FF/ PROCESS OF OUR LOVE/ BTS-BANGTAN/ pt. 1


PicsArt_1420603010118

Author: Nisa (@annsafbry)
Genre: Romance, School Life, Family, Friendship
Rating: T
Length: Chaptered
Cast:
– Min Yoongi (Suga BTS)
– Lee Hanmi (OC)
– Kim Taehyung (V BTS)
– Kim Seokjin (Jin BTS)
– Cho Nibyul (OC)
– Jung Hoseok (J-Hope BTS)
– Jung Jihee (OC)
– Jeon Jungkook (Jungkook BTS)
– Bae Soyeon (OC)
– Park Jimin (Jimin BTS)
– Kim Namjoon (Rapmonster BTS)
– Im Hyeri (OC)

***

Hai, ini ff chaptered pertama yg aku post. FF absurd ini murni dr khayalan author. Btw, buat yg udh baca ‘Fighting Again?’ makasih ya komennya^^ Author ga punya blog jd gabisa bls hehe.

Ok, mohon kritik & sarannya.
Happy reading, guys!

***

KRIIING~

Bel berbunyi menandakan waktunya usai belajar. Semua murid  tampak riang mendengarnya.

Kalau bukan karena dua sahabatnya yang sudah menunggu di ambang pintu kelasnya, Hanmi tak akan bersemangat membereskan buku-buku dan melesat keluar kelas.

“Ayo pulang.” ajak Jihee sambil tersenyum.

Setelah mendapat anggukan ‘iya’ dari dua sahabatnya, mereka pun berjalan bersama menuju gerbang sekolah, sekali-kali diselingi lelucon dari salah satu mereka lalu membuat yang lain tertawa lepas.

Namun seketika tawa mereka terhenti, tiba-tiba seorang namja menghampiri mereka bertiga dengan agak tergesa-gesa.

Namja itu menghentikan langkahnya tepat didepan ketiga yeoja itu. Kedua manik matanya fokus menatap Hanmi dari ujung sepatu hingga puncak kepalanya berulang-ulang.

Merasa risih diperhatikan seperti itu, Hanmi memandang aneh namja dihadapannya.

Begitu juga dengan kedua sahabatnya. Banyak pertanyaan mengisi pikiran mereka tentang namja aneh ini.

“Siapa namamu?” akhirnya namja itu membuka suara seraya menatap tajam Hanmi.

“Eh? Aku?” tanya Hanmi memastikan sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Iya, kau. Siapa namamu?” tanyanya datar. Nibyul dan Jihee hanya dapat menatap mereka bergantian tanpa mengeluarkan suara.

“Lee Hanmi. Ada apa?” mimik wajahnya berubah penasaran sekaligus curiga melihat namja asing itu.

Namja berbadan proposional itu tersenyum miring, lalu memasukan kedua tangan di saku celananya dengan santai. Ia pun berbalik dan pergi meninggalkan meraka bertiga.

Tampaklah muka ketiga yeoja itu yang terlihat tercengang heran. Bahkan Jihee terlihat menganga kecil.

Terutama Hanmi ia mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Aneh!

“Apa maksudnya?” ketus Jihee kemudian berdecak sebal. Hanmi hanya menggelengkan kepala dengan wajah lugu.

“Sepertinya aku mengenalnya…” ucap Nibyul menggantung lalu menopang dagunya dengan tangan kanannya yang bertumpu pada tangan kirinya. Terlihat seperti berusaha mengingat sesuatu.

Hanmi dan Jihee saling pandang kemudian menatap Nibyul dengan penasaran.

“Siapa? Siapa? Cepat beritahu, aku penasaran!” desak Jihee yang tidak sabar.

Sedetik kemudian Nibyul menjentikan jarinya. Jika ini kartun kau dapat melihat sebuah lampu bohlam terang berwarna kuning di atas kepala Nibyul.

“Ah, ya! Dia Park Jimin. Dia itu anggota tim basket sekolah kita. Dan ya asal kau tau dia itu cukup populer.” ujar Nibyul.

“Darimana kau tahu?” tanya Hanmi heran.

“Dua hari lalu saat usai jam olahraga aku tak sengaja menguping Naeun dkk menggosipkannya sambil memperhatikan Jimin bermain basket sendirian di ruang olahraga.”  jelas Nibyul lalu kedua sahabatnya hanya ber-oh ria.

“Kira-kira apa ya tujuan dia bertanya namamu Hanmi-ah?” selidik Jihee menatap Hanmi lamat.

“Apa jangan-jangan dia menyukaimu?” sambung Jihee asal lalu meringis kesakitan karena langsung mendapat jitakan dikepalanya dari Hanmi.

“Ya! Yang benar saja, kita tidak saling kenal bagaimana mungkin dia bisa tiba-tiba menyukaiku?” rutuk Hanmi kesal. Lalu Nibyul hanya terkekeh.

“Sudahlah, ayo kita pulang saja.” ajak Nibyul menyudahi obrolan ini.

***

“Bagaimana? Kau sudah tau namanya?” tanya seorang namja dengan rambut berwarna caramel light ketika Jimin datang.

“Lee Hanmi.” ucap Jimin sambil menaiki motor sportnya yang berwarna dominasi merah dan hitam mengkilat itu.

“Thanks jim.” bibirnya membentuk cengiran khasnya berbentuk kotak. Dia Kim Taehyung.

“Hm. Jadi kapan kau akan mendekatinya? Jangan menyuruhku lagi, bisa-bisa dia mengira aku menyukainya.” hardik jimin sambil sibuk memakai helm.

“Dia bisa salah paham, Tae. Kau tak ingin kan yeoja yang kau taksir menyukai namja bantet ini?” gurau Seokjin sedikit melirik Jimin dan langsung di beri tatapan ‘kau ingin mati, hyung?’ serta menunjukan kepalan tangan di udara.

Seokjin hanya membalas dengan cengiran, tak lupa V sign menandakan pengajuan damai.

“Kalaupun kau menyukainya, itu takkan berpengaruh padaku. Karena ia tetap akan jadi milikku.” ucap Taehyung begitu yakin. Jimin dan Seokjin hanya memutar bola matanya jengah.

“Terserah kau alien, ayo berangkat. Jungkook pasti sudah menunggu.” tegur Jimin.

Yoongi sedari tadi diam, tanpa minat mendengarkan apalagi mengeluarkan suaranya untuk bergabung obrolan ketiga namja itu.

Rupanya setelah Jimin kembali, kedua mata sipitnya berhasil menangkap sosok yeoja yang sedang berada di antara kedua kawannya di luar gerbang sekolah.

Ujung bibirnya terangkat saat berhasil mengingat siapa yeoja yang berkulit putih susu dan berambut hitam legam tersebut.

“Yoongi-ya, ayo!” lamunan Yoongi buyar saat Seokjin menyahutinya.

Kemudian mereka berempat pergi mengendarai motor sport mereka masing-masing dengan kecepatan cukup tinggi layaknya pembalap liar, tak peduli tata tertib lalu lintas.

***

“Annyeong.” ucapku tak bergairah setelah memasuki rumah.

“Hanmi-ah, kau sudah pulang?” tanya seorang wanita paruh baya yang tengah duduk santai di sofa. 

‘Apa dia buta? Jelas-jelas aku sudah dihadapannya, bodoh sekali.’ bantinku.

“Hmm.” gumam ku malas seraya naik ke atas menuju kamarku.

“Lekas ganti baju lalu turun, aku sudah menyiapkan makan malam.” teriaknya agak keras dari bawah. Aku tak menghiraukannya.

Aku memasuki kamar dengan lesu. Lalu menghempaskan tubuhku di tempat tidur. Mataku melirik ke arah sebuah foto di atas meja riasku.

Aku bangkit dan terduduk di pinggir kasur lalu meraih foto berbingkai warna coklat tersebut.

Tanpa sadar bulir-bulir air mata jatuh dari pelupuk mataku. Jariku dengan lembut mengusap foto itu.

“Eomma, apa kabar? Aku sangat merindukanmu, eomma.” ucapku bergetar menahan tangis. Namun apa daya air mata ini tak bisa berhenti menetes.

“Pasti di surga sangat menyenangkan kan, eomma? Aku ingin menemaninu di sana.”

Jangan kalian kira wanita paruh baya tadi adalah eommaku. Dia hanya seorang wanita yang menikah dengan appa 2 bulan lalu. Ya, dia istri sah appaku tapi bukan eomma kandungku.

Yang aku tau aku hanya punya satu eomma. Namun ia sudah meninggal dunia karena kecelakaan maut yang merenggut nyawanya tahun lalu.

Eomma tertabrak sebuah truk saat menyebrang jalan, itu terjadi setelah ia pulang belanja. Ia sempat koma seminggu. Appa dan aku selalu setia menunggunya dan berharap eomma lekas sadar.

Namun takdir berkata lain, pagi itu tepat hari ulang tahun dirinya, eomma menghembuskan nafas terakhirnya.

Aku dan appa benar-benar terpukul. Appa juga sempat sakit beberapa hari, mungkin karena masih belum merelakan eomma.

Tapi aku tak menyangka appa tega menikah lagi dengan wanita itu. Ia seorang janda beranak satu.

Anaknya beda setahun lebih muda dariku. Jujur saja, aku tak pernah menganggapnya ada apalagi sebagai adik tiriku. Bocah itu sangat nakal, selalu pulang larut malam bersama motor sport nya yang berisik.

Oleh sebab itu adik tiriku dan aku tidak dekat. Berbicara satu sama lain hanya seperlunya, bahkan jika kami bertemu dijalan sekalipun kami tidak akan bertegur sapa. Percayalah, kami seperti saling tak mengenal meskipun tinggal satu atap.

Kembali lagi tentang ibu tiriku. Sejujurnya aku tidak membencinya. Hanya saja aku belum bisa menerima dia menggantikan peran eomma. Atau mungkin sosok eomma tak pernah bisa terganti. Ya, tak akan pernah.

***

“Lihat, betapa pengecutnya dirimu, alien.” ucap Yoongi dengan nada meremehkan. Tapi matanya masih fokus menatap layar laptop.

“Diam kau hyung, kau tak mengerti apa-apa.” bantah Taehyung kesal.

Kemudian mengelap keringat dipelipisnya. Latian dance hari ini cukup menguras tenaganya.

“Sudah jangan berdebat. Nih minumlah.” lerai Seokjin lalu melempar botol air mineral ke Taehyung yang terlihat begitu kelelahan.

“Thanks hyung” dengan cekatan Taehyung menangkapnya, lalu meminumnya. Lumayan untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.

“Yoongi hyung, kenapa hyung mengatakan Taehyung hyung pengecut?” tanya Jungkook polos.

Dari mereka berlima Jungkook yang paling muda, maka ia berbeda sekolah karena ia masih duduk di bangku smp. Wajar saja jika Jungkook tidak tahu menahu persoalan Taehyung.

“Menyukai seseorang tapi tak pinya nyali hanya untuk sekedar menanyakan nama. Seperti pengecut bukan?” sindir Yoongi menambah emosi Taehyung semakin menjadi.

Taehyung menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar, ia sedang berusaha meredam amarahnya.

“Besok aku akan menguntit dia sampai ke rumahnya, lalu meminta nomor ponselnya. It’s easy, right?”

“MWO?!”

Serempak Jimin, Jungkook dan Jin terkejut mendengar ucapan gila Taehyung barusan. Yoongi juga kaget namun tidak ikut berteriak seperti yang lain, hanya saja ia pura-pura untuk tidak peduli.

“Apa kau gila?” hardik Seokjin.

“Aku waras, hyung!” bantah Taehyung kesal dan meningkatkan nada suaranya.

“Kim Taehyung yang selalu bersikap dingin saat di depan fans-fansnya, tapi aneh dan bodoh di depan kita. Ternyata sangat payah saat jatuh cinta.” sindir Seokjin.

“Taehyungie, cobalah untuk menjadi normal.” titah Jimin membuat Taehyung semakin naik pitam.

“Menurutmu aku tidak normal? Hey, aku menyukai yeoja, bodoh!” bantah Taehyung kesal, lalu melemparkan bantal sofa tepat di kepala Jimin.

“Ya! Bukan begitu. Maksudku sikap dan cara berpikirmu yang tidak normal!” Jimin tak mau kalah, ia melemparkan kembal bantal itu tepat di wajah tampan Taehyung.

Akhirnya terjadilah perang bantal sofa antara Taehyung dan Jimin. Suara tawa dan ocehan mereka riuh memenuhi ruangan latian dance itu.

Yoongi melihat mereka dengan cuek, karena menurutnya sudah terlalu biasa melihat pemandangan ini. Ia pun memilih memasang headseat di sebelah kiri daun telinganya untuk mengacuhkan suara berisik yang ditimbulkan kedua bocah itu.

Begitu juga dengan Jungkook yang sibuk sendiri mengulang beberapa gerakan dance yang baru.

“Ya! Berhenti atau kalian tak dapat jatah cemilan!” Teriak Jin dengan tegas. Jimin dan Taehyung spontan menghentikan aktivitas mereka.

Lalu keduanya duduk di sofa dengan tenang seperti tidak terjadi apapun sebelumnya.

“Ya, Tae! Apa kau benar-benar menyukainya? Kulihat yeoja itu tidak terlalu cantik dibanding sunbae yang memberimu coklat seminggu lalu. Ah, siapa namanya? Hye-hye.. Hyer..” Jimin berusaha keras mengingat.

“Im Hyeri?” Ucap Yoongi datar.

“Ah, benar. Hyeri sunbae!” Seperdetik kemudian mimik wajah berganti heran.

“Mwo? Bagaimana kau bisa tahu, hyung?” tanya Jimin penasaran.

“Kami satu kelas.” jawabnya masih datar tanpa melirik ke arah Jimin.

Taehyung yang sedang meneguk air mineral hampir tersedak mendengar jawaban Yoongi.

“Benarkah? Ini sangat kebetulan. Ya, Tae! apa kau tak berniat mencari tau tentang Hyeri sunbae saja? Yoongi hyung pasti tau banyak tentang dia.” tawar Jimin antusias.

“Tidak. Kau saja, Jim. Aku tak berminat mencari tau yeoja seperti itu.” ucapnya tak acuh, lalu menyenderkan diri di sofa dengan kaki di atas meja, sambil mulai membaca komik favoritnya.

-Flashback-

Perlahan tangan kurusnya membuka loker bertuliskan ‘Kim Taehyung’ lalu memasukkan seragam sekolah dan mengambil sepatu yang khusus ia kenakan saat bermain basket.

Saat Taehyung hendak menutup loker, namja yang mengenakan kaos basket tanpa lengan dengan nomor punggung 95 itu tertegun melihat kotak pink berbentuk hati di sodorkan padanya.

Yeoja berambut coklat sebahu yang entah sejak kapan berada di depannya, ia menyerahkan kotak itu dengan wajah berseri dan senyuman manis.

“Taehyungie, ini coklat spesial yang ku buat sendiri untukmu, ku harap timmu menang di pertandingan final ini.” yeoja itu sedikit tertunduk malu dengan wajah yang semerah tomat.

“Untukku? Wah, terimakasih sunbae.”

Ujung bibir Taehyung terangkat sebelah melukiskan senyuman menyerigai, menyebabkan yeoja di depannya semakin salah tingkah.

Ia menerima kotak itu, namun saat seorang namja melewati mereka berdua, Taehyung tanpa rasa bersalah menyerahkan kotak itu pada namja berpenampilan kutu buku itu.

“Ambillah, ini untukmu.” Tanpa peduli maksudnya apa, namja itu menerima kotak itu dengan girang.

Kedua mata yeoja berambut sebahu itu membulat melihat apa yang barusan terjadi. Bukan hanya dia, tapi juga semua siswa siswi yang diam-diam menonton mereka sedari tadi.

-Flashback end-

***

Tok, tok, tok.

“Oppa? Apa kau di dalam? Buka pintunya, aku ingin masuk.”

Hening, tak ada respon.

“Ya oppa! Buka pintunya!”

“Oppa! Aku tau kau mendengarku, cepat buka pintunya!!” teriakku dari luar sambil terus menggedor-gedor pintu kamarnya semakin kencang.

Tetap tak ada respon.

BUGH!

Kutendang pintu yang tak berdosa itu, hanya sekedar meluapkan kekesalanku. “HOSEOK OPPAA!!!” jeritku kencang, habis sudah kesabaranku. Mati kau oppa!

“YA! BERISIK SEKALI!! AKU BARU SELESAI MANDI, AISH.” teriaknya frustasi dari dalam kamar. Aku hanya mendengus sebal mendengarnya.

Beruntung appa dan eomma sedang keluar kota, jika mereka tau kami seperti ini mungkin kami akan diceramahi semalaman.

Semenit kemudian terbuka pintunya. Aku menatap sebal namja di depanku ini. Ia terlihat kacau dengan rambut basahnya yang acak-acakan, kaos putih polos, boxer hitam diatas lutut, dan tak lupa handuk biru kecil yang menggantung bebas di lehernya.

“Apa maumu? Aish yeoja gila.” mataku membulat mendengarnya. Apa dia mengigau? Adiknya sendiri dibilang gila?!

Tanpa berpikir lagi ku tendang kaki kirinya tepat di tulang keringnya, menganggapnya sama seperti pintu kamarnya yang baru saja kutendang juga.

“ARGH! SAKITT.” ia meringis kesakitan sambil mengusap-usap kakinya. Aku menatapnya cuek. Mungkin kakinya akan lebam kebiruan akibat perbuatanku. Aku tak peduli.

Rasakan itu Jung Hoseok! Haha.

“YA! JUNG JIHEE!! KAU INGIN MATI HAH??”

TBC

-Preview-

“Oppa masih menyukai Nibyul kan? Atau… Sudah ada yang lain?”

***

“Menjauhlah dariku. Bersikaplah seolah kita tidak saling kenal.”

“…..Bersikap seolah tidak mengenalmu? Baiklah, itu sangat mudah karena sekarang kita sama-sama saling membenci.”

“Kau salah. Aku sangat mencintaimu, Soyeon-ah. Maaf…”

***

Hanmi berjalan menelusuri lorong sekolah menuju kelasnya. Tiba-tiba…

“Jadi mereka saling kenal?”

About fanfictionside

just me

4 thoughts on “FF/ PROCESS OF OUR LOVE/ BTS-BANGTAN/ pt. 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s