FF ONESHOT/ Can I Come Back To My Home?/ BTS-BANGTAN


Author: 니사
Cast: Min Yoongi, Lee Hanmi.
Genre: Romance.
Length: Oneshoot.
Rating: NC.

Notes: FF ini mengandung unsur NC, tidak ada konflik, cerita dan ending yang absurd(?) Jika ada typo atau pun kesalahan penulisan mohon diberi komentar dan saran sebanyak-banyaknya 감사합니다 ㅋㅋㅋㅋ
.
.
.

“Yoongi, kau ikut kami tidak?” sahutan Jin mengalihkan perhatian Yoongi yang sedari tadi terlihat kesal menggeledah ransel hitam miliknya.

“Sial. Kurasa jam tanganku tertinggal di ruang renang. Hari ini aku tidak ikut. Kalian pergi saja.” tangannya mengibas-ngibas mengisyaratkan sekelompok kawannya untuk pergi.

“Sayang sekali, padahal film kali ini lebih ‘panas’ dari yang kemarin. Ya sudah, selamat mencari. Bye hyung.” pamit Jimin sembari meninggalkan ruang kelas diikuti kawan-kawannya dari belakang.

Sekarang tinggal Yoongi sendiri. Tapi kemudian ia meraih ransel dan menyusul keluar dari kelas, berlari menuju ruang renang sambil bergelut dengan pikirannya mencoba mengingat dimana ia meletakkan jam tanganya.
.
.
.
.

Perlahan-lahan dia membuka pintu kaca di hadapannya dengan hati-hati begitu juga saat ia melangkah masuk.
Pupil matanya membesar ketika kedua mata sipitnya menangkap pemandangan yang ‘luar biasa’ baginya.

Di tepi kolam sesosok gadis membelakangi Yoongi membuka seragam sekolahnya secara terang-terangan. Yoongi bersembunyi di balik tiang dinding memperhatikan gerak-gerik gadis itu seperti sedang memata-matai seorang penjahat.

Pikiran kotor Yoongi buyar seketika begitu melihat baju renang dibalik seragam yang dibuka. Awalnya ia sudah menduga-duga warna pakaian dalam apa yang gadis itu kenakan. Pink pastel? Baby blue? Pearl aqua? Atau warna hitam yang sering ia lihat di majalah dewasa?

Tapi biar begitu, bagaimanapun juga baju renang tetaplah ketat. Sudah pasti akan memperjelas lekuk tubuh gadis itu. Benar saja. Baju renang berwarna dark blue itu masih dapat dikategorikan sexy karena bagian bawahnya berbentuk celana dalam dan atasnya tanpa lengan.

“Lumayan.” sepertinya namja sipit ini benar-benar melupakan tujuannya datang kesini.

Gadis itu melompat memasuki kolam dan mulai berenang. Yoongi merasa seperti berada di pertunjukkan teather air. Gerakan luwes tubuhnya yang meliuk-liuk di air sangat indah dan terlihat begitu profesional.

“Dasar bodoh, kau datang kesini bukan untuk mengintip gadis sexy berenang.” ia bergumam sendiri setelah akal sehatnya kembali.

“Ehem.” suara berat Yoongi menggema di ruang kolam renang yang sunyi. Dalam sekejap gadis itu mengehentikan aktivitasnya, wajah cantiknya terlihat terkejut saat menoleh ke arah Yoongi.

“Siapa kau?” suaranya agak gemetar mungkin ia mengira Yoongi adalah laki-laki mesum yang berniat menculiknya.

“Kau lihat jam tangan tidak? Kurasa aku meninggalkan jam tanganku saat pelajaran renang tadi.” tanyanya tanpa basa-basi. Seperti biasa.

“Hm.. Aku belum lama berada disini, jadi aku tidak begitu memperhatikan sekeliling. Dimana kau terakhir kali meletakkannya?”

Kepala Yoongi mengadah ke langit-langit berusaha mengingat saat seusai pelajaran renang. Tapi sia-sia ia sama sekali tidak mengingat apapun selain ketika mambasuh diri di kamar mandi pria.

“Aku lupa, yang ku ingat terakhir kali disini saat mandi.”

“Kalau begitu kau cari saja di kamar mandi pria.”

“Tidak bisa. Kau itu tersangka. Bisa saja kau yang mengambil jam tanganku.”

“Apa?! Kau menuduhku??”

“Hm.” Yoongi berdehem seraya melipat kedua tangan di depan dada.

“Tapi aku tidak melihat apapun semenjak masuk kesini. Sungguh!”

“Tidak bisa dipercaya. Lebih baik bantu aku mencari untuk membuktikan kau tidak bersalah.”

“Aish. Apa-apaan ini..” gadis itu dengan sangat terpaksa keluar dari kolam.

Mata sipit Yoongi tak sempat berkedip menjelajahi pemandangan menyegarkan di hadapannya. Namun segera ia tepiskan fantasi liar yang memenuhi otaknya. Tanpa sadar ia menggeleng cepat kepalanya.

“Kau kenapa?” gadis itu sudah berbalut baju handuk berwarna pink pastel namun tidak terikat. Terlihat seperti seorang gadis baru selesai mandi.

“Tidak. Ayo cari di kamar mandi pria.”
.
.
.

Sudah sekitar 15 menit mereka menjelajahi setiap sudut ruangan lembab itu. Namun nihil hasilnya. Anehnya gadis yang tidak bersalah itu terlihat lebih putus asa dibanding Yoongi.

“Kau yakin meninggalkannya disini?” suaranya terdengar aneh karena berbicara sambil menutup hidung dengan kedua jarinya, menahan bau busuk yang menusuk hidung.

“Hm.” Yoongi memang tipe pemalas sampai-sampai ia terlalu malas mengatakan ‘iya’.

“Aish, tapi kita tidak menemukan apa-apa disini selain bau busuk.”

“Itu karena kau yang mengambilnya. Sudahlah mengaku saja.”

“Yang benar saja. Aku tidak melihat jam tanganmu, apalagi mengambilnya.” ia pun keluar dari toilet menghampiri Yoongi yang sedang mencari di sekitar loker.

“Ini kan salahmu kenapa jadi aku yang repot- HIYAAAAAAAAA KECOAAA!!!!!!!!!”
seekor kecoa terbang dan mendarat di lengannya. Secepat mungkin membuka baju handuknya dan belari mendekap Yoongi begitu erat.

“Berisik bo- Hey. Kau kenapa?” niat Yoongi membentak gadis itu hilang ketika menyadari ia di peluk erat gadis yang hanya mengenakan pakaian renang dengan gemetar ketakutan.

Bukannya menjawab pertanyaan Yoongi, gadis itu malah terisak membenamkan kepalanya di dada Yoongi.

Dengan agak ragu lelaki itu membalas pelukannya. Tangan kirinya merangkul pinggang sedangkan satunya mengusap-usap punggung gadis itu, mencoba menenangkannya.

“Kecoanya sudah pergi. Kau bisa berhenti menangis.”

Sebenernya Yoongi tengah menahan mati-matian hormon lelakinya, untuk tidak berbuat macam-macam pada gadis ini. Bagaimana tidak? Payudara gadis ini sangat empuk ketika memeluk erat dirinya.

“A-aku phobia kecoa..” ucap gemetar.

“Aku paham. Sebaiknya kita keluar dari tempat menjijikan ini.” dilepasnya pelukan gadis itu lalu menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya dengan ibu jari.

“Maaf merepotkanmu dan membuat ketakutan begini.” penyesalan Yoongi terdengar tulus dibalas senyuman oleh gadis itu.

“Sudahlah aku tak apa. Oh ya, aku Lee Hanmi kelas 10-2. Kau?”

“Min Yoongi.”

“Sudah malam. Masih mau berenang?” tanyanya setelah melihat ke jendela, warna langit yang sudah menjadi gelap.

“Tidak, aku akan pulang.”

“Ya sudah, cepat ganti baju.”

“Loh? Kenapa kau mengaturku?”

“Aku akan mengantarmu pulang.”

“Tidak perlu. Aku bisa-“

Tanpa menggubris ucapan Hanmi. Ia malah mengambil seragam Hanmi lalu memakaikanya, juga mengaitkan setiap kancing bajunya dengan tidak sabaran.

“Ya! Apa yang kau lakukan?? Aku bisa sendiri.” ia merasa sedikit tegang dan kegelian di bagian dadanya karena Yoongi tanpa sadar menyenggol puting buah dadanya.

“Cerewet. Aku tak suka menunggu. Kalau begini kan jadi lebih cepat.”

Setelah itu, Yoongi juga memakaikan rok pendek pada Hanmi dari ujung kaki menuju pinggang. Lalu merapatkan tubuh Hanmi padanya agar Yoongi bisa meresleting roknya di bagian belakang.

Posisi mereka membuat keduanya semakin menegang. Apalagi Yoongi bisa kembali merasakan empuknya buah dada Hanmi sekaligus mecuri-curi kesempatan menyetuh bokong gadis itu.

Setelah rok Hanmi terlesleting sempurna. Bukannya melepaskan pelukan, mereka malah seakan mematung dengan pikirannya masing-masing.

Yoongi sudah tidak dapat menahannya lagi. Kedua tangannya merangkul pinggang ramping Hanmi. Bibirnya mengarah ke telinga kanan Hanmi. Ia mengecup, mengulum lalu menjilat cuping telinga Hanmi.

Karena tidak ada respon dari gadis itu, baik itu membalas maupun menolak. Akhirnya lelaki sipit itu melanjutkan aksinya. Bibirnya turun hingga leher jenjang Hanmi.

Dikecup beberapa kali daerah sensitifnya lalu dijilat dan dihisap permukaan kulit putih leher itu, menimbulkan banyak tanda kemerahan.

Suara kecupannya mendominasi ruang kolam yang sunyi, mendengar itu Hanmi kembali mendapatkan akal sehatnya.

“Yo-Yoongi.. A-apa yang kau laku- ahh.” Hanmi tak bisa menahan desahannya.

Bibir Yoongi mendarat di belahan payudaranya. Tak hanya itu sekarang tangan Yoongi beralih meremas buah dadanya dengan penuh nafsu. Kemudian dipilin pelan kedua putingnya dari luar seragam.

“Seharusnya aku membukakan baju renangmu bukannya memakaikanmu seragam. Iya kan, sayang?” godanya dengan suara yang tersengar sexy ditelinga Hanmi.

“H-hentikann ahh..” Hanmi menggigit bibir bawahnya sendiri mecoba menahan desahannya dan menghilangkan rasa takutnya.

“Kau yang harus berhenti menyakiti bibirmu. Kemarilah biar aku obati.” lantas Yoongi mencium bibir Hanmi.

Ia menekan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumannya. Dilumatnya bibir bawah dan atas Hanmi secara bergantian. Hanmi hanya bisa memejamkan matanya.

Tak lama Yoongi melepaskan ciumannya. Menatap dalam kedua mata Hanmi. Mereka seperti mencari sesuatu dari cara mereka bertatapan. Lalu tiba-tiba Yoongi tersenyum simpul. Menjauhkan dirinya selangkah dari Hanmi.

“Ayo aku antar pulang.” lelaki sipit itu mengambil tas mereka dan menarik pergelangan tangan Hanmi.

Hanmi tak mengeluarkan suara, ia mengikuti Yoongi yang membawanya menuju parkiran. Ia takut Yoongi berubah pikiran untuk menerkamnya lagi.
.
.
.
.

Yoongi membukakan pintu mobil sportnya untuk Hanmi sembari tersenyum mencurigakan bagi Hanmi. Tapi lagi-lagi ia hanya bisa menurut.

Alis Hanmi bertaut keheranan. Pasalnya Yoongi juga ikut masuk ke tempat duduk bagian belakang.

“Kenapa kau disini? Siapa yang menyetir?”

“Ck. Pulangnya nanti saja. Ada hal yang belum ku selesaikan, Lee Hanmi.” Senyum nakalnya mengembang sempurna.

Kemudian tangannya mengangkat tubuh ramping Hanmi agar berada di pangkuannya. Sekarang Hanmi duduk di kedua paha Yoongi. Kakinya ditekuk ke belakang punggung Yoongi.

“Eh? Kita mau ngapain?” pertanyaan polos Hanmi semakin menaikan hasrat lelaki Yoongi.

“Diam dan turuti perkataanku. Oke?” Hanmi mengangguk seperti orang yang sudah benar-benar kehilangan kewarasannya.

Yoongi menarik tengkuk Hanmi, mengarahkan wajah cantik itu ke wajahnya. Ketika dahi dan hidung mereka bersentuhan, Yoongi mulai mejamkan matanya. Hanmi pun mengikuti yang dilakukan lelaki itu.

Bibir mereka pun berpautan, saling melumat. Tangan nakal Yoongi mencubit payudara Hanmi dan membuat gadis membuka mulutnya. Tak disia-siakan kesempatan itu Yoongi berhasil menelusupkan lidahnya ke mulut Hanmi.

Ciuman sejoli itu semakin panas. Lidah mereka beradu, juga tak lupa Yoongi mengabsen gigi-gigi Hanmi dengan lidahnya. Tangan kanan lelaki itu semakin menekan tengkuk Hanmi.

Gadis itu sudah terlihat kelelahan sekaligus kehabisan napasnya tapi Yoongi masih gencar memainkan lidahnya sambil meremas gemas bokong Hanmi.

Karena tak lagi mendapat balasan, Yoongi melepaskan ciumannya. Hanmi segera mengambil nafas sebanyak-banyaknya, begitu juga Yoongi.

“Hhh… Kapanh kita pulang?” tanyanya dengan napas tersengal-sengal, seketika  mimik wajah Yoongi berubah jadi kesal.

“Baiklah, kita pulang sekarang.” Yoongi pun pindah tempat duduknya ke bagian depan. Ia juga bisa mendengar helaan nafas lega Hanmi, bibirnya spontan membentuk smirk smile.

Selama perjalanan tak ada yang membuka suara. Yoongi fokus menyetir mobil sedangkan Hanmi memandang ke luar jendela dengan muka suntuk.

“Hmm.. Memangnya kau tau alamat rumahku?”

“Tidak.”

“Lalu kita mau kemana?”

“Apartemenku.”

“Eh? Kau bilang kau akan mengantarku pulang!”

“Memang, tapi besok. Malam ini menginap saja di tempatku.”

“Ayolah, aku masih punya orang tua. Mereka pasti cemas anak putrinya tidak pulang semalaman.”

“Kau bisa menelpon mereka dan mengabari kalau kau menginap di rumah teman, sayang.”

“Berhenti memanggilku sayang. Menjijikan.”

“Terserah.”
.
.
.
.

Hanmi tak bergeming di depan pintu bernomor 93. Yoongi yang lebih dulu masuk menatapnya bingung.

“Cepat masuk.”

Hanmi semakin menundukkan kepalanya, matanya lebih betah menatap ujung sepatunya daripada menoleh pada Yoongi.

Yoongi memutar bola matanya jengah lalu berdecak kesal. Ia pun berinisiatif menggendong Hanmi secara bridal dan menutup pintu dengan kakinya.

“Yaaaah! Turunkan aku, Min Yoongi.”

Lelaki sipit itu pun menurunkannya dengan hati-hati. Di kamar mandi.

“Mau aku mandikan atau mandi bersama?”

“Mandi sendiri!!” Hanmi spontan menutupi badannya dengan tangan menyilang.

Yoongi terkekeh geli mendengarnya. “Hahaha baiklah, aku mengerti.” diacak-acaknya puncak rambut Hanmi dengan lembut.

“Sebentar aku ambilkan handuk dan pakaianmu.” Yoongi meninggalkan dirinya sendiri. Matanya menjelajahi kamar mandi lelaki sipit dan mesum baginya.

Tiba-tiba matanya menangkap sebuah tumpukan majalah yang tersusun rapi di sebuah rak.

“Untuk apa majalah di kamar mandi?” ucapnya sendiri.

“Untuk mencuci mata.” Hanmi terkejut saat tau Yoongi sudah hadapannya.

“Cuci mata?”

“Kau tidak tau itu majalah apa?” Hanmi menggeleng cepat.

“Majalah itu isinya gambar-gambar wanita seperti dirimu.”

“Seperti diriku?” Hanmi semakin terlihat kebingungan.

“Ck, lupakan. Kau memang gadis polos yang cerewet. Nih handuk dan pakaianku. Semoga ketat.”

“Heh?!”

Yoongi segera bergegas keluar kamar mandi dan menutup pintu. Ia memutuskan menunggu dengan duduk di sofa seraya menonton film ‘panas’ kesukaannya.

Entah ini kebetulan atau bukan, Hanmi keluar dari kamar mandi dengan celana boxer hitam dan kaos putih kebesaran milik Yoongi. Parahnya, tepat saat Yoongi memanjakan ‘miliknya’.

“Y-yoongi. Ka-kau sedang apa?” Hanmi terkejut melihat milik Yoongi yang cukup besar sedang berdiri sempurna.

Yoongi terlihat sumringah begitu melihat Hanmi. Ia pun melangakah menghampiri gadis itu.

“Cepat bantu aku, Hanmi.”

“Ba-bantu apa? Bisakah setelah membantumu aku pulang?”

Yoongi tidak mendengarkan Hanmi karena sibuk membetulkan celananya. Lalu ia merangkul dan menuntun Hanmi menuju tempat tidur. Setelah itu di dorongnya Hanmi hingga jatuh ke atas kasur.

Lelaki sipit itu segera menindih Hanmi. Mencium bibirnya dengan kasar. Tangannya lihai meremas kedua payudaranya. Hanmi merasa nikmat luar biasa, ia mendesah ketika tangan Yoongi beralih mengelus bagian privat Hanmi dibalik celana dalamnya dengan kedua jari Yoongi.

“Kuharap kau belum lelah karena malam ini kau milikku seutuhnya, Lee Hanmi.”
.
.
.
.
.

Sinar matahari menembus kaca jendela setiap rumah di Seoul pagi ini. Begitu juga dengan apartemen Yoongi. Sinar itu menyinari kedua sejoli bergelut dengan alam bawah sadar mereka di atas kasur.

Keadaan tempat tidur yang tak berbentuk lagi telah menjadi saksi bisu hilangnya keperawanan Hanmi semalam.

Keduanya masih terlihat terlelap begitu nyenyak meskipun tanpa berbalut sehelai benang dan hanya berbagi satu selimut berdua.

Yoongi perlahan membuka matanya, mengerjap-ngerjapkan beberapa kali, lalu menguceknya pelan seraya menguap. Ia baru menyadari tangan kanannya tengah menggenggam sesuatu yang kenyal rupanya buah dada Hanmi sebelah kiri.

Melihat keadaan full naked mereka ia pun tersenyum sumringah kemudian menarik tubuh Hanmi ke dalam dekapannya. Ia tak tau kenapa berdebar setiap kali memutar ulang kejadian kemarin, apalagi saat ingat tingkah dirinya yang tak bisa dikendalikan dan wajah polos Hanmi yang menerima segala perlakuannya.

Ia pun menatap wajah gadis yang pertama kali membuat otaknya tak terkontrol tanpa meminum seteguk soju pun. Wajah cantiknya yang diterpa sinar mentari pagi membuat Yoongi berpikir sejenak apa tadi malam ia meniduri seorang bidadari?

“Eungh~”

“Cepat bangun, buatkan aku sarapan.” Hanmi yang masih setengah sadar tidak menggubris perkataan Yoongi. Lelaki itu terlihat gemas memperhatikan gadisnya menggeliat kesana kemari.

“Yoongi-ah.”

“Hm?”

“Apa setelah membuatkanmu sarapan aku bisa pulang?”
.
.
.
.

Yoongi: asdfghjkl-_-

END(?)

About BlueChip

Just a normal noona fan who can't resist 97 line(?)

3 thoughts on “FF ONESHOT/ Can I Come Back To My Home?/ BTS-BANGTAN

  1. Ampun deh yoongi mesum gila ank org dbwa kbur trz dambil kprawanan’y omo,stiap kali hanmi ngmng bisakah aq pulang tuh rsa’y gubraakk,polos bgt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s