FF oneshot/ H.I.M/ BLOCK B


Title: H.I.M || Author: Rannie Park || Genre: romance, friendship, life || Rating: T, PG 17+ || Length: oneshot || Main cast: Woo Jiho (Block B) & Yoon Minyoung (OC)

Poster by Jungleelovely @ http://posterfanfictiondesign.wordpress.com

 rannie-park2

***

“Hoaahmm…”

Aku menggeliat di pagi hari yang cerah ini. Sambil menghirup udara pagi, aku mulai membayangkan bagaimana sekolah baruku nanti. Apa aku bisa betah di sekolah baruku? Apa aku akan mendapat teman? Apa mereka bisa menerima sifatku yang —sedikit— agak keterlaluan ini?

Aku masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan eomma yang sedang memasak. Oh ya, aku anak tunggal. Eomma bekerja sebagai dokter spesialis organ dalam. Uri appa……… appa sudah meninggal 2 tahun lalu.

Jadi anak tunggal tidaklah menyenangkan. Banyak hal yang membosankan. Aku ingin punya eonni yang bisa diajak curhat. Pasti menyenangkan sekali kalau curhat berbagai hal dengan kakak sendiri. Maka dari itu tak heran kalau aku sering menginap di rumah teman.

Selesai sarapan, eomma mengantarku ke sekolah baruku. Sesampainya di sana, aku kagum bukan kepalang. Sekolah ini benar-benar luas dan megah.

Lalu eomma pun pergi ke ruang tata usaha —dengan aku yang mengekor— untuk mengurus semua administrasi ku. Aku hanya tinggal menunggu pelajaran dimulai.

Bel tanda masuk pun berbunyi. Aku mengikuti langkah ssaem-ku di mana akan mengajar. Kelas 1-C. Apa kepintaranku di sini hanya sebatas 1-C? Atau hanya kelas ini yang punya bangku kosong? Aku pun tersadar saat suara yang tadinya gaduh berubah hening karena ssaem yang ku ikuti sedari tadi sudah masuk.

“Hello, my students. You’re very cheerful today. I love you, hahaha… Okay, kita kedatangan teman baru. Kalau biasanya teman baru yang mengenalkan diri, kali ini ssaem yang akan mengenalkannya pada kalian. Namanya Yoon Bomi. Eh.. salah. Maksudnya Yoon Minyoung. Tinggi 161cm, berat badan 43kg, golongan darah B, dan…… omo, kenapa ssaem jadi bercanda gini ya? Hahaha… Baiklah, dia pindahan dari Busan High School,” ucap ssaem itu panjang lebar. “Ada lagi teman baru?” tanyanya padaku.

“Mm, saya belum mengenal ssaem,” jawabku sopan.

“Oh, saya… Nama saya Song Hyegyo. Nama sebenarnya Song Hyera. Call me ‘the most beautiful of teachers’ in our school. Saya guru yang masih single di sekolah ini dan terkenal dekat dengan siswa. Saya lahir di rumah sakit dengan selamat tanggal 17 September 1986. Tinggi 165cm, berat badan 45kg, golongan darah O. Hobi saya chatting, traveling, shopping, climbing, painting, swimming, reading, fishing, cooking, dan semua yang berakhiran –ing. Cita-cita saya sebenarnya ingin menjadi artis. Dan saya…”

“Stop, ssaem… Stop!! Ssaem tak perlu menjelaskan serinci itu. Saya hanya butuh nama ssaem saja,” cegahku. Aissh, telingaku sudah berasap dari tadi mendengarnya.

“Geurom. Sekarang silahkan duduk di belakang prince Jiho,” perintah Song ssaem sambil menunjuk kursi kosong.

Pelajaran berlanjut biasa saja menurutku. Dan pada saat istirahat, aku hanya duduk terdiam di kursiku. Terlalu malas untuk memulai interaksi. Sampai beberapa yeoja datang menghampiri…

“Minyoung-ah… Minyoung-ah, kau mau masuk ke kelompok kami tidak?” tanya salah seorang dari mereka yang ku yakini adalah leader kelompok itu.

“Kelompok?” tanyaku —sedikit— bingung. Kelompok apa ini?

“Iya, kelompok ini terkenal di antar siswa kelas 1. Karena kami semua cantik-cantik, hehe.. Nama kelompok kami Angel Rainbow. Satu anggota kami pindah sekolah dan kami butuh orang lain untuk menggantikannya,” jawabnya. “Oh ya, sebelumnya ku perkenalkan dulu. Aku Minjung, ini Yejin, ini Eunji, ini Sohee, ini Minah, dan ini Gaeun,” tambahnya sembari menunjuk satu per satu temannya.

Aku mengerutkan dahiku memandangnya. “Kalian bukan yeoja kecentilan yang suka tebar pesona bukan?” tanyaku cuek.

Minjung tertawa. “Kami tak seperti itu. Percayalah,” Gaeun menjawab.

“Joah, hajiman….,” aku menggantungkan ucapanku.

“Hajiman mworago?” tanya Minjung.

“Kalian yakin bisa menerimaku?” tanyaku balik.

“Memang ada apa?” tanya Eunji penasaran.

“Aku orang yang tidak bisa tenang di kelas. Terkadang aku mengacuhkan ssaem yang sedang mengajar. Aku slalu mengatakan sesuatu secara gamblang. Aku juga suka mengkritik tajam temanku sendiri. Dan kalau aku membenci seseorang, aku akan terang-terangan menunjukkan rasa benciku,” jawabku cuek.

“Gwaenchana. Dari awal, kita sudah mulai menyukaimu,” ucap Sohee.

“Gomapta,” balasku cuek.

***

Dua minggu kemudian….

Gaeun berencana menyatakan perasaannya pada Jiho, laki-laki yang duduk di depanku. Yah, semua anggota Angel Rainbow menyukai Jiho —kecuali aku—. Aku tentu saja tak punya perasaan apa-apa padanya. Sedikit penjelasan tentang Jiho: dia laki-laki jangkung yang mengikuti ekskul sepak bola, juga siswa terpandai di kelas 1-C. Menurut siswa siswi lain, Jiho adalah siswa tertampan dari seluruh siswa kelas 1-C ­—yang tentunya A-KU-TI-DAK-BER-MI-NAT-DAN-TAK-PE-DU-LI—.

Pada hari yang sudah ditentukan, Gaeun menunggu Jiho di depan ruang ganti. Anggota klub sepak bola yang lain —mungkin— sudah pulang. Kami berenam mencari tempat yang aman untuk mengintip. Jiho keluar dari ruang ganti, dan………… proses pernyataan cinta pun dimulai.

Kemudian…

Aku pun berlari menghampiri Gaeun diikuti yang lainnya. Gaeun menangis.

“Dasar laki-laki tak tau diri! Jadi manusia jangan sombong. Apa kamu pikir hanya kamu laki-laki tampan?! Jangan karena semua memujimu tampan kamu jadi besar kepala. Aku muak melihatmu!” labrakku dengan penuh emosi.

“Geurae. Lebih baik kalian cari yang ‘lebih’ dariku,” ucapnya cuek sambil berlalu meninggalkan kami.

“Yak, nappeun saekki! Aku bersumpah kalau kau tak akan punya pacar. Enyah dari muka bumi ini!!!” teriakku. Jiho tidak mengacuhkan teriankanku.

***

Semenjak kejadian itu, aku dan Jiho selalu adu mulut setiap bertemu —hampir setiap hari—. Paling cepat setidaknya 5 menit.

“Minyoung-ah, lebih baik kau tak usah meladeni Jiho. Tak ada gunanya,” ucap Sohee suatu hari.

“Aku benci. Benci setengah mati melihatnya,” ujarku geram.

“Hati-hati, benci itu bisa berubah jadi cinta,” ucap Gaeun.

Benci jadi cinta? Menurutku 50:50, antara percaya dan tidak percaya dengan teori itu. Tapi perlu diwaspadai juga. Jangan sampai aku jatuh cinta padanya. Oh, aku pernah membayangkan ‘bagaimana kalau aku dan Jiho menjadi sepasang kekasih?’ Bukannya berdebar, malah aku bertambah benci.

***

Suatu hari, kami bertujuh sedang berkumpul di kantin. Kami sedang tidak mood di kelas, karena ssaem yang mengajar hari itu tak dapat hadir.

“Chingu-ya… Lusa bukannya white day?” tanya Yejin.

“Oh iya… Omo, aku deg-degan sekali. Kira-kira aku akan mendapat hadiah dari siapa ya? Semoga surat cinta dari Jiho,” Minjung mulai berkhayal.

“Bagaimana kalau waktu white day kita berangkat bersama? Biar kita semua sama-sama melihat surprise masing-masing. Eotte?” usul Minah.

“Aku setuju. Kalian?” ucap Eunji.

“Setuju, ssaem.. Setuju!!” teriak Gaeun. Aku dan lainnya hanya mengangguk setuju.

***

Seperti yang diusulkan Minah, kami berangkat bersama ke sekolah. Pada saat melewati papan pengumuman, kami melihat banyak siswa berkerumun. Tapi tidak terlalu ramai karena masih ‘terlalu’ pagi untuk siswa datang ke sekolah. Kami pun menuju papan pengumuman karena penasaran.

Ku baca deretan-deretan nama yang terpajang. Aku bingung. Ini daftar apa??? Ku lihat namaku ada di deretan nomor 10. Aku pun membaca judul daftar nama tersebut. MWO?!! Daftar nama siswi yang paling diincar siswa? Apa-apaan ini?! Aku memang melihat semua anggota Angel Rainbow masuk daftar 10 besar. Minjung, leader kami berada di urutan pertama. Tapi tetap saja ini pekerjaan konyol. Beberapa saat kemudian, kami menyingkir dari papan pengumuman.

“Aku tak menyangka ternyata aku populer juga,” ucap Minjung bangga. Aku hanya tersenyum menanggapi. “Aku harus menemui Dayeon sunbae. Hmm… sekretaris president school ini punya ide bagus juga. Tapi kenapa Minyoung yang paling rendah dari kita semua?” cerocos Minjung.

“Aku tak memperdulikan hal yang seperti itu. Tidak begitu penting. Yang terpenting kebersamaan kita,” ucapku.

“Nah, benar,” sahut Yejin.

Di dalam kelas, aku kembali kaget. Banyak hadiah yang menumpuk di mejaku. Aku pun bergegas menuju mejaku.

“Apa-apaan ini? Mau ditaruh ke mana semua ini?” gerutuku.

“Wah, banyak sekali. Jangan khawatir, Minyoung-ah. Guru yang masuk nanti Song ssaem. Dia pasti maklum,” ucap Minjung.

“Aku tau. Tapi bagaimana dengan ssaem yang lain?” tanyaku.

Kami pun memindahkan tumpukan hadiah itu ke belakang kelas disertai ancaman pada siswa yang lain ‘jangan sampai mereka menyentuhnya’. Bagiku hadiah itu sesuatu yang harus dihargai karena inilah pengajaran yang diberikan eomma.

Pada jam istirahat, kami mengikuti Minjung mengunjungi kelas Dayeon sunbae. Beruntung Dayeon sunbae ada di kelasnya.

“Dayeon sunbae!” panggil Minjung sambil mendekatinya. Kami juga mengikuti Minjung. Minjung menarik kursi dan meletakkan di samping kursi Dayeon sunbae. Kami hanya memilih berdiri menunggu Minjung —walau kami persis seperti dayangnya—.

“Sunbae, yang ada di pengumuman itu benar tidak?” tanya Minjung.

“Oh, itu… Iya, benar. Aku sudah menyusunnya sebelum white day. Apa kau senang?” jelas Dayeon sunbae. Oh, mereka sudah saling mengenal dengan baik.

“Aku senang sekali, sunbae,” jawab Minjung dengan mata berbinar.

“Mmm.. kau tau yang namanya Yoon Minyoung?” tanya Dayeon sunbae. Semua member Angel Rainbow menunjukku —kecuali aku tentunya—.

“Oh, pantas saja. Dia cantik sekali. Aku tiba-tiba merasa menjadi itik buruk rupa,” ucap Dayeon sunbae —dengan sangat berlebihan—.

“Member Angel Rainbow memang cantik semua,” Minjung terkekeh.

“Menurut pandanganku sendiri, secara banyaknya suara, Minjung memang menang. Tapi setelah ku teliti lagi siapa saja yang memilih Minjung tak ada apa-apanya dengan yang memilih Minyoung,” terang Dayeon sunbae. “Aku harap kau tak marah, Minjung-ah. Ini kenyataan. Aku juga tak percaya dan sampai iri dibuatnya. Coba kalian lihat kertas ini. Ini daftar nama siswa yang memilih Minyoung. Semua itu adalah siswa populer di sekolah ini,” tambahnya.

“Marah? Untuk apa? Kami tak mempermasalahkan hal yang sepele seperti itu, sunbae,” ujar Minjung. Kami mengangguk membenarkan.

“Sunbae, Jiho dari kelas 1-C… siapa yang dia pilih?” tanya Eunji. Mereka semua langsung menatap Dayeon sunbae penasaran. Aku juga —sedikit— penasaran.

“Oh, Jiho. Anak itu benar-benar susah diajak ngobrol. Hal yang sepele bisa berubah ribet. Dia tak mau menjawab pertanyaanku dan slalu menghindar,” jawab Dayeon sunbae. “Jiho berbeda sekali dengan kakaknya. Jiho itu orangnya cuek dan dingin. Sedangkan kakaknya, tipe semua perempuan. Kalem, ramah, murah senyum, dan hangat. Waktu aku bertanya ‘Jiseok-ah siapa perempuan di sekolah ini yang kamu suka?’ dengan entengnya dia menjawab ‘Minyoung dari kelas 1-C’,” lanjutnya.

“Mwo?! Jiseok sunbae itu kakaknya Jiho?? Kenapa aku tak sadar ya? Di dunia ini ada kakak adik yang begitu keren, benar-benar tak terduga,” ucap Yejin.

“Minyoung ini kelihatannya berbeda dari kalian semua. Agak cuek dan dingin. Mirip Jiho.” Ucapan Dayeon sunbae sukses membuatku melotot tajam padanya. Enak saja dia menyamakanku dengan Jiho sialan itu.

“Stop, stop! Dayeon sunbae, tolong jangan mengungkit Jiho lagi. Minyoung musuh bebuyutannya Jiho,” ucap Sohee pelan —seperti takut menyinggungku—. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke tempat lalin. Mataku terpaku pada sosok laki-laki yang masuk ke dalam kelas ini. Keren.

“Dayeon-ah…”

“Jiseok-ah, ada Minyoung di sini,” goda Dayeon sunbae. Ku lihat pipinya merona. Aku tersenyum geli.

Dayeon sunbae makin semangat menggoda Jiseok sunbae.

“Aku merasakan ada aura pink di antara kedua sejoli ini,” ucap Minah. Aku langsung menjitaknya.

“Aura pink nenekmu!” gerutuku. Aku berjalan meninggalkan kelas ini. Harus segera meninggalkan kelas ini atau aku akan diledek juga. Saking buru-burunya keluar dari kelas, aku sampai tak melihat apa yang di depanku dan berakhir dengan menabrak seseorang hingga aku jatuh terduduk di lantai. Aku meringis kesakitan. Sebuah uluran tangan memberikan bantuan. Tanpa pikir panjang aku langsung menyambutnya.

“Mianhae, hajiman gomawo-yo,” ucapku sambil mengelus bokongku yang sakit. Sesaat aku pun tersadar dengan sosok yang ada di hadapanku. “Zico?!!” ucapku kaget melihat sosok laki-laki yang menurutku paling menyebalkan.

“O-oh, singa dan macan ketemu,” ucap Eunji yang masih bisa ku dengar. Aku menatap tajam ke belakang —ke dalam kelas tepatnya—. Di sana Dayeon dan Jiseok sunbae beserta keenam temanku menatap ku. Aku mengalihkan pandanganku lagi. Jiho sudah berlalu meninggalkanku.

Sialan! Aku benci melihat sifatnya yang angkuh itu. Ku lepas sebelah sepatuku dan ku lempar padanya. Tepat mendarat di kepala!!

Dia berhenti dan memungut sepatuku —sambil menatapku tajam—. Tiba-tiba aku merasa takut. Tapi dia malah pergi dengan membawa sepatuku.

“Yak, kembalikan sepatuku!” teriakku.

“Kembalikan? Sepertinya sepatu ini tak ingin kembali pada pemiliknya,” ucap Jiho cuek tanpa menoleh.

“Cepat kembalikan!” teriakku kembali sambil mengikutinya.

“Sudah ku bilang, sepatu ini tak ingin bersama pemiliknya. Tapi kalau kau ingin sepatu ini kembali, ambil sendiri,” ucap Jiho lalu berlari kencang.

Aku berlari mengejarnya. “ZICOOOO!!!” teriakanku menggema di koridor.

***

Suatu hari, aku dihukum membersihkan perpustakaan karena…. Yah, karena aku kedapatan tertidur saat ssaem sedang menerangkan pelajaran. Menyebalkan!

Setelah selesai membersihkan perpustakaan, aku bergegas untuk pulang. Tapi lagi-lagi kesialan menimpaku. Hujan turun sangat deras. Aku harus menunggu hujan reda. Aku kelaparan. Ponsel lowbatt. Lengkap sudah penderitaanku.

“Yak, nenek sihir! Sedang apa kau di sini?” tanya seseorang.

Aku menoleh. “Tch, seharusnya aku yang menanyakan itu. Kau tak ada kerjaan di sini,” ucapku sinis.

“Apa urusanmu?” tanyanya yang sama sinis.

“Urusanku? Ini sudah jelas menjadi urusanku karena kau seperti hantu yang terus menggangguku,” balasku.

Dia cuek kembali dan ku lihat dia mengembangkan payung yang ada di tangannya. “Kau mau ikut pulang?” tawarnya.

Apa?! Apa aku tak salah dengar? Dia dan aku? Bukannya kami tak pernah akur? Ah, aku ingin tapi…. Shiro, shiro-yo! Tak mungkin aku pulang dengan musuhku. Tidak akan!

“Shiro!” tolakku.

“Geurae.” Jiho berjalan meninggalkan ku. Wajahku memelas ketika dia pergi. Tapi buru-buru aku memasang ekspresi galak ketika dia berbalik.

“Kau yakin tak mau ikut?” tanya Jiho lagi. Aku terdiam bingung sambil menundukkan kepalaku. Ku lihat langkah kakinya mendekatiku.

“Untuk sekarang, hilangkan rasa gengsimu. Bukan saatnya kau memikirkan kalau kita sedang bermusuhan. Kalau aku tetap mengingatnya, aku tak akan menawarimu.”

Aku meliriknya. “Zico…,” lirihku.

“Mwo?! Kau terharu? Tak ada waktu untuk terharu. Kajja!” Jiho menarik tanganku dan merapatkan tubuhku padanya. Jelas ini membuatku kaget. Omo, ada apa ini? Kenapa tubuhku merinding?

“Masuk,” perintahnya sambil membukakan pintu mobilnya. Aku menurut.

“Pasang sabuk pengamannya,” perintahnya lagi saat dia sudah masuk ke dalam mobil. Dan lagi aku menurut. Aissh, setan apa yang merasukiku? Kenapa aku tetap menuruti kata-katanya?

“Hei, kau tak akan berbuat yang aneh-aneh bukan?” tanyaku setelah mobil melaju. Hftt… akhirnya aku mengatakan sesuatu juga.

“Apa maksudmu yang seperti ini?” Jiho mengelus pahaku —hampir menyentuh sesuatu yang pribadi—.

Aku kaget. “Dasar mesum! Berhenti! Aku akan pulang sendiri. Zico berhenti!” perintahku. Jiho tak mengubris dan tetap fokus menyetir.

“Aku akan melompat dari mobil ini,” ancamku.

“Lompatlah!” Aku melotot. Ku coba membuka pintunya dan ternyata terkunci.

“Zico, ku mohon… aku ingin pulang. Jebal…,” mohonku sedikit terisak. Memalukan. Tapi aku benar-benar takut.

Jiho menepikan mobilnya di pinggir jalan. Aku menatap ke depan. Itu hotel!!!

“Aww, appo!!” Aku meringis kesakitan saat mendapat jitakan di kepalaku.

“Jangan lihat yang di depan. Lihat yang di samping. Aku lapar. Aku tak bisa konsentrasi menyetir dengan perut kosong. Mau ikut?”

“Nan niga shiro!” Aku berkata ketus untuk menutupi rasa malu ku dan takutku.

“Baiklah, aku makan dulu. Kau jangan pergi ke mana pun.”

Begitu Jiho keluar dari mobil, aku memasang wajah melas. Aku juga ingin makan…

Dan aku pun menunggu Jiho hampir setengah jam. Aissh, aku bisa mati kelaparan.

“Menunggu lama?” tanya Jiho yang sudah memasuki mobil.

“Tentu saja. Apa kau makan sambil tidur?” omelku.

“Mian. Aku tadi tak bermaksud menyentuhmu. Ini, kau pasti lapar. Makanlah.” Aku menangkap bungkusan kertas yang di lempar Jiho. Dasar anak ini…

Aku sedikit ragu untuk menerimanya. Ternyata Jiho baik juga walau dengan caranya yang menyebalkan itu. Pikiranku langsung menerawang membandingkan sifat buruk dan baiknya.

“Apa kau sedang terharu?” pertanyaan yang membuat lamunanku buyar.

“Kau benar-benar menyebalkan. Aissh, miwo-yo!!” bentakku.

“Na do.” Jiho benar-benar cuek dan sekarang dia hanya fokus menyetir mobilnya.

Aigoo, anak ini membuatku terkena stroke ringan.. Aissh, jinjja!!!

***

“Annyeong!” sapa Minjung saat masuk kelas. Dia selalu datang paling akhir.

“Annyeong!” balas kami berenam.

“Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?” tanyaku.

“Coba tebak kenapa wajahku begini,” pancing Minjung.

“Dapat mobil baru?” tanyaku asal. Minjung menggeleng.

“Dapat tawaran menjadi model?” tanya Minah. Minjung masih menggeleng.

“Dapat pernyataan cinta dari namja tampan?” tanya Gaeun.

“Gaeun-ah… mengingat kata tampan, hatiku makin berbunga-bunga. Walaupun masih belum mungkin, tapi tak ada salahnya berharap bukan? Clue-nya adalah namja tampan,” ujar Minjung.

“Namja tampan. Belum mungkin. Berharap,” aku mengucapkan kata kuci satu per satu.

“Omo, siapa namja itu? Membuatku penasaran,” Sohee terlihat tak sabar.

“Semalam Jiho mengirimiku pesan!! Aku senang sekali. Tapi….. dia juga sempat menanyakan alamat Minyoung. Sepertinya Jiho menyukai Minyoung,” terang Minjung.

Jiho menanyakan alamatku? Bukannya dia sudah tau? Mau apa dia menanyakan alamatku? Apa dia lupa?

“Sepertinya cintamu bertepuk sebelah tangan. Tapi kau benar-benar beruntung. Setidaknya kau sudah mendapatkan nomor Jiho,” ucap Eunji.

“Aku sempat histeris saat membaca pesan terakhirnya. You’re so gergous and I like you. Wah, aku bisa gila,” ucap Minjung lagi dengan wajah berseri-seri. Aku tersenyum melihat ekspresinya.

Saat Minjung membicarakan Jiho, orangnya tepat berada di pintu kelas. Aku melihat Minjung memasang senyum termanisnya di depan Jiho. Jiho yang berjalan menuju kursinya berhenti sambil menatap tajam Minjung. Aissh, ekspresinya itu membuatku emosiku naik.

“Kau sudah gila? Salah makan obat? Kau pikir aku badut atau lelucon lainnya? Berhenti tersenyum,” bentak Jiho.

“Jiho-ya, baru kemarin kau bersifat lembut. Kenapa sekarang kembali galak seperti ini? Apa kau malu dengan pesan itu?” tanya Minjung.

“Pesan? Aku tidak mengirim pesan pada siapa pun semalam. Dan lagi aku tak punya kontak dengan nama Park Minjung,” ucap Jiho.

“Jadi yang semalam siapa?” tanya Minjung bingung. “Aku rasa itu benar nomormu. Kau juga menanyakan alamat Minyoung,” ucap Minjung.

“Alamat yeoja gila ini? Aku sudah tau dan tak perlu menanyakannya lagi.”

“Yak! Apa kau yakin dirimu waras?!” tanyaku emosi sambil bangkit dari tempat dudukku. Aku ingin mencakar wajahnya. Tapi Yejin dan Sohee langsung menahanku. Jiho melirikku sebentar lalu kembali cuek.

“Berikan ponselmu!” perintah Jiho.

“Buat apa?” tanya Minjung bingung sambil mengambil ponsel dari saku blazer-nya.

“Tunjukkan nomor kemarin.”

Minjung mengotak-atik ponselnya sebentar. “Ini nomornya.” Minjung memberikan ponselnya. Jiho menerima ponsel Minjung dan melihat nomor yang tertera.

“Itu nomor Jiseok hyung,” Jiho mengembalikan ponsel Minjung dan duduk di kursinya.

“Jiseok sunbae?” tanya Minjung.

“Pendengaranmu masih berfungsi bukan?! Woo-Ji-Seok!” gerutu Jiho sambil berjalan keluar dari kelas. Aissh, anak itu kenapa slalu membuatku kesal?! Ingin rasanya aku melempar dia ke jurang.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Ku periksa ponselku. Pesan dari eomma.

“Minyoung-ah, eomma tidak bisa pulang seminggu ini. Ada pasien rawat inap yang harus dioperasi. Tadi eomma berkunjung ke rumah teman lama. Jadi eomma sudah meminta anak teman eomma tinggal di rumah untuk menjagamu. Kamu yang akur dengan dia.”

Anak teman kenalan eomma? Aku merasa tak perlu dijaga lagi.

“Minyoung-ah, ada yang ingin ku tanya,” ucap Eunji.

“Apa?” tanyaku sambil menyimpan kembali ponselku.

“Dari mana Jiho tau alamatmu?” tanya Eunji balik. Aku terdiam. Apa aku harus menjawabnya? Tapi aku malu mengakuinya.

“Jangan-jangan kalian……………,” Gaeun menggantungkan kalimatnya. Semua menatapku tajam sambil menunggu jawaban. Satu lawan enam. Tentu aku kalah. Aku pun menggebrak meja.

“Yak! Mana mungkin aku dan dia ada hubungan. Waktu itu aku terpaksa pulang dengannya karena beberapa alasan. Pertama, hujan deras. Kedua, aku kelaparan. Ketiga, ponselku lowbatt. Lagi pula dia yang menawarkan. Niat baik seseorang tak mungkin ku abaikan,” ucapku ketus.

“Hei, kau tak malu satu mobil dengan musuh?” ledek Sohee.

“Tentu saja aku malu,” ucapku membenarkan.

“Atau, jangan-jangn orang tua kalian memaksa mu dan Jiho pulang bersama karena kalian dijodohkan?” tebak Minah.

Aku tertawa hambar. “Orang tua kami tak saling mengenal. Kau terlalu banyak menonton drama,” ucapku, lebih mengarah pada Minah.

Gaeun tertawa. “Kau harus waspada, Minyoung-ah,” ucap Gaeun menakutiku.

“Hellooooo~ yang harus waspada itu kau, Gaeun-ah. Bukannya kau masih menyukai Zico?” ejekku. Gaeun hanya tersenyum malu.

***

Aku sedang tidak mood pulang ke rumah. Terlebih lagi mengingat kata ‘anak teman lama eomma’. Aku pun berkeliaran di jalanan kota Seoul. Sekitar jam 8 malam, aku pulang ke rumah. Karena rumahku memasuki gang, aku berjalan dengan perasaan was-was.

Beberapa meter menuju rumahku, aku melihat seorang pria duduk di depan pintu pagar. Aku jadi semakin waspada. Setelah ku perhatikan lebih teliti, aku sangat terkejut. Anak itu……. Apa yang dilakukannya di sini?!

“Hei!” tegurku ketika aku sudah ada di hadapannya. Dia menatapku sekilas. Dengan agak susah payah dia berdiri dan tiba-tiba langsung memelukku. Aku yang tak terima dengan perbuatannya langsung menginjak kakinya dan mendorong badannya kuat. Badannya terhempas ke pintu pagar hingga dia kembali jatuh terduduk.

Aku sedikit khawatir karena melihatnya merintih tanpa perlawanan. Tapi, siapa suruh dia berbuat kurang ajar.

“Young-ah, di luar sangat dingin. Tolong papah aku ke dalam,” pintanya.

“Ke dalam? Untuk apa masuk ke dalam? Kau ada urusan apa?” tanyaku keki.

“Jebal.. aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang kau bantu papah aku dulu,” pintanya lagi dengan wajah memelas. Ku rasa itu bukan sebuah akting. Ku putuskan memapahnya ke dalam rumah dan mendudukkannya di ruang tengah.

“Omo, Zico-ya! Badanmu panas.” Aku panik setelah menyentuh dahi dan lehernya. Aku sudah merasakan sejak memapahnya. Dia hanya terdiam sambil menutup matanya. Aku pun bergegas mencari obat dari kamar eomma.

“Minum ini,” perintahku sambil duduk di sampingnya dan memberikan beberapa tablet obat serta air minum. Jiho menerima dan meminumnya perlahan.

“Kenapa kau berdiri di luar seperti orang bodoh?” tanyaku.

“Aku tadi mencarimu sepulang sekolah. Aku tak menyangka kau sudah pulang duluan. Ibumu memintaku menjagamu seminggu ini,” jawab Jiho.

“Pantas auranya jelek. Ternyata orang yang dimaksud eomma itu kau,” gerutuku. “Tapi kenapa kau tak menanyakan temanku saja?” tanyaku lagi.

“Kalau aku menanyakanmu pada mereka, mereka juga pasti bertanya-tanya ada hubungan apa antara aku dan kau. Kau pasti akan merasa malu,” jawab Jiho.

Aissh, anak ini kenapa masih mementingkan perasaan orang lain dibandingkan dirinya sendiri?!

“Bodoh! Ke mana sifatmu yang cuek itu? Urus saja dirimu sendiri. Jangan ikut campur urusanku. Yang malu aku bukan kau,” omelku.

“Aku tak bisa. Aku tidak ingin membuatmu semakin membenciku. Aku tidak bisa mengabaikanmu. Kau slalu saja membuatku gelisah. Membuatku slalu marah dengan kelakuanmu. Itu semua karena aku mencintaimu.”

Pengakuan spontan Jiho membuatku terdiam. “Zico…”

Perlahan-lahan dia mendekatkan wajahnya. Dan semakin dekat.

“Kau… mau apa?” tanyaku curiga. Jangan-jangan….

Jiho tak menjawab, malah semakin mendekat. Aku bergeser mundur menghindarinya. Matanya tiba-tiba seperti bukan orang sakit lagi. Dia langsung mendorong badanku hingga tertidur di sofa.

“Young-ah, kau pasti tak tau kalau ini lembut. Percayalah.”

Belum sempat aku mencerna kalimatnya, aku sudah merasakan bibirnya melumat lembut bibirku. Karena semua terjadi begitu cepat, aku hanya bisa bengong.

“Young-ah, aku serius. Jawab pertanyaanku. Apa kau memiliki perasaan yang sama denganku?”

Aku tersentak. “Um… beri aku waktu, Zico-ya,” ucapk tak terkendali.

Jiho tersenyum. Senyuman yang untuk pertama kalinya dia tunjukkan.

“Nama panggilanmu untukku kedengarannya bagus juga. Zico. Apa kau memikirkan sampai sejauh itu?”

“Apa itu penting?!” tanyaku galak. Hey, apa tadi aku kembali jutek? Hahaha… syukurlah!

Jiho hanya mengedikkan bahunya. “Kita coba sekali lagi?” tanya Jiho.

“Apa yang sekali lagi?” tanyaku balik dengan nada bingung.

“Kisseu,” jawab Jiho dengan entengnya.

“Jangan bermimpi!” ucapku sedikit sinis. Ku ambil bantal sofa ini dan menimpuk wajahnya. Lalu aku beranjak meninggalkannya. Belum sempat aku pergi jauh, Jiho sudah menarikku kembali duduk seperti tadi.

“Aku bertaruh, kau akan membalas ciumanku. Karena kau…….. juga mencintaiku.”

Jiho menarik tengkukku dan menautkan bibir kami berdua. Aku hanya diam menerima lumatan di bibirku. Ok, aku tak tau apa aku ini sadar, bermimpi, atau kerasukan. Yang ku tau aku membalas ciuman Jiho —setelah beberapa menit bibirku tak bergerak—. Kami saling memagut satu sama lain. Aku mengalungkan tanganku di lehernya. Aku yakin kalau aku sudah kerasukan. Aku menekan kepalanya untuk memperdalam ciuman kami. Kami bahkan sudah ingin melahap bibir satu sama lain. Berperang lidah. Bertukar saliva.

“Erghhh….,” erangku saat kami melepaskan tautan.

“Kau mau melanjutkan yang ‘lebih’? Kamar dan ranjang sudah menanti kita.”

Aku mengeluarkan death glare andalanku. “Tolong, tuan Woo. Sebaiknya anda merawat diri anda dulu. Saya curiga anda tidak benar-benar sakit.”

“Ciumanmu… seperti obat untukku. Aku merasa lebih baik,” ucap Jiho sambil mengelus bibirku. Wajahku… wajahku… tolong sembunyikan wajahku yang sudah berubah warna sekarang.

Aku menampik tangannya. “Ayo, masuk ke kamar! Kau harus istirahat.” Aku menarik tangannya secara paksa.

Jiho memelukku dari belakang, membuat langkahku terhenti. “Be mine? Would you be mine?”

Pertanyaan yang sukses membuat otakku buntu kembali. “Mmm… ya.” Aku tak tau apakah jawabanku tepat atau tidak.

Pelukannya mengendur dan aku langsung berjalan cepat menuju kamar untuknya. Terlalu malu.

“Aku harus mandi. Dan memasak bubur untukmu. Kau… tidur saja. Jangan membuatku repot,” aku mengingatkannya.

Oh, dia menurut. Segera aku bergegas mandi. Tanpa menunggu waktu yang lama, aku sudah berkutat dengan bahan-bahan di dapur. Memasak bubur bukanlah suatu hal yang sulit.

Setelah buburnya matang dan menuangnya ke dalam mangkuk, aku menaruhnya di atas nampan. Membawanya ke kamar Jiho. Ku lihat Jiho berbaring. Mungkin dia sudah terlelap. Aku memangku nampan ini saat duduk di bibir kasur. Lihatlah, wajahnya saat tertidur begini. Benar-benar polos dan……. Imut. Kenapa aku baru sadar kalau Jiho imut?

“Zico-ya, bangunlah. Kau harus makan dulu.” Aku menepuk-nepuk pipinya pelan.

Jiho mengerjapkan matanya. “Ada apa?” tanya Jiho. Tanpa menunggu bantuanku, Jiho sudah mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada head board.

“Ini…” Aku menyendokkan bubur dan memaksanya membuka mulut.

Jiho menerima suapanku dan mengunyahnya. Tatapannya tak beralih sedikit pun dariku. Aku jadi risih saat menyuapinya.

“Yak! Kenapa kau terus menatapku?”

Jiho tak menjawab, malah sekarang dia tersenyum. Aku tak tau arti senyum itu. Yang pasti senyumnya sudah membuatku salah tingkah. Semoga saja nampan ini tak terjatuh karena kegugupanku. Oh, pasti sekarang wajahku memerah. Sangat memerah.

“Kau… terlihat sangat…. errr… sexy malam ini. Menggoda.”

Aku melotot mendengar perkataan Jiho. Aku yakin kalau aku memakai pakaian lengkap dan tidak terbuka. Aku tidak juga memakai kimono handukku. Rambutku? Ok, rambutku memang masih sedikit basah karena harus memasakkan bubur.

“Dasar mesum! Jangan macam-macam atau aku akan membunuuhmu!!” teriakku.

“Yak! Aku ini pasien! Perawat mana yang membentak-bentak pasiennya?” balas Jiho.

Aku menyuapkan satu sendok penuh ke mulutnya dengan emosi. Dan anehnya dia tak melawanku dengan omelan. Hanya saja wajah menyebalkannya itu kembali lagi. Ingin rasanya aku mencakar-cakar wajahnya.

Selesai menyuapinya, aku menempelkan kompres demam otomatis dengan cuek. Aku tak mau menjaganya semalam. Itu merepotkan.

***

Keesokan harinya saat aku sudah siap berangkat sekolah, aku melihat Jiho keluar dari kamarnya lengkap dengan seragam dan tas yang menyampir di bahunya. Wajahnya tampak segar.

“Kau sudah baikan?” Aku meraba dahi dan lehernya. “Normal,” gumamku.

“Ayo, berangkat!” Jiho mendahuluiku keluar dari rumah.

Aku pun ikut keluar dan mengunci pintu rumah.

“Cepat naik!” perintah Jiho. Aku mendengus kasar. Sejak kapan mobil itu di sana? Seingatku Jiho datang ke rumah tanpa kendaraan apa pun.

Begitu sudah di dalam mobil, Jiho mulai melajukan mobilnya dengan laju yang tak normal. Apa dia pikir dia mirip Dominic Toretto? Atau anak ini terobsesi film The Fast and Furious? Ini masih terlalu pagi untuk kebut-kebutan. Kami juga tidak sedang terlambat. Dasar!!

Kami sampai di sekolah dalam hitungan menit. Sekolah masih tampak sepi. Aku dan Jiho jalan berdampingan. Tak ada obrolan. Hanya wajah cuek satu sama lain yang kami tunjukkan. Sampai di kelas, aku mendapati Gaeun, Minah, dan Yejin dan mereka tampak kaget. Aku juga kaget. Mereka sudah datang sepagi ini?!

“Minyoung-ah……… Kau………. Dia…….,” uapan Minah terputus-putus karena kaget dan bingung. Aku menggigit kecil bibirku. Mereka pasti akan menodongku dengan pertanyaan yang tak ingin ku jawab.

Ku lihat Jiho berjalan duluan ke mejanya dengan wajah cuek dan terkesan dingin. Aku mengikuti dengan langkah kecil. Begitu Jiho meletakkan tasnya, dia berlalu meninggalkan kelas.

“Ya Tuhan, singa dan macan jalan berdua. Tanpa adu mulut. Ada apa ini? Apa kiamat sudah dekat?” Minah mulai menyelidik.

Aku hanya menunduk saat tiga pasang mata mengintimidasiku.

“Baiklah, baiklah. Aku akan menceritakanya nanti,” ucapku menyerah.

***

Aku masih membayangkan kejadian semalam. Ciuman itu… kenapa setiap aku mengingatnya, seakan aku baru saja melakukannya? Astaga, aku bisa gila.

“Minyoung-ah, wae geurae? Makanannya tak enak?” tanya Minjung.

“Apa kau sakit? Wajahmu memerah,” sahut Eunji.

Aku menatap sekelilingku. Aku sadar sekarang, aku berada di kantin bersama keenam temanku. Aku pun tersenyum kikuk. “Anniya… gwaenchana,” jawabku.

“Minyoung-ah, ceritakan tentang yang tadi pagi,” desak Minah. Aku ingat akan menceritakannya.

“Cerita? Memangnya tadi pagi ada apa?” tanya Sohee penasaran.

“Minyoung dan Jiho yang terkenal tak pernah damai setiap bertemu, membuat kami kaget. Bayangkan, mereka berjalan bersama tanpa adu mulut. Garis bawahi itu,” terang Minah heboh.

“Mnyoung-ah, ceritakan!!” desak Minjung.

Aku mengurut dahiku. Terpaksa aku menceritakan kejadiannya. Dari awal hingga akhir —dengan penyensoran pada bagian pernyataan cinta dan ciuman—. Selesai aku menceritakan semuanya, mereka tertawa geli.

“Aku sudah menduganya dari awal. Akhirnya pasti begini,” ujar Minjung dan dibenarkan oleh yang lain.

Aku memanyunkan bibirku. Kenapa mereka malah meledekku?!

“Annyeong…” Perhatian kami semua kompak teralih pada sumber suara. Jiseok sunbae.

“Ah, sunbae… Museun suriya?” tanya Yejin.

“Prom night lusa….. uhm, aku butuh pasangan. Jadi….. Minyoung-ah, kau mau menjadi pasanganku?”

Aku membelalakkan mata kaget. “Aku?” tanyaku bingung sambil menunjuk wajahku sendiri.

“Eotte?”

Aku menatap temanku yang lain dan mereka hanya mengangguk. Aku pun ikut mengangguk.

“Geurom, lusa aku menjemputmu.” Selesai mengatakan itu, Jiseok sunbae meninggalkan kami. Keenam temanku mulai heboh menggodaku.

“Kau memikat kakak adik sekaligus,” ucap Yejin yang menyikutku. Wajahku memberengut kesal. Dan aku tak bisa membantah ucapan Yejin.

***

Saat pulang sekolah, aku menunggu sampai kelas sepi —menyisakan ku seorang diri—. Setelah aku yakin semua temanku sudah pulang, aku berjalan perlahan keluar kelas menuju tempat parkir. Tidak, ini lebih pantas disebut mengendap-ngendap. Tentu saja aku tak ingin seorang pun melihatku masuk ke dalam mobil Jiho.

Aku menarik nafas lega setelah berhasil masuk ke dalam mobil. Aku tak menyangka untuk masuk ke dalam mobil Jiho sama seperti mengikuti lari maraton.

“Yak! Kenapa kau lama sekali?!” suara Jiho merusak moodku.

Aku mendengus kesal. Anak ini tak tau bagaimana perjuanganku sampai ke sini.

“Penting bagimu, huh? Sudah, jalan saja.”

Jiho membawa mobilnya keluar dari area sekolah. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Aku tak berani membuka mulut. Melihat raut wajah dingin Jiho saja sudah membuatku ciut.

“Zico-ya, lusa depan aku akan ke prom night dengan Jiseok sunbae,” aku berusaha meminta pendapatnya.

Mobil direm mendadak dan sukses membuat keningku terantuk pada dashboard. Aissh… aku lupa memakai sabuk pengaman.

Aku meringis dan mengusap-usap keningku. “Kau mau membuatku mati?!” bentakku.

“Siapa yang mengizinkanmu pergi dengan Jiseok hyung?!”

Astaga, anak itu tak menanyakan keadaanku. Apa dia tak khawatir? Bagaimana kalau aku tiba-tiba terlempar keluar mobil dan ditabrak truk? Ok, itu pasti tak mungkin karena Jiho slalu mengunci pintunya. Tapi setidaknya dia harus khawatir.

“Kau tidak lihat aku baru saja kecelakaan? Bisa kau tidak menanyakan itu dulu?” omelku.

Aku bisa merasakan tatapan tajam dan menusuk seorang Jiho walaupun aku sedang mengusap keningku.

“Maaf aku tak menanyakanmu lebih dulu. Tapi saat itu aku dalam keadaan terdesak. Jadi aku jawab ‘ya’ saja. Aku hanya mengikuti usul teman-temanku,” ucapku akhirnya.

“Aissh, pabo yeoja!”

“Kau lebih bodoh lagi karena memilih gadis bodoh seperti ku.”

Sesaat suasana hening meliputi kami.

Jiho menghela nafas.

“Baiklah, kau boleh pergi dengan Jiseok hyung. Tapi hanya untuk malam lusa saja. Jangan melebihi dari itu. Mengerti?”

Aku mengangguk mengerti.

Tanpa bicara, Jiho memasang sabuk pengamanku dan kembali menyetir.

Beberapa menit perjalanan, akhirnya kami sampai di rumah. Aku mendahului langkah Jiho untuk membuka pintu. Baru saja aku akan masuk ke kamarku, Jiho menarikku untuk duduk di sofa ruang tengah.

“Tunggu di sini.”

Aku menatapnya bingung. Lalu bergumam tak jelas untuk mengiyakan perintahnya.

Aku tak mengerti kenapa aku jadi sepenurut ini setelah resmi jadi kekasih seorang Woo Jiho. Lebih mirip orang bodoh.

Aku terkaget saat seseuatu yang dingin menyentuh keningku. Aku terlalu banyak merutuk diriku dan Jiho, sampai tak sadar Jiho sudah duduk di sampingku.

“Manhi appo?”

“Mwo?” aku menatap Jiho seperti orang bodoh.

Jiho tersenyum. Dan pasti sekarang wajahku sangat memerah. Dalam jarak sedekat ini, aku bisa melihat paras rupawan Jiho.

“Young-ah, mianhae tadi sudah kasar.”

Aku mengangguk kaku. Kemudian Jiho mengecup keningku lembut, sampai-sampai aku merasa ingin terbang karena diperlakukan selembut ini.

Hei, aku benar-benar labil. Tadi aku mengumpatnya, lalu sekarang aku mengagungkannya. Mungkin aku harus ke psikiater. Siapa tau aku mengidap penyakit bipolar.

“Aku bisa mengompres sendiri.” Aku merampas kain berisi balok-balok es dan secepat mungkin memasuki kamar.

***

Saat pelajaran berlangsung, aku malah sibuk menuliskan sesuatu lalu mencolek punggung Jiho. Iya, kertas ini untuk Jiho. Tapi Jiho tak mengacuhkanku. Membuatku kesal dan menendang kaki kursinya.

“Siapa yang membuat kegaduhan itu?!”

Ok, karena aku menendang kaki kursi Jiho, suara gesekan antara kursi kaleng dan lantai merusak konsentrasi temanku yang lain. Aku tak menunjuk diri. Dan entah kenapa, semua yang ada di kelas seolah melihat kelakuanku itu. Dengan kompaknya mereka menatapku —kecuali Jiho—.

“Kau lagi… Yoon Minyoung, keluar dari kelasku. Kau slalu membuat masalah.”

Grrr… ini semua karena Jiho. Aku tak ingin keluar dari kelas walaupun pelajaran ini membosankan.

“Cheosonghamnida sudah menganggu kelasmu, ssaem,” sesalku sambil membungkuk. Lalu melangkah keluar dari kelas.

Aku menghentakkan kakiku kesal di sepanjang koridor. Oh, lebih baik aku tidur di UKS. Berakting di depan petugas UKS bukan hal yang sulit.

Dengan langkah mantap, aku berjalan ke ruang UKS. Dan benar, hanya dengan aktingku mereka percaya aku sedang tak enak badan.

Baru beberapa menit aku menutup mataku, suara seseorang yang membuatku harus keluar kelas menganggu pendengaranku.

“Mwoya?” responku malas.

“Aku sudah mengorbankan absenku untuk menyusulmu. Bisakah menanggapiku dengan baik nona Yoon?”

Ku lempar bantal yang ku kenakan padanya. Refleks dia menangkis. Ugh, menyebalkan…

“Kau… kalau kau mengacuhkanku tadi, mungkin aku tak akan keluar. Apa susahnya meresponku? Kau seenaknya saja memerintahku, ini dan itu. Kau pikir aku ini pembantu? Atau boneka? Pergi sana! Aku tak mau melihatmu.”

Begitu mengeluarkan semua emosiku, aku menarik selimut menutupi seluruh badanku. Aku tak peduli dia ingin berkomentar apa.

“Nanti aku tak bisa mengantarmu pulang. Aku harus pulang ke rumah. Lagi pula aku tak ingin Jiseok hyung melihatku saat menjemputmu nanti.”

Aku tetap bungkam pada posisiku. Ku dengar langkah Jiho yang kian menjauh. Aku menghela nafas panjang.

***

Aku menatap penampilanku di cermin. Sosok di cermin itu imut, hehehe… Mini dress berwarna baby blue ini benar-benar cantik. Berulang kali aku memandangi penampilanku. Dress ini pemberian Jiho. Dia meninggalkannya di kamarku. Itu alasan mengapa aku terpesona. Dia tau seleraku. Sayang sekali bukan Jiho orang pertama yang melihat penampilanku.

Suara deru mobil membuatku bersiap-siap. Bunyi bel mengiringi langkahku yang berjalan ke luar rumah.

“Annyeong, sunbae,” sapaku begitu bertemu dengan Jiseok sunbae.

Jiseok sunbae terpaku. Aku menyadari kecantikanku sudah menghipnotisnya. Bukannya bermaksud terlalu percaya diri. Tapi kenyataannya memang begitu.

“Sunbae, kita berangkat sekarang?” Aku berusaha mengembalikan Jiseok sunbae ke bumi.

“Oh, ya.. Tentu saja. Ayo!” Jiseok sunbae berjalan lebih dulu, lalu membukakan pintu untukku.

Aku tak mau membuang waktu dengan menatapnya sesaat. Aku langsung masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman. Aku sudah tak sabar ingin sampai di lokasi. Sungguh konyol, padahal tadi siang aku dan dia bertengkar. Malam ini aku malah ingin menemuinya. Oh, apa dia hadir? Bodoh sekali, karena egoku tadi siang aku tak sempat menanyakannya.

Beberapa menit di perjalanan, akhirnya kami sampai di aula sekolah. Jiseok sunbae menggandengku, berjalan di atas red carpet. Aku tak menolak. Untuk sesaat aku merasa seperti seorang idol karena beberapa kamera dengan tidak sopannya mengambil gambarku. Mungkin setelah ini akan ada berita heboh di majalah sekolah. Pasalnya, Jiseok sunbae cukup terkenal selain dia president school. Dan aku? Aku salah satu anggota Angel Rainbow. Sangat pantas bukan untuk dijadikan bahan gossip?

Yah, kalian pasti tau apa saja urutan acara promnite. Ucapan pembuka, cuap-cuap dari beberapa siswa yang hadir, games, acara dansa, dan…… ah, kalian berpikirlah sendiri. Aku sendiri tak ingat tadi ada apa karena tak menikmati acara ini.

“Sunbae, aku ambil minuman dulu. Aku haus,” pamitku pada Jiseok sunbae yang baru saja kembali. Dia ketua acara ini, juga president school. Tentu saja dia sibuk memberi pengarahan.

“Ah, kau haus? Tunggu di sini, biar aku yang bawakan.”

Tanpa bisa ku cegah, Jiseok sunbae sudah pergi menuju meja hidangan. Dan beberapa saat kemudian, dia kembali dengan dua gelas cocktail.

“Minyoung-ah…” panggil Jiseok sunbae setelah beberapa menit kami hanya terdiam.

“Ne?”

“Kita ke sini bukan untuk menonton kerumunan bukan?”

Aku mengernyitkan dahiku bingung. Lalu mengangguk.

“Mau berdansa?”

“Eh? Apa? Aku… aku tak bisa berdansa.”

“Aku tak keberatan jika kau menginjak kaki ku.”

Sebelum sempat membalas perkataannya, Jiseok sunbae menarik gelasku dan meletakkan di meja terdekat lalu menarikku ke lantai dansa di mana sudah ada beberapa pasangan yang hanyut dalam alunan musik ballad.

“Apa kau jelmaan Dewi Aphrodite? Mataku slalu terpaku padamu. Seolah-olah kau punya gravitasi tersendiri.”

“Sunbae… aku, aku tak seistimewa itu. Sunbae terlalu melebih-lebihkan.”

Wajahku benar-benar memerah sekarang —aku yakin itu—. Dan kenapa Jiseok sunbae menatapku terus?? Membuatku grogi sampai berulang kali menginjak kakinya.

“Minyoung-ah, kau seribu kali lebih cantik malam ini.”

“Terima kasih atas pujiannya, sunbae.”

Aku menunduk malu. Tak sanggup lagi menatapnya.

Tiba-tiba Jiseok sunbae berhenti bergerak. Aku sedikit menatap sekeliling. Berhenti tepat di tengah lantai dansa?

Dan apa lagi ini? Kenapa Jiseok sunbae berlutut?

“Sun.. sunbae, berdirilah,” bisikku panik.

Sesuai dugaanku, semua mata kini tertuju pada kami. Ini benar-benar membuatku ingin terjun dari Namsan Tower.

“Untuk seseorang yang bagaikan putri, menarik perhatianku sejak hadirnya di sekolah ini, membuatku tak bisa berpaling pada yang lain.” Jiseok sunbae mengeluarkan setangkai mawar putih dari balik jas yang dikenakannya. “Would you be mine, princess?”

Aku menganga. Terkejut. Dan mendadak pikiranku kosong. Apa yang harus ku lakukan???

“Minyoung-ah, terima Jiseok sunbae!” teriak seseorang. Saat aku menoleh ke sumber suara, aku melihat keenam temanku. Dan mereka mulai meneriakkan agar aku menerima Jiseok sunbae. Dan yang pasti beberapa tamu yang hadir juga ikut meneriakkan kata ‘terima’ seolah fans yang meneriakkan ‘encore’ pada penyanyi idolanya.

“Minyoung-ah, maukah?” Jiseok sunbae menarikku lagi untuk menatapnya —dengan pertanyaannya—. Aku menggigit bibirku bingung.

Tentu saja aku bingung. Bukan berarti aku memiliki perasaan pada Jiseok sunbae. Hanya saja aku tak tau cara menolaknya di hadapan banyak orang begini.

Kembali ku mengedarkan pandanganku. Aku bernafas lega saat menemukan sosok Jiho yang berjalan mendekat. Aku merasa sedikit mendapat kekuatan dengan kehadirannya.

“Sunbae, aku… aku…”

Astaga, kenapa lagi ini?! Kenapa aku malah semakin gugup saat Jiho benar-benar sudah ada di dekat kami?! Aku ingin menyusut saja —sampai tak terlihat—.

Sekilas aku melihat Gaeun menggeleng dan mengucapkan ‘andwae-yo’ tanpa bersuara. Jangan? Jangan untuk apa? Gaeun-ah, kau membuatku semakin bingung.

“Hyung, berdirilah! Kau tak lelah? Aku sendiri yang melihatnya lelah.”

“Oh, Jiho-ya… Anni-yo, aku tak lelah. Aku tak merasa sedang berpijak di bumi.” Jiseok sunbae cengar-cengir menatap Jiho —masih dengan posisi berlutut—.

“Hyung… mianhae. Tapi ku pastikan setelah ini hyung akan jatuh berdebam ke bumi.”

Apa maksud Jiho?

Tunggu…

Jiho menarikku ke dalam pelukannya. Menatapku singkat. Dan membisikkan sesuatu yang membuat bulu kudukku merinding. Geli.

Aku memejamkan mataku…. Menikmati ciuman lembut dan hangat darinya. Yah, sesuai perintahnya tadi. Nikmati!

Beberapa pekikan tak serempak keluar saat Jiho mendaratkan ciumannya di bibirku. Aku lebih memilih menikmati suara alunan musik ballad yang masih belum berhenti mengalun dan kehangatan seorang Jiho.

Jiho mlepaskan kontak fisik kami perlahan lalu berbalik menatap Jiseok sunbae yang terlihat kaget dengan apa yang kami lakukan.

“Hyung, gadis menyebalkan ini masih milikku. Aku mewakilinya minta maaf karena membuat hyung menunggu lama kata penolakan. Dan aku meminjamkannya cukup sampai di sini.”

Aku meninju lengan Jiho. Tak ada sopan-sopannya.

Bukan hanya Jiseok sunbae, beberapa tamu lainnya juga terlihat kaget setelah menyaksikan drama mini ini. Dan aku berhutang cerita pada keenam temanku.

“Aku harus membawa pulang gadisku. Maaf sudah mengganggu malam kalian.”

Jiho membungkuk sebentar dan menggandengku keluar dari aula. Sebelum sempat menjauh, ku sempatkan membungkuk pada Jiseok sunbae dan mengatakan maaf.

“Apa yang kau lakukan, pabo?!” omelku.

Jiho berhenti dan berbalik. Dia menatapku tajam. “Kau sendiri? Apa yang kau lakukan, pabo yeoja?! Berdiri layaknya idiot tanpa memberi penolakan. Sikap macam apa itu?” balas Jiho.

Aku cuma bisa memutar bola mataku. Malas meladeninya lagi. Dan aku hanya mengikuti langkah kakinya yang lebar menuju mobil.

“Aku belum menikmati pestanya,” rungutku kesal saat kami sudah berada di dalam mobil.

“Kau sudah menikmatinya tadi. Wajahmu bahkan merona saat bersama Jiseok hyung.”

“Eeiii… kau cemburu?”

“Tentu saja! Kau pikir aku rela jika orang lain menyentuhmu?!”

Oh, jujur sekali mulut pria ini…

“Tapi aku benar-benar tak menikmatinya. Aku tak bisa menikmatinya tanpamu,” ucapku pelan, sangat pelan.

Jiho menghela nafas. “Sudahlah, masih ada prom night tahun depan. Aku pastikan akan datang bersamamu.”

Jiho menepuk-nepuk pelan puncak kepalaku —memperlakukan ku seperti anak kecil—.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Sekarang, ayo pulang.”

“Hanya berakhir seperti ini?” tanyaku.

Jiho menatapku dengan dahi mengerut. “Memangnya kau menginginkan apa lagi?”

“Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu malam ini? Aku ingin mengobrol banyak dengan kekasihku yang menyebalkan ini,” tawarku.

Jiho menunjukkan smirknya. “Ayo, kita habiskan waktu berdua di ranjang!”

“Aku mau ke Sungai Han, pabo.”

Jiho menatap lurus ke depan. “Baiklah, tuan putri. Kita berangkat.”

Aku tersenyum senang menatap Jiho yang membawa mobil menuju Sungai Han.

Mungkin karena terlalu sibuk memandangi Jiho, aku tak sadar kalau kami sudah sampai. Jiho menegurku karena terus menatapnya.

“Kita duduk di sini saja,” ucap Jiho sembari menekan sebuah tombol sehingga kap mobilnya terbuka lalu Jiho menarikku pindah duduk ke jok belakang.

“Zico-ya, aku… aku belum minta maaf tentang kejadian tadi siang. Aku hanya terlalu emosi. Dan… terima kasih untuk gaunnya. Aku suka,” ucapku memulai pembicaraan.

“Lupakan. Aku tau kau pasti marah.”

Aku mengangguk paham.

“Aku belum memujimu. Malam ini kau cantik, sangat cantik.”

Aku tersipu. Lagi-lagi pipiku merona. “Tentu saja. Kapan aku terlihat jelek?”

“Kau seribu kali lebih jelek saat marah.”

“Kau juga. Kau seribu kali lebih jelek dariku saat diam. Dan sejuta kali lebih jelek dariku saat kesal, merajuk, dan marah.”

“Yak! Pujian macam apa itu?!”

“Pujian dari hatiku yang paling dalam untuk kekasihku yang menyebalkan.”

Jiho mendengus. Kemudian tertawa. Mengundangku untuk ikut tertawa.

“Apa kau pernah berpacaran sebelumnya?” tanya Jiho.

Aku menggeleng. “Ini untuk pertama kalinya aku berpacaran. Dan sialnya, kekasihku itu adalah musuhku. Tapi ini bukan pertama kalinya aku tertarik dengan seorang pria.”

“Apa menjadi kekasihku merupakan kesialan bagimu?”

Aku panik. Astaga, aku harus mendisiplinkan mulutku ini. Kebiasaan mulutku yang slalu berucap seenaknya. “Mianhae, maksudku bukan begitu. Aku hanya bercanda. Ucapan itu bukan dari hatiku,” sesalku. Aku menatapnya dengan wajah memelas.

“Benar juga. Aneh kalau kau langsung menerimaku malam itu. Aku rasa hatimu memang dalam keadaan belum siap. Dengan seenaknya aku mengklaim kalau kau memang menyukaiku. Aku yang terlalu naif.”

Aku tak berani menatap Jiho lagi. Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku katakan?

Suara desisan Jiho mengalihkan perhatianku padanya. “Seharusnya tadi aku tak bersifat angkuh di hadapan Jiseok hyung. Seharusnya kau menerimanya.”

Aku memeluk Jiho, mencegah dia untuk mengatakan hal-hal yang membuatku sakit. “Geumanhae, Zico-ya. Apa kau tak mau percaya kalau aku hanya bercanda? Jeongmal saranghae.”

Tanpa ku sadari, air mataku menetes. Hubungan kami baru 3 hari dan dia mau menyerah. Pabo, tak akan ku biarkan!

“Yak! Kau menangis? Yak! Yak! Uljima. Aku hanya bercanda.”

Apa katanya? Bercanda?

“Neo…………..” Aku menatap Jiho geram.

Jiho menangkup wajahku dan mengecup keningku sesaat. “Jangan menangis, gadis bodoh. Tentu saja aku tau kau hanya akan menyukaiku. Sampai kapan pun itu. Memangnya siapa yang mau dengan gadis brutal sepertimu selain aku?”

“Sialan kau, Woo Jiho! Kau membuatku takut.”

“Kau takut aku meninggalkanmu?”

Aku mengangguk.

“Tidak akan. Aku tak akan melakukan itu.”

“Kau berjanji?”

“Aku berjanji, Young-ah.”

Jiho memelukku erat. Membuatku merasa nyaman. Memang benar dia menyebalkan. Memang benar dia slalu membuat emosiku naik. Tapi tak dapat ku pungkiri dia membuatku merasa nyaman saat berada di dekatnya. Aku benar-benar mencintainya. Kekasihku yang menyebalkan, Woo Jiho.

E.N.D

 

 

Awalnya ini cerpen dan bener-bener Indo banget trus aku ubah ke ff. Jalan ceritanya belum diedit karena ada kesalahan sama otakku .-. Jadi, yah beginilah. Aku juga khawatir ff ini bakal jadi ff chaptered kalau diedit terus. Dan maaf bahasanya belum baku dan typo berserakan. Tapi mohon RCL-nya ya^^

About fanfictionside

just me

8 thoughts on “FF oneshot/ H.I.M/ BLOCK B

  1. Huaaaaa itu kasian taewoonnyaaahh… sequelnya dong thor… setelah begini temen2nya minyoung bkal gmn, taewoonnya move on kah? Atau yg lain? D tgg sequelnya thoorr

  2. ahhh seruuu…..
    Ga bsa brkata bnyak, aku bingung ungkapinnya…
    Pkonya inituh keren bgt,
    THE BEAST lahh😀

    Zico mgegemesin😀 hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s