FF oneshot/ WANNA PLAY WITH ME?/ ALL-STAR


Poster 3 (1)

Author             : Ayunda Putri (@pyoonr11)

Cast                 :

  • T-ara Park Ji Yeon
  • (OC) Park Young Ji
  • GOT7 Mark Tuan
  • Infinite Kim Myung Soo
  • F(x) Krystal Jung
  • Stellar Choi Minhee
  • EXO Huang Zi Tao
  • BTS Park Jimin

Support Cast   :

  • Jang Sosaengnim
  • JYJ Kim Hyun Joong
  • Kim Tae Hee
  • Kim Tae Hyung

Genre              : Tragedy, Gore, Thriller, School Life.

Duration          : ONESHOOT

Rating             : NC-15

Hallo hallo semua! Author hadir dengan fanfiction gaje again nih. Dan sekarang cast-nya campuran. Bosen kalo satu grup doang hehe. Ohiya, cerita ini banyak terinspirasi dari beberapa film horor, urban legend dan kisah hidup author juga lho._. Beberapa nama tempat, fiksi dan maaf bila ada banyak kekerasan, kata-kata gak jelas dan typo juga. Author khilaf/? Dibaca aja ya dan jangan lupa kritik dan saran. Happy Reading!

*

“ Permisi, apa kau tahu ruang kepala sekolah? Bisakah kau tunjukkan jalannya?” Tanya seorang siswi di lorong sekolah.

“ Kau lurus saja dari sini. Disana ada tangga dan setelah 2 ruangan itulah ruang Kepala Sekolah.” Jawab siswa sambil menunjukkan arah jalannya.

“ Ahh, Terima kasih.” Kata siswi itu sambil membungkuk.

“ Tunggu.” Tahan siswa itu. “ Kau anak baru?”

“ Iya. Perkenalkan, aku Park Young Ji.”

“ Salam kenal, aku Mark Tuan.”

***

Suasana yang ramai menjadi sepi karena Sosaengnim memasuki kelas. Sosaengnim kali ini membawa siswi baru.

“ Tolong perhatiannya.” Seisi kelas memandang perempuan yang ada di depannya takjub. Cantik sekali. “ Silahkan perkenalkan dirimu.”

“ Terima kasih sosaengnim.” Perempuan itu membungkukkan badan kepada Sosaengnim.

“ Annyeonghaseyo~ Perkenalkan, aku Park Young Ji pindahan dari kota Daegu. Kalian bisa memanggilku Young Ji. Semoga kita berteman baik disini. Mohon bantuannya.” Kata Young Ji membungkukkan badan lagi.

“ Park Young Ji, kau bisa duduk disebelah kursi kosong di sebelah Mark Tuan.”

“ Mark beruntung sekali…”

“ Andaikan sebelahku kosong, pasti sosaengnim akan mengizinkannya duduk bersamaku…”

“ Young Ji itu adalah perempuan yang sangat beruntung duduk dengan Mark…”

“ Mark itu lelaki yang sangat beruntung dengan perempuan secantik Young Ji…”

“ Terima kasih Sosaengnim.” Young Ji berjalan kearah tempat duduknya di ujung kelas paling belakang dekat jendela dan memandang senyum Laki-laki yang juga tersenyum kearahnya.

“ Kita bertemu lagi, Young Ji-shi.” Bisik Mark.

“ Jangan panggil namaku dengan embel-embel-shi. Kita seumuran, Mark Tuan.” Mark hanya terkekeh geli.

“ Baiklah.”

Pelajaran dimulai dengan tenang. Young Ji juga mengikuti pelajaran seperti anak-anak biasa. Young Ji adalah siswi yang cantik, berambut pendek sebahu dan mempunyai tubuh yang ideal. Ia baru saja pindah ke Seoul bersama keluarga dari Ayahnya dengan alasan tidak mau mengenang kematian orang tuanya. Kedua orang tua Young Ji meninggal saat Young Ji masih berumur 6 tahun.

BRAKK!!

“ Bisakah kau mengetuk pintu?” Bentak Sosaengnim. Siswi yang mendobrak pintu itu terdiam dan tetap menundukkan kepalanya. Wajahnya tidak terlihat.

“ Keluar dari sana!” Perempuan itu tetap tidak bergeming. “ Kau sudah telat dan sekarang melawan perintahku? Kau berani melawan? Hah?” Sosaengnim tetap membentak dengan nada tinggi-nya.

“ Maaf.” Ucapnya parau. Sosaengnim hanya menghela nafas berat.

“ Anak-anak kerjakan tugas yang ada dipapan tulis.” Ucap sosaengnim dengan nada biasa. “ Kita bicara diluar.”

Sosaengnim keluar ruang dengan menarik tangan siswi itu kasar. Ekspresi siswi itu tetap datar.

“ Dia siapa?” Tanya Young Ji ke Mark.

“ Namanya Ji Yeon. Park Ji Yeon. Dia adalah perempuan yang sangat aneh di sekolah ini. Tidak ada yang tahu ia tinggal di mana, tidak tahu siapa kedua orang tuanya, tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.”

“ Mark!” Punggung Mark di tepuk keras oleh laki-laki dari belakang.

“ Arghh…”

“ Hei cantik.” Laki-laki itu juga menyapa Young Ji yang ada di sebelahnya Mark.

“ Aku Young Ji.” Kata Young Ji sambil mengulurkan tangannya.

“ Aku Jimin. Park Jimin. Kau bisa panggil Aku Jimin, Jimmie, Jim, atau kau bisa panggil Sayang juga tak apa.” Mark sukses melotot ke arah Jimin dan menjitaknya.

“ Aww, Ya! Sakit.” Begitupun laki-laki yang ada di belakang Jimin. “ Aww. Haishhh…”

“ Aku Huang Zi Tao. Senang bertemu denganmu.”

“ Kau dari Beijing?” Tanya Young Ji dengan mata berbinar.

“ Ya begitulah.” Cengir Tao.

“ Young Ji..” Kedua perempuan yang duduk di depan melambaikan tangan ke arah Young Ji dan dibalas dengan lambaian tangan dan tersenyum lebar sekali.

“ Yaa! Kau tidak melambai ke arahku?” Ucap Jimin dengan ekspresi yang sangat lucu.

“ Kau tahu Jimin, Aku hanya menyapa anak baru yang cantik itu. Bukan laki-laki pendek sepertimu.” Kata perempuan rambut panjang dengan poni depan itu sambil tertawa.

“ Dia tidak pendek tahu. Dia hanya kurang tinggi.” Kata Tao sambil menjewer kuping Jimin. Young Ji hanya tertawa.

*

“ Sudah 2 tahun kau seperti ini. Apa ada yang salah? Saya hanya ingin bertemu kedua orang tuamu dan membicarakan kelakuanmu di sekolah. Apa itu salah?” Jang Sosaengnim terus mengomel kepada Ji Yeon di koridor. Itu adalah hal yang sia-sia, Ji Yeon tetap tidak bergeming walaupun sudah mendapat omelan yang sangat pedas sekalipun.

“ Maumu apa, Park Ji Yeon?” Ji Yeon mendongakkan kepalanya dan menatap sinis guru yang ada di depannya. Ji Yeon tidak memperdulikan perkataan Jang Sosaengnim dan berjalan di lorong sepi menuju ruang kelas meninggalkan Jang Sosaengnim yang kesal terhadap sikap Ji Yeon.

“ Ya! Park Ji Yeon. Aku sudah memperingatimu berkali-kali. Aku tidak akan bertanggung jawab jika tahun depan kau tidak lulus!” Ji Yeon tetap berjalan dengan tenang.

*

Suasana hening menyelimuti kelas saat Ji Yeon membuka pintu kelas dengan perlahan. Berjalan ke kursinya kemudian duduk. Tak lama kemudian bel pun berbunyi.

“ Young Ji. Aku Krystal.” Katanya sambil menjulurkan tangannya ke depan muka Young Ji yang sedari tadi memperhatikan Ji Yeon yang ada di seberang kursinya dan Mark.

“ Hai Young Ji, aku Min Hee.”

“ Hai kalian berdua.” Ucapnya sambil membalas juluran tangan mereka berdua.

“ Kau mau ikut ke kantin?” Mark memandang Young Ji tanpa kedip dan membuat Young Ji gugup.

“ Eh, ehh.. Tidak. Aku akan menyelesaikan tugasku terlebih dahulu. Ohiya apakah kemarin ada catatan yang penting. Setidaknya aku akan mencatat untuk keperluanku belajar nanti.”

“ Ohh kau rajin sekali, Young Ji-ah. Aku mah malas melakukan seperti itu.” Ucap Krystal dengan pede-nya.

“ Kau itu memang anak pemalas tahu. Kerjaan-nya hanya berbelanja ke Mall dan jalan-jalan. Membosankan.” Kata Jimin yang tiba-tiba ada di belakang Krystal.

“ Dasar bawel.” Krystal menarik Min Hee menjauh dari Jimin dan keluar kelas.

“ Jika kalian ingin ke kantin, pergilah. Nanti aku menyusul. Aku ingin menyelesaikan tugasku dulu.”

“ Baiklah. Aku pergi dulu.” Mark mengelus puncak kepala Young Ji dan pergi menyenggol tangan Jimin dan Tao. Reaksi itu membuat Young Ji agak kaget dengan seulas senyum dari Jimin dan Tao, kemudian mereka berdua langsung pergi meninggalkan kelas.

Young Ji berkutat dengan catatan pelajaran Biologi dan mencoba meringkas dari buku catatan Mark. Sedangkan di kelas, hanya ada Young Ji dan Ji Yeon.

“ Psstt… Ji Yeon. Kau Ji Yeon bukan?” Perempuan itu tidak bergerak dan masih dengan keadaan menunduk.

“ Hey, aku Park Young Ji. Kau bisa memanggilku dengan Young Ji. Senang bertemu denganmu.” Young Ji memberikan senyum terbaiknya dan berharap Ji Yeon akan menoleh kepadanya. Tetap saja. Tidak ada pergerakan sama sekali. Young Ji menghentikkan tulisannya dan berjalan ke arah Ji Yeon.

“ Kau tidak lapar? Mau ke kantin bersamaku? Aku sudah lapar.” Ji Yeon tetap tidak bergeming dan Young Ji hanya mem-pout-kan bibirnya.

“ Jika kau tak mau, aku akan ke kantin sendiri. Apa kau mau menitip sesuatu. Mungkin saja kau lapar dan butuh sesuatu untuk dimakan. Atau mau aku bel…”

“ Pergilah!” Young Ji menghentikan perkataan dengan kaget.

“ Ba… Baiklah. Maaf sudah mengganggumu. Aku pergi dulu. Bye.” Young Ji melambaikan tangan kepada Ji Yeon. Walaupun ia tahu tidak akan direspon.

Young Ji keluar kelas dan menutup pintu kelas dengan perasaan yang tidak bisa dipercaya. Ia hanya ingin berteman.

“ Aww.” Young Ji menabrak dada bidang seorang siswa dikoridor.

“ Ahh maaf. Aku minta maaf.” Young Ji menatap gugup siswa di depannya. ‘ Tatapannya sinis sekali.

“ Hati-hati.” Hanya kata itu yang siswa itu ucapkan dan kemudian pergi.

***

Perempuan itu hanya berjalan dengan santainya di trotoar jalan yang sudah sepi. Sangat terlihat menyeramkan, berambut panjang dan berjalan sambil tertunduk adalah hal yang menyeramkan jika ada orang lain yang melihatnya.

“ Kenapa kau pulang?” Baru saja perempuan itu membuka pintu rumah, sang nenek mengajukan pertanyaan yang salah.

“ Kau cucu tidak tahu diri. Inilah penyebab Ayahmu menjadi sakit jiwa.” Ji Yeon hanya terdiam, tetap tertunduk. Ia hampir mengeluarkan air mata.

“ Kau memang anak pembawa sial! Aku sangat membencimu. Sangat!” Air mata Ji Yeon tumpah. Perlahan ia memasuki kamarnya yang ada di samping gudang. Kamar yang tidak layak dihuni, apalagi untuk remaja perempuan sepertinya. Menangis yang selalu ia lakukan di rumah. Ia tinggal bersama nenek-nya di perempatan jalan kota Seoul yang sepi oleh penduduk. Ayahnya masuk rumah sakit jiwa setelah masuk penjara dengan catatan pembunuhan saat Ji Yeon masih berumur 6 tahun.

“ Yaa! Anak sialan. Jika kau lapar, ambilah di luar. Aku baru saja membuang makanan itu di tong sampah dan kau boleh mengambilnya.” Ji Yeon hanya diam dan menangis di kamar dengan perut kelaparan. Caci maki dari mulut neneknya sendiri itu sangat menusuk hati Ji Yeon.

“ Ayah… Aku membutuhkanmu… Aku merindukan.. mu… ” Ji Yeon menyeka air matanya dan ingin pergi tidur. Ia hanya disediakan Tikar, kain dan bantal berdebu di kamarnya. Ia kemudian tertidur dengan keadaan seperti ini.

***

“ Ji Yeon…” Ji Yeon berhenti di gerbang saat ada yang memanggilnya.

“ Hey, kau sudah mengerjakan PR Sosiologi?” Ji Yeon hanya terdiam. “ Kalau kau diam, berarti jawabannya belum. Kau mau aku pinjamkan hmm? Aku sudah selesai semua dan aku yakin jawabannya benar semua.”

“ Park Young Ji, Park Ji Yeon.”

“ Ah Sosaengnim?” Jang Sosaengnim hanya menatap aneh Young Ji. “ Kalian sedang apa disini?” Ji Yeon langsung berjalan tanpa menghiraukan mereka berdua.

“ Kau berbicara dengannya?” Young Ji malah menatap aneh Jang Sosaengnim.

“ Memang tidak boleh? Dia kan teman kelas saya. Saya hanya menawarkan PR Sosiologi yang kau berikan. Tadi saya pikir dia belum mengerjakan, jadi saya menawarkannya.” Jang Sosaengnim menatap tidak percaya yang dikatakan Young Ji. Jang Sosaengnim hanya berfikir bahwa Young Ji hanya anak baru yang belum tahu apa-apa.

“ Kau cepat masuk kelas. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.”

“ Baik. Saya permisi.” Ujar Young Ji sambil membungkukkan badannya.

*

Ji Yeon tidak masuk kelas Jang Sosaengnim hari ini, sebenarnya ia terlalu sering membolos dan sering berdiam diri di dalam kamar mandi sambil tertidur ataupun hanya sekedar melamun.

“ Siapa sih yang didalam? Sedang buang air ya? Ini bukan toilet ibumu. Yaa! Cepat keluar.” Perlahan pintu terbuka kamar mandi terbuka.

“ Kau! Pergi sana. Anak aneh.” Ji Yeon tidak bergeming. “ Kau punya telinga tidak?” Teriakan nyaring terdengar hingga murid perempuan yang lain menatap perempuan itu.

“ Krystal, hentikan.”

“ Jika kau tidak punya kamar mandi, aku akan membuatkannya untukmu. ” Ji Yeon kemudian pergi.

*

“ Makanlah, ayah. Kau bisa sakit.” Sang anak tetap memaksa ayahnya untuk makan. Perawat bilang, ayahnya belum makan dari kemarin malam.

“ Aku bukan pembunuh. Aku bukan pembunuh.” Iya memang tidak percaya jika sang ayah membunuh ibunya sendiri. Tapi dia…

“ Kau percaya kan, Ji Yeon? Kau percaya kan?” Ji Yeon diam.

“ Kau percaya kan pada ayah? Ayah tidak membunuh ibumu, Ji Yeon. Ayah hanya …”

“ Cukup Ayah!” Ji Yeon memegang pipi sang ayah sambil menangis. “ Bagaimana pun, kau harus mempertanggung jawabkan perlakuanmu. Aku juga sangat menyayangi ibu.”

“ Tapi… Ji Yeon…”

“ Sekarang ayah makan ya. Aku tidak mau melihat ayah sakit.” Kim Hyun Joong, ayah Ji Yeon hanya sedih melihat perlakuan anaknya. Ia merasa sangat bersalah apa yang telah ia lakukan terhadap Ji Yeon, dimana seharusnya anak ini hidup bahagia dengannya.

“ Ayah minta maaf.”

“ Eoh? Minta maaf?”

“ Seharusnya ayah tidak melakukan ini. Seharusnya kita bisa bahagia berdua dan tidak mengganggu masa remajamu. Aku minta maaf.”

“ Aku hanya ingin kau jujur dan mempertanggung jawabkan perlakuanmu.” Kata Ji Yeon sambil menangis.

“ Aku… merindukanmu… Aku hanya… merindukanmu, Yah. Aku takut. ” Ji Yeon tidak kuat untuk menahan tangisnya yang sudah lama ia tahan. Ia butuh pelukan hangat sang ayah. Ia butuh kasih sayang sang ayah. Di peluknya Ji Yeon dan tangisan di dalam ruangan, membuat dokter dan suster yang berada didepan pintu enggan memberitahukan jika jam besuk sudah habis.

“ Kita beri waktu sebentar lagi untuk mereka.” Bisik dokter kepada suster yang berada disampingnya dan menutup pintu kembali. Mereka berdua hanya butuh ketenangan.

*

“ Kau mengkhianatiku?”

“ Oppa, aku bisa jelaskan.”

“ Jelaskan apa? Hah? Bisa kau jelaskan bagaimana kau hamil sedangkan aku tidak pernah menidurimu? Bisa kau jelaskan itu?!”

“ Oppa… aku…”

“ Siapa dia? Siapa yang sudah melakukan ini padamu?!”

“ Oppa! Aku minta maaf.” Wanita itu menangis sejadi-jadinya. “ Aku tidak menginginkannya. Aku mohon maafkan aku, oppa.”

“ Ya! Kim Tae Hee!” Dibantingnya sebuket bunga yang ingin ia berikan kepada wanita itu penuh amarah. “Aku akan mencari sendiri laki-laki itu dan membuat perhitungan kepadanya.”

“ Oppa, aku mohon jangan. Tolong jangan berbuat apa-apa.”

“ Lepas!”

“ Oppa! Oppa! Maafkan aku! Oppa…..”

*

“ Camping katamu?”

“ Iya. Camping. Baru diadakan tahun ini.” Kim Jeong Myun, sang ke ketua kelas mengumumkan dengan semangatnya.

“ Pasti seru, bermalam dihutan dan mengadakan api unggun. Woah seru seruuuu.” Ujar Jimin sambil terus membayangkan bagaimana serunya camping.

“ Kenapa harus camping? Dan… di tengah hutan? Kau gila? Seru? Banyak nyamuk, dingin, dan belum lagi kita menginap di tenda, bagaimana kalau ada binatang buas hah?” Krystal berkicau dan membuat semua murid menatapnya sinis.

“ Ya! Kening lebar! Jika kau tidak mau ikut, yaudah. Dasar manja!” Ucap Jimin.

“ YA! APA YANG KAU BILANG?!”

“ Krystal Jung! Berhenti berteriak.” Murid laki-laki masuk dengan wajah datarnya dan tatapan sinisnya.

YOUNG JI ‘POV

“ Krystal Jung! Berhenti berteriak.”

‘ Lelaki itu…’

“ Oh, Myung Soo. Kenapa kau disini?” Tanya Krystal bingung.

‘ Myung Soo?’

“ Aku hanya ingin memberi tahu jika camping ini wajib bagi kelas XII. Dan…”

“ WAJIB?!”

“ Hmm ya. Wajib. Dan…” Lelaki yang bernama Myung Soo itu memandang satu titik ke belakang kelas. ‘ Menatap Ji Yeon?!’

“ Untuk menambah solidaritas kalian.” Myung Soo kali ini menatapku. “ Dan untuk menambah wawasan tentang sekolah kita khususnya untuk anak baru.” Tatapan mata sekarang berpindah ke arahku. Kecuali Ji Yeon sih.

“ Eoh…” Aku berlagak bingung dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Ternyata itu mengundang tawa geli seisi kelas. Myung Soo tetap dengan wajah datarnya.

“ Camping di adakan lusa. Informasi selanjutnya akan aku umumkan saat pulang sekolah. Aku harap kalian jangan pulang dulu.” Lelaki itu berbalik arah akan keluar kelas.

“ Tunggu sebentar..” Lelaki itu kini menatapku datar. Bodoh, kenapa aku berbicara seperti itu…

“ Ada masalah?” Kenapa lelaki ini sinis sekali.

“ Lokasi camping, dimana?”

“ Kau mau tahu?”

“ Bukan hanya dia. Kami juga ingin tahu.” Mark. Gaya bicara anak ini kenapa jadi sinis jugaa?

“ Hutan A.Hwan di ujung Gyeongpo.” Orang ini berhasil membuat mataku melotot kearahnya.

“ Kau gila hah?” Tatapan semua mengarah kearahku dan juga senyuman tipis Myung Soo yang terlihat lebih mengerikan. Orang ini gila.

“ Kenapa dengan hutan itu, Young Ji?” Mark bertanya dengan bingung. Begitupun dengan murid lainnya yang memberi tatapan bingung. Termasuk Ji Yeon yang kini menatapku dengan terhalang rambut.

“ Kau percaya mitos itu? Park Young Ji?” Kini Myung Soo yang bertanya dengan tatapan datar. “ Walaupun kau ceritakan kepada yang lain, acara ini wajib. Dan jika tidak ikut…” Myung Soo memotong ucapannya dan kembali tersenyum miring. Mengerikan. “ Dipastikan kalian mendapat pengurangan 50 poin di setiap pelajaran.”

“ Kau seenaknya. Myung Soo!” Jeong Myun kali ini membuka mulut. Myung Soo dengan wajah datar keluar ruangan. Lelaki aneh.

AUTHOR ‘POV

“ Young Ji.” Young Ji sedari tadi melamun. Membuat kelima temannya, khususnya Mark menjadi khawatir. “ Ceritakan pada kami.”

“ Seharusnya tadi aku tidak mengatakan jika dia gila.” Young Ji terus mengaduk minumannya tanpa meminum sedikitpun.

“ Myung Soo adalah anak dari kepala sekolah dan dia juga ketua osis. Dia sering menyalah gunakan jabatannya itu untuk semena-mena.” Ucap Tao datar. “ Tapi dia juga anak yang sangat pintar dan sangat rajin. Dia anak yang bertanggung jawab tapi dia sangat egois.” Sambung Jimin.

“ Dan ada apa dengan hutan itu? Ada sesuatu?” Selidik Min Hee. Young Ji hanya menhela nafas berat.

“ Aku akan menceritakannya.” Setelah menghela nafas berulang-ulang, Young Ji siap menceritakan tentang mitos itu. “ Di hutan itu…”

“ Panggilan kepada siswi yang bernama Park Young Ji, Panggilan kepada siswi yang bernama Park Young Ji, untuk segera datang ke ruang kesenian sekarang juga. Terima kasih.”

“ Aku akan segera kembali.” Young Ji berjalan keluar kantin dengan tatapan terpaksa ke arah ruang kesenian. Suara itu, siapa lagi kalau bukan Myung Soo yang memanggilnya melalui speaker sekolah.

“ Apa mau lelaki gila itu kepada Young Ji?” Mark terus menatap kepergian Young Ji dengan tangan terkepal kuat.

“ Mark.” Krystal mulai angkat biacara.

“ Ya?”

“ Ada baiknya kita mengikuti Young Ji. Kau lihat tatapan aneh Myung Soo saat menatap anak baru itu?” Mark diam.

“ Mark Tuan! Kau dengar aku?”

“ Kita ke ruang kesenian. Sekarang!”

*

“ Permisi? Ada orang?” Young Ji memasuki ruang kesenian dengan hati-hati. Ia melihat tas tergeletak diatas meja.

“ Kau datang sendiri?” Myung Soo, entah dari mana datangnya orang itu tapi cukup membuat Young Ji kaget.

“ Ah.. ya.. Kau hanya memanggilku bukan?” Myung Soo hanya tersenyum. Ia lalu berjalan melewati Young Ji dan duduk dimeja.

“ Bolehkah aku mengetahui sedikit tentangmu, Park Young Ji?” Myung Soo membuka sebuah buku, yang Young Ji yakin itu adalah buku daftar siswa diruang guru.

“ Park Young Ji. Seoul, 7 Juni 1993.” Young Ji dengan gemetar memandang Myung Soo. ‘Apa maksud siswa aneh ini?!’

“ Pindahan Lila Art High School? Wow, kau termasuk pandai juga ya.” Myung Soo menatap Young Ji dengan wajah yang seolah-olah terpukau.

“ Kita bisa menjadi saingan berat dalam hal kepintaran haha.” Tawa Myung Soo makin membuat Young Ji gugup. Lebih tepatnya takut.

“ Kau menyuruhku kesini untuk apa?” Young Ji memberanikan untuk bicara. Myung Soo hanya tersenyum. “ Bisakah kau tidak tersenyum seperti itu berulang kali? Itu mengerikan.” Kali ini Myung Soo tertawa.

“ Kenapa dengan senyumanku? Hmm..” Myung Soo kali ini mendekat. Young Ji mundur beberapa langkah dengan keringat dingin yang mengucur. Ia benar-benar takut sekarang ini.

“ Apa maumu?” Young Ji tetap mundur, dan Myung Soo semakin dekat.

“ Mauku?”

Skakmat! Young Ji terpojok. Ia menabrak tembok. Tidak ada celah lagi untuknya saat ini dan Myung Soo semakin lama, semakin mendekat.

“ Tenanglah, Young Ji.” Myung Soo telat mengunci pergerakan Young Ji sekarang ini. Tangan kiri Myung Soo sudah melingkar dipinggang Young Ji dan sebelah tangannya mengelus pipi Young Ji. Myung Soo terus menatap Young Ji begitupun sebaliknya. Young Ji semakin gemetar dan rasa takutnya tidak bisa melawan perlakuan Myung Soo saat ini.

BRAKK!

“ Lepaskan dia!” Pintu terbanting keras dan memaksa lelaki dan beberapa orang temannya untuk masuk.

“ Young Ji!”

“ Kalian menganggu.” Young Ji terduduk lemas setelah Myung Soo menjauh darinya. Ia sangat takut.

“ Young Ji, kau tak apa?” Krystal dan Min Hee menghampiri Young Ji dan membantunya untuk berdiri.

“ Kau harus memperbaiki pintu itu, anak Beijing!” Jimin telah menahan Tao yang sudah ingin menghajar anak aneh yang sudah memanggilnya dengan sebutan ‘Anak Beijing’ itu. “ Dan kau pasti Bos-nya kan, Mark Tuan?”

“ Aku hanya akan melindungi Young Ji dari laki-laki sepertimu. ” Ujar Mark datar. Tapi terlihat betul dimatanya jika dia sedang mengkhawatirkan Young Ji.

“ Melindungi?” Kini Myung Soo tertawa. “ Kau mengira aku akan berbuat jahat kepada Young Ji? Anak baru itu?”

“ Siapa yang tahu? Bisa saja kau menaruh hati kepada-nya dan bisa berbuat apapun yang kau mau kan, Tuan Muda Kim Myung Soo.” Mark sengaja menekankan ‘Tuan Muda’ untuk mengejek sang empunya gelar. Myung Soo diam. Di tatapnya Mark yang sekarang sedang tersenyum menatap Myung Soo.

“ Lebih baik kau pergi sekarang! Laki-laki brengsek!” Teriak Krystal. Myung Soo kini menatap Krystal dan beralih ke Young Ji. Myung Soo hanya tersenyum, berjalan melewati Mark yang berada di depan pintu. Young Ji hanya menangis di pelukan Min Hee.

*

“ KITA CAMPING!!” Hari di mana murid kelas XII di Seoul International High School tiba. Para murid telah berkumpul di aula sekolah.

“ Mark!” Perempuan itu berteriak dan berlari ke arah laki-laki yang ia panggil.

“ O, Young Ji-ah.” Mark tersenyum. “ Kenapa kau baru datang?” Tanya Mark sambil memanyunkan bibirnya.

“ Hihi, aku telat bangun. Aku terlalu bersemangat untuk camping dan bertemu yang lain.” Senyuman lebar Young Ji terhenti saat melihat laki-laki yang sudah lama mengganggu tidurnya dua hari ini.

“ Masih memikirkan Myung Soo?” Young Ji diam. “ Eh, mpph maaf, bukan maksudnya aku…”

“ Tidak apa-apa.” Young Ji tersenyum.

“ Aku akan melindungimu. Aku janji.” Sahut Mark cepat, membuat Young Ji tertawa geli.

“ Terima kasih.” Young Ji tetap tertawa, kemudia ia tersenyum.

*

Mereka sudah sampai ditempat tujuan. Hutan A.Hwan, yang digemparkan oleh cerita Young Ji dan Myung Soo. Ada sesuatu di dalam hutan ini.

“ Ahhhh! Hutan ini sejuk sekali. Aku tidak sabar untuk nanti malam.” Kata Jimin sambil menari-nari bahagia dan menjadi tontonan lucu warga sekolah.

“ Suasananya sangat indah dan sejuk sekali.” Kata Krystal

“ Apa kau suka Young Ji?” Young Ji diam.

“ Young Ji-ah, ada sesuatu yang mengganggumu?”

“ Ah tidak.”

“ Kau bohong!” Young Ji tetap diam dan tetap melihat sekitar. Ia mendengar apa yang di ucapkan Mark, tapi ia hanya berusaha diam. “ Kau bohong kan? Jawab aku Park Young Ji!”

“ Memang!” Kali ini Young Ji menatap Mark tajam. “ Aku memang berbohong bahwa aku tidak apa-apa. Aku merasakan hal yang sangat aneh. Aku tidak yakin, tapi aku memang merasakan hal yang aneh. Untuk semuanya. ”

“ Ceritakan padaku tentang hutan ini. Aku mohon. Aku janji akan menjagamu. Aku janji”

“Aku bisa menjaga diri.” Young Ji pergi kearah kerumunan yang lain. Mark khawatir. Ya, Mark memang sangat khawatir dengan keadaan Young Ji semenjak hari itu. Dimana Myung Soo…

“ Lelaki brengsek!”

Ji Yeon hanya diam disekitar bis. Hal yang paling membosankan harus mengikuti acara sekolah dan dipaksa untuk ikut. Ia berusaha mati-matian untuk berbicara soal ini kepada nenek-nya agar diizinkan ikut. “ Pergi saja. Tidak usah kembali juga itu adalah hal yang paling bahagia untukku agar tidak mengurus anak sialan sepertimu!”

Ji Yeon sangat mengerti perasaan nenek-nya. Tetapi sang nenek justru tidak pernah memikirkan perasaan Ji Yeon sejak kecil.

“ Ji Yeon.” Ji Yeon menoleh sedikit ke arah yang memanggilnya.

“ Kenapa sendiri? Kutemani ya.” Ji Yeon tetap diam. Dia memang tidak pernah mau bicara untuk hal yang tidak penting seperti ini.

“ Ohya, Ji Yeon. Apakah kau memang pendiam seperti ini? Sampai aku yang berusaha ingin berteman denganmu malah kau cuekkin.” Siswi itu mem-pout-kan bibirnya tanda berpura-pura ngambek. Ji Yeon tetap terdiam.

“ Hmm… nanti jika kau tidak ada kelompok untuk tidur ditenda, masuklah kelompokku. Kita bisa tidur satu tenda.” Ji Yeon pergi. Kali ini tangannya ditahan.

“ Kumohon.”

JI YEON ‘POV

“ Kumohon.” Kau orang yang pertama kalinya memohon kepadaku, Park Young Ji.

“ Aku akan menambahkan namamu di daftar nama kelompokku. Ayoo ke Jang Sosaengnim. Aku akan menambahkan namamu.” Anak ini kenapa baik sekali?

Aku beranikan untuk menatap matanya. Dia sangat mirip dengan ibu. Dia mirip denganku. Sangat mirip sekali. Ia tersenyum lebar dan tetap menarik tanganku.

“ Park Young Ji.” Aku beranikan diri untuk memanggil namanya. Ia menatapku kaget, kemudian tersenyum.

“ Y.. Ya… Ada apa Ji Yeon?” Ia memasang tampang kaget dengan senyum yang masih tersirat di wajahnya.

“ Terima kasih.” Baru pertama kalinya aku mengucapkan ‘Terima kasih’. Karna anak baru pindahan itu, Park Young Ji. Anak itu sangat baik. Memang aku-nya saja yang tidak peduli dengannya.

“ Ah tidak usah berterima kasih. Aku kan hanya ingin membantu temanku saja. Ja.. jadi ayo kita ke.. Jang Sosaengnim. Aku akan mendaftarkan namamu. Nanti kau tidur disampingku ya. Kali saja kita bisa bercerita banyak.” Dia tetap tersenyum lebar. Dia kelihatan senang sekali.

“ Ayo Ji Yeon.” Ia menarik tanganku senang.

Aku… punya teman?

AUTHOR ‘POV

Malam sudah tiba, acara api unggun pun akan segera dimulai. Api unggun akan dimulai setelah makan malam.

“ Park… Ji Yeon?”

“ Ah Min Hee, Krystal, aku telah berbicara pada Jang Sosaengnim untuk menambahkannya ke kelompok tenda. Ia satu kelompok dengan kita ya. Tidak apa-apa kan?” Min Hee dan Krystal menatap satu sama lain.

“ Boleh kok.” Terpampang sekali senyum terpaksa dari wajah Min Hee dan Krystal.

“ Nah, Ji Yeon. Kau tidur disini ya. Disampingku.” Wajah bingung Min Hee dan Krystal tidak bisa terbendung lagi. Mereka memang sedang kebingungan oleh tingkah Young Ji yang tiba-tiba menambahkan Ji Yeon si ‘anak pendiam’ itu ke kelompok.

“ Sekarang kita makan. Sebentar lagi api unggun dimulai.”

*

“ Malam ini mencekam sekali ya. Bagaimana kalau kita bercerita sedikit tentang hal yang menyeramkan?” Usul Ji Min. “ Ada yang punya cerita yang sangat menyeramkan hm?”

“ Bagaimana jika siswi baru yang bernama Park Young Ji untuk menceritakan tentang hutan ini?” Young Ji diam.

‘Sialan!’

“ Bukannya kau tahu cerita tentang hutan ini?” Kata Myung Soo dengan wajah datarnya.

“ Bukannya kau juga tahu?” Sinis Young Ji.

“ Aku memang tahu. Tapi dengan senang hati, aku mempersilahkan kau yang menceritakannya.” Young Ji kembali diam.

“ Park Young Ji?” Myungsoo. Ya, Myung Soo yang sedari tadi memojokkan Young Ji. “ Jika kau tidak mau cerita, aku yang akan menceritakannya.”

“ Dengan senang hati.”

Suasana menjadi hening, Myung Soo menatap datar Young Ji dan Young Ji terus memainkan tangan Ji Yeon yang berada disebelahnya. Sedangkan yang lain memperhatikan mereka berdua dengan bingung.

“ Baiklah. Aku akan menceritakannya.” Myung Soo melihat sekelilingnya. “ Kalian menungguku untuk cerita?”

“ Jika tidak ingin cerita juga tidak apa-apa kok.” Krystal mulai berbicara.

“ Sudah malam. Kurasa kita harus cepat tidur.” Kembali hening. Perlahan satu persatu dari mereka kembali ke tenda masing-masing. Myung Soo tetap mempertahankan wajah datarnya. Young Ji menarik cepat Ji Yeon ke tenda. Yang tersisa hanya Myung Soo.

“ Ya! Young Ji. Cepat ceritakan tentang hutan ini!” Krystal mendesak Young Ji saat mereka sudah sampai ditenda.

“ Kau masih ingin mengetahuinya?” Kata Young Ji datar.

“ Cepatlah!” Desak Min Hee dan Krystal.

“ A.Hwan, Lingkaran Setan.” Young Ji diam. Dia menghela nafas berulang-ulang.

“ Ya! Apa urusannya dengan Lingkaran Setan?” Min Hee meringis ketakutan. Young Ji menatap kedua temannya dan Ji Yeon yang berada disebelahnya.

“ Nama asli hutan ini ‘Agsunhwan’ yang berarti lingkaran setan. Walaupun nama hutan ini sangat menyeramkan tidak dengan isinya. Sampai saat kejadian itu…”

“ Boleh kami bergabung?”

“ YA! HUANG….mmmph”

“ Ya! Ini sudah malam, dan kami hanya ingin mendengar cerita Young Ji, tahu.” Tao membekap mulut Krystal yang sedari tadi ingin berteriak. Tidak hanya Tao, ada Mark dan Jimin dibelakangnya.

“ Lanjutkan, Young Ji-ah.” Kata Mark mempersilahkan. Seluruh mata tertuju pada Young Ji termasuk Ji Yeon yang sedari tadi diam dan tidak melihat kearah Young Ji sama sekali.

“ Baiklah.” Young Ji kembali menghela nafas. “ Sejak kejadian pembunuhan saat itu, ayah dan ibuku adalah korbannya.” Young Ji kembali diam.

“ Kurasa… orang itu hanya mengincar Ayah. Bukan ibu.” Kali ini Ji Yeon menoleh kearah Young Ji dan menatapnya.

“ Kenapa kau tahu, jika orang itu hanya ingin membunuh ayahmu?” Mark angkat bicara. Young Ji terdiam sambil tertunduk. Ia mulai menangis.

“ Aku sangat ingat betul saat orang itu menodongkan pistol kearah ayah, dan ibu melindunginya. Saat tahu ibu yang tertembak, ia menangis.” Young Ji tetap menangis sambil mengingatkan masa lalunya dihutan ini.

“ Saat ibu terkapar, orang itu kemudian membunuh ayah. Dan tidak lama setelah itu…”

“ Nuna?!” anak laki-laki yang sedari tadi bersembunyi dibalik hutan keluar saat wanita itu tertembak.

“ Dasar pengkhianat! Kau bilang akan membunuh laki-laki itu kan? Kenapa malah kakak-ku?! Kenapa?!”

“ Diam!” Pria itu menodongkan pistol kearah anak itu. “ Diamlah! Kau tahu kan dia wanita yang sangat aku cintai? Ini kesalahannya. Sok pahlawan melindungi pria keparat itu!”

“ NUNAA!!!”

“ Sekarang kita pergi!” Pria itu kemudian menggendong anak kecil dan lari ketengah hutan.

“ TIDAK! NUNA!!!!” Pria itu sudah menjauh kedalam hutan dan anak itu terus memanggil kakak perempuannya yang tertembak.

“ Ayah… Ibu…”

“ Aku terus menangis dan menelfon bantuan dari dalam mobil, tapi ayah dan ibuku tidak selamat. Sampai 5 tahun terakhir banyak kejadian pembunuhan dihutan ini. Polisi mengira itu adalah psikopat yang kabur dari rumah sakit jiwa. Tapi orang yang membunuh ibu dan ayah telah ditangkap dan sekarang ditempatkan dirumah sakit jiwa. Itu tidak mungkin dia yang membunuh saat 5 tahun terakhir itu. ” Young Ji menghela nafas berat. Yang lain hanya berdiam dan Ji Yeon terus menatap Young Ji.

“ Kapan terakhir orang itu membunuh?” Young Ji diam. Ditatapnya Jimin yang memberikan pertanyaan.

“ 2 hari yang lalu.” Young Ji kembali diam. Terlihat jelas dimata kelima temannya bahwa mereka takut. “ Polisi tidak mau ambil pusing, ia menutup kasus ini dengan kasus bunuh dirinya mantan presiden Korea Selatan. Itu tidak adil.”

“ Park Young Ji” Kali ini Ji Yeon yang membuka mulut. Ia menatap Young Ji dengan mata yang terhalang rambut. “ Kita harus pergi dari sini.”

“ Bagaimana dengan yang lain? Jika kita yang menyelamatkan diri, mereka pasti dalam bahaya.” Kata Young Ji. Ji Yeon kini menunduk dan diam. Hal itu sontak membuat yang lain bingung.

“ Kalau kau ingin ikut mati yang tak wajar seperti mereka, itu tidak masalah.” Perkataan Ji Yeon membuat yang lain seperti hampir terkena serangan jantung.

“ Park Ji Yeon, jangan bicara seperti itu!” Jimin kini mengomel. “ Kita… Kita kan beramai-ramai, penjahat itu tidak mungkin…”

“ Kau tahu cara melenyapkan banyak orang dalam sekejap?” Jimin terdiam. “ Kita harus pergi sekarang!”

“ Bawa barang barang yang menurut kalian cukup!” Semua bergegas untuk pergi dari kemah dan tidak memperdulikan siswa yang lain. Mark, Jimin, dan Tao juga kembali ketenda untuk mempersiapkan barang-barang mereka. Ya, mereka akan kabur.

*

“ Tae Hee. Maafkan aku.” Ia terus menangis dan menangis.

“ Tuan Hyun Joong, waktunya minum obat.” Sang dokter masuk dengan segelintir obat dinampan yang ia pegang.

“ Dokter yang biasanya mengurusku dimana? Kau siapa?”

“ Ia tidak bisa datang. Ia mempercayaiku untuk menjagamu.” Hyun Joong hanya mengangguk tanda mengerti. Dokter itu pun langsung menghampiri Hyun Joong dan memberikan obat kepadanya.

“ Minumlah.” Hyun Joong meminum 3 obat sekaligus tanpa curiga.

“ Ah dokter, dadaku sakit.” Hyun Joong merasakan dadanya yang sakit. Nafasnya mulai memburu dan ia mulai jatuh terduduk. “ Ahh dok… ter…” dokter itupun hanya diam, sambil tersenyum.

“ Kau tidak apa-apa tuan?” Kata dokter itu berdiri sambil terus memperhatikan Hyun Joong yang sekarang sudah jatuh dan terkapar merasakan sakit.

“ Kau…. siapa kau?!” Dokter itu tersenyum dan membetulkan letak kacamatanya dan pergi. Hyun Joong berusaha merangkak untuk membuka pintu dan meminta bantuan.

“ To… long.. ahh.” Ia tidak bisa diselamatkan lagi. Hyun Joong telah meninggal dengan mengeluarkan busa bercampur darah dari mulutnya.

*

“ Mau sampai kapan kita berlari hah? Aku capek. Kita akan kemana?” Krystal sudah mengomel sejak tadi. Ya, Young Ji dan keenam temannya, termasuk Ji Yeon kabur dari perkemahan. Mereka sudah berlari jauh kedalam hutan dan tak tentu arah.

“ Young Ji, sekarang kita kemana?” Min Hee bersandar di pohon diikuti Jimin dan Tao yang juga ikut bersandar.

“ Aku tak tahu,” Kata Young Ji. “Kita harus cepat pergi.”

“ Asap.”

“ Asap? Apa maksudmu Ji Yeon-ah?” Tanya Tao. Ji Yeon menunjuk kearah depan. Kepulan asap dan kobaran api masih terlihat dengan jelas dari kejauhan.

“ Tenda?” Tao menjerit. “ Itu tenda kita kan?”

“ Tidak mungkin! Ini tidak mungkin.” Mark semakin frustasi dan yang lain hanya diam.

“ Aku mau pulang. Ibuuuuuu~” Min Hee kini menangis dan terus memeluk Krystal yang sedari tadi diam. Tidak tahu apa yang harus dirasakan oleh mereka saat ini.

“ Young Ji. Kita harus apa?” Tanya Jimin. Young Ji hanya menatap Jimin balik seperti berkata ‘Aku tidak tahu.’

“ Sebaiknya kita lari.” Ji Yeon mundur beberapa langkah kebelakang seperti ketakutan. Yang lain hanya menatap aneh dirinya.

“ Ji Yeon? Ada apa?” Jimin mendekati Ji Yeon dan Ji Yeon menatap lurus kedepan. Ia mengikuti arah tatapan Ji Yeon dan ya… disana ada sesuatu.

“ Kita lari sekarang!” Orang yang dilihat itu memakai topeng Vendetta dan membawa kapak ditangannya. Dan berjalan pelan kearah mereka.

“ Kita dalam bahaya!” Ji Yeon berlari menarik Young Ji dan diikuti yang lain. Orang bertopeng itu pun ikut berlari sambil mengangkat kapaknya makin tinggi.

“ Kita harus bagaimana?” Tanya Tao yang terus berlari.

“ JIMIN CEPAT!” Jimin terus berlari sekuat tenaganya. Tidak. Ia tidak bisa. Dilemparnya kapak itu dan kaki Jimin terpotong. Jimin terjatuh.

“ PARK JIMIN!” Young Ji menghentikan langkahnya dan melihat Jimin terkapar.

“ KALIAN HARUS PERGI! JANGAN PEDULIKAN AKU!” Teriak Jimin degan suara yang serak. Dijambak rambut Jimin dan diseret paksa oleh orang bertopeng itu.

“ TIDAK,” Young Ji terus berteriak dan berusaha berlari menghampiri Jimin tapi ditahan oleh Mark. “ PARK JIMIN! TIDAK!”

“ Young Ji, ini terlalu bahaya!” Tahan Mark.

“ Lepaskan aku! Park Jimin!” Young Ji terus berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Kini orang bertopeng itu mengambil kapaknya yang terjatuh ditanah. Ia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.

“ Jangan! Jangaaan! Park Jimin!”

“ Jika kau ingin melakukan ini, lakukan saja. Aku akan menunggumu dineraka!” Kata Jimin tertatih sambil terus mengumpat kepada orang bertopeng itu.

“ Selamat jalan, Park Jimin.”

“ JIMIN!!” Kepala Jimin terpotong. Darahnya mengenai topeng dan jaket hitam sang pembunuh. Orang bertopeng itu melihat kearah Young Ji.

“ Kita harus pergi sekarang!” Krystal dan Min Hee berlari diikuti Tao dan Ji Yeon. Young Ji masih terus menangis. Mark menarik Young Ji yang sekarang sudah ikut berlari. Orang bertopeng itu masih terus memperhatikan mereka sampai ia mendapat sebuah panggilan dari ponselnya.

“ Hyung! Hyun Joong sudah mati.”

“ Kau memang pintar. Haha! Aku telah membunuh salah satu dari mereka. Masih ada 6 orang lagi.”

“ Bagimu 6 orang itu sedikit kan, Hyung?” Laki-laki itu hanya tertawa sinis.

“ Ya lumayan. Kau tunggulah dirumah. Aku akan cepat kabarkan jika mereka sudah tidak ada didunia ini.”

“ Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu. Cepatlah pulang kerumah.”

“ Kuharap aku akan pulang dan menemuimu.”

“ Tunggu. Hyung, maksudmu apa?”

“ Aku menyayangimu, adikku.”

“ Hyung!”

Tut.

“ Maafkan aku.”

*

Young Ji dan kelima temanya terus berlari sampai diyakini mereka terjebak. Hutan ini sangat luas dan mereka makin jauh dari jalan keluar.

“ Harus kemana lagi? Kita sudah terjebak makin dalam, tau!” Teriak Tao.

“ Tenanglah. Kita pasti akan mendapat jalan keluar.” Kata Mark tenang.

“ Aku lelah. Aku mau pulang!” Teriak Min Hee sambil terus-terussan menangis dipundak Krystal.

“ Kita harus cepat pergi dari sini! Hanya ini kita yang tersisa.” Kata Mark yang berusaha tenang. Hening. Suasana makin hening. Hanya kesunyian dan ketegangan yang mereka rasakan

‘Krssk…’

Mereka langsung menoleh kebeberapa arah.

“ Aku tidak mau mati. Aku tidak mau!” Teriak Min Hee yang semakin frustasi.

“ Choi Min Hee! Tenanglah!” Min Hee semakin frustasi dan terus berjalan mundur sampai ia jatuh terduduk dan bersandar dipohon.

“ Min Hee, kita akan mencari jalan keluar. Kita akan keluar sama-sama.” Kata Krystal yang berjalan menghampiri Min Hee yang sangat ketakutan.

“Selamat tinggal, Choi Min Hee.”

“ Aku mau…” Kapak jatuh tertancap dan membelah kepala Min Hee seketika. Darah mengalir deras dan terlihat jelas organ dalam Min Hee yang juga keluar.

“ Choi… Mmm Min.. Hee.” Krystal terdiam dan kemudian jatuh terduduk.

“ Choi Min Hee. Tidak mungkin.”

“ Krystal, kita pergi!” Kata Tao sambil menarik tangan Krystal pergi menjauh dari mayat Min Hee.

“ Sudah 2 orang.”

*

“ Sekarang apa?!” Teriak Tao.

“ Aku tidak tahu.” Kata Young Ji lemas. Mereka masih disekitar hutan yang gelap. Sejak kematian Jimin dan Min Hee mereka makin menyusuri hutan dan sekarang mereka tersesat.

“ Aku ingin buang air kecil dulu.” Kata Tao sambil berjalan kearah belakang.

“ Biar ku temani.” Usul Mark sambil mengikuti Tao.

“ Aku bukan anak kecil, Mark Tuan. Pembunuh itu akan ku bunuh jika dia ingin membunuhku. Paham?” Kata Tao sinis. Kemudian ia pergi menjauh.

Setelah kepergian Tao, mereka semua saling diam. Tidak ada yang mau memulai perkataan sedikitpun. Krystal hanya menangis setelah melihat kematian Min Hee, sahabatnya. Young Ji dan Ji Yeon saling berpegangan tangan, dan Mark merengkuh tubuh Young Ji.

*

“ Mereka kira, aku anak kecil. Aku punya keahlian wushu dan tidak mungkin aku dibunuh.” Tao berjalan terus sampai menemukan tempat yang cocok untuk buang air.

“ Nah disini.” Tidak ada 5 menit pun, Tao telah selesai dan ia menaikkan celananya.

Psst…

“ Siapa disana?” Teriak Tao sambil mengedarkan pandangan karna ada suara.

Psst…

“ Mark! Kau kah itu?” Teriak Tao. “ Young Ji! Krystal!” Tao semakin penasaran suara aneh yang sedari tadi seperti memanggilnya.

Psst… Psst…

“ Ya! Aku tidak suka bercanda!” Teriak Tao sambil terus melihat sekeliling. “ Aku yakin kau bukan Ji Yeon si aneh itu kan? Ya! Keluarlah!”

BUG! Tao terhempas berlumur darah dari kepalanya setelah dipukul dengan balok kayu.

*

“ Sudah 20 menit.” Kata Mark yang sedari tadi memeriksa jam tangannya. “ Kurasa kita harus periksa.”

“ Ini terlalu berbahaya, Mark.” Kata Krystal mencegah.

“ Aku tau. Tapi kita harus tetap periksa.” Mark kemudian pergi, disusul dengan Young Ji dan Ji Yeon. Tidak ada pilihan lain, Krystal pun juga mengikuti yang lain mencari Tao.

“ Tao!”

“ Tao kau dimana?!”

“ Huang Zi Tao!”

“ Dia terlalu menganggap remeh.” Kata Young Ji yang terus mencari.

“ Tao-ya! Kau dimana?” Teriak Ji Yeon.

“ Anak Beijing! Cepatlah keluar!” Teriak Krystal berulang-ulang. Yang lain sibuk mencari Tao yang tiba-tiba hilang saat buang air. Ji Yeon berjalan lumayan jauh dari teman-temannya dan mencari Tao disekitar semak belukar.

“ Tao!”

Krrskk…

Ji Yeon mundur beberapa langkah.

“ Ta… Tao? Kau disana?” Ji Yeon mendekati perlahan semak itu dan…

“ Tao!” Ji Yeon panik seketika. Tao terlilit pagar kawat dan mulutnya disumbat lakban. Kepala dan badannya sudah berdarah.

“ Kenapa bisa seperti ini?” Ji Yeon mendekati Tao dan mencoba untuk melepaskan lilitannya.

“ Mppphhhhh… mphhh mphhhh!”

“ Hah? Kau bicara apa?” Ji Yeon tetap berusaha membuka lilitan pagar kawat dari badan Tao yang sudah membuat darah kentan mengalir terus menerus.

“Mpppphhhh! Mmpphhh mphh mphhh!” Tao berusaha untuk meyakini Ji Yeon untuk membuka penutup mulutnya terlebih dahulu. Tapi Ji Yeon tetap berusaha untuk membuka lilitan pagar kawat yang sudah berkarat dibadan lelaki itu.

“ Aku akan menolongmu! Aku sedang berusaha.” Kata Ji Yeon yang tetap berusaha melepaskan pagar kawat tersebut. Tao hanya menggeleng dan terus menangis. Ia benar-benar berusaha untuk berteriak agar Ji Yeon mengerti maksudnya.

1…

“ Mpphhhhh!”

“ Tao tenanglah. Jika kau meronta seperti ini, kau akan semakin terluka.”

2…”

“ Hmmmmpphhh! Mpphhhh mpphhhhh… mppphh mpphh mpphhh mphhhhh.”

“ Young Ji!” Teriak Ji Yeon. Ia benar-benar tidak bisa membukanya. Pagar kawat itu dililit secara asal.

“ Mmpphhhhhhhh!”

“ Young Ji!!”

Selamat tinggal, Anak Beijing!

Tao tertarik keatas. Bisa dibayangkan bagaimana seseorang tergantung seluruh badan dengan terlilit pagar kawat berkarat dengan posisi terbalik. Ji Yeon terjatuh dan kaget melihat kejadian itu.

“ TAO-YA!” Tao meronta sekuat tenaga dan itu menyebabkan luka parah pada tubuhnya. Darah berceceran dari kepalanya dan kemudian ia berhenti. Tao sudah tidak bernyawa.

“ Tao…”

“ Ji Yeon!” Young Ji berlari dan memeluk Ji Yeon yang sedari tadi menangis.

“ Percuma kan?” Ucap Krystal dengan wajah datar. “ Kita tidak akan bisa keluar! Kita memang sudah direncanakan mati.”

“ Ya! Krystal Jung! Jaga mulutmu!” Kata Young Ji sinis.

“ Kenapa? Mungkin nanti yang mati adalah aku atau bisa saja kau!”

“ Krystal Jung!” Bentak Mark.

“ Aku akan mencari jalan sendiri. Kalian hanya membawa sial.” Krystal berjalan menjauhi mereka yang tersisa.

“ Krystal! Itu berbahaya!” Krystal kini berlari menjauh. Sampai ia sudah tak terlihat.

“ Cepat!” Ji Yeon menarik tangan Young Ji dan Mark agar menyusul Krystal yang sudah berlari menjauhi mereka.

*

“MPHHHHHH!”

“ Aku minta maaf telah membius dan membawa wanita cantik, ahh bukan. Wanita sok cantik sepertimu dengan keadaan seperti ini.”

“ Kau jangan sombong, Krystal Jung!” Bentak orang bertopeng sambil menjambak sang empunya rambut.

“ MPPPHHH MPHHHHH!”

Krystal mencoba berteriak. Tapi itu hanya membuang tenaga.Kedua tangan Krystal diikat mulutnya direkatkan dengan lakban. Ia hanya menangis dan terus mencoba membuka ikatannya.

“ Kau tau, Krystal?” Kata orang bertopeng itu sambil mengambil pisau daging dari balik jaketnya. “ Kau pantas mati.”

“ MPHHH!”

Orang bertopeng itu kemudian menjambak rambut Krystal dan menyayat pipinya dengan pisau. Darah kental mengalir derasnya. Krystal hanya meringis. Air mata dan darah bercampur menjadi satu. Orang bertopeng itu hanya terkikik bahagia melihat kejadian yang ia lakukan.

“ Sakit huh? HAHA!” Orang bertopeng kali ini menusuk bola mata Krystal dan mencongkel matanya keluar hingga menggelinding keluar dari wajah Krystal. Krystal tidak bisa melakukan apa-apa selain meringis. Bola matanya diinjak oleh orang bertopeng tersebut.

Orang bertopeng itu pun beralih kedada Krystal. Ia menusuk beberapa kali hingga darah kental kembali keluar dari tubuh Krystal. Dan membelah hingga keperut dan mengoyak isi perut Krystal. Krystal tetap meringis dan badanya semakin lama, semakin lemas.

“ Bagaimana? Kau suka, Nona Jung?” Orang bertopeng itu kini menatap Krystal penuh dengan senyum dibalik topeng itu. Ia makin bahagia saat Krystal jatuh dan menarik nafas disaat terakhirnya. Krystal kini menatap orang bertopeng itu deegan sisa kekuatannya.

“ Aku masih belum puas.” Orang bertopeng itu kini mengambil kapak yang ia sembunyikan dibalik pohon dimana ia menyiksa Krystal.

“ Selamat tinggal. Krystal Jung.” Kata orang bertopeng itu sambil mengangkat kapaknya tinggi dan memotong kepala Krystal.

*

“ Aku tidak menemukan Krystal dimana-mana.”

Young Ji, Ji Yeon, dan Mark masih sibuk mencari keberadaan Krystal yang berlari menjauhi mereka untuk mencari jalan keluar. Namun, tidak ada tanda-tanda Krystal sama sekali.

“ Kurasa dia sudah keluar dari hutan ini.” Kata Mark sambil memperhatikan sekitar.

“ Kau yakin?” Tanya Young Ji.

“ Aku hanya menebak.”

“ Krystal.” Ji Yeon menyadari bahwa ada kaki yang ia duga Krystal. Ji Yeon mendekati kedua kaki itu yang tak jauh dari arah ia dan kedua temannya berdiri.

“ Ji Yeon. Kau yakin itu Krystal?” Tanya Young Ji dengan gemetar.

Ji Yeon makin mendekati tempat kedua kaki yang ia duga Krystal dan Ji Yeon jatuh terduduk dengan wajah keget bercampur ketakutan.

“ Kry..stal..”

“ Ji Yeon!”

Young Ji dan Mark menghampiri Ji Yeon dan mereka melihat apa yang tidak seharusnya mereka lihat. Tubuh Krystal yang sudah hancur bermandikan darah, isi perut yang bertebaran dimana-mana dan kepala yang tergantung dengan pagar kawat membuat suasana menjadi hening. Ji Yeon merasakan mual diperutnya. Young Ji dan Mark sudah tidak bisa menahan ekspresi mereka. Young Ji menangis dan Mark memeluknya.

“ Kenapaa?!” Teriak Young Ji sambil terus menangis. “ Kenapa orang itu membunuh merekaa?! Kenapaa?!”

Mark makin memeluk Young Ji dengan erat dan menangis dalam diam. Ji Yeon juga menangis sambil terus menatap mata Krystal yang sedari tadi terbuka.

JI YEON ‘POV

Mereka semua mati. Mereka yang baru kukenal. Kenapa? Kenapa orang bertopeng itu mau membunuh kita semua. Ibu, Ayah, aku harus apa? Aku tidak tahu harus melakukan seperti apa. Yang tersisa hanya aku, Mark dan Young Ji. Aku tidak mau mereka juga ikut terbunuh.

“ Ji Yeon.” Young Ji tiba-tiba memelukku. Pelukan hangat seorang teman baru kurasakan saat ini. Ia sangat baik padaku. Aku beruntung mempunyai teman seperti Young Ji walaupun baru sebentar.

“ Kita harus cepat-cepat pergi dari sini.” Kini Mark menarik tanganku dan Young Ji untuk segera pergi. Terlihat betul tatapan mata khawatir yang ia tampilkan kepadaku mapun Young Ji.

DOR!

“ Mark….”

AUTHOR ‘POV

“ Mark….”

Mark tertembak di lengan kiri. Darah mengucur deras dari lengannya. Terlihat jelas dibelakang mereka orang bertopeng itu sedang menodongkan pistol kearah mereka.

“ Mark, bertahanlah!” Kata Young Ji sambil mencoba membantu Mark berdiri. Ji Yeon memperhatikan orang bertopeng yang semakin mendekat kearah mereka.

“ Aku tak apa. Ini hanya lengan.” Kata Mark yang berusaha meyakinkan Young Ji dan berusaha untuk berdiri dan menahan sakit dilengannya.

Orang bertopeng itu semakin mendekat dan menodongkan pistolnya kearah mereka. Hening. Hanya suara ketegangan yang mereka rasakan.

“ Halo kalian.” Kata orang bertopeng. Suasana makin tegang, suara kokangan pistol dan tawa mengerikan dari orang bertopeng itu makin membuat suasa makin tidak bisa terkendali.

“ Aku turut berdua cita atas kematian keempat teman kalian.”

“ Apa maumu?” Kini Young Ji yang buka mulut dengan nada sinis. Orang bertopeng itu hanya tertawa.

“ Mauku? Hmm..” Orang bertopeng itu menatap Young Ji, Mark, dan Ji Yeon bergantian. “ Mauku, kalian menyusul keempat teman kalian yang sudah kubunuh.”

“ Jangan bercanda.” Bentak Young Ji.

“ Kau kira, aku membunuh keempat temanmu itu bercanda?” Orang bertopeng itu semakin memperkeras suara tawanya yang kini lebih mengerikan. “ Mau bermain-main denganku, huh?”

“ Diamlah.” Bentak Young Ji. “ Mereka berdua tidak penting untukmu kan? Yang penting itu aku.”

“ Bagaimana kau berfikiran seperti itu, Park Young Ji?” Kata orang bertopeng itu sambil terus terkekeh.

“ Karena ibuku kan?” Orang bertopeng itu diam. “ Kau adiknya?”

“ Kau belum tahu satu hal, Young Ji.” Kata orang bertopeng itu dengan nada datar. “ Kau bodoh!”

“ Apa maksudmu?”

“ Kalian berdua tidak menyadari, jika kalian adalah saudara kembar.” Young Ji terdiam beberapa saat, mencerna omongan orang bertopeng itu dengan seksama.

“ Siapa yang kau maksud?” Bentak Young Ji. Orang bertopeng itu hanya tertawa dan kemudian ia menangis.

“ Aku sangat menyayangi Tae Hee nuna. Aku akan memberikannya penghargaan untuk menjadi kakak terbaik yang kumiliki.” Orang bertopeng itu menangis. “ Aku sangat menyayanginya.”

“ Aku… juga sangat menyayanginya.” Kata Young Ji yang hampir menangis..

“ Aku akan memberitahukan jika kau sayang padanya, Park Young Ji.” Kata orang bertopeng itu sambil menodongkan pistolnya ke kepalanya sendiri.

“ Ka… kau mau apa?” Kata Young Ji panik. Orang bertopeng itu diam beberapa saat dan perlahan ia membuka topengnya.

“ Selamat tinggal.”

“ Myung Soo!”

DOR!

*

“ Sudah berakhir kan?”

“ Berakhir apa?”

“ Setelah kejadian itu, aku masih merasa takut akan sesuatu.”

“ Ya. Park Ji Yeon.” Perempuan yang berada didepannya merangkul dengan tersenyum. “ Tidak ada yang perlu ditakutkan. Ini sudah 2 tahun setelah kejadian mengerikan itu.”

“ Aku beruntung masih memiliki teman sepertimu.” Kata Ji Yeon tersenyum.

“ Aku bukan temanmu. Aku saudara kembarmu.” Kata Young Ji sambil tertawa, Ji Yeon pun juga ikut tertawa.

Mereka berdua tertawa sambil meninggalkan toilet kampus mereka. Young Ji dan Ji Yeon sudah masuk unversitas sejak setahun yang lalu. Mark pun memasuki satu universitas yang sama dengan mereka berdua dan mengambil jurusan yang sama., jurusan Hukum.

“ Kau lihat Mark?” Kata Young Ji sambil melihat sekitar kampus yang sudah sepi.

“ Terakhir kulihat, dia diruang olahraga. Berlatih basket sendirian sambil menunggu kita selesai jam kuliah.”

Young Ji langsung menarik tangan Ji Yeon menuju ruang olahraga, tidak jauh dari tempat mereka berdiri, mereka sudah berada didepan ruang olahraga.

“ Pintunya tertutup.” Kata Young Ji. “ Kurasa dia sudah pulang.”

“ Kita periksa.” Ji Yeon membuka pintu ruang olahraga dan masuk diikuti Young Ji.

“ Mark Tuan! Kau didalam?” Teriak Ji Yeon. Ruang olahraga sepi dan tidak ada tanda ada orang didalamnya.

“ Mark…..” Mark tergantung diatas ring basket dengan leher terjerat dan dada yang tertusuk pisau.

“ Tidak mungki. Mark!” Young Ji berlari menghampiri Mark dan jatuh terduduk sambil menangis.

“ Young Ji…” Ji Yeon berlari langsung memeluk Young Ji dan juga ikut menangis.

“ Ini tidak mungkin.”

“ Kau mencium sesuatu,Young Ji?” Kata Ji Yeon.

“ Ini bau Gasoline?” Kata Young Ji yang masih terus menangis.

“ Pacarmu akan bertemu kedua kakakku disana.”

Entah dari mana datangnya seorang laki-laki yang tiba-tiba berada dibelakang mereka. Lelaki itu hanya tersenyum yang terlihat lebih mengerikan. Ia mengeluarkan pematik dari saku celananya.

“ Kau mau apa?” Teriak Ji Yeon yang terus memeluk tubuh Young Ji yang juga ketakutan.

“ Seharusnya kalian berterima kasih. Aku akan mengirim kalian kembali bersama dengan kedua orang tua kalian, dan menemui ayah tiri brengsekmu itu, Park Ji Yeon.”

“ Kau membunuh ayahku, huh?” Kata Ji Yeon sambil menahan tangisnya yang tidak bisa dibendung lagi.

“ Dia bukan ayahmu, tahu. Dia hanya orang yang mengambilmu karena perasaan benci terhadap ayahmu yang asli.” Kata lelaki itu sambil tersenyum sinis. Lelaki itu menyalakan pematiknya dan melemparkannya kesembarang tempat. Ruang olahraga terbakar.

“ Ya! Apa yang kau lakukan?” Bentak Young Ji.

“ Kan sudahku bilang, seharusnya kau berterima kasih.” Lelaki itu tertawa dan kemudia menangis.

“ Ka… kau siapa?”

“ Jangan bermain-main denganku, Park Young Ji, Park Ji Yeon.” Young Ji dan Ji Yeon berlari kearah pintu masuk ruang olahraga. Terkunci.

“ Keluarkan kami dari sini, iblis.” Bentak Ji Yeon. Lelaki itu hanya tertawa. “ Young Ji!”

Young Ji terbatuk dan ia sudah jatuh terduduk. Asap makin memenuhi ruang olahraga dan api makin mempersempit jalan mereka.

“ Kau mau bermain denganku?” Kata lelaki itu sambil tersenyum kecut. “ Aku hanya ingin membantu kalian bertemu kedua kakakku yang sudah mati.”

“ Ahh..” Baju Ji Yeon sudah terkena sedikit kobaran api dan makin mempersulit mereka untuk bernafas.

“ Kenapa kau melakukan ini?” Bentak Young Ji yang makin kesulihatan bernafas.

“ Tidak sulit untuk membunuh kalian. Kau tau cara melenyapkan banyak orang dalam sekejap?” Lelaki itu tertawa puas kemudian menangis. “ Kita akan pergi sama-sama.”

“ Kau siapa huh? Apa maumu?” Teriak Young Ji yang makin lemah dan makin tidak ada tempat untuk berlindung dari kobaran api.

“ Adik dari Kim Tae Hee dan Kim Myung Soo, namaku Kim Tae Hyung.” Kata lelaki itu tersenyum sinis. “ Selamat tinggal, Young Ji, Ji Yeon.”

*

SELESAI!

Ahhhhhhhh…… akhirnya selesai juga yaaaaa. Udah berbulan-bulan, ganti alur, ganti poster, dan akhirnya selesai juga. Maaf ya kalau Fanfiction-nya gak jelas. Bikinnya tergantung banget sama mood. Ditunggu fanfiction selanjutnya ya, Readers! Saran dan kritik diperlukan. Annyeong^^

About fanfictionside

just me

10 thoughts on “FF oneshot/ WANNA PLAY WITH ME?/ ALL-STAR

  1. kyaaa~ kim taehyung adiknya.. lanjut dong!!!! jjang~
    kim tae hyung gk punya adik lagi kan? nanti adiknya taehyung ikut” juga lagi wkwkwkwk lanjut yah ffnya

  2. pembunuh bertopeng… 😨 bca ff ini jadi ke inget film mourning grave :’v xD
    ff mu keren thor 👍 di tunggu karya mu yg lain nya thor 😁

  3. Baguss ffnya thor. serem bgtt . ini kedua kalinya aku baca ff hororr .
    Baguss tpi kenapa bias aku mati *tao😥
    sadiss bgtt ..

  4. Whoo!!! Serem thor.
    Nggak nyangka para pembunuhnya itu mereka.
    Sukses membuatku terpana tak percaya.
    1 kata buat author ‘KEREN’!!!

  5. Sumpah ngeri cerita’y, sadis2 pula cara pembunuhan’y… Tpi knp hrs myungsoo & taehyung bias2 aku yg ganteng2 ini yg hrs jdi psiko’y…😦
    Tpi ngeri jga meski ganteng tnyata hrs psikopat, aku yakin psti ga akan ada yg mau. Tpi untung aja ini cmn cerita klo beneran ga kebayang dech ke-2 bias ku jdi psikopat….😀
    Cmn yg jdi pertanyaanku, knp jiyeon & youngji jga hrs dibunuh??? Bkn kah mereka adalh anak dri ka2k mereka ‘kim tae hee’, klo mereka memang menyayangi ka2k’y ‘kim tae hee’ hrs mereka jga menyayangi jiyeon & youngji sbgai keponakan’y???
    Tpi over all cerita’y menarik, keren aku suka sma cerita’y…🙂 sukses trus yah buat author ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s