau apa yang diucapkannya terdengar oleh Shina dan Taehyung yang kini telah berada di luar ruangan.

Sahabat Shina itu mendengus. “Kenapa?”

“Aku tidak bisa mengatakannya di sini, tapi… aku mohon padamu, jangan katakan apapun yang kau dengar di kantin tadi pada Shina,” tutur Jungkook. “Aku mohon~”

Bomi memutar bola matanya, jengah. “Baiklah. Asal kau berjanji 1 hal padaku.”

“Apa?”

“Kau harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Jungkook-ssi. Kau harus menceritakan kenapa kau memutuskan untuk menjadi Tuan Mawar.”

Jungkook terdiam. Untuk sesaat ia merasa ragu dengan persyaratan yang diajukan oleh Bomi, namun… beberapa detik kemudian…, ia mengangguk.

@@@@@

Kedua pemuda itu, Jungkook dan Taehyung terlihat duduk bersebelahan di dalam bis. Jungkook duduk di dekat jendela, melihat ke arah bangunan-bangunan, pepohonan dan tiang-tiang rambu jalan yang tampak berkelebat di luar sana sambil memikirkan kejadian di sekolah tadi.

Dia hampir saja mengaku sebagai Tuan Mawar di depan Shina.

Jujur, semua ini tidak akan terjadi seandainya… kemarin ia tidak pulang 1 bis dengan Oh Shina. Gara-gara itu, gara-gara seseorang yang melihatnya di bis bersama Shina dan melaporkan hal itu pada Youngjae, itu yang menyebabkan ia dipukul.

Hanya saja…, di saat Youngjae mengancam bahwa… ia akan mengadu pada Shina bahwa Tuan Mawar sebenarnya adalah Jungkook, Bomi mendengarnya. Akibatnya, Bomi salah paham. Ia pikir bahwa… Jungkook adalah Tuan Mawar yang sebenarnya.

Entahlah.

Semua… seperti semakin rumit.

Padahal… sisa waktu Jungkook adalah… 4 hari.

Hah~

“Kau kenapa?” tanya Taehyung begitu menyadari pemuda di sebelahnya menghela napas panjang, seolah ada sesuatu yang membebani pikirannya.

Mendengar pertanyaan Taehyung, Jungkook menoleh dan menggeleng pelan seraya berkata, “Tidak apa-apa.”

“Tapi…, sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu,” balas Taehyung lagi.

Untuk kedua kalinya Jungkook menggeleng. “Tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa, Taehyung-ah,” sahutnya, lalu menoleh ke arah jendela sebagai tanda ia tidak mau meneruskan pembicaraan ini lagi.

Taehyung mengangguk paham. “Jungkook-ah~” gumam pemuda berambut light caramel itu kemudian.

Tanpa menyahut, Jungkook menoleh.

“Tadi… aku hampir mengatakan siapa Tuan Mawar sebenarnya pada Shina,” tutur Taehyung tanpa melihat ke arah Jungkook.

“Kau… hampir mengaku?” tanya Jungkook memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.

Masih tidak menoleh ke arah Jungkook, Taehyung mengangguk pelan. “Ya, aku hampir memberitahunya tentang siapa orang yang setiap pagi meletakkan mawar di lokernya.”

Jungkook mengernyitkan dahinya. “Ke-kenapa?” tanyanya denga nada bingung. Bukankah… Taehyung pernah mengatakan bahwa ia tidak akan mengaku sebagai Tuan Mawar yang sebenarnya? Lantas, kenapa dia… melakukan hal yang sebaliknya?

Taehyung akhirnya menoleh ke arah Jungkook dan mengulum senyum simpul. “Aku sempat mengingat ucapanmu waktu itu. Aku… ingin mengatakan perasaanku padanya, aku ingin mengaku bahwa aku adalah Tuan Mawar yang sebenarnya, tapi…”

“Tapi apa?” Jungkook terlihat penasaran.

“… tidak jadi.”

“Ke-kenapa kau—”

“Aku langsung tersadar kalau aku benar-benar tidak punya kesempatan, Jungkook-ah. Shina menyukaimu. Sangat menyukaimu. Karena itu, aku tidak jadi mengutarakannya seperti yang pernah aku katakan padamu,” potong Taehyung. Pemuda berambut light caramel itu lantas menghela napas. “Jujur saja, aku iri padamu, Jungkook.”

Kedua mata Jungkook membulat sempurna setelah mendengar pengakuan sahabatnya. Pelan, Taehyung menoleh ke arah Jungkook dan berkata, “Kau tahu? Aku selalu iri padamu. Kau tampan, kau serba bisa, banyak gadis yang menyukaimu. Aku benar-benar iri padamu.”

“Tae-taehyung-ah~”

“Apalagi setelah aku tahu Shina juga menyukaimu, aku semakin iri padamu.”

“Tapi, aku tidak bermaksud—”

“Aku tahu,” potong Taehyung lagi. Sepersekian detik kemudian, pemuda itu menundukkan kepalanya. “Aku tidak akan pernah bisa mengalahkanmu, Jeon Jungkook,” lanjut Taehyung.

Jungkook benar-benar terkejut mendengar pernyataan Taehyung.

Dan tepat di saat itu, bis yang mereka tumpangi pun berhenti di sebuah halte. Taehyung bergerak dari duduknya dan tanpa pamit, meninggalkan Jungkook yang masih belum tersadar dari keterkejutannya sendiri.

“Aku tidak akan pernah bisa mengalahkanmu, Jeon Jungkook.”

Kalimat Taehyung itu terus terngiang-ngiang di telinganya.

@@@@@

Tersisa 3 hari lagi untuk Jungkook menyelesaikan misi terakhirnya, tapi… tidak ada sedikit pun kemajuan yang ia buat. Yang terjadi malah… semakin rumit. Entah apa lagi yang harus Jungkook lakukan hari ini. Dia sudah terlalu pusing untuk memikirkannya.

Hah~

Mungkin… sebaiknya ia harus menikmati 3 hari terakhirnya sebagai manusia.

“Jungkook-ssi~”

Pemuda berambut merah marun itu melamun sejak ia duduk di bangkunya. Hanya diam di sana, menatap kosong meja di hadapannya. Namun, sebuah suara berhasil membawanya keluar dari alam bawah sadarnya, mendati gadis berambut kecoklatan yang ia kenal dengan nama Yoon Bomi berdiri di dekat mejanya.

“Uh, Bomi-ssi!? Ada apa?” tanya Jungkook.

Gadis itu mengembuskan napas. “Kuharap kau ingat janjimu kemarin, Jeon Jungkook,” katanya. “Ini waktu yang tepat. Shina belum datang,” tambah gadis itu.

Seketika Jungkook teringat akan janjinya pada Bomi kemarin. Ah, ya, ia hampir saja lupa kalau… ia berjanji akan menceritakan tentang Tuan Mawar itu pada gadis ini. Jungkook lantas menghela napas, lalu berkata, “Kau… mau bicara dimana?”

Sekitar beberapa menit kemudian, kedua orang itu, Shina dan Jungkook, duduk di bangku taman di dekat kolam ikan sekolah. Yap, bangku taman yang kemarin diduduki oleh Shina dan Taehyung.

“Sebenarnya… apa yang terjadi, Jungkook-ssi? Siapa Tuan Mawar yang sebenarnya? Kau atau Youngjae Sunbae?” tanya Bomi memulai pembicaraan di antara mereka. Memandang Jungkook penuh penasaran.

Sekilas Jungkook menoleh ke arah gadis itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kolam. “Kau harus berjanji padaku untuk tidak menceritakan hal ini pada siapa pun, Bomi-ssi,” pinta Jungkook.

“Ya. Aku janji.”

Jungkook menghela napas. Oke. Mungkin… Bomi adalah orang yang tepat untuk mendengarkan cerita ini. Yah, paling tidak, semoga saja gadis ini bisa membantunya memberikan jalan keluar atau… yah, cukup sebagai tempat untuk Jungkook mengeluarkan semua yang mengganjal perasaannya.

“Tuan Mawar yang sebenarnya… bukan aku atau pun Youngjae Sunbae, tapi…” Jungkook mengembuskan napas sebelum mengatakan nama yang terpikir olehnya, “Kim Taehyung.”

Rahang bawah Bomi langsung jatuh mendengar ucapan Jungkook.

Terkejut? Tentu saja.

“Tae-Taehyung? Ba-bagaimana bisa, hah? Ja-jadi…, Taehyung menyukai Shina?

“Ya. Tuan Mawar yang sebenarnya adalah Taehyung, Bomi-ssi dan… ya, dia menyukai Shina,” jawab Jungkook. Terbersit rasa bersalah pada Taehyung di benak Jungkook. Maafkan aku, Taehyung-ah. Aku… terpaksa mengatakan yang sebenarnya pada Bomi.

“La-lalu kemarin…, kenapa Youngjae Sunbae mengatakan bahwa kau adalah Tuan Mawar yang sebenarnya?” tanya Bomi bingung. Nama Kim Taehyung sama sekali tidak ada dalam daftar orang yang dicurigainya sebagai orang yang selalu meletakkan mawar di loker Shina.

“Aku sengaja memberitahu Youngjae Sunbae bahwa aku adalah Tuan Mawar untuk melindungi Taehyung,” jelas Jungkook.

“Melindungi? Apa maksudmu?”

“Kau tahu sendiri, kan!? Banyak orang di sekolah ini yang menyukai Shina, terlebih Youngjae Sunbae. Aku hanya tidak mau Taehyung kenapa-kenapa kalau Youngjae Sunbae tahu bahwa dia adalah Tuan Mawar yang sebenarnya.”

“Jadi, kau sengaja mengaku sebagai Tuan Mawar hanya untuk melindungi Taehyung?” Jungkook mengangguk pelan.

Bomi lantas menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku taman, menghela napas panjang. Dia sungguh tidak percaya ini. Jadi, Tuan Mawar yang sebenarnya adalah Kim Taehyung? Lalu, bagaimana dengan Shina kalau tahu bahwa Tuan Mawar yang sebenarnya adalah… Taehyung?

God.

Bomi tahu betul bahwa Shina langsung menjauh dari Youngjae setelah pemuda tampan itu mengaku sebagai sang Tuan Mawar. Ah, entah bagaimana nasib Taehyung kalau Shina tahu yang sebenarnya!

“Lalu, apa… kau atau Taehyung berencana untuk memberitahu Shina tentang semua ini, hm?” tanya Bomi kemudian.

Jungkook menoleh ke arah gadis itu. “Entahlah, Bomi. Jujur, aku ingin mengatakan ini pada Shina, tapi… aku ingin Taehyung sendiri yang mengakuinya,” tutur pemuda itu.

Entah untuk keberapakalinya, Bomi mengembuskan napas. “Lalu, bagaimana denganmu?” tanya Bomi lagi.

Jungkook meliukkan kedua alisnya. “Maksudmu?”

Bomi mendengus. “Bukankah kau sudah tahu bahwa Shina menyukaimu, hm?”

Seketika Jungkook terdiam. Pertanyaan sensitif. Ia tahu Bomi pasti menanyakan bagaimana perasaannya pada Shina. Hah. Haruskah Jungkook mengakui semuanya di depan Bomi? Apa Bomi akan menjadi orang pertama yang tahu perasaan Jungkook yang sebenarnya saat ini, hah?

“Asal kau tahu, Jungkook-ssi, Shina sangat menyukaimu,” ujar Bomi.

“Aku tahu, Bomi. Tapi—”

“Tapi apa, hm? Kau tidak menyukai Shina? Kau tidak menyukai gadis itu, hm? Aku katakan padamu, Jeon Jungkook, Shina benar-benar sangat menyukaimu. Setelah aku tahu dia menyukaimu, dia tidak pernah berhenti bercerita tentangmu padaku. Dan kau tahu? Sejak kau bersikap baik padanya, sejak kau bersikap baik pada Shina, aku melihat dia sangat bahagia, Jungkook. Aku tidak tahu seperti apa perasaanmu padanya. Aku hanya ingin kau tahu kalau Shina bahagia karena—”

“Aku juga menyukainya, Bomi!” potong Jungkook setelah diserang serentetan kalimat Bomi yang menyudutkannya. “Aku juga menyukainya,” lirih Jungkook, membuat Bomi diam dan menatap pemuda itu lamat.

Jungkook menundukkan kepalanya, tidak mau memperlihatkan wajah yang kemerahan itu pada Bomi setelah pengakuannya barusan. Oke. Dia tidak mau mengelak lagi. Perasaan tidak rela ketika pertama kali ia tahu Shina harus ia satukan dengan Taehyung, perasaan cemburu ketika melihat Taehyung dengan mudahnya membuat Shina tertawa dan jantung yang berdebar ketika Shina berada di dekatnya, semua itu karena… ia menyukai Oh Shina.

“Tapi, aku tidak bisa seperti itu, Bomi. Aku tidak bisa—maksudku, aku tidak boleh menyukai Shina karena Taehyung adalah sahabatku, Bomi. Sahabat baikku. Aku tidak boleh menyukai perempuan yang disukai Taehyung!”

“Taehyung tidak tahu kalau kau menyukai Shina, hah?”

Jungkook mengangguk.

Bomi menghela napas panjang, lalu berkata, “Jadi, kau akan mengorbankan perasaanmu demi Taehyung?”

Jungkook mengangguk lagi.

“Kau bodoh!” sinis Bomi. “Shina itu menyukaimu, bukan Taehyung! Tapi, kenapa kau malah seperti ini, hah?”

“Kau tidak mengerti, Bomi-ssi. Aku terpaksa. Aku terpaksa harus mengubur dalam-dalam perasaanku pada gadis itu karena sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan padamu.”

“Lalu apa rencanamu? Kau mau menjauhi Shina lagi, hah?” Bomi sedkit terbawa emosi.

Jungkook menggeleng lemah. “Aku tidak tahu, Bomi.”

Bomi mendengus, lalu berdiri dari duduknya. “Dengarkan aku, Jungkook-ssi! Shina adalah sahabatku. Kalau dia menangis dan kau adalah penyebabnya, aku tidak akan tinggal diam!” ancam Bomi, lalu beranjak meninggalkan Jungkook.

Hah~

Kenapa jadinya malah seperti ini?

@@@@@

Taehyung baru tiba di sekolah beberapa menit lalu. Pemuda berambut light caramel itu terlihat sedang berdiri di depan kelas, mengobrol dengan beberapa temannya. Entah apa yang mereka bicaraka, paling hanya obrolan antar remaja laki-laki: pertandingan sepak bola, komik, game dan… ya, tentu saja gadis-gadis. Sesekali Taehyung dan teman-temannya tertawa. Sepertinya obrolan mereka cukup seru.

“Haha… makanya jadi orang jangan terlalu jelek. Ini sudah ke-2 kalinya kau diputuskan bulan ini!” ledek Taehyung kepada seorang teman yang baru saja bercerita kalau dia putus dengan kekasihnya. Sontak, ledekan Taehyung itu mengundang tawa dari 3 orang lain.

“Ah, kalian ini kenapa malah meledek!?” gerutu teman yang diputuskan itu.

Sekali lagi yang lainnya malah tertawa. Ck! Benar-benar tidak setia kawan.

“Bagaimana kalau cari yang lain, hah? Di kelas kita kan masih banyak perempuan yang jomblo!?” usul salah satu dari mereka.

Taehyung menimpali. “Ya, itu benar! Kali ini, lebih baik kau cari gadis yang di sekitar sini saja. Tidak usah di luar sekolah. Lagi pula, perempuan di kelas kita kan cukup cantik. Ada Min Chanmi, Alice, Oh Hayoung, Yoon Bomi—”

“Enak saja! Mereka mana mau?!” Sekali lagi teman-yang-diputuskan itu menggerutu.

“Ngomong-ngomong tentang Bomi, coba lihat dia. Apa yang terjadi padanya, hah?” Salah seorang di antara mereka menyadari Bomi yang dikejauhan sana terlihat berjalan tergesa-gesa ke arah mereka. Wajahnya cemberut dengan mulut yang terkatup rapat, tidak menyungging senyum seperti biasa. Bahkan, seolah ada api yang membara yang mengelilingi seluruh tubuh gadis itu.

“Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya kesal,” gumam Taehyung. Pagi ini, si periang Bomi benar-benar tampak menyeramkan.

Begitu Bomi tiba di dekat pintu masuk kelas, gadis manis itu sempat bersitatap dengan Taehyung. Sedetik kemudian, pemuda berambut light caramel itu merasa seluruh tubuhnya bergidik ngeri. Tatapan Bomi sungguh tajam barusan.

Dan beberapa detik kemudian, Taehyung melihat Jungkook berjalan dari arah yang sama dengan Bomi. Dari arah taman depan sekolah. Berbeda dengan Bomi, pemuda berambut merah marun itu tampak menundukkan kepalanya. Jungkook menegakkan lehernya begitu merasa ia sudah dekat dengan kelas, namun… melihat Taehyung berada di dekat pintu dan sedang melihat ke arahnya, pemuda itu malah berbelok arah lain dan berjalan cepat seolah menghindari Taehyung. Menyadari ada sesuatu yang aneh, Taehyung bergegas menyusul Jungkook.

“Hei! Kau dari mana, hah?” tanya Taehyung begitu ia berhasil menyejajarkan langkahnya dengan Jungkook.

Pemuda berambut merah marun itu tidak menjawab pertanyaan Taehyung. Pura-pura tidak dengar dan terus berjalan cepat.

“Hei! Hei! Kau ini kenapa, hah? Kenapa jalanmu cepat sekali? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Taehyung, agak terburu-buru melangkah untuk sekali lagi menyejajarkan langkahnya dengan Jungkook.

“Jungkook-ah, kenapa kau diam, hah? Sebenarnya ada apa?” Taehyung masih berusaha mengajak Jungkook berbicara.

“Apa ada hubungannya dengan Yoon Bomi?” tebak Taehyung, sontak membuat Jungkook berhenti.

Benar apa yang diduga Taehyung.

“Apa yang terjadi?” tanya pemuda berambut light caramel itu.

“Maaf,” gumam Jungkook tiba-tiba, membuat Taehyung menautkan kedua alisnya, bingung.

“Untuk?”

“Bomi sudah tahu.”

Rahang Taehyung langsung jatuh begitu kalimat yang baru saja diucapkan Jungkook mengetuk gendang telinganya. “Gadis itu sudah tahu semuanya?”

Dan Jungkook mengangguk pelan.

“Astaga! Aku tidak percaya ini. Kenapa kau seperti itu, Jungkook?” tanya Taehyung, menatap lamat Jungkook yang berdiri menyampinginya.

“Maafkan aku~”

Taehyung tidak membalas. Namun, sepersekian detik kemudian, pemuda itu meraih salah satu tangan Jungkook, menarik pemuda itu kembali menuju kelas. Dari genggaman tangan Taehyung yang sangat erat, Jungkook tahu Taehyung marah.

Tapi, mau apa dia sekarang, hah?

Adegan Jungkook menarik tangan Jungkook dengan mimik wajah yang terlihat emosi membuat mereka menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang melintasi koridor di sekitar mereka. Terlebih saat mereka masuk ke dalam kelas dan berjalan tergesa-gesa ke arah Bomi yang duduk menyendiri di bangkunya.

“Yoon Bomi, bisa ikut aku sebentar?” tanya Taehyung.

Bomi mendelik ke arah pemuda berambut light caramel itu, menatapnya bergantian dengan pemuda berambutmerah marun yang berada di sebelahnya.

“Mau bicara apa? Aku tidak punya urusan dengan kalian!” tolak Bomi.

Taehyung mendengus. “Jangan berpura-pura. Jungkook bilang kau sudah tahu semuanya!” ucap Taehyung. Suaranya yang besar dan agak serak itu terdengar seperti suara teriakan, benar-berhasil membuat siswa-siswi di kelas mereka berkumpul dan menjadi mereka—Taehyung, Jungkook dan Bomi—sebagai pusat perhatian.

Bomi mendengus pelan. “Kalau iya, lantas kenapa?”

“Kita perlu membicarakannya!” tegas Taehyung sekali lagi.

Gadis itu langsung berdiri dari duduknya. “Membicarakan apa, hah? Aku sudah berbicara dengan Jungkook, Kim Taehyung! Semuanya sudah jelas. Aku sudah tahu semuanya. Kau, Jungkook, Shina, mawar itu. Aku tahu, Kim Taehyung!”

Taehyung mendengus. “Karena itu, aku ingin kita membicarakannya, Yoon Bomi. Aku hanya ingin memastikan Shina tidak akan tahu semua ini!”

“Tahu apa, hah? Apa yang tidak boleh aku ketahui?”

Jungkook, Taehyung dan Bomi mematung di tempat masing-masing begitu mendengar suara Shina.

GLEK!

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction / Fanfiction Side

Pertama-tama mau bilang makasih ya udah ngikutin FF ini sampai di chapter ini. Makasih banget buat yang udah bela-belain komen. Maaf komennya telat dibalas—kadang gak dibalas sama sekali ._.v

Pokoknya terima kasih banget deh.

Kalo ada yang mau bilang chapter ini pendek…, ya… ini emang pendek sih. Chapter paling pendek dari chapter sebelumnya… ehehe ^^v

Oh, ya, satu lagi.

Aku jangan dipanggil ‘THOR’, ya. Thor pan serem. Aku ngga serem kok… wkwkwk

Aku satu line sama Seokjin *uhuk*

Iya, saya tau saya tu* (sengaja disensor😛 :D)

Jadi, kalau merasa lebih muda dari Seokjin, panggil kakak / eonni (noona, kalau ada fanboy)—terserah, mana saja yang bikin kalian nyaman😀 Kalau yang lebih tua, panggil nama aja, tidak apa-apa😀

Oke deh. Segini aja ngomongnya😀

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

6 thoughts on “FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 11

  1. Eonni-ya, akhirnya di post juga..
    Jadi seneng kkk. Okeㅡ masalah kookie semakin hari semakin rumit padahal waktu yang kookie punya tinggal dikit lagi hmmmm, jadi penasaran sama next Ceritanya.. eonni-ya Se-ma-ngat!!!

  2. yeee akhirnya dari menunggu berbulan-bulan sampe lumutan ff 30Days cupid di share juga.
    eonni tau gk aku terus2an mantengin ni blog berharap fic ini di share #jadiCURCOL huehee😀
    waw itu Jungkook beneran Dilema ya,tp aku takut juga sih klo misinya gagal malah dia menghilang jd Buih.
    misi lu harus selesai kook,jangan pandang Oh Shina dulu INGAN NYAWA LU TERANCAM.
    next. eonni yang terbaik (y)

  3. awal nemu dan baca ff ini aku tertarik dan tertarik sampe gak tidur semalaman smpai pagi karna saking bikin penasarannya di setiap partnya…

    ngebayangin jadi Jungkook, rasanya sakit banget… dilema2 gitu

    ditunggu next chapternya ya eonni……

    cepet ya eonni jangan lama2 #maksa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s