FF/ POOR BANGTAN/ BTS-BANGTAN/pt. 3


Poor Bangtan 3

Title : “Poor Bangtan” Part 3 (END)

Author : Mao1004

Genre : Comedy, Yaoi(?) /pokoknya tentukan saja sendiri/

Cast :

  • All BTS member (Suga as main cast)
  • A.P Daehyun

Lenght : Chaptered

Hai hai hai, author kembali bawa lanjutan Poor Bangtan, maaf lama tapi semoga kalian tetap terhibur dengan ff ini /nangis bombay/. Karena ini part terakhir, author gak tau mau berkata-kata apalagi selain hanya berharap semoga readers tetap terhibur dan menyukai ff ini. Wkwkwk.

Ya sudah, selamat membaca dan terbahak(?)

Don’t be silent reader~

==================================================================================

“Aku pulang.” ucapku.

“Lama sekali…” ucap Jimin sambil mengelus perutnya.

“Aku hanya membawa kerak telur.”

“Tidak apa-apa, itu lebih baik daripada kerikil rebus.” Jimin memberikan sebuah misting kecil padaku. “Tadi kakek dan nenek kemari dan memberikan itu. Katanya sudah ditaburi bumbu rasa rumput laut.”

“Mereka menanyakan Jin?” tanyaku.

“Tidak. Setelah memberikan itu, mereka langsung pergi.” jawab Jimin.

“Baiklah, kita makan kerak telur saja sekarang.”

Jimin pergi ke dapur dan kembali sambil membawa dua buah piring. Baik juga dia.

“Ada tiga, kau mau makan berapa?” tanyaku.

“Satu saja, jika terlalu banyak nanti malah merusak abs-ku.” jawabnya.

“Kalau begitu satu lagi kita simpan saja, siapa tahu Jin pulang hari ini.”

“Ya.”

Kami pun memakan kerak telur itu dalam keheningan yang terjadi entah berapa lama. Aku memperhatikan Jimin yang makan dengan selera kurang baik.

“Jimin, sudah berapa lama kau hidup miskin?” tanyaku memecah keheningan diantara kami berdua.

“Selama aku hidup, aku tak pernah menjadi kaya.” jawab Jimin.

**

Sudah tiga bulan aku hidup bersama Jimin. Kini kami tak lagi bertengkar, kami hidup rukun dan saling membantu satu sama lain. Jika aku mendapat pekerjaan, dia selalu ikut untuk membantuku meskipun hanya sebagai kuli angkut di pasar.

Selama tiga bulan itu pun aku merasa hidup normal karena Jimin tak pernah berkata yang aneh-aneh seperti Jin. Tapi, semua berubah saat Jin kembali dan membawa seseorang (lagi).

“Yoongi! Ini anak kedua kita!” seru Jin dari luar rumah.

“Apa artinya aku punya adik?” tanya Jimin yang mengintip dari jendela.

Aku menjambak rambutku sendiri karena frustasi dengan kelakuan Jin. “Buka pintunya.”

Jimin membuka pintu lalu melambai ke arah Jin. “Hai mama! Lama tak jumpa!” seru Jimin.

“Hai putraku! Mana ayahmu?” tanya Jin.

“Masuk saja, dia sepertinya sedang sakit kepala.”

Jin dan orang yang ia bawa pun masuk ke rumahku. Aku memperhatikan orang baru yang pasti akan menempati rumahku itu. Dia nyengir sambil menggendong seekor anak harimau. Apa dia berniat membunuh semua orang yang ada di sini?

Jin menghampiriku. “Dia tidak hitam, ‘kan?” tanya Jin.

“Aku sudah berdamai dengan Jimin. Sekarang kau menyuruhku untuk beradaptasi lagi dengan kehadiran satu makhluk hidup dan peliharaannya itu?” tanyaku.

“Kenapa semua yang kulakukan selalu salah di matamu?” tanya Jin.

“Siapa dia?” tanyaku.

“Taehyung, anak kita yang kedua, adik Jimin.” jawab Jin. “Mereka lahir di tahun yang sama, jadi mereka kembar hanya saja Taehyung telat keluar.”

“Lalu harimau itu?” tanyaku.

“Itu peliharaan kesayangannya.”

Taehyung tersenyum lalu membungkukkan tubuhnya (memberi hormat).

“Kau tahu jika sudah besar nanti harimau itu bisa memakan kita?” tanyaku pada Taehyung.

“Aku tahu.” jawab Taehyung dengan senyumnya yang berseri-seri.

“Lebih baik jual saja.” ucapku.

“Rawrrr!” Taehyung mengaum(?). “Jangan coba-coba melakukannya, ayah!”

“Kau ingin kita semua mati?” tanyaku.

“Tenang, aku akan menjaganya.. buatkan saja kandang untuknya.”

“Kau buat saja sendiri.”

“Tapi, ayah… kau jahat!! Hueeeee!!!” Taehyung menangis dengan keras. Tangisannya yang semakin menjadi dan memekikan telingaku.

“Tenanglah, nak… Ayahmu pasti akan membuatkannya.” Jin mengelus kepala Taehyung.

Aku menarik Jimin keluar rumah. “Sepertinya tidak ada pilihan lain. Kau mau ‘kan membantuku?” tanyaku pada Jimin.

“Kalau memang bisa menghentikan tangisan anak itu, baiklah.” jawab Jimin.

Aku dan Jimin pun pergi mencari besi yang masih layak pakai untuk membuat kandang harimau milik Taehyung.

Dengan kekuatan ‘Hulk’ yang dimiliki Jimin, ia mampu membawa besi-besi berat itu tanpa bantuanku. Ah, lumayan jadi aku tak terlalu lelah.

“Ayah, sudah cukup belum? Mau buat kandang sebesar apa?” tanya Jimin.

“Ukuran maksimal harimau berapa, ya?” tanyaku.

“ Bagaimana kalau kita ke kantor polisi untuk meminta jeruji besi?”

“Ah, jangan gila.” aku melihat besi yang dibawa Jimin. “Sepertinya itu cukup, ayo kita pulang.”

**

Taehyung masih menangis dan tangisannya semakin menjadi sambil memeluk harimaunya. Ternyata ada Namjoon dan Hoseok juga, sepertinya Jin memanggil mereka ke rumah. Aku melihat Namjoon tengah berkomat-kamit sambil membawa segelas air putih lalu Taehyung disembur!

“Aish, kakek jorok sekali!” ucap Jimin. “Kenapa kita tidak masuk ke rumah untuk melihat Taehyung?” tanya Jimin.

“Nanti kita disembur juga.” jawabku. “Sekarang kita buat saja kandang harimau itu.” aku berjalan ke samping rumah diikuti Jimin. “Kau bisa membengkokkan besi-besi ini?” tanyaku.

Jimin tersenyum. “Percayakan pada otot-ototku ini!” seru Jimin.

Jimin mulai membentuk besi-besi itu dan merangkainya. Sementara tangisan Taehyung terus terdengar.

“OH MAY TO DE GAD! Cu jangan terus-terusan menangis, cu!!” Hoseok mulai hewir.

“Jimin, aku tinggal sebentar. Kerjakan itu dengan baik.” ucapku.

“Ne, arraseo.”

Aku pun masuk ke dalam rumah. Aku melihat Jin dan Hoseok yang mulai berkaca-kaca, sementara Namjoon hanya duduk sambil memegangi kepalanya.

Aku menghampiri Taehyung yang belum juga menghentikan tangisnya. “Taehyung, kalau kau mau tinggal bersamaku, kau tak boleh cengeng!” ucapku.

Taehyung menghentikan tangisnya lalu menatapku. “Kandang untuk harimaumu sedang dibuat oleh Jimin.”

“Kau tak bohong?” tanya Taehyung.

“Tentu saja tidak.”

“Terimakasih, ayah!!!” Taehyung langsung memelukku erat. Jin dan Hoseok pun langsung berpelukan, Namjoon menghembuskan nafas leganya sementara aku hanya menggerlingkan mataku.

**

Jin menghampiriku yang sedang membaca koran. Ah, lagi-lagi bulu kudukku berdiri. “Ada apa?” tanyaku.

Jin menggaruk kepalanya lalu tersenyum. “Terimakasih kau sudah memenuhi keinginan Taehyung.”

“Katakan itu pada Jimin, dia yang banyak bekerja.” jawabku. “Kenapa kau membawa satu manusia lagi untuk tinggal di sini?”

“Uhm.. itu karena kupikir kau takkan pernah akur dengan Jimin karena dia hitam…” jawab Jin.

Drrtt… drrrttt…

Ponselku bergetar, ternyata panggilan dari Jungkook.

“Ya, Jungkook?” tumben sekali dia menelponku. “Oh, ya? Kau serius?!” aku berseru saat Jungkook bilang bersedia memasarkan cilok buatanku. “Tapi… aku sudah kehabisan modal…”

**

Keesokan harinya, aku pergi untuk bertemu dengan Jungkook yang bersedia membantuku. Semoga kali ini berhasil!

“Gunakan saja uang ini. Aku ingin melihat kau sukses seperti dulu.” ucap Jungkook sambil memberikan amplop berisi uang padaku.

“Kau serius?” tanyaku masih tak percaya.

“Tentu saja, hyung! Kita bekerjasama, aku akan memasarkan cilokmu!” jawab Jungkook.

“Terimakasih, Jungkook. Aku tidak akan menyia-nyiakan uang ini.”

**

Setelah menemui Jungkook, aku membeli bahan-bahan untuk membuat cilok lalu pulang ke rumah. Aku melihat Jin yang sedang asik memasak.

“Kau masak apa? Dapat bahan itu darimana?” tanyaku.

“Oh, kau sudah pulang rupanya.” ucap Jin. “Aku memasak oseng tempe.” Jin memperlihatkan masakannya.

“Asiiik!! Oseng tempe!!” sorak Jimin dan Taehyung sambil berlari menuju dapur.

“Kau dapat uang darimana bisa membeli itu?” tanyaku.

“Dari temanmu yang waktu itu kau ceritakan…” jawab Jin.

“Oh… Jeon Jungkook?”

“Ya.” Jin fokus memasak. Dari aromanya tercium sangat enak membuat perutku seketika semangat untuk menggelar konser.

“Ayah, kau membelikan daging untuk harimauku?” seru Taehyung yang sedang mengobrak-abrik belanjaanku.

“Apa? Tidak… itu bukan un-”

“Kau memang baik ayah! I love you!!” seru Taehyung sambil mengambil langkah untuk berlari menuju kandang harimaunya.

“Jimin!! Hentikan dia!” teriakku pada Jimin.

Jimin mencoba menangkap Taehyung namun tidak berhasil, Taehyung berlari dengan kecepatan cahaya dan tak dapat tersusul oleh seorang pun.

“Maafkan aku…” ucap Jimin.

Aku pergi menyusul Taehyung yang tengah asik memberi makan harimaunya. Aku menatap naas daging sapi yang dimakan harimau itu dengan sekali telan. Jimin yang mengikutiku pun hanya terdiam melihat Taehyung dan harimaunya.

“Kenapa tidak kau korbankan saja dirimu sendiri pada harimau itu?!” tanyaku kesal.

“Ayah, jangan bicara begitu nanti dia menangis lagi. Beri aku uang dan biarkan aku membeli daging, aku akan membantumu mulai sekarang.” ucap Jimin.

“Ayah! Dia bilang ‘terimakasih’!” seru Taehyung dengan senyuman yang berseri-seri.

Aku tidak menghiraukan Taehyung. “Terserah kau.” ucapku pada Jimin.

“Aku akan pergi sekarang, mana uangnya?” tanya Jimin sambil menadahkan tangannya.

“Tadinya aku sengaja membeli daging itu untuk kita makan, tapi anak itu… aish!” gerutuku sambil memberikan uang pada Jimin. “Jangan buang-buang uang itu, gunakan dengan baik!”

“Oke, ayah!”

“Hyung, kau mau kemana?” tanya Taehyung.

“Aku mau beli daging ke pasar.” jawab Jimin.

“Woohoo! Park Jimin pergi ke pasar~~” seru Taehyung seperti pawang topeng monyet.

“Pergilah, jangan hiraukan anak aneh itu.” ucapku.

**

Jin menghidangkan masakannya. Malam ini kami makan bersama. Bisa dibilang makanan malam ini adalah makanan paling enak yang ku nikmati setelah bangkrut.

“Bagaimana masakanku?” tanya Jin.

“Enak, tapi kenapa semuanya terasa sama?” tanyaku.

“Sepertinya mama hanya tahu satu macam bumbu lalu dia pakai untuk memasak ini semua.” komentar Jimin.

“Begitukah?” tanya Jin.

“Jika kau punya restoran nanti, pelanggan pasti akan merasa bosan dengan masakanmu karena semua terasa sama.” ucapku.

“Benar juga, kenapa kau tidak menggunakan uang dari temanmu untuk membuka tempat makan saja?” tanya Jin.

“Uangnya masih kurang jika untuk membuka tempat makan.” jawabku.

“Menurutku membuka tempat makan adalah ide buruk.” ucap Jimin.

“Waeyo? Tentu saja itu ide bagus! Tidak biasanya ‘kan aku cemerlang seperti ini?” Jin ngotot.

Jimin menoleh ke arah Taehyung yang fokus makan bersama anak harimau kesayangannya.

“Aku mengerti maksudnya.” ucapku sambil melahap makananku.

“Jadi aku tetap tidak cemerlang?” tanya Jin pada Jimin.

“Sudahlah, habiskan dulu makannya, setelah itu kalian boleh berdebat.” ucapku.

**

Taehyung mengelus anak harimau miliknya sambil tidur di atas tikar yang tergelar. Aku memperhatikan anak aneh itu. Aku berpikir bagaimana jika anak harimau itu ku jual tanpa sepengetahuannya?

“Lehermu akan putus.” ucap Taehyung tiba-tiba.

“Kau bilang apa?” tanyaku.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan, ayah. Biarkan aku membesarkannya, dia satu-satunya saudaraku yang tersisa.” ucap Taehyung.

“Kau itu tarzan atau apa?” tanyaku.

“Aku alien.” Taehyung tersenyum lalu pergi ke kandang harimau di sebelah rumah.

Jin yang melihat Taehyung pergi segera memanggilnya. “Taehyung, kau mau kemana?”

“Tidur dengan harimauku, jangan menggangguku sampai besok pagi.” jawab Taehyung lalu masuk ke dalam kandang.

“Dapat darimana anak aneh itu?” tanyaku.

“Dari sini.” Jin menunjuk perutnya.

“Jangan gila.” aku pun meninggalkan Jin.

**

Hari ini semuanya bekerja membersihkan rumah. Jin sudah sibuk mencuci pakaian sejak subuh tadi.

“Yoongi… kau bisa membantuku untuk menjemur ini? Sepertinya aku encok.” ucap Jin.

“Di luar hujan.” ucapku.

“Ya, jangan beralasan! Kau bisa pakai payung!” ucap Jin.

Jimin menepuk-nepuk pundakku saat aku hendak memarahi Jin. Tuhan, apa salahku? Kenapa aku harus terlibat dalam drama semacam ini?! Seharusnya aku tidak menemui Namjoon!

“Mama, berhentilah membuat ayah stress.” ucap Jimin. “Di luar sedang hujan, jika pakaian-pakaian itu dijemur, nanti bisa kotor lagi.”

“Sekarang mama istirahat saja.” ucap Taehyung. “Hari ini, aku yang akan memasak.” Taehyung tersenyum cerah.

“WHAT?!!” seruku dan Jimin.

“Kenapa? Kalian pasti akan suka masakanku! Tenang saja, serahkan pada chef Min Taehyung!” seru Taehyung, bahkan sekarang ia mengganti marganya.

“Jimin, berikan Jin sebuah pijatan. Aku akan memasak bersama Taehyung.” ucapku.

“Kau serius, ayah? Benarkah? Ah, kenapa aku bahagia sekali!?” seru Taehyung. “Ini pertama kalinya aku melakukan sesuatu bersama ayah! Ini akan menjadi momen paling indah dalam hidupku!” mata Taehyung berkaca-kaca.

Aku hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Taehyung. Dari planet mana dia berasal? Kenapa aku harus berurusan dengan manusia yang seperti ini?

Taehyung menarikku ke dapur. Dia mengeluarkan bahan makanan dan peralatan masak yang ada.

“Ayo, ayah!” ucap Taehyung sambil mengangkat pisau di kedua tangannya.

“Kau mau memasak atau membunuhku?” aku merebut pisau-pisau itu dari Taehyung.

“Ayah, kita mau buat apa?” Taehyung melihat bahan masakan di atas meja.

“Kau mau memasak tapi tidak tahu apa yang akan kau masak?” tanyaku.

“Kita masak sup kepala bayi saja~” ucap Taehyung.

Bulu kudukku tiba-tiba berdiri. “Kau kanibal?!” tanyaku kaget.

“Hah? Tidak, maksudku sup kepala bayi ayam.” jawab Taehyung.

“Kau hampir membuat jantung ku copot.” ucapku. Aku mengambil sebungkus kepala ayam yang Taehyung tunjuk. “Siapa yang akan memasak?” tanyaku.

Taehyung menunjukkan barisan gigi depannya. “…Ayah!” serunya. Sudah ku duga pasti akan seperti ini. Akhirnya aku pun memasak sementara Taehyung memperhatikan caraku memasak.

“Ayah.” ucapnya.

“Panggil aku Suga.” ucapku sambil memotong wortel.

“Kau ‘kan ayahku.” ucap Taehyung.

“Terserah. Ada apa?” tanyaku.

“Aku ingin berlayar… buatkan aku kapal.” pinta Taehyung sambil terus memperhatikan kegiatanku.

“Di sini jauh dari laut.” ucapku.

“Kalau begitu buatkan aku lautnya juga!” seru Taehyung.

Sungguh, jika aku tidak menahan emosi dan kesedihanku, mungkin saat ini aku sudah menangis karena harus menghadapi manusia aneh seperti Taehyung. “Teruslah bermimpi, Taehyung.”

**

Aku mencoba menghubungi Jungkook yang tak pernah memberi kabar selanjutnya tentang pemasaran cilokku setelah terakhir kali kami bertemu. Berapa kali pun aku mencoba menghubunginya, tetap saja ponselnya tak pernah aktif.

Jimin dan Taehyung pulang setelah mencari uang sambil membawa sedikit kudapan dari hasil kerja mereka.

“Kami pulaaang ~” seru Taehyung. “Kami juga bawa sesuatu!”

“Oh, kalian sudah pulang anak-anakku!” sambut Jin.

“Mama, kami bawa ini.” ucap Jimin sambil menunjukkan kantong keresek yang ia bawa.

“Apa itu?” tanya Jin.

“Kerupuk jengkol!” seru Taehyung.

“Kerupuk jengkol? Benarkah?” tanya Jin. Lalu ia menoleh ke arahku.

“Wae?” tanyaku.

Jin menghampiriku. “Aku jadi teringat dengan kedua orangtuaku. Akhir-akhir ini aku bisa makan enak, tapi apa di sana mereka sudah makan?” tanya Jin. “Sudah seminggu setelah kedatangan mereka kemari, dan aku belum melihat mereka lagi.” Jin menundukkan kepalanya.

“Kenapa tidak kau temui saja mereka?” tanyaku. “Pergilah ke gubuk Namjoon.”

Jin mengangkat kepalanya. “Tapi, kau harus ikut…”

“Kenapa aku harus ikut?” tanyaku.

“Karena kau main cast di ff ini. Kalau kau tak ikut, kau tidak bisa menceritakan apa yang terjadi di istana orangtuaku.” Jin tersenyum.

Author mana author?! Aku sudah sangat bersyukur tidak bertemu Namjoon dan Hoseok, sekarang kenapa author ini membuatku harus bertemu dengan mereka lagi?!

Dengan berat hati, aku pun menuruti permintaan Jin untuk pergi ke gubuk Namjoon. Jin merangkul Jimin dan Taehyung, sejauh ini kami tampak seperti lelaki normal selama di perjalanan, tentu saja jika pembicaraan kami tidak terdengar oleh siapapun.

“Ayah, aku ingin balon itu.” pinta Taehyung.

“Berhentilah meminta sesuatu, jangan menambah beban pikiran ayah karena kemauanmu terlalu banyak!” Jimin menasihati Taehyung.

“Sudah, jangan berteman. Ayo, bertengkar.” Jin tersenyum.

“Mama ingin kami bertengkar?” tanya Taehyung.

“Memangnya tadi aku bilang apa? Sudahlah jangan bertengkar.” Jin mengacak rambut Jimin dan Taehyung.

Seperti itulah pembicaraan yang mengisi perjalanan kami. Jarak dari rumahku menuju gubuk Namjoon cukup jauh sehingga aku harus lebih ekstra sabar bersama mereka. Tiba-tiba…

CKITTTTT

Sebuah angkot berhenti mendadak karena hendak menabrak Jin. Kami semua kaget, terutama aku karena tak terbayang jika Jin tertabrak dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sudah pasti, Namjoon akan sangat murka.

“Hey, kalian! Berhati-hatilah kalau jalan!” bentak supir angkot itu dengan dialek Busan.

Jimin dan Taehyung yang tidak terima dengan perlakuan tukang angkot bernama Jung Daehyun –di bajunya tertera tanda pengenal– langsung menghampiri angkot kosong itu.

“Kau yang harusnya berhati-hati saat menyetir!” bentak Taehyung.

“Heh, bocah, jangan meremehkan kemampuan menyetirku!” balas Daehyun.

“Lebih baik kau pergi untuk menjalani tes menyetir! Aku yakin kau tak punya SIM!” ucap Jimin.

“SIM? Apa itu?” tanya Daehyun.

“Kau tak tahu? SIM itu Surat Izin Menikah. Ayo, kita pergi ke KUA untuk menyelesaikan pernikahan kita!” ucapan Jimin membuatku menjitak keningku. Kenapa ada makhluk seperti dia?!

“Ah, t-tapi… aku belum siap…” wajah Daehyun tampak merona.

“Tidak apa-apa. Aku sudah siap untuk masa depan kita.” Jimin meraih tangan Daehyun lalu menatapnya dengan yakin.

“Apa yang kau bicarakan?!” Taehyung menjitak kepala Jimin.

Jimin mengelus kepalanya sambil menoleh ke arah Taehyung. “Aish… Taehyung.” Jimin kembali menoleh pada Daehyun. Lalu ia melihat tangan kanannya yang sedang bergenggaman dengan Daehyun. “Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiy, apa-apaan ini?!” Jimin langsung membebaskan tangannya dari tangan Daehyun.

“Tukang angkot menyebalkan! Semoga tidak ada yang mau menumpang!” sumpah Taehyung.

“Dasar kalian anak kurang ajar!” bentak Daehyun.

“Kau yang kurang ajar!” Jimin menendang angkot Daehyun dengan kekuatan Hulk-nya sehingga angkot itu terpental sejauh 3 mil dari tempat kami.

Aku dan Jin menganga melihat kejadian itu. “Kabur!!!” ucap Jin. Kami pun segera berlari. Gaya berlari kami pun berbeda-beda, aku dan Jimin lari seperti orang normal, sementara Jin lari seperti seorang princess namun untungnya ada Taehyung yang membantu Jin berlari dengan kecepatan cahayanya.

“Mana rumah Namjoon? Bukankah harusnya di sekitar sini?” tanyaku yang mulai kelelahan setelah berlari. “Apa rumahnya digusur pemerintah?”

“Ya! Jangan bicara seperti itu!!” ucap Jin. “Aku juga tidak tau… tapi tempat apa ini?” Jin menunjuk sebuah gubuk bertuliskan ‘Dukun Kim’. “Aku yakin, dulu rumahnya di sini.” lanjutnya.

“Tidak mungkin kalau ini gubuk Namjoon, berbeda sekali.” ucapku yang dibalas anggukan oleh Jimin.

“Namjoon itu siapa?” tanya Taehyung.

“Dia kakek kita. Dan nenek kita namanya Hoseok. Mereka orang tua mama.” jawab Jimin sementara Taehyung hanya mengangguk-angguk. “Ayah, kenapa tidak kau coba masuk? Kau sedang mencari temanmu ‘kan?” tanya Jimin.

“Aku tidak percaya pada hal itu, tapi… boleh saja jika dicoba.” ucapku lalu mulai memasuki gubuk itu diikuti Jin, Jimin dan Taehyung.

“Permisi…” ucap Jin.

Setelah kami masuk, kami menemukan seseorang tengah duduk membelakangi kami. “Mungkin itu dukunnya.” batinku.

“Duduklah.” ucap orang itu dengan suara yang berat. Dia memakai jubah hitam yang juga menutupi kepalanya. Di depan kami ada meja dengan berbagai macam sesajen, kelopak bunga mawar, dan menyan yang dibakar. (Ini author kenapa hapal banget)

Kami semua pun duduk. “Aku ingin memintamu menemukan temanku.” ucapku. “Namanya Jeon Jungkook.”

“Baiklah. Kalian jangan berisik. Aku harus berkonsentrasi untuk menerawangnya.” ucap dukun itu. Dia mulai menggerak-gerakkan tangannya dan membaca mantra yang tak ku mengerti. “Arrghh!” dia menggeram. “KELUARLAH!!!” teriaknya membuat kami semua kaget. Beberapa detik kemudian…

‘BROOOOOOOOOOOOTTTT’

Terdengar suara dan asap hitam mulai muncul menyelimuti seluruh ruangan. “Ugh, bau apa ini?!” tanyaku seraya menutup hidung.

Jimin dan Taehyung yang mencium baunya langsung jatuh pingsan. Sementara Jin malah mengendus bau itu. “Ini seperti bau kentutnya ayah!” seru Jin.

“Oh, maaf… sudah dua hari aku tidak buang gas, akhirnya bisa juga. Hehehehe…” dukun itu tertawa.

“Sudahlah! Sekarang katakan dimana temanku itu?” ucapku.

“Jeon Jungkook? Sebentar lagi dia akan datang kemari.” jawabnya.

Kami pun diam menunggu kedatangan Jungkook. Kabut hitam pun mulai menghilang, kesadaran Jimin dan Taehyung pun sudah kembali. “Ya, Tuhan… baunya busuk sekali.” ucap Taehyung.

“Dia datang!” seru dukun itu. Kami menoleh ke luar.

DEG DEG DEG

“Suamiku~~~ kita punya anak baru~~~” seru seseorang dengan suara cempreng dari luar. Dukun itu langsung membuka tudungnya dan berlari keluar.

“NAMJOON?!” “AYAH?!” “KAKEK?!” ucap kami serempak. Kami pun mengikutinya keluar.

Kami melihat Namjoon, Hoseok dan anak barunya berpelukan. “Jin, kemarilah! Temui adikmu!” ucap Namjoon.

“Wah, anakku yang cantik ada di sini bersama suami dan anak-anaknya. Ah, aku bahagia sekali…” ucap Hoseok sambil bercucuran air mata.

Mereka pun berhenti berpelukan. Lalu kami pun melihat wajah anak baru mereka.

“………… JEON JUNGKOOK???!!!!!” ucapku dan Jin serempak karena kaget.

“Hai hyuuuuuuuuuuuung!!” seru Jungkook sambil tersenyum polos.

“K-kau… kau kenapa… bagaimana bisa??” tanyaku.

“Aku jatuh bangkrut hyung.” jelas Jungkook. “Maaf aku tidak bisa membantumu. Tapi, aku senang punya keluarga baru! Aku seperti terlahir kembali, yeeeee!!” seru Jungkook.

‘BLAAAARRRR’

Tiba-tiba gubuk Namjoon terbakar. “ISTANAKUUUUUUUUUU!!!” jerit Namjoon. “Aku lupa mematikan gas yang dipakai untuk membakar menyan tadi!” keluh Namjoon.

“Ah, tidak apa-apa. Kalian bisa tinggal bersamaku di rumah Yoongi.” Jin tersenyum.

“A-apa?! TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKK!!!”

Akhirnya… mereka hidup dengan bahagia. Tentu saja semua itu di atas penderitaanku. Tak ada kata bahagia dalam hidupku. Kebahagiaan yang datang hanyalah kebahagiaan semu yang sesaat. Setiap hari kepala ku terasa sakit tapi setelah minum obat rasa sakit itu mereda.

Aku mencoba menerima semua ini dengan ikhlas dan lapang dada. Emosi yang terasa ku keluarkan menjadi tawa karena melihat tingkah mereka yang gila. Walaupun terasa berat, tapi tetap ku jalani hidup ini. Aku juga bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan. Menghirup udara, menerima kehangatan sinar matahari dan menatap indah alam milik-Nya.

Namjoon dan Hoseok yang selalu ceria dan penuh tawa. Jin yang selalu tersenyum dan sabar. Jimin yang selalu bekerja keras. Taehyung si manusia harimau. Dan Jungkook yang berguru pada Jimin dan Taehyung agar bisa menggabungkan kekuatan Hulk dengan Harimau. Senang tidak senang, aku harus bisa menerima mereka dalam kehidupanku.

Itu yang dapat ku ceritakan. Semoga kalian tidak hanya membaca, tetapi juga dapat memetik pelajaran yang sama sekali tidak dapat ku ajarkan. Sekian dan terimakasih. Catatan Hati Seorang Yoongi berakhir di sini.

THE END :’V

Akhirnya Poor Bangtan selesai, duh sedih ya (?) semoga kalian gak overdosis ketawanya, author gak mau tanggung jawab soalnya /sweet smile/?

Gak tau mau ngetik apalagi, pokoknya respon kalian ditunggu! Don’t be silent reader :p

See you and thank youuuuu /lambai bareng BTS/

About fanfictionside

just me

3 thoughts on “FF/ POOR BANGTAN/ BTS-BANGTAN/pt. 3

  1. Deuuh ini ff akhr.a hadir d permukaan juga, dan alhasil huaahh trimaksih atas tawa.a hahahaha sumpah ini ff apa bgt udah aneh ricuh pula hahaha suka suka, lucu bgt lahh

  2. Rasanya pengen bgt yee nabok jin sama taehyung, tapi taehyung pacar sih, jadi gak bisa, kalo jin terlalu cantik untuk dipukul :’v btw suami gue (baca: yoongi) itu sabar bgt elah :’v makin sayang gue sama dia *apa ini* btw dari 3 part gue cuma komen part ini, sorry thor :3 tapi pas pertama gue baca baru pertama kali gue liat ff yg nge pair namjoon-hoseok secara gak langsung, dan bayangin aja, jin yg diff dan di dunia nyata lebih tua dari NamSeok jadi anaknya, terus si jimin pengertian bgt sama yoongi, woaa yoonmin moment ~~

  3. oh yaampun kelar nih cerita gokil….
    Hahaha…
    Sumpah, mengelitik bgt sifat2 mereka yg aneh2😀
    lucubget….😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s