FF/ MONSTER/ BANGTAN-BTS/ pt. 10


Monster 10

Title                : “Monster” [Part 10]

Author            : intan @sena_kuki

Rating                        : T (17+)

Genre              : school life, fantasy, romance, comedy, etc.

Cast                :

  • Han Se Na (OC)
  • Kim Nam Joon
  • Min Yoon Gi
  • Park Han Na (OC)
  • Kim Seok Jin
  • Jung Ji Hwa (OC)
  • Park Jimin
  • Park Sang In (OC)
  • Kim Taehyung
  • Jang Ok Jung (OC)
  • Jeon Jungkook
  • Jung Eun Shi(OC)
  • Jung Hoseok
  • Park Subyong (OC)

 

Become a Monster..

 

♥♥♥

“Arrghgrr..grr..” Namjoon yang tertidur di pangkuan Sena tiba-tiba menggigil hebat. Hal itu membangunkan Sena yang tengah tertidur menyender dimeja dapur.

“Oppa?” Panggil Sena sambil memeriksa suhu tubuh Namjoon. Sena merasakan tangannya basah sekarang. Ya itu adalah keringat Namjoon. Keringat itu terus keluar dari pelipisnya.

“Tadi kau kepanasan dan sekarang kedinginan. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika aku memanggil Jin oppa saja jika kau tidak ingin kerumah sakit?” Tanya Sena dengan suara cemasnya namun Namjoon menggeleng tidak mau. Ia tidak mau pergi kerumah sakit ataupun seorang dokter seperti Jin karena ia tau apa yang ia rasakan sekarang bukan karena organ tubuhnya yang sakit melainkan sesuatu yang sakit dan itu tidak mudah untuk menjelaskannya.

Namjoon bukanlah manusia biasa. Ia setengah monster dan setengah manusia. Memang ia sudah sedikit pandai mengontrol dirinya selama ini terhadap perubahan namun karena sekarang Subyong sedang kehilangan kalungnya hal itu lah penyebabnya. Ada saatnya Namjoon berubah menjadi Monster. Perubahan tidaklah semudah yang dikira. Hal itu sangat sakit dan butuh seseorang untuk mendinginkan kutukannya atau sebuah benda yaitu kalung suci yang dipakai Subyong.

Dengan sabar namun sedikit panik Sena mendudukkan Namjoon yang lesu itu. Sena menyentuh kedua pipi Namjoon agar wajahnya mudah dilihat. Sena memandang wajah Namjoon lekat-lekat karena ia tidak bisa melihat ditempat gelap. Sekilas ia melihat sesuatu yang aneh dimata Namjoon. Terkadang mata itu terlihat sangat gelap bersinar merah dan biru tapi ia tidak begitu yakin karena kurangnya pencahayaan ditempat mereka berada sekarang.

Sena membantu Namjoon berdiri. Tidak baik Namjoon yang sakit hanya tidur dilantai. Sena tidak sanggub membawa Namjoon ke kamar ia hanya menidurkan Namjoon di Sofa. Dengan berlari kecil ia mencari selimut tebal dikamar Namjoon. Sena menyelimuti Namjoon hingga lehernya namun Namjoon masih menggigil seperti kedinginan. Tidak ada pilihan, Sena langsung memeluk Namjoon dengan posisi duduk. Wajahnya ia benamkan dibantal tepat disamping kepala Namjoon. Sena terlihat sedikit takut jika terjadi hal buruk pada Namjoon. Sesekali ia mengelus rambut Namjoon agar Namjoon tenang. Seperti belaian ibu kepada anaknya yang tengah sakit dan hal itu memang bisa sedikit menenangkan Namjoon.

Kepalanya berada dibantal yang sama dengan Namjoon. Namjoon dengan posisi berbaring sementara Sena dengan posisi kepala yang menghadap Namjoon. Sena terdiam ketika berada diposisi ini. Wajah Sena begitu dekat dengan Namjoon. Kalau saja Namjoon menoleh maka ciuman singkat akan terjadi diantara mereka berdua dan saat itu juga Subyong akan benar-benar melemah atau bisa saja lenyap.

“Aku sudah mengerti sekarang..” Gumam Sena dengan tatapan mata tajamnya pada Namjoon. Kemudian Sena tersenyum tulus dan semakin ia eratkan pelukan itu pada Namjoon. Seakan ia bisa menerima keadaan Namjoon. Namjoon terlihat mulai tenang membuat Sena tersenyum senang. Malam itu Sena tidur di apartment Namjoon dengan posisi memeluk Namjoon sepanjang malam.

♥♥♥

“Apa yang akan kau lakukan? SADARLAH!! SUBYONG-AH!!!!” Teriak Hoseok pada Subyong yang kini menurunkan pandangnanya pada jantung Hoseok.

“Kau punya jantung yang manis Hoseok..” Ucap Subyong sambil menatap lurus kearah dada bidang Hoseok.

Hoseok semakin panik ketika ia sudah melihat sepasang taring dan mata Subyong berubah kehijauan. Hoseok sadar sekarang Subyong sedang melemah. Hoseok benar-benar ketakutan sekarang. Ia tidak ingin mati menggenaskan. Tidak ada pilihan Hoseok menarik telinga Subyong keatas membuat Subyong menjerit. Ia pikir rubah seperti kucing yang bila dilukai sedikit akan pergi namun tidak. Subyong semakin marah ia menaikkan tangan kanannya yang sudah berubah mengeluarkan kuku-kuku tajam.

“GRrhhARGH!!!!!!!” Subyong mengerang keras. Beberapa burung diatas pohon langsung mengungsi kaget dengan suara erangan itu. Hoseok terduduk sambil meremas lengan kanannya kuat-kuat. Hoseok menggigit bibirnya dan memejamkan matanya erat menahan kesakitan. Hoodienya sudah sobek. Darah segar mengalir dari lengan atas sebelah kanannya. Ia sedikit mendesah karena lukanya yang mengerikan. Melihat Subyong yang memegang dadanya kesakitan membuat Hoseok sedikit cemas. Subyong terlihat kekurangan nafas. Subyong bahkan mencakar tanah menahan rasa sakit yang bersangatan.

“ARRGGHH!!!!!” Teriak Subyong hingga kepalanya mengadah kebulan. Ia seperti membutuhkan pertolongan dewa atas kesakitannya. Hoseok terdiam kaku. Entah apa yang ia rasakan saat ini pada Subyong. Iba? Takut? Haruskah ia berlari dan menyelamatkan diri sendiri? Keringat terus mengalir dari pelipisnya. Bajunya yang kotor bercampur darah dan tanah membuat Hoseok tidak terlalu bisa berpikiran jernih. Ia teringat sesuatu. Sesuatu yang dikatakan oleh Hobeom tadi.

“Jika Subyong kesakitan maka seseorang yang sudah menjadi monster itu yang harus menerimanya”

“Kim Nam Joon?” Gumam Hoseok bingung. Seharusnya Namjoon yang merasakan kesakitan itu sekarang bukan Subyong. Tapi kenapa? Hoseok berusaha mendekati Subyong yang masih meraung hingga kepalanya sudah tertunduk diatas tanah.

“Subyong? Apa yang harus kulakukan??” Tanya Hoseok bingung. Dengan ragu Hoseok meletakkan tangannya di punggung Subyong. Berharap Subyong bisa sedikit lebih tenang. Tidak ada pergerakan.

“Subyong?? SUBYONG!? Kau tidak matikan?? Subyong??” Hoseok terus berusaha memanggil nama Subyong sambil menggoyangkan bahunya namun Subyong sudah tidak sadar. Hoseok membalikkan tubuh Subyong dengan sekuat tenaganya karna lengan kanannya yang terluka cakaran rubah membuatnya merintih pedih seraya tak leluasa bergerak.

“Subyong? Bangunlah?? Setidaknya jawab panggilanku!” Panggil Hoseok sambil menepuk-nepuk pipi Subyong. Hoseok sudah sangat letih ia tidak tau harus melakukan apa lagi. Ia harus segera kembali tapi tidak mungkin meninggalkan Subyong sendirian dengan keadaan seperti ini. Ia juga tidak mungkin kekamar asrama dengan keadaan seperti ini. Jimin akan mengintrogasinya jika melihat kondisi Hoseok yang berantakan dan ‘menggenaskan’.

“Perlu bantuan??” Terdengar suara tak jauh dari sana membuat Hoseok terlonjak kaget. Ia langsung membuka hoodienya yang sudah dilumuri oleh darah itu untuk menutupi kepala Subyong. Ia takut jika orang itu mengenal Subyong. Lelaki berperawakan tinggi dengan rambutnya berwarna coklat gelap berjalan semakin mendekat. Ia menggunakan masker berwarna hitam dan coat berwarna hitam gelap. Pakaian serba gelap itu membuat Hoseok tidak begitu mengenalnya namun suara itu tidak asing baginya.

“Kau terluka Hoseok-san..” Gumam orang itu yang seperti semakin mendekat. Hoseok sudah mengira jika ia adalah Kim Taehyung. Hoseok langsung terduduk lemas. Ia masih memeluk kepala Subyong yang ditutupi dengan hoodie. Taehyung beralih menatap lengan Hoseok yang cukup memprihatinkan. Terdapat 3 buah garis luka cakaran di lengan itu. Taehyung menatap Subyong ngeri kemudian menatap mata Hoseok. Setelah menatap mata Hoseok, Taehyung terdiam. Ia seperti membaca sesuatu. Ia dapat membaca pikiran Hoseok saat ini.

“Tolong aku, aku takut. Apa yang harus kulakukan??”

“Naikkan Subyong kepunggungku!” Perintah Taehyung. Tidak menunggu lama untuk mencerna kalimat, Hoseok langsung menuruti perintah Taehyung. Seketika kekesalannya pada Taehyung sore tadi sudah terlupakan. Hoseok hanya ingin dirinya selamat bersama Subyong. Taehyung langsung berjalan terbirit-birit karena ini sudah lewat tengah malam. Siswa Jewelry tidak boleh berkeliaran apalagi dihari menjelang ujian semester. Hoseok sekuat tenaga mengiringi dari belakang. Hingga Taehyung menaiki taxi Hoseok juga mengikutinya tanpa peduli kemana Taehyung akan membawanya.

“Di apartmentku ada perawat, kita bisa kesana untuk mengobati lukamu..” Ucap Taehyung pada Hoseok yang duduk didepan. “Aissh.. apartment itu kubeli untuk tempatku menyendiri tapi kenapa sekarang menjadi tempat penampungan..” Gumam Taehyung sedikit kesal namun tidak didengar oleh Hoseok yang sedang mengikat lukanya dengan kaos putih dalamannya.

♥♥♥

Cahaya matahari mulai merogoti kaca-kaca jendela apartment yang tinggi itu. Mentari pagi tepat menyinari mata sipit Namjoon yang mulai sedikit terbuka. Namjoon terdiam merasakan kehangatan ditubuhnya.

“Nyaman..” Pikirnya.

“Hmpph..” Eluhan Sena menyadarkan Namjoon dengan kejadian semalam. Namjoon membulatkan matanya. Ia tak ingin bergerak. Sena sedang memeluknya dengan posisi duduk dibawah sofa. Jika ia membangunkan Sena akan membuat suasana menjadi canggung nantinya. Jika ia menoleh maka akan membuat wajah mereka sangat berdekatan. Deru nafas Sena yang pelan itu terasa hangat dipipi Namjoon membuat tubuhnya semakin nyaman.

“Ting Tong..” Bel apartment berbunyi. Siapakah yang datang? Loundry Kim You Jung tidak mungkin. Hanya Sena dan Yoongi yang tau Apartmentnya serta orang aneh itu, Hobeom. Jika Hobeom ia tidak akan membunyikan bel. Ia akan langsung menerobos pintu dengan teleportnya atau berkomunikasi dengan pikiran. Yoongi? Tidak mungkin. Ia tidak boleh datang disuasana seperti ini. Cerita akan berubah menjadi seorang kakak yang datang menjeput adik perempuannya tengah tidur di apartment seorang lelaki

Musik Krizz Kaliko – Spaz mulai terputar dari sebuah ponsel di atas meja Sofa tepat dibelakang punggung Sena. Tidak salah lagi yang dipintu saat ini adalah Yoongi. Ponsel itu pasti Yoongi yang menelfon. Namjoon semakin gelisah ia mengutuk dalam hati. Bagaimana bisa seorang gadis tidur seperti permen karet?

“eoh??” Sena langsung mengangkat kepalanya kaget karena ponsel Namjoon. Sena menggosok-gosok matanya karena masih mengantuk. Ia merintih hebat karena punggungnya terasa sakit. Tangan dan kakinya keram membuat Sena bergelinjang seperti orang gila. Namjoon yang pura-pura tidur sudah tidak tahan dengan keberisikan Sena ditambah lagi suara bel yang menurutnya itu adalah.. Yoongi.

“Kau berisik sekali..” Gumam Namjoon kemudian pura-pura menguap sambil merenggangkan otot-otot punggungnya membuat Sena langsung buang muka. Sena takut jika Namjoon tau bahwa semalaman ia memeluknya sangat erat hingga tubuhnya kesakitan seperti ini.

“Ting Tong..” Bel kembali berbunyi. Namjoon semakin gelisah jika benar itu adalah Yoongi. Melihat Sena yang menangis pulang dari Rumah sakit kemarin membuat Namjoon yakin jika Yoongi masih belum bisa menerima Sena sebagai adik perempuannya. Ditambah lagi bagaimana kagetnya Sena nanti bila tau Yoongi sehat-sehat saja dan tidak terluka sama sekali setelah kecelakaan maut kemarin. Siapa yang harus ia pilih sekarang? Mengatakan pada Yoongi kalau ia sedang tidak ada di apartment? Ide ini sepertinya lebih baik.

“Oppa?” Suara Sena menyadarkan Namjoon dari lamunannya diatas Sofa. Sena sudah membuka pintu dan itu membuat Namjoon langsung bangkit dari Sofa namun sofa itu malah terbalik membuat Namjoon tertelungkup kelantai dengan posisi aneh. Pipi chubbynya itu tertempel dilantai. Sena dan Yoongi langsung mendatangi Namjoon. Namjoon langsung berdiri dan berkata “Tidak apa-apa..” Sambil tertawa nyengir hingga matanya lenyap dari wajahnya. Bisa dibilang sudah lama Namjoon tidak bertingkah konyol seperti ini. Sangat jauh dari image yang ia buat selama ini.

Namjoon memperhatikan mimik wajah Yoongi yang heran mengapa Sena bisa ada di apartment Namjoon sambil mengenakan pakaian kebesaran Namjoon itu. Sementara Sena dengan mata seperti sinar X menatap Yoongi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak ada bekas lecet ataupun plester yang melekat disekujur tubuhnya. Yoongi hanya mengenakan sebuah celana jeans biasa dengan kaos berwarna hitam lengan pendek tak lupa sebuah beanie berwarna hitam dengan tulisan ‘Swag’ didepannya. Sepertinya itu untuk menutupi bekas jahitan kepalanya yang membuat rambutnya sedikit aneh.

“Oppa, Kau baik-baik saja? Kemarin..”

“Kemarin?” Sambung Yoongi heran dengan pertanyaan Sena. Yoongi sudah tebak Pasti Hana sudah memberitahu Sena kemarin.

“Melihatmu disini bersama Namjoon. Kau pasti sudah ingat masa lalu kita kan? Tidak mudah mengembalikan ingatan 9 tahun yang lalu kalau Namjoon tidak melakukan sesuatu untukmu. Begitu juga denganku, aku kebal terhadap apapun berkat Namjoon. Jangan katakan pada siapapun tentang kejadian kemarin. Kau mengerti?” Peringat Yoongi dengan nada suara dan tatapan tak bersahabat.

“Hana..”

“Aku sudah mengurusnya..” Sambung Yoongi lagi dengan nada suara malas-malasan untuk bicara dengan Sena. Sena berusaha tersenyum sambil mengangguk mengerti. Setidaknya Yoongi tidak terlalu kasar padanya seperti kemarin. Berbicara seperti ini sudah lebih dari cukup baginya.

“Namjoon..” Panggil Yoongi hingga ia memutar kepalanya untuk menatap Namjoon. Tatapan yang ia berikan pada Namjoon sangat berbeda dengan tatapan yang selama ini Yoongi tujukan pada Namjoon. “Tadinya aku kesini untuk mengajakmu keluar, melihatmu sibuk dengannya menyihir keinginaku untuk menemanimu sebagai teman sepertinya sudah selesai. Aku pergi..”

“Maksudmu?” Tanya Namjoon heran. Sena juga bingung hingga ia ikut menatap Yoongi untuk menunggu jawaban yang keluar dari mulut Yoongi. Tidak ada jawaban. Yoongi hanya tersenyum sakartis melihat sepasang manusia dihadapannya.

“Seorang adik perempuan dan seorang temanku. Dunia begitu kejam. Bagiku sekarang Dunia lah Monsternya..” Yoongi pergi meninggalkan apartment itu sementara Sena masih terdiam. Namjoon heran dengan ucapan Yoongi barusan. Ucapan sinis itu bukan lah ucapan yang biasa Yoongi tujukan pada Namjoon. Apa sekarang Yoongi juga membencinya? Apa salahnya?

♥♥♥

Sena duduk termenung di halte tempat Sena dulu juga duduk untuk menunggu bis ketika pertama kali menginap di apartment Namjoon. Seberapa kalipun Bis berhenti tak membuat Sena beranjak dari duduknya. Ia masih memikirkan ucapan Yoongi tadi.

“Dunia begitu kejam? Dunialah Monsternya?? Bagiku kau lah Monsternya! Kau begitu kejam! Dengan wajah malaikat bagaimana bisa kata-kata tajam samurai itu keluar dari mulutmu? Kenapa kau tidak punya hati dan pikiran jernih sedikitpun? Apa yang sudah kulakukan padamu? Aku bahkan tidak tau jika kau.. Jika kau mencintaiku.. Yoongi oppa.. Mianhae.. Mianh.. Hikz..” Sena berusaha mengahapus air mata itu sebisanya. Ia menangis dengan alaynya di kesepian halte di tengah hari itu.

“Tolong… Tolong aku..” Seorang lelaki dengan nafas terengah-engah datang menghampiri Sena. Sena segera berdiri melihat lelaki itu yang seperti dikejar-kejar oleh beberapa orang berjas. Sena tidak tau apakah orang didepannya ini orang baik atau orang jahat. Setidaknya ia hanya perlu menyelamatkannya terlebih dulu. Sena menyuruh lelaki itu bersembunyi disebalik tanaman bonsai dekat halte yang sepi.

“Hey nak!! Kau liat seorang laki-laki dengan pakaian jeans dan jacket kulit usang berwarna hitam berlari-lari dijalan ini?” Tanya 2 orang lelaki berjas pada Sena. Sena hanya menggeleng tidak tau.

“Memangnya kenapa? Apa dia orang jahat?” Tanya Sena bingung.

“Dia orang berbahaya!! Dia seorang buronan!! Baru saja ia juga mencuri dompet dan perhiasan. Jika kau melihatnya tolong hubungi kantor polisi, Ok?” Jelas Ahjussi itu setengah kesal membuat Sena tercekat. Sena memperhatikan tanaman bonsai dibelakang halte memastikan jika buronan itu masih disana atau tidak. Tatapan Sena membuat kedua Ahjussi itu curiga hingga mereka mendatangi tanaman bonsai yang lumayan tinggi itu.

“Kupikir dia dikejar oleh rentenir jadi aku menyuruhnya untuk bersembunyi disana. Aku tidak tau jika dia buronan. Maafkan aku Ahjussi..” Jelas Sena sedikit takut. Melihat ekspresi kedua ahjussi itu yang kesal membuat Sena sadar jika buronan itu sudah kabur mengendap-ngendap kesebalik jalan.

“Ini kartu namaku. Aku seorang detektif, jika kau melihatnya lagi hubungi aku secepatnya. Lelaki itu berbahaya. Dia pernah melukai seorang murid SMA menggunakan pecahan botol soju..” Jelas Detektif itu dan dengan setengah takut Sena mengangguk mengerti. Setelah Ahjussi itu pergi menaiki taxi dengan linglung Sena langsung berlari meninggalkan Halte. Sena sedikit bergidik ngelu ketika kakinya masih terasa sedikit sakit terkilir kemaren. Bukan pertama kalinya Sena terkilir jadi ini tidak akan berlangsung lama pikirnya.

Sementara tak jauh dari sana terlihat Yoongi tengah berjalan sambil meminum Americano. Music yang berputar di earphonenya menghipnotis Yoongi untuk tidak mempedulikan sekitar. Ia terus berjalan santai sambil meminum coffee nya.

“BRUK!!” Yoongi terjatuh dan kopi itu juga terlempar mengotori pakaian beberapa orang didepannya karena terdorong oleh seseorang. Yoongi tidak terima hingga ia langsung bangun dan mengejar lelaki berjaket kulit usang itu tanpa ampun dan emosi yang menggebu-gebu. Pria yang tadi secara tidak sengaja sudah diselamatkan oleh Sena.

“KENA KAU!!” Teriak Yoongi ketika ia berhasil meraih jaket orang itu. Namun, dengan sigap orang itu langsung menepis tangan Yoongi membuat Yoongi terbanting di dinding pertokoan. Punggung Yoongi yang terasa sakit itu membuat nya berangsur merosot terduduk. Lelaki itu menatap Yoongi kesal kemudian ia menendang perut Yoongi yang kini hampir terduduk. Yoongi langsung menatap orang itu dan bangkit hendak membalas. Yoongi sudah menyiapkan tinjunya namun tiba-tiba terdiam. Melihat Yoongi menatapnya dengan tatapan seperti tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya membuat orang itu berfikir jika Yoongi mengenalnya sebagai buronan. Lelaki itu kembali kabur setelah meninju perut dan rahang Yoongi tanpa ampun karena ada kesempatan. Lelaki itu kabur semakin menjauh hingga punggungnya sudah hilang di perbelokan. Yoongi duduk tersender di dinding itu dengan lesu memegangi perutnya. Bibirnya terluka sedikit berdarah. Tulang pipinya terlihat memar.

“Appa.. Kau tidak berubah..” Lelaki itu tersenyum sakartis sambil menghapus darah bibirnya dengan jempol.

♥♥♥

“Besok ujian pertamamu! Kau cepat dalam menjawab soal hitung hitungan jika sudah mempunyai prinsipnya. Untuk pelajaran hafalan kau hanya perlu membahas soal-soal. Setidaknya sedikit membantu.. FIGHTING!!” Semangat Eunshi sambil mengepalkan tangannya memberi semangat pada Jungkook.

“Aku belajar agar tidak dipindahkan ke LA. Aku belajar agar tidak kembali kesekolah lamaku. Bukan karena kemauanku dan bukan Nunaku apalagi Kau Eunshi saem..” Balas Jungkook tak bersemangat sambil menatap langit. Eunshi yang tengah membaca buku menatap wajah Jungkook yang seperti menyembunyikan sesuatu dari matanya.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Eunshi memastikan.

“Akhir-akhir ini perasaanku tidak enak. Aku mencemaskan segalanya..”

“Segalanya?” Tanya Eunshi bingung.

“Aku harus memberitahumu? Tidak akan! Ayo belajar..” Ajak Jungkook mengalihkan pembicaraan sambil mengedipkan matanya nakal pada Eunshi tak biasanya. Eunshi hanya memperhatikan sikap aneh Jungkook kemudian lanjut memberikan contoh soal pada Jungkook.

“Kudengar setelah ujian kita akan dibagi beberapa kelompok untuk melakukan pelayanan masyarakat. Kebanyakan di sebuah desa dekat hutan selama 5 hari. Tidak ada pengecualian untuk murid penting disekolah karena ini juga diliput oleh berita. Tidak ada koneksi, tidak ada makanan enak, air bersih..” Jungkook bergelinjang ngeri membayangkan hari-hari seperti apa yang akan ia lalui nantinya.

“Dihutan tidak ada air yang kotor, makanan tidak enak itu tidak ada sama sekali bodoh!” Balas Eunshi tidak terima sambil menatap Jungkook tidak suka dengan mata bulatnya. Melihat tatapan polos Jungkook membuat Eunshi tak tega melanjutkan acara kesalnya. “AHA!! Bagaimana jika aku membantumu di hutan nanti?” Tawar Eunshi. Jungkook terlihat tidak tertarik sama sekali. Ia hanya berdecak malas sambil kembali menatap lembaran soalnya.

“Daebak seorang guru menawarkan jasa asisten pribadi pada muridnya..” Gumam Jungkook pelan membuat Eunshi memukul kepala Jungkook dengan buku Chemistry yang tebal itu. Jungkook menerima sebuah pesan text di ponselnya membuat Jungkook langsung berdiri dan reflek terhindar dari pukulan Eunshi.

“Kau ingat kan komitmen mu untuk bersekolah dijewelry?”

“aku ingat eomma..” Balas Jungkook malas-malasan pada ibunya itu.

“Setelah nilaimu keluar kita bertemu..” Jungkook terdiam membaca balasan pesan ibunya yang cukup kilat itu.

“Aiish..” Desisan kesal Eunshi menyadarkan Jungkook dari lamunan nya. Eunshi terlihat mengipas-ngipaskan lengan kirinya kesakitan. Sepertinya lengan kiri Eunshi terkilir.

“Nuna saem gwaenchana?” Tanya Jungkook sok cemas namun malah disalak oleh Eunshi membuat Jungkook bergidik ngeri.

“KAU BOCAH TENGIK!! AKAN KUPASTIKAN KAU AKAN MENDERITA DIHUTAN NANTI!!!”

♥♥♥

“Yoon Mi Rae-saem. Kali ini apa Namjoon tetap akan selamat? Daftar kehadirannya hanya dipenuhi huruf ‘a’ akhir-akhir ini. Segera buat surat panggilan dari sekarang..” Sindir Kangin-saem walikelas kelasnya Jimin CS. Kangin-saem cukup sering menggoda murid-murid Mirae-saem yang mayoritas seperti anak nakal dan sombong.

“Kelas kami punya prestasi tinggi. Walaupun Jewelry tidak punya kelas unggul tapi kelas kami termasuk kelas unggul. Hal sekecil itu tidak terlalu sulit bagi kami dan Namjoon jika nilanya dapat menghilangkan lapar. Namjoon walaupun hampir tidak pernah mengikuti kelas otaknya bagaikan Wikipedia. Tidak luluspun masa depannya akan cerah bahkan lebih cerah darimu Kangin-saem..” Jawab Mirae-saem santai sambil mengambil amplop soal ujian pagi ini. Kangin hanya ternganga menjatuhkan rahang terhadap ucapan tajam dan jujur Mirae-saem.

Pagi ini murid Jewelry mengikuti ujian semester pertama mereka. Murid Jewelry dilarang keras membawa contekan, makanan, minuman, ponsel, kotak pensil bahkan tas kedalam ruang ujian. Jewelry yang memberikan privasi tidak menyalakan CCTV di kelas khusus dimasa ujian CCTV kini diaktifkan. Hal ini lah yang membuat Jewelry melahirkan anak-anak Chaebol yang mandiri, kepintaran alami, kerja keras dan bukan kecurangan.

Sena duduk sambil menggoyang-goyangkan pulpennya cemas. Bukan cemas karena akan mengikuti ujian melainkan cemas karena Namjoon belum datang juga untuk mengikuti ujian. Apa anak itu tidak akan datang juga dihari ujian? Semua lembar jawaban dan lembar soal sudah berada dimeja masing-masing. Namjoon masih belum datang. Sena terus menggoyang-goyangkan kakinya tidak tenang. Bagaimana jika sesuatu terjadi? Seperti tadi malam?

“Seonsaengnim!!” Panggil Sena pada walikelasnya yang berjalan menuju kantor. Mirae-saem menatap Sena dengan heran.

“Namjoon tidak mengikuti ujian. Kenapa saem hanya diam saja? Apa dia sakit?” Tanya Sena bingung.

“Dia ujian sendiri di UKS. Tadi pagi aku melihatnya mimisan jadi aku membawanya ke UKS. Dia bersikeras untuk ujian jadi dia menjawab soal disana..” Jelas Mirae-saem heran. Tidak biasanya murid kelas peduli dengan Namjoon. Wajah Sena berubah heran mendengar Namjoon mimisan. Apa monster juga bisa mimisan? Pikir sena bingung.

“Disana juga…” Mirae-saem berhenti bicara ketika Sena sudah jauh berlari menuju ruang kesehatan.

“Kehilangan kalung?” Suara Namjoon mengehentikan niat Sena untuk menggeser pintu dorong UKS yang setengah terbuka itu. Sena perlahan menurunkan tangannya dan memasang telinganya lekat-lekat.

“Semalam aku kehilangan kendali, apa yang harus kulakukan..” Gumam suara yang tak asing bagi Sena, Subyong.

“Saat ini siapa saja yang sudah tau tentang kita?” Tanya Namjoon dengan nada paniknya yang tersirat.

“Hoseok, Taehyung, Yoongi, Sena dan kau. Aku tidak sadar sudah membuat Hoseok terluka. Jika saja tangan kanannya yang terluka dia tidak akan bisa mengikuti ujian karena ulahku.”

“Semalam aku juga kehilangan kendali. Tapi aku kembali seperti biasa ketika Sena memelukku. Aku tidak tau kenapa ini bisa terjadi.” Ujar suara itu dengan nada heran membuat Sena menggigit bibirnya juga merasa bingung. “Kau mengenal Hobeom? Katanya dia utusan dewa untuk kita. Dia bisa melakukan teleport tapi akhir-akhir ini aku sudah tidak melihatnya lagi.” Sambung Namjoon masih heran.

“Utusan dewa? Huh~” Subyong hanya menghela nafas lelah mendengar penjelasan Namjoon. Ia tidak percaya.

“Eoh? Sena?” Suara Jin mengejutkan Sena yang tengah menguping. Bukan hanya Sena saja terkejut tapi Subyong dan Namjoon yang tengah berbincang dengan suasana tegang itu juga.

“Kau menguping?” Tanya Subyong dengan tatapan sinisnya ketika Sena kini duduk disebuah kursi dekat single bed Namjoon.

“A-Ani!! A-aku hanya ingin minta tolong pada Jin oppa untuk mengobati kakiku. Kemarin aku terkilir dan tidak sempat melakukan apapun. Bagaimana jika ada yang patah???” Bela Sena tidak terima dituduh menguping. Subyong hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Sena. Ia sudah paham dengan jalan pikir manusia. Kesimpulannya Subyong sudah tau bahwa Sena datang untuk melihat Namjoon.

“Melihat Namjoon?” Tanya Subyong tiba-tiba dengan wajah datarnya. Subyong seperti tidak memperbolehkan Sena untuk terlalu dekat dengan Namjoon.

“Berhenti mengintrogasiku Subyong!!” Balas Sena ketus kemudian berlari dari ruang kesehatan membuat Jin yang baru saja mengambil beberapa obat untuk kaki Sena terheran. Terkilir tapi sudah bisa berlari?

Namjoon dan Subyong tidak berbicara ketika Jin masih diruangan itu. Dipikiran masing-masing ada banyak pertanyaan yang akan mereka tanyakan satu sama lainnya. Seperti Ada apa dengan Sena? Kenapa Kau bisa tenang ketika disisi Sena? Kenapa aku seperti ini? Bagaimana cara mengembalikan kalungku? Apa aku bisa menjadi manusia atau tetap menjadi Gumiho dan Monster selamanya? Atau aku akan mati?

“Kalian berdua sedang berada pada titik akhir. Jangan cemas ini ujian terakhir untuk menjadi manusia seutuhnya..” Terdengar suara namun tidak ada orangnya. Namjoon dan Subyong saling menatap. Suara siapa?

“Hobeom..” Ucap Namjoon tanpa bersuara dengan mulutnya agar tidak terdengar Jin yang masih sibuk di kursinya menyusun beberapa obat-obatan.

“Manusia punya akal dan nafsu. Subyong kau akan mulai menerima kedua hal itu perlahan pada dirimu saat kau sudah memutuskan untuk menjadi manusia. Saat ini nafsu mulai diberkati padamu. Cinta.. kau akan merasakan hal itu. Akal.. kau harus bisa mengendalikan cinta dengan akalmu. Begitu juga dengan kau, Namjoon..” Ucap Hobeom. Namjoon menatap Subyong sedikit tersenyum. Itu artinya kutukan ini akan segera berakhir walaupun akan sedikit berat dari pada sebelumnya. Sedikit berat?

♥♥♥

Hari-hari berlalu seperti biasanya namun tidak biasa bagi Sena. Sena merasa heran selama 1 minggu ujian dan sekarang dihari terakhir Namjoon tidak sekalipun memasuki kelas. Jika ia ingin privat kenapa masih menetap diasrama Jewelry? Kenapa murid lain tidak satupun peduli dengan Namjoon? Mengapa hanya Sena yang mempertanyakan hal ini? Sena memperhatikan Hoseok yang tengah membaca buku sambil sesekali menyentuh lengan kirinya. Sena teringat dengan obrolan Namjoon dan Subyong seminggu yang lalu tentang Subyong tidak sengaja melukai lengan Hoseok. Hoseok terlihat tidak terbebani sama sekali dengan kondisinya. Hal itu membuat Sena bingung. Hoseok mulai menyukai Subyong? Apa Hoseok sudah berhasil untuk menyembuhkan penyakitnya. Maksudnya, Hoseok sudah tidak gay?

“Dia datang! DIA!!” Seorang murid berteriak sambil berlari-lari kedalam kelas. “Namjoon Sunbae!!” Ulang murid itu lagi dengan wajah seperti melihat hantu. Semua murid langsung ternganga tidak percaya tak terkecuali Sena. Untuk pertama kalinya Sena melihat Namjoon duduk dikelas berjarak satu meja diantara tempat duduk mereka.

“Namjoon?” Gumam Hoseok pelan. Nama itu tidak asing bagi Hoseok. Monster itu? Orang yang dikatakan oleh Subyong dan Hobeom? Inikah yang membuat Namjoon jarang masuk kedalam kelas? Untuk menjinakkan kutukannya.

Selama ujian terakhir berlangsung Sena terlihat senyum-senyum sendiri. Entah apa yang membuatnya tersenyum tidak karuan seperti itu. Senang? Atau…

Ujian sudah selesai. Semua murid berhamburan keluar dari ruang ujian dengan senangnya. AKHIRNYA!! Sementara Jihwa yang baru keluar dari kelas menerima pesan melalui ponsel membuatnya langsung berlari dan meninggalkan Sangin. Sangin yang sendiri hanya menunduk murung. Ia merasa tidak punya teman sekarang hingga ia mendatangi kelas Sena seperti hendak mencari teman lainnya. Sangin hendak menghindari Jimin yang ia tau sedang berjalan dibelakangnya jadi ia berkelok kedalam kelas Sena agar Jimin bisa didepannya.

“Kau memanggilku?” Tanya Jihwa yang kini berada diruang kesehatan menemui Jin. Jin menyuruh Jihwa untuk masuk dan duduk dikursi nya. Jin terlihat merapikan beberapa perban yang berserakan diraknya.

“Aku sudah bicara dengan Hara dan orang tuaku..” Ucap Jin tiba-tiba setelah beberapa menit ruangan itu tak bersuara kecuali suara yang datang dari arah luar dan suara benturan kotak P3K.

“Setelah Pelayanan Masyarakat Jewelry diadakan pamanku akan kembali kesini. Aku akan kembali konsen kuliah dan tinggal dirumah. Sepertinya tidak akan ada waktu juga untuk datang kesini. Aku..”

“Apa yang diakatakan orang tuamu??” Potong Jihwa penasaran sambil melangkah untuk mendekati Jin.

“Pertunangan dibatalkan tapi aku tidak bisa bersamamu untuk sementara. Maafkan aku. Tapi bisakah kau menunggu sedikit lagi Jihwa-ya? Hanya sebentar bisakah kau mengunci hatimu hanya untukku? Jangan pernah membuka kuncinya untuk pria lain. Aku pasti datang untuk membuka gembok itu..”

Diam. Suasana kembali diam. Jihwa sedikit tersenyum menunduk menarik nafas kemudian mengadahkan wajahnya untuk menatap Jin. Jihwa memeluk Jin.

“Jangan membantah orang tuamu lagi. Mereka hanya ingin kau menjadi Dokter yang hebat agar bisa meneruskan Wooridul Hospital milik ayahmu itu. Kau masih disuruh untuk terus menaiki tangga. Jangan menyerah dan putus asa hanya karena aku. Aku akan menunggumu. Fokus saja pada tujuan ayahmu saat ini. Jalan ku juga masih panjang kenapa kau memikirkan hubungan yang terlalu serius? Aku juga harus kuliah kerja dan punya karir sendiri. Jangan khawatir karna aku hanya mencintaimu..” Ucap Jihwa sedikit malu diakhir kalimatnya. Jin merasa senang dengan jawaban Jihwa.

“Wow..” Suara itu mengagetkan Jihwa dan Jin yang tengah berpelukan mesra membuat Jihwa langsung melepaskan pelukannya pada Jin.

“Sena? A-apa yang kau lakukan??” Tanya Jihwa gugup.

“Aku?” Tanya Sena sambil menunjuk dirinya sendiri. Entah apa yang membuatnya ingin menggoda Jihwa dan Jin saat ini. “Entahlah..” Sambung Sena sambil menyipitkan matanya menatap Jihwa. Seakan mereka berdua kepergok melakukan sesuatu yang salah. Sementara Jin terlihat biasa saja. Sena meninggalkan ruangan itu dengan langkah mundur menancapkan pandangan nakalnya pada pasangan itu sambil menunjuk Jihwa dengan telunjuknya.

“Sena itu terlihat aneh..” Gumam Jin pelan.

“SANGAT!!!” Balas Jihwa menggebu-gebu.

“Maksudku dia. Bukankah dulu dia pernah terluka parah ditangannya? Kau yang mengobati sendiri kan?” Tanya Jin mengingatkan Jihwa dan dibalas anggukan heran oleh Jihwa. Benar juga. Tangan Sena bisa sembuh tanpa bekas dalam waktu satu malam.

“Bagaimanapun pasti ada bekasnya walaupun sudah sembuh dalam waktu satu malam..” Gumam Jin lagi.

“Kalau tidak salah sangin pernah bilang. Malamnya Sena tidak pulang keasrama dia kerumah bibinya. Paginya dia bertemu dengan Hanna, Taehyung dan Yoongi. Sena makan berdua dengan murid baru kelas satu kalau tidak salah namanya Kim Jungkook. Saat itu Yoongi mencium Sena. Sangin bilang kalau dia merasakan waktu berhenti, time control..” Jelas Jihwa dengan mimic wajah kurang yakin.

“Time control?” Tanya Jin tak percaya.

“Sepertinya Sena akhir-akhir ini banyak masalah. Matanya bengkak akhir-akhir ini. Yoongi tidak terlihat lagi mendatanginya. Tidak ada gosip tentang Yoongi dan Sena yang beredar padahal Yoongi cukup dikenal. Itu artinya mereka belum sempat berhubungan. Taehyung pernah meramal sesuatu pada Sena seperti ia punya pengaruh besar terhadap Monster di Jewelry. Aku tidak tau maksud perkataan Taehyung. Tapi setelah ia kembali dari rumah bibinya itu Taehyung sudah tidak bisa membaca pikiran Sena dan meramal Sena lagi..” Gumam Jihwa semakin tidak yakin. “Mungkinkah?? AH.. tidak.. tidak ada hal semacam itu di zaman sekarang..” Gumam Jihwa tidak percaya.

“Mungkin saja..” Balas Jin datar membuat Jihwa langsung menoleh tidak terima. Jin hanya tersenyum.

♥♥♥

“Aku mencintaimu? Dasar.. anak itu kaku sekali haha..” Tawa Sena mengingat kejadian di UKS tadi.

“HANTU!!!!” Teriak seorang murid di koridor membuat Sena dan beberapa murid disana langsung menoleh penasaran.

“TADI SEORANG LAKI-LAKI MENGGUNAKAN MASKER DAN PENUTUP KEPALA!!! MATANYA BERWARNA MERAH!!!” Teriak siswa itu menjelaskan. “DIA SUDAH MENGHILANG TADI DIA TEPAT DIHADAPANKU!!!!” Teriak perempuan itu lagi dengan keringat dingin mulai membanjiri dahinya.

“Namjoon? Dia sedang tidak melemah dan menggunakan time control kan?” Pikir Sena heran kemudian memilih meninggalkan kerumunan.

“Eoh??” Sena langsung mengadah tak sengaja menbarak seseorang.

“Apa yang tejadi?” Tanya orang itu penasaran sambil menoleh ke arah kerumunan.

“Tidak ada, Hoseok” Jawab Sena tegang dan terus berjalan meninggalkan Hoseok yang tengah menatapnya heran. Bukankah saat ini Hoseok juga punya masalah yang sama dengan nya? Sena langsung berbalik dan menatap Hoseok. Mata itu turun ke lengan kiri Hoseok membuat Hoseok langsung memundurkan langkahnya sedikit heran. Kenapa Sena bisa menatap Hoseok kearah luka bekas cakar Subyong? Apa saat itu Sena melihat kejadiannya?

“Kau bertemu Gumiho kan? Kenapa dia menyakitimu? Bukankah seharusnya dia berterimakasih padamu karena kau sudah datang?” Tanya Sena heran.

“A-apa maksudmu?” Tanya Hoseok pelan sambil memperhatikan sekitar berharap tidak ada yang mendengar pertanyaan Sena barusan.

“Ikut aku..” Ajak Hoseok sambil berjalan ketempat yang aman untuk berdua.

Di taman Halaman utama Jewelry dekat Watelfall itu Sena mulai mengintrogasi Hoseok. Kerutan heran mulai muncul di dahi Sena. Banyak hal yang sangat mengganggu pikirannya saat ini. Kenapa Hoseok sampai ikut terlibat dalam masalah ini?

“Jangan bilang kau menyukai Subyong?” Tanya Sena memecahkan keheningan.

“A-Aku? Kenapa kau menyimpulkan seperti itu??” Bantah Hoseok tidak terima dikatakan menyukai rubah ganas itu. Menyukai perempuan ‘sebenarnya’ saja ia belum sempat apalagi seekor makhluk menyeramkan.

“Kau bukan Hoseok! Kau masih diam ketika sudah terluka seperti ini. Kenapa tidak melakukan sesuatu?” Tanya Sena sambil menatap Hoseok heran dan prihatin. Ia tidak mau temannya Hoseok terluka dengan hal mistis. Terluka dengan hal mistis seperti itu lebih mengerikan dari pada dilukai manusia. Tidak ada yang bisa disalahkan jika dilukai oleh makhluk seperti itu.

Masing-masing dari mereka kini tengah dekat dengan Makhluk yang bisa dikatakan seperti Monster. Monster yang kadang menyakiti dan terkadang juga menyembuhkan. Hoseok diam mencerna pertanyaan Sena. Ingin ia bertanya tau dari mana ia dicakar oleh gumiho?

“Kau dekat dengan Namjoon? Kudengar tidak banyak orang yang dekat dengannya. Sepertinya kau sangat peduli padanya.” Ucap Hoseok sambil menatap heran pada Sena. Sena menaikkan alisnya heran dengan pertanyaan Hoseok. “Kau menyukainya?” Lanjut Hoseok.

“HUH?? Kau becanda?? Kau taukan seleraku tinggi??” Jawab Sena cepat tidak terima. Ia sangat cepat menjawab seakan memang benar ia tidak punya perasaan apa-apa padanya.

“Kau juga tau kan sangat sulit untuk jatuh cinta sekarang? Tidak mungkin aku menyukai Subyong..” Balas Hoseok sambil meregangkan otot-ototnya. Berhasil. Sena termakan omongan Hoseok. Sena menggertakkan giginya setengah kesal. Hoseok tidak pernah berubah sangat cerdas melawan perkataan dengan kalimat santainya.

“Btw, kau tau dari mana masalah ini? Bukankah dia tidak pernah menunjukkan identitasnya pada siapapun?” Tanya Hoseok penasaran. “Taehyung saja baru tau, bukankah belum 3 bulan kau berada disini?” Sambung Hoseok lagi. Sena berdehem kecil sebelum menjawab pertanyaan Hoseok. Bingung menjelaskannya walaupun Hoseok adalah temannya. Sangat sulit untuk menjelaskan maka lebih baik diam bukan?

“Kau belum sampai di tahap kau akan mengetahui semuanya Hoseok. Yang jelas aku lebih special dari kau bahkan Taehyung yang pandai meramal itu. Di sekolah ini ada banyak orang aneh jika kau lebih melihatnya lagi. Kau sudah bertemu beberapa kan?” Jelas Sena sambil berdiri dari duduknya bersiap pergi.

“Beberapa hari lagi kita akan dibagi beberapa grup untuk dipencar ke desa-desa. Kau masih trauma dengan jalan lurus? Jangan sampai tersesat!!” Peringat Sena nakal sambil mengelus dan memukul kepala Hoseok pelan 2 kali seakan ia seekor kuda.

♥♥♥

“Ujian berjalan lancar?” Tanya wanita cantik dan tidak terlalu tua itu pada Taehyung yang kini menikmati makanannya malas-malasan. Wanita itu adalah ibu Taehyung yang pernah datang ke sekolah untuk melihat Taehyung beberapa minggu yang lalu. Wanita yang pernah menuduh Sena dan Jungkook tengah melakukan hal yang tidak-tidak di UKS.

“Apa pedulimu?” Balas Taehyung ketus sambil mengunyah daging kemudian menatap mata ibunya tajam. Tatapan Taehyung tepat masuk menelusuri segala selnya. “Mengangumkan. Hingga sekarang kau masih merahasiakannya dari Ayahku..” Lanjut taehyung dengan gumaman pelan namun masih didengar oleh Ibu taehyung.

“A-Apa yang kau bicarakan..” Mrs. Kim berhenti bicara ketika ponselnya bergetar panggilan masuk. Taehyung melanjutkan makannya pura-pura tidak peduli.

“Sekarang? T-tapi aku belum siap..” Ucap Mrs. Kim gugup membuat Taehyung penasaran sambil menatap ibunya dengan ekor matanya. “Taehyung-ah, Eomma ke toilet sebentar..” Ucap wanita itu kemudian meninggalkan Taehyung. Taehyung tidak merespon apa-apa.

“Aku tau ini sudah 17 tahun berlalu. Tapi aku masih tidak siap, ketika melihat anak itu aku teringat dengan ayahnya. Aku membenci hal itu..” Ucap Mrs. Kim sambil memijat dahinya.

“A-Apa?? Kau sudah mengatakannya? Bagaimana bisa? Dia pasti sangat terpukul..” Ekspresi Mrs. Kim berubah panik.

“Kau menyebut namaku sebagai ibunya? KAU HANYA PERLU MENGATAKAN BAHWA KAU BUKAN IBU KANDUNGNYA!!!! KENAPA HARUS MENGATAKAN AKU ADALAH IBUNYA!!!” Mrs. Kim berteriak emosi kemudian mematikan ponselnya. Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Terlihat tubuhnya bergetar hebat. Ia berjalan kearah toilet karena ia menerima telfon diluar.

“T-Taehyung-ah..” Gumam Mrs. Kim ketika menyentuh kenop pintu. “Sejak kapan kau disana??” Tanya Mrs. Kim gugup.

“JANGAN MENYEBUT NAMAKU!! KAU MONSTER!! JANGAN HARAP AKU AKAN MENERIMAMU!!” Taehyung berteriak emosi kemudian meninggalkan Ibunya ketika orang lain menatap pemandangan memalukan itu.

“Maafkan Eomma yang jahat ini. Taehyung-ah.. Jungkook-ah..”

♥♥♥

“Kau mengajakku bertemu disini? Tidak ada tempat lain? Aku sudah bosan melihat laut…” Gumam Eunshi sambil menggoyang-goyangkan kakinya dipasir kecoklatan itu. Eunshi baru saja datang beberapa menit yang lalu setelah menerima panggilan dari Jungkook untuk datang ke Pantai. Cukup sulit untuk mencari keberadaan Jungkook ditempat yang lumayan ramai ini.

“Kupikir hidup itu seluas laut ini Ternyata hidup itu hanya seluas telapak tangan..” Gumam Jungkook pelan namun dengan suara puber itu terdengar cukup jelas bagi Eunshi. “Hidup ini penuh kejutan.. HAAH!” Eluh Jungkook dengan helaan nafasnya kemudian merebahkan tubuhnya di atas pasir. Eunshi menatap Jungkook heran.

“Kau punya masalah? Kau bisa cerita..” Tawar Eunshi namun Jungkook hanya memejamkan matanya.

“Tidak ada kejutan bukan perjalanan hidup namanya. Datar saja itu bukanlah perjalanan hidup tapi hanya hidup. Terkadang butuh lemparan batu agar semakin cepat untuk melangkah..” Jelas Eunshi sambil ikut berbaring disebelah Jungkook.

“Bagaimana jika lemparan batunya tepat mengenai mataku. Aku sudah tidak bisa melihat lagi. Aku tidak bisa melangkah lagi dan melihat kedepan. Ini sungguh menyiksaku..” Balas Jungkook masih memejamkan matanya. Eunshi menoleh menatap Jungkook yang kini menaikkan lengannya untuk menghalangi silauan matahari.

“Kau masih punya kaki untuk melangkah! Kau punya telinga untuk mendengar! Tapi apa yang terjadi? Kau tidak sakit kan?” Tanya Eunshi sambil menyentuh kening Jungkook. Apa otaknya hangus karena belajar?

“K-Kau menangis??” Tanya Eunshi ketika Jungkook membuka matanya kemudian setetes air mata jatuh mengenai telapak tangan Eunshi. Jungkook segera bangun. Membersihkan tubuhnya dari pasir kemudian bersiap untuk pergi.

“Jungkook? Kau tidak pernah terlihat murung dan sesedih ini. Apa yang terjadi?”

♥♥♥

“Semua anak banyak keluar. Kau tidak ikut keluar??” Tanya Hanna pada Yoongi yang kini tengah duduk di tepi kolam Waterfall sambil membaca buku. Yoongi hanya diam tidak merespon. “Apa aku mengganggumu?” Tanya Hanna penasaran namun dengan wajah takut-takut.

“Kau takut padaku?” Tanya Yoongi tanpa menatap Hanna. Hanna langsung menggeleng kencang.

“Takut? U-untuk apa..” Bela Hanna.

“Semenjak pulang dari rumah sakit kau tidak menemuiku lagi. Apa sekarang kau sedang menahan rasa takut untuk bertemu denganku?” Tanya Yoongi kini menutup bukunya dan menatap Hanna datar.

“Aku tidak takut. Aku hanya..”

“Penasaran?” Sambung Yoongi ketus kemudian bersiap untuk meninggalkan Hanna setelah sedikit mempererat red beanie di kepalanya.

“A-AKU PEDULI!! APA KAU TIDAK BISA MEMbedakannya..” Teriak Hanna kemudian pelan diakhir kalimatnya. Ia ragu untuk mengungkapkan kalimatnya. Tidak mungkin dengan jujur ia mengatakan benar Hanna sangat penasaran pada lelaki temperament itu.

“Kau menyukaiku?” Tanya Yoongi langsung setelah kembali mendekatkan langkahnya pada Hanna.

“N-ne?” Tanya Hanna bingung dan gugup sambil mengadahkan kepalanya.

“Kau menyukaiku? Aku MONSTER yang tidak layak untuk kau sukai. Aku hanya menyakiti orang-orang disekitarku. Jika kau peduli kau tidak perlu terlihat gugup seperti ini. ITU BERARTI KAU MENYUKAIKU!!”

“A-Aku sudah tidak menyukaimu.. Oppa” Ucap Hanna datar dan sedikit takut.

“Mwo?” Tanya Yoongi heran.

“Dulu dan untuk setahun belakangan ini mungkin aku menyukaimu dan mencintaimu setengah mati. Tapi untuk sekarang aku sedikit ragu dengan perasaanku..” Jelas Hanna mulai berani. Yoongi hanya tersenyum sinis sambil terus mendengarkan ucapan Hanna.

“Aku tidak peduli dan benar AKU HANYA PENASARAN!! Gugupnya aku bukan berarti AKU MENYUKAIMU!! Dan benar aku takut padamu setelah itu. Jika kau bertanya untuk apa aku tetap mendatangimu? Aku hanya ingin berbalas budi hingga kau bisa menerima Sena yang malang sebagai adikmu. Sebagaimana kau sudah berusaha menghilangkan Jin oppa dipikiranku dan menggantikannya denganmu. AKU AKAN MENJAUH SETELAH KAU MENERIMA SENA SEBAGAI ADIKMU!! CUKUP UNTUK TERLIHAT BAIK DIDEPANKU!! KAU HANYA MENGANGGABKU SEBAGAI KUCING YANG BUTUH MAJIKAN!! KAU PIKIR AKU HANYA SEEKOR BINATANG YANG HANYA BUTUH PERHATIAN?? BAGAIMANA BISA KAU MEMBANDINGKANKU DENGAN KUCING DIDALAM KARDUS!! AIShh…” Hanna berteriak semampunya sambil menahan air matanya kesal dan marah. Namun mata kecil itu sudah tidak mampu menahan genangannya. Mengeluarkan bulir-bulir air mata kemarahan, kekecewaan dan kejujuran yang sangat sulit untuk dikatakan.

“Hanna..”

♥♥♥

“Kau tau? Terkadang kekuatan cinta lebih mujarab dibanding apapun. Dengan mencintai seseorang kau bisa membuat orang lain hidup lebih lama, bertahan dari cuaca, bertahan dari ancaman, bertahan dari kesakitan. Dengan hati yang tulus itu kau bisa melakukan hal yang ingin kau hindari..” Ujar Hoseok lembut sambil tersenyum pelan mendekati Sena.

“Kau sedang jatuh cinta kan?” Tanya Hoseok pada Sena. “Pada Namjoon?” Ulang Hoseok lagi membuat Sena menghela nafas berat. Ia sedikit kesal dengan pertanyaan Hoseok yang sedari tadi bertema sama namun berlainan jenis itu. Sekarang bukan Sena yang penasaran namun malah sebaliknya.

“Gelisah ketika ia tidak ada. Takut ketika ia tiba-tiba menghilang. Bahagia ketika ia didepanmu. Menangis ketika didekapannya..” Sena menatap Hoseok lelah dan mulai berakting sambil menyentuh dadanya seakan sedang berdetak kencang hingga jantungnya sepert iakan meloncat keluar.

“Benar.. Kau mencintainya..” Gumam Hoseok sok berwibawa dengan pose berdiri memasukkan kedua tangan kedalam sakunya.

“ANDWAE! Jika aku mencintainya dan aku mengungkapkan itu pada Namjoon! Kau tau apa yang akan terjadi? Subyong mungkin akan hilang dari hidupmu..” Gumam Sena datar dengan tatapan tajamnya pada Hoseok. Seakan Sena sudah yakin jika Hoseok dan Subyong saling mencintai. Kali ini Sena mulai serius dengan ucapannya.

“Urusannya denganku? Jika dia menghilang bukankah itu bagus? Dia bukan manusia tidak berhak berada di dunia sebagai manusia dan melukai orang lain. Kim Nam Joon adalah manusia yang terpaksa menerima takdir untuk menerima sisi iblis dari Subyong. Itu sudah menjadi sejarah bahwa seekor GUMIHO memang licik. Kau ingin para makhluk mistis itu untuk menghindari takdirnya? MEREKA HARUS SEGERA LENYAP!!”

“AAAA!!!!!!!!” Terdengar teriakan seseorang tak jauh dari tempat duduk Sena dan Hoseok. Membuat pembicaraan serius mereka terhenti.

“Jihwa?” Gumam Sena ketika menemukan Jihwa tengah terduduk pucat diatas rumput dekat taman sambil menutup mulut dan menunjuk sesuatu didepannya.

“Bu-Bukankah dia Subyong? Ada apa dengan tubuhnya?? Dia bukan Subyongkan? Ta-tapi tas dan pakaiannya..”

“DIA PARK SUBYONG!! DIA BUKAN MANUSIA!! KALIAN HARUS MELENYAPKANNYA!!!”

“DIAM KAU HOSEOK!!!”

“BRUKK!!” Hoseok terkapar sambil menyentuh hidungnya yang berdarah. Sepertinya tulang hidung itu patah.

“Namjoon oppa..”

 

To be continued..

 

Sebelumnya saya mau bagi part 10 ini jadi 2 bagian tapi ga jadi setelah saya berusaha memperpendeknya. Masalah jungkook, Taehyung dan Jimin akan dijelaskan dipart ini tapi saya menghapus dan mencopy nya ke file part 11 hehe. Lalu scene Jihwa dan Jin juga diperpendek. Alasannya karena jika terlalu banyak scene akan membuat cerita berfokus pada pemeran pembantu. Padahal kan pemeran utama disini Namjoon, Sena, Subyong, Hoseok. Untuk part awal-awal mungkin ia agak lebih ke masalah para pemeran pembantunya untuk meramaikan cerita dan agar ceritanya ga ngebosenin. Hehe.. Sampai jumpa di part selanjutnya namun mungkin agak lama karena author mau UAS lalu UN.

 

Part sebelumnya da yang nanya tentang gumiho. “Sebenarnya yang dimakan gumiho hati atau jantung?” Author ga tau pasti karena dapat dari sumber yang berbeda dan so pasti karena author bukan gumiho(?).

About fanfictionside

just me

14 thoughts on “FF/ MONSTER/ BANGTAN-BTS/ pt. 10

  1. ahhhh akhirnya update juga, annyeong kakak. keenalin aku reader gelap dari cp 1-9 #plak kekeke mian mian. namjoon udah mulai keliatan oocnya ya? ah jungkookie kamu kenapa, kok ngegalau sih? pacar mana pacar -read:taehyung- #ditendang author, kok dikit banget scenenya? jimin mana jimin, kok batang idungnya gak keliatan -jimin kan pesek#dikubur jimin-
    hahaha okelah cuap cuapnya udah dulu, next chapternya cepetan ya kak FIGHTING!!!

  2. Entah kenapa aku penasaran banget sama hoseok-subyong kkkkk^^ akhir akhir lagi suka sama jhope xD waduh masalah nya kenapa jadi makin rumit yak tapi cukuplah buat jawab pertanyaan di kepalaku.-. Author mau ujian nde? Good luck nee^^ fighting^^ keep writing yap thor^^

  3. Wah ceritanya makin seru! Yoongi-Hanna gimana tuh? Wah hoseok udah mulai suka ya sama subyong kkkk~ udah lah hopie(?) Ngaku aja susah amat -_- aku suka subyong-hoseok couple^^ ngeship mereka aku^^ di akhir itu namjoon kenapa? Penasaran kyaaa lanjut jangan lama-lama ya thor^^~ sukses buat ujiannya juga hihi fighting!!

  4. Hoseok kamu penenang subyong pliss…
    Jangan jahat gitunf dong..

    Yoongi.. Terimalah sena .. Sena itu adikmu…🙂

  5. Wuuaahh telat buka nih jd bru tw kalo ff ini update jd baru baca deehh.😀 kompleks bgt sih tp ak suka bnyak cerita.a daannn ahhh ngga sabar niih buat baca lnjutan.a …
    Himnae buat ujian.a dtunggu buat next chap.a ( ˆ⌣ˆ​​​​ )

  6. thor, aku pembaca baru di blog ini. aku suka ceritanya. terus di lanjut ya… mian baru memberikan komentar, selama ini aku selalu mengikuti alur ceritanya. masih penasaran.
    aku adalah pembaca yang tidak bisa memberikan komentar yang baik dan menyenangkan.
    untuk chapter selanjutnya jangan terlalu lama ya, takut keburu lupa akan ceritanya.

  7. bagus hana! bilang kekecewaa kamu sama yoongi! jangan ditahan. bikin yoongi sadar hana!
    cepet dilanjut ya thor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s